BERSATULAH DAN JANGAN BERCERAI BERAI !

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat
Minggu, 01 Januari 2012 , 14:21:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (Minggu, 1/1) menanggapi aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura, Kamis lalu.

Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin, dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya. [zul]
*******************************************************************************************************************
Ketua PBNU: Ada Big Design di Balik Pembakaran Pesantren Syiah di Madura
Sabtu, 31 Desember 2011 , 17:29:00 WIB
Laporan: Samrut Lellolsima

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj menduga, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura. Atas dasar tersebut pemerintah dan aparat keamanan diminta bekerja lebih keras dalam mencegah aksi serupa, agar tidak terulang di kemudian hari.

Dugaan itu disampaikan Kiai Said atas kondisi hubungan Sunni-Syiah di Indonesia yang sebelumnya berlangsung damai. Aksi pembakaran pesantren Syiah diduga dilakukan sekelompok orang untuk merusak kondisi damai tersebut.

“Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Kiai Said di Jakarta (Sabtu, 31/12).

Indikasi lain dari dugaan tersebut adalah latar belakang aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, yang bermula dari perselisihan hubungan keluarga. Ditegaskan Kiai Said, demikian ia disapa, Sunni dan Syiah di Madura sama sekali tidak terlibat perselisihan, baik di masa lampau maupun sekarang.

“Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan,” terang dia.

Kiai Said meminta semua pihak bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Namun ditanya mengenai pihak lain yang diduga sengaja merusak perdamaian di Madura, Kiai Said enggan membeberkannya secara gamblang. Doktor Tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura’ Mekkah ini hanya meminta Pemerintah dan aparat penegak hukum bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa meluas dan terulang di kemudian hari.

“Kalau saya yang mengatakan nanti dikatakan fitnah. Tapi kalau saya saja sudah tahu, polisi dan Pemerintah harusnya lebih tahu. Mereka harus bekerja lebih keras mengatasi permasalahan ini,” tandasnya.[dem]
*******************************************************************************************************************
PBNU: Pembakaran Pesantren Syiah di Sampang Bukan Konflik Agama
Minggu, 01 Januari 2012 , 10:46:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menanggapi pernyataan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Jalaludin Rahmat terkait pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura. Jalal mengatakan, Syiah merasa aman saat PBNU dipimpin almarhum Abdrurrahman Wahid.

Jurubicara PBNU Sultan Fatoni menegaskan, di era Gus Dur juga banyak terjadi konflik antara umat beragama. Misalnya pembakaran gereja di Tasikmalaya, Pasuruan, Situbondo. Namun, sejak awal, warga NU sudah diberi pemahaman, bahwa konflik antarumat beragama atau antarsesama umat bergama, itu pada prinsipnya adalah konflik sosial, yang tak berkaitan dengan keyakinan.

“Hanya, saat itu NU sejak awal, menunjukkan komitmennya menjaga torelansi, menjaga kebersamaan, toleransi, kerukanan. Maka, ketika kasus itu, muncul, lantas memahami bahwa itu itu adalah problem sosial, bukan problem antar umat berama. bukan problem keyakinan,” jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Pembakaran pesantren Syiah di Sampang Madura juga, jelasnya, itu adalah konflik sosial. Sama seperti pembakaran gereja pada masa Gus Dur. Meski tanpa mau menyebut secara rinci, dia menegaskan, konflik pembakaran pesantren Syiah dipicu oleh persoalan sosial, politik, bahkan ekonomi. Karena isu agama paling mudah untuk tunggangi. [zul]
*********************************************************************************************
Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungi Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1).

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat. Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh. [zul]
*****************************************************************************************************
Aksi Pembakaran Pesantren Syiah Terus Mendapat Kecaman
Senin, 02 Januari 2012 , 09:55:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia. Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya. [zul]
*******************************************************************************************************
AKSI KEKERASAN
MUI Pusat: Memang Banyak yang Menilai SBY Tak Bisa Tegas

Minggu, 01 Januari 2012 , 15:55:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kererasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab kepada Rakyat Merdeka Online sesaat tadi, Minggu (1/1) menanggapi aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura, Kamis lalu.

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa. [zul]
**************************************************************************************************************************
Syiah Aman Saat NU Dipimpin Gus Dur
Sabtu, 31 Desember 2011 , 21:18:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Pimpinan besar Nahdlatul Ulama dinilai lebih berwibawa saat dipimpin Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Aura kepemimpinan Gus Dur terasa betul. Sepatah kata yang diucapkannya terkait keberadaan minoritas, termasuk terhadap keberadaan Syiah, langsung diikuti oleh Nahdliyin. Hal tersebut beda dengan pimpinan NU setelahnya.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Jalaludin Rahmat saat konferensi pers terkait penyerangan jamaah Syiah di Sampang, Madura, di Kantor Ijabi, Kemang, Jakarta Selatan (Sabtu, 31/12).

“Tanpa mencoba merendahkan pimpinan setelah Gus Dur, sekali Gus Dur mengatakan A, seluruh Nahdliyin di daerah mengikutnya,” beber Jalal.

Jalal menuturkan, pengkut Syiah aman betul di zaman Gus Dur memimpin NU. Di zaman itu, Gus Dur mengatakan bahwa Syiah tidak sesat. Bahkan ia memerintahkan agar Nahdliyin menjaga dan melindungi pengikut Syiah. GP Anshor diperintahkan Gus Dur melindungi jamaah Syiah.

“Yang terjadi setelah Gus Dur, NU beraksi hanya setelah ada kekerasan terjadi, dan hanya mengatakan mengecam dan menyesalkan atas kejadian. Tidak beraksi riil secara organisasi sampai ke jenjang bawah,” kata dia.

Jalal mengimbau agar pimpinan NU sekarang bisa membuat semua Nahdliyin turut mengikuti bagaiman keputusan NU yang mengatakan Syiah tidak sesat dan menghormati minoritas. [dem]
******************************************************************************************************
Kang Jalal: MUI Jatim dan Sampang Harus Dikoreksi!
Sabtu, 31 Desember 2011 , 16:21:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Ketua Majelis Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat, meminta agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Sampang dikoreksi. Sebab, MUI Jawa Timur dan Sampang “membiarkan” warga Syiah di sana terus diganggu. Dua hari lalu madrasah, mushalla dan rumah pimpinan kelompok Syiah di wilayah tersebut dibakar orang mengatasnamakan kelompok Ahli Sunnah Waljamaah (Aswaja).

“MUI seharusnya melindungi kebebasan beragama, dan tidak membuat pernyataan yang menghakimi kelompok minoritas dengan tidak adil,” kata Kang Jalal, begitu ia disapa, di Kantor Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia (IJABI), Jalan Raya Kemang 6, Jakarta Selatan (Sabtu, 31/12).

Hampir empat tahun jamaah ahlul bait melakukan kegiatan keagamaan di Sampang. Dan berkali-kali juga diganggu dengan kelompok-kelompok yang mengaku dirinya sebagai kelompok Aswaja. Bahkan, kata Kang Jalal, pada tahun 2009 IJABI diminta agar menandatangani perjanjian untuk tidak menyebarkan ajaran Syiah di Sampang dengan syarat Sunni Aswaja dan MUI Sampang tidak menanggap mereka sebagai ajaran yang sesat.

Aparat Kepolisian kemudian menggelar pertemuan dengan Muspida serta tokoh masyarakat di Sampang yang menghasilkan tiga opsi, yakni menghentikan semua aktivitas di wilayah Sampang dan kembali ke paham Sunni, diusir ke luar wilayah Sampang tanpa ganti rugi atau kalau tidak dipenuhi maka jemaah Syiah di Sampang harus mati. Sayangnya, malah MUI Sampang dan Jawa Timur, dan Pengurus NU Cabang Sampang malah menudukung ketiga opsi tersebut.

“Kami terus minta di jalur hukum, dan medesak MUI pusat untuk mengoreksi MUI-MUI daerah, termasuk Jawa Timur dan Sampang” kata Jalaluddin.

Kang Jalal mengatakan, MUI pusat tidak pernah tegas, sehinga muncul perbedaan di MUI-MUI daerah. Ia mengira, divisi ukhuwah di MUI daerah tidak ada sehingga muncul poin-poin sesat yang mendiskreditkan minoritas seperti Syiah.[dem]
***********************************************************************************************
PEMBAKARAN MASJID SYIAH
PBNU Kaji Serius Pernyataan Hidayat Nur Wahid

Sabtu, 31 Desember 2011 , 07:14:00 WIB
Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi

RMOL. Pernyataan Hidayat Nur Wahid yang langsung menohok Nahdlatul Ulama dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj terkait pembakaran Pondok Pesantren Islam Syiah di Sampang Madura, mendapat tanggapan PBNU.

“Kami akan kaji serius pernyataan Pak Hidayat, politisi PKS yang ada di Jakarta,” kata Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr PBNU, Sulthan Fatoni, kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu malam (30/12).

Menurut Sulthan, statemen Hidayat Nur Wahid sebenarnya biasa saja. Namun menjadi istimewa karena disampaikan oleh politisi yang mempunyai background istimewa.

“Reputasi gerakan dakwah gerbong Pak Hidayat di Indonesia adalah di antara indikator yang mendorong kami untuk mengkaji statemen Pak Hidayat.” Kata Sulthan Fatoni.

Sulthan menambahkan bahwa kajian dilakukan dengan disertai data-data empirik tentang peta kelompok Islam di Indonesia dan relasi sosialnya dengan NU. Termasuk data lapangan kasus yang meledak di Sampang.

“Era reformasi memang telah memberikan warna-warni muslim Indonesia, termasuk warna Islam kelompok Pak Hidayat yang ditopang oleh mesin politik. Jadi pernyataan Pak Hidayat bagi kami tidak sederhana, tunggu saja hasil kajian kami dalam waktu dekat,” tegas Sulthan.

Kemarin, selain menyesalkan aksi pembakaran pesantren Syiah oleh warga di Sampang, Hidayat juga menilai kasus tersebut menjadi pekerjaan rumah Ketua PBNU. Sebab Madura merupakan basis warga NU. [ysa]

Sumber : http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2012/01/01/50736/Prof.-Umar-Shihab-Sepakat-dengan-Prof.-Din,-Syiah-Bukan-Ajaran-Sesat-

About these ads

Comments on: "Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat" (1)

  1. […] tegas dia. Penulis: Antara/ Wisnu Cipto Baca juga : Muhammadiyah sesalkan kekerasan di Sampang Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat Referensi : […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: