BERSATULAH DAN JANGAN BERCERAI BERAI !

1.Surah Al-Ahzāb : 33,Penyucian Ahlul Bayt as

“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala jenis kekotoran darimu wahai Ahlul bayt dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as.

Rasulullah SAWW bersabda seraya menunjuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baytku, maka peliharalah mereka dari keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya.” Banyak hadis lain yang searti dengan hadis tersebut. Silahkan rujuk:
1.Shahih Muslim, kitab Fadhā`ius Shahābah, bab Fadhā`il Ahli Baytin Nabi SAWW, juz 2, hal. 368, cetakan Isa Al-Halabi; juz 15 hal. 194, Syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.
2.Shahih Tirmidzi, juz 5, hal. 30, hadis ke 3258; hal. 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.
3.Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 25, cetakan Darul Ma’arif, Mesir.
4.Al-Mustadrak,karya Al-Hakim, juz 3, hal. 133, 146, 147, 158; juz 2, hal. 416.
5.Al-Mu’jamuz Shaghīr,karya Ath-Thabarani, juz 1, hal. 65 dan 135.
6.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 11-92, hadis ke 637, 638, 639, 640, 641, 644, 648, 649, 650, 651, 652, 653, 656, 657, 658, 659, 660, 661, 663, 664, 665, 666, 667, 668, 671, 672, 673, 675, 678, 680, 681, 686, 689, 690, 691, 694, 707, 710, 713, 714, 717, 718, 729, 740, 751, 754, 755, 756, 757, 758, 759, 760, 761, 762, 764, 765, 767, 768, 769, 770, 774, cetakan pertama, Beirut.
7.Khashā`ish Amīrul Mu`minān, karya An-Nasa’i Asy-Syafi’i, hal. 4, cetakan At-Taqaddum Al-‘Ilmiyah, Mesir; hal. 8, cetakan Beirut; hal. 49, cetakan Al-Haidariyah.
8.Tarjamatul Imam Ali bin Abi Thalibdalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu ‘Asakir Asy-Sayarifi’i, juz 1, hal. 185.
9.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 45, 373, 374, 375.
10. Musnad Ahmad, juz 3, hal. 259 dan 285; juz 4, hal. 107; juz 6, hal. 292, 296, 298, 304, dan 306, cetakan Mesir.
11. Usdul Ghābah fī Ma’rifatis Shahābah, karya Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 12 dan 20; juz 3, hal. 413; juz 5, hal. 521 dan 589.
12. Dzakhā`irul ‘Uqbā,karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 21, 23, dan 24.
13. Asbābun Nuzūl,karya Al-Wahidi, hal. 203, cetakan Al-Halabi, Mesir.
14. Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 23 dan 224.
15. Tafsīr Ath-Thabari, juz 22, hal. 6, 7, dan 8, cetakan Al-Halabi, Mesir.
16. Ad-Durrul Mantsūr,karya As-Suyuthi, juz 5, hal. 198 dan 199.
17. Ahkāmul Qurān,karya Al-Jashshash, juz 5, hal. 230, cetakan Abdurrahman Muhammad; hal. 443, cetakan Kairo.
18. Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 301, hadis ke 345, 348, 349, 350, dan 351.
19. Mashābīhus Sunnah,karya Al-Baghawi Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 278, cetakan Muhammad Ali Shabih; juz 2, hal. 204, cetakan Al-Khasyab.
20. Misykātul Mashābīh,karya Al-‘Amri, juz 3, hal. 354.
21. Al-Khasysyāfkarya Az-Zamakhsyari, juz 1, hal 193, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 1, hal. 369, cetakan Beirut.
22. Tadzkiratul Khawwāsh,karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 233.
23. Mathālibus Sa`ūl,karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 19 dan 20.
24. Ahkāmul Qurān,karya Ibnu ‘Arabi, juz 2, hal. 166, cetakan Mesir.
25. Tafsir Al-Qurthubi, juz 14, hal. 182, cetakan Kairo.
26. Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal. 483, 494, dan 485, cetakan Mesir.
27. Al-fushūlul Muhimmah karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki hal. 8.
28. At-Tashīl li ’Ūlūmit Tanzīl, karya Al-Kalbi, juz 3, hal. 137.
29. At-Tafsīrul Munīr li ma’ālimit Tanzīl, karya Al-Jawi, juz 2, hal. 183.
30. Al-Ishābah,karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 502; juz 4; hal. 367, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 2, hal. 509; juz 4, hal. 378, cetakan As-Sa’adah, Mesir.
31. Al-Itqān fī ‘Ulūmil Qurān, karya As-Suyuthi, juz 4, hal. 240, cetakan Mathba’ Al-Masyhad Al-Huseini, Mesir.
32. Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar, hal. 85, cetakan Al-Maimaniyah; hal. 141 dan 227, cetakan Al-Muhammadiyah.
33. Muntakhab Kanzul ‘Ummāl(catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 96.
34. As-Sīrah An-Nabawiyah, karya Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sīrah Al-Halabiyah, juz 3, hal. 329 dan 330, cetakan Al-Mathba’ Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal. 365, cetakan Muhammad Ali Shabih, Mesir.
35. Is’āfur Rāghibīn,karya Ash-Shabban (catatan pinggir) Nurul Abshār, hal. 104, 105, dan 106, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 97 dan 98, cetakan Al-‘Utsmaniyah; hal. 105, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir.
36. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari juz 2, hal. 547-502.
37. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 223 dan 224.
38. Al-Istī’āb,karya Ibnu Abdul Bar (catatan pinggir) Al-Ishābah, juz 3, hal. 37, cetakan As-Sa’adah; juz 3, hal. 317, cetakan Mushthafa Muhammad.
39. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 107, 108, 228, 229, 230, 244, 260, dan 294, cetakan Istambul; hal. 124, 125, 126, 135, 196, 229, 269, 271, 272, 352, dan 353, cetakan Al-Haidariyah.

2.Surah Asy-Syūrā : 23, Perintah Mencintai Ahlul Bayt as

“Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini melainkan kecintaan terhadap keluargaku”.

Ayat ini turun untuk keluarga Rasulullah SAWW, yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 130, hadis ke 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834, dan 838.
2.Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 307, hadis ke 352.
3.Dzakhā`irul ‘Uqbā, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 25 dan 138.
4.Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 101, 135, 136, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 168, dan 225, cetakan Al-Muhammadiyah, Mesir.
5.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 91,93, dan 313, cetakan Al-Haidariyah; hal. 31, 32, 175, 178, cetakan Al-Ghira.
6.Al-Fushūlul Muhimmahkarya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11.
7.Maqtalul Husein as,karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 1 dan 57.
8.Tafsir Ath-Thabari, juz 25, hal. 25, cetakan ke 2, Mushthafa Al-Halabi, Mesir; juz 25, hal. 14 dan 15, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
9.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 172.
10. Al-Ittirāf,karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 5 dan 13.
11. Ihyā`ul Mayyit,karya As-Suyuthi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Al-Ittihāf, hal. 110.
12. Nūrul Abhsār,karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 106, cetakan Al-’Utsmaniyah.
13. Tafsir Al-Kasysyāf,karya Zamakhsyari, juz 3, hal. 402, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 4, hal. 220, cetakan Beirut.
14. At-Tafsīrul Kabīr, karya Imam Fakhrur Razi, juz 27, hal. 166, cetakan Abdurrahman Muhammad, Mesir; juz 7, hal. 405-406.
15. Tafsir Al-Baidhāwi, juz 4, hal 123, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir; juz 5, hal. 53, cetakan Darul Kutub, hal. 642, cetakan Al-‘Utsmaniyah.
16. Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 112.
17. Majma’uz Zawā`id, juz 7, hal. 103; dan juz 9, hal. 168.
18. Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 8, hal. 372.
19. Tafsir Al-Qurthubi juz 16 hal. 22.
20. Fathul Qadīrkarya Asy-Syaukani juz 4 hal. 537, cetakan ke 2; juz 2 hal. 22, cetakan pertama, Mesir.
21. Ad-Durrul Mantsūrkarya As-Suyuthi, juz 6, hal. 7.
22. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 106, 194, 261, cetakan Islambul; hal. 123, 229, 311, cetakan Al-Haidariyah.
23. Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 105.
24. Hilyatul Awliyā`, juz 3, hal. 201.
25. Al-Ghadīr,Al-Amini, juz 2, hal. 306-311.
26. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari, juz 3, hal. 2-22; juz 9, hal. 92-101, cetakan Pertama, Tehran.
27. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 259.
28. Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 20; juz 2, hal. 13, hadis ke 359.
29. Abaqātul Anwārbagian hadis Ats-Tsaqalain, juz 1, hal. 285.

3.Surah Al-Baqarah : 124, Ayat Imamah

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia (berhasil) melengkapinya. Allah berfirman: “Sungguh aku akan menjadikanmu seorang imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim memohon: “ Juga dari keturunanku!”.
Allah berfirman: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”.

Dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathaba’i juz 1 hal. 273, diriwayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima Nabi Ibrahim as sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatnya menjadi seorang mabi, mengangkatnya menjadi nabi sebelum Dia memilihnya menjadi rasul, mengangkatnya menjadi rasul sebelum Ia menjadikannya sebagai kekasih-Nya (Khalilullah), dan menjadikannya sebagai khalilullah sebelum mengangkatnya menjadi seorang imam. Dan setelah Allah menganugerahkan semua itu kepadanya, Dia berfirman: “Sungguh Aku telah mengangkatmu menjadi imam bagi seluruh manusia”. Karena imamah itu sangat agung baginya, maka beliau memohon kepada Allah: “Dan dari keturunanku juga!”. Kemudian Allah menjawab: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”. Selanjutnya Imam Ja’far berkata: “Orang yang bodoh tidak akan menjadi imam bagi orang yang bertakwa”.

Allamah Thabathaba’i mengatakan berdasarkan riwayat di atas, yang dimaksud dengan “Kalimat” dalam ayat ini adalah imamah Nabi Ibrahim as, Ishak dan keturunannya yang kemudian ia menyempurnakannya dengan imamah Muhammad SAWW dan para imam Ahlul Bayt as dari keturunan Nabi Ismail as Kemudian Allah memperjelas persoalan ini dengan firman-Nya: “Sungguh Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”
Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang memiliki kandungan yang sama dengan hadis di atas terdapat di dalam:
1.Al-Manāqib,karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 276.
2.Naqdhus Shawā’iq,karya Sayid Amir Muhammad Al-Khazhim, hal. 220.
3.Dalā`ilus Shidq,karya Al-Imam Al-Muzhaffar, hal. 140.
4.Al-Manāqib,karya Syahr-asyub, juz 2, hal. 263.
5.Tafsir Al-‘Ayyāsyi, tentang surat ini.

4.Surah Asy-Syu’arā` : 214, Ayat Indzār, “Dan berilah peringatan keluargamu yang terdekat”

Ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang kubawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?”
Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib. Di antara hadirin beliaulah yang paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya, Rasulullah. Aku (bersedia menjadi) wazirmu dalam urusan ini”. Lalu Rasulullah SAWW memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku dan washiku serta khalifahku atas terhadap kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dan taatilah ia.” Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Abu Thalib: “Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu”.

Peristiwa di atas dapat dirujuk di buku-buku berikut:
1.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 372, hadis ke 514; hal. 420, hadis ke 580, cetakan pertama, Beirut.
2.Tafsir Ath-Thabari, juz 19, hal. 74, cetakan Bulaq; juz 19, hal. 68, cetakan Al-Maimaniyah; juz 19, hal. 121, cetakan kedua, Mesir.
3.Tārīkh Ath-Thabari, juz 2, hal. 319, cetakan Mesir; juz 2, hal. 216, cetakan yang lain.
4.Musnad, Ahmad bin Hanbal, juz 1, hal. 111, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
5.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 204-205, cetakan Al-Haidariyah; hal. 89, cetakan Al-Ghira.
6.Tadzkiratul Khawwāsh,karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 38, cetakan Al-Haidariyah; hal. 44, cetakan Najef.
7.Munthakhab Kanzil ‘Ummāl(catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5, hal. 41, 42, dan 43.
8.Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 105, cetakan Islambul; hal. 122, cetakan Al-Haidariyah.
9.Syarah Nahjul Balāghah,karya Ibnu Abil Hadid, juz 13, hal. 210, cetakan Mesir, dengan TahqiqMuhammad Abul Fadhl.
10. Al-Kāmil fit Tārīkh,karya Ibnu Atsir, juz 2, hal. 62, cetakan Dar Shadir; juz 2, hal. 216, cetakan yang lain, Mesir.
11. Tārīkh Abil Fida`, juz, hal. 119, cetakan Al-Qastantiniyah.
12. Ad-Durrul Mantsūr,karya As-Suyuthi, juz 5, hal. 97.
13. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 85, hadis ke 138,130 dan 140.
14. Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 351.
15. Kanzul ‘Ummāl, juz 15, hal. 113, hadis ke: 323, 324, 380, 381, cetakan Kedua Haidar Abad; juz 6, hal. 396, cetakan pertama.
16. Tafsir Al-Khāzin, juz 3, hal. 371.
17. As-Sīrah Al-Halabiyah, juz 1, hal. 286.
18. At-Tafsīrul Munīr li ma’ālimit Tanzīl, karya Al-Jawi, juz 2, hal. 118, cetakan ketiga Mushthafa Al-Halabi.

5.Surah Ālu Imrān : 103, Perintah Berpegang Teguh Dengan Ahlul Bait

“Berpeganglah dengan tali Allah (hablullah) dan janganlah bercerai-berai”

Yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah) dalam ayat ini adalah Ahlul Bayt as Hal ini dapat dirujuk di buku-buku referensi berikut ini:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 130, hadis ke: 177, 178, 179, dan 180.
2.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, hal. 149, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 139, 328, 356, cetakan Al-Haidariyah; hal. 119, 274, dan 279, cetakan Islambul.
4.Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 76.
5.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 4, hal. 16.
6.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 101, cetakan Al-‘Utsmaniyah.
7.Is’āfur Rāghibīn, karya Ash-Shabban Asy-Syafi’i, hal. 107, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 100, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

6.Surah At-Taubah : 119, Orang-orang yang Benar

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang benar” dalam ayat di atas adalah Imam Ali as dan para pengikut beliau. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 259, hadis ke : 350, 351, 352, 353, 355, dan 356.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-syafi’i, hal. 236, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Al-Ghira.
3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 421, hadis ke 923.
4.Al-Manāqib,karya Al-Kharazmi, hal. 198.
5.Nizhām Duraris Simthain, hal. 91.
6.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 414.
7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 136 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 116 dan 119, cetakan Islambul.
9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-suyuthi, juz 3, hal. 390.
10.Al-Ghadīr,karya Al-Amini, juz 2, hal. 305.
11.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi juz 11, hal. 41.
12.Ghāyatul Marām, bab 42, hal. 248, cetakan Iran.
13.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 314, hadis ke 250; hal. 370, hadis ke 299 dan 300.

7.Surah Al-An’ām : 153, Perintah Mengikuti Jalan Kebenaran

“Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya”

Silahkan rujuk:
1.Yanābī’ul Mawaddah, hal. 130, Al-Haidariyah; hal. 111, Islambul.
2.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 543.
3.Ghāyatul Marām, hal. 434.

8.Surah An-Nisā` : 59, Perintah Menaati Ulil Amr

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan Ulil Amr (yang berasal dari) dirimu”

Yang dimaksud dengan Ulil Amr dalam ayat di atas adalah Ali dan para imam ma’shum as dari keturunan beliau. Silahkan rujuk:
1.Yanābī’ul Mawaddah, karya Syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 134 dan 137, cetakan Al-Haidariyah; hal. 114 dan 117, cetakan Islambul.
2.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
3.Tafsir Ar-Razi, juz 3, hal. 357.
4.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 424, cetakan pertama, Tehran.
5.Farā`idus Simthain juz 1 hal. 314, hadis ke 250.

9.Surah An-Nahl : 43, Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as

“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu”

Yang dimaksud dengan ahludz dzikr dalam ayat di atas adalah Ahlul Bayt Nabi as Yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.
2.Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.
3.Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.
4.Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.
5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.
6.Rūhul Ma’ānī, karya Al’Alusi, juz 14, hal. 134.
7.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari juz 3, hal. 483, cetakan Tehran.

10.Surah Ar-Ra’d : 7,Mundzir dan Pemandu Kepada Kebenaran

“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan (mundzir), dan setiap kaum (pasti memiliki) seorang pemberi petunjuk”

Yang dimaksud dengan “penunjuk jalan” dalam ayat di atas adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as
Ibnu abbas meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW meletakkan tangan di atas dadanya sambil bersabda: “Aku adalah mundzir”. Dan ketika membaca: “Wa li kulli qaumin hād”, beliau menunjuk ke arah Imam Ali as seraya bersabda: “Wahai Ali, kamu adalah pemberi petunjuk itu, dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk setelah aku (wafat), mereka mendapatkannya melalui (petunjukmu)”.
Hadis ini dan hadis-hadis lain yang searti dengannya dapat dilihat di dalam buku-buku referensi berikut:
1.Tafsir Ath-Thabari, juz 13, hal. 72 dan 108.
2.Tafsir An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 13, hal. 78.
3.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, tentang ayat ini.
4.Tafsir Fakhrur Razi, juz 5, hal. 271, cetakan Dar At-Thaba’ah Al-‘Amirah, Mesir; juz 3, hal. 14, cetakan yang lain.
5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 502.
6.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 4, hal. 45.
7.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, tentang ayat ini.
8.Manāqib Ibnu Syahra-asyub, juz 2, hal. 280.
9.Nūrul Abshār, Asy-Syablanji hal. 71, cetakan Al-‘Utsmaniyah; hal. 71, cetakan As-Sa’idiyah, Mesir.
10.Tarjamah Al-Imam Ali bin abu Thalib dalam Tarikh Dimasyq, karya oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 415, hadis ke: 913, 914, 915, 916.
11.Mustadrak Al-Hakim, juz 3, hal. 129-130.
12.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 115-121, cetakan Al-Haidariyah: hal. 99 dan 104, cetakan Islambul.
13.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 13, hal. 97.
14.Zādul Mashīr, Ibnu Jauzi Al-Hanbali, juz 4, hal. 307.
15.Fathul Bayān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 5, hal. 75.
16.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 77-93.
17.Fadhā`ilul Khamsah minas Shihāhis Sittah, juz 1, hal. 266.
18.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 148.

11.Surah Al-Fātihah : 6 Jalan yang Lurus

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat kepada mereka”
Yang dimaksud “jalan yang lurus” dalam ayat di atas adalah Muhammad SAWWW dan Ahlul Bayt beliau a.s. Mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 1, hal. 57, hadis ke 86, 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 101, 102, 103, 104, dan 105.
2.Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi, hal. 76.
3.Kifāyatut Thālib, Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 162, cetakan Al Haidariyah; hal. 76, cetakan Al-Ghira.
4.Ihqāqul Haqq, At-Tustari, juz 3, hal. 534.

12.Surah Al-Mā`idah : 55-56, Ayat Wilayah

“Sesungguh pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang memberikan zakat ketika sedang ruku’. Barang siapa yang berwilayah kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang yang beriman, sesungguhnya hizbullah adalah orang-orang yang jaya”

Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. ketika beliau memberi sedekah kepada pengemis saat ruku’. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 161-184, hadis ke 216, 217, 218, 219, 221, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 229, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 238, 239, 240 dan 241, cetakan Beirut.
2.Asbābun Nuzūl, Al-Wahidi An-Naisaburi, hal. 113, cetakan Al-Halabi, Mesir; hal. 148, cetakan Al-Hindiyah.
3.Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, Ibnul Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 311, hadis ke 354, 355, 356, 357 dan 358.
4.Kifāyatut Thālib, Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 228, 250, 251, cetakan Al-Haidariyah; hal. 106, 122, 123, cetakan Al-Ghira.
5.Dzakhā`irul ‘Uqbā, Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 88 dan 102.
6.Al-Manāqib, A-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 187.
7.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 409, hadis ke 908 dan 909.
8.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 123 dan 108.
9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 293.
10.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 53.
11.At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl, karya Al-Kalbi, juz 1, hal. 181.
12.Al-Kasysyāf,karya Az-Zamakhsyari, juz 1, hal. 649.
13.Tafsir Ath-Thabari, juz 6, hal. 288-289.
14.Tafsir Al-Munīr li Ma’ālimit Tanzīl, Al-Jawi, juz 1, hal. 210.
15.Zādul Mashīr fī ‘Ilmit Tafsīr, Ibn Jauzi AI-Hanbali, juz 2, hal. 383.
16.Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, juz 3, hal. 51.
17.Tafsir Al-Jalālain, hal. 213.
18.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi, hal. 115, cetakan Istambul; hal. 135, cetakan Al-Haidariyah.
19.Tafsir Fakhur Razi juz 12 hal. 26 dan 20, cetakan Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal. 431, cetakan Ad-Dar Al-’Amirah, Mesir.
20.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 71, cetakan Dar Ihya’ Al-Kutub.
21.Ahkāmul Qurān, karya Al-Jashshash, juz 4, hal. 102, cetakan Abdurrahman Muhammad.
22.Majma’uz Zawā`id, juz 7, hal. 17.
23.Syarah Nahjul Balāghah, karya Ibnu Abil Hadid, juz 13, hal. 277, cetakan Mesir, dengan TahqiqMuhammad Abul Fadhl; juz 3, hal. 275, cetakan pertama, Mesir.
24.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal. 24, cetakan Maimaniyah; hal. 39, cetakan Al-Muhammadiyah.
25.Ansābul Asyrāf, karya Al-Baladzuri, juz 2, hal. 150, hadis ke 151, cetakan Beirut.
26.Tafsir An-Nasafi, juz 1, hal. 289.
27.Al-Hāwi Lil Fatāwā, karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 138 dan 140.
28.Kanzul ‘Ummāl, juz 45, hal. 146, hadis ke 416; hal. 95, hadis 269, cetakan kedua.
29.Muntakhab Kanzul ‘Ummāl (Catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5, hal. 38.
30.Jāmi’ul Ushūl, juz 9, hal. 478.
31.Ar-Riyādhun Nādhirah, juz 2, hal. 273 dan 302.
32.Ihqāqul Haqq, juz 2, hal. 399.
33.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 2, hal. 52; juz 3, hal. 156.
34.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, hal. 31, cetakan Tehran; juz 1, hal. 87, cetakan Najaf.
35.Ma’ālimut Tanzīl (Catatan pinggir) Tafsir Al-Khāzin, juz 2, hal. 55.
36.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 11 dan 190, hadis ke: 150, 151,dan 153.

13.Surah An-Nisā` : 69, Orang-orang yang Diberi Nikmat

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul, maka (di hari kiamat) mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat karya Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan mereka adalah sahabat yang baik”

Yang dimaksud dengan nabiyyin adalah Nabi Muhammad SAWWW, shiddiqin adalah Ali bin Abi Thalib a.s., syuhada` adalah Hamzah dan Ja’far r.a. dan shalihin adalah Hasan dan Husein a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi juz 1 hal. 153, hadis ke 206, 207, 208, dan 209.
2.Ihqāqul Haqq, At-Tustari juz 3 hal. 542.
3.Ghāyatul Marām, bab 182, hal. 426, cetakanTehran.

14.Surah Thāhā : 82, Ayat Pengampunan

“Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, kemudian mendapat petunjuk “

Yang dimaksud dengan ihtadā (mendapat petunjuk) dalam ayat ini adalah mendapat petunjuk dengan perantara berwilayah kepada Ahlul Bayt a.s.
Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 375, hadis ke: 518,519, 520,521, dan 522.
2.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, hal. 151, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 91, cetakan Al- Maimaniyah, Mesir.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi, hal. 129, cetakan Al-Haidariyah; hal. 110, cetakan Istambul.

15.Surah At-Takātsur : 8, Pertanggunganjawaban tentang Kepemimpinan Ahlul Bayt a.s.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang nikmat”

Yang dimaksud dengan “nikmat” dalam ayat di atas adalah wilayah (kepemimpinan) Ahlul Bayt a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 368, hadis: 1150, 1151,1152.
2.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 131, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Istambul.
3.Ghāyatul Marām, hal. 257, cetakan Iran.

16.Surah Al-Mā`idah : 67, Ayat Tabligh

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan hal itu, berarti engkau belum menyampaikan risalah-Nya.”

Menurut beberapa hadis yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi SAWWW, seperti Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Al-Barra’ bin Azib, Abu Hurairah, dan lainnya, ayat ini turun setelah haji Wada’ di Ghadir Khum sehubungan dengan perintah memproklarnirkan kepemimpinan (wilayah) Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 1, hal. 187, hadis ke: 643, 244, 245, 246, 247, 248, 249, 240, cetakan pertama, Beirut.
2.Asbābun Nuzūl, karya Al-Wahidi An-Naisaburi, hal. 115, cetakan Al-Halabi, Mesir; hal. 150, cetakan Al-Hindiyah, Mesir.
3.At-Tafsīrul Kabīr, karya Fakhrur Razi, juz 12, hal. 50, cetakan Mesir 1375 H; juz 3, hal. 637, cetakan Ad-Dar Al-’Amirah, Mesir.
4.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 60, cetakan Al-Halabi; hal. 57, cetakan pertama.
5.Tafsir Al-Manār, karya Syeikh Muhammad Rasyid Ridha, juz 6, hal. 463.
6.Tafsir An-Naisaburi, juz 6, hal. 470.
7.Tafsir Rūhul Ma’āni, karya AL-Alusi, juz 2, hal. 348.
8.Ad-Durrul Mantsūr, karya Jalaluddin As-Suyuthi, juz 2, hal. 298.
9.Kanzul ‘Ummāl, karya AL-Muttaqi AL-Hindi, juz 6, hal. 153.
10.Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 3, hal. 272.
11.Mustadrakul Hakim, jilid 3, hal. 109.
12.’Umdatul Qāri fī Syarah Shahih Bukhari, karya Badruddin Al-Hanafi, juz 8, hal. 584.
13.Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi, hal. 120, cetakan Istambul; hal. 140 dan 298, cetakan Al-Haidariyah.
14.Al-Milal wan Nihal, karya Syahrastani Asy-Syafi’i, jilid 1, hal. 163.
15.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 158, hadis 120, cetakan Beirut.
16.Miftāhun Najāh, karya Al-Badkhasyi, hal. 41.
17.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 6, hal. 347.
18.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 44, cetakan Dar Kutub Najaf; hal. 16, cetakan Tehran.
19.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibn Shabbagh Al-Maliki Al-Makki, hal. 25, cet Al-Haidariyah.
20.Tarjamah AI-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 86, hadis ke 586, cetakan Beirut.
21.Fathul Bayān fi Maqāshidil Qurān, karya Allamah Sayyid Shiddiq Hasan Khan, juz 3, hal. 63, cetakan Mathba’ Al-’Ashimah, Kairo; juz 3, hal. 89, cetakan Bulaq, Mesir, 23; Al-Ghadir, karya Al-Amini, juz 1, hal. 9.

17.Surah Al-Ahzāb : 6, Ayat Wilayah

Nabi itu lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri. Ayat ini turun untuk mempertegas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam suatu riwayat, Al-Barra' bin' Azib berkata: “Kami bersama Rasulullah SAWWW dalam suatu perjalanan, lalu kami sampai di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Nizcaya Nabi menyeru: “Mari shalat berjema’ah!”. Dalam keadaan panas yang melelahkan Nabi melakukan shalat Zhuhur di bawah dua pohon. Lalu Nabi memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri?” Para sahabat menjawab: “Betul (engkau lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri)”. Selanjutnya Nabi SAWWW bersabda: "Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku lebih utama bagi setiap orang yang beriman dari pada diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: “Benar”. Maka Nabi SAWWW memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Barangsiapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. Lalu Umar bin Khattab mengucapkan selamat kepada Ali bin Abi Thalib: “Selamat atasmu, wahai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpin setiap mukmin dan mukminah.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan An-Nasa'i, dari Buraidah, ia berkata: “Saat aku bersama Ali pergi ke Yaman untuk berperang, aku melihat ia marah. Ketika aku bertemu dengan Rasululah SAWWW, aku ceritakan semua peristiwa itu dengan nada sengaja ingin merendahkannya. Aku melihat wajah Rasulullah SAWWW berubah dan berkata: "Wahai Buraidah, bukankah aku lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” Aku menjawab: “Benar, ya Rasulullah (engkau lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri)”. Lalu Nabi SAWWW bersabda: Barangsiapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.
Riwayat ini dan riwayat-riwayat lainyang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Musnad Ahmad, juz 4, hal. 281, 368 dan 372.
2.Shahīh Ibnu Majah, bab Fadhā`il Ashhab Rasulillah, hal. 13.
3.Khashā`ishun Nasa`i, hal. 25.
4.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 566.
5.Kanzul 'Ummāl, karya Al-Muttaqi Al-Hindi, juz 6, hal. 390, 397, dan 399.
6.Musykilul Atsar, karya Ath-Thahawi, juz 2, hal. 307.
7.Al-Manāqib, karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi'i, hal. 18.
8.Usdul Ghābah, karya Ibnu Atsir, juz 2, hal. 307.
9.Al-Ishābah, karya Ibnu Hajar Al-'Asqalani, juz 4, hal. 16.
10.Ash-Shawā'iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal. 25.
11.Ar-Riyādhun Nadhirah, karya Ath-Thabari, juz 2, hal. 169.
12.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 21, hal. 104.

18.Surah Al-Mā`idah : 3, Penyempurnaan Agama dan Nikmat (Wilayah)

“Pada hari ini telah Kusempumakan untukmu agamamu, Kulengkapi nikmat-Ku bagimu dan Kurestui Islam sebagai agamamu”

Ayat ini turun di Ghadir Khum ketika Nabi SAWWW mengangkat tangan Imam Ali a.s. untuk memproklamirkan kepemimpinannya di depan kurang lebih 150 ribu hadirin saat itu. Nabi SAWW menyampaikan hal ini setelah melaksanakan haji Wada’, dan ketika itu Nabi SAWW bersabda:“Barangsiapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya dan musuhilah orang yang memusuhinya… “
Selanjutnya Umar bin Khattab mengucapkan selamat kepada Imam Ali a.s. seraya berkata: “Selamat, selamat atasmu wahai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap yang mukmin dan mukminah”.

Riwayat tersebut dan riwayat-riwayat lain yang semakna dengannya terdapat dalam kitab-kitab berikut:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Haskani, juz 1, hal. 157, hadis ke: 211, 212, 213, 214, 215, 250, cetakan pertama, Beirut.
2.Tarjamah AI-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 75, hadis ke: 575, 576, 577, 578, 585, cetakan pertama, Beirut.
3.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 19, hadis ke 24, cetakan Tehran.
4.Tārīkh Baghdad, karya Al-Khatib Al-Baghdadi, juz 8, hal. 290, cetakan As-Sa’adah, Mesir.
5.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 259, cetakan pertama, Mesir.
6.Al-Itqān, As-Suyuthi, juz 1, hal. 31, cetakan tahun 1360 H.; juz 1, hal. 52, cetakan Al-Masyhad Al-Huseini, Mesir.
7.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 80, cetakan Al-Haidariyah.
8.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 30, cetakan Al-Haidariyah.
9.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 14, cetakan pertama, Mesir; juz 3, hal. 281, cetakan Bulaq.
10.Maqtalul Husein, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 47, cetakan Mathba’ah Az-Zahra’.
11.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 115, cetakan Istambul; hal. 135, cetakan Al-Haidariyah.
12.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 72, 74,315, cetakan pertama, Beirut.
13.Tārīkh Al-Ya’qūbī, juz 2, hal. 35, cetakan Al-Haidariyah. 14; Tarikh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i, juz 5, hal. 210.
14.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 6, hal. 106.
15.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 6, hal. 55, cetakan Al-Muniriyah.
16.Al-Bidāyah wan Nihāyah, karya Ibnu Katsir, juz 5, hal. 213; juz 7, hal. 347, cetakan Kairo.
Adapun riwayat dari jalur Syi’ah, silahkan rujuk: Al-Bihār, karya Al-Majlisi, juz 38, bab 52, cetakan baru.

19.Surah Al-Ma’ārij : 1-3, Mendapat Siksa karena Meragukan wilayah Imam Ali a.s.

“Seorang peminta telah meminta datangnya siksa yang (sekarang) telah terjadi. (Siksa itu) untuk orang-orang kafir, (dan) tidak ada seorang pun dapat menolaknya. ”

Ayat ini berkenaan dengan Nu’man Al-Fihri, ketika ia meragukan pengangkatan Nabi SAWW terhadap Ali bin Abi Thalib a.s.sebagai penggantinya. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 2, hal. 286, hadis ke 1030, 1031, 1033, 1034.
2.As-Sīratul Halabiyah, karya Ali bin Burhanuddin AI-Halabi Asy-Syafi’i, juz 3, hal. 275, cetakan Al-Bahiyyah, Mesir, tahun 1320 H.
3.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 30.
4.Nizham Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 93.
5.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 25.
6.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 71, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 71, cetakan Al-‘Utsmaniyah, Mesir.
7.Yanābī’ul Mawaddah, karya A-Qundusi, hal. 328, cetakan Al-Haidariyah; hal. 274, cetakan Islambul.
8.Tafsir Abi As-Sa’ud (catatan pinggir) Tafsir Ar-Razi, juz 8, hal. 292, cetakan Dar Ath-Thaba ‘ ah Al- ‘ Amirah, Mesir.
9.Tafsir Al-Qurthubi, juz 18, hal. 278.
10.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwaini, juz 1, hal. 82.
11.As-Sirājul Munīr, karya Asy-Syarbini Asy-Syafi’i, juz 4, hal. 364.
12.Faidhul Qadīr fī Syarh Al-Jārni’is Shaghīr, juz 6, hal. 218.
13.Nuzhatul Majālis, karya Ash-Shafuri, juz 2, hal. 242.
14.Syarh Al-Jāmi’us Shaghīr, karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 387.
15.Tafsir Al-Manār, juz 6, hal. 464.

20.Surah Ash-Shāffāt : 24, Mereka Akan Ditanyai tentang Wilayah Imam Ali a.s.

“Dan Tahanlah mereka karena mereka akan ditanyai”

Mereka akan ditanyai tentang Wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 106, hadis ke: 785, 786, 787, 788, 789.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 247, cetakan Al-Haidariyah; hal. 120, cetakan Al-Ghira.
3.Nizhām Duraris Simthain, karya Az-zarnadi Al-Hanafi, hal. 109.
4.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi, hal. 112, 114, 270, dan 295, cetakan Islambul; hal.: 131, 133, 324, 354, dan 355, cetakan Al-Haidariyah.
5.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 195.
6.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 147, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 89, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
7.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, tentang ayat ini.
8.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 79.

21.Surah Az-Zukhruf : 45, Kepemimpinan Rasullulah SAWW dan Imam Ali a.s.

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu”

Yaitu mereka diutus untuk berwilayah kepada Muhammad SAWW dan Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 2, hal. 156, hadis ke 855, 856, 858.
2.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 220.
3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 97, hadis ke 599.
4.Ghāyatul Marām, bab 44, cet. Iran.
5.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 81.

22.Surah Ālu Imrān : 61, Ayat Mubahalah

“Maka katakanlah (kepada mereka): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita kami dan wanita kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah lalu kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”

Umat Islam sepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Nabi SAWW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Silahkan rujuk:
1.Shahīh Muslim, kitab Al-Fadhā`il, bab Fadhā`il Ali bin Abi Thalib, juz 2, hal. 360, cet. Isa Al-Halabi;Syarah An-Nawawi, juz 15, hal. 176, cet. Mesir.
2.Sunan At-Tirmidzi, juz 4, hal. 293, hadis ke 3085; juz 5, hal. 301, hadis ke 3808.
3.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 120-129, hadis ke 168, 170,171, 172, 173, dan 175.
4.Mustadrak Al-Hakim, juz 3, hal. 150. la menganggap riwayat ini sahih. Dalam Ma’rifah ‘Ulūmil Hadīts, karya Al-Hakim disebutkan bahwa dalam kitab-kitab tafsir termaktub riwayat-riwayat yang mutawatir dari Abdullah bin Abbas dan lainnya bahwa Rasulullah SAWW pergi ke tempat mubahalah sambil menuntun tangan Ali, Hasan dan Husein a.s., sedangkan Fathirnah a.s. berada di belakang mereka. Beliau bersabda:“Mereka ini adalah anak-anak karni, diri kami, dan wanita karni, maka panggillah anak-anakmu, dirimu, dan wanitamu. Kemudian, mari kita bermubahalah kepada Allah dan memohon supaya kutukan-Nya ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.
5.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 263, hadis ke 310.
6.Musnad Ahrnad bin Hanbal, juz 1, hal. 185, cet. Al-Maimaniyah; juz 3, hal. 97, hadis ke 1608, cet. Darul Ma’arif.
7.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 54, 85, 142, cet. Al-Haidariyah; hal. 13,28,29,55,56, cet. Al-Ghira.
8.Tarjamah AI-Imam Ali bin Abi Thalibdalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 21, hadis ke 30 dan ke 271.
9.Tafsir Ath-Thabari, juz 3, hal. 299, 330, 301; juz 3, hal. 192, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
10.Al-Kasysyāf, karya Zamakhsyari, juz 1, hal. 367-370, cet. Beirut; juz 1, hal. 193, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
11.Tafsir Ibnu Katsir, juz 1, hal. 370-371.
12.Tafsir Al-Qurthubi, juz 4, hal. 104.
13.Ahkāmul Qurān, karya Al-Jashshash, juz 2, hal. 295-296. la berkata: “Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa Nabi SAWW menuntun tangan Hasan, Husein, Ali dan Fathimah a.s. …, cet. Abdurrahman, Mesir.
14.Asbābun Nuzūl, karya Al-Wahidi, hal. 59.
15.Ahkāmul Qurān, karya Ibnu Al-’Arabi, juz 1, hal. 275, cet. kedua Al-Halabi; juz 1, hal. 115, cet. As-Sa’adah, Mesir.
16.At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl, karya Al-Kalbi, juz 1, hal. 109.
17.Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, juz 2, hal. 72.
18.Zadul Mashīr, karya Ibn Al-Jauzi, juz 1, hal. 347, cet. kedua Mushthafa AI-Halabi, Mesir; juz 1, hal. 316, cet. pertama, Mesir.
19.Tafsir Fakhrur Razi, juz 2, hal. 699, cet. Dar Thama’ah Al-’ Amirah, Mesir; juz 8, hal. 85, cet. Al-Bahiyah, Mesir.
20.Jāmi’ul Ushūl, karya Ibnu Atsir, juz 9, hal. 470.
21.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 18, cet. Najaf; hal. 8, cet. Tehran.
22.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 25.
23.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 17, cet. Najaf; hal. 14, cet. Al-Haidariyah.
24.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 38-39.
25.Tafsir Al-Baidhawi, juz 2, hal. 22.
26.Tarikhul Khulafā`, karya As-Suyuthi, hal. 169.
27.Ash-Shawa’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 72, cet. Al-Maimaniyah; hal. 119 cet. Al-Muhammadiyah, Mesir. Dalam cetakan ini nama Imam Hasan dihilangkan, sementara di cetakan pertama nama itu masih ada; Hal. 72, menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk mereka; hal. 87 dan 93, cet. Al-Maimaniyah; hal. 143 dan 153, cet. Al-Muhammadiyah.
28.Tafsir Al-Khāzin, juz 1, hal. 302.
29.Al-Ittihāf bi hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 5.
30.Ma’ālimut Tanzīl, karya Al-Baghawi (catatan pinggir) Tafsir Al-Khāzin, jilid 1, hal. 302.
31.As-Sīrah Al-Halabiyah, karya Al-Halabi Asy-Syafi’i, juz 3, hal. 212, cet. Al-Mathba’ah Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal. 240, cet. Muhammad Ali Shabih.
32.As-Sirah An-Nabawiyah, karya Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sīrah Al-Halabiyah, juz 3, hal. 5.
33.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 60 dan 97.
34.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 110.
35.Syarah Nahjul Balāghah, karya Ibnu Abil Hadid, juz 16, hal. 291, cet. Mesir, dengan TahqiqMuhammad Abul Fadhl; juz 4, hal. 108, cet. pertama, Mesir.
36.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 46-62; juz 9, hal. 70-91, cet. pertama, Tehran.
37.Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 244.
38.Usdul Ghābah, karya Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, juz 4, hal. 26.
39.Al-Ishābah, karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’i, juz 4, hal. 509, cet. As-Sa’adah Mesir; juz 2, hal. 503, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
40.Mir`ātul Jinān, karya Al-Yafi’i, juz 1, hal. 109.
41.Misykātul Mashābīh, karya Umari, juz 3, hal. 254.
42.Al-Bidāyah wan Nihāyah, karya Ibnu Katsir, juz 5, hal. 54, cet. As-Sa’adah, Mesir. Amirul Mukminin tidak disebutkan.
43.Tafsir Abu As-Sa’ud (catatan pinggir) Tafsir Ar-Razi, juz 2, hal. 143, cet. Ad-Dar Al-’Amirah, Mesir.
44.Tafsir Al-Jalālain, karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 33, cet. Mesir; hal. 77, cet. Darul Kitab Al-’Arabi, Mesir.
45.Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 9, 44,51 52,232, 281, dan 295, cet. Istambul; hal. 9, 49, 57, 59, 275, 291, 353, cet. Al-Haidariyah.
46.Ar-Riyādhun Nādhirah, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 248, cet. kedua.
47.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 387, hadis ke 307; juz 2, hal. 23, hadis ke 365; hal. 205, hadis ke 484, 485, dan 486.

23.Surah Ad-Dahr : 5-22, Kisah Memberi Makanan

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Mereka akan meminum) dari mata air (dalam surga) yang dari mata air itu hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana … Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri. “

Ayat ini turun untuk Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein a.s., sehubungan dengan kisah puasa mereka selama tiga hari dan sedekah yang mereka berikan selama tiga hari itu dengan memberi makanan kepada orang-orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 298, hadis ke 1042, 1046, 1047, 1048, 1051,1053, 1054, 1055, 1056, 1057, 1058, 1059 dan 1061.
2.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 188-194.
3.Kifāyatut Thālib, karya Al-Kanji Asy-Syafi’i, hal. 345-348, cet. Al-Haidariyah; hal. 201, cet. Al-Ghira.
4.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 272, hadis ke 302.
5.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 102-104, cet. As-Sa’idiyah, Mesir; hal. 101-102, cet. Al-’Utsmaniyah, Mesir.
6.Tafsir Al-Qurthubi, juz 19, hal. 130.
7.Al-Kasysyāf, karya Az-Zamakhsyari, juz 4, hal. 670, cet. Beirut; juz 4, hal. 197, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
8.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 29, hal. 157.
9.Usdul Ghābah, karya Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, juz 5, hal. 530-531.
10.Asbābun Nuzūl, karya Al-Wahidi, hal. 251.
11.Tafsir Fakhrur Razi, juz 13, hal. 243, cet. Al-Bahiyah, Mesir; juz 8, hal. 392, cet. Ad-Darul Al-’Amirah, Mesir.
12.Tafsir Abu As-Sa’ud (catatan pinggir) Tafsir Ar-Razi, juz 8, hal. 293, cet. Darul ‘Amirah, Mesir.
13.At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl, karya Al-Kalabi, juz 4, hal. 167.
14.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 349, cet. 2; juz 5, hal. 338, cet. pertama Al-Halabi, Mesir.
15.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 299.
16.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 88 dan 102.
17.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 88.
18.Al-’Uqdatul Farīd, karya Ibnu Abdi Rabbah Al-Ma1iki, juz 5, hal. 96, cet. Lajnatut Ta`līf wan Nasyr, Mesir.
19.Tafsir Al-Khāzin, juz 7, hal. 159.
20.Ma’ālimut Tanzīl, karya Al-Baghawi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Tafsir Al-Khāzin, juz 7, hal. 159.
21.Al-Ishābah, karya Ibnu Hajar, juz 4, hal. 387, cet. As-Sa’adah; juz 4, hal. 376, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
22.Tafsir Al-Baidhāwi, juz 5, hal. 165, cet. Beirut ; juz 4 hal. 235 cet. Musthafa Muhammad, Mesir.
23.Al-Laālil Mushnū’ah, karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 370.
24.Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 318.
25.Al-Ghadīr, karya Al-Amini , juz 3, hal. 107-111.
26.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3 hal. 158-169 ; juz 9, hal. 110-123.
27.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 93 dan 212, cet. Istambul ; hal.107,108 dan 251, cet. Al-Haidaiyah.
28.Nawādhirul Ushūl, karya Al-Hakim At-Tirmidzi, hal. 64 tanpa mencantumkan cetakan.
29.Syarh Nahjul Balāghah, karya Ibnu Abil Hadid, juz 1, hal. 21; juz 13, hal. 276 dengan Tahqiq Muhammad Abul Fadhl.
30.Ar-Riyādhun Nādhirah, karya Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 274 dan 302, cetakan ke-2.
31.Fadhā`ilul Khamsah min Ash-Shihāhis Sittah, juz 254.
32.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 53-56, hadis ke 383.

24.Surah Ad-Dahr : 5-22, Kisah Memberi Makanan

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Mereka akan meminum) dari mata air (dalam surga) yang dari mata air itu hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana … Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri. “

Ayat ini turun untuk Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein a.s., sehubungan dengan kisah puasa mereka selama tiga hari dan sedekah yang mereka berikan selama tiga hari itu dengan memberi makanan kepada orang-orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 298, hadis ke 1042, 1046, 1047, 1048, 1051,1053, 1054, 1055, 1056, 1057, 1058, 1059 dan 1061.
2.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 188-194.
3.Kifāyatut Thālib, karya Al-Kanji Asy-Syafi’i, hal. 345-348, cet. Al-Haidariyah; hal. 201, cet. Al-Ghira.
4.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 272, hadis ke 302.
5.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 102-104, cet. As-Sa’idiyah, Mesir; hal. 101-102, cet. Al-’Utsmaniyah, Mesir.
6.Tafsir Al-Qurthubi, juz 19, hal. 130.
7.Al-Kasysyāf, karya Az-Zamakhsyari, juz 4, hal. 670, cet. Beirut; juz 4, hal. 197, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
8.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 29, hal. 157.
9.Usdul Ghābah, karya Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, juz 5, hal. 530-531.
10.Asbābun Nuzūl, karya Al-Wahidi, hal. 251.
11.Tafsir Fakhrur Razi, juz 13, hal. 243, cet. Al-Bahiyah, Mesir; juz 8, hal. 392, cet. Ad-Darul Al-’Amirah, Mesir.
12.Tafsir Abu As-Sa’ud (catatan pinggir) Tafsir Ar-Razi, juz 8, hal. 293, cet. Darul ‘Amirah, Mesir.
13.At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl, karya Al-Kalabi, juz 4, hal. 167.
14.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 349, cet. 2; juz 5, hal. 338, cet. pertama Al-Halabi, Mesir.
15.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 299.
16.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 88 dan 102.
17.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 88.
18.Al-’Uqdatul Farīd, karya Ibnu Abdi Rabbah Al-Ma1iki, juz 5, hal. 96, cet. Lajnatut Ta`līf wan Nasyr, Mesir.
19.Tafsir Al-Khāzin, juz 7, hal. 159.
20.Ma’ālimut Tanzīl, karya Al-Baghawi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Tafsir Al-Khāzin, juz 7, hal. 159.
21.Al-Ishābah, karya Ibnu Hajar, juz 4, hal. 387, cet. As-Sa’adah; juz 4, hal. 376, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
22.Tafsir Al-Baidhāwi, juz 5, hal. 165, cet. Beirut ; juz 4 hal. 235 cet. Musthafa Muhammad, Mesir.
23.Al-Laālil Mushnū’ah, karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 370.
24.Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 318.
25.Al-Ghadīr, karya Al-Amini , juz 3, hal. 107-111.
26.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3 hal. 158-169 ; juz 9, hal. 110-123.
27.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 93 dan 212, cet. Istambul ; hal.107,108 dan 251, cet. Al-Haidaiyah.
28.Nawādhirul Ushūl, karya Al-Hakim At-Tirmidzi, hal. 64 tanpa mencantumkan cetakan.
29.Syarh Nahjul Balāghah, karya Ibnu Abil Hadid, juz 1, hal. 21; juz 13, hal. 276 dengan Tahqiq Muhammad Abul Fadhl.
30.Ar-Riyādhun Nādhirah, karya Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 274 dan 302, cetakan ke-2.
31.Fadhā`ilul Khamsah min Ash-Shihāhis Sittah, juz 254.
32.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 53-56, hadis ke 383.

25.Surah An-Nisā`: 54, Manusia yang Dihasudi

“Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya”

Manusia yang dihasudi dalam ayat ini adalah Ahlul Bayt a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 143, hadis ke 195, 196, 197, dan 198.
2.Manāqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 467, hadis ke 314.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal 142, 328 dan 357, cet. Al-Haidariyah; hal. 121, 274, dan 298, cet. Istambul.
4.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150 cet. Al-Muhammadiyah; hal. 91, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
5.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 101, cet. Al’-Utsmaniyah; hal. 102, cet. As-Sa’idiyah.
6.Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syibrawi Asy-Syafi’i, hal. 76.
7.Rasyafah Ash-Shadi, karya Abu Bakar Al-Hadhrami, hal. 37.
8.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 3, hal. 61.

26.Surah Al-A’rāf : 46, Tokoh-tokoh A’raf

“Dan di atas Al-A’raf itu terdapat orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tanda mereka”

Para penghuni Al-A’raf adalah Ali, Ja’far, Hamzah, dan Abbas. Mereka mengenal orang-orang yang mencintai dan membenci mereka. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 1, hal. 198, hadis ke 256, 257, dan 258, cet. Beirut.
2.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 118 dan 119 cet. Al-Haidariyah; hal. 102, cet. Istambul.
3.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i hal. 101, cet. Al-Maimanaiyah; hal: 168, cet. Al-Muhammadiyah, Mesir.
4.Tafsir Al-Qurthubi, juz 7, hal. 212.
5.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukuni, juz 2, hal. 212.
6.Fadhā`ilul Khamsah min Ash-Shihahis Sittah, juz 1, hal. 286.

27.Surah Al-Ahzāb : 23, Orang yang Menunggu-nunggu Janji Allah

“Di antara orang-orang itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka, di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”

Ia menunggu apa yang telah dijanjikan Allah kepadanya, dan ia adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 1 hadis ke 627 dan 628.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 249, cet. Al-Haidariyah; hal.122, cet. Al-Ghira.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, Hal. 96, cet. Islambul; Hal.110, cet. Al-Haidiriyah.
4.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 197, cet. Al-Haidiriyah.
5.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 17.
6.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 116.
7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i Hal. 80, cet. Al-Maimaniyah; hal. 132, cet. Al-Muhammadiyah, Mesir.
8.Nūrul Abshār, karya A-Ganji, hal. 98, cet. As-Saidiyah; hal. 98, cet. Al-Utsmaniyah.
9.Tafsir Al-Khāzin, juz 5 hal. 203.
10.Ma’ālimut Tanzīl, karya Al-Baghawi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Tafsir Al-Khāzin, juz 5, hal. 203.
11.Al-Ghadīr, karya At-Tustari, juz 3, hal. 51.
12.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 363.
13.Fadhā`ilul Khamzah min Ash-Shihahis Sittah, juz 1, hal. 287.

28.Surah An-Nūr : 35, Cahaya Allah

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpaan cahaya Allah seperti miskat (sesuatu yang tak tembus cahaya) yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya”

Silahkan rujuk Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i , hal. 316, hadis ke 361, cet. Tehran.

Surah Shād : 28, Mereka yang Bertakwa dan yang Bermaksiat

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat.”

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang bertakwa” di sini adalah Ali bin Abi Tahlib, Hamzah, Ubaidah bin Harits. Sedangkan yang dimaksud dengan “orang-orang yang bebuat maksiat” adalah Al-Walid, Utbah, dan Syaibah. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 113, hadis ke798, 799, 800, 801, 802, 803 dan 804.
2.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 23, hal. 171.
3.Ghāyatul Marām, hal. 379, cet. Tehran.

29.Surah Al-Jātsiyah : 21, Mereka yang Bariman dan yang Membuat Kerusakan

“Apakah orang-orang yang membuat kerusakan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah persangkaan mereka itu”

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” di sini adalah Ali bin Abi Thalib, Hamzah dan Ubaidah bin Harits. Sedangkan yang dimaksud dengan “orang-orang yang membuat kerusakan” adalah Al-Walid, Utbah, dan Syaibah. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 114, hadis ke 801; hal. 168, hadis ke 872, 873, 874 dan 875.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 247, cet. Al-Haidiriyah; hal. 120, cet. Al-Ghira.
3.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal.17.
4.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal.195.
5.Tafsir Fakhrur Razi, juz 7, hal. 486.
6.Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 289.
7.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 2, hal. 56.

30.Surah Al-Bayyinah : 7, Makhluk Terbaik

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah makhluk terbaik (khairul bariyyah)”

Rasulullah SAWW bersabda: “Hai Ali, mereka (khairul bariyyah) adalah engkau dan syi’ahmu”. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 357-366, hadis ke 1125, 1126, 1127, 1128, 1129, 1130, 1131, 1132, 1133, 1134, 1135, 1136, 1137, 1138, 1139, 1140, 1141, 1142, 1143, 1144, 1145, 1145, 1146, 1147 dan 1148.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 244, 245 dan 246, cet. Al-Haidariyah; hal.118 dan 119, cet. Al-Ghira.
3.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 62 dan 187.
4.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbaqh Al-Maliki, hal.107.
5.Nizham Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 92.
6.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 442, hadis ke 951.
7.Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 62, 74 dan 270, cet. Islambul; hal. 71 dan 84, 361 dan 362, cet. Al-Hairiyah.
8.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 71 dan 102, cet. As-Sa’idiyah; hal. 71 dan 101, cet. Al-Ustmaniyah, Mesir.
9.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 96, cet. Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 159, cet. Al-Muhammadiyah.
10.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 379.
11.Tafsir Ath-thabari, juz 30 dan 146, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
12.Tadzkiyatul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 18.
13.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, jilid 5, hal. 477.
14.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 30, hal. 207.
15.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 287.
16.Al-Gahdīr, karya Al-Amini, juz 2, hal. 57.
17.Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 278.
18.Ghāyatul Maram, bab 28, hal. 328, cet. Tehran.
19.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 156.

31.Surah Ash-Shāffāt : 130, Keluarga Yasin

“Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas keluarga Yasin”

Yang dimaksud dengan “keluarga Yasin” adalah keluarga Muhammad SAWW. Silakan rujuk :
1.Syawāhidut Tanzīl oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 109, hadis ke 791, 792, 793, 794, 795, 796 dan 797.
2.Nizham Duraris Simthain, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 94.
3.Majma’uz Zawā`id, juz 9, hal. 174.
4.Tafsir Fakhrur Razi, juz 26, hal. 162, Cet. Al-Bahiyah Mesir, juz 7, hal. 163, cet. Dar Ath-Thaba’ah, Mesir.
5.Tafsir Al-Qurthubi, juz 15, hal. 119.
6.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 20.
7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar As-Syafi’I, hal. 146, cet. Al-Muhammadiyah; hal. 88, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
8.Ad-Durul Mantsūr, oleh As-Suyuthi, juz 4, hal. 286.
9.Fathul Qadīr, oleh As-Syaukani, juz 4, hal. 412.
10.Yanābī’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 345, cet. Al-Haidariyah; hal. 295, cet. Istambul.
11.Ihqāqul Haqq, oleh At-Tustari, juz 3, hal. 449, cet. Tehran.

32.Surah Al-Ahzāb : 56, Ayat Tentang Shalawat

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada Nabi dan ucapkan salam kesejahteraan kepadanya”

Ayat ini menjelaskan cara bershalawat kepada Nabi dan Keluarganya. Silakan rujuk :
1.Shahih Bukhari, kitab At-Tafsīr, bab Firman Allah innallāha wa malāikatahū Yushallūna ‘alan Nabī, juz 6, hal. 27, cet. Darul Fikr; juz 6, hal. 151, cet. Mathabi’ Asy-Sya’b; juz 6, hal. 120, cet. Al-Amiriyah. Dan kitabBad`ul Khalq, bab Yazifuna An-Naslan fil Masy-yi, juz 4, hal. 118, cet. Darul Fikr; kitab ad-da’awāt, bab ash-shalāh ‘alan Nabi SAWW, juz 7, hal. 156, cet. Darul Fikr.
2.Shahih Muslim, kitab ash-shalāh, bab ash-shalāh ‘alan Nabi SAWW, juz 2, hal. 16, cet. Syirkah Al-I’lanat; juz 1, hal. 173, cet. Isa Al-Halabi.
3.Shahih At-Tirmidzi, juz 1, halman 301, hadis ke 481,; juz 5, hal. 38, cet. Darul Fikr; juz 2, hal. 212, cet. Bulaq.
4.Sunan An-Nasa’i, juz 3, hal. 45-49.
5.Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 292, hadis ke 903, 904 dan 906.
6.Sunan Abi Dawud, juz 1, hal. 257, hadis ke 976, 977, 978 dan 981.
7.Asbābun Nuzūl oleh Al-Wahidi, hal. 207.
8.Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 2, hal. 47; juz 5, hal. 353, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
9.Muwaththa’ Malik yang dicetak dengan syarahnya Tanwirul Hawālik, juz 1, hal. 179.
10.Tafsir Al-Qurthubi, juz 14, hal. 233.
11.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 19.
12.Tafsir Ath-Thabari, juz 2, hal. 43.
13.Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 507.
14.Tafsir Fakhrur Razi, juz 25, hal. 226, cet. Al-Bahiyah, Mesir, juz 7, hal. 391, cet, Dar Ath-Thaba’ah, Mesir.
15.Ahkāmul Qurān, oleh Ibnu ‘Arabi, juz 3, hal. 1570, Cet. Isa Al-Halabi.
16.Ad-Durul Mantsūr, oleh As-Suyuthi, juz 4, hal. 303.
17.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’I, hal. 144 dan 231, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
18.Fathul Qadīr, oleh Asy-Syaukani, juz 4, hal. 303.
19.Al-Mu’jamus Shaghīr, oleh Ath-Thabrani, juz 1, hal. 74 dan 86.
20.Nizhām Duraris Simthain, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 45.
21.Yanābī’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanaif, hal. 295, cet. Istambul; hal. 354, cet. Al-Haidariyah.
22.Ma’ālimut Tanzīl, oleh Aleh Al-Baghawi (catatan pinggir) Tafsir Al-Khazin, juz 5, hal. 225.
23.Kanzul ‘Ummāl, juz 1, hal. 437, hadis ke : 2151, 2170, 2184, 2185, 2186, 2187 dan 2188, cet. Haidar Abad.
24.Hilyatul Awliyā`, juz 4, hal. 271.
25.Tafsir Al-Khāzin, juz 5, hal. 226.
26.Musnad Al-Imam Asy-Syafi’I, hal. 15, cet. Al-Mathbu’at Al-‘Ilmiyah, Mesir.
27.Ihqāqul Haqq, oleh At-Tustari, juz 3, hal. 252.
28.Al-Ghadīr, oleh Al-Amini, juz 2 hal. 6, 7, 8 dan 9.
29.Tārīkh Baghdad, juz 8, hal. 381.
30.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 1, hal. 2268.
31.As-Sunan Al-Kubrā, oleh Al-Baihaqi, juz 2, hal. 378.

33.Surah Al-Ahzāb : 25, Penyelamat Mukminin dari Peperangan

“Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan”

Yakni melalui peran Ali bin Abi Thalib as. Silakan rujuk :
1.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Dimasyq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 420, hadis ke 920.
2.Kifāyatut Thālib, oleh Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 234, cet. Al-Haidariyah, hal. 110, cet. Al-Ghira.
3.Syawāhidut Tanzīl, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 3, hadis ke 629, 630, 631, 632 dan 633.
4.Ad-Durrul Mantsūr, oleh As-Suyuthi, juz 5, hal. 192.
5.Yanābī’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 94, cet. Istambulll; hal. 108, cet. Al-Haidariyah.
6.Mīzānul I’tidāl, oleh Adz-Dzahabi, juz 2, hal. 380.
7.Ihqāqul Haqq, oleh At-Tustari, juz 3, hal. 376.

34.Surah Al-Ahzāb : 72, Penyerahan Amanat

“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam dengan sempurna, dan janganlah kamu mengikuti langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata”

Wilayah Ahlul Bayt a.s. termasuk amanat yang diynatakan oleh Allah dalam firman-Nya ini. Silahkan rujuk Tafsir Ash-Shāfī, juz 2, hal. 369, Tafsir Ali bin Ibrahim Al-Qummi, juz 2, hal. 198 dan Ghāyatul Marām, hal. 396, cet. Iran.

35.Surah Al-A’rāf : 172, Kesaksian Anak Cucu Adam

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab : Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan : ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) telah lengah terhadap hal ini”

Wilayah Ahlul Bayt a.s. adalah termasuk kesaksian yang dinyatakan oleh Allah di dalam ayat ini. Silakan rujuk :
1.Al-Iklīl, oleh As-Suyuthi, hal. 89, cet. Mesir. “Dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah Ummul Kitab dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yangmutasyabihat dengan tujuan mengikuti fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka (yang mendalam ilmunya) berkata : ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami’. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya kecuali orang-orang yang berakal”.

Kepercayaan Islam, Muhammad bin Ya’qub meriwayatkan dengan sanad yang sahih, dari Imam Ja’far Shadiq a.s., ia berkata, ia berkata : “Kami adalah orang-orang yang diwajibkan oleh Allah untuk ditaati, dan kami adalah orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rāsikhūna fil ‘ilm) dan kami pun juga orang-orang yang dihasudi..”. Silakan rujuk Tafsir Ali bin Ibrahim Al-Qummi, juz 1, halamn 96.

36.Surah Al-Hasyr : 20, Penghuni Surga dan Neraka

“Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung”

Syeikh Thusi dalam kitabnya Al-Āmāli, meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Amirul Mukminin a.s. bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Penghuni-penghuni surga adalah orang-orang yang taat kepadaku dan Ali sesudahku, dan berpegang teguh kepada wilayahnya”. Kemudian sahabatnya bertanya tentang penghuni-penghuni neraka. Beliau menjawab: “Orang-orang yang menentang wilayah Ali, mengingkari kesaksian, dan orang-orang yang memeranginya.” Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ash-Shaduq dari Imam Ali a.s.

Abu Muayyid Al-Muwaffiq bin Ahmad meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah SAWW bersabda : “Demi Dzat yang diriku berada dalam (genggaman) kekuasaan-Nya, sesungguhnya ia (Ali) dan Syi’ahnya mereka adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat”. Silakan rujuk Tafsir Furāt Al-Kūfī, hal. 181.

37.Surah Fāthir : 32, Pewaris Al-Kitab

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Yang dimaksud dengan “hamba-hamba yang dipilih, yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, dan para pewaris Al-Kitab ” adalah para imam dari Ahlul Bayt a.s., merekalah orang-orang yang mendapat karunia yang amat besar. Yang dimaksud dengan “hamba-hamba yang berada pada pertengahan” adalah mereka yang mengenal para imam a.s. dan “hamba-hamba yang menganiaya diri mereka sendiri” adalah orang-orang yang tidak mengenal para imam a.s.

Ketika menafsirkan ayat tersebut Imam Muhammad Al-Baqir a.s. berkata: “orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah imam, orang yang berada pada pertengahan adalah orang yang mengenalnya, orang yang menzalimi dirinya sendiri adalah orang yang tidak mengenalnya”.
Hadis ini juga diriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. dari Imam Musa Al-Kazhim a.s. dan dari Imam Ali Ar-Ridha a.s.. Silakan rujuk Ghāyatul Marām, hal. 351, cet. Dar Al-Qamus Al-Haditsah. Tiga Perdelapan Al Quran Turun untuk Imam Ali a.s.
Silakan rujuk :
1.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, hal. 125, cet. Al-Muhammadiyah; hal. 76, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
2.Kifāyatut Thālib, oleh Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 231, cet Al-Haidariyah; hal. 108, cet. Al-Ghira.
3.Yanābī’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 126 dan 286, cet. Istambul; hal. 148 dan 343, cet. Al-Haidariyah.
4.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Dimasyq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 31, hadis ke 934.
5.Tārīkhul Khulafā`,oleh As-Suyuthi, hal. 172.
6.Nūrul Abshār, oleh Asy-Syablanji, hal. 73, cet. As-Sa’idiyah; hal. 74, cet. Al-’Utsmaniyah, Mesir.
7.As-Sīrah An-Nabawiyah, oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sīrah Al-Halabiyah, juz 2, hal. 11.
8.Is’āfur Rāghibīn (catatan pinggir) Nūrul Abshār, hal. 1600, cet. As-Sa’idiyah; hal. 145, cet. Al-’Utsmaniyah.
Seperempat Al Quran Turun untuk Ahlul Bayt a.s.
Silakan rujuk :
1.Yanābī’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 126, cet. Istambul; hal. 148, cet. Al-Haidariyah.
2.Syawāhidut Tanzīl, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 44, 45, 47.
3.Manāqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili, hal. 328, cet. Tehran.

38.Surah Maryam : 96, Orang-Orang yang Beriman dan Beramal Salih

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang”

Para mufassir dan ahli hadis mengatakan bahwa ayat ini turun untuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

39.Surah Hūd : 17, Seorang Saksi dari Allah SWT

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang yang berada pada hujjah yang jelas dari Tuhannya (Al Quran), dan diikuti pula oleh seorang saksi dari-Nya”

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Tidak seorang pun dari suku Qureisy kecuali turun untuknya satu atau dua ayat”. Kemudian beliau ditanya: “Ayat yang turun untukmu?”. Beliau menjawab: “Tidakkah kamu membaca Surat Hud : 17 yang menegaskan ‘Dan diikuti oleh seorang saksi dari-Nya”. Riwayat ini dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya terdapat di dalam:
1.Tafsir Jāmi’ul Bayān, oleh Ath-Thabari, juz 11, hal. 11.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurān, oleh An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 12 hal. 15.
3.Tafsir Fathul Qadīr, oleh Asy-Syaukani, juz 2, hal. 482.
4.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 440.
5.Al-Manāqī, oleh Ibnu Syahr-asyub, juz 2, hal. 282.
6.Al-Ghadīr, oleh Al-Amini, juz 1, hal. 107.

40.Surah At-Tahrīm : 4, Mukmin yang Salih

“Jika kalian (dua orang wanita) bertaubat kepada Allah, maka (hal itu adalah sangat baik dan) sesungguhnya hatimu menginginkan (hal itu), dan jika kalian berdua saling bahu-membahu untuk mengganggunya (Nabi), maka sesunggunya Allah, Jibril dan mukmin yang salih adalah pelindungnya”

Ayat ini turun berkenaan dengan kasus A’isyah dan Hafshah. Dan yang dimaksud dengan “mukmin yang salih” adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Tafsir Fathul Qadīr, oleh Asy-Syaukani, juz 1, hal. 253.
2.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 hal. 489.
3.Tafsir Majma’ul Bayān, oleh Ath-Thabarsi, juz 28, hal. 123, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Tafsir Mahāsinut Ta`wīl, oleh Syaikh Jamaludin Al-Qasimi, juz 16, hal. 58-62, cet. Darul Ihya’ Al-’Arabiyah.
5.Al-Manāqib, oleh Ibnu Syahr-asyub, juz 2, hal. 274.
6.Al-Mustadarak, karya Al-Hakim, juz 2, hal. 493.

41.Surah Asy-Syūrā : 23, Orang Yang Berbuat Kebaikan

“Dan barang siapa yang berbuat sebuah kebajikan, maka Kami akan menambahkan kebaikan baginya dalam kebaikannya itu”

Yang dimaksud dengan “berbuat kebaikan” dalam ayat di atas adalah mencintai Keluarga Nabi SAAW, sebagaimana hal ini telah dinyatakan karya susunan kata sebelumnya secara implisit yang menganjurkan kita untuk mencintai keluarga Nabi SAWWW. Berkenaan dengan informasi lebih lanjut dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 4, hal. 534, cet. Al-Halabi.
2.Tafsir Al-Kasysyāf, karya Az-Az-Zamakhsyari, juz 3 hal. 468.
3.Tafsir Majma’ul Bayān,karya Ath-Thabarsi, juz 24, hal. 51, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Ihqāqul Haqq wa Izhāqul Bāthil, karya Allamah Nurullah Al-Huseini, juz 9, hal. 130.
5.Ad-Durul Mantsūr, juz 4, hal. 7, cet. Mesir.
6.Tafsir Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 25, hal. 31, cet. Mesir.
7.Nizhām Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 86.
8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 118, cet. Istambul.
9.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11, cet. Najaf.
10.Al-Manāqib, karya Ibnu Syahr-asyub, juz 3, hal. 2.

42.Surah At-Taubah : 1, Deklarasi Pemutusan Hubungan dengan Musyrikin

“(Inilah deklarasi) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya untuk musyrikin yang kalian (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)”

Ayat ini turun untuk Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah SAWW mengutus Abu Bakar untuk menyampaikan deklarasi pemutusan hubungan dengan musyrikin, lalu beliau mengalihkan tugas itu kepada Imam Ali a.s. Ketika Abu Bakar pulang ke Madinah, ia bertanya kepada Nabi SAWW: “Apakah ada ayat turun tentang hal ini?”. Beliau menjawab: “Tidak, tetapi aku yang diperintahkan menyampaikan pernyataan itu atau seseorang dari Ahlul Baytku”. Hadis ini dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Al-Kasysyāf, karya Az-Zamakhsyari, juz 2, hal. 177.
2.Tafsir Jāmi’ul Bayān, karya Ath-Thabari, juz 10, hal. 46.
3.Tafsir Gharā`ibul Qurān, karya An-Naisaburi, juz 10, hal. 36.
4.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 333.
5.Tafsir Majma’ul Bayān,karya Ath-Thabarsi, juz 10, hal. 9, cet. Darul Fikr, Beirut.
6.Sunan Ibnu Majah, tentang Fadhā`ilus Shahābah, juz 1, hal. 9.
7.Musnad Ahmad, juz 4, hal. 164.
8.Kanzul ‘Ummāl, juz 6, hal. 152.

43.Surah Al-Mujādalah : 12, Bersedekah sebelum Berbicara Khusus dengan Rasulullah SAWW

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian ingin mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah, hendaklah kalian mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum itu”

Orang yang mempraktikkan ayat ini hanyalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan tidak ada seorang sahabat pun yang mempraktikkannya sesudah beliau.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Sesungguhnya di dalam Al Quran terdapat satu ayat yang tiada seorang pun mengamalkannya sebelum dan sesudah aku. Yaitu (ayat yang berbunyi) “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian ingin mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah, hendaklah kalian mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelumitu”. Pada waktu aku hanya memiliki 1 Dinar. Karena aku ingin mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah, lalu kusedekahkan uang tersebut. Kemudian ayat ini disusul oleh ayat lain yang berbunyi: “Apakah kalian takut (menjadi miskin) karena memberikan sedekah sebelum berbicara khusus (dengannyal)? Jika kalian tidak melakukannya dan Allah (meskipun demikian) masih mengampuni kalian, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Al-Mujādalah:13).” Lalu beliau berkata: “Melalui perantarku Allah meringankan umat ini. Tidak ada seorang pun yang mengamlkan ayat ini sebelum dan sesudahku”. Riwayat ini dan riwayat-riwayat yang semakna dengannya terdapat di dalam:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 191, cet. Al-Halabi, Mesir.
2.Tafsir Jāmi’ul Bayān, karya Ath-Thabari juz 28, hal. 14.
3.Tafsir Gharā`ibul Qurān, karya An-Naisaburi, juz 28, hal. 23.
4.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 326.

44.Surah Al-Hāqqah : 11-12, Telinga Yang Mau Mendengar

“Ketika air (yang hendak menelan para penentang) membumbung tinggi Kami masukkan kalian ke dalam kapal laut, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan (sayangnya) hanya telinga yang sadar yang dapat mendengar peringatan itu”

Yang dimaksud dengan “telinga yang sadar” adalah telinga Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah SAWW bersabda: “Ya Allah, jadikanlah telinga Ali mendengar peringatan itu”. Kemudian Imam Ali a.s. berkata: “Karena doa itu apa yang kudengar dari Rasulullah SAWW tidak pernah kulupakan”. Riwayat ini dan riwayat-riwayat yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 282.
2.Tafsir Al-Kasysyāf, karya Az-Zamakhsyari, juz 4, hal. 151.
3.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 413.
4.Tafsir Gharā`ibul Qurān, karya An-Naisabari (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 29, hal. 31.
5.Tafsir Jāmi’ul Bayān, karya Ath-Thabari, juz 29, hal. 43.
6.Tafsir Majma’ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 29, hal. 43.
7.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 3, hal. 391.

45.Surah Adh-Dhuhā : 5, Ridha Rasulullah SAWW

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hatimu) menjadi puas”

Ayat ini turun untuk Ahlul Bayt a.s. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Al-Qurthubi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAWW puas (baca : rela) karena tidak ada seorang pun dari Ahlul Baytnya yang masuk ke dalam api neraka”. Rasulullah SAWW bersabda: “Sesungguhnya Fathimah adalah wanita yang memelihara kesuciannya, maka Allah mengharamkannya dan keturunannya dari api neraka.” Riwayat ini dan riwayat-riwayat yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Jāmi’ul Bayān, karya Ath-Thabari, juz 30, hal. 149.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurānkarya An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 30, hal. 109.
3.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 459.
4.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 523.
5.Tafsir Majma’ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 3, hal. 136.
6.Asy-Syaraful Mu`abbad li Āli Muhammad, karya An-Nabhani, hal. 44, cetakan Al-Halabi, cetakan kedua.

46.Surah Al-Kautsar : 1-3, Keturunan Rasulullah SAWW

“Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (keturunannya)”

Ayat ini turun berkaitan dengan pernikahan Fathimah Az-Zahra’ dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., dan juga sebagai jawaban atas tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAWW terputus. Jadi, yang dimaksud dengan “nikmat yang banyak” adalah Rasulullah SAWW memiliki keturunan yang banyak dan baik melalui Fathimah Az-Zahra’ dan Amirul Mukminin a.s. Keturunan itu adalah para imam a.s. yang akan membimbing manusia menuju ketaatan dan keridhaan Allah. Adapun yang dimaksud dengan “orang yang membencimu dialah yang terputus” adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAWW tidak memiliki keturunan.
Penafsiran ini dapat Anda baca dalam buku-buku berikut:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 30, hal. 504.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurān(catatan pinggir) Majma’ul Bayān, juz 30, hal. 175.
3.Tafsir Majma’ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 30, hal. 206, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 M.
5.Al-Manāqib, karya Syahr-asyub, juz 3, hal. 127.

47.Surah Ar-Rahmān : 19-22, Dua Lautan yang Bertemu, Membuahkan Mutiara dan Marjan

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Di antara keduanya terdapat pembatas yang tidak akan dapat saling menembus. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan”

Yang dimaksud dengan “dua lautan” adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra a.s., yang dimaksud dengan “mutiara” adalah Imam Hasan a.s. dan yang dimaksud dengan “marjan” adalah Imam Husein a.s. Penafsiran ini dapat anda baca di dalam:
1.Tafsir Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 27 hal. 93, cet. Mesir.
2.Ad-Durul Mantsūr, karya Jalaluddin As-Suyuthi, juz 6, hal. 143, cet. Mesir.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 408, cet. Istambul.
4.Al-Manāqibul Murtadhawiyah, karya Al-Kasyafi Al-Hanafi.
5.Miftāhun Najāh, karya Al-Badkhasyi, hal. 13.
6.Maqtqlul Husein a.s., Al-Kharazmi, hal. 112, cet. Najaf.
7.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi, hal. 54, cet. Al-Ghira.
8.Al-Manāqib, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, hal. 212.
9.Al-Manāqib, karya Ibnu Syahr-asyub, juz 3, hal. 111, cet. Najaf.
10.Tafsir Majma’ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 27, hal. 91.
11.Ihqāqul Haqq Wa Izhāqul Bāthil, karya Nurullah Al-Huseini, juz 9.

48.Surah Muhammad : 30, Kebencian Munafikin terhadap Ali bin Abi Thalib a.s.

“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengetahui mereka dengan tanda-tanda (yang ada pada) mereka. Dan kamu akan benar-benar mengenal mereka dari cara bicara mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian”

Ayat ini berkaitan dengan munafikin yang membenci Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik pada zaman Rasulullah SAWW kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib.” Riwayat ini dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam :
1.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi juz 7, hal. 504.
2.Al-Manāqib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 315.
3.Kanzul ‘Ummāl, bab Fadhā`il Ali bin Abi Thalib, juz 6, hal. 294.
4.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 129. Ia meriwayatkan dari Abu Dzar r.a. bahwa ia berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik kecuali melalui kedustaan mereka atas nama Allah dan Rasul-nya, keingkaran mereka terhadap shalawat, dan kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib r.a.” Al-Hakim berkata: “Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya”.
5.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal. 177.
6.Dalā`ilus Shidq, karya Al-Muzhaffar, juz 2, hal. 155.
Hadis Tentang Pintu Ilmu dan Hikmah
Rasulullah SAWW bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali pintuya, maka siapa yang menghendaki ilmu, hendaknya ia mendatanginya dari pintunya.” Hadis ini terdapat di dalam :
1.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 464, hadis ke : 984, 985, 986, 987, 988, 989, 990, 991, 992, 993, 994, 995, 996 dan 997.
2.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke 459.
3.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 16 dan 127; ia mengatakan hadis ini shahih.
4.Usdul Ghābah, juz 4, hal. 22.
5.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 80, hadis ke : 120, 121, 122, 123, 124, 125 dan 126.
6.Kifayatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 187, cet. Al-Haidariyah; hal. 79, cet. Al-Ghira.
7.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 40.
8.Nizhām Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 113.
9.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 65, 72, 179, 182, 210, 234, 254, 282, 407, dan 40, cet. Islambul; hal. 211, 217, 248, 278, 303, dan 338, cet. Al-Haidariyah.
10.Tārīkhul Khulafā`, karya As-Suyuthi, hal. 170.
11.Is’āfur Rāghibīn (catatan piggir) Nūrul Abshār, hal. 140, cet. Al-’Utsmaniyah; hal. 154, cet. As-Sa’idiyah; hal. 174, cetakan yang lain.
12.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 47 dan 48.
13.Maqtalul Husein a.s., karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 43.
14.Fathul Mulk Al-’Āli, karya Al-Maghribi, hal. 222, 23, 24, 28, 29, 40, 41, 42, 43, 44, 54, 5, dan 57, cet. Al-Haidariyah; hal. 3, 4, 5, 14, 15, dan 16, cet. Al-Islamiyah, Al-Azhar. Ia mensahihkan hadis tentang “Pintu ilmu adalah Ali”.
15.Faydhul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 3, hal. 46.
16.Al-Istī’āb (catatan pinggir) Al-Ishābah, juz 3, hal. 38.
17.Mīzānul I’tidāl, karya Adz-Dzahabi, juz 1, hal. 415; juz 2, hal. 251; juz 3, hal. 182.
18.Syarah Nahjul Balāghah, karya Ibnu Abil Hadid, juz 7, hal. 219, cet. Mesir, dengan Tahqiq Muhammad Abul Fadhl; juz 2, hal. 236, cet. Beirut.
19.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 77.
20.Jami’ul Ushūl, juz 9, hal. 473, hadis ke 6789.
21.Fadhā`ilul Khamsah, juz 2, hal. 250.
22.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 6, hal. 61-81.
23.Kanzul ‘Ummāl, juz 15, hal. 129, hadis ke 378, cet. kedua.
24.Al-Fathul Kabīr, karya An-Nabhani, juz 1, hal. 276.
25.Al-Jāmi’us Shaghīr, karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 93, cet. Al-Maimaniyah; juz 1, hal. 364, hadis ke 2705, cet. Mushthfa Muhammad.
26.Muntakhab Kanzu ‘Ummāl (catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5 hal. 30.
27.Ar-Riyādhun Nādhirah, juz 1, hal. 255, cet. Kedua.
28.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 98.
29.Dan kitab-kitab yang lain bahkan berpuluh-puluh kitab yang secara khusus disusun untuk hadis ini, antara lain Abaqātul Anwār, juz 5, cet. Al-Hindi. Kitab ini disusun khusus untuk hadis ini. Fathul Mulk Al-’Āli, karya Al-Maghribi, dengan menshahihkan hadis tentang “Pintu ilmu adalah Ali”, cet. Mesir dan Najaf, dan kitab-kitab lainnya.
Rasulullah SAWW bersabda: “Aku adalah rumah hikmah dan Ali adalah pintunya.” Hadis ini terdapat di dalam:
1.Shahih Tirmidzi, juz 5, hal. 301, hadis ke-3807.
2.Hilyatul Awliyā`, juz 1, hal. 63.
3.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazali Asy-Syafi’i, hal. 87, hadis ke-129.
4.Fathul Mulk Al-’Āli, karya Al-Maghribi, hal. 22 dan 23, cet. Mesir; hal.: 45, 53, dan 55, cet. Al-Haidariyah.
5.Is’āfur Rāghibīn(catatan pinggir) Nūrul Abshār, hal. 140, cet. Al-’Utsmaniyah; hal. 154, cet. As-Sa’idiyah.
6.Dzakhā`irul ‘Uqbā, hal. 77.
7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal. 120, cet. Al-Muhammadiyah; hal. 73, cet. Al-Maimaniyah.
8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 71 dan 183, cet. Istambul; hal. 81 dan 211, cet. Al-Haidariyah.
9.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir, juz 2, hal. 459, hadis ke-983.
10. Fadhā`ilul Khamsah, juz 2, hal. 248.
11. Kunūzul Haqā`iq, karya Al-Manawi, hal. 46, cet. Bulaq; hal. 37, cet. yang lain.
12. Mashābīhus Sunnah, karya Al-Baghawi, juz 2, hal. 275.
13. Ar-Riyādhun Nādhirah, juz 2, hal. 364, hadis ke-255, cet. Al-Maimaniyah; juz 1, hal. 364, hadis ke-2704, cet. Musthafa Muhammad.
14. Muntakhab Kanzul ‘Ummāl (catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5, hal. 30.
15. Al-Fathul Kabīr, karya An-Nabhani, juz 1, hal. 272.
16. Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 99.
Rasulullah SAWW bersabda: “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya.” Hadis ini dapat Anda baca di dalam:
1.Manāqib Ali bin Abi Thalib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 86, hadis ke-128.
2.Fathul Mulk, karya Al-Maghribi, hal. 26, cet. Mesir; hal. 59, 42, dan 43, cet. Al-Haidariyah
Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku, dan penjelas risalahku terhadap ummatku sesudahku; Mencintai Ali adalah iman dan membencinya kemunafikan…”. Hadis ini terdapat di dalam:
1.Fathul Mulk Al-’Āli, karya Al-Maghribi, hal. 18, cet. Al-Azhar; hal. 47, cet. Al-Haidariyah.
2.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 3, hal. 96.
3.Kanzul ‘Ummāl, juz 6, hal. 156. Hadis ini diriwayatkan karya Ad-Dailami dari Abu Dzar.
Rasulullah SAWW bersabda kepada Ali: “Kamu adalah penjelas terhadap ummatku apa yang mereka perselisihkan sesudahku”. Silahkan rujuk:
1.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 122; hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik. Ia mengatakan bahwa hadis ini adalah shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.
2.Kanzul ‘Ummāl, juz 6, hal. 156. Ia meriwayatkan dari Ad-Dailami dari Anas bin Malik.
3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i juz 2, halman 488, hadis ke-1008 dan 1009.
4.Maqtal Al-Husein a.s., karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 86.
5.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi, hal. 236.
6.Kunūzul Haqā`iq, karya Al-Manawi, hal. 203, cet. Bulaq.
7.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 182, cet. Istambul.
8.Muntakhab Kanzul ‘Ummāl (catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5, hal. 33.
Hadis ini menjelaskan makna firman Allah SWT yang berbunyi: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl : 64)

49.Surah al-Bayyinah ayat 7

Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

“Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I).

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah. (Ismail Amin)

Hadis Tentang Manusia Terbaik

Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah sebaik-baik manusia. Karena itu, barang siapa yang menolaknya, ia adalah kafir.”

Hadis ini terdapat di dalam:
1.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 245, cet. Al-Haidariyah; hal. 119, cet. Al-Ghira.
2.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 444, hadis ke: 955, 956, 957, dan 958.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 246, cet. Istambul; hal. 293, cet. Al-Haidariyah.
4.Muntakhab Kanzul ‘Ummāl (catatan pinggir) Musnad Ahmad, juz 5, hal. 35.

Riwayat-riwayat Tentang Ayat al-Tathir Untuk Lima Orang

Perbahasan di bawah ini mengetengahkan beberapa riwayat berkenaan dengan ayat al-Tathir (33:33) yang menunjukkan ia diturunkan untuk lima orang iaitu Nabi Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn.

1. Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan sebuah hadith yang dikutip dari sahabat Nabi iaitu Abu Sa’id al-Khudri. Dalam riwayat tersebut dia mengatakan bahawa Nabi SAWAW bersabda: “Ayat ini turun untuk lima orang, iaitu aku (Nabi Muhammad SAWAW), Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn.”
Riwayat ini juga dikutip oleh Ibn Hajar dalam bukunya al-Sawa’iq, halaman 143, Syeikh Yusuf Al-Nakhani dalam bukunya al-Syaraf al-Muubbad Lii aali Muhammad, halaman 7.

2. Imam Muslim dalam kitab Sahihnya meriwayatkan sebuah riwayat dari A’isyah. Ia menyatakan bahawa pada suatu pagi, Nabi keluar dengan menggunakan selimut yang dibuat dari kapas berwarna hitam. Setelah Hasan datang Nabi memasukkan Hasan dalam selimut, datang Husayn di masukkan ke dalam selimut, kemudian datang Fatimah, beliau memasukkannya ke dalam selimut lalu Ali datang dan beliau memasukkan ke dalam selimut sambil membaca ayat (tersebut).

Riwayat itu juga diriwayatkan oleh ulama Hadith lainya yang di antaranya adalah seperti berikut:
a. Al-Hakim dalam Mustadrak, Juz III, halaman 147. Ia mengatakan bahawa hadith itu sahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.
b. al-Baihaqi dalam Sunan Baihaqi Juz II, halaman 149.
c. Ibnu Jarir al-Tabari dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Tabari, Juz 22, halaman 5, dari jalur lain dari A’isyah.
d. Al-Suyuti dalam tafsirnya yang berjudul al-Durr al-Manthur ketika menafsirkan ayat al-Tathir, ia mengatakan bahawa hadith itu diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Ibn Hatim, Juz 6, halaman 605.
e. Al-Zamaksyari dalam Tafsir al-Kassyaf, Juz I, halaman. 434.
f. Al-Fakhur al-Razi dalam tafsirnya al-Kabir, ia menyatakan bahawa sesungguhnya riwayat ini telah disepakati kesahihannya oleh kalangan ahli tafsir Fadhail al-Khamsah.

3. Ibnu Hajar al-Haithami mensahihkan riwayatkan yang menyatakan bahawa Nabi menyelimutkan mereka dan berkata:
“Ya Allah mereka adalah Ahlul Baytku dan orang-orang khususku. Hilangkan dari mereka kekotoran dan sucikan mereka sesuci-sucinya. Kemudian Ummu Salamah berkata,”Dan aku bersama mereka! Tetapi Nabi menjawab, kamu berada dalam kebaikan.”
Dalam sebuah riwayat dinyatakan setelah Nabi SAWAW membaca doa berikut:
“Aku akan berperang terhadap orang-orang yang memerangi mereka, berdamai dengan orang-orang yang berdamai dengan mereka dan musuh terhadap orang-orang yang memusuhi mereka.

Dalam riwayat lain disebutkan bahawa Nabi SAWAW menutupi di atas kepala mereka dengan selimut dan meletakkan tangan beliau ke atas mereka kemudian berkata: “Ya Allah mereka adalah keluarga Muhammad, maka jadikanlah salawat dan berkahMu atas mereka, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Agung.” (al-Sawa’iq: 143 – 144).

4. Syeikh Yusuf al-Nabhani berkata: Hadith itu diriwayatkan dari beberapa jalur hadith yang sahih, bahawa Nabi SAWAW datang bersama Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn lalu masuk kemudian Nabi SAWAW mendekatkan Ali dan Fatimah dan mendudukannya di hadapan beliau serta serta mendudukan Hasan dan Husayn di pangkuannya, kemudian menutupi mereka dengan selimut dan membacakan ayat Tathir. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Nabi mengatakan:
“Ya Allah mereka adalah Ahlul Baytku, maka hilangkanlah kekotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,”Lalu aku membuka selimut itu untuk masuk bersama mereka, tetapi beliau menarik kain dari tanganku, maka aku berkata aku ikut bersamamu wahai Rasulullah. Beliau menjawab kamu termasuk isteri-isteri Nabi berada dalam kebaikan.”[Al-Syaraf al-Muabbad hal. 7; Musnad Imam Ahmad, Juz IV, hal. 107; Tafsir at-Tabari, Juz XXII, hal. 6; Al-Hakim dalam Mustadrak, Juz II, hal. 416; Ia mengatakan bahawa hadith itu sahih menurut persyaratan Muslim; da dalam Juz 3, hal. 147 juga meriwayatkannya dan mengatakan sahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim]

5. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan tidak kurang dari 15 hadith yang dinyatakan dapat dijadikan dalil bahawa Ali, Fatimah, al-Hasan dan Husayn AS adalah yang dimaksudkan oleh ayat al-Tathir.

Di bawah ini disebutkan beberapa riwayat darinya:

1. Ibn Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadith dari al-’Awan bin Khausyaf dari pamannya ia berkata:
“Aku bersama ayahku masuk ke (rumah) A’isyah RA lalu aku bertanya kepadanya tentang Ali AS. Ia menjawab kamu menanyaku tentang seorang yang paling dicintai oleh Rasulullah SAWAW, dan anaknya (Fatimah) orang yang paling beliau cintai, di bawah (tanggungan)nya? Aku benar-benar melihat Rasulullah SAWAW memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn AS lalu menyelimutkan mereka dengan kain dan berkata,”Mereka adalah Ahlul Baytku, maka hilangkanlah kekotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ia (A’isyah RA) berkata: maka aku mendekati kepada mereka dan berkata: Wahai Rasulullah aku termasuk Ahlil Baytmu? Beliau berkata, ketepilah, kamu berada di atas kebaikan.”

2. Imam Ahmad dari Ummu Salamah ia berkata: Pada suatu hari ketika Rasulullah SAWAW berada di rumahku, pembantu rumah tanggaku berkata; sesungguhnya Fatimah dan Ali berada di depan pintu. Ummu Salamah berkata, maka Nabi SAWAW berkat kepadaku berdiri dan menyingkirlah dari Ahlul Baytku ia berkata; maka akupun berdiri dan menyingkir ke tepi sudut di rumah, lalu masuklah Ali, Fatimah dan bersama mereka Hasan dan Husayn AS, yang saat itu masih kecil, Nabi SAWAW mengambil dan mendudukkan di pangkuannya lalu menciumnya dan merangkul Ali dengan salah satu tangannya dan Fatimah dengan tangan satunya beliau mencium Fatimah dan Ali dan menutupi mereka dengan kain warna hitam lalu berkata:”Ya Allah mudah-mudahan aku dan Ahlil Baytku ke syurga bukan ke nerakaMu.”

3. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Syaddad bin Ammar ia berkata: “Aku masuk (untuk menemui) Wasilah bin al-Asqa’ RA, disisinya ada sekelompok orang, mereka menyebut-nyebut Ali RA, lalu mereka mencela dan menjelek-jelekannya, akupun ikut mencela bersama mereka. Setelah mereka pergi (Wasilah) berkata kepadaku (mengapa) kamu juga mencela orang itu? Aku berkata mereka mencelanya akupun ikut bersama mereka. Ia (Wasilah) berkata mahukan kamu aku beritahu apa yang pernah aku lihat Nabi SAWAW melakukannya? Ia berkata:”tentu”, Wasilah berkata:’Aku datang menemui Fatimah dan menanyakannya tentang Ali AS. Ia menjawab:”Ia (Ali) pergi menemui Rasulullah SAWAW, maka akupun duduk dan menunggunya hingga datanglah Rasulullah SAWAW bersama Ali, Hasan dan Husayn AS, keduanya dituntun dengan tangannya, lalu masuk. Rasulullah SAWAW mendekatkan Ali dan Fatimah serta mendudukkannya di depan beliau dan mendudukkan Hasan dan Husayn di pangkuannya lalu menyelimutkan jubah beliau di atas kepala mereka sambil membaca ayat Tathir dan berkata:”Ya Allah mereka adalah Ahlul Baytku, dan Ahlul Baytku lebih berhak.”

4. Ibnu Jarir dari Ummu Salamah berkata:
“Sesungguhnya ayat ini (Qur’an 33: 330 turun di rumahku. Ia berkata; dan aku ketika itu sedang di pintu rumah, lalu aku berkata bukankah aku termasuk keluargamu? Beliau SAWAW berkata, engkau mengarah kepada kebaikan, engkau termasuk isteri-isteri Nabi. Selanjutnya ia berkata:”Dan yang berada di dalam rumah hanya Rasulullah SAWAW, Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn AS.

Apa yang dilakukan Nabi SAWAW setelah turunnya ayat al-Tathir?

Disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih bahwa Nabi setelah turunnya ayat Tathir turun, beliau selalu mendatangi rumah Fatimah. Setiap kali beliau datang, beliau mengajak untuk solat. Ada yang menyatakan bahawa hal itu dilakukan oleh Nabi selama enam bulan, ada yang mengatakan selama delapan bulan, dan ada yang melihatnya selama sembilan bulan, dan ada pula yang menyaksikannya selama tujuh belas bulan. Hal ini bukanlah suatu pertentangan dalam riwayat, sebab masing-masing memberitakan apa yang ia saksikan. Dalam setiap kali datang Nabi mengucapkan:
“Selamat sejahtera wahai Ahlul Bayt, mari solat semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan dari kalian kekotoran (dosa) dan mesucikan sebersih-bersihnya.

Abul Hasan bin Abu Bakar al-Haithami dalam kitabnya Majma al-Zawaid meriwayatkan sebuah pernyataan dari sahabat Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata:”Aku solat bersama Rasulullah SAWAW selama 17 bulan, setiap beliau keluar dari rumah selalu mendatangi pintu (rumah) Fatimah dan mengatakan:”Rahmat Allah atas kalian”: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kekotoran (dosa) dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.” [Juz 9, hal. 169; Hadith al-Kisa fi Kutub Madrasah al-Khulafa' hal. 12]

As-Suyuthi dalam al-Durr al-Manthur juz 8, halaman 808, menyatakan bahawa Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadith dari Abu al-Hamro’, ia menyatakan bahawa aku ingat suatu kejadian yang dilakukan oleh Nabi selama delapan bulan, setiap kali beliau keluar untuk solat subuh datang lebih dahulu ke pintu rumah Ali AS, lalu meletakkan tangan pada pintu itu dan berkata: “Sholat, sholat.”

Lebih lanjut ia (Suyuthi) mengatakan bahawa Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Selama sembilan bulan aku menyaksikan Nabi SAWAW mendatangi pintu rumah Ali AS lima kali sehari sambil berkata: “Selamat sejahtera wahai Ahlul Bayt, mari solat semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan dari kalian kekotoran (dosa) dan mesucikan sebersih-bersihnya.’ As-Solat. Rahima-kumullah.” Ia juga menyebutkan bahawa al-Tabrani meriwayatkan dari Abu al-Hamro’, ia berkata,”Aku melihat Nabi mendatangi rumah Fatimah selama enam bulan dan mengucapkan Ayat Tathir.”[Ad-Durr al-Manthur, Juz 6, hal. 607]

Syeikh Yusuf al-Nabhani mengatakan bahawa ada beberapa riwayat dari berbagai jalur hasan mahupun sahih dari sahabat Anas bin Malik mengatakan bahawa setelah turunnya ayat tersebut, jika Nabi berangkat untuk solat subuh pasti melewati depan rumah Fatimah dan mengatakan,”Solat wahai Ahlul Bayt.”[As-Syaraf al-Muabbad hal. 7; Hadith riwayat Imam Ahmad dan al-Turmudzi; Tafsir Ibnu Katsir Juz 3, hal. 483 pada hadith pertama; al-Durr Manthur, Juz 6, hal. 605]

Dan sahabat Abu Sa’id al-Khudri menyatakan bahawa setelah ayat itu turun Nabi SAWAW selama empat puluh hari, setiap pagi (subuh) mendatangi rumah Fatimah dan mengatakan,”Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan dari kalian kekotoran (dosa) dan mesucikan sebersih-bersihnya.”
Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas (hal itu dilakukan) selama tujuh bulan dan dalam riwayat lain selama delapan bulan.
Hal itu menurut Syeikh Yusuf al-Nabhai merupakan pernyataan tegas dari Nabi bahawa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt dalam ayat itu adalah lima orang tersebut.[al-Syaraf al-Muabbad: 7-8]

Tindakan itu dilakukan oleh Nabi agar orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan untuk sesat dan berpenyakit hati (hasad) tidak dapat jalan untuk menyalahtafsirkan maksud kandungan ayat tersebut dan tidak lagi memiliki bukti untuk mendukung penyimpangannya.

About these ads

Comments on: "Ahlul Bait Dalam Al-Qur’an" (4)

  1. 33:57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan

    2:159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.

  2. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. yakni para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifat dan maknanya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ke-’nasaban’-nya, sayang tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, artinya kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang dijadikan patokan nasab seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya bukan dari anak lelakinya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kalaupun ada anggapan kini ada yang ngaku keturunan nabi atau rasul, ya mereka mengambil nasab yang zigzag dari Bunda Fatimah lalu ke anak lelakinya Saidina Ali seperti Saidina Hasan dan Husein. Yang pasti, Saidina Hasan dan Husein adalah ‘keturunan’ Saidina Ali bin Abi Thalib. Terlebih lagi jika merujuk pada QS. 33:4-5 dan hadits tersebut, maka tetap saja yang ngaku-ngaku sebagai keturunan nabi saat ini adalah keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib bukannya keturunan Saidina Muhammad SAW.

  3. elfan@ definisi anda menyesatkan dan tidak sesuai dengan makna sebenarnya, maksud Ahlul Bait disini adalah Keluarga Nabi saaw seperti dalam ayat tathir dan silahkan livat link video ini :http://www.youtube.com/watch?v=p6lL3AAP_zk

  4. tanyasyiah (Saya Wahabi Pecinta Musuh2 Nabi) said:

    boss tanya dong, ahlul bayt diabad 21 eni apakah dah dijamin masuk surga? trus bakalan sesat ga boss si ahlul bayt? trus ga pernah ngelakuin kesalahan ga boss? trus ciri2 ahlul bayt ntu kayak gimana? apakah harus agamanye syiah atau islam?
    beneran nich boss gw tanya ama syiahkerz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 69 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: