BERSATULAH DAN JANGAN BERCERAI BERAI !

Presiden Harus Beri Perlindungan untuk Warga Muslim Syiah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) meminta Presiden SBY sebagai kepala negara agar memberikan perlindungan terhadap warga Syiah. hal tersebut menyusul adanya pembunuhan terhadap warga Syiah di Sampang, Madura.

“Presiden harus menegur Kapolri agar melaksanakan fungsi keamanan secara maksimal dengan menjamin rasa aman bagi seluruh warga negara Indonesia dalam menjalankan kepercayaannya. Gubernur Jawa Timur cq. Bupati Sampang agar bisa menjamin warganya untuk bisa memeluk, meyakini dan menjalankan ibadahnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing sebagaimana amanat Konstitusi,” kata Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Indriaswati Dyah Saptaningrum dalam siaran persnya, Minggu(26/8/2012).

Posisi kepolisian dalam kasus-kasus berlatar kekerasan atas nama Agama kerap serupa, yakni tidak pernah menindak tegas para pelaku kekerasan dan perusakan, bahkan cenderung menyalahkan pihak minoritas. Dalam kasus Sampang ini, Polres Sampang menyalahkan warga Syiah dengan menganggap warga Syiah keras kepala karena santri-santrinya ingin kembali ke Pesantren masing-masing.

Dalam setahun belakangan, tercatat setidaknya telah terjadi tak kurang dari 6 kali penyerangan terhadap warga Syiah di Sampang oleh massa anti-Syiah.

ELSAM juga berpendapat bahwa ketiadaan hukuman dan pengusutan yang tegas dan tuntas dari Kepolisian pada saat penyerangan massa non-Syiah terhadap rumah Tajul Muluk yang terjadi beberapa bulan lalu telah mengakibatkan bertambah suburnya tindakan intoleran ini.

Karena itulah ELSAM juga meminta Kapolri untuk mengusut dan mengambil tindakan hukum yang tegas kepada para pelaku penyerangan dan para pihak yang turut serta memprovokasi dan membenarkan kekerasan terus terjadi.

“Kapolri harus memastikan jajarannya di Polda Jawa Timur cq. Polres Sampang dapat melakukan pengamanan tanpa memihak dengan mengedepankan perlindungan terhadap pihak korban dan menindak tegas para pelaku kekerasan,” jelas Indri.

Sementara itu, Komnas HAM diminta untuk segera melakukan investigasi atas kejadian ini, diikuti berbagai langkah yang lebih proaktif dalam jalankan mandatnya untuk dapat menyelesaikan dan menghentikan kasus-kasus kekerasan atas nama agama di masa datang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta seluruh Ormas Keagamaan (NU-Muhammadiyah) untuk bisa membantu menenangkan massa dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang makna menghormati, kerjasama, toleransi dan sebagainya.

Untuk diketahui, dua warga Syiah di Sampang, Madura meregang nyawa akibat penyerangan yang dilakukan ± 500 (lima ratus) orang hari ini. Korban meninggal, yakni Hamamah (50 tahun) dan Thorir meninggal akibat serangan senjata tajam dan tumpul. Selain itu terdapat 4 orang luka berat, 6 orang luka ringan dan seorang wanita bahkan pingsan.

Kejadian bermula ketika sekitar pukul 11 santri-santri warga Syiah yang akan kembali ke Pesantren masing-masing di luar Sampang, yakni di YAPI Bangil dan satu Ponpes di Pekalongan (dikarenakan esok hari aktivitas belajar kembali dimulai). Para santri dihadang ratusan orang di wilayah Kecamatan Omben, dan disuruh untuk kembali ke rumahnya dengan ancaman akan membakar kendaraan roda empat yang mereka tumpangi, jika tidak diturutu. Akhirnya para santri Syiah ini pun kembali ke perkampungannya.

Tak berhenti di situ, massa penghadang pun mendatangi rumah Tajul Muluk (pimpinan Syiah di Sampang – saat ini dipenjara), massa melakukan pelemparan ke rumah Tajul Muluk. Akibat penyerangan dan pelemparan inilah, warga Syiah berusaha melindungi diri dan rumahnya Tajul Muluk, akhirnya timbul korban jiwa dan luka-luka. Para korban kritis sempat berada di Tegalan dan tidak bisa dievakuasi karena dikepung para penyerang, dan saat ini telah berada di RSUD Sampang.

Sumber : Tribunnews

http://www.tribunnews.com/2012/08/26/elsam-presiden-harus-beri-perlindungan-untuk-warga-syiah

Bentrok di Sampang, 2 Warga Syi’ah Tewas

Metrotvnews.com, Madura: Warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali diserang sekelompok massa intoleran, Ahad (26/8).

Dua orang bernama Hamama dan Tohir tewas dibacok senjata tajam, sedangkan empat orang mengalami luka serius, enam orang luka ringan. Sementara itu ibunda Ustad Tajul Muluk pingsan terkena lemparan batu.

Peristiwa dipicu saat sekelompok massa mengadang para orang tua siswa yang hendak mengantarkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah ke pesantren di Pulau Jawa, di pagi hari itu. Mereka lalu mengancam akan membakar angkot yang ditumpangi.

Meski para korban sudah melapor kepada pihak kepolisian. Namun, pihak kepolisian mengabaikan laporan dan justru menyalahkan pihak korban karena memaksa diri mengantarkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah ke luar pulau.

Peristiwa teror tersebut teror yang kesekian kalinya terhadap warga Syiah di Sampang. Sebelumnya, terjadi pembakaran terhadap pesantren milik Ustad Tajul Muluk itu.

Bukannya aparat menindak para pelaku, justru Ustad Tajul malah divonis Pengadilan Negeri Sampang 2 tahun penjara dengan mengenakan pasal penondaan agama.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Universalia Ahmad Taufik menilai, hal itu tindakan yang mengerikan. “Ketika sekelompok warga negara diteror sedemikian rupa, negara dan aparaturnya abai bahkan seolah ikut mengamini aksi teror tersebut,” ujarnya.

Bupati Sampang, Kepala Kepolisian Resor Sampang, Gubernur Jawa Timur, dan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur harus bertanggung jawab atas pengabaian ini. Pengabaian tersebut menurut Taufik adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan negara.(MI/RZY)

Sumber : Metro News

http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/08/27/103492/Sekelompok-Orang-Menyerang-Warga-Syiah-Sampang-2-Tewas

Kerusuhan kembali pecah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Omben, Kabupaten Sampang Madura. Untuk mencegah kerusuhan yang dipicu perbedaan paham agama ini semakin meluas, satu kompi Brimob dan 120 anggota Dalmas Polres Sampang – Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polres Pamekasan dan Bangkalan diturunkan.

“Pasukan dan Kapolres Sampang dan korps masih di lapangan untuk melakukan upaya pencegahan agar kerusuhan tidak meluas,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Anang Iskandar kepada detikcom, Minggu (26/8/2012).

Anang juga mengatakan terdapat satu orang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Sementara itu 5 rumah warga Syiah yang dibakar oleh massa.

“Pada saat sekarang sudah berkembang terjadinya pembakaran rumah warga Syiah. Lima rumah warga terbakar, satu orang meninggal dunia atas nama Mad Hasyim, 50 tahun, warga Karang Bayang, Sampang. Untuk korban lain, data menyusul,” lanjutnya.

Sementara itu menurut Sekjen Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat, 2 orang warga Syiah meninggal akibat luka bacok dalam kerusuhan ini. Mereka adalah Hamama dan Tohir. Ahmad mengatakan bahwa kerusuhan ini diawali dengan aksi pencegatan 20 orang santri dari Pekalongan yang ingin kembali ke pesantren oleh massa.

“Awalnya tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB, 20 orang santri yang berasal dari Pekalongan akan menuju pesantrennya. Tapi dicegat oleh puluhan massa yang melarang mereka masuk sambil mengancam akan membakar biu. Lalu sekitar pukul 12-an, mulai terjadi pembakaran rumah warga Syiah,” ujar Ahmad kepada detikcom.

Sebelumnya pada Kamis (29/12/2011) juga terjadi amuk massa di dusun tersebut. Penyebabnya, warga desa menuding penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.(sip/nrl)

Sumber : detiknews.com

http://news.detik.com/read/2012/08/26/163825/1999261/10/polri-turunkan-1-kompi-brimob-dan-120-anggota-dalmas-di-lokasi-rusuh-sampang?9911012

Komunitas Syiah Sampang Diserang Lagi, 2 Orang Tewas

Dua orang meninggal, mereka bernama Hamama dan Tohir, lima orang luka-luka saat mencoba melindungi anak-anak dan wanita, saya ketakutan sekali

Dua orang tewas dan lima orang lainnya terluka dalam penyerangan terhadap komunitas Syiah di Sampang, Madura, yang terjadi hari ini.

“Dua orang meninggal, mereka bernama Hamama dan Tohir, lima orang luka-luka saat mencoba melindungi anak-anak dan wanita, saya ketakutan sekali,” ujar Umi Kulsum, istri dari ustad Tajul Muluk, pemimpin Syiah Sampang, kepada Beritasatu.com, hari ini.

Umi mengatakan, kejadian berasal saat pagi hari sebanyak 30 anak-anak, termasuk lima orang putra-putri Umi dan Tajul, dan lima kemenakannya, akan berangkat ke Pesantren Bangil di Malang dari Desa Nangkerenang Kecamatan Omben Sampang, Madura.

Tiba-tiba ribuan orang menghadang mobil yang membawa mereka dan mendesak mereka untuk tidak pergi.

“Saat kejadian tidak ada polisi, massa menyerang pria dewasa yang mencoba melindungi anak-anak dan wanita dengan pedang, golok dan lain-lainnya,” ujar Umi.

Sampai saat ini, menurutnya, hanya ada delapan polisi dari Kepolisian Sampang yang berada di lokasi. Jenazah korbanpun belum dimakamkan.

Sebanyak empat rumah, termasuk rumah milik Umi dan Tajul sudah dibakar massa yang marah.

“Mungkin sekarang sudah lebih dari empat rumah, api sudah bergerak ke timur, tolonglah kami, suasana sangat mencekam,” kata Umi.

Dalam kerusuhan tersebut, Umi terpisah dari anak-anaknya dan sampai saat ini ia tidak mengetahui keberadaan mereka.

Umi mengatakan, ia mendengar kabar rencana penyerangan tersebut beberapa hari yang lalu dan sudah dilaporkan ke pihak Kepolisian, namun tidak ada tindakan nyata untuk mencegah insiden tersebut.

Umi mengatakan ia mengenali beberapa dari penyerang tersebut sebagai rekan dari Roisul Hukama, tokoh Nahdlatul Ulama di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Sampang, sekaligus adik kandung Tajul Muluk, yang melaporkan kakaknya, ke Kepolisian Daerah Jawa Timur, atas dasar penistaan agama.

“Mau berapa nyawa lagi yang harus jadi korban sampai polisi dan pemerintah mau turun tangan? Anak-anak kami sudah lima bulan putus sekolah, suami saya dipenjara, saya hidup dalam teror,” Umi berkata dengan penuh emosi.

Umi berharap Polisi Sampang tidak memihak dan segera menindak paara penyerang dan menghukum mereka dengan adil.

Penulis: Dessy Sagita/ Ayyi Achmad Hidayah

http://www.beritasatu.com/nasional/68040-komunitas-syiah-sampang-diserang-lagi-2-orang-tewas.html


Korban Tewas Syiah Sampang Jadi Dua Orang

TEMPO.CO, Surabaya – Korban tewas kelompok minoritas Syiah Sampang bertambah menjadi dua orang. “Korban tewas adalah kakak beradik,” kata Ip, salah satu warga dari kelompok Syiah yang tidak mau disebutkan nama lengkapnya, saat dihubungi Tempo pada 26 Agustus 2012.

Ia mengatakan korban tewas adalah Thohir, 40 tahun, dan Muhammad Khosim (45). Keduanya adalah tetangga pemuka agama Syiah Sampang, Ustad Tajul Muluk, yang kini ditahan di lembaga permasyarakatan setempat setelah divonis dua tahun penjara karena penodaan agama.

Lebih lanjut ia menerangkan Muhammad Khosim alias Bapak Hamamah meninggal dunia karena sabetan clurit diperutnya. Sedangkan saudaranya Thohir meninggal dunia karena sabetan pedang dan clurit dipunggungnya saat akan menyelamatkan saudaranya yang terjebak di dalam rumah dan dilempari batu oleh kelompok antisyiah.

“Thohir sempat dievakuasi di sekolah dasar Karanggayam, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan,” ujar dia.

Kordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Jawa Timur, Andy Irfan Junaidi, mengatakan telah meminta kepada polisi untuk melakukan pengamanan agar korban tidak berjatuhan. “Bapak Kapolda telah menyampaikan sudah mengirim pasukan untuk pengamanan,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Hadiatmoko hingga berita ini diturunkan belum membalas pesan pendek atau berhasil dihubungi. Demikian juga saat Tempo menghubungi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kombes Polisi Hilman Thayib.

DINI MAWUNTYAS

http://www.tempo.co/read/news/2012/08/26/058425591/Korban-Tewas-Syiah-Sampang-Jadi-Dua-Orang

Sampang Memanas Lagi dua Muslim Syi’ah Tewas

SURABAYA – Kerusuhan di Kabupaten Sampang, Madura, kembali pecah. Kali ini, belasan rumah milik pengikut Syiah di Desa karang gayam kecamatan Omben dan Desa Bluuran Kecamatan Karang Penang, Sampang hangus terbakar. Tak hanya itu, dua orang pengikut syiah harus meregang nyawa akibat kerusuhan tersebut.

Menurut Divisi Monitoring dan Dokumentasi KontraS Surabaya Fatkhul Khoir, hingga saat ini kondisi di lokasi masih mencekam. Selain aksi pembakaran perkampung milik warga Syiah, dua orang telah meningggal akibat kejadian itu.

“Informasi yang saya terima dari lapangan ada dua orang tewas. Saat ini kondisi lokasi mencekam,” kata pria yang akrab disapa Juir ini ketika dihubungi Okezone, Minggu (26/8/2012). Kata Juir, dua warga yang tewas tersebut adalah Hamama dan Tohir warga setempat.

Juir juga mengatakan, KontraS Surabaya akan turun ke lokasi seperti pada kasus sebelumnya. “Ini kami akan ke lokasi. Tadi sudah kontak-kontakkan dengan pihak keluarga Ustadz Tajul Muluk. Mereka (warga Syiah) sangat ketakutan,” ujarnya.

Dia meminta kepada aparat kepolisian untuk turun tangan agar kerusuhan ini tidak bertambah parah. Hingga saat ini, kondisi kampung tersebut masih mencekam.

Sebelumnya, kerusuhan yang menimpa pengikut Syiah di kabupaten Sampang pernah terjadi pada Desember 2011 lalu. Saat itu, massa intoleran melakukan pembakaran terhadap Kompleks Pesantren Islam Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Kepolisian belum mengungkap motif serta dalang kerusuhan yang menciderai keberagaman indonesia ini. Malahan, pengasuh ponpes itu, Ustadz Tajul Muluk harus menjadi terpidana karena kasus penistaan agama.(ded)

http://indah.web.id/m/post-/read/2012/08/26/519/680799/sampang-memanas-lagi-2-pengikut-syiah-tewas

Kronologi Penyerangan Warga Syiah di Sampang

TEMPO.CO, Sampang – 27/8/2012-Perayaan Lebaran ketupat warga Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, kemarin, berubah menjadi horor. Kejadian penyerangan pada Desember 2011 terulang. Satu orang tewas, empat orang lainnya kritis, dan puluhan rumah terbakar akibat penyerangan, Minggu, 26 Agustus 2012.

Korban tewas diketahui bernama Hamamah, 45 tahun. Dia meninggal akibat sabetan senjata tajam dari kelompok penyerang. Sedangkan korban kritis bernama Tohir, Mat Siri, Abdul Wafi, dan ibunda ustad Tajul Muluk. “Padahal ibunda ustad Tajul bukan penganut Syiah,” kata Zain, anak salah seorang korban kritis, Tohir. Tajul Muluk adalah pemimpin Syiah di Nangkernang yang kini mendekam di penjara setelah divonis dua tahun bui karena penodaan agama.

Adapun korban kritis akibat sabetan senjata tajam dan lemparan batu. Kini mereka tengah dirawat di RSUD Sampang dan mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. “Untuk yang luka ringan, saya tidak tahu mereka dirawat atau tidak,” kata Zain kepada Tempo.

Zain, yang merupakan pengajar di pesantren Syiah, menuturkan bahwa penyerangan terjadi mulai pukul 08.00. Saat itu, sebagian besar warga Syiah sedang merayakan Lebaran ketupat. Tiba-tiba, dari arah sebelah timur yang tertutupi perbukitan, muncul ratusan orang. Mereka menyebar dengan berjalan melintasi persawahan sambil mengacungkan celurit dan berteriak. “Sekarang bukan hanya rumahnya, tapi orangnya juga harus habis,” tutur Zain, menirukan teriakan itu.

Melihat itu, Zain bersama beberapa warga Syiah, termasuk korban tewas, bersembunyi di salah satu bagian rumah Tajul Muluk, yang selamat dari amuk massa dalam penyerangan sebelumnya. “Mereka tidak langsung duel, tapi melempari kami dulu dengan batu,” kata Zain.

Akibat lemparan batu itu, sejumlah orang Syiah mengalami cedera. Salah satunya Hamamah, yang akhirnya tewas dibantai. “Kami sembunyi dalam sungai, kami selamat setelah polisi datang,” tutur Zain.

Meski selamat, Zain mengaku kecewa terhadap aparat kepolisian karena baru tiba di lokasi pukul 15.00 atau delapan jam setelah penyerangan. “Semua rumah jemaah Syiah dibakar pakai bensin, sekitar 50 rumah, termasuk rumah saya,” katanya.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Hilman Thayib memastikan korban tewas akibat kerusuhan Sampang berjumlah satu orang. Hilman menuturkan kronologi yang berbeda dengan Zain. Menurut Hilman, awalnya, sebanyak 20 anak warga Syiah yang menumpang minibus dihadang 30 sepeda motor. Mereka kemudian dipaksa pulang dan dilarang belajar di pesantren Syiah yang ada di luar Sampang.

“Saat itu, terjadi keributan dan perkelahian hingga menimbulkan satu korban meninggal bernama Hamamah,” kata Hilman.

Pasca-penyerangan, polisi menerjunkan ratusan personel di lokasi kejadian dan dibantu personel dari Komando Distrik Militer setempat. Seluruh warga Syiah juga diungsikan ke Gelanggang Olahraga Sampang.

MUSTHOFA BISRI | DINI MAWUNTYAS | MASRUR | FATKHURROHMAN TAUFIQ | JULI
Sumber : Tempo Interaktif

http://www.tempo.co/read/news/2012/08/27/058425697

Senin, 27/08/2012 12:46 WIB
Kronologi Kerusuhan Sampang Versi KontraS Surabaya
Imam Wahyudiyanta – detikSurabaya

Surabaya – Kekerasan dialami warga Syiah di Sampang, Madura. Satu warga Syiah meninggal dunia akibat bentrokan yang terjadi dengan kelompok lain pada Minggu (26/8) itu. Warga Syiah yang kalah jumlah diserang dengan batu dan senjata tajam.

Berdasarkan siaran pers yang dikirimkan Kontras Surabaya pada Senin (27/8/2012), keributan dipicu oleh kedatangan puluhan pria warga non syiah yang mengancam warga Syiah untuk tidak meninggalkan desa.

Berikut kronologi kekerasan di Sampang pada Minggu (26/8):

- Pukul 06.30 WIB

Sejumlah anak-anak warga Syiah dengan didampingi orang tuanya akan pergi keluar desa mereka dengan tujuan ke beberapa tempat. Di antara mereka ada yang akan bersilaturahim ke keluarga yang ada di luar Omben, dan beberapa yang lain akan berangkat ke luar kota untuk masuk sekolah dan pesantren mengingat libur lebaran sudah usai.

Ketika rombongan anak-anak warga Syiah dan orang tuanya yang berjumlah sekitar 20 orang ini akan menaiki dua buah mobil yang mereka sewa, puluhan lelaki dewasa dari warga non Syiah dengan membawa senjata tajam mendatangi mereka dan melarang mereka meninggalkan desa.

Bahkan mobil yang akan mereka tumpangi diancam akan dibakar. Dan selanjutnya, layaknya ‘tawanan perang’ rombongan anak-anak warga Syiah digiring kembali ke desa dan dipaksa pulang ke rumah masing-masing. Saat itulah, orang tua dari anak-anak warga syiah berusaha melawan tindakan sekumpulan warga yang mengancam mereka. Akhirnya seluruh anak-anak warga Syiah beserta orang tuanya kembali ke rumah mereka masing-masing.

- Pukul 08.00 WIB

Puluhan warga non Syiah yang mengancam akan menyerang warga Syiah telah bertambah menjadi ratusan orang. Dan tersiar kabar bahwa mereka akan menyerang dan membakar semua rumah warga syiah dan bagi yang melawan akan dibunuh. Dan serangan akan dimulai dari rumah Ustadz Tajul Muluk, yang saat itu ditempati oleh ibu, istri, dan 5 orang anak-anaknya.

Rumah Tajul Muluk sesungguhnya telah dibakar massa anti Syiah pada akhir Desember 2011, dan saat ini tersisa bangunan seluas 4×5 meter dan ditempati oleh ibu, istri dan anak-anaknya. Sedangkan Tajul sendiri sedang berada di LP Sampang. Dia menjalani hukuman 2 tahun penjara yang diputuskan oleh PN Sampang dengan dakwaan penodaan agama.

– Pukul 09.30 WIB

Sekitar 20 orang lelaki dewasa dari warga Syiah berkumpul di rumah Ustadz Tajul bersiap untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang tinggal di rumah itu dari serangan warga non Syiah.

- Pukul 10.30 WIB

Warga non Syiah yang berjumlah lebih dari 500 orang, sebagian besar adalah lelaki dewasa yang bersenjatakan aneka macam senjata tajam, batu dan bom ikan (bahan peledak yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan di laut) bergerak mengepung rumah Ustad Tajul. Tidak berselang lama terjadilah perang mulut di antara mereka yang dilanjutkan dengan saling lempar batu.

Saat kondisi sedang memanas, salah satu warga Syiah, Moch Chosim (50), yang biasa dipanggil Pak Hamama berusah menenangkan massa. Lelaki tua ini maju ke tengah-tengah massa non Syiah yang akan menyerang mereka.

Nahas bagi Chosim, maksud baiknya justru memicu amarah massa. Sedikitnya 6 orang lelaki dewasa dengan senjata celurit, pedang dan pentungan mengeroyoknya. Tubuhnya bersimbah darah, perutnya terburai dan meninggal di tempat.

Melihat Chosim dikeroyok, Tohir (45 th) adiknya berusaha melerai dan melindungi sang kakak. Akibatnya, Tohir mengalami luka berat di bagian punggung dan sekujur tubuhnya akibat sabetan pedang, celurit dan lemparan batu. Untunglah nyawa Tohir masih terselamatkan.

Massa semakin beringas. Ratusan massa beramai-ramai melempari rumah Tajul dengan batu. Semua orang yang berada dalm rumah itu terkena lemparan batu. Ibu Tajul Muluk, Ummah (55), jatuh pingsan karena kepalanya terkena lemparan batu. Anak-anak menjerit, sebagian di antaranya pingsan.

Selain Ummah, 3 orang yang lain juga mengalami luka serius akibat terkena lemparan batu, yaitu Matsiri (50), Abdul Wafi (50), dan Tohir (45 th). Akhirnya keluarga Ustad Tajul dan warga Syiah yang terkepung itu tidak lagi melawan dan membawa kerabat mereka yang luka-luka dan meninggal ke gedung SD Karang Gayam yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah itu. Massa penyerang membiarkan mereka menyelamatkan diri. Selanjutnya massa membakar rumah Ustad Tajul hingga habis.

- Pukul 11.30 WIB

Setelah massa non Syiah membakar rumah yang didiami istri, ibu dan anak-anak Ustad Tajul, massa mulai bergerak membakar satu demi satu rumah warga Syiah. Tidak ada polisi di lokasi, padahal sudah sejak pagi diberitahu.

- Pukul 12.00 WIB

Puluhan petugas polisi datang ke lokasi dan memberikan pertolongan kepada sejumlah warga Syiah yang terluka. Akan tetapi jumlah polisi sangat tidak memadai untuk mencegah dan melarang massa melakukan pembakaran rumah-rumah warga Syiah.

- Pukul 18.00 WIB

Jumlah rumah yang dibakar berjumlah setidaknya 60 unit bangunan dari sekitar 35 rumah milik warga Syiah. Aparat kepolisian tidak berdaya mencegah hal ini terjadi.

- Pukul 18.30 WIB

Sejumlah warga Syiah dievakuasi oleh pihak kepolisian di Gedung Olah Raga Sampang. Sedang ratusan warga Syiah yang lain berlari bersembunyi ke hutan dan persawahan yang berada di sekitar rumah mereka.

Total korban yang telah dievakuasi adalah 155 orang, dan masih ada sekitar 300-400-an orang korban yang belum dievakuasi. 1 Orang tewas Muhammad Khosim (50) dan 1 luka berat, Tohir (45), sempat dikabarkan meninggal tapi masih menjalani perawatan di RSUD Sampang.(iwd/fat)

http://surabaya.detik.com/read/2012/08/27/124635/1999842/475/kronologi-kerusuhan-sampang-versi-kontras-surabaya?y991102465

Kronologi Penyerangan Syiah Versi AKBB Jatim

INILAH.COM, Surabaya – Hari Minggu tanggal 26 Agustus 2012, seminggu setelah Idul Fitri, sekitar pukul 10.00 WIB, komunitas Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang kembali diserang. Berikut kronologi penyerangan yang dibuat oleh Kelompok Kerja Aliansi Kebebasan Beragama Berkeyakinan (POKJA AKBB) Jatim:

Dalam rilis AKBB tertanda Akhol Firdaus, Senin (27/8/2012), dijelaskan bahwa penyerangan bermula ketika beberapa orang tua hendak mengantar sejumlah 20 anak untuk kembali menuntut ilmu di Yayasan Pondok Pesantren Islam (YAPI), Bangil, Pasuruan. Mengingat liburan lebaran kemarin, anak-anak tersebut pulang ke kampung mereka.

Pada 11.000 WIB, sebelum keluar dari gerbang desa, rombongan pengantar tersebut dihadang oleh massa yang berjumlah sekitar 500 orang. Massa melengkapi dirinya dengan celurit, parang, serta benda tajam lainnya.

Berdasarkan keterangan salah seorang jamaah Syiah yang tidak mau disebutkan namanya, pelaku penyerangan merupakan orang suruhan Roies Al Hukama. Massa menyerang jamaah Syiah Sampang dengan menggunakan senjata tajam.

Rombongan yang terdiri dari anak-anak dan sejumlah perempuan sontak berlarian menyelamatkan diri. Mereka kembali ke dalam rumah masing-masing untuk bersembunyi. Meski jamaah Syiah sudah berusaha bersembunyi, massa terus mengejar hingga menuju rumah mereka.

Massa Penyerang meluruk sampai ke rumah-rumah jamaah Syiah dan mulai membakar sejumlah rumah milik jamaah Syiah, yaitu rumah Ust Tajul Muluk, Muhammad Khosim alias Hamamah, dan Halimah.

Korban pun berjatuhan, dua orang jamaah Syiah yang bernama Thohir (laki-laki, 40 tahun) kritis, dan Muhammad Hasyim alias Hamamah (laki-laki, 45 tahun) meninggal dunia. Baik Thohir dan dianiaya ketika mereka berniat menyelamatkan anak-anak dari rumah yang terbakar. Thohir dan Hamamah mengalami luka bacok yang cukup parah di bagian tubuhnya.

Meski penyerangan sudah terjadi pukul 11.00 WIB, akan tetapi sampai malam hari Polisi tidak melakukan tindakan pencegahan dan penyelamatan secara serius. Saat penyerangan terjadi, sejumlah Polisi memang berada di lokasi tetapi tidak berbuat apa-apa. Mereka terlihat hanya duduk-duduk di sekitar lokasi.

Berdasarkan keterangan salah seorang sumber, aksi penyerangan ini sebenarnya telah direncanakan jauh hari sebelum lebaran tiba. Isu penyerangan sudah terdengar di wilayah Karang Gayam. Patut diketahui bahwa korban meninggal adalah saksi meringankan terdakwa Ust Tajul Muluk dalam persidangan di PN Sampang.

Baru pukul 18.30 WIB jamaah Syiah mulai dievakuasi ke GOR Sampang oleh Polisi. Berdasarkan keterangan Ibunda Ust Tajul Muluk, tidak semua jamaah Syiah berhasil dievakuasi karena sebagian mereka masih bersembunyi dan keberadaannya belum diketahui. Ada yang lari ke gunung, sebagian memilih bersembunyi di tempat keluarga di luar Karang Gayam.

Hingga pukul 21.00 WIB ada 176 Jamaah Syiah yang berhasil dievakuasi ke GOR Sampang, terdiri dari: 51 laki-laki; 56 perempuan; 36 anak-anak; 9 balita, dan; 3 manula. Masih ada 4 orang yang ada di RSUD Sampang.

Sampai laporan ini ditulis, korban masih bisa bertambah mengingat belum semua jamaah Syiah diketahui keberadaanya. Total kerugian material belum diketahui, tapi setidaknya sampai pukul 21.00 WIB, 80 rumah jamaah Syiah telah dibakar oleh massa penyerang.

Penyerangan ini juga dilakukan saat komunitas Syiah tidak memiliki pemimpin. Hal ini karena Ust Tajul Muluk sendiri sudah diputus 2 tahun penjara oleh PN Sampang. Selain itu, penyerangan dilakukan di depan sejumlah anak, sehingga menyebabkan trauma pada anak dan perempuan. [beritajatim.com]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1897833/kronologi-penyerangan-syiah-versi-akbb-jatim

Tragedi Sampang Butuh Ketegasan Presiden

Selasa, 28 Agustus 2012

KERUSUHAN di Sampang, Madura, penyerangan dan pembakaran rumah hingga menimbulkan korban tewas yang dialami warga Syiah, sungguh memprihatinkan. Tragedi di wilayah Jawa Timur itu pantas membuat siapa pun bertanya, ke mana saja aparat keamanan? Tidak berlebihan pula jika penyerangan yang dilakukan sesama warga namun berlainan kelompok itu dinilai sebagai kegagalan pemerintah melindungi rakyat.

Apa yang terjadi di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Sampang, Madura, tidak bisa dianggap selesai, dengan alasan aparat kecolongan. Tidak boleh pula diakhiri hanya dengan membangun kembali rumah-rumah warga yang dibakar. Pemerintah harus menuntaskan pertikaian yang terjadi. Itu memang tidak mudah, tapi harus diupayakan jika tidak ingin peristiwa serupa terulang.

Seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada pers usai memimpin rapat terbatas kabinet di Kantor Presiden, Senin (27/8) siang, kejadian Minggu (26/8) di Sampang harus disikapi penegak hukum dengan tegas dan adil. Tragedi yang berakibat tewasnya seorang warga Syiah itu harus diselesaikan tuntas.

Jangan sampai kejadian Sampang justru dimanfaatkan pihak tertentu, baik perseorangan maupun kelompok, menangguk di air keruh demi kepentingan mereka. Jangan beri peluang bagi siapa pun “menari” di atas penderitaan orang lain, termasuk mengadu domba atas nama agama.

Sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, banyak orang merasa ahli, merasa berhak bicara, merasa perlu didengar atas suatu kasus, termasuk pertikaian antara masyarakat. Padahal sejatinya mereka memanfaatkan moment untuk menarik perhatian, atau dalam upaya memengaruhi opini masyarakat agar mendukung rencananya.

Karena itu, seperti diminta Presiden SBY, jajaran pemerintah-menteri terkait hingga aparat keamanan-wajib mengambil langkah cepat dan tepat. Kasus Sampang harus dihadapi dengan tegas dan adil, tanpa memolitisasi agama. Tegakkan hukum sebagaimana mestinya. Jatuhkan hukuman berat kepada yang melakukan kesalahan berat, jangan sampai ada yang lolos.

Apa yang terjadi di Sampang memang sangat kompleks. Jika penanganannya tidak tuntas, peristiwa itu dapat terulang, seperti terjadi di beberapa daerah lain. Jangan biarkan tragedi Sampang dimanfaatkan pihak mana pun untuk keuntungan mereka, dengan tetap “memelihara” terjadi pertikaian antar warga di wilayah tersebut.

Peran intelijen-baik yang ada di kepolisian maupun teritorial TNI-harus dimaksimalkan. Badan Itelijen Nasional (BIN) dituntut lebih mempertajam kemampuan terkait soal keamanan masyarakat. Intelijen dituntut memiliki kemampuan mendeteksi secara dini dan akurat, sehingga tragedi seperti di Sampang dan tempat-tempat lainnya dapat dicegah.

Yang lebih penting lagi, Presiden SBY harus memberi contoh kepada jajarannya di kabinet dan kepada para penegak hukum. Sesuatu yang berkaitan dengan nasib bangsa dan negara perlu dihadapi dengan penuh tanggung jawab dan tegas. Kecepatan bertindak sangat menentukan berhasil tidaknya suatu keinginan penyelesaian. Jangan mulai segala sesuatunya dengan keraguan.*** http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=310035


Jika Konflik Syiah Berlanjut, Madura yang Dirugikan

Misbahol Munir – Okezone
Senin, 27 Agustus 2012 20:07 wib

JAKARTA – Politikus Partai Demokrat Achsanul Qosasi menyesalkan terjadinya konflik horizontal warga di Sampang, Madura yang menyebabkan tewasnya dua pengikut Syiah. Konflik itu menurut dia, seharusnya tidak terjadi, apalagi Madura sudah memasuki era keterbukaan informasi.

Semestinya keterbukaan dan kemudahan akses menjadi sarana agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

“Isu SARA semestinya sudah tidak terjadi lagi di Madura. Perkembangan informasi dan akses masuk ke Madura yang begitu mudah harus disambut dengan pembekalan yang intensif kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak mudah termakan isu,” ungkap politikus asal Sumenep, Madura itu kepada Okezone, di Jakarta, Senin (27/8/2012).

Kata dia, jika peristiwa semacam itu terus berulang maka Madura dapat dirugikan. Oleh sebab itu, dia berharap kerukunan dan kebersamaan bisa ditingkatkan dan terus dijaga.

“Madura dirugikan jika terus terjadi saling bunuh. Kebersamaan Madura harus kita jaga,” kata dia.

Kekerasan yang menewaskan dua warga itu lanjut dia, tak dapat dibenarkan atas nama apapun. Sebab agama sendiri menghargai perbedaan keyakinan. Warga Madura harus selalu menumbuhkan energi positif.

“Agama itu menyeragamkan perbedaan dan menghargai keragaman. Rakyat Madura harus tetap menumbuhkan energi positif. Membunuh itu menghilangkan hak orang untuk hidup,” kata dia.

Dia berharap insiden ini merupakan terakhir kalinya dan masyarakat tidak mudah terpancing dengan adu domba yang bisa memecah belah kerukunan masyarakat Madura.

“Semoga ini kali terakhir terjadi pembunuhan sesama Madura. Kita harus bersatu, jangan mudah percaya pada issue yang memecahbelah Madura,” jelas dia.

Kata dia, musuh yang harus dilawan bukan sesama masyarakat madura, melainkan setan dan iblis. “Musuh kita adalah setan dan iblis bukan orang madura sendiri,” tukas dia.(put)

http://news.okezone.com/read/2012/08/27/339/681242/jika-konflik-syiah-berlanjut-madura-yang-dirugikan

About these ads

Comments on: "“ALLAHU AKBAR”…Hari Ini Muslim Syi’ah Dibantai di Madura" (10)

  1. Blog ini bukan milik Sunni. Ini milik syiah. mereka mencatut nama2 ulama’ sunni sebagai prisai.

  2. qosim ibn ali….kamu itu bungul

  3. tanyasyiah(saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    parah blognye satusyiah, mengenai pembantaian kaum muslimin di suriah, die adem ayem kagak koar2

    giliran temen sejenisnye ade nyang jadi korban, koar2nye ga ketulungan

    ganti aje boss nama blognye jadi satusyiah

  4. alhamdulillah semoga nyang syiah pada kabur dr bumi nusantara….sana kelaut z atw balik ke iran.ngaku2 ahlil bayt padahal kalian persia bukan arobi

  5. Sudahlah Muslim Syi’ah harus bangkit melawan kezoliman dan provokasi kelompok takfir dan kelompok anti NKRI….JAYA SYI’AH..JAYALAH ISLAM……

  6. tanyasyiah(saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    sudahlah syiah jangan taqiyah lagi, buka topengnya, jangan ada dusta diantara syiah

    kutip boss satusyiah
    ” JAYA SYI’AH..”

    waduh bisa berabe kalo syiah jaya, bisa ribuan nyang nantinye bakalan dibantai

    waduh bisa berabe kalo syiah jaya, bisa semakin merajalela taqiyah sehingga amanah disia2kan dengan dusta

    waduh bisa berabe kalo syiah jaya, bisa semakin merajalela mut’ah sehingga zina dihalalin

  7. Saatnya Wahabi dan kaki tangannya mendapat pelajaran karena gigih memprovokasi umat yg awam untuk bertindak anarkhis, semoga Prsiden RI melihat dengan terang-benderang kajahatan Wahabi dan antek2nya.

  8. tanyasyiah(saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    kutip boss satusyiah
    ” anarkhis”
    boss kalo anarkis ntu kayak disuriah, para syi’i ngebantai kaum muslimin ampe ribuan, giliran temen lo nyang sejenis jadi korban aje baru koar2 ga ketulungan, padahal perbandingan kematian kaum muslimin suriah ama syiah sampang 20.000 : 2

    semoga Prsiden RI melihat dengan terang-benderang kajahatan syiah arrafidhi alkhariji attakfiri alqadari almajusi almu’tazilli laknatullah ‘alaih

  9. mas ghozali said:

    bersatu kita teguh bercerai kita runtuh…mari kita bersatu untuk melawan kaum zionis israel dan kawan2nya dalam bentuk politik yg Rosululloh saw contohkan….

  10. Ali Al Mujtaba said:

    Ente yang Wahhabi dengarlah mubahalah ane “Pemecah belah Islam itu adalah musuh Islam. Jika pernyataan ane salah maka saat ini juga sampai akhir hayat ane akan dihukum Alloh dengan hukuman yang sepedih-pedihnya sampai akhir hayat ane”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: