BERSATULAH DAN JANGAN BERCERAI BERAI !

UMI Makassar Hadirkan Ulama Sunni dan Syi’ah Dalam Seminar Persatuan Islam

Senin 5 November 2012, Universitas Muslim di Makassar Sulawesi Selatan membuat tonggak sejarah penting dalam sejarah persatuan mazhab-mazhab Islam di Indonesia. Universitas swasta terbesar di Indonesia Timur ini melaksanakan seminar internasional persatuan Islam dengan menghadirkan beberapa ulama dari mazhab Sunni dan Syiah. Seminar ini juga diakhiri dengan penandatanganan deklarasi bersama untuk persatuan mazhab-mazhab Islam. Kami menerima laporan dan foto berikut ini langsung dari Akbar Hamdan di Makassar. Sebagian besar laporan ini telah dimuat di Harian Fajar 6 November 2012 di halaman 1 [majulah-ijabi.org]

Indonesia sebagai negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia seharusnya mengambil peran sentral dalam tugas-tugas pengembangan Islam. Negeri ini dipandang mampu untuk mengambil alih tugas yang selama ini melekat pada negara-negara Timur Tengah karena ditunjang oleh banyak faktor. Diantaranya Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan jauh dari Israel yang menjadi pusat konflik.

Namun untuk mewujudkan hal itu, muslim di Indonesia harus bersatu padu. Perselisihan pendapat dalam mazhab jangan dibesar-besarkan. Sebaliknya, persamaan yang jauh lebih banyak lah yang harus ditonjolkan. Dua kubu terbesar dalam Islam, Sunni – Syiah harus menciptakan suasana yang saling menghargai dan menghilangkan fanatisme. Dan tokoh-tokoh panutan pada kedua mazhab tersebut yang semestinya dijadikan acuan dalam menilai ajaran kedua mazhab, bukannya dari kelompok-kelompok radikal atau sempalan.

Demikian menjadi poin penting yang disampaikan para pemateri dalam Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia, di Auditorium Al Jibra, Universitas Muslim Indonesia, Senin 5 November. Para pemateri yang hadir adalah Wakil Menteri Agama RI Prof Dr Nasaruddin Umar yang sekaligus membuka seminar, Sekretaris Jenderal Majma’ Taqrib Baynal Madzahib (Lembaga Pendekatan Antar Mazhab) Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri, Ulama Sunni yang menjadi penasehat Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad, Syekh Maulawi Ishak Madani, Ketua MUI Pusat Prof Dr KH Umar Shihab, Ketua Dewan Pakar dan Cendikiawan Muslim Dunia Prof Dr KH Hasyim Muzadi serta Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Prof Dr KH Din Syamsuddin. Seminar tersebut turut dihadiri Duta Besar Republik Islam Iran Mahmoud Farazandeh beserta sejumlah atasenya, tokoh-tokoh Islam di Sulsel dan para aktivis muslim Sunni mau pun Syiah.

Rektor UMI, Prof Dr Masrurah Mukhtar di awal seminar berharap seminar itu akan menjadi momentum untuk merekatkan kembali kelompok-kelompok Islam yang selama ini berselisih. Jika umat Islam sudah bersatu, maka cita-cita tertinggi Islam sebagai Rahmatan lil Alamin bakal terwujud.

“Impian kami dan impian kita semua adalah terciptanya dunia Muslim yang bersatu dan menjadi kekuatan yang membawa kedamaian kepada dunia,” katanya.

Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi dan kekuatan dahsyat untuk mengembalikan kejayaan Islam, seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Namun dia mengingatkan kekuatan itu tidak akan pernah terwujud jika sesama muslim sendiri masih berkubang dalam suasana saling menyalahkan dan mengkafirkan.

Umar Shihab juga menyerukan pentingnya kelompok-kelompok Islam yang berbeda untuk saling mempelajari khazanah mazhab masing-masing. Menurutnya, hanya dengan saling belajar, maka akan tercipta saling memahami.

“Ada dua masalah yang menyebabkan Islam terpecah, yakni kebodohan dan fanatisme. Itu yang harus kita lawan,” kata kakak kandung Prof Dr KH Quraish Shihab ini.

Umar juga meluruskan bahwa MUI pusat pernah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah adalah ajaran sesat. Dia mengakui pada tahun 1984 lalu pernah ada rekomendasi dari MUI untuk mewaspadai ajaran Syiah karena berbeda dengan Sunni yang dianut mayoritas muslim Indonesia. Tetapi rekomendasi itu bukan lah fatwa sesat. Itu pun rekomendasi tersebut dianggap sudah tidak sesuai dengan konteks saat ini.

Dia mengingatkan, ulama-ulama sedunia sudah sejak lama dan masih terus menggagas persatuan Sunni-Syiah. Diantara yang paling terkenal adalah Amman Message di mana Indonesia ikut terlibat di dalamnya.

“Kalau Syiah sesat, maka seminar semacam ini pasti akan dilarang (oleh negara),” tegasnya.

Syekh Maulawi Ishak Madani mengatakan dalam Mazhab Sunni dan mazhab Syiah masih terdapat oknum atau bahkan kelompok yang seringkali mengklaim kebenaran mazhabnya. Namun yang disayangkan, pendapat dari kelompok ini yang seringkali dijadikan sandaran untuk menilai sebuah mazhab.

Dia mencontohkan, Syiah seringkali dituding memiliki ajaran yang mencaci sahabat Nabi saw atau memiliki Alquran yang berbeda. Syekh Maulawi yang merupakan Ulama Sunni di Iran ini pun mengatakan semua itu hanya propaganda dari orang-orang yang disebut Ahmaq (bodoh).

“Iran adalah representasi negara Syiah terbesar di dunia. Tapi 30 tahun saya tinggal di sana sebagai Sunni, tak pernah sekali pun saya melihat televisi atau mendengar radio yang menyebarkan kebencian terhadap Sahabat Nabi Muhammad saw. Dan kami (Sunni) diperlakukan secara terhormat oleh mayoritas Syiah di sana,” kuncinya.

Sementara Din Syamsuddin mendorong perlunya dialog antara mazhab. Pasalnya, persamaan di dalam kelompok-kelompok Islam sesungguhnya jauh lebih banyak dibandingkan perbedaannya.

Kebangkitan Islam

Adapun Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri dan Hasyim Muzadi lebih menggambarkan situasi dunia Islam dewasa ini. Ali Taskhiri yang juga penasehat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Al Udzma Sayyid Ali Khamanei mengatakan saat ini telah terjadi gejala kebangkitan Islam di negara-negara berpenduduk Muslim.

Menurutnya, era kebangkitan Islam sudah berada di depan mata. Masyarakat muslim di dunia juga sudah menyadari bahwa Barat lah yang selama ini berperan dalam memecah belah Islam, baik dari luar mau pun dari dalam. “Tujuan mereka memisahkan kita, dan memisahkan urusan agama dan urusan umum. Tetapi kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” kata Taskhiri.

Hasyim Muzadi juga mengingatkan kapitalisme sudah mulai mengalami kegoyahan. Di Amerika dan Eropa, masyarakatnya sudah menyadari betapa buruknya sistim kapital itu sendiri. Dan di Timur Tengah, tengah terjadi suksesi kepemimpinan dari pemimpin-pemimpin yang pro barat, kini digantikan oleh pemimpin-pemimpin dari kelompok Islam.

Hanya saja, kata dia, yang perlu diwaspadai oleh negara ini adalah pemikiran Barat yang mulai meracuni seluruh sendi, mulai ekonomi, politik, hukum hingga budaya. Untuk menanggulangi problematika tersebut, maka umat Islam perlu tampil untuk melakukan pembenahan

Dia mencontohkan, ekonomi Indonesia yang cenderung memisahkan kekayaan alam dengan rakyat harus diubah dengan keadilan ekonomi. Politik yang kini transaksional dijadikan politik yang amanah. Hukum juga harus berlandaskan keadilan bagi seluruh elemen masyarakat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah budaya, di mana kaum muslim harus membentengi masyarakat dari budaya Barat yang dapat merusak akhlak.

http://www.majulah-ijabi.org/5/post/2012/11/saatnya-indonesia-ambil-alih-pengembangan-islam.html


Hadirkan Ulama Sunni Iran, UMI Makassar Selenggarakan Seminar Internasional

Menurut Kantor Berita ABNA, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi terkemuka di wilayah Timur Indonesia. Dalam memperlihatkan eksistensinya, UMI Makassar sangat aktif melaksanakan kegiatan keilmuan baik itu dalam skala Regional, Nasional bahkan internasional. Seperti baru-baru ini Senin, (5/11) melaksanakan Seminar Internasional dengan tema Persatuan Umat Islam Dunia di Auditorium Al-Jibra UMI Makassar.

Seminar Internasional yang dibuka langsung wakil Menteri Agama RI, Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA tersebut menghadirkan beberapa pembicara/Narasumber terkemuka dari dunia Islam diantaranya Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA, Wakil Menteri Agama RI sebagai keynote speeker, Duta Besar Republik Islam Iran, Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri selaku president of high council of the world forum for proximity and Islamic school of thought, Syaikh Maulawi Ishaq Madani yang merupakan presiden Ahlussunnah Waljamaah Iran, DR. Mazahari Deputy and open university of Rep. Islam Iran.

Sedangkan Nara Sumber yang berasal dari Tokoh-Tokoh Agama tingkat Nasional diantaranya, Prof. DR. KH. Hasyim Muzadi, MA yang merupakan Ketua Dewan Pakar Cendekiawan Muslim sedunia yang juga merupakan mantan Ketua PB. Nahdlatul Ulama, kemudian Prof. DR. KH. Din Syamsuddin, MA. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. DR. KH. Umar Syihab, MA selaku Ketua MUI Pusat dan Prof DR. H. M. Ghalib, MA selaku Koordinator kopertais VIII.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama berterima kasih kepada Duta Besar Republik Islam Iran dan Ulama Besar Iran atas kesediaannya berbagi Ilmu kepada Umat Islam Sulsel, serta terkhusus kepada UMI Makassar atas inisiatif pelaksanaan seminar tersebut. Hal ini akan menambah khasanah keilmuan dan keislaman kita khususnya di Sulawesi selatan ini, tambahnya.

Persatuan umat Islam merupakan wacana yang sangat seksi untuk dibahas ditengah gejolak yang banyak menimpa umat islam di dunia khususnya di wilayah timur tengah. Beliau kemudian mereview bahwa konsep ke-umat-an dalam islam merupakan refleksi dari konsep cinta kasih antar sesama sebagaimana akar kata umat itu sendiri yang sesungguhnya berasal dari bahasa ibrani. Kemudian masuk dalam dialek arab yang artinya Ibu dan makna luasnya adalah Rasulullah berharap bahwa pola hubungan antar umat manusia itu bisa mengejawantahkan konsep cinta kasih yang diperlihatkan oleh sang ibu kepada anak-anaknya.

Menurut Rasulullah, Konsep Ummah (umat) merupakan komunitas yang paling komplit dan mulia dalam Islam, karena tidak lagi mengagungkan adanya diskriminasi dan pengkotak-kotakan dalam masyarakat. Sebagaimana konsep Al-Quran “Walaqad Karramnaa Banii Adam” yang bermakna bahwa Islam menegaskan bahwa yang harus dimuliakan itu adalah semua anak cucu adam, tanpa memandang, Suku, jenis kelamin, golongan strata social bahkan agama, semuanya harus dimuliakan sebagai manusia ciptaan Allah. Tambah Beliau.

Olehnya itu, Sudah tidak jaman lagi umat islam dan umat manusia saling mempersalahkan satu sama lain. Orang yang suka menyalahkan orang lain adalah orang yang belum pernah belajar, dan orang yang suka menghargai orang lain itu adalah orang yang sudah belajar. Tegas sang wakil menteri yang bedarah bugis ini.

Olehnya itu kita sebagai umat Islam khususnya di Indonesia ini harus banyak bersyukur, karena sampai detik ini kita masih mampu menjaga sikap dan prinsip Ke-Ummat-an. Dan diakhir arahan, Prof. Nasaruddin Umar berpesan dan menyampaikan tanda-tanda orang yang tidak bersyukur yakni orang yanag suka mencari sesuatu yang sudah dia punyai atau miliki serta orang-orang yang suka mencari-cari sesuatu yang memang tidak ada.

Setelah memberikan kata sambutannya, Wakil Menteri Agama RI kemudian secara resmi membuka seminar internasional tersebut ditandai dengan pemukulan gendang secara simbolis didampingi oleh Duta Besar Repuiblik Islam Iran, Ketua MUI Pusat, Prof. DR. KH. Umar Syihab, MA. Assisten Gubernur, H. Amal Natsir, Rektor UMI Makassar, Ketua YBW UMI Prof. DR. H. Mukhtar Noorjaya dilanjutkan dengan pertukaran Cinderamata dari Civitas Akademika UMI Makassar dan Dubes Republik Islam Iran.

Dalam sambutannya selaku Rektor UMI Makassar, Ibu Prof. DR. HJ. Masrurah Mukhtar mengucapkan terima kasih atas respon positif yang diberikan oleh Presiden Iran melalui Duta Besarnya terhadap pelaksanaan Kegiatan Seminar ini, beliau Berharap wacana Persatuan antar Umat Islam seduania bisa berawal dari Kampus UMI Makassar.

Sementara itu dalam laporannya selaku panitia Pelaksana Seminar ini, DR. H. Arfah Sidiq, MA. Menyampaikan bahwa gagasan pelaksanaan seminar ini merupakan refleksi terhadap munculnya berbagai gejolak di dunia Islam yang menjadikan sesama Umat Islam itu “terkesan” tercerai berai, padahal menurutnya jika kita mengikuti ajaran Islam yang sesungguhnya dari Rasulullah maka Umat Islam bisa menjadi satu dalam berbagai perbedaan fiksi tersebut. Tambahnya.

Tampak Hadir dalam Pembukaan seminar tersebut Asisten Gubernur H. Amal Natsir, Ketua MUI Sulsel AGH. Sanusi Baco, Lc. , Pimpinan Ponpes An-Nahdlah yang juga Ulama Sulsel KH. Haritsah, dan ketua YBW. UMI Prof. DR. H. Mukhtar Noorjaya, M.Si. Kabag. Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Sulsel, Drs. H. Rappe, M.Pd. dan keluarga besar civitas akademika UMI Makassar. Besarnya Minat Masyarakat dan Mahasiswa terhadap Seminar ini ditandai dengan Membludaknya peserta memenuhi Auditorium Al-Jibra UMI. Tampak pula beberapa aparat keamanan dari Kepolisian dan TNI di sekitar kampus UMI dan sekitar tempat Seminar.

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Zein Irwanto, Ketua Tanfiziyah Nahdlatul Ulama Sulsel yang juga merupakan salah satu dosen senior di UMI Makassar.

Sementara itu diluar tempat acara ratusan massa Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) dan Wahdah Islamiyah beserta sejumlah Mahasiswa Islam anti Syiah melakukan aksi unjuk rasa memprotes dan menolak acara seminar Internasional “Persatuan Dunia Islam” tersebut. Dikutip dari arrahmah.com Ketua FPI Makassar Agus Salim menyebutkan alasan penolakan tersebut, “Kami menentang acara persatuan sunni-syiah. Tidak mungkin, aqidah kami yang mendoakan Sahabat dengan Radhiallahu anhu disatukan dengan aqidah yang mencaci Sahabat dengan laknatullah.” Namun aksi protes tersebut dapat dengan segera diamankan pihak keamanan yang sedang berjaga-jaga diarea lokasi acara, sehingga para pengunjukrasa pulang dengan tangan hampa dan acara berlangsung dengan aman dan lancar.

http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=362432


Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia UMI Makassar

Bahwa merujuk pada Deklarasi Amman atau The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Maka hendaknya umat Islam dengan mazhab-mazhab yang disebutkan di atas semakin memperkokoh ukhuwah Islamiah untuk menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Bahwa Rasulullah Muhammad saw diutus oleh Allah swt sebagai nabi dan rasul untuk seluruh umat manusia, menyampaikan ajaran Islam yangrahmatan lil alamin.

Setelah melakukan seminar internasional dengan tema “ISLAMIC WORLD UNITY(Persatuan Umat Islam Dunia)”,dengan ini seminar merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1.Bahwa hendaknya umat Islam di berbagai belahan bumi dengan penuh kesadaran terus membangun dan menjaga persaudaraan sebagai sesama umat Islam dengan menampilkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang.

2.Bahwa umat Islam yang menurut realitasnya terdiri atas penganut beberapa mazhab hendaknya tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai kendala atau hambatan untuk menjalin ukhuwah islamiah dan kerjasama dalam berbagai kegiatan keduniaan dan keagamaan.

3.Bahwa merujuk pada Deklarasi Amman atau The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Maka hendaknya umat Islam dengan mazhab-mazhab yang disebutkan di atas semakin memperkokoh ukhuwah Islamiah untuk menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

4.Bahwa umat Islam Indonesia dari berbagai mazhab hendaknya dapat menjadi role model bagi umat Islam dunia, yang dapat saling menerima untuk hidup berdampingan dalam ikatan persaudaraan yang kuat.

5.Ormas dan lembaga-lembaga keislaman serta para da’i, muballig dan cendekiawan muslim agar mengambil peran aktif untuk selalu mengupayakan kokohnya persaudaraan Islam, dan menghindari dakwah yang berakibat lemahnya ukhuwah Islamiyah.

6.Pemerintah diharapkan ikut menciptakan iklim yang kondusip bagi terwujudnya persaudaraan diantara penganut berbagai mazhab dalam Islam dan persaudaraan diantara sesama pemeluk agama.

7.Agar perbedaan (ikhtilaf) dikalangan umat Islam disikapi dengan mendahulukan etika dan akhlaqul karimah demi kemaslahatan umat. (IRIB Indonesia)

Tokoh Umat Islam:

1. Prof.Dr.H.Nasaruddin Umar, MA

(Wakil Menteri Agama R.I) __________________

2. Grand Ayatollah Syekh Muhammad Ali Taskhiri

(Presiden of High Council of Islamic School of Thought)__________________

3. Syekh Maulawi Ishaq Madani

(Advisor to the Presiden of the Islamic Republic of Iran

For Ahlussunnah Wal-Jamaah) __________________

4. Dr.Mazaheri

(Deputy of open University of The Islamic Republic of Iran) _________________

5. Prof.Dr.KH.Umar Shihab,MA

(Ketua MUI Pusat) __________________

6. Prof.Dr.KH.Din Syamsuddin,MA

(Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah) __________________

7. Prof.Dr.KH. Hasyim Muzadi, MA

(Presiden Ikatan Cendekiawan Muslim Dunia) __________________

8. Prof.Dr.H.M.Ghalib,MA

(Wakil Koordinator KopertaisWil.VIII) ­__________________

9. H.Muh.Mokhtar Noer Jaya

(Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI) __________________

10.Prof.Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, MA

(Rektor UMI) __________________

Makassar, 5 Nopember 2012

Steering Committee

Ketua, Sekretaris,

Dr.Ir.H.Fuad Rumi, MS Drs.KH.M.Zein Irwanto, S, MA

Organizing Committee

Ketua, Sekretaris,

Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA

http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&Id=362756


UMI, Benteng Ukhuwah Islamiyah

“Pendidikan yang diselenggarakan di UMI adalah pendidikan dengan dasar dan paradigma Islam. Demikian halnya dakwah yang dilakukan UMI adalah dakwah Islam. Hal ini penting untuk kembali diungkap agar masyarakat dapat mengetahui dengan benar keberadaan UMI di tengah-tengah masyarakat.”

H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc, Ketua LPPI Perwakilan Indonesia Timur, menyebut Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar sebagai benteng salah satu mazhab Islam. Hal itu dinyatakan setelah Kepala Divisi Kebudayaan Kedubes Iran mengunjungi UMI pertengahan September lalu. Walaupun mengakui mengutip ucapan tersebut dari Ketua Yayasan Wakaf UMI, yang belakangan diberitakan membantah hal tersebut, seorang dosen senior UMI, Dr. Ir. Fuad Rumi, MS, menolak klaim tersebut. Baso Mappadeceng, citizen reporter kami dari Makassar, merangkum perbincangan masalah tersebut.

***************************************************************************************************************************************
Beberapa hari terakhir ini, Universitas Muslim Indonesia, yang lebih dikenal dengan singkatan UMI, menjadi perbincangan menarik. Kali ini, terkait Kunjungan Kepala Divisi Kebudayaan Kedutaan Besar Iran, M. Ali Rabbani, Selasa lalu (18/9) ke Kampus UMI di Makassar.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal terjalinnya kerja sama antara UMI dan Divisi Kebudayaan Kedutaan Iran, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan (baca FAJAR, 22 September 2012). Kedua lembaga akan bekerjasama dalam program pertukaran mahasiswa, termasuk mengutus dosen-dosen dari Iran untuk mengajar di UMI. Juga diberitakan, Iran bakal membuka Iranian Corner di UMI (Tribun Timur, 22 September 2012).

Kunjungan tamu seperti itu lazimnya bukanlah hal yang ‘istimewa’, terlebih lagi bagi sebuah perguruan tinggi yang sudah kerap menjalin kerjasama dengan berbagai institusi atau negara lain. Peristiwa itu menjadi menarik dan memantik diskusi (bahkan polemik di media cetak), karena tamu yang berkunjung berasal dari Iran, negeri para Mullah, yang menjadi representasi mazhab Syi’ah.

Rencana UMI menjalin kerjasama dengan pihak Kedutaan Besar Iran dalam berbagai bidang, kontan mengundang beragam reaksi. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Reaksi positif tentu saja muncul dari tokoh-tokoh UMI. Seperti diberitakan FAJAR, 22 September 2012, Rektor UMI, Prof Dr Hj, Masrurah Mokhtar, menyambut baik kerjasama tersebut, bahkan menyebutkan bahwa insya Allah dalam waktu dekat ini akan digelar Seminar Internasional dengan tema Dialog Antar Mazhab, yang dilaksanakan UMI bekerjasama dengan Kedutaan Iran.

Sementara itu, Ketua Yayasan Wakaf UMI, HM Mokhtar Noer Jaya mengungkapkan rasa kagumnya melihat sistem pendidikan di Iran, terutama di bidang eksakta. Menurutnya, Iran akan mengundang tim dari UMI untuk berkunjung ke Iran dan mempelajari sistem pertanian di sana, terutama belajar di universitas-universitas yang ada di Iran.

Sebaliknya, reaksi kontra muncul di salah satu media cetak di Makassar. Seorang muballigh, H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc (Ketua LPPI Perwakilan Indonesia Timur) menulis artikel opini berjudul “UMI Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah” di Harian FAJAR Jumat, 28 September 2012.

Dalam tulisannya Ustadz Muh. Said Abd. Shamad mengutip ceramah dari Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Nur Jaya, yang belakangan disebutkan membantah pemberitaan tersebut. menyebutkan bahwa UMI adalah benteng Ahlusunnah wal jamaah (Sunni). Namun demikian, sampai saat ini, belum ada bantahan resmi dari Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Nur Jaya atas pemberitaan FAJAR dan Tribun Timur. Jika pemberitaan kedua media cetak tersebut memang tidak benar dan bahkan merugikan citra UMI sebagai perguruan tinggi Islam, tentu saja Yayasan Wakaf UMI yang diketuai H. Mokhtar Nur Jaya atau Rektor UMI akan memberikan bantahan resmi melalui kedua media tersebut.

Yang agak mengherankan dari tulisan Ustadz Said adalah kekhawatirannya atas merebaknya ajaran Syiah di kalangan dosen dan mahasiswa UMI, jika kerjasama Kedutaan Iran dan UMI dilanjutkan. Kekhawatiran yang tidak proporsional seperti itu tidak hanya menunjukkan ketidakfahaman atas konteks kerjasama antara dua lembaga, tetapi juga ‘merendahkan’ pemahaman keIslaman dan kemampuan nalar intelektual civitas academica UMI dalam menyikapi perbedaan pemahaman dalam Islam. Seolah-olah, dengan adanya kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dengan Iran, maka dosen dan mahasiswa UMI akan serta merta dengan mudahnya terpengaruh ajaran Syiah.

Menanggapi ‘klaim’ Ustadz Said tentang UMI, Dr. Ir. Fuad Rumi, MS (Dosen dan salah seorang tokoh UMI) menulis artikel berjudul “UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam” (FAJAR, Senin 1 Oktober 2012).

Ustadz Fuad Rumi menegaskan kembali peran historis UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang didirikan tidak atas dasar pandangan mazhab tertentu dalam Islam, tapi atas dasar Islam. Yang menjadi concern UMI adalah pendidikan dan dakwah, dalam rangka mengambil peran bagi pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Ustadz Fuad menjelaskan bahwa “pendidikan yang diselenggarakan di UMI adalah pendidikan dengan dasar dan paradigma Islam. Demikian halnya dakwah yang dilakukan UMI adalah dakwah Islam. Hal ini penting untuk kembali diungkap agar masyarakat dapat mengetahui dengan benar keberadaan UMI di tengah-tengah masyarakat.”

Ustadz Fuad juga membantah klaim Ustadz Said tentang UMI sebagai benteng Ahlusunnah wal jamaah. “Kata benteng mengajak kita pada konotasi adanya serangan atau perang yang membutuhkan kita membuat benteng pertahanan dengan asumsi adanya serangan dari luar. Menurut piagam berdirinya, UMI tidak didirikan dengan beranjak dari persepsi seperti itu. UMI tidak didirikan sebagai benteng, tetapi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, yang bertujuan memajukan pendidikan masyarakat berlandaskan pada ajaran Islam. UMI didirikan untuk mengemban misi Islam yang rahmatan lil alamin dan kaffatan linnas. Jadi paradigma UMI bukan paradigma benteng, apalagi sebagai benteng mazhab. Sekali lagi, kalau pun harus digunakan kata benteng bagi UMI, maka UMI adalah benteng Islam, bukan benteng mazhab”, demikian penjelasan Ustadz Fuad dalam artikel opininya.

Meski semua yang mengabdi di UMI berasal (atau berafiliasi) dengan ormas Islam yang berbeda, namun semuanya bersatu padu dalam bingkai ukhuwah menjalankan misi UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Ustadz Fuad menambahkan, “UMI lebih mengutamakan persatuan (ittihad) tanpa harus dikendalai oleh perbedaan paham dan mazhab. UMI memandang perbedaan dalam mazhab-mazhab Islam adalah sebuah keragaman yang justru menunjukkan kualitas dan keindahan Islam.”

Ustadz Fuad mengakhiri tulisannya dengan menyampaikan “kabar gembira”, khususnya bagi umat yang mencintai “persatuan Islam”. Salah satu hasil kesepakatan UMI dan Atase Kebudayaan Iran adalah UMI akan mengadakan seminar internasional yang akan membicarakan tema besar tentang persaudaraan Islam. Dalam seminar tersebut akan diundang pembicara dari dua mazhab dalam Islam yakni sunni dan syiah, dari Arab Saudi, Iran dan Indonesia. Dari Indonesia pembicara yang diharapkan adalah representasi dari dua Ormas Islam besar yakni NU dan Muhammadiyah serta juga dari MUI Pusat.

Melalui seminar internasional dengan tema tersebut, semoga UMI semakin dapat menegaskanpositioning-nya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah terkemuka, yang menjadi perekat ukhuwah bagi umat dan dunia Islam. Semoga!

(Baso Mappadeceng, menulis citizen report untuk http://www.majulah-ijabi.org)

http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&Id=362178

Gema Persatuan Islam dari Makassar

Ketika jahitan kebhinekaan terkoyak akibat ulah segelintir kalangan yang memaksakan tafsir tunggal atas ajaran agama, muncul seruan persatuan yang mengalir dari jantung Indonesia Timur. Senin, 5 November 2012 menjadi saksi perhelatan penting dunia Islam yang digelar di Universitas Islam terkemuka di Makassar. Sebuah seminar Internasional “Persatuan Umat Islam” diselenggarakan atas kerjasama Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dengan Kedutaan Republik Islam Iran untuk Indonesia.

Momentum yang ditunggu-tunggu umat Islam Indonesia ini menghadirkan perwakilan dari ormas Islam, dewan ulama, dan pemerintah serta akademisi dalam dan luar negeri. Seminar Internasional berlangsung di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI, dan dibuka langsung oleh wakil Menteri Agama RI, Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA.

Dua tokoh ormas Islam terbesar di Tanah Air, NU dan Muhammadiyah bersama-sama meneguhkan komitmen Indonesia dalam menjaga persatuan umat Islam dunia dari berbagai rongrongan. Prof. Din Syamsuddin hadir berdampingan sebagai pembicara bersama KH Hasyim Muzadi. Selain itu, hadir pula sebagai panelis Ketua MUI Pusat Prof. Umar Shihab dan Prof. Muhammad Ghalib, selaku Koordinator kopertais VIII.

Keseriusan mengusung persatuan umat Islam dalam seminar ini ditampilkan dengan menghadirkan para pembicara dari luar negeri. Partisipasi aktif Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Dr. Mahmoud Farazandeh, Grand Ayatollah Muhammad Ali Taskhiri selaku Ketua Lembaga Pendekatan antar Madzhab Islam, Republik Islam Iran, Sheikh Molawi Ishaq Madani sebagai penasehat presiden Iran untuk urusan Ahlussunnah, dan Dr. Mazaheri, Wakil rektor Universitas Terbuka Iran, menunjukkan komitmen kolektif menjaga persatuan Islam dunia. Namun, amat disayangkan Arab Saudi tidak mengirimkan wakilnya, meski sudah dijadwalkan hadir dalam seminar persatuan umat Islam dunia itu.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama mengapresiasi upaya konstruktif Duta Besar Republik Islam Iran dan ulama besarnya atas kesediaan mereka berbagi ilmu kepada Umat Islam Indonesia. “Seminar ini menambah khazanah keilmuan dan keislaman kita khususnya di Sulawesi selatan ini,” tutur pendiri Masyarakat Dialog antar Umat Beragama itu.

Bagi Nasaruddin, konsep keumatan dalam Islam merupakan refleksi dari konsep cinta kasih antar sesama. Mengutip Rasulullah Saw, profesor studi Islam UIN ini menilai konsep Ummah (umat) sebagai komunitas yang paling komplit dan mulia dalam Islam, karena tidak lagi mengagungkan adanya diskriminasi dan pengkotak-kotakan dalam masyarakat.

“Sebagaimana konsep al-Quran ‘Walaqad Karramnaa Banii Adam’ yang bermakna bahwa yang harus dimuliakan dalam Islam itu adalah semua anak cucu Adam, tanpa memandang Suku, jenis kelamin, golongan strata sosial bahkan agama, semuanya harus dimuliakan sebagai manusia ciptaan Allah swt,” ungkap penulis sekitar 12 buku keislaman ini.

Nasruddin dalam pidatonya optimis Indonesia sebagai negara muslim terbesar akan memimpin dunia Islam. Bagi Nasruddin, jazirah Hijaz telah selesai melahirkan Islam, kini giliran Indonesia yang akan memimpin dunia Islam. Tapi, semuanya itu hanya bisa terwujud ketika umat Islam Indonesia serius menggalang persatuan.

“Tanpa persatuan, umat Islam Indonesia hanya akan tersekat-sekat dalam ruang sempit mazhab atau kabilah,” tegasnya.

Optimisme itu bergema kembali disuarakan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin. Cendekiawan muslim ini menjelaskan besarnya potensi kaum muslimin, terutama di Indonesia. “Kita punya SDM (Sumberdaya Manusia), SDA (Sumberdaya Alam) maupun SDN (Sumberdaya Nilai) dan SDS (Sumberdaya Sejarah),” kata Ketua Umum Muhammadiyah.

“Sumber daya itu harus digunakan untuk menguatkan konsep ‘Kalimatun Sawa’ dalam menghadapi ‘Aduwun Sawa’,” tegas pria kelahiran Sumbawa itu.

Tokoh NU, KH. Hasyim Muzadi menegaskan pentingnya persatuan Islam dalam mewujudkan kamajuan dan kejayaan umat. Kiai berusia 48 tahun ini memandang politik adu domba yang dilancarkan dunia Barat untuk menjegal kemajuan dan kejayaan kaum muslimin. “Semua itu, hanya bisa dilawan dengan persatuan umat sebagai landasan gerakan Islam yang rahmatan lil alamin,” tambahnya.

Mengamini pentingnya persatuan umat bagi bangsa Indonesia dan dunia, Rektor UMI Prof. Masrurah Mokhtar, MA pada pidato sambutannya menggarisbawahi urgensi perumusan etika dalam berbeda pendapat, supaya umat Islam dapat meningkatkan tali persaudaraan, toleransi dan tidak mudah diadudomba. Sedangkan, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Dr. Mahmoud Faranzadeh dalam statemennya menekankan pentingnya persatuan umat Islam sebagai benteng menjaga keamanan, kesejahteraan dan kemajuan umat Islam dunia.

Sementara itu, Sheikh Molawi Ishaq Madani menyebutkan persatuan sebagai kunci kemenangan umat Islam. “Persatuan sangat penting. Tanpa persatuan, umat Islam mudah diadudomba. Perselisihan dan pertengkaran di antara kaum muslimin tidak akan menghasilkan kemenangan bagi madzhab yang bertikai, dan sebaliknya justru kekalahan bagi agama Islam,” kata penasehat Presiden Iran urusan Ahlusunnah.

Terkait peran dunia Barat dalam menyulut friksi di tubuh umat Islam, Ayatollah Muhammad Ali Taskhiri menyatakan bahwa dunia Barat berupaya mengoyak-oyak persatuan umat Islam dunia hingga akhirnya menjadi negara-negara kecil, terbelakang dan memisahkan agama dari kehidupan kaum muslimin. “Barat mengimplementasikannya dalam bentuk Kolonialisme,”ungkap Ketua Lembaga Pendekatan Antarmazhab Islam itu.

Namun, tutur ulama senior Iran ini, pasca perang dunia kedua, terjadi berbagai peristiwa penting yang menyebabkan Kolonialisme Barat menemui tantangan berat. “Peristiwa pertama adalah pembakaran masjid Quds yang menstimulasi lahirnya konferensi solidaritas kaum muslimin. Kemudian lahirlah Revolusi Islam di Iran, ” tambahnya.

Pada tahun 1979, Revolusi Islam Iran yang digagas oleh Imam Khomeini berhasil menumbangkan hegemoni Barat. Menurut ulama sepuh ini, revolusi berbasis agama itu menjadi antitesis Kolonialisme Barat terhadap dunia Islam.

“Ketika Barat menginginkan umat Islam tercabik-cabik, Revolusi Islam tampil menyerukan persatuan umat. Ketika Barat membiarkan umat Islam terbelakang, Revolusi Islam menyerukan dukungan umat terhadap kemajuan dunia Islam dalam segala bidang kehidupan. Dan ketika Barat memisahkan Islam dari kehidupan kaum muslimin, Revolusi Islam justru menawarkan mengisi kehidupan masyarakat muslim dengan nilai-nilai Islam,” ujar ulama Iran itu.

Acara ini diakhiri dengan pembacaan rekomendasi yang berisi tujuh poin penting persatuan umat Islam dunia. Pertama, meningkatkan kesadaran umat Islam untuk terus membangun dan menjaga persaudaraan sebagai sesama umat Islam dengan menampilkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang. Kedua, tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai kendala dalam menjalin ukhuwah islamiah dan kerjasama dalam berbagai kegiatan keduniaan dan keagamaan. Ketiga, mendukung sosialisasi Deklarasi Amman (9/11/2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang menegaskan bahwa mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaidi) sebagai bagian dari Islam.

Keempat, umat Islam Indonesia dari berbagai mazhab bisa menjadi role model bagi umat Islam dunia dengan hidup berdampingan dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Kelima, ormas dan lembaga-lembaga keislaman serta para da’i, muballig dan cendekiawan muslim mengambil peran aktif untuk selalu mengupayakan kokohnya persaudaraan Islam, dan menghindari dakwah yang berakibat lemahnya ukhuwah Islamiyah. Keenam, pemerintah Indonesia diharapkan ikut menciptakan iklim yang kondusif bagi terwujudnya persaudaraan antarpenganut berbagai mazhab Islam dan persaudaraan di antara sesama pemeluk agama. Ketujuh, perbedaan (ikhtilaf) di kalangan umat Islam harus disikapi dengan mendahulukan etika dan akhlaqul karimah demi kemaslahatan umat.

Seminar berjalan lancar, meskipun di luar gedung ada segelintir pihak yang memaksakan sikapnya menolak persatuan Islam. Akan tetapi kesiapan panitia dan tim keamanan dari TNI-Polri dalam komando Wakil Rektor III UMI berhasil menghalau gerombolan anti kebhinekaan itu.(IRIB Indonesia/Khusnul Yaqin/Purkon Hidayat)

http://beritaprotes.com/2012/11/gema-persatuan-islam-dari-makassar/

About these ads

Comments on: "UMI Makassar Gelar Seminar Internasional Tentang Persatuan Islam" (1)

  1. Pasca reformasi..iranian corner di Unhas Mks ternyata berisi para missionaris syiah..dan misinya dianggap berhasil krn saat ini makassar menjadi komunitas syiah terbesar kedua setelah bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: