BERSATULAH DAN JANGAN BERCERAI BERAI !

SYI’AH IMAMIYAH

Introduksi Diskursus Sejarah Lahirnya Syiah dan Sunni

I. Prolog

Membicarakan lahirnya Syiah dan Sunni tak ubahnya membaca ulang sejarah awal Islam. Sebuah topic historis yang berusia setua peradaban Islam itu sendiri. Sudah ratusan ulama, ilmuwan dan sejarawan yang menelaahnya, dan mungkin ribuan kitab, buku, tesis hingga manuskrip ilmiah ditulis untuk mengkajinya dari berbagai perspektif, namun topic Syiah-Sunni tetap saja menjadi issu memikat tak hanya bagi pemerhati agama, namun juga bagi sejarawan (dari Ibn’ Khaldun sampai Syekh Dr. Ahmad Amin), ulama, intelektual, hingga musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya yang berusaha mengeksterminasi peran histories Islam dalam pentas peradaban dunia melalui topic-topik sensitive Sunni – Syiah. Kiranya dalam sorotan perspektif kesejarahan inilah tulisan sederhana ini mencoba menjadi bagian dari dialektika histories yang semoga memberikan manfaat dan pencerahan, membuka ruang diskursus yang produktif dan efisien berkaitan dengan sejarah Islam, dan membidas berbagai propaganda murahan dan sarkastis yang banyak memutar-belitkan fakta kebenaran yang dikampanyekan musuh-musuh Islam untuk mendekonstruksi Islam melalui issu-issu Sunni – Syiah (Su-Syi).

Ada sejumlah tema yang menjadi diskursus menyejarah (kalau tidak dibilang sengit) antara dua mazhab besar Islam ini. Mulai dari kepemimpinan agama, politik, social, penafsiran teks agama hingga metodologi ritual keagamaan (syariat dan fiqih). Namun dari semua topic tersebut, banyak kalangan menilai tak ada perdebatan yang lebih panas antara keduanya melebihi persoalan Imamah atau kepemimpinan (agama dan politik). Syekh as-Syahrastani, seorang ulama besar Ahlussunah (Sunni), dalam kitabnya al-Milal wa an-Nihal menulis bahwa tidak ada topic perseteruan Sunni dengan Syiah yang lebih sengit daripada topic Imamah.

Imamah artinya kepemimpinan. Kepemimpinan apa ? Syiah dan Sunni berbeda konsep tentang jawaban dari pertanyaan di atas. Sunni menganggapnya kepemimpinan politik, dalam pengertian ia hanya meliputi berbagai kategori pelaksanaan system hukum dan administrasi public. Sementara Syiah meyakininya sebagai kepemimpinan agama (di mana dalam perspektif keagamaan Islam Syiah, politik hanya salah satu hipostasi imamah agama) dalam pengertian menyeluruh. Karena itu Sunni tidak mensyaratkan criteria yang ketat bagi seorang khalifah (pemimpin). Cukup ia seorang muslim dan berwatak adil. Sementara Syiah –disebabkan mereka mendasarkan kepemimpinan di atas komprehensivitas agama- menentukan prasyarat yang ketat dan massif atas Imamah, yakni antara lain maksum (terpelihara dari dosa), suci, paling berilmu, paling zuhud, paling takwa di antara manusia, wara’ (menjaga diri dari orientasi profanisme atau aspek-aspek duniawi) dan sifat-sifat asketis-esoteris lainnya.

Sejumlah hipotesis dapat diajukan sebagai metode pendekatan untuk menganalis kesejarahan fragmentasi umat Islam menjadi dua mazhab besar, Sunni dan Syiah. Tentu saja dalam suatu pembahasan ilmiah kita menginginkan sebuah metodologi yang efektif dan produktif, sekaligus menjawab beberapa hipotesa yang kita ajukan. Yang perlu saya tegaskan adalah, artikel pendek ini tidak bermaksud mengkaji secara menyeluruh persoalan Sunni – Syiah melalui metode tertentu, melainkan saya hanya menawarkan sebuah pengantar bagi kajian histories Sunni – Syiah melalui topik-topik praktis yang hasilnya saya harapkan membantu pembaca mendapatkan perspektif untuk mengembangkan kajiannya terhadap fenomena Sunni – Syiah

II. Definisi Sunni dan Syiah

II.1. Definisi Sunni

Kita akan memulai pembahasan ini dengan definisi praktis tentang Sunni. Dalam pembahasan keagamaan dan keilmuan, terminology Sunni digunakan untuk menyebut kelompok Ahlussunah, yakni suatu mazhab dalam Islam yang mendasarkan struktur keagamaan, system nilai afektif dan ritual-ritual praksisnya di atas nas-nas Al-Quran, sunah Nabi saw, sunah para sahabat dan generasi tabiin-tabiin. Dengan sendirinya dalam diskursus ini kita menggunakan istilah Sunni untuk menyebut sebuah kelompok sebagaimana definisi di atas. Dalam pengertian yang kita singgung di atas, penggunaan dan interpretasi nas-nas agama haruslah dimaknai secara umum, karena ketiadaan pembatasan jalur periwayatan nas (utamanya sunah Nabi saw) yang disepakati secara ijma’ (consensus) dan dianggap baku oleh ulama-ulama mazhab Ahlussunah. Mereka umumnya memiliki metode verifikasi tertentu yang melaluinya mereka mendefinisikan nas-nas yang mereka anggap otoritatif.

Dalam topic ini, kita memiliki contoh bagus dalam kasus perbedaan metodogi verifikasi nas-nas untuk menilai hadis-hadis yang dipandang otentik. Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama besar Ahlussunah penulis kitab masyhur As-Sawaiq Al-Muhriqah, menolak hadis-hadis melalui jalur periwayatan Yahya bin Abi Ya’la Al-Muharibi, karena dinilainya nama terakhir adalah orang yang tidak tsiqah (terpercaya) dalam mekanisme dokumentasi hadis. Dengan kata lain, Ibnu Hajar merumuskan metode verifikasi hadis yang menolak hadis-hadis Yahya bin Abi Ya’la Al-Muhribi. Sebaliknya Al-Bukhari dan Muslim (dua ulama besar penulis kitab hadis Ahlussunah yang dinilai paling otoritatif) menilai Yahya bin Abi Ya’la sebagai otoritatif dalam dokumentasi hadis dan menilai hadis-hadisnya otentik (shahih). Konklusinya adalah Al-Bukhari-Muslim di satu sisi dengan Ibnu Hajar di sisi lain, memiliki perbedaan metode dalam menentukan hadis yang dipandang otentik. Tak syak lagi diferensiasi ini mengakibatkan perbedaan kedua pihak dalam memverifikasi hadis-hadis yang dianggap otentik (shahih) dalam kitab-kitabnya.

Secara histories, terminology Ahlussunah wal Jamaah digunakan pada awalnya oleh Muawiyah bin Abu Sofyan untuk menamakan tahun-tahun fase kekuasaannya yang mulai terkonsolidasi pada kurun 49 – 50 Hijriyah. Menurut para sejarawan, fase ini terjadi setelah terbunuhnya al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (imam kedua kaum Syiah) pada Rabiulawal 49 H. Sebagaimana terekam dalam sejarah, kurun waktu sesaat setelah wafatnya Nabi Tuhan termulia SAW hingga naiknya bani Umayyah dan lalu bani Abbasiyah secara bergantian ke tampuk kekuasaan, telah terjadi friksi politik dan keagamaan dalam level pertikaian yang luar biasa, hingga hasil akhirnya adalah fragmentasi umat Islam dan mengakibatkan umat Islam tercerai-berai hingga kini. Secara factual tentu saja ini realitas yang mustahil dipungkiri. Karenanya menjadi mudah dimengerti bila fragmentasi masyarakat yang terjadi saat itu, mendorong otoritas kekuasaan (dalam hal ini Muawiyah bin Abu Sofyan) untuk mengkampanyekan konsolidasi politik yang efektif menyentuh strata terbawah masyarakat. Dalam politik ini dikenal sebagai diferensiasi political-mass. Kiranya tujuan di balik penggunaan terminology “Jamaah” digabungkan dengan istilah Ahlussunah adalah jelas dalam paradigma propaganda kekuasaan, yang mana dengan kampanye ini otoritas kekuasaan mendapatkan dua keuntungan sekaligus: pertama, hegemoni atas rakyat dengan memanfaatkan ketakutan psikologis masal yang ditimbulkan oleh penggunaan kata “Jamaah”. Insinuasi kolektif bahkan massal yang hendak dibentuk penguasa adalah bahwa setiap elemen yang berbeda pendapat, bersikap kritis, menjadi oposan, apalagi bersikap sebagai anti-tesis dan melakukan perlawanan terhadap otoritas kekuasaan adalah di luar “Jamaah” dan melawan “Jamaah”. Kedua, diferensiasi massa. Dengan propaganda ini otoritas kekuasaan ingin memetakan musuh-musuh politiknya, baik yang actual maupun yang masih potensial. Kubu-kubu “politis” dengan sendirinya akan terdistribusi menjadi faksi-faksi berdasar terminology ini. Dalam sorotan perspektif inilah pemassalan adagium Ahlussunah wal Jamaah dapat dipahami, setidaknya dalam perspektif dan paradigma penulis.

Secara prinsip-prinsip teologis (akidah), ushuluddin, prinsip-prinsip jurisprudensi, metodologi Ushul-fiqh dan kitab-kitab kodifikasi fiqh Ahlussunah, mazhab Ahlussunah wal-Jamaah merujuk pada suatu kelompok mayoritas umat Islam yang mendasarkan prinsip-prinsip teologisnya pada pandangan-pandangan teologis Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Syekh Abu al-Mansur al-Maturidi (termasuk dalam topic pengertian ini sebagian pembaharuan teologis yang dilakukan Syekh Ibn’ Taimiyah dan muridnya Syekh Ibn’ Qoyyim al-Jauziyah pada abad 7 H), dan secara fiqh mengikuti metodologi dan produk hukum dari sejumlah mujtahid besar fiqh yaitu Abu Hanifah (Imam Hanafi), Malik bin Anas (Imam Malik), Muhammad bin Idris as-Syafii (Imam Syafii), Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Tak syak lagi karena epistemology ushuluddin dan fiqh inilah mazhab Ahlussunah biasa disebut juga kaum Asy’ariyah atau al-mazhabi fiqh al-arbaah (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah atau Hambaliyah).

Selain aliran teologi al-Asy’ariyah, memang dalam sejarah mazhab Ahlussunah pernah muncul aliran teologi seperti al-Qodariyah yang banyak membawa gagasan kaum Muktazilah yang mulanya dielaborasi dari ide-ide Washl ibn’ Atha’ dan para pengikutnya semisal al-Qadhi Abdul Jabbar dan Ibn Abil Hadid (pensyarah masyhur kitab Nahjul-Balaghah), namun setelah era kekuasaan al-Makmun (dinasti Abbasiyah), ideology ini raib tak terdengar rimbanya seolah ditelan bumi. Secara mendasar, aliran Qodariyah dan Muktazilah mentesiskan kehendak bebas dan otonom manusia secara mutlak dalam system perilaku eksistensialnya, dan menolak campur tangan Tuhan dalam seluruh mekanisme dan proses ontologis dari semua realitas eksistensial manusia (filsafat determinisme humanistic).

Setali tiga uang dengan sejarah isme-isme (aliran) dalam aspek ushuluddin Ahlussunah, pasang-surut aliran metodologi yurisprudensi (ushul-fiqh) juga melanda aspek ushul-fiqh mazhab Sunni. Sebenarnya selain mazhab empat fiqh (mazhabi fiqh al-arbaah) ini, Ahlussunah juga kaya aliran-aliran metodologi fiqh lainnya seperti mazhab Abu Abdullah Sufyan bin al-Tsauri (w 161H), Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah (w 198H), Abd’ Rahman bin Amr al-Auzai, Muhammad bin Jarir al-Thabari (w 310 H) dan mazhab Abu Sulaiman Dawud bin Ali (mazhab al-Zahiri). Pada kurun abad 2 – 3 Hijriyah, mazhab-mazhab ini juga berkembang sebagaimana empat mazhab besar Ahlussunah, namun karena ketiadaan dukungan politik dan keberlangsungan institusi akademik, mazhab-mazhab ini umumnya menghilang di abad 4 Hijriyah. Sementara empat mazhab Sunni lainnya tetap eksis dan dapat berkembang karena dukungan politis dan financial dari otoritas kekuasaan saat itu, seperti mazhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga Khalifah bani Abbasiyah: al-Mahdi, al-Hadi dan Harun al-Rasyid. Kitab al-Kharaj adalah literatur yang disusun atas permintaan al-Rasyid dan menjadi rujukan utama mazhab Hanafi. Lalu mazhab Maliki berkembang di khilafah timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Masih menurut catatan sejarah, kitab masyhur Imam Malik bin Anas, al-Muwattha’, disusun atas perintah khalifah Abbasiyah al-Manshur ketika sang khalifah memanggil Imam Malik pada saat musim haji 153 H. Bahkan di Afrika al-Muiz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti mazhab Maliki. Mazhab Syafii membesar di Mesir ketika Sultan Salahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. Jauh sebelum kebijakan Salahuddin itu, mazhab Syafii sudah dikenal luas public saat Muhammad bin Idris as-Syafii al-Quraisy (Imam Syafii) sendiri diundang ke istana oleh khalifah Harun al-Rasyid. Sejak itulah Beliau mengajarkan mazhabnya kepada jamaah haji di kota suci Makkah dan mulai tahun 198 H di Mesir, sehingga kitab-kitab Imam Syafii seperti al-Umm, Amali al-Kubra, ar-Risalah, dan lainnya dikenal luas masyarakat. Sedangkan mazhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. Waktu itu salah satu kebijakan keagamaan al-Mutawakkil adalah tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam buku Asad Haedar, dalam menyimpulkan semua fakta ini, Syah Wali al-Dahlawi menulis: “Bila pengikut suatu mazhab menjadi masyhur dan diberi otoritas untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa, dan tulisan mereka terkenal di masyarakat, lalu orang mempelajari mazhab itu terang-terangan, maka tersebarlah mazhabnya di seluruh penjuru bumi. Bila pengikut mazhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak memiliki otoritas apapun untuk mendeduksi suatu keputusan hukum (fatwa), maka orang tidak ingin mempelajari mazhabnya. Lalu mazhab itu pun menghilang setelah beberapa lama.”

II.2. Definisi Syiah

Secara etimologis, Syiah berarti pengikut. Dalam pengertian histories lainnya, istilah ini dapat juga diartikan sebagai pecinta dan penolong, sementara dalam aspek terminologis sejarah konsep ini ditujukan untuk menyebut sekelompok umat Islam yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan dan otoritas (imamah / wilayah) Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Rasul Allah termulia SAW yang agung dan suci. Menurut sejarawan Sunni termasyhur Muhammad bin Jarir at-Thabari dan Ibn’ Hisyam, Syiah pada awalnya adalah terminology yang sering digunakan untuk menyebut sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang mendukung dan mengikuti kepemimpinan Ali bin Abi Thalib seperti Abudzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yassir, Abdullah bin Abbas, Bara’ bin Azzib, Ubay bin Kaab, Saad bin Ubadah, Uways al-Qarani, Khuzaimah, Jabir bin Abdillah al-Anshori, Abu Musa al-Anshori, dan lain-lainnya. Karena alasan inilah banyak tokoh dan sejarawan Ahlussunah menyebut mereka ini sebagai generasi Syiah awal.(berbeda kontras dengan ulama dan sejarawan Sunni kontemporer semisal Syekh Ibn’ Taimiyah dan Rasyid Ridha –murid Muhammad Abduh- yang berpendapat kaum Syiah muncul karena elaborasi dan kredo-kredo teologis yang didiskursuskan seorang Yahudi Yaman bernama Abdullah ibn’ Saba’ berdasar riwayat tunggal yang dinisbahkan pada Saif bin Umar dan inilah pandangan umum kaum salafi-wahabi dalam memahami mazhab Syi’ah)

Dalam sejumlah fakta histories yang memiliki kredibilitas dan obyektif, kita mendapati banyak kenyataan factual dari peran sejarah generasi Syiah awal ini. Dalam kasus-kasus spesifik namun berimplikasi global seperti pembaiatan Abu Bakar bin Abu Quhafah sebagai khalifah dalam satu pertemuan yang melibatkan Umar bin al-Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Basyir bin Saad, Hubab bin Munzhir dan sejumlah orang suku Khazraj di saqifah bani Saidah, topic pertikaian tentang wilayah Ali bin Abi Thalib (Imam Syiah pertama) yang mendiferensiasi para sahabat menjadi dua polar keagamaan, social dan politik, sengketa tanah Fadak antara Khalifah Abu Bakar dengan Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW, wafatnya Khalifah Usman bin Affan, perang Jamal-Shiffin-Nahrawan, syahidnya Ali bin Abi Thalib di Kufah, syahidnya Hasan bin Ali karena diracun, hingga peristiwa tragis dan memilukan yang menimpa Husain bin Ali, keluarga dan pengikutnya di gurun Karbala pada 10 Muharram 61 H, hingga syahid terbunuhnya para Imam Syiah berikutnya secara beruntun dari Ali bin Husain Zayn al-Abidin as-Sajjad sampai Abu Hujjah Hasan bin Ali al-Askari (imam kesebelas), para Syiah ini memainkan kontribusi sejarah yang secara massif memberikan pola dan definisi pemahaman bagi public dan masyarakat non-Syiah terhadap kaum Syiah. Pembahasan detail mengenai kronologi dan berbagai aspek dari sejumlah peristiwa di atas tentu berada di luar kompetensi artikel ini.

Prinsip-prinsip teologis kaum Syiah berdasar pada ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran suci dan hadis-sunah Rasulullah SAW melalui jalur Ahlulbait (keluarga dan imam-imam keturunan Nabi SAW dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra –menurut konsepsi dan akidah kaum Syiah). Ada lima prinsip yang mendasari ushuluddin Syiah, yaitu Tauhid, al-Adalah (keadilan Ilahi), Nubuwah, Imamah dan Ma’ad. Artikel ini juga tidak akan membahas lima subyek tersebut dikarenakan keterbatasan ruang dan menghindari pembahasan yang berat dan melelahkan. Yang ingin penulis garis-bawahi adalah, sebagaimana dalam aspek ini Sunni memiliki kaidah-kaidah teologis al-Asy’ariyah dan sejumlah pembaruan oleh kaum Wahabiyah (gerakan pembaruan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang merevitalisasi ide-ide Ibn’ Taimiyah dan bermula di Nejd pada abad 11-12 H), Syiah juga memiliki struktur ushuluddin yang komprehensif dan bersumber dari penjelasan para imam Ahlulbait yang mereka yakini berasal dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Dengan demikian Syiah dapat diartikan sebagai sekelompok umat Islam yang secara keagamaan, social, politik dan cultural mendasarkan pandangan-pandangan hidupnya, standar nilai afektif dan system perilaku dan perikehidupannya pada risalah kerasulan (Nubuwah) Nabi suci Muhammad SAW melalui jalur 12 imam Ahlulbait Nabi SAW. Berbeda dengan gagasan Ahlussunah yang menerima teks-teks keagamaan dari seluruh sahabat Rasulullah SAW, Syiah dalam topic yang sama hanya menerima dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW dan sejumlah kecil sahabat Nabi SAW yang mereka (kaum Syiah) yakini integrasi personal dan otoritasnya.

Penulis juga merasa perlu mengemukakan terminology Ahlulbait. Sunni dan Syiah berbeda pandangan tentang siapa yang dimaksud Ahlulbait. Perbedaan ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat konsepsi ini disebut-sebut Al-Quran suci dan hadis-hadis mulia Rasulullah SAW. Sebagian ulama Sunni berpendapat Ahlulbait adalah isteri-isteri Nabi SAW, sementara sebagian lainnya mengatakan istilah ini menunjuk pada keluarga besar Nabi SAW termasuk isteri, anak, cucu, keponakan dan artikulasi kekerabatan lainnya. Penulis sendiri menggunakan terminology Ahlulbait berdasar definisi kaum Syiah untuk menghindari polemik dan kontroversi peristilahan berdasar sejumlah factor: Pertama, dalam Syiah Imamiyah Itsna’ Asyariyah (Syiah 12 imam) terdapat konsistensi pemaknaan terhadap terminology Ahlulbait. Di mana dalam ilmu logika, bila kita dihadapkan pada kenyataan adanya satu realitas yang harus dipahami dalam sejumlah makna yang berbeda, yang mana ada yang konsisten dan inkonsisten, maka kita pilih makna yang konsisten berdasarkan prinsip-prinsip akal dan algoritma berpikir yang benar. Kedua, penggunaan yang umum dan dominant tentang terminology ini dalam mazhab Syiah. Sebaliknya, meski kalangan Ahlussunah juga memberikan pengertian yang khusus tentang terminology Ahlulbait, namun penggunaannya tidaklah umum dan dominant sebagaimana ia digunakan berikut maknanya secara spesifik dalam tradisi Syiah. Ketiga, para peneliti agama dan kalangan akademik secara umum menerima penggunaan terminology Ahlulbait (berikut maknanya dalam Syiah) diartikulasikan dengan struktur dan konsepsi keagamaan kaum Syiah. Dengan 3 alasan inilah penulis menggunakan istilah Ahlulbait dalam pembahasan artikel dengan makna sebagaimana ia didefinisikan oleh Syiah.

Sebagian ulama yang terpengaruh oleh propaganda musuh-musuh Ahlulbait Nabi SAW dan juga para Nawasib (orang-orang yang membenci keluarga Nabi suci SAW berdasar berbagai motivasi ideologis, orientasi politik, visi sectarian dan ide-ide profanisme semata) menyebut kaum Syiah sebagai kaum Rafidhah. Dalam konteks ini, Rafidhah dimaknai sebagai kaum pembangkang atau kelompok pengingkar. Kaum Syiah disebut sebagai pembangkang atau pengingkar karena mereka menolak mengakui otoritas dan aspek legalitas para khalifah di luar Ahlulbait Nabi SAW. Syiah meyakini imamah (kepemimpinan) agama Islam setelah wafatnya Rasul Allah SAW adalah hak eksklusif dari 12 imam dari kalangan Ahlulbait Rasulullah SAW, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada al-Hujjah bin Hasan al-Askari, dan karenanya mereka secara teoritik dan praksis menolak legalitas seluruh khalifah selainnya. Tentu menjadi sesuatu yang logis jika kemudian mereka menolak mengikuti khilafah di luar Ahlulbait Nabi SAW dan merasa tidak terikat dalam keputusan hukum apapun yang berhubungan dengan kekhalifahan itu. Lantaran inilah sebagian orang menyebut kaum Syiah sebagai pembangkang atau pengingkar. Maksudnya, menurut orang-orang yang memusuhi Syiah (nawasib), mereka membangkang –kecuali pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib- terhadap para khalifah mulai dari Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah, Marwan bin Hakam, bani Marwaniyin dan Umayyah, sampai bani Abbasiyin.

Bagaimanakah sebenarnya substansi dan hakikat sesungguhnya topic permasalahan imamah ini, penulis berharap para pembaca untuk mengkajinya secara detail dan mendalam berdasar literature Sunni dan Syiah secara ilmiah dan obyektif, demi mendapatkan kesimpulan yang paling benar dan logis tentangnya. Komprehensivitas struktur dan konsep keagamaan kaum Syiah yang berporos pada Imamah Ahlulbait Nabi SAW berimplikasi secara logis pada keseluruhan aspek dan hipostasi keagamaan mereka, termasuk syariat dan fiqh. Lantaran fiqh merupakan derivasi dari akidah, maka tak syak lagi kaum Syiah mengambil metodologi yurisprudensi dan hukum-hukum praksis mereka dari nas-nas suci Al-Quran dan sunah-sunah Nabi SAW melalui jalur 12 Imam Ahlulbait Nabi SAW. Sebagian besar hadis-hadis Nubuwah (kenabian) Rasulullah yang suci SAW yang menjadi rujukan teks keagamaan (nas) tertulis dalam kompilasi hadis Syiah seperti al-Kafi, Bihar al-Anwar, Tuhaf al-Uqul, as-Wasail as-Syiah, dan seterusnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Dalam kontribusi histories sehubungan dengan kompilasi hadis-hadis dari jalur Ahlulbait Nabi SAW ini, peran sejarah yang yang dominant ditunjukkan Imam Syiah keenam, yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq, yang banyak mengajarkan nas-nas suci Al-Quran dan hadis Rasul Allah SAW pada para ulama dan pengikutnya (syiahnya). Tidak mengherankan bila fiqh kaum Syiah juga dikenal oleh masyarakat non-Syiah dengan sebutan Fiqh Jakfari, yang diambil dari nama Imam Syiah keenam yaitu Jakfar bin Muhammad al-Shadiq. Penggunaan sebutan ini tidaklah berarti bahwa hukum-hukum praktis (fiqh) Syiah bersumber dari Imam Jakfar al-Shadiq, namun artikulasi terminologis ini hanyalah lantaran pada zaman imamah Jakfar bin Muhammad al-Shadiq inilah Imam Syiah dapat leluasa mengajarkan agama pada umat Islam. Imam Jakfar al-Shadiq mendapat sedikit keleluasaan untuk mengajarkan agama karena pada saat itu dinasti Marwaniyin (penguasa terakhir dari bani Umayyah yang menguasai kekhalifahan) sedang disibukkan oleh pemberontakan dan separatisme, antara lain pemberontakan kelompok Zaidiyah, gerakan Yahya bin Zaid, Abdullah bin Muawiyah, sampai pemberontakan klan-klan Abbasiyah semacam Abu Muslim al-Khurasani. Karena fakta sejarah bahwa Imam Jakfar-lah yang banyak mengajarkan Islam pada masyarakat saat itu, maka masyarakat non-Syiah (di luar Syiah) juga mengenal mazhab Syiah sebagai mazhab Jakfari.

Imam-imam Syiah sebelum Beliau selalu mendapatkan tekanan opresif dari rezim penguasa, kalau tidak dipenjara dapat dipastikan mereka dikenai tahanan rumah. Penulis tidak akan membahas fakta-fakta politis-represif yang dialami para Imam Syiah karena pembahasan detail semacam itu berada di luar jangkauan artikel ini, silakan pembaca mempelajarinya dari kitab-kitab sejarah Sunni maupun Syiah. Kiranya sudah jelas penulis mengeksposisikan definisi Sunni dan Syiah berdasar etimologi, afiliasi keagamaan, dan orientasi social-politiknya. Para pembaca yang berminat dapat meneruskan kajiannya secara detail dan mendalam terhadap berbagai kitab, manuskrip dan literature kedua mazhab tersebut.

III. Sejarah Lahirnya Sunni dan Syiah

Tentu merupakan kepelikan tersendiri memerikan fase-fase sejarah lahirnya mazhab Sunni dan Syiah, dan proses sublimasinya -hingga mencapai bentuknya sekarang- agar memberikan pola pemahaman yang menyeluruh tentangnya dalam keterbatasan ruang artikel ini. Namun penulis mencoba mengkaji ulang subyek ini dengan metode pendekatan politik dan fiqih (termasuk dalam tema ini adalah prinsip-prinsip jurisprudensi fiqih).

Penggunaan metode ini oleh penulis tidak berarti penulis menganggap epistemology kesejarahan Sunni – Syiah berada di luar konteks pendekatan keagamaan, namun ini semata-mata demi menjaga agar artikel ini tetap sederhana dengan topic-topik praktis karena pembahasan topic substansi perbedaan Sunni – Syiah dalam perspektif filosofi keagamaan membutuhkan pengkajian yang lebih detail dan perlu buku tersendiri sebagai ruang penulisannya.

Secara politis, embrio mazhab Sunni sudah terbentuk sejak wafatnya Rasul Allah yang suci SAW pada tahun 11 H (Sunni berbeda pendapat dengan Syiah soal tanggal wafatnya Rasulullah SAW, Sunni berpendapat tanggal 12 Rabiulawal sama dengan kelahiran Beliau SAW, Syiah menetapkan 28 Shofar berdasarkan riwayat-riwayat Ahlulbait). Segera setelah wafatnya Utusan Tuhan termulia SAW, Abu Bakar bin Abu Quhafah, Umar bin al-Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah dan sekelompok suku Khazraj yang diorganisir Hubab bin Mundzhir dan Basyir bin Saad, serta aristocrat suku Aus yaitu Usaid bin Hudhair, bertemu di Saqifah (semacam balairung) bani Saidah untuk membahas suksesi kepemimpinan setelah Rasulullah SAW. Setelah perdebatan antara mereka, alhasil mereka bersepakat membaiat Abu Bakar sebagai pemegang otoritas kekhalifahan. Berita ini segera menyebar cepat dan mendapat dukungan politis dari bani Umayyah yang dinyatakan secara terbuka oleh para tokohnya seperti Ustman ibn’ Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Marwan bin Hakam, dan juga para sahabat dari suku-suku Arab yang tidak dominant seperti Saad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf (keduanya dari bani Zuhra), Amr bin al-Ash, Khalid bin al-Walid, dan seterusnya (untuk mengetahui detail-detail fakta di atas silakan pembaca menelitinya dalam kitab-kitab tarikh mazhab Ahlussunah antara lain Kitab at-tarikh Muhammad bin Jarir at-Thabari jilid 3, kitab al-Kamil fi at-Tarikh Syekh Ibn’ Atsir jilid 2, Tarikh al-Ya’qubi jilid 2, Tarikh al-Arab wal-Islam dan semacamnya).

Pada sisi yang lain, sejumlah sahabat berpandangan pembaiatan Abu Bakar itu tidaklah memiliki keabsahan keagamaan dan tidak mewakili otoritas politik apapun. Mereka berpandangan demikian karena mereka memiliki visi keagamaan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah sang imam yang otoritatif berdasar nas-nas dan hadis-hadis penunjukkan oleh Rasul Allah SAW terhadap Ali bin Abi Thalib yang mereka yakini bersumber dari Rasul Allah SAW sendiri. Sejumlah sahabat yang memiliki pandangan semacam ini menurut literature sejarah Sunni dan Syiah –selain tentu saja kalangan Ahlulbait sendiri- antara lain Abudzar al-Ghifari (Jundab bin Junadah), Salman al-Farisi, Ammar bin Yassir, Abbas bin Abdul Mutthalib, Abdullah bin Abbas, Ummul-Mukminin Ummu Salamah, Ubay bin Kaab, Bara’ bin Azhib, Miqdad bin al-Aswad, Uways al-Qarani, Khuzaimah, Jabir bin Abdillah al-Anshori, Abu Musa al-Anshori, Saad bin Ubadah, Malik al-Asytar, Hujr bin Adiy, dan seterusnya (beberapa manuskrip sejarah juga mengindikasikan nama Abu Hudzaifah, Abu Said al-Khudri, dll). Untuk mengetahui nama-nama sahabat yang merupakan “Syiah generasi awal”, silakan pembaca mempelajari kitab sejarah dari kalangan Ahlussunah seperti kitab Tarikh Imam Bukhari, Tarikh Muhammad bin Jarir at-Thabari, Tarikh Ibn’ Hisyam atau Tarikh Syekh Ibn’ Qutoibah.

Kelompok sahabat yang membaiat Abu Bakar berpendapat bahwa karakteristik kenabian hanyalah berhubungan dengan aspek ubudiyah (ritus-ritus ibadah yang bersifat eskatologis saja seperti salat, puasa, haji, dll) semata, sementara dalam dalam muamalah dan segala ketetapan hukum yang bersifat social dan profanistik, umat Islam dapat berijtihad menentukan produk hukum berdasar prinsip musyawarah (syura) sebagaimana secara prinsipil telah digariskan dalam Al-Quran. Dalam paradigma inilah personifikasi kenabian dalam diri Rasulullah SAW harus dipahami dalam dua karakteristik, personal ataukah suprapersonal. Dalam visi keagamaan mazhab Ahlussunah, ketika Rasulullah SAW mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan ritus-ritus ibadah, maka itu merupakan dimensi wahyu Ilahi yang harus ditaati (karakteristik suprapersonal). Namun bila kata-kata Rasulullah SAW itu berhubungan dengan aspek-aspek politik dan public-kemasyarakatan, maka itu merupakan opini pribadi Beliau SAW yang tidak lain adalah ijtihad Beliau SAW dan bersifat tidak mengikat, alih-alih dapat diijtihadi mengingat dalam kredo dan doktrin formal mazhab Ahlussunah –Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang bisa saja khilaf dan salah dalam menentukan perspektif suatu persoalan public.

Banyak contoh dalam riwayat-riwayat mazhab Ahlussunah yang menyebutkan bahwa dalam sejumlah peristiwa Rasul SAW salah menentukan kebijakan dan dikoreksi para sahabat seperti Umar bin al-Khattab, Abu Bakar, Hubab bin Mundzhir dan lainnya (salah satu contoh penting adalah “peristiwa hari kamis” dalam kitab as-Shahih al-Bukhari saat Rasul SAW meminta pena dan kertas untuk menuliskan wasiat menjelang wafatnya Beliau SAW dan Umar segera memperingatkan Nabi suci SAW untuk tidak menulis wasiat, atau ketika Rasul SAW salah menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang ke Mu’tah dan dikoreksi sejumlah sahabat senior, dan masih banyak kasus lainnya, silakan anda mengkajinya dalam kitab-kitab hadis dan tarikh mazhab Ahlussunah). Selain itu argument kedua dari kelompok sahabat yang membaiat Abu Bakar adalah tidak mungkin Rasulullah SAW meninggalkan wasiat penunjukkan seseorang sebagai Washy (penerima wasiat kepemimpinan) Beliau SAW dikarenakan karakteristik agama Islam yang demokratis. Islam adalah agama yang secara prinsipil hanya menentukan dimensi-dimensi spiritualisme dan berbagai artilukasinya, sementara hipostasi-hipostasi profanistik kehidupan umatnya diserahkan kepada mereka sendiri konsepsi dan metodologinya. Dengan demikian tidaklah relevan bila ada sejumlah orang yang berpandangan bahwa Rasulullah SAW menetapkan washy sebelum Beliau SAW wafat. Berkaitan dengan realitas kelompok sahabat yang meyakini wilayah (otoritas) imamah Ali bin Abi Thalib sebagai washy Rasulullah SAW, kelompok sahabat yang mengikuti kekhalifahan Abu Bakar berpendapat adalah merupakan suatu kemustahilan bahwa kenabian dan keimamahan berkumpul dalam satu keluarga, yaitu bani Hasyim (karena Rasul Allah SAW dan Ali bin Abi Thalib adalah berasal dari satu keluarga bani Hasyim). Dalam kategori ini, dokumentasi histories yang relevan tertulis dalam kitab sejarah mazhab Ahlussunah al-Idhah hal 87 dan kitab Natsr ad-Durr jilid 2 hal 28 mentranskrip kata-kata Umar bin Khattab ketika menjawab Ali bin Abi Thalib berkenaan dengan khilafah, Umar berkata: “Orang Arab tak mau kalau kenabian dan kekhilafahan ada di satu keluarga. Kenabian merupakan bagian dari kalian, karena itu biarlah kekhalifahan menjadi bagian dari keluarga lain.” (silakan meneliti lebih detail teks dialog Umar bin al-Khattab dengan Ali bin Abi Thalib tentang kekhalifahan dalam kitab-kitab Ahlussunah antara lain al-Idhah, hal 87, Natsr ad-Durr, jilid 2, hal 28, Ansab al-Asyraf, jilid 1, hal 582, kitab ar-Ridhah, hal 39).

 
Kelompok sahabat yang mengikuti wilayah (otoritas) imamah Ali bin Abi Thalib mendasarkan pilihan obyektif mereka berdasarkan nas-nas dan hadis-hadis Rasulullah SAW yang mereka yakini berkenaan dengan imamah dan wilayah Ali bin Abi Thalib. Salah satu nas masyhur dalam topic ini adalah hadis al-Ghadir. Dalam kitab-kitab hadis dan tarikh Sunni (antara lain as-Shahih Bukhari dan Muslim) dan Syiah disebutkan bahwa saat Rasulullah SAW dan umat Islam pulang dari pelaksanaan haji wada’ tahun 11 H, Rasulullah SAW dan rombongan umat Islam berhenti di sebuah tempat antara Makkah dan Madinah bernama Ghadir Khum. Di tempat inilah dari atas mimbar Beliau SAW di depan 120.000 orang (sebagian riwayat menyebut 80.000, perbedaan angka ini tidak signifikan, fakta yang diverifikasi di sini adalah umat Islam yang hadir di Ghadir Khum mencapai angka puluhan ribu) menyampaikan pidato panjang Beliau SAW yang substansial dan mengharukan. Saat itulah Rasulullah SAW menunjuk dan melantik Ali bin Abi Thalib sebagai washy dan imam sepeninggal Beliau SAW, juga memerintahkan umat Islam untuk berpegang pada Ahlulbait Beliau SAW.

Salah satu teks riwayat di atas yang tertulis di kitab as-Shahih Muslim jilid 2 halaman 362 berbunyi sebagai berikut: Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menjadikan aku maulanya (pemimpinnya), maka Ali adalah maulanya (pemimpinnya). Ya Allah, bantulah mereka yang mentaatinya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.” Hadis dengan redaksi tekstual ini tertulis di kitab-kitab Ahlussunah as-Shahih Muslim jilid 2 halaman 362, kitab al-Musnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) jilid 4 halaman 281 dan Kitab al-Mustadrak al-Hakim jilid 3 halaman 109.

Nas penunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai imam dan washy oleh Rasulullah SAW sebagaimana riwayat di atas menurut para peneliti hadis dan sejarawan dinilai otentik dan mutawatir karena bersumber dari –setidaknya- 20 sahabat termasyhur sendiri seperti Abu Bakar, Umar, Abdullah bin Mas’ud, Ibn’ Abbas, Abudzar ibn’ Junadah al-Ghifari, dan lain-lain. Kitab-kitab mu’tabar mazhab Sunni (Ahlussunah) yang mengkompilasi riwayat ini antara lain:

1. Shahih Muslim jilid 2 hal 362 dan jilid 5 hal 122.
2. Shahih at-Turmudzi jilid 5 hal 328.
3. Kitab al-Musnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) jilid 3 hal 17, jilid 4 hal 281, jilid 5,hal 125 dan jilid 6 hal 33
4. Kitab at-Tarikh Imam Jalaluddin as-Suyuthi hal 73.
5. Kitab al-Mustadrak al-Hakim jilid 3 hal 109, hal 121, hal 148.
6. Kitab al-Khasais Imam an-Nasai hal 24.
7. Kitab al-Manaqib Imam al-Khawarizmi hal 81.
8. Kitab Riyadh an-Nadhirah Syekh Muhammad bin Jarir at-Thabari jilid 2 hal 219.
10. Dan kitab-kitab lain seperti Tarikh al-Bukhari, Kanzul-Ummal, al-Muwattha’ Imam Malik bin Anas (Imam Maliki) dan seterusnya.

Pembaca yang ingin meneliti dan mengkaji teks-teks pelantikan dalam topic di atas silakan membaca kitab-kitab mazhab Ahlussunah tersebut.
Para sahabat yang mendukung kekhalifahan Abu Bakar dan menolak imamah Ali bin Abi Thalib berpendapat kata maula dalam teks pidato Rasulullah SAW di Ghadir Khum tidak bermakna pemimpin, imam atau khalifah, namun sahabat. Alhasil dalam kesimpulan para sahabat dari kubu ini, pidato Rasulullah SAW itu bukan pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai imam dan washy sepeninggal Rasulullah SAW, namun sekedar deklarasi persahabatan Rasulullah SAW dengan Ali bin Abi Thalib. Rasulullah SAW ingin menunjukkan intensitas dan level persahabatan Beliau SAW dengan Ali bin Abi Thalib. Sebagian sahabat lainnya berpendapat bahwa pidato ini bertujuan menunjukkan kepada puluhan ribu umat Islam yang hadir di Ghadir Khum bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah SAW, sementara sebagian lainnya berpendapat pidato itu tidak lebih dari pendeklarasian Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat (maula) bagi setiap kaum mukmin.

Hampir keseluruhan sejarawan, muhaddis dan ulama masyhur mazhab Sunni mengakui otentisitas riwayat al-Ghadir. Sebagian kecil saja yang meragukannya, namun tetap saja mereka tidak berani menolaknya. Bahkan Syekh Ibn’ Taimiyah yang terkenal selalu menolak hadis-hadis keutamaan Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, al-Hasan dan al-Husain (4 orang yang diyakini kaum Syiah sebagai Ahlulbait Nabi SAW dan yang menurunkan 9 imam itrah Nabi SAW dalam konsepsi akidah dan keyakinan kaum Syiah), dalam kitabnya Minhaj al-Sunnah hanya berani mendhaifkannya. Syekh al-Amini menulis kitab al-Ghadir sebanyak 11 jilid (cetakan baru 20 jilid) kitab tebal hanya untuk membuktikan otentisitas (keshahihan) hadis al-Ghadir sekaligus menjawab skeptisisme dalam kitab-kitab Syekh Ibn’ Taimiyah. Dalam menulis kitab al-Ghadir, Syekh Amini melakukan penelitian dan riset literature terhadap 24 kitab sejarah, 27 kitab riwayat, 14 kitab tafsir dan 7 manuskrip ulama besar mazhab Ahlussunah di Mesir, Afrika Utara, Pakistan, India, Hijaz, hingga Irak. Untuk menunjukkan otentisitas hadis-hadis al-Ghadir dan sejenisnya, Syekh al-Mar’asyi al-Tustari juga menulis kitab Ihqaq al-Haqq sebanyak 19 jilid kitab tebal, yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica.

Para sahabat pengikut (syiah) Ali bin Abi Thalib juga berpegang pada hadis Manzilah, La yazallu, Safinah, Madinatul-ilmi, Indzar, historiografi (asbab an-nuzul) ayat Tathir, Mubahalah, Surah al-Insan dan seterusnya yang tidak mungkin penulis sebutkan semuanya di sini. Hadis tentang 12 imam adalah teks popular dalam subyek ini. Dalam kitab-kitab hadis mazhab Ahlussunah tertulis riwayat-riwayat tentang 12 imam yang bersumber dari Jabir bin Samurah dan juga Abdullah bin Mas’ud. Salah satu teks riwayat itu sebagai berikut:

Jabir berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada dua belas pemimpin dan khalifah.” Kemudian Beliau mengatakan sesuatu yang tidak dapat kudengar. Aku bertanya pada ayahku dan ayahku menjawab: Rasulullah SAW bersabda, “Semuanya dari Quraisy.”

Teks riwayat tentang 12 imam adalah salah satu topic dalam agama Islam yang sangat popular dan orang tidak sedikitpun mendapatkan dalih yang logis untuk meragukannya. Syekh Ibn’ Taimiyah yang terkenal suka menolak riwayat-riwayat keutamaan personal yang dinisbahkan pada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra dan keturunannya, juga mengakui otentisitas hadis ini, meski berusaha memberikan penafsiran lain dari interpretasi ulama-ulama Ahlussunah lainnya. Syekh Ibn’ Katsir, salah seorang murid Ibn’ Taimiyah, dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah berkata: “Di dalam kitab Taurat, terdapat suatu tema yang menunjukkan bahwa Allah yang Maha Besar memberikan kabar baik kepada Ibrahim mengenai kelahiran Ismail dan bahwa Allah akan membangkitkan Ismail dan menambah anak-anaknya dan memilih dua belas orang dari keturunannya dan meninggikan derajatnya.” Kemudian Ibn’ Katsir menambahkan: “Guru kami Allamah Ibn’ Taimiyah berkata, “Keduabelas orang ini adalah sama dengan yang terdapat dalam hadis Jabir ibn’ Samarah ketika Ia memberikan kabar baik tentangnya…”. (kitab Bidayah wa an-Nihayah, Syekh Ibn’ Katsir). Yang lebih menakjubkan adalah (menurut data yang ada di penulis) hadis Nabi suci SAW tentang topic 12 imam telah ditranskrip melalui 270 (baca dua ratus tujuh puluh) jalur periwayatan (sanad) dalam mazhab Sunni dan Syiah, termasuk kitab-kitab besar dan mu’tabar mazhab Ahlussunah seperti as-Shahih Bukhari, as-Shahih Muslim, as-Shahih Turmudzi, as-Sunan Abu Dawud, al-Musnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), al-Mustadrak al-Hakim, dan semacamnya. Untuk mengetahui lebih detail teks hadis tentang 12 imam washy (penerus) Rasulullah SAW dan bahkan nama-nama mereka, silakan pembaca membaca dan menelitinya sendiri melalui kitab-kitab mazhab Ahlussunah antara lain:

as-Shahih al-Bukhari jilid 4 hal 168 (cetakan Mesir tahun 1351 H).

as-Shahih Muslim jilid 6 hal 3 (cetakan Mesir tahun 1334 H) dan bab kitab al-Imarah hadis nomor 3393, 3395, 3396 dan 3397.

Sunan at-Turmudzi, jilid 2 hal 45 dan kitab al-Fitan, hadis nomor 2149.

Sunan Abu Dawud, kitab al-Mahdi, hadis nomor 3731 dan 3732.
al-Musnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), jilid 1 hal 398, bab Musnad al-Basyiriyin hadis nomor 19875, 19901, 19920, 19963, 20017, 20019, 20032 dan 20125, dan jilid 5 hal 106.
as-Shahih Muslim, jilid 6 hal 3 dan hal 4 (dalam syarh Syekh al-Nawawi).
as-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn’ Hajar al-Asqalani, hal 11.

as-Shahih Abu Dawud jilid 2 hal 309 dan jilid 2 hal 207 (cetakan Matba’at-Taziyah, Mesir, bab kitab al-Manaqib).

al-Mustadrak ala ash-Shahihayn, jilid 3 hal 618.

al-Musnad al-Mutakhirin min as-Shahabah, hadis nomor 3665 dan 3593, dan edisi kedua Dar al-Ma’rifah, jilid 13 hal 182.

al-Mu’jam al-Kabir, Syekh at-Thabarani, jilid 2 hal 196 dan hal 256.
Yanabi’ al-Mawaddah, jilid 2 hal 315.

Berdasar nas-nas dan hadis-hadis tentang imamah dan keutamaan Ahlulbait Nabi SAW yang tidak terhitung banyaknya dan tersebar di seluruh kitab-kitab hadis Sunni dan Syiah itulah, sejumlah sahabat tetap bersikeras mengikuti otoritas (wilayah) Ali bin Abi Thalib dalam khilafah (imamah) agama, social, politik dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Untuk mengetahui nama-nama sahabat besar yang mengikuti imamah Ali bin Abi Thalib ini, silakan pembaca menelitinya dari kitab-kitab sejarah mazhab Sunni seperti Ma’alim al-Madrisatayn jilid 2 hal 163-166 dan Talkhish as-Syafii hal 76 dan 156.

Sintesa dari dialektis keagamaan, social dan politik ini mendistribusi para sahabat menjadi dua kelompok besar. Syekh Murtadha al-Askary menyebut dua mazhab awal ini sebagai Madrasah Ahlulbait yaitu Ahlulbait dan para pengikutnya, dan yang kedua Madrasah al-Khulafa’. Kelompok pertama terdiri dari Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra dan kedua putranya, dan para pengikutnya seperti Abudzar, Miqdad, Salman, Ammar, Ubay bin Kaab, Bara’ bin Azhib, Ummu Salamah, Abu Rafi’, Ibn Abbas, Hudzaifah, dan seterusnya. Kelompok kedua terdiri dari Abu Bakar, Umar, Ustman, Aisyah, Saad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Ibn’ Umar, Khalid bin Walid, Abu Hurairah, Muawiyah, Marwan bin Hakam, dan seterusnya. Kedua madrasah (kelompok) ini berbeda dalam menafsirkan Al-Quran suci, memandang sunah Rasulullah SAW, memandang maksum atau tidak maksumnya Nabi SAW, penafsiran hadis Nabi SAW, mana sunah yang harus diikuti dan mana yang tidak, hingga melakukan istinbath hukum. Kelak dalam kurun kekuasaan dinasti Umayyah, dalam subyek prinsip-prinsip yurisprudensi dan metodologi ushul-fiqh, Madrasah al-Khulafa bercabang lagi dalam dua mainstream besar, Madrasah al-Hadists dan Madrasah al-Ra’yu. Yang pertama berpusat di Madinah, mendasarkan fiqihnya pada Al-Quran, sunah, ijtihad para sahabat dan sedapat mungkin menghindari ra’yu (akal) dalam menetapkan hukum. Yang kedua berpusat di Irak, sedikit menggunakan hadis dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illah) dan tujuan syara’ (maqashidul-syar’iyyah).

Sementara itu Madrasah Ahlulbait tumbuh “di bawah tanah” mengikuti para imam mereka. Karena intimidasi, represivitas dan penindasan opresif, mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara struktur keagamaan dan system fiqih mereka. Ulama besar Ahlussunah, Syekh Ibn’ Quthoibah, dalam kitabnya al-Ikhtilaf menulis bagaimana raja-raja bani Umayyah berusaha menghapuskan tradisi Ahlulbait dengan meneruskan program Muawiyah bin Abu Sufyan untuk mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar masjid dan mimbar-mimbar mereka selama 80 tahun –dari keseluruhan 90 tahun 11 bulan- kekuasaan dinasti Umayyah (tradisi ini sempat berhenti sebentar pada masa Umar bin Abdul Azis yang dikenal bijak dan apresiatif terhadap Ahlulbait, tapi diterapkan kembali oleh Yazid bin Abdul Malik setelah Ia naik tahta menggantikan Umar bin Abdul Azis), membunuh para pengikut (syiah) setianya –seperti kasus pembunuhan terhadap Saad bin Ubadah, Maytsam at-Thaymar, Hujr bin Adiy, dan lainnya, dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan tradisi-tradisi hukum Islam yang dilaksanakan Ahlulbait dan pengikutnya.

Tidak jarang sunah Rasulullah SAW yang sahih ditinggalkan karena sunah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut Ahlulbait. Dalam memperjelas fakta ini, Syekh Ibn’ Taimiyah menulis perihal tasyabbuh dengan Syiah: “Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunah) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syiah. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib, menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka, sehingga Sunni tidak berbeda dengan Syiah. Kemaslahatan karena berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka adalah lebih besar daripada kemaslahatan mengamalkan yang mustahabb itu.” Untuk mendapat gambaran yang lebih detail tentang topic ini silakan pembaca mengkajinya dalam kitab mazhab Ahlussunah tentang pemikiran mazhab-mazhab al-Madkhal li at-Tasyri’ al-Islamy, Syekh Faruq Nabhan, cetakan II, tahun 1981.

Kembali pada realitas politis-keagamaan terdistribusinya para sahabat dalam dua kelompok besar paska kongres khilafah di Saqifah bani Saidah tahun 11 H, fakta polarisasi sahabat ini berlanjut sampai proses suksesi dari otoritas Abu Bakar ke otoritas Umar bin al-Khattab melalui mekanisme penunjukkan dari Abu Bakar sebagaimana dokumentasi sejarah menuliskannya dalam pokok bahasan wasiat Abu Bakar. Kemudian pada proses pemilihan Usman bin Affan melalui Dewan Syura yang terdiri dari Usman bin Affan, Saad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Dalam kitab sejarah mazhab Sunni, Tarikh Muhammad ibn’ Jarir at-Thabari ditulis saat Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Ali bin Abi Thalib:

Abdurrahman bin Auf: “Apakah anda mau bersumpah, dengan mengatakan bahwa jika anda memegang kekuasaan, maka anda akan mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan tradisi dua Syekh (yaitu Abu Bakar dan Umar) ?”

Ali bin Abi Thalib menjawab: “Aku hanya akan mengikuti Kitabullah dan sunah Rasul-Nya.”
Abdurrahman bin Auf lalu berpaling kepada Usman dan menanyakan hal yang sama. Usman menyanggupi prasyarat tersebut dan dibaiatlah Usman sebagai khalifah penerus berikutnya. (baca kitab-kitab sejarah Ahlussunah Tarikh at-Thabari, jilid 4 hal 233-238, Tarikh al-Ya’qubi, jilid 2 hal 162, kitab tarikh Ansab al-Asyraf, jilid 4 hal 508, kitab tarikh al-Mushannaf, jilid 5 hal 477).

Dalam filsafat dialektika, kita mengetahui bahwa seluruh proses dialektis berproses menuju sintesa dengan melibatkan secara kontinu semua kategori tesis dan antitesisnya. Pada proses dialektika sejarah Islam di atas, fakta-fakta ini menghasilkan tesis dan antitesis berupa polarisasi sahabat dan generasi selanjutnya berdasarkan motivasi ideologis keagamaan, orientasi politis, ekonomi, social dan cultural. Di satu sisi banyak sahabat mengikuti otoritas kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib -sebenarnya masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ini harus dikecualikan dari genre otoritas kekuasaan tiga khalifah sebelumnya dan juga para khalifah setelah Ali bin Abi Thalib dikarenakan pada masa inilah para sahabat yang setia mengikuti Ali bin Abi Thalib secara sukarela mau taat dan tunduk di hadapan otoritas kekhalifahan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah, keluarga Marwaniah, hingga bani Abbasiyin. Di sisi lain ada kelompok sahabat besar lainnya yang setia mengikuti imamah Ali bin Abi Thalib dan 11 imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW berdasarkan otoritas nas-nas yang mereka yakini ditetapkan Rasulullah SAW sendiri dan seluruh teks itu membicarakan subyek-subyek imamah (kepemimpinan).

Tentu merupakan sikap tidak logis mereduksi dan mengesampingkan fakta eksistensi kaum Syiah dalam perspektif histories yang sedemikian ideologis dalam kajian-kajian eksistensial Islam sebagai fenomena institusi keagamaan, spiritualisme, social, politik hingga pola-pola kultural. Nama-nama Syiah awal semacam Abudzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, Miqdad al-Aswad, Ammar bin Yassir, Abbas bin Abdul Mutthalib, Abdullah bin Abbas, Ummu Salamah, Maytsam at-Thaymar, Saad bin Ubadah dan seterusnya adalah existenz sejarah yang terlalu konyol dan irrasional rasanya sebuah gagasan untuk mengeliminir-nya dari fakta sejarah Islam, dan menggantikannya dengan adagium apologetic yang tidak banyak menghibur: “pertikaian para sahabat tentang kekhalifahan hanyalah persoalan ijtihad yang sama-sama benar dan fitnah itu akibat hasutan si munafik Yahudi Yaman Abdullah ibn’ Saba’.” Ini jenis epistemology Syiahisme versi sang volunteer Yahudi Sabaisme. Skriptualisme sejarah versi sang Yahudi Yaman ini sebagai berikut: Seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’ masuk Islam dengan sejumlah motivasi dan gagasan subversive untuk mengeksterminasi Islam secara internal. Sebagian ulama sejarawan Ahlussunah berbeda pendapat tentang masuk Islamnya Ibn’ Saba’. Sebagian berpendapat di masa kekhalifahan Abu Bakar, sebagian lainnya di masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab. Untuk membaca beragam versi ini, silakan membaca buku-buku sejarah Islam kontemporer versi Ahlussunah seperti kitab sejarah Sayyid Rasyid Ridha, Syekh Ahmad Amin, Syekh Dr. Taha Hussein dan sejenisnya. Setelah eksistensinya diterima kalangan Islam, mulailah Ibn’ Saba’ mendispersikan kredo-kredo keagamaan Yahudi dan menisbahkannya pada sosok-sosok terkemuka Islam seperti Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait Nabi SAW. Substansinya Ibn’ Saba’ ini mengajarkan pada umat Islam untuk setia kepada Ali bin Abi Thalib, Ahlulbait dan keturunannya, bahwa Ali bin Abi Thalib itu akan mengalami raj’ah (kebangkitan setelah kematian), bahwa teks-teks keagamaan tentang topic imamah Ali bin Abi Thalib adalah hasil reproduksi Saba’ dan para koleganya, dan ide-ide sejenis ini yang kini menjadi konsepsi akidah dan keagamaan kaum Syiah. Alhasil diskursus sang subversive ini berhasil membentuk paradigma berpikir para sahabat besar yang secara simultan menghasilkan konflik terbuka antara pendukung kekhalifahan dan pendukung Ali bin Abi Thalib. Titik kulminasi konflik terbuka ini adalah terbunuhnya khalifah ketiga Usman bin Affan hingga provokasi perang Jamal dan Shiffin. Masih menurut versi ini, Dr. Hidayat Nurwahid, ulama besar Islam Indonesia, mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ ini dibuang oleh Ali bin Abi Thalib ke Madain, ibukota kerajaan Persia, di masa kekhalifahannya. Dalam artikelnya yang berjudul Kelompok-kelompok yang Parsial dalam Memahami Aqidah yang Mengandalkan Perasaan, Dr. Hidayat Nurwahid menulis: “Kelompok syi’ah mati-matian mem-fiktif-kan Ibnu Saba’ ini dan menyatakan hadits tentang Abdullah bin Saba’ ini hanya melalui jalur Abu Mihnah saja, padahal juga terdapat dalam al-Musnad oleh Imam Ahmad, Ta’zhim wa Tahdzib oleh Ibnu Hajar, dll. Ibnu Saba’ ini lalu dibuang oleh Ali ra ke Madain karena kesesatan ajarannya.”

Bagaimanakah sebenarnya kontroversi tentang eksis atau tidaknya sang legendaries Abdullah bin Saba’ yang sedemikian jeniusnya sampai mampu mengindoktrinasikan beberapa gagasan illegal ke struktur alam pra-sadar para sahabat besar (Abudzar, Salman, Ammar, Miqdad, Ibn’ Abbas dan seterusnya) hingga mereka mau saja diagitasi untuk menolak otoritas kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman, dan yang lebih dramatis pada zaman Ali bin Thalib mereka mau diprovokasi mengagendakan dua perang besar –Jamal (kubu Aisyah-Thalhah-Zubair melawan kubu Ali bin Abi Thalib) dan Shiffin (kubu Muawiyah melawan kubu Ali bin Abi Thalib), jika ada: benarkah sang jenius Yahudi ini merupakan bapak Ideologi Syiahisme, bagaimana peran historisnya yang spektakuler itu dapat mendistorsi jalan sejarah Islam, dan pertanyaan-pertanyaan lain, untuk mendapatkan jawaban yang ilmiah dan kesimpulan logis dari pertanyaan di atas, silakan pembaca meneliti, mengkaji dan menganalisanya sendiri secara detail dan mendalam dalam ratusan kitab hadis, riwayat, sejarah dan historiografi mazhab dari kalangan mazhab Ahlussunah. Yang harus dicermati adalah obyektivitas kita dalam meneliti sejarah. Bagaimanapun sejarah bukanlah sesuatu yang diproduksi dari ruang vakum, terlepas dari determinisme peran manusia dan kondisi sosiologis-kulturalnya, namun ia memiliki artikulasi logis dengan manusia dan berbagai latar belakang sosiobudayanya karena masyarakat manusialah yang mendominasi arah sejarah dan mendeterminasinya sesuai kehendak dan worldviewnya. Pengabaian aspek-aspek ini sama saja artinya kita menolak pemahaman aksiomatik bahwa masyarakat bukanlah fenomena material semata, namun juga merupakan fenomena spiritual.

Penulis memiliki pandangan bahwa kajian terhadap realitas histories munculnya mazhab Syiah dan Sunni melalui topic-topik praktis tentang imamah (konsepsi dan fakta sejarahnya), sejarah ushul-fiqh dan –lalu- struktur dan system fiqih, akan membantu kita menentukan perspektif untuk mengembangkan lebih jauh kajian terhadap fenomena Syiah dan Sunni. Selamat berpikir dan mengkaji!

Comments on: "SYI’AH IMAMIYAH" (74)

  1. melkisedek said:

    ngaco abiz artikel ente man.

    Abdullah bin masud tokoh fiktif, nama daerah asal tempat tinggal dia pun fiktif.

    Imam Ali jika sudah meninggal ya meninggal, ga akan hidup lagi. Ente dapat teori dari mana jika beliau bangkit kembali?

    Banyak yang ente ngga tahu soal syiah imamiyah.

    Keluarga Nabi di bunuh saja, kalian cuek-cuek saja. Giliran Abu Bakar ra dituduh pengkhianat ngamuk-ngamuk.

    Benar-benar paradoks cara berpikir kalian.

  2. melkisedek said:

    Abdurrahman bin Auf: “Apakah anda mau bersumpah, dengan mengatakan bahwa jika anda memegang kekuasaan, maka anda akan mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan tradisi dua Syekh (yaitu Abu Bakar dan Umar) ?”

    Ali bin Abi Thalib menjawab: “Aku hanya akan mengikuti Kitabullah dan sunah Rasul-Nya.”

    terkait dgn masalah sunah nabi yang dicantumkan hadits tersebut. Sunah nabi yang mana? yang versi ahlulsunah atau versi nabi? Ingat cuy, Allah cuma menjamin Alquran saja yang tak dapat diubah, sedang hadits dan sunah dapat dipalsukan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

  3. Syi’ah adalah Pembela Islam sejati

  4. Di Ghadir Khum, Rasulullah saw bersabda:
    من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه
    “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.” Dalam Redaksi yang disebutkan:
    من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه
    “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan tolonglah orang yang menolongnya.”
    Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:
    “Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.”
    Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya bersabda:
    من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه
    “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ini (Ali) adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.” Dalam redaksi yang lain disebutkan:
    من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه
    “Barangsiapa yang menjadikan aku mawlanya, maka ini Ali adalah mawlanya.”
    Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa orang yang pertama kali mengucapkan “Ucapan selamat” kepada Ali bin Abi Thalib (sa) di Ghadir Khum adalah Umar bin Khaththab, dengan mengatakan:
    بخ بخ لك يابن ابي طالب قد اصبحت مولاي و مولا كل مؤمن و مؤمنة
    Selamat, selamat atasmu wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua mukmin dan mukminah.
    Hadis Al-Ghadis dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:
    1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
    2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
    3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
    4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
    5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
    6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.

  5. “Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

  6. Sulayman Abdul'aziz said:

    Assalam’alaikum. We are Nigerians in which called “A’imma forum Muslim Society” focus is awareness of people about Love for AH-AHLIL-BAYT. That is why we needs the assists you can send via this, Bank PHB Accout no 2620588361 Accout name: Sulaiman A. Adam

  7. ali zainal abidin said:

    ajiib….

    cuma ana mau tanya ucapan Habib Umar Hafiz koq gak pengaruh apa2 ya? malah tambah gencar aja hujatan thdp Syiah…bahkan haram menikah, bertamu, takziah dll kepada org syiah…gmana tuh? sepertinya percuma aja ucapan Beliau

  8. Syiah dari awal mulanya telah berbahaya bagi Islam..maka mereka berupaya untuk ‘taqiyah’ (menyembunyikan topengnya) dihapan kaum muslimin, tetapi Allah sebaik-baik pembuat makar. Istilah ‘Taqrib’ (menyatukan syiah-sunny) sering mereka dengungkan, padahal mereka amat dengki kepada pengikut ahlussunnah. Wallahu A’lam. Cubalah bedah sejarah kelam syi’ah terhadap Islam dan kaum muslimin??? Semoga Allah memberikan jalan yang benar kepada kita semua..Amin

  9. @satuislam: kapan syiah membela islam dengan sejatinya?? satu ‘sejarah’ yang tidak pernah ditemukan oleh umat islam.

  10. Sejarah membuktikan Islam Syi’ah selalu menjaga dan membela Islam….hizbullah menang perang dengan Israel sementara wahabi terus memfitnah dan memprovokasi ummat dengan sejuta kebohongan

  11. yang berbahaya itu adalah musuh2 Islam yang menginginkan Islam lemah ..Islam Syi’ah telah membuktikan di panggung sejarah tentang pengorbanan, harga diri, kejayaan Islam

  12. Tokoh fiktif Abdullah bin Saba sengaja dimunculkan untuk menutupi kebobrokan khalifah Usman bin Affan.

    Kalau tokoh ini wujud, spt apa sih ajaran2-nya ? Kalau benar dia Yahudi, kenapa Iran dan Hizbullah justru menjadi musuh Israel / Zionis yg paling utama ?

  13. agus salim said:

    @ wahyudi : astagfirullah….kenapa anda bisa sangat tepat mengemukakan fakta terkini.

    dan fakta terkininya juga Justru Mesir dan Arab Saudi yg menjadi backing Zionis Nomor Wahid di timur tengah termasuk Jordania….wah…wah…wah…Abdullah Bin Saba’ Mungkin berasal dari Hong Kong ya…?

  14. yudo hermawan said:

    abdullah bin saba tokoh fiktif.??? cara ngelesnya orang syiah, hisbullah menang perang lawan yahudi..???? mimpi kalee.. yg ada hisbullah pengkhianat..!! diam diam membantu yahudi menghancurkan HAMAS, mana janji irang mau ngirim kapal perang.. omong kosong..!!! katanya punya nuklir..?? nuklir kosong kaleee…. di belakang layar khomeini peluk pelukan sama orang yahudi..!!

  15. Syi’ah Benci pada Istri Nabi

    Bara api kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah tertanam kuat di dada kaum Syi’ah Rafidhah. Bara api tersebut terus menerus menyala sehingga satu demi satu orang-orang terdekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bahan gunjingan dan cercaan mereka.

    Setelah Ahlul Bait beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kini mereka mengarahkan cercaan yang tidak kalah kejinya kepada para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan dusta kepada orang-orang yang telah mengorbankan waktu dan raganya untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setia menemani dan menghibur beliau ketika ditimpa berbagai musibah di dalam mengemban amanah dakwah.

    Kedudukan Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    Alangkah mulianya kedudukan mereka tatkala Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang mengangkat derajat mereka di atas wanita lainnya. Allah jalla jalaaluhu berfirman :

     • •    

    “Wahai istri Nabi, (kedudukan) kalian bukanlah seperti wanita-wanita yang lainnya.” (Al Ahzab: 32)

    Allah ‘Azza wa Jalla telah meridhai mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang termulia, sampai-sampai melarang beliau untuk menceraikan mereka. Allah berfirman :

                        

    “Tidak halal bagimu wahai Nabi, untuk mengawini wanita-wanita lain sesudahnya, dan tidak halal (pula) bagimu untuk mengganti mereka dengan wanita-wanita lain walaupun kecantikan mereka memikat hatimu.” (Al Ahzab: 52)

    Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu-ibu kaum mukminin yang tentu saja wajib untuk dimuliakan dan dihormati. Oleh karena itu para istri beliau mendapat gelar Ummahatul Mu`minin.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
    “Nabi itu lebih berhak untuk dicintai kaum mukminin daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin).”
    (Al Ahzab: 6)

    Nama Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    Telah tertulis di dalam buku-buku sejarah Islam nama-nama istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendampingi perjuangan beliau. Mereka itu adalah:

    Khadijah binti Khuwailid
    2. Saudah binti Zam’ah
    3. Aisyah binti Abi Bakr Ash Shiddiq
    4. Hafshah binti Umar Al Khaththab
    5. Ummu Habibah yang bernama Ramlah binti Abi Sufyan
    6. Ummu Salamah yang bernama Hindun binti Abi Umayyah
    7. Zainab binti Jahsyin
    8. Zainab binti Khuzaimah
    9. Juwairiyah binti Al Harits
    10. Shafiyah binti Huyai
    11. Maimunah binti Al Harits

    Masing-masing mereka ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki lainnya, hanya saja yang paling utama di antara mereka adalah Khadijah dan Aisyah.

    Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah
    Tinjauan Syi’ah Rafidhah terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sarat dengan kebencian dan kedengkian. Hal ini sebagaimana yang mereka terangkan dalam tulisan-tulisan yang luar biasa kekejiannya.

    Kalau seandainya kekejian tersebut mereka tuduhkan terhadap istri seorang muslim biasa tentu orang tersebut akan murka dan marah.

    Diantara kekejian itu adalah:

    1. Jeleknya perangai dan akhlak para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192 ketika menerangkan sebab turunnya ayat ke 28 dari surat Al Ahzab, mengatakan: “Sebab turun ayat itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Khaibar. Beliau membawa harta keluarga Abul Haqiq. Maka mereka (para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berikan kepada kami apa yang engkau dapatkan!” Beliaupun berkata: “Aku akan bagikan kepada kaum muslimin sesuai perintah Allah.” Marahlah mereka (mendengar itu) lalu berkata: “Sepertinya engkau menganggap kalau seandainya engkau menceraikan kami, maka kami tidak akan menemukan para pria berkecukupan yang akan menikahi kami.” Maka Allah menentramkan hati Rasul-Nya dan memerintahkan untuk meninggalkan mereka. Maka akhirnya beliaupun meninggalkan mereka.”

    Sungguh tidak!! Tidak akan terlintas di benak seorang muslim pun bahwa istri seorang muslim yang taat akan mengucapkan kata-kata seperti itu kepada suaminya. Lalu bagaimana perbuatan itu dilakukan oleh istri seorang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah puji di dalam Al Qur`an?! Demi Allah, tidaklah mereka tulis kecuali kedustaan belaka!!

    2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracun oleh sebagian mereka.

    Didalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy mengatakan-dengan dusta- bahwa Abu Abdillah Ja’far Ash Shidiq rahimahullah pernah berkata: “Tahukah kalian apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia atau dibunuh?” Sesungguhnya Allah telah berfirman yang artinya: “Apakah jika dia (Muhammad) mati atau dibunuh, kalian akan murtad?” (Ali Imran: 144). Beliau sebenarnya telah diberi racun sebelum meninggalnya. Sesungguhnya dua wanita itu (Aisyah dan Hafshah) telah meminumkan racun kepada beliau sebelum meninggalnya. Maka kami menyatakan: “Sesungguhnya dua wanita dan kedua bapaknya (Abu Bakar dan Umar) adalah sejelek-jelek makhluk Allah.”

    3. Mereka menghukumi bahwasanya para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pelacur.

    Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…”

    Diantara para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha-lah yang paling dibenci kaum Syi’ah Rafidhah. Mereka merendahkan kehormatan istri yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dengan kedustaan-kedustaan yang nyata. Celaan kepada beliau akan mengakibatkan dua ribu lebih hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa ayat Al Qur`an gugur. Beliaulah wanita yang paling banyak, menghafal dan meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara para sahabat yang lainnya.

    Beberapa celaan kaum Syi’ah Rafidhah terhadap kehormatan Aisyah:
    1. Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahannam. (Tafsirul Iyasi 2/243 dan 269)
    2. Aisyah digelari Ummusy Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummusy Syaithan (ibunya syaithan), hal ini dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161.
    3. Riwayat-riwayat beliau bersama Abu Hurairah dan Anas bin Malik tertolak di sisi Syi’ah Rafidhah (Al Khishal 1/190 karya Ibnu Babuyah Al Qumi).
    4. Aisyah telah menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu (Minhajul Karamah hal. 112, karya Ibnu Muthahhar Al Hilali).
    5. Aisyah sangat memusuhi dan membenci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sampai meletuslah perang Jamal (An Nushrah hal. 229 karya Al Mufid).
    6. Aisyah tidak mau bertaubat dan terus menerus memerangi Ali sampai meninggal. (At Talkhishusy Syafi hal. 465-468).
    Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un!! Kesesatan apa yang menghinggapi hati mereka? Sedemikian besarkah kedengkian dan kebencian mereka terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah?

    Tuduhan-tuduhan Dusta Syi’ah Rafidhah kepada Aisyah Berkaitan dengan Perang Jamal
    1. Aisyah tidak menerima dan dengki terhadap pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. (Siratul A`immah Itsna Asyar 1/4222)
    2. Pemberontakan Aisyah terhadap kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dan keinginannya untuk saudara sepupunya yaitu Thalhah bin Ubaidillah menjadi khalifah. (Syarhu Nahjil Balaghah 2/460)
    3. Aisyah menolak tawaran Ali bin Abi Thalib untuk damai dan pulang ke Madinah. (Al Khishal 2/377)
    4. Aisyah-lah yang memulai perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib. (Siratul A`immah 1/456)

  16. Syi’ah Menghina Shahabat Nabi

    Berbagai mahkota keutamaan dan kemuliaan yang hakiki telah berhasil diraih oleh generasi terbaik umat ini, seiring kebaikan mereka yang tak akan pernah tertandingi oleh generasi sesudahnya sepanjang jaman. Merekalah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Pribadi-pribadi manusia yang telah Allah pilih untuk mendampingi utusan-Nya yang termulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di dalam mengemban risalah dakwah-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.” (Al-Fath: 29)

    Maka tak ayal lagi, kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merekomendasikan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini. Beliau bersabda:
    “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabat) kemudian generasi sesudahnya (para tabi’in) kemudian generasi sesudahnya (para pengikut tabi’in).” (Muttafaqun ‘alaih)

    Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Dan masing-masing mereka (para shahabat) adalah orang yang adil, imam yang memiliki keutamaan dan keridhaan. Diwajibkan atas kita untuk memuliakan, menghormati, memintakan ampunan untuk mereka dan mencintai mereka. Satu buah kurma yang mereka sedekahkan lebih utama dari sedekah seluruh apa yang kita miliki. Duduknya mereka bersama Nabi lebih utama daripada ibadah kita sepanjang masa. Kalau seandainya seluruh umur kita gunakan untuk beribadah terus-menerus maka tidak akan mampu menandingi amalan sesaat atau lebih dari mereka.” (Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/663)

    Para Shahabat dalam Tinjauan Syi’ah Rafidhah
    Ternyata mahkota keutamaan dan kemuliaan ini telah dicabik-cabik para tentara Iblis yang telah memendam kebencian dan kedengkian terhadap mereka. Syi’ah Rafidhah-lah, tentara pertama kali dan paling gigih mengobarkan api kebencian dan kedengkian tersebut.

    Wujud kebencian kaum Syi’ah Rafidhah telah tertuang di dalam lembaran-lembaran tulisan ulama mereka seiring dengan bergantinya generasi dan kurun waktu. Dalam kitab Syarh Nahjil Balaghah 20/22, Ibnu Abil Hadid mengatakan: “Para shahabat adalah satu kaum yang mendapat kebaikan dan kejelekan sebagaimana manusia lainnya. Barangsiapa di antara mereka yang berbuat kejelekan maka kami cela, sedangkan yang berbuat kebaikan kami puji. Mereka tidak memiliki keutamaan yang besar dibandingkan kaum muslimin yang lainnya kecuali hanya sekedar pernah melihat Rasulullah. Tidak lebih daripada itu. Bahkan bisa jadi, dosa mereka lebih besar daripada dosa selain mereka.”
    Al-Kulaini di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kafi 8/245-246 meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa dia berkata: “Para shahabat adalah orang-orang yang telah murtad (sepeninggal Nabi-pent), kecuali tiga orang saja.” Maka aku (periwayat) bertanya: “Siapa tiga orang itu?” Maka dia menjawab: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”

    Muhammad Baqir Al-Majlisi di dalam kitab Haqqul Yaqin hal. 519 berkata: “Aqidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah dan empat wanita yaitu ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummul Hakam serta seluruh orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi ini. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para imam (menurut keyakinan mereka) kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi.”

    Al-Mulla Kazhim di dalam kitab Ajma’ul Fadha’ih hal. 157 meriwayatkan dari Abu Hamzah Ats-Tsumali -berdusta atas nama Ali Zainal Abidin rahimahullah- bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang melaknat Al-Jibt (yaitu Abu Bakar) dan Ath-Thaghut (yaitu ‘Umar) dengan sekali laknatan maka Allah catat baginya 70 juta kebaikan dan Dia hapus sejuta kejelekan. Allah angkat dia setinggi 70 juta derajat. Barangsiapa sore harinya melaknat keduanya dengan sekali laknatan maka baginya (pahala) seperti itu.”
    Bahkan di dalam kitab wirid mereka Miftahul Jinan hal. 114 disebutkan wirid Shanamai Quraisy (dua berhala Quraisy yaitu Abu Bakar dan ‘Umar), di antara lafazhnya berbunyi:
    “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah dua berhala Quraisy, dua syaithan, dua thaghut dan kedua anak perempuan mereka (‘Aisyah dan Hafshah).”

    Para ulama Syi’ah Rafidhah telah menukilkan ijma’ mereka tentang kafirnya para shahabat, di antaranya Al-Mufid bin Muhammad An-Nu’man di dalam kitab Awa’ilul Maqalat hal. 45, dia berkata: “Imamiyyah (Syi’ah Rafidhah), Zaidiyyah dan Khawarij bersepakat bahwa orang-orang yang melanggar perjanjian dan menyeleweng, dari penduduk Bashrah dan Syam (para shahabat -menurut anggapan mereka- pent) adalah orang-orang kafir, sesat dan terlaknat karena memerangi Amirul Mukminin (Ali -pent). Mereka itu kekal di Jahannam.”
    Para pembaca, perhatikanlah kata-kata keji mereka! Dengan berbekal kedustaan dan kebencian, mereka berupaya meruntuhkan pondasi-pondasi Islam yang kokoh. Setelah Al-Qur`an mereka usik keabsahannya, maka kini giliran manusia-manusia terbaik umat ini dari para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka lecehkan dan kafirkan. Lalu Islam apa yang ada pada mereka?
    Kenapa mereka menyembunyikan firman Allah yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100) dan firman-Nya yang lain?!?
    Tidak ingatkah mereka dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    “Janganlah kalian mencerca para shahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka (pahala) infaq kalian tidak akan mencapai (pahala) infaq sebanyak dua telapak tangan mereka bahkan tidak pula setengahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Konspirasi Jahat di balik Pelecehan Mereka terhadap Para Shahabat
    Ternyata di balik pelecehan mereka terhadap para shahabat, ada konspirasi jahat yang terselubung yaitu mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggugurkan Al-Qur`an dan As-Sunnah sekaligus agama Islam.

    Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang sebenarnya berambisi untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata tidak mampu. Maka akhirnya mereka mencela para shahabatnya sampai kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat, karena kalau memang beliau orang baik, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang baik pula.”

    Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata: “Bila engkau melihat seseorang merendahkan kedudukan seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah Zindiq (munafiq). Sebab, Sunnah Rasul dan Al-Qur`an adalah kebenaran di sisi kita. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur`an dan As-Sunnah tadi kepada kita adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (Syi’ah Rafidhah) mencela para saksi kita dengan tujuan untuk menggugurkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Justru mereka inilah yang lebih pantas untuk dicela. Merekalah orang-orang zindiq.”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Celaan terhadap mereka (para shahabat) adalah celaan terhadap agama ini.”

    Hukuman bagi Orang-orang yang Mencela Para Shahabat
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitab Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul memberikan rincian tentang hukum orang yang mencela para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa diringkas sebagai berikut:

    1. Bila orang tersebut mencela para shahabat dengan celaan yang tidak sampai menjatuhkan keadilan dan agama mereka seperti: mensifati para shahabat dengan kebakhilan, penakut, dangkal ilmunya dan selain itu maka dia tidak dihukumi sebagai orang yang murtad atau kafir. Hanya saja orang ini dihukum ta’zir (hukuman dera atau penjara yang dilaksanakan oleh pemerintah kaum muslimin setelah dimintai taubat dan diberi penjelasan).

    2. Adapun orang yang mencela para shahabat karena keyakinan bahwa mereka telah murtad atau sesat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut kafir (setelah memenuhi kriteria syari’at untuk dikafirkan).

    3. Demikian juga seseorang yang ragu terhadap kafirnya orang jenis kedua maka dia kafir. Wallahu A’lam.

  17. pembela sunnah said:

    manamungkin menyatukan ahlus sunnah dengan syiah bila aqidah syiah dan sunni aja beda…..yg syiah menyeru ke neraka yg sunni mengajak ke surga…….orang nggak waras aja tuh yg mau gabung sama syiah ih…..amit-amit deh ……..

  18. pembela sunnah said:

    ya.. syiah memang pejuang….tapi pejuang kesesatan….dia itu bukan hizbullah tapi hizbusy syaiton…..dia itu musuh islam dari dalam.

  19. astaghfirullah… ya allah musuhilah orng2 yg memusuhi kluarga nabimu muhammad saw. buknkah sudah jelas dalm al-quran. tkoh2 ahlus sunnah pun mengakui itu dengn sda2 hadist yg sahih…??? engkau hujat ahlul bait yg tlah di ridai allah, di mulykan dan disucikan oleh allah.. buknkh yg memusuhi ahlul bait adalh musuh allah… sesuai dengn sbda nbi muhammad…

  20. ^_^
    oke aku setuju dengan pendapat anda sekalian,
    tapi ingat,
    orang2 syiah terlalu berlebihan dalam mencintai ali,

    skrang gni,
    jika pndapat anda spt itu,
    mka berarti nabi berhasil di tipu oleh 2 mertuanya ?
    pdhal,
    nabi orangnya cerdas dan pintar .

    huft,
    memang benar kata pepatah,
    ” KETIKA CINTA DATANG, RASA YANG TAK ENAK APAPUN JADI ENAK.”

    sudah ah,.,.,.
    biarkan mereka berfikir sperti apa yang ia pkirkan,
    Jalanmu bukan Jalanku .

  21. sebagian kaum sunni pun berlebih-lebihan dalam mencintai sahabat dan merendahkan Ahlul Bait, sahabat yg berperang dan saling bunuh di cuci dan di angkat derajat kemuliaannya oleh sebagian kaum sunni hanya status mereka sahabat yg adil dalam segala hal, apakah ini bukan sikap ghuluw?

  22. Tidak ada Ahlus Sunnah yang merendahkan Ahlul Bait… :)

    Kami Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait dan mencintai Para Sahabat dalam waktu bersamaan, tidak seperti kalian wahai Rafidhah…!!!

  23. Syi’ah bukan Rafidhah

  24. Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

    Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3] Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

  25. Istilah Rafidhah dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

    Beberapa pihak yang tidak bertanggung-jawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dha’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.
    Habib Ali Bungur Berdoa Bersama Dgn Ulama Syi’ah

    Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini makin eksis di tengah-tengah umat.

  26. “karena hanya Syiah Ja’fariyah
    satu-satunya mazhab yang
    mengajarkan kepada pengikutnya
    untuk tidak berpangku-tangan
    atas setiap perbuatan zalim yang
    dilakukan oleh individu manapun,
    termasuk para penguasa”

    ada buktinya mas di Indonesia?kecuali Anda anggap penguasa di Indonesia tidak dzalim.

    soal anggapan hizbullah menang vs israel,saat itu hizb perangnya ofensif atau defensif?terus hizb serbu masuk israel atau sebaliknya?menang menurut Anda atau penghentian serangan secara sepihak?kenapa Palestina tidak mampu dibebaskan sampai saat ini oleh syiah khusus hizbullah dan lbh khusus lg oleh Iran???

  27. Hasyim bin Ali said:

    Ibnu Taimiyah merendah kan Imam Ali itu bukti salafi merendahkan Ahlul Bait

  28. Assalamu’alaikum,

    Syi’ah adalah produk yahudi yang dari dulu selalu ingin membawa umat manusia kepada kesesatan. Syi’ah yang dipelopori oleh yahudi yang bernama Abdullah bin Saba mengagungkan pertalian keluarga nabi. Seperti juga yahudi. Mereka mengagungkan pertalian keluarga dari nabi Ishak. Padahal kita semua meyakini bahwa yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Syi’ah mendasarkan diri pada dendam karena kepemimpinan Islam setelah wafatnya nabi tidak jatuh kepada keluarga nabi. Tapi kepada Abu Bakar. Syi’ah lahir karena provokasi yahudi Abdullah bin Saba bahwa yang layak menjadi pemimpin adalah yang ada pertalian keluarga dengan Nabi Muhammad SAW.

    Untuk kaum Syi’ah dan kita semua, coba lihat http://www.subvertednation.net. Terlihat jelas bagaimana yahudi bisa menjadi siapa saja untuk membuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka bisa menjadi muslim, menjadi kristen, menjadi ateis dll. Tetapi mereka tetap yahudi.

    Di sana diperlihatkan bahwa ada beberapa paus umat kristen adalah orang yahudi dan pembantaian yang banyak dilakukan oleh kristen adalah ketika mereka dipimpin oleh Paus yang berdarah yahudi.

    Saudaraku, sadarlah betapa yahudi telah memperdaya kalian. berpegang teguhlah kepada Al Qur’an dan hadits Nabi.

    Wassalam,

  29. Fathimah Ahmad said:

    Syi’ah adalah Kebangaan Islam…

  30. Assalam Mualaikum
    Syiah Dan Sunni sama kalau di tinjau yang paling taqwa ke pada Allah SWT dan mengikuti Sunna Rasul SAW. mari kita sesama ummat islam koreksi diri kita masing masing sejau mana kita melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah, SUDAHKAH ANDA MENCINTAI ALLAH ? saya kira belum sepenuhnya mencintai Allah, jika anda sudah mencintai Allah anda patut ( FATTABIUNI ) dan tidak jadi orang munafiq, Iman dan taqwa ummat islam di zaman sekarang sudah rapuh , tidak berani qurban untuk Allah dan Rasulnya , anda berani berkomentar hanya dasar kepentingan Duniawi, takut Hidup susah, gila kehormatan, kapan islam bisa bersatu menumpas zionis musuh islam , mari kembali fitroh islam yang murni berpegang teguh Kitab ALLAH dan Idtra RusulAllah wassalam Mualaikum warahmatullah

  31. Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin wa ‘ajjil farajahum.

    Salaamu ‘alaika ya Rosulullah.
    Salaamu ‘alaika ya Abal Qasim.
    Salaamu ‘alaika ya Abal Zahra.
    Salaamu ‘alaika ya Khukuqil ‘azim
    Salaamu ‘alaika ayyuhannabinyyu warahmatullahi wabarakaatuh.

    Allahumma inni asaluka wa attawajjahu Ilaika bi nabiyika nabiyirahmah, Muhammadin shalallahu ‘alaihi wa aalih. Inna tawajjahna wastasfa’na wa tawassalna bika Ilallah. Ya wajiihan indallah. Isyfalana indallah.

    Sholli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammad.

    Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maula wa niman nasiir.

  32. Sekali lagi…ayo jamaah…

    SHOLLU ‘ALA NABI WA AALIH…!

  33. Yaa rabb Muhammad wa ali Muhammad
    Hidayah hanya milik Allah SWT
    jadilah manusia yang mau berpikir
    karena Allah SWT murka terhadap manusia
    yang tidak mau menggunakan akalnya
    kita harus selalu berusaha mengikuti shirat al mustaqim
    karena jalan itu yang membawa keselamatan.

  34. salam ‘alaykum
    Allaahumma Shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad

    kristolog masyhur Ahmad Deedat mengatakan, ” jika kita melihat satu orang Suni melakukan kesalahan, kita hanya mengatakan bahwa orang itu tidak islami. Tapi jika satu orang Syiah melakukan kesalahan, kita malah menyalahkan seluruh komunitas Syiah yang jumlahnya jutaan ”

    utk sdr2 yg membenci Syiah dan menganggap Syiah itu sesat dan kafir, silakan anda usir org2 Syiah yg menunaikan ibadah haji atau umrah di tanah Makkah dan Madinah, apakah anda MAMPU…??? bukankah tanah Makkah dan Madinah hanya dpt “dikunjungi” org2 Islam..???

    kmn negara2 bermazhab Suni saat Palestina digempur Israel? Saudi Arabia, Jordania, Mesir dll kmn..???

    seandainya Suni beranggapan bahwa Syiah dibentuk oleh abdullah bin saba’, tentunya dlm ritual maupun do’a2 dlm mazhab Syiah akan ada do’a yg dipersembahkan kpd abdullah bin saba sbg “founding father”, tp silakan kalian yg membenci Syiah melakukan pengecekan thd do’a2 mazhab Syiah… dan tentunya kami yg Syiah akan mengadakan Maulid atau Haul Abdullah bin Saba yg tdk jelas asal muasalnya…

    mungkin yg membenci Syiah bisa membaca do’a Jausyan Khabir atau do’a Kumayl (do’a nabi Khaidir as) yg sering dibaca oleh kaum Syiah, setelah itu mohon diperiksa apakah ada kata2 atau kalimat2 yg bersifat mendo’akan abdullah bin saba atau bahkan bersifat SYIRIK..

    lalu kapan kah Suni dibentuk? oleh siapa? bukankah oleh Muawiyah bin Abi Sofyan yg memusuhi dan dengki thd imam Ali bin Abi Thalib salah seorang ahlul bayt washi Rasulullaah SAW.. lalu knp Suni bermazhab imam2 yg bukan itrah Rasulullaah SAW? yg mana kelahiran dan kemunculan beliau2 jauh setelah wafatnya Rasulullaah SAW.. lantas setelah Rasulullah SAW wafat dan sebelum imam2 Suni itu lahir, bermazhab apakah kaum muslimin saat itu?????

  35. Teruskan!!!…..semoga dari pendapat masing masing umat mnjadikan tolak kebersamaan dan tukar pengetahuan.sadar tdk sadar hanya ucapan penghasut yg akan ke neraka.

  36. Ummat Rasulullah SAW said:

    sudahlah saudara seimanku, lepaskan embel2 Sunni-Syi’ah ketika kita berbicara tentang Islam. sebab, di zaman Rasulullah SAW, Islam itu hanya 1, Rasulullah terbiasa menyebutnya dengan “UmmatKu”, bukan Sunni ataupun Syi’ah. Sunni-Syi’ah itu muncul ketika Islam dibawa ke ranah politik pasca wafatnya Rasulullah. jangan jadikan Islam sebagai alat politik. karena sekali lagi, Rasulullah hanya mengenal “UmmatKu”, bukan Sunni-Syi’ah…

    sekedar mengingatkan, Imam Syafei (mazhab mayoritas di Indonesia) adalah orang yang amat sangat mencintai Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan dia Sunni. sebelumnya, para Ahlul Bayt juga tidak pernah merasa terdzalimi oleh para Sahabat yang pro ke Khalifah Abu Bakar dan penerusnya sebelum Imam Ali. buktinya, ada Ahlul Bayt yang dinamai Abu Bakar dan Umar…

    jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk saling membeci. biarlah peristiwa2 masa lalu menjadi pembelajaran bagi kita untuk menyongsong kejayaan Islam. bersatulah Islam, demi tegaknya Khilafah Islamiyah…

  37. Satu Islam said:

    Setuju….

  38. cendikiawan syi’ah Abdul-Hameed al-Muhajir berbohong kepada sheikh ahmad deedat dengan mengatakan bahwa ia terinspirasi(yang merubah hidupnya) dari buku rehlat al-madrasiyya. sedangkan sheikh ahmad deedat mengutarakan bahwa ia terinspirasi dari bukunya izhar-ul-haq(the truth revealed) by Mohd.Rahmatullah kiranvi.

    #BEWARE OF TAQIYYAH
    #Islam lebih baik tanpa sekte
    #Islam itu Al-Qur’an dan As Sunnah

  39. Buat saudara2ku yg Sunni Maupun syi’ah Coba Baca dan cermati Hadis “Nabi Muhammad Saw, Ummat Nabi Musa Kalamullah As “ terpecah 70 Golongan Ummat Nabi Isa Ibnu Maryam Ruhulullah As terpecah 72 “ Golongan dan Ummat Ku “ terpecah 73 golongan “
    Dan yang selamat hanya 1 golongan. selamat mencari kebenaran yg sejati tapi kebenran sejati itu hanya milik Allah Swt kita sebagai hamba Nya tidak punya hak untuk mengklaim sebagai yg paling benar di atas mazhab2 lainnya…

  40. Beragamalah yang baik!

  41. Penutut Ilmu said:

    Meskipun sahabat Ahlussunah menjelaskan dengan dalil-dalil shahih,dengan tulisan berjilid-jilid maka tetap saja kaum Syiah selalu pandai mengelak. Setali tiga uang dengan Yahudi, Dua saudara sepersusuan ini kompak memainkan peran, sangat lihay dalam tipu muslihat, namun selalu licik. Sejarah Islam selama 1400 tahun membuktikan, kemahiran “dua bersaudara” ini. Maka Saudara-saudaraku kaum muslimin yang bermanhaj atau bermashab Sunni, bukalah mata dan hati kita terhadap peristiwa saat ini di Yaman, Suriah, Irak dan Iran. Siapa yang paling banyak membunuh dan dibunuh? Syiah punya senjata pamungkas “Taqiyah” …. itulah akal syetan.

  42. Joko Susilo said:

    Sunnah dan Syi’ah bersaudara hanya wahabi yg kebakaran jenggot…waspada virus takfir wahabi !!!!

  43. tanyasyiah (saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    boss, syiah iran beraliansi ke rusia ga? yang notabenenya rusia itu ngebantai kaum muslimin

  44. TAIII KUCIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNGGGGGGGGGGGGGGGGGG

  45. tidak akan selesai, sampai kapanpun, berbatahan tentang Sunni dan Si’ah.
    Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
    Kita tunggu saja pengadilan ALLAH.

  46. Sy tidak peduli siapapun bicara apapun..terserah pendapat masing2.
    Sy sudah sangat bahagia dan bersyukur atas karunia Allah yg telah mengizinkan, menolong, mengenalkan kpd sy tentang syiah – yg semakin dicari kejanggalan / ketidaksesuaian atasnya, yg didapat bahkan semakin menampakkan kebenarannya. Alhamdulillah..
    Banyak dan kerasnya pendapat lain (penentang) tidak membuat sy sedih, bahkan mambuat sy semakin bersyukur. Salam damai utk semua umat!

  47. Syiah dan sunni realitas perjalanan sejarah ummat islam yg tak bisa dipisahkan ataupun dibuang begitu saja sebab puluhan kitab telah merekamnya. Pengkajian masalah ini harus didasarkan kepada doktrin pencarian kebenaran, objektivitas, jujur dan bertanggung jawab. Sesungguhnya prinsip-prinsip nilai al qur’an itulah yang agung dan sunnah nabilah sebagai tuntunan qita ummat muslim. Bagaimana menurut saudara jika ada orang yang merasa syiah, pengikut sayyidina Ali, Hasan, Husein dll sementara ahlaknya tdk mencerminkan keintektualan, keramahan, kebijaksanaan, keberanian-nya? begitu juga yang merasa sunni tetapi dalam sikapnya tidak mencerminkan prilaku seperti ketegasan dan kebijaksanaan Abu Bakar, kesederhanaan Ummar dan pengorbanan Utsman? apa yang saudara perdebatkan memperoleh manfaat jika tidak dilandasi dengan sikap saling menghormati? apa untungnya jika kalian bersih tegang ? kebaikan apa jika saudara saling serang dan menistakan? sesungguhnya orang yang beriman kepada Tuhannya Allah swt, Kenabian Muhammad saw, kitab suci Al qur’an, Hari kiamat itu adalah saudara yang harus berbagi kasih sayang dan saling membela. Sikap emosional harus diimbangi dengan sikap logis dan rasional supaya tidak terjerembab kedalam saling mengkafirkan dan menyesatkan. Al qur’an sekali lagi sangat menekankan sikap berimbang, qita harus tabayun. Ditengah ummat yang tekotak-kotak, terpecah-pecah kepentingan politik penguasa zalim kita harus merekat. Sekali lagi kita adalah SAUDARA SE-MUSLIM.

  48. Syiah yang adil adalah saudaraku,,sunni yang adil adalah saudaraku
    Ayo saudara kita gempur rezim tirani yang merusak ummat dan rakyat
    Saudara bersihtegang menguntungkan zionism, imperialism, sekulerism, komunism dan rezim korup.
    gempurlah dengan pencerahan
    gempurlah dengan penyadaran ummat
    Ingat! perpecahan itu adalah Haram,
    sedangkan persatuan adalah wajib, halal

    Gempurlah dengan pencerahan islam
    rekatkan ukhuwah, perdamian sesama muslim
    hormatilah perbedaan yang ada
    berbeda mazhab bukan berarti bermusuhan

    AYO bersatu saudaraku
    jangan terpedaya bujukan syetan
    jangan termakan provokasi zionis

    Kita punya kewajiban
    kita adalah ummat yang punnya tanggung jawab besar
    terhadap persaudaran, kesejahteraan dan keadilan sesama manusia

    saudaraku
    kita mesti ingat
    di bumi ini, tanah air kita ini, bangsa ini
    harus berdiri sebuah negara yang berdasarkan kepada nilai-nilai islam
    dimana Allah swt sebagai hakim setiap urusan manusia
    dipimpin oleh manusia yang sholeh, adil, bijaksana, memahami islam
    ahli politik dan administrasi negara dan tahu perkembangan jaman, zuhud.

    Harus berdiri sebuah pemerintahan yang adil
    dan syaratnya islam harus tegak berdaulat

    berdaulat membutuhkan metode
    dan perubahan sosial adalah sunnatullahnya

    setiap nabi selalu tidak disukai oleh penguasa zalim, korup dan menindas.
    sebab perubahan yang dilakukan para nabi itu bersifat membongkar kezaliman
    perubahan sistemik.

    Begitupula dengan agen pembaharu disetiap jaman.

  49. tanyasyiah (saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    mantab boss!!! gw dukung…

    gempur terus sang tirani zalim basar assad ampe ancur lebur

    adili basar assad atas pembunuhan kaum muslimin

    gantung hizbul libanon, garda iran, mahdi iraq, houthi & sabiha nyang gi di damaskus lagi bantuin assad the dead man dalam pembantaian kaum muslimin

    kaum muslimin & rum versus persia & turk
    which side you will be on?

  50. Soon autumn, hurry to say goodbye to summer!).

  51. Syi’ah memang sesat karena mengkultuskan Ali bin Abi Thalib dan Imam2 nya yang diang gap Ma’sum , bahkan lebih mulia dari Nabi Muhammad saw.

  52. Ihsan@ tak ada seorang MUslim Syi’ah pun yang menganggap Imam2 Ahlul Bait lebih tinggi dan mulia dari Rasulullah Saw kecuali fitnah orang2 jahil dan ekstremis wahabi.

  53. tanyasyiah (saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    boss satusyiah tanya dong, kalo para imam ga lebih tinggi n mulia dari rasullullah, trus nyang mensyari’atkan karbala sbg tanah suci ntu siape boss?

  54. Karbala jelas tanah suci karena merupakan tempat dibantainya keluarga Rasulullah!!!!.

  55. Siapa lagi manusia yang lebih kejam dimuka bumi ini yang tega dengan sadar membantai dengan kejam Keluarga Rasulullahi Muhammad SAW, Seharusnya sejarah ini dapat dijadikan khotbah di Mesjid2 atau bila perlu dijadikan kurikulum sejarah islam di sekolah agar masyarakat muslim indonesia jadi faham sehingga mampu membedakan mana arab yang baik dan yang BAHLUL

  56. tanyasyiah (saya wahabi pecinta musuh2 Nabi) said:

    kutip boss gunawan
    “Karbala jelas tanah suci karena merupakan tempat dibantainya keluarga Rasulullah!!!!” lebih sucian mane boss ama mekah, madinah, al aqsa?

    nyang mensyari’atkan karbala ntu tanah suci siape boss, bukannye wahyu telah terputus setelah wafatnye rasullullah? ape syiah punya nabi sendiri ye???!!

    lebih utama mane boss wukuf di arofah ama wukuf di karbala???!!

    kutip boss gunawan
    “Siapa lagi manusia yang lebih kejam dimuka bumi ini yang tega dengan sadar membantai dengan kejam Keluarga Rasulullahi Muhammad SAW”
    boss, pembunuhnye bukannye syiah boss si syimr ntu tuh boss berkolaborasi ama syiah kufah tuk berkhianat

    nanti deh boss gw upload di blog gw ye, pegimane para ayatussyiah berdongeng

  57. Mengenai Syi’ah melaknat Istri Rasulullah SAW. Itu hanya Propaganda orang-orang wahabi. Kami Syi’ah Imamiyah menghormati Istri-istri Rasulullah SAW, sebagaimana Imam Ali as menghormati Aisyah Istri Rasulullah SAW dikala Aisyah turut serta dalam perang jamal.

    Karena Rasulullah adalah utusan Allaah dan yang berhak melakukan apapun hanya lah ALLah SWT padanya, maka kami tidak bisa berargumen apa-apa selain mengetahui dalam Surah AT’ Tahrim Allaah menegur Istri Rasulullah SAW,”AiSYAh Binti Abu Bakar dan Hafsah Binti Umar” , Apakah Tafsirnya keliru??, Siapkah yang membuat tafsir Alqur’an dizaman sekarang? yang pasti bukan orang Syiah Imamiyah… dan jika tafsirnya benar… Maka itulah kebenaran, sebab Istri Rasulullah SAW tidak termasuk dalam Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang disucikan Allaah sesuci-sucinya ( Q.S. Al’Ahzab:33) sehingga Istri Rasulullah SAW juga luput dari kesalahan selain yang di Rahmati Allaah SWT.

    Hadis dibawah Ini diriwayatkan Oleh Al- BUKHARI (Syi’ah Imamiyah tidak mengikuti Hadis Al-Bukhari, kami selalu merujuk hanya pada Hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Bayt Rasulullah SAW yaitu 12 imam yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai rujukan bagi semua Umat Muhammad SAW)

    Aisyah berkata: “Cemburuku terhadap istri-istri Rasul tidak seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasul sering menyebut dan memujinya, dan Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasul saww agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Allah SWTakan memberinya rumah dari Permata di surga”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitab Nikah.

    Siapakah Al-Bukhari? Apakah beliau adalah yang ditetapkan Rasulullah SAW sebagai PEMIMPIN UMAT sepeninggal Rasulullah SAW? sebab pemimpin umatlah yang berhak sebagai rujukan Hadist Rasulullah SAW.

    PIKIR PIKIR DONG WAHAI UMAT MUHAMMAD SAW, JANGAN SETENGAH-SETENGAH MENGIKUTI PERINTAHNYA!! SEBAB ORANG YANG SETENGAH-SETENGAH DALAM MELAKSANAKAN PERINTAH RASULULLAH ADALAH ORANG YANG SETENGAH-SETENGAH DALAM MENCINTAI RASULNYA. (SEDIHNYA… MENJADI UMAT YANG SETENGAH HATI,)

    AYO DOOONG… INILAH JALAN YANG LURUS YANG KITA MINTA DALAM AL’FATIHAH… MASA UDAH DIKASIH NIKMAT TAPI TETAP MENOLAK!! NAUDZUBILLAAH!!

  58. muthmainnah said:

    kawan sebelum menjudge satu aliran harusnya kalian masuk dan memahami dulu bagaimaa aliran,,kita semua itu cuma korban sejarah
    untuk saudara yg menyatakan kalau syi’ah itu tidak,,syi;ah menghormati mereka,,yang membuat citra buruk seperti itu adalah syiah akhirakhir ini saja
    kita belum tentu lebih baik dari mereka apapun alirannya kita tidak pernah tau golongan mana yang akan masuk syurga,
    belum tentu yang kalian perdebatkan itu benar..kebenaran hanya milik allah,,kita manusia hanya berusaha dengan keyakinan masing-masing..semoga allah memberkhi kita semua

  59. ISLAM KU, ISLAM ANDA DAN ISLAM KITA….

  60. Orang lain udah pergi ke bulan, kita masih ribut masalah sunni – syiah.
    Sadar gan.
    Mau apapun namanya, kalau hidupnya sesuai dengan Alquran dan hadits, insya Allah masuk surga. Aamiin.

  61. Pemersatu Umat Islam said:

    sejarah merupakan perwujudan dari siapa yang menyampaikanya,
    versi sesuai dengan perawinya, kita harus bisa menerima informasi dengan objektif dan berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dan tentunya banyak refernsi, kebenaran yang kita perjuankan tentunya hanya Allah yang maha benar, tapi dengan pengetahuan yang kita miliki pasti kita dapat menentukan apa yang harus kita lakukan

    Namun semua itu kawan kita diikat oleh satu kalimat tauhid dimana TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH,
    ane rasa dengan kalimat ini kita dipersaudarakan dengan ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah
    perbedaan pasti akan selalu timbul selama kita memiliki kepala yang saling terpisah

    inget kawan permasalahn umat islam masih banyak
    kita ditindas orang kafir
    kita dimiskinkan oleh orang kafir
    kita dijajah oleh orang kafir
    kita dibunuh oleh orang kafir
    saudari muslmah diperkosa oleh orang kafir
    dan masih banyak lagi

    MARI KAWAN KITA BANKIT DAN RAIH KEMENANGN UNTUK AGAMA INI

  62. Bismillah,

    Mari kita cari kebenaran
    Anda Sunni atau Syiah bukan masalah saya
    Semoga Allah swt membuang jauh nama itu

    Melaksanakan yang tidak hak ?
    Menghujat ?
    Semoga Allah swt menjauhkan saya dari hal yang demikian

    Terimalah yang hak,
    Sesungguhnya kebenaran datang dari Allah swt dan NabiNya
    Semoga Allah swt memberi kebenaran kepada saya
    dan memberi saya kekuatan dan keikhlasan dalam melaksanakannya

    Amin

  63. Kalau engkau
    Ingin tahu dalamnya lautan
    Maka
    Menyelamlah
    Dan
    Bukan hanya duduk
    Di pinggirnya

    Kalau ingin tahu syiah
    Ya dalamilah
    Sumber yg sebenarnya
    Dan
    Jika itu yanga kalian lakukan
    Pasti anda
    Akan jadi orang bijak

  64. @roni dan @tanyasyiah. kau pasti percaya jk Allah swt punya wujud ya??? dasar wahaby tulen kau.

  65. tanyasyiah said:

    tes… tes…. dah lama guwe kaga komentar http://tanyasyiah.wordpress.com/

  66. INTINYA ….SYIAH HARAM DI INDONESIA. SYIAH PENGKHIANAT….MUSUH DALAM SELIMUT.

  67. saudara-saudara sekalian….
    ayo bersatu….
    ayo bersatu….
    ayo bersatu….
    semakin kita sibuk dengan perpecahan, semakin orang di luar islam tertawa terbahak-bahak…….

  68. Helny Suryani said:

    Bismillahirrahmanirrohim
    Semoga Allah melembutkan hati saudara kami yg seiman.

    Treat people as you want Allah to treat you on the day of judgement

  69. anda hidup dijaman sekarang dan jauh sekali dengan masa kerasulan, mengapa kamu harus berselisih padahal kamu tidak tahu. gak usah jauh- jauh sejarah peralihan dari orde lama dan orde baru saja berbeda beda, ada yang mengatakan suharto merebut kekuasaan, ada yang mengatakan sukarno mau meng kup kekuasaannya sendiri, ada yang mengatakan PKI yang ingin merebut kekuasaan yang sah. dan masing masing punya alasan dan dalil yang katanya benar menurut mereka masing masing.
    kita yang hidup dijaman sekarang dibuat bingung siapa yang bener dan siapa yang salah. itu ga terlalu jauh bung hanya 45 th yang lalu bos, apalagi yang sudah ribuan th yang lalu. sikap kita : mari kita ciptakan kedamaian bukan keresahan dan permusuhan, kita yakini Allah adalah tuhan yang esa, Nabi Muhamad SAW adalah nabi terakhir umat islam, kitab kita Alquran, kiblat sama dll. ayo…lah kita bangun persatuan dan kesatuan umat islam agar tercipta ba’datun toyibun gofur. wasalam

  70. mari kita hidup berdampingan dengan ukhuwah islamiah yang benar, saling bersilaturahmi, tidak berkelompok kelompok membentuk sekte sekte di lingkungan yang berbeda faham dengan kalian.itu adalah taktik para musuh musuh islam yang akan membuat islam berkotak kotak menjadi kesatuan yang kecil kecil hingga mudah dihancurkan maka akan segera terbukti peringatan Rasulullah bahwa umat islam akan seperti buih dilautan yang banyak tapi tidak memiliki kekuatan dan mudah diombang ambingkan oleh musuh musuh islam. musuh islam tidak akan berhenti membuat islam hancur.
    marilah kita sadar wahai muslimin di dunia bahwa kita sedang di permainkan oleh orang orang barat yang sedang bernafsu sekali menghancurkan islam, percayalah …. islam pasti akan berjaya kembali dan keadilan akan kita reguk kembalin

  71. buat tanyasyiah (saya wahabi pecinta musuh2 Nabi)

    yang menyatakan bahwa tanah karbala itu suci ya Allah sendiri dengan nabi Muhammad saww… aku rasa kalian tahu bahwa darah orang yang syahid itu suci… sehingga jasadnya walaupun bercampur dengan tanah dan darah tidak boleh dimandikan dan harus langsung dikubur…!!!! gitu aja kok bingung hehehe…. trus kamu mo bilang syiah itu buatan abd bin saba (kaya judul film si kabayan saba kota wkwkwkwk) terserahlah…. yg pasti kami org syiah tdk alergi dengan hadis suni dan ulamanya… tapi bisa dikatakan mayoritas sunni seperti dilarang mengetahui tentang syiah….(seakan2 takut kalau org tersebut akan pindah keyakinan tentang sejarah islam) …. dan kami juga g mau sibuk ngurusin org2 sunni supaya menjadi syiah…. itukan hak masing2, sama halnya kami g mau sibuk memengaruhi org kristen u masuk islam… tetapi diluar itupun kami tak mau mensesatkan kaum sunni….yang sering kami katakan adalah kaum sunni adalh saudara seislam yg memiliki pendapat berbeda…. sekarang silahkan lihat history balasan ini ke atas…. coba hitung berapa hujatan kaum sunni untuk syiah,… dan adakah hujatan kaum syiah untuk sunni (bila ada silahkan hitung juga) dari situ bisa tergambar… mana yg lebih menyerang… mudah mensesatkan… tidak mau bersatu… pikiran tidak mau terbuka… karena saya yakin sebagian besar anda beragama islam dan mengetahui sejarah islam pasti dari guru anda…. bukan dari pengalaman spiritual..(bersyukurlah karena g mengalami pengalaman yg dialami oleh nabi ibrahim dan nabi muhammad pun saya juga) saya awal menerima ajaran syiah saat saya mengobrol dengan kakak saya tentang sejarah… disini saya berdebat selama satu tahun dan pada akhirnya (fakta tak terbantahkan) saya harus mengakui bahwa sejarah syiah lebih unggul dan terpercaya dari yg lainnya (penelusuran pribadi lho…. saya tidak memaksakan pendapat ini) akhirnya saya bertasyayu dengan niat ingin mempelajarinya lebih dalam (saya ingat kata imam al-Ghazali:”saya tidak akan mensesatkan sesuatu sebelum saya tahu kesesatannya”, cara terbaik untuk mengetahui kesesatannya adalah dengan memasukinya) akhirnya saya pelajari dan yg saya temui malah fakta demi fakta yg lebih mencengangkan…

    tapi kembali lagi intinya bagi yg percaya silahkan, bagi yg tidak mau percaya ya monggo… tapi jangan saling menghujat juga…. sadarlah bahwa qur’an sama (boleh dicek) nabi sama, yo wis kenapa mensesatkan salah satu….

  72. muhammad jawad bafaqih said:

    FIKIH SYIAH DI UNIVERSITAS AL-AZHAR MESIR
    Syaikh Muhammad Muhammad Madani
    Dekan Fakultas Hukum Islam al-Azhar
    Dan Ketua redaksi majalah Risalah Islam.

    Pertanyaan:
    Kenapa Anda memasukkan fikih Syiah di Universitas al-Azhar, padahal Syiah adalah mazhab orang-orang yang meyakini bahwa Jibril seharusnya menyampaikan wahyu kepada Ali as, tetapi dia keliru dan menyampaikannya kepada Muhammad saw. Dan juga mereka meyakini bahwa sebagian dari Zat Allah Swt menyatu dalam diri Ali as?!

    Syaikh Muhamad Muhammad Madani menjawab:
    Kata Syiah adalah sebutan bagi berpuluh-puluh mazhab dan aliran yang dinisbatkan kepada Islam, di mana ada sebagian yang hak dan ada pula yang batil. Dengan kata lain, ada sebagian dari mazhab-mazhab ini yang menyimpang dari prinsip-prinsip (ushul) Islam, dan sesat, sedangkan sebagian yang lain sebagaimana mazhab-mazhab Ahlussunnah, percaya kepada prinsip-prinsip (ushul) Islam. Sekalipun dalam beberapa masalah cabang (furu’) dan masalah-masalah fikih dan ijtihad terjadi ikhtilaf dan beda pendapat dengan mazhab-mazhab Ahlussunnah (sebagaimana perbedaan pendapat ahli bahasa berkaitan dengan pengertian kata-kata).

    Kelompok pertama yang dinamakan Syiah, dan mengingkari prinsip-prinsip Islam adalah termasuk kelompok sesat dan menyimpang dan tidak termasuk kelompok Islam; sekalipun mereka menamakan diri dengan Muslim. Karena Muslim adalah seorang yang beriman dan percaya kepada prinsip-prinsip akidah Islam dan tidak mengingkari berbagai kewajiban agama yang jelas dan nyata.

    Amat menggembirakan pada hari ini kelompok-kelompok sesat ini telah punah dan tidak ditemukan sisa-sisa peninggalan mereka di dunia Islam, dan sekiranya kelompok ini masih dapat disaksikan dianut oleh beberapa orang dalam jumlah kecil, mereka adalah keluar dari kumpulan kita (Ahlussunnah) dan Syiah; bahkan mereka keluar dari agama Islam dan dikutuk oleh kedua kelompok (Ahlussunnah dan Syiah)

    Adapun Syiah yang fikihnya diajarkan di Universitas al-Azhar adalah:
    1-Syiah Imamiyah Itsna’asyariyah, adalah mereka yang menyakini bahwa kepemimpinan Ali as telah ditetapkan berdasarkan nash (dalil jelas) dan mereka ini disebut Imamiyah, dan karena imam mereka berjumlah dua belas orang, maka disebut Itsna’asyariyah.

    Para penganut Syiah ini ada di Iran, Irak, Suriah, Lebanon, Pakistan, India, dan berbagai negara Arab dan Islam, dan mereka percaya kepada seluruh prinsi-prinsip Islam dan tidak ada seorang pun dari ahli kiblat yang dibolehkan mengkafirkan mereka. Perbedaan mereka dengan Ahlussunnah adalah pada perkara-perkara di luar prinsip-prinsip dan kewajiban-kewajiban dasar agama, dan fikih mereka dinisbatkan kepada Ahlulbait pilihan Nabi saw yang lebih populer dengan sebutan Fikih Ja’fari (dinisbatkan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq putra Imam Muhammad al-Baqir.)

    Syiah ini (Syiah Imamiyah Itsna’asyariah), menentang dan berlepas diri dari kaum Ghulat yang menisbatkan diri kepada Syiah, tetapi berlebihan dalam meyakini kepribadian Ali as. Syiah ini juga menganggap kaum Ghulat ini adalah kafir dan najis.

    Syiah ini memiliki buku yang cukup banyak dalam akidah, fikih, ushul, rahasia syariat, akhlak, irfan, ilmu bahasa Arab dan lain-lain. Dan banyak ahli fikih, ahli hadis, ahli sastra Arab, ahli ushul, ahli kalam dan lain-lain, adalah berasal dari mereka, dan mereka memiliki berbagai karya dan pustaka yang cemerlang dalam khazanah ilmu-ilmu Islam di berbagai masa.

    2-Syiah Zaidiyah di mana sebagian besar penganutnya berada di negara Yaman dan mazhab ini dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin, mazhab ini adalah mazhab Syiah yang paling mendekati Ahlussunnah, dan sekalipun dinamakan dengan Syiah tetapi tidak ada yang mempermasalahkannya.

    Oleh karena itu, tidak benar jika seorang menganggap seluruh mazhab Syiah meyakini kerasulan atau ketuhanan Ali (Ali adalah rasul atau Ali adalah tuhan), ataupun mereka berlebih-lebihan dalam menyakini kepribadian Ali as. Dan anggapan semacam itu secara umum adalah keliru, karena harus dibedakan antara Syiah yang lurus dan Syiah yang sesat dan punah. Ketika kita mendengar suatu pendapat dari Syiah, maka perlu diperhatikan bahwa jangan-jangan itu adalah berasal dari Syiah sesat yang dinisbatkan kepada Syiah yang lurus dan benar.

  73. Hamba Allah said:

    simpel aja, antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah ya jelas saya pilih Sayyidina Ali bin Abi Thalih, selain dekat secara bilogis dengan Rasulullah SAW juga dekat secara ideologi, kenapa pusing milihnya

  74. Ass. Yang jelas semua yang telah memfitnah, membantai, membunuh dan merendahkan keluarga Nabi Muhammad SAW.. adalah orang2 yang haus kekuasaan dan tidak pantas untuk diikuti karena biadab bahkan saat ini keturunan penghianat2 dari bani muawiyah dan abbasiah saat ini sudah mulai merasakan pembalasan dari ALLAH SWT dengan kacaunya negara2 orang / arab yang penghianat pembantai kaumnnya sendiri… alangkah indahnya bila diindonesia nanti mayoritas bermahzab Syiah pasti maju dan mandiri……. tdk seperti sekarang ummat islamnya sibuk mengkafirkan satu dengan yang lainnya… akibat pengaruh wahhabi saudi yang biadab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: