SALAFY / WAHABI : AYAH BUNDA NABI SAW MUSYRIK

Mungkin bagi sebagian pembaca heran dengan tema yang kami sajikan dalam kesempatan kali ini, masak sih orang tua nabi mati musyrik?! Tentunya yang namanya mati musyrik pasti tempatnya di neraka. Terasa berat kami untuk menjawabnya, akan tetapi inilah kenyataan yang harus kami jelaskan, agar kaum muslimin paham dan tidak tertipu dengan syubuhat-syubuhat yang dilontarkan oleh para pengusung paham sesat. Dengan slogan “membela ahlu baitin nabi shalallahu ‘alaihi wasallam” segala carapun dihalalkan, dari menafsirkan ayat seenak perutnya, memahami hadits dengan hawa nafsu bahkan membuat hadits-hadits palsu atau dengan melontarkan syubuhat-syubuhat dan memolesnya dengan kata-kata indah agar para awam tertipu. Bi’sa ma kaanu yaf’aluun.
Akan tetapi, bagaimana sih sikap islam sebenarnya? Bukankah agama ini telah sempurna? Nah bagi para pencari kebenaran yang hakiki berikut ini kami hadirkan beberapa hadits yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Selamat membaca dengan mata dan hati yang terbuka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam beberapa haditsnya yang shahih tentang keadaan kedua orang tua beliau sendiri, diantaranya adalah:
Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Bahwasanya seseorang bertanya: “wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka” ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:
أن أعرابيا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
“Bahwasanya Seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka”, kemudian dia bertanya lagi: dimana ayahmu? Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia…dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), dimana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban diatas…..”
Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits diatas: “para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”
Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي
“Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”.
Didalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”
Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”
PERNYATAAN PARA ULAMA’
Al Imam Al Baihaqi berkata di dalam kitab beliau “Dalailun Nubuwah” (1/192-193) setelah menyebutkan sejumlah hadits-hadits yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka:
“Bagaimana keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah patung-patung sampai mereka mati, dan mereka tidak beragama dengan agamanya Nabi Isa alaihis salam, …………”.
Dan di dalam “As Sunanul Kubro” (7/190) beliau berkata: “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya.
Al Imam Ath Thabari menyebutkan di dalam “Tafsirnya” ketika menjelaskan firman Allah subhanahu wata’ala: {ولا تسأل عن أصحاب الجحيم} “kamu tidak akan ditanya tentang para penghuni jahannam”(Al Baqarah:119). Dan kedua orang tua beliau termasuk diantaranya (Tafsir Ath Thabari 1/516).
Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan Nabi-Nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79).
Berkata Al ‘Adzim Abadi di dalam “Aunul Ma’bud” ketika menjelaskan hadits”فلم يأذن لي ” “Allah tidak mengijinkanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku”: “Karena ibunya adalah kafir, dan memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati) adalah dilarang…dan di dalam hadits ini terdapat faidah bolehnya ziarah kekuburan orang musyrikin dan larangan untuk memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati).”
Al Imam Al Qori’ menukilkan Ijma’ para Ulama’ salaf (yang terdahulu dari kalangan shahabat,tabiin dan tabiut tabiin) dan khalaf (setelah shahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in) bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari penghuni neraka, dia berkata: “Telah bersepakat para Ulama’ salaf dan khalaf, imam yang empat (Imam Malik, Ahmad, syafi’I, Abu Hanifah) dan seluruh mujtahidiin bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka……..
Al Imam Al Baidhawi ketika menafsirkan ayatولا تسأل berkata: “Al Imam Nafi’ dan Ya’qub membacanya dengan huruf ta’ berharokat fathah yang artinya: “Janganlah kamu bertanya tentang penghuni neraka”. Ini adalah larangan terhadap beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang keadaan kedua orang tua beliau”. (Tafsir Al Baidhawi 1/185)
Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai disini dulu.
Mungkin ada yang menyatakan: bahwa orang-orang yang mengatakan kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam neraka adalah orang-orang yang tidak memiliki adab kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam !!! Untuk syubuhat yang satu ini Insya Allah akan kita kupas pada pembahasan yang akan datang,. Wallahu a’lam

PENUTUP
Diantara akhlak seorang mukmin dan mukminah adalah menerima terhadap ketentuan Allah dan rasul-Nya dengan sepenuhnya. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan rasul—-Nya telah menetapkan suatu ketetapan untuk memilih yang lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahdzab:36)
Dan diantara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah apa yang telah kami sebutkan di atas berupa hadits-hadits shahih dengan penjelasan para ulama’ bahwa kedua orang tua beliau mati musyrik. Inilah adab seorang mukmin. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam bish shawab

Iklan

11 responses to “SALAFY / WAHABI : AYAH BUNDA NABI SAW MUSYRIK

  1. Ketika Syiah mengkritik ‘sahabat2’ tertentu berdasarkan dalil, mereka berteriak membela ‘sahabat’ tersebut, walaupun terbukti apa yg mereka bela itu salah…dan menuduh Syiah sesat dan kafir karena mengkritik sahabat.
    Namun, ketika Syiah mempertahankan ayah dan bonda suci Nabi saaw, mereka malah ‘menetapkan’ neraka buat keduanya…dan mereka mengaku bahawa merekalah Islam sejati.

    Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.
    QS. az-Zukhruf (43) : 28

    Masakan seorang Nabi agung yg suci, terlahir dari sulbi dan rahim yg najis…firman Allah:

    Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,…’
    QS. at-Taubah (9) : 28

    Tidak ada seorang Nabi pun yg lahir dari ibubapa musyrik, dan inilah juga yg berlaku kpd Rasulullah saaw.

    Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.
    QS. al-Fath (48) : 23

  2. Akhi Hadi terima kasih atas kunjungannya ke blog satu islam semoga ukhuwah islamiyah terus di upayakan agar kita tetap bergandengan tangan dalam menuju kejayaan Islam…amin

  3. Ping-balik: BANTAHAN BAHWA ORANG TUA RASULULLAH MUSYRIK « jurnal syiah

  4. Sekedar menambahkan:

    Hadis riwayat Musayyab bin Hazn, ia berkata: Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terus-menerus menawarkan kalimat tersebut dan mengulang-ulang ucapan itu kepada Abu Thalib, sampai ia mengatakan ucapan terakhir kepada mereka, bahwa ia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah.
    (Shahih Muslim)
    http://hadith.al-islam.com/Bayan/Display.asp?Lang=ind&ID=13

  5. “Abu Thalib…..Abu Thalib…..telah menjadi pembela Muhammad! Apa yang harus kita perbuat?” ujar kaum kafir Quraisy kepada Abu Sufyan. Dengan sinar mata yang penuh dengan ketulusan Muhammad menatap wajah bening Abu Thalib, sementara mata liar dan garang kaum kafir Quraisy ingin menerkamnya.
    Muhammad mendengar getaran suara sang paman, Abu Thalib, yang jelas gaungnya : “Teruskan misi sucimu! Demi Allah mereka tak akan pernah menyentuhmu, sehingga keningku berkalang tanah.” Suara itu pun melangit, menerobos seantero Makkah. Bagi dunia, mungkin Abu Thalib hanya seorang pribadi, namun bagi Muhammad, Abu Thalib bahkan lebih berarti dari dunia beserta isinya. Mengapa orang seperti Abu Sufyan, yang demikian getol memusuhi Nabi saw dan akhirnya memeluk Islam secara terpaksa, telah dicatat sejarah sebagai seorang Muslim sejati? Sementara Abu Thalib, paman Nabi, yang mengasuh, melindungi, dan membelanya dengan seluruh harta dan jiwa raganya, telah divonis sejarah sebagai seorang yang harus masuk neraka?
    Ternyata sejarah sering memanipulasi pribadi-pribadi tulus dan mulia hanya untuk kepentingan sebuah hirarki yang sedang berkuasa. Abu Thalib adalah korban manipulasi sejarah yang di goreskan oleh pena-pena jahil dan kotor, yang tintanya dibayar oleh para penguasa yang bertendensi buruk terhadap Islam.

  6. Abu Thalib Mukmin Sejati

    Agama Allah tegak berkat dukungan paman Nabi Saydina Abu Thalib r.a dan sokongan istri Nabi Khadijah a.s
    Berkata Saydina Abu Thalib r.a : “Demi Allah barangsiapa yang mengikuti petunjuknya (Muhammad) ia akan mendapat kebahagiaan di masa datang. Dan kalian Bani Hasyim, masuklah kepada seruan Muhammad dan percayailah dia. Kalian akan berhasil dan diberi petunjuk yang benar. Sesungguhnya ia adalah penunjuk ke jalan yang benar.”

    Dalam Syair nya, ia melantunkan :
    Kami mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang Nabi sebagaimana Musa
    la telah diramalkan pada kitab-kitab sebelumnya
    Wajahnya yang memancarkan cahaya merupakan perantara tururmya hujan
    la adalah mata air bagi para yatim piatu dan pelindung para janda.

    Kita ketahui dalam sejarah, bagaimana orang kafir qurais menjadi risau dan takut karena pembelaan yang dilakukan oleh Sang penjaga Ka’bah ini kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah bisa leluasa mengajarkan agama Allah kepada pengikutnya ketika paman beliau r.a ini masih hidup.
    “Abu Thalib…..Abu Thalib…..telah menjadi pembela Muhammad! Apa yang harus kita perbuat?” ujar kaum kafir Quraisy kepada Abu Sufyan”.
    Dengan sinar mata yang penuh dengan ketulusan Muhammad menatap wajah bening Abu Thalib, sementara mata liar dan garang kaum kafir Quraisy ingin menerkamnya.
    Muhammad mendengar getaran suara sang paman, Abu Thalib, yang jelas gaungnya : “Teruskan misi sucimu! Demi Allah mereka tak akan pernah menyentuhmu, sehingga keningku berkalang tanah.” Suara itu pun melangit, menerobos seantero Makkah. Bagi dunia, mungkin Abu Thalib hanya seorang pribadi, namun bagi Muhammad, Abu Thalib bahkan lebih berarti dari dunia beserta isinya. Mengapa orang seperti Abu Sufyan, yang demikian getol memusuhi Nabi saw dan akhirnya memeluk Islam secara terpaksa, telah dicatat sejarah sebagai seorang Muslim sejati? Sementara Abu Thalib, paman Nabi, yang mengasuh, melindungi, dan membelanya dengan seluruh harta dan jiwa raganya, telah divonis sejarah sebagai seorang yang harus masuk neraka?

    Mungkinkah orang yang berani mengorbankan nyawa demi ajaran dan kecintaannya kepada Muhammad kemudian menyuruh orang lain mengikuti ajaran Muhammad secara terang-terangan dikatakan tidak mengucapkan kalimat shahadat karena takut ? sungguh suatu yang tidak masuk akal sama sekali !!

    Ternyata sejarah sering memanipulasi pribadi-pribadi tulus dan mulia hanya untuk kepentingan sebuah hirarki yang sedang berkuasa. Abu Thalib adalah korban manipulasi sejarah yang di goreskan oleh pena-pena jahil dan kotor, yang tintanya dibayar oleh para penguasa yang bertendensi buruk terhadap Islam.

    Riwayat-riwayat yang menyatakan Saidina Abu Thalib r.a mati dalam keadaan kafir perawihnya adalah Abu Hurairah yang disepakati Di­sepakati oleh Para ahli tarikh bahwa Abu Hurairah masuk Islam. pada perang Khaibar, tahun ketujuh Hijri. semantara Saydina Abu Thalib meninggal satu atau dua tahun sebelum hijrah.

    Sementara ayat yang selalu dikaitkan dengan kekafiran Abu Thalib, yaitu Al-Tawbah 113 — melarang Nabi memohonkan ampunan bagi orang musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi Allah menegurnya, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai; sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya [al-Qashash 56], dapat dikatakan tadlis.
    Surah ‘Al-Tawbah 113, menurut “para ahli tafsir, termasuk ayat yang terakhir turun di Madinah. Sementara itu, surah Al Qashash turun pada waktu perang Uhud. Sekali lagi kita ingatkan, Abu Thalib meninggal di Makkah sebelum Nabi berhijrah. jadi antara kematian Abu Thalib `dan turunnya kedua ayat itu ada jarak bertahun-tahun; begitu Pula ada jarak bertahun-tahun antara kedua ayat tersebut.

    Telaah yang mendalarn tentang sejarah Rasulullah saw. dan riwayat Abu Thalib akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa Abu Thalib itu Mukmin. Lalu, mengapa Abu Thalib menjadi kafir sedangkan Abu Sufyan menjadi Muslim, Abu Thalib: adalah ayah `Ali. dan. Abu Sufyan adalah ayah Mu`awiyah. Ketika Mu`awiyah berkuasa, dia berusaha mendiskreditkan ‘Ali dan keluarganya. Para ulama disewa untuk memberikan fatwa yang menyudutkan keluarga Ali -lawan politiknya, Bagi ulama, tidak ada senjata yang paling ampuh selain hadis. Maka lahirlah riwayat-riwayat yang mengkafirkan Abu Thalib.

  7. Ping-balik: Orang Tua Nabi SAW Dikafirkan Oleh Aswaja Sunni !!! Syi’ah Membantah « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap

  8. for…..satu islam,,,,,,,,nggak usah deh lu buat blog, kalo lu masih bego……..islam itu sudah jelas………nggak usah diplintir kesana kemari,…..!!!!!!

  9. islam ndak bakalan jaya deh kalo orang macam lu nulis tentang islam……..udah bahlul nolak kebenaran lagi……………..mending skolah lagi deh mas biar bisa naik kelas !!!!!!!!.!!!???$$$$####*********

  10. Kalau orang tua Nabi bukan seorang mu’min, Nabi tidak boleh mengucapkan ayat Al-Quran “Ya Allah ampunilah aku dan orangtua kami serta serta kaum mukmin sampai kiamat. Padahal akhlaq Nabi akhlaq Al-Quran. Belum lagi bukti ucapan nabi . Nabi pernah berkata “Aku tidak dilahirkan dari perkawinan dengan cara jahiliyah, melainkan dari cara Islam” diriwaryatkan oleh Ibnu Abbas r.a., jadi Nabi lahir dari seorang mu’min alias Ayah dan Ibunya mu’min sejati. Juga dirawatkan oleh Ibnu Abbas r.a. “Tidak sekali-kali pertemuan ayah ibundaku dengan perkawinan yang tidak sah. Allah memindahkan Aku dari sulbi yang baik ke rahim yang suci, bersih , dan terpelihara. Dan tidak ada suku yang terpecah menjadi dua, melainkan Aku berada di tempat yang terbaik di antara keduanya”. Dua hadis ini sudah cukup bukti buat orang-orang yang mengatakan bahwa Ibu dan Ayah Nabi bukan seorang mu’min, ini sangat menyinggung Nabi. Barangsiapa yang menyakiti Nabi akan dibalas oleh Allah SWT., ini kata Al-Quran. Maka behatilah-hatilah.

  11. rakean kalang sunda

    hebat betul sudah berani berpendapat orang tua baginda tercinta Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam masuk neraka,ini pertanda orang yang berpendapat tentang orang tua Rosululloh masuk neraka adalah pertanda manusia ga beradab dan ga punya sopan santun,kalau pun masuk neraka itu bukan hak manusia menilai,bukan hak ente berpendapat,semua hak Alloh,kalau ente yakin pendapat ente ini sesungguhnya ente sudah ngga lagi punya rasa hormat buat Rosululloh SAW,dalam menyikapi hal kemana manusia setelah matinya bukan hak manusia itu hak Alloh,apalagi ini orang tua Nabi SAW,punya etika dikit,jangan merasa karena ada dalil maka semuanya benar,kalau pun iya itu urusan Alloh bukan urusan ente,katanya wahabi ini pengikut sunnah Rosul terhebat,kalau memang merasa jadi pengikut sunnah Rosul terhebat maka untuk urusan yang sifatnya kehormatan Rosululloh dan keluarganya maka gunakan adab dan kecintaan,jangan malah sebaliknya,kalau sy ga perlu pake dalil ngebantah tulisan ente ini sebab percuma karena salafi wahabbi kaum yang paling curang, dimana mereka maunya dalil mereka aja yang di dengar tapi dalil dari mulut orang ga mau di dengar,itu karena ente sebagai wahabbrot merasa paling pintar padahal paling bodoh,merasa paling benar padahal kacau balau,dan rusaknya wahabi lagi kalau sudah kalah debat lari.kalau sudah kalah debat baru ngomong ikhtilaf,percuma ente ngomong ikhtilaf karena sejatinya di hati ente ada kebencian buat umat islam di luar ente,ada sentimen buat semua umat islam di luar ente,makanya hati ente jadi buntu,kebenaran yang tertutup dengan kebencian sehingga walaupun ente tahu kebenaran itu bukan di pihak ente tapi ente gengsi mengakuinya…..!!! cepat-cepat tobat ente takutnya nanti ente mati dengan membawa kebencian lagi……naudzu billahi min dzalik,semoga pengikut ahlussunnah wal jama’ah di jauhkan dari kejahatan wahabbi,syiah dan JIL terhadapa islam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s