SEKILAS TENTANG IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i yang nama aslinya adalah Muhammad bin Idris (lahir 150 H dan wafat 204 H) adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang merupakan Mazhab yang banyak diikuti oleh masyarakat Islam dibelahan bumi Asia dan Indonesia sendri. Ia sejajar dengan pendiri Mazhab lainnya dan merupakan sarjana teratas kaum Muslimin dari segala zaman. Pengetahuannya tentang Hadits dan Hukum Islam sangat istimewa dan karyanya Kitab ul-Ulum benar- benar unik. Untuk waktu yang cukup lama dasar agama pemerintahan Mesir adalah konsepsi dan hasil interpretasi dari pemikirannya.

 

Imam Syafi’i mengikuti garis-garis yang ditempuh oleh Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah SAW , juru tafsir terkemuka di zamannya yang juga tidak luput dari tuduhan murtad dari ulama-ulama fanatik yang tidak sependapat dengan jalan pikirannya. Imam Syafi’i juga memperhatikan ilmu-ilmu Al-Qur’an sebagaimana dahulu Ibnu Abbas memperhatikannya di zaman Rasulullah SAW. Dia juga mencurahkan perhatiannya kepada sya’ir dan sastra sebagimana dia juga mencurahkan perhatiannya kepada fiqih. Majelisnya dihadiri pelajar-pelajar yang mempelajari Al-Quran, yang mempelajari Hadits, yang mempelajari fikh dan yang juga mempelajari syair dan sastra.

 

Karena kebodohan dan kefanatikan para ulama yang menetangnya, ia juga terpaksa menghadapi tuduhan-tuduhan yang berat serta menghinakan. Tetapi ia selalu tabah dan teguh dalam pendiriannya dan satu incipun tidak bergeser dari apa yang yang ia yakini benar. Dengan wajah yang selalu tersenyum ia menghadapi semua cobaan dan penghinaan itu. Ketabahan dan keteguhannya dalam pendirian diakui oleh kawan dan lawannya baik sezamannya maupun generasi dibelakangnya.

 

Diriwayatkan para ulama yang fanatik menyebutnya “bahkan lebih berbahaya dari iblis” . Ia cenderung beraliran Syi’ah karena menaruh penghormatan yang luar biasa kepada Sayyid us-Syuhada Imam Husein bin Ali dan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Dan atas tuduhan suatu kejahatan ia dijebloskan dalam penjara di zaman kekuasaan Dinasti Abbasiah. Diketika itu Yaman di kuasai oleh Gubernur yang zalim dan Imam Syafi’i yang ketika itu juga sebagai petugas negara yang jujur mengkritik pemerintahan yang tidak jujur itu. Karena itu Gubernur membuat fitnah terhadap Imam Syafi’i kepada Khalifah dengan mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah pengikut Syi’ah. Gubernur juga menuduh Imam Syafi’i bersekongkol dengan pemberontak untuk menggulingkan pemerintah.

 

 

 

Khalifah-khalifah Abbasiah yang selamanya sangat waspada terhadap keturunan Ali dan begitu saja menerima pengaduan Gubernur ini, langsung menanggapi pengaduan Gubernur Yaman ini. Khalifah Ar- Rasyid yang berkuasa ketika itu langsung memerintahkan Gubernur Yaman untuk menangkap Imam Syafi’i berikut sembilan orang alawiyyin disembelih kepalanya dan Imam Syafi’i didatangkannya ke Baghdad.

 

Perjalanan dari Yaman ke Baghdad sungguh sangat memalukan, yang mengakibatkan penderitaan hebat bagi Imam Syafi’i yang disegani itu. Dengan memperalat ulama-ulama yang memperkuda rakyat-rakyat yang bodoh disepanjang jalan menuju Baghdad itu beliau telah dijadikan tontonan dan sasaran ejekan, kata-kata pedas dan caci maki. Ketika sepanjang jalan yang jauh itu gerombolan orang banyak dengan pimpinan ulama-ulamanya mencemoohkan nya dan hamba pilihan Tuhan ini tenang berjalan sambil mendengarkannya dengan diam. (Harba-i-Tafkir, hal 23, 9 April 1933 dikutip oleh Maulana Dost Muhammad Syahid )

 

Dengan karunia Allah jua yang  tidak membiarkan hamba-hamba pilihannya jadi mangsa ketidakadilan Imam Syafi’i terlepas dari hukuman yang ditimpakan kepadanya. Muhammad Ibnu al-Hassan yang pada masa itu menjadi Hakim Besar di Baghdad terpikat hatinya untuk membantu Imam Syafi’i dan berusaha sangat untuk melepaskan beliau dari tuduhan-tuduhan tsb. Maka dengan kesaksian Hakim Besar itu Imam Syafi’i terlepas dari hukumam pancung leher yang dituntutkan kepadanya.(Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, TM Hasbi Ash-Siddiqie, jilid II hal 236,).

 

Hadist Rasulullah Saw :

Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan takakan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cetakan Darul Fikr)

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 responses to “SEKILAS TENTANG IMAM SYAFI’I

  1. Apakah Imam syafii adalah keturunan dari Imam Ali bin abitholib

  2. Imam Syafi’i merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.

    Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s