Imam Al-Muhajir Milik Sunnah dan Syi’ah

Sejarah Bukan Nabi. Sejarah bukan kitab suci.Membongkarnya, karena itu bukan sesuatu yang tabu apalagi diharamkan. Sudah sejak dulu kala, sejarah tergantung dari siapa yang menuliskannya. Selama penulisnya bukan Tuhan atau orang suci seperti Nabi, maka sejarah terbuka untuk di kritik, dibongkar habis, atau malah dihapus sama sekali. Apalagi penulisnya seorang penguasa tiran.

Catatan sejarah selalu tidak tunggal demikian juga dengan sejarah di dunia Islam. Mengingat sejarah hanyalah konstruksi ingatan, dokumen, dan monumen, maka belum tentu, bahkan mustahil, akan sama persis dengan faktanya di masa lampau. Nah tulisan ini agaknya berupaya mempreteli sejarah Islam versi mayoritas yang cenderung diposisikan sebagai untouchtable narration dan membuka ruang yang luas untuk penelitian selanjutnya sebagai beban dan amanah ilmiah yang harus dijaga dan berkesinambungan oleh setiap generasi yang tercerahkan.

Sebagian para penulis menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Isa dan anak keturunannya dikenal sebagai orang-orang yang sangat berjasa di dalam menyebarkan madzhab syafi’i di Hadramaut dan Asia (Ensiklopedia Britanica). Artinya hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tahun, Imam Ahmad bin Isa telah berhasil merubah Hadramaut menjadi pusat penyebaran madzhab Syafi’i. Sebab, beliau tiba di Hadramaut pada tahun 320 H dan wafat pada tahun 345 H.

Adapun alasan tentang ke Sunni-an Imam Al-Muhajir dengan dasar pemikiran bahwa Imam Al-Muhajirlah yang menyebarkan mazhab Syafi’i ke Hadramaut, merupakan suatu yang dibantah oleh Sayid Abdullah Bilfagih dalam Risalah-nya (Manuskrip) yang diberi nama Bahtsun fi Al-Tarikh Al-Mu’ashir li Al-Hayah Al-Tsaqafiyah wa Al-Madzhabiyyah bi Hadhramaut Qubaila wa Mundzu Qudum Al-Muhajir.

Dia mengatakan bahwa sebelum kedatangan Imam Muhajir sudah ada mazhab Syafi’i di Hadramaut. Pandangan ini juga dikuatkan oleh Ba’wazir dan Sayid Alwi bin Thohir Al-Haddad dalam Janiyy Al-Syamarikh, sebagaimana yang dikutip oleh As-Syahtri.

Menurut sumber sejarah lainnya Muhammad bin Salim al-Bijani, daerah yang pertama kali disinggahi Imam Ahmad adalah al-Jubail dimana penduduknya mempunyai sifat yang baik dan mereka menerima dengan senang hati kedatangan Imam al-Muhajir. Al-Jubail terletak di Wadi Du’an yang penduduknya sebagian bermazhab Syi’ah.

Seikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani menyebutkan :

Umat Islam di seluruh dunia dan pada setiap zaman sepakat bahwa para sadah Al Abi Alawi merupakan Ahlil Bayt Nabi yang nasabnya paling benar dan otentik, serta ilmu, amal, kemuliaan dan adabnya paling tinggi. Mereka semua berakidah Ahlussunnah dan bermadzhab Imam kita, yaitu Imam Syafi’i. Semoga Allah meridhai beliau, mereka, dan kita semua.

Pernyataan ini didukung oleh As-Syilli dalam kitabnya Al-Masyra’ur Rawi :

Setelah sampai di Hadramaut, beliau (Imam Ahmad bin Isa) menunjukan bahwa dirinya mengikuti Imam Syafi’i r.a, yaitu dengan menyebarluaskan madzhab beliau.

Betapapun juga dalam kenyataannya, daerah Hadramout waktu itu sebagian besar dikuasai oleh mazhab kaum Khawarij dari kelompok Abadhiyah yang sangat tegar dan ekstrem dalam menerapkan hukum-hukum sya’riat berdasarkan pendapat mereka sendiri tentunya—di samping sangat membenci Imam Ali bin Abi Thalib, keluarga serta para pengikutnya.

Kemudian mereka secara lahir menganut mazhab Syafi’i, dalam kamus Al-Munjid edisi lama, ada kata Hadramout ditulis begini : “Sukkanuha Syi’iyuna Syafi’ina” penduduknya adalah orang-orang Syi’i yang bermazhab Syafi’i, dan kitab Al-Munjid itu merekam mereka. Dari Hadramout inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum Alawi, orang-orang keturunan Sayid.

Mereka datang dari berbagai keluarga ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Itulah sebabnya kaum Alawiyyin di sana, lambat laun sepakat mengikuti aliran Ahlussunah wal jama’ah, dalam hal ini mazhab Syafi’i, dipilihnya mazhab Syafi’i, karena dianggap amat dekat dengan mazhab Ahlul Bait, mengingat bahwa sikap seperti ini dapat memperlancar penyiaran ajaran Islam sepenuhnya serta mengurangi kebencian para pembenci Ahlul Bait kepada mereka.

Meskipun demikian mereka tidak sepenuhnya sejalan dengan mazhab Syafi’i seperti dalam masalah hukum fiqih, contohnya dengan transaksi-transaksi kerjasama dan lain sebagainya. Adakalanya dalam satu masalah mereka bersesuaian dengan mazhab Syi’ah sementara mereka bertentangan dengan mazhab Syafi’i.

Sudah barang tentu mereka tidak bertaklid buta kepada Syafi’i mengingat Imam Ahmad bin Isa sendiri adalah seorang yang terkenal luas ilmunya, memiliki kemampuan melakukan istimbath langsung dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang kedua-duanya juga merupakan dasar dan landasan pemikiran Imam Syafi’i ra.

Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Al-Muhajir adalah seorang Sunni bermazhab Syafi’i, walaupun bukan penyebar pertama mazhab Syafi’i. Tetapi pendapat tersebut dibantah oleh beberapa sumber sejarah lainnya, seperti yang ditulis oleh Mufti Hadramout Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf dalam kitabnya Nasim Hajir dan Sayid Saleh bin Ali al-Hamid dalam kitabnya Tarikh Hadramout, bahwa Al-Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para leluhurnya, para Imam dari kalangan Ahlul Bait seperti Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Muhammad al-Bagir, Imam Ali Zein al-Abidin, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan pendapat ini pula beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir menganut mazhab Imamiyyah.

Perlu juga dicatat Ulama Sunni menafsirkan makna bahwa Imam Muhajir bermazhab Imamiyah sebagaimana yang disematkan kepada Imam al-Muhajir tersebut, adalah berdasarkan “Maqam Kepemimpinan Spiritual (Qutbaniyah)” yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib ra.

Penegasan itu ia sampaikan dalam kitab Samum Naji. Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad mengatakan Imamiyah yang disematkan ke Imam al-Muhajir melalui kitabnya yang berjudul Jana Samarikh min Jawab Asilah fi at-Tarikh. Ia menegaskan, bahwa ke-Imamiyahan yang ada pada diri al-Muhajir adalah kepengikutan sebagaimana mazhab ayah dan kakek-kakeknya dan bukan mazhab Imamiyah di dalam Syi’ah.

Mazhab Syi’ah juga dikenal dengan sebutan sebagai Mazhab Imamiyah, Mazhab Ahlul Bait, Mazhab Ja’fari, Mazhab Itsna Asyariyah.

Terjadi saling klaim sebagai realitas sejarah memang tidak bisa dihindari. Di kalangan para pengkaji sejarah Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir terjadi polemik pemikiran tentang madzhab Imam Al-Muhajir, apakah dia seorang Sunni atau seorang Syi’i. Mereka mendasarkan akan kesunnian Imam Al-Muhajir lebih banyak pada mazhab yang dianut keturunan mereka pasca Imam Al-Muhajir.

Begitu juga dengan tokoh-tokoh yang datang selanjutnya dari keturunan Imam Al-Muhajir, seperti Al-Faqih Al-Muqaddam dan Syaikh Abdurrahman Assegaf. Muhammad bin Ahmad As-Syathri dalam kitabnya Adwar Al-Tarikh Al-Hadrami berusaha memberikan konklusi dalam polemik mazhab Imam Al-Muhajir dengan mengatakan : “Yang jelas, mazhab Al-Muhajir adalah madzhab Imam Syafi’i al-Sunni, sebagaimana yang dijelaskan pada beberapa sumber.

Juga telah dimaklumi bahwa meskipun dia mengikuti mazhab Syafi’i walau dia tidak mengikutinya dengan buta. Status Imam Al-Muhajir sangat jauh dari sikap seperti ini. Bagaimana dia harus bertaklid buta kepada Imam Syafi’i, sedangkan dihadapannya ada al-Qur’an dan Hadist, yang menjadi sumber primer madzhab Syafi’i.

Demikian juga akidah Islamnya sebagaimana akidah moyangnya, seperti al-Bagir dan Zain al-Abidin karena tidak pertentangan antara akidah Ahl Byat yang lama dan Ahl Sunnah, kecuali dalam masalah-masalah terntentu.

Pendapat Al-Syathri di atas masih menyimpan misteri tentang kejelasan mazhab Imam Muhajir. Satu sisi melihat bahwa Imam Muhajir adalah seorang Tokoh yang bermazhab Syafi’i, tetapi dia bukan muqallid buta. Akan tetapi dalam masalah akidah, dia tetap berpegang teguh kepada ajarang para salafnya yang notabene dalam sejarah Islam sebagai tokoh-tokoh yang berseberangan dengan tokoh-tokoh sunni pada masanya, seperti Imam Al-Asy’ari atau Al- Maturidi, atau tokoh-tokoh sunni lainnya.

Tentang masalah tokoh-tokoh yang disebut dalam pendapat Al-Syathri sangat jelas ke-Syi’ah-annya, dan buku-buku sejarah lama telah membuktikannya. Jadi, konklusi yang dibuat oleh As-Syathri lebih bersifat mendamaikan dua pendapat yang bersimpangan jalan, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Mengapa Imam Ahmad bin Isa Hijrah Ke Hadramaut? Beliau hijrah karena terjadinya berbagai fitnah dalam permasalahan agama dan fitnah terbesar adalah dengan adanya mazhab Syi’ah. Inilah yang menjadi alasan utama Imam Ahmad bin Isa berhijrah meninggal Irak menuju Hadramaut.

Berkat hijrah beliau selamatlah anak-cucu beliau dari berbagai kerusakan akidah, fitnah, kegelapan bid’ah, penentangan terhadap Sunnah (Ahlussunnah) dan pengikutnya. Berkat Hijrah tersebut, mereka selamat dari kecenderungan untuk mengikuti berbagai keyakinan Syi’ah yang sangat buruk. Yang saat itu melanda sebagian besar asyraf (anak-cucu Nabi Saaw) yang berada di Iraq.

Tanggapan atas alasan utama Imam Ahmad bin Isa berhijrah untuk menyelamatkan akidah anak keturunan dan pengikut beliau jadi dipertanyakan keakuratan analisa itu, kenyataannya menurut sumber sejarah lainnya Imam Ahmad bin Isa memiliki beberapa putra yaitu Muhammad, Ali, Husein, Ubaidillah (Ayahanda Imam Alwi bin Ubaidillah). Putra-putra Imam Ahmad bin Isa yang lain tetap tinggal di Basrah bersama paman- paman mereka dan anggota keluarga lainnya hanya Imam Ubaidillah sajalah yang ikut rombongan berhijrah.

Apakah motivasi Al Muhajir untuk berhijrah ke hadhramaut adalah harta? Hadhramaut bukanlah negri yang berlimpah harta dan dia pun seorang yang kaya raya, ataukah hijrah Al Muhajir adalah untuk membantu rakyat hadhramaut, dan mencegah merembetnya fitnah Khawarij yang terus meluas? Sebenarnya kondisi dan peristiwa-peristiwa diatas adalah alasan utama kenapa Al-Muhajir berhijrah ke Hadhramaut.

Apakah dapat diterima logika sederhana bahwa Imam Ahmad bin Isa berhijrah membawa satu putra (ada yang menyebutkan dua putra beliau) dan pengikutnya sementara beberapa putra dan anggota keluarga lainnya yang tetap tinggal di Iraq dan membiarkan mereka di dalam kesesatan?.

Hadramaut kala itu sebagian besar dikuasai faham Khawarij apakah mungkin alasan berhijrahnya Imam Muhajir dari Basrah ke Hadramaut untuk menghindari fitnah Syi’ah ? bukankah pemberontakan kaum Negro kala itu menjadi salah satu sebab utama berhijrahnya Imam Muhajir?, bukankah Imam Muhajir bersama kurang lebih 70 pengikutnya memiliki tujuan utama hijrah dari Basrah ke Madinah dan bukan Hadramaut?

Bukti-bukti warna pemikiran yang terjadi pada abad ke 5 H dan seterusnya pada sejarah perkembangan kelompok Ba’alawi bisa dijadikan suatu dasar pemikiran dalam menentukan mazhab Imam Al-Muhajir, karena :

1. Tidak dapat menyingkap secara jelas masalah yang dikaji, dan kurun waktu sekitar dua abad itu menyimpan berbagai perkembangan, baik itu keberlangsungan tradisi atau perubahan-perubahan yang terjadi oleh berbagai faktor yang ada pada masyarakat.

2. Masih adanya bukti-bukti yang primer yang menyatakan bahwa Imam Al-Muhajir sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya) hadis-hadis di kalangan Syi’ah Imamiyah, dan ini juga merupakan indikasi kuat ke-Syi’ahan Imam Ahmad al-Muhajir.

3.Data-data sejarah yang menyatakan terhalangnya para tokoh Alawiyyin, dari Imam Al-Muhajir (318 H, awal tahun Hijrah Al-Muhajir ke Hadramaut) hingga Syaikh Ali bin Alawi Khala Qasam (w.527 H), dan saudaranya Syaikh Salim, dengan alasan-alasan terjadi perbedaan mazhab, serta dalam perkembangan sejarah, diterimanya paham Al-Quthbaniyyah pada abad ke 6 oleh kalangan tokoh-tokoh Tarim Hadramaut pada waktu itu juga merupakan suatu indikasi yang menyatakan tentang ke tidak jelasan ke-Sunnian Al-Muhajir.

4.Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (Sahiburratib) menyebutkan bahwa Imam Ali sebagi al-Washiy (orang yang mendapat wasiat) menurut sebagian penulis bahwa maksud al-Washiy disini adalah Imam Ali mendapat wasiat untuk mengurusi keluarga Rasulullah Saw dan mengembalikan harta benda orang-orang kafir Mekkah yang dititipkan kepada beliau. Inilah arti al-Washiy menurut Ahlussunnah dan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Silahkan pembaca meneliti kembali kitab-kitab dan rujukan sejarah tentang benar tidaknya klaim maksud al-washiy ini.

Adapun pendapat yang berbeda adalah diantara hal yang menguatkan bahwa mereka (al abi Alawi ) tetap mengikuti ajaran-ajaran Ahlul Bayt ialah pengakuan Syeikh al-Haddad terhadap Imam Ali sebagai Al-Washiy, yakni seorang Imam yang mendapatkan mandat khusus (wasiat) meneruskan otoritas kepemimpinan keagamaan dari Nabi Muhammad Saw sepeningal beliau.

Hal ini merupakan pemikiran yang ditolak oleh kelompok Sunni, yang menyatakan tidak adanya wasiat dari Nabi Saw kepada Imam Ali dalam mengantikan kedudukannya. Oleh sebab itu sebagian sahabat diantaranya Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. menyelenggarakan pemilihan Khalifah di Saqifah. Tradisi Syaikhain tersebut dijadikan salah satu preseden hukum akan ke Sunni-an seseorang, dan pengakuan Imam Ali sebagai Imam dengan wasiat Nabi Saw. Juga menjadi ajaran pokok kelompok Syi’ah Imamiyyah.

5.Pengakuan terhadap Imam Ali sebagai Al-Washiy itu ada dalam kelompok Ba’alawi, bahkan Syaikh Al-Haddad sendiri dalam Diwan-nya mengatakan : Nabi penyampai kebenaran, lautan kedermawanan, penghulu para makhluk, puncak yang tinggi, dan penghapus setiap kegelapan. Demikian juga Imam Ali bin Abi Thalib sesudahnya adalah sebaik-baik washiy ( mendapatkan wasiat/mandat untuk menjadi penerusnya) Dia adalah putra pamannya, Imam Ali adalah penerang bagi sang kelam.

6.Selain itu, Syeikh Abu Bakr bin Syihab mengatakan dalam syairnya, sebaga berikut : Mazhabku adalah mazhabnya al-Washiy, ayah dari kedua cucu Nabi Saw Al-Hasan dan Al-Husein. Kebenaran bersamanya dimanapun dia berada.

Juga mazhabku adalah mazhab keturunannya, para Imam dari keturunan Ali bin Abi Thaib yang mulia, yang telah menjadikan kegelapan bak terang di waktu siang. Dan bagi kami, Imam Syafi’i juga sebaik-baik Imam, meskipun kami temui dari mereka banyak debu-debu ( ketidaksepemahaman dalam beberapa masalah,pen.)

7.Sesuai dengan perkembangan sejarah, akhirnya terjadi kesepakatan dengan diambilnya mazhab Syafi’i dan sebagian besar pandangan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari oleh kelompok Ba’alawi, dan juga sebagian besar para tokoh di kota Tarim sepakat untuk menerima pendapat, tentang Al-Quthbaniyyah (derajat tertinggi dari struktur ke walian), yang merupakan ajaran kaum salaf Ba’alawi.

Menurut Mufti Hadramaut, Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf, istilah dan ajaran tentang A-Quthbaniyyah itu sendiri berasal dari ajaran Syi’ah Imamiyyah. Setelah itu mereka dapat menetap di kota Tarim. Bawazir dalam tulisannya mengatakan : “Maka sebenarnya kaum Alawiyyin yang berada di kota Tarim sepakat dengan para tokoh setempat dalam mengikuti mazhab Syafi’i dan sebagian pandangan dari Al-Asy’ari.

Sebaliknya, kebanyakan para tokoh setempat di kota Tarim sepakat untuk membenarkan pandangan al-Quthbaniyyah, pandangan mazhab (Syi’ah) Imamiyyah itu sendiri. Bila tidak, maka itu sangat mirip dengan pandangan mazhab tersebut (Syi’ah Imamiyah).

Satu sama lain saling mengambil dan memberi. Hal tersebut terjadi mungkin karena suatu tujuan (yang disengaja) atau karena kontak sosial di antara mereka. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak ada istilah menang dan kalah.

Dlm kitab Nasim hajir fii madzhab Imam al-Muhajir karangan Mufti Hadhramaut al-Allamah al habib Abdurohman bin Ubaidillah Assegaf sbb:

قال الإمام المؤيد بالله يحيى بن حمزة : اعلم أن الذي نعتقده ونراه ويجب أن نلقى الله به هو ما عليه السلف الصالح من آبائنا أن أمير المؤمنين ع أفضل الخلق بعد الرسول ص وأن إمامته ثابتة بالنص عليه وعلى ابنيه.

وإن العلويين الحضرميين ومن لفهم إلى هذا الحي إن لم يكونوا على مذهب الإماميه فإنهم على أخيه (الزيدية) آلا ترى أنهم يقولون بقطبانية هؤلآء، وما قطبانية إلا الإمامة بنفسها.

تأمل ! ما جاء في الحكاية (٣٣٧) من الجوهر الشفاف وما علق به عليها مؤلفه، فإنها صريحة في أن الشيخ (عبد الرحمن) السقاف ليس بحنبلي ولا شافعي ولا مالكي ولا حنفي وإن تلك هي صفة القطب الذي يولي من يشآء ويعزل من يشآء من أراد لا يراده لحكمه ولا معقب لأمره.
وقل سيدي (الإمام) الحداد في فصل ٢٥ من الفصول العلمية : ثم أن من كان من أهل البيت على مثل أو قريب من سلفهم الصالح فهو إمام يهتدى بآثاره كأبآئه المهتدين فإن منهم الأئمة المقدمين مثل علي والحسن والحسين…..الخ.

الحبيب عبدالله بن علوي الحداد صاحب الراتب : و أما عاشوراء فإنما هو يوم حزن لا فرح فيه,من أجل أن قتل الحسين كان فيه

كتاب تثبيت الفؤاد ج 2 ص 223

Al-Habib Abdullah Al-Haddad Shahiburratib: Dan adapun Asyuro’ sesungguhnya adalah hari kesedihan tidak ada sama sekali kegembiraan dikarenakan terbunuhnya Al-Husain di hari itu.

“Jika sekiranya kami mengimlakan adzan atas kalian maka niscaya kalian akan heran dan mendengar (dari adzan tersebut) sesuatu yang tak pernah kalian dengar.” (Sahaiburratib Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Tasbitul Fuad 2/15).>>>tentu perlu kajian yang cukup konprehensif tentang makna pernyataan Sahiburratib ini tentang adzan.

Dalam kitab Tarikh Hadhramaut jilid 1 halaman 323 karya Allamah Habib Shaleh Al-Hamid, terdapat ucapan Habib Ali bin Abi bakar As-Sakran, yang berkata dalam kitabnya Al-Barqoh…

الذين أدناهم والمقصر منهم في أموره وهو الشريف السني.

Sesungguhnya paling rendahnya mereka dan paling teledor diantara mereka adalah Syarif SUNNI.

photo820030066102741931

photo820030066102741929

photo820030066102741930

Tokoh tokoh yang meyakini bahwa Imam Ahmad Al Muhajir bermazhab Syiah Imamiyah adalah :

1. Al Imam Abdurrahman bin Ubaidillah As Seqaf ( dalam Kitab Nasim Hajir, yang beliau tulis secara khusus membuktikan masalah itu).

2. Habib Allamah Shaleh Al Hamid

3. Habib Allamah Sayid Abdullah Thahir Al Hadad (saudara kandung Habib Alawi bin Thahir al Hadad, Mufti Johor, seta lainnya.

Demikian nama-nama tersebut diatas dikutip oleh Habib Muhammad bin Ahmad As Syatiri (Adwar Tarikh Hadramaut; 1/56, dan Habib Shaleh Al Hamid dalam Tarikh Hadramaut; 1/323-325)

Al Habib Abdullah bin Thahir Al Hadad berkata :“Sesungguhnya jiwa ini cenderung mengatakan bahwa (Imam) Al Muhajir bermazhab Syiah Imamiyah.

Al Habib Allamah Aburrahman bin Ubaidillah As Seqaf menegaskan bahwa Al Muhajir tidak mebrmazhab Syafi’i dan tidak beraliran Asy’ari (Tarikh Hadramaut; 1/325)

Imam Ali bin Ja’far Al Uradhi Bermazhab Syiah Imamiyah

Diantara bukti untuk memperkuat ucapan Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran adalah argument yang diakui seluruh Sadah/Alawiyin bahwa Imam Ahmad Al Muhajir ta’adaba bi abihi, berguru dan berteladan kepada ayahnya Isa an-Naqib, dan ayahnya berguru dan berteladan kepada Muhammad ar Rumi, dan beliau berguru dan berteladan kepada ayahnya, yaitu Sayyiduna wa Maulana Ali al Uraidhi, putra Imam Ja’far Shadiq.

Sementra itu Imam Ali al Uraidhi bermazhab Syiah Imamiyah, sebab terbukti bahwa beliau yang dikaruniai oleh Allah SWT umur panjang hingga zaman putra saudaranya yaitu Imam Ali Ar Ridha bin Musa Al Kadzim (Imam Ke-8 Syiah Imamiyah) dan Imam Muhammad al Jawad putra Imam Ali ar Ridha (Imam ke-9 Syiah Imamiyah). Al Uraidhi menegaskan kepercayaan beliau kepada kepemimpinan/ Imamah Ali Ar Ridha dan kemudian Imam Muhammad al Jawad, kendati Imam Ali Ridha adalah keponakannya.

Demikian juga Al Uradihi mengimani kepemimpinan Imam Muhammad al Jawad yang nota bene cucu keponakannya.
Dan ketika ditegur oleh sebagian orang tentang sikap ideologinya yang Syiah itu beliau menjawab :

“Apa yang harus saya lakukan, jika jenggot putih ini (seraya memegang jenggotnya yang telah memutih) tidak dipandang Allah layak menjadi imam, sementara anak muda ini yang dilihat pantas menduduki jabatan imam, apakah saya akan menentangnya..?!”

Demikian telah diriwayatkan oleh sejarawan dari berbagai kalangan termasuk Habaib sendiri, seperti Allamah asy-Syilli dalam Masyra ur Rawi’, Allamah Habib Shaleh Al Hamid dalam Tarikh Hadramaut.

Dan sikap ini, dalam hemat para Habaib kita, seperti al Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As Seqaf dan Habib Shaleh Al Hamid adalah bukti kuat Ke-Syiah-an Jadduna al Imam Al Uraidhi.

Al Imam Al Habib Syeikh bin Abdullah Al Aidrus menegaskan dalam kitab al Iqdu an Nabawi, bahwa Imam Ali bin Ja’far al Uraidhi adalah bermazhab Syiah Imamiyah Demikian juga al Habib Shaleh al Hamid menegaskannya (Tarikh Hadramaut;1/324).

Mazhab Alawiyyin Pasca Imam Muhajir

Sebagian Kaum Alawiyyin keberatan beban moral karena mereka terlalu lama menganggap diri mereka seperti yang dimaksud dengan ayat Tathir padahal kalau mereka memahami makna ayat itu maka akan proporsionallah pemahaman mereka tentang apa dan siapa Ahlul Bait itu.

Alawiyyin secara pengertian sempit adalah anak cucu Sayyidina Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir karena nisbah kepada Sayyidina Alawi maka dari itu mereka disebut Alawiyyin atau Ba’alawi yg sangat Hadrami sentris padahal para Sayid bukan monopoli Hadramaut saja dibanyak tempat mereka eksis dengan cakarwala pemikiran dan mazhab fiqih yang berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Alawiyyin secara umum dan arti luas adalah keturunan Imam Ali bin Abi Thalib ini adalah cakupan makna yang lebih luas maka setiap Alawi adalah pengikut Imam Ali, setiap Ba’alawi adalah seorang Sayid tetapi tidak semua Sayid adalah Ba’alwi maka kesimpulannya Alawiyyin adalah mecakup semua keturunan Imam Hasan dan Imam Husein baik Sayid yang Ba’alawi maupun Sayid-Sayid yang non Ba’alawi.

SIAPAKAH YANG MENGIKUTI SIAPA ?

▶Imam Syafi’i (150 H s/d 204 H) sezaman dengan Imam Ali ar-Ridha (148 H s/d 203 H).

▶ Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir ( 273-345 H) sezaman dengan Imam Hasan al-Askari (232 H- 260 H) dan Muhammad bin Hasan al-Askari (Imam Mahdi 255-329 H ) dan Imam Abu Hasan al-Asy’ari ( 260 H/873 M – 324 H/935 M )

Alawiyyin Sunni bermazhab Syafi’i dan ber-aqidah Asy’ari sementara pada saat yang sama Alawiyyin Syi’ah mengikut mengikut Imam Ali Ridho as dan bermazhab Syi’ah Ja’fari.

Pertanyaannya siapakah yang mengikuti Salaf Alawiyyin? Padahal kita sama-sama tau bahwa Imam Syafi’i sezaman dengan Imam Ahlulbait yaitu Imam Ali Ridho.

Begitupula klaim Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir beraqidah Asy’ari telah terbantahkan oleh fakta sejarah yang semua mazhab bersepakat masa hayat Imam Muhajir sezaman dengan Abul Hasan al-Asy’ari.

Alawiyyin Sunni mengikut mazhab Syafi’i dan Asy’ari dalam aqidah dan Alawiyyin Syi’ah mengikut mazhab Imam Ali Ridho yaitu bermazhab Syi’ah Ja’fari dalam ushul dan furu’. Keberadaan Imam Ridho sangat menakutkan dinasti Abbasiyah. Beliau hidup di masa tiga khalifah Abbasiyah, Harun al-Rasyid dan kedua putranya yaitu al-Amin dan al-Makmun.

Siapakah yang mengikuti siapa ????? Silahkan jawab dan renungkan sendiri !!!!

Pengikut Imam Ali (Syi’ah) yang terbagi menjadi dua :

1.Kepengikutan secara Nasaban

2.Kepengikutan secara Mazhaban atau keduanya berkumpul menjadi satu.

Oleh karena itu dalam satu sudut pandangan yang lain bisa dikatakan setiap Alawiyyin adalah Syi’ah yang sekaligus adalah Ahlussunnah.

Pada perkembangannya, telah banyak faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai pada perkembangan sejarah keturunan Imam Muhajir, hingga mereka harus melakukan penyesuaian dalam kehidupan komunalnya dengan mengikuti mazhab Syafi’i karena madzhab ini dianggap paling dekat dengan madzhab Ahl Bayt. Akan tetapi, dalam waktu yang bersamaan mereka tetap mengikuti ajaran Imam Ja’far Shodiq, al-Bagir, Zein al-Abidin, dan seterusnya.

Kaum Alawiyyin adalah orang-orang sufi penganut madzhab Syafi’i, namun mereka tidak bertaklid kepada Imam Syafi’i dalam segala hal. Dalam soal-soal tertentu mereka meninggalkan pendapat Syafi’i.

Kaum Alawiyyin sebagian adalah penganut Al-Asyari dalam akidah, namun mereka juga meninggalkan faham Asy’ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya taklid dalam soal iman.

Meskipun tokoh-tokoh Alawiyyin sangat mengagumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan Al-Ghazali, sehingga ada di antara tokoh mereka yang mengatakan :

“Di dalam kitab Ihya’ ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata, niscaya kami akan melakukannya”( Ihya ‘Ulum ad-Din, jil.3, hal.121. Al-Ghazali memiliki pandangan ini, yaitu di dalam Sirr al-Alamayn hal.10).

Para salaf alawiyyin adalah pribadi-pribadi sholeh, mulia, penuh teladan dan toleransi karena pengamalan tasawuf menyatukan langkah dan hati mereka dan membuat mereka tidak terlibat dan menyibukkan diri dengan perkara-perkara remeh-temeh yang bisa menimbulkan perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah.

Ala kulli hal terlepas apapun mazhab Imam Muhajir beliau adalah seorang Imam yang sangat mengerti dan memahami zamannya dan semua persoalan keumatan kala itu apabila kembali kepada pemahaman dan pengamalan ajaran Tasawuf dan Irfani maka perbedaan mazhab menjadi tak berarti karena semua menuju muara yang sama. Singkat kata Imam Muhajir adalah milik Sunnah dan milik Syi’ah.

FANATISME MAZHAB AKAR SEGALA BENCANA

Sejarah telah menceritakan kefanatikan masing-masing kelompok terhadap madrasah fikih mereka, dan juga berbagai pertengkaran dan perselisihan yang terjadi diantara mereka, hingga sampai tingkatan dimana sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain, juga terlihat peran penguasa didalam hal ini, dapat disaksikan di dalam syair-syair mereka :

Seorang penyair bermazhab Hanafi berkata:
” Telah tumbuh Mazhab Nu’man menjadi sebaik-baiknya mazhab
laksana bulan bercahaya sebaik-baik bintang mazhab-mazhab ahli fikih telah menyusut
mana mungkin gunung-gunung kokoh menenun sarang laba-laba”

Seorang penyair bermazhab Safi’i berkata:
“Perumpamaan mazhab Syafi’i dikalangan ulama adalah laksana bulan purnama diantara bintang-bintang di langit
Katakan pada orang yang membandingkannya dengan Nu’man karena kebodohan
apakah mungkin cahaya dapat dibandingkan dengan kegelapan”

Seorang penyair bermazhab Maliki mengatakan:
“Jika mereka menyebutkan kitab-kitab ilmu, maka datangkan apakah dapat sebanding dengan kitab al-Muwaththa karya Malik. Dengan berpegang kepadanya tangan kekuasaan menjadi mendapat petunjuk barangsiapa yang menyimpang darinya dia akan celaka “

Seorang penyair bermazhab Hambali berkata:
” Aku telah menyelidiki syarat-syarat ulama seluruhnya,
selama aku hidup maupun sesudah mati.
Wasiatku kepada seluruh manusia,
hendaklah mereka bermazhab Hanbali “

Muhammad bin Abdul Baqi, wafat tahun 535 H yang bermazhab Hanbali, mengambarkan keadaan menyembunyikan mazhab yang terjadi kala itu didalam sebuah syairnya, “Jagalah lidahmu, sedapat mungkin jangan sampai menceritakan yang tiga, yaitu umur, harta dan mazhab.Karena atas yang tiga akan dikenakan yang tiga, yaitu dikafirkan, dihasudi dan dituduh sebagai pembohong”.

Demikianlah, setiap orang dari mereka sangat fanatik terhadap Imamnya, amat bangga dengan mazhabnya dan mengingkari mazhab-mazhab yang lainnya. Hingga ada yang mengatakan “Barang siapa yang menjadi Hanafi maka diberi hadiah, dan barangsiapa yang menjadi Sayfi’i akan dihukum” (Ad-din al-Kahlish, jld 3, hal 355)

KURUN HIDUP PARA IMAM MAZHAB

1.Imam Abu Hanifah, Lahir tahun 80 H , pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, Meninggal tahun 150 H.
2.Imam Malik , Lahir tahun 93 H Meninggal tahun 179 H
3.Imam Syafi’i, Lahir tahun 150 H Meninggal tahun 204 H
4.Imam Ahmad bin Hanbal, Lahir 164 H Meninggal tahun 241 H

Masa para Imam 4 mazhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan Hanbali) bersamaan dengan para Imam Ahlilbait as :
▶ Imam Hanafi (80 H s/d 150 H) dan Imam Malik (93 H s/d 179 H) sezaman dengan Imam Ja’far as-Sodiq (83 H s/d 148 H) dan Imam Musa al-Kadhim (128 H s/d 183 H).

Imam Syafi’i (150 H s/d 204 H) dan Imam Hanbali (164 H s/d 241 H) sezaman dengan Imam Ali ar-Ridha (148 H s/d 203 H) dan Imam Muhammad al-Jawad (195 H s/d 220 H).

▶ Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir ( 273-345 H) sezaman dengan Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi (255-329 H) dan Imam Abu Hasan al-Asy’ari (260-324 H)

Masa hayat Imam Muhajir adalah sezamaan dengan Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Muhammad bin Hasan (Imam Mahdi). Masa itu adalah masa fitnah terbesar dan masa yang sangat luar biasa dimana eksistensi Imam Mahdi menjadi sebuah fenomena yang sangat menggoncangkan kekuasaan despotik dan tirani. Dan kita bisa bayangkan sendiri bagaimana Imam Muhajir dengan kealiman dan kebijaksanaannya bisa memposisikan diri, keluarga, dan pengikutnya pada masa itu.

Timbul pertanyaan sebagai berikut:

Mengapa posisi kepemimpinan / ke-Imam-an tidak dipundak Imam Ahlilbait ?
Mengapa lebih dikenal serta diutamakan Imam 4 mazhab ketimbang Imam Ahlilbait ?
Mengapa Imam mazhab yang empat berdiam diri tidak melakukan pembelaan secara nyata Imam Ahlilbait dizholimi dan dibunuh dizamannya ?

Ahmad Amin berkata, ” Penguasa mempunyai peranan yang besar di dalam memenangkan mazhab-mazhab ( Hanafi, Malik, Safi’i dan Hanbali ). Biasanya, jika sebuah pemerintahan yang kuat mendukung sebuah mazhab maka orang-orang akan mengikuti mazhab tersebut. Mazhab tersebut akan terus berkuasa sampai lenyapnya pemerintahan yang mendukungnya ” ( Dzahr al-Islam, jld 4, hal 96 )

Apakah masih mungkin ber- argumentasi tentang wajibnya mengikuti mazhab yang empat ?
Apakah memang ada dalil yang mengatakan bahwa mazhab hanya terbatas pada mazhab yang empat ?

Jika di sana tidak ada dalil yang menunjukan tentang wajibnya berpegang kepada mereka, apakah itu berarti Allah dan Rasul-Nya telah lalai akan masalah ini, dan tidak menjelaskan kepada mereka tentang dari mana seharusnya mereka mengambil agama mereka dan syariat hukum mereka ?

Mahasuci Allah dari membiarkan makhluk-Nya dengan tanpa menjelaskan kepada mereka tentang hukum-hukum dan jalan yang akan menyelamatkan mereka. Allah swt telah menjelaskan melalui lidah Rasulullah saaw dan telah menegakkan hujjah akan wajibnya mengikuti ‘ Itrah Rasulullah saw( Ahlilbait ), ” Sesungguhnya Zat yang Mahatahu telah memberitahukan Aku bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya menemuiku di Telaga “

Wahdah Alawiyyin

Sebagaimana Alawiyyin Sunnah, Alawiyyin yang Syi’ah pun memiliki tradisi dan akar kesejerahan yang jelas yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiyah.

Berdiskusilah dengan baik dan bijak dan bukannya dengan saling menuduh sesat dan kafir, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan sudah merupakan kehendak sejarah dan terlahir dari rahim Islam yanag satu. Sebagaimana kaum Alawiyyin yang sunnah kaum Alawiyyin yang bermazhab Syi’ah pun memiliki tradisi dan akar kesejarahan yang jelas (Alawiyyin dalam arti luas bukan terbatas Ba’alwi Hadrami saja).

Kaum Alawiyyin yang Ahlusunnah mengklaim bahwa mereka ikut ajdad dan aslafnya begitu juga Alawiyyin yang Syi’ah pun berhak mengklaim mengikuti Ajdad dan Aslafnya.Kita ambil contoh Keturunan Imam Muhajir yang bukan Ba’alwi Hadrami juga banyak, mereka eksis dan berketurunan sampai sekarang, mereka adalah Sayid- Sayid yang bukan Ba’alwi dan bermazhab Syi’ah karena Imam Muhjair berhijrah ke Hadramaut hanya membawa satu anak bernama Sayyidina Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir (masih bayi ikut berhijrah) sementara anak-anak yang lain tetap tinggal di Bashrah bersama paman dan anggota keluarga yang lain.

Dari Sayyidina Ubadillah lahirlah anak yg diberi nama Alawi (Nisbah kaum Saadah Alawiyyin Hadrami). Kalau Syi’ah ajaran sesat mungkinkah Imam Muhajir membawa dan menyelamatkan satu anak yg masih bayi dari faham Syi’ah sementara anak-anak dan anggota keluarga lainnya tetap dalam kesesatan di Basrah (bermazhab Syi’ah)?, begitupula keturunan Imam Musa al-Kadzim (Saudara Sayyidina Ali al-Uraidhi) mereka eksis sampai saat ini dan bermazhab Syi’ah.

Baik keturunan Hasani maupun Huseini mereka semua adalah keturunan yang baik apapun mazhabnya karena penyebaran para zurriyah Rasulullah Saaw sebagai keturunan yang diberkahi berada dalam skenario Allah SWT.

Mereka adalah satu kesatuan sebagaimana di nubuwatkan pada akhir zaman dalam menyambut kedatangan al-Hujjah al-Mahdi al-Muntadzar yakni salah satu tanda-tanda kedatangan Imam Zaman adalah Keperkasaan negeri Persia dan Kebangkitan Revolusi Yaman, para Sayid yang bersorban hijau (Yamani) dan para Sayyid yang bersorban Hitam (Khurasani/panji-panji hitam) bergabung dalam bala tentara prajurit-prajurit al-Mahdi AFS.

Berbeda boleh saja asal jangan saling bermusuhan dan saling tuduh sesat dan kafir, Sunnah-Syi’ah Aqidahnya Sama seperti perkataan Habib Umar bin Hafidz,”Aqidah Islamiyah hanya satu yaitu Syahadatein. dan Takfir bukan tradisi Ba’alwi dan Alawiyyin tetapi tradisi kaum Khawarij dan Wahabi”.

Permasalahan furu’iyah jangan membuat kita gaduh kembalilah ke akar masalah apakah kita semua terikat kecintaan kepada Allah dan RasulNYA? Apa yang diperintahkan Allah dan RasulNYA itulah yang kita ambil dan jadikan pegangan.

Para salaf alawiyyin adalah pribadi-pribadi sholeh, mulia, penuh teladan dan toleransi karena pengamalan tasawuf menyatukan langkah dan hati mereka dan membuat mereka tidak terlibat dan menyibukkan diri dengan perkara-perkara remeh-temeh yang bisa menimbulkan perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah.

Yang menganggap semua sahabat adil adalah sebuah sikap ghuluw karena faktanya tidak semua sahabat adil, antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lain tentulah ada perbedaannya tidaklah sama dalam hal ilmu dan keadilannya dan ini bisa kita analogikan sebagai sebuah sikap menentang sunatullah dan di dalam sejarah terbukti siapa yang menentang sunatullah akan binasa dan celaka…

Bahkan mayoritas kaum muslimin tidak kenal dengan siapa pribadi-pribadi mulia setelah Nabi saaw, Imam Syafi’i ra.berkata “Cukuplah kemuliaan kalian hai Ahlul Bait tidak sahnya Sholat tanpa menyebut kalian setelah Nabi saaw, Apakah luapan cinta dan pujian ini hanya sekedar ungkapan tanpa makna?

Berapa kalikah kita menyebut Ahlul Bayt as dalam Sholat? begitu pentingkah kedudukan mereka? tetapi apakah sejak kecil kita pernah diajarkan untuk mengenal dan mencintai Ahlul Bayt Nabi Saaw? Itulah benang merah persengketaan mazhab karena kita tak pernah diajarkan untuk mengenal, meneladani, mencintai, dan menapak-tilasi Ahlul Bayt sebagai pribadi-pribadi mulia setelah Nabi saw.

Tidak sah sholat tanpa menyebut keluarga Nabi saww adalah menunjukkan betapa penting kedudukan mereka untuk dikenalkan kepada segenap umat. Tetapi para penguasa yang tiran dan despotik selalu menciptakan hadis-hadis palsu dan menjauhkan umat dari keberadaan keluarga Nabi saww. Walau begitu mereka tetap tak bisa mengingkari bahwa sholat seorang Muslim menjadi tidak sah tanpa menyebut Ahlul Bayt dalam sholatnya setelah nama Nabi saww.

Pertanyaannya sudahkan kita mengenal siapakah keluarga Nabi saww tersebut?

Besarnya harapan kita bahwa ikhtiar dan perwujudan untuk terciptanya Persaudaraan antara Sunnah dan Syi’ah sebagai Rahmatan Lil Alamin akan tercapai dengan toleransi, saling mengenal dan memahami orang lain dan diri kita sendiri.

Kita semua adalah anak-anak  zaman yang akan menyongsong masa depan dan tidak mewarisi dendam sejarah masa lalu, jangan berhalakan sejarah cukuplah hitam putihnya sejarah menjadi pelajaran berharga untuk di ambil hikmahnya dan saya tutup dengan Fatwa Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamene’i : Haram hukumnya kaum Muslim Syi’ah melecehkan simbol-simbol Ahlussunnah dan Ummul Mukminin.

Dan Ikhwan Ahlussunnah pun kita harapkan harus berjiwa besar untuk mengeluarkan fatwa serupa bahwa tidak dibenarkan melecehkan dan menistakan simbol-simbol yang diagungkan dan dihormati oleh Kaum Muslimin yang bermazhab Syi’ah agar Ukhuwah tetap dan terus terjalin serta mampu menggetarkan musuh-musuh Islam.

Akhir kata kami dan segenap team radaksi berlindung kepada Allah dari pemalsuan data, kebohongan-kebohongan, fitnah dan adu-domba karena yang benar tentu dari Allah dan RasulNya adapun persepsi manusia bisa berbeda.

Dengan memegang teguh semangat Ukhuwah Islamiyah marilah kita bersama-sama berjuang, memberikan kontribusi bagi kemajuan Islam meski lewat jalan yang tak harus selalu sama.

Wallahu A’lam Bishawab

7 responses to “Imam Al-Muhajir Milik Sunnah dan Syi’ah

  1. Syafiq Ashalaibiyyah

    NT berbohong ucapan Al Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran terusannya adalah”Sayyid Sunni yang tdk mengafdhalkan Abu Bakar RA”….

  2. Imam Ali bin Ja’far Al Uradhi Bermazhab Syiah Imamiyah

    Diantara bukti untuk memperkuat ucapan Habib Ali bin Abi Bakr As Sakran adalah argument yang diakui seluruh Sadah/Alawiyin bahwa Imam Ahmad Al Muhajir ta’adaba bi abihi, berguru dan berteladan kepada ayahnya Isa an Naqib, dan ayahnya berguru dan berteladan kepada Muhammad ar Rumi, dan beliau berguru dan berteladan kepada ayahnya, yaitu Sayyiduna wa Maulana Ali al Uraidhi, putra Imam Ja’far Shadiq.

    Sementra itu Imam Ali al Uraidhi bermazhab Syiah Imamiyah, sebab terbukti bahwa beliau yang dikaruniai oleh Allah SWT umur panjang hingga zaman putra saudaranya yaitu Imam Ali Ar Ridha bin Musa Al Kadzim (Imam Ke-8 Syiah Imamiyah) dan Imam Muhammad al Jawad putra Imam Ali ar Ridha (Imam ke-9 Syiah Imamiyah). Al Uraidhi menegaskan kepercayaan beliau kepada kepemimpinan/ Imamah Ali Ar Ridha dan kemudian Imam Muhammad al Jawad, kendati Imam Ali Ridha adalah keponakannya.

    Demikian juga Al Uradihi mengimani kepemimpinan Imam Muhammad al Jawad yang nota bene cucu keponakannya.

  3. Syafiq Ashalaibiyyah@ bisakah antum copykan lafadh sebenarnya di dalam kitab itu yg berbahasa Arab?

  4. Beliau seorang ahl bayt yg pasti berguru kpd ahl bayt jg. Beliau percaya imamah. Mk jk beliau mazab safii tentu tdk berdasar krn beliau adalah ahl bayt yg msh dekat dgn leluhurnya jafar sadiq. Mungkin beliau bertaqiah. Kmdn aqidah sesat pd jamannya bukan syiah imamah tp syiah muawiyah.

  5. Setelah mendapat keterangan hingga tiga kali, saya makin mantap tentang kisah sejarah Al-Muhajir itu. Sayang ya, yang bertanya (dan meragukannya) sebelum ini, tidak menghadirkan data ilmiah yg setimpal. Terimakasih buat Redaksi. Sungguh artikel ini sangat membukakan mata banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s