Monthly Archives: Maret 2011

Cara Mendidik Anak Dalam Riwayat Ahlul Bayt

Fase ini dimulai dari ketika anak genap berusia tujuh tahun hingga empat belas tahun. Di masa ini anak tengah mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia matang dan satu anggota dari masyarakatnya. Pada fase ini, anak mulai menghilangkan kebiasaannya meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan mulai memperhatikan alam dan lingkungan sekitarnya. Saat itulah daya pikir anak mulai terbuka dan mampu untuk berimajinasi dan menangkap banyak masalah yang tidak kasat mata.

Ia mulai berpikir tentang dirinya sendiri. Ia memandang dirinya sebagai salah satu mahluk yang hidup, berdiri sendiri, dan memiliki kehendak yang lain dari kehendak orang lain. Cara yang dilakukannya untuk menunjukkan keberadaan dirinya itu seringkali berupa perlawanan dan penentangan terhadap apa yang selama ini biasa ia lakukan. Ia berusaha untuk menampakkan jati dirinya dengan menentang dan membuat keluarganya marah demi menunjukkan kepada mereka bahwa ia adalah dirinya.[1] Anak seperti ini akan memilih jenis dan warna pakaiannya sendiri, ingin bebas menentukan pelajaran yang ia sukai, dan berhubungan dengan siapa pun yang ia sukai dan dengan cara semaunya.

Pada masa inilah orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap pendidikannya karena kini ia tengah berada di awal hubungan sosialnya dalam lingkup yang lebih luas dengan masuknya ia ke sekolah. Sekolah sendiri berpotensi besar dalam membangun kepribadian anak dengan adanya banyak anak di sana yang masing-masing mempunyai tingkat kecerdasan dan kegesitan tersendiri.Anak akan tergugah untuk bersaing dengan mereka dan hal itu sangat berpengaruh pada karekternya.[2]

Beberapa faktor penting yang berkaitan dengan pembangunan karakter anak dalam fase ini antara lain adalah pola interaksinya dengan ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga yang lain, keadaan fisiknya, seperti tinggi dan berat badannya, serta hal-hal yang didengar dan dipelajarinya.

Kebutuhan anak di fase remaja ini berbeda dengan kebutuhannya di fase-fase sebelumnya. Hal ini harus diperhatikan oleh orang tua dan diusahakan untuk memenuhinya. Kebutuhan anak tersebut antara lain adalah sebagai berikut

1. Kebutuhan primer, seperti makanan, minuman, dan pakaian.

2. Kebutuhan psikis, seperti ketenangan jiwa dan emosi.

3.Kebutuhan terhadap penerimaan dirinya oleh masyarakat.

4.Kebutuhan terhadap perhatian dan penghormatan atas dirinya.

5.Kebutuhan untuk mempelajari banyak hal yang dapat memupuk bakatnya sebagai bekal menempuh perjalanan panjang kehidupannya.

6.Kebutuhan untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang menjadi wacana dalam masyarakat dan mengenal isi dunia, yang tentu saja, disesuaikan dengan kemampuan dan kematangan anak seusia ini.

Anak perlu mendapatkan perhatian yang ekstra ketat dalam melewati fase yang rentan ini, tetapi tentu saja dengan tetap memberinya kebebasan yang merupakan salah satu kebutuhan aslinya.

Rasulullah SAWW bersabda,

الولد سيّد سبع سنين وعبد سبع سنين ووزير سبع سنين

Artinya: Anak adalah tuan selama tujuh tahun, budak selama tujuh tahun, dan menteri selama tujuh tahun. [3]

Amirul Mukminin Ali a.s. berkata,

يرخى الصبي سبعا ويؤدب سبعا ويستخدم سبعا

Artinya: Anak dibiarkan melakukan apa saja selama tujuh tahun, dihukum jika melakukan kesalahan, dan diperbantukan selama tujuh tahun. [4]

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,

دع ابنك يلعب سبع سنين ويؤدب سبعا والزمه نفسك سبعا

Artinya: Biarkan anakmu bermain sepuasnya selama tujuh tahun, didiklah ia selama tujuh tahun, dan jangan pisahkan dirinya darimu selama tujuh tahun. [5]

Memang, mendidik anak di masa ini sangat sulit sehingga diperlukan usaha dan keuletan yang lebih besar dari orang tua dalam mendidik, menjaga dan mengontrol setiap gerak-gerik anak, termasuk pola berpikir, perasaan, dan pelajaran sekolahnya. Selain itu, ayah dan ibu harus memenuhi semua keperluannya yang beraneka ragam. Anak pada masa ini tengah membutuhkan pengarahan intensif dari orang tuanya, juga bimbingan mereka dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan dan liku-liku ini.

Berikut ini kami kemukakan beberapa hal penting yang berhubungan dengan pendidikan anak di fase ini.

1. Pendidikan Ekstra Ketat

Mendidik anak dengan baik dan benar dan mengajarinya budi pekerti yang luhur merupakan tugas dan tanggung jawab yang berada di pundak ayah dan ibu. Di lain pihak, adalah hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang benar tersebut. Pada fase ini, anak sangat memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari orang tuanya. Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu dan tenaga yang lebih besar.

Imam Ali bin Al-Husain a.s. berkata,

وأمّا حقّ ولدك … إنك مسؤول عمّا وليته من حسن الأدب و الدلالة على ربه والمعونة له على طاعته فيك وفي نفسه فمثاب على ذلك ومعاقبفاعمل في أمره عمل المتزين بحسن أثره عليه

في عاجل الدنيا المعذر إلى ربه فيما بينك وبينه بحسن القيام عليه والأخذ له منه

Artinya: Hak anakmu adalah…engkau bertanggung jawab untuk mengajarkan kepadanya akhlaq karimah, mengenalkan kepada Tuhan dan membantunya untuk patuh kepadamu. Tugas berat ini besar sekali pahalanya dan sebaliknya, siksaan menunggu jika melalaikannya. Karena itu, lakukanlah apa yang bisa membuatmu berbangga atasnya di masa depan dan terbebas dari hukuman Tuhan atas tanggung jawab yang Dia berikan kepadamu, dengan mendidiknya secara baik dan benar.[6]

Karena fase ini merupakan fase yang sulit dalam kehidupan, ayah dan ibu harus mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah SWT agar mendapat taufik dalam mengemban tugas mulia dan besar ini.

Imam Ali bin Al-Husain a.s. mengatakan,

اللهم ومنّ عليّ ببقاء ولدي … وربّ لي صغيرهم .. وأصحّ لي ابدانهم وأديانهم وأخلاقهم … واجعلهم ابرارا اتقياء بصراء … وأعني على تربيتهم وتأديبهم وبرهم … واعذني

وذريتي من الشيطان الرجيم

Artinya: Ya Allah lindungilah anak-anakku dan keturunanku….Didiklah mereka yang masih kecil…. Sehatkanlah badan mereka dan selamatkanlah agama dan akhlak mereka….Jadikanlah mereka orang-orang yang bertakwa dan berpengetahuan….Bantulah aku dalam mendidik mereka dengan benar….Lindungilah aku dan keturunanku dari godaan syetan yang terkutuk. [7]

Banyak riwayat yang menekankan kewajiban mendidik anak dengan baik dan menanamkan akhlak yang mulia kepadanya.

Rasulullah SAWW bersabda,

أكرموا أولادكم واحسنوا آدابهم

Artinya: Hormatilah anak-anak kalian dan perbaikilah perangainya.[8]

Imam Amirul Mukminin Ali a.s. berkata,

إن للولد على الوالد حقا , وإن للوالد على الولد حقا , فحق الوالد على الولد أن يطيعه في كل شيء , إلا في معصية الله سبحانه , وحق الولد على الوالد أن يحسن اسمه , ويحسن

أدبه , ويعلمه القرآن

Artinya: Anak memiliki hak atas ayahnya dan ayah juga memiliki hak atas anaknya. Hak ayah atas anak adalah bahwa anak wajib untuk patuh dan taat kepadanya dalam setiap hal, kecuali yang berhubungan dengan maksiat. Hak anak atas ayahnya adalah ayah harus memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan mengajarinya Al-Qur’an.[9]

Pendidikan di fase ini lebih penting pada fase-fase lainnya karena anak di usia ini relatif masih bersih dan belum tercemari sehingga mau mendengar dan menerima semua nasehat dan bimbingan. Karena itu, orang tua harus pandai-pandai mempergunakan kesempatan ini untuk mendidiknya dengan benar.

Dalam wasiatnya kepada putranya, Al-Hasan a.s., Imam Ali a.s. berkata,

وإنما قلب الحدث كالأرض الخالية ما ألقي فيها من شيء قبلته فبادرتك بالأدب قبل أن يقسو قلبك , ويشتغل لبّك , لتستقبل بجد رأيك من الأمر ما قد كفاك أهل التجارب بغيته

وتجربته

Artinya: …Sesungguhnya hati anak kecil bagaikan tanah kosong yang menerima apa saja yang dilemparkan kepadanya. Karena itu, aku cepat-cepat menyemaikan wasiatku ini kepadamu sebelum hatimu mengeras dan pikiranmu disibukkan oleh hal-hal lain agar engkau memanfaatkan pengalaman mereka yang berpengalaman dalam menentukan sikap dalam hidupmu. [10]

Beliau juga mengatakan,

علموا أنفسكم وأهليكم الخير وادبوهم

Artinya: Ajarilah diri dan keluargamu tentang kebajikan dan didiklah mereka dengan benar. [11]

Perlu dicatat, pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep Islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya menjadi poros segala masalah kehidupan.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,

اعملوا الخير وذكّروا به أهليكم وأدّبوهم على طاعة الله

Artinya: Berbuatlah kebajikan dan ajaklah keluargamu untuk melakukannya pula serta didiklah mereka untuk taat kepada Allah. [12]

Beliau juga berkata,

تأمرهم بما أمر الله به وتنهاهم عما نهاهم الله عنه

Artinya: Perintahkanlah mereka dengan hal-hal yang Allah perintahkan dan laranglah mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.[13]

Hadis ini menjadi pedoman umum dan menyeluruh; menjadi dasar metode pendidikan yang sehat di setiap segi kehidupan pribadi dan sosial serta pembentukan watak dan kejiwaan. Jika kedua orang tua mampu menerapkan metode pendidikan ini dengan tepat, dapat dipastikan bahwa si anak kelak akan menjadi anggota masyarakat yang baik.

Sejarah mencatat bahwa Ahlul Bait a.s. senantiasa menerapkan metode yang tepat dalam mendidik anak-anak mereka. Anak-anak mereka dipersiapkan dan dididik secara sempurna sehingga ketika dewasa mereka memiliki akhlak mulia serta menjadi teladan dalam segala hal.

Ali a.s., contohnya. Beliau melewati masa kecilnya di rumah Rasulullah SAWW semasa beliau belum dilantik sebagai nabi. Ketika Rasulullah berdakwah, Ali adalah orang yang pertama kali menyatakan keimanan. Keimanan beliau itu betul-betul tulus yang ditunjukkan dengan ketaatan mutlak terhadap Allah dan rasul-Nya.

Ketika dewasa, beliau menjadi teladan tanpa tanding dalam hal keberanian, pengorbanan, kedermawanan, kerendahhatian, kejujuran, dan seluruh keutamaan akhlak lainnya. Pada gilirannya, Imam Ali kemudian mendidik anak-anaknya dengan cara yang serupa sehingga mengantarkan mereka sampai ke puncak kesempurnaan akhlak. Demikian juga yang terjadi pada para imam berikutnya.

Beban yang dipikul oleh orang tua dalam mendidik anak akan makin berat seandainya masyarakat tempat mereka tinggal makin jauh dari Islam. Atau, bisa jadi secara realitas masyarakatnya beragama Islam, tetapi bentuk kehidupan yang Islami tidak termanifestasikan di dalamnya. Penyebabnya bermacam-macam, seperti pengaruh tradisi dan sikap konservatif, atau pengaruh kerancuan sistem pendidikan anak-anak, yang terutama, biasa kita dapatkan dari media massa seperti radio, televisi, film, dan lain-lain.

Perlu dicatat juga bahwa pendidikan jasmani anak termasuk ke dalam bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan jiwa, mental, dan kepribadian. Bahkan faktor ini bisa disebut sangat penting sehingga Rasulullah sendiri bersabda,

علموا أولادكم السباحة والرماية

Artinya: Ajarilah anakmu berenang dan memanah.[14]

Imam Musa Al-Kazhim a.s. memasukkan latihan anak-anak dalam mengerjakan hal-hal yang sulit sebagai hal yang dianjurkan. Beliau berkata,

تستحب عرامة الصبي في صغره ليكون حليما في كبره

Artinya : Sebaiknya, latihlah fisik anak semasa kecil supaya dia menjadi orang sabar ketika sudah besar.[15]

Di kalangan ilmuwan psikologi dan pendidikan sendiri sudah lama diketahui bahwa kesehatan badan sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa.[16]

2. Dorongan untuk Belajar

Pada fase ini, belajar adalah hal yang penting bagi anak-anak. Inilah saat yang tepat untuk memberikan dorongan belajar kepada mereka, mematangkan kekuatan akal, serta mewujudkan kecintaan hakiki mereka terhadap penguasaan ilmu.[17]

Pada masa ini, anak-anak memiliki potensi yang kuat untuk menghapal apapun yang sampai ke pendengarannya. Karena itu, proses belajar menjadi sangat penting untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan membuatnya tetap melekat dalam ingatan anak. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda,

مثل الذي يتعلم في صغره كالنقش في الحجر

Artinya: Orang yang belajar di waktu kecil itu ibarat melukis di atas batu.[18]

Dalam kesempatan lain, beliau juga bersabda,

حفظ الغلام كالوسم على الحجر

Artinya: Memori anak-anak itu seperti tanda terpahat di batu.[19]

Demikian pentingnya pendidikan anak-anak sampai-sampai Rasulullah secara khusus berwasiat kepada para orang tua,

مروا أولادكم بطلب العلم

Artinya: Perintahlah anakmu untuk mencari ilmu.[20]

Bahkan, menurut Rasulullah, pengajaran anak-anak adalah salah satu pintu rahmat Allah bagi orang tua mereka. Beliau bersabda,

رحم الله عبدا أعان ولده على بره بالإحسان إليه , والتألف له وتعليمه وتأديبه

Artinya: Rahmat Allah semoga tercurah bagi seorang hamba yang menunjukkan kepada anaknya bagaimana cara berbuat baik kepada orang tua; yang mengajarkan kelembutan, pendidikan, dan sopan santun.[21]

Pendidikan adalah hak asasi seorang anak sebagaimana sabda Imam Ali Zainal Abidin a.s.,

وأما حق الصغير فرحمته وتثقيفه وتعليمه

Artinya: Seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang, pengenalan pada etika dan budaya, dan pengajaran.[22]

Berkaitan dengan hal ini juga, Rasulullah bersabda,

من حق الولد على والده ثلاثة : يحسن اسمه ويعلمه الكتابة , ويزوجه إذا بلغ

Artinya: Ada tiga hal yang termasuk ke dalam hak-hak anak yang harus ditunaikan orang tuanya, yaitu membaguskan namanya, mengajarinya penulisan, dan menikahkannya jika sudah dewasa.[23]

Dewasa ini, fungsi pengajaran baca tulis sudah dipegang oleh lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah. Tetapi, itu tidaklah berarti bahwa peran orang tua tidak lagi diperlukan. Dalam kondisi seperti ini, harus ada kerja sama di antara orang tua dan sekolah.

Harus juga diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan di sini tentulah tidak sebatas pendidikan baca tulis. Segala hal yang memungkinkan untuk diajarkan kepada anak-anak, harus diajarkan. Jadi, pendidikan di sini meliputi seluruh bidang ilmu seperti kedokteran, humaniora, sastra, sejarah, filsafat, dan lain-lain. Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pentingnya aspek pendidikan ruhani dan ibadah. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda tentang pentingnya pengajaran Al-Quran,

ومن علمه القرآن دعي بالابوين فكسيا حلّتين تضيء من نورهما وجوه أهل الجنة

Artinya: Orang yang mengajarkan Al-Qur’an itu kelak akan dipanggil dari dua pintu. Dia akan mengenakan dua pakaian yang memancarkan dua cahaya. Dari kedua cahaya itu tampaklah wajah penghuni surga.[24]

Maksud dari pengajaran Al-Qur’an di sini adalah pengajaran yang komprehensif, dimulai dari pengajaran membaca secara benar sesuai dengan kaidah bahasanya. Berikutnya, si anak harus didorong untuk menghapal beberapa ayat dengan memperhatikan tingkat kemampuan akal seorang anak kecil. Setelah itu, mereka juga perlu diajari tafsir beberapa surat yang relevan dengan kebutuhan anak, terutama yang berkaitan dengan aqidah dan akhlak, atau juga hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum syar’iy (ibadah dan muamalah).

Berikutnya, pada fase inilah si anak harus mulai diperkenalkan pada tata cara beribadah. Yang pertama kali harus diajarkan adalah tata cara wudhu dan shalat.

Imam Muhamad Al-Baqir a.s. berkata,

حتى يتم له سبع سنين فإذا تم له سبع سنين قيل له اغسل وجهك وكفيك فإذا غسلهما قيل له صلّ ثم يترك , حتى يتم له تسع سنين , فإذا تمت له تسع سنين علّم الوضوء

Artinya: …Ketika anak sudah berusia tujuh tahun, katakanlah kepadanya, “Basuhlah wajah dan tanganmu!” Jika sudah dibasuh, katakanlah, “Shalatlah!” Kemudian biarkan mereka sampai usia sembilan tahun. Barulah pada saat itu mereka diajari wudhu secara benar….[25]

Anak-anak juga perlu diajari hadis sebagai langkah preventif terhadap pengaruh ajaran sesat. Imam Shadiq a.s. dalam hal ini berkata,

بادروا أولادكم بالحديث قبل أن يسبقكم إليه المرجئة

Artinya: Ajarilah anak-anakmu hadis sebelum mereka terpengaruh faham Murji’ah.[26]

Imam Hasan a.s. menjelaskan tentang hal-hal yang diterimanya sebagai ajaran dari Rasulullah SAWW dengan mengatakan,

علمني جدي رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر … اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيم عافيت وتولني فيمن توليت

Artinya: Kakekku, Rasulullah SAWW mengajariku kata-kata yang kini biasa aku ucapkan tiap-tiap qunut witir “Allahummahdini fiman hadayta, wa ‘afini fiman ‘afayta, watawallani fiman tawallayta….” [27]

Orang tua juga harus memperhatikan aspek pengajaran berbagai hal yang berguna bagi kehidupan anak-anak jika sudah dewasa kelak. Riwayat berikut ini menceritakan bagaimana Imam Ali a.s. mengajari anaknya, Imam Hasan a.s. berpidato.

يا بنيّ قم فأخطب حتى اسمع كلامك , قال : يا أبتاه كيف أخطب وأنا أنظر إلى وجهك استحيي منك

Artinya: (Imam Ali berkata), “Wahai anakku, bangunlah untuk berpidato biar aku dengar pidatomu!” Imam Hasan berkata, “Bagaimana mungkin aku berpidato di hadapanmu, wahai ayahku, pada saat aku sedang menatap wajahmu? Aku pasti malu” [28]

Kemudian diriwayatkan bahwa Imam Ali mengum-pulkan sanak-saudaranya supaya mereka bersama-sama mendengarkan pidato Imam Hasan.

Rasulullah juga memberikan dorongan kepada pendidik, orang tua, dan anak dalam kegiatan belajar-mengajar melalui sabdanya berikut ini.

إن المعلم إذا قال للصبي : بسم الله , كتب الله له وللصبي ولوالديه برائة من النار

Artinya: Jika seorang guru mengajarkan muridnya lafaz bismillah, Allah akan menetapkan ketentuan terbebas dari api neraka baginya, bagi si anak itu, serta bagi orang tuanya.[29]

Imam Ali a.s. pernah mendorong orang-orang agar mereka mengajari anak-anak tentang syair-syair Abu Thalib. Dirawayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. berkata,

كان أمير المؤمنين عليه السلام يعجبه أن يروي شعر أبي طالب وأن يدوّن , وقال : تعلموه وعلموه أولادكم فانه كان على دين الله وفيه علم كثير

Artinya: Dulu, Imam Ali a.s. sangat tertarik dengan puisi Abu Thalib serta susunannya. Beliau berkata, “Pelajarilah dan ajarkanlah buat anak-anakmu. Sesungguhnya beliau berada pada agama Allah dan memiliki ilmu yang amat banyak.” [30]

3. Melatih Anak untuk Patuh

Sikap patuh itu sebenarnya mudah dilakukan. Namun, untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan, diperlukan latihan. Anak perlu bantuan khusus dari orang tua dalam hal melatih diri bersikap patuh sehingga berbagai macam kesulitan yang mungkin ada pada kepatuhan itu bisa diminimalisasi. Atau, lebih jauh lagi, si anak tidak merasa asing dengan kepatuhan dan mampu mengadaptasikannya dengan watak dan budi pekertinya sehingga kepatuhan itu menjadi kebiasaan sehari-hari. Diharapkan, kelak si anak akan melaksanakan berbagai macam bentuk kepatuhan dengan gembira, tanpa desakan, keterpaksaan, atau sikap malas.

Metode yang ditawarkan Islam dalam melatih kepatuhan anak sangat memperhatikan kemampuan akal dan fisik si anak. Sebagai contoh, dalam hal latihan melaksanakan shalat, Rasulullah SAWW bersabda,

مروا صبيانكم بالصلاة إذا بلغوا سبع سنين واضربوهم على تركها إذا بلغوا تسعا

Artinya: Biasakanlah anak-anak untuk shalat ketika usianya mencapai tujuh tahun. Jika sampai usia sembilan tahun si anak masih meninggalkan shalat, pukullah.[31]

Pada riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

مروا صبيانكم بالصلاة إذا بلغوا سبع سنين واضربوهم إذا كانوا أبناء تسع سنين

Artinya: Biasakanlah anak-anak untuk shalat kalau usianya mencapai tujuh tahun. Jika sampai usia sembilan tahun, pukullah.[32]

Memukul yang dimaksudkan dalam hadis ini bisa dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu dalam bentuk pukulan fisik atau bisa juga berarti penunjukan sikap marah. Pukulan memang bisa berdampak negatif kepada anak. Akan tetapi, dampaknya itu akan segera hilang; dan itu artinya dampaknya ini sama sekali tidak berarti apa-apa jika dibandingkan kepentingan yang lebih besar yaitu pelatihan shalat.

Imam Ali a.s. berskata,

أدّب صغار بيتك بلسانك على الصلاة والطهور , فإذا بلغوا عشر سنين فاضرب ولا تجاوز ثلاثا

Artinya: Perintahkan anak-anak di rumahmu untuk melakukan shalat dan bersuci. Jika (tidak mau sementara) usianya mencapai sepuluh, pukullah, tetapi jangan lebih dari tiga kali.[33]

Metode pelatihan shalat yang terbaik adalah dengan memperhatikan tingkat kemampuan anak-anak. Artinya, mereka jangan sampai dibebani porsi yang sangat berat karena itu akan menyebabkan ketidaksenangan terhadap shalat serta akan membangun dinding jiwa yang memisahkannya dengan shalat.

Diriwayatkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin a.s. menyuruh anak-anak untuk melaksanakan shalat zuhur dan asar di satu waktu, demikian juga dengan shalat maghrib dan isya. Ketika hal tersebut ditanyakan kepadanya, beliau menjawab,

هو أخف عليهم وأجدر ان يسارعوا اليها ولا يضيعوها ولا يناموا عنها ولا يشتغلوا

Artinya: Yang demikian itu lebih ringan dan lebih baik bagi mereka sehingga mau segera melakukannya, tidak melalaikannya, tidak tidur, serta tidak sibuk mengerjakan yang lain.[34]

Imam kemudian berkata,

إذا أطاقوا فلا تؤخرونها عن المكتوبة

Artinya: Jika mereka mampu, jangan tunda-tunda (menyuruh mereka melakukan) kewajiban.[35]

Dengan demikian, waktu anak-anak itu tidak terambil kecuali untuk shalat-shalat yang diwajibkan. Pada tahap pertama, anak-anak hanya boleh dilatih untuk mengerjakan shalat-shalat wajib. Jika sudah terbiasa dan tumbuh rasa senang, seiring dengan pertambahan usia, mereka lama-kelamaan akan terbiasa pula mengerjakan yang shalat-shalat sunnah.

Berkaitan dengan ibadah puasa, anak-anak harus sudah dilatih mengerjakannya pada usia tujuh tahun. Ketika usia mereka bertambah, porsi latihan bisa ditambah dengan memperhatikan kesiapan mental dan batas kemampuan fisik. Imam Shadiq a.s. bersabda,

إنا نأمر صبياننا بالصيام إذا كانوا بني سبع سنين بما أطاقوا من صيام اليوم , فإن كان إلى نصف النهار أو أكثر من ذلك أو أقل , فإذا غلبهم العطش والغرث أفطروا حتى يتعودوا

الصوم ويطيقوه فمروا صبيانكم إذا كانوا أبناء تسع سنين بما أطاقوا من صيام فإذا غلبهم العطش أفطروا

Artinya: Kami biasa melatih anak-anak berpuasa ketika usia mereka mencapai tujuh tahun yang disesuaikan dengan kemampuan, meskipun mereka hanya berpuasa setengah hari, kurang atau lebihnya. Jika mereka kehausan atau kelaparan, kami suruh mereka berbuka. Itu supaya mereka terbiasa dan kuat melakukan puasa. Karena itu, jika anak-anakmu mencapai usia sembilan tahun, suruhlah berlatih berpuasa. Jika kehausan, suruhlah berbuka! [36]

Diriwayatkan, seseorang pernah bertanya kepada Imam Shadiq a.s. mengenai kapan seorang anak itu mulai berpuasa. Imam menjawab,

أذا قوى على الصيام

Artinya: Kapan saja ketika dia dianggap kuat berpuasa.[37]

Jika seorang anak sudah melatih diri melakukan puasa pada usia-usia awal, bisa dipastikan bahwa dia tidak akan lagi menganggap puasa sebagai beban tugas yang memberatkannya.

Ada riwayat lain dari Muawiyah bin Wahab. Dia bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang sejak kapan seorang anak laki-laki wajib melaksanakan puasa. Beliau menjawab,

ما بينه وبين خمس عشرة سنة وأربع عشرة سنة فإن هو صام قبل ذلك فدعه , ولقد صام ابني فلان قبل ذلك فتركته

Artinya: Jika usianya mencapai sekitar empat belas atau lima belas tahun. Jika dia sudah berpuasa sebelum usia-usia itu, biarkanlah! Anakku sendiri telah berpuasa sebelum usia itu, tapi aku biarkan.[38]

Jenis latihan ketaatan yang lainnya adalah berkenaan dengan ibadah haji. Di-sunnah-kan untuk melatih anak-anak melakukan ibadah ini. Diriwayatkan bahwa salah seorang

Imam (mungkin Imam Shadiq atau Imam Baqir) berkata,

إذا حجّ الرجل بابنه وهو صغير فإنه يأمره أن يلبي ويفرض الحج فإن لم يحسن أن يلبي لبى عنه ويطاف به ويصلي عنه … يذبح عن الصغار ويصوم الكبار ويتقى عليهم ما يتقى على

المحرم من الثياب والطيب فإن قتل صيدا فعلى أبيه

Artinya: Jika seseorang melakukan ibadah haji sambil membawa anaknya, suruhlah juga anaknya itu untuk ber-talbiah (mengumandangkan lafaz labbbaik allahumma labbaik …., pen.) dan mengerjakan rukun haji yang lainnya. Jika ternyata belum bisa, niatkanlah untuk ber-talbiah, ber-thawaf, dan shalat atas nama anaknya itu … menyembelih hewan kurban buat anak-anak; yang dewasa harus berpuasa. Mereka juga harus menjaga diri dari segala hal yang terlarang bagi orang yang berihram seperti cara berpakaian dan penggunaan parfum. Jika anak-anak membunuh binatang buruan, dendanya ditanggung ayahnya.[39]

Berkaitan dengan latihan haji ini, ada yang mempertanyakan kesiapan fisik anak dalam berihram jika musim haji jatuh pada saat udara dingin. Imam Shadiq menjawab,

ائت بهم العرج فيحرموا منها … فإن خفت عليهم فائت بهم الجحفة

Artinya: Bawalah mereka berihram di ‘Arj. Jika masih khawatir juga (dengan udara dingin), bawalah ke Juhfah.[40]

Beliau juga berkata,

انظروا من كان معكم من الصبيان فقدموه إلى الجحفة أو إلى بطن مرّ ويصنع ما يصنع بالمحرم ويطاف بهم ويرمى عنهم ومن لايجد منهم هديا فليصم عنه وليه

Artinya: Jika engkau membawa serta anak kecil ketika berihram, bawalah ke Juhfah atau ke tempat yang lebih rendah. Suruhlah mereka mengerjakan sebagaimana layaknya orang yang berihram. Ikutkan mereka dalam thawaf dan melempar jumrah. Jika mereka tidak punya uang untuk berkurban, walinya yang berpuasa buatnya.[41]

Dalam sebuah riwayat diceritakan kisah berikut ini.

وكان الإمام علي بن الحسين عليه السلام يضع السكين في يد الصبي ثم يقبض على يديه الرجل فيذبح

Artinya: Pernah Imam Ali bin Husein a.s. meletakkan pisau di tangan seorang anak kemudian tangan itu ditarik oleh seseorang untuk bersama-sama menyembelih hewan kurban.[42]

Cara melatih kepatuhan anak yang lain yang juga disunnahkan adalah dengan melatihnya berbuat kebajikan, seperti bersedekah kepada fakir miskin. Imam Ali Ar-Ridha a.s. bersabda,

مر الصبي فليتصدق بيده بالكسرة والقبضة والشيء وان قلّ , فإن كل شيء يراد به الله وان قلّ بعد أن تصدق النية فيه عظيم

Artinya: Latihlah anak-anakmu menyedekahkan uang logam atau kertas langsung tangannya, walaupun sedikit. Sesungguhnya segala sesuatu yang dikehendaki Allah, walaupun sedikit, akan sangat besar nilainya ketika sudah disedekahkan.[43]

Beliau juga berkata,

فمره أن يتصدق ولو بالكسرة من الخبز

Artinya: Latihlah anak-anakmu bersedekah walaupun dengan sepotong roti.[44]

Dampak positif lain dari latihan bersedekah adalah bahwa latihan ini bisa menjadi metode terbaik dalam mendidik mereka untuk tidak terikat kepada hal-hal yang duniawi. Rasa cinta kepada harta juga akan banyak tereduksi dari jiwa anak dan, tentu saja, hal ini juga akan menumbuhkan rasa empati kepada fakir miskin.

Tidak diragukan lagi bahwa latihan ibadah sejak kecil yang dilakukan oleh seorang anak akan menumbuhkan kebiasaan yang kelak akan dilakukan terus menerus olehnya ketika sudah dewasa. Bukti paling nyata adalah sejarah hidup Ahlul Bait a.s. Imam Hasan dulu diriwayatkan melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki sebanyak dua puluh kali.

Demikian juga dengan Imam Husein. Karena kebiasaannya, yang beliau minta dari tentara Yazid di malam terakhir peristiwa Karbala adalah kesempatan bagi dia dan sahabatnya untuk menyepi. Maka ketika malam tiba, mereka terjaga sepanjang malam untuk melakukan shalat, beristighfar, bermunajat, dan berdoa.

Imam Ali bin Husein as. sampai diberi gelar Zainal Abidin (hiasan orang-orang yang beribadah) karena demikan banyaknya beliau beribadah. Sebuah riwayat mengatakan bahwa beliau itu tidak pernah meninggalkan shalat malam, pada waktu berperjalanan atau ada di rumah.

Demikian juga dengan imam-imam Ahlul Bait yang lain. Mereka menjadi teladan paling utama dalam hal hubungan dengan Allah dan keikhlasan beribadah. Itu semua tidak lepas dari proses pembiasaan yang mereka dapatkan semasa kecil. Dengan pembiasaan itulah mereka mereka akhirnya mendapatkan rasa senang dan punya dorongan untuk melakukannya.

Karena itu, orang tua harus selalu memberikan dorongan kepada anak-anak agar membiasakan diri taat menjalankan perintah agama dengan cara yang paling efektif, mungkin dengan pemberian perhatian, pujian, atau bisa juga dengan pemberian hadiah (bisa berupa materi atau spiritual).

4. Pengawasan Anak

Pada fase ini, keberhasilan pendidikan anak juga mensyaratkan adanya pengawasan orang tua terhadap mereka. Anak-anak perlu diarahkan kepada hal-hal yang benar dan baik. Mereka juga memerlukan pengawasan dalam hal cara berpikir, serta pengembangan imajinasi dan humanisme. Tentu saja, semua bentuk pengawasan itu harus dilakukan dengan dengan cara yang benar jangan sampai membebani si anak. Dalam waktu-waktu tertentu, sebaiknya orang tua melakukannya dengan cara seakan-akan dia adalah seorang kawan yang sedang mencoba membantu si anak dari kesulitan yang ia hadapi.

Pengawasan dalam hal pergaulan anak perlu lebih ditekankan dibandingkan dengan pengawasan di rumah. Orang tua harus memilihkan kawan-kawan bermainnya. Usahakan supaya kawan-kawannya itu hanyalah yang saleh-saleh.

Terkadang, penjelasan dan nasehat tidak begitu berguna. Untuk itu, pemberian hukuman bisa menjadi cara yang efektif. Mereka juga harus dilatih untuk introspeksi dan mau menerima koreksi. Lebih jauh lagi, harus tertanam di benak mereka konsep pengawasan yang dilakukan Allah. Konsep ini sangat efektif sebagai tameng yang akan mencegah anak dari penyelewengan walaupun pengawasan dari orang tua tidak ada.

Pada dasarnya, pengawasan adalah kewajiban ayah dan ibu. Mereka berdua memiliki porsi tugas yang disesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman hidup. Karenanya, mereka berdua harus saling membantu. Akan tetapi, karena biasanya ayah lebih sering berada di luar rumah, porsi tugas pengawasan seorang ibu terhadap anaknya (baik anaknya itu laki-laki ataupun perempuan) terkadang menjadi lebih besar.

Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah bahwa jangan sampai si anak merasa tidak diacuhkan oleh orang tuanya. Kondisi pengawasan melekat harus selalu terjaga. Orang tua terkadang bisa meminta bantuan pihak-pihak lain untuk ikut mengawasi anaknya terutama dalam situasi yang di sana orang tua tidak bisa melakukannya. Dalam hal ini, mereka bisa memberikan kepercayaan kepada famili dan kawan terdekat. Demikian juga, sekolah-sekolah dan institusi tempat si anak beraktivitas sosial memiliki peran pengawasan yang sangat besar dalam pendidikan si anak agar ia tidak terjerumus ke dalam penyimpangan perilaku.

5. Pencegahan atas Perilaku Asusila

Perilaku asusila termasuk di antara perilaku yang sangat berbahaya yang mengakibatkan berbagai krisis sosial. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah ini secara khusus dengan mengajarkan cara-cara pencegahan dan terapi seandainya perilaku itu sudah terbentuk. Di sinilah tanggung jawab dan peran orang tua harus dijalankan dengan sungguh-sungguh karena pendidikan dalam rangka menghasilkan kesucian jiwa dan kesalehan anak-anak adalah tugas terpenting mereka. Rasulullah SAWW bersabda,

من حق الولد على والده أن يحسن اسمه إذا ولد وأن يعلمه الكتابة إذا كبر , وأن يعفّ فرجه إذا أدرك

Artinya: Hal-hal berikut ini adalah termasuk hak yang dimiliki seorang anak atas ayahnya, yaitu bahwa ayahnya memberinya nama yang bagus ketika lahir, mengajarkan kepadanya baca tulis ketika beranjak besar, serta menyucikan kehormatannya dari perilaku asusila ketika sudah mengenal (masalah seksual–pen.)[45]

Pendidikan yang berkaitan dengan penjagaan kesucian ini dilakukan dengan melakukan langkah-langkah pencegahan atas gejala asusila. Langkah-langkah ini harus dimulai sejak si anak belum mencapai usia baligh.

Langkah pertama adalah menjauhkan anak-anak dari segala sesuatu yang bisa mengobarkan hasrat seksual. Mereka juga harus dijauhkan dari pengetahuan yang merangsang imajinasi.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah adalah dengan memisahkan tempat tidur anak-anak. Imam Ali a.s. berkata,

وفرّقوا بينهم في المضاجع إذا كانوا ابناء عشر سنين

Artinya: Kalau anak-anakmu itu sudah mencapai usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidur mereka.[47]

Imam Baqir a.s. berkata,

يفرّق بين الغلمان والنساء في المضاجع إذا بلغوا عشر سنين

Artinya: Seandainya anak-anak sudah berusia sepuluh tahun, tempat tidur anak laki-laki harus dipisahkan dari tempat tidur anak perempuan.

Rasulullah SAWW juga bersabda,

الصبي والصبي , والصبي والصبية , والصبية والصبية يفرّق بينهم في المضاجع لعشر سنين

Artinya: Ketika sudah mencapai usia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur anak-anak, baik antara anak laki-laki, laki-laki dan perempuan, ataupun antara anak-anak perempuan.[48]

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq a.s. melarang laki-laki untuk mendekati seorang anak perempuan telah berusia enam tahun, bila ia bukan muhrimnya. Beliau berkata,

إذا أتى عليها ست سنين فلا تضعها على حجرك

Artinya: Jika anak perempuan sudah mencapai usia enam tahun, jangan biarkan ia di dalam kamarmu.[49]

Beliau juga melarang untuk menciumnya. Beliau berkata,

إذا بلغت الجارية الحرّة ست سنين فلا ينبغي لك أن تقبلها

Artinya: Jika ada seorang anak perempuan yang telah mencapai usia enam tahun, janganlah engkau menciuminya! [50]

Tentu saja, yang dimaksud di sini adalah larangan ciuman dari orang-orang lain, bukan dari keluarga sendiri seperti ayah, ibu, paman, dan semua famili yang termasuk ke dalam muhrim. Karena itu, larangan ini juga berlaku buat anak laki-laki. Dalam hal ini Rasulullah bersabda,

والغلام لا يقبّل المرأة إذا جاز سبع سنين

Artinya: Jika seorang anak laki-laki telah berusia tujuh tahun, jangan biarkan ia mencium perempuan.[51]

Jika perilaku tindakan asusila ini telah terjadi, orang tua bisa saja menjatuhkan hukuman sampai batas yang kira-kira membuat si anak jera dan tidak mengulanginya. Imam Shadiq pernah ditanya tentang hukuman apa yang harus diberikan kepada seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang berzina dengan seorang perempuan, beliau menjawab,

يجلد الغلام دون الحدّ

Artinya: Anak itu harus dicambuk dibawah had (tidak sampai batas hukuman sebagaimana bagi orang dewasa– pen.).[52]

Kita juga harus betul-betul mengawasi anak-anak terhadap segala hal yang memungkinkan terciptanya gejolak jiwa. Dewasa ini, hal-hal tersebut akan sangat mungkin terjadi karena mereka dikepung dengan aneka cerita, gambar, film, dan segala hal yang berpotensi merusak kesucian jiwa. Karena itu, sebagai bentuk pencegahan atas kemungkinan terjadinya perilaku asusila, kita harus mengawasi mereka manakala sendirian ataupun ketika mereka bersama orang lain.

6. Menciptakan Hubungan dengan Teladan yang Baik

Di akhir periode ini, anak-anak akan punya kecenderungan yang sangat kuat untuk meniru apapun yang ada pada diri kebanyakan orang terutama mereka yang menjadi lingkungan baginya. Para psikolog menamai sebuah gejala kejiwaan dari seorang anak pada usia ini yang selalu ingin meniru orang lain secara fisik dengan istilah “peniruan”. Keinginan ini sangat cepat timbulnya dan akan cepat juga berhenti ketika sumber peniruan itu tidak ada.

Ada pula jenis peniruan yang bersifat nonfisik. Prosesnya berlangsung perlahan tetapi pengaruhnya sangat kuat menempel pada akal dan jiwa.[53] Contoh konkretnya adalah perilaku taqlid (patuh) dan peneladanan kepada pribadi-pribadi agung. Kepribadian mereka akan sangat kuat mempengaruhi anak-anak muda. Anak-anak muda mempunyai kecenderungan untuk merasa tertarik, meneladani dan menghormati orang-orang yang mulia, yang memiliki sifat-sifat keteladanan, dan yang memiliki pengaruh kuat pada masyarakat, seperti para pejabat, tokoh, para juara, orang-orang sukses, serta guru sekolah dan ustadz madrasah.[54]

Para psikolog berpendapat bahwa pada dalam diri setiap manusia terdapat kebutuhan untuk memiliki idola.[55] Kebutuhan ini sangat signifikan. Dalam pandangan para psikolog itu, kepribadian ideal yang menjadi idola bagi tiap manusia itu akan sangat bermacam-macam dan bergantung kepada berbagai faktor, seperti fisik, kejiwaan, dan sosial. Idola itu sangat mungkin kemudian akan diejawantahkan dalam paradigma dan cita-cita hidupnya.

Dalam pengertian seperti ini, tentulah idola akan menjadi faktor yang sangat penting bagi manusia, terutama anak-anak yang berada pada akhir-akhir fase remaja ini. Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa idola ini, meskipun tidak beranjak dari sekedar konsep, tidak menemui realitasnya, atau tidak sampai membentuk paradigma serta cita-cita hidup, ia akan tetap tinggal dalam benak. Karena itu, si anak tetap memerlukan contoh dan teladan dalam kehidupannya. Dalam hal ini, idola terbaik tentulah pribadi-pribadi agung yang bisa mereka dapatkan dalam diri orang-orang terdahulu.[56]

Mereka adalah para nabi, Ahlul Bait Rasulullah, sahabat dan tabi’in yang shalih, serta para ulama terdahulu. Merekalah teladan dalam berbagai keutamaan sifat serta kehormatan jiwa. Salah satu bukti nilai keteladanan yang mereka miliki adalah bahwa eksistensi mereka telah banyak mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat sepanjang sejarah, sampai-sampai keberadaan mereka itu sedemikian diagungkan dan disucikan.

Kehidupan orang-orang saleh itu penuh dengan nilai-nilai kebajikan yang sangat diperlukan manusia sebagai pegangan. Peneladanan anak-anak kepada mereka inilah yang akan membentuk kepribadian mulia, mengikuti apa yang mereka teladani. Jika mereka sampai kehilangan teladan, elan vital mereka akan membeku, semangat mengendur, dan mungkin saja keperluan meneladani ini akan mereka alihkan kepada pribadi-pribadi awam di lingkungan sekitarnya.

Oleh sebab itu, orang tua berkewajiban untuk mengarahkan pandangan, pikiran, dan kecenderungan anak-anak ke arah pribadi-pribadi teladan sejak Nabi Adam a.s. hingga orang-orang mulia zaman sekarang. Pada diri mereka terdapat teladan-teladan yang secara historis memiliki konteks yang khas, tetapi semuanya mengandung nilai kemuliaan, kebajikan, dan kepemimpinan dalam hidup.

Keteladanan yang suci tersebut memiliki pengaruh dan tempat yang mulia di seluruh sudut kehidupan anak-anak. Dampak dari peneladanan itu akan termanifestasikan dalam kepribadian, mental, logika, dan paradigma hidup mereka. Pada gilirannya, hal ini akan mendorong si anak untuk mencapai posisi tinggi sebagaimana yang telah dicapai oleh orang-orang saleh yang mereka teladani.[alhassanain]

Catatan Kaki:

________________________________________

[1] Hadits ila Al-Ummahat:207

[2] ‘Ilm Al-Nafs:385

[3] Makarim Al-Akhlaq:222

[4]Ibid:223

[5]Ibid:222

[6]Tuhaf Al-‘Uqul:189

[7]Al-Shahifah Al-Sajjadiyyah Al-Jami’ah:128-129

[8]Mustadrak Al-Wasail 2:625

[9]Nahj Al-Balaghah, dengan catatan kaki Dr. Subhi Shaleh:546

[10]Nahj Al-Balaghah:393

[11]Kanz Al-‘Ummal 2:539, hadis ke-4675

[12]Mustadrak Al-Wasail 2:362

[13]Bihar Al-Anwar 100:74

[14]Al-Kafi 6: 46

[15]Ibid:51

[16]Jamil Shulaiba, Ilmu Al-Nafs:383

[17]Hadits ila Ummahat: 217

[18]Kanzul ‘Umal 10:294, hadis 29336

[19]Ibid:238, hadis 29258

[20]Ibid:854, hadis 45953

[21]Mustadrak Al- Wasail 2:626

[22]Tuhaf Al-Uqul:193

[23]Makarim Al-Akhlaq:220

[24]Al-Kafi 2:49

[25]Man Laa Yahdhuruhu Al -Faqih 1: 182

[26]Al -Kafi 2:47

[27]Mukhtasar Tarikh Dimasyq 7:5

[28]Bihar Al-Anwar 43:351

[29]Mustadrak Al-Wasail 2:625

[30]Ibid

[31]Ibid 2:624

[32]Bihar Al-Anwar 101:98

[33]Tanbih Al-Khawatir:390

[34]Mustadrak Al-Wasail 2:624

[35]Ibid

[36]Al-Kafi 4:124

[37]Ibid 4:125

[38]Ibid

[39]Ibid 4:303

[40]Ibid 4:304

[41]Ibid

[42]Ibid

[43]Al-Wasail 9:376

[44]Ibid

[45]Mustadrak Al-Wasail 2:626

[46]Wasail Al-Syiah 20:133

[47]Mustadrak Al-Wasail 2:558

[48]Wasail Al-Syiah 20:231

[49]Ibid 20:229

[50]Ibid 20: 230

[51]Ibid 20:230

[52]Makarim Al-Akhlaq: 320

[53]’Ilm Al-Ijtima’iy: 86

[54]Ibid: 140

[55]Jamil Shaliba, ‘Ilm An-Nafs : 728

[56]Ilm Al-Ijtima’: 146

Iklan

Shalat Angkat Manusia Menembus Ruang Tanpa Batas, Jangan lalaikan Shalatmu Jadikanlah rutinitas menjadi sebuah kerinduan…

Kalangan agamis berkeyakinan bahwa hanya Allah yang pantas dipuji dan disembah. Menurut mereka, Allah Swt melimpahkan kemuliaan dan ketenteraman kepada para hambanya. Dari satu ayat ke ayat lain dalam al-Quran, manusia selalu diajak menyembah Allah Swt. Bertasbih dapat mengangkat manusia menembus ruang tanpa batas dan membuka horizon yang lebih tinggi. Shalat merupakan menifestasi terindah penghambaan manusia kepada Allah Swt. Dalam surat al-‘Araf ayat 205 dan 206 disebutkan, “Dan sebuah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka men-tasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.”

Dalam kesempatan kali ini, kami akan membawakan kisah kerinduaan perempuan suci Sayidah Maryam akan ibadah kepada Allah Swt. Sayidah Maryam, ibu Nabi Isa as, menyadari bahwa umurnya tidak lagi berlanjut lama. Sayidah Maryam menyibukkan dirinya beribadah kepada Allah Swt, yang disaksikan malaikat maut. Tiba saatnya, beliau meninggalkan dunia menuju kehidupan abadi. Malaikat pencabut nyawa dengan hormat, meminta izin kepada Sayidah Maryam untuk mencabut nyawanya.

Sayidah Maryam, Hidup Untuk Shalat

Sayidah Maryam adalah sosok perempuan suci dan mulia. Beliau mempunyai derajat luar biasa di hadapan Allah Swt, hingga pada tahap kenikmatan surga akan dikirimkan oleh Allah Swt saat diinginkannnya. Dalam sejarah disebutkan, para malaikat saat memberikan kabar gembira kepada Sayidah Maryam, mengatakan, “Kamu dipilih oleh Allah Swt untuk melahirkan seorang anak suci dan ilahi.” Surat Ali Imran ayat 42 menyebutkan, “Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku.”

Sayidah Maryam dalam menjawab permohonan malaikat maut untuk mencabut nyawanya, meminta kesempatan untuk diizinkan bersujud kepada Allah Swt sebelum dicabut nyawanya. Melalui permintaan tersebut, Sayidah Maryam menunjukkan penghambaan dirinya di penghujung umurnya. Malaikat pencabut nyawa pun mengabulkan permintaannya. Sayidah Maryam pun bersujud merendah di hadapan Allah Swt. Saat itu pula, perempuan suci itu dicabut nyawanya dan berserah diri kepada Allah Swt.

Nabi Isa as di samping Ibunya memanggil-manggilnya, tapi tidak ada sahutan yang keluar dari mulut suci ibunya. Nabi Isa as dirudung duka yang luar biasa atas kepergian ibunya. Beliau sangat mencintai ibunya yang juga pembelanya. Nabi Isa as yang dapat menghidupkan orang-orang yang mati atas izin Allah Swt, kembali memanggil ibunya. Sayidah Maryam dengan izin Allah Swt, dapat kembali hidup. Nabi Isa as dalam kondisi meneteskan air mata karena diliputi rasa sedih, bertanya kepada ibunya, “Apakah engkau tidak ingin kembali ke dunia ini?” Sayidah Maryam merasa iba melihat putranya yang terus meneteskan air mata, dan berkata, “Ya, aku ingin kembali ke dunia ini untuk shalat di malam yang sangat dingin pada musim dingin dan puasa di hari yang sangat panas pada musim panas.”

Saat itu, Sayidah Maryam memandang putranya dan berkata, “Anakku, dunia ini sangat menakutkan.” Nabi Isa as menyaksikan kerinduan Ibunya untuk bertemu dengan Allah Swt. Meski diliputi rasa duka, Nabi Isa pun harus merelakan kepergian ibunya yang sudah merindukan kekasihnya, Allah Swt. Sayidah Maryam kembali menutup matanya dan meninggalkan dunia yang kelam ini untuk selamanya.

Shalat Obat di Kala Sulit

Masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai kendala sosial seperti krisis mental dan berbagai kejahatan. Tekanan jiwa dan krisis sosial adalah di antara fenomena menonjol di dunia modern ini. Sebuah riset mengenai aksi bunuh diri di AS menunjukkan bahwa 72 persen kasus bunuh diri terjadi karena stres, 13 persen karena candu alkoholik, delapan persen karena penyakit-penyakit jiwa dan tujuh persen karena berbagai masalah lainnya. Selain itu, fenomena buruk yang menimpa kalangan manula baik laki-laki maupun perempuan adalah keterkucilan sosial.”

Para psikolog menyampaikan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan. Akan tetapi para psikolog agamis mempunyai pandangan dan cara tersendiri dalam menyembuhkan penyakit ini. Menurut para psikolog agamis, shalat sangat membantu mengurangi kendala kejiwaan. Selain itu, shalat dapat menumbuhkan harapan dan semangat hidup manusia. Kalangan manula yang agamis, berkomitmen melakukan shalat. Pandangan dunia spritual merekalah yang mendorong untuk mengoptimalkan kesempatan di masa tua dengan berdzikir dan bertaubat kepada Allah Swt. Hal inilah yang melipatgandakan harapan kalangan manula akan rahmat dan ampunan Allah Swt.

Dengan demikian, shalat dan ibadah merupakan obat penenang yang luar biasa bagi para manula dan orang-orang yang stres. Shalat sangat membantu menjaga stabilitas kejiwaan manusia dalam berbagai kondisi krisis seperti kematian orang-orang yang dicintai dan kegagalan usaha. Karena shalat, manusia akan menemukan ketenteraman sehingga ia tidak akan melakukan hal-hal yang konyol saat ditimpa musibah. Terkait hal ini, Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 45 berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Pada intinya, dua hal prinsip yang sangat efektif dalam mengatasi berbagai problema adalah sabar dan shalat. Shalat menghantarkan manusia pada kekuatan ilahi yang luar biasa. Dengan ungkapan lain, manusia yang tidak pernah meninggalkan shalat, akan menjadi tangguh dan kokoh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan musibah. Insya-Allah, kami digolongkan dari kelompok pendiri shalat yanh sebenarnya. Amin

_____________________________________________________________________________________________

Jangan Gampangkan Sholatmu…Jadikanlah Rutinitas Menjadi Sebuah Kerinduan…..

Orang Yang Menggampangkan Sholat
الله ما شالى علاء محمد و علي محمد
Sayyidah Fathimah Az-Zahra. pernah bertanya kepada ayahnya Rasulullah SAAW,”Wahai ayah, apa akibatnya bagi orang yang menggampangkan shalat baik laki-laki dan perempuan?”

Rasulullah SAAW berkata,”Wahai Fathimah, barang siapa yang menggampangkan shalat baik laki-laki maupun perempuan, maka Allah SWT akan memberikan cobaan kepadanya dengan 15 perkara:

A. 6 (enam) perkara yang menimpa di dunia:
1. Allah SWT mengangkat keberkahan dari umurnya
2. Allah SWT mengangkat keberkahan dari rezekinya
3. Allah SWT menghapus tanda-tanda orang saleh dari wajahnya
4. Semua amalan perbuatannya tidak akan diganjar
5. Tidak akan naik doanya ke langit
6. Dia tidak akan mendapat bagian di dalam doanya orang-orang saleh

B. 3 (tiga) perkara yang menimpa ketika meninggal
1. Mati dalam keadaan hina
2. Mati dalam keadaan lapar
3. Mati dalam keadaan haus, walaupun dituangkan kepadanya air sungai yang ada di seluruh dunia ini tidak akan menghilangkan rasa hausnya

C. 3 (tiga) perkara yang menimpa di dalam kubur
1. Allah SWT akan mewakilkan malaikat-Nya untuk menakut-nakuti dalam kuburnya
2. Akan sempit baginya kuburannya
3. Akan menjadi gelap kuburannya

D. 3 (tiga) perkara di hari kiamat, ketika keluar dari kubur
1. Allah SWT akan mewakilkan malaikat-Nya untuk menyeret mukanya dan makhluk Allah SWT yang lain melihatnya
2. Allah SWT menghisabnya dengan hisab yang berat
3. Allah SWT tidak akan melihat kepadanya dan tidak akan menyucikannya, dan baginya siksa yang pedih

AHLUL BAYT MENURUT FAHAMAN WAHABI

Pada kesempatan ini, kita akan coba mengungkap kelemahan klaim Syi’ah mengenai ahlul bait dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab : 33. Dimana mereka mengklaim bahwa ahlul bait yang tertera dalam ayat tersebut adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum saja, sedangkan istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut. Kita akan mencoba membahasnya dan berikutnya akan kita jawab syubhat-syubhat yang dilontarkan Syi’ah.

Sebenarnya sudah banyak pembahasan dalam masalah ini dalam membuktikan kelemahan klaim mereka tersebut, tetapi tampaknya kaum Syi’ah ini sudah terlanjur terjebak doktrin para ayatollah mereka, sehingga akal jernih sudah tidak dipakai lagi oleh mereka.  Mari kita buka kembali surat Al-Ahzab dari ayat 28 sampai dengan ayat 34 yang sangat jelas sekali sedang berbicara mengenai istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan ayat-ayat setelahnya sampai dengan ayat 59 (ayat hijab) pun masih memabahas mengenai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta ahlul bait (rumah tangga) beliau :

28. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.

29. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.

30. Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.

31. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.

32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (penghuni rumah) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

34. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Perhatikanlah wahai para pembaca sekalian, jangankan orang yang berilmu, orang yang awam pun dengan mudah bisa menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat di atas berkenaan dengan istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada bayangan keraguan sedikitpun. Pada ayat-ayat di atas Allah memberi peringatan, kabar gembira, perintah dan larangan kepada istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tujuan akhirnya adalah dengan mereka mengikuti perintah dan larangan-Nya tersebut, Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa ahlul bait Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu istri-istri beliau) dan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Ini adalah alur yang begitu jelas dari apa yang difirmankan Allah dalam ayat-ayat di atas.

Perhatikan bagian ayat yang saya garisbawahi di atas yang menunjukkan hubungan diantara ayat-ayat tersebut, bahwa ayat-ayat sebelumnya termasuk ayat Thathhir (pembersihan) adalah turun di rumah istri-istri Nabi, sehingga terlihat dengan jelas mereka adalah penghuni rumah (ahlul bait) Nabi yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut. Dan Allah dalam ayat 34 mengingatkannya kembali kepada mereka, sehingga kesimpulannya adalah tidak ada pemisahan atau pemenggalan dalam ayat-ayat yang berurutan tersebut.

(-) Lantas bagaimana dengan kalimat yuthahhirakum dan ‘ankum pada ayat di atas yang menunjukkan jama’ mudzakkar (laki-laki) ?

(+) Maka dijawab : Sesungguhnya perkara yang disebutkan di awal ayat tertuju kepada para wanita secara khusus. Kemudian datang miim jama’ karena masuknya laki-laki bersama para wanita tersebut, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai sayyidul-bait. Apabila laki-laki masuk pada kumpulan wanita, maka nun niswah berubah (kalah) menjadi miim jama’ (mudzakkar). Hal ini adalah sesuatu hal yang ma’lum (diketahui) dalam ilmu nahwu.

إذا اجتمع المذكر مع المؤنث غلب المذكر

“Apabila mudzakkar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul (dalam satu kalimat), maka dimenangkan mudzakkar”.

Istri-istri Nabi-lah yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut sesuai dengan konteks dan urutan ayat tanpa ada keraguan sedikitpun padanya.

Definisi Ahlul Bait :

Mari kita ingatkan kembali definisi dari ahlul bait:

Ahl : Keluarga yang termasuk di dalamnya adalah istri, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan, kerabat yang lain, kadang-kadang digunakan untuk merujuk sesama anggota kabilah.

Bait : Rumah, tempat tinggal

Ahlul Bait : orang-orang yang terkait dengan seorang lelaki, yang mereka tinggal di rumahnya, khususnya adalah istri-istrinya dan anak-anak yang belum menikah yang mereka tinggal dalam satu atap dengan-nya yang disediakan olehnya.

Kenyataannya, definisi utama dari ahlul bait adalah istri-istri dari seorang lelaki; dalam budaya Arab, dianggap hal yang tidak sopan memanggil istri-istri seorang lelaki dengan nama mereka yang sebenarnya, oleh sebab itu, orang akan menyebut istri seorang lelaki dengan hanya menyebut “ahlul bait-nya”

Penggunaan umum istilah “Ahlul Bait”

Al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab yang diturunkan kepada orang-orang yang berbahasa Arab. Kita akan salah menafsirkan Al-Qur’an jika kita berusaha untuk memahami kata-kata dengan cara yang tidak (dan tidak dapat) dipahami oleh orang yang dituju kitab ini yaitu bangsa Arab. Hari ini, jika kita meminta teman Arab kita untuk datang ke rumah kita bersama Ahlul Bait-nya, standarnya adalah bahwa ia akan datang ke rumah kita bersama istri dan anak-anak yang tinggal di rumahnya. Ia mungkin membawa anak-anak yang belum menikah atau mungkin tidak. Ia bahkan mungkin membawa teman, jika teman-nya tersebut adalah penghuni permanen rumahnya. Tapi yang utama, seorang Arab akan memahami bahwa ia harus membawa istri-istrinya, karena ini adalah inti dan definisi utama dari istilah Ahlul Bait.

Seorang lelaki Arab akan terkejut jika mengetahui bahwa kita mengartikan ahlul bait itu adalah saudara sepupunya, atau anak-anaknya yang sudah menikah, atau cucu-cucunya, yang mereka semua tinggal di rumah yang lain. Ia akan lebih sangat terkejut lagi mengetahui kita menganggap istri-istrinya yang tinggal di rumahnya adalah bukan ahlul bait-nya. Hal ini karena bagi orang Arab, kata ahlul bait (yang secara harfiah berarti mereka yang tinggal di rumah) termasuk adalah istri (istri-istri) dari seseorang. Hal ini sama sekali tidak berbeda pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini pun sama di semua negara-negara Arab. Hal yang sangat menarik, bahkan di Iran (sebagai negara yang didominasi oleh Syi’ah) orang menggunakan kata ahlul bait untuk merujuk kepada istri serta anak-anak dari seseorang. Jika kita melihat kitab-kitab popular dalam bahasa Arab, kita akan menemukan dalam definisi ahlul bait, istri diikutsertakan.

Logis dan masuk akal

Ahlul bait bermakna keluarga dari seorang lelaki yang tinggal di rumah-nya. <span>Jika kita bertanya kepada seorang Syi’ah, siapa saja bagian dari keluarganya, ia pasti akan memasukkan ibunya atau pasangannya dalam jawabannya.Ibu dan istri adalah pondasi dasar dari sebuah keluarga. Jika kita bertanya kepada pihak ketiga yang tidak bias, siapakah keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, nama-nama yang mereka akan sebutkan pertama kali adalah istri-istri beliau.

Al-Qur’an menyebut istri-istri Nabi sebagai ahlul bait.

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

(QS 33:32-33)

Pada kenyataannya tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang mengidentifikasi Ali (رضى الله عنه), Fatima (رضى الله عنها), Hasan (رضى الله عنه), atau Hussain (رضى الله عنه) sebagai Ahlul Bait. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang telah sempurna <span>menyebutkan 12 Imam dari Syiah</span>, apalagi menyebut mereka Ahlul Bait. Istilah “Ahlul Bait” telah digunakan dua kali dalam Al-Quran, dan dua kali digunakan untuk merujuk kepada istri-istri. Dan istilah yang serupa, Ahlul Bait digunakan dalam Al-Qur’an untuk merujuk kepada istri Imran (Ibu Musa ‘alaihis salam). Namun,<span> tidak sekalipun</span> kata ahlul bait yang digunakan dalam Al-Qur’an merujuk kepada Ali (رضى الله عنه), Fatima (رضى الله عنها), Hasan (رضى الله عنه), atau Hussain (رضى الله عنه). Dan tidak pernah ada ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan “Hai saudara sepupu Nabi” <span>melainkan</span> yang ada “Hai istri-istri Nabi”. Jika mengikuti ahlul bait adalah dasar kepercayaan sebagaimana Syi’ah klaim, lalu mengapa Al-Qur’an tidak pernah sekalipun menyebutkan Ali sebagai ahlul bait? Jika kita meminta saudara Syi’ah untuk menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan ahlul bait, mereka akan kecewa karena menemukan ayat-ayat tersebut semuanya berhubungan dengan istri-istri Nabi.

72. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”

73. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

(QS Huud : 72-73)

Pada ayat di atas, istri Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bertanya kepada malaikat bagaimana dia bisa mempunyai seorang anak, dan malaikat menjawabnya dan dengan memanggilnya beserta Nabi Ibrahim sebagai ahlul bait Kata ganti kolektif digunakan untuk merujuk kepada Nabi Ibrahim dan istrinya, tidak ada orang lain di ruangan itu melainkan hanya mereka berdua.

Dalam hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil istri-istri beliau dengan sebutan Ahlul Bait

4793 – حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بُنِيَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ بِخُبْزٍ وَلَحْمٍ فَأُرْسِلْتُ عَلَى الطَّعَامِ دَاعِيًا فَيَجِيءُ قَوْمٌ فَيَأْكُلُونَ وَيَخْرُجُونَ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ فَيَأْكُلُونَ وَيَخْرُجُونَ فَدَعَوْتُ حَتَّى مَا أَجِدُ أَحَدًا أَدْعُو فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا أَجِدُ أَحَدًا أَدْعُوهُ قَالَ ارْفَعُوا طَعَامَكُمْ وَبَقِيَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ يَتَحَدَّثُونَ فِي الْبَيْتِ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَقَالَتْ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فَتَقَرَّى حُجَرَ نِسَائِهِ كُلِّهِنَّ يَقُولُ لَهُنَّ كَمَا يَقُولُ لِعَائِشَةَ وَيَقُلْنَ لَهُ كَمَا قَالَتْ عَائِشَةُ ثُمَّ رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا ثَلَاثَةٌ مِنْ رَهْطٍ فِي الْبَيْتِ يَتَحَدَّثُونَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيدَ الْحَيَاءِ فَخَرَجَ مُنْطَلِقًا نَحْوَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَمَا أَدْرِي آخْبَرْتُهُ أَوْ أُخْبِرَ أَنَّ الْقَوْمَ خَرَجُوا فَرَجَعَ حَتَّى إِذَا وَضَعَ رِجْلَهُ فِي أُسْكُفَّةِ الْبَابِ دَاخِلَةً وَأُخْرَى خَارِجَةً أَرْخَى السِّتْرَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَأُنْزِلَتْ آيَةُ الْحِجَابِ

(6/119)

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Sebuah perjamuan roti dan daging diadakan pada kesempatan pernikahan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab binti Jahsy. aku dikirim untuk mengundang orang-orang (ke perjamuan), dan sehingga orang-orang mulai datang (dalam kelompok); Mereka makan dan kemudian pergi. Sekelompok yang lain datang, makan dan pergi. Jadi aku terus mengundang orang-orang sampai aku tak menemukan seorang pun untuk diundang. Lalu aku berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku tidak menemukan orang lagi untuk diundang.” beliau berkata, “Bawa pergi makanan yang tersisa.” tiga orang masih tinggal di rumah sedang bercakap-cakap. Nabi pergi dan menuju tempat kediaman Aisyah dan berkata, “Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah” (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu), ia menjawab, “Wa alaika salam wa rahmatullah” (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). “Bagaimana Anda menemukan istri baru Anda? Semoga Allah memberkati Anda”. Lalu beliau pergi ke tempat-tempat kediaman semua istri-istri beliau yang lain dan berkata kepada mereka sama seperti apa yang beliau katakan kepada Aisyah dan mereka pun menjawab beliau sama seperti Aisyah telah menjawab beliau. Kemudian Nabi kembali dan menemukan tiga orang masih tinggal di rumah sedang ngobrol. Nabi adalah orang yang sangat pemalu, jadi dia keluar (untuk kedua kalinya) dan pergi menuju tempat kediaman Aisyah. Aku tidak ingat apakah aku memberitahukan bahwa orang-orang itu sudah pergi. Maka beliau kembali dan begitu beliau memasuki pintu, beliau menarik tirai antara aku dan beliau, dan kemudian Ayat Al-Hijab turun”.

(Shahih Bukhari 6/119 No. 4793)

Pertama, Tidak ada keraguan sedikitpun hadits di atas menunjukkan bahwa istri-istri Nabi adalah ahlul bait beliau.

Kedua, hadits di atas adalah asbabun nuzul ayat hijab (surat Al-Ahzab : 53-55) mengenai aturan memasuki rumah-rumah Nabi dan perintah hijab, sedangkan ayat tersebut termasuk dalam rangkaian ayat-ayat Al-Ahzab yang berbicara tentang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri beliau, urusan rumah tangga beliau dan kaum mukminin, yang dimulai dari ayat 28 sampai dengan ayat 59. Hal ini semakin menguatkan bahwa ahlul bait yang disebutkan dalam surat al-Ahzab : 33 adalah entitas yang sama, yaitu istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat juga tafsir Ibnu Katsir untuk Al-Ahzab : 53-55.

Selain itu, dalil yang dibawakan ulama yang merajihkan pendapat ini adalah hadits yang menyebutkan bacaan shalawat dalam tasyahud :

اللهم! صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada <span>keluarga</span> Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada <span>keluarga </span>Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”

[HR. Al-Bukhari no. 3369 dan Muslim no. 407].

Lafadh “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafadh “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad) sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Al-Bukhari :

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”

[HR. Al-Bukhari no. 3370].

Satu Pertanyaan untuk Syi’ah

Kita meminta saudara –saudara Syi’ah pikirkan, mengapa Al-Qur’an dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan istilah “Ahlul Bait” sebagai lawan dari sekedar kata “Ahl” yang berarti “keluarga”. Dengan pembatasan kata “Ahl” dengan “Al-Bait” ini sebagai pembatasan bahwa yang dimaksud adalah keluarga yang berada di bawah atap rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukan Ali, Fathimah, Hasan maupun Husain yang tidak tinggal serumah dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain, istri-istri Nabi lah yang jelas serumah dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika Allah merujuk kepada keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak tinggal di rumah beliau, maka tentu kata “Ahl” akan lebih cocok untuk digunakan; spesifikasi tambahan “Al-Bait” akan benar-benar asing dan bahkan kontradiksi dengan sendirinya. Istilah “Ahlul Bait” membatasi para Ahl hanya untuk mereka yang tinggal di dalam Bait, dimana mereka adalah terdiri dari istri-istri Nabi. Penjelasan selain ini adalah <span>tidak masuk akal</span>.

Perluasan Makna Ahlul Bait dalam surat Al-Ahzab : 33 atas dasar do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam

Demikianlah, begitu jelas bahwa yang dimaksud ahlul bait dalam Al-Ahzab : 33 adalah Nabi dan istri-istri beliau, hingga kemudian terdapat perluasan makna ahlul bait pada ayat tersebut atas dasar do’a beliau kepada Allah Azza wa Jalla untuk memasukkan keluarga beliau atas dasar ikatan nasab (Fathimah, Hasan, Husain dan menantu beliau Ali ra) agar juga dihilangkan dosa mereka dan dibersihkan sebersih-bersihnya oleh Allah Azza wa Jalla, hal tersebut beliau lakukan karena rasa cinta beliau yang dalam kepada mereka. Hal ini terekam dalam sebuah hadits yang terkenal dengan sebutan hadits kisa’.

Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata “ Ya Allah Mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.

Di atas tidak diragukan adalah keutamaan keluarga Fathimah radhiyallahu ‘anha, dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam begitu mencintai mereka sehingga beliau berkeinginan agar mereka termasuk ahlul bait yang dibersihkan oleh Allah sebagaimana istri-istri Nabi. Beliau memanggil mereka dan menyelimuti mereka dengan kain adalah merupakan suatu bentuk ekspresi beliau, untuk menunjukkan bahwa mereka juga bagian dari ahlul bait beliau dan beliau pun mendo’akan mereka. Hal ini beliau lakukan karena Fathimah sudah menjadi istri Ali ra, sehingga Fathimah dan anak-anaknya tinggal bersama Ali dan menjadi ahlul bait Ali radhiyallahu ‘anhu dan dalam kesehariannya tidak lagi tinggal serumah berkumpul dengan beliau, sedangkan ayat 33:33 di atas turun untuk ahlul bait Nabi yang terikat dalam pernikahan yaitu istri-istri beliau, yang tinggal serumah dengan beliau dan ayat tersebut turun di rumah mereka. Maka tidak mengherankan jika beliau memanggil keluarga Fathimah untuk datang ke rumah salah satu istri beliau, menyelimuti dan mendo’akan mereka dengan harapan mereka juga dimasukkan oleh Allah sebagai ahlul bait beliau yang dibersihkan. Sedangkan istri-istri beliau sudah pada kedudukan mereka sendiri yaitu dalam kebaikan sebagai ahlul bait yang telah disebutkan dalam ayat tersebut, sehingga tidak perlu dido’akan lagi.

Perhatikan kalimat yang saya garisbawahi pada hadits di atas, bahwa ayat Thathhir turun di rumah Ummu Salamah (istri Nabi), maka yang berhak disebut Ahlul Bait dalam ayat tersebut adalah istri-istri Nabi yang tinggal serumah bersama Nabi, bukan keluarga beliau yang tinggal tidak serumah dengan beliau, itulah salah satu sebabnya keluarga Fathimah dipanggil untuk datang ke rumah Ummu Salamah..

Bantahan terhadap Beberapa Syubhat Syi’ah

Diantara mereka (kaum Syi’ah) mengatakan, bahwa ayat Thathhir dalam Al-Ahzab : 33 adalah hanya untuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum saja dan istri-istri Nabi tidak termasuk di dalamnya.

Pernyataan di atas adalah lemah, berdasarkan penjelasan di atas, bahwa ayat Thathhir adalah milik Nabi dan istri-istri beliau tidak diragukan lagi, maka bagaimana bisa mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari makna ahlul bait dalam ayat tersebut, padahal mereka adalah shahibul ayat. Ayat tersebut dimulai dengan judul “Hai istri-istri Nabi” sedangkan tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan “Hai keluarga Ali”.

Diantara mereka ada yang mengatakan, bahwa hadits kisa’ telah membatasi makna ahlul bait dalam ayat tersebut, dan ahlul bait itu adalah ahlul kisa’ saja, sedangkan istri-istri Nabi tidak termasuk.

Kita Jawab, mana buktinya bahwa hadits kisa’ membatasi makna dari ahlul bait dalam QS 33:33? Sebagaimana apa yg disampaikan Al-Akh Abul-Jauzaa :

Di dalam lafadh hadits kisa’ itu tidak terdapat hal yang menuntut pembatasan kriteria ini pada orang-orang yang berada di dalam kisa’ itu. Sebab di dalam sabda beliau : ‘Mereka adalah ahlul-bait-ku’ ; tidak terdapat shighah qashr (pembatasan). Ia seperti firman-Nya tentang Ibrahim ‘alaihis-salaam, bahwa ia berkata : ‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku’ (QS. Al-Hijr : 68). Maknanya bukan : ‘Aku tidak memiliki tamu selain mereka’. Dan ia berkonsekuensi pada terpenggalnya ayat tersebut dari apa yang sebelum dan setelahnya” [At-Tahriir wat-Tanwiir, 21/247-248]

Jika mereka mudah mengatakan seperti itu, kita pun dengan sangat mudah bisa mengatakan bahwa hadits kisa’ adalah perluasan makna ahlul bait, bukan pembatasan.

Mereka biasanya tidak mau menyerah, dan kemudian mulai mempersoalkan teks hadits kisa’, mereka akan mengatakan “dalam hadits itu jelas yang diselimuti  Ali, Fathimah, Hasan dan Husain saja, sedangkan Ummu Salamah (istri Nabi) ditolak oleh Nabi”

Kita jawab, jelas ditolak oleh Nabi dengan alasan yang beliau telah sampaikan sendiri, “tetaplah pada kedudukanmu, kamu dalam kebaikan” yang artinya Ummu Salamah tidak memerlukan lagi do’a dari Nabi karena memang ayat Thathhir turun untuk istri-istri Nabi, jadi kedudukan Ummu Salamah sudah dalam kebaikan. Justru dengan Nabi mendo’akan ahlul kisa’, hal itu menunjukkan bahwa ayat Thathhir <span>pada awalnya</span> memang bukan untuk mereka, kalau memang ayat tersebut untuk mereka, tentu tidak perlu lagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berusaha sedemikian rupa menyelimuti mereka dan berdo’a untuk mereka. Berdasarkan riwayat Tirmidzi di atas, dikisahkan bahwa ayat thathhir turun terlebih dahulu, kemudian baru Nabi memanggil keluarga Ali, menyelimuti, dan mendo’akan mereka. Hal yang menjadi pertanyaan, jika ayat tersebut turun jelas untuk mereka (ahlul kisa’), mengapa Nabi kemudian masih memerlukan untuk mendo’akan mereka lagi agar Allah membersihkan mereka? Sekali lagi ini adalah bukti bahwa memang ayat tahthhir adalah bukan untuk mereka pada awalnya, tetapi untuk istri-istri Nabi, dan begitu ayat tersebut turun, Nabi langsung memanggil keluarga Ali untuk datang ke rumah Ummu Salamah, menyelimuti mereka dan mendo’akan mereka, agar mereka juga termasuk menjadi ahlul bait yang dibersihkan oleh Allah.

Di dalam hadits riwayat Ahmad yang dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir, justru Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk ahlu beliau dan beliau pun menyelimuti Ummu Salamah setelah do’a beliau untuk keluarga Fathimah selesai,

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ثنا عبد الحميد يعنى بن بهرام قال حدثني شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم حين جاء نعى الحسين بن على لعنت أهل العراق فقالت قتلوه قتلهم الله غروه وذلوه لعنهم الله فإني رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم جاءته فاطمة غدية ببرمة قد صنعت له فيها عصيدة تحمله في طبق لها حتى وضعتها بين يديه فقال لها أين بن عمك قالت هو في البيت قال فاذهبي فادعيه وائتني بابنيه قالت فجاءت تقود ابنيها كل واحد منهما بيد وعلى يمشى في أثرهما حتى دخلوا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فأجلسهما في حجره وجلس على عن يمينه وجلست فاطمة عن يساره قالت أم سلمة فاجتبذ من تحتى كساء خيبر يا كان بساطا لنا على المنامة في المدينة فلفه النبي صلى الله عليه و سلم عليهم جميعا فأخذ بشماله طرفي الكساء وألوى بيده اليمنى إلى ربه عز و جل قال اللهم أهلي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قلت يا رسول الله ألست من أهلك قال بلى فادخلي في الكساء قالت فدخلت في الكساء بعد ما قضى دعاءه لابن عمه على وابنيه وابنته فاطمة رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasym bin Al Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Bahram yang berkata telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausab yang berkata aku mendengar Ummu Salamah istri Nabi SAW ketika datang berita kematian Husain bin Ali telah mengutuk penduduk Irak. Ummu Salamah berkata “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membinasakan mereka. Mereka menipu dan menghinakannya, semoga Allah melaknat mereka. Karena sesungguhnya aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh Fatimah pada suatu pagi dengan membawa bubur yang ia bawa di sebuah talam. Lalu ia menghidangkannya di hadapan Nabi. Kemudian Beliau berkata kepadanya “Dimanakah anak pamanmu (Ali)?”. Fatimah menjawab “Ia ada di rumah”. Nabi berkata “Pergi dan panggillah Ia dan bawa kedua putranya”. Maka Fatimah datang sambil menuntun kedua putranya dan Ali berjalan di belakang mereka. Lalu masuklah mereka ke ruang Rasulullah dan Beliau pun mendudukkan keduanya Al Hasan dan Al Husain di pangkuan Beliau. Sedagkan Ali duduk disamping kanan Beliau dan Fatimah di samping kiri. Kemudian Nabi menarik dariku kain buatan desa Khaibar yang menjadi hamparan tempat tidur kami di kota Madinah, lalu menutupkan ke atas mereka semua. Tangan kiri Beliau memegang kedua ujung kain tersebut sedang yang kanan menunjuk kearah atas sambil berkata “Ya Allah mereka adalah keluargaku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Aku berkata “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”.

(Hadits di atas, dikatakan oleh pensyarah, yaitu Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, “Sanadnya hasan.” Lihat Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, hadits no. 26429 jilid 28, cet. I 1416H/1995)

Dalam hadits di atas dapat kita ambil beberapa faedah :

Pertama, Ummu Salamah melaknat kaum syi’ah yang ada di kufah yang telah mengkhianati Husain radhiyallahu ‘anhu sehingga menyebabkan kematian beliau.

Kedua, Ummu Salamah mencintai keluarga Ali.

Ketiga, Ummu Salamah mengkisahkan kisah yang serupa dengan hadits kisa’ riwayat Tirmidzi yang periwayatnya adalah beliau juga dengan sanad yang berbeda, dan pada kisah riwayat Ahmad ini, Nabi mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk keluarga beliau dan dia pun juga diselimuti oleh Nabi setelah beliau mendo’akan keluarga Fathimah.

Hal di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa Ummu Salamah sudah dalam kebaikan (karena ayat thathhir pada dasarnya turun untuk mereka istri-istri Nabi) sehingga Nabi tidak perlu mendo’akan Ummu Salamah lagi dan dia adalah termasuk keluarga beliau.

Orang Syi’ah akan mengatakan bahwa dua hadits tersebut adalah dua peristiwa yang berbeda.

Kita Jawab, bahwa kisah yang diriwayatkan dua hadits tersebut adalah peristiwa yang sama, sama-sama menceritakan peristiwa penyelimutan dan bahkan do’a yang dilafazkan pun sangat mirip. Jika terdapat sedikit perbedaan pada redaksi adalah <span>hal yang biasa, karena jalur sanadnya juga berbeda</span>. Dan kita dapat mensinkronkan kedua hadits tersebut dengan baik, mari kita bandingkan dan perhatikan kedua riwayat tersebut saat Ummu Salamah bertanya kepada Nabi, ternyata terlihat jelas perbedaan pertanyaan yang diajukan oleh Ummu Salamah kepada Nabi dalam dua riwayat tersebut:

Hadits Tirmidzi; Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”

Hadits Ahmad; Aku berkata “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”

Pertanyaan Ummu Salamah pada hadits Tirmidzi adalah mengenai apakah dia bersama dengan mereka (keluarga Fathimah), maka Nabi menjawab, “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan” artinya Ummu Salamah sudah dalam kedudukan yang baik yaitu sebagai istri Nabi yang mendapatkan ayat Thathhir, sedangkan keluarga Fathimah adalah keluarga beliau dalam ikatan Nasab yang beliau berharap  untuk memasukkan mereka juga sebagai ahlul bait pada ayat thathhir, oleh karena itu merekalah yang sememangnya dido’akan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan Ummu Salamah .

Sedangkan pertanyaan Ummu Salamah pada hadits riwayat Ahmad berbeda maknanya dengan pertanyaan Ummu Salamah pada riwayat Tirmidzi (tampaknya ini adalah pertanyaan berikutnya dari Ummu Salamah yang tidak tercatat pada riwayat Tirmidzi dan sebaliknya pertanyaan dalam riwayat Tirmidzi tidak tercatat dalam riwayat Ahmad) yaitu setelah mendapat jawaban dari Nabi bahwa Ummu Salamah tidak bersama keluarga Fathimah dan dia berada pada kedudukan tersendiri yang baik, selanjutnya dia bertanya lagi kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia termasuk keluarga beliau, maka Nabi menjawab Ya, dan membolehkan Ummu Salamah masuk dalam selimut beliau setelah selesai do’a beliau untuk keluarga Fathimah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua hadits tersebut tidak bertentangan, justru saling melengkapidalam menggambarkan peristiwa yang sama. Allahu ‘Alam.

Syi’ah selanjutnya biasanya terus mengatakan, “Lalu mengapa Ummu Salamah tidak mengetahui akan hal itu dan malah bertanya kepada Nabi apakah beliau termasuk ahlu beliau”.

Kita jawab, hal ini bisa dimaklumi, karena tindakan Nabi yang tiba-tiba memanggil keluarga Ali dan kemudian menyelimutinya merupakan sesuatu yang mengherankan baginya, makanya dia bertanya dan dari riwayat di atas terlihat begitu ayat tersebut turun, Nabi langsung memanggil keluarga Ali dan belum sempat menjelaskan hal tersebut. Hal ini adalah wajar, jika kita menjadi Ummu Salamah, pasti kita akan menanyakan tindakan Nabi yang di luar kebiasaan tersebut, apalagi ketika dirinya tidak diperkenankan (untuk sementara) untuk ikut masuk ke dalam kain kisa’ bersama keluarga Fathimah yang sedang dido’akan oleh Nabi shalallahu ‘alihi wa sallam.

Diantara mereka ada yang akhirnya mengatakan bahwa istri-istri Nabi adalah juga ahlul bait (itu pun mereka akui setelah mereka tidak bisa membantah lagi) tetapi mereka bukan ahlul bait yang disucikan, tetapi ahlul bait yang disucikan adalah ahlul kisa’.

Kita jawab, penjelasan di atas sudah cukup menghancurkan argumentasi mereka.

Kesimpulan

Ayat Thathhir pada surat Al-Ahzab : 33 adalah untuk Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau sebagai ahlul bait beliau pada awalnya, kemudian diperluas maknanya termasuk keluarga Fathimah berdasarkan do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka yang terekam pada hadits Kisa’.

Wallahu A’lam

Sumber: http://alfanarku.wordpress.com/2010/01/24/ahlul-bait-surat-al-ahzab-33/

Risalah Amman

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) —termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)— , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam  Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

[1]Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Jakfariy, Madzhab Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

[2]. Sungguh diantara madzhab yang banyak tersebut memang terdapat perbedaan (ikhtilaf), maka ulama-ulama dari delapan madzhab tersebut bersepakat dalam mabda’ yang pokok bagi Islam. Semuanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa yang Maha Esa, Al-Qur’an al-Karim adalah Kalamullah, Sayyidina Muhammad ‘alayhis shalatu wassalam adalah Nabi sekaligus Rasul bagi umat manusia seluruhnya, dan mereka bersepakat atas rukun Islam yang 5 : Syadatayn, Shalat, Zakat, puasa Ramadhan, Haji kepa Baitullah, dan juga bersepakat atas Rukun Imam yang 6 ; beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari kiamat, dan kepada Qadar yang baik dan buruk, dan ulama-ulama dari perngikut Madzhab tersebut berbeda pendapat dalam masalah Furu’ (cabang) dan bukan masalah Ushul (pokok), dan itu adalah Rahmat, dan terdahulu telah dikatakan ;

إنّ اختلاف العلماء في الرأي أمرٌ جيّد

“Sesungguhnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) para Ulama dalam masalah pemikiran hal yang baik”

[3]. Pengakuan terhadap madzhab-madzhab dalam Islam berarti berkomitmen dengan metodologi (manhaj) dalam hal fatwa ; maka siapapun tidak boleh mengeluarkan fatwa selain yang memenuhi kriteria tertentu dalam setiap madzhab, dan tidak boleh berfatwa selain yang berkaitan dengan manhaj (metodologi) madzhab, tidak boleh seorang pun mampu mengklaim ijtihad dan mengembangkan/membuat madzhab/pendapat baru atau mengelurkan fatwa yang tidak bisa diterima yang dapat mengeluarkan kaum Muslim dari kaidah syar’iyyah, prinsip, ketetapan dari madzhabnya.

Tiga Poin Risalah ‘Amman ini lalu diadopsi oleh kepemimpinan politik dunia Islam pada pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Mekkah pada Desember 2005. Dan setelah melewati satu tahun periode dari Juli 2005 hingga Juli 2006, piagam ini juga diadopsi oleh enam Dewan Ulama Islam Internasional. Secara keseluruhan, lebih dari 500 ulama Islam terkemuka telah mendukung Risalah ‘Amman dan tiga poin pentingnya.

Di antara penandatangan dan pengesah Risalah Amman ini adalah:

Afghanistan: Hamid Karzai (Presiden).

Amerika Serikat: Prof. Hossein Nasr, Syekh Hamza Yusuf (Institut Zaytuna), Ingrid Mattson (ISNA)

Arab Saudi: Raja Abdullah As-Saud, Dr. Abdul Aziz bin Utsman At-Touaijiri, Syekh Abdullah Sulaiman bin Mani’ (Dewan Ulama Senior).

Bahrain: Raja Hamad bin Isa Al-Khalifah, Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah (Wakil Menteri Urusan Islam)

Bosnia Herzegovina: Prof. Dr. Syekh Mustafa Ceric (Ketua Ulama dan Mufti Agung), Prof. Enes Karic (Profesor Fakultas Studi Islam)

Mesir: Muhammad Sayid Thantawi (Mantan Syekh Al-Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung), Ahmad Al-Tayyib (Syekh Al-Azhar)

India: Maulana Mahmood (Sekjen Jamiat Ulema-i-Hindi)

Indonesia: Maftuh Basyuni (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (NU).

Inggris: Dr. Hassan Shamsi Basha (Ahli Akademi Fikih Islam Internasional), Yusuf Islam, Sami Yusuf (Musisi).

Iran: Ayatullah Ali Khamenei (Wali Amr Muslimin), Ahmadinejad (Presiden), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Mazhab Dunia), Ayatullah Fadhil Lankarani.

Irak: Jalal Talabani (Presiden), Ayatullah Ali As-Sistani, Dr. Ahmad As-Samarai (Kepala Dewan Wakaf Sunni).

Kuwait: Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber As-Sabah.

Lebanon: Ayatullah Husain Fadhlullah, Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Sunni).

Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman)

Pakistan: Pervez Musharraf (Presiden), Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri (Dirjen Pusat Penelitian Islam), Muhammad Taqi Usmani.

Palestina: Syekh Dr. Ikramah Sabri (Mufti Agung dan Imam Al-Aqsha).

Qatar: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ali Ahmad As-Salus (Profesor Syariah Universitas Qatar).

Sudan: Omar Hassan Al-Bashir (Presiden).

Suriah: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung), Syekh Wahbah Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fikih), Salahuddin Ahmad Kuftaro.

Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Darul Mustafa), Habib Ali Al-Jufri.

Yordania: Raja Abdullah II, Pangeran Ghazi bin Muhammad (Dewan Pengawas Institut Aal Al-Bayt), Syekh Izzuddin Al-Khatib At-Tamimi (Hakim Agung), Syekh Salim Falahat (Ikhwanul Muslimin Yordania).

_____________________________________________________________________________________

Beberapa tokoh di atas menandatangani dan mengesahkan poin-poin di bawah ini:

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Shalawat dan salam kehadirat Nabi Muhammad dan keluarganya yang baik dan suci

Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Sunni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Menyatakan pengikut (mazhab) tersebut sebagai kafir adalah hal yang mustahil dan dilarang. Sudah pasti bahwa darah, kehormatan dan hartanya adalah terjaga. Selain itu, berdasarkan fatwa Syekh Al-Azhar, adalah tidak mungkin dan tidak diperbolehkan untuk menyatakan kafir kepada penganut keyakinan Asyari atau yang mempraktikkan tasawuf dengan benar (sufi). Demikian juga, tidak mungkin dan tidak diperbolehkan untuk menyatakan kafir kepada pengikut pemikiran Salafi yang sesungguhnya. Hal yang sama juga tidak mungkin dan tidak dibenarkan untuk mengkafirkan kepada kelompok Muslim manapun yang meyakini Tuhan subhânahu wa ta’âlâ dan utusan-Nya shallallâhu ‘alaihi wa (âlihi wa) salâm, rukun iman, dan rukun Islam, dan yang tidak mengingkari segala prinsip utama agama.

Terdapat lebih banyak persamaan di antara berbagai macam mazhab hukum Islam tersebut dari pada perbedaan di antara mereka. Para pengikut delapan mazhab hukum Islam sepakat dalam prinsip dasar Islam. Seluruhnya percaya kepada Allah (Tuhan) Swt. yang Mahaesa; bahwa Alquran adalah kalam Allah dan terpelihara serta terjaga oleh Allah dari segala perubahan dan penyimpangan; dan bahwa pemimpin kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa (âlihi wa) salâm adalah Nabi dan Rasul bagi seluruh makhluk. Semuanya sepakat dalam hal lima rukun Islam: dua kesaksian keyakinan (syahadatain); salat; zakat; berpuasa di bulan Ramadan, dan haji ke rumah suci Allah (di Mekkah). Semuanya juga sepakat dalam rukun iman: iman kepada Allah (Tuhan), malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, dan Hari Akhir, dalam Pemeliharaan Tuhan baik dan buruk (qadha dan qadr). Perbedaan pendapat di antara ulama dari delapan mazhab hukum Islam hanya dalam bidang tambahan dan cabang agama (furu’) dan beberapa hal pokok (usul) [dari agama Islam]. Perbedaan pendapat dengan penghormatan dalam hal cabang agama (furu’) adalah rahmat. Dahulu pernah dikatakan bahwa perbedaan pendapat di antara ulama “adalah sebuah rahmat”.

Pengakuan mazhab-mazhab hukum dalam Islam berarti merujuk pada metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada yang dapat mengeluarkan sebuah fatwa tanpa syarat kualifikasi keilmuan. Tidak ada yang dapat mengeluarkan fatwa tanpa merujuk kepada metodologi mazhab hukum Islam. Tidak ada yang dapat mengklaim melakukan ijtihad tidak terbatas dan menciptakan pendapat baru atau mengeluarkan fatwa pertentangan yang dapat mengeluarkan Muslim dari prinsip dan ketentuan syariah dan apa yang telah dibangun dalam kehormatan dari mazhab tersebut.

_____________________________________________________________________________________

Lampiran 1: Landasan Fatwa UlamaFatwa-fatwa Ulama Sunni

Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, syaikh al-Azhar.

Dr. Ali Jum’ah, mufti besar Mesir.

Syaikh Ahmad Kuftaro, mufti besar Suriah.

Syaikh Said Abd al-Hafizh al-Hijjawi, mufti besar Yordania.

Syaikh Yusuf Qaradhawi, Ketua Dewan Persatuan Ulama Islam.

Syaikh Abdullah ibn Bayyah, wakil presiden Persatuan Ulama Islam Internasional.

Syaikh Muhammad Taqi Utsmani, Pakistan.

Syaikh Abdullah al-Harari al-Habasyi, Lebanon.

Majelis urusan keagamaan, Turki.

Lembaga Fiqh Islam, Saudi Arabia.

Fatwa-fatwa Ulama Syiah Imamiyah

Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Ali Husayni Khamenei, rahbar Iran.

Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Ali Husayni Sistani, marja’ Irak.

Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Muhammad Said al-Hakim, marja’ Irak.

Ayatullah al-‘Uzhma Syaikh Ishaq al-Fayyad, marja’ Irak.

Ayatullah al-‘Uzhma Syaikh Basyir an-Najan, marja’ Irak.

Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Hasan Ismail Sadr, marja’ Irak.

Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Fadhil Lankarani, marja’ Iran.

Ayatullah al-‘Uzhma Syaikh Muhammad Ali Taskhiri, Sekretaris Jenderal forum taqrib.

Ayatullah al-‘zhma Sayyid Muhammad Husein Fadhlallah, marja’ Libanon.

Lembaga Imam Khu’i, Inggris.

Fatwa-fatwa Ulama lain.

Syaikh Muhammad al-Mansur.

Syikah Humud ibn Abbas.

Syaikh Ahmad ibn Hammad al-Khalili.

Agha Khan.

Lampiran 2: Penandatangan (lebih dari 500 ulama dan cendekiawan dari seluruh dunia)1. Syaikh Yusuf ibn Mahdi: Anggota Komite Fatwa Aljazair.

2. Syaikh Salim ‘Ulwan al-Hasani: Sekjen Dar al-Fatwa Australia.

3. Syaikh Allah-Syakur ibn Himmat Bashazada: Mufti Besar Azerbaijan.

4. Syaikh Musthafa Cheric: Mufti Besar Bosnia Herzegovina.

5. Syaikh Mahmud Malbakri: Imam Masjid & Presiden Dewan Ulama Kamerun.

6. Dr. Ahmad Muhammad Thayyib: Presiden Universitas al-Azhar.

7. Dr. Murad Hoffman: Peneliti dan Cendekiawan Muslim Jerman.

8. Dr. Alwi Syihab: Cendekiawan Muslim Indonesia.

9. Dr. Muhammad Maftuh Basyuni: Menteri Agama Indonesia.

10. Dr. Tutty Alawiyah: Presiden Universitas Syafi’i Indonesia.

11. Hasyim Muzadi: Ketua Umum Nahdhatul-Ulama Indonesia.

12. Dr. Din Syamsuddin: Ketua Muhammadiyah Indonesia.

13. Ayatullah Muhammad Wa’izh Zadeh Khurasani: Sekjen Forum Taqrib Iran.

14. Sayyid Muhammad Musawi: Sekjen Liga Ahl al-Bayt Dunia Irak.

15. Syaikh Muhammad Rasyid Qabbani: Mufti Besar Lebanon.

16. Dr. Anwar Ibrahim: Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia.

17. Dr. Kamal Hasan: Presiden Universitas Internasional Islam Malaysia.

18. Syaikh Muhammad Thahir al-Qadri: Dirjen Pusat Penelitian Islam Pakistan.

19. Syaikh Ikrimah Shabri: Mufti Besar dan Imam Masjid al-Aqsha Palestina.

20. Dr. Ali Ahmad as-Salus: Guru Besar Fakultas Syariah Universitas Qatar.

21. Syaikh Rawi ‘Aynuddin: Mufti Besar Rusia.

22. Syaikh Abdullah Sulayman al-Mani’: Anggota Dewan Ulama Saudi Arabia.

23. Imam Shadiq al-Mahdi: Pemimpin Gerakan Anshar Sudan.

24. Prof. Tariq Ramadhan: Inteletual Muslim Swiss.

25. Syaikh Ahmad Badr Hassun: Mufti Besar Suriah.

26. Dr. Muhammad Sa’id al-Buthy: Ketua Departemen Agama Universitas Damaskus Suriah.

27. Syaikh Wahbah Zuhayli: Ketua Departemen Fiqh Fakultas Hukum Universitas Damaskus Suriah.

28. Dr. Ekmeleddin Ihsanoglu: Sekjen OKI Turki.

29. Dr. Mustofa Chagici: Mufti Besar Istanbul Turki.

30. Syaikh Ahmad Tamim: Mufti Besar Ukraina.

31. Khursyid Ahmad: Forum Muslim Inggris.

32. Sayyid Husain Nashr: Guru Besar Studi Islam Universitas George Washinton Amerika.

33. Syaikh Muhammad Shadiq: Mufti Besar Uzbekistan.

34. Habib Umar al-Hafizh: Pengasuh Dar al-Mushtafa Yaman.

35. Habib Ali Al-Jufri, Yaman.

sumber : ammanmessage.com

Fatwa Syaikhul Azhar tertanggal 17 Rabi’ul awal tahun 1378 hijriyah, Bahwa Mazhab Ahlul Bayt Syi'ah Imamiyah Adalah Mazhab Yang Sah di Dalam Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fatwa Syaikhul Azhar tertanggal 17 Rabi’ul awal tahun 1378 hijriyah, Bahwa Mazhab Ahlul Bayt Syi’ah Imamiyah Adalah Mazhab Yang Sah di Dalam Islam

STRATEGI MELUMPUHKAN SYI’AH

Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS. Buku ini berisi wawancara detail dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA.

Dalam wawancara ini diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Dr. Michael Brant sendiri telah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi ia kemudian dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Tampaknya dalam rangka balas dendam, ia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kebebasan, politik, pendidikan, dan budaya mereka, terutama sistem politik dan ekonomi mereka. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, mereka masih banyak terikat kepada Barat.

Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.

Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Teheran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh Revolusi Islam Iran di kalangan Syiah di berbagai negara–terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan–akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. Inggris dikenal telah memiliki pengalaman luas dalam berurusan dengan negara-negara ini.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa Revolusi Islam Iran bukan sekadar reaksi alami dari politik Syah Iran. Tetapi, terdapat berbagai faktor dan hakikat lain, di mana faktor terkuatnya adalah adanya kepemimpinan politik Marjaiyah dan syahidnya Husein, cucu Rasulullah, 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah melalui upacara-upacara kesedihan secara luas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding Muslimin lainnya.

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program:

1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.
2. Program-program jangka pendek: propaganda anti-Syiah, mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni dalam rangka membenturkan Syiah dengan Sunni yang merupakan mayoritas Muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.
3. Program-program jangka panjang: demi merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, di mana enam orang dari mereka telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram. Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut:
a. Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapa jumlah mereka?
b. Bagaimanakah status sosial-ekonomi kaum Syiah, dan apa perbedaan-perbedaan di antara mereka?
c. Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?
d. Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan Sunni?
e. Mengapa mereka kuatir terhadap Syiah?

Dr. Michael Brant berkata bahwa setelah melalui berbagai polling tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapat poin-poin yang disepakati, sebagai berikut:

Para Marja Syiah adalah sumber utama kekuatan mazhab ini, yang di setiap zaman selalu melindungi mazhab Syiah dan menjaga sendi-sendinya. Dalam sejarah panjang Syiah, kaum ulama (para Marja) tidak pernah menyatakan baiat (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Akibat fatwa Ayatullah Syirazi, Marja Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran.

Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya, ia terpaksa mengakhiri usahanya itu.

Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syah.

Di Libanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis, dan Israel melarikan diri. Keberadaan Israel juga terancam oleh sang Ayatullah dalam bentuk Hizbullah.

Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil.

Oleh sebab itu, kami mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris: Pecah-belah dan Kuasai (Divide and Rule), kami memiliki slogan baru: Pecah-belah dan Musnahkan (Divide and Annihilate).Rencana mereka sebagai berikut:

1. Mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti-Syiah.

2. Memanfaatkan propaganda negatif terhadap Syiah, untuk mengisolasi mereka dari masyarakat Muslim lainnya.

3. Mencetak buku-buku yang menghasut Syiah.

4. Ketika kuantitas kelompok anti-Syiah meningkat, gunakan mereka sebagai senjata melawan Syiah (contohnya: Taliban di Afghanistan dan Sipah-e Sahabah di Pakistan).

5. Menyebarkan propaganda palsu tentang para Marja dan ulama Syiah.

Orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu, seorang akan berceramah dan menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan hadirin pun mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul dada dan melakukan ‘upacara kesedihan’ (azadari). Penceramah dan para pendengar ini sangat penting bagi kita. Karena, azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran. Untuk itu:

1. Kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang materialistis dan memiliki akidah lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Karena, melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari (wafat para Imam Ahlul Bait).

2. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak mengetahui akidah Syiah.

3. Mencari sejumlah orang Syiah yang butuh duit, lalu memanfaatkan mereka untuk kampanye anti-Syiah. Sehingga, melalui tulisan-tulisan, mereka akan melemahkan fondasi-fondasi Syiah dan melemparkan kesalahan kepada para Marja dan ulama Syiah.

4. Memunculkan praktik-praktik azadari yang tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Syiah yang sebenarnya.

5. Tampilkan praktik azadari (seburuk mungkin), sehingga muncul kesan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain.

6. Untuk menyukseskan semua rencana itu harus disediakan dana besar, termasuk mencetak penceramah-penceram ah yang dapat menistakan praktik azadari. Sehingga, mazhab Syiah yang berbasis logika itu dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak logis dan palsu. Hal ini akan memunculkan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.

 

7. Jika sudah demikian, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.

8. Kucurkan dana besar untuk mempropagandakan informasi palsu.

9. Berbagai topik anti-Marjaiyah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Marjaiyah, yang merupakan pusat kekuatan Syiah, harus dimusnahkan. Akibatnya, para pengikut Syiah akan bertebaran tanpa arah, sehingga mudah untuk menghancurkan mereka.

Catatan : Kaidah baku para anti Syi’ah dalam memfitnah syi’ah dan disetujui oleh musuh-musuh Islam : ” Setiap kebencian harus beralasan kecuali membenci orang syi’ah, setiap kedustaan harus berdasarkan bukti kecuali kedustaan yg ditujukan kpd org2 syi’ah, sesungguhnya orang2 yg telah dilabeli syi’ah untuk menghinakannya berdusta pun boleh dilakukan sebagaimana arahan Syaikh panutan mereka Ibnu Taimiyah “Apabila anda menjumpai sebuah hadist shahih dan dijadikan hujjah bagi kaum syi’ah maka carilah hadist tandingannya sekalipun hadist lemah ataupun palsu”./Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal. 143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.

“Di dunia ini semua hal mengalami perubahan adapun hal yg tetap dan tak berubah adalah FITNAH DAN KEDUSTAAN KEPADA SYI”AH KARENA IA SEBAGAI KEKUATAN YANG BERDIRI TEGAR DAN TEGAS MELAWAN KEDZALIMAN, DAN KARENANYA IA EKSIS, KOKOH, HIDUP, DAN SEMAKIN DIMINATI”

KITAB-KITAB SYI’AH DAN UPAYA PEMALSUANYA

KARYA-KARYA DIALOG SUNI SYIAH DAN UPAYA PEMALSUANYA

Tentang Kitab Sunni yang Sunni

Membaca buku Sunni yang Sunni,   yang  judul aslinya adalah  al Bayyinat fi a Radd ‘ala Abatil al Muraja’at akan ditemukan fakta yang menarik. Dalam buku yang ditulis oleh Mahmud az Zabi’ untuk di dedikasikan sebagai bantahan buku al Muraja’at tersebut pada halaman paling awal ditemukan tulisan yang membongkar jati diri kelompok ahlu sunnah serta konspirasinya dengan kelompok khawarij.

Kitab al Bayyinat fi a Radd ‘ala Abatil al Muraja’at Sudah pula di tanggapi oleh Syeikh Husen al Radhi, dalam buku berjudul  “Sabil an Najaf Fi Tatimmah al Murtaja’at.

Konspirasi Ahlu Sunnah dan Khawarij

Di awal buku Sunni yang Sunni  pada bab V (edisi cetak halaman 26-28)  disitu dituliskan pendapat Dr Mustafa siba’I dan Ibnu Taimiyah, tetang mereka lebih memilih Khawarij, bahkan memuji khawarij,  Maka kami wajarkan saja jika kemudian dalam hadis sahih mereka  tidak membertikan ruang bagi keluarga Rasulullah saw,  Berapa hadis yang diriwayatkan oleh Ali (total di seluruh kitab ahlu sunnah hanya 50 !!! bayangkan 50 saja dan di bukhori pun hanya 20 saja), Fatimah (hanya 18 hadis yang sahih hanya 2 hadis !!!) , hasan (hanya 18 hadis) dan Husain (hanya 8 hadis) , belum jika ahlu sunna ditanya berapa hadis yang diriwayatkan Imam Ahlul Ba’it ? padahal para penulis hadis  seperti Imam Bukhori dan Muslim ada yang hidup sejaman dengan para Imam, mengapa mereka lebih memilih riwayat khawarij ketimbang riwayat keluarga Rasulullah jawabnya ada di halaman 26-28.

Kitab-kitab dialog sunni syi’ah

Sebelum  melihat lebih jauh fakta tersebut saya ingin mengajak membaca kitab-kitab apa saja yang ditulis ahlu sunnah untuk  menyerang syi’ah, dan kitab-kitab yang  menanggapi  serangan tersebut.

Kitab-kitab ahlu sunnah dan sunni wahabbi yang ditulis untuk menyerang syi’ah diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Karya al Khudhari, Mudharat fi Tarikh al Umam al islamiyah diterbitkan dengan judul Ceramah-ceramah tentang sejarah umat islam)

2.Karya Rasyid Ridha,  As sunnah wa Asy Syi’ah  diterbitkan dengan judul Sunnah dan syi’ah.

3. Karya al Qashimi, Ash Shira’ Baina watsaniyyah wa al Islam diterbitkan dengan judul Pertarungan antara paganisme dan Islam

4.Ahmad Amin, Fajr wa Islam wa Dhuha al islam  diterbitkan dengan judul Fajar islam (Belakangan penulisnya Ahmad Amin melakukan pertobatan dan permohonan maaf kepada Muslim Syi’ah, Ahmad Amin  karena merasa bersalah telah menulis distorsi atas syi’ah akhirnya pada tahun 1349 Hujriah  dia mendatangi najaf dan disana menyatakan permohonan maaf, diantara Ulama syi’ah yang menerimanya adalah Syeikh Muhammad Husain Kasyif al Gita.

5. Karya Musa Jarullah, Al Wasyi’ah fi Naqqd asy syi’ah diterbitkan dengan judul kumpulan kritik terhadap syi’ah

6. Karya Muhibbudin Khatab, al Khuthuth al ‘aridhah  diterbitkan dengan judl jaringan luas

7. Karya Ihsan Illaihi zahir, Asy syi’ah wa sunnah.

8. Karya Ihsan Illaihi zahir, Asy syi’ah wa al qur’an

9. Karya Ihsan Illaihi Zahir asy syi’ah wa ahlul ba’it

10. Karya Ihsan Illaihi Zahir asy syi’ah wa at tasyayyu’

11. Karya Ibnu Taimiyah, Minhaj as sunnah

12. Karya Nshir al Ghifari, Ushul Madzhab as syi’ah

13. Karya Abdullah Muhammad al Gharib, Wa ja’a Dawr al Majus

14 Karya ad Dahlawi. At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah

15. Karya Muhaddits Tsabit al Mishri, Jawlah fi Rubu’ asy syarq al Adna

Dan kitab-kitab di atas ditanggapi oleh :

1.    Syarif Murthadha dalam kitab asy syafi fi al Imammah (belum diterjemahkan)

2.    Alamah al Hilli, Nahj al Haq wa kasyf ash shidsiq (kitab ini dikritik kelompok sunnah oleh Fadhl bin Ruzbahab, al asy’ari, Ibthal al Bathil wa ihmal kasyf al ‘athil)

3.    Sayyid Nurullah al Husaini al Tusturi, Ihaqaq al Hal, kitab ini ditujukan untuk menanggapi kitab Ibthal al Bathil wa ihmal kasyf al ‘athil yang sebelumnya kitab karya Fadhl bin Ruzbahab ini di koreksi  oleh Ayatullah syihabuddin al Mar’asyi an Najafi.

4.    Alamah al Mudzaffar, menulis Dalail ash shiddiq, untuk menanggapi kitab Minhaj as sunnah, dan banyak menyoroti kebencian Ibnu Taimiyah pada keluarga Rasulullah saw.

5.    Allamah Abdul Husain al Amini, menulis al Ghadir  kitab ini di dedikasikaan untuk mengkoreksi dan membantah kitab : al ‘aqad al farid, al farq bainal fariq, al milal wa an nihal, al bidayah wa an nihayah, al mashsar, as sunnah wa asy syi’ah, ash shira’, fajr  al Islam, dhuha al isalm, ‘aqidah asy syi’ah , al wasyi’ah, minhaj as sunnah

6.    Sayyid Hamid Husain Ibnu sayyid Muhammad Qili al Hindi, ‘Abaqat al Anwar fi Imamamh al Aimamah al Athhar. kitab ini untuk menjawab  ath tuhfah al Itsna ‘asyariyyah,  Menarik untuk di catat disini kitab ini adalah kitab pungkasan yang sampai saat ini  ahlu sunnah belum ada yang mampu memberi sanggahan terhadap kitab ini.

7.    Murthadha al ‘askari,  Ma’alim al madrasatain

8.    Abu Ahmad bin abdun Nabi an Naisabhuri, as saif al Maslul ‘ala Mukhribi din ar Rasul.

9.    Muhammad Qili,  an Nazhah al Itsna ‘Asyariyyah.

10.    Syeikh subhan Ali Khan al Hindi, al wafiz fi al Ushul

11.    Sayyid Muhammad sayyid  al Immamah  dan al Bawariq al Illahiyyah.

Al Dahlawi  semula menyerang syiah lewat kitab  At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah  dan langsung ditanggapi kitab ash shawarim allahiyyah karya sayyid Deldor Ali  dan Kitab sharim al Islam, kemudian kitab ini di tanggapi oleh murid al Dahlawi  yang bernama Rasyidudin al Dahlawi lewat kitabnya asy syawakah al “umariyyah, kemudian kitab ini ditanggapi lagi oleh ulama ahlul ba’it Bqir Ali lewat karyanya al Hamlah al Haidariyyah dan al Mirza  dengan karyanya  an Niazhah al Itsna “asyariyyah dan kitab ini ditanggapi oleh ahlu sunnah lewat kitab  Rujum asy syayathin.  Dan kitab inipun di jawab oleh ulama syi’ah Sayyid Ja’far Musawi dalam kitabnya Mu’in as shadiqin fi Radd Rujum asy syayathin.

Kitab ad Dahlawi. At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah dtanggapi pula oleh Muhammad Qili lewat al ajnad al Itsna “asyariyyah al Muhammadiyyah,  kemudian kitab ini ditanggapi  oleh Muhammad Rasyid ad Dahlawi, dan ditanggi lagi oleh Sayyid Muhammad Qili dalam kitab al ajwibbah al Fakhirah fi ar radd ‘ala al Asya’irah.  Dan seluruh polemik ini di akhiri oleh Sayyid Hamid Husain Ibnu sayyid Muhammad Qili al Hindi yang berjudul ‘Abaqat al Anwar fi Imamamh al Aimamah al Athhar. Hingga hari ini tidak kitab ahlu sunnah yang menanggapi kitab ini

Menarik untuk dicermati beberapa sarjana-sarjana dan ulama ahlu sunnah yang mempelajari syi’ah kemudian  masuk syi’ah, belakangan mereka  menulis karya-karya besar yang menunjukkan kebenaran syi’ah, beriku diantaranya :

1. Muhaddis Jalil Abu Nafar Muhammad bin Mas’ud bin “iyasy, dikenal dengan al ‘iyasy  dia yang menulis tafsir al m’atsur dan kitab al ‘iyasyi.

2. Syeikh Muhammad Mar’i al Amin al Anthaki, beliau menuliskan kitab Limadza Ikhtartu Madzhab asy syi’ah.

4. Syeikh Muhammad Abu Rayah. menuliskan adhwa’ ala as sunnah al muhammadiyyah dan kitab abu hurairah syeikh al mudhirah.

5. Ahmad Husain Yaqub. menuliskan Nadzariyyah al adalah ash shahabah dan kitab al khutuhath as siyasiyyah li tawhud al ummah al islamiyyah.

6 at Tijani as samawi, menuiliskan Tsamma Ihtadaitu.Li’akuna Ma’a  ash shadiqin , Fas’alu ahla adz dzkr, asy syi’ah hum ahlus sunnah.

7. Sayid Idris al husaini, menulis  Laqad Tasyayya’ani al husain, al Khilafah al Mughtashabah dan kitab Hakadza ‘araftu asy syi’ah.

8. Sha’ib Abdul Hamid, kItab Manhaj fi al Intima’ al Madzhabi.

9. Sa’id Ayub, ‘Aqidah al Masih ad Dajjal  dan Ma’alim Fatan.

10. Shalih al Wardani, al Khuda’ah, Rihlati min as sunnah ila asy syi’ah, Harakah ahlul Bait as, asy syi’ah fi mishr, ‘aqa’id as sunnah wa ‘aqa’id asy syi’ah.

11. Muhammad abdu; Hafidz, Limadza ana ja’fari.

12. Sayyid Abdul Mun’im Muhammad al Hasan, Bi Nur Fathimah Ihtadaitu

13. Syekh Abdul Nashir, Syi’ah wa al Qur’an, asy syi’ah wa hadits, asy syi’ah wa ash shahabah, asy syi’ah at taqiyyah  dan  asy syi’ah wa al imammah

14. al ‘Alim al Khathib al Munadzir sayyid ali al badri, ahsan al mawahib fi haqa’iq al madzahib.

15. Sayyid Yasin al Ma’yuf al Badrani, Ya Laita Qawmi Ya’ lamun.

Mossad dan CIA memalsukan Karya Imam Khomaini

Revolusi Islam Iran telah membuat ketakutan bagi setan besar Amerika, demikian halnya Israel, tatkala rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Jendral Israel yang memenangkan perang tujuh hari atas Arab,  Moshe Dayan,  menampakan kemarahan yang luar biasa. Meski sudah pensiun Jendral bermata satu tersebut  merasa terusik dengan lahirnya Republik Isal baru tersebut, Moshe Dayan kemudian mencak-mencak di IDF atas kegagalan operasi Mossad  dan CIA  yang gagal membunuhi tokoh-tokoh revolusi Iran, sembari membanting topi ke meja moshe dayan  mengatakan “ Mulai hari ini kalian harus bekerja keras, !!! masa depan Israel sedang  menghadapi ancaman serius dari anak-anak Ali, hari ini  Israel akan menghadapi lawan tangguh [1]

Beberapa operasi  simultan kemudian digelar Amerika serikat dan Israel untuk menghancurkan Republik Islam Iran [2],  salah satunya adalah perang intelijen yang menitik beratkan pada operasi disinformasi (penyesatan informasi). Israel  memerintahkan LAP (Lahomah Pscichlogit) dengan tugas agar melakukan assassination character dan black campaign terhadap karya-karya Khomaini, operasi ini didukung pula oleh  Joint Publications and Reserch service  sebuah kompartemen milik CIA yang bertanggungjawab melakukan penerjemahan. [3] Sebagaimana disebutkan oleh Hamid Alghar, CIA dan LAP kemudian melakukan pemalsuan-pemalsuan terhadap karya-karya ulama syi’ah termasuk Imam khomaini. Semula CIA dan LAP menggunakan basis percetakanya di New York dengan memakai kedok Manor Books sebagai penerbitnya, namun belakangan mereka menggunakan percetakan yang berbasis di negara-negara sunni pro Amerika, diantaranya Arab Saudi dan Yordania. Berikut adalah sebagian kecil buku-buku yang di palsukan oleh konspirasi AS-Israel-Sunni Wahabi dan Sunni pro AS Israel [3] :

1.    Kitab Hukumat- I Islami karya Imam Khomaini

Kitab ini merupakan magnum opus imam khomaini, kitab ini berisikan catatan-catatan kuliah tentang prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang dikumpulkan oleh murid-murid beliau dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Perancis, Arab, Turki dan Urdu. Setelah Imam Khomaini berhasil menumbangkan rezim pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran, kitab Hukumat I Islam ini kemudian dipalsukan oleh  CIA, buku ini di palsukan dalam dua bahasa Inggris dan Arab. Kelompok sunni wahabbi menggunakan terbitan dari CIA dan LAP ini untuk menyerang syi’ah dan melakukan asasinasion character terhadap Imam Khomaini dengan buku ini. Penerbit dari Indonesia  bernama Pustaka Zahra  telah mencetak buku aslinya dengan judul Sistem Pemerintahan Islam. Silahkan di bandingkan antara yang buku yang diterbitkan CIA dan LAP ini dengan buku aslinya.

2.    Kitab Kasyful Asrar  karya Imam Khomaini

Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas)  dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah diantaranya kemudian diterbitkan buku  berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal ,  Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia). Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah . Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru ahlu sunnah sendiri, adalah Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan kepala bagian bahasa dan sastra timur universitas cairo, menemukan tindakan criminal kelompok konspirasi ini. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata  kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki  nama baik ahlu sunnah. Temuan beliau diantaranya : Kitab  Kasyful Asrar  dipalsukan di Yordania  oleh penerbit bernama  Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr  buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada. Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilalali  (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib.  Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna  if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki sata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi.

Masih banyak kitab-kitab syiah yang di palsukan oleh kelompok pro konspirasi seperti Salafi Wahabi, seperti kitab yang ditulis alamah Hilli untuk menanggapi karya Ibnu Taimiyah,  minhajul as sunnah  pun tak luput dipalsukan, dan tempat pemalsuanya berpusat di Arab Saudi,

Fenomena Pencatutan Nama Ulama Syi’ah

Selain memalsukan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi tak segan-segan melakukan pencatutan nama, modusnya dengan menulis buku seolah-olah dilakukan oleh ulama syi’ah, diantaranya adalah :

1.    Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah penulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah  yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah  al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah ja’far subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.

2.    Syaikh saleh darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul Ta’ammulat fi Nahjul al Balghah,  dan kitab ini segera diketahui oleh ulama-ulama Syiah dan kemudian diluruskan dalam kitab berjudul Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.

3.    Kelompok Pro Konspirasi mencatut nama Sayyid musa Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab  as syi’ah wa at tashih yang  sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah pro konspirasi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah.

Bahkan Kelompok konspirasi ini bukan hanya melakukan pemalsuan kitab Syi’ah mereka bahkan secara keji memalsukan kitab-kitab mereka sendiri, diantaranya  :

1.    Memalsukan kitab “Hasyiyah Al Allamah Al Showi Ala Tafsir Al Jalalain”

2.    Memalsukan pernyataan Imam Syafi’i  dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw:176

3.    Memalsukan pernyataan Imama Ahmad bin Hanbal dalam  kitab Mukhtashar ar Rawdhah. Dalam kitab yang sama memalsukan pernyataan Imam malik dan Imam Abu Hanifah

Sampai hari ini mesin-mesin konspirasi terus bekerja,  kami memaklumi jika kemudian kalangan ahlu sunnah melazimkan pemalsuan kitab-kitab syi’ah, sedang terhadap imamnya sendiri saja mereka gemar melakukan pemalsuan.

[1]  Mossad, Penerbit Grafiti

[2] Bagi yang berminat silahkan membaca tulisan dalam blog  peminat kemeliteran dan inteleijen yang dikelola oleh Muhammad Reza Sistani, Muhammad Ivana Lee, Ar Budi Prasetyo dan  Muhammad Alfred Sastranagara.

[3] Makalah Muhammad Ivana Lee yang disampaikan dalam  Desk diskusi Wirakartika Ekapaksi, “Seputar Dirty Intelligen Terhadap karya-Karya Khomaini”

[4] Untuk mengetahui lebih jelas silahkan melihat daftar yang dimiliki IPO (organisasi Penerangan Islam yang sempat melakukan penertiban buku-buku yang dipalsukan tersebut)