Monthly Archives: April 2011

Pandangan Ulama Ahlu Sunnah tentang Ibnu Taimiyah

Kerancuan berfikir Ibnu taimiyah bahkan oleh kalangan sunni sendiri ditolak. Apalagi Aqidah Ibnu taimiyah yang menganut paham mujasimah, musyabihah, rukyat dan hasyawiyah ordo kuno yang menganut paham Yahudi yang sekarang juga di anut kelompok sunni wahabbi. Diantara ulama yang menolak Ibnu taimiyah adalah sbb :

Al Hafizh Ibnu Hajar (W 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154-155 bahwa para ulama menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

Ibnu Hajar menyatakan; Ibnu Taimiyah menyalahkan sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab , “dia menyatakan tentang sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq bahwa beliau masuk Islam di saat tua renta dan tidak menyadari betul apa yang beliau katakan (layaknya seorang pikun). Sayyidina Utsman ibn ‘Affan, masih kata Ibnu Taimiyah- mencintai dan gandrung harta dunia (materialis) dan sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib menurutnya- salah dan menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan, ‘Ali menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah ke manapun beliau pergi, dia sangat gandrung dan haus akan kekuasaan dan dia masuk Islam di waktu kecil padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah”.

Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idlah fi Manasik al Hajj Wa al ‘Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang
pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah,karena sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah. At-Taqiyy as-Subki dengan panjang lebar juga telah membantahnya dalam sebuah tulisan tersendiri. Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah aneh karena dia bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang kafir dan atheis. Ibnu Taimiyah menisbatkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, ia menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang lain. Karenanya, Demi Allah ia telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan kedilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dusta-dusta yang dilakukan Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”.

Pengarang kitab Kifayatul Akhyar SyekhTaqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahwa para ulama dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat, dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama”.

Adz-Dzahabi (Mantan murid Ibnu Taimiyah) dalam risalahnya Bayan Zaghal al Ilmi wa ath-Thalab, hlm 17 berkata tentang Ibnu Taimiyah: ”Saya sudah lelah mengamati dan menimbang sepak terjangnya (Ibnu Taimiyah), hingga saya merasa bosan setelah bertahun-tahun menelitinya. Hasil yang saya peroleh; ternyata bahwa penyebab tidak sejajarnya Ibnu Taimiyah dengan ulama Syam dan Mesir serta ia dibenci, dihina, didustakan dan dikafirkan oleh penduduk Syam dan Mesir adalah karena ia sombong, terlena oleh diri dan hawa nafsunya (‘ujub), sangat haus dan gandrunguntuk mengepalai dan memimpin para ulama dan sering melecehkan para ulama besar. “

Adz-Dzahabi melanjutkan: “Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebagian dari resiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”. Risalah adz-Dzahabi ini memang benar adanya dan ditulis oleh adz-Dzahabi karena al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) menukil perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at- Taubikh, hlm. 77.

Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i (W 761 H) yang semasa dengan Ibnu Taimiyah juga mencelanya. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah menyisakan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya”. Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul an-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith.. I

Ibnu Taimiyah juga menuturkan keyakinannya bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dalam beberapa kitabnya: Majmu’ al Fatawa, juz IV, hlm. 374, Syarh Hadits an-Nuzul, hlm. 66, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz I , hlm. 262. Keyakinan seperti ini jelas merupakan kekufuran. Termasuk kekufuran Tasybih; yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya

sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah. Ini juga merupakan bukti bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah Mutanaaqidl (Pernyataannya sering bertentangan antara satu dengan yang lain). Bagaimana ia mengatakan -suatu saat- bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dan –di saat yang lain- mengatakan Allah duduk di atas Kursi ?!, padahal kursi itu jauh sangat kecil di banding ‘Arsy. Setelah semua yang dikemukakan ini, tentunya tidaklah pantas, terutama bagi orang yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah karena jika ini dilakukan maka orangorang tersebut akan mengikutinya, dan dari sini akan muncul bahaya yang sangat besar. Karena Ibnu Taimiyah adalah penyebab kasus pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para Wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Sementara itu, sekarang ini para pengikut Ibnu Taimiyah juga mengkafirkan orangorang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Saleh, bahkan mereka menamakan Syekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini artinya mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), karena beliau -semoga Allah merahmatinya-mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram,

PARA ULAMA, AHLI FIQH DAN PARA QADHI YANG MEMBANTAH IBNU TAIMIYAH

Berikut adalah nama-nama para ulama yang semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta menyerang pendapatpendapatnya. Mereka adalah para ulama dari empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali:

1. Al Qadli al Mufassir Badr ad-din Muhammad bn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (W 733H).
2. Al Qadli Muhammad ibn al Hariri al Anshari a Hanafi.
3. Al Qadli Muhammad ibn Abu Bakar al Maliki
4. Al Qadli Ahmad ibn ‘Umar al Maqdisi al Hanbali Dengan fatwa empat Qadli (hakim) dari empat madzhab ini, Ibnu Taimiyah dipenjara
pada tahun 762 H. Peristiwa ini diuraikan dalam ‘Uyun at-Tawarikh karya Ibnu Syakir al Kutubi, Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi
karya Ibn al Mu’allim al Qurasyi.
5. Syekh Shalih ibn Abdillah al Batha-ihi, pimpinan para ulama di Munaybi’ ar-Rifa’i, kemudian menetap di Damaskus dan wafat
tahun 707 H. Beliau adalah salah seorang yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah dan membantahnya seperti dijelaskan oleh
Ahmad al-Witri dalam karyanya Raudlah an- Nazhirin wa Khulashah Manaqib ash-Shalihin. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani juga
menuturkan biografi Syekh Shalih ini dalam ad-Durar al Kaminah.
6. Syekh Kamal ad-Din Muhammad ibn Abu al Hasan Ali as-Siraj ar-Rifa’i al Qurasyi dalamTuffah al Arwah wa Fattah al Arbah. Beliau ini
semasa dengan Ibnu Taimiyah .
7. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di Mesir; Ahmad ibn Ibrahim as-Surrruji al Hanafi (W710 H) dalam I’tiraadlat ‘Ala Ibn Taimiyah fi ‘Ilm al Kalam.
8. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) madzhab Maliki di Mesir; Ali ibn Makhluf (W 718 H). Beliau berkata: “Ibnu Taimiyah berkeyakinan
Tajsim. Dalam madzhab kami, orang yang meyakini ini telah kafir dan wajib dibunuh”. 9. Asy-Syekh al Faqih Ali ibn Ya’qub al Bakri (W
724 H). Ketika Ibnu Taimiyah datang ke Mesir beliau mendatanginya dan mengingkari pendapat-pendapatnya .
10. Al Faqih Syams ad-Din Muhammad ibn ‘Adlan asy-Syafi’i (W 749 H). Beliau mengatakan: “Ibnu Taimiyah berkata; Allah di atas ‘Arsy dengan keberadaan di atas yang sebenarnya, Allah berbicara (berfirman) dengan
huruf dan suara”.
11. Al Hafizh al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki (W 756 H) dalam berapa karyanya: – Al I’tibar Bi Baqa al Jannah Wa an-Nar
– Ad-Durrah al Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah
– Syifa as-Saqam fi Ziyarah Khairi al Anam
– An-Nazhar al Muhaqqaq fi al Halif Bi ath-Thalaq al Mu’allaq
– Naqd al Ijtima’ Wa al Iftiraq fi Masa-il alAyman wa ath-Thalaq
– at-Tahqiq fi Mas-alah at Ta’liq
– Raf’ asy-Syiqaq ‘An Mas-alah ath-Thalaq.
12. Al Muhaddits al Mufassir al Ushuli al Faqih Muhammad ibn ‘Umar ibn Makki, yang lebih dikenal dengan Ibn al Murahhil asy-Syafi’i (W
716 H) beliau membantah dan menyerang Ibnu Taimiyah.
13. Al Hafizh Abu Sa’id Shalah ad-Din al ‘Ala-i (W. 761 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah seperti dijelaskan dalam:
– Dzakha-ir al Qashr fi Tarajim Nubala al ‘Ashr, hlm .32-33, buah karya Ibnu Thulun.
– Ahadits Ziyarah Qabr an-Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam.
14. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di al Madinah al Munawwarah; Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al Hanbali (W 762 H).
15. Syekh Ahmad ibn Yahya al Kullabi al Halabi yang lebih dikenal dengan Ibn Jahbal (W 733 H). Beliau semasa dengan Ibnu Taimiyah dan
menulis sebuah risalah untuk membantahnya, berjudul Risalah fi Nafyi al Jihah, yakni menafikan Jihah (arah) bagi Allah.
16. Al Qadli Kamal ad-Din ibn az-Zumallakani (W 727 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dan menyerangnya dengan menulis dua risalah bantahan tentang masalah talak dan ziarah ke makam Rasulullah.
17. Al Qadli Kamal Shafiyy ad-Din al Hindi (W715 H), beliau mendebat Ibnu Taimiyah.
18. Al Faqih al Muhaddits ‘Ali ibn Muhammad al Bajiyy asy-Syafi’i (W 714 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dalam empat belas majelis dan
berhasil membungkamnya.
19. Al Mu-arrikh al Faqih al Mutakallim al Fakhr Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W 725 H) dalam karyanya Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi.
20. Al Faqih Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Ali al Mazini ad-Dahhan ad-Dimasyqi (W 721 H) dalam dua risalahnya:
– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalahath-Thalaq.
– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalah az-Ziyarah.
21. Al Faqih Abu al Qasim Ahmad ibn Muhammad asy-Syirazi (W 733 H) dalam karyanya Risalah fi ar-Radd ‘Ala ibn Taimiyah..
22. Al Faqih al Muhaddits Jalal ad-Din Muhammad al Qazwini asy-Syafi’i (W 739 H)
23. Surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Ibnu Qalawun (W 741 H) untuk memenjarakannya.
24. Al Hafizh adz-Dzahabi (W 748 H). Ia semasa dengan Ibnu Taimiyah dan membantahnya dalam dua risalahnya : – Bayan Zaghal al ‘Ilm wa ath-Thalab. – An-Nashihah adz-Dzahabiyyah
25. Al Mufassir Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) dalam Tafsirnya: An-Nahr al Maadd Min al Bahr al Muhith.
26. Syekh ‘Afif ad-Din Abdullah ibn As’ad al Yafi’i al Yamani al Makki (W 768 H).
28. Al Faqih Taj ad-Din as-Subki (W 771 H) dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyyah alKubra.
29. Al Muarrikh Ibnu Syakir al Kutubi (W 764H); murid Ibnu Taimiyah dalam karyanya :‘Uyun at-Tawarikh.
30. Syekh ‘Umar ibn Abu al Yaman al Lakhami al Fakihi al Maliki (W 734 H) dalam at-Tuhfah al Mukhtarah Fi ar-Radd ‘Ala Munkir az-Ziyarah.
31. Al Qadli Muhammad as-Sa’di al Mishri al Akhna-i (W 750 H) dalam al Maqalah al Mardhiyyah fi ar-Radd ‘Ala Man Yunkir az- Ziyarah al-Muhammadiyyah. Buku ini dicetak dalam satu rangkaian dengan Al-Barahin as- Sathi’ah karya Al ’Azami.
32. Syekh Isa az-Zawawi al Maliki (W 743 H) dalam Risalah fi Mas-alah ath- Thalaq
33. Syekh Ahmad ibn Utsman at-Turkamani al- Juzajani al Hanafi (W 744 H) dalam al Abhatsal Jaliyyah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah.
34. Al Hafizh Abd ar-Rahman ibn Ahmad, yang terkenal dengan Ibnu Rajab al Hanbali (W 795 H) dalam : Bayan Musykil al Ahadits al Waridah fi Anna ath-Thalaq ats-Tsalats Wahidah.
35. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani (W 852 H) dalam beberapa karyanya: – Ad-Durar al Kaminah fi A’yan al Mi-ah ats-Tsaminah – Lisan al Mizan – Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari – Al Isyarah Bi Thuruq Hadits az-Ziyarah
36. Al Hafizh Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 826 H) dalam al Ajwibah al Mardliyyah fi ar-Radd ‘Ala al As-ilah al Makkiyyah.
37. Al Faqih al Mu-arrikh Ibn Qadli Syuhbah asy- Syafi’i (W 851 H) dalam Tarikh Ibn Qadli Syuhbah .
38. Al Faqih Abu Bakr al Hushni (W 829 H) dalam Karyanya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila al Imam Ahmad.
39. Pimpinan para ulama seluruh Afrika, Abu Abdillah ibn ‘Arafah at-Tunisi al Maliki (W 803 H).
40. Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syekh al Islam1. Artinya orang yang menyebutnya dengan julukan Syekh al Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-Dlau Al Lami’.
41. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamid ad-Din al Farghani ad-Dimasyqi al Hanafi (W867 H) dalam risalahnya Ar-Radd ‘Ala Ibnu
42. Syekh Ahmad Zurruq al Fasi al Maliki (W899 H) dalam Syarh Hizb al Bahr.
43. Al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) dalam Al I’lan Bi at-Taubikh liman Dzamma at-Tarikh.
44. Ahmad ibn Muhammad Yang dikenal denganIbnu Abd as-Salam al Mishri (W 931 H) dalam al Qaul an-Nashir fi Raddi Khabath ‘Ali ibn Nashir.
45. Al ‘Alim Ahmad ibn Muhammad al Khawarizmi ad-Dimasyqi yang dikenal dengan Ibnu Qira (W 968 H), beliau mencela Ibnu Taimiyah.
46. al Bayyadli al Hanafi (W 1098 H) dalam Isyarat al Maram Min ‘Ibarat al Imam.
47. Syekh Ahmad ibn Muhammad al Witri (W 980 H) dalam Raudlah an- Nazhirin WaKhulashah Manaqib ash- Shalihin.
48. Syekh Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H)dalam karya-karyanya; – Al Fatawi al Haditsiyyah – Al Jawhar al Munazhzham fi Ziyarah al Qabr alMu’azhzham – Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj
****************************************************************************
Ibnu Taimiyah dan Hubungannya Dengan Peristiwa Karbala

Mayoritas mutlak kaum muslimin baik Sunnah maupun Syiah sepakat akan kezaliman yang telah dilakukan oleh para penguasa Bani Umayyah. Bani Umayyah berlaku zalim bukan hanya kepada para kaum muslimin biasa, namun mereka juga berlaku zalim kepada keluarga suci Rasulullah SAW beserta para pengikut setianya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengetahui — melalui wahyu Allah — akan hal tersebut, dan dalam banyak hadits disebutkan beliau sangat membenci Bani Umayyah sampai akhir hayatnya.

Sebagai contoh, hadits yang diriwayatkan Imran bin Hashim:

* “Rasulullah SAW meninggal dalam keadaan membenci tiga kabilah; Bani Hanifah, Bani Makhzum dan Bani Umayyah.” Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain yang juga memasukkan Bani Umayyah di sana.

Semenjak didirikannya sistem pemerintahan zalim yang berpusat di Syam (Damaskus saat ini), sampai pada rezim Yazid bin Muawiyah, adalah puncak kezaliman Bani Umayyah. Semua itu dicatat oleh para sejarawan, sebagai masa yang paling buruk dalam dunia Islam. Pembantaian Husein bin Ali bin Abi Thalib as adalah peristiwa yang paling menyakitkan dari sekian banyak peristiwa sedih yang bisa ditemui dalam lembaran-lembaran sejarah umat Islam. Terlalu banyak kita dapatkan pendapat para ulama Ahlusunnah yang dengan jelas mengecam pelaku pembantaian tersebut, terutama Yazid, otak tindakan pembantaian di Karbala itu.

Pendapat Para Ulama terhadap Kezaliman Yazid

Al-Alusi mengatakan:

* “Barangsiapa yang beranggapan bahwa perilaku Yazid tidak masuk kategori maksiat, sehingga dilarang untuk melaknatnya, maka sungguh ia tergolong penolong Yazid.”

Taftazani berpendapat:

* “Kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein merupakan satu bentuk penghinaan atas Ahlul Bait (keluarga Nabi), dan hal itu merupakan sesuatu yang mutawatirat maknawi (yang diterima oleh mayoritas walau tidak transparan).”

Jahidh mengungkapkan:

* “Berbagai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Yazid, seperti membunuh Husein, menawan keluarga Husein, memukuli kepala dan gigi Husein dengan kayu, menimbulkan rasa ketakutan penghuni Madinah, merusak Ka’bah, semua itu sebagai bukti bahwa Yazid memiliki jiwa keras kepala, angkara murka, kemunafikan dan telah keluar dari keimanan, maka ia masuk kategori fasik dan terlaknat. Barangsiapa yang menghindari dari pelaknatan seseorang yang layak untuk dilaknat, maka iapun termasuk orang yang terlaknat.”

Seorang penulis besar Mesir, Thaha Husein, mengatakan:

* “Sebagian beranggapan, Yazid bersih dari keterlibatan pembunuhan atas Husein dengan cara yang sangat memprihatinkan, sementara kesalahan sepenuhnya ditujukan kepada Ubaidillah. Jika memang hal itu benar, kenapa (Yazid) tidak mencela Ubaidillah? Kenapa ia tidak menghukum Ubaidillah? Kenapa ia tidak mencabut kedudukan Ubaidillah?”

Dari ungkapan ulama Ahlussunnah di atas, dengan jelas bahwa mereka sendiri meyakini akan kezaliman dan kelaliman Yazid anak Muawiyah. Dan mereka pun beranggapan bahwa pembela orang zalim berarti ia dihukumi sama dengan yang dibela.

Ibnu Taimiyah dan Pembantaian Imam Husein

Bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah tentang pembunuhan Al-Husein oleh Yazid? Ibnu Taimiyah bukan hanya tidak mau menyalahkan Yazid, bahkan ia telah menulis buku tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyah. Buku itu ia beri judul “Fadha’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid). Padahal, Dzahabi menukil pendapat Ahmad bin Hanbal yang mengatakan “Tiada satupun riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah masuk kategori riwayat shahih”.

Suatu waktu, An-Nasa’i — penulis As-Sunan yang termasuk dari enam buku standar Ahlussunnah– datang ke kota Damaskus, ibu kota kerajaan Dinasti Umayyah. Ketika itu, penduduk Damaskus meminta darinya riwayat-riwayat tentang keutamaan Muawiyah. Mendengar permintaan tersebut An-Nasa’i mengatakan:

* Saya tidak mengetahui keutamaannya, kecuali ada satu riwayat dari Rasulullah SAW tentang dia, beliau bersabda: “Semoga Allah tidak akan pernah mengenyangkan perutmu”.

Selain itu Hasan Al-Basri pernah mengatakan:

* “Ada beberapa hal yang terdapat pada diri Muawiyah, di mana setiap satu dari sekian hal tersebut menyebabkan ia disiksa; mengghashab (merampas) kekhalifahan dengan kekerasan dan pedang, mengangkat anaknya (Yazid) sang pemabuk sebagai pengganti dirinya dalam menduduki kursi kekhilafahan, memakai baju sutera, menari, Ziyad dianggap sebagai anak, sedang Hijr bin ‘Adi dan pengikutnya dizalimi hingga mati.”

Adapun yang berkenaan dengan Yazid, Ibnu Taimiyah dalam beberapa tulisannya terus berusaha membelanya. Dalam tulisan Ibnu Taimiyah, upaya untuk mencari pembenaran atas perilaku Yazid pada peristiwa pembantaian di Karbala, ia mengatakan:

* “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut.”

Sebagaimana Ibnu Taimiyah juga mengingkari diaraknya kepala suci Husein bin Ali as oleh bala tentara Yazid. Padahal, banyak ulama ahli sejarah dari Ahlussunnah meyakini kejadian tersebut, seperti Ibnu ‘Asakir dalam Tarjamah Al-Imam Husein atau Ibnu Sa’ad dalam Tabaqatnya. Ibnu Taimiyah pun dalam karyanya yang lain, mengingkari bahwa keluarga Husein bin Ali as ditawan oleh pasukan Yazid, padahal, banyak buku sejarah Ahlusunnah sendiri menyebutkan hal tersebut, seperti Thabari dalam kitab Tarikhnya, Ibnu Atsir dalam kitab Al-Kamil fi At-Tarikh atau kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah. Sedang dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:

* “Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyadlah yang melakukan itu semua.”

Semua Kejadian yang Dinafikan oleh Ibnu Taimiyah di Atas Dengan Jelas Bisa Ditemui Dalam Kitab-kitab Standar Ahlussunnah.

Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata:

* “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair.”

Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlussunnah mengatakan:

* “Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya.”

Masih layakkah Yazid bin Muawiyah dibela, terkhusus dalam kejadian tragis di Karbala? Masihkah orang semacam Ibnu Taimiyah sudi membela manusia durjana seperti Yazid beserta antek-anteknya? Lantas bagaimana jika kita terapkan pendapat Taftazani tadi terhadap Ibnu Taimiyah, sang pembela Yazid? Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj Adz-Dzahab dengan jelas menuliskan:

* “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad.”

Ternyata, pembelaan Ibnu Taimiyah terhadap Yazid bukan hanya berkisar tentang kesalahan besar Yazid dalam peristiwa Karbala. Namun, dalam peristiwa-peristiwa lain pun ia bersikeras untuk mensucikan Yazid sesuci-sucinya. Kita akan nukil beberapa peristiwa besar yang diperbuat oleh Yazid yang mana Ibnu Taimiyah tetap membela mati-matian Yazid bin Muawiyah, padahal banyak ulama Ahlussunnah sendiri dengan jelas menukil kejadian-kejadian itu.

Selain membunuh keluarga suci Rasulullah, Yazid juga merupakan otak pembantaian di kota suci Madinah Al-Munawwarah. Kota tempat disemayamkannya tubuh suci Rasulullah SAW beserta banyak keluarga dan sahabatnya.

Ibnu Atsir dalam kitabnya mengatakan:

* “Setelah peristiwa Karbala, para penghuni Madinah menarik bai’atnya dari Yazid. Setelah Yazid mendengar kejadian tersebut, ia lantas mengirim manusia haus darah bernama Muslim bin Uqbah untuk memerintahkan penduduk Madinah supaya memberikan kembali bai’atnya kepada Yazid, dengan diberi jangka waktu selama tiga hari. Jika tidak, maka seluruh penduduk Madinah akan dibunuh. Sebagaimana ia juga memberi ijin untuk mengambil semua harta benda mereka, dan menghukuminya halal bagi semua bala tentaranya. Setelah tiga hari Muslim bin Uqbah memasuki kota Madinah, terjadilah pembantaian besar-besaran dan perilaku durjana yang maha dahsyat selama sejarah umat manusia.”
***********************************************************************
Bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah tentang pembunuhan al-Husein oleh Yazid? Ibnu Taimiyah bukan hanya tidak mau menyalahkan Yazid, bahkan ia telah menulis buku tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyah. Buku itu ia beri judul “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid). Padahal, Dzahabi menukil pendapat Ahmad bin Hanbal yang mengatakan “Tiada satupun riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah masuk kategori riwayat sahih”.

Suatu waktu, an-Nasa’i –penulis as-Sunan yang termasuk dari enam buku standar Ahlusunnah- datang ke kota Damaskus, ibu kota kerajaan Dinasti Umayyah. Ketika itu, penduduk Damaskus meminta darinya riwayat-riwayat tentang keutamaan Muawiyah. Mendengar permintaan tersebut an-Nasa’i mengatakan:

“Saya tidak mengetahui keutamaannya, kecuali ada satu riwayat dari Rasulullah saww tentang dia, beliau bersabda: “Semoga Allah tidak akan pernah mengenyangkan perutmu”.

Selain itu Hasan al-Basri pernah mengatakan:

“Ada beberapa hal yang terdapat pada diri Muawiyah, dimana setiap satu dari sekian hal tersebut menyebabkan ia disiksa; meng-ghoshob (merampas) kekhalifahan dengan kekerasan dan pedang, mengangkat anaknya (Yazid) sang pemabuk sebagai pengganti dirinya dalam menduduki kursi kekhilafahan, memakai baju sutera, menari, Ziyad dianggap sebagai anak, sedang Hijr bin ‘Adi dan pengikutnya dizalimi hingga mati”.

Adapun yang berkenaan dengan Yazid, Ibnu Taimiyah dalam beberapa tulisannya terus berusaha membelanya. Dalam tulisan Ibnu Taimiyah, upaya untuk mencari pembenaran atas prilaku Yazid pada peristiwa pembantaian di Karbala, ia mengatakan “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut”. Sebagaimana Ibnu Taimiyah juga mengingkari diaraknya kepala suci Husein bin Ali as oleh bala tentara Yazid. Padahal, banyak ulama ahli sejarah dari Ahlusunnah meyakini kejadian tersebut, seperti Ibnu ‘Asakir dalam Tarjamah al-Imam Husein atau Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat-nya. Ibnu Taimiyah pun dalam karyanya yang lain, mengingkari bahwa keluarga Husein bin Ali as ditawan oleh pasukan Yazid, padahal, banyak buku-buku sejarah Ahlusunnah sendiri menyebutkan hal tersebut, seperti Thabari dalam kitab Tarikh-nya, Ibnu Atsir dalam kitab al-Kamil fi at-Tarikh atau kitab al-Bidayah wa an-Nihayah. Sedang dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua”.

Semua kejadian yang dinafikan oleh Ibnu Taimiyah di atas dengan jelas bisa ditemui dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.

Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata, “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis, “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair”. Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlusunnah mengatakan:

“Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya”.

Masih layakkah Yazid bin Muawiyah dibela, terkhusus dalam kejadian tragis di Karbala? Masihkah orang semacam Ibnu Taimiyah sudi membela manusia durjana seperti Yazid beserta antek-anteknya? Lantas bagaimana jika kita terapkan pendapat Taftazani tadi terhadap Ibnu Taimiyah, sang pembela Yazid? Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahab dengan jelas menuliskan “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad”.

Ternyata, pembelaan Ibnu Taimiyah terhadap Yazid bukan hanya berkisar tentang kesalahan besar Yazid dalam peristiwa Karbala. Namun, dalam peristiwa-peristiwa lain pun ia bersikeras untuk mensucikan Yazid sesuci-sucinya. Kita akan nukil beberapa peristiwa besar yang diperbuat oleh Yazid yangmana Ibnu Taimiyah tetap membela mati-matian Yazid bin Muawiyah, padahal banyak ulama Ahlusunnah sendiri dengan jelas menukil kejadian-kejadian itu.

Selain membunuh keluarga suci Rasulullah, Yazid juga merupakan otak pembantaian di kota suci Madinah al-Munawwarah. Kota tempat disemayamkannya tubuh suci Rasulullah saww beserta banyak keluarga dan sahabatnya. Ibnu Atsir dalam kitabnya mengatakan:

“Setelah peristiwa Karbala, para penghuni Madinah menarik baiatnya dari Yazid. Setelah Yazid mendengar kejadian tersebut, ia lantas mengirim manusia haus darah bernama Muslim bin Uqbah untuk memerintahkan penduduk Madinah supaya memberikan kembali baiatnya kepada Yazid, dengan diberi jangka waktu selama tiga hari. Jika tidak, maka seluruh penduduk Madinah akan dibunuh. Sebagaimana ia juga memberi ijin untuk mengambil semua harta benda mereka, dan menghukuminya halal bagi semua bala tentaranya. Setelah tiga hari Muslim bin Uqbah memasuki kota Madinah, terjadilah pembantaian besar-besaran dan prilaku durjana yang maha dahsyat selama sejarah umat manusia”

Adapun dalam kasus yang sama, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah mengatakan “Pasukan Yazid berbuat semena-mena terhadap para wanita Madinah, sehingga selepas peristiwa tersebut, setiap wanita melahirkan anak tanpa suami”. hal sadis ini juga dijelaskan oleh Ibnu Qutaibah. Lebih lanjut ia menjelaskan:

“Pada kejadian itu, banyak sahabat Rasulullah terbunuh. Delapan puluh sahabat mantan anggota perang Badar, sedang dari Quraisy dan Anshar yang berjumlah tujuh ratus orang, semuanya mati. Sementara yang terbunuh dari masyarakat umum berjumlah sepuluh ribu orang”.

Bagaimana mungkin perbuatan Yazid tersebut dapat ditolelir oleh syariat Muhammad saww? Lalu, bagaimana mungkin orang seperti Ibnu Taimiyah yang menulis berjilid-jilid buku fatwa (berkenaan dengan syariat) mati-matian membela orang semacam Yazid? Bukankah Ibnu Taimiyah sendiri menukil sabda Rasul yang berbunyi “Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, Allah akan menakut-nakutinya, dan semoga laknat Allah, malaikat serta segenap manusia akan tertuju kepadanya”. Dan sebagaimana firman Allah swt: “Dan sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. Apakah menarik baiat dari orang yang dianggap fasik dan terlaknat karena membunuh cucu rasul dan menghinakan keluarganya merupakan suatu kesalahan?

Ibnu Taimiyah tidak bisa lagi menutupi kemursalan Yazid. Yang bisa dilakukan oleh manusia semacam Ibnu Taimiyah adalah, berusaha memperingan kesalahan Yazid dengan mengurangi jumlah korban. Oleh karena itu, di dalam kitab yang sama, dalam rangka membela dan menutup-nutupi prilaku bejat Yazid, ia mengatakan “Yazid tidak membunuh semua pemuka Madinah, pembunuhan itu tidak sampai berjumlah sepuluh ribu jiwa, darah-darah itu tidak sampai ke makam Rasul dan pembunuhan itu tidak sampai terjadi di masjid Nabi”. Pantaskah Ibnu Taimiyah mengaku penghidup ajaran Salaf as-Sholeh, sedang disisi lain ia adalah pembela nomor satu pembunuh para Salaf as-Sholeh?

Kedurjanaan Yazid bukan hanya ditujukan kepada keluarga suci Rasul, para sahabat dan Tabi’in, namun ia juga telah berbuat kurang ajar terhadap Baitullah al-A’dzam, Ka’bah al-Musyarrafah. Rumah suci yang memiliki sakralitas lebih dibanding tempat-tempat peribadatan lainnya, sebagaimana yang telah disepakati oleh segenap kaum muslimin. As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa’, yang menukil dari ungkapan adz-Dzahabi, ia mengatakan:

“Setelah peristiwa besar yang menghebohkan terjadi di Madinah, Yazid mengirim pasukannya untuk berperang melawan Ibnu Zubair. Setelah mereka memasuki Makkah, akhirnya mereka mengepung Ibnu Zubair. Terjadilah peperangan melawan Ibnu Zubair, tetapi mereka melempari Ka’bah dengan manjanik (ketapel ukuran besar), dan karena jalaran api yang mereka sulut menyebabkan kisa’ (kelambu penutup Ka’bah) beserta langit-langit Ka’bah turut terbakar”.

Dalam tragedi inipun, Ibnu Taimiyah tetap berusaha memberi taujih (pembenaran) atas prilaku Yazid. Ia mengatakan:

“Tidak seorang muslim pun yang mau bermaksud menghinakan Ka’bah, bukan wakil Yazid, juga bukan wakil Abdul Malik yang bernama Hajjaj bin Yusuf, ataupun selain mereka berdua, bahkan segenap kaum muslimin bermaksud untuk mengagungkan Ka’bah. Jadi, kalaulah Masjid al-Haram dikepung, hal itu karena pengepungan terhadap Ibnu Zubair. Pelemparan menggunakan manjanik-pun tertuju kepadanya. Yazid tidak ada maksud untuk membakar dan merusak Ka’bah, Ibnu Zubair yang telah melakukan semua itu”.

Disini, lagi-lagi Ibnu Taimiyah mengkambinghitamkan orang lain dalam rangka mensucikan Yazid dari perbuatan kufurnya. Padahal, para ahli sejarah dengan jelas mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan Yazid yang didasari unsur kesengajaan.
Tiga kesalahan besar Yazid selama masa ia berkuasa; membunuh keluarga Rasul, memerintahkan pasukannya berbuat seperti binatang di Madinah dan perusakan Ka’bah. Semua itu dicatat oleh para ahli sejarah baik Sunni dan Syiah dan telah terekam dalam benak banyak ulama muslim yang tidak mungkin dihapuskan dalam sejarah Islam.

Anggaplah, apa yang dibikin-bikin untuk menutupi kesalahan Yazid oleh Ibnu Taimiyah itu benar, tetapi pembunuhan tetaplah pembunuhan, apalagi yang dibunuh adalah cucu Nabi –dimana banyak riwayat tentang keutamaan Husein bin Ali as- di padang gersang Karbala. Juga, pembantaian beberapa sahabat dan manusia-manusia yang tak berdosa lainnya. Ditambah lagi dengan merampas harta benda, memperkosa wanita-wanita mukminah Madinah. Lantas apakah Islam mengajarkan atau membolehkan hal semacam itu? Bukankah Islam mengajarkan untuk tidak membolehkan dalam memperlakukan orang kafir semacam itu, apalagi para pengikrar syahadatain. Apakah orang kufur semacam Yazid dan bala tentaranya masih akan tetap memiliki rasa hormat atas Ka’bah, sehingga masih terus dibela oleh Ibnu Taimiyah dengan mengkambinghitamkan Ibnu Zubair? Jika semua dosa besar yang telah disebutkan tadi dengan berani mereka lakukan, maka dosa besar semacam perusakan Ka’bah al-Muadzamah pun sangatlah besar kemungkinannya untuk mereka lakukan. Apalagi, alasan Ibnu Taimiyah tersebut tidak berlandaskan argumentasi yang kuat, dan bertentangan dengan pendapat banyak ulama muslim ahli sejarah dan akal sehat.

Dalam kitab Minhaj as-Sunnah dengan sangat jelas Ibnu Taimiyah membela Yazid, ia mengatakan “Dari mana manusia mengetahui bahwa Yazid atau pelaku zalim lainnya belum bertaubat? Atau tidak memiliki kebaikan sedikitpun yang bisa menghapus dosa-dosanya?” Ini merupakan jurus terakhir Ibnu Taimiyah dalam rangka pembelaannya terhadap Yazid. Taruhlah, Yazid pernah bertaubat, akan tetapi harus diketahui bahwa konsep taubat dalam Islam, jika suatu kesalahan hanya berkaitan dengan dirinya maka cukup ia meminta taubat dari Allah. Namun, jika kesalahannya berhubungan dengan berbuat zalim terhadap orang lain, maka ia harus meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Tanpa ridha pribadi yang disakiti, kesalahannya belum diampuni oleh Allah. Jadi, bagaimana taubat Yazid kepada orang-orang yang telah dibantainya, wanita-wanita mukminah yang telah ia hinakan, dan dosa-dosa sosial lainnya? Juga terbukti tidak satu penulis sejarahpun yang menerangkan perubahan pada perangai Yazid di akhir hayatnya.

Rasul sendiri jauh-jauh hari -berkat kabar dari Jibril- telah mengetahui tentang peristiwa yang bakal menimpa cucunya di Karbala. Belum lagi yang berkaitan dengan mimpi ummul mukminin Ummu Salamah ra. Juga mimpi sahabat besar Rasul, Ibnu Abbas ra. Jadi, kezaliman Yazid sampai akhir hayatnya sudah “diprediksikan” oleh Allah, sebagaimana prilaku Abu Lahab yang disitir oleh Allah dalam Surat al-Lahab yang ditujukan kepadanya. Padahal, bukankah sewaktu surat tersebut diturunkan, Abu Lahab masih hidup dan masih bisa berbuat taubat? Kalaupun Abu Lahab bertaubat, maka taubatnya tidak akan diterima sebagaimana ungkapan Fir’aun sewaktu akan tenggelam “Amantu bi rabbi Musa wa Harun” (aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun). Hal itu lebih dikarenakan, sebegitu besar kezaliman yang telah ia lakukan sehingga seakan pintu taubat telah ditutup bagi Allah. Begitu pula dengan Yazid, sebegitu dahsyat kezaliman yang telah ia lakukan maka pintu taubat telah ditutup oleh Allah, dan Allah menjatuhi vonis hatm (kepastian hukuman) atasnya, sebagaimana Abu Lahab.

Bagaimana kita menghukumi otak pekerjaan fasik beserta para pelaku dan “pembelanya” tersebut? Disini, kita dapat pertanyakan ke-ahlusunnah-an Ibnu Taimiyah, karena pembelaannya atas para Salaf at-Tholeh (lawan Salaf as-Sholeh) tadi, padahal mayoritas mutlak Ahlusunnah mencela mereka. Bukankah konsekuensi seorang pengikut Ahlusunnah harus mencela orang yang telah merubah-rubah Sunah Rasul? Bukankah Rasul pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Abi Darda’: “Pertama orang yang merubah Sunah-ku adalah seseorang dari Bani Umayyah yang bernama Yazid” Yang pantas dipertanyakan kemudian, apakah layak bagi Ibnu Taimiyah, sang pembela manusia perubah Sunah Rasul, mengaku sebagai Ahlusunnah?

Kekejaman Yazid anak Muawiyah ini tidak mungkin akan bisa ditutup-tutupi dengan hadis-hadis bikinan berkenaan dengan keutamaan anak-bapak tersebut, karena sejarah telah mencatatnya. Ibnu Taimiyah tidak mungkin dapat menutup-nutupi fakta sejarah. Ia tidak mungkin dapat menyalahkan Husein bin Ali bin Abi Thalib as. Tetapi, ternyata ia terus berusaha untuk menutupi kesalahan Yazid maupun bapaknya, Muawiyah. Demikian halnya yang dilakukan oleh para pengikut Ibnu Taimiyah di masa sekarang dengan cara diantaranya mencari kambing hitam sebagaimana yang diungkap oleh Thaha Husein.

Logika ini sama persis seperti yang dilakukan Amr bin Ash pendamping setia Muawiyah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib as tentang peristiwa kesyahidan Ammar bin Yasir ra, sahabat Rasul dan pengikut setia Ali. Dikarenakan Rasulullah saww pernah bersabda –dalam hadis mutawatir- kepada Ammar; “sataqtuluka fiah baghiah” (engkau akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka). Pada waktu perang Shiffin, perang antara kubu Amirulmukminin Ali as dan Muawiyah di daerah yang terkenal dengan sebutan Shiffin, di situ Ammar terbunuh. Kala itu, Ammar di pihak Amirulmukminin Ali as. Dengan terbunuhnya Ammar di pihak Ali, beberapa kaum pembela Muawiyah ingat sabda Rasul tadi, mereka pun bimbang. Untuk menghindari kebimbangan itu yang tentu akan mengurangi semangat bala tentaranya, Amr bin Ash penasehat setia Muawiyah mengatakan bahwa pembunuh Ammar adalah Ali. Dengan alasan, “jikalau Ali tidak memerangi Muawiyah niscaya Ammar tidak akan terbunuh”. Karena ajakan Ali, Ammar terbunuh, berarti Ali lah pembunuh Ammar. Logika yang lucu tapi nyata. Hanya manusia bodoh yang menerima logika semacam itu. Karena jika kita dipaksa menerima logika tersebut berarti kita harus menerima juga ungkapan bahwa pembunuh para sahabat Rasul adalah Rasul sendiri, karena Rasullah yang mengajak mereka berperang.

Begitu juga dalam masalah pembunuhan Husein bin Ali as. Para pengikut Ibnu Taimiyah berusaha meyakinkan bahwa pembunuh Husein bin Ali adalah pengikut Syiah sendiri. Karena pada saat itu Syiah Ali banyak ditemui di Kufah dan merekalah yang memanggil Husein untuk datang ke Kufah dengan melayangkan ribuan surat kepada Husein as. Husein dikhianati oleh kaum Syiah, merekalah pembunuh Husein yang sebenarnya. Oleh karenanya, mereka meratapi kejadian Karbala karena penyesalan akan pengkhiatan kaumnya. Jadi kambing hitam atas tragedi Karbala adalah orang-orang Syiah.

Memang, saat itu kaum Syiah banyak ditemui di Kufah, namun tidak semua orang Kufah bermazhab Syiah. Tidak semua yang melayangkan surat ke Husein bin Ali adalah yang bermazhab Syiah. Mereka yang melayangkan surat juga termasuk orang yang mengakui kekhalifahan Syeikhain. Mereka turut melayangkan surat dikarenakan kecintaan mereka kepada keluarga Rasul dan kebencian mereka akan kezaliman. Bukankah yang mengajarkan kecintaan kepada keluarga Rasul bukan hanya khusus mazhab Syiah saja? Bukankah yang mengajarkan kebencian terhadap berbagai kezaliman bukan hanya dikhususkan mazhab Syiah saja? Atas dasar itulah, lantas ribuan surat melayang ke pangkuan Husein bin Ali as.

Mereka-mereka pencari kambing hitam peristiwa Karbala tidak tahu (jahil) –atau sengaja tidak mau tahu (keras kepala)- bahwa sebelum peristiwa Karbala, ribuan penduduk Kufah dibunuh oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan bekerjasama dengan Nukman bin Basyir gubernur Kufah, bawahan Yazid. Pembunuhan itu atas perintah langsung dari Syam, pusat pemerintahan rezim Yazid. Perintah itu keluar setelah Yazid mendengar melalui mata-matanya bahwa penduduk Kufah banyak melayangkan surat kepada Husein. Selain pembunuhan juga dilakukan penangkapan besar-besaran penduduk Kufah, pendukung imam Husein. Dan intimidasi untuk menarik kembali baiat yang mereka layangkan kepada Husein di bawah ancaman mati di ujung pedang. Lantas, masihkah pengikut Ibnu Taimiyah terus akan mencari-cari kambing hitam itu? Ataukah mereka terus berusaha untuk selalu mencari jalan lain dalam rangka membela kaum durjana?

Asyura dan Anak Yatim

Akhir-akhir ini, di Indonesia digalakkan untuk menjadikan hari sepuluh Muharam (Asyura) sebagai peringatan Hari Raya Anak Yatim. Hari kesedihan mengingat pembantaian putera Rasulullah Husein bin Ali as di padang gersang karbala diubah menjadi suasana gembira di hari raya. Hari duka dialihkan menjadi hari gembira dan pesta. Bukankah ini merupakan warisan budaya dinasti Bani Umayyah? Itulah cara lain untuk mengalihkan memori masyarakat muslim akan peristiwa kezaliman Yazid atas cucu Rasulullah. Berapa banyak kaum muslimin lalai dan terperdaya atas tipu daya tersebut. Apalagi pembawa budaya tersebut menghubung-hubungkannya dengan hadis-hadis diselamatkannya para Nabi pada hari Asyura. Bagaimana mungkin mereka bergembira di hari Asyura dengan alasan penyelamatan para Nabi dari berbagai ujian Ilahi, sementara pada saat yang sama Muhammad saww -penghulu para nabi dan rasul- menangis ketika mendengar dari Jibril as tentang peristiwa Asyura bakal menimpa cucu kesayangannya, Husein bin Ali as.

Sungguh celaka yang mengadakan pesta itu dengan dasar pengetahuan akan peristiwa Karbala, karena mereka bergembira di atas derita Rasul. Bisa dipastikan hati Rasul akan sakit dan tersiksa dengan situasi semacam ini. Jika hal itu terjadi, maka mereka tergolong dalam ayat “Sesungguhnya orang-orangyang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akherat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.

Lalu, mana bukti bahwa mereka adalah pecinta dan pengikut Rasul beserta keluarganya? Adakah orang yang bergembira diatas kesedihan dan kepiluhan hati Rasul bisa dikategorikan pengikut setia Rasul? Apakah layak orang-orang seperti Ibnu Taimiyah mengaku mengikuti Salaf Sholeh? Apakah Muawiyah, Yazid dan manusia-manusia sepertinya termasuk Salaf Sholeh yang Ibnu Taimiyah maksudkan? Jelas, bahwa mereka-mereka penzalim itu adalah Salaf at-Tholeh (lawan salaf as-sholeh), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para sejarawan Ahlusunnah sendiri. Mereka juga termasuk yang menjadi sasaran Sabda Rasul “Allah mengharamkan surga bagi siapa yang telah menzalimi, membunuh atau mencela Ahlu Bait ku (keluarga) ataupun yang memiliki saham (dalam masalah tersebut)”.

Jadi, adakah seorang seperti Muawiyah dan anaknya Yazid sang pemabuk layak menduduki kedudukan khalifah Rasul? Padahal kekhalifahan Rasul merupakan posisi penting yang harus tetap dijaga kesakralannya. Apakah dengan menutup-nutupi kekurangan kaum zalim dan membikin-bikin keutamaan mereka, apalagi dengan mengarang buku tentang keutamaan mereka “Fadho’il Muawiyah dan Yazid”, bukan masuk kategori penolong kaum zalim? Bukankah penolong kaum zalim berarti sama hukumnya dengan kaum zalim tersebut yang harus dilepas-tangani? Masih layakkah seseorang yang dihukumi zalim diberi gelar dan disebut Syeikh al-Islam? Apakah seseorang yang dihukumi zalim dikarenakan pembelaannya terhadap kaum zalim masih layak diikuti segala ucapannya, apalagi yang berkaitan dengan syariat Islam yang terkumpul dalam buku kumpulan fatwa (Majmu’ah al-fatawa) yang berjilid-jilid itu? Apakah seorang yang dianggap gugur ke-adilan-nya akibat membela manusia zalim masih layak berbicara tentang Islam? Apakah layak bagi manusia semacam itu menuduh selainnya sebagai ahli bid’ah dan syirik? Bukankah Islam melarang mengikuti orang zalim sebelum ia bertaubat? Dan bukankah tidak ada bukti bahwa orang yang sering disebut “Syeikh al-Islam” itu telah bertobat dalam pembelaannya terhadap manusia fasik seperti Yazid, yang menurut Jahidh –sebagaimana yang disebutkan di atas- layak untuk dilaknat itu. Jika seorang yang matanya belekan diangkat menjadi penghias mata orang lain atau orang buta diangkat sebagai penunjuk jalan, maka jangan salahkan jika Islam akan menjadi bulan-bulanan bahan ejekan dan cemoohan musuh-musuhnya.

Wallahu a’lam

Iklan

MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (2) Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Ali bin Abi Thalib as

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ala muhammad wa ali muhammad

Para nawashib berkotbah, Ali di khianati oleh pengikutnya sendiri, mereka tak lain dan tak bukan adalah syiah. Sejarah syiah dipenuhi dengan tindakan pengkhianatan demi pengkhianatan, bahkan dari ibu bernama syiah dengan rahim hitam kelam dan berayah Kufah terlahir jabang bocah bernama khawarij… Benarkah itu ? Bukankah Allah memuji syi’ah :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS.AlBayyinah: 7-8 ) bukankah Rasulullah saww memuji syiah “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu. Engkau dan syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridho’i”. Aroma busuk sengaja dihembuskan kaum nawashib kepada kaum awam, bahwa syiah memanglah pengkhiat dengan menunjukan sarang syiah di kufah.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan pertama Melacak kelompok pengkhianat kepada Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dari Masyarakat Kufah (1) struktur sosial penyusun masyarakat kufah. Pada tulisan kali ini akan di ulas lebih jauh kiprah pengkhianat dari masyarakat kufah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib baik dari kelompok Asyraf al qabail maupun dari kalangan qurra (hafizh)…

Pendahuluan

Pada saat imam Ali menjabat sebagai khalifah beliau menghadapi sekurang-kurangya tiga pengkhiantan dari dalam –ini diluar kajian para pengkhianat dari kelompook al Nakitsin (pengobar perang Jamal) dan kelompok Qasithin (pengobar perang Shifin) – diantaranya adalah pengkhianatan kelompok khawarij (dalam riwayat disebut sebagai al mariqin) dan sikap keengganan masyarakat kufah dalam menghadapi invasi Damaskus pimpinan Muawiyyah bin Abu Sofyan. Para nawashib gencar menghembuskan kabar bahwa para pengikut Khawarij semula adalah orang-orang syiah, tetapi karena berselisih paham dengan Ali bin Abi Thalib, maka mereka menyatakan keluar dari barisan Ali dan mendirikan Khawarij, sisanya tetap mengikuti Ali tapi dengan menyembunyikan watak aslinya sebagi pengkhianat dengan cara enggan dan ogah-ogahan mendukung Ali dalam menghadapi musuh-musuhnnya.

Kekeliruan mendasar dari para nawashib tersebut adalah bahwa mereka dalam menuduh tidak berpijak dari fakta-fakta yang ada, dan mereka mengeneralisasikan bahwa seluruh orang yang berpihak pada Imam Ali dalam peperangan beliau, harus disebut sebagai syi’ah. Padahal para ulama ahlu sunnah sendiri sudah menjelaskan bahwa terdapat pengikut sejati Ali (syi’ah) -yang harus dibatasi pada pengertian relegius, yakni, kesyi’ahan yang dilandasi pada keyakinan bahwa Imamah berada di imam Ahlul Ba’it- dan mereka yang bersifat pragmatis, berpihak kepada Imam Ali karena kepentingan-kepentingan pragmatis (lihat kembali di tulisan pertama).

Asal Kaum Khawarij Bukan Kaum Syi’ah

Yang pertama kita bahas kelompok Khawarij, kelompok pengkhianat pertama dari barisan Imam Ali adalah kaum Khawarij, menurut Rasul Ja’farian, orang-orang yang kelak menyempal dari barisan Ali dan mendirikan Khawarij,adalah kelompok yang berasal dari kaum nomad yang pada tahun-tahun ketika Kufah dibangun berdatangan ke tempat tersebut, mereka ikut aksi penaklukan, dan mereka mendapat kemenangan dramatis, memperoleh aset rampasan perang yang terlalu banyak untuk dihitung. (History of the caliphs : From the Death of the messenger (s) to the decline of the umayyad dynaty 11 – 132 AH hal 384), Di antara kaum nomad ini, ada yang menjadi hafizh (Qura’) (harus di bedakan antara Qura yang menjadi syiah sejati (dibawah pimpinan Malik asytar dan Adi bin Hatim) dengan Qura dari kaum nommad ini lihat ditulisan pertama).

Memetakan keberadaan kelompok nommad di kufah yang kelak menjadi khawarij ini tidak lah mudah, karena keberadaanya tersebar di kabilah di kufah, para penulis sejarah menyebutkan asal kelompok yang dominan di tubuh khaarij, Nourouzzaman (Khawarij hal 37) menyebutkan, kabilah yang banyak menjadi pengikut khawarij berasal dari Bani Tamim, Sementara itu Baladzuri menyebutkan bahwa, pengikut Khawarij banyak yang berasal dari suku nommad seperti bani Tamim, suku Bakar bin Wail dan suku nomad kecil lainya yang turut bergabung dengan khawarij (Ansyab al asyraf II/363) namun demikian Baladzuri menambahkan, bahwa kecendrungan Khawarij ada dalam setiap kabilah baik yamani maupun nizari. Sementara itu ad diniwari menyebutkan Bani Murad, Bani Rasib dan Bani Tamim sebagai yang mendominasi Khawarij (akhbar at tiwal 196)

Alasan Kaum Khawarij Berada di Pihak Imam Ali

Sebelum menjelma menjadi khawarij, kelompok ini hanya dikenal sebagai bagian dari masyarakat kufah sebagian dari merea didapati sebagai Qurra. Keberpihakan mereka kepada Imam Ali bin Abi Thalib kw, tidak didasarkan pada keyakinan relegius, sebagaimana keberpihakan kaum syiah. Hal ini dijelaskan oleh Baladzuri, “Kaum khawarij pada umumnya didukung oleh suku-suku nomad. Mereka ini tidak mengerti kalau imamah dan politik merupakan dua hal yang berada di luar topik atau masalah suku. Kecendrungan mereka terlihat dalam cara berfikir mereka yang menafsirkan secara menyimpang (Ansab al Asyraf II/363)

Kesertaan kaum nommad di belakang Imam Ali dimulai dari krisis Utsman bin Affan. Para sejahrawan menceritakan sepertiBaladzuri (Ansyab al asyraf V/26, 60-61); Thabari (Tarikh I /2948) menyebutkan, para Hafizh nommad terlibat aktif dalam krisis dimasa Utsman bin Affan), Para Hafizh Nomad dan pendukungnya memberikan tudingan kepada Utsman bin Affan sebagai telah banyak membuat bid’ah. Ketidak puasan para hafizh nomad ini sebagaimana diceritakan oleh Baladzuri (Ansab al asyraf V/40 ; Mas’udi (Murudz Dzahab II/337) dan Thabari (Tarikh I/2916) diakibatkan oleh : “Kebijakan Utsman yang mengangkat banyak anggota klanya pada pos-pos yang memiliki pemasukan besar (Pos basah-ibnu jawi), serta tindakan Ustman memberikan hadiah-hadiah berlebihan”, Selain itu, kemarahan para nomad kepada utsman tersebut lantaran dipicu oleh tindakan keras Ustman kepada Abdullah bin Mas’ud yang menui protes dari salah seorang qura bernama Itris bin Arquib syaibani (kelak dia bergabung bersama khawarij) (Baladzuri, Ansab al asyraf II/360 dan Yaqubi, Tarikh II/170).

Faktor ketidak puasan suku-suku nomad terhdap utsman bin Affan tersebut mendorong mereka menggunakan Ali sebagai mediasinya, dan ktika mediasi gagal yang berujung terbunuhnya Utsman bin Affan, Mereka menjadi bagian yang menyatakan kesetianya kepad Imam Ali bin Abi Thalib. Tetapi ada fakta menarik yang dicatat oleh Baladzuri, bahwa mereka akan membunuh Imam Husain sebagaimana mereka membunuh Ustman manakala tidak sesuai dengan harapan mereka (Futuh al Buldan, II/246). Jadi alasan pertama kaum nomad –yang kelak menjadi khawarij ini – lebih dilatar belakangi sikap pragmatis politis terhadap ketidak puasan kepada kebijakan penguasa, dan kemudian kelompok ini mencari figur lain sebagai pengganti.

Selain alasan diatas, terdapat alasan lainya, bahwa suku-suku nomad merasa kecewa terhadap dominasi Qurasy (syaikh Mufid, al Irsyad I/254) dan belakang hari pandangan negatif mereka terhadap qurasy mengejawantah pada landasan doktrinal mereka yang menyebut : bahwa khalifah tidaklah harus berasal dari suku Quraisy.

Dengan dermikian faktor yang mendorong, bergabungnya mereka dengan Imam Ali bin Abi Thalib, bukan dilandasi pijakan fundamental doktrinal imamah melainkan pada idologi pragmatis yakni pemerataan dan kesetaraan.

Jejak Pengkhianatan Kaum Khawarij

Pengkhianatan kepada imam Ali bin Abi Thalib oleh suku-suku nomad yang kemudian menjelma menjadi khawarij ini dilakukan tidak hanya pada Perang shiffin tetapi dilakukan pada saat panggilan perang jamal, berikut uraian singkatnya :

1. Az Zamakhshari, menuliskan, “ Perang jamal merupakan aksi pertama ketika kaum mulsim terlibat konflik dengan sesama, Dalam perang ini meskipun ada pihak pemenang, namun tidak ada aset rampasan perang, sehingga hal ini menjadi masalah bagi sebagian pendukung Ali, terutama dari kalangan suku-suku pengelana, dari kalangan hafizh kelompok mereka, mengajukan protes “ bagaimana ceritanya perangnya dibolehkan namun aset pihak yang kalah tak boleh diambil ( al Fa’iq IV/129). Inilah protes pertama kaum khawarij kepada Imam Ali.

1. Pengkhiantan kedua kaum nommad dan qurra pengelana kepada imam Ali bin Abi Thalib terjadi pada saat perang shifin. Nasr biin Muzahim menyebutkan, berulangkali Imam Ali bin Abi Thalib mengajak pasukan Damaskus menyelesaikan persoalan dengan menggunakan Al Qur’an sebagai rujukan, dan beberapa utusan dikirim. Tetapi pasukan Damaskus membunuh utusan Ali (Waq’qt ash shifiin, 244), Setelah terjadi pertempuran hebat –para sejahrawan menyebut sebagai Layla al Harir- pasukan Damaskus hampir menemui kekalahan, pada saat itu Lima ratus kitab Al Qur’an diletakkan tombak Damaskus. Dan terjadilah kericuhan di Barisan Imam Ali, sementara Imam Ali memerintahkan terus bertempur sementara pasukan syiah terus menggempur pasukan dibawah Asyraf al qabail dan pendukungnya menyerukan pertempuran harus dihentikan, seruan tersebut disambut suku-suku pengelana, Nasr bin Muzhahim mencatat kepada imam Ali menghadap imam Ali agar pertempuran dihentikan, (waq’at ash shiffin 490) Sebagian pendukung Ali datng menghadap, dengan tanpa memanggil Ali bin Abi Thalib dengan Amirul Mukmini, mereka meminta Ali untuk menyudahi perang dan menyelesaikan melalui Al Qur’an. Nasr bin Muzahim menyebutkan, diantar orang-orang ini ada sejumlh hafizh yang sudah merasa cukup hanya dengan hafal Al Qur’an menjadikan mereka memiliki hak untuk membenarkan sikap mereka ( Waq’at ash shiffin, 492) Imam Ali menjawab seruan mereka “ Aku patut menerima penyelesaian melalui Kitab Allah, lebih dari lainya : namun Muawiyyah dan para sahabtnya bukanlah sahabat dalam agama dan bukan sahabat dalam Al Qur’an. Aku lebih kenal mereka daripada kalian, sejak kecil aku sudah bersama mereka “ (Waq’at ash shiffin, 492). Dan pada saat itu pasuka syi’ah dibawah pimpinan Malik asytar terus melakukan gempuran. Namun dibelakang daerah pertempuran. Imam Ali terus dipaksa untuk mengentikan pertempuran dan segera menarik Malik asytar. (Waq’at ash shiffin, 494) dan inilah pengkhianatan kedua kepada Imam Ali. Sementara pasukan syiah tetap bertemur pasukan dari suku pengelana dan pasukan dari pimpinan asyraf al qabail menghendaki berhenti.

1. Pengkhianatan ke tiga kaum pengelana dan para hafizhnya yang merasa cukup hanya dengan bacaan al Qur’an adalah pada saat penunjukan wakil Imam Ali dalam Arbitrase, Imam Ali bin Abi Thalib menunjuk Ibnu Abbas atau Malik Asytar tetapi ajuan Imam Ali ditolak olek kalangan asyraf al qabail (yang nanti akan dijelaskan pula) Sementara Malik Asytar ditolak oleh kelompok asyraf al qabail, maka Ibnu Abbas ditolak oleh para hafizh (Waq’at ash shiffin, 498).

1. Pengkhianatan ke tiga kaum pengelana ini, adalah Penetangan mereka atas usul mereka sendiri, yakni arbitrase, Baladzuri menyebutkan, kelompok penetang arbitrase keluar dari kesatuan, mereka memisahkan diri dari lasykar dan pergi ke Harura yang berjarak 2,5 km dari kufah.

1. Puncak pengkhianatan mereka adalah Pembunuhan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib.

PENGKHIANATAN BANI NAJIYAH

Terdapat gerakan yang memiliki kemiripan dengan Khawarij, yang sama-sama semula berdiri dibelakang Imam Ali bin Abi Thalib, pengkhiantan ini berasal dari Bani Najiyah pimpinan Khirrit bin rasyid, Baladzuri mennuliskan, Pemberontakan Khirit bin rasyid didukung sukunya Bani Najiyah dan Suku Kurdi, khirit beraksi sedemikian rupa sehingga kaum khawarij mengira khirit sependapat dengan pandanganya,” Pengkhianatan ini berhasil dipadamkan pasukan syi’ah pimpinan Ma’qil bin Qais Riyahi.

KHAWARIJ DALAM PENGKABARAN RASULULLAH SAWW

Fenomena khawarij, ini adalah unik, mereka kebanyakan adalah orang-orang yang dikenal gemar beribadah, bahkan mendapatkan sebutan Qurra. Pemimpin mereka Abdullah bin Wahab bahkan mendapat julukan Dzuts Tsafanat (orang yang di dahinya ada tanda sujud), tetapi sebagaimana diceritakan oleh Rasul Ja’farian “bahwa orang-orang khawarij merasa lebih unggul dengan ke hafizanya dibanding orang lain, dan merasa lebih akurat atas sikap yang mereka ambil (History of the caliphs : From the Death of the messenger (s) to the decline of the umayyad dynaty 11 – 132 AH) Ad Dinawari memberikan ilustrasi kekeliruan mereka, yang terjadi pada saat perang Jamal. Ketika Ali bin Abi Thalib tidak membenarkan orang memanfaatkan harta pribadi orang lain, kecuali harta yang digunakan musuh dalam pertempuran. Orang-orang dari suku pengelana pun merasa heran, karena kebijakan sebelumnya membolehkan bila berhasil memenangi perang merampas seluruh aset musuhnya. Pada saat itu Imam Ali berkata, mengapa kalian tidak memperdulikan Aisyah, kalau harta kalian rampas seluruhnya, dimana letak kepedulian kalian ? Orang-orang pengelana dan sebagian orang-orang arab yang masih sederhana pikiranya disertai para qurra mereka, mempertanyakan sikap Ali bin Abi Thalib, karena menurut mereka, manamungkin membunuh musuh dalam perang namun hartanya tidak boleh diambil (Akhbar ath Thiwal 151)

Sempitnya mereka dalam memahami Al Qur’an menyebabkan mereka terjatuh pada kejumudan yang fatal, dan Rasulullah saww sendiri telah mengisyaratkan muncul serta watak kaum khawarij ini, sekalipun mendapat sebutan hafizh, Rasulullah mengisyaratkan kualitas buruk kehafizanya, meski disebut sebut sebagai ahli ibadah tetapi Rasulullah saww menyebutkan buruknya kualitas ibadah mereka, berikut kutipan rangkuman Hadits Rasulullah saww :

1. 1. Muslim bin Hajjaj berkata dalam Shahihnya, “Abdu bin Humaid telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrazzaq bin Hammam telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdul Malik bin Abi Sulaiman telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Salamah bin Kuhail telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Zaid bin Wahab al-Juhani telah menceri-takan kepadaku bahwa ia termasuk salah seorang anggota pasukanyang berangkat bersama Ali ra. untuk memerangi kaum Khawarij. Ali ra. berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan muncul satu kaum dari umatku yang membaca al-Qur’an, bacaan al-Qur’an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka, shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apaapanxja dibanding puasa mereka. Mereka membaca al-Qur’an dan menyangka al-Qur’an itu menjadi hujjah ijang mendukung mereka padahal al-Qur’an menjadi hujjah yang membantah mereka. Shalat mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya. Sekiranya pasukan yang memerangi kaum ini tahu apa yang telah disediakan buat mereka melalui lisan nabi mereka niscaya mereka akan meninggalkan amal. Tanda-tandanya adalah di antara kaum ini terdapat seorang lelaki yang memiliki lengan atas tapi tidak memiliki lengan bawah. Dan di pangkal lengan atasnya terdapat seperti mata payudara dan padanya terdapat rambut yang telah memutih.”

1. Abdullah bin Mas’ud, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al- Musnad (1/404), at-Tirmidzi dalam Sunannya (nomor 2188), Ibnu Majah (nomor 168) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi nomor 1779 dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Akan muncul nanti di akhir zaman satu kaum yang dangkal akalnya, muda nbelia, atau beliau berkata, muda usianya, mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, mereka membaca al-Qur’an dengan lisan mereka namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Barangsiapa mendapati mereka maka perangilah mereka sebab bagi yang memerangi mereka telah tersedia pahala yang besar di sisi Allah.

PENGKHIANATAN ASYRAF AL QABAIL

Pengkhianat lain dari barisan Imam Ali yang lain adalah pengkhianatan dari kalangan asyraf al Qabail, untuk mengetahui siapakah asyraf al qabail silahkan kembali merujuk pada tulisan pertama yang ditulis ibnu jawi al jogjakartani penulis artikel ini). Kalangan sejahrawan ahlu sunnah menyebutkan bagaimana para asyraf al qabail ini melakukan pengkhianatan. Setelah mendapati kebijakan Imam Ali bin Abi Thalib tidak seperti yang ditempuh oleh para penguasa sebelumnya yang cendrung menguntungkan mereka.

Sikap plin plan dan acuh tak acuh para Asyraf al Qabail dan pengikutnya terbaca pula oleh Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diceritakan oleh Nasr bin Muzahim dan Baladzuri “Imam Ali bin Abi Thalib senantiasa berpesan kepada para sahabat-sahabat dan pengikutnya (baca syiah), agar mewaspadai dan berhati-hati kepada sikap para asyraf al qabail kufah” (waq’at ash shiffin II/144 ; al Futuh II/468). Sikap plin plan par asyraf al qabail ini dengan jelas diceritakan oleh Nashir bin Muzahim dan Baladzuri dalam Kitabnya : “ Para asyraf al qabail mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan Ali bin Abi Thalib usai perang jamal. Pada kesempatan itu mereka memaparkan alasan-alasan yang membenarkan diri mereka sendiri atas sikap yang diambil untuk tidak memberikan dukungan kepada Ali bin Abi Thalib dalam peristiwa jamal, tetapi pada saat yang sama mereka mengukuhkan dan memperkuat kembali ba’iat kepada Ali bin Abi Thalib (Waq’at ash shiffin 21, al futuh II/370-371). Menyebutkan sikap-sikap khianat dan plin-plan kalangan asyraf al qabail secara keseluruhan tentu akan membuat panjang artikel ini –pada artikel pertama kami sudah menyinggung sedikit-, kami hanya akan menyajikan sikap-sikap pragmatis mereka dimasa Imam Ali bin Abi Thalib, yang memiliki dampak dan pengaruh yang besar, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pengkhianatan gembong Asyraf al Qabail – Asyat bin Qais al Kindi-

Sikap Asy’ats bin Qays al kindi orang yang tidak memiliki kualitas keislaman baik, yang diangkat oleh Walid bin Uqbah (Gubernur Utsman bin Affan) untuk menggantikan Hujar b Adi al Kindi. Asy’ats bin Qays memiliki peran besar dalam menggalang pengkhianatan dari kalangan Asyraf al qabail berikut ‘urafa yang menjadi anggotanya. ad Dinawari menceritakan, ketika terjadi pemberontakan anti Utsman, Asy’ats bin Qays sempat melarikan diri ke Damaskus, namun kemudian ia kembali ke kufah (Akhbar ath Thiwal/156). Asy’at bin Qais adalah orang yang memprotes kebijakan Diwan Imam Ali, serta orang yang menggalang dukungan untuk menolak penggantian dirinya oleh Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Asyraf al Qabail, dimana dirinya akan digantikan oleh Hujr bin Adi. Asy’at bin Qais mampu memainkan sebagai orang yang merusak barisan Imam Ali dari dalam (lihat tulisan ibnu jawi di artikel I).

Baladzuri menceritakan, bahwa Asyat bin Qais salah seorang tokoh asyraf al qabail berpengaruh sempat akan bergabung dengan Muawiyyah, peristiwa tersebut terjadi ketika Ali bin Abi Thalib memerintahkan satu tim khusus untuk memeriksa dan menaksir aset-aset yang dimiliki para asyraf al qabail ( Ansab al asyraf 2/296)

Asyats bin Qais juga memanfaatkan pengaruhnya untuk merusak barisan Imam Ali, Sebagaimana diceritakan oleh Nasir bin Muzhahim: Pada tanggal 5 syawal 36 H dari Nukhaila Imam Ali bangkit melakukan perlawanan terbuka, perpecahan pertama dalam tubuh pasukan Ali bin Abi Thalib terjadi akibat provokasi Asy’ats bin Qays yang melakukan protes atas diangkatnya Hassan bin Makhduj untuk memimpin pasukan Yaman, provokasi tersebut nyaris membuat bentrokan antara kabilah Kinda dan Rabiah (Waq’at ash shiffin 127), Nashr menceritakan, Melihat perpecahan tersebut, Muawiyyah mengirimkan penyair orang Kinda untuk menyemangati Asy’ats menentang Ali, tetapi upayanya gagal, karena Asy’ats dibiarkan mempin pasukan sayap kiri yang terdiri dari suku kinda” (Baladzuri, Futuh al Buldan III/105)

Aksi pragmatis asyraf al qaba’il yang dipimpin oleh Asy’at bin Qais ini, adalah dengan menempatkan diri mereka dengan posisi yang mengambang – lihat penjelasan Muhammad Jafri di artikel pertama yang kami tulis (ibnu jawi al jogjakartani)- di antara dua pihak yang bertikai, bila dilihat ada posisi yang lebih menguntungkan maka pihak tersebut yang akan di dukung diam-diam. Saat terjadi perang shiffin, Asy’ats bin Qais di satu sisi berperang dan memimpin klannya di pihak Imam Ali bin Abi Thalib tapi di pihak lain dia menjalin kontak-kontak rahasia dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan. Ya’qubi menceritakan “ bahwa Asy’ats bin Qais pada saat perang shiffin mengambil peran penting mengajak para kabilah lain agar perang diberhentikan. Peran Asy’at bin Qais dalam peristiwa yang mendorong terjadinya arbitrase tersebut, sebagai hasil korespondensi antara Asy’ats bin Qais dan Muawiyyah ( Tarikh al Ya’qubi II/188) Sikap plin-plan Asy’at bin Qays ini terlihat ambigu, di satu sisi saat berperang dia mengobarkan perlawanan tetapi disisi lain dia mememcah kesatuan, al Yaqubi menceritakan secara detail dalam kitab tarikhnya.

Ketika tentara Muawiyyah mengangkat lima ratus Kitab Al Qur’an yang diletakan di atas tombak mereka, Ali bin Abi Thalib menyatakan “bahwa ulah mereka hanyalah tipu daya, dan Sha’sha’a bin Shauhan kemudian melanjutkan gempuran ke kubu Muawiyah, pada saat berlangsung pertempuran sengit ia mendengar Asy’ats bin Qais berteriak agar memikirkan kaum wanita dan bila perang dilanjutkan kaum Arab akan mengalami krisis, Sha’sha tetap melanjutkan pertempuran, sementara Asy’ats bin Qais merupakan orang pertama yang menentang Ali melanjutkan perang ( Nasr bin Muzahim al Minqari, Waq’at ash shiffin 478), Baladzuri dan Nasr binh Muzahim al Minqari menuliskan, “disaat tentara yang dipimpin sahabat Ali melakukan gempuran ke arah tentara Damaskus, sebagian para asyraf dengan membawa laskarnya menghadap Ali, tanpa memanggil Ali dengan sebutan Amirul Mukmini, mereka meminta Ali menerima penyelesian masalah melalui Al Qur’an. Dalam kelompok ini ikut serta para hafizh (yang kelak bergabung menjadi khawarij) (Waq’at ash shifin 490 dst ; Ansab al asyraf II/331) Pada saat imam Ali di datangi para pemipin kabilah kufah dan para hafizh, Malik asytar sudah mencapai garis depan kamp pasukan Muawiyah, pada saat itu kaum pemrotes, meminta Ali agar mengeluarkan perintah mundur pasukan sahabat-sahabatnya atau Ali akan menghadapi perpecahan, sebagian pemerotes berteriak “anda telah menyemangati sahabt-sahabt anda untuk melanjutkan pertempuran, jika Malik tidak segera kembali, dan pasukan anda tidak segera menghentikan peperangan, maka kami akan membunuh anda”, Ali kemudian memenuhi permintaan mereka demi menghindari perpecahan yang mengancam kesatuan pasukanya Ali mengirimkan Yazid bin Hani untuk menarik mundur pasukan yang masih bertempur (Waq’at ash shifin 493)

Asy’ats bin Qais mengambil peran yang sangat dominan dalam arbitrase, ia bersama para asyraf al qabail kufah yang mengatur proses arbitrase, Nasr bin Muzahim menuliskan ia menemui Muawiyyah untuk membicarakan bagaimana cara melakukan arbitrase (Waq’at ash shifin 495). Asy’at bin Qais bersama dengan para khawarij mengajukan Abu Musa Asy’ari sebagai wakil pihak Imam Ali, tetapi Imam Ali menolak – menurut al Dinawari, Abu Musa al ‘asyari adalah orang mulia dari kalangan asyraf al qabail, yang dimasa Ali bin Abi Thalib menghadapi kaum Jamal, Ali memerintahkan Hasym bin Utbah agar Abu Musa menyiapkan masyarakatnya, tetapi Abu Musa malah meminta masyarakat kufah untuk tidak terburu-buru memberikan dukungan kepada Ali (Akhbar ath Thiwal 145) – Ali bin Abi Thalib menginginkan wakil arbitrase adalah Ibn Abbas atau Malik Asytar (Nasr bin Muzahin, Waq’at ash shiffin 499) Ibnu Abbas mengomentari sikap badung para pemrotes dari kalangan asyraf al qabail dan dari kaum khawarij ini, ibnu Abbas mengatakan (Kalau saja pada saat itu mereka mau bersabar, kemenangan pasti akan diraih” (Baladzuri, ansab al asyraf II/331)

Dalam penyusunan perjanjian fornal, asy’ats bin qais adalah orang yang paling ngotot dalam menghilangkan gelar Amirul Mukminin bagi Ali bin Abi Thalib, Nasr bin Muzahin (waq’at ash shiffin. 508) Ya’qubi (Tarikh II/189) menuliskan, Dalam perjanjian formal ini, Ali dan Muawiyah ditetapkan memiliki hak yang sama/ Pada tahap pertama, nama Ali diikuti dengan gelar “Amirul Mukmini” (pemimpin kaum beriman), namun untuk muawiyah, penyematan gelar itu tidak dapat diterima. Asy’ats bin Qais bersikeras agar gelar Amirul Mukmini dihapus saja. Ali bin Abi Thalib yang mendengar itu menyatakan “Maha suci Allah, sebuah sunah seperti sunah Nabi. Dalam kesepakatan damai hudaibiyah, Suhail bin Amr wakil kaum musyrik ngotot minta supaya sebutan “Rasulullah “ dihapus”

Watak plin plan asya’ts bin qais yang mewakili watak para pengikutnya kembali muncul setelah arbitrase yang dipaksakan oleh kelompok mereka kepada Imam Ali ternyata tidak menguntungkan mereka. Baladzuri menuliskan “ sejumlah orang seperti asy’ats bin Qais dan banyak anggota lasykar kufah mengungkapkan ketidak sudian tunduk kepada Damaskus, mereka menentang arbitrase tetapi tidak sampai keluar dari jama’ah ( Baladzuri ansab al asyraf II/351) Ya’qubi menceritakan, Dalam perjalanan kembali ke shifin kelompok pemerotes terbagi menjadi dua, satu kelompok menentang arbitrase tetapi tidak keluar, sedang satu kelompok keluar dari jama’ah dan kesatuan mereka pergi ke Harura yang berjarak 2,5 Km dari kufah. (Tarikh Ya’qubi II/191)

Baladzuri (Ansab al asyraf II/374) dan (Futuh al Buldan III/277) menceritakan Ketika Imam Ali bin Abi Thalib meminta masyarakat Kufah bersiap menghadapi serbuan kembali pasukan Damaskus, Asy’ats bin Qais menyatakan keberatanya, sehingga yang mendukung Ali tinggal sedikit sehingga tidak mampu menghadapi pasukan Damaskus, Ali bin Abi Thalib memutuskan kembali ke Kufah”

Puncak pengkhianatan antara kaum khawarij dan asyraf al qabail terhadap Imam Ali bin Abi Thalib, adalah konspirasi diantara kedua kelompok tersebut, Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi ad Dunya menceritakan pada malam sebelum pembunuhan Imam Ali bin Abi Thalib, Abdurahman bin Muljam sempat singgah di rumah Asy’at bin Qais (Maqtal al Imam Amiril Mukminin Ali Bin Abi Thalib hal 28, 33 No 11)

Pengkhiantan Asyraf al Qabail Jarir bin Abdullah Bajali

Jarir bin Abdullah Bajali adalah kawan karib dari Umar bin Khatabb dia menjadi tokoh asyraf al Qabail yang berpengaruh dan mapan ketika Imam Ali bin Abi Thalib berpindah ke kufah. Imam Ali bin Abi Thalib mempercayakan negosasi dengan Muawiyah kepadanya, karena masing-masing memiliki kedekatan dengan Umar, sehingga bisa dibicarakan agar Muawiyah menghentikan aksi membangkangnya, tanpa melalui jalan peperangan. Tetapi sayangnya Jarir bin Abdullah Bajali bersikap menjadi pembela Muawiyyah Baladzuri menceritakan, Muawiyyah berkata kepada Jarir bin Abdullah, “Kirinm surat untuk Ali untuk menetapkan secara penuh bahwa Damaskus dan mesir untuiki. Dan bia kelak ia meninggal, dia tidak boleh mengabaikan ikrar setia orang kepadaku” Ali bin Abi Thalib menjawab surat Muawiyah yang ditulis Jarir tersebut “ Mughirah di Madinah pernah mengusulkan ini kepadaku, tetapi aku tolak. Aku tak mungkin berbuat seperti ini karena Allah tak pernah melihatku dalam posisi memanfatkan kaum penyimpang untuk mendukungku ( Futuh al Buldan II/392) Empat bulan kemudian, Jarir bin Abdullah meninggalkan Damaskus untuk kembali ke kufah, Malik asytar menjatuhkan hukuman keras kepada dia, dan menyebut jarir bin Abdulaj telah melakukan kesalahan dengan menggadaikan agamanya kepada Muawiyah di Damaskus. (Futuh al Buldan II/404) Jarir kemudian meninggalkan Kufah menuju Qirqisa, dia mengajak sukunya Bajilah keluar dari Kufah untuk mengurangi kekuatan Ali bin Abi Thalib menghadapi Muawiyah. Kecuali sembilan orang, suku Bajilah mengikuti Jarir bin Abdulah ke Qirqisa. Kepergian Jarir bin Abdulah disertai oleh Tsuwair bin Amir (Nasr bin Muzahim al minqari, Waq’at ash shiffin 61)

Pertarungan antara Asyraf al Qabail dengan Syiah di klan Bani Tamimi

Bahawa suku-suku dalam kufah tidaklah mutlak syiah, juga dipaparkan secara tegas oleh para sejahrawan ahlu sunnah. Di dalam suku masing-masing terjadi perdebatan tentang kemana suku mereka mesti mendukung Ath Thaqofi menuliskan. “ Muawiyah memerintahkan Abdullah bin Amir Hadhrami untuk menemui Usmaniah dari Bani Tamim meminta dukungan, Dalam pertemuan tersebut, Abdullah berbicara dengan tema menuntut balas kematian Usman, ketika menjelaskan, Dhahhak bin Abdullah Hilali memprotesnya dengan mengatakan “ Apakah anda menyuruh kami untuk mencabut pedang dan berperang satu sama lain hanya demi mempertahankan tahta Muawiyyah, demi anda agar menjadi mentrinya, dan untuk melanggar baiat yang telah kami berikan kepada Ali ? Demi Allah, satu harinya Ali dimasa hayat Nabi jauh lebih baik dibanding segala prestasi muawiyyah dan silsilahnya” Dan kemudian Bani Tamimi mengalami kekiSruhan, pemipin suku menyuarakan mendukung Muawiyyah dan sekelompok kecil seperti Ahnaf bin Qais tetap mendukung Imam Ali” (lebih rinci lihat Al Gharat II/302-322 ) Ath Thaqofi juga menceritakan polarisasi antara kaum syiah dan kelompok pragmatis terjadi ditubuh Kaum Azd, dan kaum Mudhari di kufah.

Raqqa Utsmani kalangan Agamawan pro Usmaniah di Kuffah

Ya’qubi menuliskan dalam kitabnya, bahwa di kufah adal sekelompok agamawan yang dahulu merupakan pendukung Utsman, dan belakangan berkecendrungan kepada Muawiyyah, mereka menghimpun dalam komunitas bernama Raqqa Utsmani kelompok ini menunjukkan netralitas disetiap pertempuran yang dijalani Ali bin Abi Thalib. Raqqa Usmani kufah pernah diperintah Imam Ali agar membuat jembatan penyebrangan bagi pasukan Imam Ali, tetapi mereka menolak, kemudian Ali bin Abi Thalib memerintahkan Malik Asytar agar kembali meminta mereka membuat jembatan penyebrangan. Akhirnya mereka mau melaksanakan ( Tarikh al Yaqubi II/187)

Kritikan Imam Ali bin Abi Thalib kepada Asraf al Qabail

Imam Ali bin Abi Thalib menghadapi pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok asyraf al qabail, yang enggan memberikan dukungan kepada beliau, ath Tsaqafi, menuturkan, Ketika Pasukan Muawiyyah melakukan Invasi dibawah pimpinan Sufyan bin Auf Ghamidi yang didukung pasukan berkekuatan enam ribu serdadu, pasukan besar ini hanya dihadapi oleh segelintir pasukan yang setia kepada Imam Ali (baca syiah) dibawah pimpinan Asyras bin Hassan Bakri, meski dengan kekuatan minim Asyras melakukan perlawanan meski akhirnya dia gugur karena musuh terlampau banyak, Imam Ali lalu memanggil para pemimpin suku (asyraf al qabail) kufah agar mengerahkan masanya berkumpul di Nukhaila untuk menghentikan aksi Sufyan, tapi sambutan kabilah di kufah sangat sepi kemudian Imam Ali menuturkan kesedihannya atas sikap mereka : “…Pada saat ini kalian tak pernah mau keluar. Kenapa kalian Cuma selalu menunggu dan menunggu ? kalian telah menutup mata terhadap kota-kota kalian yang direbut dan terhadap muslim syiahku yang dibunuhi? Di perbatsan tak terlihat seorang penjaga perbatasan, namun yang terlihat justru musuh…( Al Gharat I/302-303) ath Tsaqafi menceritakan, Imam Ali hanya dapat memberangkatkan pasukan dari kalangan pengikut Imam Ali (baca syiah) sebanyak delapan ribu orang, dan Imam menunjuk Said bin Qais Hamdani sebagai pemipin pasukan.

LOYALITAS MASYARAKAT SYIAH KUFAH TERHADAP IMAM ALI

Sudah dipaparkan diatas bagaimana mayoritas pengikut asyraf al qabail dan kaum khawarij berkhianat kepada Imam Ali, adalah hal yang bijaksana untuk menengok bagaimana sikap kaum syiah manakala mendapati Imam mereka dikhianati secara bertubi-tubi. Sejahrawan Besar Ahlu Sunnah Ath Thabari dan Baladzuri menuliskan dalam kitabnya , Sekembalinya Ali dari Shiffin dan tiba di Kufah, pasukan Ali terpecah menjadi tida bagian, kaum khawarij yang memisahkan diri, kaum penentang arbitrase yang tidak keluar dari barisan Ali, dan para pengikut setia Ali (baca syiah-ibnu jawi al jogjakartani) yang tetap patuh kepadanya, para pengikut Ali yang setia tersebut mengemukakan kembali komitmen setia mereka kepada Ali, mereka berkewajiban untuk kembali bersumpah setia dengan mengatakan “Kami akan berbaik hati dan ramah dengan sahabat anda, dan akan memusuhi dengan orang yang menentang dan melawan anda” (Tarikh Thobari V/64 dan Asab al Asyraf II/348)

Agaknya loyalitas para pengikut Ali tersebut yang kemudian mendorong para sejahrawan melakukan katagorisasi atas kesyiahan mereka –sebagaimana telah dicatat dalam tulisan pertama -, Pribadi-pribadi agung tersebut banyak yang gugur syahid membela Imam Ali, sebuah loyalitas spiritual yang patuh pada perintah Rasulullah untuk mengikuti Imam Ali bin Abi Thalib, mereka adalah Ammar bin Yaser, Khuzaimah, Muhammad bi Abu Bakar (Kakek buyut Imam Ja’far dari pihak Ibu yang juga anak Abu Bakar), Zaid bin Shauhan, Saihan bin Shauhan, Shaq’ab, Abdullah, Salim bin Mikhnaf (kake Abu Mikhnaf) Alba’ Bin harits sadusi. Hind Jamali dan seterusnya tentu mencatat nama mereka menjadi rentetan daftar panjang, kaum syiah bukanlah pengkhianat sebagaimana yang dituduhkan kaum Nawashib, karena justru para nawashib justru mengangkat tinggi-tinggi kepada kaum pangkhianat, bahkan mempetcayai mereka sebagai pembawa kebenaran agama…

Wallahu ‘Alam bhi Showab.

Bersambung Insya Allah pada tulisan :

MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (3)

Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Hasan as

IMAM HUSAIN BUKAN IMAM ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Kelompok ketiga Mereka adalah Ahlussunnah wal jama’ah, mereka berpandangan bahwa Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin). Dan beliau tidak dibunuh sebagai orang yang keluar dari jamaah, namun dibunuh secara zhalim dan gugur sebagai syahid. Rasulullah bersabda, “Al Hasan dan Al Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzy).

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

PRIBADI YAZID BIN ABU SUFYAN

Dalam tulisan di atas disebutkan bahwa Imam Husain bukanlah pemimpin kaum Muslimin. Bagi saya pribadi tulisan tersebut masih belum selesai, saya hanya menaksir saja (dan semoga saja salah), mungkin penulis bermaskud menuliskan ” Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin) tetapi yang menjadi pemimpin adalah Imam Yazid bin Muawiyah”, ada baiknya kita lihat bagaimana sejahrawan menuliskan pribadi yazid bin Muawiyah mari kita lihat :

1. Al-Alusi mengatakan:
“Barangsiapa yang beranggapan bahwa prilaku Yazid tidak masuk kategori maksiat, sehingga dilarang untuk melaknatnya, maka sungguh ia tergolong penolong Yazid”.

2. Taftazani berpendapat:
“Kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husain merupakan satu bentuk penghinaan atas Ahlul Bait (keluarga Nabi), dan hal itu merupakan sesuatu yang mutawatirat maknawi (yang diterima oleh mayoritas walau tidak transparan”

3. Jahidh mengungkapkan:
“Berbagai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Yazid, seperti; membunuh Husein, menawan keluarga Husein, memukuli kepala dan gigi Husein dengan kayu, menimbulkan rasa ketakutan penghuni Madinah, merusak Ka’bah, semua itu, sebagai bukti bahwa Yazid memiliki jiwa keras kepala, angkara murka, kemunafikan dan telah keluar dari keimanan, maka ia masuk kategori fasik dan terlaknat. Barangsiapa yang menghindari dari pelaknatan seseorang yang layak untuk dilaknat, maka iapun termasuk orang yang terlaknat”.

4. Seorang penulis besar Mesir Thaha Husein mengatakan:
“Sebagian beranggapan, Yazid bersih dari keterlibatan pembunuhan atas Husein dengan cara yang sangat memprihatinkan, sementara kesalahan sepenuhnya ditujukan kepada Ubaidillah. Jika memang hal itu benar, kenapa (Yazid) tidak mencela Ubaidillah? Kenapa ia tidak menghukum Ubaidillah? Kenapa ia tidak mencabut kedudukan Ubaidillah?

5. Abu al Faraj ibnu al Jauzi menuliskan dalam kitabnya al Radd ’ala al Muta’ashshib al ’anid al mani ’an la Yazid la’anahu Allah , bahwa Yazid sering melontarkan syair-syair yang mencela Islam, saya kutipkan sebagian :

Syamsiyah dikenal dengan igoyang dan desahannya
Bagian kirinya adalah betisku
Dan bagian kananya adalah mulutku
Jika sehari aku mengharamkan agama muhmammad
Gantilah dengan agama al masih binti maryam

Perhatikan pernyataan Yazid diatas yang mengharamkan Agama Rasulullah Muhammad tersebut, patutkah disebut Imam islam, khlaifah dan amirul mukminin ?

’Aliyah, kemarilah berdendanglah bersamaku
Engkau mengatakan bahwa aku tidak suka dengan bisiskan-bisikan
Sesungguhnya cerita tentang hari kebangkitan kita
Adalah cerita-cerita bohong, maka lupakanlah hal itu

Perhatikan syair yazid diatas yang menolak adanya hari kebangkitan, patutkah seorang Amirul mukminin yang memimpin umat Islam mengingkari iman kepada hari akhir ?

Wahai teman-temanku para peminum, bangkitlah
Dengarkanlah suara para penyanyi
Minumlah dari botol-botol arak
Tinggalkan zikir kalian
Nyanyian hari raya telah menyibukan aku dari suara azan
Di dunia ini, aku telah mengganti bidadari dengan nenek tua
Perhatikan syair yazid yang menganjurkan meninggalkan sholat dan mencibir paha dengan nenek tua serta menganjurkan mabuk-mabukan, apakah ini Amirul mukminin Imam Umat Islam ?

Jika kemudian akhi Putra pari purna menyebut Ahlu Sunnah tidak menganggap Imam Husain bukan Imam dan yang menjadi Imam adalah Yazid bin Muawiyah, berarti benar bahwa ahlu sunnah adalah kelompok penyimpang karena menolak hari akhir, menolak sholat, menganjurkan mabuk-mabukan dan menghalalkan arak, bukankah Imam kalian Yazid bin Muawiyah berperilaku seperti itu ?

Husain bin Ali bin Abi Thalib Imam Kaum Muslimin

Diatas sudah jelas pengakuan seorang ahlu sunnah yang menolak Imam Husain dan dengan agak malu-malu mengakui mengikuti Imamanya Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan yang menurut ulama mereka sendiri adalah sesat, maka tiba saatnya untuk mendengarkan siapa sesungguhnya Husain bin Ali ini berdasarkan paparan Rasulullah saw. Kami persilahkan membaca tulisan saudara saya Ustd Ibnu Jakfar

Ibnu Jakfar menanggapi (KEPERIBADIAN IMAM HUSAIN)

Banyak sekali hadis keutamaan dua cucu tercinta Rasulullah saw. yang beliau sabdakan. Hadis-hadis keutamaan itu selain menjelaskan maqam dan kemuliaan kedua cucu tercinta beliau itu, ia juga menetapkan sederatan konsekuensi yang harus dipatuhi oleh setiap Mukmin yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya…. Di antara konsekuensi itu adalah keharusan mencintai mereka, membela mereka dengan segala bentuk pembelaan, mencintai yang mencintai mereka dan memusuhi yang memusuhi mereka. Dalam kesempatan kali saya hanya akan menyebutkan beberapa saja di antara hadis-hadis shahih keutamaan mereka (semoga slam Allah atas keduanya).

Hadis Pertama:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Said ibn Abi Râsyid dari Ya’la al ‘Âmiri[1], ia keluar bersama Rasulullah saw. ke sebuah jamuan makan, ia berkata… Lalu Rasulullah memergoki Husain di kampong sedang bermain bersama teman-temannya, Nabi saw. bergurauengannya, Husain lari ke sana dan ke mari lalu Nabi saw. mengambilnya dan menggendongnya, beliau meletakan salah satu tangan Husain di telengkuk beliau sementara tangan satunya di janggut, kemudian beliau meletakan mulut beliau di mulut Husain dan menciumnya dan berkata:

حُسَيْنٌ مِنِّيْ و أنا مِنْ حسينٍ ، أللهُمَّ أحِبَّ مَنْ أَحبَّ حسينًا ، حسينٌ سِبْطٌ مِنَ الأسباطِ.

Husain dariku dan aku dari Husain. Ya Allah, cintailah orang yang mencinta Husain. Husain adalah sibthun (anak) dari anakku.

Sumber Hadis:
* Imam Ahmad dalam Fadhâil:505, hadis 398. Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnadnya,4/172.
* Bukhari dalam at Târîkh al Kabîr,8/418 dan al Adab al Mufrad,1/455.
* Al Hakim dalam Mustadrak,3/177 dan ia mensahihkannya.
* Ad Dûlabi dalam adz Dzurriyyah al Kuna,1/88.
* Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf,7/515.
* Ath Thabarani dalam al Kabîrnya,3/33 dengan dua jalur dari Rasyid ibn Sa’ad dari Ya’la dan dari Said dari Ya’la dan dalam Musnad asy Syâmiyyîn,3/184.
* Ibnu Asakir dalam Târîkh Damasykus14/149 dan64/35
* dan beberapa ulama lain.

Makna Hadis:
Al Qâdhi menerangkan, “Husain dariku dan aku dari Husain, seakan Rasulullah saw. memandang dengan cahaya wahyu apa yang akan tejadi antara Husain dan kaum, umat, oleh karena itu, ia disebut secara khusus dan beliau menerangkan bahwa beliau dan Husain adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kewajiban untuk dicintai dan diharamkannya mengganggu dan memerangi. Sabda itu dikuatkan dengan, “semoga Allah mencintai orang yang mencinta Husain” sebab kecintaan kepada Husain adalah kecintaan kepada Rasulullah saw. dan kecintaan kepada Rasulullah saw. adalah kecintaan kepada Allah.[2]

Hadis Kedua:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad sahih dari Abdur Rahman ibn Mas’ud[3] dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah keluar bersama Hasan dan Husain menemui kami, yang satu di atas pundak kanan beliau dan yang satu di atas pundak kiri beliau, sambil menciumi keduanya sampai beliau tiba di hadapan kami, lalu ada seorang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah engkau mencinta keduanya! Maka Nabi saw. bersabda:

مَنْ أَحَبَهُما فقد أحبَّنِيْ و مَنْ أَبْغَضَهُما فقد أبغضَنِيْ.

Barangsiapa mencintai keduanya maka ia benar-benar mencintaiku dan barang siapa membenci keduanya maka ia benar-benar membenciku.[4]

Manfa’at Mencitai Ahlulbait Nabi as.
Banyak sekali hadis shahih yang menerangkan manfa’at yang akan diperoleh pecinta keluarga suci Nabi saw. diantaranya adalah apa yang disebutkan dalam hadis di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dari Imam Hasan ibn Ali as., “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

إلْزَمُوْا مَوَدَّتَنَا أهْلَ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَّنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا,وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ إلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا.

Teguhkan hatimu atas kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya barang siapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan bermanfa’at amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengenal hak kami (atasnya).”[5]

[1]Said ibn Abi Rasyîd, ia jujur percaya, shadûq, baca al Kâsyif; adz Dzahabi,1/360, al Mîzân,2/135 dan at Tahdzîb,4/26.
[2] Tuhfatu al Ahwadzi,10/279.
[3]Abdur Rahman ibn Mas’ud al Yasykuri disebut biodatanya oleh Ibnu Abi Hatim dan ia tidak mencacatnya, Ibnu Hibban menyebutnya dala daftar para perawi tsiqât (terpercaya),5/106, Al Haitsami mentsiqahkannya dalam Majma’ az Zawâid,5/240 ketika menyebut hadis riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya.
[4]Al Hakim meriwayatkan hadis ini dan mensahihkannya, dan adz Dzahabi juga menshahihkannya. Baca Mustadrak; al hakim dan ringkasannya; adz Dzahabi,3/166.
[5] Al Mu’jam al Awsath,6/116, hadis nomer: 18.

Ibnu Jawi al jogjakartani menanggapi (IMAM HUSAIN KHALIFAH, AMIRUL MUKMININ DAN IMAM KAUM MUSLIMIN)

Ustd Ibnu Jakfari telah memaparkan keperibadian Imam Husain bandingkan dengan Yazid, dengan fakta tersebut jelas menurut akhi Putra Pari Purna, Ahlu Sunnah memilih Imam yang buruk moral dan perilakunya, dan mari kita lihat bagaimana Rasulullah mengangkat Imam Husain dan 11 Imam lainyam:
Pengumuman Rasul atas 12 Khalifah pasca beliau>

Dalam berbagai kesempatan Rasulullah saw mengumumkan bahwa kekhalifahan pasca belaiu saw mangkat berjumlah 12 orang hadis ini populer Bahkan dalam jurnal resmi Aktifis Penegak kekhalifahan JURNAL ALWA’I masalah ini telah dikupas Ustadz anda Ustadz Yayaha Abdurahman, meskipun ada beliau mengalami kesulitan menguraikan siapa yang dimaksud 12 khalifah, sehingga harus mentoleransi sedemikian banyak nama sampai 73 nama khalifah. Berikut sekaligus meluruskan pendapat beliau yang juga diriwayatkan dalam kitab Ahlu Sunnah :

Jabir bin Samarah berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘akan datang dua belas orang amir’. Lalu Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak dengar, kemudian ayahku berkata. Rasulullah saw berkata, semuanya dari suku Qurasy. (Shahih Bukhari, IX, Kitab al-ahkam, Bab 51, hal 101 cet. Dar al-Jail- Lebanon). Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan” Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangya hari kiamat atau munculnya di tengah-tengah kamu dua belas orang khalifah yang semuanya berasal dari suku Qurasy” Dari Jabir bin Samrah berkata, “
Sebagian sumber lain yang memuat hadis dengan isi sama tapi dengan redaksi berbeda dapat ditemukan pada:
– Musnad, Ahmad, jilid I, hal 398, 406.
– Musnad ath Thayalisi, Abu Dawud, hadis 767 & 1278 hal 105 & 180
– As Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, Jilid III & VIII, hal 121 & 141

Dari mujahid dari ibnu Abbas (riwayat ini panjang jadi kami pendekan)…”Sesungguhnya washiku adalah Ali bin Abi Thalib, lalu setelahnya adalah kedua cucuku Hasan dan Husain, dan selanjutnya adalah sembilan orang imam dari keturunan Huasain…Jika Husain telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Muhammad, jikaMuhammad telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Ja’far, jika Ja’far telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Musa, jika Musa telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada maka yang menggantikannya yang bernama Muhammad,Jika Muhammad telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, Jika Ali telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Hasan, dan Jika Hasan telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama al-Hujah Muhammad al-Mahdi, mereka berjumlah dua belas orang imam..

Silahkan merujuk kitab ulama anda (Ahlu sunnah) yang kami sebutkan dibawah :
– Fakih al-Hamwini asy-syafi’i dalam kitabnya al Fara’id
– Yanabi’ul Mawaddah, al-Qunduzi, III bab 79 hal 99.
– Kitab al Manaqib dari watsilah bin Asqa’ bin Qarkhan.
– Kitab Yanabi’ul Mawaddah al Madzkur, III, bab 76 hal 100 & 103
– Al Mu’zam al-Kabir, ath-Thabrani, I hal 253

Demikianlah tanpa kami merujuk pada sumber ulama Ahlul Ba’it, ulama Ahlu Sunah sudah mengumumkan siapa saja Manusia piliha Allah yang akan memegang pucuk kepemimpinan pasca Nabi Muhammad saw :

1. Imam Ali bin Abi Thalib.
2. Imam Hasan Mujtaba bin Ali
3. Imam Husain bin Ali
4. Imam Ali Zaenal Abidin bin Husain
5. Imam Muhammad Baqir bin Ali
6. Imam Ja’far Shadiq bin bin Muhammad
7. Imam Musa al-Kazhim bin ja’far
8. Imam Ali Ridha bin Musa
9. Imam Muhammad Jawad bin Ali
10. Imam Ali Naqi Hadi bin Muhammad
11. Imam Hasan Askari bin Ali
12. Imam Mahdi al Qoim

PELANTIKAN KHALIFAH DAN PENGAMBIL BAI’AT UMUM ATAS KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT

Peristiwa terakhir adalah pengambil Ba’iat atas KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT hal ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijah 10 H bertempat disebuah kolam bernama Ghadir Khum, Rasul SAW meminta Ba’iat atas kepemimpinan ALI Bin Abi Thalib beserta Itrah Ahluh Ba’it kepada 70.000 – 120.000 umat muslim pada waktu itu.
Dalam peristiwa Ghadir Qum tersebut Rasulullah mengeluarkan khotbah panjang, bagi yang ingin mengetahui telah diterbitkan dalam bahas indonesia dengan judul :

PESAN TERAKHIR NABI SAW (Terjemahan Lengkap Khotbah Nabi saw di Ghadhir Khum 18 Dzulhijah 10H) lihat lenteralangit.wordpress.com

Berikut petikannya :

Rasulullah saw bersabda :
“…Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dari lisan kalian tentang pengangkat ALI bin ABI THALIB SEBAGI AMIRUL MUKMIN dan para Imam dari keturunanku dan keturunanya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbinya…”

Khotbah tersebut sering disebut dengan Hadis Ghadir Khum sorang sarjana muslim Dhiyauddin Muqbili berpendapat ” Apabila kriteria kesahihan hadis Al-Ghadir ini tidak diterima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun dari hadis-hadis lain yang dapat kita terima”.

Tidak kurang 125 perawi meriwayatkannya, berikut sebagian kecil perawi hadis tersebut dari kalangan Pria : Abu Bakar bin Abi Qahafah, Umar bin al Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Abdullah at-Tamimi, Zubair bin awam, Abbas bin Abdul Muthalib, Usamah bin Zaid bin Harithah, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sa’ad bin Abi waqqash, Abdurrahman bin Auf, Hassan bin Thabit, Sa’ad bin Ubadah, Abu Ayyub al- Anshari, Abdullah bin Mas’ud, Salam al-Farisi, Abu Dzar al-Ghiffari, Ammar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, Sumrah bin Jundab, Sahal bin Khunaif, Ubai bin Ka’ab, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Dari kalangan wanita : Asma’ binti Umais; Ummu Salamah; Aishah binti Abu Bakar; Ummu Hani binti Abu Thalib, Fatimah Zahra.

Agar kami pecinta Ahlul Ba’it tidak dituduh membual dan memalsukan hadis kami dapat laporkan bahwa peristiwa Ghadir Khum telah dicatat oleh ulama Ahlu Sunnah dalam kitabnya tidak kurang 335 karya merekam secara keseluruhan maupun merekam sebagian peristiwa al-Ghadir, berikut penulis dan karyanya yang merekam peristiwa tersebut :

1. Muhammad bin Jarir at-Thabari, al-Wilayah, ia melaporkan dengan 75 jalur riwayat.
2. Ibnu ‘Uqdah al-Hamadani, Al-Wilayah Fi Thuruq Hadith al-Ghadir, melaporkan lewat 105 jalur riwayat.
3. Abu Thalib Abdullah bin Ahmad bin Farid al-Anbari, Thariq Hadith al-Ghadir.
4. Muhammad bin ‘Amer bin Muhammad at-Tamimi al-Baghdadi, melaporkan dari 125 jalur riwayat
5. Ahmad Zaini Dahlan al_makki as-Syafe’i, al-Futuhah al-Islamiah.
6. Syaikh Yusuf an-Nabhani al Beirute, ias-Syaraf al-Muayyad.
7. Sayyid Mukmin Syablanji al-Mishri, Nur al-Abshar.
8. Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar.
9. Abdul Hamid al_Alusi al-Baghdadi, Natsr al-La’ ali.
10. Syaikh Muhammad Habibullah Syanqithi, Kifayat at Thalib
11. Dr. Ahmad Farid Rifa’i, Ta’liqat Mu’jam al-Udaba’
12. Ahmad Zaki al-Mishri, Ta’liqat al-Aghani.
13. Ahmad Nasim al-Mishri, Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami.
14. Nashir as-Sunnah al Hadhrami, Tasynif al-Adzan.
15. Dr. Umar al-Farrukh, Hakim al-Mu’ammarah.
16. Fakhrurrazi, tafsir Mafatih al-Ghaib.
17. Al-Tsa’labi, tafsir Kasyfu al-Bayan.
18. Jalaludi al-Suyuti, al-Durr al-Matsur.
19. al hafizh Abu Na’im, Hilayatu al-Awliya’, (Bab Ma Nuzzila min al-Quran fi Ali)
20. Abu al-Hasan al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-Nuzul.
21. Nizhamuddin al-Naisaburi, tafsir Ghara’ib al-Qur’an.
22. Muhammad bin Ismail al- Bukhari, Tarikh juz 1 hlm 375.
23. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih, juz 2 hlm 325.
24. Abu Daud al-Sajastani, sunan
25. Ibnu Katsir al-Dimasyiqi, Tarikh.
26. Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, juz 4 hlm 281 dan 371.
27. Abu Hamid al-Ghazali, Sir al-’Alamin.
28. Ibnu Abdu al-Bar, al-Isti’ab.
29. Muhammad bin Thalha, Mathalib al-Su’al.
30. Ibnu al-Maghazali, al-Manaqib.
31. Ibnu al-Shibagh al-Maliki, al-Fushul al-Muhimmah.
32. al-Baghawi, Mishabih al-Sunnah.
33. al-khatib al-Khawarizmi, al-manaqib.
34. Ibnu al_Atsir al-Syaibani, Jami’ al-Ushul.
35. Al-Hafizh al-Nasa’i, al-Khasha’is dan Sunan.
36. Al-Hafizh Syaikh Sulaiman al-Hanafi al-Qunduzi, Yanabi’ al-Mawaddah.
37. Ibnu Hajar, al-Shawa’iq al Muhriqah dan al-Minah al-Mulkiyah.
38. Al-Hafizh Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah al Qozwaini), Sunan
39. al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak.
40. al-Hafizh sulaiaman bin ahmad al-Thabrani, al-Awsath.
41. Ibnu al-Atsir al Jizri, Usnud al-Ghabah.
42. Sabth Ibnu al-Jauzi, Tadzkiratu Khawashi al-Ummah. hlm 17
43. Ibnu Abdi Rabbah, al-’Aqdu al-Farid.
44. al-Samhudi, Jawahir al-Aqidaini.
45. Ibnu Hajar al-’Asqalani, Tahzibu al-Tahzib dan Fathu al Bari
46. Jarullah al-Zamakhsyari, Rabi’ al-Abrar.
47. Abu Sa’id al-Sajastani, al-Dirayah fi Hadits al-Wilayah.
48. ‘Ubaidillah al-Khiskani, Du’at al-Huda ila ada’i haqqi al maula.
49. al-’Abdari, al-Jam’u baina al-Shihah al-Sittah.
50. Fakhrurrazi, al-Arba’in.
51. al-Muqbili, al-Ahadits al-Mutawatirrah.
52. al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa.
53. Mir Ali al-Hamdani, Mawaddah al-Qurba.
54. Abu fath al-Nathnazi, al-Khasha’ishal-’Uluwiyyah
55. Khawajih Varisa al-Bukhari, Fashlu al-Khithab.
56. Jamaluddin al-Syairazi, al-Arba’in.
57. al-Munawi, Faidh al-Qadir fi Syarhi al-Jami’ al-Shaghir.
58. Allamah al-Kinji, Kifayatu al-Thalib, Bab I
59. Allamah al-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-ughat.
60. al-Humawaini, Fara’idh al-Samathin.
61. al-Qadhi ibnu Ruzbahan, Ibthalu al-Bathil.
62. Syamsuddin al-Syarbini, al-Siraj al-munir.
62. Abu al-Fath al-Syahrastani al-Syafi’i, al Milal wa Nihal.
63. al-Khatib al Baghdadi, Tarikh Baghdad.
64. Alauddin al-Simnani, al-’Urwatu li ahli al-Khalwah.
65. Ibnu Khaldun, Muqaddimah.
67. Muttaqi al-Hindi, Kanzu al-’Ummal.
68. Syamsuddin al-Dimasyqi, Asna al-Mathalib.
69. Syarif al-Jurjani al-Hanafi, Syarhu al-Mawaqif.
70. Hafizh Ibnu’Uqdah, al-Wilayah.

Khulasah
Dengan demikian sudah terungkap secara jelas, bahwa pertama Yazid bin Muawiyah yang perwatakanya bertentangan dengan Islam adalah Imam bagi Ahlu sunnah, sementara syiah tidak mengakui Yazid sebagai Imam dengan demikian Ahlu Sunnah berdasarkan paparan Putra Paripurna mengikuti Imam yang Sesat sedang syi’ah mengikuti Imam yang tidak sesat (ini perbedaan mendasar) Kedua Bahwa Allah dan Rasulullah telah menetapkan Imam dan para ulama ahlu sunnah sendiri meriwayatkan dalm kitabnya sebagaimana di kutip di atas syi’ah mematuhi perintah Allah dan Rasulullah untuk mengikuti Imam yang Allah dan Rasulullah saw tetapkan di antaranya Imam Husain adalah Imam, sementara Ahlu Sunnah menurut pengakuan akhi Putra Pari Purna lebih memilih Khalifah atas pilihanya sendiri.
Wallahu alam bhi showab

SYIAH DALANG TERBUNUHNYA IMAM HUSAIN as ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Tapi, jika saja mereka mau menapaktilasi sejarah, maka tentu mereka akan sadar bahwa sebenarnya, secara tidak langsung orang-orang Syiah terlibat dalam peristiwa pembunuhan Al Husain . Orang-orang Syiah di Kufah Iraq yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah rutin mengirim surat kepada Al Husain . Mereka mengajaknya untuk menentang Yazid. Mereka mengirim utusan demi utusan yang membawa ratusan surat dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung dan pembela Ahlul Bait. Isi surat mereka hampir sama, yaitu menyampaikan bahwa mereka tidak bergabung bersama pimpinan mereka, Nu’man bin Basyir. Mereka juga tidak mau shalat Jumat bersamanya. Dan meminta Al Husain untuk datang kepada mereka, kemudian mengusir gubernur mereka, lalu berangkat bersama-sama menuju negeri Syam menemui Yazid. Namun, ketika Al Husain datang memenuhi panggilan mereka, dan ketika pasukan ‘Ubaidillah bin Ziyad membantai Al Husain dan 17 orang Ahlul Bait di suatu daerah yang disebut Karbala, tak seorang pun dari orang-orang Syiah itu yang membela beliau. Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?
Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .

Ibnu Jawi al Jogjakartani menjawab :

Sepintas lalu statemen diatas adalah tampak kokoh dan benar bahwa ” orang syiah yang mengundang Imam Husain as dan membiarkan Imam Husain as bertempur sendiri hingga syahid dipadang Karbala”. Pernyataan tersebut pada dasarnya mengandung fallacy, yang sengaja diplintir maksudnya dengan tujuan mengaburkan fakta sebenarnya. Retorika diatas bukanlah hal baru, pada masa perang shifin antara Imam Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan terjadi pula retorika seperti diatas. Seperti di ceritakan dalam sejarah disaat Amar bin Yasir gugur di tangan tentara Muawiyyah, terjadilah kekacauan di barisan prajurit Muawiyah lantaran mereka teringat hadis Rasulullah yang menyatakan kurang lebih,” bahwa kelak akan terjadi pertempuran antara dua kelompok, dan Ammar akan terbunuh, dan pembunuh Ammar adalah kelompok yang sesat” mereka segera tersentak bahwa barisan merekalah yang telah membunuh Ammar, dan Muawiyyah bin Abu Sofyan dengan segala kelicikanya segera membangun retorika dan berkotbah ” Bahwa yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Ammar adalah Ali bin Abi Thalib, karena Ali lah yang membawa Ammar dalam pertempuran Siffin, seandaianya Ali tidak mengikut sertakan Ammar niscaya Ammar tidak akan terbunuh ”. Muawiyah adalah representasi politikus yang cerdik culas dan licik, sepintas pernyataan itu benar, dan sejarah membuktikan bagaimana Imam Ali mematahkan argumentasi Muawiyyah tersebut, kami cukupkan saja sampai disini untuk mengetahui bagaimana Imam Ali meruntuhkan argumen-argumen Muawiyah silahkan membaca di kitab sejarah atau Nahjul Balaghah.

Kesalahan fatal dari pernyataan ” bahwa para penulis surat kepada Imam Husain adalah syi’ah ” merupakan realitas yang tidak berdasar pada pijakan fakta sejarahg yang ada, statemen tersebut hanya merupakan retorika jaring laba-laba sebagaimana retorika yang dibangun muawiyah. Kesalahanya adalah sebagai berikut :

Tidak memperhatikan Struktur masyarakat Kufah

Para penuduh menganggap bahwa para pengundang Imam Husain melalui surat tersebut adalah syi’ah. Pernyataan ini ditolak oleh S.H.M Jafri yang menyatakan ” Orang-orang yang mengundang Husain ke kufah, dan 18.000 orang yang berbaiat kepadanya melalui utusanya, muslim bin Aqil tidaklah semuanya syi’i dalam arti keagamaan, melainkan ada juga yang mengundang dengan alasan politik untuk menumbangkan dominasi orang syiria ” [1]

Fakta sejarah menyebutkan bahwa struktur masyarakat Kuffah tidaklah homegen syi’ah melainkan terpolarisasi pada kecendrungan politik dan afiliasi politik yang heterogen. Baladzuri menuliskan dalam kitabnya, bahwa pada masa sa’ad ibnu abi waqqas menjabat sebagai gubernur kufah ia menghadapi masalah heterogenitas masyarakat kufah. Untuk mengatasi perseoalan tersebut Sa’ad menyususn struktur masyarakat kufah berdasarkan pengelompokan Nizari (suku Arab Utara) dan Yamani (suku Arab selatan), untuk menentukan lokasi tinggal diadakan udnian dengan cara adat orang Arab yakni dengan menggunakan anak panah. Hasilnya, Nizari tinggal di kawasan Barat dan Yamani dikawasan Timur” [2]
Tetapi sistem pengelompokan tersebut terbukti tidak efektif dan tidak berlangsung lama lantaran terjadi permasalahan serius. beragamnya klan dalam suku Nizari dan klan dalam suku yamani sering mengalami gesekan yang pada giliranya mengalami masalah dalam distrubusi gaji yang merupakan sumber utama penduduk kufah. Lalu sa’ad mengorganisasi kelompok masyarakat kufah berdasarkan prinsip pra islam yang berbasis pada ’addala, ta’dil dengan mengorganisir berdasarkan nassab, yakni bentuk organisasi kesukuan Arab yang diikat dalam persekeutuan politik. Populasi masyarakat kufah terbagi dalam tujuh kelompok (disebut asba’) yang terdiri dari :
1. Kinana dan ahabisy , Qays’ Ailan (kelompok ini adalah kelompok pretise dan istimewa (ahl al ’aliyah) dalam struktur masyarakat kufah)
2. Quda’ah, Ghassan, Bajilah, Kats’am, Kinda, Hadzramaut dan Azd digabung dalam kelompok Yamani.
3. Madzhik, Humyar, Hamdan, dalam satu grup
4. Grup Mudhar, yang di isi dari Tamim, Rihab, Hawzin
5. G Asad Ghatfan, Muharib, Nimr, Dubay’ah dan Tghlib dalam satu grup
6. Iyad, ’Akk, ’Abd al Qays, Ahl al Hajar dan Hamra
7. Sub’ [3]
Tetapi dengan sistem tersebut yang dibangun dari prinsip kesatuan suku (muqatilah) pra islam dalam jangka waktu lama telah membawa persoalan tersendiri, hal ini terbukti setelah sembilan belas tahun berikutnya , Dalam kurun waktu tersebut terjadi perubahan drastis dalam klan-klan tertentu, sebagian dari klan tersebut telah mendapatkan kedudukan yang terlampau dominan dengan peruntungan finansial yang berlebihan melebihi klan-klan lain. Pada masa Imam Ali sistem pengorganisasian penduduk yang berbasis muqatilah dirubah menjadi sistem yang lebih egaliter dan adil, Imama Ali membagi tetap dalam tujuh kelompok yaitu :

1. Hamdan dan Himyar (orang yaman)
2. Madzhij, Asy’ar dan Thayy (orang yaman)
3. Kinda, Hadramaut, Qudha’ah dan Mahar (orang Yaman)
4. seluruh cabang Nizari dari qays, ’Abs Dzubyah dan ’Abd al Qays Bahrain.
5. Bakr, taghlib dan seluruh cabang rabi’ah (Nizar)
7. Qurasy, Kinana, SAD, TAMIM, Dhabbah, Ribaba (Orang Nizar) [4]

Jika dibandingkan sistem yang dipakai Sa’ad ib Abi waqash terdapat kelompok yang semula dimarginalkan oleh Sa’ad kemudian di angkat oleh Imam Ali yakni Asy’ar, Mahar dan Dabbah. Jika pendistribusian gaji sebelum Imam Ali berkuasa didasarkan hanya pada keterdahuluan masuk Islam dan siapa yang lebih dahulu datang ke kufah maka Imam Ali merubah dengan berdasarkan prinsip bukan hanya keterdahuluan masuk Islam melainkan menambah prasyarat teguh pada nilai-nilai dan standar Islam [5].
Prinsip-prinsip keadilan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Imam Ali ini ditegakkan oleh beliau, namun mereka (asyraf al qaba’il) yang mendapatkan keberuntungan secara finansial selama 19 tahun sebelum kebijakan Imam Ali tiba-tiba harus berbagi dengan yang lain, akibatnya kelompok asyraf al qaba’il dari klan-klan yuang mendapatkan keberuntungan tersebut menaruh kebencian atas kebijakan Imam Ali, sikap tidak suka tersebut didasarkan pada pertama kebijakan egaliter Imam Ali dalam distribusi gaji yang menghapus perbedaan antara pendatang awal dan pendatang baru dan bukan hanya masuknya Islam terlebih dahulu tetapi juga pada keteguhan terhadap Islam [6] kedua Imam Ali menerapkan persamaan dalam pendapatan bagi Arab dan Non Arab [7].

Dengan memperhatikan struktur masyarakat dan faktor-faktor yang melatari pembentukan struktur masyarakat kufah tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat kufah bukanlah masyarakat yang monolisti homogen syi’ah , mereka terbagi dalam kecendrungan kelompok dan sikap, dan dalam kleompok pun terbagi lagi dalam sikap-sikap yang berbeda. Secara umum S.H.M Jafri membagi kelompok masyarakat kufah menjadi :
1. Kelompok Pengikut setia terhadap keluarga Muhammad (pen-Ahlul Bait) baik pendatang lama maupun pendatang baru dalam masyarakat kufah dari berbagai klan dan suku.
2. Kelompok yang terdiri dari pemimpin klan dan kabilah yang kepentinganya tergantung pada kepentingan kedudukan politis dan monopoli ekonomi dan mereka memiliki pengikut yang tergantung pula pada pemimpin klan dan kabilahnya.
3. Kelompok masa kufah yang yang terdiri dari kebanyakan Yamani dan mawali. Kelompok ini bukanlah kelompok yang comited terhadap ahlul bait (Ali, Hasan dan Husain pen) tetapi bukan pula kelompok yang antusias kepada musuh-musuh Ahlul Ba’it. Mereka akan mengerumuni Ahlul Bait jika ada kepentingan praktis yang menguntungkan mereka, dan segera meninggalkan ahlul bait jika ancaman menghadapi mereka. Ketika dominasi syiria atas kufah dipahami oleh kelompok ini dapat di eliminer dengan melibatkan Imam Husain mereka menulis surat pada Imam Husain tetapi setelah kondisi dan situasi berubah maka berubahlah sikap kelompok ini [8]

Kesimpulnya adalah, bahwa fakta sejarah membuktikan bahwa pengirim surat kepada Imam Husain tersebut bukanlah di dominasi oleh Kelompok pertama, melainkan juga dilakukan oleh kelompok ke tiga, yang secara perwatakan tidak memiliki ketetapan hati melainkan tergantung situasi dan kondisi menguntungkan atau tidak bagi dirinya. Pertanyaanya, lalu dimana kelompok pertama di saat Imama Husai di kepung di Karbala ? ahli sejarah menuliskan sebagai berikut :

Upaya pembelaan muslim syiah terhadap Imam Husain.

Para penulis sejarah dari kalangan ahlu sunnah banyak menuliskan usaha kaum syiah kufah ( seperti disebutkan di atas dari kelompok pertama – pengikut setia) yang berusaha bergabung dalam rombongan Imam Husain as. Thabhari menceritakan secara detail bagaimana pengikut sejati Imam Husain (muslim syiah ) yang berusaha meloloskan diri dari blokade ketat tentara Yazid atas kufah agar dapat menuju karbala.
Thobari menceritakan bahwa seluruh akses yang akan dimanfaatkan untuk menuju karbala di blokade, sehingga mengurung pendukung Imama Husain untuk bergabung di Karbala dan hanya sedikit yang dapat lolos dari blokade [9]. Menurut catatan Thobari dan A l Azraqi Tatkala Imam Husain meninggalkan Makkah, hanya ada 50 orang bersamanya (18 orang keluarga Abi Thalib beserta kerabat dan 32 adalah non keluarga) dan yang terbunuh di karbala berjumlah 92 orang dan yang kepalanya di arak dan dipersembahkan kepada Ibnu Ziyad berjumlah 18 dari keluarga Rasulullah serta 54 orang dari pengikutnya di identifikasi dari suku klan, suku Hawazhin, Tamim, Asad, Madzhij, tsaqif, Azd dan 7 kepala tanpa identitas klan dan sisanya sekitar 20 klan terbunuh tanpa diketahui afilisai klan. Dari catatan sejahrawan tersebut para syi’ah sejati yang mampu meloloskan diri dan bergabung dikarbala hanya 42 orang, hal ini membuktikan betapa hebatnya pengepungan tentara Yazid untuk meblokade para pendukung Imam Husain [10]. Para pendukung Imam Husain (syiah) ini belakangan baru dapat memobilisasi dan mencoba menyadarkan masyarakat kufah dalam Gerakakan Tawwabun.

Memperhatikan Pidato Imam Husain as

Adalah bijaksana untuk memperhatikan redaksi pidato imam Husain, bahwa beliau sama sekali tidak pernah menyebut bahwa yang berkirim surat kepada dirinya adalah kaum syi’ah melainkan kaum kufah, sehingga ini harus dipahami sebagai beragamnya latar belakang para pengirim surat tersebut, perhatikan Pdato imam Husain :
WAHAI KAUM KUFAH, kalian mengirimkan kepadaku delegasi kalian dan menyurati aku… [11] jika belakangan dituduhkan bahwa Syi’ah turut membunuh tentunya Imam Husain akan berbidato dengan menyebut WAHAI SYI’AHKU… dan kami persilahkan untuk mencermati pidato pidato lain Imam Husain sengaja kami tidak postingkan secara utuh agar para penuduh dapat lebih mencermati dalam sumber-sumber sejarah.

Khatimah
Bahwa tuduhan syiah bertanggungjawab terhadap pembunuhan tidak langsung adalah fakta yang hanya bersifat fitnah dan tuduhan dan hal itu sudah di bantah dengan sendirinya dalam sumber-sumber kesejarahan. Fakta lain yang tidak di tulis dalam tulisan ini adalah bahwa niatan untuk membunuh Imam Husain adalah sudah direncanakan sendiri oleh Muawiyyah bin Abu sofyan, hal ini dapat dilihat pada dokumentasi surat wasiat Muawiyah yang diberikan kepada Yazid., pada kesmepatan lain Insya Allah kami akan membahasnya.

Wallahu alam bhi showab.

[1] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam, h. 270-271.
[2] Baladzuri, Ansyab al ayraf , h 435 termuat juga di Nmu’jam al Buldan, juz V hal 323.
[3] Untuk melihat komposisi struktur masyarakat kufah dan sikap politik mereka terhadap Imam Husain terkait surat-surat yang dikirim silahkan mempelajari
masing-masing group ini dalam Thabari,Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid I dan Kahhala, Mu’jam Qaba’il al arab
[4] Lihat di Khalif Hayat asy syi’r fi’l kufah hal 29.
[5] lihat pidato beliau di Khutbah Nahjul Balaghah No 21,23,24,42 dan lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk jilid I hal 3227
[6] ibid khotbah nahjul balaghah
[7] lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk jilid I hal. 3227
[8] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam, h. 180-181.
[9] lihat Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid II hal 236, 303 dan 335.
[10] ibid , hal 386, lihat pula di Ibshar al ’ain fi ahwal al anshar al Husain hal 47 dan akhbar Makkah hal. 259
[11] Ibid jilid II hal 298 lihat di Dinawari hal 249 dan Bidayah VIII hal 172.

RASULULLAH Saw MERATAPI HUSAIN as

Putra Paripurna menuliskan :
Terbunuhnya Al Husain tidaklah lebih besar dari dibunuhnya nabi-nabi. Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.

Demikian pula Umar, Utsman, dan Ali terbunuh. Dan mereka jelas lebih utama dari Al Husain . Sehingga jika meratapi kematian Al Husain adalah sebuah kebaikan, tentulah terbunuhnya mereka lebih pantas untuk diratapi. Tapi apa kata Rasulullah ? “Dua perkara yang menyerupai (perbuatan orang-orang yang) kufur di tengah manusia, yaitu: Mencela keturunan dan meratapi mayat.” (HR. Muslim). “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan masih banyak hadits Rasulullah yang menyebutkan ancaman bagi para peratap. Mestinya, seorang Muslim jika tertimpa musibah mengucapkan apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, artinya, “Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un.” (QS. Al Baqarah: 156). Bukan seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada hari ‘Asyuro.

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

Kami meluruskan terlebih dahulu bahwa syiah tidak meratapi dalam pengertian sebagaimana yang tercantum dalam riwayat Bukhari dan Muslim “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” Muslim syiah meratapi sebagaimana Rasulullah memberikan contoh meratap. Sebelum kami memberikan penjelasan lebih mendalam kami perlu menjelaskan apa difinisi meratap. Kamus Besar Bahasa Indoneis mendifinisikan meratap sebagai menangis dan kadang disertai dengan mengucapkan kata sedih atau menangis disertai ucapan yang menyedihkan jadi meratap bukan tindakan berlebihan seperti memukul, merobek dan lain-lain. Di berbagai kesempatan Rasulullah diceritakan meratap (baca menangis), diantaranya ketika beliau SAW menziarahi makam ibunda beliau saw Aminah, diceritakan Nabi saw menziarahi kubur Ibunya, Aminah, Beliau menangis dan menangislah orang-orang disekitarnya [1]

Ratapan terhadap imam Husain as, pada dasarnya adalah sunnah Rasulullah saw, sebagaimana beliau Rasulullah SAW bersabda ”Barangsiapa yang menangisi Husain ia berhak atas surga ” hadis diatas dijelaskan oleh Sayyid Muhammad al Musawi dalam catatan kaki bukunya sbb ” Menangisi imam Husain yang mengakibatkan masuk surga adalah menangisi yang didasari perasaan dan pengenalan atas Imam Husain serta mendukung misi suci sebagai simbol membela kebenaran dan kelompok tertindas jadi dan bukan semata-mata menangis. Orang-orang yang dianggap baik menangis dan dijanjikan Surga oleh Nabi adalah mereka yang menangis yang menangis dengan bersungguh-sungguh berjuang , berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya umtuk merealisasikan misi-misi Abu Abdillah al Husain yang pada hakekatnya misi Allah swt dari kerasulan Muhammad saw dan diutusnya semua para Nabi as.

Menangisi Husain yang menyebabkan masuk surga adalah menangis yang timbul dari hati yang penuh kebencian terhadap kaum penindas , sehingga kemudian menjadi serangan terhadap kebatilan dan revolusi atas orang-orang zalim. Tangisan seperti ini adalah bukan semata-mata tangisan, tetapi tangisan penerus perjuangan Imam Husain, sang syahid dan perjuangan Zaenab as serta ahlul bait dari karbala sampai syiria. Tangisan tersebut memberikan pengaruh yang besar dalam menggerakan rasa keberagamaan dan perasaan kemanusiaan pada masyarakat Islam, untuk senantiasa memperjuangkan mengalahkan kaum zalim yang menindas [2].

Jika di atas disebutkan bahwa menangisi Husain adalah Sunnah Rasulullah saw, berikut adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah menangisi Husain :

1. Al khawarizmi meriwayatkan dengan sanad dari Asma ninti Abu Umais berita yang panjang dimana pada bagian akhir ditulis bahwa Asma berkata, setelah Fatimah melahirkan Husain, Nabi datang kepadanya dan berkata ” Wahai Asma berikanlah kepadaku puteraku” kemudian menyerahkannya dengan diselimuti kain putih. Nabi mengadzaninya pada telinganya yang kanan dan mengiqomatinya pada telinga yang kiri, kemudian Nabi saw meletakkan dalam pangkuanya dan beliau menangis. Asma keheranan dan bertanya kepada Nabi, ”Demi ayah dan Ibuku, apa yang menyebabkan engkau menangis ?” Nabi menjawab ”karena putraku ini” Asma berkata ”dia baru saja lahir” Nabi menjawab ”wahai ’Asma, dia akan dibunuh oleh kelompok yang zalim yang tidak mendapatkan syafaatku” kemudian Nabi berkata , ”wahai Asma janganlah engkau memberitahu Fatimah akan hal ini, karena dia baru saja melahirkanya. [3]

2. Hakim Naishaburi, meriwayatkan dengan sanad dari Ummul Fadhl binti Harits, ”kemudian Fatimah melahirkan Husain dipangkuanku … suatu hari dia menemui nRasulullah SAW dan meletakkan Husain dalam pangkuanya, kemudian Rasulullah menangis mengucurkan air mata, saya bertanya ”wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku mengapa, engkau menangis” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang kepadaku memberi kabar bahwa umatku akan membunuh anakku ini” saya bertanya, ”anak ini ?” Nabi menjawab,”Betul, dan dia membawa tanah merah kepadaku, [4]

3. Ibn Sa’ad meriwayatkan dari ’Aisyah dia berkata ”Ketika Rasulullah saw sedang berbaring Husain datang merangkak kemudian aku menghalanginya. Aku bangun untuk suatu keperluan sehingga kami dekat denganya. Kemudian Nabi saw bangun dan menangis, saya bertanya ”mengapa engkau menangis ?” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang memperlihatkan kepadaku tanah dimana Husain terbunuh, maka Allah sangat murka kepada orang yang membunuhnya…” [5]

4. Diceritakan oleh ulama ahlu sunnah Umar bin Khudr uang dikenal sebagai Mallb diriwayatkann dari Ummu Salamah dia berkata, Bahwa dia mendengar Nabi Saw menangis di rumahny, kemudian dia menemuinya. Ummu Salamah melihat Husain bin Ali r.a dalam pangkuanya atau disampingnya dimana beliau mengusap kepalanya dan menangis, dia bertany, ”wahai Rasulullah, mengapa engkaumenangis ?” Nabi Saw menjawab, ”Sesungguhnya jibril memberitahuku bahwa anakun ini akan terbunuh di tanah Irak yang disebut Karbala” kemudian Nabi memberiku segenggam tanah merah dan berkata, ”ini adalah tanah dimana Husai terbunuh, Jika dia menjadi darah ketahuilah bahwa dia telah terbunuh”. Kemudian dia simpan tanah itu dalam botol dan berkata bahwa hari ketika tanah ini berubah menjadi darah adalah hari yang sangat dahsyat [6]

Dengan begitu bertebaranya riwayat yang menceritakan Rasulullah meratapi (menangisi) imam Husain maka kami para pengikut Ahlul bait pun mencontoh Rasulullah menangisi atas tragedi yang menimpa Imam Husain as. Jadi kami mengikuti sunnah Rasulullah, mengapa kalian yang mengklaim sebagai ahlu sunnah justru menolak sunnah Rasulullah saw ? Bahkan kalian di hari asyura menggelar pesta kegembiraan sebagi manifestasi kegembiraan Yazid bin Muawiyah, Siapakah sebenranya yang mengikuti Sunnah Rasulullah ? jawabnya adalah kami syi’ah dan Siapakah yang mengikuti Sunnah Yazid bin Muawiyah ? adalah kalian bukankah begitu ?

Tentang Tafsiran QS. AL Baqarah : 156

Mohon maaf sebelumnya, saya menduga antum banyak mengutip argumentasi dari kaum sunni wahabi, hal ini tampak jelas antum sedemikian saja menafsirkan Al Qur’an. Perlu kami sampaikan bahwa kaum sunni wahabi sangat jahil dalam menafsirkan Al Quran bahkan tanpa menggunakan kaidah penafsiran yang benar. Untuk mengetahui kejahilan kelompok sunni wahabi dalam menafsirkan Al Qur’an kami persilahkan antum mendalami dalam kitab Tahkukumul Muwalliddin bi man adda’a Tajdidad Diin” karya Syekh Muhammad bin Abdur Rahman bin Afaaliq anda akan ketemukan bagaimana mereka jahil dalam menafsirkan Al Qur’an.

Kami hanya akan mengulas seperlunya saja dalam masalah penafsiran. Rasulullah saw dibanyak kesempatan bersabda ” Hai Manusia aku tinggalkan apa saja yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan, selama kamu berpegang teguh padanya yaitu : KITABULLAH (AL QUR’AN) dan ITRAHKU AHLUL BA’ITKU keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud, Hati-hatilah dengan perlakuanmu atas keduanya sepeninggalku nanti, maka janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu” [7] Maka dalam hal penafsiran pun kami mengikuti para Imam Ahlul Ba’it dan tidak mendahului mereka dan konsekuensi logis dari merasa lebih pintar dari Rasulullah dan 12 Imam Ahlul Bait akan menyebabkan tersesat. Dalam masalah penafsiran ini Imam Ali Zaenal Abidin as mengatakan ” Kitab Al Qur’an terdiri atas empat hal : Ibarah (diksi,teks); isyarah (indiksi), latha’if (kehausan) dan haqa’iq (hakekat). Ibarah adalah untuk orang-orang awam, Isyarah untuk orang-orang pilihan, latha’if untuk awliya dan haqa’iq untuk para Nabi” dan Imam Muhammad al Baqir mengatakan :” “Al Qur’an mempunyai bathn (aspek esoteris) dan bahwa bathn itu pada giliranya mempunyai bathn juga. dan Al Qur’an juga mempunyai zahr (aspek eksoteris) dan zahr itu juga mempunyai zahr lagi. Dan tidak sesuatu yang lebih jauh dari intelek manusia ketimbang tafsir Al Qur’an ini. Awal suatu ayat berkenaan dengan sesuatu dan akhirnya suatu ayat berkenaan dengan sesuatu yang lainya dan ia adalah kalam atau perkataan berkesinambungan yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda”
Nah tentu saja Rasulullah adalah yang paling paham terhadap Al Qur’an. Para ahli Tafsir diantaranya Alamah Husain Thobaththaba’i yang memiliki magnum opus tafsir berjudul Tafsir Al Mizan menyebutkan bahwa metodologi penafsiran itu diantaranya terdiri adalah Tafsir Bil Ma’tsur yakni upaya menjelaskan Al Qur’an dengan mengutip penjelasan yang sudah ada, jenisnya diantaranya : Tafsir Al Qur’an bi Al Qur’an, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an sendiri ; Tafsir Al Qur’an bi Sunnah, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan sunnah Nabi; . Tafsir Al Qur’an bihwalis Shahabah, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan ucapan shahabat; dan Tafsir Al Qur’an bi akwail ‘ulama, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan ucapan ulama selain shahabat. [8]

Ketika disodorkan ayat “orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un” (QS. Al Baqarah: 156). Muslim syiah hanya mencontoh sunnah Rasulullah bagaimana beliau SAW menyikapi Trageidi tersebut, dan tentu saja beliau SAW sangat mengetahui makna lahir dan bathn ayat tersebut dan prilaku beliau SAW adalah prilaku Al Qur’an jadi kami mencontoh prilaku Rasulullah SAW yang Qur’ani tersebut. Kalau kemudian ada manusia yang lebih pintar dan lebih memahami soal tafsir dari rasulullah SAW beserta Imam Ahlul Ba’it ya silahkan saja mengklaim, tetapi dipastikan tafsiranya keliru dan bila merasa tafsirannya terhadap Al Qur’an lebih unggul pemahamanya daripara Imam Ahlul ba’it dipastikan keliru juga karena Rasulullah telah menyebutkan : ” janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu”

Wallahu alam bhi showab

[1]. Muslim, Shahih, juz 1hlm 359
[2]. Sayyid Muhammad al Musawi, Madzhab Syiah, hal 414
[3] Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : al Khawarizmi, maqtal al Husain; Hamwaini, Faraid al Simthin, juz 2 h 103, Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq hadis ke 13 dan 14 tentang biografi Husain, Samhudi , Jawahir al Aqdaini.dll
[4] Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : Hakim Naishaburi, al Mustadrak, juz 3 h 176, Baihaqi, Dalail al Nubuwwah, juz 6 h 468, Ibnu Katsir, Bidayah wa al Nihayah, Juz 6 hlm 230 dll
[5] Lihat di al Thabaqat al Kubra, Juz 8 h 45; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, hadis No 229, Ibnu hajar, al Shawa’iq al Muhriqah, Qanduzi, Yanabi’ al Mawaddah, Ibnu ’Adim, Bughyah al Thalib fi Tarikh Halb, Juz 7 h 78 dan Daruqutni, alI’lal, juz 5 h 83.

[6] Dikalangan ahlu sunnah hadis ini begitu banyak diriwayatkan oleh para ulama sunni diantaranya : Ibnu Sa’ad, Thabaqat, juz 8 hadis no 79. Thabari, Dakhair al ’Uqba hlm 147. Abu Bakar bin Abu Sya’ibah, al Mushannaf, Juz 15 hlm 14 hadis no 19213. Ibnu Hajar, al Mathalib al ’aliyah, juz 4 h 73. Thabari, al Mu’jam al Kabir, juz 3 h 114, Ibnu Asakir, Tarikh, hadis No 223, Al Maziyyi, Tahdzib Halb, Juz 7 h 56 hadis No 8, Haitsami, Majma’ al Zawaid, Juz 9 h 192, Hakim, Al Mustadrak, juz 4 h 389, baihaqi, Dalail al Nubuwah, Juz 6 h 468, Ibnu katsir, al Bidayah w al Nihayah, Juz 3 h 230 dan masih banyak lagi

[7] Hadis ini diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim, Kitab Shahih, Juz VII, hlm 122 Al Tirmidzi, juz 2, hlm 307 . Al Nasai, Kitab Kasha’ish, hlm 30. Imam Ahmad bin Hambal, Kitab Musnad, Juz 3 hlm 13 & 17; Juz 4 hlm 26 & 59; Juz 5 hlm 182 & 189 5. Muhammad bin Habib al-Baghdadi, Kitab Al-Munamaq juz 9. Abu Dawud, Kitab Tadzkirah Khawash al-Ummah, hlm 222. Ibnu Atsir, Kitab Jami’ al-Ushul, juz 1 hlm 178. Ibn Katsir, Kitab Tarikh, Juz 5 hlm 208 & 457. Al Fakhr al razi, Kitab tafsirnya. al Kunuji al-Syafi’i, Kitab Kifayah al Thalib, pada Bab I kami mencatat tidak kurang 160 an kitab sunnah meriwayatkan hadis ini.

[8] Lihat Ulumul Quran, Penerbit Lentera.

Tanggapan Ibnu Jakfari
Nabi Muhammad Saw. Penggagas Ritual Ratapan Atas Kesyahidan Imam Husain As.

Setiap kali bulan Muharram tiba, para pecinta Rasulullah saw. dan pengikut setia Ahlulbait as. di seluruh penjuru dunia memperingati kesyahidan Imam Husain as.; cucu terkasih Nabi Muhammad saw. Mereka meperingatinya dengan membaca kembali sejarah tragedi Karbala yang sangat memilukan dan menyayat hati setiap yang orang yang memliki nurani sehat… Mereka mencucurkan air mata kesedihan, meratapi kesyahidan Imam Husain as. dan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan munafik yang biadab terhadap keluarga dan keturunan Nabi saw.!

Namun di balik sana, ada sekelompok yang menamakan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad saw. namun mereka merayakannya sebagai hari kejayaan Islam dan kemenangan sang Khalifah Amirul Mukminin Yazid putra Mu’awiyah putra Abu Sufyan yang telah membantai keluarga suci Nabi Muhammad saw.! Hari Asyûrâ’ menjadi hari penuh kebahagiaan bagi bani Umayyah dan pengikut mereka! Lalu sebagian kaum Muslimin tertipu oleh kepalsuan propaganda sesat bani Umayyah.

Dalamkesempatan ini, kami hanya akan mencari tau akar dan asal muasslam tradisi masyrû’iyyah menangisi kesyahidan Imam Husain as.? hanya itu sementara yang saya ningin terlusuri… mengingat ada sebagian anggapan yang salah dengan menuduuhnya sebagai tradisi buruk yang dilarang dalam Islam!

Nabi saw. lah yang Mencontohkan Dan Mengajarkan Kepada Umat Islam Dimasyrû’kannya Menangisi Imam Husain as.!

Dalam banyak hadis shshih disebutkan bahwa sesaat setelah Imam Husain as. lahir dan dibawakan kepangkuan suci Nabi saw. beliau menggendongnya dan mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya… Setelahnya beliau saw. meneteskan air meta kesedihan atas cucu tercintanya tersebut.. ketika ditanya mengapa beliau menangis, beliau menjawab bahwa Malaikat Jibril as. baru saja mengabarkan kepada beliau bahwa cucu tercintanya ini krlak akan dibantai oleh sekawanan orang yang mengaku sebagai umatnya… beliau bersabda bahwa mereka tidak akan mendapakan syafa’at beliau. Hadis-hadis tentang masalah ini sangat banyak jadi tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Tetapi paling tidak satu hadis dapat meyakinkan kita jika kita memang beriman kepada kesucian sunnah Nabi saw.

Para ulama meriwayatkan bahwa: Ketika Husain as. lahir, Nabi saw. berkata kepaqda Asmâ’, “Hai Asmâ’, bawakan kemari putraku!” Lalu aku bawakan dia kepada beliau dalam kain selimut berwarna putih, beliau mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya, setelahnya beliau meletakkannya di pangkuannya dan beliau menangis.

Asmâ’ berkata, “Semoga ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, mengapa Anda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Aku menangisi putraku ini.”

Aku berkata, “Bukankah ia baru saja lahir. Ini adalah saat gembira, lalu bagaimana ANda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Hai Asmâ’ ia akan dibunuh oleh Fi’atun bâghiyah (kelompok pembangkang). Semoga Allah tidak memberi mereka syafa’atku.”

Lalu beliau bersabda kepada Asmâ’, “Hai Asmâ’ jangan engkau kabarkan berita ini kepada putriku Fatimah, ia baru saja melahirkannya.”[1]
[1] Banyak sekali rujukan yang menjadi sumber hadis di atas, di antaranya Jawâhir al Aqdain; as Samhudi.

BENARKAH IMAM ALI BIN ABI THALIB as MENAMAKAN PUTRANYA ABU BAKAR, UMAR DAN USTMAN ?

Putra Praipurna Menuliskan :
”Dalam tragedi mengenaskan ini (di karbala), di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali. Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syiah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syiah”

Second prince Menanggapi :

Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman maka itu berarti Imam Ali mengagumi dan berhubungan baik dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya tidak membela siapa-siapa disini, tugas saya hanya memaparkan data yang jelas dan mengoreksi kekeliruan asumsi-asumsi yang ada. Mengenai pandangan saya sendiri terhadap ketiga khalifah maka bagi saya “tidak ada masalah”.
Benarkah Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman?. Tentu untuk menjawab masalah ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan studi literatur. Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas satu persatu.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Abu Bakar

Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khuraasy salah seorang Ulama Salafy yang mengecam Syiah dalam kitabnya As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 7 mengatakan dengan pasti bahwa Imam Ali menamakan anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman yaitu nama ketiga khalifah. Ia berkata

علي رضي الله عنه كما في المصادر الشيعية يسمِّي أحد أبنائه من زوجته ليلى بنت مسعود الحنظلية باسم أبي بكر، وعلي رضي الله عنه أول من سمَّى ابنه بأبي بكر في بني هاشم

Ali radiallahuanhu yang menjadi rujukan Syiah menamakan salah satu dari anak-anaknya dari istrinya Laila binti Mas’ud dengan nama Abu Bakar, dan Ali radiallahuanhu adalah yang pertama dari Bani Hasyim yang menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar.

Jika melihat catatan kaki dalam kitab tersebut maka dapat dilihat bahwa Syaikh Sulaiman mengutip dari Kitab Al Irsyad Syaikh Mufid, Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani dan Tarikh Al Yaqubi. Saya merujuk pada kitab-kitab yang disebutkan oleh Syaikh dan ternyata terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Sulaiman.
.
Dalam kitab Al Irsyad Syaikh Mufid hal 354 memang disebutkan nama anak-anak Imam Ali dan pada bagian anak Laila binti Mas’ud disebutkan

ومحمّدُ الأصغر المكًنّى أبا بكرٍ وعًبَيْدُاللهِ الشّهيدانِ معَ أخيهما الحسينِ عليهِ السّلامُ بالطّفِّ ، أُمُّهما ليلى بنتُ مسعود الدّارميّةُ

Muhammad Al Asghar dengan kunniyah Abu Bakar dan Ubaidillah yang syahid bersama saudaranya Al Husain Alaihissalam, Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad Darimiyah.
Jadi Abu Bakar itu bukanlah nama sebenarnya tetapi hanyalah nama panggilan atau kunniyah sedangkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebenarnya adalah Muhammad Al Asghar. Hal ini berarti Imam Ali tidaklah menamakan putranya dengan nama Abu Bakar melainkan Muhammad.
.Dalam Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani hal 56, beliau mengatakan pada bagian “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib”

لم يعرف اسمه ، وامه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم

Tidak diketahui namanya, dan ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rabi’ bin Aslam bin Jandal bin Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manat bin Tamim.

Abu Faraj Al Asbahani mengaku tidak mengetahui nama asli Abu Bakar bin Ali, dalam hal ini ia menganggap bahwa Abu Bakar adalah nama panggilan atau kunniyah. Memang dalam kitab Tarikh Al Yaqubi 1/193 tidak disebutkan siapa namanya hanya menyebutkan Abu Bakar, hanya saja jika memang Syaikh Sulaiman bin Shalih merujuk pada kitab-kitab yang ia sebutkan maka sangat jelas bahwa nama Abu Bakar itu adalah kunniyah bukannya nama asli. Oleh karena itu menyatakan bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar adalah keliru. Di sisi ulama syiah sendiri, Abu Bakar bin Ali dikenal dengan nama Muhammad Al Asghar dan ada pula yang menyatakan namanya Abdullah.

Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dalam Kitabnya Ansharu Husain hal 135 memasukkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu dari mereka yang syahid di Karbala, beliau berkata
قال الاصفهاني : لم يعرف إسمه ( في الخوارزمي : إسمه عبد الله ) . أمه : ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك

Al Asfahani berkata “tidak diketahui namanya” (Al Khawarizmi berkata : namanya Abdullah). Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik.
.

Sayyid Jawad Syubbar dalam kitabnya Adab Al Thaff 1/57 berkata
ابو بكر بن علي بن أبي طالب واسمه محمد الأصغر أو عبد الله وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد

Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, namanya Muhammad Al Asghar atau Abdullah dan Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid.

Jadi disisi Ulama syiah maka Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib adalah nama panggilan yang masyhur sedangkan nama aslinya ada yang mengatakan Muhammad Al Asghar dan ada yang menyatakan Abdullah. Oleh karena itu bagi Ulama Syiah “Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar”.

Kalau melihat dari literatur Sunni maka saya pribadi belum menemukan adanya keterangan siapakah nama sebenarnya Abu Bakar, Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat Kubra 3/19 hanya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya Laila binti Mas’ud, tetapi keterangan Abul Faraj Al Asbahani dalam Maqatil Ath Thalibiyyin di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar itu adalah nama panggilan atau kunniyah. Abu Faraj Al Asbahani memang dikatakan oleh Adz Dzahabi sebagai Syiah tetapi menurut beliau Abu Faraj seorang yang jujur.

Adz Dzahabi berkata tentang Abul Faraj Al Asbahani dalam kitabnya Mizan Al Itidal 3/123 no 5825
والظاهر أنه صدوق

Yang jelas, dia seorang yang jujur.

Dalam Siyar A’lam An Nubala 16/201, Adz Dzahabi berkata kalau Abul Faraj Al Asbahani adalah seorang pakar sejarah, lautan ilmu, tahu tentang nasab, hari-hari bangsa arab dan menguasai syair. Adz Dzahabi juga menegaskan bahwa salah satu tulisannya adalah Maqatil Ath Thalibiyyin, kemudian pada akhirnya Adz Dzahabi berkata “la ba’sa bihi” atau tidak ada masalah dengan dirinya.

Dalam Lisan Al Mizan jilid 4 no 584, Ibnu Hajar juga mengatakan hal yang sama dengan Adz Dzahabi bahwa Abul Faraj seorang yang jujur. Ibnu Hajar juga berkata

وقد روى الدارقطني في غرائب مالك عدة أحاديث عن أبي الفرج الأصبهاني ولم يتعرض

Ad Daruquthni meriwayatkan sejumlah hadis dari Abul Faraj Al Asbahani dalam Ghara’ib Malik tanpa membantah atau menolak riwayatnya.

Semua keterangan di atas menyimpulkan baik di sisi Sunni maupun Syiah nama Abu Bakar putra Imam Ali adalah nama panggilan yang masyhur untuknya, sehingga dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar. Selain itu Abu Bakar adalah panggilan yang masyhur dan tidak hanya dimiliki oleh Abu Bakar khalifah pertama yang nama aslinya sendiri adalah Abdullah bin Utsman.

Dalam Kitab Al Ishabah Ibnu Hajar 4/26 no 4570 disebutkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Rabi’ah, di kitab Al Ishabah 4/90 no 4685 disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair salah seorang sahabat Nabi juga memiliki kunniyah Abu Bakar dan dalam Al Ishabah 7/44 no 9625 terdapat salah seorang sahabat yang dipanggil dengan Abu Bakar Al Laitsiy yang nama aslinya adalah Syadad bin Al Aswad. Keterangan ini menunjukkan bahwa kunniyah Abu Bakar tidak mutlak milik khalifah pertama dan bisa disematkan pada siapa saja.

Putra Imam Ali Yang Bernama Umar
Syaikh Sulaiman bin Shalih juga menyebutkan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 5
رقية بنت علي بن أبي طالب، عمر بن علي بن أبي طالب ـ الذي توفي في الخامسة والثلاثين من عمره
وأمهما هي: أم حبيب بنت ربيعة

Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Hubaib binti Rabi’ah.

Dalam hal ini memang benar nama putra Imam Ali tersebut adalah Umar, tetapi tidak benar jika dikatakan Imam Ali menamakan putranya Umar karena yang menamakan Umar adalah Khalifah Umar bin Khattab. Adz Dzahabi menyebutkan dalam As Siyar A’lam An Nubala 4/134 biografi Umar bin Ali bin Abi Thalib
ومولده في أيام عمر فعمر سماه باسمه ونحله غلاما اسمه مورق

Beliau lahir pada masa khalifah Umar dan Umar menamakan dengan namanya, kemudian memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.

Al Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf hal 192 juga mengatakan hal yang sama
وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا

Umar bin Khattab menamakan Umar bin Ali dengan namanya dan memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.

Jadi pernyataan Syaikh Sulaiman Al Khuraasy bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Umar adalah keliru, yang benar Umarlah yang menamakan anak Imam Ali dengan nama Umar.
Sebagian pengikut salafy yang mengetahui fakta ini tetap saja berdalih dan terus mengecam syiah, mereka mengatakan kalau memang Imam Ali membenci dan melaknat Umar maka tidak mungkin beliau mau anaknya dinamakan oleh Khalifah Umar dengan namanya. Cara berpikir seperti ini keliru. Keputusan Imam Ali yang membiarkan anaknya dengan nama Umar bukan berarti beliau mengagumi Umar bin Khattab dan bukan berarti pula saya mengatakan Imam Ali membenci dan melaknat Umar. Dalam hal ini nama Umar adalah nama yang umum sehingga tidak ada masalah bagi Imam Ali untuk menerimanya. Bahkan nama Umar adalah nama salah satu dari anak tiri Nabi yaitu Umar bin Abi Salamah yang dalam sejarah hidupnya pernah diangkat sebagai gubernur Bahrain oleh Imam Ali dan beliau sahabat yang tetap setia kepada Imam Ali dalam Perang Jamal. Oleh karena itu nama Umar bagi Imam Ali bukanlah nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya.
.

Dalam Al Ishabah Ibnu Hajar 4/588-597 didapatkan banyak sahabat yang bernama Umar diantaranya

* Umar bin Hakim Al Bahz (Al Ishabah no 5739)
* Umar bin Khattab (Al Ishabah no 5740)
* Umar bin Sa’ad Al Anmari (Al Ishabah no 5741)
* Umar bin Sa’id bin Malik (Al Ishabah no 5742)
* Umar bin Sufyan bin Abad (Al Ishabah no 5743)
* Umar bin Abi Salamah (Al Ishabah no 5744)
* Umar bin Ikrimah bin Abi Jahal (Al Ishabah no 5745)
* Umar bin Amr Al Laitsi (Al Ishabah no 5746)
* Umar bin Umair Al Anshari (Al Ishabah no 5747)
* Umar bin Auf An Nakha’i (Al Ishabah no 5748)
* Umar bin La Haq (Al Ishabah no 5749)
* Umar bin Malik (Al Ishabah no 5750)
* Umar bin Malik bin Utbah (Al Ishabah no 5751)
* Umar bin Muawiyah (Al Ishabah no 5753)
* Umar bin Wahab Ats Tsaqafi (Al Ishabah no 5754)
* Umar bin Yazid (Al Ishabah no 5755)

Jadi nama Umar adalah nama yang umum di kalangan sahabat dan tidak selalu mesti merujuk pada Khalifah Umar. Intinya Imam Ali tidak menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya. Khalifah Umar boleh saja menganggap nama Umar bin Ali itu berasal dari namanya tetapi tidak bisa dikatakan kalau bagi Imam Ali nama Umar mesti merujuk pada Umar bin Khattab karena bisa saja dikatakan bahwa nama Umar itu adalah nama yang umum sehingga Imam Ali tidak keberatan untuk menerimanya atau nama Umar itu bagi Imam Ali mengingatkannya pada Umar bin Abi Salamah anak tiri Nabi dan salah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.

Putra Imam Ali yang bernama Utsman

Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khurasy mengatakan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 4
عباس بن علي بن أبي طالب، عبدالله بن علي بن أبي طالب، جعفر بن علي ابن أبي طالب، عثمان بن علي بن أبي طالب أمهم هي: أم البنين بنت حزام بن دارم

Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.
Saya katakan memang benar Imam Ali memiliki satu putra yang bernama Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Tetapi lagi-lagi keliru kalau dikatakan nama Utsman mesti merujuk pada Khalifah Utsman. Nama Utsman adalah nama yang umum pada masa Jahiliyah dan masa Nabi. Ayah Abu bakar khalifah pertama bernama Utsman bin Amir. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/169 disebutkan bahwa nama sebenarnya Ayah Abu Bakar yang bergelar Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Bukankah ini berarti nama Utsman sudah ada pada masa jahiliyah.
Pada masa sahabat cukup banyak sahabat yang bernama Utsman. Saya menemukan lebih dari 20 orang sahabat yang bernama Utsman seperti yang tertera dalam Al Ishabah 4/447 no 5436 sampai 4/463 no 5461 diantaranya (hanya disebutkan sebagian)

* Utsman bin Hakim (no 5437)
* Utsman bin Hamid bin Zuhayr (no 5438)
* Utsman bin Hunaif Al Anshari, Imam Tirmidzi mengatakan kalau beliau ikut perang Badar (no 5439)
* Utsman bin Said Al Anshari (no 5442)
* Utsman bin Amir, Abu Quhafah (no 5446)
* Utsman bin Utsman Ats Tsaqafi (no 5451)
* Utsman bin Affan (no 5452)
* Utsman bin Mazh’un (no 5457)

Jadi nama Utsman itu adalah nama yang umum dan tidak bisa langsung dikatakan begitu saja merujuk pada Utsman bin Affan. Lagipula Abul Faraj Al Asbahani menyebutkan bahwa nama Utsman putra Ali dinamakan oleh Imam Ali dengan merujuk pada Utsman bin Mazh’un. Hal ini disebutkan dalam Maqatil Ath Thalibiyyin hal 55 ketika menerangkan tentang “Utsman bin Ali bin Abi Thalib”.

روى عن علي أنه قال . إنما سميته باسم أخي عثمان ابن مظعون

Diriwayatkan dari Ali yang berkata “Sesungguhnya aku menamakannya dengan nama saudaraku Utsman bin Mazh’un”.
Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang sahabat Nabi yang cukup dikenal keutamaannya. Beliau wafat di masa Nabi SAW setelah perang Badar. Terkenal ucapan Nabi SAW atas beliau ketika salah satu putri Nabi SAW meninggal, beliau SAW berkata

الحقي بسلفنا الصالح الخير عثمان بن مظعون

Susullah pendahulu kita yang shalih lagi baik Utsman bin Mazh’un

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad no 2127 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Imam Ali memang menamakan putranya dengan nama Utsman yang merujuk pada Utsman bin Mazh’un.

Kesimpulan

Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini
1. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar karena Abu Bakar adalah nama panggilan
2. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Umar tetapi Khalifah Umar yang memberi nama Umar dan Imam Ali menerima nama tersebut karena nama Umar mengingatkan Beliau akan nama Umar bin Abi Salamah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
3. Imam Ali menamakan putranya dengan nama Utsman yang diambil dari nama Utsman bin Mazh’un

Ibnujakfar menanggapi :

Imam Ali as. Tidak Menamakan Putranya Dengan Nama Umar!

Tidak jarang sebagian juru kampaye sekte Wahhabi melontarkan pernyataan bahwa Imam Ali as. telah memberi nama putra beliau dengan nama Umar sebagai bukti keintaan dan pengagungan kepada Umar ibn al Khaththab… Akan tetapi hal itu hanya sekedar isu yang tidak samar lagi tendensinya!

Namun ketika kita meneliti data-data sejarah yang ada, akan kita menemukan bahwa Imam Ali as. tidak pernah menamai putranya itu dengan nama Umar! Khalifah Umar lah yang menamai bocah itu dengan nama Umar… dan akhirnya nama itu melekat dikenal di kalangan sebagian kaum Muslimin… mengingat Umar sekalu Khalifah umat Islam telah menyebut-nyebut bocah itu dengan nama Umar!

Perhatikan beberapa kutipan sejarah di bawah ini:

Adz Dzahabi (yang sangat dibanggakan kaum Wahhabi) melaporkan ketika menyebut data sejarah Umar putra Ali ibn Abi Thalib:

ومولده في أيام عمر ، فعمر سماه باسمه ، ونحله عبده مورقا.

“Ia lahir di masa kekhalifahan Umar. Maka Umar menamainya dengann namanya (Umar) dan Umar memberikan kepadanya seorang budak sahayanya bernama Mauraq.” (Baca Siyar A’lâm an Nubalâ’:4/134)

Al Balâdzuri seorang sejarahwan Sunni terkenal juga melaporkan dalam Ansâb al Asyrâf:192:

وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا.

“Dan adalah Umar ibn al Khtahthab telah menamakan Umar putra Ali dengan namanya. Dan ia menganugerehkan kepada budak sahayanya yang bernama Mauraq.”

Dari sini jelaslah bagi kita bahwa yang menamakan putra Ali dengan nama Umar bukan Imam Ali as., akan tetapi Khalifah Umar ibn al Khaththab. Dan setelahnya nama itu melekat pada bocah tersebut hingga dewasa.

Dan dengan demikian tidaklah berharga fitnah yang dibesar-besar sebagian juru kampenye sekte Wahhabi bahwa pemberian nama itu mencerminkan kecintaan dan pengagungan Imam Ali as. kepada Umar!

Bukti-bukti sejarah di atas bukan tidak diketahui oleh mereka, akan tetapi para juru kampanye Wahhabi memang senang menikmati kajahilan kaum awam dengan menyebarkan isu dan fitnah murahan!

Selain itu, andai benar Imam Ali as. yang memberi nama putranya dengan nama Umar, apa itu bererti secara tegas menunjukkan kecintaan dan atau mengagungannya terhadap Khalifah Umar?!

Lagi pula, jika Anda menyempatkan diri melecak nama-nama sahabat Nabi saw. dalam kitab al Ishâbah karya Ibnu Hajar Anda pasti akan menemukan tidak kurang dari dua puluh sahabat bernama Umar, salah satunya adalah Umar ibn al Khaththab.

Hal lain dalam sejarah disebutkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husain as. telah menamakan putra beliau dengan nama Ubaidullah. Lalu apakah itu artinya beliau mencintai Ubaidulah ibn Ziyâd yang tangannya telah berlumuran darah suci Ahlulbait Nabi saw. di Karbala’? dan yang semua kaum Muslimin membencinya dan mengutuknya kecuali para munafikun!

Jadi berdalil dengan kepalsuan sama sekali tidak akan mampu menegakkan kebenaran… dan sekedar berdalil dengan penamaan –andai benar terjadi- tidak cukup! Ia masih multi dalâlah dan interpretasi!!

Isu Niatan Pernikahan Imam Ali as. Dengan Putri Abu Jahal

Disebutkan bahwa Imam Ali as. berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan istri kedua disamping sayyidah Fatimah as. kemudian berita tersebut terdengan oleh Fatimah as. dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali as. kepada Nabi; ayah Fatimah as., seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal. Mendengan berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengiznkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyikitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya.

Dalam pidato itu Nabi saw.menyebut-nyebut menantu beliau yang lain dari keluarga Bani Abdusy-Syams bermana Abu al-Aash ibn ar-Rabi’ dan memuji-mujinya dengan kesetiaan dan kejujuran.

Inilah sekilas kisah tersebut sebagaimana saya rangkum dari riwayat-riwayat para muhadis.

Para Periwayat Berita

Hadis tentangnya telah diriwayatkan oleh hampir semua muhadis kenamaan Ahlussunah dalam kitab-kitab Shihah, Sunan dan Masanid mereka.

* Al-Bukhari dalam Shahihnya beriwayatkannya dalam beberapa kesempatan:

1. Kitab al-Khums.[1]

2. Kitab an-Nikah.[2]

3. Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi).[3]

4. Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-istri).[4]

* Muslim meriwayatkan bebarapa riwayat tentangnya dalam Shahihnya: Bab Fadha’il Fatimah.[5]
* At-Turmudzi meriwayatkan dua riwayat dari; Miswar ibn Makhramah dan dari Abdullah ibn Zubair.[6]
* Ibnu Majah meriwayatkan dua riwayat dalam Sunannya;dalam kitab an-Nikah, bab al-Ghirah (bab; kecemburuan).[7]
* Abu Daud meriwayatkan beberapa riwayat dalam kitab an-Nikah.[8]
* Al-Hakim dalam Mustadraknya meriwayatkan beberapa hadis tentangnya.[9]
* Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya.[10]
* Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan tidak kurang dari tiga belas hadis tentangnya.[11]

Dan beberapa muhadis selain mereka, seperti al-haitsami dalam Maj’ma’ az-Zawaid[12], Ibnu Hajar dalam al-mathalib al-’Aaliyah Bi Zawaid al-Masanid ats-Tsamaniyah[13]dan al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul-Ummalnya.[14]

Sekilas Tentang Para Periwayat

Dari penelusuran jalur-jalur periwayatan kisah tersebut dalam kitab-kitab Shihah, Masanid dan Ma’ajim… akan kita temukan nama-nama yang menjadi pangkal penyampaian kisah tersebut, nama-nama itu sebagai berikut:

1. Miswar ibn Makhramah.
2. Abdullah ibn Abbas.
3. Ali Ibn Husain as.
4. Abdullah ibn Zubair.
5. Urwah ibn Zubair.
6. Muhammad ibn Ali.
7. Suwaid ibn Ghaflah.
8. Amir asy-Sya’bi.
9. Ibnu Abi Mulaikah.
10. Seorang dari penduduk Makkah.

Tentang jalur Riwayat Miswar

Jalur Miswar adalah satu-satunya jalur yang disepakati penukilannya oleh para penulis Shihah, ia jalur yang dipilih Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Jalur Ibnu Zubair hanya kita temukan dalam rirawat at-Turmudzi dan iapun telah menyangsikannya, dan jalur Urwah hanya ada pada riwayat Abu Daud.

Maka untuk mempersingkat kajian kita kali ini saya akan membatasi telaah saya pada jalur Miswar ibn Hakhramah.

Jalur-jalur periwayatan dari Miswar sampai kepada kia melalui perantara-perantara dibawah ini:

1. Ali ibn Husain (Imam Zainal Abidin as.)

2. Abdullah ibn Ubaidillah uibn Mulaikah.

Perawi yang menukil riwayat kisah itu dari Imam Zainal Abidin as. hanyalah Muhammad ibn Syihab az-Zuhri.

Sementara yang menyambungkin kita dengan riwayat Ibnu Abi Mulaikah adalah:

1. Laits ibn Sa’ad.
2. Ayyub ibn Abi Tamimah as-Sakhtiyani.

Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah meiwayatkannya dari jalur Abu al-Yaman dari Syu’aib dari Az-Zuhri. Dan juga Bukhari, Muslim, Adu Daud dan Ahmad meriwayatkannya dari Walib ibn Katsir dari Muhammad ibn ‘Amr ibn Halhalah dari Az-Zuhri. Sebagaimana juga Muslim meriwayatkannya dari An-Nu’man dari Az-Zuhri.

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin membeber tentang data Abu al-Yaman; Al-Hakam ibn Nafi’ dan periwayatannya dari Syu’aib ibn Hamzah tukang tulis Az-Zuhri, kendati para ulama’ telah banyak membicarakan dan menyangsikan kejujurannya.[15]sehingga sebagaian ulama’ menegaskan bahwa Abu al-Yaman tidak pernah mendengar barang sepatah dua kata dari Syu’aib, dan perlu di ketahui bahwa keduanya adalah penduduk kota Himsh yang di kenal membenci Ali as.[16] dan di kenal kedunguan mereka, sampai-sampai dijadikan contoh pepatah.[17]

Saya juga tidak akan membeber biodata Walib ibn Katsir yang khwarij itu.[18]

Saya tidak akan membeber tentang Ayyub dan Laits yang sering mengada-ngada hadis palsu itu,[19] tidak juga tentang Nu’man ibn Rasyid al-Jazri, yang sangat dicacat oleh al-Qaththan , Ahmad, Ibnu Ma’in, Bukhari, Abu Hatim,Ibnu Abi Hatim,Abu Daud, an-Nasa’i dan al-Uqaili[20].

Dalam kesempatan ini saya hanya tetarik membeber biodata Ibnu Abi Mulaikah dan Az-Zuhri.

Adapun Ibnu Abi Mulaikah perlu diketahui disini bahwa ia adalah Qadhi yang diangkat Abdullah ibn Zubair dimasa kekuasaannya dan juga tukang adzannya[21]. Sedang permusuhan Ibnu Zubair kepada Ali as. dan Ahlulbait as. baukan rahasia lagi, sampai-sampai ia dalam khutbah jum’atnya tidak mau bershalawa kepada Nabi saww. dengan alasan Nabi mempunyai Ahlulbait yang busuk jika saya bersahawat kepadanya mereka akan besar kepala dan menjadi congkak.

Adapun Az-Zuhri yang merupakan pangkal kisah ini dan ialah yang mengaku meriwayatkan hadis ini dari Imam Ali Zainal Abidin as.saya perlu sedikit memerinci tentangnya.

Sekilas Tentang Az-Zuhri

Ibnu Abi al-Hadid menceitakan: Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan dari Muhammad bin Syaibah, ia berkata: Aku menyaksikan Al-Zuhri dan Urwah di masjid kota Madinah, keduanya sedang duduk membicarakan Ali as. Lalu keduanya mencela-cela dan mengecam beliau. Kemudian berita ini sampai kepada Imam Ali bin Husein as. Maka datanglah beliau menemui keduanya dan mengecam mereka.

Beliau (Imam Ali bin Husain as.) berkata kepada Urwah: “Hai Urwah, ketahuilah bahwa ayahku (Ali as) akan membawa ayahmu kepengadilan Allah dan Allah pun akan memenangkan ayahku dan menghukum ayahmu. Adapun kamu hai Zuhri, seandainya kamu berada di kota Makkah pasti akan saya perlihatkan rumah ayahmu”.[22]

Dan untuk menegaskan upayanya dalam kebnciannya kepada Imam Ali as. ia tidak segan-segan berbohong dengan memalsu hadis bahwa Imam Ali as. adalah mati kafir. Ibnu Abi al-Hadid berkata: “Zuhri meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa Aisyah menceritakan kepadanya: “Aku pernah di sisi Rasulullah ketika Abbas dan Ali datang, lalu beliau bersabda kepadaku: “Hai Aisyah, sesungguhnya dua orang ini akan mati tidak atas dasar agamaku”.[23]

Ibnu Abdil Barr menyebutkan sebuah riwayat pernyataan Az-Zuhri: Ma’mar menyebutkan dalam Jami’nya dari Az-Zuhri, ia berkata: SAya tidak mengetahui ada seorang yang memeluk Islam sebelum Zaid ibn Haritsah. Abdur-Razzaq berkata: Saya tidak mengetahui seorang mengatakan ini selain Az-Zuhri.

Selain itu ia adalah seorang ulama’ penguasa bani Umayyah, dan keterlibatannya yang sangat dalam dengan para penguasa dzalim itu menjadikannya ia di kecam oleh teman-temannya. Abdul Haq ad-Dahlawi mengetakan bahwa Az-Zuhri bergaul dengan para penguasa itu di sebabkan lemahnya keyakinan agamanya. Ketika ada seorang membanding-bandingkan antara aAz-Zuhri dngan Al-A’masy, Ibnu Ma’in mengatakan: Kamu ingin disamakan antara Al-A’masy dengan Az-Zuhri?!!… Az-Zuhri bekerja untuk Bani Umayyah sedangkan Al-A’masy seorang yang fakir dan sabar, menjauhi penguasa, ia wara’ (sangat hati-hati dalam agama) dan pandai Al-Qur’an.[24]

Imam Ali Zainal Abidin pernah menegur dan menasihatinya agar menjauhi penguasa dan bekerja untuk kepentingan mereka, karena hal itu dapat menipu kaum awam dan merusak agama mereka, sebab keterlibatan sorang alim dalam istana penguasa zalim akan menjadikan kaum awan memandang kebatilan sebagai kebenaran.[25]

Dengan demikian sangatlah nihil kalau Imam Ali ibn Husain as. yang menyampaikan hadis yang memuat pelecehan tehadap Nabi, Ali dan Fatimah as.akan tetapi az-Zuhri memang lihai, ketika ia memalsu hadis yang mendiskriditkan Ahlulbait as. ia menyandarkannya kepada salah seorang tokoh Ahlulbait as. dengan tujuan agar kebohongan itu mudah di terima banyak kalangan, seperti ketika ia memalsu hadis tentang pengharaman mut’ah, ia menyandarkannya kepada Imam Ali as.[26]

Inilah sekilas tentang Az-Zuhri. Dan kini mari kita simak siapakah Miswar- perawi andalah dalam kisah diatas-.

Miswar Ibn Makhramah:

Disini kita akan melihat sekilas siapakah sebenarnya Miswar yang menjadi periwayat andalan dalam masalah kita ini.

Perlu diketahuai bahwa:

1. Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh?![27] Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun.[28]

2. Ia bersama Ibn Zubair yang dikenal sangat anti pati kepada keluarga Nabi khususnya Ali as. Ibnu Zubair tidak memeutuskan pekara kecuali setelah bermusyawarah dengannya, ia terbunuh dalam peperangan membela Ibnu Zubair menentang penguasa Damaskus;Yazid, dan Ibnu Zubair yang memandikan jenazahnya.

3. Apabila disebut nama Muawiyah dihadapannya, ia mengucapkan shalawat atas Muwawiyah.[29]

Sekilas Tentang Kisah

Setelah keterangan tentang sanad kisah diatas, marilah kita menyoroti kandungan ksah tersebut… Ada beberapa catatan yang perlu diketahuai disini.

* Para ulama’ kebingungan mengetahui kaitan antara permohonan untuk dihadiahkannya pedang kepadanya oleh Ali Ibn Husain Zainal Abidin as. dengan penyampaian kisah yang melecehka Imam Ali as. tersebut. Sebab seperti diketahui ia menyampaikan kisah tersebut ketika ia meminta agar pedang Rasulullah saww. yang ada pada Imam Ali ibn Husain as.dihadiahkan kepadanya, agar ia jaga denga baik.
* Miswar mengatakan bahwa apabila pedang itu diserahkan kepadanya ia akan menjaganya hingga tetes darah penghabisan, seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari dan lainnya, dan para ulama’ mengatakan hal itu ia lakukan demi kecintaannya kepada keluarga Fatimah as. dan agar mereka tenang. Akan tetapi, bukankah hal aneh seseorang yang mengaku cinta kepada sebuah keluarga, namum ia melecehkan ayah mereka, yang pasti hal itui menyakitkan hati keturunan Ali as.

Renungan Tentang Kisah:

Kisah diatas perlu kita tinjau dari sisi fikih dan sisi etika dan emosiaonal… setelah kita mengalah dengan menganggap benar kejadian yang disebut dalam kisah tersebut…

Apa yang dilakukan Imam Ali as? Apa sikap Fatimah as.? Dan reaksi apa yang muncul dari Nabi saww.?

Imam Ali as. melamar putri Abu Jahal, lalu Fatimah sakit hati dan Nabipun berdiri diatas mimbar berpidato… .

Apakah haram atas Imam Ali as. kawin dengan wanita lain selama hidup Fatimah, atau tidak?

Kalau haram, apakah Imam Ali as. mengatahui pengharaman itu, atau tidak?

Yang jelas Imam Ali as. tidak akan melakukan hal haram sementara ia mengetahuinya. Jadi hal itu tidak haram baginya atau ia tidak mengetahui pengharaman itu.

Akan tetapi asumsi kedua tidak mungkin kita nisbatkan kepada sahabat biasa apalagi pintu kota imlu Nabi saw.

Jadi ketika melakukan hal itu tidak melakukan sesuatu yang diharamkan dalam syari’at, ia seperti sahabat lainnya, boleh kawin lebih dari satu wanita. Andai ada hukum khusus untuknya pastilah ia tahu atau paling tidak di beri tahu sebelumnya.!

Dengan demikian, apakah dibenarkan Fatimah as. keluar rumah-sekedar mendengan gosip bahwa suaminya kawin lagi- menemui Rasulullah saww. ayahnya dan mengeluhkan sikap Ali as. dengan kata-kata kasar, seperti dalam riwayat itu?!

Imam Ali a. tidak sedang melakukan tindakan haram, sehingga kita mungkin menganggap Fatimah as. sebenarnya ingin menegakkan amar ma’rum nahi mungkar. Lalu apakah Fatimah as. wanita yang disucikan dari segala rijs dan kekotoran sama derngan wanita lain yang tidak disucikan, ia dibakar oleh rasa cemburu buta sebagaimana wanita lain?! Lalu apakah kecemburan Fatimah as. karma Imam Ali as. kawin lagi, atau sebenarnya kecemburuan itu berkobar dan membakar hatinya karena yang akan dinikahi Imam Ali as adalah putri Abu Jahal?!

Kemudian setelah mendengan kabar atau laporan putrinya atau prmohonan izin untuk menikah oleh keluarga Abu Jahal atau permintaan izin Ali as. kepada Nabi saww.[30] dan menyaksikan putrid kesayangannya terkejut dan sakit hati, Nabi saww. berdiri diatas mimbar berpidato dihadapan para sahabat yang memadati ruang dan sudut-sudut masjid…. Apa isi pidato Nabi saww.?!

Pidato beliau saww. memuat poin-poin diabawah ini:

1. memuji menantu beliau dari suku Bani Abdisy-Syams…

2. kekhawatiran beliau kalau-kalau putri kesayangannya terfitnah (rusak) agamanya…

3. Nabi saww. tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram… Namun demikian beliau tidak akan mengizinkan pernikahan itu terjadi…

4. Tidak akan diperbolehkan baginya atau bagi seseorang untuk mengumpulkan menjadi istri seseorang antara putri Rasul Allah dan putri musuh Allah…

5. Kecuali apabila Ali ibn Abi Thalib as. menceraikan putri Nabi saww. kemudian baru menikahi putri Abu Jahal… Dan dalam sebuah riwayat: kalau ia tetap nekat menikahi putri Abu Jahal maka kembalikan putri kami…

Apakah pernyataan-pernyataan dalam pidato itu dapat dibenarkan?! Para pensyarah kebingungan menghadapi riwayat-riwayat kisah diatas…mereka mengakui bahwa Ali as. melamar anak Abu Jahal dan itu tidak haram hukumnya… mereka mengatakan bahwa Fatimah as.juga mengalami rasa cenburu sebagaimana wanita lain…

Fatimah as. bukan wanita biasa yang dikhawatirkan akan rusak agamanya atau digerogoti rasa cenburu seprti wanita lain, sementara Allah SWT. telah menurunkan ayat at-That-hir yang menegaskan kesucian beliau dari seala rijs, penyimpangan, maksiat dan kekejian… Fatimah adalah wanita sempurna, beliau adalah penghulu wanita sejagat… Dan anggap apa yang disebut dalam dongeng itu benar, tentunya hal itu tidak khusus ketika Ali hendak menikahi putri Abu Jahal…

Dalam pidatonya, Nabi saww. mengakiu bahwa Ali as. tidak melakukan tidakan haram, akan tetapi beliau tidak mengizinkan pernikahan itu berlangsung…Apakah izin seorang mertua itu syarat?! Apakah beloh sorang mertua memaksa menantunya menceraikan anaknya jika ia menikah lagi?!

Semua itu tidak benar dan tidak terjadi…

Anggap benar bahwa Fatimah as. mengalami kecemburuan[31]… dan anggap benar Nabi saww. juga cemburu mebela putrinya[32]… Lalu mengapakah beliau naik mimbar dan mengumumkannya dihadapan halayak ramai dan mempermalukan Ali as.?!

Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: Nabi saww. berpidato agar hukum itu tersebar dikalangan manusia lalu mereka mengamalkannya…. .[33]

An-Nawawi berkomentar: para ulama’ berkata: hadis itu memuat pengharaman mengganggu Nabi saww.dala segala hal dan dengan segala bentuk, walau hal itu muncul dari hal yang mubah(boleh dilakukan\tidak haram) sementa beliau asih hidup, berbeda dengan orang lain. Mereka mengatakan: Nabi saww. telah memberitahukan kehalalan menikahi putri Abu Jahal bagi Ali denga sabdanya: Saya tidak mengharamkan yan halal, akan teapi saya melarang menggabungkan antara keduanya, kerena ada dua alas an yang di sebut dalam sabda tesebut; Pertama: karena hal itu menyebabkan Fatimah terganggu dan dengannya Nabipun akan terganggu, maka binasalah orang yang mengganggu Nabi…Maka Nabi saww. melarang hal itu kareana sempurnanya belas kasih dan saying beliau kepada Ali dan Fatimah. Kedua: kekhawatiran akan terfitnahnya Fatimah di kerenakan sara cemburu.[34]

Dan yang paling aneh adalah sikap Imam Bukhari yang menjadikan ucapan Nabi saww. yang mengatakan” maka saya tidak akan mengizinkan” sebagai permintaan cerai, oleh karenanya ia menyebutnya dalam bab asy-Syiqaaq (percekcokan antara suami-istri) pada kibab at-Thalaq(perceraian). Dan sebagaian ulama’pun mengkritik penyebutan hadis itu pada tempat tersebut.[35]

Para pembela Bukhari mengakatan: bahwa peletakan itu tepat, mengingat apabila Ali tetap bersikeras menikahi putri Abu Jahal maka akan terjadilah percekcokan antara Ali dan Fatimah oleh karenanya Nabi saww.hendak menghindarkan hal itu terjadi dengan mencegah Ali melalui isyarat agar ia meninggalkan menikahi putri Abu Jahal…[36]

Pembelaan itu didasari dua hal; pertma: bahwa Fatimah tidak akan rela…kedua: pernikahan itu akan menyebabkan percekcokan antara keduanya…!!

Lalu apakah usaha pencegahan Nabi saww. dilakuka dengan isyarat, atau justru dengan pidato yang memuat pujian kepada menantu Nabi saww. yang lain, mempermalukan Ali dan mengancamnya akan mengambil kembali putri kesayangan beliau ?!

Serta masih banyak lagi kejanggalan lain yang dapat Anda temukan dalam riwayat-riwayat itu dan juga pada komentar para ulama’ pensyarah hadis.

1. Catatan:Fatimah as. benar-benar penggalan Nabi saww. beliau adalah badh’atun minni seperti di sabdakan Bani saww. berkali-kali dan dalam banyak kesempatan, sebagai penegasan akan keharaman mengganggu beliau as. dan kemarahan dan murkanya adalah kemarahan dan murka Rasulullah saww. dam murka Nabi saww. adalah murka Allah SWT. Hadis yang menegaskan hal itu telah di riwayatkan oleh banyak sahabat, diantaranya adalah Imam Ali as.[37] dan tlah di riwayatkan tidak kurang dalam seratus dua puluh kitab ulama’ Ahlussunnah. Dan darinya disimpulkan bahwa yang mencacinya dihukumi kafir… Fatimah lebih afdhal dari syaikhain… [38] dan disini kami tidak dalam rangka menyebut-nyebut para perawi hadis tersebut. Yang ingin kami tegaskan disini ialah bahwa hadis Fatimah badh’atun minni tela diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Miswar dalam bab Fadlail( keutamaan) Fatimah tanpa menyebut-nyebut kisah niatan melamar putri Abu Jahal. Ibn Hajar berkata: Dalam Shahihain dari Miswar ibn Makhramah: Saya mendengar Rasulullah saww. bersabda: “Fatimah adalah penggalan dariku, menggangguku apa yang mengganggunya”[39] ” Fatimah adalah penggalan dariku, yan menyebabkan murkanya menyebabkan murkaku”[40]. Keduanya meriwayatkan dari Sufyan ibn Uyainah dari Amr ibn Dinar dari Ibn Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah.[41]

Demikian juga pada riwayat al-Baihaqi dan al-Khathib at-Tabrizi tanpa menyebut kisah niatan melamar. Begitu juga pada al-Jami’ ash-Shaghir, baik dalam matan maupun syarahnya..

Dan yang perlu dipehatikan disini ialah bahwa pada jalur periwayatan yang tidak menyebut kisah itu tidak kita temukan nama Ibnu Zubair, az-Zuhri, asy-Sya’bi dan al-Laits…

Kami berhujjah dengan hadis tesebut walaupun kami mencacat Miswar dan Ibn Abi Mulaikah, sebab kesaksian lawan adalah sebaik-baik kesaksian.

Namun demikian kuat kemungkinan bahwa ada usaha pemalsuan yang mengatasnamakan Miswar yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu. Mungkin sipemalsu itu adalah Zuhri-ulama’ rezim tiran Bani Umayyah- atau Ibnu Zubair pembenci Ali dan keluarga suci kenabian as. atau mungkin juga asy-Sya’bi- seorang alim yang bergelimang dalam kubangan kebjatan istama rezim Umayyah, atau al-Laits.. wallahu A’lam.

Penutup:

Telah kami sebutkan satu persatu nama-mana perawi yang meriwayatkan kisah diatas…dan telah kami jelaskan sepintas matan hadis tersebut dan kerancuan yang tedapat didalamnya…

Diantara para periwayat itu ialah: Abdullah ibn Zubair, Urwah ibn Zubair, Miswar ibn Makhramah, Abdullah ibn AbiMulaikah, Zuhri, Syu’aib ibn Rasyiid dan Abu al-Yaman… Merekalah pentolan pemalsu kisah konyol yang mendiskriditkan Imam Alias. Dan Nabi serta Fatimah sekaligus.

Mereka dalam satu aliran dengan pimpinan mereka Abdullah ibn Zubair yang dikenal kebenciannya terhadap Imam Ali dan keluarga suci Nabi saww. dialah yan berniat untuk membakar hidup-hidup semua keluarga Nabi dan Bani Hasyim ketika ia memberontak dan berhasil menguasai kota Makkah dan sekitarnya… Dialah yang tidak mau bershlalawat kepada Nabi dalam khutbah jum’at yang ia pimpin dengan alasan bahwa Nabi Muhammad saww. mempunyai keluarga yan busuk, jika ia bershalawat kepada Nabi saww. kepala-kepala mereka yang membesar…

Oleh karenaya, sudahlah seharusnya jika kita perlu melihat. Memilas dan menyeleksi sunnah Nabi saww. yang sampai melalui jalur mereka.

[1] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[2] Ibid,: 9\268-270.

[3] Ibid,: 7\67.

[4] Ibid,: 8\152.

[5] Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi:????

[6] Shahih at-Turmudzi:5\699.

[7] Sunan Ibn Majah:1\644.

[8] Sunan Abi daud:1\323-324.

[9] Al-Mustadrak:3\158.

[10] Mushannaf:12\128.

[11] Musnad:4\5,326 dan 328. dan dalam kitab Fadhail ash-Shahabah:2\754.

[12] 9\203 menukil dari riwayat ath-Thabarani dalam tiga kitab Mu’jamnya dan dari al-Bazzar dari sahabat Ibnu Abbas.

[13] 4\67.

[14] 13\677.

[15] Tahdzib at-Tahdzib:4\307.

[16] Ibid,2\380.

[17] Ibid, 2\304

[18] Ibid,11\131.

[19] Ibid,8\415.

[20] Ibid,10\404.

[21] Bid,5\268.

[22] Syarh Nahjul Balaghah Jilid I juz 4 hal. 371.

[23] Syarh Nahjul Balaghah; Ibnu Abi Al-Hadid Jilid I juz 4 hal. 358. Dan bagi anda yang ingin tahu lebih jauh riwayat-riwayat yang mereka produksi, saya persilahkan merujuk langsung ke buku tersebut.

[24] Tahdzib at-Tahdzib, biografi Al-A”masy:4\195.

[25] Tuhaf al-Uqul:198. Surat teguran itu dimuat al-Ghazzali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:2\143 dengan tanpa mnyebut nama Imam Zainal Abidin, ia berkata: ” Ketika Az-Zuhri berhubungan dengan penguasa, seorang saudara seagamanya menuliskan sepucuk surat kepadanya..”.

[26] Dan upaya seperti itu tidak hanya dilakukan oleh Zuhri saja, walaupun ia yang paling parah, kita banyak menemukan hal serupa dilakukan para perawi lain seperti Abdullah ibn Muhammad ibn Rabi’ah ibn Qudamah al-Qudami, dengan menyandarkan kepalsuannya kepada Imam Ja’far dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Abu Bakar yang bertindak selaku imam dalam shalat jenazah Fatimah as. dan ia takbi empat kali. (lebih lanjut baca: Lisan al-Mizan:3\334 dan Al-Ishabah:4\379).

[27] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[28] Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya.

[29] Siyar A’laam an-Nubala’:3\391-394 dan Tahdzib at-Tahdzib:10\137.

[30] Masing-masing sesuai dengan perselisihan redaksi riwayat dongeng diatas.

[31] Oleh kareananya Ibnu Majah menyebut hadis kisah ini dalam bab al-Ghirah (kecemburan).

[32] Bukhari menyebut hadis ini dalam bab Dzabb ar-Rajuli’An Ibnatihi Fi al-Hgirah wa al-Inshaaf (pembelaan seorang terhadap putrinya dalam kecemburuan dan meminta sikap obyektif), dan ia tidak menyebut kecuali hadis ini.

[33] Fath al-Bari:7\67. Keterngan serupa juga di kemukakan al-’Aini dalam ‘Umdah al-Qari:16\230

[34] Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim ibn Hajjaj:16\2-3.

[35] Fath al-Bari:20\72-73 dan Umdah al-Qari:20\260.

[36] Irsyaad as-Sari:8\152. dan Fath al-Bari:20\73.

[37] Baca; al-Ishabah:4\378 dan Tahdzib at-Tahdzib:12\469.

[38]Baca : Fath al-Bari:14\256, Irsyaad as-Sari, ‘Umdah al-Qari dan al-Minhaj…dan lai-lain.

[39] Shahih Muslim, bab dari keutamaan Fatimah ra. , hadis kedua: al-Minhaj:16\3.

[40] Shahih Bukhari, bab Manaqib Fatimah ra. satu-satunya hadis keutamaan Fatimah dalam Bukhari: lihat Fath al-Bari:14\255-256.
Sumber : jakfari.wordpress.com
[41] Al-Ishabah:4\378.