Monthly Archives: April 2011

Pandangan Ulama Ahlu Sunnah tentang Ibnu Taimiyah

Kerancuan berfikir Ibnu taimiyah bahkan oleh kalangan sunni sendiri ditolak. Apalagi Aqidah Ibnu taimiyah yang menganut paham mujasimah, musyabihah, rukyat dan hasyawiyah ordo kuno yang menganut paham Yahudi yang sekarang juga di anut kelompok sunni wahabbi. Diantara ulama yang menolak Ibnu taimiyah adalah sbb :

Al Hafizh Ibnu Hajar (W 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154-155 bahwa para ulama menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

Ibnu Hajar menyatakan; Ibnu Taimiyah menyalahkan sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab , “dia menyatakan tentang sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq bahwa beliau masuk Islam di saat tua renta dan tidak menyadari betul apa yang beliau katakan (layaknya seorang pikun). Sayyidina Utsman ibn ‘Affan, masih kata Ibnu Taimiyah- mencintai dan gandrung harta dunia (materialis) dan sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib menurutnya- salah dan menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan, ‘Ali menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah ke manapun beliau pergi, dia sangat gandrung dan haus akan kekuasaan dan dia masuk Islam di waktu kecil padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah”.

Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idlah fi Manasik al Hajj Wa al ‘Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang
pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah,karena sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah. At-Taqiyy as-Subki dengan panjang lebar juga telah membantahnya dalam sebuah tulisan tersendiri. Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah aneh karena dia bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang kafir dan atheis. Ibnu Taimiyah menisbatkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, ia menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang lain. Karenanya, Demi Allah ia telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan kedilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dusta-dusta yang dilakukan Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”.

Pengarang kitab Kifayatul Akhyar SyekhTaqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahwa para ulama dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat, dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama”.

Adz-Dzahabi (Mantan murid Ibnu Taimiyah) dalam risalahnya Bayan Zaghal al Ilmi wa ath-Thalab, hlm 17 berkata tentang Ibnu Taimiyah: ”Saya sudah lelah mengamati dan menimbang sepak terjangnya (Ibnu Taimiyah), hingga saya merasa bosan setelah bertahun-tahun menelitinya. Hasil yang saya peroleh; ternyata bahwa penyebab tidak sejajarnya Ibnu Taimiyah dengan ulama Syam dan Mesir serta ia dibenci, dihina, didustakan dan dikafirkan oleh penduduk Syam dan Mesir adalah karena ia sombong, terlena oleh diri dan hawa nafsunya (‘ujub), sangat haus dan gandrunguntuk mengepalai dan memimpin para ulama dan sering melecehkan para ulama besar. “

Adz-Dzahabi melanjutkan: “Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebagian dari resiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”. Risalah adz-Dzahabi ini memang benar adanya dan ditulis oleh adz-Dzahabi karena al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) menukil perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at- Taubikh, hlm. 77.

Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i (W 761 H) yang semasa dengan Ibnu Taimiyah juga mencelanya. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah menyisakan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya”. Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul an-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith.. I

Ibnu Taimiyah juga menuturkan keyakinannya bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dalam beberapa kitabnya: Majmu’ al Fatawa, juz IV, hlm. 374, Syarh Hadits an-Nuzul, hlm. 66, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz I , hlm. 262. Keyakinan seperti ini jelas merupakan kekufuran. Termasuk kekufuran Tasybih; yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya

sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah. Ini juga merupakan bukti bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah Mutanaaqidl (Pernyataannya sering bertentangan antara satu dengan yang lain). Bagaimana ia mengatakan -suatu saat- bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dan –di saat yang lain- mengatakan Allah duduk di atas Kursi ?!, padahal kursi itu jauh sangat kecil di banding ‘Arsy. Setelah semua yang dikemukakan ini, tentunya tidaklah pantas, terutama bagi orang yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah karena jika ini dilakukan maka orangorang tersebut akan mengikutinya, dan dari sini akan muncul bahaya yang sangat besar. Karena Ibnu Taimiyah adalah penyebab kasus pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para Wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Sementara itu, sekarang ini para pengikut Ibnu Taimiyah juga mengkafirkan orangorang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Saleh, bahkan mereka menamakan Syekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini artinya mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), karena beliau -semoga Allah merahmatinya-mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram,

PARA ULAMA, AHLI FIQH DAN PARA QADHI YANG MEMBANTAH IBNU TAIMIYAH

Berikut adalah nama-nama para ulama yang semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta menyerang pendapatpendapatnya. Mereka adalah para ulama dari empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali:

1. Al Qadli al Mufassir Badr ad-din Muhammad bn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (W 733H).
2. Al Qadli Muhammad ibn al Hariri al Anshari a Hanafi.
3. Al Qadli Muhammad ibn Abu Bakar al Maliki
4. Al Qadli Ahmad ibn ‘Umar al Maqdisi al Hanbali Dengan fatwa empat Qadli (hakim) dari empat madzhab ini, Ibnu Taimiyah dipenjara
pada tahun 762 H. Peristiwa ini diuraikan dalam ‘Uyun at-Tawarikh karya Ibnu Syakir al Kutubi, Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi
karya Ibn al Mu’allim al Qurasyi.
5. Syekh Shalih ibn Abdillah al Batha-ihi, pimpinan para ulama di Munaybi’ ar-Rifa’i, kemudian menetap di Damaskus dan wafat
tahun 707 H. Beliau adalah salah seorang yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah dan membantahnya seperti dijelaskan oleh
Ahmad al-Witri dalam karyanya Raudlah an- Nazhirin wa Khulashah Manaqib ash-Shalihin. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani juga
menuturkan biografi Syekh Shalih ini dalam ad-Durar al Kaminah.
6. Syekh Kamal ad-Din Muhammad ibn Abu al Hasan Ali as-Siraj ar-Rifa’i al Qurasyi dalamTuffah al Arwah wa Fattah al Arbah. Beliau ini
semasa dengan Ibnu Taimiyah .
7. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di Mesir; Ahmad ibn Ibrahim as-Surrruji al Hanafi (W710 H) dalam I’tiraadlat ‘Ala Ibn Taimiyah fi ‘Ilm al Kalam.
8. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) madzhab Maliki di Mesir; Ali ibn Makhluf (W 718 H). Beliau berkata: “Ibnu Taimiyah berkeyakinan
Tajsim. Dalam madzhab kami, orang yang meyakini ini telah kafir dan wajib dibunuh”. 9. Asy-Syekh al Faqih Ali ibn Ya’qub al Bakri (W
724 H). Ketika Ibnu Taimiyah datang ke Mesir beliau mendatanginya dan mengingkari pendapat-pendapatnya .
10. Al Faqih Syams ad-Din Muhammad ibn ‘Adlan asy-Syafi’i (W 749 H). Beliau mengatakan: “Ibnu Taimiyah berkata; Allah di atas ‘Arsy dengan keberadaan di atas yang sebenarnya, Allah berbicara (berfirman) dengan
huruf dan suara”.
11. Al Hafizh al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki (W 756 H) dalam berapa karyanya: – Al I’tibar Bi Baqa al Jannah Wa an-Nar
– Ad-Durrah al Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah
– Syifa as-Saqam fi Ziyarah Khairi al Anam
– An-Nazhar al Muhaqqaq fi al Halif Bi ath-Thalaq al Mu’allaq
– Naqd al Ijtima’ Wa al Iftiraq fi Masa-il alAyman wa ath-Thalaq
– at-Tahqiq fi Mas-alah at Ta’liq
– Raf’ asy-Syiqaq ‘An Mas-alah ath-Thalaq.
12. Al Muhaddits al Mufassir al Ushuli al Faqih Muhammad ibn ‘Umar ibn Makki, yang lebih dikenal dengan Ibn al Murahhil asy-Syafi’i (W
716 H) beliau membantah dan menyerang Ibnu Taimiyah.
13. Al Hafizh Abu Sa’id Shalah ad-Din al ‘Ala-i (W. 761 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah seperti dijelaskan dalam:
– Dzakha-ir al Qashr fi Tarajim Nubala al ‘Ashr, hlm .32-33, buah karya Ibnu Thulun.
– Ahadits Ziyarah Qabr an-Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam.
14. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di al Madinah al Munawwarah; Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al Hanbali (W 762 H).
15. Syekh Ahmad ibn Yahya al Kullabi al Halabi yang lebih dikenal dengan Ibn Jahbal (W 733 H). Beliau semasa dengan Ibnu Taimiyah dan
menulis sebuah risalah untuk membantahnya, berjudul Risalah fi Nafyi al Jihah, yakni menafikan Jihah (arah) bagi Allah.
16. Al Qadli Kamal ad-Din ibn az-Zumallakani (W 727 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dan menyerangnya dengan menulis dua risalah bantahan tentang masalah talak dan ziarah ke makam Rasulullah.
17. Al Qadli Kamal Shafiyy ad-Din al Hindi (W715 H), beliau mendebat Ibnu Taimiyah.
18. Al Faqih al Muhaddits ‘Ali ibn Muhammad al Bajiyy asy-Syafi’i (W 714 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dalam empat belas majelis dan
berhasil membungkamnya.
19. Al Mu-arrikh al Faqih al Mutakallim al Fakhr Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W 725 H) dalam karyanya Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi.
20. Al Faqih Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Ali al Mazini ad-Dahhan ad-Dimasyqi (W 721 H) dalam dua risalahnya:
– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalahath-Thalaq.
– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalah az-Ziyarah.
21. Al Faqih Abu al Qasim Ahmad ibn Muhammad asy-Syirazi (W 733 H) dalam karyanya Risalah fi ar-Radd ‘Ala ibn Taimiyah..
22. Al Faqih al Muhaddits Jalal ad-Din Muhammad al Qazwini asy-Syafi’i (W 739 H)
23. Surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Ibnu Qalawun (W 741 H) untuk memenjarakannya.
24. Al Hafizh adz-Dzahabi (W 748 H). Ia semasa dengan Ibnu Taimiyah dan membantahnya dalam dua risalahnya : – Bayan Zaghal al ‘Ilm wa ath-Thalab. – An-Nashihah adz-Dzahabiyyah
25. Al Mufassir Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) dalam Tafsirnya: An-Nahr al Maadd Min al Bahr al Muhith.
26. Syekh ‘Afif ad-Din Abdullah ibn As’ad al Yafi’i al Yamani al Makki (W 768 H).
28. Al Faqih Taj ad-Din as-Subki (W 771 H) dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyyah alKubra.
29. Al Muarrikh Ibnu Syakir al Kutubi (W 764H); murid Ibnu Taimiyah dalam karyanya :‘Uyun at-Tawarikh.
30. Syekh ‘Umar ibn Abu al Yaman al Lakhami al Fakihi al Maliki (W 734 H) dalam at-Tuhfah al Mukhtarah Fi ar-Radd ‘Ala Munkir az-Ziyarah.
31. Al Qadli Muhammad as-Sa’di al Mishri al Akhna-i (W 750 H) dalam al Maqalah al Mardhiyyah fi ar-Radd ‘Ala Man Yunkir az- Ziyarah al-Muhammadiyyah. Buku ini dicetak dalam satu rangkaian dengan Al-Barahin as- Sathi’ah karya Al ’Azami.
32. Syekh Isa az-Zawawi al Maliki (W 743 H) dalam Risalah fi Mas-alah ath- Thalaq
33. Syekh Ahmad ibn Utsman at-Turkamani al- Juzajani al Hanafi (W 744 H) dalam al Abhatsal Jaliyyah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah.
34. Al Hafizh Abd ar-Rahman ibn Ahmad, yang terkenal dengan Ibnu Rajab al Hanbali (W 795 H) dalam : Bayan Musykil al Ahadits al Waridah fi Anna ath-Thalaq ats-Tsalats Wahidah.
35. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani (W 852 H) dalam beberapa karyanya: – Ad-Durar al Kaminah fi A’yan al Mi-ah ats-Tsaminah – Lisan al Mizan – Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari – Al Isyarah Bi Thuruq Hadits az-Ziyarah
36. Al Hafizh Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 826 H) dalam al Ajwibah al Mardliyyah fi ar-Radd ‘Ala al As-ilah al Makkiyyah.
37. Al Faqih al Mu-arrikh Ibn Qadli Syuhbah asy- Syafi’i (W 851 H) dalam Tarikh Ibn Qadli Syuhbah .
38. Al Faqih Abu Bakr al Hushni (W 829 H) dalam Karyanya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila al Imam Ahmad.
39. Pimpinan para ulama seluruh Afrika, Abu Abdillah ibn ‘Arafah at-Tunisi al Maliki (W 803 H).
40. Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syekh al Islam1. Artinya orang yang menyebutnya dengan julukan Syekh al Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-Dlau Al Lami’.
41. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamid ad-Din al Farghani ad-Dimasyqi al Hanafi (W867 H) dalam risalahnya Ar-Radd ‘Ala Ibnu
42. Syekh Ahmad Zurruq al Fasi al Maliki (W899 H) dalam Syarh Hizb al Bahr.
43. Al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) dalam Al I’lan Bi at-Taubikh liman Dzamma at-Tarikh.
44. Ahmad ibn Muhammad Yang dikenal denganIbnu Abd as-Salam al Mishri (W 931 H) dalam al Qaul an-Nashir fi Raddi Khabath ‘Ali ibn Nashir.
45. Al ‘Alim Ahmad ibn Muhammad al Khawarizmi ad-Dimasyqi yang dikenal dengan Ibnu Qira (W 968 H), beliau mencela Ibnu Taimiyah.
46. al Bayyadli al Hanafi (W 1098 H) dalam Isyarat al Maram Min ‘Ibarat al Imam.
47. Syekh Ahmad ibn Muhammad al Witri (W 980 H) dalam Raudlah an- Nazhirin WaKhulashah Manaqib ash- Shalihin.
48. Syekh Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H)dalam karya-karyanya; – Al Fatawi al Haditsiyyah – Al Jawhar al Munazhzham fi Ziyarah al Qabr alMu’azhzham – Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj
****************************************************************************
Ibnu Taimiyah dan Hubungannya Dengan Peristiwa Karbala

Mayoritas mutlak kaum muslimin baik Sunnah maupun Syiah sepakat akan kezaliman yang telah dilakukan oleh para penguasa Bani Umayyah. Bani Umayyah berlaku zalim bukan hanya kepada para kaum muslimin biasa, namun mereka juga berlaku zalim kepada keluarga suci Rasulullah SAW beserta para pengikut setianya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengetahui — melalui wahyu Allah — akan hal tersebut, dan dalam banyak hadits disebutkan beliau sangat membenci Bani Umayyah sampai akhir hayatnya.

Sebagai contoh, hadits yang diriwayatkan Imran bin Hashim:

* “Rasulullah SAW meninggal dalam keadaan membenci tiga kabilah; Bani Hanifah, Bani Makhzum dan Bani Umayyah.” Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain yang juga memasukkan Bani Umayyah di sana.

Semenjak didirikannya sistem pemerintahan zalim yang berpusat di Syam (Damaskus saat ini), sampai pada rezim Yazid bin Muawiyah, adalah puncak kezaliman Bani Umayyah. Semua itu dicatat oleh para sejarawan, sebagai masa yang paling buruk dalam dunia Islam. Pembantaian Husein bin Ali bin Abi Thalib as adalah peristiwa yang paling menyakitkan dari sekian banyak peristiwa sedih yang bisa ditemui dalam lembaran-lembaran sejarah umat Islam. Terlalu banyak kita dapatkan pendapat para ulama Ahlusunnah yang dengan jelas mengecam pelaku pembantaian tersebut, terutama Yazid, otak tindakan pembantaian di Karbala itu.

Pendapat Para Ulama terhadap Kezaliman Yazid

Al-Alusi mengatakan:

* “Barangsiapa yang beranggapan bahwa perilaku Yazid tidak masuk kategori maksiat, sehingga dilarang untuk melaknatnya, maka sungguh ia tergolong penolong Yazid.”

Taftazani berpendapat:

* “Kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein merupakan satu bentuk penghinaan atas Ahlul Bait (keluarga Nabi), dan hal itu merupakan sesuatu yang mutawatirat maknawi (yang diterima oleh mayoritas walau tidak transparan).”

Jahidh mengungkapkan:

* “Berbagai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Yazid, seperti membunuh Husein, menawan keluarga Husein, memukuli kepala dan gigi Husein dengan kayu, menimbulkan rasa ketakutan penghuni Madinah, merusak Ka’bah, semua itu sebagai bukti bahwa Yazid memiliki jiwa keras kepala, angkara murka, kemunafikan dan telah keluar dari keimanan, maka ia masuk kategori fasik dan terlaknat. Barangsiapa yang menghindari dari pelaknatan seseorang yang layak untuk dilaknat, maka iapun termasuk orang yang terlaknat.”

Seorang penulis besar Mesir, Thaha Husein, mengatakan:

* “Sebagian beranggapan, Yazid bersih dari keterlibatan pembunuhan atas Husein dengan cara yang sangat memprihatinkan, sementara kesalahan sepenuhnya ditujukan kepada Ubaidillah. Jika memang hal itu benar, kenapa (Yazid) tidak mencela Ubaidillah? Kenapa ia tidak menghukum Ubaidillah? Kenapa ia tidak mencabut kedudukan Ubaidillah?”

Dari ungkapan ulama Ahlussunnah di atas, dengan jelas bahwa mereka sendiri meyakini akan kezaliman dan kelaliman Yazid anak Muawiyah. Dan mereka pun beranggapan bahwa pembela orang zalim berarti ia dihukumi sama dengan yang dibela.

Ibnu Taimiyah dan Pembantaian Imam Husein

Bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah tentang pembunuhan Al-Husein oleh Yazid? Ibnu Taimiyah bukan hanya tidak mau menyalahkan Yazid, bahkan ia telah menulis buku tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyah. Buku itu ia beri judul “Fadha’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid). Padahal, Dzahabi menukil pendapat Ahmad bin Hanbal yang mengatakan “Tiada satupun riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah masuk kategori riwayat shahih”.

Suatu waktu, An-Nasa’i — penulis As-Sunan yang termasuk dari enam buku standar Ahlussunnah– datang ke kota Damaskus, ibu kota kerajaan Dinasti Umayyah. Ketika itu, penduduk Damaskus meminta darinya riwayat-riwayat tentang keutamaan Muawiyah. Mendengar permintaan tersebut An-Nasa’i mengatakan:

* Saya tidak mengetahui keutamaannya, kecuali ada satu riwayat dari Rasulullah SAW tentang dia, beliau bersabda: “Semoga Allah tidak akan pernah mengenyangkan perutmu”.

Selain itu Hasan Al-Basri pernah mengatakan:

* “Ada beberapa hal yang terdapat pada diri Muawiyah, di mana setiap satu dari sekian hal tersebut menyebabkan ia disiksa; mengghashab (merampas) kekhalifahan dengan kekerasan dan pedang, mengangkat anaknya (Yazid) sang pemabuk sebagai pengganti dirinya dalam menduduki kursi kekhilafahan, memakai baju sutera, menari, Ziyad dianggap sebagai anak, sedang Hijr bin ‘Adi dan pengikutnya dizalimi hingga mati.”

Adapun yang berkenaan dengan Yazid, Ibnu Taimiyah dalam beberapa tulisannya terus berusaha membelanya. Dalam tulisan Ibnu Taimiyah, upaya untuk mencari pembenaran atas perilaku Yazid pada peristiwa pembantaian di Karbala, ia mengatakan:

* “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut.”

Sebagaimana Ibnu Taimiyah juga mengingkari diaraknya kepala suci Husein bin Ali as oleh bala tentara Yazid. Padahal, banyak ulama ahli sejarah dari Ahlussunnah meyakini kejadian tersebut, seperti Ibnu ‘Asakir dalam Tarjamah Al-Imam Husein atau Ibnu Sa’ad dalam Tabaqatnya. Ibnu Taimiyah pun dalam karyanya yang lain, mengingkari bahwa keluarga Husein bin Ali as ditawan oleh pasukan Yazid, padahal, banyak buku sejarah Ahlusunnah sendiri menyebutkan hal tersebut, seperti Thabari dalam kitab Tarikhnya, Ibnu Atsir dalam kitab Al-Kamil fi At-Tarikh atau kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah. Sedang dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:

* “Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyadlah yang melakukan itu semua.”

Semua Kejadian yang Dinafikan oleh Ibnu Taimiyah di Atas Dengan Jelas Bisa Ditemui Dalam Kitab-kitab Standar Ahlussunnah.

Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata:

* “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair.”

Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlussunnah mengatakan:

* “Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya.”

Masih layakkah Yazid bin Muawiyah dibela, terkhusus dalam kejadian tragis di Karbala? Masihkah orang semacam Ibnu Taimiyah sudi membela manusia durjana seperti Yazid beserta antek-anteknya? Lantas bagaimana jika kita terapkan pendapat Taftazani tadi terhadap Ibnu Taimiyah, sang pembela Yazid? Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj Adz-Dzahab dengan jelas menuliskan:

* “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad.”

Ternyata, pembelaan Ibnu Taimiyah terhadap Yazid bukan hanya berkisar tentang kesalahan besar Yazid dalam peristiwa Karbala. Namun, dalam peristiwa-peristiwa lain pun ia bersikeras untuk mensucikan Yazid sesuci-sucinya. Kita akan nukil beberapa peristiwa besar yang diperbuat oleh Yazid yang mana Ibnu Taimiyah tetap membela mati-matian Yazid bin Muawiyah, padahal banyak ulama Ahlussunnah sendiri dengan jelas menukil kejadian-kejadian itu.

Selain membunuh keluarga suci Rasulullah, Yazid juga merupakan otak pembantaian di kota suci Madinah Al-Munawwarah. Kota tempat disemayamkannya tubuh suci Rasulullah SAW beserta banyak keluarga dan sahabatnya.

Ibnu Atsir dalam kitabnya mengatakan:

* “Setelah peristiwa Karbala, para penghuni Madinah menarik bai’atnya dari Yazid. Setelah Yazid mendengar kejadian tersebut, ia lantas mengirim manusia haus darah bernama Muslim bin Uqbah untuk memerintahkan penduduk Madinah supaya memberikan kembali bai’atnya kepada Yazid, dengan diberi jangka waktu selama tiga hari. Jika tidak, maka seluruh penduduk Madinah akan dibunuh. Sebagaimana ia juga memberi ijin untuk mengambil semua harta benda mereka, dan menghukuminya halal bagi semua bala tentaranya. Setelah tiga hari Muslim bin Uqbah memasuki kota Madinah, terjadilah pembantaian besar-besaran dan perilaku durjana yang maha dahsyat selama sejarah umat manusia.”
***********************************************************************
Bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah tentang pembunuhan al-Husein oleh Yazid? Ibnu Taimiyah bukan hanya tidak mau menyalahkan Yazid, bahkan ia telah menulis buku tentang keutamaan Yazid beserta ayahnya, Muawiyah. Buku itu ia beri judul “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid). Padahal, Dzahabi menukil pendapat Ahmad bin Hanbal yang mengatakan “Tiada satupun riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah masuk kategori riwayat sahih”.

Suatu waktu, an-Nasa’i –penulis as-Sunan yang termasuk dari enam buku standar Ahlusunnah- datang ke kota Damaskus, ibu kota kerajaan Dinasti Umayyah. Ketika itu, penduduk Damaskus meminta darinya riwayat-riwayat tentang keutamaan Muawiyah. Mendengar permintaan tersebut an-Nasa’i mengatakan:

“Saya tidak mengetahui keutamaannya, kecuali ada satu riwayat dari Rasulullah saww tentang dia, beliau bersabda: “Semoga Allah tidak akan pernah mengenyangkan perutmu”.

Selain itu Hasan al-Basri pernah mengatakan:

“Ada beberapa hal yang terdapat pada diri Muawiyah, dimana setiap satu dari sekian hal tersebut menyebabkan ia disiksa; meng-ghoshob (merampas) kekhalifahan dengan kekerasan dan pedang, mengangkat anaknya (Yazid) sang pemabuk sebagai pengganti dirinya dalam menduduki kursi kekhilafahan, memakai baju sutera, menari, Ziyad dianggap sebagai anak, sedang Hijr bin ‘Adi dan pengikutnya dizalimi hingga mati”.

Adapun yang berkenaan dengan Yazid, Ibnu Taimiyah dalam beberapa tulisannya terus berusaha membelanya. Dalam tulisan Ibnu Taimiyah, upaya untuk mencari pembenaran atas prilaku Yazid pada peristiwa pembantaian di Karbala, ia mengatakan “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut”. Sebagaimana Ibnu Taimiyah juga mengingkari diaraknya kepala suci Husein bin Ali as oleh bala tentara Yazid. Padahal, banyak ulama ahli sejarah dari Ahlusunnah meyakini kejadian tersebut, seperti Ibnu ‘Asakir dalam Tarjamah al-Imam Husein atau Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat-nya. Ibnu Taimiyah pun dalam karyanya yang lain, mengingkari bahwa keluarga Husein bin Ali as ditawan oleh pasukan Yazid, padahal, banyak buku-buku sejarah Ahlusunnah sendiri menyebutkan hal tersebut, seperti Thabari dalam kitab Tarikh-nya, Ibnu Atsir dalam kitab al-Kamil fi at-Tarikh atau kitab al-Bidayah wa an-Nihayah. Sedang dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua”.

Semua kejadian yang dinafikan oleh Ibnu Taimiyah di atas dengan jelas bisa ditemui dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.

Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata, “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis, “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair”. Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlusunnah mengatakan:

“Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya”.

Masih layakkah Yazid bin Muawiyah dibela, terkhusus dalam kejadian tragis di Karbala? Masihkah orang semacam Ibnu Taimiyah sudi membela manusia durjana seperti Yazid beserta antek-anteknya? Lantas bagaimana jika kita terapkan pendapat Taftazani tadi terhadap Ibnu Taimiyah, sang pembela Yazid? Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahab dengan jelas menuliskan “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad”.

Ternyata, pembelaan Ibnu Taimiyah terhadap Yazid bukan hanya berkisar tentang kesalahan besar Yazid dalam peristiwa Karbala. Namun, dalam peristiwa-peristiwa lain pun ia bersikeras untuk mensucikan Yazid sesuci-sucinya. Kita akan nukil beberapa peristiwa besar yang diperbuat oleh Yazid yangmana Ibnu Taimiyah tetap membela mati-matian Yazid bin Muawiyah, padahal banyak ulama Ahlusunnah sendiri dengan jelas menukil kejadian-kejadian itu.

Selain membunuh keluarga suci Rasulullah, Yazid juga merupakan otak pembantaian di kota suci Madinah al-Munawwarah. Kota tempat disemayamkannya tubuh suci Rasulullah saww beserta banyak keluarga dan sahabatnya. Ibnu Atsir dalam kitabnya mengatakan:

“Setelah peristiwa Karbala, para penghuni Madinah menarik baiatnya dari Yazid. Setelah Yazid mendengar kejadian tersebut, ia lantas mengirim manusia haus darah bernama Muslim bin Uqbah untuk memerintahkan penduduk Madinah supaya memberikan kembali baiatnya kepada Yazid, dengan diberi jangka waktu selama tiga hari. Jika tidak, maka seluruh penduduk Madinah akan dibunuh. Sebagaimana ia juga memberi ijin untuk mengambil semua harta benda mereka, dan menghukuminya halal bagi semua bala tentaranya. Setelah tiga hari Muslim bin Uqbah memasuki kota Madinah, terjadilah pembantaian besar-besaran dan prilaku durjana yang maha dahsyat selama sejarah umat manusia”

Adapun dalam kasus yang sama, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah mengatakan “Pasukan Yazid berbuat semena-mena terhadap para wanita Madinah, sehingga selepas peristiwa tersebut, setiap wanita melahirkan anak tanpa suami”. hal sadis ini juga dijelaskan oleh Ibnu Qutaibah. Lebih lanjut ia menjelaskan:

“Pada kejadian itu, banyak sahabat Rasulullah terbunuh. Delapan puluh sahabat mantan anggota perang Badar, sedang dari Quraisy dan Anshar yang berjumlah tujuh ratus orang, semuanya mati. Sementara yang terbunuh dari masyarakat umum berjumlah sepuluh ribu orang”.

Bagaimana mungkin perbuatan Yazid tersebut dapat ditolelir oleh syariat Muhammad saww? Lalu, bagaimana mungkin orang seperti Ibnu Taimiyah yang menulis berjilid-jilid buku fatwa (berkenaan dengan syariat) mati-matian membela orang semacam Yazid? Bukankah Ibnu Taimiyah sendiri menukil sabda Rasul yang berbunyi “Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, Allah akan menakut-nakutinya, dan semoga laknat Allah, malaikat serta segenap manusia akan tertuju kepadanya”. Dan sebagaimana firman Allah swt: “Dan sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. Apakah menarik baiat dari orang yang dianggap fasik dan terlaknat karena membunuh cucu rasul dan menghinakan keluarganya merupakan suatu kesalahan?

Ibnu Taimiyah tidak bisa lagi menutupi kemursalan Yazid. Yang bisa dilakukan oleh manusia semacam Ibnu Taimiyah adalah, berusaha memperingan kesalahan Yazid dengan mengurangi jumlah korban. Oleh karena itu, di dalam kitab yang sama, dalam rangka membela dan menutup-nutupi prilaku bejat Yazid, ia mengatakan “Yazid tidak membunuh semua pemuka Madinah, pembunuhan itu tidak sampai berjumlah sepuluh ribu jiwa, darah-darah itu tidak sampai ke makam Rasul dan pembunuhan itu tidak sampai terjadi di masjid Nabi”. Pantaskah Ibnu Taimiyah mengaku penghidup ajaran Salaf as-Sholeh, sedang disisi lain ia adalah pembela nomor satu pembunuh para Salaf as-Sholeh?

Kedurjanaan Yazid bukan hanya ditujukan kepada keluarga suci Rasul, para sahabat dan Tabi’in, namun ia juga telah berbuat kurang ajar terhadap Baitullah al-A’dzam, Ka’bah al-Musyarrafah. Rumah suci yang memiliki sakralitas lebih dibanding tempat-tempat peribadatan lainnya, sebagaimana yang telah disepakati oleh segenap kaum muslimin. As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa’, yang menukil dari ungkapan adz-Dzahabi, ia mengatakan:

“Setelah peristiwa besar yang menghebohkan terjadi di Madinah, Yazid mengirim pasukannya untuk berperang melawan Ibnu Zubair. Setelah mereka memasuki Makkah, akhirnya mereka mengepung Ibnu Zubair. Terjadilah peperangan melawan Ibnu Zubair, tetapi mereka melempari Ka’bah dengan manjanik (ketapel ukuran besar), dan karena jalaran api yang mereka sulut menyebabkan kisa’ (kelambu penutup Ka’bah) beserta langit-langit Ka’bah turut terbakar”.

Dalam tragedi inipun, Ibnu Taimiyah tetap berusaha memberi taujih (pembenaran) atas prilaku Yazid. Ia mengatakan:

“Tidak seorang muslim pun yang mau bermaksud menghinakan Ka’bah, bukan wakil Yazid, juga bukan wakil Abdul Malik yang bernama Hajjaj bin Yusuf, ataupun selain mereka berdua, bahkan segenap kaum muslimin bermaksud untuk mengagungkan Ka’bah. Jadi, kalaulah Masjid al-Haram dikepung, hal itu karena pengepungan terhadap Ibnu Zubair. Pelemparan menggunakan manjanik-pun tertuju kepadanya. Yazid tidak ada maksud untuk membakar dan merusak Ka’bah, Ibnu Zubair yang telah melakukan semua itu”.

Disini, lagi-lagi Ibnu Taimiyah mengkambinghitamkan orang lain dalam rangka mensucikan Yazid dari perbuatan kufurnya. Padahal, para ahli sejarah dengan jelas mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan Yazid yang didasari unsur kesengajaan.
Tiga kesalahan besar Yazid selama masa ia berkuasa; membunuh keluarga Rasul, memerintahkan pasukannya berbuat seperti binatang di Madinah dan perusakan Ka’bah. Semua itu dicatat oleh para ahli sejarah baik Sunni dan Syiah dan telah terekam dalam benak banyak ulama muslim yang tidak mungkin dihapuskan dalam sejarah Islam.

Anggaplah, apa yang dibikin-bikin untuk menutupi kesalahan Yazid oleh Ibnu Taimiyah itu benar, tetapi pembunuhan tetaplah pembunuhan, apalagi yang dibunuh adalah cucu Nabi –dimana banyak riwayat tentang keutamaan Husein bin Ali as- di padang gersang Karbala. Juga, pembantaian beberapa sahabat dan manusia-manusia yang tak berdosa lainnya. Ditambah lagi dengan merampas harta benda, memperkosa wanita-wanita mukminah Madinah. Lantas apakah Islam mengajarkan atau membolehkan hal semacam itu? Bukankah Islam mengajarkan untuk tidak membolehkan dalam memperlakukan orang kafir semacam itu, apalagi para pengikrar syahadatain. Apakah orang kufur semacam Yazid dan bala tentaranya masih akan tetap memiliki rasa hormat atas Ka’bah, sehingga masih terus dibela oleh Ibnu Taimiyah dengan mengkambinghitamkan Ibnu Zubair? Jika semua dosa besar yang telah disebutkan tadi dengan berani mereka lakukan, maka dosa besar semacam perusakan Ka’bah al-Muadzamah pun sangatlah besar kemungkinannya untuk mereka lakukan. Apalagi, alasan Ibnu Taimiyah tersebut tidak berlandaskan argumentasi yang kuat, dan bertentangan dengan pendapat banyak ulama muslim ahli sejarah dan akal sehat.

Dalam kitab Minhaj as-Sunnah dengan sangat jelas Ibnu Taimiyah membela Yazid, ia mengatakan “Dari mana manusia mengetahui bahwa Yazid atau pelaku zalim lainnya belum bertaubat? Atau tidak memiliki kebaikan sedikitpun yang bisa menghapus dosa-dosanya?” Ini merupakan jurus terakhir Ibnu Taimiyah dalam rangka pembelaannya terhadap Yazid. Taruhlah, Yazid pernah bertaubat, akan tetapi harus diketahui bahwa konsep taubat dalam Islam, jika suatu kesalahan hanya berkaitan dengan dirinya maka cukup ia meminta taubat dari Allah. Namun, jika kesalahannya berhubungan dengan berbuat zalim terhadap orang lain, maka ia harus meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Tanpa ridha pribadi yang disakiti, kesalahannya belum diampuni oleh Allah. Jadi, bagaimana taubat Yazid kepada orang-orang yang telah dibantainya, wanita-wanita mukminah yang telah ia hinakan, dan dosa-dosa sosial lainnya? Juga terbukti tidak satu penulis sejarahpun yang menerangkan perubahan pada perangai Yazid di akhir hayatnya.

Rasul sendiri jauh-jauh hari -berkat kabar dari Jibril- telah mengetahui tentang peristiwa yang bakal menimpa cucunya di Karbala. Belum lagi yang berkaitan dengan mimpi ummul mukminin Ummu Salamah ra. Juga mimpi sahabat besar Rasul, Ibnu Abbas ra. Jadi, kezaliman Yazid sampai akhir hayatnya sudah “diprediksikan” oleh Allah, sebagaimana prilaku Abu Lahab yang disitir oleh Allah dalam Surat al-Lahab yang ditujukan kepadanya. Padahal, bukankah sewaktu surat tersebut diturunkan, Abu Lahab masih hidup dan masih bisa berbuat taubat? Kalaupun Abu Lahab bertaubat, maka taubatnya tidak akan diterima sebagaimana ungkapan Fir’aun sewaktu akan tenggelam “Amantu bi rabbi Musa wa Harun” (aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun). Hal itu lebih dikarenakan, sebegitu besar kezaliman yang telah ia lakukan sehingga seakan pintu taubat telah ditutup bagi Allah. Begitu pula dengan Yazid, sebegitu dahsyat kezaliman yang telah ia lakukan maka pintu taubat telah ditutup oleh Allah, dan Allah menjatuhi vonis hatm (kepastian hukuman) atasnya, sebagaimana Abu Lahab.

Bagaimana kita menghukumi otak pekerjaan fasik beserta para pelaku dan “pembelanya” tersebut? Disini, kita dapat pertanyakan ke-ahlusunnah-an Ibnu Taimiyah, karena pembelaannya atas para Salaf at-Tholeh (lawan Salaf as-Sholeh) tadi, padahal mayoritas mutlak Ahlusunnah mencela mereka. Bukankah konsekuensi seorang pengikut Ahlusunnah harus mencela orang yang telah merubah-rubah Sunah Rasul? Bukankah Rasul pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Abi Darda’: “Pertama orang yang merubah Sunah-ku adalah seseorang dari Bani Umayyah yang bernama Yazid” Yang pantas dipertanyakan kemudian, apakah layak bagi Ibnu Taimiyah, sang pembela manusia perubah Sunah Rasul, mengaku sebagai Ahlusunnah?

Kekejaman Yazid anak Muawiyah ini tidak mungkin akan bisa ditutup-tutupi dengan hadis-hadis bikinan berkenaan dengan keutamaan anak-bapak tersebut, karena sejarah telah mencatatnya. Ibnu Taimiyah tidak mungkin dapat menutup-nutupi fakta sejarah. Ia tidak mungkin dapat menyalahkan Husein bin Ali bin Abi Thalib as. Tetapi, ternyata ia terus berusaha untuk menutupi kesalahan Yazid maupun bapaknya, Muawiyah. Demikian halnya yang dilakukan oleh para pengikut Ibnu Taimiyah di masa sekarang dengan cara diantaranya mencari kambing hitam sebagaimana yang diungkap oleh Thaha Husein.

Logika ini sama persis seperti yang dilakukan Amr bin Ash pendamping setia Muawiyah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib as tentang peristiwa kesyahidan Ammar bin Yasir ra, sahabat Rasul dan pengikut setia Ali. Dikarenakan Rasulullah saww pernah bersabda –dalam hadis mutawatir- kepada Ammar; “sataqtuluka fiah baghiah” (engkau akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka). Pada waktu perang Shiffin, perang antara kubu Amirulmukminin Ali as dan Muawiyah di daerah yang terkenal dengan sebutan Shiffin, di situ Ammar terbunuh. Kala itu, Ammar di pihak Amirulmukminin Ali as. Dengan terbunuhnya Ammar di pihak Ali, beberapa kaum pembela Muawiyah ingat sabda Rasul tadi, mereka pun bimbang. Untuk menghindari kebimbangan itu yang tentu akan mengurangi semangat bala tentaranya, Amr bin Ash penasehat setia Muawiyah mengatakan bahwa pembunuh Ammar adalah Ali. Dengan alasan, “jikalau Ali tidak memerangi Muawiyah niscaya Ammar tidak akan terbunuh”. Karena ajakan Ali, Ammar terbunuh, berarti Ali lah pembunuh Ammar. Logika yang lucu tapi nyata. Hanya manusia bodoh yang menerima logika semacam itu. Karena jika kita dipaksa menerima logika tersebut berarti kita harus menerima juga ungkapan bahwa pembunuh para sahabat Rasul adalah Rasul sendiri, karena Rasullah yang mengajak mereka berperang.

Begitu juga dalam masalah pembunuhan Husein bin Ali as. Para pengikut Ibnu Taimiyah berusaha meyakinkan bahwa pembunuh Husein bin Ali adalah pengikut Syiah sendiri. Karena pada saat itu Syiah Ali banyak ditemui di Kufah dan merekalah yang memanggil Husein untuk datang ke Kufah dengan melayangkan ribuan surat kepada Husein as. Husein dikhianati oleh kaum Syiah, merekalah pembunuh Husein yang sebenarnya. Oleh karenanya, mereka meratapi kejadian Karbala karena penyesalan akan pengkhiatan kaumnya. Jadi kambing hitam atas tragedi Karbala adalah orang-orang Syiah.

Memang, saat itu kaum Syiah banyak ditemui di Kufah, namun tidak semua orang Kufah bermazhab Syiah. Tidak semua yang melayangkan surat ke Husein bin Ali adalah yang bermazhab Syiah. Mereka yang melayangkan surat juga termasuk orang yang mengakui kekhalifahan Syeikhain. Mereka turut melayangkan surat dikarenakan kecintaan mereka kepada keluarga Rasul dan kebencian mereka akan kezaliman. Bukankah yang mengajarkan kecintaan kepada keluarga Rasul bukan hanya khusus mazhab Syiah saja? Bukankah yang mengajarkan kebencian terhadap berbagai kezaliman bukan hanya dikhususkan mazhab Syiah saja? Atas dasar itulah, lantas ribuan surat melayang ke pangkuan Husein bin Ali as.

Mereka-mereka pencari kambing hitam peristiwa Karbala tidak tahu (jahil) –atau sengaja tidak mau tahu (keras kepala)- bahwa sebelum peristiwa Karbala, ribuan penduduk Kufah dibunuh oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan bekerjasama dengan Nukman bin Basyir gubernur Kufah, bawahan Yazid. Pembunuhan itu atas perintah langsung dari Syam, pusat pemerintahan rezim Yazid. Perintah itu keluar setelah Yazid mendengar melalui mata-matanya bahwa penduduk Kufah banyak melayangkan surat kepada Husein. Selain pembunuhan juga dilakukan penangkapan besar-besaran penduduk Kufah, pendukung imam Husein. Dan intimidasi untuk menarik kembali baiat yang mereka layangkan kepada Husein di bawah ancaman mati di ujung pedang. Lantas, masihkah pengikut Ibnu Taimiyah terus akan mencari-cari kambing hitam itu? Ataukah mereka terus berusaha untuk selalu mencari jalan lain dalam rangka membela kaum durjana?

Asyura dan Anak Yatim

Akhir-akhir ini, di Indonesia digalakkan untuk menjadikan hari sepuluh Muharam (Asyura) sebagai peringatan Hari Raya Anak Yatim. Hari kesedihan mengingat pembantaian putera Rasulullah Husein bin Ali as di padang gersang karbala diubah menjadi suasana gembira di hari raya. Hari duka dialihkan menjadi hari gembira dan pesta. Bukankah ini merupakan warisan budaya dinasti Bani Umayyah? Itulah cara lain untuk mengalihkan memori masyarakat muslim akan peristiwa kezaliman Yazid atas cucu Rasulullah. Berapa banyak kaum muslimin lalai dan terperdaya atas tipu daya tersebut. Apalagi pembawa budaya tersebut menghubung-hubungkannya dengan hadis-hadis diselamatkannya para Nabi pada hari Asyura. Bagaimana mungkin mereka bergembira di hari Asyura dengan alasan penyelamatan para Nabi dari berbagai ujian Ilahi, sementara pada saat yang sama Muhammad saww -penghulu para nabi dan rasul- menangis ketika mendengar dari Jibril as tentang peristiwa Asyura bakal menimpa cucu kesayangannya, Husein bin Ali as.

Sungguh celaka yang mengadakan pesta itu dengan dasar pengetahuan akan peristiwa Karbala, karena mereka bergembira di atas derita Rasul. Bisa dipastikan hati Rasul akan sakit dan tersiksa dengan situasi semacam ini. Jika hal itu terjadi, maka mereka tergolong dalam ayat “Sesungguhnya orang-orangyang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akherat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.

Lalu, mana bukti bahwa mereka adalah pecinta dan pengikut Rasul beserta keluarganya? Adakah orang yang bergembira diatas kesedihan dan kepiluhan hati Rasul bisa dikategorikan pengikut setia Rasul? Apakah layak orang-orang seperti Ibnu Taimiyah mengaku mengikuti Salaf Sholeh? Apakah Muawiyah, Yazid dan manusia-manusia sepertinya termasuk Salaf Sholeh yang Ibnu Taimiyah maksudkan? Jelas, bahwa mereka-mereka penzalim itu adalah Salaf at-Tholeh (lawan salaf as-sholeh), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para sejarawan Ahlusunnah sendiri. Mereka juga termasuk yang menjadi sasaran Sabda Rasul “Allah mengharamkan surga bagi siapa yang telah menzalimi, membunuh atau mencela Ahlu Bait ku (keluarga) ataupun yang memiliki saham (dalam masalah tersebut)”.

Jadi, adakah seorang seperti Muawiyah dan anaknya Yazid sang pemabuk layak menduduki kedudukan khalifah Rasul? Padahal kekhalifahan Rasul merupakan posisi penting yang harus tetap dijaga kesakralannya. Apakah dengan menutup-nutupi kekurangan kaum zalim dan membikin-bikin keutamaan mereka, apalagi dengan mengarang buku tentang keutamaan mereka “Fadho’il Muawiyah dan Yazid”, bukan masuk kategori penolong kaum zalim? Bukankah penolong kaum zalim berarti sama hukumnya dengan kaum zalim tersebut yang harus dilepas-tangani? Masih layakkah seseorang yang dihukumi zalim diberi gelar dan disebut Syeikh al-Islam? Apakah seseorang yang dihukumi zalim dikarenakan pembelaannya terhadap kaum zalim masih layak diikuti segala ucapannya, apalagi yang berkaitan dengan syariat Islam yang terkumpul dalam buku kumpulan fatwa (Majmu’ah al-fatawa) yang berjilid-jilid itu? Apakah seorang yang dianggap gugur ke-adilan-nya akibat membela manusia zalim masih layak berbicara tentang Islam? Apakah layak bagi manusia semacam itu menuduh selainnya sebagai ahli bid’ah dan syirik? Bukankah Islam melarang mengikuti orang zalim sebelum ia bertaubat? Dan bukankah tidak ada bukti bahwa orang yang sering disebut “Syeikh al-Islam” itu telah bertobat dalam pembelaannya terhadap manusia fasik seperti Yazid, yang menurut Jahidh –sebagaimana yang disebutkan di atas- layak untuk dilaknat itu. Jika seorang yang matanya belekan diangkat menjadi penghias mata orang lain atau orang buta diangkat sebagai penunjuk jalan, maka jangan salahkan jika Islam akan menjadi bulan-bulanan bahan ejekan dan cemoohan musuh-musuhnya.

Wallahu a’lam

MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (2) Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Ali bin Abi Thalib as

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ala muhammad wa ali muhammad

Para nawashib berkotbah, Ali di khianati oleh pengikutnya sendiri, mereka tak lain dan tak bukan adalah syiah. Sejarah syiah dipenuhi dengan tindakan pengkhianatan demi pengkhianatan, bahkan dari ibu bernama syiah dengan rahim hitam kelam dan berayah Kufah terlahir jabang bocah bernama khawarij… Benarkah itu ? Bukankah Allah memuji syi’ah :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS.AlBayyinah: 7-8 ) bukankah Rasulullah saww memuji syiah “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu. Engkau dan syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridho’i”. Aroma busuk sengaja dihembuskan kaum nawashib kepada kaum awam, bahwa syiah memanglah pengkhiat dengan menunjukan sarang syiah di kufah.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan pertama Melacak kelompok pengkhianat kepada Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dari Masyarakat Kufah (1) struktur sosial penyusun masyarakat kufah. Pada tulisan kali ini akan di ulas lebih jauh kiprah pengkhianat dari masyarakat kufah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib baik dari kelompok Asyraf al qabail maupun dari kalangan qurra (hafizh)…

Pendahuluan

Pada saat imam Ali menjabat sebagai khalifah beliau menghadapi sekurang-kurangya tiga pengkhiantan dari dalam –ini diluar kajian para pengkhianat dari kelompook al Nakitsin (pengobar perang Jamal) dan kelompok Qasithin (pengobar perang Shifin) – diantaranya adalah pengkhianatan kelompok khawarij (dalam riwayat disebut sebagai al mariqin) dan sikap keengganan masyarakat kufah dalam menghadapi invasi Damaskus pimpinan Muawiyyah bin Abu Sofyan. Para nawashib gencar menghembuskan kabar bahwa para pengikut Khawarij semula adalah orang-orang syiah, tetapi karena berselisih paham dengan Ali bin Abi Thalib, maka mereka menyatakan keluar dari barisan Ali dan mendirikan Khawarij, sisanya tetap mengikuti Ali tapi dengan menyembunyikan watak aslinya sebagi pengkhianat dengan cara enggan dan ogah-ogahan mendukung Ali dalam menghadapi musuh-musuhnnya.

Kekeliruan mendasar dari para nawashib tersebut adalah bahwa mereka dalam menuduh tidak berpijak dari fakta-fakta yang ada, dan mereka mengeneralisasikan bahwa seluruh orang yang berpihak pada Imam Ali dalam peperangan beliau, harus disebut sebagai syi’ah. Padahal para ulama ahlu sunnah sendiri sudah menjelaskan bahwa terdapat pengikut sejati Ali (syi’ah) -yang harus dibatasi pada pengertian relegius, yakni, kesyi’ahan yang dilandasi pada keyakinan bahwa Imamah berada di imam Ahlul Ba’it- dan mereka yang bersifat pragmatis, berpihak kepada Imam Ali karena kepentingan-kepentingan pragmatis (lihat kembali di tulisan pertama).

Asal Kaum Khawarij Bukan Kaum Syi’ah

Yang pertama kita bahas kelompok Khawarij, kelompok pengkhianat pertama dari barisan Imam Ali adalah kaum Khawarij, menurut Rasul Ja’farian, orang-orang yang kelak menyempal dari barisan Ali dan mendirikan Khawarij,adalah kelompok yang berasal dari kaum nomad yang pada tahun-tahun ketika Kufah dibangun berdatangan ke tempat tersebut, mereka ikut aksi penaklukan, dan mereka mendapat kemenangan dramatis, memperoleh aset rampasan perang yang terlalu banyak untuk dihitung. (History of the caliphs : From the Death of the messenger (s) to the decline of the umayyad dynaty 11 – 132 AH hal 384), Di antara kaum nomad ini, ada yang menjadi hafizh (Qura’) (harus di bedakan antara Qura yang menjadi syiah sejati (dibawah pimpinan Malik asytar dan Adi bin Hatim) dengan Qura dari kaum nommad ini lihat ditulisan pertama).

Memetakan keberadaan kelompok nommad di kufah yang kelak menjadi khawarij ini tidak lah mudah, karena keberadaanya tersebar di kabilah di kufah, para penulis sejarah menyebutkan asal kelompok yang dominan di tubuh khaarij, Nourouzzaman (Khawarij hal 37) menyebutkan, kabilah yang banyak menjadi pengikut khawarij berasal dari Bani Tamim, Sementara itu Baladzuri menyebutkan bahwa, pengikut Khawarij banyak yang berasal dari suku nommad seperti bani Tamim, suku Bakar bin Wail dan suku nomad kecil lainya yang turut bergabung dengan khawarij (Ansyab al asyraf II/363) namun demikian Baladzuri menambahkan, bahwa kecendrungan Khawarij ada dalam setiap kabilah baik yamani maupun nizari. Sementara itu ad diniwari menyebutkan Bani Murad, Bani Rasib dan Bani Tamim sebagai yang mendominasi Khawarij (akhbar at tiwal 196)

Alasan Kaum Khawarij Berada di Pihak Imam Ali

Sebelum menjelma menjadi khawarij, kelompok ini hanya dikenal sebagai bagian dari masyarakat kufah sebagian dari merea didapati sebagai Qurra. Keberpihakan mereka kepada Imam Ali bin Abi Thalib kw, tidak didasarkan pada keyakinan relegius, sebagaimana keberpihakan kaum syiah. Hal ini dijelaskan oleh Baladzuri, “Kaum khawarij pada umumnya didukung oleh suku-suku nomad. Mereka ini tidak mengerti kalau imamah dan politik merupakan dua hal yang berada di luar topik atau masalah suku. Kecendrungan mereka terlihat dalam cara berfikir mereka yang menafsirkan secara menyimpang (Ansab al Asyraf II/363)

Kesertaan kaum nommad di belakang Imam Ali dimulai dari krisis Utsman bin Affan. Para sejahrawan menceritakan sepertiBaladzuri (Ansyab al asyraf V/26, 60-61); Thabari (Tarikh I /2948) menyebutkan, para Hafizh nommad terlibat aktif dalam krisis dimasa Utsman bin Affan), Para Hafizh Nomad dan pendukungnya memberikan tudingan kepada Utsman bin Affan sebagai telah banyak membuat bid’ah. Ketidak puasan para hafizh nomad ini sebagaimana diceritakan oleh Baladzuri (Ansab al asyraf V/40 ; Mas’udi (Murudz Dzahab II/337) dan Thabari (Tarikh I/2916) diakibatkan oleh : “Kebijakan Utsman yang mengangkat banyak anggota klanya pada pos-pos yang memiliki pemasukan besar (Pos basah-ibnu jawi), serta tindakan Ustman memberikan hadiah-hadiah berlebihan”, Selain itu, kemarahan para nomad kepada utsman tersebut lantaran dipicu oleh tindakan keras Ustman kepada Abdullah bin Mas’ud yang menui protes dari salah seorang qura bernama Itris bin Arquib syaibani (kelak dia bergabung bersama khawarij) (Baladzuri, Ansab al asyraf II/360 dan Yaqubi, Tarikh II/170).

Faktor ketidak puasan suku-suku nomad terhdap utsman bin Affan tersebut mendorong mereka menggunakan Ali sebagai mediasinya, dan ktika mediasi gagal yang berujung terbunuhnya Utsman bin Affan, Mereka menjadi bagian yang menyatakan kesetianya kepad Imam Ali bin Abi Thalib. Tetapi ada fakta menarik yang dicatat oleh Baladzuri, bahwa mereka akan membunuh Imam Husain sebagaimana mereka membunuh Ustman manakala tidak sesuai dengan harapan mereka (Futuh al Buldan, II/246). Jadi alasan pertama kaum nomad –yang kelak menjadi khawarij ini – lebih dilatar belakangi sikap pragmatis politis terhadap ketidak puasan kepada kebijakan penguasa, dan kemudian kelompok ini mencari figur lain sebagai pengganti.

Selain alasan diatas, terdapat alasan lainya, bahwa suku-suku nomad merasa kecewa terhadap dominasi Qurasy (syaikh Mufid, al Irsyad I/254) dan belakang hari pandangan negatif mereka terhadap qurasy mengejawantah pada landasan doktrinal mereka yang menyebut : bahwa khalifah tidaklah harus berasal dari suku Quraisy.

Dengan dermikian faktor yang mendorong, bergabungnya mereka dengan Imam Ali bin Abi Thalib, bukan dilandasi pijakan fundamental doktrinal imamah melainkan pada idologi pragmatis yakni pemerataan dan kesetaraan.

Jejak Pengkhianatan Kaum Khawarij

Pengkhianatan kepada imam Ali bin Abi Thalib oleh suku-suku nomad yang kemudian menjelma menjadi khawarij ini dilakukan tidak hanya pada Perang shiffin tetapi dilakukan pada saat panggilan perang jamal, berikut uraian singkatnya :

1. Az Zamakhshari, menuliskan, “ Perang jamal merupakan aksi pertama ketika kaum mulsim terlibat konflik dengan sesama, Dalam perang ini meskipun ada pihak pemenang, namun tidak ada aset rampasan perang, sehingga hal ini menjadi masalah bagi sebagian pendukung Ali, terutama dari kalangan suku-suku pengelana, dari kalangan hafizh kelompok mereka, mengajukan protes “ bagaimana ceritanya perangnya dibolehkan namun aset pihak yang kalah tak boleh diambil ( al Fa’iq IV/129). Inilah protes pertama kaum khawarij kepada Imam Ali.

1. Pengkhiantan kedua kaum nommad dan qurra pengelana kepada imam Ali bin Abi Thalib terjadi pada saat perang shifin. Nasr biin Muzahim menyebutkan, berulangkali Imam Ali bin Abi Thalib mengajak pasukan Damaskus menyelesaikan persoalan dengan menggunakan Al Qur’an sebagai rujukan, dan beberapa utusan dikirim. Tetapi pasukan Damaskus membunuh utusan Ali (Waq’qt ash shifiin, 244), Setelah terjadi pertempuran hebat –para sejahrawan menyebut sebagai Layla al Harir- pasukan Damaskus hampir menemui kekalahan, pada saat itu Lima ratus kitab Al Qur’an diletakkan tombak Damaskus. Dan terjadilah kericuhan di Barisan Imam Ali, sementara Imam Ali memerintahkan terus bertempur sementara pasukan syiah terus menggempur pasukan dibawah Asyraf al qabail dan pendukungnya menyerukan pertempuran harus dihentikan, seruan tersebut disambut suku-suku pengelana, Nasr bin Muzhahim mencatat kepada imam Ali menghadap imam Ali agar pertempuran dihentikan, (waq’at ash shiffin 490) Sebagian pendukung Ali datng menghadap, dengan tanpa memanggil Ali bin Abi Thalib dengan Amirul Mukmini, mereka meminta Ali untuk menyudahi perang dan menyelesaikan melalui Al Qur’an. Nasr bin Muzahim menyebutkan, diantar orang-orang ini ada sejumlh hafizh yang sudah merasa cukup hanya dengan hafal Al Qur’an menjadikan mereka memiliki hak untuk membenarkan sikap mereka ( Waq’at ash shiffin, 492) Imam Ali menjawab seruan mereka “ Aku patut menerima penyelesaian melalui Kitab Allah, lebih dari lainya : namun Muawiyyah dan para sahabtnya bukanlah sahabat dalam agama dan bukan sahabat dalam Al Qur’an. Aku lebih kenal mereka daripada kalian, sejak kecil aku sudah bersama mereka “ (Waq’at ash shiffin, 492). Dan pada saat itu pasuka syi’ah dibawah pimpinan Malik asytar terus melakukan gempuran. Namun dibelakang daerah pertempuran. Imam Ali terus dipaksa untuk mengentikan pertempuran dan segera menarik Malik asytar. (Waq’at ash shiffin, 494) dan inilah pengkhianatan kedua kepada Imam Ali. Sementara pasukan syiah tetap bertemur pasukan dari suku pengelana dan pasukan dari pimpinan asyraf al qabail menghendaki berhenti.

1. Pengkhianatan ke tiga kaum pengelana dan para hafizhnya yang merasa cukup hanya dengan bacaan al Qur’an adalah pada saat penunjukan wakil Imam Ali dalam Arbitrase, Imam Ali bin Abi Thalib menunjuk Ibnu Abbas atau Malik Asytar tetapi ajuan Imam Ali ditolak olek kalangan asyraf al qabail (yang nanti akan dijelaskan pula) Sementara Malik Asytar ditolak oleh kelompok asyraf al qabail, maka Ibnu Abbas ditolak oleh para hafizh (Waq’at ash shiffin, 498).

1. Pengkhianatan ke tiga kaum pengelana ini, adalah Penetangan mereka atas usul mereka sendiri, yakni arbitrase, Baladzuri menyebutkan, kelompok penetang arbitrase keluar dari kesatuan, mereka memisahkan diri dari lasykar dan pergi ke Harura yang berjarak 2,5 km dari kufah.

1. Puncak pengkhianatan mereka adalah Pembunuhan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib.

PENGKHIANATAN BANI NAJIYAH

Terdapat gerakan yang memiliki kemiripan dengan Khawarij, yang sama-sama semula berdiri dibelakang Imam Ali bin Abi Thalib, pengkhiantan ini berasal dari Bani Najiyah pimpinan Khirrit bin rasyid, Baladzuri mennuliskan, Pemberontakan Khirit bin rasyid didukung sukunya Bani Najiyah dan Suku Kurdi, khirit beraksi sedemikian rupa sehingga kaum khawarij mengira khirit sependapat dengan pandanganya,” Pengkhianatan ini berhasil dipadamkan pasukan syi’ah pimpinan Ma’qil bin Qais Riyahi.

KHAWARIJ DALAM PENGKABARAN RASULULLAH SAWW

Fenomena khawarij, ini adalah unik, mereka kebanyakan adalah orang-orang yang dikenal gemar beribadah, bahkan mendapatkan sebutan Qurra. Pemimpin mereka Abdullah bin Wahab bahkan mendapat julukan Dzuts Tsafanat (orang yang di dahinya ada tanda sujud), tetapi sebagaimana diceritakan oleh Rasul Ja’farian “bahwa orang-orang khawarij merasa lebih unggul dengan ke hafizanya dibanding orang lain, dan merasa lebih akurat atas sikap yang mereka ambil (History of the caliphs : From the Death of the messenger (s) to the decline of the umayyad dynaty 11 – 132 AH) Ad Dinawari memberikan ilustrasi kekeliruan mereka, yang terjadi pada saat perang Jamal. Ketika Ali bin Abi Thalib tidak membenarkan orang memanfaatkan harta pribadi orang lain, kecuali harta yang digunakan musuh dalam pertempuran. Orang-orang dari suku pengelana pun merasa heran, karena kebijakan sebelumnya membolehkan bila berhasil memenangi perang merampas seluruh aset musuhnya. Pada saat itu Imam Ali berkata, mengapa kalian tidak memperdulikan Aisyah, kalau harta kalian rampas seluruhnya, dimana letak kepedulian kalian ? Orang-orang pengelana dan sebagian orang-orang arab yang masih sederhana pikiranya disertai para qurra mereka, mempertanyakan sikap Ali bin Abi Thalib, karena menurut mereka, manamungkin membunuh musuh dalam perang namun hartanya tidak boleh diambil (Akhbar ath Thiwal 151)

Sempitnya mereka dalam memahami Al Qur’an menyebabkan mereka terjatuh pada kejumudan yang fatal, dan Rasulullah saww sendiri telah mengisyaratkan muncul serta watak kaum khawarij ini, sekalipun mendapat sebutan hafizh, Rasulullah mengisyaratkan kualitas buruk kehafizanya, meski disebut sebut sebagai ahli ibadah tetapi Rasulullah saww menyebutkan buruknya kualitas ibadah mereka, berikut kutipan rangkuman Hadits Rasulullah saww :

1. 1. Muslim bin Hajjaj berkata dalam Shahihnya, “Abdu bin Humaid telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrazzaq bin Hammam telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdul Malik bin Abi Sulaiman telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Salamah bin Kuhail telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Zaid bin Wahab al-Juhani telah menceri-takan kepadaku bahwa ia termasuk salah seorang anggota pasukanyang berangkat bersama Ali ra. untuk memerangi kaum Khawarij. Ali ra. berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan muncul satu kaum dari umatku yang membaca al-Qur’an, bacaan al-Qur’an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka, shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apaapanxja dibanding puasa mereka. Mereka membaca al-Qur’an dan menyangka al-Qur’an itu menjadi hujjah ijang mendukung mereka padahal al-Qur’an menjadi hujjah yang membantah mereka. Shalat mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya. Sekiranya pasukan yang memerangi kaum ini tahu apa yang telah disediakan buat mereka melalui lisan nabi mereka niscaya mereka akan meninggalkan amal. Tanda-tandanya adalah di antara kaum ini terdapat seorang lelaki yang memiliki lengan atas tapi tidak memiliki lengan bawah. Dan di pangkal lengan atasnya terdapat seperti mata payudara dan padanya terdapat rambut yang telah memutih.”

1. Abdullah bin Mas’ud, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al- Musnad (1/404), at-Tirmidzi dalam Sunannya (nomor 2188), Ibnu Majah (nomor 168) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi nomor 1779 dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Akan muncul nanti di akhir zaman satu kaum yang dangkal akalnya, muda nbelia, atau beliau berkata, muda usianya, mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, mereka membaca al-Qur’an dengan lisan mereka namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Barangsiapa mendapati mereka maka perangilah mereka sebab bagi yang memerangi mereka telah tersedia pahala yang besar di sisi Allah.

PENGKHIANATAN ASYRAF AL QABAIL

Pengkhianat lain dari barisan Imam Ali yang lain adalah pengkhianatan dari kalangan asyraf al Qabail, untuk mengetahui siapakah asyraf al qabail silahkan kembali merujuk pada tulisan pertama yang ditulis ibnu jawi al jogjakartani penulis artikel ini). Kalangan sejahrawan ahlu sunnah menyebutkan bagaimana para asyraf al qabail ini melakukan pengkhianatan. Setelah mendapati kebijakan Imam Ali bin Abi Thalib tidak seperti yang ditempuh oleh para penguasa sebelumnya yang cendrung menguntungkan mereka.

Sikap plin plan dan acuh tak acuh para Asyraf al Qabail dan pengikutnya terbaca pula oleh Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diceritakan oleh Nasr bin Muzahim dan Baladzuri “Imam Ali bin Abi Thalib senantiasa berpesan kepada para sahabat-sahabat dan pengikutnya (baca syiah), agar mewaspadai dan berhati-hati kepada sikap para asyraf al qabail kufah” (waq’at ash shiffin II/144 ; al Futuh II/468). Sikap plin plan par asyraf al qabail ini dengan jelas diceritakan oleh Nashir bin Muzahim dan Baladzuri dalam Kitabnya : “ Para asyraf al qabail mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan Ali bin Abi Thalib usai perang jamal. Pada kesempatan itu mereka memaparkan alasan-alasan yang membenarkan diri mereka sendiri atas sikap yang diambil untuk tidak memberikan dukungan kepada Ali bin Abi Thalib dalam peristiwa jamal, tetapi pada saat yang sama mereka mengukuhkan dan memperkuat kembali ba’iat kepada Ali bin Abi Thalib (Waq’at ash shiffin 21, al futuh II/370-371). Menyebutkan sikap-sikap khianat dan plin-plan kalangan asyraf al qabail secara keseluruhan tentu akan membuat panjang artikel ini –pada artikel pertama kami sudah menyinggung sedikit-, kami hanya akan menyajikan sikap-sikap pragmatis mereka dimasa Imam Ali bin Abi Thalib, yang memiliki dampak dan pengaruh yang besar, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pengkhianatan gembong Asyraf al Qabail – Asyat bin Qais al Kindi-

Sikap Asy’ats bin Qays al kindi orang yang tidak memiliki kualitas keislaman baik, yang diangkat oleh Walid bin Uqbah (Gubernur Utsman bin Affan) untuk menggantikan Hujar b Adi al Kindi. Asy’ats bin Qays memiliki peran besar dalam menggalang pengkhianatan dari kalangan Asyraf al qabail berikut ‘urafa yang menjadi anggotanya. ad Dinawari menceritakan, ketika terjadi pemberontakan anti Utsman, Asy’ats bin Qays sempat melarikan diri ke Damaskus, namun kemudian ia kembali ke kufah (Akhbar ath Thiwal/156). Asy’at bin Qais adalah orang yang memprotes kebijakan Diwan Imam Ali, serta orang yang menggalang dukungan untuk menolak penggantian dirinya oleh Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Asyraf al Qabail, dimana dirinya akan digantikan oleh Hujr bin Adi. Asy’at bin Qais mampu memainkan sebagai orang yang merusak barisan Imam Ali dari dalam (lihat tulisan ibnu jawi di artikel I).

Baladzuri menceritakan, bahwa Asyat bin Qais salah seorang tokoh asyraf al qabail berpengaruh sempat akan bergabung dengan Muawiyyah, peristiwa tersebut terjadi ketika Ali bin Abi Thalib memerintahkan satu tim khusus untuk memeriksa dan menaksir aset-aset yang dimiliki para asyraf al qabail ( Ansab al asyraf 2/296)

Asyats bin Qais juga memanfaatkan pengaruhnya untuk merusak barisan Imam Ali, Sebagaimana diceritakan oleh Nasir bin Muzhahim: Pada tanggal 5 syawal 36 H dari Nukhaila Imam Ali bangkit melakukan perlawanan terbuka, perpecahan pertama dalam tubuh pasukan Ali bin Abi Thalib terjadi akibat provokasi Asy’ats bin Qays yang melakukan protes atas diangkatnya Hassan bin Makhduj untuk memimpin pasukan Yaman, provokasi tersebut nyaris membuat bentrokan antara kabilah Kinda dan Rabiah (Waq’at ash shiffin 127), Nashr menceritakan, Melihat perpecahan tersebut, Muawiyyah mengirimkan penyair orang Kinda untuk menyemangati Asy’ats menentang Ali, tetapi upayanya gagal, karena Asy’ats dibiarkan mempin pasukan sayap kiri yang terdiri dari suku kinda” (Baladzuri, Futuh al Buldan III/105)

Aksi pragmatis asyraf al qaba’il yang dipimpin oleh Asy’at bin Qais ini, adalah dengan menempatkan diri mereka dengan posisi yang mengambang – lihat penjelasan Muhammad Jafri di artikel pertama yang kami tulis (ibnu jawi al jogjakartani)- di antara dua pihak yang bertikai, bila dilihat ada posisi yang lebih menguntungkan maka pihak tersebut yang akan di dukung diam-diam. Saat terjadi perang shiffin, Asy’ats bin Qais di satu sisi berperang dan memimpin klannya di pihak Imam Ali bin Abi Thalib tapi di pihak lain dia menjalin kontak-kontak rahasia dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan. Ya’qubi menceritakan “ bahwa Asy’ats bin Qais pada saat perang shiffin mengambil peran penting mengajak para kabilah lain agar perang diberhentikan. Peran Asy’at bin Qais dalam peristiwa yang mendorong terjadinya arbitrase tersebut, sebagai hasil korespondensi antara Asy’ats bin Qais dan Muawiyyah ( Tarikh al Ya’qubi II/188) Sikap plin-plan Asy’at bin Qays ini terlihat ambigu, di satu sisi saat berperang dia mengobarkan perlawanan tetapi disisi lain dia mememcah kesatuan, al Yaqubi menceritakan secara detail dalam kitab tarikhnya.

Ketika tentara Muawiyyah mengangkat lima ratus Kitab Al Qur’an yang diletakan di atas tombak mereka, Ali bin Abi Thalib menyatakan “bahwa ulah mereka hanyalah tipu daya, dan Sha’sha’a bin Shauhan kemudian melanjutkan gempuran ke kubu Muawiyah, pada saat berlangsung pertempuran sengit ia mendengar Asy’ats bin Qais berteriak agar memikirkan kaum wanita dan bila perang dilanjutkan kaum Arab akan mengalami krisis, Sha’sha tetap melanjutkan pertempuran, sementara Asy’ats bin Qais merupakan orang pertama yang menentang Ali melanjutkan perang ( Nasr bin Muzahim al Minqari, Waq’at ash shiffin 478), Baladzuri dan Nasr binh Muzahim al Minqari menuliskan, “disaat tentara yang dipimpin sahabat Ali melakukan gempuran ke arah tentara Damaskus, sebagian para asyraf dengan membawa laskarnya menghadap Ali, tanpa memanggil Ali dengan sebutan Amirul Mukmini, mereka meminta Ali menerima penyelesian masalah melalui Al Qur’an. Dalam kelompok ini ikut serta para hafizh (yang kelak bergabung menjadi khawarij) (Waq’at ash shifin 490 dst ; Ansab al asyraf II/331) Pada saat imam Ali di datangi para pemipin kabilah kufah dan para hafizh, Malik asytar sudah mencapai garis depan kamp pasukan Muawiyah, pada saat itu kaum pemrotes, meminta Ali agar mengeluarkan perintah mundur pasukan sahabat-sahabatnya atau Ali akan menghadapi perpecahan, sebagian pemerotes berteriak “anda telah menyemangati sahabt-sahabt anda untuk melanjutkan pertempuran, jika Malik tidak segera kembali, dan pasukan anda tidak segera menghentikan peperangan, maka kami akan membunuh anda”, Ali kemudian memenuhi permintaan mereka demi menghindari perpecahan yang mengancam kesatuan pasukanya Ali mengirimkan Yazid bin Hani untuk menarik mundur pasukan yang masih bertempur (Waq’at ash shifin 493)

Asy’ats bin Qais mengambil peran yang sangat dominan dalam arbitrase, ia bersama para asyraf al qabail kufah yang mengatur proses arbitrase, Nasr bin Muzahim menuliskan ia menemui Muawiyyah untuk membicarakan bagaimana cara melakukan arbitrase (Waq’at ash shifin 495). Asy’at bin Qais bersama dengan para khawarij mengajukan Abu Musa Asy’ari sebagai wakil pihak Imam Ali, tetapi Imam Ali menolak – menurut al Dinawari, Abu Musa al ‘asyari adalah orang mulia dari kalangan asyraf al qabail, yang dimasa Ali bin Abi Thalib menghadapi kaum Jamal, Ali memerintahkan Hasym bin Utbah agar Abu Musa menyiapkan masyarakatnya, tetapi Abu Musa malah meminta masyarakat kufah untuk tidak terburu-buru memberikan dukungan kepada Ali (Akhbar ath Thiwal 145) – Ali bin Abi Thalib menginginkan wakil arbitrase adalah Ibn Abbas atau Malik Asytar (Nasr bin Muzahin, Waq’at ash shiffin 499) Ibnu Abbas mengomentari sikap badung para pemrotes dari kalangan asyraf al qabail dan dari kaum khawarij ini, ibnu Abbas mengatakan (Kalau saja pada saat itu mereka mau bersabar, kemenangan pasti akan diraih” (Baladzuri, ansab al asyraf II/331)

Dalam penyusunan perjanjian fornal, asy’ats bin qais adalah orang yang paling ngotot dalam menghilangkan gelar Amirul Mukminin bagi Ali bin Abi Thalib, Nasr bin Muzahin (waq’at ash shiffin. 508) Ya’qubi (Tarikh II/189) menuliskan, Dalam perjanjian formal ini, Ali dan Muawiyah ditetapkan memiliki hak yang sama/ Pada tahap pertama, nama Ali diikuti dengan gelar “Amirul Mukmini” (pemimpin kaum beriman), namun untuk muawiyah, penyematan gelar itu tidak dapat diterima. Asy’ats bin Qais bersikeras agar gelar Amirul Mukmini dihapus saja. Ali bin Abi Thalib yang mendengar itu menyatakan “Maha suci Allah, sebuah sunah seperti sunah Nabi. Dalam kesepakatan damai hudaibiyah, Suhail bin Amr wakil kaum musyrik ngotot minta supaya sebutan “Rasulullah “ dihapus”

Watak plin plan asya’ts bin qais yang mewakili watak para pengikutnya kembali muncul setelah arbitrase yang dipaksakan oleh kelompok mereka kepada Imam Ali ternyata tidak menguntungkan mereka. Baladzuri menuliskan “ sejumlah orang seperti asy’ats bin Qais dan banyak anggota lasykar kufah mengungkapkan ketidak sudian tunduk kepada Damaskus, mereka menentang arbitrase tetapi tidak sampai keluar dari jama’ah ( Baladzuri ansab al asyraf II/351) Ya’qubi menceritakan, Dalam perjalanan kembali ke shifin kelompok pemerotes terbagi menjadi dua, satu kelompok menentang arbitrase tetapi tidak keluar, sedang satu kelompok keluar dari jama’ah dan kesatuan mereka pergi ke Harura yang berjarak 2,5 Km dari kufah. (Tarikh Ya’qubi II/191)

Baladzuri (Ansab al asyraf II/374) dan (Futuh al Buldan III/277) menceritakan Ketika Imam Ali bin Abi Thalib meminta masyarakat Kufah bersiap menghadapi serbuan kembali pasukan Damaskus, Asy’ats bin Qais menyatakan keberatanya, sehingga yang mendukung Ali tinggal sedikit sehingga tidak mampu menghadapi pasukan Damaskus, Ali bin Abi Thalib memutuskan kembali ke Kufah”

Puncak pengkhianatan antara kaum khawarij dan asyraf al qabail terhadap Imam Ali bin Abi Thalib, adalah konspirasi diantara kedua kelompok tersebut, Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi ad Dunya menceritakan pada malam sebelum pembunuhan Imam Ali bin Abi Thalib, Abdurahman bin Muljam sempat singgah di rumah Asy’at bin Qais (Maqtal al Imam Amiril Mukminin Ali Bin Abi Thalib hal 28, 33 No 11)

Pengkhiantan Asyraf al Qabail Jarir bin Abdullah Bajali

Jarir bin Abdullah Bajali adalah kawan karib dari Umar bin Khatabb dia menjadi tokoh asyraf al Qabail yang berpengaruh dan mapan ketika Imam Ali bin Abi Thalib berpindah ke kufah. Imam Ali bin Abi Thalib mempercayakan negosasi dengan Muawiyah kepadanya, karena masing-masing memiliki kedekatan dengan Umar, sehingga bisa dibicarakan agar Muawiyah menghentikan aksi membangkangnya, tanpa melalui jalan peperangan. Tetapi sayangnya Jarir bin Abdullah Bajali bersikap menjadi pembela Muawiyyah Baladzuri menceritakan, Muawiyyah berkata kepada Jarir bin Abdullah, “Kirinm surat untuk Ali untuk menetapkan secara penuh bahwa Damaskus dan mesir untuiki. Dan bia kelak ia meninggal, dia tidak boleh mengabaikan ikrar setia orang kepadaku” Ali bin Abi Thalib menjawab surat Muawiyah yang ditulis Jarir tersebut “ Mughirah di Madinah pernah mengusulkan ini kepadaku, tetapi aku tolak. Aku tak mungkin berbuat seperti ini karena Allah tak pernah melihatku dalam posisi memanfatkan kaum penyimpang untuk mendukungku ( Futuh al Buldan II/392) Empat bulan kemudian, Jarir bin Abdullah meninggalkan Damaskus untuk kembali ke kufah, Malik asytar menjatuhkan hukuman keras kepada dia, dan menyebut jarir bin Abdulaj telah melakukan kesalahan dengan menggadaikan agamanya kepada Muawiyah di Damaskus. (Futuh al Buldan II/404) Jarir kemudian meninggalkan Kufah menuju Qirqisa, dia mengajak sukunya Bajilah keluar dari Kufah untuk mengurangi kekuatan Ali bin Abi Thalib menghadapi Muawiyah. Kecuali sembilan orang, suku Bajilah mengikuti Jarir bin Abdulah ke Qirqisa. Kepergian Jarir bin Abdulah disertai oleh Tsuwair bin Amir (Nasr bin Muzahim al minqari, Waq’at ash shiffin 61)

Pertarungan antara Asyraf al Qabail dengan Syiah di klan Bani Tamimi

Bahawa suku-suku dalam kufah tidaklah mutlak syiah, juga dipaparkan secara tegas oleh para sejahrawan ahlu sunnah. Di dalam suku masing-masing terjadi perdebatan tentang kemana suku mereka mesti mendukung Ath Thaqofi menuliskan. “ Muawiyah memerintahkan Abdullah bin Amir Hadhrami untuk menemui Usmaniah dari Bani Tamim meminta dukungan, Dalam pertemuan tersebut, Abdullah berbicara dengan tema menuntut balas kematian Usman, ketika menjelaskan, Dhahhak bin Abdullah Hilali memprotesnya dengan mengatakan “ Apakah anda menyuruh kami untuk mencabut pedang dan berperang satu sama lain hanya demi mempertahankan tahta Muawiyyah, demi anda agar menjadi mentrinya, dan untuk melanggar baiat yang telah kami berikan kepada Ali ? Demi Allah, satu harinya Ali dimasa hayat Nabi jauh lebih baik dibanding segala prestasi muawiyyah dan silsilahnya” Dan kemudian Bani Tamimi mengalami kekiSruhan, pemipin suku menyuarakan mendukung Muawiyyah dan sekelompok kecil seperti Ahnaf bin Qais tetap mendukung Imam Ali” (lebih rinci lihat Al Gharat II/302-322 ) Ath Thaqofi juga menceritakan polarisasi antara kaum syiah dan kelompok pragmatis terjadi ditubuh Kaum Azd, dan kaum Mudhari di kufah.

Raqqa Utsmani kalangan Agamawan pro Usmaniah di Kuffah

Ya’qubi menuliskan dalam kitabnya, bahwa di kufah adal sekelompok agamawan yang dahulu merupakan pendukung Utsman, dan belakangan berkecendrungan kepada Muawiyyah, mereka menghimpun dalam komunitas bernama Raqqa Utsmani kelompok ini menunjukkan netralitas disetiap pertempuran yang dijalani Ali bin Abi Thalib. Raqqa Usmani kufah pernah diperintah Imam Ali agar membuat jembatan penyebrangan bagi pasukan Imam Ali, tetapi mereka menolak, kemudian Ali bin Abi Thalib memerintahkan Malik Asytar agar kembali meminta mereka membuat jembatan penyebrangan. Akhirnya mereka mau melaksanakan ( Tarikh al Yaqubi II/187)

Kritikan Imam Ali bin Abi Thalib kepada Asraf al Qabail

Imam Ali bin Abi Thalib menghadapi pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok asyraf al qabail, yang enggan memberikan dukungan kepada beliau, ath Tsaqafi, menuturkan, Ketika Pasukan Muawiyyah melakukan Invasi dibawah pimpinan Sufyan bin Auf Ghamidi yang didukung pasukan berkekuatan enam ribu serdadu, pasukan besar ini hanya dihadapi oleh segelintir pasukan yang setia kepada Imam Ali (baca syiah) dibawah pimpinan Asyras bin Hassan Bakri, meski dengan kekuatan minim Asyras melakukan perlawanan meski akhirnya dia gugur karena musuh terlampau banyak, Imam Ali lalu memanggil para pemimpin suku (asyraf al qabail) kufah agar mengerahkan masanya berkumpul di Nukhaila untuk menghentikan aksi Sufyan, tapi sambutan kabilah di kufah sangat sepi kemudian Imam Ali menuturkan kesedihannya atas sikap mereka : “…Pada saat ini kalian tak pernah mau keluar. Kenapa kalian Cuma selalu menunggu dan menunggu ? kalian telah menutup mata terhadap kota-kota kalian yang direbut dan terhadap muslim syiahku yang dibunuhi? Di perbatsan tak terlihat seorang penjaga perbatasan, namun yang terlihat justru musuh…( Al Gharat I/302-303) ath Tsaqafi menceritakan, Imam Ali hanya dapat memberangkatkan pasukan dari kalangan pengikut Imam Ali (baca syiah) sebanyak delapan ribu orang, dan Imam menunjuk Said bin Qais Hamdani sebagai pemipin pasukan.

LOYALITAS MASYARAKAT SYIAH KUFAH TERHADAP IMAM ALI

Sudah dipaparkan diatas bagaimana mayoritas pengikut asyraf al qabail dan kaum khawarij berkhianat kepada Imam Ali, adalah hal yang bijaksana untuk menengok bagaimana sikap kaum syiah manakala mendapati Imam mereka dikhianati secara bertubi-tubi. Sejahrawan Besar Ahlu Sunnah Ath Thabari dan Baladzuri menuliskan dalam kitabnya , Sekembalinya Ali dari Shiffin dan tiba di Kufah, pasukan Ali terpecah menjadi tida bagian, kaum khawarij yang memisahkan diri, kaum penentang arbitrase yang tidak keluar dari barisan Ali, dan para pengikut setia Ali (baca syiah-ibnu jawi al jogjakartani) yang tetap patuh kepadanya, para pengikut Ali yang setia tersebut mengemukakan kembali komitmen setia mereka kepada Ali, mereka berkewajiban untuk kembali bersumpah setia dengan mengatakan “Kami akan berbaik hati dan ramah dengan sahabat anda, dan akan memusuhi dengan orang yang menentang dan melawan anda” (Tarikh Thobari V/64 dan Asab al Asyraf II/348)

Agaknya loyalitas para pengikut Ali tersebut yang kemudian mendorong para sejahrawan melakukan katagorisasi atas kesyiahan mereka –sebagaimana telah dicatat dalam tulisan pertama -, Pribadi-pribadi agung tersebut banyak yang gugur syahid membela Imam Ali, sebuah loyalitas spiritual yang patuh pada perintah Rasulullah untuk mengikuti Imam Ali bin Abi Thalib, mereka adalah Ammar bin Yaser, Khuzaimah, Muhammad bi Abu Bakar (Kakek buyut Imam Ja’far dari pihak Ibu yang juga anak Abu Bakar), Zaid bin Shauhan, Saihan bin Shauhan, Shaq’ab, Abdullah, Salim bin Mikhnaf (kake Abu Mikhnaf) Alba’ Bin harits sadusi. Hind Jamali dan seterusnya tentu mencatat nama mereka menjadi rentetan daftar panjang, kaum syiah bukanlah pengkhianat sebagaimana yang dituduhkan kaum Nawashib, karena justru para nawashib justru mengangkat tinggi-tinggi kepada kaum pangkhianat, bahkan mempetcayai mereka sebagai pembawa kebenaran agama…

Wallahu ‘Alam bhi Showab.

Bersambung Insya Allah pada tulisan :

MELACAK KELOMPOK PENGKHIANATAN MASYARAKAT KUFAH KEPADA IMAM ALI as, IMAM HASAN as DAN IMAM HUSAIN as (3)

Pengkhianatan Asyraf al Qabail dan Para Qurra terhadap Imam Hasan as

IMAM HUSAIN BUKAN IMAM ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Kelompok ketiga Mereka adalah Ahlussunnah wal jama’ah, mereka berpandangan bahwa Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin). Dan beliau tidak dibunuh sebagai orang yang keluar dari jamaah, namun dibunuh secara zhalim dan gugur sebagai syahid. Rasulullah bersabda, “Al Hasan dan Al Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzy).

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

PRIBADI YAZID BIN ABU SUFYAN

Dalam tulisan di atas disebutkan bahwa Imam Husain bukanlah pemimpin kaum Muslimin. Bagi saya pribadi tulisan tersebut masih belum selesai, saya hanya menaksir saja (dan semoga saja salah), mungkin penulis bermaskud menuliskan ” Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin) tetapi yang menjadi pemimpin adalah Imam Yazid bin Muawiyah”, ada baiknya kita lihat bagaimana sejahrawan menuliskan pribadi yazid bin Muawiyah mari kita lihat :

1. Al-Alusi mengatakan:
“Barangsiapa yang beranggapan bahwa prilaku Yazid tidak masuk kategori maksiat, sehingga dilarang untuk melaknatnya, maka sungguh ia tergolong penolong Yazid”.

2. Taftazani berpendapat:
“Kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husain merupakan satu bentuk penghinaan atas Ahlul Bait (keluarga Nabi), dan hal itu merupakan sesuatu yang mutawatirat maknawi (yang diterima oleh mayoritas walau tidak transparan”

3. Jahidh mengungkapkan:
“Berbagai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Yazid, seperti; membunuh Husein, menawan keluarga Husein, memukuli kepala dan gigi Husein dengan kayu, menimbulkan rasa ketakutan penghuni Madinah, merusak Ka’bah, semua itu, sebagai bukti bahwa Yazid memiliki jiwa keras kepala, angkara murka, kemunafikan dan telah keluar dari keimanan, maka ia masuk kategori fasik dan terlaknat. Barangsiapa yang menghindari dari pelaknatan seseorang yang layak untuk dilaknat, maka iapun termasuk orang yang terlaknat”.

4. Seorang penulis besar Mesir Thaha Husein mengatakan:
“Sebagian beranggapan, Yazid bersih dari keterlibatan pembunuhan atas Husein dengan cara yang sangat memprihatinkan, sementara kesalahan sepenuhnya ditujukan kepada Ubaidillah. Jika memang hal itu benar, kenapa (Yazid) tidak mencela Ubaidillah? Kenapa ia tidak menghukum Ubaidillah? Kenapa ia tidak mencabut kedudukan Ubaidillah?

5. Abu al Faraj ibnu al Jauzi menuliskan dalam kitabnya al Radd ’ala al Muta’ashshib al ’anid al mani ’an la Yazid la’anahu Allah , bahwa Yazid sering melontarkan syair-syair yang mencela Islam, saya kutipkan sebagian :

Syamsiyah dikenal dengan igoyang dan desahannya
Bagian kirinya adalah betisku
Dan bagian kananya adalah mulutku
Jika sehari aku mengharamkan agama muhmammad
Gantilah dengan agama al masih binti maryam

Perhatikan pernyataan Yazid diatas yang mengharamkan Agama Rasulullah Muhammad tersebut, patutkah disebut Imam islam, khlaifah dan amirul mukminin ?

’Aliyah, kemarilah berdendanglah bersamaku
Engkau mengatakan bahwa aku tidak suka dengan bisiskan-bisikan
Sesungguhnya cerita tentang hari kebangkitan kita
Adalah cerita-cerita bohong, maka lupakanlah hal itu

Perhatikan syair yazid diatas yang menolak adanya hari kebangkitan, patutkah seorang Amirul mukminin yang memimpin umat Islam mengingkari iman kepada hari akhir ?

Wahai teman-temanku para peminum, bangkitlah
Dengarkanlah suara para penyanyi
Minumlah dari botol-botol arak
Tinggalkan zikir kalian
Nyanyian hari raya telah menyibukan aku dari suara azan
Di dunia ini, aku telah mengganti bidadari dengan nenek tua
Perhatikan syair yazid yang menganjurkan meninggalkan sholat dan mencibir paha dengan nenek tua serta menganjurkan mabuk-mabukan, apakah ini Amirul mukminin Imam Umat Islam ?

Jika kemudian akhi Putra pari purna menyebut Ahlu Sunnah tidak menganggap Imam Husain bukan Imam dan yang menjadi Imam adalah Yazid bin Muawiyah, berarti benar bahwa ahlu sunnah adalah kelompok penyimpang karena menolak hari akhir, menolak sholat, menganjurkan mabuk-mabukan dan menghalalkan arak, bukankah Imam kalian Yazid bin Muawiyah berperilaku seperti itu ?

Husain bin Ali bin Abi Thalib Imam Kaum Muslimin

Diatas sudah jelas pengakuan seorang ahlu sunnah yang menolak Imam Husain dan dengan agak malu-malu mengakui mengikuti Imamanya Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan yang menurut ulama mereka sendiri adalah sesat, maka tiba saatnya untuk mendengarkan siapa sesungguhnya Husain bin Ali ini berdasarkan paparan Rasulullah saw. Kami persilahkan membaca tulisan saudara saya Ustd Ibnu Jakfar

Ibnu Jakfar menanggapi (KEPERIBADIAN IMAM HUSAIN)

Banyak sekali hadis keutamaan dua cucu tercinta Rasulullah saw. yang beliau sabdakan. Hadis-hadis keutamaan itu selain menjelaskan maqam dan kemuliaan kedua cucu tercinta beliau itu, ia juga menetapkan sederatan konsekuensi yang harus dipatuhi oleh setiap Mukmin yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya…. Di antara konsekuensi itu adalah keharusan mencintai mereka, membela mereka dengan segala bentuk pembelaan, mencintai yang mencintai mereka dan memusuhi yang memusuhi mereka. Dalam kesempatan kali saya hanya akan menyebutkan beberapa saja di antara hadis-hadis shahih keutamaan mereka (semoga slam Allah atas keduanya).

Hadis Pertama:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Said ibn Abi Râsyid dari Ya’la al ‘Âmiri[1], ia keluar bersama Rasulullah saw. ke sebuah jamuan makan, ia berkata… Lalu Rasulullah memergoki Husain di kampong sedang bermain bersama teman-temannya, Nabi saw. bergurauengannya, Husain lari ke sana dan ke mari lalu Nabi saw. mengambilnya dan menggendongnya, beliau meletakan salah satu tangan Husain di telengkuk beliau sementara tangan satunya di janggut, kemudian beliau meletakan mulut beliau di mulut Husain dan menciumnya dan berkata:

حُسَيْنٌ مِنِّيْ و أنا مِنْ حسينٍ ، أللهُمَّ أحِبَّ مَنْ أَحبَّ حسينًا ، حسينٌ سِبْطٌ مِنَ الأسباطِ.

Husain dariku dan aku dari Husain. Ya Allah, cintailah orang yang mencinta Husain. Husain adalah sibthun (anak) dari anakku.

Sumber Hadis:
* Imam Ahmad dalam Fadhâil:505, hadis 398. Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnadnya,4/172.
* Bukhari dalam at Târîkh al Kabîr,8/418 dan al Adab al Mufrad,1/455.
* Al Hakim dalam Mustadrak,3/177 dan ia mensahihkannya.
* Ad Dûlabi dalam adz Dzurriyyah al Kuna,1/88.
* Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf,7/515.
* Ath Thabarani dalam al Kabîrnya,3/33 dengan dua jalur dari Rasyid ibn Sa’ad dari Ya’la dan dari Said dari Ya’la dan dalam Musnad asy Syâmiyyîn,3/184.
* Ibnu Asakir dalam Târîkh Damasykus14/149 dan64/35
* dan beberapa ulama lain.

Makna Hadis:
Al Qâdhi menerangkan, “Husain dariku dan aku dari Husain, seakan Rasulullah saw. memandang dengan cahaya wahyu apa yang akan tejadi antara Husain dan kaum, umat, oleh karena itu, ia disebut secara khusus dan beliau menerangkan bahwa beliau dan Husain adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kewajiban untuk dicintai dan diharamkannya mengganggu dan memerangi. Sabda itu dikuatkan dengan, “semoga Allah mencintai orang yang mencinta Husain” sebab kecintaan kepada Husain adalah kecintaan kepada Rasulullah saw. dan kecintaan kepada Rasulullah saw. adalah kecintaan kepada Allah.[2]

Hadis Kedua:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad sahih dari Abdur Rahman ibn Mas’ud[3] dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah keluar bersama Hasan dan Husain menemui kami, yang satu di atas pundak kanan beliau dan yang satu di atas pundak kiri beliau, sambil menciumi keduanya sampai beliau tiba di hadapan kami, lalu ada seorang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah engkau mencinta keduanya! Maka Nabi saw. bersabda:

مَنْ أَحَبَهُما فقد أحبَّنِيْ و مَنْ أَبْغَضَهُما فقد أبغضَنِيْ.

Barangsiapa mencintai keduanya maka ia benar-benar mencintaiku dan barang siapa membenci keduanya maka ia benar-benar membenciku.[4]

Manfa’at Mencitai Ahlulbait Nabi as.
Banyak sekali hadis shahih yang menerangkan manfa’at yang akan diperoleh pecinta keluarga suci Nabi saw. diantaranya adalah apa yang disebutkan dalam hadis di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dari Imam Hasan ibn Ali as., “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

إلْزَمُوْا مَوَدَّتَنَا أهْلَ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَّنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا,وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ إلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا.

Teguhkan hatimu atas kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya barang siapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan bermanfa’at amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengenal hak kami (atasnya).”[5]

[1]Said ibn Abi Rasyîd, ia jujur percaya, shadûq, baca al Kâsyif; adz Dzahabi,1/360, al Mîzân,2/135 dan at Tahdzîb,4/26.
[2] Tuhfatu al Ahwadzi,10/279.
[3]Abdur Rahman ibn Mas’ud al Yasykuri disebut biodatanya oleh Ibnu Abi Hatim dan ia tidak mencacatnya, Ibnu Hibban menyebutnya dala daftar para perawi tsiqât (terpercaya),5/106, Al Haitsami mentsiqahkannya dalam Majma’ az Zawâid,5/240 ketika menyebut hadis riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya.
[4]Al Hakim meriwayatkan hadis ini dan mensahihkannya, dan adz Dzahabi juga menshahihkannya. Baca Mustadrak; al hakim dan ringkasannya; adz Dzahabi,3/166.
[5] Al Mu’jam al Awsath,6/116, hadis nomer: 18.

Ibnu Jawi al jogjakartani menanggapi (IMAM HUSAIN KHALIFAH, AMIRUL MUKMININ DAN IMAM KAUM MUSLIMIN)

Ustd Ibnu Jakfari telah memaparkan keperibadian Imam Husain bandingkan dengan Yazid, dengan fakta tersebut jelas menurut akhi Putra Pari Purna, Ahlu Sunnah memilih Imam yang buruk moral dan perilakunya, dan mari kita lihat bagaimana Rasulullah mengangkat Imam Husain dan 11 Imam lainyam:
Pengumuman Rasul atas 12 Khalifah pasca beliau>

Dalam berbagai kesempatan Rasulullah saw mengumumkan bahwa kekhalifahan pasca belaiu saw mangkat berjumlah 12 orang hadis ini populer Bahkan dalam jurnal resmi Aktifis Penegak kekhalifahan JURNAL ALWA’I masalah ini telah dikupas Ustadz anda Ustadz Yayaha Abdurahman, meskipun ada beliau mengalami kesulitan menguraikan siapa yang dimaksud 12 khalifah, sehingga harus mentoleransi sedemikian banyak nama sampai 73 nama khalifah. Berikut sekaligus meluruskan pendapat beliau yang juga diriwayatkan dalam kitab Ahlu Sunnah :

Jabir bin Samarah berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘akan datang dua belas orang amir’. Lalu Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak dengar, kemudian ayahku berkata. Rasulullah saw berkata, semuanya dari suku Qurasy. (Shahih Bukhari, IX, Kitab al-ahkam, Bab 51, hal 101 cet. Dar al-Jail- Lebanon). Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan” Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangya hari kiamat atau munculnya di tengah-tengah kamu dua belas orang khalifah yang semuanya berasal dari suku Qurasy” Dari Jabir bin Samrah berkata, “
Sebagian sumber lain yang memuat hadis dengan isi sama tapi dengan redaksi berbeda dapat ditemukan pada:
– Musnad, Ahmad, jilid I, hal 398, 406.
– Musnad ath Thayalisi, Abu Dawud, hadis 767 & 1278 hal 105 & 180
– As Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, Jilid III & VIII, hal 121 & 141

Dari mujahid dari ibnu Abbas (riwayat ini panjang jadi kami pendekan)…”Sesungguhnya washiku adalah Ali bin Abi Thalib, lalu setelahnya adalah kedua cucuku Hasan dan Husain, dan selanjutnya adalah sembilan orang imam dari keturunan Huasain…Jika Husain telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Muhammad, jikaMuhammad telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Ja’far, jika Ja’far telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Musa, jika Musa telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada maka yang menggantikannya yang bernama Muhammad,Jika Muhammad telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, Jika Ali telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Hasan, dan Jika Hasan telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama al-Hujah Muhammad al-Mahdi, mereka berjumlah dua belas orang imam..

Silahkan merujuk kitab ulama anda (Ahlu sunnah) yang kami sebutkan dibawah :
– Fakih al-Hamwini asy-syafi’i dalam kitabnya al Fara’id
– Yanabi’ul Mawaddah, al-Qunduzi, III bab 79 hal 99.
– Kitab al Manaqib dari watsilah bin Asqa’ bin Qarkhan.
– Kitab Yanabi’ul Mawaddah al Madzkur, III, bab 76 hal 100 & 103
– Al Mu’zam al-Kabir, ath-Thabrani, I hal 253

Demikianlah tanpa kami merujuk pada sumber ulama Ahlul Ba’it, ulama Ahlu Sunah sudah mengumumkan siapa saja Manusia piliha Allah yang akan memegang pucuk kepemimpinan pasca Nabi Muhammad saw :

1. Imam Ali bin Abi Thalib.
2. Imam Hasan Mujtaba bin Ali
3. Imam Husain bin Ali
4. Imam Ali Zaenal Abidin bin Husain
5. Imam Muhammad Baqir bin Ali
6. Imam Ja’far Shadiq bin bin Muhammad
7. Imam Musa al-Kazhim bin ja’far
8. Imam Ali Ridha bin Musa
9. Imam Muhammad Jawad bin Ali
10. Imam Ali Naqi Hadi bin Muhammad
11. Imam Hasan Askari bin Ali
12. Imam Mahdi al Qoim

PELANTIKAN KHALIFAH DAN PENGAMBIL BAI’AT UMUM ATAS KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT

Peristiwa terakhir adalah pengambil Ba’iat atas KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT hal ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijah 10 H bertempat disebuah kolam bernama Ghadir Khum, Rasul SAW meminta Ba’iat atas kepemimpinan ALI Bin Abi Thalib beserta Itrah Ahluh Ba’it kepada 70.000 – 120.000 umat muslim pada waktu itu.
Dalam peristiwa Ghadir Qum tersebut Rasulullah mengeluarkan khotbah panjang, bagi yang ingin mengetahui telah diterbitkan dalam bahas indonesia dengan judul :

PESAN TERAKHIR NABI SAW (Terjemahan Lengkap Khotbah Nabi saw di Ghadhir Khum 18 Dzulhijah 10H) lihat lenteralangit.wordpress.com

Berikut petikannya :

Rasulullah saw bersabda :
“…Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dari lisan kalian tentang pengangkat ALI bin ABI THALIB SEBAGI AMIRUL MUKMIN dan para Imam dari keturunanku dan keturunanya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbinya…”

Khotbah tersebut sering disebut dengan Hadis Ghadir Khum sorang sarjana muslim Dhiyauddin Muqbili berpendapat ” Apabila kriteria kesahihan hadis Al-Ghadir ini tidak diterima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun dari hadis-hadis lain yang dapat kita terima”.

Tidak kurang 125 perawi meriwayatkannya, berikut sebagian kecil perawi hadis tersebut dari kalangan Pria : Abu Bakar bin Abi Qahafah, Umar bin al Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Abdullah at-Tamimi, Zubair bin awam, Abbas bin Abdul Muthalib, Usamah bin Zaid bin Harithah, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sa’ad bin Abi waqqash, Abdurrahman bin Auf, Hassan bin Thabit, Sa’ad bin Ubadah, Abu Ayyub al- Anshari, Abdullah bin Mas’ud, Salam al-Farisi, Abu Dzar al-Ghiffari, Ammar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, Sumrah bin Jundab, Sahal bin Khunaif, Ubai bin Ka’ab, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Dari kalangan wanita : Asma’ binti Umais; Ummu Salamah; Aishah binti Abu Bakar; Ummu Hani binti Abu Thalib, Fatimah Zahra.

Agar kami pecinta Ahlul Ba’it tidak dituduh membual dan memalsukan hadis kami dapat laporkan bahwa peristiwa Ghadir Khum telah dicatat oleh ulama Ahlu Sunnah dalam kitabnya tidak kurang 335 karya merekam secara keseluruhan maupun merekam sebagian peristiwa al-Ghadir, berikut penulis dan karyanya yang merekam peristiwa tersebut :

1. Muhammad bin Jarir at-Thabari, al-Wilayah, ia melaporkan dengan 75 jalur riwayat.
2. Ibnu ‘Uqdah al-Hamadani, Al-Wilayah Fi Thuruq Hadith al-Ghadir, melaporkan lewat 105 jalur riwayat.
3. Abu Thalib Abdullah bin Ahmad bin Farid al-Anbari, Thariq Hadith al-Ghadir.
4. Muhammad bin ‘Amer bin Muhammad at-Tamimi al-Baghdadi, melaporkan dari 125 jalur riwayat
5. Ahmad Zaini Dahlan al_makki as-Syafe’i, al-Futuhah al-Islamiah.
6. Syaikh Yusuf an-Nabhani al Beirute, ias-Syaraf al-Muayyad.
7. Sayyid Mukmin Syablanji al-Mishri, Nur al-Abshar.
8. Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar.
9. Abdul Hamid al_Alusi al-Baghdadi, Natsr al-La’ ali.
10. Syaikh Muhammad Habibullah Syanqithi, Kifayat at Thalib
11. Dr. Ahmad Farid Rifa’i, Ta’liqat Mu’jam al-Udaba’
12. Ahmad Zaki al-Mishri, Ta’liqat al-Aghani.
13. Ahmad Nasim al-Mishri, Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami.
14. Nashir as-Sunnah al Hadhrami, Tasynif al-Adzan.
15. Dr. Umar al-Farrukh, Hakim al-Mu’ammarah.
16. Fakhrurrazi, tafsir Mafatih al-Ghaib.
17. Al-Tsa’labi, tafsir Kasyfu al-Bayan.
18. Jalaludi al-Suyuti, al-Durr al-Matsur.
19. al hafizh Abu Na’im, Hilayatu al-Awliya’, (Bab Ma Nuzzila min al-Quran fi Ali)
20. Abu al-Hasan al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-Nuzul.
21. Nizhamuddin al-Naisaburi, tafsir Ghara’ib al-Qur’an.
22. Muhammad bin Ismail al- Bukhari, Tarikh juz 1 hlm 375.
23. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih, juz 2 hlm 325.
24. Abu Daud al-Sajastani, sunan
25. Ibnu Katsir al-Dimasyiqi, Tarikh.
26. Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, juz 4 hlm 281 dan 371.
27. Abu Hamid al-Ghazali, Sir al-’Alamin.
28. Ibnu Abdu al-Bar, al-Isti’ab.
29. Muhammad bin Thalha, Mathalib al-Su’al.
30. Ibnu al-Maghazali, al-Manaqib.
31. Ibnu al-Shibagh al-Maliki, al-Fushul al-Muhimmah.
32. al-Baghawi, Mishabih al-Sunnah.
33. al-khatib al-Khawarizmi, al-manaqib.
34. Ibnu al_Atsir al-Syaibani, Jami’ al-Ushul.
35. Al-Hafizh al-Nasa’i, al-Khasha’is dan Sunan.
36. Al-Hafizh Syaikh Sulaiman al-Hanafi al-Qunduzi, Yanabi’ al-Mawaddah.
37. Ibnu Hajar, al-Shawa’iq al Muhriqah dan al-Minah al-Mulkiyah.
38. Al-Hafizh Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah al Qozwaini), Sunan
39. al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak.
40. al-Hafizh sulaiaman bin ahmad al-Thabrani, al-Awsath.
41. Ibnu al-Atsir al Jizri, Usnud al-Ghabah.
42. Sabth Ibnu al-Jauzi, Tadzkiratu Khawashi al-Ummah. hlm 17
43. Ibnu Abdi Rabbah, al-’Aqdu al-Farid.
44. al-Samhudi, Jawahir al-Aqidaini.
45. Ibnu Hajar al-’Asqalani, Tahzibu al-Tahzib dan Fathu al Bari
46. Jarullah al-Zamakhsyari, Rabi’ al-Abrar.
47. Abu Sa’id al-Sajastani, al-Dirayah fi Hadits al-Wilayah.
48. ‘Ubaidillah al-Khiskani, Du’at al-Huda ila ada’i haqqi al maula.
49. al-’Abdari, al-Jam’u baina al-Shihah al-Sittah.
50. Fakhrurrazi, al-Arba’in.
51. al-Muqbili, al-Ahadits al-Mutawatirrah.
52. al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa.
53. Mir Ali al-Hamdani, Mawaddah al-Qurba.
54. Abu fath al-Nathnazi, al-Khasha’ishal-’Uluwiyyah
55. Khawajih Varisa al-Bukhari, Fashlu al-Khithab.
56. Jamaluddin al-Syairazi, al-Arba’in.
57. al-Munawi, Faidh al-Qadir fi Syarhi al-Jami’ al-Shaghir.
58. Allamah al-Kinji, Kifayatu al-Thalib, Bab I
59. Allamah al-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-ughat.
60. al-Humawaini, Fara’idh al-Samathin.
61. al-Qadhi ibnu Ruzbahan, Ibthalu al-Bathil.
62. Syamsuddin al-Syarbini, al-Siraj al-munir.
62. Abu al-Fath al-Syahrastani al-Syafi’i, al Milal wa Nihal.
63. al-Khatib al Baghdadi, Tarikh Baghdad.
64. Alauddin al-Simnani, al-’Urwatu li ahli al-Khalwah.
65. Ibnu Khaldun, Muqaddimah.
67. Muttaqi al-Hindi, Kanzu al-’Ummal.
68. Syamsuddin al-Dimasyqi, Asna al-Mathalib.
69. Syarif al-Jurjani al-Hanafi, Syarhu al-Mawaqif.
70. Hafizh Ibnu’Uqdah, al-Wilayah.

Khulasah
Dengan demikian sudah terungkap secara jelas, bahwa pertama Yazid bin Muawiyah yang perwatakanya bertentangan dengan Islam adalah Imam bagi Ahlu sunnah, sementara syiah tidak mengakui Yazid sebagai Imam dengan demikian Ahlu Sunnah berdasarkan paparan Putra Paripurna mengikuti Imam yang Sesat sedang syi’ah mengikuti Imam yang tidak sesat (ini perbedaan mendasar) Kedua Bahwa Allah dan Rasulullah telah menetapkan Imam dan para ulama ahlu sunnah sendiri meriwayatkan dalm kitabnya sebagaimana di kutip di atas syi’ah mematuhi perintah Allah dan Rasulullah untuk mengikuti Imam yang Allah dan Rasulullah saw tetapkan di antaranya Imam Husain adalah Imam, sementara Ahlu Sunnah menurut pengakuan akhi Putra Pari Purna lebih memilih Khalifah atas pilihanya sendiri.
Wallahu alam bhi showab

SYIAH DALANG TERBUNUHNYA IMAM HUSAIN as ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Tapi, jika saja mereka mau menapaktilasi sejarah, maka tentu mereka akan sadar bahwa sebenarnya, secara tidak langsung orang-orang Syiah terlibat dalam peristiwa pembunuhan Al Husain . Orang-orang Syiah di Kufah Iraq yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah rutin mengirim surat kepada Al Husain . Mereka mengajaknya untuk menentang Yazid. Mereka mengirim utusan demi utusan yang membawa ratusan surat dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung dan pembela Ahlul Bait. Isi surat mereka hampir sama, yaitu menyampaikan bahwa mereka tidak bergabung bersama pimpinan mereka, Nu’man bin Basyir. Mereka juga tidak mau shalat Jumat bersamanya. Dan meminta Al Husain untuk datang kepada mereka, kemudian mengusir gubernur mereka, lalu berangkat bersama-sama menuju negeri Syam menemui Yazid. Namun, ketika Al Husain datang memenuhi panggilan mereka, dan ketika pasukan ‘Ubaidillah bin Ziyad membantai Al Husain dan 17 orang Ahlul Bait di suatu daerah yang disebut Karbala, tak seorang pun dari orang-orang Syiah itu yang membela beliau. Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?
Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .

Ibnu Jawi al Jogjakartani menjawab :

Sepintas lalu statemen diatas adalah tampak kokoh dan benar bahwa ” orang syiah yang mengundang Imam Husain as dan membiarkan Imam Husain as bertempur sendiri hingga syahid dipadang Karbala”. Pernyataan tersebut pada dasarnya mengandung fallacy, yang sengaja diplintir maksudnya dengan tujuan mengaburkan fakta sebenarnya. Retorika diatas bukanlah hal baru, pada masa perang shifin antara Imam Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan terjadi pula retorika seperti diatas. Seperti di ceritakan dalam sejarah disaat Amar bin Yasir gugur di tangan tentara Muawiyyah, terjadilah kekacauan di barisan prajurit Muawiyah lantaran mereka teringat hadis Rasulullah yang menyatakan kurang lebih,” bahwa kelak akan terjadi pertempuran antara dua kelompok, dan Ammar akan terbunuh, dan pembunuh Ammar adalah kelompok yang sesat” mereka segera tersentak bahwa barisan merekalah yang telah membunuh Ammar, dan Muawiyyah bin Abu Sofyan dengan segala kelicikanya segera membangun retorika dan berkotbah ” Bahwa yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Ammar adalah Ali bin Abi Thalib, karena Ali lah yang membawa Ammar dalam pertempuran Siffin, seandaianya Ali tidak mengikut sertakan Ammar niscaya Ammar tidak akan terbunuh ”. Muawiyah adalah representasi politikus yang cerdik culas dan licik, sepintas pernyataan itu benar, dan sejarah membuktikan bagaimana Imam Ali mematahkan argumentasi Muawiyyah tersebut, kami cukupkan saja sampai disini untuk mengetahui bagaimana Imam Ali meruntuhkan argumen-argumen Muawiyah silahkan membaca di kitab sejarah atau Nahjul Balaghah.

Kesalahan fatal dari pernyataan ” bahwa para penulis surat kepada Imam Husain adalah syi’ah ” merupakan realitas yang tidak berdasar pada pijakan fakta sejarahg yang ada, statemen tersebut hanya merupakan retorika jaring laba-laba sebagaimana retorika yang dibangun muawiyah. Kesalahanya adalah sebagai berikut :

Tidak memperhatikan Struktur masyarakat Kufah

Para penuduh menganggap bahwa para pengundang Imam Husain melalui surat tersebut adalah syi’ah. Pernyataan ini ditolak oleh S.H.M Jafri yang menyatakan ” Orang-orang yang mengundang Husain ke kufah, dan 18.000 orang yang berbaiat kepadanya melalui utusanya, muslim bin Aqil tidaklah semuanya syi’i dalam arti keagamaan, melainkan ada juga yang mengundang dengan alasan politik untuk menumbangkan dominasi orang syiria ” [1]

Fakta sejarah menyebutkan bahwa struktur masyarakat Kuffah tidaklah homegen syi’ah melainkan terpolarisasi pada kecendrungan politik dan afiliasi politik yang heterogen. Baladzuri menuliskan dalam kitabnya, bahwa pada masa sa’ad ibnu abi waqqas menjabat sebagai gubernur kufah ia menghadapi masalah heterogenitas masyarakat kufah. Untuk mengatasi perseoalan tersebut Sa’ad menyususn struktur masyarakat kufah berdasarkan pengelompokan Nizari (suku Arab Utara) dan Yamani (suku Arab selatan), untuk menentukan lokasi tinggal diadakan udnian dengan cara adat orang Arab yakni dengan menggunakan anak panah. Hasilnya, Nizari tinggal di kawasan Barat dan Yamani dikawasan Timur” [2]
Tetapi sistem pengelompokan tersebut terbukti tidak efektif dan tidak berlangsung lama lantaran terjadi permasalahan serius. beragamnya klan dalam suku Nizari dan klan dalam suku yamani sering mengalami gesekan yang pada giliranya mengalami masalah dalam distrubusi gaji yang merupakan sumber utama penduduk kufah. Lalu sa’ad mengorganisasi kelompok masyarakat kufah berdasarkan prinsip pra islam yang berbasis pada ’addala, ta’dil dengan mengorganisir berdasarkan nassab, yakni bentuk organisasi kesukuan Arab yang diikat dalam persekeutuan politik. Populasi masyarakat kufah terbagi dalam tujuh kelompok (disebut asba’) yang terdiri dari :
1. Kinana dan ahabisy , Qays’ Ailan (kelompok ini adalah kelompok pretise dan istimewa (ahl al ’aliyah) dalam struktur masyarakat kufah)
2. Quda’ah, Ghassan, Bajilah, Kats’am, Kinda, Hadzramaut dan Azd digabung dalam kelompok Yamani.
3. Madzhik, Humyar, Hamdan, dalam satu grup
4. Grup Mudhar, yang di isi dari Tamim, Rihab, Hawzin
5. G Asad Ghatfan, Muharib, Nimr, Dubay’ah dan Tghlib dalam satu grup
6. Iyad, ’Akk, ’Abd al Qays, Ahl al Hajar dan Hamra
7. Sub’ [3]
Tetapi dengan sistem tersebut yang dibangun dari prinsip kesatuan suku (muqatilah) pra islam dalam jangka waktu lama telah membawa persoalan tersendiri, hal ini terbukti setelah sembilan belas tahun berikutnya , Dalam kurun waktu tersebut terjadi perubahan drastis dalam klan-klan tertentu, sebagian dari klan tersebut telah mendapatkan kedudukan yang terlampau dominan dengan peruntungan finansial yang berlebihan melebihi klan-klan lain. Pada masa Imam Ali sistem pengorganisasian penduduk yang berbasis muqatilah dirubah menjadi sistem yang lebih egaliter dan adil, Imama Ali membagi tetap dalam tujuh kelompok yaitu :

1. Hamdan dan Himyar (orang yaman)
2. Madzhij, Asy’ar dan Thayy (orang yaman)
3. Kinda, Hadramaut, Qudha’ah dan Mahar (orang Yaman)
4. seluruh cabang Nizari dari qays, ’Abs Dzubyah dan ’Abd al Qays Bahrain.
5. Bakr, taghlib dan seluruh cabang rabi’ah (Nizar)
7. Qurasy, Kinana, SAD, TAMIM, Dhabbah, Ribaba (Orang Nizar) [4]

Jika dibandingkan sistem yang dipakai Sa’ad ib Abi waqash terdapat kelompok yang semula dimarginalkan oleh Sa’ad kemudian di angkat oleh Imam Ali yakni Asy’ar, Mahar dan Dabbah. Jika pendistribusian gaji sebelum Imam Ali berkuasa didasarkan hanya pada keterdahuluan masuk Islam dan siapa yang lebih dahulu datang ke kufah maka Imam Ali merubah dengan berdasarkan prinsip bukan hanya keterdahuluan masuk Islam melainkan menambah prasyarat teguh pada nilai-nilai dan standar Islam [5].
Prinsip-prinsip keadilan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Imam Ali ini ditegakkan oleh beliau, namun mereka (asyraf al qaba’il) yang mendapatkan keberuntungan secara finansial selama 19 tahun sebelum kebijakan Imam Ali tiba-tiba harus berbagi dengan yang lain, akibatnya kelompok asyraf al qaba’il dari klan-klan yuang mendapatkan keberuntungan tersebut menaruh kebencian atas kebijakan Imam Ali, sikap tidak suka tersebut didasarkan pada pertama kebijakan egaliter Imam Ali dalam distribusi gaji yang menghapus perbedaan antara pendatang awal dan pendatang baru dan bukan hanya masuknya Islam terlebih dahulu tetapi juga pada keteguhan terhadap Islam [6] kedua Imam Ali menerapkan persamaan dalam pendapatan bagi Arab dan Non Arab [7].

Dengan memperhatikan struktur masyarakat dan faktor-faktor yang melatari pembentukan struktur masyarakat kufah tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat kufah bukanlah masyarakat yang monolisti homogen syi’ah , mereka terbagi dalam kecendrungan kelompok dan sikap, dan dalam kleompok pun terbagi lagi dalam sikap-sikap yang berbeda. Secara umum S.H.M Jafri membagi kelompok masyarakat kufah menjadi :
1. Kelompok Pengikut setia terhadap keluarga Muhammad (pen-Ahlul Bait) baik pendatang lama maupun pendatang baru dalam masyarakat kufah dari berbagai klan dan suku.
2. Kelompok yang terdiri dari pemimpin klan dan kabilah yang kepentinganya tergantung pada kepentingan kedudukan politis dan monopoli ekonomi dan mereka memiliki pengikut yang tergantung pula pada pemimpin klan dan kabilahnya.
3. Kelompok masa kufah yang yang terdiri dari kebanyakan Yamani dan mawali. Kelompok ini bukanlah kelompok yang comited terhadap ahlul bait (Ali, Hasan dan Husain pen) tetapi bukan pula kelompok yang antusias kepada musuh-musuh Ahlul Ba’it. Mereka akan mengerumuni Ahlul Bait jika ada kepentingan praktis yang menguntungkan mereka, dan segera meninggalkan ahlul bait jika ancaman menghadapi mereka. Ketika dominasi syiria atas kufah dipahami oleh kelompok ini dapat di eliminer dengan melibatkan Imam Husain mereka menulis surat pada Imam Husain tetapi setelah kondisi dan situasi berubah maka berubahlah sikap kelompok ini [8]

Kesimpulnya adalah, bahwa fakta sejarah membuktikan bahwa pengirim surat kepada Imam Husain tersebut bukanlah di dominasi oleh Kelompok pertama, melainkan juga dilakukan oleh kelompok ke tiga, yang secara perwatakan tidak memiliki ketetapan hati melainkan tergantung situasi dan kondisi menguntungkan atau tidak bagi dirinya. Pertanyaanya, lalu dimana kelompok pertama di saat Imama Husai di kepung di Karbala ? ahli sejarah menuliskan sebagai berikut :

Upaya pembelaan muslim syiah terhadap Imam Husain.

Para penulis sejarah dari kalangan ahlu sunnah banyak menuliskan usaha kaum syiah kufah ( seperti disebutkan di atas dari kelompok pertama – pengikut setia) yang berusaha bergabung dalam rombongan Imam Husain as. Thabhari menceritakan secara detail bagaimana pengikut sejati Imam Husain (muslim syiah ) yang berusaha meloloskan diri dari blokade ketat tentara Yazid atas kufah agar dapat menuju karbala.
Thobari menceritakan bahwa seluruh akses yang akan dimanfaatkan untuk menuju karbala di blokade, sehingga mengurung pendukung Imama Husain untuk bergabung di Karbala dan hanya sedikit yang dapat lolos dari blokade [9]. Menurut catatan Thobari dan A l Azraqi Tatkala Imam Husain meninggalkan Makkah, hanya ada 50 orang bersamanya (18 orang keluarga Abi Thalib beserta kerabat dan 32 adalah non keluarga) dan yang terbunuh di karbala berjumlah 92 orang dan yang kepalanya di arak dan dipersembahkan kepada Ibnu Ziyad berjumlah 18 dari keluarga Rasulullah serta 54 orang dari pengikutnya di identifikasi dari suku klan, suku Hawazhin, Tamim, Asad, Madzhij, tsaqif, Azd dan 7 kepala tanpa identitas klan dan sisanya sekitar 20 klan terbunuh tanpa diketahui afilisai klan. Dari catatan sejahrawan tersebut para syi’ah sejati yang mampu meloloskan diri dan bergabung dikarbala hanya 42 orang, hal ini membuktikan betapa hebatnya pengepungan tentara Yazid untuk meblokade para pendukung Imam Husain [10]. Para pendukung Imam Husain (syiah) ini belakangan baru dapat memobilisasi dan mencoba menyadarkan masyarakat kufah dalam Gerakakan Tawwabun.

Memperhatikan Pidato Imam Husain as

Adalah bijaksana untuk memperhatikan redaksi pidato imam Husain, bahwa beliau sama sekali tidak pernah menyebut bahwa yang berkirim surat kepada dirinya adalah kaum syi’ah melainkan kaum kufah, sehingga ini harus dipahami sebagai beragamnya latar belakang para pengirim surat tersebut, perhatikan Pdato imam Husain :
WAHAI KAUM KUFAH, kalian mengirimkan kepadaku delegasi kalian dan menyurati aku… [11] jika belakangan dituduhkan bahwa Syi’ah turut membunuh tentunya Imam Husain akan berbidato dengan menyebut WAHAI SYI’AHKU… dan kami persilahkan untuk mencermati pidato pidato lain Imam Husain sengaja kami tidak postingkan secara utuh agar para penuduh dapat lebih mencermati dalam sumber-sumber sejarah.

Khatimah
Bahwa tuduhan syiah bertanggungjawab terhadap pembunuhan tidak langsung adalah fakta yang hanya bersifat fitnah dan tuduhan dan hal itu sudah di bantah dengan sendirinya dalam sumber-sumber kesejarahan. Fakta lain yang tidak di tulis dalam tulisan ini adalah bahwa niatan untuk membunuh Imam Husain adalah sudah direncanakan sendiri oleh Muawiyyah bin Abu sofyan, hal ini dapat dilihat pada dokumentasi surat wasiat Muawiyah yang diberikan kepada Yazid., pada kesmepatan lain Insya Allah kami akan membahasnya.

Wallahu alam bhi showab.

[1] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam, h. 270-271.
[2] Baladzuri, Ansyab al ayraf , h 435 termuat juga di Nmu’jam al Buldan, juz V hal 323.
[3] Untuk melihat komposisi struktur masyarakat kufah dan sikap politik mereka terhadap Imam Husain terkait surat-surat yang dikirim silahkan mempelajari
masing-masing group ini dalam Thabari,Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid I dan Kahhala, Mu’jam Qaba’il al arab
[4] Lihat di Khalif Hayat asy syi’r fi’l kufah hal 29.
[5] lihat pidato beliau di Khutbah Nahjul Balaghah No 21,23,24,42 dan lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk jilid I hal 3227
[6] ibid khotbah nahjul balaghah
[7] lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk jilid I hal. 3227
[8] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam, h. 180-181.
[9] lihat Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid II hal 236, 303 dan 335.
[10] ibid , hal 386, lihat pula di Ibshar al ’ain fi ahwal al anshar al Husain hal 47 dan akhbar Makkah hal. 259
[11] Ibid jilid II hal 298 lihat di Dinawari hal 249 dan Bidayah VIII hal 172.

RASULULLAH Saw MERATAPI HUSAIN as

Putra Paripurna menuliskan :
Terbunuhnya Al Husain tidaklah lebih besar dari dibunuhnya nabi-nabi. Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.

Demikian pula Umar, Utsman, dan Ali terbunuh. Dan mereka jelas lebih utama dari Al Husain . Sehingga jika meratapi kematian Al Husain adalah sebuah kebaikan, tentulah terbunuhnya mereka lebih pantas untuk diratapi. Tapi apa kata Rasulullah ? “Dua perkara yang menyerupai (perbuatan orang-orang yang) kufur di tengah manusia, yaitu: Mencela keturunan dan meratapi mayat.” (HR. Muslim). “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan masih banyak hadits Rasulullah yang menyebutkan ancaman bagi para peratap. Mestinya, seorang Muslim jika tertimpa musibah mengucapkan apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, artinya, “Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un.” (QS. Al Baqarah: 156). Bukan seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada hari ‘Asyuro.

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

Kami meluruskan terlebih dahulu bahwa syiah tidak meratapi dalam pengertian sebagaimana yang tercantum dalam riwayat Bukhari dan Muslim “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” Muslim syiah meratapi sebagaimana Rasulullah memberikan contoh meratap. Sebelum kami memberikan penjelasan lebih mendalam kami perlu menjelaskan apa difinisi meratap. Kamus Besar Bahasa Indoneis mendifinisikan meratap sebagai menangis dan kadang disertai dengan mengucapkan kata sedih atau menangis disertai ucapan yang menyedihkan jadi meratap bukan tindakan berlebihan seperti memukul, merobek dan lain-lain. Di berbagai kesempatan Rasulullah diceritakan meratap (baca menangis), diantaranya ketika beliau SAW menziarahi makam ibunda beliau saw Aminah, diceritakan Nabi saw menziarahi kubur Ibunya, Aminah, Beliau menangis dan menangislah orang-orang disekitarnya [1]

Ratapan terhadap imam Husain as, pada dasarnya adalah sunnah Rasulullah saw, sebagaimana beliau Rasulullah SAW bersabda ”Barangsiapa yang menangisi Husain ia berhak atas surga ” hadis diatas dijelaskan oleh Sayyid Muhammad al Musawi dalam catatan kaki bukunya sbb ” Menangisi imam Husain yang mengakibatkan masuk surga adalah menangisi yang didasari perasaan dan pengenalan atas Imam Husain serta mendukung misi suci sebagai simbol membela kebenaran dan kelompok tertindas jadi dan bukan semata-mata menangis. Orang-orang yang dianggap baik menangis dan dijanjikan Surga oleh Nabi adalah mereka yang menangis yang menangis dengan bersungguh-sungguh berjuang , berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya umtuk merealisasikan misi-misi Abu Abdillah al Husain yang pada hakekatnya misi Allah swt dari kerasulan Muhammad saw dan diutusnya semua para Nabi as.

Menangisi Husain yang menyebabkan masuk surga adalah menangis yang timbul dari hati yang penuh kebencian terhadap kaum penindas , sehingga kemudian menjadi serangan terhadap kebatilan dan revolusi atas orang-orang zalim. Tangisan seperti ini adalah bukan semata-mata tangisan, tetapi tangisan penerus perjuangan Imam Husain, sang syahid dan perjuangan Zaenab as serta ahlul bait dari karbala sampai syiria. Tangisan tersebut memberikan pengaruh yang besar dalam menggerakan rasa keberagamaan dan perasaan kemanusiaan pada masyarakat Islam, untuk senantiasa memperjuangkan mengalahkan kaum zalim yang menindas [2].

Jika di atas disebutkan bahwa menangisi Husain adalah Sunnah Rasulullah saw, berikut adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah menangisi Husain :

1. Al khawarizmi meriwayatkan dengan sanad dari Asma ninti Abu Umais berita yang panjang dimana pada bagian akhir ditulis bahwa Asma berkata, setelah Fatimah melahirkan Husain, Nabi datang kepadanya dan berkata ” Wahai Asma berikanlah kepadaku puteraku” kemudian menyerahkannya dengan diselimuti kain putih. Nabi mengadzaninya pada telinganya yang kanan dan mengiqomatinya pada telinga yang kiri, kemudian Nabi saw meletakkan dalam pangkuanya dan beliau menangis. Asma keheranan dan bertanya kepada Nabi, ”Demi ayah dan Ibuku, apa yang menyebabkan engkau menangis ?” Nabi menjawab ”karena putraku ini” Asma berkata ”dia baru saja lahir” Nabi menjawab ”wahai ’Asma, dia akan dibunuh oleh kelompok yang zalim yang tidak mendapatkan syafaatku” kemudian Nabi berkata , ”wahai Asma janganlah engkau memberitahu Fatimah akan hal ini, karena dia baru saja melahirkanya. [3]

2. Hakim Naishaburi, meriwayatkan dengan sanad dari Ummul Fadhl binti Harits, ”kemudian Fatimah melahirkan Husain dipangkuanku … suatu hari dia menemui nRasulullah SAW dan meletakkan Husain dalam pangkuanya, kemudian Rasulullah menangis mengucurkan air mata, saya bertanya ”wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku mengapa, engkau menangis” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang kepadaku memberi kabar bahwa umatku akan membunuh anakku ini” saya bertanya, ”anak ini ?” Nabi menjawab,”Betul, dan dia membawa tanah merah kepadaku, [4]

3. Ibn Sa’ad meriwayatkan dari ’Aisyah dia berkata ”Ketika Rasulullah saw sedang berbaring Husain datang merangkak kemudian aku menghalanginya. Aku bangun untuk suatu keperluan sehingga kami dekat denganya. Kemudian Nabi saw bangun dan menangis, saya bertanya ”mengapa engkau menangis ?” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang memperlihatkan kepadaku tanah dimana Husain terbunuh, maka Allah sangat murka kepada orang yang membunuhnya…” [5]

4. Diceritakan oleh ulama ahlu sunnah Umar bin Khudr uang dikenal sebagai Mallb diriwayatkann dari Ummu Salamah dia berkata, Bahwa dia mendengar Nabi Saw menangis di rumahny, kemudian dia menemuinya. Ummu Salamah melihat Husain bin Ali r.a dalam pangkuanya atau disampingnya dimana beliau mengusap kepalanya dan menangis, dia bertany, ”wahai Rasulullah, mengapa engkaumenangis ?” Nabi Saw menjawab, ”Sesungguhnya jibril memberitahuku bahwa anakun ini akan terbunuh di tanah Irak yang disebut Karbala” kemudian Nabi memberiku segenggam tanah merah dan berkata, ”ini adalah tanah dimana Husai terbunuh, Jika dia menjadi darah ketahuilah bahwa dia telah terbunuh”. Kemudian dia simpan tanah itu dalam botol dan berkata bahwa hari ketika tanah ini berubah menjadi darah adalah hari yang sangat dahsyat [6]

Dengan begitu bertebaranya riwayat yang menceritakan Rasulullah meratapi (menangisi) imam Husain maka kami para pengikut Ahlul bait pun mencontoh Rasulullah menangisi atas tragedi yang menimpa Imam Husain as. Jadi kami mengikuti sunnah Rasulullah, mengapa kalian yang mengklaim sebagai ahlu sunnah justru menolak sunnah Rasulullah saw ? Bahkan kalian di hari asyura menggelar pesta kegembiraan sebagi manifestasi kegembiraan Yazid bin Muawiyah, Siapakah sebenranya yang mengikuti Sunnah Rasulullah ? jawabnya adalah kami syi’ah dan Siapakah yang mengikuti Sunnah Yazid bin Muawiyah ? adalah kalian bukankah begitu ?

Tentang Tafsiran QS. AL Baqarah : 156

Mohon maaf sebelumnya, saya menduga antum banyak mengutip argumentasi dari kaum sunni wahabi, hal ini tampak jelas antum sedemikian saja menafsirkan Al Qur’an. Perlu kami sampaikan bahwa kaum sunni wahabi sangat jahil dalam menafsirkan Al Quran bahkan tanpa menggunakan kaidah penafsiran yang benar. Untuk mengetahui kejahilan kelompok sunni wahabi dalam menafsirkan Al Qur’an kami persilahkan antum mendalami dalam kitab Tahkukumul Muwalliddin bi man adda’a Tajdidad Diin” karya Syekh Muhammad bin Abdur Rahman bin Afaaliq anda akan ketemukan bagaimana mereka jahil dalam menafsirkan Al Qur’an.

Kami hanya akan mengulas seperlunya saja dalam masalah penafsiran. Rasulullah saw dibanyak kesempatan bersabda ” Hai Manusia aku tinggalkan apa saja yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan, selama kamu berpegang teguh padanya yaitu : KITABULLAH (AL QUR’AN) dan ITRAHKU AHLUL BA’ITKU keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud, Hati-hatilah dengan perlakuanmu atas keduanya sepeninggalku nanti, maka janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu” [7] Maka dalam hal penafsiran pun kami mengikuti para Imam Ahlul Ba’it dan tidak mendahului mereka dan konsekuensi logis dari merasa lebih pintar dari Rasulullah dan 12 Imam Ahlul Bait akan menyebabkan tersesat. Dalam masalah penafsiran ini Imam Ali Zaenal Abidin as mengatakan ” Kitab Al Qur’an terdiri atas empat hal : Ibarah (diksi,teks); isyarah (indiksi), latha’if (kehausan) dan haqa’iq (hakekat). Ibarah adalah untuk orang-orang awam, Isyarah untuk orang-orang pilihan, latha’if untuk awliya dan haqa’iq untuk para Nabi” dan Imam Muhammad al Baqir mengatakan :” “Al Qur’an mempunyai bathn (aspek esoteris) dan bahwa bathn itu pada giliranya mempunyai bathn juga. dan Al Qur’an juga mempunyai zahr (aspek eksoteris) dan zahr itu juga mempunyai zahr lagi. Dan tidak sesuatu yang lebih jauh dari intelek manusia ketimbang tafsir Al Qur’an ini. Awal suatu ayat berkenaan dengan sesuatu dan akhirnya suatu ayat berkenaan dengan sesuatu yang lainya dan ia adalah kalam atau perkataan berkesinambungan yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda”
Nah tentu saja Rasulullah adalah yang paling paham terhadap Al Qur’an. Para ahli Tafsir diantaranya Alamah Husain Thobaththaba’i yang memiliki magnum opus tafsir berjudul Tafsir Al Mizan menyebutkan bahwa metodologi penafsiran itu diantaranya terdiri adalah Tafsir Bil Ma’tsur yakni upaya menjelaskan Al Qur’an dengan mengutip penjelasan yang sudah ada, jenisnya diantaranya : Tafsir Al Qur’an bi Al Qur’an, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an sendiri ; Tafsir Al Qur’an bi Sunnah, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan sunnah Nabi; . Tafsir Al Qur’an bihwalis Shahabah, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan ucapan shahabat; dan Tafsir Al Qur’an bi akwail ‘ulama, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan ucapan ulama selain shahabat. [8]

Ketika disodorkan ayat “orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un” (QS. Al Baqarah: 156). Muslim syiah hanya mencontoh sunnah Rasulullah bagaimana beliau SAW menyikapi Trageidi tersebut, dan tentu saja beliau SAW sangat mengetahui makna lahir dan bathn ayat tersebut dan prilaku beliau SAW adalah prilaku Al Qur’an jadi kami mencontoh prilaku Rasulullah SAW yang Qur’ani tersebut. Kalau kemudian ada manusia yang lebih pintar dan lebih memahami soal tafsir dari rasulullah SAW beserta Imam Ahlul Ba’it ya silahkan saja mengklaim, tetapi dipastikan tafsiranya keliru dan bila merasa tafsirannya terhadap Al Qur’an lebih unggul pemahamanya daripara Imam Ahlul ba’it dipastikan keliru juga karena Rasulullah telah menyebutkan : ” janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu”

Wallahu alam bhi showab

[1]. Muslim, Shahih, juz 1hlm 359
[2]. Sayyid Muhammad al Musawi, Madzhab Syiah, hal 414
[3] Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : al Khawarizmi, maqtal al Husain; Hamwaini, Faraid al Simthin, juz 2 h 103, Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq hadis ke 13 dan 14 tentang biografi Husain, Samhudi , Jawahir al Aqdaini.dll
[4] Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : Hakim Naishaburi, al Mustadrak, juz 3 h 176, Baihaqi, Dalail al Nubuwwah, juz 6 h 468, Ibnu Katsir, Bidayah wa al Nihayah, Juz 6 hlm 230 dll
[5] Lihat di al Thabaqat al Kubra, Juz 8 h 45; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, hadis No 229, Ibnu hajar, al Shawa’iq al Muhriqah, Qanduzi, Yanabi’ al Mawaddah, Ibnu ’Adim, Bughyah al Thalib fi Tarikh Halb, Juz 7 h 78 dan Daruqutni, alI’lal, juz 5 h 83.

[6] Dikalangan ahlu sunnah hadis ini begitu banyak diriwayatkan oleh para ulama sunni diantaranya : Ibnu Sa’ad, Thabaqat, juz 8 hadis no 79. Thabari, Dakhair al ’Uqba hlm 147. Abu Bakar bin Abu Sya’ibah, al Mushannaf, Juz 15 hlm 14 hadis no 19213. Ibnu Hajar, al Mathalib al ’aliyah, juz 4 h 73. Thabari, al Mu’jam al Kabir, juz 3 h 114, Ibnu Asakir, Tarikh, hadis No 223, Al Maziyyi, Tahdzib Halb, Juz 7 h 56 hadis No 8, Haitsami, Majma’ al Zawaid, Juz 9 h 192, Hakim, Al Mustadrak, juz 4 h 389, baihaqi, Dalail al Nubuwah, Juz 6 h 468, Ibnu katsir, al Bidayah w al Nihayah, Juz 3 h 230 dan masih banyak lagi

[7] Hadis ini diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim, Kitab Shahih, Juz VII, hlm 122 Al Tirmidzi, juz 2, hlm 307 . Al Nasai, Kitab Kasha’ish, hlm 30. Imam Ahmad bin Hambal, Kitab Musnad, Juz 3 hlm 13 & 17; Juz 4 hlm 26 & 59; Juz 5 hlm 182 & 189 5. Muhammad bin Habib al-Baghdadi, Kitab Al-Munamaq juz 9. Abu Dawud, Kitab Tadzkirah Khawash al-Ummah, hlm 222. Ibnu Atsir, Kitab Jami’ al-Ushul, juz 1 hlm 178. Ibn Katsir, Kitab Tarikh, Juz 5 hlm 208 & 457. Al Fakhr al razi, Kitab tafsirnya. al Kunuji al-Syafi’i, Kitab Kifayah al Thalib, pada Bab I kami mencatat tidak kurang 160 an kitab sunnah meriwayatkan hadis ini.

[8] Lihat Ulumul Quran, Penerbit Lentera.

Tanggapan Ibnu Jakfari
Nabi Muhammad Saw. Penggagas Ritual Ratapan Atas Kesyahidan Imam Husain As.

Setiap kali bulan Muharram tiba, para pecinta Rasulullah saw. dan pengikut setia Ahlulbait as. di seluruh penjuru dunia memperingati kesyahidan Imam Husain as.; cucu terkasih Nabi Muhammad saw. Mereka meperingatinya dengan membaca kembali sejarah tragedi Karbala yang sangat memilukan dan menyayat hati setiap yang orang yang memliki nurani sehat… Mereka mencucurkan air mata kesedihan, meratapi kesyahidan Imam Husain as. dan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan munafik yang biadab terhadap keluarga dan keturunan Nabi saw.!

Namun di balik sana, ada sekelompok yang menamakan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad saw. namun mereka merayakannya sebagai hari kejayaan Islam dan kemenangan sang Khalifah Amirul Mukminin Yazid putra Mu’awiyah putra Abu Sufyan yang telah membantai keluarga suci Nabi Muhammad saw.! Hari Asyûrâ’ menjadi hari penuh kebahagiaan bagi bani Umayyah dan pengikut mereka! Lalu sebagian kaum Muslimin tertipu oleh kepalsuan propaganda sesat bani Umayyah.

Dalamkesempatan ini, kami hanya akan mencari tau akar dan asal muasslam tradisi masyrû’iyyah menangisi kesyahidan Imam Husain as.? hanya itu sementara yang saya ningin terlusuri… mengingat ada sebagian anggapan yang salah dengan menuduuhnya sebagai tradisi buruk yang dilarang dalam Islam!

Nabi saw. lah yang Mencontohkan Dan Mengajarkan Kepada Umat Islam Dimasyrû’kannya Menangisi Imam Husain as.!

Dalam banyak hadis shshih disebutkan bahwa sesaat setelah Imam Husain as. lahir dan dibawakan kepangkuan suci Nabi saw. beliau menggendongnya dan mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya… Setelahnya beliau saw. meneteskan air meta kesedihan atas cucu tercintanya tersebut.. ketika ditanya mengapa beliau menangis, beliau menjawab bahwa Malaikat Jibril as. baru saja mengabarkan kepada beliau bahwa cucu tercintanya ini krlak akan dibantai oleh sekawanan orang yang mengaku sebagai umatnya… beliau bersabda bahwa mereka tidak akan mendapakan syafa’at beliau. Hadis-hadis tentang masalah ini sangat banyak jadi tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Tetapi paling tidak satu hadis dapat meyakinkan kita jika kita memang beriman kepada kesucian sunnah Nabi saw.

Para ulama meriwayatkan bahwa: Ketika Husain as. lahir, Nabi saw. berkata kepaqda Asmâ’, “Hai Asmâ’, bawakan kemari putraku!” Lalu aku bawakan dia kepada beliau dalam kain selimut berwarna putih, beliau mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya, setelahnya beliau meletakkannya di pangkuannya dan beliau menangis.

Asmâ’ berkata, “Semoga ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, mengapa Anda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Aku menangisi putraku ini.”

Aku berkata, “Bukankah ia baru saja lahir. Ini adalah saat gembira, lalu bagaimana ANda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Hai Asmâ’ ia akan dibunuh oleh Fi’atun bâghiyah (kelompok pembangkang). Semoga Allah tidak memberi mereka syafa’atku.”

Lalu beliau bersabda kepada Asmâ’, “Hai Asmâ’ jangan engkau kabarkan berita ini kepada putriku Fatimah, ia baru saja melahirkannya.”[1]
[1] Banyak sekali rujukan yang menjadi sumber hadis di atas, di antaranya Jawâhir al Aqdain; as Samhudi.

BENARKAH IMAM ALI BIN ABI THALIB as MENAMAKAN PUTRANYA ABU BAKAR, UMAR DAN USTMAN ?

Putra Praipurna Menuliskan :
”Dalam tragedi mengenaskan ini (di karbala), di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali. Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syiah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syiah”

Second prince Menanggapi :

Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman maka itu berarti Imam Ali mengagumi dan berhubungan baik dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya tidak membela siapa-siapa disini, tugas saya hanya memaparkan data yang jelas dan mengoreksi kekeliruan asumsi-asumsi yang ada. Mengenai pandangan saya sendiri terhadap ketiga khalifah maka bagi saya “tidak ada masalah”.
Benarkah Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman?. Tentu untuk menjawab masalah ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan studi literatur. Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas satu persatu.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Abu Bakar

Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khuraasy salah seorang Ulama Salafy yang mengecam Syiah dalam kitabnya As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 7 mengatakan dengan pasti bahwa Imam Ali menamakan anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman yaitu nama ketiga khalifah. Ia berkata

علي رضي الله عنه كما في المصادر الشيعية يسمِّي أحد أبنائه من زوجته ليلى بنت مسعود الحنظلية باسم أبي بكر، وعلي رضي الله عنه أول من سمَّى ابنه بأبي بكر في بني هاشم

Ali radiallahuanhu yang menjadi rujukan Syiah menamakan salah satu dari anak-anaknya dari istrinya Laila binti Mas’ud dengan nama Abu Bakar, dan Ali radiallahuanhu adalah yang pertama dari Bani Hasyim yang menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar.

Jika melihat catatan kaki dalam kitab tersebut maka dapat dilihat bahwa Syaikh Sulaiman mengutip dari Kitab Al Irsyad Syaikh Mufid, Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani dan Tarikh Al Yaqubi. Saya merujuk pada kitab-kitab yang disebutkan oleh Syaikh dan ternyata terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Sulaiman.
.
Dalam kitab Al Irsyad Syaikh Mufid hal 354 memang disebutkan nama anak-anak Imam Ali dan pada bagian anak Laila binti Mas’ud disebutkan

ومحمّدُ الأصغر المكًنّى أبا بكرٍ وعًبَيْدُاللهِ الشّهيدانِ معَ أخيهما الحسينِ عليهِ السّلامُ بالطّفِّ ، أُمُّهما ليلى بنتُ مسعود الدّارميّةُ

Muhammad Al Asghar dengan kunniyah Abu Bakar dan Ubaidillah yang syahid bersama saudaranya Al Husain Alaihissalam, Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad Darimiyah.
Jadi Abu Bakar itu bukanlah nama sebenarnya tetapi hanyalah nama panggilan atau kunniyah sedangkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebenarnya adalah Muhammad Al Asghar. Hal ini berarti Imam Ali tidaklah menamakan putranya dengan nama Abu Bakar melainkan Muhammad.
.Dalam Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani hal 56, beliau mengatakan pada bagian “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib”

لم يعرف اسمه ، وامه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم

Tidak diketahui namanya, dan ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rabi’ bin Aslam bin Jandal bin Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manat bin Tamim.

Abu Faraj Al Asbahani mengaku tidak mengetahui nama asli Abu Bakar bin Ali, dalam hal ini ia menganggap bahwa Abu Bakar adalah nama panggilan atau kunniyah. Memang dalam kitab Tarikh Al Yaqubi 1/193 tidak disebutkan siapa namanya hanya menyebutkan Abu Bakar, hanya saja jika memang Syaikh Sulaiman bin Shalih merujuk pada kitab-kitab yang ia sebutkan maka sangat jelas bahwa nama Abu Bakar itu adalah kunniyah bukannya nama asli. Oleh karena itu menyatakan bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar adalah keliru. Di sisi ulama syiah sendiri, Abu Bakar bin Ali dikenal dengan nama Muhammad Al Asghar dan ada pula yang menyatakan namanya Abdullah.

Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dalam Kitabnya Ansharu Husain hal 135 memasukkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu dari mereka yang syahid di Karbala, beliau berkata
قال الاصفهاني : لم يعرف إسمه ( في الخوارزمي : إسمه عبد الله ) . أمه : ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك

Al Asfahani berkata “tidak diketahui namanya” (Al Khawarizmi berkata : namanya Abdullah). Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik.
.

Sayyid Jawad Syubbar dalam kitabnya Adab Al Thaff 1/57 berkata
ابو بكر بن علي بن أبي طالب واسمه محمد الأصغر أو عبد الله وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد

Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, namanya Muhammad Al Asghar atau Abdullah dan Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid.

Jadi disisi Ulama syiah maka Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib adalah nama panggilan yang masyhur sedangkan nama aslinya ada yang mengatakan Muhammad Al Asghar dan ada yang menyatakan Abdullah. Oleh karena itu bagi Ulama Syiah “Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar”.

Kalau melihat dari literatur Sunni maka saya pribadi belum menemukan adanya keterangan siapakah nama sebenarnya Abu Bakar, Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat Kubra 3/19 hanya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya Laila binti Mas’ud, tetapi keterangan Abul Faraj Al Asbahani dalam Maqatil Ath Thalibiyyin di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar itu adalah nama panggilan atau kunniyah. Abu Faraj Al Asbahani memang dikatakan oleh Adz Dzahabi sebagai Syiah tetapi menurut beliau Abu Faraj seorang yang jujur.

Adz Dzahabi berkata tentang Abul Faraj Al Asbahani dalam kitabnya Mizan Al Itidal 3/123 no 5825
والظاهر أنه صدوق

Yang jelas, dia seorang yang jujur.

Dalam Siyar A’lam An Nubala 16/201, Adz Dzahabi berkata kalau Abul Faraj Al Asbahani adalah seorang pakar sejarah, lautan ilmu, tahu tentang nasab, hari-hari bangsa arab dan menguasai syair. Adz Dzahabi juga menegaskan bahwa salah satu tulisannya adalah Maqatil Ath Thalibiyyin, kemudian pada akhirnya Adz Dzahabi berkata “la ba’sa bihi” atau tidak ada masalah dengan dirinya.

Dalam Lisan Al Mizan jilid 4 no 584, Ibnu Hajar juga mengatakan hal yang sama dengan Adz Dzahabi bahwa Abul Faraj seorang yang jujur. Ibnu Hajar juga berkata

وقد روى الدارقطني في غرائب مالك عدة أحاديث عن أبي الفرج الأصبهاني ولم يتعرض

Ad Daruquthni meriwayatkan sejumlah hadis dari Abul Faraj Al Asbahani dalam Ghara’ib Malik tanpa membantah atau menolak riwayatnya.

Semua keterangan di atas menyimpulkan baik di sisi Sunni maupun Syiah nama Abu Bakar putra Imam Ali adalah nama panggilan yang masyhur untuknya, sehingga dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar. Selain itu Abu Bakar adalah panggilan yang masyhur dan tidak hanya dimiliki oleh Abu Bakar khalifah pertama yang nama aslinya sendiri adalah Abdullah bin Utsman.

Dalam Kitab Al Ishabah Ibnu Hajar 4/26 no 4570 disebutkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Rabi’ah, di kitab Al Ishabah 4/90 no 4685 disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair salah seorang sahabat Nabi juga memiliki kunniyah Abu Bakar dan dalam Al Ishabah 7/44 no 9625 terdapat salah seorang sahabat yang dipanggil dengan Abu Bakar Al Laitsiy yang nama aslinya adalah Syadad bin Al Aswad. Keterangan ini menunjukkan bahwa kunniyah Abu Bakar tidak mutlak milik khalifah pertama dan bisa disematkan pada siapa saja.

Putra Imam Ali Yang Bernama Umar
Syaikh Sulaiman bin Shalih juga menyebutkan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 5
رقية بنت علي بن أبي طالب، عمر بن علي بن أبي طالب ـ الذي توفي في الخامسة والثلاثين من عمره
وأمهما هي: أم حبيب بنت ربيعة

Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Hubaib binti Rabi’ah.

Dalam hal ini memang benar nama putra Imam Ali tersebut adalah Umar, tetapi tidak benar jika dikatakan Imam Ali menamakan putranya Umar karena yang menamakan Umar adalah Khalifah Umar bin Khattab. Adz Dzahabi menyebutkan dalam As Siyar A’lam An Nubala 4/134 biografi Umar bin Ali bin Abi Thalib
ومولده في أيام عمر فعمر سماه باسمه ونحله غلاما اسمه مورق

Beliau lahir pada masa khalifah Umar dan Umar menamakan dengan namanya, kemudian memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.

Al Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf hal 192 juga mengatakan hal yang sama
وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا

Umar bin Khattab menamakan Umar bin Ali dengan namanya dan memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.

Jadi pernyataan Syaikh Sulaiman Al Khuraasy bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Umar adalah keliru, yang benar Umarlah yang menamakan anak Imam Ali dengan nama Umar.
Sebagian pengikut salafy yang mengetahui fakta ini tetap saja berdalih dan terus mengecam syiah, mereka mengatakan kalau memang Imam Ali membenci dan melaknat Umar maka tidak mungkin beliau mau anaknya dinamakan oleh Khalifah Umar dengan namanya. Cara berpikir seperti ini keliru. Keputusan Imam Ali yang membiarkan anaknya dengan nama Umar bukan berarti beliau mengagumi Umar bin Khattab dan bukan berarti pula saya mengatakan Imam Ali membenci dan melaknat Umar. Dalam hal ini nama Umar adalah nama yang umum sehingga tidak ada masalah bagi Imam Ali untuk menerimanya. Bahkan nama Umar adalah nama salah satu dari anak tiri Nabi yaitu Umar bin Abi Salamah yang dalam sejarah hidupnya pernah diangkat sebagai gubernur Bahrain oleh Imam Ali dan beliau sahabat yang tetap setia kepada Imam Ali dalam Perang Jamal. Oleh karena itu nama Umar bagi Imam Ali bukanlah nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya.
.

Dalam Al Ishabah Ibnu Hajar 4/588-597 didapatkan banyak sahabat yang bernama Umar diantaranya

* Umar bin Hakim Al Bahz (Al Ishabah no 5739)
* Umar bin Khattab (Al Ishabah no 5740)
* Umar bin Sa’ad Al Anmari (Al Ishabah no 5741)
* Umar bin Sa’id bin Malik (Al Ishabah no 5742)
* Umar bin Sufyan bin Abad (Al Ishabah no 5743)
* Umar bin Abi Salamah (Al Ishabah no 5744)
* Umar bin Ikrimah bin Abi Jahal (Al Ishabah no 5745)
* Umar bin Amr Al Laitsi (Al Ishabah no 5746)
* Umar bin Umair Al Anshari (Al Ishabah no 5747)
* Umar bin Auf An Nakha’i (Al Ishabah no 5748)
* Umar bin La Haq (Al Ishabah no 5749)
* Umar bin Malik (Al Ishabah no 5750)
* Umar bin Malik bin Utbah (Al Ishabah no 5751)
* Umar bin Muawiyah (Al Ishabah no 5753)
* Umar bin Wahab Ats Tsaqafi (Al Ishabah no 5754)
* Umar bin Yazid (Al Ishabah no 5755)

Jadi nama Umar adalah nama yang umum di kalangan sahabat dan tidak selalu mesti merujuk pada Khalifah Umar. Intinya Imam Ali tidak menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya. Khalifah Umar boleh saja menganggap nama Umar bin Ali itu berasal dari namanya tetapi tidak bisa dikatakan kalau bagi Imam Ali nama Umar mesti merujuk pada Umar bin Khattab karena bisa saja dikatakan bahwa nama Umar itu adalah nama yang umum sehingga Imam Ali tidak keberatan untuk menerimanya atau nama Umar itu bagi Imam Ali mengingatkannya pada Umar bin Abi Salamah anak tiri Nabi dan salah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.

Putra Imam Ali yang bernama Utsman

Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khurasy mengatakan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 4
عباس بن علي بن أبي طالب، عبدالله بن علي بن أبي طالب، جعفر بن علي ابن أبي طالب، عثمان بن علي بن أبي طالب أمهم هي: أم البنين بنت حزام بن دارم

Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.
Saya katakan memang benar Imam Ali memiliki satu putra yang bernama Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Tetapi lagi-lagi keliru kalau dikatakan nama Utsman mesti merujuk pada Khalifah Utsman. Nama Utsman adalah nama yang umum pada masa Jahiliyah dan masa Nabi. Ayah Abu bakar khalifah pertama bernama Utsman bin Amir. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/169 disebutkan bahwa nama sebenarnya Ayah Abu Bakar yang bergelar Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Bukankah ini berarti nama Utsman sudah ada pada masa jahiliyah.
Pada masa sahabat cukup banyak sahabat yang bernama Utsman. Saya menemukan lebih dari 20 orang sahabat yang bernama Utsman seperti yang tertera dalam Al Ishabah 4/447 no 5436 sampai 4/463 no 5461 diantaranya (hanya disebutkan sebagian)

* Utsman bin Hakim (no 5437)
* Utsman bin Hamid bin Zuhayr (no 5438)
* Utsman bin Hunaif Al Anshari, Imam Tirmidzi mengatakan kalau beliau ikut perang Badar (no 5439)
* Utsman bin Said Al Anshari (no 5442)
* Utsman bin Amir, Abu Quhafah (no 5446)
* Utsman bin Utsman Ats Tsaqafi (no 5451)
* Utsman bin Affan (no 5452)
* Utsman bin Mazh’un (no 5457)

Jadi nama Utsman itu adalah nama yang umum dan tidak bisa langsung dikatakan begitu saja merujuk pada Utsman bin Affan. Lagipula Abul Faraj Al Asbahani menyebutkan bahwa nama Utsman putra Ali dinamakan oleh Imam Ali dengan merujuk pada Utsman bin Mazh’un. Hal ini disebutkan dalam Maqatil Ath Thalibiyyin hal 55 ketika menerangkan tentang “Utsman bin Ali bin Abi Thalib”.

روى عن علي أنه قال . إنما سميته باسم أخي عثمان ابن مظعون

Diriwayatkan dari Ali yang berkata “Sesungguhnya aku menamakannya dengan nama saudaraku Utsman bin Mazh’un”.
Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang sahabat Nabi yang cukup dikenal keutamaannya. Beliau wafat di masa Nabi SAW setelah perang Badar. Terkenal ucapan Nabi SAW atas beliau ketika salah satu putri Nabi SAW meninggal, beliau SAW berkata

الحقي بسلفنا الصالح الخير عثمان بن مظعون

Susullah pendahulu kita yang shalih lagi baik Utsman bin Mazh’un

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad no 2127 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Imam Ali memang menamakan putranya dengan nama Utsman yang merujuk pada Utsman bin Mazh’un.

Kesimpulan

Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini
1. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar karena Abu Bakar adalah nama panggilan
2. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Umar tetapi Khalifah Umar yang memberi nama Umar dan Imam Ali menerima nama tersebut karena nama Umar mengingatkan Beliau akan nama Umar bin Abi Salamah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
3. Imam Ali menamakan putranya dengan nama Utsman yang diambil dari nama Utsman bin Mazh’un

Ibnujakfar menanggapi :

Imam Ali as. Tidak Menamakan Putranya Dengan Nama Umar!

Tidak jarang sebagian juru kampaye sekte Wahhabi melontarkan pernyataan bahwa Imam Ali as. telah memberi nama putra beliau dengan nama Umar sebagai bukti keintaan dan pengagungan kepada Umar ibn al Khaththab… Akan tetapi hal itu hanya sekedar isu yang tidak samar lagi tendensinya!

Namun ketika kita meneliti data-data sejarah yang ada, akan kita menemukan bahwa Imam Ali as. tidak pernah menamai putranya itu dengan nama Umar! Khalifah Umar lah yang menamai bocah itu dengan nama Umar… dan akhirnya nama itu melekat dikenal di kalangan sebagian kaum Muslimin… mengingat Umar sekalu Khalifah umat Islam telah menyebut-nyebut bocah itu dengan nama Umar!

Perhatikan beberapa kutipan sejarah di bawah ini:

Adz Dzahabi (yang sangat dibanggakan kaum Wahhabi) melaporkan ketika menyebut data sejarah Umar putra Ali ibn Abi Thalib:

ومولده في أيام عمر ، فعمر سماه باسمه ، ونحله عبده مورقا.

“Ia lahir di masa kekhalifahan Umar. Maka Umar menamainya dengann namanya (Umar) dan Umar memberikan kepadanya seorang budak sahayanya bernama Mauraq.” (Baca Siyar A’lâm an Nubalâ’:4/134)

Al Balâdzuri seorang sejarahwan Sunni terkenal juga melaporkan dalam Ansâb al Asyrâf:192:

وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا.

“Dan adalah Umar ibn al Khtahthab telah menamakan Umar putra Ali dengan namanya. Dan ia menganugerehkan kepada budak sahayanya yang bernama Mauraq.”

Dari sini jelaslah bagi kita bahwa yang menamakan putra Ali dengan nama Umar bukan Imam Ali as., akan tetapi Khalifah Umar ibn al Khaththab. Dan setelahnya nama itu melekat pada bocah tersebut hingga dewasa.

Dan dengan demikian tidaklah berharga fitnah yang dibesar-besar sebagian juru kampenye sekte Wahhabi bahwa pemberian nama itu mencerminkan kecintaan dan pengagungan Imam Ali as. kepada Umar!

Bukti-bukti sejarah di atas bukan tidak diketahui oleh mereka, akan tetapi para juru kampanye Wahhabi memang senang menikmati kajahilan kaum awam dengan menyebarkan isu dan fitnah murahan!

Selain itu, andai benar Imam Ali as. yang memberi nama putranya dengan nama Umar, apa itu bererti secara tegas menunjukkan kecintaan dan atau mengagungannya terhadap Khalifah Umar?!

Lagi pula, jika Anda menyempatkan diri melecak nama-nama sahabat Nabi saw. dalam kitab al Ishâbah karya Ibnu Hajar Anda pasti akan menemukan tidak kurang dari dua puluh sahabat bernama Umar, salah satunya adalah Umar ibn al Khaththab.

Hal lain dalam sejarah disebutkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husain as. telah menamakan putra beliau dengan nama Ubaidullah. Lalu apakah itu artinya beliau mencintai Ubaidulah ibn Ziyâd yang tangannya telah berlumuran darah suci Ahlulbait Nabi saw. di Karbala’? dan yang semua kaum Muslimin membencinya dan mengutuknya kecuali para munafikun!

Jadi berdalil dengan kepalsuan sama sekali tidak akan mampu menegakkan kebenaran… dan sekedar berdalil dengan penamaan –andai benar terjadi- tidak cukup! Ia masih multi dalâlah dan interpretasi!!

Isu Niatan Pernikahan Imam Ali as. Dengan Putri Abu Jahal

Disebutkan bahwa Imam Ali as. berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan istri kedua disamping sayyidah Fatimah as. kemudian berita tersebut terdengan oleh Fatimah as. dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali as. kepada Nabi; ayah Fatimah as., seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal. Mendengan berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengiznkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyikitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya.

Dalam pidato itu Nabi saw.menyebut-nyebut menantu beliau yang lain dari keluarga Bani Abdusy-Syams bermana Abu al-Aash ibn ar-Rabi’ dan memuji-mujinya dengan kesetiaan dan kejujuran.

Inilah sekilas kisah tersebut sebagaimana saya rangkum dari riwayat-riwayat para muhadis.

Para Periwayat Berita

Hadis tentangnya telah diriwayatkan oleh hampir semua muhadis kenamaan Ahlussunah dalam kitab-kitab Shihah, Sunan dan Masanid mereka.

* Al-Bukhari dalam Shahihnya beriwayatkannya dalam beberapa kesempatan:

1. Kitab al-Khums.[1]

2. Kitab an-Nikah.[2]

3. Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi).[3]

4. Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-istri).[4]

* Muslim meriwayatkan bebarapa riwayat tentangnya dalam Shahihnya: Bab Fadha’il Fatimah.[5]
* At-Turmudzi meriwayatkan dua riwayat dari; Miswar ibn Makhramah dan dari Abdullah ibn Zubair.[6]
* Ibnu Majah meriwayatkan dua riwayat dalam Sunannya;dalam kitab an-Nikah, bab al-Ghirah (bab; kecemburuan).[7]
* Abu Daud meriwayatkan beberapa riwayat dalam kitab an-Nikah.[8]
* Al-Hakim dalam Mustadraknya meriwayatkan beberapa hadis tentangnya.[9]
* Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya.[10]
* Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan tidak kurang dari tiga belas hadis tentangnya.[11]

Dan beberapa muhadis selain mereka, seperti al-haitsami dalam Maj’ma’ az-Zawaid[12], Ibnu Hajar dalam al-mathalib al-’Aaliyah Bi Zawaid al-Masanid ats-Tsamaniyah[13]dan al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul-Ummalnya.[14]

Sekilas Tentang Para Periwayat

Dari penelusuran jalur-jalur periwayatan kisah tersebut dalam kitab-kitab Shihah, Masanid dan Ma’ajim… akan kita temukan nama-nama yang menjadi pangkal penyampaian kisah tersebut, nama-nama itu sebagai berikut:

1. Miswar ibn Makhramah.
2. Abdullah ibn Abbas.
3. Ali Ibn Husain as.
4. Abdullah ibn Zubair.
5. Urwah ibn Zubair.
6. Muhammad ibn Ali.
7. Suwaid ibn Ghaflah.
8. Amir asy-Sya’bi.
9. Ibnu Abi Mulaikah.
10. Seorang dari penduduk Makkah.

Tentang jalur Riwayat Miswar

Jalur Miswar adalah satu-satunya jalur yang disepakati penukilannya oleh para penulis Shihah, ia jalur yang dipilih Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Jalur Ibnu Zubair hanya kita temukan dalam rirawat at-Turmudzi dan iapun telah menyangsikannya, dan jalur Urwah hanya ada pada riwayat Abu Daud.

Maka untuk mempersingkat kajian kita kali ini saya akan membatasi telaah saya pada jalur Miswar ibn Hakhramah.

Jalur-jalur periwayatan dari Miswar sampai kepada kia melalui perantara-perantara dibawah ini:

1. Ali ibn Husain (Imam Zainal Abidin as.)

2. Abdullah ibn Ubaidillah uibn Mulaikah.

Perawi yang menukil riwayat kisah itu dari Imam Zainal Abidin as. hanyalah Muhammad ibn Syihab az-Zuhri.

Sementara yang menyambungkin kita dengan riwayat Ibnu Abi Mulaikah adalah:

1. Laits ibn Sa’ad.
2. Ayyub ibn Abi Tamimah as-Sakhtiyani.

Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah meiwayatkannya dari jalur Abu al-Yaman dari Syu’aib dari Az-Zuhri. Dan juga Bukhari, Muslim, Adu Daud dan Ahmad meriwayatkannya dari Walib ibn Katsir dari Muhammad ibn ‘Amr ibn Halhalah dari Az-Zuhri. Sebagaimana juga Muslim meriwayatkannya dari An-Nu’man dari Az-Zuhri.

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin membeber tentang data Abu al-Yaman; Al-Hakam ibn Nafi’ dan periwayatannya dari Syu’aib ibn Hamzah tukang tulis Az-Zuhri, kendati para ulama’ telah banyak membicarakan dan menyangsikan kejujurannya.[15]sehingga sebagaian ulama’ menegaskan bahwa Abu al-Yaman tidak pernah mendengar barang sepatah dua kata dari Syu’aib, dan perlu di ketahui bahwa keduanya adalah penduduk kota Himsh yang di kenal membenci Ali as.[16] dan di kenal kedunguan mereka, sampai-sampai dijadikan contoh pepatah.[17]

Saya juga tidak akan membeber biodata Walib ibn Katsir yang khwarij itu.[18]

Saya tidak akan membeber tentang Ayyub dan Laits yang sering mengada-ngada hadis palsu itu,[19] tidak juga tentang Nu’man ibn Rasyid al-Jazri, yang sangat dicacat oleh al-Qaththan , Ahmad, Ibnu Ma’in, Bukhari, Abu Hatim,Ibnu Abi Hatim,Abu Daud, an-Nasa’i dan al-Uqaili[20].

Dalam kesempatan ini saya hanya tetarik membeber biodata Ibnu Abi Mulaikah dan Az-Zuhri.

Adapun Ibnu Abi Mulaikah perlu diketahui disini bahwa ia adalah Qadhi yang diangkat Abdullah ibn Zubair dimasa kekuasaannya dan juga tukang adzannya[21]. Sedang permusuhan Ibnu Zubair kepada Ali as. dan Ahlulbait as. baukan rahasia lagi, sampai-sampai ia dalam khutbah jum’atnya tidak mau bershalawa kepada Nabi saww. dengan alasan Nabi mempunyai Ahlulbait yang busuk jika saya bersahawat kepadanya mereka akan besar kepala dan menjadi congkak.

Adapun Az-Zuhri yang merupakan pangkal kisah ini dan ialah yang mengaku meriwayatkan hadis ini dari Imam Ali Zainal Abidin as.saya perlu sedikit memerinci tentangnya.

Sekilas Tentang Az-Zuhri

Ibnu Abi al-Hadid menceitakan: Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan dari Muhammad bin Syaibah, ia berkata: Aku menyaksikan Al-Zuhri dan Urwah di masjid kota Madinah, keduanya sedang duduk membicarakan Ali as. Lalu keduanya mencela-cela dan mengecam beliau. Kemudian berita ini sampai kepada Imam Ali bin Husein as. Maka datanglah beliau menemui keduanya dan mengecam mereka.

Beliau (Imam Ali bin Husain as.) berkata kepada Urwah: “Hai Urwah, ketahuilah bahwa ayahku (Ali as) akan membawa ayahmu kepengadilan Allah dan Allah pun akan memenangkan ayahku dan menghukum ayahmu. Adapun kamu hai Zuhri, seandainya kamu berada di kota Makkah pasti akan saya perlihatkan rumah ayahmu”.[22]

Dan untuk menegaskan upayanya dalam kebnciannya kepada Imam Ali as. ia tidak segan-segan berbohong dengan memalsu hadis bahwa Imam Ali as. adalah mati kafir. Ibnu Abi al-Hadid berkata: “Zuhri meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa Aisyah menceritakan kepadanya: “Aku pernah di sisi Rasulullah ketika Abbas dan Ali datang, lalu beliau bersabda kepadaku: “Hai Aisyah, sesungguhnya dua orang ini akan mati tidak atas dasar agamaku”.[23]

Ibnu Abdil Barr menyebutkan sebuah riwayat pernyataan Az-Zuhri: Ma’mar menyebutkan dalam Jami’nya dari Az-Zuhri, ia berkata: SAya tidak mengetahui ada seorang yang memeluk Islam sebelum Zaid ibn Haritsah. Abdur-Razzaq berkata: Saya tidak mengetahui seorang mengatakan ini selain Az-Zuhri.

Selain itu ia adalah seorang ulama’ penguasa bani Umayyah, dan keterlibatannya yang sangat dalam dengan para penguasa dzalim itu menjadikannya ia di kecam oleh teman-temannya. Abdul Haq ad-Dahlawi mengetakan bahwa Az-Zuhri bergaul dengan para penguasa itu di sebabkan lemahnya keyakinan agamanya. Ketika ada seorang membanding-bandingkan antara aAz-Zuhri dngan Al-A’masy, Ibnu Ma’in mengatakan: Kamu ingin disamakan antara Al-A’masy dengan Az-Zuhri?!!… Az-Zuhri bekerja untuk Bani Umayyah sedangkan Al-A’masy seorang yang fakir dan sabar, menjauhi penguasa, ia wara’ (sangat hati-hati dalam agama) dan pandai Al-Qur’an.[24]

Imam Ali Zainal Abidin pernah menegur dan menasihatinya agar menjauhi penguasa dan bekerja untuk kepentingan mereka, karena hal itu dapat menipu kaum awam dan merusak agama mereka, sebab keterlibatan sorang alim dalam istana penguasa zalim akan menjadikan kaum awan memandang kebatilan sebagai kebenaran.[25]

Dengan demikian sangatlah nihil kalau Imam Ali ibn Husain as. yang menyampaikan hadis yang memuat pelecehan tehadap Nabi, Ali dan Fatimah as.akan tetapi az-Zuhri memang lihai, ketika ia memalsu hadis yang mendiskriditkan Ahlulbait as. ia menyandarkannya kepada salah seorang tokoh Ahlulbait as. dengan tujuan agar kebohongan itu mudah di terima banyak kalangan, seperti ketika ia memalsu hadis tentang pengharaman mut’ah, ia menyandarkannya kepada Imam Ali as.[26]

Inilah sekilas tentang Az-Zuhri. Dan kini mari kita simak siapakah Miswar- perawi andalah dalam kisah diatas-.

Miswar Ibn Makhramah:

Disini kita akan melihat sekilas siapakah sebenarnya Miswar yang menjadi periwayat andalan dalam masalah kita ini.

Perlu diketahuai bahwa:

1. Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh?![27] Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun.[28]

2. Ia bersama Ibn Zubair yang dikenal sangat anti pati kepada keluarga Nabi khususnya Ali as. Ibnu Zubair tidak memeutuskan pekara kecuali setelah bermusyawarah dengannya, ia terbunuh dalam peperangan membela Ibnu Zubair menentang penguasa Damaskus;Yazid, dan Ibnu Zubair yang memandikan jenazahnya.

3. Apabila disebut nama Muawiyah dihadapannya, ia mengucapkan shalawat atas Muwawiyah.[29]

Sekilas Tentang Kisah

Setelah keterangan tentang sanad kisah diatas, marilah kita menyoroti kandungan ksah tersebut… Ada beberapa catatan yang perlu diketahuai disini.

* Para ulama’ kebingungan mengetahui kaitan antara permohonan untuk dihadiahkannya pedang kepadanya oleh Ali Ibn Husain Zainal Abidin as. dengan penyampaian kisah yang melecehka Imam Ali as. tersebut. Sebab seperti diketahui ia menyampaikan kisah tersebut ketika ia meminta agar pedang Rasulullah saww. yang ada pada Imam Ali ibn Husain as.dihadiahkan kepadanya, agar ia jaga denga baik.
* Miswar mengatakan bahwa apabila pedang itu diserahkan kepadanya ia akan menjaganya hingga tetes darah penghabisan, seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari dan lainnya, dan para ulama’ mengatakan hal itu ia lakukan demi kecintaannya kepada keluarga Fatimah as. dan agar mereka tenang. Akan tetapi, bukankah hal aneh seseorang yang mengaku cinta kepada sebuah keluarga, namum ia melecehkan ayah mereka, yang pasti hal itui menyakitkan hati keturunan Ali as.

Renungan Tentang Kisah:

Kisah diatas perlu kita tinjau dari sisi fikih dan sisi etika dan emosiaonal… setelah kita mengalah dengan menganggap benar kejadian yang disebut dalam kisah tersebut…

Apa yang dilakukan Imam Ali as? Apa sikap Fatimah as.? Dan reaksi apa yang muncul dari Nabi saww.?

Imam Ali as. melamar putri Abu Jahal, lalu Fatimah sakit hati dan Nabipun berdiri diatas mimbar berpidato… .

Apakah haram atas Imam Ali as. kawin dengan wanita lain selama hidup Fatimah, atau tidak?

Kalau haram, apakah Imam Ali as. mengatahui pengharaman itu, atau tidak?

Yang jelas Imam Ali as. tidak akan melakukan hal haram sementara ia mengetahuinya. Jadi hal itu tidak haram baginya atau ia tidak mengetahui pengharaman itu.

Akan tetapi asumsi kedua tidak mungkin kita nisbatkan kepada sahabat biasa apalagi pintu kota imlu Nabi saw.

Jadi ketika melakukan hal itu tidak melakukan sesuatu yang diharamkan dalam syari’at, ia seperti sahabat lainnya, boleh kawin lebih dari satu wanita. Andai ada hukum khusus untuknya pastilah ia tahu atau paling tidak di beri tahu sebelumnya.!

Dengan demikian, apakah dibenarkan Fatimah as. keluar rumah-sekedar mendengan gosip bahwa suaminya kawin lagi- menemui Rasulullah saww. ayahnya dan mengeluhkan sikap Ali as. dengan kata-kata kasar, seperti dalam riwayat itu?!

Imam Ali a. tidak sedang melakukan tindakan haram, sehingga kita mungkin menganggap Fatimah as. sebenarnya ingin menegakkan amar ma’rum nahi mungkar. Lalu apakah Fatimah as. wanita yang disucikan dari segala rijs dan kekotoran sama derngan wanita lain yang tidak disucikan, ia dibakar oleh rasa cemburu buta sebagaimana wanita lain?! Lalu apakah kecemburan Fatimah as. karma Imam Ali as. kawin lagi, atau sebenarnya kecemburuan itu berkobar dan membakar hatinya karena yang akan dinikahi Imam Ali as adalah putri Abu Jahal?!

Kemudian setelah mendengan kabar atau laporan putrinya atau prmohonan izin untuk menikah oleh keluarga Abu Jahal atau permintaan izin Ali as. kepada Nabi saww.[30] dan menyaksikan putrid kesayangannya terkejut dan sakit hati, Nabi saww. berdiri diatas mimbar berpidato dihadapan para sahabat yang memadati ruang dan sudut-sudut masjid…. Apa isi pidato Nabi saww.?!

Pidato beliau saww. memuat poin-poin diabawah ini:

1. memuji menantu beliau dari suku Bani Abdisy-Syams…

2. kekhawatiran beliau kalau-kalau putri kesayangannya terfitnah (rusak) agamanya…

3. Nabi saww. tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram… Namun demikian beliau tidak akan mengizinkan pernikahan itu terjadi…

4. Tidak akan diperbolehkan baginya atau bagi seseorang untuk mengumpulkan menjadi istri seseorang antara putri Rasul Allah dan putri musuh Allah…

5. Kecuali apabila Ali ibn Abi Thalib as. menceraikan putri Nabi saww. kemudian baru menikahi putri Abu Jahal… Dan dalam sebuah riwayat: kalau ia tetap nekat menikahi putri Abu Jahal maka kembalikan putri kami…

Apakah pernyataan-pernyataan dalam pidato itu dapat dibenarkan?! Para pensyarah kebingungan menghadapi riwayat-riwayat kisah diatas…mereka mengakui bahwa Ali as. melamar anak Abu Jahal dan itu tidak haram hukumnya… mereka mengatakan bahwa Fatimah as.juga mengalami rasa cenburu sebagaimana wanita lain…

Fatimah as. bukan wanita biasa yang dikhawatirkan akan rusak agamanya atau digerogoti rasa cenburu seprti wanita lain, sementara Allah SWT. telah menurunkan ayat at-That-hir yang menegaskan kesucian beliau dari seala rijs, penyimpangan, maksiat dan kekejian… Fatimah adalah wanita sempurna, beliau adalah penghulu wanita sejagat… Dan anggap apa yang disebut dalam dongeng itu benar, tentunya hal itu tidak khusus ketika Ali hendak menikahi putri Abu Jahal…

Dalam pidatonya, Nabi saww. mengakiu bahwa Ali as. tidak melakukan tidakan haram, akan tetapi beliau tidak mengizinkan pernikahan itu berlangsung…Apakah izin seorang mertua itu syarat?! Apakah beloh sorang mertua memaksa menantunya menceraikan anaknya jika ia menikah lagi?!

Semua itu tidak benar dan tidak terjadi…

Anggap benar bahwa Fatimah as. mengalami kecemburuan[31]… dan anggap benar Nabi saww. juga cemburu mebela putrinya[32]… Lalu mengapakah beliau naik mimbar dan mengumumkannya dihadapan halayak ramai dan mempermalukan Ali as.?!

Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: Nabi saww. berpidato agar hukum itu tersebar dikalangan manusia lalu mereka mengamalkannya…. .[33]

An-Nawawi berkomentar: para ulama’ berkata: hadis itu memuat pengharaman mengganggu Nabi saww.dala segala hal dan dengan segala bentuk, walau hal itu muncul dari hal yang mubah(boleh dilakukan\tidak haram) sementa beliau asih hidup, berbeda dengan orang lain. Mereka mengatakan: Nabi saww. telah memberitahukan kehalalan menikahi putri Abu Jahal bagi Ali denga sabdanya: Saya tidak mengharamkan yan halal, akan teapi saya melarang menggabungkan antara keduanya, kerena ada dua alas an yang di sebut dalam sabda tesebut; Pertama: karena hal itu menyebabkan Fatimah terganggu dan dengannya Nabipun akan terganggu, maka binasalah orang yang mengganggu Nabi…Maka Nabi saww. melarang hal itu kareana sempurnanya belas kasih dan saying beliau kepada Ali dan Fatimah. Kedua: kekhawatiran akan terfitnahnya Fatimah di kerenakan sara cemburu.[34]

Dan yang paling aneh adalah sikap Imam Bukhari yang menjadikan ucapan Nabi saww. yang mengatakan” maka saya tidak akan mengizinkan” sebagai permintaan cerai, oleh karenanya ia menyebutnya dalam bab asy-Syiqaaq (percekcokan antara suami-istri) pada kibab at-Thalaq(perceraian). Dan sebagaian ulama’pun mengkritik penyebutan hadis itu pada tempat tersebut.[35]

Para pembela Bukhari mengakatan: bahwa peletakan itu tepat, mengingat apabila Ali tetap bersikeras menikahi putri Abu Jahal maka akan terjadilah percekcokan antara Ali dan Fatimah oleh karenanya Nabi saww.hendak menghindarkan hal itu terjadi dengan mencegah Ali melalui isyarat agar ia meninggalkan menikahi putri Abu Jahal…[36]

Pembelaan itu didasari dua hal; pertma: bahwa Fatimah tidak akan rela…kedua: pernikahan itu akan menyebabkan percekcokan antara keduanya…!!

Lalu apakah usaha pencegahan Nabi saww. dilakuka dengan isyarat, atau justru dengan pidato yang memuat pujian kepada menantu Nabi saww. yang lain, mempermalukan Ali dan mengancamnya akan mengambil kembali putri kesayangan beliau ?!

Serta masih banyak lagi kejanggalan lain yang dapat Anda temukan dalam riwayat-riwayat itu dan juga pada komentar para ulama’ pensyarah hadis.

1. Catatan:Fatimah as. benar-benar penggalan Nabi saww. beliau adalah badh’atun minni seperti di sabdakan Bani saww. berkali-kali dan dalam banyak kesempatan, sebagai penegasan akan keharaman mengganggu beliau as. dan kemarahan dan murkanya adalah kemarahan dan murka Rasulullah saww. dam murka Nabi saww. adalah murka Allah SWT. Hadis yang menegaskan hal itu telah di riwayatkan oleh banyak sahabat, diantaranya adalah Imam Ali as.[37] dan tlah di riwayatkan tidak kurang dalam seratus dua puluh kitab ulama’ Ahlussunnah. Dan darinya disimpulkan bahwa yang mencacinya dihukumi kafir… Fatimah lebih afdhal dari syaikhain… [38] dan disini kami tidak dalam rangka menyebut-nyebut para perawi hadis tersebut. Yang ingin kami tegaskan disini ialah bahwa hadis Fatimah badh’atun minni tela diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Miswar dalam bab Fadlail( keutamaan) Fatimah tanpa menyebut-nyebut kisah niatan melamar putri Abu Jahal. Ibn Hajar berkata: Dalam Shahihain dari Miswar ibn Makhramah: Saya mendengar Rasulullah saww. bersabda: “Fatimah adalah penggalan dariku, menggangguku apa yang mengganggunya”[39] ” Fatimah adalah penggalan dariku, yan menyebabkan murkanya menyebabkan murkaku”[40]. Keduanya meriwayatkan dari Sufyan ibn Uyainah dari Amr ibn Dinar dari Ibn Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah.[41]

Demikian juga pada riwayat al-Baihaqi dan al-Khathib at-Tabrizi tanpa menyebut kisah niatan melamar. Begitu juga pada al-Jami’ ash-Shaghir, baik dalam matan maupun syarahnya..

Dan yang perlu dipehatikan disini ialah bahwa pada jalur periwayatan yang tidak menyebut kisah itu tidak kita temukan nama Ibnu Zubair, az-Zuhri, asy-Sya’bi dan al-Laits…

Kami berhujjah dengan hadis tesebut walaupun kami mencacat Miswar dan Ibn Abi Mulaikah, sebab kesaksian lawan adalah sebaik-baik kesaksian.

Namun demikian kuat kemungkinan bahwa ada usaha pemalsuan yang mengatasnamakan Miswar yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu. Mungkin sipemalsu itu adalah Zuhri-ulama’ rezim tiran Bani Umayyah- atau Ibnu Zubair pembenci Ali dan keluarga suci kenabian as. atau mungkin juga asy-Sya’bi- seorang alim yang bergelimang dalam kubangan kebjatan istama rezim Umayyah, atau al-Laits.. wallahu A’lam.

Penutup:

Telah kami sebutkan satu persatu nama-mana perawi yang meriwayatkan kisah diatas…dan telah kami jelaskan sepintas matan hadis tersebut dan kerancuan yang tedapat didalamnya…

Diantara para periwayat itu ialah: Abdullah ibn Zubair, Urwah ibn Zubair, Miswar ibn Makhramah, Abdullah ibn AbiMulaikah, Zuhri, Syu’aib ibn Rasyiid dan Abu al-Yaman… Merekalah pentolan pemalsu kisah konyol yang mendiskriditkan Imam Alias. Dan Nabi serta Fatimah sekaligus.

Mereka dalam satu aliran dengan pimpinan mereka Abdullah ibn Zubair yang dikenal kebenciannya terhadap Imam Ali dan keluarga suci Nabi saww. dialah yan berniat untuk membakar hidup-hidup semua keluarga Nabi dan Bani Hasyim ketika ia memberontak dan berhasil menguasai kota Makkah dan sekitarnya… Dialah yang tidak mau bershlalawat kepada Nabi dalam khutbah jum’at yang ia pimpin dengan alasan bahwa Nabi Muhammad saww. mempunyai keluarga yan busuk, jika ia bershalawat kepada Nabi saww. kepala-kepala mereka yang membesar…

Oleh karenaya, sudahlah seharusnya jika kita perlu melihat. Memilas dan menyeleksi sunnah Nabi saww. yang sampai melalui jalur mereka.

[1] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[2] Ibid,: 9\268-270.

[3] Ibid,: 7\67.

[4] Ibid,: 8\152.

[5] Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi:????

[6] Shahih at-Turmudzi:5\699.

[7] Sunan Ibn Majah:1\644.

[8] Sunan Abi daud:1\323-324.

[9] Al-Mustadrak:3\158.

[10] Mushannaf:12\128.

[11] Musnad:4\5,326 dan 328. dan dalam kitab Fadhail ash-Shahabah:2\754.

[12] 9\203 menukil dari riwayat ath-Thabarani dalam tiga kitab Mu’jamnya dan dari al-Bazzar dari sahabat Ibnu Abbas.

[13] 4\67.

[14] 13\677.

[15] Tahdzib at-Tahdzib:4\307.

[16] Ibid,2\380.

[17] Ibid, 2\304

[18] Ibid,11\131.

[19] Ibid,8\415.

[20] Ibid,10\404.

[21] Bid,5\268.

[22] Syarh Nahjul Balaghah Jilid I juz 4 hal. 371.

[23] Syarh Nahjul Balaghah; Ibnu Abi Al-Hadid Jilid I juz 4 hal. 358. Dan bagi anda yang ingin tahu lebih jauh riwayat-riwayat yang mereka produksi, saya persilahkan merujuk langsung ke buku tersebut.

[24] Tahdzib at-Tahdzib, biografi Al-A”masy:4\195.

[25] Tuhaf al-Uqul:198. Surat teguran itu dimuat al-Ghazzali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:2\143 dengan tanpa mnyebut nama Imam Zainal Abidin, ia berkata: ” Ketika Az-Zuhri berhubungan dengan penguasa, seorang saudara seagamanya menuliskan sepucuk surat kepadanya..”.

[26] Dan upaya seperti itu tidak hanya dilakukan oleh Zuhri saja, walaupun ia yang paling parah, kita banyak menemukan hal serupa dilakukan para perawi lain seperti Abdullah ibn Muhammad ibn Rabi’ah ibn Qudamah al-Qudami, dengan menyandarkan kepalsuannya kepada Imam Ja’far dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Abu Bakar yang bertindak selaku imam dalam shalat jenazah Fatimah as. dan ia takbi empat kali. (lebih lanjut baca: Lisan al-Mizan:3\334 dan Al-Ishabah:4\379).

[27] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[28] Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya.

[29] Siyar A’laam an-Nubala’:3\391-394 dan Tahdzib at-Tahdzib:10\137.

[30] Masing-masing sesuai dengan perselisihan redaksi riwayat dongeng diatas.

[31] Oleh kareananya Ibnu Majah menyebut hadis kisah ini dalam bab al-Ghirah (kecemburan).

[32] Bukhari menyebut hadis ini dalam bab Dzabb ar-Rajuli’An Ibnatihi Fi al-Hgirah wa al-Inshaaf (pembelaan seorang terhadap putrinya dalam kecemburuan dan meminta sikap obyektif), dan ia tidak menyebut kecuali hadis ini.

[33] Fath al-Bari:7\67. Keterngan serupa juga di kemukakan al-’Aini dalam ‘Umdah al-Qari:16\230

[34] Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim ibn Hajjaj:16\2-3.

[35] Fath al-Bari:20\72-73 dan Umdah al-Qari:20\260.

[36] Irsyaad as-Sari:8\152. dan Fath al-Bari:20\73.

[37] Baca; al-Ishabah:4\378 dan Tahdzib at-Tahdzib:12\469.

[38]Baca : Fath al-Bari:14\256, Irsyaad as-Sari, ‘Umdah al-Qari dan al-Minhaj…dan lai-lain.

[39] Shahih Muslim, bab dari keutamaan Fatimah ra. , hadis kedua: al-Minhaj:16\3.

[40] Shahih Bukhari, bab Manaqib Fatimah ra. satu-satunya hadis keutamaan Fatimah dalam Bukhari: lihat Fath al-Bari:14\255-256.
Sumber : jakfari.wordpress.com
[41] Al-Ishabah:4\378.

Abu Hurairah Belajar Ayatul Kursi Dari Setan, Bukan Dari Rasululah saw.

Ada sebuah riwayat yang telah dishahihkan para ulama Ahlusunnah dan tidak seorang pun dari mereka meragukannya, karena ia telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab tersuci setelah Al Qur’an… riwayat tersebut mengatakan bahwa Abu Hurairah –sahabat yang paling diandalkan dalam meriwayatkan sunnah Nabi saw.- telah mendapat keistimewaan dengan dipilih sebagai murid khusus SETAN untuk diajarkan ayat Kursi, dan SETAN menasehatinya agar membacanya sebelum tidur….

Kisah itu demikian, Abu Buhairah bercerita bahwa pada suatu saat Nabi saw. mengamanatinya untuk menjaga zakat fitrah yang telah dikumpulkan, lalu ditengah malam ia dikejutkan dengan masukknya seorang penyusup yang mencuri beberapa genggam gandum zakat itu… untuk Abu Hurairah cekatan, ia langsung mengkap sang pencuri itu.. ia mengancam akan melaporkannya kepada Rasulullah saw…. Si pencuri tak henti-hentinya merayu Abu Hurairah agar tidak melaporkannya karena ia benar-benar sedang dihimpit kebutuhan yang sangat mendesak… memdengar keluhannya itu, Abu Hurairah pun iba… ia tidak jadi melaporkannya..

Keesokan harinya menegur Abu Hurairah, ‘Hai Abu Hurairah, bagaimana kabar tawananmu tadi malam? Abu Hurairah menyampaikan uzurnya mengapa ia melepaskannya… ia mengeluh benar-benar sedang kepepet! Nabi saw. mengingatkan Abu Hurairah bahwa ia dusta dalam alasan yang ia sampaikan, dan –kata Nabi- ia akan kembli lagi nanti malam… Abu Hurairah pun yakin, pencuri akan datang lagi… persis seperti yang dikabarkan Nabi saw. ia datang lagi dan kembali mencuri… dan untuk kedua kali Abu Hurairah menangkapnya dan mengancam akan melaporkannya kepada Rasulullah saw. dan sang pencuri pun menyampaikan permohonannya seperti malam pertama dan Abu HHurairah pun iba dan kasihan sehingga merahasiakan kejadian itu… keesokan harinya, Nabi kembali menegur Abu Hurairah… Malam ketiga juga terjadi lagi aksi pencurian itu…. Kali ini Abu Hurairah agak serius hendak melaporkannya… sehingga setan malakukan negoisasi dan memberikan kompensasi asal Abu Hurairah tidak melaporkannya kepada Nabi… Abu Hurairah setuju… dan SETAn pun mulai mengajarkan doa mujarrab untuk keselamatan dari gangguan setan… Abu Hurairah bertanya, ‘Doa apa yang Engkau maksud?” SETAN berkata mengajari Abu Hurairah, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi… pasti kamu sentiasa dalam penjagaan Allha dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.”

Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan peristiwa itu, dan Nabi pun memberitahukan kepadanya bahwa yang datang mengajarimu tadi malam adalah SETAN!

Ini Teks Riwayat Abu Hurairah di atas:

عن ‏ ‏محمد بن سيرين ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏قال وكلني رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏بحفظ زكاة رمضان فأتاني آت فجعل ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته وقلت والله لأرفعنك إلى رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال إني محتاج وعلي عيال ولي حاجة شديدة قال فخليت عنه فأصبحت فقال النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏ما فعل أسيرك البارحة قال قلت يا رسول الله شكا حاجة شديدة وعيالا فرحمته فخليت سبيله قال أما إنه قد كذبك وسيعود فعرفت أنه سيعود لقول رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إنه سيعود ‏ ‏فرصدته ‏ ‏فجاء ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته فقلت لأرفعنك إلى رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال دعني فإني محتاج وعلي عيال لا أعود فرحمته فخليت سبيله فأصبحت فقال لي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏ما فعل أسيرك قلت يا رسول الله شكا حاجة شديدة وعيالا فرحمته فخليت سبيله قال أما إنه قد كذبك وسيعود ‏ ‏فرصدته ‏ ‏الثالثة فجاء ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته فقلت لأرفعنك إلى رسول الله وهذا آخر ثلاث مرات أنك تزعم لا تعود ثم تعود قال دعني أعلمك كلمات ينفعك الله بها قلت ما هو قال إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي ‏
الله لا إله إلا هو الحي القيوم ‏
‏حتى تختم الآية فإنك لن يزال عليك من الله حافظ ولا يقربنك شيطان حتى تصبح فخليت سبيله فأصبحت فقال لي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ما فعل أسيرك البارحة قلت يا رسول الله زعم أنه يعلمني كلمات ينفعني الله بها فخليت سبيله قال ما هي قلت قال لي إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي من أولها حتى تختم الآية ‏
‏الله لا إله إلا هو الحي القيوم ‏
‏وقال لي لن يزال عليك من الله حافظ ولا يقربك شيطان حتى تصبح وكانوا أحرص شيء على الخير فقال النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏أما إنه قد صدقك وهو كذوب تعلم من تخاطب منذ ثلاث ليال يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏قال لا قال ذاك شيطان ‏

(Lebih jelasnya baca langsung Shahih Bukhari, pada Kitab “al-Wakalah” Bab “Idza Wakkala Rajulan…”, Baca juga tafsir Ibnu Katsir,1/306 dan ia berkata hadis ini dari Riwayat Bukhari, an Nasa’i dalam Kitab al Yaum wa al Lailah) Hadis diatas kami ambil dari situs “Kementerian Urusan Agama dan Waqaf Saudi Arabia” silahkan anda merujuknya disini

Ibnu Jakfari Berkata:

Karena Abu Hurairah adalah seorang sahabat terpandang dan jujur tutur katanya, maka saya yakin Anda pasti percaya bahwa beliau belajar paling afdhalnya ayat Al Qur’an; Ayatul Kursi dari mulut setan yang berbaik hati dengan mengajarinya senjata yang akan menyemalatkannya dari gangguan setan yang terkutuk, tidak seperti para sahabat lainnya yang belajar langsung Ayatul Kursi dari mulut suci Rasulullah saw.

Dan kita sekarang mungkin lebih beruntung sebab SETAN sekarang tidak lagi gemar menjarah KUD atau KIOS-KIOS PEDAGANG BERAS DAN SEMBAKO! Kalau SETAN terus menjarah KUD kita pastilah persiapan PANGAN kita akan terancam!

sumber : jakfari.wordpress.com

Kalangan Habaib Serukan Untuk Tidak Merayakan Maulid Nabi! (Fitnah Wahabi kepada Kaum Alawiyyin)

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.

Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.

Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)

“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)

Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan, “Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.

Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, “Wahai Tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini adalah teks pernyataannya:
Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

الحمد لله رب العالمين، الهادي من شاء من عباده إلى صراطه المستقيم، والصلاة والسلام على أزكى البشرية، المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين .. أما بعد:

Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا (المائدة:3)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. 5:3)

Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين (رواه البخاري ومسلم)

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empunya tempat yang mulia, telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empunya bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب:21]

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي (رواه مسلم)

“Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku.” (HR. Muslim).

Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman,

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء:65]

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru “Ittiba’ yang benar”. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ.. [آل عمران:31]

“Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.

Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Mahulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syariat Islam.

Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)

“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)

Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.

Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.

Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ (رواه مسلم)

“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim).

“Wahai tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemuliaan Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda,

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)

“Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut.” (HR. Muslim).

والحمد لله رب العالمين،،

YANG MENANDATANGANI RISALAH DI ATAS ADALAH:
1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial “Adhdhamir al-Khairiyah” di Traim)
2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)
3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.
4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum “Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’i di Ghail Bawazir)
5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)
9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).
10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala
11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)
12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha).
(Istod/Rydh/AN)

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=1066

WAWANCARA ‘BLAK-BLAKAN’ TENTANG ISU-ISU PERSATUAN ISLAM DENGAN AYATULLAH MUHAMMAD ALI TASKHIRI

Di sela-sela kesibukan Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri (T) sebagai ulama repesentatif Muslim Syi’ah sedunia dalam ICIS (International Conference of Islamic Scholars II) di Hotel Borobudur, kami, tim majalah SYI’AR (S) mendapatkan kesempatan berharga dan kehormatan bersejarah untuk melakukan wawancara ‘blak-blakan’ dengan anggota Dewan Ahli Republik Islam Iran ini. Berikut transkrip wawancara:

S : Apa perbedaan antara wahdah, ittihad, ukhuwwah dan tauhid al-kalimah?
T : Saya tidak menemukan perbedaan antara istilah-istilah tersebut, wahdah adalah ittihad itu sendiri dan ukhuwwah adalah salah satu pondasi dasar teoritis untuk terelasisasinya persatuan Islam. Jadi, persatuan Islam itu berdiri di atas dasar-dasar, antara lain kesamaan akidah/pandangan dunia dan persaudaraan Islam yang berdiri di atas persaudaraan iman. Namun ada perbedaan antara persatuan dan pendekatan (taqrib) karena pendekatan itu adalah (merujuk pada usaha mendekatkan suatu pemikiran) di antara berbagai pemikiran yang berbeda-beda. Pemikiran itu tidak mungkin menjadi satu, disebabkan oleh perbedaan tingkat intelektual dan perbedaan interpretasi. Maka, apa yang kita maksudkan dengan pendekatan antarpemikiran itu adalah menguak area kesamaan dan meluaskannya agar dapat bekerja sama dalam menerapkan area yang sama tersebut. Adapun wahdah (persatuan) adalah (persatuan) di dalam sikap dan praktik. Artinya, diharapkan agar umat ini memiliki sikap yang satu di saat berhadapan dengan tantangan besar yang datang dari luar dan sikap yang satu dalam hal menyelesaikan problem intern dalam menegakkan syariat dan nilai-nilai akhlak. Ringkasnya, dari satu sisi tidak ada beda antara wahdah dan ittihad. Keduanya berdiri di atas persaudaraan iman yang menjadi pondasi teoritis demi terselenggaranya persatuan Islam.

S : Lawan dari istilah-istilah tersebut kita mendapatkan istilah khilaf dan ikhtilaf? Adakah perbedaan antara keduanya?

T : Mungkin saja kata khilaf ditafsirkan sebagai pertentangan praktis dan amali. Adapun ikhtilaf ditafsirkan sebagai pertentangan teoritis dan pemikiran. Namun saya tidak melihat ada perbedaan substansial di dalam pembahasan dua istilah tersebut. Perbedaan dan pertentangan di dalam pemikiran tidak ada salahnya dan tidak ada teks agama yang menolak adanya perbedaan dalam pemikiran. Sebagaimana saya tidak pernah menemukan teks agama yang menuntut adanya kesamaan pemikiran. Akan tetapi yang tercela dan dilarang oleh agama adalah pertentangan dan perbedaan di dalam tataran praktis. Di saat Allah Swt berfirman, Wa’tashimû bihablillâhi jamîy’ân walâ tafarraqu (berpeganglah pada tali Allah dan janganlah berpecah belah] ingin menekankan adanya kesamaan sikap dalam praktik dan amal dengan berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh dan tetap yang merupakan jalan menuju Allah yang bebas dari kesalahan (ma’shum) yang tidak ada perselisihan padanya.

S : Apakah persatuan meniscayakan adanya keyakinan akan kebenaran yang majemuk dan plural?

T : Tidak. Kebenaran itu tunggal. Hanya saja sudut pandang dan metode yang ditempuh berbeda-beda. Kami di dalam agama Islam meyakini, bahwa syariat Islam itu satu. Syariat yang ada di sisi Tuhan adalah tunggal. Namun interpretasi untuk memahami syariat tersebut berbeda-beda. Seorang mujtahid yang melakukan interpretasi bisa salah dan bisa benar. Seperti di dalam hadis disebutkan, bahwa mujtahid yang salah akan mendapatkan satu pahala dan yang benar akan mendapatkan dua pahala. Ini tidak meniscayakan adanya kebenaran yang banyak dan majemuk. Kebenaran atau hakikat adalah kesesuaian antara yang ada di dalam benak kita sebagai konsep dengan realitas yang terjadi di luar. Ini adalah definisi kebenaran. Bila sesuai, maka berarti telah benar dan bila tidak sesuai, maka berarti yang ada di benak kita itulah yang salah dan bukan berarti kebenaran itu berubah dan menjadi banyak. Di sinilah letak kesalahan paham Marxis, di mana mereka menganggap, bahwa perbedaan pandangan atau konsep yang ada di benak kita tentang kebenaran atau hakikat dapat mengubah kebenaran dan hakikat itu sendiri. Karena itu, di saat pandangan manusia berubah-ubah, maka kebenaran itu sendiri juga berubah-ubah. Di saat terjadi perkembangan pada cara berpikir manusia, maka terjadi pula perkembangan dalam hakikat dan kebenaran. Sekali lagi keragaman keyakinan dan praktik amali tidaklah meniscayakan keyakinan akan keragaman kebenaran yang banyak, namun hal itu memberikan makna, bahwa kebenaran itu adalah satu. Hanya saja ada beberapa perbedaan pandangan tentang kebenaran tersebut, sebagiannya benar dan sebagian yang lain salah.

Pluralisme juga memiliki makna adanya saling menghormati antar pemeluk keyakinan yang berbeda-beda. Di dalam al-Quran di Surah Saba’ ayat 24 Allah memerintahkan Nabi saw untuk menyeru kepada orang-orang musyrik saat itu, Dan sesungguhnya kami atau kalian (orang-orang musyrik) pasti berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata. Ini sama sekali tidak dalam rangka menjelaskan, bahwa kebenaran itu berbilang, namun di dalam dialog ada kalanya Anda yang salah dan ada kalanya saya yang salah. Di dalam ayat berikutnya Allah berfirman, Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa yang kami lakukan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan. Coba perhatikan! Di dalam ayat ini ada dua hal yang patut kita petik.

Pertama, al-Quran melarang kita—di saat masuk dalam sebuah dialog—untuk mengungkit-ungkit masa lalu dan menuduh dengan perbuatan-perbuatan jelek yang dilakukan dengan mengatakan, ‘Bukankah engkau dulu yang begini dan begini”, sehingga pada akhirnya melupakan pembahasan aslinya dengan mengalihkan pada masalah pribadi.

Kedua, al-Quran mengajarkan kepada kita agar menghormati lawan bicara dengan tidak menganggap apa yang dia lakukan sebagai sebuah kesalahan, sebaliknya kita harus menganggap perbuatan yang kita lakukan sebagai perbuatan jelek (ajramnâ) yakni sesuai dengan pandangan lawan bicara, sedangkan pekerjaan lawan bicara tidak boleh kita anggap sebagai perbuatan jelek, walaupun menurut kita salah. Karena itu, di dalam ayat itu ia menggunakan kata ’amma ta’malûn (apa yang kamu lakukan) padahal lawan bicara Nabi di dalam ayat itu adalah musyrik. Maka, bagaimana jika dia seorang Ahlulkitab bahkan Muslim?

Jadi, persatuan di dalam tataran praktik tidaklah bertentangan dengan keyakinan pluralis, namun haruslah berada di dalam koridor umum. Artinya, haruslah ada aksioma yang general dan diterima oleh semua, seperti keimanan akan satu Tuhan (tauhid) dan keyakinan akan nilai-nilai absolut. Selama berada di dalam koridor tersebut, maka tidak ada larangan untuk terjadi perbedaan pandangan dan pemikiran, bahkan dalam agama sekalipun. Masyarakat Islam bisa hidup bersama pemeluk agama lain dan dapat memberikan hak-hak mereka. Maka, pluralisme adalah suatu hal yang wajar di dalam koridor peradaban, agama, dan mazhab dalam satu agama. Saya tidak melihat hal itu sebagai problem. Malah saya menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan dengan masing-masing pemeluknya memiliki jiwa toleransi dengan yang lain serta bekerjasama secara logis.

S : Bagaimana pendapat YM berkenaan dengan isu dan tuduhan yang dilontarkan oleh mereka yang tidak sejalan dengan upaya persatuan, dengan mengatakan, bahwa “persatuan” yang diperjuangkan oleh orang-orang Syi’ah dan Republik Islam Iran memiliki motivasi strategis dan politis bukan dalam rangka memperjuangkannya sebagai bagian dari ajaran Islam?

T : Tuduhan-tuduhan seperti itu sering kali kita dengar dan bukanlah hal yang baru. Sepanjang sejarah kita dapatkan tuduhan-tuduhan murahan seperti itu. Kita harus membedakan antara strategis dan taktik. Strategis adalah upaya yang berkepanjangan dan tetap, sedangkan taktik adalah bersifat sementara dan berubah-ubah. Kita mengakui, bahwa upaya persatuan itu adalah masalah strategis, yakni sebuah garis panjang yang telah digariskan Islam seperti firman Allah dalam Surah Anbiya’ ayat 92: Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Begitu juga di dalam Surah al-Mu’minun ayat 52, Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Artinya, di saat Islam menekankan pentingnya persatuan dan mewajibkan persaudaraan dan di sisi lain membuka pintu kebebasan berijtihad yang konsekuensinya adalah adanya perbedaan dan menentukan batasan-batasan di mana siapa yang berada di dalamnya berarti masuk dalam keluarga besar umat Islam, yakni mereka yang meyakini akan keesaan Tuhan, kenabian Nabi Muhammad saw dan hari akhir serta menerima aturan-aturan Islam yang disepakati, seperti shalat, puasa, haji dan jihad. Mereka yang berada di dalam area ini adalah keluarga besar umat Islam, semuanya memiliki kedudukan yang sama (mutakafiun, mutadhaminun) dan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama. Ini yang dikatakan oleh Islam dan bukanlah yang dikatakan oleh Iran atau Syi’ah. Iran dan Syi’ah tidak memiliki perkataan lain. Di saat kita mengajak kepada persatuan dan pendekatan antarmazhab, maka kami tidak menginginkan selain dari hal ini. Muawiyah bin Abi Sufyan di dalam salah satu suratnya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata: “Apa yang Anda sampaikan bukanlah sesuatu yang baru, namun sudah disebutkan oleh al-Quran dan Sunnah Nabi.” Imam Ali menjawab, “Itu adalah kebanggaanku, di mana apa yang aku sampaikan adalah sesuai dengan al-Quran dan sabda Rasulullah. Aku memang tidak memiliki sesuatu yang lain selain dari apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalam al-Quran dan apa yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Engkau bermaksud untuk mencela diriku namun, itu adalah penghormatan dan pujian bagiku.”

Republik Islam Iran memang tidak memperjuangkan sesuatu yang baru. Segala apa yang diperjuangkan adalah dari dalam al-Quran dan Sunnah. Kelompok Salafi dan kelompok yang mengkafirkan kelompok lain yang sering melakukan tuduhan seperti di atas, mereka sendirilah yang telah keluar dari logika Islam dan al-Quran di saat mereka mengafirkan orang yang tidak kafir dan menuduh orang yang tidak tertuduh. Kami meyakini, bahwa siapa yang mengimani rukun Islam dan iman, maka ia telah masuk di dalam kesatuan umat Islam sekalipun belum pernah mengamalkan ajaran Islam. Di sisi lain, kami mengajak untuk melakukan pendekatan antara mazhab-mazhab Islam dan makna pendekatan itu bukanlah meleburkan semua mazhab menjadi satu atau melakukan campur aduk antarajaran mazhab yang berbeda-beda. Namun pendekatan mazhab yang ingin kami realisasikan adalah menyingkap area persamaan, memperluasnya, dan bekerja sama dalam melaksanakan yang disepakati tersebut dan saling memahami dan memaafkan atas perbedaan yang dimiliki. Apakah ini sesuatu yang keluar dari garis dan koridor Islam? Islam menyuruh kita untuk mencari titik temu dengan Ahlulkitab, seperti firman-Nya dalam Ali Imran 64: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Saya meyakini, bahwa ayat ini menyuruh kita untuk mencari area persamaan dengan orang musyrik sekalipun, tidak hanya Ahlulkitab. Artinya, jika memang ada titik-titik persamaan dengan orang-orang musyrik, maka wajib kita cari titik-titik persamaan tersebut. Tentunya lebih-lebih lagi kita harus mencari titik-titik temu antara kaum Muslimin sendiri. Inilah yang kami perjuangkan di dalam upaya melakukan pendekatan dan dialog antarmazhab. Adapun upaya merealisasikan persatuan Islam itu agar umat Islam bersatu dalam menghadapi musuh bersama. Apakah Islam tidak menginginkan demikian? Artinya, apakah Islam menyuruh kita untuk bercerai berai dalam rangka menghadapi musuh kalian? Apakah Islam menyuruh kita bercerai-berai dalam menyelesaikan problem internal dan penting umat Islam? Saya benar-benar tidak dapat memahami perkataan dan tuduhan mereka, kecuali salah satu kemungkinan berikut: (1) karena kebodohan mereka dan memang mayoritas mereka demikian; (2) karena fanatisme mereka dan mayoritas mereka memang demikian (3) karena kepentingan politik (4) karena mereka merupakan kaki tangan musuh-musuh Islam.

S : Sebagaimana masyhur di kalangan ulama ushul fikih dan hadis Syi’ah, bahwa salah satu solusi untuk keluar dari kemelut adanya dua hadis yang bertentangan adalah pertentangannya dengan pendapat umum “mukhalafatul ‘ammah” bahkan di dalam kitab al-Kâfî disebutkan, bahwa “Da ‘uw ma yuwafiqul qaum fainnar- rusydu fiy khilafihim” artinya hadis yang sesuai dengan pendapat umum (Ahlusunnah) itu adalah salah dan yang tidak sama dengan mereka itu adalah yang dapat diambil dan diamalkan. apakah ini tidak bertentangan dengan upaya wahdah dan taqrib?

T : Sama sekali tidak. Sebab yang dimaksudkan dengan kata ‘ammah dalam hadis tersebut bukanlah ulama Ahlusunnah. Namun para ulama kerajaanlah yang memproduksi fatwa itu sesuai dengan keinginan raja. Sebagai bukti atas hal itu, hadis tersebut disampaikan oleh Imam Ja`far Shadiq as dan saat itu belum ada mazhab-mazhab Ahlusunnah yang empat. Jadi, maksud dari kaidah dan hadis tersebut adalah di saat kita menemukan ada dua hadis yang bertentangan dan kedua-duanya dari Imam Ahlulbait, yang satu menyuruh dan yang satu lagi melarang. Tentu, hanya satu di antara keduanya yang betul dan tidak mungkin betul kedua-keduanya. Salah satu cara untuk menyelesaikan problem itu dan memastikan mana yang benar di antara dua perintah dan larangan tersebut adalah dengan mengambil yang bertentangan dengan yang difatwakan oleh ulama kerajaan. Sebab yang sesuai dengan fatwa mereka memiliki kemungkinan Imam as menyampaikannya dalam rangka taqiyah itu. (Harus kita ingat) kondisi dan tekanan yang dialami Imam, meniscayakan Imam untuk bertaqiyah dengan menyatakan yang bersesuaian dengan fatwa mereka. Sebaliknya, yang bertentangan dengan fatwa mereka, maka tidak ada kemungkinan hal itu disampaikan oleh Imam dalam rangka taqiyah. Kesimpulannya, kaidah ini sangat jauh dari yang dipahami sebagian orang dan pada akhirnya tidak bertentangan dengan prinsip pendekatan dan persatuan antar mazhab.

S: Dalam ilmu hadis Syi’ah, kita tahu bahwa ada perbedaan penerimaan ulama antara perawi Sunni dengan Syi’ah. Bagaimana komentar YM?

T: Memang betul hal itu terjadi. Namun bukan berarti setiap hadis yang diriwayatkan oleh non-Syi’ah itu harus ditolak. Karena itu kita kenal ada istilah hadis muwatstsaq yaitu hadis yang diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syi’ah. Hadis muwatstsaq itu dapat dipergunakan (hujjah) sebagaimana ada istilah lain yang dikenal dengan “maqbulah”. Sungguh sebuah kesalahan besar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa Syi’ah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perawi Syi’ah saja atau Ahlulbait saja. Yang benar setiap hadis yang diriwayatkan oleh para perawi adil, baik Syi’ah atau bukan, dari Ahlulbait atau bukan, yang penting periwayatannya bersambung hingga seorang maksum (Rasul atau Ahlulbaitnya). Sekali lagi saya ingin tegaskan, bahwa jika ada hadis, sabda Nabi yang diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syi’ah, maka kami menerimanya. Begitu juga hadis yang disabdakan oleh para Imam Ahlulbait dan diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syi’ah.

S: Ada keragaman metode dan cara yang dilakukan oleh beberapa teman ustadz atau mubalig dalam mengenalkan mazhab Ahlulbait kepada masyarakat Indonesia. Ada yang masuk dari pintu sejarah, maka melakukan kajian historis yang meniscayakan adanya pembahasan tentang sahabat dan para khalifah serta kesalahan-kesalahan mereka. Sebagian lain melakukan kajian masalah-masalah yang berhubungan dengan fikih yang diperselisihkan, seperti shalat tarawih, mut’ah dan sebagainya. Sekelompok yang lain menggunakan pendekatan doa dan kadangkala masuk dari kanal politik. Sebagai seorang yang berpengalaman dalam hal ini, manakah di antara metode-metode tersebut yang Anda rekomendasikan kepada kami?

T : Secara pribadi saya tidak setuju adanya upaya untuk mengubah mazhab seseorang dan demografi mazhab. Saya meyakini, hendaknya kita tidak mengambil kesempatan kelengahan orang lain. Namun, pada saat yang sama saya meyakini, bahwa hal itu bukan berarti menutup pintu pembahasan dan dialog. Memang benar telah terjadi perselisihan dan perbedaan pandangan antara Sunnah dan Syi’ah dalam masalah-masalah teologi, historis, dan fikih. Akhir-akhir ini juga dalam masalah politik. Ketika kita berupaya untuk melakukan pendekatan, artinya kita membuka pintu lebar-lebar agar para ulama yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing duduk bersama untuk melakukan pembahasan. Di bidang sejarah misalnya, apakah masalah A itu pernah terjadi atau tidak? Apakah sahabat semuanya adil? Apakah Ahlulbait semuanya maksum, semua itu sebagai pembahasan sejarah haruslah diserahkan kepada ahlinya. Di dalam masalah akidah juga demikian para ulama membahas apakah sifat Allah itu menyatu dengan zat-Nya ataukah tidak? Apakah dalil tentang kemaksuman Nabi—baik rasional atau tekstual—mencakup adanya keterpeliharaannya dari kesalahan, dosa dan lupa ataukah hanya keterpeliharaan dari dosa dan maksiat saja? Begitu pula di bidang fikih, apakah mut’ah itu halal dan kemudian diharamkan (kembali) oleh Rasul atau tidak? Apakah Nabi melakukan shalat tarawih ataukah tidak? Siapa yang memulainya? Khalifah Umar atau lainnya? Apakah sunnah (ajaran yang dicontohkan) oleh para khalifah adalah seperti sunnah Rasul yang harus diikuti? Semua itu harus diserahkan kepada yang memiliki keahlian di bidangnya, karena merekalah yang lebih berkompeten dan memiliki sarana untuk membahas hal itu. Apakah riwayatnya sahih atau tidak? Apakah konteks hadis tersebut bisa dipahami (hujjah) demikian atau tidak? Bagaimana menyelesaikan perselisihan dan pertentangan dua hadis yang berbeda? Jika mereka dapat menghasilkan kesepakatan paham, alhamdulillah. Jika tidak, maka hendaknya masing-masing saling menghormati. Sangat tidak layak secara akademis jika seorang awam, pedagang yang sehari-hari di pasar membahas hal itu dengan sesama pedagangnya atau dengan sopir taksi misalnya. Itu adalah masalah-masalah yang para ulama telah berselisih pendapat sejak 1200 tahun yang lalu. Yang ingin saya tekankan di sini—seperti yang saya sampaikan dalam pertemuan di Universitas az-Zahra dan Konferensi ICIS II—adalah, bahwa Islam sangat menekankan pada kekuatan logika. Karena itu, semua pembahasan itu haruslah di bawah naungan logika tersebut dan jika terdapat yang keluar dari jalur logika maka ia telah keluar dari garis Islam. Saya sebagai seorang ahli fikih, misalnya, jika melakukan berbagai upaya untuk “menipu” dan menarik simpati seorang awam yang tidak banyak tahu tentang masalah fikih kemudian menariknya ikut dan bergabung dengan mazhab yang saya yakini, maka saya telah melanggar kode etik logis. Begitu juga seorang ahli sejarah yang membahas masalah sejarah yang diyakininya di depan seorang awam. Metode logis adalah ketika keduanya duduk sesama ahlinya dan selevel secara akademis kemudian masuk dalam pembahasan dengan hati terbuka dan tujuan yang baik dan saling menghormati seperti yang terkandung dalam ayat di atas. Selain itu hendaknya tidak memperkeruh atmosfer dengan hal-hal lain. Di zaman Nabi beliau dituduh dengan tuduhan gila, tukang sihir, dan tuduhan-tuduhan lain. Tentu dalam kondisi seperti itu Nabi tidak mungkin untuk membantahnya dengan mengatakan, ‘saya tidak gila dengan argumentasi berikut; satu, dua, tiga,…’ Atmosfernya adalah atmosfer tuduhan bukan pembahasan. Karenanya tidak ada jalan lain kecuali menghilangkan kondisi yang demikian dan menggantikannya dengan atmosfer baru yang kondusif untuk pembahasan ilmiah dan logis. Allah memerintahkan Nabi saw untuk menyeru mereka dengan firman-Nya, Qul innamaa a’idhukum bi wahidah an taqumu lillaahi matsnan wa furada tsumma tatafakkaru ma bishahibikum min jinnah, artinya “marilah kita jadikan Allah sebagai saksi kita dan kita duduk sendiri-sendiri atau berdua-berdua, baru kemudian setelah itu kalian mengolah pikiran kalian bahwa sahabat kalian ini tidaklah gila,” namun seorang yang berakal sehat, tulus, jujur. Ini yang pertama. Yang kedua apa yang disampaikan oleh Nabi itu adalah sebuah perkataan yang penuh hikmah dan logis. Bagaimana mungkin yang demikian disampaikan oleh seorang gila? Kesimpulannya haruslah diciptakan atmosfer pembahasan yang kondusif dan kekuatan logikalah yang menjadi lokomotifnya. Bahkan bukan hanya sesama Muslim atau Ahlulkitab, namun dengan seluruh manusia apa pun agama dan mazhabnya. Dan hal itu berlaku juga dalam pembahasan di bidang-bidang lain. Sangat tidak mungkin seorang pakar fisika melakukan diskusi dengan seorang pelajar yang baru duduk di bangku kelas satu SD.

S : Namun di saat pembahasan kadang-kadang seorang mubalig atau ustadz mendapatkan tantangan untuk masuk ke dalam masalah-masalah sejarah yang konsekuensinya harus membongkar file-file tentang sahabat. Apakah kita harus melayaninya atau meninggalkannya?

T: Menurut hemat kami seorang juru dakwah haruslah menghindari masalah-masalah yang menimbulkan sensitivitas di kalangan Muslimin, khususnya dalam masalah-masalah yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita saat ini. Perhatikan seberapa besar urgensi membahas siapa yang berhak untuk menjadi pemimpin setelah wafatnya Rasulullah, apakah Abu Bakar atau Ali? Apa manfaat jawaban dan hasil dari pembahasan itu bagi kehidupan kita saat ini? Almarhum Ayatullah Uzhma Sayid Burujurdi pernah berkata, “Daripada kaum Muslimin membahas siapa yang lebih berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah dan menimbulkan perselisihan berkepanjangan tanpa akhir, sebaiknya mereka membahas siapa yang lebih berhak untuk menjadi rujukan umat dalam hal keilmuan setelah Rasulullah.” Hal itu hampir menjadi kesepakatan ulama dan umat Islam. Bukankah semua Muslim dari mazhab apa pun dia, selalu menyebut Ali dengan sebutan imam? Para khalifah pun mengakui keluasan dan kedalaman ilmu Imam Ali. Mereka menyelesaikan problem yang dihadapi dengan meminta tolong kepada Imam Ali. Ilmu-ilmu Imam Ali dan Ahlulbait yang lain juga membuktikan hal itu. Begitu pula hadis-hadis Nabi tentang mereka, seperti ‘Aliyyun ma’al haq wal haqqu ma’a ‘Aliy (Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali), Inni tarikun fikumuts tsaqalayn kitabullah wa ‘itratiy ahlu baytiy (Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat: kitabullah dan itrah-ku, Ahlulbaitku) dan lain-lain. Semua itu menunjukkan bahwa merekalah poros keilmuan. Kita sisihkan saja pembahasan bahwa mereka merupakan poros dan rujukan masalah-masalah politik dan kepemimpinan setelah Rasul. Alasannya, selain hal itu tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita saat ini juga rentan menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin.

Poin penting lain yang perlu dilakukan oleh para juru dakwah dalam memperkenalkan mazhab Ahlulbait adalah dengan menyampaikan hadis, keindahan sabda-sabda penuh hikmah mereka, yang mereka sendiri menyebutnya dengan “mahasina kalamina (ucapan-ucapan indah kami).”

S: Apakah yang Anda sampaikan tadi meniscayakan kita menutup semua pembahasan sejarah, seperti kasus ‘pembakaran rumah’, perampasan tanah Fadak dan sejenisnya?

T: Menurut hemat saya, harus dibedakan antara ceramah umum dan pembahasan ilmiah. Hal itu tidak layak dan bahkan tidak boleh untuk disampaikan pada forum pertama namun bisa saja menjadi pembahasan ilmiah antar ahli sejarah. Kalau kita mau meneliti kehidupan Ahlulbait, kita tidak akan menemukan data yang menunjukkan bahwa mereka mengetengahkan kasus Fadak dalam ceramah dan diskusi mereka, kecuali di saat persitiwa itu terjadi saja semenjak Imam Ali, Imam Hasan hingga Imam Kedua Belas, karena hal itu merupakan kasus historis yang sangat parsial. Kami meyakini masih banyak masalah positif lain yang bisa disampaikan dalam rangka memperkenalkan Ahlulbait. Itu tentu jauh lebih baik dan produktif.

S : Bagaimana pandangan Anda terhadap uapacara dan ritual yang dilakukam oleh orang-orang Syiah di Iran dan di tempat lain, khususnya pada hari-hari Asyura yang kadangkala menyebabkan saudara-saudara kita dari Ahlussunnah merasa “risih” dan mengecamnya, seperti memukul kepala dengan pedang dan pisau, memukul-mukul dada dengan rantai hingga berdarah-darah?

T: Sebagian dari yang mereka lakukan, seperti menangis dan bersedih atas duka yang menimpa Ahlulbait adalah hal yang wajar. Banyak teks hadits yang menguatkan agar kita bersedih ketika Ahlulbait bersedih dan bergembira disaat mereka bergembira. Sebagian lain dari praktik-praktik itu merupakan ekspresi spontan (floklori). Setiap bangsa memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan kesedihannya. Misalnya, sebagian bangsa mengenakan baju hitam, sebagian yang lain menutup segala sesuatu dengan kain hitam, membuat makanan khusus dan membagi-bagikannya kepada yang membutuhkan. Semua ekspresi tersebut, selama tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak dilarangan.

Islam tidak pernah melarang adat istiadat dan budaya suatu bangsa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memberikan makanan pada fakir miskin, menampakkan kesedihan, tidak tertawa pada hari-hari Asyura, bahkan sebagian tidak merayakan akad nikah karena menghormati Imam Husain. Semua masalah ini adalah wajar-wajar saja dan saya tidak mendapatkan adanya larangan.
Satu hal lagi, kita tidak boleh ekstrim seperti sebagian salafiah yang mengatakan bahwa segala sesuatu harus ada contohnya di zaman Rasulullah. Menurut kami tidak harus begitu, sebab banyak dari masalah yang masuk dalam area mubah, sekalipun kita beri merek agamis. Seperti yang saya contohkan sebelumnya, misalnya tidak melakukan perayaan akad nikah di hari-hari Asyura atau Muharram demi penghormatan kepada Imam Husain.

Kecuali itu, melakukan hal-hal yang membahayakan bagi diri sendiri atau melakukan upacara-upacara yang dinisbahkan kepada agama, atau melakukan hal-hal aneh dan “risih”, semua itu tidak pernah diajarkan oleh Islam. Saya meyakini hal itu sebagai bid’ah dan penyelewengan yang tidak pernah diajarkan oleh wahyu dan tuntunan Allah SWT. Melukai diri, memukul kepala dengan pedang, berjalan di atas kobaran api dan sejenisnya yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam dan jika kita melihat juga ada ulama yang melakukannya, maka itu semua termasuk ujian yang dihadapinya dari penyakit awam. Sebenarnya hal itu tidak hanya terbatas pada apa yang dilakukan oleh umat Syiah saja, namun juga mencakup apa yang dilakukan oleh sebagian ahlussunnah atau kaum sufi.

S : Apakah menjadi keharusan untuk kita memperingati hari-hari besar keagaamaan seperti Asyura atau lainnya dengan mencontoh apa yang dilakukan di suatu negara tertentu dan kita terapkan di Indonesia secara seratus persen?

T : Seharusnya kalian memperhatikan budaya umum masyarakat Indonesia dan penerimaan mereka. Pokok penting yang mesti dipegang teguh adalah menjelaskan kesedihan kepada masyarakat kita bahwa kita memasuki hari-hari sedih Ahlulbait, tidak lebih dari itu.

S : Sebagian hadis dari jalur Ahlulbait kita dapatkan memiliki nuansa kultus yang berlebihan atau yang sering disebut dengan “ghuluw” begitu juga hal-hal yang aneh dan terkesan tidak logis sering dijumpai di situ. Bagiamana YM menyikapinya?

T : Sebagai sebuah kaidah umum tanpa menyebutkan riwayat ini dan itu secara khusus, secara umum semua riwayat haruslah diteliti keshahihan sanadnya, haruslah diketahui siapa yang meriwayatkannya, apakah bisa diterima atau tidak? Jujur atau tidak? Betapa banyak riwayat yang sanadnya lemah (dhaif) baik di dalam kitab-kitab hadis Ahlussunnah atau Syiah. Hadis-hadits semacam itu tidaklah bernilai, kecuali memiliki penguat lain, seperti misalnya, secara pribadi saya kadang-kadang menemukan sebuah hadits yang sangat memiliki kesesuaian dengan kata hati kecil (wijdan), maka saya menerimanya walaupun sanadnya belum jelas. Namun saya tidak berani menisbahkannya kepada Ahlulbait atau Rasulullah.

Saya menemukan sebuah teks yang sangat indah maknanya; Al ‘uqul aimmatul afkar, wal afkar aimmatul quluub, wal quluub aimmatul hawaas, wal hawaas aimmatul a’dha’. Artinya, akal adalah pemandu pemikiran. Pemikiran pemandu hati. Hati pemandu indera dan indera pemandu anggota tubuh yang lain. Sungguh ini sebuah realitas. Setiap orang yang merenungkannya akan menerimanya. Coba renungkan setiap orang yang berakal kemudian menggunakan akalnya, niscaya dia akan menghasilkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran tersebut nantinya akan memberi pengaruh pada sisi emosional kita, maka pemikiran itu pemandu hati sebagai pusat emosional. Hati, dengan kekuatan emosionalnya akan mempengaruhi indera yang pada akhirnya ia akan menggerakkan anggota tubuh yang lain untuk menghasilkan sebuah aksi. Hadis semacam ini sekalipun sanadnya mursal (tidak bersambung pada nabi atau Ahlulbait) dan tidak dalam rangka menetapkan sebuah kewajiban (taklif) atau meniadakan kewajiban, namun ia menceritakan sebuah realitas, maka tidak ada salahnya kita menerimanya.

Sekali lagi, setiap hadis haruslah diperjelas dan diteliti sanad periwayatannya di mana pun kita temukan hadis-hadis tersebut. Tidak semua hadis pasti “shahih” sekalipun Al-Kafi yang ditulis oleh ulama besar hadis, Al-Kulaini. Bahkan banyak para ulama yang mengatakan bahwa di dalam kitab Al-Kafi, lebih dari setengah kandungannya dhaif. Al-Majlisi meyakini lebih dari 2/3 dari hadis AL Kafi dhaif. Padahal Al-Majlisi tergolong ulama hadis yang tidak terlalu ketat dalam menerima periwayatan hadis. Maka semua hadis itu haruslah tunduk pada metode penelitian sanad.

Kemudian, kita harus meneliti isi dan apa yang dapat dipahami dari hadis tersebut (dilalah). Jika ia bertentangan dengan hukum akal yang jelas dan pasti, maka ia tidak bisa diterima, seperti hadis yang menerangkan tentang kebendaan (tajsiym) Allah Swt. Selanjutnya hadis yang dapat diterima harus yang tidak bertentangan dengan yang sudah masyhur, seperti yang disabdakan oleh Imam Ali as atau salah seorang Ahlulbait yang lain, “Hendaklah kalian mengambil hadits yang telah masyhur di kalangan kalian dan tinggalkanlah yang tidak demikian (ganjil/ syadz).” Jadi, hadis yang isinya terkesan menyalahi yang sudah masyhur, minimal harus diragukan kabsahannya.

Setiap yang masyhur, serta menjadi kesepakatan di dalam banyak hadis shahih dan di kalangan ulama bahwa Ahlulbait menolak segala bentuk penghormatan yang terkesan berlebihan (ghuluw) mereka selalu menjelaskan, bahwa diri mereka adalah hamba-hamba Allah yang saleh tidak pernah melanggar perintah Allah (maksiat), selalu mengajak kepada sikap wara’ dan kasih sayang sesama. Maka, segala sesuatu yang melebihi hal itu, maka haruslah ditolak, apalagi jika sanad hadisnya dhaif atau merupakan ucapan seorang ulama yang berangkat dari sisi emosional belaka. Apalagi sekedar untaian para penyair. Imam Ali bersabda, “Celaka dua golongan; yang belebihan dalam mencintaiku dan yang berlebihan dalam membenciku.” Ada seorang yang datang menemui Imam Ja’far Shadiq dan mengatakan kepadanya bahwa ada seseorang yang meyakini bahwa dirinya tidak perlu beramal karena kecintaan kepada Imam Ali bin Abi Thalib telah menggugurkan segala kewajiban dan amal baik. Imam Ja’far Shadiq berkata kepadanya, “Apakah taklif Imam Ali digugurkan darinya sehingga orang lain yang mencintai juga demikian? Jika Imam Ali sendiri tidak demikian, apalagi orang lain yang hanya berdalih telah mencintainya? Itu semua adalah ghuluw dan penyimpangan.”

S : Anda salah seorang murid Syahid Muhammad Baqir As Sadr, adakah pandangan khusus atau praktik khusus yang beliau contohkan kepada kita di dalam masalah ini (persatuan umat)?

T : Sebenarnya apa yang kami kemukakan adalah intisari dari pandangan para guru kami, Sayyid Burujurdi, imam Khomeini dan lebih khusus yang mulia Alm. Sayyid Muhammad Baqir As Sadr, sebagai bukti atas hal itu, beliau melarang bukunya yang membahas Fadak untuk dicetak dengan dalih bahwa beliau menuliskanya ketika berusia masih sangat belia dan kondisinya belum stabil.

S : Terima kasih atas waktu yang telah diberikan, khususnya sumbangsih pemikiran-pemikiran YM yang sangat berharga bagi kami semua dan jangan lupa mendoakan kami!

T: Saya akan mendoakan kalian dan semua muballigh agar Allah memberikan taufik-Nya untuk menyebarkan ajaran Ahlulbait as. Sebagaimana saya selalu berdoa untuk kemakmuran dan kejayaan Indonesia. Terakhir saya berharap kalian pun tidak lupa mendoakan saya.

Pewancara: Muhsin Labib dan Abdullah Beik
Editor : Arif Mulyadi dan Anwar M. Aris

Siapakah Sesungguhnya Sahabat Nabi?

Apakah seorang ‘muslim fasik’ yang terlahir pada zaman Rasul akan lebih mulia dari seorang ‘muslim bertakwa’ yang terlahir di akhir zaman seperti sekarang ini, sehingga yang itu (salaf) kebal hukum karena disebut sahabat dan mujtahid, sedang yang ini (khalaf)tidak semacam itu?

Jika ya, lantas harus kita taruh dimana ayat yang mengatakan “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian” (Inna Akramakum Indallahi Atqokum)? Dan dimana letak keadilan Allah yang tentu kita semua yakini bahwa, Ia Maha Adil dan Bijaksana ?

Jadi Siapakah Sesungguhnya Sahabat Nabi itu?

Salah satu fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Syiah terhadap mazhab Islam ini adalah bahwa Syiah telah mengkafirkan para sahabat.

Apakah benar Syiah mengkafirkan semua sahabat ataukah sebagian saja? Apa arti pengkafiran, apakah sama dengan kekafiran kaum non muslim atau sekedar kritisi karena kesalahan yang dilakukankan sebagian sahabat?

Tentu, dalam menjawab semua itu perlu tulisan tersendiri, namun di sini kita akan membahas definisi sahabat menurut ulama Ahlusunnah sendiri.

Untuk mempersingkat kajian, kita akan lihat sebagai contoh definisi sahabat dari dua ulama Ahlusunnah di bawah ini;

Dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang; “Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Atau dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana beliau mengatakan; “Yang benar menurut mayoritas adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (As-Sohih al-Ladzi Alaihi al-Jumhuur anna Kulla Muslim Ra’a an-Nabi wa lau Sa’ah fa Huwa min Ashabihi). (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Dan masih banyak ulama Ahlusunnah lain yang kurang lebih batasan sahabat menurut mereka sangat longgar, bahkan –dengan istilah ilmu mantiq (logika)- definisi mereka kurang jami’ dan tidak mani’ sehingga ‘muslim fasiq’ atau ‘munafiq’ pun akan bisa masuk kategori sahabat Nabi.

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat Nabi menjadi tiga golongan yang berbeda-beda: “Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (al-Fathir: 32).

Tentu, jika kita teliti dari obyek tadi maka orang-orang yang dimaksud pada ayat di atas adalah orang yang hidup sezaman dengan Nabi yang biasa disebut dengan sahabat. Adapun yang dimaksud dengan “ada yang menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

Dikarenakan penggunaan kata sahabat sangat umum maka dalam al-Quran pun sering dinyatakan bahwa, walau manusia durjana dan pendurhaka (kafir Quraisy) pun dimasukkan katagori sahabat seorang yang mulia (seperti Rasulullah). Sebagai contoh:

“Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

“Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

Dan atas dasar itulah (ketidakjelasan definisi) maka Nabi pernah bersabda berkaitan denan sebagian kaum muslimin yang sezaman dengannya yang masuk kategori sahabat beliau dengan ungkapan: “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (inna fi Ashabi Itsna Asyara Munafiqan). (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

Sekarang giliran saudara-saudara dari Ahlusunnah yang harus berpikir dan merenung;

Apakah definisi di atas tadi mencakup para manusia muslim yang baik pada zaman Rasul saja, atau juga mencakup yang penzalim yang hidup di zaman Nabi juga?

Apakah dalam ajaran Islam mengkritisi manusia penzalim hanya berlaku pada zaman tertentu saja, atau mencakup setiap zaman, termasuk kaum muslim penzalim zaman Rasul juga? Jika saudara dari Ahlusunnah berpendapat hanya pada zaman dimana kita hidup sekarang saja maka, dari sekarang kita gak usah menjadikan al-Quran sebagai pegangan karena al-Quran telah menyinggung kaum ‘muslim munafik’ zaman Rasul juga yang jika kita kembalikan kepada definisi di atas tadi maka muslim munafik tadi masuk kategori sahabat Nabi. Saya kira, sebagai musim sejati saudara dari Ahlusunnah tidak akan siap untuk tidak menjadikan al-Quran sebagai pedoman?

Bukankah seruan yang mengatakan “Setiap fenomena yang terjadi di antara sahabat hendaknya kita diam” (Kullu Maa Jara Baina as- Sohabah Naskutu) -yang terkenal dalam ajaran Ahlusunnah- akan menyebabkan terjadi kerancuan dalam berpikir dan bertindak, akibat paradoksi dalam tindakan dan prilaku sebagian sahabat berkaitan dengan selainnya. Karena seringnya diantara mereka –sebagaimana yang telah terukir dalam sejarah- terjadi saling dengki, saling caci-maki, saling laknat, saling ghibah, saling menuduh (fitnah), dan bahkan saling bunuh. Bukankah itu semua dilarang dalam Islam?

Mungkin sebagian dari saudara kita dari Ahlusunnah beralasan bahwa para sahabat SEMUA adalah pelaku ijtihad (mujtahid). Lantas biarkan kita (Syiah) akan bertanya kepada saudara kita itu;

Apakah mungkin luang lingkup ijtihad para sahabat tanpa batas sehingga hatta yang bertentangan atau bahkan melanggar batas kejelasan hukum Islam pun diperbolehkan? Dengan kata lain, apakah konsep ijtihad di Ahlusunnah istilah “ijtihad fi muqobil an-Nash” (ijtihad yang bertentangan dengan kejelasan teks agama) diperbolehkan?

Hukum ijtihad mujtahid mana yang membolehkan membunuh seorang mujtahid (sahabat) lain seperti yang dilakukan Muawiyah terhadap Amar bin Yasir, memperkosa istri orang sebagaimana yang dilakukan Khalid bin Walid terhadap istri sahabat Malik bin Nuwairah, meminum minuman keras sebagaimana yang dilakukan Walid bin Utbah, melakukan kebohongan atas nama Rasul sebagaimana yang dilakukan Abu Hurairah sehingga membuat sahabat Umar, sahabat Ali dan Ummulmukminin Aisyah marah, dan perbuatan keji lain yang jelas dilarang oleh ajaran Islam?

Kalaupun kita terpaksa harus menerima bahwa mereka berijtihad, kenapa kita yang hidup sekarang ini tidak boleh melakukan dan mencontoh ijtihad mereka dalam perbuatan ‘bejat’ tadi? Apakah penyebab mereka kebal hukum –atas setiap pelanggaran- dan kebal kritisi –dari umat yang datang setelahnya- hanya karena takdir Allah yang karena mereka telah tercipta (baca: terlahir) di masa hidup Rasul sehingga mendapat gelar Sahabat Rasul, walau hanya karena melihat beliau selintas saja?

Jika saudara dari Ahlusunnah masih tetap bersikeras untuk mengatakan yang mereka yakini itu –bahwa semua sahabat Nabi adalah baik, mujtahid dan layak diikuti- maka saran kami (Syiah), kita juga harus kembali menyinggung ke kajian Teology, terkhusus tentang konsep Keadilan Ilahi yang diawali dengan pertanyaan;

Benarkah Allah Maha Adil? Benarkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul sedang ia telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu nan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Silahkan saudara-saudaraku dari Ahlusunnah merenungkan hal tersebut di atas. Selamat merenung dengan kepala dingin dan dada yang lapang dengan menjauhkan dari fanatisme golongan agar hakekat yang ada nampak jelas.

Dan jangan sombong , artinya kalian tidak mau merenung karena jika mau merenung kalian takut terungkap kebenaran itu, bukankah merenung sesaat lebih baik dari Ibadah bertahun-tahun (al-Hadits)

Hasil Riset Ilmiah: Shalat Tambah Hormon Ketenangan Pada Manusia

Syeikh Ahmad Turki, Khatib Masjid Nur kawasan Abbasiyah, Mesir mengisyaratkan tentang penemuan ilmiah berkaitan dengan orang-orang yang menunaikan shalat. Beliau menyatakan: Para ilmuwan telah
menetapkan bahwa saat memulai shalat bahan “Dvbamyn” yang terdapat di otak mendatangkan
ketenangan spiritual pada manusia.

Dalam wawancara dengan salah satu jaringan TV, beliau menambahkan: bahan ini yang
berperan penting dalam pemindahan syaraf neuron di badan manusia yang dikenal
dengan “hormon bahagia”.

Syeikh Ahmad Turki menyitir hadis Nabi saw yang mengatakan: Bila Anda merasa lelah maka
berlindunglah kepada shalat. Lalu beliau menambahkan: Shalat memberi
ketenangan pada badan manusia. Dan berdasarkan penelitian ini penyebaran bahan
ini memberi kepuasan spiritual dan kebahagiaan kepada para pelaku shalat.

Perlu disebutkan bahwa sudah seringkali para ilmuwan dan peneliti Muslim dan
non-Muslim yang berhasil membuktikan pengaruh luar biasa shalat terhadap
keselamatan fisik dan jiwa manusia.(http://abna.ir/)

AYATULLAH REKAAN BERNAMA AYATULLAH ‘UZMA AL BURQU’I BERTOBAT DAN MENJADI WAHABI

Group Facebook Anti Syi’ah bernama Inilah Syiah dan penjelasanya II menuliskan :
Syi’ah tertusuk pada jantungnya, tatkala seorang Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl mengumumkan taubat dan keluarnya dari agama Syi’ah yang kotor itu, akal mereka tidak siap menerima kenyataan pahit seperti ini.Belum sembuh borok akibat Ahmad Al Kisrawi Rahimahullah yang bertaubat mendapat hidayah kepangkuan Islam dan memproklamirkan kebatilan agama Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah, disusul dengan bala’ susulan dengan taubatnya Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al Burqu’i yang diberi hidayah oleh Allah dan dilapangkan dadanya menerima Islam, menyambut panggilan kebenaran meninggalkan kebathilan dan orang-orangnya. Keluarnya Ayatullah Al ‘Uzma Al Burqu’i benar-benar mengguncang Syi’ah, karena ia (Al Burqu’i) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan berpengaruh.

Sekapur Sirih tentang Al Burqu’i

Dia adalah Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu’i. Nasabnya kembali kepada jalur Ahlul Bait. Dia adalah selevel dengan Khumaini dalam hal ilmu, hanya saja Khumaini lebih tinggi peringkatnya dalam referensi agama Syi’ah. Dia merupakan salah satu mercusuar agama Syi’ah kala itu. Dia mengumandangkan taubatnya setelah menjadi jelas baginya kesesatan agama Imamiyah Ja’fariyah. Peristiwa itu terjadi sebelum revolusi Iran, hal ini merupakan pukulan berat bagi Syi’ah secara umum dan bagi negara Iran secara khusus. Telah ditegakkan upaya-upaya penculikannya dan pembunuhannya. Satu diantara upaya itu hampir menghabisi hidupnya ketika salah seorang Iran menembakkan peluru ke arahnya yang sedang berdiri shalat, maka tidak ayal, peluru pun menembus pipi kirinya dan tembus keluar dari pipi kanannya. Dengan pertolongan Allah, dia bisa selamat dari tragedi ini. Dia bergabung dengan jama’ah ahlus sunnah dan salaf di Iran, shalat Jum’at serta jama’ah di Teheran, kawasan luar ‘Ghadzar Wazir Daftar’. Pemerintah menekan dan mempersempit ruang geraknya, dengan menguasai masjidnya secara paksa. Sementara gereja-gereja Nashrani dan sinagog-sinagog Yahudi menghirup udara segar dan bernafas dengan aman hingga ia menyebutkan dalam kitab-kitabnya, “Sesungguhnya di negeri kami ini, orang-orang Kristen, Yahudi dan Sekuler yang anti agama bisa hidup dengan nyaman. Sementara ahlus sunnah tidak pernah merasa tenang di negeri kami ini dan tidak bisa hidup ditengah-tengah orang-orang musyrik itu”.

Dia menulis banyak kitab, antara lain: Kasr Ash Shanam (Menghancurkan Berhala), yaitu bantahan terhadap Ushul Al Kafi, tertuang dalam 411 halaman dan dari sela-selanya dia mengurangi akidah Syi’ah dan menunjukkan kebatilannya. Tadhad Mafatih Al Jinan (Kontradiksi Kitab Kunci-Kunci Surga), kitab bantahan terhadap kitab Mafatih Al Jinan yang memuat doa-doa ziarah kubur dan tempat-tempat sakral lainnya serta doa haji ke makam. Kitab Mafatih Al Jinan ini tergolong kitab terpenting bagi Syi’ah yang selalu mereka bawa kemana mereka pergi. Didalamnya banyak ungkapan-ungkapan syirik, kufur dan ingkar Allah. Kitab bantahannya tertuang dalam 209 halaman. Dirasah fi Ahadits Al Mahdi (Studi tentang Hadits-hadits Mahdi), dia membongkar bangunan khurafat Al Mahdi versi Syi’ah dengan hujah (normatif rasional) dan burhan (demonstratif). Al Jami’ Al Manqul fii Sunan Ar Rasul (Penghimpun yang Ternukul tentang Sunnah-sunna Rasul). Dia menghimpun hadits-hadits shahih ahlus sunnah yang dicocokkan dengan hadits-hadits yang ada pada Syi’ah. Ushlub (metode) atau teknik ini membuktikan bahwa Syi’ah tidak mengambil kebenaran melainkan taqlid buta dan fanatik dengan hawa nafsu dan kesesatan. Kitab ini tertuang dalam 1406 halaman. Dirasah Nushush Al Imamah (Studi tentang Nash-nash Imamiyah). Disini dia menetapkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang pasti bahwa khilafah adalah haqq dan imamah yang mereka yakini adalah tidak berasal dan tidak berdasar, ia hanyalah kebohongan yang nyata. Kitab ini tertuang dalam 170 halaman. Disamping itu masih banyak karya-karyanya yang lain seperti: Naqd ‘Ala Al Muraja’at dan Tadhad Madzhab Al Ja’fari Ma’a Quran wa al Islam. Dia juga menterjemahkan mukhtashar Minhaj As Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ke dalam bahasa Persia.

Yang sangat mengherankan adalah bahwa Sayyid Al Burqu’i ini dulunya termasuk pemimpin gerakan melawan Ahmad Al Kisrawi Al Irani yang lebih dulu mengumumkan kebathilan Syi’ah. Dia sangat produktif dan dinamis dalam membantah pemikiran-pemikiran Ahmad Al Kisrawi, dan membela agama Syi’ah secara mati-matian. Tetapi Allah ingin menghinakan Syi’ah mulai dari ubun-ubun hingga di bawah telapak kaki, Dia menunjukkan ke jalan Islam. Sayyid Al Fadhl bukanlah Syi’ah awam, melainkan simbol dan mercusuar bagi Syi’ah yang ditunjuk dengan unung jari, dia mengemban gelar Ayatullah al ‘Uzma. Perlu pembaca ketahui, Syaikh Al Burqu’i setelah mendapat hidayah dia mengumumkan dan mengajak bahwa siapa saja yang pernah membayar khumus kepada dirinya, dia siap mengembalikannya, karena dia telah mengakui haramnya harta tadi yang dicuri dan dirampas dari tangan manusia. Dia telah memfatwakan haram mengambil khumus dari selain rampasan parang seperti keyakinan yang ada pada kaum muslimin. Akhirnya syi’ah telah memiliki pilihan lain untuk terbebas dari pengaruh selain memvonis penjara selama tiga puluh tahun tanpa memperhatikan usianya yang lanjut. Dan Syaikh Al Burqu’i meninggal dunia setelah matinya Khumaini. Renungkanlah bersama-sama, Syi’ah mengaku setia dan cinta kepada Ahlul Bait, bagaimana mereka memperlakukan Syaikh Al Burqu’i Rahimahullah? Padahal ia termasuk cucu dan keturunan Ahlul Bait. Lihatlah bagaimana upaya mereka dalam menculik dan membunuh orang yang nasabnya kembali kepada Ahlul Bait? Lihatlah akhirnya, bagaimana mereka mengurung dalam penjara dengan vonis 30 tahun tanpa ada belas kasih?! Apakah mereka termasuk orang yang patut dicontoh?
Kemanakah perginya cinta mereka yang didengung-dengungkan itu? Di manakah bersembunyi?
Telah banyak kaum Syi’ah yang terpengaruh dengan gerakan Syaikh Al Burqu’i Rahimahullah. Maka sebagian peneliti dan pencari kebenaran serta para mullah mulai mengkaji kembali dan berfikir ulang tentang ritus-ritus paganisme yang ada pada mereka. Hasilnya sebagian mereka kembali kepada kebenaran dan yang lain menyembunyikan taubatnya karena takut disakiti. Belum lewat tahun-tahun yang panjang, Allah sudah menimpakan musibah yang lain lagi kepada Syi’ah. Pada saat-saat ini seorang guru besar mereka Ustadz (Prof.) Ahmad Al Khatib Al Irani mengumumkan batilnya wilayah (imamah), rusaknya ishmah imam, khurafat Mahdi Muntazhar, dan bahwa Ahlul Bait (Ali Radhiyallahu ‘anhu dan anak-anaknya) adalah penganjur dan penyeru musyawarah, tidak memiliki ambisi menjadi sultan. Dia juga menyebutkan bahwa tasyayyu’ rentan dengan penyelewengan dari pangkalan yang sebenarnya.
Maka dia menulis dalam kitabnya, Min Asy Syura ila Wilayah al Faqih: Didalam permulaan sejarah, terdapat banyak sahabat dan tabi’in pilihan menanggulangi penyimpangan politik dan sikap egois, mereka menyerukan reformasi dan perbaikan dengan kembali ke sistem syura. Dan yang paling depan di antara mereka adalah ahlul bait, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah sosok-sosok manusia yang paling zuhud terhadap dunia. Tidak memiliki ambisi terhadap kekuasaan dan tidak pula rela mengikut para pemimpin yang menyimpang dalam menegakkan pemerintah dengan sistem warisan. Mereka justru menyeru pengembalian kekuasaan ke tangan umat Islam, melalui ahlul haili wal ‘aqdi dan menghormati suara dan keinginannya. Begitulah Syi’ah pada generasi-generasi awal, para revolusioner yang mengibarkan bendera syra, melawan anarkhisme dan egoisme. Akan tetapi prinsip-prinsip tasyayyu’ (dukung mendukung) telah mengalami pencorengan dan penyimpangan dengan adanya arus asing yang baru yang menenggelamkan risalah ahlul bait dan menghilangkannya dari ingatan masyarakat. Hal yang mengakibatkan perjalanan Syi’ah dalam berabad-abad penuh dengan kebingungan, kemandegan, keterasingan dan keluar dari layar sejarah. Perlu kita ingatkan, bahwa mulai terungkap di tengah-tengah pemuda dan pemudi Iran, khurafat Mahdi Muntazhar. Mereka menjadikan sosok Mahdi Syi’i sebagai bahan lelucon, dan permainan yang menjadi bahan tertawaan dan lawak-lawak di panggung-panggung teater mereka. Maka bergulirlah perbincangan tentang kelucuan Mahdi buatan di kalangan masyarakat Syi’ah.

Karena itu para mullah bergerak menyebarkan agama Syi’ah di luar wilayah Iran dan di luar masyarakat Syi’i yang sudah memahami alur ceritanya. Mereka memanfaatkan harta untuk menyebarkan agama kotor ini, mereka tidak lain adalah tumbal-tumbal yang disuguhkan kepada bangsa-bangsa Iran Parsi agar bertambah imannya kepada khurafat Mahdi, sehingga menjadi lekat dongeng itu dalam pikiran. Begitulah pukulan demi pukulan menerpa dada Syi’ah, belum hilang panasnya tamparan sudah melayang tamparan lain. Berkas cahaya pasti merobek hijab kegelapan, lalu akalpun menjadi tenang dan cerah satu demi satu, sehingga sekalipun lapisan-lapisan kegelapan dari para pemimpin kesesatan berusaha menutupi kenyataan dan berusaha mengusir dan menghalau sorot-sorot cahaya. Sesungguhnya kebenaran pasti tampil, aqidah shahihah adalah batu besar yang padat yang tidak lapuk dan rontok karena tiupan badai khurafat, tiupan bid’ah dan ombak dhalalah.
Sumber :
Gen Syi’ah Sebuah Tinjauan Sejarah, Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi, Mamduh Farhan Al Buhairi, Penerbit Darul Falah, hal 243-247.
Anti Syi’ah Rafidhah

Syi’ah menanggapi :

Agaknya kaum polemis dari kalangan ahlu sunnah mengalami frustasi menghadapi kenyataan banyaknya ulama-ulama mereka (sunni) yang kemudian hijhrah ke madzhab syi’ah ahlul ba’it yang dipastikan kebenaranya melalui kajian mendalam, sekedar menyebutkan sebagian mereka diantaranya adalah :
1. Muhaddis Jalil Abu Nafar Muhammad bin Mas’ud bin “iyasy, dikenal dengan al ‘iyasy dia yang menulis tafsir al m’atsur dan kitab al ‘iyasyi.
2. Syeikh Muhammad Mar’i al Amin al Anthaki, beliau menuliskan kitab Limadza Ikhtartu Madzhab asy syi’ah.
4. Syeikh Muhammad Abu Rayah. menuliskan adhwa’ ala as sunnah al muhammadiyyah dan kitab abu hurairah syeikh al mudhirah.
5. Ahmad Husain Yaqub. menuliskan Nadzariyyah al adalah ash shahabah dan kitab al khutuhath as siyasiyyah li tawhud al ummah al islamiyyah.
6 at Tijani as samawi, menuiliskan Tsamma Ihtadaitu.Li’akuna Ma’a ash shadiqin , Fas’alu ahla adz dzkr, asy syi’ah hum ahlus sunnah.
7. Sayid Idris al husaini, menulis Laqad Tasyayya’ani al husain, al Khilafah al Mughtashabah dan kitab Hakadza ‘araftu asy syi’ah.
8. Sha’ib Abdul Hamid, kItab Manhaj fi al Intima’ al Madzhabi.
9. Sa’id Ayub, ‘Aqidah al Masih ad Dajjal dan Ma’alim Fatan.
10. Shalih al Wardani, al Khuda’ah, Rihlati min as sunnah ila asy syi’ah, Harakah ahlul Bait as, asy syi’ah fi mishr, ‘aqa’id as sunnah wa ‘aqa’id asy syi’ah.
11. Muhammad abdu; Hafidz, Limadza ana ja’fari.
12. Sayyid Abdul Mun’im Muhammad al Hasan, Bi Nur Fathimah Ihtadaitu
13. Syekh Abdul Nashir, Syi’ah wa al Qur’an, asy syi’ah wa hadits, asy syi’ah wa ash shahabah, asy syi’ah at taqiyyah dan asy syi’ah wa al imammah
14. al ‘Alim al Khathib al Munadzir sayyid ali al badri, ahsan al mawahib fi haqa’iq al madzahib.
15. Sayyid Yasin al Ma’yuf al Badrani, Ya Laita Qawmi Ya’ lamun.
Kepanikan kelompok polemis ahlu sunnah yang diwakili oleh Mamduh Farhan Al Buhairi disikapi dengan menciptakan tokoh palsu yang direka-reka sendiri seolah-oleh telah ada seorang ulama syi’ah telah meninggalkan madzhab syi’ah dan memilih madzhab ahlu sunnah, ulama fiktif rekaan Mahmud Farhan Al buhairi itu bernama : Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu’I
Jika diberbagai group-group atau forum-forum anti syi’ah di postingkan artikel tulisan Mamduh Farhan al Buhairi di atas, dan para pengikut Ahlul Ba’it tidak menanggapi, hal itu bukan berarti sebagai keterkejutan atau tertusuk jantungnya, diamnya para tasyayu’ itu disebabkan karena tidak dikenalnya nama Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu’I ? Bahkan nama-nama seperti, Ahmad Al Kisrawi Ahmad Al Khatib Al Irani pun di kalangan Syi’ah tidak ditemukan, boleh jadi kedustaan itu sama dengan kedustaan yang dilakukan oleh ahlu sunnah atas pemalsuan buku Imam khomaini – Kasyful Asrar -, yang justru dibongkar oleh Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, kelompok ahlu sunnah itu memalsukan sejumlah nama yang orangya pun tidak ada seperti : Dr. Muhammad al Bandari, Sulaim al Hilalali dan Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib [1] Apa yang mau di tanggapi orangnya saja tidak ada dan itu hanya tokoh rekaan imajinasi dari Mamduh . Nah pada tulisan kali ini kami akan menunjukan dimana letak kedustaan seorang polemis ahlu sunnah yang bernama Mamduh Farhan Al Buhairi yang artikelnya sempat menjadi senjataan kebanggaan kelompok ahlu sunnah. Perhatikan orang-orang yang mengaku pengikut Sunnah dan mengklaim ahlu sunnah justru berbuat kotor dan nista, bahkan mereka tanpa malu menggelari tokoh-tokoh rekaan mereka dengan gelar akademis agar para pembacanya percaya.
Ketidak Pahaman Mamduh Farhan Al Buhairi terhadap gelar Ayatullah Uzma
Bukti bahwa Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu’I adalah tokoh rekaan, sebetulnya sudah ketahuan bahkan d ialenia paling awal dari tulisan Mamduh Farhan Al Buhairi. Banyak kontadiksi-kontradiksi dan kelucuan-kelucuan yang tertulis disana, misalkan “…Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl …memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan berpengaruh.. Dia adalah selevel dengan Khumaini dalam hal ilmu, hanya saja Khumaini lebih tinggi peringkatnya dalam referensi agama Syi’ah. Dia merupakan salah satu mercusuar agama Syi’ah kala itu.”
Letak keanehan dari tulisan tersebut adalah bahwa Mamduh Farhan Al Buhairi bahkan sama sekali tidak tahu makna gelar Ayatullah Uzma, dia hanya berputar-putar pada kalimat “kedudukan yang sangat tinggi” dan “mercusuar agama Syi’ah” dari sini saja sudah ketahuan perekayaasaan cerita. Bagi kalangan syi’ah, gelar Ayatullah Uzma itu adalah gelar yang diperuntukkan seorang mujtahid yang telah menjadi marja’ taqlid (panutan dalam hal agama, seperti Imam Syafi’i , Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Hanbali di sunni). Berbeda dengan kalangan Sunni yang menjadikan tempat rujukan untuk masalah-masalah kontemporer yang terus berkembang kepada ulama empat itu meskipun mereka sudah wafat, – dan tetu saja mereka tidak bisa menjawab wong sudah wafat dan akhirnya kalangan ahlu sunnah dalam fiqih pun terjebak dalam stagnasi, di kalangan syi’ah jika ulama rujukan sudah wafat maka akan di gantikan ulama berikutnya sehingga setiap masalah yang baru yang dimasa sebelumnya tidak ada akan di selesaikan oleh ulama berikutnya yang masih hidup. Dikalangan ahli agama fenomena dari tugas ulama ini adalah melakukan penyimpulan hukum (istinbath) dari sumber yang bersifat tetap (Rabth al mutaghayyir bi atstsabit ) Yakni Al Qur’an Sabda Nabi dan perkataan Imam untuk menjawab relvansi persoalan yang bersifat kiwari – relevansi yang kiwarai dengan sesuatu yang azali (rabth al Hadits bi al Qadim)- di kalangan ulama syi’ah metode ini dikenal dengan konsep mughalathah (paralogisme), karena perangkat ilmu untuk dapat memenuhi syarat menjadi praktisi mughalathah ini sangat berat maka orang yang mencapai kemampuan ini sangatlah sedikit, dan para sarjana yang cerdas dan alim yang memenuhi prasyarat itu yang berhak menyandang sebagai Ayatullah Uzma dan dia menjadi rujukan. Bandingkan dilingkungan ahlu sunnah setiap orang bahkan bisa mengeluarkan fatwa agama bahkan dengan modal yang sangat pas-pasan [2], maka tak heran seorang selebritis yang jadi da’i pun menjadi ulama rujukan.
Seperti yang dijelaskan di atas bahwa orang yang mencapai kemapuan sebagai Ayatullah Uzma boleh di bilang sangat sedikit, dan oleh karenanya orang tersebut sanagat terkenal. Sebetulnya Mamduh Farhan Al Buhairi menyebutkan bahwa Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al Burqu’I adalah orang yang bepengaruh, namun karena tidak mengetahui tradisi syi’ah sehingga dia tidak bisa menjelaskan pengaruhnya dalam apa. Bahkan iapun terpelesert dengan tulisannya sendiri “Dia adalah selevel dengan Khumaini dalam hal ilmu, hanya saja Khumaini lebih tinggi peringkatnya dalam referensi agama Syi’ah.” Dan ini sangat lucu, apa nggak aneh orang yang kurang penguasaanya dalam refrensi agama syi’ah bisa jadi Ayatullah Uzma” (wah..wah ini betul betul dagelan bantul ha ha ha)
Kecentang perenangnya peristiwa berpindahnya Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl ke madzhab sunni

Mamduh Farhan al Buhairi menuliskan masuknya Burqui ke madzhab sunni: “Peristiwa itu terjadi sebelum revolusi Iran, hal ini merupakan pukulan berat bagi Syi’ah secara umum dan bagi negara Iran secara khusu” dan di alinea berikutnya dituliskan lagi : Pemerintah menekan dan mempersempit ruang geraknya, dengan menguasai masjidnya secara paksa. Sementara gereja-gereja Nashrani dan sinagog-sinagog Yahudi menghirup udara segar dan bernafas dengan aman hingga ia menyebutkan dalam kitab-kitabnya, “Sesungguhnya di negeri kami ini, orang-orang Kristen, Yahudi dan Sekuler yang anti agama bisa hidup dengan nyaman. Sementara ahlus sunnah tidak pernah merasa tenang di negeri kami ini dan tidak bisa hidup ditengah-tengah orang-orang musyrik itu”.
Memperhatikan tulisan diatas jelas tampak sekali kedustaan al Buhairi, bukankah pemerintahan sebelum Republik Islam Iran adalah pemerintahan Reza Syah Pahlevi yang bersifat monarki sekuler ? bahkan syah iran sangat represif terhadap ulama-ulama syi’ah di Iran dengan mengerahkan SAVAK untuk melakukan sejumlah aksi kotor dan menangkapi para ulama syiah [3], jika menampar pemerintahan Iran apa nggak aneh ini ? Perlu di ingat bahwa pemerintahan syah Iran pada saat itu di dukung CIA, diantaranya bernama Allan Dulles, kalau memang tokoh yang bernama Al Burqu’I itu ada dan menyeberang ke Sunni itu ada tentu saja akan di manfaatkan dengan baik oelh agen Savak dan CIA untuk menggembosi gerakan ulama-ulama syi’ah apalagi yang menyeberang adalah ayatollah Uzma yang denganya dia dapat dimanfaatkan fatwanya untuk menggiring pengikutnya menyebrang, dan ternyata nama itu tidak ada dan tidak pernah ada.
Agaknya dongengan itu sebenarnya untuk mendiskriditkan pemerintahan Republik Islam Iran, karena biasanya pemerintahan iran sering di fitnah oleh orang-orang sunni dengan tuduhan “gereja-gereja Nashrani dan sinagog-sinagog Yahudi menghirup udara segar dan bernafas dengan aman, tapi mungkin sangking semangatnya membuat fitnah justru dia lupa bahwa dia mengarang cerita ada ayatollah uzma yang masuk sebelum revolusi, yang membenci ulama. Lagi-lagi tulisan Mamduh ini tak lebih dari dagelan bantul.
Semakin terungkap lagi kebohonagn Mamduh Farhan al Buhairi tatkala ia menyebut “menekan dan mempersempit ruang geraknya, dengan menguasai masjidnya secara paksa” bukankah ini bisa menjadi insiden nasional yang segera menjadi konsumsi pers-tentu saja kalau itu terjadi- lalu masjid apa dan di mana ? di frase berikutnya Mamduh Farhan al Buhairi menuliskan : hingga ia menyebutkan dalam kitab-kitabnya, “Sesungguhnya di negeri kami ini, orang-orang Kristen, Yahudi dan Sekuler yang anti agama bisa hidup dengan nyaman. Sementara ahlus sunnah tidak pernah merasa tenang di negeri kami ini dan tidak bisa hidup ditengah-tengah orang-orang musyrik itu”. Mamduh Farhan al buhairi mengutip dari judul Kitab apa ? bukankah dibawah disebutkan nama kitab-kitab fiktifnya.
Kisah Debus di tangan Mamduh Farhan al Buhairi

Lagi-lagi Mamduh Farhan al Buhairi terjungkal di tulisanya sendiri, ia menuliskan cerita bak debus dalam tulisanya: “Telah ditegakkan upaya-upaya penculikannya dan pembunuhannya. Satu diantara upaya itu hampir menghabisi hidupnya ketika salah seorang Iran menembakkan peluru ke arahnya yang sedang berdiri shalat, maka tidak ayal, peluru pun menembus pipi kirinya dan tembus keluar dari pipi kanannya. Dengan pertolongan Allah, dia bisa selamat dari tragedi ini” apa ke anehanya, bagi anda yang sedikit saja memahami anatomi faali manusia dan sedikit memahami pengetahuan balistik anda akan dibuat aneh dengan tulisan ini, impulsi di area ruang rahang yang terkena tembusan rotasi silender balistik peluru yang melewati pipi kiri keluar pipi kanan dan orang itu selamat dan kembali beraktifitas adalah kasus yang sangat langka bahkan musykil sekedar contoh saja syahidnya Ayatullah Murthadha Muthari adalah kasus penembakan yang hamper sama, dan banyak kasus sama ditemukan dari aksi bunuh diri para perwira tinggi jerman pada saat menghadapi kekalahan melawan sekutu, dengan model penembakan hara-kiri seperti yang diceritakan diatas. Tapi okelah kita percayai saja cerita itu, toh disana dituliskan frasa berikut : Dengan pertolongan Allah, dia bisa selamat dari tragedi ini, tetapi siapakah yang menembak ? dan dimana terjadi ? oleh tentara/polis siapa ? kalau itu benar terjadi peritiwa itu adalah peristiwa besar karena yang ditembak adalah ayatollah uzma, dan bukankah dua wartawan Indonesia Syafiq Basri dan Sybha asa (yang agak sinis juga dengan syi’ah) berada disana mengapa tidak pernah melaporkan peristiwa itu, Jika peristiwa itu benar terjadi, pada saat Seminar Istiqlal yang membahas syi’ah itu, syubha asa akan mengeksploitasi peritiwa itu untuk digunakan alat untuk menyerang syi’ah [4]. Lagi-lagi keanehan dan kedustaan orang-orang ahlu sunnah yang gemar berdusta.
Gerakan Salaf di Iran ?

Tidak puas dengan rekayasa cerita Mamduh Farhan al buhairi kembali membuat kebohongan dengan menuliskan : Dia (al burqui)bergabung dengan jama’ah ahlus sunnah dan salaf di Iran, shalat Jum’at serta jama’ah di Teheran, kawasan luar ‘Ghadzar Wazir Daftar’ ada baiknya anda membaca buku Rida Gul Surkhi, “Fida’iyan I Islam, aghaz gar I junbish I musallahanih dar Iran, atau buku Barnamih I hukumat I fida’iyan I Islam karya Navvab Safavi, atau Ridha Hakimi, berjudul Tafsiri aftab, jadi anda akan tahu kebohongan dari mamduh Farhan al Buhairi tentang kiprah gerakan salaf di Iran.
Kapan sebenarnya al Burqui itu wafat ?
Kebohongan mamduh Farhan al Buhairin ini semakin jelas ketika anda memperhatikan tulisan berikut : “memvonis penjara selama tiga puluh tahun tanpa memperhatikan usianya yang lanjut. Dan Syaikh Al Burqu’i meninggal dunia setelah matinya Khumaini. bagaimana mereka mengurung dalam penjara dengan vonis 30 tahun tanpa ada belas kasih?! Apakah mereka termasuk orang yang patut dicontoh?
Cerita diatas semakin aneh saja, disebutkan bahwa Burqui di penjara (tapi tidak jelas pemerintahan siapa yang memenjarakan) selama 30 tahun dan meninggal setelah meninggalnya Imam Khumaini, apa tidak aneh cerita ini, usia revolusi Islam Iran baru 31 tahun, jika benar Burqui ditangkap dan dipenjara diawal revolusi (1979), berarti pada tahun 2009 Burqui Wafat, sedangkan informasi ini konon dimuat dan diterbitkan oleh Penerbit Darul Falah pada tahun 2007/2008 (saya pernah membaca artikel ini di situs myquran.com dan dipostingkan oleh orang yang bernama movet pada tahun 2007) apa tidak aneh ini ? Tapi okelah kita percayai saja dulu.
Perlu di ingat bahwa beberapa wartawan dari Indonesia pernah berkeliling dipenjara-penjara di Iran [5] Menurut Basri kunjungan itu diikuti pula oleh Peter Scool Latour, yang mencari-cari keburukan perlakuan pada peakitan di penjara Iran, dan sama sekali tidak ditemukan nama : Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl, jika ditemukan tentu Latour bersama barat yang memusuhi iran akan menjadikan bahan tekanan dengan melibatkan Badan Amnesty Internasional, faktanya tidak ditemukan sama sekali laporan nama itu dan Basri pun bahkan syu’bha asa tak menemukan nama itu sama sekali, berate inilah kebohongan seorang sarjana ahlu sunnah, apakah begini ajaran ahlu sunnah ? menghalalkan dusta dan kebohongan ? apa patut di contoh ?
Kitab-Kitab yang ta pernah ada
Mamduh Farhan al Buhairi menuliskan sejumlah karya al Burqui sbb :
1. Kasr Ash Shanam (Menghancurkan Berhala), yaitu bantahan terhadap Ushul Al Kafi, tertuang dalam 411 halaman
2. Tadhad Mafatih Al Jinan (Kontradiksi Kitab Kunci-Kunci Surga), kitab bantahan terhadap kitab Mafatih Al Jinan 209 halaman
3. Dirasah fi Ahadits Al Mahdi (Studi tentang Hadits-hadits Mahdi), dia membongkar bangunan khurafat Al Mahdi versi Syi’ah dengan hujah (normatif rasional) dan burhan (demonstratif).
4. Al Jami’ Al Manqul fii Sunan Ar Rasul (Penghimpun yang Ternukul tentang Sunnah-sunna Rasul). Dia menghimpun hadits-hadits shahih ahlus sunnah yang dicocokkan dengan hadits-hadits yang ada pada Syi’ah. Ushlub (metode) atau teknik ini membuktikan bahwa Syi’ah tidak mengambil kebenaran melainkan taqlid buta dan fanatik dengan hawa nafsu dan kesesatan. Kitab ini tertuang dalam 1406
5. Dirasah Nushush Al Imamah (Studi tentang Nash-nash Imamiyah). Disini dia menetapkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang pasti bahwa khilafah adalah haqq dan imamah yang mereka yakini adalah tidak berasal dan tidak berdasar, ia hanyalah kebohongan yang nyata. Kitab ini tertuang dalam 170
6. Naqd ‘Ala Al Muraja’at dan Tadhad Madzhab Al Ja’fari Ma’a Quran wa al Islam
7. Menerjemahkan Mukhtashar Minhaj As Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Ditambah Farhan al Buhairi menuliskan bahwa Ustadz (Prof.) Ahmad Al Khatib Al Irani menulis Min Asy Syura ila Wilayah al Faqih. Melihat daftar judulnya buku tersebutbisa dikatagorikan buku serius dan tentu saja ulama-ulama syi’ah akan menanggapi secara ilmiah – Kalau memang buku itu pernah ada – apalagi di Iran ada komisi yang menangani penerbitan buku-buku, jika buku itu terbit tentu akan segera di tanggapi secara luas sebagimana tradisi ilmiah dalam syi’ah,
Hampir semua karya-karya yang menyerang syi’ah ddijawab oleh ulama-ulama syi’ah dan para penyerang itu tidak lagi berkutik kami sebutkan diantara kitab-kitab itu :
1. Karya al Khudhari, Mudharat fi Tarikh al Umam al islamiyah diterbitkan dengan judul Ceramah-ceramah tentang sejarah umat islam)
2.Karya Rasyid Ridha, As sunnah wa Asy Syi’ah diterbitkan dengan judul Sunnah dan syi’ah.
3. Karya al Qashimi, Ash Shira’ Baina watsaniyyah wa al Islam diterbitkan dengan judul Pertarungan antara paganisme dan Islam
4.Ahmad Amin, Fajr wa Islam wa Dhuha al islam diterbitkan dengan judul Fajar islam (Belakangan penulisnya Ahmad Amin melakukan pertobatan dan permohonan maaf kepada Muslim Syi’ah, Ahmad Amin karena merasa bersalah telah menulis distorsi atas syi’ah akhirnya pada tahun 1349 Hujriah dia mendatangi najaf dan disana menyatakan permohonan maaf, diantara Ulama syi’ah yang menerimanya adalah Syeikh Muhammad Husain Kasyif al Gita.
5. Karya Musa Jarullah, Al Wasyi’ah fi Naqqd asy syi’ah diterbitkan dengan judul kumpulan kritik terhadap syi’ah
6. Karya Muhibbudin Khatab, al Khuthuth al ‘aridhah diterbitkan dengan judl jaringan luas
7. Karya Ihsan Illaihi zahir, Asy syi’ah wa sunnah.
8. Karya Ihsan Illaihi zahir, Asy syi’ah wa al qur’an
9. Karya Ihsan Illaihi Zahir asy syi’ah wa ahlul ba’it
10. Karya Ihsan Illaihi Zahir asy syi’ah wa at tasyayyu’
11. Karya Ibnu Taimiyah, Minhaj as sunnah
12. Karya Nshir al Ghifari, Ushul Madzhab as syi’ah
13. Karya Abdullah Muhammad al Gharib, Wa ja’a Dawr al Majus
14 Karya ad Dahlawi. At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah
15. Karya Muhaddits Tsabit al Mishri, Jawlah fi Rubu’ asy syarq al Adna
Dan kitab-kitab di atas ditanggapi oleh :

1. Syarif Murthadha dalam kitab asy syafi fi al Imammah (belum diterjemahkan)
2. Alamah al Hilli, Nahj al Haq wa kasyf ash shidsiq (kitab ini dikritik kelompok sunnah oleh Fadhl bin Ruzbahab, al asy’ari, Ibthal al Bathil wa ihmal kasyf al ‘athil)
3. Sayyid Nurullah al Husaini al Tusturi, Ihaqaq al Hal, kitab ini ditujukan untuk menanggapi kitab Ibthal al Bathil wa ihmal kasyf al ‘athil yang sebelumnya kitab karya Fadhl bin Ruzbahab ini di koreksi oleh Ayatullah syihabuddin al Mar’asyi an Najafi.
4. Alamah al Mudzaffar, menulis Dalail ash shiddiq, untuk menanggapi kitab Minhaj as sunnah, dan banyak menyoroti kebencian Ibnu Taimiyah pada keluarga Rasulullah saw.
5. Allamah Abdul Husain al Amini, menulis al Ghadir kitab ini di dedikasikaan untuk mengkoreksi dan membantah kitab : al ‘aqad al farid, al farq bainal fariq, al milal wa an nihal, al bidayah wa an nihayah, al mashsar, as sunnah wa asy syi’ah, ash shira’, fajr al Islam, dhuha al isalm, ‘aqidah asy syi’ah , al wasyi’ah, minhaj as sunnah
6. Sayyid Hamid Husain Ibnu sayyid Muhammad Qili al Hindi, ‘Abaqat al Anwar fi Imamamh al Aimamah al Athhar. kitab ini untuk menjawab ath tuhfah al Itsna ‘asyariyyah, Menarik untuk di catat disini kitab ini adalah kitab pungkasan yang sampai saat ini ahlu sunnah belum ada yang mampu memberi sanggahan terhadap kitab ini.
7. Murthadha al ‘askari, Ma’alim al madrasatain
8. Abu Ahmad bin abdun Nabi an Naisabhuri, as saif al Maslul ‘ala Mukhribi din ar Rasul.
9. Muhammad Qili, an Nazhah al Itsna ‘Asyariyyah.
10. Syeikh subhan Ali Khan al Hindi, al wafiz fi al Ushul
11. Sayyid Muhammad sayyid al Immamah dan al Bawariq al Illahiyyah.
Al Dahlawi semula menyerang syiah lewat kitab At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah dan langsung ditanggapi kitab ash shawarim allahiyyah karya sayyid Deldor Ali dan Kitab sharim al Islam, kemudian kitab ini di tanggapi oleh murid al Dahlawi yang bernama Rasyidudin al Dahlawi lewat kitabnya asy syawakah al “umariyyah, kemudian kitab ini ditanggapi lagi oleh ulama ahlul ba’it Bqir Ali lewat karyanya al Hamlah al Haidariyyah dan al Mirza dengan karyanya an Niazhah al Itsna “asyariyyah dan kitab ini ditanggapi oleh ahlu sunnah lewat kitab Rujum asy syayathin. Dan kitab inipun di jawab oleh ulama syi’ah Sayyid Ja’far Musawi dalam kitabnya Mu’in as shadiqin fi Radd Rujum asy syayathin.
Kitab ad Dahlawi. At Tuhfah al Itsna ‘asyariyyah dtanggapi pula oleh Muhammad Qili lewat al ajnad al Itsna “asyariyyah al Muhammadiyyah, kemudian kitab ini ditanggapi oleh Muhammad Rasyid ad Dahlawi, dan ditanggi lagi oleh Sayyid Muhammad Qili dalam kitab al ajwibbah al Fakhirah fi ar radd ‘ala al Asya’irah. Dan seluruh polemik ini di akhiri oleh Sayyid Hamid Husain Ibnu sayyid Muhammad Qili al Hindi yang berjudul ‘Abaqat al Anwar fi Imamamh al Aimamah al Athhar. Hingga hari ini tidak kitab ahlu sunnah yang menanggapi kitab ini Dan ahlu sunnah tak bisa membantah kebenaran syi’ah hingga akhirnya ditempuh cara-cara kotor memalsukan buku dan merekayasa tokoh seperti munculnya tokoh rekaan yang diciptakan oleh sarjana-sarjana sunni seperti ; Utsman al Khamîs, Ahmad ibn Sa’ad Hamdan al Gamidi, Ihsân Ilâhi Dzahîr, Al Qifâri dan penulis fiktif yang mengaku bernama Sayyid Husain al Musawi.Ahmad ibn Sa’ad Hamdan al Ghamidi yang juga disebut orang syiah yang pindah ke sunni dan ternyata orangnya fiktif seperti fiktifnya Ayatullah Al ‘Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl
Kesimpulan :
Begitulah Dakwah Wahabi, dengan gemar membuat dongengan-dongengan palsu, sebagimanayang dialami dibawah ini (sebagian saya sebutkan) , dan hal itu bukan kali pertama :
1. Konspirasi mencatut nama Sayyid musa Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab as syi’ah wa at tashih yang sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah -wahabbi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah dan dibongkar oleh ayatollah Jakfar subhani.
2. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah menulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah ja’far subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.
3. Diciptakan pula nama Hasan Musawi seorang seorang tokoh fiktif ulama syiah yang telah masuk sunni dan membongkar keyakinan syiah sebagimana dilakukan tim sidogir dalam membantah bukunya Uts Qurasy syihab dan di bongkar oleh ust Ibn Jakfari.
4. Kita menyaksikan pula kebohongan Ustad Prof. KH Irfan Zidny MA (tokoh yang hadir dalam seminar di Istiqlal 22 sept 1997 saat membahas syi’ah) yang mengaku teman sekelas Imam Khomaini, ternyata ketahuan bohonya setelah dibongkar oleh ustd O Hasem. [6]
Akan panjang jika kita cantumkan daftar kebohongan mereka, kita cukupkan saja [7], haln ini menjadi bukti bahwa mereka membangun dakwah dari satu dusta ke dusta lain dari satu rekayasa ke reklayasa lain.
[1] Untuk mengetahui pembongkaran kedustaan ahlu sunnah itu silahkan rujuk ke buku di Kasyful Asrar Bayna if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata,
[2] lihat di ke al Haqiqah adh dha’I’ah, fenomena sunni wahabbi yang sembrono membuat fatwa-fatwa aneh.
[3]lihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iran, lewat tulisan Baqer Moin, Iran : From The ConstitutionalMovement of1906 to the 1979 Revolution
[4] Lihat artikel syu’bah asa di mengapa kita menolak syi’ah hal 129-163
[5]Lihat buku Syafiq basri Iran Pasca Revolusi disana ia menceritakan kunjungan ke penjara Iran.
[6] Lihat di syi’ah di benci syi’;ah di cari
[7] Yang berminat silahkan rujuk ke al Haqiqah adh dha’I’ah untuk menemukan model-model kebohongan polemis sunni terhadap syi’ah.

“SYIAH” terucap dari bibir suci Nabi SAW yang terdapat dalam Hadits2 Ahlussunnah.

Saat mengomentari tentang Hizbullah dengan Sayyid Hassan Nasrullahnya yang berhasil memukul mundur tentara Israel dalam perang 33 hari beberapa tahun lau seorang teman berkomentar, “Saya sangat kagum dengan kehebatan dan perjuangan Hizbullah, tapi sayang mereka orang Syiah”. Pernyataan tersebut langsung saya sanggah dengan pernyataan saya, “Justru itu karena mereka orang Syiah!”

Kita semua sudah sama-sama tahu bahwa front terdepan perlawanan terhadap Israel dan Amerika adalah Iran. Hamas dan Hizbullah yang konfontatif terhadap Israel, yang dilatih, dipersenjatai dan didanai oleh Iran, Negara yang didominasi oleh para Mullah dan Ayatullah yang notabene adalah Syiah.

Satu hal lagi, saat Lebanon digempur habis-habisan oelh kekuatan Zionis Israel, saat Negara-negara Arab dan para ulama hanya berkomentar, Rahbar Ali Khamenei langsung mengeluarkan fatwa untuk ikut ‘berperang’ menghancurkan Amerika dengan cara tidak membeli produk-produk Amerika.

Dikabarkan dari negara-negara Arab yang banyak penduduk Syiahnya, produk-produk Amerika seperti Coca-cola, Marlboro dan lain-lain penjualannya menurun drastis, bahkan tempat-tempat makan fast food semisal Mc Donald dan sejenisnya konon banyak yang gulung tikar.

Disaat para tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok Ahlusunnah saling berselisih bahkan ada yang mengkafirkan satu sama lain, saat para tokoh Ummat Islam bangsa Indonesia sibuk akan klaim kepemimpinannya masing-masing, Negara Iran yang mayoritas penduduknya Syiah sudah melatih 12 juta para Militernya, bahkan mereka sudah mempersiapkan persenjataan yang super canggih untuk melawan kekuatan Thagut Amerika sebagaimana yang Allah kehendaki.

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya….” (QS. Al-Anfaal 60).

Tentang persenjataan militernya, Pimpinan Garda Revolusi Muhammad Ali Jafari menyatakan, “Kami sudah tidak punya tempat yang memadai lagi untuk menyimpan rudal-rudal Kami”.

Ya, mereka adalah orang-orang Syiah, julukan yang keluar dari mulut Arrasul SAWW sebagaimana yang akan saya paparkan:

Syiah dalam Hadist-Hadist Ahlussunnah:

Berbeda dengan kata “Ahlus Sunnah wa Al-Jama’ah,” kata “Syiah” sudah ada/digunakan dari zaman dahulu kala. Di dalam Al-Quran misalnya, dalam surah Ash-Shaffat ayat 83: “Dan sungguh, salah satu Syiah (pengikut) nya adalah Ibrahim”. Begitu pula yang disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 15: “…yang seorang dari Syiah (pengikut/golongan) nya dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun)”.

Namun karena fokus dari tulisan ini adalah keterangan Nabi SAW dalam Hadits-Hadits Ahlusunnah, Berikut ini adalah Hadits-Hadits yang menerangkan tentang awal “sebutan” Syiah.
Al-Hafizh Abu Na’im adalah seorang Ulama Ahlussunnah yang disebutkan oleh para ulama bahwa ia adalah seorang “Mahkota Hadits” dan “Guru para Hadits Tsiqqat atau terpercaya”.

Beliau dalam kitabnya Hilyah Al-Awliya’ dengan sanad dari Ibn Abbas: Ketika turun ayat yang mulia:”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (QS. Al-Bayyinah 7), Rasulullah SAW bersabda kepada Ali ibn Abi Thalib AS, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan pengikut (Syiah) mu. Engkau dan Syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan Ridha dan di Ridhai”. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Mu’ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam kitabnya Al-Manaqib pasal 17 tentang turunnya ayat tersebut.

Hadits senada juga terdapat dalam kitab Tadzkirah Khawwash Al-Ummah karya Sabath ibn Al-Jawzi, hlm. 56, yang sanadnya berasal dari Abu Sa’id Al-Khudri: Nabi SAW memandang kepada Ali ibn Abi Thalib, lalu bersabda: “Orang ini dan para pengikut (Syiah) mu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat”.

Abu Mu’ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib, pasal 9, Hadits No.10 dari Jabir ibn Abdullah Al-Anshari: Kami bersama Nabi SAWW, kemudian datang Ali ibn Abi Thalib. Beliau bersabda: Telah datang Saudaraku kepada kalian”. Kemudian Beliau memukulkan tangannya. Beliau bersabda: “Demi yang diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan Syiahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat”. Kemudian, “Kemudian, ia adalah orang yang pertama yang beriman di antara kalian, yang paling setia menepati janji Allah, yang paling keras menegakkan perintah Allah, yang paling adil dalam memimpin, yang paling adil dalam membagi, dan yang paling agung keutamaannya di sisi Allah”.

Perawi menambahkan kemudian turun ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (khayrulbariyyah)” Selanjutnya perawi berkata: Apabila Ali datang, para sahabat Muhammad SAW berkata: “Telah datang khayrulbariyyah”.

Allamah Al-Kanji Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Kifayah Ath-Thalib bab 62 dengan sanad dari Jabir ibn Abdallah Al-Anshari. Nabi SAW bersabda kepada Ali: “Engkau dan Syiahmu berada di surga”. (Tarikh Baghdad, juz 2, hlm. 289).

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, engkau dan syiahmu kembali kepadaku di Al-Haudh dengan rasa puas dan wajah yang putih. Sedangkan musuh-musuh mereka kembali ke Al-Haudh dalam kehausan”. (Ibnu Hajar, Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, hlm. 66, cet. Al-Maimanah (Mesir); Allamah Shalih At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 101, cet. Bombay).

Nabi SAW bersabda kepada Ali Ali bin Abi Thalib: “…dan syiahmu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dengan wajah putih di sekelilingku. Aku memberikan syafaat kepada mereka. Maka mereka kelak di surga bertetangga denganku”. (Al-Kanji Asy-Syafi’i, Kifayah Ath-Thalib, hlm. 135; Manaqib Ibnu Maghazali, hlm. 238).

Dari ‘Ashim ibn Dhumrah dari Ali bin Abi Thalib: Rasulallah SAW bersabda: “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, Al-Hasan dan Al-Husain adalah buahnya, dan Syiah adalah daun-daunya. Tidak keluar sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”. (Al-Kanji Asy-Syafi’i, Kifayah Ath-Thalib, hlm. 98).

Diriwayatkan dari Nabi SAW: “Janganlah kalian merendahkan Syiah Ali, karena masing-masing dari mereka diberi syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar”. (Al-Hakim, Al-Mustadrak 3/160; Ibnu Asakir, Tarikh 4/318; Muhibbuddin, Ar-Riyadh An-Nadhrah 2/253; Ibnu Ash-Shabagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah 11; Ash-Shafuri, Nazhah Al-Majalis 2/222; Allamah Al-Hindi, Intiha’ Al-Afham, hlm. 19, cet. Lucknow; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 257, cet. Istanbul).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri: Nabi SAW memandang kepada Ali ibn Abi Thalib dan bersabda: “Orang ini dan Syiahnya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat”. (Sabath ibn Al-Jawzi, Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 59, cet. Aljir).

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik: Rasulullah SAW bersabda: “Syiah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan”. (Ad-Dailami, Firdaws Al-Akhbar; Allamah Al-Mannawi, Kunuz Al-Haqa’iq, hlm. 88, cet. Bulaq; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 180, cet. Istanbul; Allamah Al-Hindi, Intiha Al-Afham, hlm. 222, cet. Nul Kesywar).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Rasulullah SAW bersabda: Ali dan Syiahnya adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan pada hari kiamat”. (Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 113, cet. Bombay; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 257; Allamah Al-Hindi, Intiha Al-Afham, hlm. 19).

Rasulullah SAW bersabda kepada Al bib Abi Thalib: “Engkau dan Syiahmu kembali kepadaku di Al-Haudh dalam keadaan puas”. (As-Suyuthi, Ad-Durr Al-Mantsur 6/379, cet. Mesir; Al-Qunduzi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 182).

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah Aku, Engkau, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain. Keturunan kita menyusul di belakang kita. Istri-istri kita menyusul di belakang keturunan kita, dan Syiah kita di kanan dan kiri kita”. (Tarikh Ibn Asakir, 4/318; Ibnu Hajar, Ash-Shawaiq, hlm. 96; Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 31; Majma Az-Zawa’id 9/131).

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Ali AS: Rasulallah SAW bersabda: “Engkau dan syiahmu berada di surga”. (Tarikh Baghdad, 12/289, cet. As-Sa’adah (Mesir); Akhthab Khawarizmi, Al-Manaqib, hlm. 67).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda kepada Ali: “Engkau bersamaku dan Syiahmu di surga”. (Majma Az-Zawa’id, 9/173).

Anas meriwayatkan dari Nabi SAW: Beliau bersabda: “Jibril mengabarkan kepadaku dari Allah SWT bahwa Allah mencintai Ali dengan kecintaan yang tidak diberikan kepada malaikat, para Nabi, dan para Rosul. Tidak ada Tasbih yang ditujukan kepada Allah, melainkan darinya Dia menciptakan satu Malaikat yang memohonkan ampunan bagi orang yang mencintainya dan Syiahnya hingga hari kiamat”. (Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 116, cet. Bombay; Allamah Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 256, cet. Istanbul tetapi tanpat kalimat “para Nabi dan para Rosul”). Dan seterusnya dan seterusnya..

Ketika Wahhabi Berdakwah tentang Syiah
(dari situs tetangga)

Situs Al-Quran yang beralamatkan http://quran.al-islam.com/ dan di tangani oleh pemerintah Arab Saudi yang bermazhab Wahhabi, ikut Tabligh menyebarkan ajaran Syiah. Entah disadari atau tidak oleh Wahhabi, dalam situs tersebut, terdapat tafsir surah Al-Bayyinah ayat 7, yang menafsirkan bahwa sebaik-baik manusia adalah Ali AS dan pengikutnya.

Tafsir ini seperti yang terdapat dalam situs itu merujuk pada tafsir Ath-Thabari. Dikatakannya bahwa: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ,أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ “Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”.

Siapakah yang sebaik-baik makhluk itu?

Dalam tafsir Ath-Tabari yang diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah mengatakan: أنت يا علي وشيعتك “Engkau, wahai Ali, dan Syiahmu (pengikutmu-red)”.

Pada saat yang sama pembuatan situs Al-Quran yang ditangani oleh kerajaan Saudi itu bertujuan untuk menyebarkan mazhab Wahhabi. Silahkan klik link berikut ini: http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=TABARY&nType=1&nSora=98&nAya=7

Obyek-Obyek Isyu Kesesatan Syiah

Ada beberapa poin yang sering dituduhkan para pembenci Syiah untuk memprovokasi kaum muslimin agar turut mengikuti langkah mereka dengan menyebarkan fitnah-fitnah terhadap Syiah. Di sini, kita akan sebutkan beberapa obyek yang sering dijadikan bahan untuk penyesatan Syiah beserta jawaban ringkasnya;

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an

Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.

Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, ” Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Sunnah/Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka.Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif. Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW: “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]

2. Nikah Mut’ah

Berhubung dengan isu hangat yaitu Nikah Mut’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini karena menyamakan Mut’ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAW pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima karena perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam dan tidak ada rokhsah dalam isu zina.

Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah membolehan Nikah Mut’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAW.

Kalau mut’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAW apakah mungkin Abdullah bin Abbas membolehkannya?

Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya mut’ah apakah mungkin beliau berani menghalalkannya pada waktu itu?

Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tanda tanya karena tidak mungkin beliau berani membolehkan zina [mut’ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut’ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman mut’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mut’ah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)

Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW yaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, ” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya karena Amr bin khuraits.”

Jelaslah mut’ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith dhaif.

Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah yaitu riwayat yang mengatakan nikah mut’ah telah dihapuskan pada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang dhaif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman mut’ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah karena seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikawini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikawini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengawini wanita Yahudi ketika itu karena mereka adalah musuh mereka.

Riwayat kedua diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahwa nikah mut’ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Mut’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya saja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud?

Sekiranya kita menerima pengharaman nikah mut’ah di Khaibar, ini bermakna mut’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah mut’ah telah dihalalkan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat mut’ah nikah telah diharamkan secara bertahap seperti pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahwa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman mut’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata.

Yang jelas nikah mut’ah dihalalkan dalam al-Qur’an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain: “Setelah turunnya ayat mut’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.”

Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu.

Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman mut’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan kerana Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.”

Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surah al-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat mut’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah mut’ah).

Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman mut’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAW cukup jelas bahawa nikah mut’ah halal pada zaman Nabi SAW seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi, ” Dua jenis mut’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAW aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis mut’ah tersebut. Pertama nikah mut’ah dan kedua haji tamattu”.

Perlulah diingatkan bahwa keharusan nikah mut’ah yang diamalkan oleh Mazhab Syiah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mut’ah seperti juga kehalalan kawin empat bukan bermaksud semua orang wajib kawin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah mut’ah dan kawin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah mut’ah sama dengan zina, apakah bentuk mut’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar? [catatan: Nikah muta’ah memang tidak sama dengan zina]

3. Syiah Kafir?

Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada tahun 1996, 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur’an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?

4. Syiah Yahudi?

Dakwaan Syiah adalah hasil ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Banyak yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Saba yang dikatakan penggagas ajaran Syiah adalah kisah khayalan saja. Cerita Abdullah bin Saba hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis khayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAW yang dikatakan ajaran Abdullah bin Saba – sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Saba. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAW. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAW tetapi Umar percaya Rasulullah SAW tidak wafat sebaliknya baginda SAW pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAW hanya naik ke langit. Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAW tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh ajaran Yahudi?

5. Syiah memaksumkan imam-imam mereka

Mereka berhujah dengan ayat Quran 33:33: “Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kalian kekotoran [rijsa] wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kalian sebersih-bersihnya.”

Istilah Ahlul Bayt menurut Hadith Rasulullah SAW merujuk kepada lima orang iaitu Rasulullah SAW, Fatimah, Ali, Hassan dan Husayn seperti yang diriwayatkan dalam Sohih Muslim. Perkataan rijsa [kekotoran] sudah tentu bukan kotor dari segi lain seperti najis dan sebagainya tetapi merujuk kepada dosa-dosa dan apabila Allah ‘hendak secara berterusan’ [yuridu] menyucikan mereka sebersih-bersihnya tidak boleh diragukan lagi ia merujuk kepada penyucian total dari semua dosa yang dalam istilah lain bermaksud mereka adalah maksum.

Tambahan pula banyak ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan perintah Allah SWT supaya manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan perbuatan dosa. Apabila Allah SWT memerintah manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan dosa sudah tentu Allah SWT tahu bahwa manusia itu memang mampu meninggalkan dosa kerana Allah SWT tidak akan membebankan manusia dengan suatu perintah yang manusia tidak mampu buat.

Oleh itu sekiranya Syiah mengatakan imam mereka maksum yaitu tidak berbuat dosa serta Allah SWT memelihara mereka daripada perbuatan dosa berdasarkan Surah 33:33 itu, adakah ia bertentangan dengan al-Qur’an? Adakah mereka yang tidak maksum layak menduduki maqam Imam ummah?

6. Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah kedua.

Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta keluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan siapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir [Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syiah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW tetapi menunjukkan perbuatan ‘beberapa orang’ dari mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan dasar al-Qur’an dan Hadith Nabi SAW.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini tidak serta-merta menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Silakan baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara [nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAW mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAW seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAW di al-Haudh. Nabi SAW memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Silakan rujuk Sahih Bukhari [Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96]; Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?

Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAW pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAW bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].

Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?

Kita ikuti ‘sahabat yang baik’ dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAW. Sejarah menunjukkan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat yang menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar karena minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAW? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAW wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain dari yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?

Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”

Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada siapapun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun]. Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.

Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAW tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ sebanyak 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW [terjemahan]:”Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAW terutama selepas Nabi SAW wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAW] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmatNya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku karena cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku.”

Oleh sebab itu siapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAW dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an? “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.” [Qur’an: 11: 18]

7. Syiah didakwa bukan mengikuti ajaran Ahlul Bayt Nabi SAW

Imam Ja’far al-Sadiq bukan Syiah tetapi Ahlul Sunnah. Sebaliknya semenjak kita belajar Ahlul Sunnah nama Imam Ja’far al-Sadiq tidak dikenal langsung tetapi golongan Syiah sering mengutip hadith-hadith dari beliau dalam pelbagai aspek ajaran Islam. Malahan semua sarjana fiqh bersepakat bahwa Jaafar al-Sadiq pengasas fiqh Madzhab Syiah Ja’fariyyah. Oleh itu dakwaan di atas dibuat atas dasar emosi dan tidak berasaskan akademik.

8. Syiah percaya kepada kepada al-Bada’

Tuduhan: Ilmu Allah Berubah-ubah Mengikut Sesuatu Peristiwa Yang Berlaku Kepada Manusia (al-Bada’).

Ulama Syiah tidak pernah menganggap Allah tidak mengetahui seperti tuduhan-tuduhan yang sengaja menyelewengkan maksud sebenarnya.

Al-Bada’ tidak bermaksud kejelasan yang sebelumnya samar dinisbahkan kepada Allah SWT.

Al-Bada’ yang difahami oleh ulama Syiah ialah adalah Allah berkuasa mengubah sesuatu kejadian dengan kejadian yang lain seperti nasikh dan mansukh sesuatu hukum syariah yang tercatat dalam al-Qur’an tetapi al-Bada’ menyangkut tentang sesuatu kejadian [takwini] seperti hidup dan mati dan seumpamanya.

Misalnya kisah penyembelihan Nabi Ismail AS tetapi kemudian Allah Azza Wa-Jalla menggantikannya dengan seekor kibas.

Alllah SWT berfirman dalam al-Qur’an 13:39: “Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki] dan di sisinya terdapat Umm al-Kitab [Lauh al-Mahfuzh].”

Sebuah hadith yang dipetik dari al-Kulaini dalam Kitabul Tauhid, Usul al-Kafi, hadith 373.:”Allah tidak menerbitkan [bada’] pada sesuatu melainkan ianya berada dalam ilmuNya sebelum [Allah menetapkan] berlakunya [bada’ tersebut].”

Hadith 374 menegaskan:” Sesungguhnya Allah tidak menerbitkan Bada’ dari kejahilan[Nya]“.

Syeikh al-Mufid menulis dalam bukunya Awail Maqalat: ” Apa yang saya fatwakan tentang masalah al-bada’ ialah sama dengan pendapat yang diakui oleh kaum muslimin dalam menanggapi masalah nasakh [penghapusan] dan sebagainya seperti memiskinkan kemudian membuat kaya, mematikan kemudian menghidupkan dan menambah umur dan rezeki kerana ada sesuatu perbuatan yang dilakukan. Itu semua kami kategorikan sebagai bada’ berdasarkan beberapa ayat dan nas-nas yang kami dapatkan dari para Imam.”

9. Syiah mengamalkan taqiyah

Mereka mendakwa taqiyyah bermaksud berpura-pura dan sinonim dengan perbuatan golongan munafiq. Syeikh Muhammad Ridha al-Muzaffar menulis dalam bukunya Aqidah Syiah Imamiyyah: “Taqiyah merupkan motto Ahlul Bayt AS bermotifkan untuk melindungi agama, diri mereka dan pengikut mereka dari bencana dan pertumpahan darah, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta penyelarasan mereka, dan memulihkan ketertiban mereka.”

Mengikut Alamah Tabatabai’ dalam bukunya Islam Syiah bahawa sumber amalan taqiyah ini merujuk juga kepada al-Qur’an seperti Surah 3:28,: “Jangan sampai orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka [orang-orang kafir] dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian [agar selalu ingat] kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.”

Ungkapan menjaga diri terhadap orang-orang kafir dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaquu minhum tuqatan dan kata tattaquu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.

Ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan peristiwa taqiyah Amar bin Yasir yang mencari perlindungan dengan mengaku kafir di hadapan musuh-musuh Islam iaitu dalam Surah 16:106: “…kecuali orang yang terpaksa, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman…”

Jelaslah bahwa taqiyah bukan membawa maksud berpura-pura seperti yang sering didakwa oleh orang yang berpura-pura berilmu pengetahuan tetapi sarat dengan kejahilan dan niat yang buruk.

10. Mengapa Syiah sujud di Tanah Karbala?

Soal mengapa pengikut Syi’ah bersujud di atas tanah Karbala tidak bertentangan dengan hukum fiqh dari semua madzhab.

Solat adalah perbuatan ibadah yang cara-caranya terikat kepada amalan Rasulullah SAW. Kaedah ini diterima oleh semua madzhab dan tidak ada yang berani mempertikaikannya atau dia akan keluar dari status “Muslim”.

Hadith Nabi SAW yang mulia menjelaskan tentang cara-cara bersujud seperti yang tercatat dalam Sahih Muslim, misalnya hadith nomor 469, [terjemahan]…. Dan di mana saja kamu berada, jika waktu solat telah tiba, maka solatlah, karena bumi ialah tempat bersujud (masjid)

Atau hadith nomor 473, [terjemahan] “….Bumi dijadikan suci bagiku [nota: misalnya debu tanah boleh digunakan untuk bertayammum] dan menjadi tempat sujud [wa ju’ilat ila-l-ardh tuhura wa-masjidan].

Dan memang orang-orang Syiah mengikut contoh Imam-imam mereka seperti Imam Ali Zainal Abidin AS dan seterusnya, yang meletakkan tanah Karbala sebagai tempat untuk bersujud.

Yang patut diingatkan bahawa Syiah tidak sujud kepada tanah Karbala. [nota: perbuatan ini tentunya syirik] tetapi di atas tanah Karbala untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT.Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya perkara tersebut berkata: “….karena sujud adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah, oleh karena itu adalah tidak wajar seseorang itu bersujud di atas benda-benda yang dicintai oleh manusia di dunia ini.” [Wasa’il al-Syi’ah, Juzuk III, hlm.591]

Dalam hadith yang lain Imam Ja’far al-Sadiq AS menjelaskan bahwa: “Sujud di atas tanah lebih utama karena lebih sempurna dalam merendahkan diri dan penghambaan di hadapan Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Bihar, Juzuk, 85, hlm.154]

11. Mengapa Syiah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah?

As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-’Amili seorang ulama Syi’ah dengan tegas menjelaskan: ” Bila dalam kenyataannya kami kaum Syiah tidak berpegang kepada Madzhab Asy’ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari’at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut.Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAW, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur’an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAW.” [As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: “Hadith-hadith yang aku riwayatkan adalah dari ayahku. Dan semua hadith tersebut adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku adalah dari hadith datukku al-Husayn AS. Dan semua riwayat al-Husayn AS adalah dari hadith al-Hasan AS. Dan semua hadith al-Hasan AS

dari datukku Amirul Mu’minin Ali AS; dan semua hadith Amirul Mu’minin Ali AS adalah dari hadith Rasulullah SAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAW adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]

Bagi Syiah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS karena perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.

12. Imam Mahdi AS hidup lebih dari 1000 tahun

Mereka mendakwa kepercayaan bahawa Imam Mahdi AS masih hidup sejak peristiwa ghaib kubra pada tahun 329H adalah sesuatu kepercayaan yang karut. Mengapa mereka lupa bahwa Allah SWT telah menghidupkan nabi-nabi terdahulu dengan umur yang panjang seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Adam AS? Malahan umat Islam percaya Nabi Isa AS masih hidup hingga kini sejak beliau diangkat ke langit oleh Allah SWT dalam peristiwa beliau diselamatkan dari pembunuhan pengikut-pengikutnya. Ini bermakna beliau as telah hidup lebih seribu tahun. Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi di bangkitkan oleh Allah SWT setelah ditidurkan dengan begitu lama. Begitu juga umat Islam percaya Nabi Khidir as masih hidup hingga kini. Malahan iblis syaitan la’natullah alahi masih hidup sejak makhluk ini engkar kepada Allah SWT. Ini bermakna iblis syaitan telah hidup lebih lama dari 1,000 tahun. Tidakkah kisah-kisah ini menunjukkan bahawa umur panjang bagi Imam Mahdi AS bukanlah sesuatu yang mustahil kerana Allah SWT Maha Berkuasa bagi perkara yang sekecil itu.

13. Aqidah Raja’ah

Al-Allamah al-Safi menjawab tentang masalah rajaah seperti berikut: ” Qaul tentang raja’ah itu merupakan qaul dari itrah Rasulullah SAW yang suci. Perbahasan tentang masalah ini telah beredar dikalangan mereka dan selain dari mereka. Pedoman mereka dalam masalah ini adalah ayat-ayat Qur’an dan hadith-hadith yang mereka riwayatkan dengan sanad yang turun temurun dari datuk-datuk mereka sampai kepada datuk Rasulullah SAW.

Kenyataan yang tidak mungkin diingkari oleh para peneliti masalah-masalah keislaman adalah bahwa sumber aqidah raja’ah itu adalah imam-imam Ahlul Bayt AS yang telah ditetapkan kewajiban berpegang teguh kepada mereka dengan keterangan dari hadith al- tsaqalain dan lain-lainnya.

Pihak syiah mengatakan tentang raja’ah secara global. Mereka membandingkan hal ini dengan kejadian-kejadian para ummah terdahulu seperti yang diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya,: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-beribu (jumlahnya) kerana takut; maka Allah berfirman kepada mereka:” Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali)…” (Al-Baqarah:243).

Ayat yang lain,: “Atau apakah (kamu tidak mepmerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atasnya. Dia berkata:” Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia roboh?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali….” (Al-Baqarah:259)

Dan boleh juga mengambil teladan dari firman Allah Ta’ala dalam ayat berikut: “Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada pada dirinya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami melipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya:84)

Mereka golongan syiah mengatakan bahawa hal itu tidak mustahil akan terjadi kepada umat ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagikan (dalam kelompok-kelompok).” (Al-Naml:83)

Hari yang disebutkan Allah SWT dalam ayat di atas, tentu bukan Hari Qiamat, karena pada Hari Qiamat Allah membangkitkan semua umat manusia, sebagaimana yang difirmankanNya dalam ayat berikut: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Al-Kahfi:47)

Dalam dua ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahawa Hari Kebangkitan itu ada dua. Kebangkitan umum dan kebangkitan khusus. Hari yang dibangkitkannya segolongan orang-orang dari tiap-tiap umat itu bukan Hari Qiamat, jadi ia tidak lain adalah Yaumul Raja’ah.

Adapun tentang perincian Yaumul Raja’ah itu tidak ada hadith-hadtih sahih yang menyatakannya. Hadith-hadith yang menyebutkan tentang perincian Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif sama ada dari segi dalalahnya ataupun sanadnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Lutfollah Saafi Golpayegani dalam bukunya yang bertajuk “Aqidah Mahdi dalam Syiah Imamiyyah” menyatakan bahawa hadith-hadith perincian tentang Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif dan ditolak oleh ulama hadith syiah.

Aqidah Raja’ah mempunyai asas ajaran dalam al-Qur’an dan dinyatakan oleh para Imam Ahlul Bayt AS, oleh itu apakah wajar kita menolaknya?

14. Isu-isu al-Qur’an, Mushaf, dan Wahyu kepada Fatimah AS

Apabila dibicarakan tentang persamaan antara sunnah dan syiah berarti di situ pasti ada perbedaannya.
Permasalahannya apabila ada perbedaan, apakah pegangan kepada satu mazhab menjadi penilai kebenaran dalam mengukur mazhab yang lain atau dikembalikan kepada Al Quran dan hadis dan mengukurnya secara rasional yang bebas dari ketasuban bermazhab?

Fitnah terhadap syiah bukan satu yang baru dan sepertinya tidak akan berahkir. Setelah membaca banyak buku yang menyalahkan syiah, kami melihat hal ini disebabkan oleh beberapa perkara.

1- Menilai kebenaran berdasarkan mazhab tertentu.

2- Menafsir sendiri riwayat syiah tanpa melihat penfsiran ulama syiah tentang hadis tersebut, sehingga natijah yang diambil berdasarkan selera sendiri.

3- Mengambil kata-kata ulama sebagai sandaran tanpa menilai kembali pandangan mereka dan suasana mereka mengeluarkan fatwa.

4- Menungkilkan hadis separuh-separuh hingga menyebabkan maknanya berubah.

5- Menanggap apa saja yang tertulis dalam kitab-kitab hadis muktabar syiah itu sahih sebagai mana Ahlu suunah menanggap semua yang ada dalam Bukhari itu sahih.

Kami berterima kasih kepada penulis kerana komentarnya atas artikel ‘persamaan dan perbedaan antara sunnah dan syiah’. Izinkan kami di sini untuk mengomentar kembali tilisannya berdasarkan Ukhwah Islamiah dan perbahsan ilmiah tulen yang menjadi pemangkin kepada pendekatan antara mazhab2 islam untuk saling mengenali hingga tidak timbul tuduhan liar.

1- Al Quran

a- Makna Mushaf

Kebanyakan umat Islam menanggap bahwa perkataan ‘mushaf’ itu sinonim ‘Al Quran’. Sedangkan dalam lisan Al Quran dan hadis Rasul tidak demikian. Mushaf itu artinya kumpulan tulisan dan selepas wafat Rasul digunakan untuk ayat2 al quran dikumpulkan oleh para sahabat dan juga tulisan2 hadis.

Oleh karena itu jika ada perkataan mushaf dalam riwayat syiah jangan terus menanggap ia adalah Al Quran. Penulis juga ada menukilkan riwayat dari Al Kafi yang menunjukan bahawa mushaf Fatimah bukan Al Quran tetapi kumpulan khabar yang di sampaikan oleh Jibril.

b- Wahyu untuk Fatimah as

Persoalannya di sini apakah ia mungkin atau tidak? Pertama kita perlu mengenal maqam Fatimah as terlebih dahulu. Tiada yang mengingkari bahwa ia adalah penghulu wanita, yang paling mulia antara 4 wanita yang termulia.

Kedua apakah Jibril boleh menurunkan wahyu untuk selain nabi. Yang mengatakan tidak berarti ia jahil tentang Al Quran. Dalam surah Ali Imran ayat 42 hingga 45 menceritakan pembicaraan jibril dengan Mariam. Dan Fatimah as lebih mulia dari Mariam. Riwayat tentang turunnya Jibril pada Fatimah banyak dalam kitab-kitab syiah. Sudah tentu mereka yang menjauhinya tidak akan meriwayatkan peristiwa tersebut.

15. Mazhab Ahlu Sunnah

a- Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fiqih maupun akidah secara murni. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fiqih maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAW ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAW. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.

b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam2 ahlu bait dan ulama mereka.

c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada mujtahid yang hidup pada setiap waktu.

16. Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah dan Ahlu Bait AS

Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakkan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakkan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.

Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang2 yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.

17. Ilmu Para Imam AS

Hadis dari Imam Jaffar as Sadeq itu jelas menunjukkan, ilmu yang mereka miliki adalah kurnia Allah bukan mereka memiliki dengan sendiri, karena ini akan mendatangkan syirik.

Di dalam surah yunus ayat 20 dan an An’am jelas menunjukan bahawa yang mengetahui hal yang ghaib itu hanya Allah. Dan dalam surah az zhuruf ayat 4, al Buruj ayat 22, ar radh ayat 39, menunjuk bahwa ilmu Allah itu

terletak di kitab almknun, kitabun mubin, umul kitab, luh mahfuz. Ia juga dipanggil Imamul mubin “kulu sha’ain ahsaina hu fi Imamul mubin” walau namanya berbeda ia memiliki hakikat yang sama yaitu khazahna ilmu Allah yang Allah berikan kepada orang2 yang tertentu (surah aj jin ayat 27) dan tidak akan menyentuhnya kecuali yang disucikan (al waqih’ah ayat 79) dan kita semua tahu yang disucikan hanya ahlu bait (al ahzab ayat 33)

Jadi jika ada yang masih tidak faham yang ahlu bait mengetahui yang ghaib atas izin Allah dengan mengunakan dalil-dalil Al Quran yang jelas bererti orang tersebut mau meletakkan dirinya pada jalan kedegilan dan ketasuban.

18. Maqam Para Imam AS

a- Di dalam Al Quran membicarakan tugas para Rasul hanya sebagai hanya untuk menyampaikan saja (iblaq) dan tidak lebih dari itu. “ma ala Rasul ilal balaq” dan juga surah An Nissa, ayat 165 dan As Syura, ayat 3 dll.

Selain dari itu ada ayat2 yang membicarakan satu lagi maqam selain maqam Rasul dan memiliki tugas yang lain dengan tugas rasul iaitu maqam Imam ‘kami jadikan mereka Imam untuk memberi hidayah dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat2 kami’ surah as sajadah ayat 24.

Ayat di atas jelas menunjukkan sebagian Rasul di angkat menjadi Imam, satu maqam yang lebih tinggi dari maqam Rasul. Tugas Imam di sini berbeda dengan tugas Rasul yaitu sebagai pemberi hidayah.

Nabi Ibrahim sebagaimana dalam surah al Baqarah ayat 124 diangkat menjadi Imam selepas ia menjadi Rasul. Jelas di sini menunjukan maqam Imam lebih tinggi dari maqam Rasul. Persoalanya sekarang apakah maqam Imam ini berterusan? Sudah tentu selagi manusia wujud di atas muka bumi ini selagi itu manusia perlu kepada hidayah dan ini tugas Imam. Dalam surah di atas Allah juga mengangkat zuriah Ibrahim sebagai Imam sebagimana Ibrahim. Dalam surah Ar Radh, ayat tujuh, Allah SWT. berfirman “Sesungguhnya kau (Muhammad) pemberi peringatan dan untuk setiap kaum ada yang memberi hidayah”

Kami ulangi lagi bahawa tugas memberi hidayah adalah tugas Imam dan hanya Allah yang melantik Imam bukan manusia. Dan ayat ini jelas menunjukan Imam yang dilantik oleh Allah itu berterusan dan maqamnya lebih tinggi dari maqam Rasul. Apakah kita lupa pada satu hadis yang mahsyur yang bermaksud “ulama umatku lebih afdhal dari para nabi bani israel” atau kita menanggap hadis ini daif. Atau hadis yang mengatakan bahawa Nabi Isa as. akan solat dibelakang Imam Mahdi juga tidak benar.

b- Apakah pelik apabila kita mengatakan para Imam itu lebih mulia dari Malaikat sedangkan Abu Basyar Adam as. merupakan khalifah pertama dari sekian kahlifah Allah mendapat didikan langsung dari Allah (syarat khalifah Allah) dan menjadi guru kepada para Malaikat dan menjadi sujutan Malaikat, apakah ini tidak menunjukan bahawa maqam insan lebih mulia dari maqam malaikat? apakan lagi maqam imam. Apakah ini berarti mendewakan mereka atau meletakan mereka pada tempat yang sewajarnya?

Apakah menjadikan semua sahabat itu adil dan tidak boleh disentuh dan dikritik bukan pendewaan? Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

19. Maqam Imam ‘Ali AS

Mereka menyatakan Syiah mempercayai Saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali, mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Di dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini dilaporkan bahwa Abu Basir seorang kepercayaan Imam Jaafar telah datang berjumpa dengan Imam Jaafar. Abu Basir bertanya kepada Imam Jaafar berhubungan dengan ilmu dan kelebihan Saidina Ali dan imam imam syiah… didalam buku tulisan Al Kualaini tersebut Imam Jaafar telah dikatakan menjawab sedemikian.. “Kita juga ada Mushaf Fatimah dan apakah yang orang ramai tahu tentang Mushaf Fatimah ? Ianya adalah sebuah Mushaf yang tiga kali lebih besar dari Al Quraan dan tidak ada satu ayat Al Quraan mereka didalam nya. (Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 146)

Seterusnya Imam Jaafar bila ditanya lagi oleh Abu Basir berhubung dengan Mushaf Fatima , Abu Basir menyatakan Imam Jaafar menyebut : “ Apabila Allah menaikkan Rasul Nya dari dunia (wafat) … Fatimah menjadi terlalu sedih yang teramat sangat dan berduka cita yang hanya diketahui oleh Allah saja. Allah kemudian menurunkan malaikat untuk membujuknya semasa kesedihan tersebut dan malaikat tersebut telah berbicara dengan Fatimah. Fatimah menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali dan Ali meminta Fatimah memberitahunya apabila malaikat tersebut datang. Setiap kali malaikat datang Ali telah mencatatkan segala yang disebut oleh malaikat tersebut… dan Inilah yang di panggil mushaf Fatimah. Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 147)

Al Kulaini seterusnya di dalam kitab yang sama menyatakan bahawa Jabir Al Jufi berkata “aku telah mendengar Muhammad Al Baqir berkata “ Seseorang tidak akan mengatakan bahawa Al Quraan telah diturunkan sekelompok kecuali dia itu pendusta. Tiada seorang pun yang mengumpul dan menghafal semuanya yang di turunkan Nya kecuali Abi bin Abi Talib dan para pengikut sesudahnya. “ muka surat 228

Komentar

Kesimpulan dari paparan di atas… bagaimana mungkin seorang ahli sunnah tidak menyatakan keheranannya diatas isu adanya orang-orang syiah yang berpahaman ujudnya satu kitab Al Quraan yang selain nya dari mushaf Othman…. Apabila perkara sedemikian memang tertulis didalam salah sebuah kitab pokok rujukan Syiah iaitu Usul al-Kafi oleh al-Kulaini. Nota: Permasalahannya ialah pihak Ahlul Sunnah tidak dapat membedakan antara hadith yang sahih atau sebaliknya dalam kitab-kitab Syiah. Menurut Imam Ja’far al-Sadiq AS hadith yang bertentangan dengan al-Qur’an hendaklah ditolak samasekali. Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]: ” Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah siapa yang mengikut Sunnah Nabi SAW kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Kitab Kasyful Asrar Dipalsukan

Imam
Saya kutipkan buku yang menerangkan kebohongan pada terjemahan kitab Imam Khomeini yang berjudul “Kasyful Asrar”.Kasyful Asrar Bayna Ashlihi Al-Farisiy Wat Tarjamah Al-Urduniyyah”, oleh Dr. Ibrahim Ad-Dasuqi Syata (seorang Professor dan Kepala Bagian bahasa-bahasa dan sastra timur, Fakultas Sastra, Universitas Cairo).

Setengah abad sebelum meletusnya Revolusi Islam, Imam Khomeini menulis buku”Kasyful Asrar”, yang digunakan untuk membantah pikiran-pikiran sekuler yang mengatakan bahwa syari’at Islam sudah usang dan tidak mampu menyelesaikan persoalan hidup dan tidak dapat merespon dinamika zaman.Pikiran-pikiran tersebut dikemukan oleh seorang sekuler Iran, yaitu Ali Akbar Hokmi Zadeh (dalam buku “Asrar Umruha Alfu ‘Am”).Yang kemudian buku Imam Khomeini tersebut diterjemahkan ke dalam bahsa Arab.

Melihat kejanggalan pada terjemahannya, maka Dr. Ibrahim mencobamelakukan perbandingan antara terjemahan dengan buku aslinya. Hasilnya,beliau menemukan bahwa hampir di setiap halaman ditemukan banyak alinea yang dibuang, konteksnya diubah dan diputarbalikkan, dipotong atau dihilangkan, pemalsuan terjemah kata-kata Parsi ke dalam bahasa Arab yang bukan makna dan arti yang sebenarnya.Sehingga hal itu menjadikan fitnah bagi Imam Khomeini.

Pada tahun 1943, seorang yang bernama Ali Akbar Hokmi Zadeh–putra seorang ulama–menerbitkan buku setebal 38 halaman dengan judul “Asrar Umruha Alfu’Am (Rahasia-rahasia selama seribu tahun)” sebagai bantahan terhadap agama secara umum dan syi’ah secara khusus. Dalam buku tersebut ia mengemukakan pendapat Ibn Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Setelah buku tersebut terbit, serta merta Imam Khomeini (QS) menghentikan kegiatan mengajarnya di Hauzah Ilmiyah Qom selama dua bulan, untuk menulis buku yang berjudul “Kasyful Asrar”, sebagai sanggahan terhadap buku Hokmi Zadeh tadi.Berikut ucapan Imam Khomeini : “Aku telah mengarang buku Kasyful Asrar selama dua bulan yang pada waktu itu aku liburkan pelajaran di Hauzah, aku tekuni sungguh-sungguh mengarang tanpa henti”.

Beliau (Imam Khomeini) menambahkan : “Setelah buku Kasyful Asrar itu tersebar, Hokmi Zadeh berkirim surat kepadaku, ia berkata : ‘Sesungguhnya jawaban-jawaban yang anda tulis adalah tegas dan argumentasinya tak dapat dibantah’. Dan ia mengaku : ‘Saya telah mencari orang yang menerangkan kepada saya–seperti anda–tentang apa yang masih kabur bagi saya, karena saya tidak mempunyai tujuan jelek’

Adapun buku-buku terjemahan bahasa Arab yang mengacu pada Kasyful Asrar,dengan terjemahan bohong tersebut, adalah :

1. “Dar Ammar It-Thaba’ah Wan Nasyr”, ditulis oleh tiga ulama , seperti Dr. Muhammad Al-Bandari (nama samaran), terbitan Yordania, 1987.

2. “Mar’al Khumayni fi Kasyfi Asrarihi” oleh Dr. Ahmad Kamal Sya’st.

3. “Al-Fitnatul Khumayniyyah” oleh Sa’id Hawwa (warga Yordania).

4. “Fadhaihul Khumayniyyah”, ditulis oleh 6 pemikir Islam, seperti Dr.Abdul Mun’im Namer (ulama Mesir), diterbitkan oleh Konferensi Islam Rakyat Irak.

Kebohongan terjemahan Arab atas buku “Kasyful Asrar”, seperti :

1. Dikatakan bahwa Imam Khomeini menyebut Abubakar dan Umar sebagai “Dua Berhala Quraisy”. Dan kenyataannya tidak ada dalam teks aslinya.

2. Beliau (Imam Khomeini) dikatakan mencaci maki sahabat. Tidak ditemukan dalam teks aslinya.

3. Beliau mengatakan tentang syahid, yaitu : “Dan ia telah mengorbankansemua yang ada di jalan Allah”. Yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan”Wa khosaro ruhahu min ajlillahi ta’ala” (dan ia telah merugikan ruhnyalantaran Allah Ta’ala). Yang kemudian si penerjemah mencaci maki Imam Khomeini.

4. Ketika beliau menyebut “markaz tasayyu'” (tempat para syi’ah), kemudian diterjemahkan dengan “mamlaka asy-syi’ah” (Kerajaan syi’ah raya).

5. Kata “riwayah” diterjemahkan dengan “hikayah”.6. Kata “turabul ahya’ wahibun lil hayati” (tanah/bumi yang akan memberikehidupan). Diterjemahkan dengan “At-turbatu wahbatu lil hayati” (batu itupemberi kehidupan).

Yang dengan kebohongan di atas, penerjemah dan pemberi catatan pinggir atas penerjemahan tersebut, telah mencaci maki Imam Khomeini sebagai kafir,pembohong, fanatik parsi, dll. Sama seperti ucapan Ibu Ros, dll.

Dan masih banyak lagi kebohongan dan kebodohan penerjemah dan pemberi catatan pinggir, dalam menterjemahkan dan mengomentari Kasyful Asrar.Lebih lengkapnya baca buku di bawah ini.

Ref:”Kasyful Asrar Imam Khomeini, antara Bahasa Arab dan Bahasa Parsi” oleh Jamaluddin Asymawi, penerbit As-Sajjad, Jakarta, 1996.Yang merupakan terjemahan buku Dr. Ibrahim Ad-Dasuqi Syata, tersebut di atas.

Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain

KHOTBAH 139 Nahjul Balaghah

Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain*

Orang-orang yang tidak berbuat dosa dan telah dianugerahi keselamatan (dari dosa) harus menaruh belas kasihan pada pendosa dan orang yang tak taat lainnya. Rasa syukur harus selalu menjadi kegemaran mereka yang paling besar, dan (hal) itu harus mencegah mereka dari (mencari-cari kesalahan) orang lain. Bagaimana tentang si penggunjing yang menyalahkan saudaranya dan mencari-cari kesalahannya? Apakah ia tidak mengingat bahwa Allah telah menyembunyikan dosa-dosa yang dilakukannya padahal dosa-dosa itu lebih besar dari dosa-dosa saudaranya yang ditunjukkannya? Bagaimana ia dapat menjelek-jelekkannya tentang dosa-dosanya padahal ia sendiri telah berbuat dosa yang seperti itu? Sekalipun ia tidak berbuat dosa yang serupa itu, tentulah ia telah berbuat dosa-dosa yang lebih besar. Demi Allah, sekalipun ia tidak melakukan dosa-dosa besar tetapi melakukan dosa-dosa kecil, pembeberannya atas dosa-dosa orang itu sendiri merupakan dosa besar. Wahai hamba Allah, jangan cepat membeberkan dosa seseorang karena ia mungkin dimaafkan atasnya, dan janganlah Anda merasa aman sekalipun atas suatu dosa kecil karena mungkin Anda dihukum karenanya. Oleh karena itu, setiap orang dari Anda sekalian yang mengetahui tentang kesalahan-kesalahan orang lain hendaklah ia tidak membeberkannya mengingat apa yang diketahuinya tentang kesalahan-kesalahannya sendiri, dan hendaklah ia tetap sibuk dalam bersyukur bahwa ia telah selamat dari hal di mana orang lain terjerumus. •

* Kebiasaan mencari-cari kesalahan orang dan menggunjing telah menjadi demikian lumrah sekarang sehingga bahkan perasaan akan keburukannya telah lenyap. Dan sekarang kalangan tinggi maupun rendah tidak berpantang darinya. Dan kedudukan tinggi mimbar serta kesucian mesjid tidak mencegahnya. Bilamana beberapa orang teman berkumpul maka pokok percakapan dan perhatian tertuju kepada pembicaraan tentang kesalahan-kesalahan lawan mereka disertai bumbu-bumbunya, dan orang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Walaupun si pencari kesalahan itu sendiri terlibat dalam kesalahan-kesalahan yang dilihatnya pada orang lain, namun ia tak mau kesalahananya sendiri dibeberkan. Dalam kasus semacam itu, harusnya ia bertenggang rasa dan menjauhkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain dan melukai perasaannya. la harus bertindak sesuai dengan peribahasa, “Jangan Anda lakukan terhadap orang lain apa yang Anda tak mau diperlakukan kepada Anda”. Menggunjing didefenisikan sebagai membeberkan kesalahan sesama mukmin dengan niat untuk mencemarkannya sedemikian rupa sehingga merangsang kemarahannya, baik dengan kata-kata, tindakan, siratan atau saran. Sebagian orang menganggap gunjingan hanya meliputi yang palsu atau yang bertentangan dengan kenyataan. Menurut mereka itu, menceritakan apa yang telah dilihat atau didengar secara tepat sebagaimana adanya, bukanlah menggunjing. Tetapi sebenarnya menggunjing adalah justru menyampaikan fakta-fakta; apabila tidak benar menurut fakta maka hal itu berarti menuduh secara batil dan menyalahkan secara lalim, fitnah. Diriwayatkan dari Nabi saw kata-kata berikut, Nabi berkata, “Tahukah Anda apa menggunjing itu?” Orang berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian beliau berkata, “Menggunjing berarti bahwa Anda berkata tentang saudara Anda suatu hal yang menyakitinya.” Seseorang berkata, “Tetapi bagaimana kalau yang saya katakan tentang dia itu memang benar?” Nabi menjawab, “(Dinamakan) menggunjing hanya bilamana hal itu sesungguhnya benar; bila tidak maka Anda memfitnahnya.” Ada banyak penyebab orang terjerumus ke dalam perbuatan menggunjing. Kadang-kadang orang melakukannya dengan sadar dan kadang-kadang secara tidak sengaja. Abu Hamid al-Ghazali telah menguraikan penyebab-penyebab itu secara mendetail dalam bukunya Ihya’ ‘Ulumud-Dîn. Beberapa penyebab penting adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengolok-olok seseorang atau membuatnya nampak terhina. 2) Untuk membuat orang tertawa dan memamerkan kegembiraannya sendiri. 3) Mengungkapkan perasaan seseorang karena pengaruh marah dan berang. 4) Mengukuhkan keunggulan diri dengan berbicara buruk tentang orang lain. 5) Menyalahkan hubungan atau keterlibatan seseorang dalam suatu hal; yakni, bahwa suatu keburukan tertentu tidak dilakukannya tetapi dilakukan oleh orang lain (mencari kambing hitam). 6) Untuk menyesuaikan diri dengan suatu kelompok ketika dalam kumpulan mereka supaya tidak merasa terasing. 7) Melecehkan seseorang yang dikhawatirkan akan membeberkan kesalahannya sendiri. 8) Untuk mengalahkan pesaing dalam perilaku yang serupa. 9) Untuk mencari kedudukan di hadapan seseorang yang berkuasa. 10) Untuk mengungkapkan kesedihan (palsu) bahwa si Anu telah jatuh ke dalam dosa seperti itu. 11) Untuk mengungkapkan keheranan, misalnya, sungguh mengherankan bahwa si Anu telah melakukannya. 12); Untuk mencerca si pelaku suatu perbuatan ketika mengungkapkan kemarahan atasnya.

Namun, dalam beberapa hal, mengungkapkan kesalahan atau mengritik tidak termasuk pada golongan menggunjing:

1) Apabila orang tertindas mengadu tentang si penindas untuk mendapatkan perbaikan, hal itu bukan menggunjing. Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang teraniaya ….” (QS. 4:148) 2) Untuk menceritakan kesalahan seseorang sementara memberi nasihat bukanlah menggunjing, karena kecurangan dan sikap bermuka dua tidak diizinkan dalam memberi nasihat. 3) Apabila dalam hubungan dengan mencari persyaratan atas perintah agama penyebutan nama seseorang tertentu tak terelakkan, maka menyebutkan kesalahan orang semacam itu sekadar perlunya bukanlah menggunjing. 4) Untuk menyampaikan penyelewengan atau kecurangan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk menyelamatkan seorang Muslim dari bahaya, bukanlah menggunjing. 5) Menceritakan kesalahan seseorang di hadapan orang yang dapat mencegahnya melakukan perbuatan itu, bukanlah menggunjing. 6) Kritik dan ungkapan pendapat tentang periwayat hadits bukanlah menggunjing. 7) Apabila seseorang mengetahui benar tentang kekurangan fisik seseorang lain, kemudian ia menceritakan kesalahan itu untuk mendefinisikan kepribadiannya; misalnya, menggambarkan orang tuli, bisu, pincang atau buntung sebagaimana adanya, bukanlah menggunjing. 8) Menggambarkan kekurangan seorang pasien kepada seorang dokter dengan tujuan bagi perawatan, bukanlah menggunjing. 9) Apabila ada orang mengakui silsilah secara batil lalu seseorang membeberkan silsilahnya yang sesungguhnya, bukanlah menggunjing. 10) Apabila nyawa, harta atau kehormatan seseorang hanya dapat dilindungi dengan memberitahukan kcpadanya tentang suatu kesalahan orang, hal itu bukan menggunjing. 11) Apabila dua orang membicarakan suatu kesalahan orang lain yang sudah diketahui oleh keduanya, bukanlah menggunjing, walaupun mengelakkan diri dari membicarakannya itu lebih baik, karena mungkin salah satu dari keduanya telah melupakannya. 12) Membeberkan keburukan orang yang secara terbuka melakukan keburukan, bukanlah menggunjing, sebagaimana dikatakan oleh sebuah hadis, “tak ada gunjingan dalam hal orang yang telah merobek-robek tirai malu

GELAR ALAIHIS SALAM DALAM SHAHIH BUKHORI

** Imam Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمْسِ فَلَمَّا أَرَدْتُ أَنْ أَبْتَنِيَ بِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعَدْتُ رَجُلًا صَوَّاغًا مِنْ بَنِي قَيْنُقَاعَ أَنْ يَرْتَحِلَ مَعِي فَنَأْتِيَ بِإِذْخِرٍ أَرَدْتُ أَنْ أَبِيعَهُ مِنْ الصَّوَّاغِينَ وَأَسْتَعِينَ بِهِ فِي وَلِيمَةِ عُرُسِي

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali radiallahuanhuma mengabarkan kepadanya bahwa Ali Alaihis Salam berkata Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari ghanimah dan Rasulullah memberikan unta kepadaku dari bagian khumus (seperlima). Ketika aku ingin menikahi Fathimah Alaihas Salam binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam aku menyuruh seorang laki-laki pembuat perhiasan dari bani Qainuqa’ untuk pergi bersamaku maka kami datang dengan membawa wangi-wangian dari daun idzkhir, aku jual yang hasilnya kugunakan untuk pernikahanku.

[Shahih Bukhari 3/60 no 2089]. http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=12&CID=200

** Sayyida Fathimah Alaihas Salam

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ وَحَوْلَهُ نَاسٌ مِنْ قُرَيْشٍ جَاءَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ بِسَلَى جَزُورٍ فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام فَأَخَذَتْهُ مِنْ ظَهْرِهِ وَدَعَتْ عَلَى مَنْ صَنَعَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ الْمَلَأَ مِنْ قُرَيْشٍ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ أَوْ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ شُعْبَةُ الشَّاكُّ فَرَأَيْتُهُمْ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ فَأُلْقُوا فِي بِئْرٍ غَيْرَ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ أَوْ أُبَيٍّ تَقَطَّعَتْ أَوْصَالُهُ فَلَمْ يُلْقَ فِي الْبِئْرِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah RA yang berkata ketika Nabi SAW sedang sujud disekeliling Beliau ada orang-orang Quraisy kemudian Uqbah bin Abi Mu’aith datang dengan membawa isi perut hewan dan meletakkannya di punggung Nabi SAW. Beliau tidak mengangkat kepala Beliau sampai akhirnya Fathimah Alaihas Salam datang dan membuangnya dari punggung Beliau dan memanggil orang yang melakukan perbuatan tersebut. Nabi SAW berkata “ya Allah aku serahkan para pembesar Quraisy kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf”. Dan sungguh aku melihat mereka terbunuh dalam perang Badar. Kemudian mereka dibuang ke sumur kecuali Umayyah atau Ubay karena dia seorang yang badannya besar ketika badannya diseret anggota badannya terputus-putus sebelum dimasukkan kedalam sumur.

[Shahih Bukhari 5/45 no 3854]

LIAT BAB… 29 ـ باب مَا لَقِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ بِمَكَّةَ NO 2093

http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=13&CID=130

Sebutan Alaihas Salam kepada Sayyidah Fathimah dapat ditemukan di banyak tempat dalam Shahih Bukhari bahkan Bukhari sendiri membuat judul khusus dengan kata-kata:

مناقب قرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومنقبة فاطمة عليها السلام بنت النبي صلى الله عليه وسلم

Keutamaan Kerabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Was Salam dan Keutamaan Fathimah Alaihas Salam binti Nabi Shallallahu Alaihi Was Salam

[Shahih Bukhari 5/20 kitab Al Manaqib]

باب مناقب فاطمة عليها السلام

Bab ; Keutamaan Fathimah Alaihas Salam

[Shahih Bukhari 5/29 kitab Al Manaqib]

** Imam Hasan bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام يُشْبِهُهُ قُلْتُ لِأَبِي جُحَيْفَةَ صِفْهُ لِي قَالَ كَانَ أَبْيَضَ قَدْ شَمِطَ وَأَمَرَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ قَلُوصًا قَالَ فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ نَقْبِضَهَا

Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid yang berkata aku mendengar Abu Juhaifah RA berkata “Aku melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan Hasan bin Ali Alaihimas Salam sangat mirip dengan Beliau”. Aku [Ismail] bertanya kepada Abu Juhaifah “Ceritakan sifat Beliau kepadaku?”. Abu Juhaifah berkata “Beliau berkulit putih, rambut Beliau sudah beruban dan Beliau pernah memerintahkan untuk memberi 13 anak unta kepada kami”. Ia kemudian berkata “Nabi SAW wafat sementara kami belum sempat mengambil pemberian Beliau tersebut”.

[Shahih Bukhari 4/187 no 3544]

LIAT BAB… باب صِفَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=12&CID=338

** Imam Husain bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ يَوْمَ بَدْرٍ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمُسِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali Alaihimas Salam mengabarkan kepadanya bahwa Ali berkata “Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari bagian ghanimah dalam perang badar dan Nabi SAW memberiku unta dari bagian khumus (seperlima)…

[Shahih Bukhari 4/78 no 3091]

http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=12&CID=307%EF%BB%BF

_____________________________________________________________________________________________________________
Gelar Karamallaahu Wajhah Bagi ‘Ali dan Bukan Alaihissalam Wahabi/Salafy

Tanya : Dalam beberapa buku sering disebut gelar khusus bagi ‘Ali bin Abi Thalib dengan Karamallaahu wajhah (Semoga Allah memuliakan wajahnya). Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman yang juga termasuk dalam Khulafaur-Rasyidiin tidak disebut dengan gelar ini. Apakah ini dapat dibenarkan dan sesuai dengan dalil ?

Jawab : Asy-Syaikh Abdulaziz bin Muhammad bin Abdillah As-Sadhan telah menjawab dengan jawaban yang sangat bagus sebagai berikut :

Ada yang memberikan 3 gelar atau sanjungan kepada ‘Ali bin Abi Thalib yang tidak diberikan kepada shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang lain, yaitu : Karamallaahu wajhah, Al-Imam, dan ’Alaihis-salaam.

Biasanya gelar ini diberikan oleh orang-orang Syi’ah. Namun ada sebagian orang yang menuliskan gelar tersebut dengan alasan karena niat baiknya. Walaupun demikian tidak sepatutnya ketiga gelar tersebut diberikan secara khusus hanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib.” Kemudian beliau (Asy-Syaikh ‘Abdulaziz) membantah penyebutan gelar Al-Imam dan ‘Alaihis-Salaam. Setelah itu beliau melanjutkan :

“Adalagi orang yang memberinya gelar Karamallaahu wajhah. Dia beralasan bahwa gelar ini diberikan, karena ‘Ali tidak pernah sama sekali menyembah berhala. Pendapat ini dibela oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Kitab Al-Fatawaa Al-Haditsiyyah yang menyatakan : “Sesungguhnya ‘Ali berhak mendapatkan gelar ini, karena dia tidak pernah sama sekali menyembah berhala. Selain itu, Abu Bakar juga tidak pernah menyembah berhala, namun gelar ini lebih tepat diberikan diberikan kepada ‘Ali, karena berdasarkan ijma’. Ali masuk Islam ketika ia masih kanak-kanak, sehingga dapat diketahui secara pasti bahwa dia tidak pernah sama sekali menyembah berhala”.

Sekalipun alasan di atas benar, namun bukan berarti hanya ‘Ali saja yang tidak pernah menyembah berhala. Ada beberapa orang shahabat yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, ayah dan ibu mereka muslim, mereka ikut berjuang di jalan Allah, mereka juga mendapatkan cobaan berat, bahkan seharipun mereka tidak pernah meletakkan kening mereka kepada berhala. Walaupun demikian mereka tetap tidak diberikan gelar seperti di atas.

Di samping itu, ada di antara para shahabat yang lebih mulia dan utama dari ‘Ali, seperti Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman sekalipun mereka baru masuk Islam setelah dewasa. Namun berdasarkan keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad rahimahullah : “Bagi orang yang tidak menomor-empatkan ‘Ali hendaklah tidak mengunggulinya (dari ketiga shahabat di atas) dan juga tidak mengucapkan salam (seperti kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) kepadanya”. Oleh karena itu, gelar atau sanjungan yang sebaiknya diberikan kepada para shahabat adalah kalimat : radliyallaahu ‘anhum/radliyallaahu ‘anhu (semoga Allah meridlai mereka).

[Selesai – Ara Khathi’ah wa Riwayat Bathilah fii Siyar Al-Anbiyaa’ wal-Mursaliin; Maktabah Malik Fahd Al-Wathaniyyah, Cet. I, 1420 H ].

Gelar (doa) radliyallaahu ‘anhu/’anhaa/’anhum inilah yang sesuai dengan firman Allah ta’ala :

وَالسّابِقُونَ الأوّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالّذِينَ اتّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدّ لَهُمْ جَنّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

”Orang-orang yang terdahulu masuk lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada Allah dan Allah menyediakan mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah : 100).

Tanya : Bagaimana dengan hadits ttg penyebutan alaihi salam kepada anak rasulullah, dan ini menjadi dalil bolehnya gelar alaihissalam kpd keturunan rasulullaah??kalo gak salah ane mendengar msyayikh waktu dauroh di jakarta, para murid syiakh albani…pernah ditanya hal serupa dengan jawaban diperbolehkan terkait hadits di atas.

Jawab : Bagaimana dengan hadits ttg penyebutan alaihi salam kepada anak rasulullah, dan ini menjadi dalil bolehnya gelar alaihissalam kpd keturunan rasulullaah??kalo gak salah ane mendengar msyayikh waktu dauroh di jakarta, para murid syiakh albani…pernah ditanya hal serupa dengan jawaban diperbolehkan terkait hadits di atas…
Abu Al-Jauzaa’ : mengatakan… on
10 September 2008 08:26

Apa yang saya tuliskan di sini adalah terkait “pengkhususan” penyebutan gelar kepada ‘Ali yang tidak diberikan kepada shahabat yang lain. Ada baiknya saya tuliskan ulasan Ibnu Katsir ketika beliau menjelaskan tafsir QS. Al-Ahzaab : 56. Beliau berkata ketika menukil penjelasan An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 159-160) :

قال: وأما السلام ؟ فقال الشيخ أبو محمد الجويني من أصحابنا: هو في معنى الصلاة فلا يستعمل في الغائب ولا يفرد به غير الأنبياء فلا يقال علي عليه السلام وسواء في هذا الأحياء والأموات, وأما الحاضر فيخاطب به فيقال: سلام عليك, وسلام عليكم أو السلام عليك أو عليكم, وهذا مجمع عليه انتهى ما ذكره

(قلت) وقد غلب هذا في عبارة كثير من النساخ للكتب أن ينفرد علي رضي الله عنه بأن يقال عليه السلام من دون سائر الصحابة أو كرم الله وجهه, وهذا وإِن كان معناه صحيحاً, لكن ينبغي أن يسوى بين الصحابة في ذلك فإِن هذا من باب التعظيم والتكريم, فالشيخان وأمير المؤمنين عثمان أولى بذلك منه رضي الله عنهم أجمعين.

قال إِسماعيل القاضي حدثنا عبد الله بن عبد الوهاب [حدثنا عبد الواحد] بن زياد حدثني عثمان بن حكيم بن عبادة بن حنيف عن عكرمة عن ابن عباس أنه قال: لا تصلح الصلاة على أحد إِلا على النبي صلى الله عليه وسلم ولكن يدعى للمسلمين والمسلمات بالاستغفار

”Adapun masalah salam, maka Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini, (seorang ulama) dari kalangan shahabat kami berkata : Masalah ini adalah sama seperti pembahasan masalah shalawat, sehingga tidak boleh digunakan pada yang ghaib dan tidak pula kepada selain para nabi. Maka tidak boleh dikatakan : ’Ali ’alaihis-salaam, baik ia ketika ia masih hidup ataupun telah meninggal. Adapun bagi orang yang hadir, maka dikhithabkan dengan kalimat : Salaamun ’alaika, salaamun ’alaikum, assalaamu ’alaika atau assalaamu ’alaikum. Hal ini merupakan sesuatu yang telah disepakati.

(Aku katakan) : masalah ini telah mendomisasi ungkapan-ungkapan banyak penulis kitab dengan mengistimewakan ’Ali radliyallaahu ’anhu, dimana ia disebut dengan gelar : ’alaihis-salaam ; tanpa mengikutkan shahabat yang lainnya. Atau gelar : karamallaahu wajhah. Walaupun hal ini maknanya shahih, akan tetapi sudah selayaknya untuk menyamakan (penyebutan gelar) kepada seluruh shahabat, karena masalah ini adalah masalah penghormatan dan kemuliaan. Maka dua orang syaikh (yaitu Abu bakr dan ’Umar) dan Amirul-Mukminin ’Utsman lebih didahulukan daripadanya (’Ali) radliyallaahu ’anhum ajma’in.

Telah berkata Isma’il Al-Qadli : Telah menceritakan kepada kami ’Abdullah bin ’Abdil-Wahhab, [telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid] bin Ziyaad, telah menceritakan kepadaku ’Utsman bin Hakim bin ’Ubadah bin , dari ’Ikrimah, dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhu : ”Tidak sepatutnya mengucapkan shalawat pada siapapun, kecuali kepada Nabi shallaahu ’alaihi wasallam. Namun begitu, sudah seharusnya ia mendoakan ampunan atas kaum musilimin dan muslimat”.

[selesai – Tafsir Ibnu Katsir juz 11 hal. 238-239 – Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421].

Kembali dari apa yang saya katakan sebelumnya tentang pengkhususan penyebutan ‘alaihis-salaam kepada ‘Ali, tidak kepada shahabat yang lain. Jika dikatakan bahwa penyebutan itu terkait dengan hubungan kekerabatan dengan Nabi (sebagai Ahlul-Bait) berdasarkan hadits :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [HR. Ahmad no. 23221; shahih].

serta keumuman kebolehan mengucapkan shalawat dan salam kepada Ahlul-Bait Nabi, maka…… mengapa mereka tidak mau mengucapkan hal yang serupa kepada ‘Utsman bin ‘Affan ? Bukankah beliau juga menantu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ? (bahkan menikahi dua puteri Nabi sehingga dijuluki Dzunnurain – “yang memiliki dua cahaya”). Tidak lain adalah hal ini adalah karena sikap ghulluw kepada ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu.

Maka, sebaik-baik sebutan dan doa adalah yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah, yaitu radliyallaahu ‘anhu/haa/hum. Wallaahu a’lam bish-shawwab.

Sumber : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/gelar-karamallaahu-wajhah-bagi-ali.html
__________________________________________________________________________________________
” Alaihis Salam” Untuk Ahlil Bait

Assalamu’alaikum.wr.wb… Semoga rahmat Allah tetap menyertai ustad-ustad Forsan Salaf.. Mau tanya, gmn hukum memberikan ucapan ‘Alaihis Salam kpd Ahlu Bait ? Demikian, mohon penjelasannya,, jazakumullah khair… Syukran…

FORSAN SALAF menjawab :

Mengucapkan alaihissalam adalah do’a dengan menggunakan sighot khobar yang artinya mudah-mudahan keselamatan atasnya. Hukum mengucapkannya untuk selain Nabi seperti kepada ahlil bait, terjadi khilaf di kalangan ulama’. Sebagian ulama’ menyatakan diperbolehkan secara mutlak , dan menurut pendapat yang kuat yaitu pendapat Imam Nawawi mengikuti pendapat Imam al-Juwaini boleh jika taba’an (diucapkan setelah salam kepada Nabi) dan makruh jika secara sendiri (tanpa didahului salam kepada Nabi atau malaikat) dikarenakan menjadi syi’ar kaum Rafidhah/Syi’ah.
(Ooo…jd Imam Nawawi dan Imam Juwaini menganggap Imam Bukhari itu Syi’ah/Rafidhah, ya? Hmm..aneh juga.red)
Adapun paling afdholnya dengan mengucapkan sighot taroddhi yaitu rodhiyallahu anhum, atau sighot tarohhum yaitu rohimahullah.
شرح النووي على مسلم – (ج 3/ ص 46)
. وَقَوْله : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّد اِحْتَجَّ بِهِ مَنْ أَجَازَ الصَّلَاة عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء ، وَهَذَا مِمَّا اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِيهِ ، فَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ رَحِمَهُمَا اللَّه تَعَالَى وَالْأَكْثَرُونَ : لَا يُصَلِّي عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء اِسْتِقْلَالًا فَلَا يُقَال : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى أَبِي بَكْر ، أَوْ عُمَر ، أَوْ عَلِيّ ، أَوْ غَيْرهمْ وَلَكِنْ يُصَلِّي عَلَيْهِمْ تَبَعًا فَيُقَال : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد ، وَآلِ مُحَمَّد ، وَأَصْحَابه ، وَأَزْوَاجه ، وَذُرِّيَّته ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيث . وَقَالَ أَحْمَد وَجَمَاعَة : يُصَلَّى عَلَى كُلّ وَاحِد مِنْ الْمُؤْمِنِينَ مُسْتَقِلًّا وَاحْتَجُّوا بِأَحَادِيث الْبَاب ، وَبِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى ، وَكَانَ إِذَا أَتَاهُ قَوْم بِصَدَقَتِهِمْ صَلَّى عَلَيْهِمْ . قَالُوا : وَهُوَ مُوَافِق لِقَوْلِ اللَّه تَعَالَى : { هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَته } وَاحْتَجَّ الْأَكْثَرُونَ بِأَنَّ هَذَا النَّوْع مَأْخُوذ مِنْ التَّوْقِيف ، وَاسْتِعْمَال السَّلَف ، وَلَمْ يُنْقَل اِسْتِعْمَالهمْ ذَلِكَ بَلْ خَصُّوا بِهِ الْأَنْبِيَاء كَمَا خَصُّوا اللَّه تَعَالَى بِالتَّقْدِيسِ وَالتَّسْبِيح ، فَيُقَال : قَالَ اللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى ، وَقَالَ اللَّه تَعَالَى ، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ ، وَقَالَ جَلَّتْ عَظَمَته ، وَتَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُهُ ، وَتَبَارَكَ وَتَعَالَى ، وَنَحْو ذَلِكَ وَلَا يُقَال : قَالَ النَّبِيّ عَزَّ وَجَلَّ ، وَإِنْ كَانَ عَزِيزًا جَلِيلًا وَلَا نَحْو ذَلِكَ ، وَأَجَابُوا عَنْ قَوْل اللَّه عَزَّ وَجَلَّ { هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَته } وَعَنْ الْأَحَادِيث بِأَنَّ مَا كَانَ مِنْ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُوله فَهُوَ دُعَاء وَتَرَحُّم ، وَلَيْسَ فِيهِ مَعْنَى التَّعْظِيم وَالتَّوْقِير الَّذِي يَكُون مِنْ غَيْرهمَا . وَأَمَّا الصَّلَاة عَلَى الْآلِ وَالْأَزْوَاج وَالذُّرِّيَّة فَإِنَّمَا جَاءَ عَلَى التَّبَع لَا عَلَى الِاسْتِقْلَال ، وَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّهُ يُقَال تَبَعًا لِأَنَّ التَّابِع يَحْتَمِل فِيهِ مَا لَا يَحْتَمِل اِسْتِقْلَالًا . وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي الصَّلَاة عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء هَلْ يُقَال : هُوَ مَكْرُوه ، أَوْ هُوَ مُجَرَّد ، تَرْك أَدَب ؟ وَالصَّحِيح الْمَشْهُور أَنَّهُ مَكْرُوه كَرَاهَة تَنْزِيه . قَالَ الشَّيْخ أَبُو مُحَمَّد الْجُوَيْنِيّ : وَالسَّلَام فِي مَعْنَى الصَّلَاة فَإِنَّ اللَّه تَعَالَى قَرَنَ بَيْنهمَا فَلَا يُفْرَد بِهِ غَائِب غَيْر الْأَنْبِيَاء فَلَا يُقَال أَبُو بَكْر وَعُمَر وَعَلِيّ عَلَيْهِمْ السَّلَام وَإِنَّمَا يُقَال ذَلِكَ خِطَابًا لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَات فَيُقَال : السَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَة اللَّه . وَاَللَّه أَعْلَم .
شرح النووي على مسلم – )ج 3 / ص 44)
فَيُقَال : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد ، وَآلِ مُحَمَّد ، وَأَصْحَابه ، وَأَزْوَاجه ، وَذُرِّيَّته ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيث . وَيُنْدَبُ التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ الْأَخْيَارِ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ ، وَكَذَا السَّلَامُ عَلَى غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ إلَّا تَبَعًا لَهُمْ ، وَلَا تُكْرَهُ مِنْهُمْ عَلَى غَيْرِهِمْ وَلَا مِنْ غَيْرِهِمْ عَلَى مَنْ اُخْتُلِفَ فِي نُبُوَّتِهِ كَلُقْمَانَ وَمَرْيَمَ
فتح الباري لابن حجر – (ج 18 / ص 139)
قَوْله ( بَاب هَلْ يُصَلَّى عَلَى غَيْر النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )أَيْ اِسْتِقْلَالًا أَوْ تَبَعًا ، وَيَدْخُل فِي الْغَيْر الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنُونَ ، فَأَمَّا مَسْأَلَة الْأَنْبِيَاء فَوَرَدَ فِيهَا أَحَادِيث حَدِيث عَلِيّ فِي الدُّعَاء بِحِفْظِ الْقُرْآن فَفِيهِ ” وَصَلِّ عَلَيَّ وَعَلَى سَائِر النَّبِيِّينَ ” أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيّ وَالْحَاكِم ، وَحَدِيث بُرَيْدَةَ رَفَعَهُ ” لَا تَتْرُكَنَّ فِي التَّشَهُّد الصَّلَاة عَلَيَّ وَعَلَى أَنْبِيَاء اللَّه ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ وَاهٍ ، وَحَدِيث أَبِي هُرَيْرَة رَفَعَهُ ” صَلُّوا عَلَى أَنْبِيَاء اللَّه ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ إِسْمَاعِيل الْقَاضِي بِسَنَدٍ ضَعِيف ، وَحَدِيث اِبْن عَبَّاس رَفَعَهُ ” إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَصَلُّوا عَلَى أَنْبِيَاء اللَّه ، فَإِنَّ اللَّه بَعَثَهُمْ كَمَا بَعَثَنِي ” أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ وَرُوِّينَاهُ فِي ” فَوَائِد الْعِيسَوِيّ ” وَسَنَده ضَعِيف أَيْضًا ، وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ اِبْن عَبَّاس اِخْتِصَاص ذَلِكَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْرَجَهُ اِبْن أَبِي شَيْبَة مِنْ طَرِيق عُثْمَان بْن حَكِيم عَنْ عِكْرِمَة عَنْهُ قَالَ ” مَا أَعْلَم الصَّلَاة يَنْبَغِي عَلَى أَحَد مِنْ أَحَد إِلَّا عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” وَهَذَا سَنَد صَحِيح ، وَحُكِيَ الْقَوْل بِهِ عَنْ مَالِك وَقَالَ : مَا تَعَبَّدَنَا بِهِ وَجَاءَ نَحْوه عَنْ عُمَر بْن عَبْد الْعَزِيز ، وَعَنْ مَالِك يُكْرَه ، وَقَالَ عِيَاض : عَامَّة أَهْل الْعِلْم عَلَى الْجَوَاز ، وَقَالَ سُفْيَان يُكْرَه أَنْ يُصَلَّى إِلَّا عَلَى نَبِيّ ، وَوَجَدْت بِخَطِّ بَعْض شُيُوخِي مَذْهَب مَالِك لَا يَجُوز أَنْ يُصَلَّى إِلَّا عَلَى مُحَمَّد ، وَهَذَا غَيْر مَعْرُوف عَنْ مَالِك ، وَإِنَّمَا قَالَ أَكْرَه الصَّلَاة عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء وَمَا يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَدَّى مَا أُمِرْنَا بِهِ . وَخَالَفَهُ يَحْيَى بْن يَحْيَى فَقَالَ : لَا بَأْس بِهِ ، وَاحْتَجَّ بِأَنَّ الصَّلَاة دُعَاء بِالرَّحْمَةِ فَلَا يُمْنَع إِلَّا بِنَصٍّ أَوْ إِجْمَاع ، قَالَ عِيَاض : وَاَلَّذِي أَمِيل إِلَيْهِ قَوْل مَالِك وَسُفْيَان وَهُوَ قَوْل الْمُحَقِّقِينَ مِنْ الْمُتَكَلِّمِينَ وَالْفُقَهَاء قَالُوا : يُذْكَر غَيْر الْأَنْبِيَاء بِالرِّضَا وَالْغُفْرَان وَالصَّلَاة عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء يَعْنِي اِسْتِقْلَالًا لَمْ تَكُنْ مِنْ الْأَمْر الْمَعْرُوف وَإِنَّمَا أُحْدِثَتْ فِي دَوْلَة بَنِي هَاشِم ، وَأَمَّا الْمَلَائِكَة فَلَا أَعْرِف فِيهِ حَدِيثًا نَصًّا ، وَإِنَّمَا يُؤْخَذ ذَلِكَ مِنْ الَّذِي قَبْله إِنْ ثَبَتَ ؛ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى سَمَّاهُمْ رُسُلًا ، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُونَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ فَقِيلَ : لَا تَجُوز إِلَّا عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّة ، وَحُكِيَ عَنْ مَالِك كَمَا تَقَدَّمَ ، وَقَالَتْ طَائِفَة لَا تَجُوز مُطْلَقًا اِسْتِقْلَالًا وَتَجُوز تَبَعًا فِيمَا وَرَدَ بِهِ النَّصّ أَوْ أُلْحِقَ بِهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُول بَيْنكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضكُمْ بَعْضًا ) وَلِأَنَّهُ لَمَّا عَلَّمَهُمْ السَّلَام قَالَ ” السَّلَام عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَاد اللَّه الصَّالِحِينَ ” وَلَمَّا عَلَّمَهُمْ الصَّلَاة قَصَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَعَلَى أَهْل بَيْته ، وَقَدْ تَقَدَّمَ تَقْرِيره فِي تَفْسِير سُورَة الْأَحْزَاب ، هُوَ اِخْتِيَار اِبْن تَيْمِيَةَ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ . وَقَالَتْ طَائِفَة : تَجُوز تَبَعًا مُطْلَقًا وَلَا تَجُوز اِسْتِقْلَالًا ، وَهَذَا قَوْل أَبِي حَنِيفَة وَجَمَاعَة ، وَقَالَتْ طَائِفَة تُكْرَه اِسْتِقْلَالًا لَا تَبَعًا وَهِيَ رِوَايَة عَنْ أَحْمَد ، وَقَالَ النَّوَوِيّ : هُوَ خِلَاف الْأَوْلَى وَقَالَتْ طَائِفَة : تَجُوز مُطْلَقًا ، وَهُوَ مُقْتَضَى صَنِيع الْبُخَارِيّ فَإِنَّهُ صَدَّرَ بِالْآيَةِ وَهِيَ قَوْله ( وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ) ثُمَّ عَلَّقَ الْحَدِيث الدَّالّ عَلَى الْجَوَاز مُطْلَقًا وَعَقَّبَهُ بِالْحَدِيثِ الدَّالّ عَلَى الْجَوَاز تَبَعًا ، فَأَمَّا الْأَوَّل وَهُوَ حَدِيث عَبْد اللَّه بْن أَبِي أَوْفَى فَتَقَدَّمَ شَرْحه فِي كِتَاب الزَّكَاة ، وَوَقَعَ مِثْله عَنْ قَيْس بْن سَعْد بْن عُبَادَةَ ” أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُول : اللَّهُمَّ اِجْعَلْ صَلَوَاتك وَرَحْمَتك عَلَى آل سَعْد بْن عُبَادَةَ ” أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَسَنَده جَيِّد ، وَفِي حَدِيث جَابِر ” إِنَّ اِمْرَأَته قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلِّ عَلَيَّ وَعَلَى زَوْجِي فَفَعَلَ ” أَخْرَجَهُ أَحْمَد مُطَوَّلًا وَمُخْتَصَرًا وَصَحَّحَهُ اِبْن حِبَّان ، وَهَذَا الْقَوْل جَاءَ عَنْ الْحَسَن وَمُجَاهِد وَنَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَد فِي رِوَايَة أَبِي دَاوُدَ وَبِهِ قَالَ إِسْحَاق وَأَبُو ثَوْر وَدَاوُد وَالطَّبَرِيّ ، وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى ( هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَته ) وَفِي صَحِيح مُسْلِم مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا ” إِنَّ الْمَلَائِكَة تَقُول لِرُوحِ الْمُؤْمِن صَلَّى اللَّه عَلَيْك وَعَلَى جَسَدك ” وَأَجَابَ الْمَانِعُونَ عَنْ ذَلِكَ كُلّه بِأَنَّ ذَلِكَ صَدَرَ مِنْ اللَّه وَرَسُوله وَلَهُمَا أَنْ يَخُصَّا مَنْ شَاءَا بِمَا شَاءَا وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ غَيْرهمَا . وَقَالَ الْبَيْهَقِيُّ : يُحْمَل قَوْل اِبْن عَبَّاس بِالْمَنْعِ إِذَا كَانَ عَلَى وَجْه التَّعْظِيم لَا مَا إِذَا كَانَ عَلَى وَجْه الدُّعَاء بِالرَّحْمَةِ وَالْبَرَكَة . وَقَالَ اِبْن الْقَيِّم : الْمُخْتَار أَنْ يُصَلَّى عَلَى الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَأَزْوَاج النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآله وَذُرِّيَّته وَأَهْل الطَّاعَة عَلَى سَبِيل الْإِجْمَال ، وَتُكْرَه فِي غَيْر الْأَنْبِيَاء لِشَخْص مُفْرَد بِحَيْثُ يَصِير شِعَارًا وَلَا سِيَّمَا إِذَا تُرِك فِي حَقّ مِثْله أَوْ أَفْضَل مِنْهُ كَمَا يَفْعَلهُ الرَّافِضَة ، فَلَوْ اِتَّفَقَ وُقُوع ذَلِكَ مُفْرَدًا فِي بَعْض الْأَحَايِين مِنْ غَيْر أَنْ يُتَّخَذ شِعَارًا لَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْس ، وَلِهَذَا لَمْ يَرِد فِي حَقّ غَيْر مَنْ أَمَرَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِ ذَلِكَ لَهُمْ وَهُمْ مَنْ أَدَّى زَكَاته إِلَّا نَادِرًا كَمَا فِي قِصَّة زَوْجَة جَابِر وَآل سَعْد بْن عُبَادَةَ .
( تَنْبِيه ) :اُخْتُلِفَ فِي السَّلَام عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء بَعْد الِاتِّفَاق عَلَى مَشْرُوعِيَّته فِي تَحِيَّة الْحَيّ فَقِيلَ : يُشْرَع مُطْلَقًا ، وَقِيلَ بَلْ تَبَعًا ، وَلَا يُفْرَد لِوَاحِدٍ لِكَوْنِهِ صَارَ شِعَارًا لِلرَّافِضَةِ ، وَنَقَلَهُ النَّوَوِيّ عَنْ الشَّيْخ أَبِي مُحَمَّد الْجُوَيْنِيّ
شرح النووي على مسلم – )ج 3 / ص 44)
. وَقَوْله : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّد اِحْتَجَّ بِهِ مَنْ أَجَازَ الصَّلَاة عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء ، وَهَذَا مِمَّا اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِيهِ ، فَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ رَحِمَهُمَا اللَّه تَعَالَى وَالْأَكْثَرُونَ : لَا يُصَلِّي عَلَى غَيْر الْأَنْبِيَاء اِسْتِقْلَالًا فَلَا يُقَال : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى أَبِي بَكْر ، أَوْ عُمَر ، أَوْ عَلِيّ ، أَوْ غَيْرهمْ وَلَكِنْ يُصَلِّي عَلَيْهِمْ تَبَعًا فَيُقَال : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد ، وَآلِ مُحَمَّد ، وَأَصْحَابه ، وَأَزْوَاجه ، وَذُرِّيَّته ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيث .

عمدة القاري شرح صحيح البخاري – (ج 17 / ص 337)

– حدثنا ( عبدان ) قال أخبرنا ( عبد الله ) قال أخبرنا ( يونس ) عن ( ابن شهاب ) قال أخبرني ( علي ابن حسين ) أن ( حسين بن علي ) رضي الله تعالى عنهما قال أخبره أن عليا عليه السلام قال كانت لي شارف من نصيبي من المغنم وكان النبي أعطاني شارفا من الخمس فلما أردت أن أبتني بفاطمة عليها السلام بنت رسول الله واعدت رجلا صواغا من بني قينقاع أن يرتحل معي فنأتي بإذخر أردت أن أبيعه من الصواغين وأستعين به في وليمة عرسي
حاشية البجيرمي على الخطيب – (1 / 116

قَوْلُهُ : ( أَيْ لَا أُذْكَرُ إلَّا وَتُذْكَرُ مَعِي ) هَذَا لَا يَدُلُّ عَلَى الْمُدَّعَى ، وَهُوَ خُصُوصُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ لِأَنَّ ذِكْرَهُ مَعَهُ يَصْدُقُ بِغَيْرِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ا هـ شَيْخُنَا . قَوْلُهُ : ( مَكْرُوهٌ ) فَإِنْ قِيلَ : قَدْ جَاءَتْ الصَّلَاةُ غَيْرَ مَقْرُونَةٍ بِالتَّسْلِيمِ بَعْدَ التَّشَهُّدِ فِي الصَّلَاةِ . فَالْجَوَابُ أَنَّ السَّلَامَ تَقَدَّمَ قَبْلَهُ فِي قَوْلِهِ السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ ش م ر . قُلْت : لَا حَاجَةَ لِلْجَوَابِ الْمَذْكُورِ إذْ مَحَلُّ الْكَرَاهَةِ فِي غَيْرِ الْوَارِدِ مِنْ ذَلِكَ مُنْفَرِدًا عَنْ الْآخَرِ كَمَا هُنَا ، أَمَّا هُوَ فَلَيْسَ الْكَلَامُ فِيهِ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْمُنَاوِيُّ فِي شَرْحِ الْجَامِعِ . وَالْحَاصِلُ ، أَنَّ مَحَلَّ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوطٍ ثَلَاثَةٍ : أَنْ يَكُونَ الْإِفْرَادُ مِنَّا ، وَأَنْ يَكُونَ فِي غَيْرِ مَا وَرَدَ فِيهِ الْإِفْرَادُ ، وَأَنْ يَكُونَ لِغَيْرِ دَاخِلِ الْحُجْرَةِ ، فَإِنَّهُ إذَا اقْتَصَرَ عَلَى السَّلَامِ فَلَا كَرَاهَةَ . وَفِي الشَّبْرَخِيتِيِّ عَلَى الْأَرْبَعِينَ مَا نَصُّهُ : تَتِمَّةٌ فِي مَنْعِ الصَّلَاةِ عَلَى غيْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ اسْتِقْلَالًا وَكَرَاهَتِهَا وَكَوْنُهَا خِلَافَ الْأَوْلَى خِلَافٌ وَالْأَصَحُّ الْكَرَاهَةُ . وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى } فَهُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ ، وَأَمَّا تَبَعًا كَمَا هُنَا فَجَائِزَةٌ اتِّفَاقًا ا هـ . قَوْلُهُ : ( أَتَى بِهَا ) أَيْ بِصِيغَةِ السَّلَامِ ، وَفِي نُسْخَةٍ بِهِ .
تفسير البيضاوي – (2 / 413(
}وإذا جاءك الذين يؤمنون بآياتنا فقل سلام عليكم كتب ربكم على نفسه الرحمة } الذين يؤمنون هم الذين يدعون ربهم وصفهم بالإيمان بالقرآن واتباع الحجج بعد ما وصفهم بالمواظبة على العبادة وأمره بأن يبدأ بالتسليم أو يبلغ سلام الله تعالى إليهم ويبشرهم بسعة رحمة الله تعالى وفضله بعد النهي عن طردهم إيذانا بأنهم الجامعون لفضيلتي العلم والعمل ومن كان كذلك ينبغي أن يقرب ولا يطرد ويعز ولا يذل ويبشر من الله بالسلامة في الدنيا والرحمة في الآخرة
المجموع – (ج 4 / ص 599)

(والثالث) إن قدر علي العربية لم يجزئه وإلا فيجزئه والصحيح بل الصواب صحة سلامه بالعجمية ووجوب الرد عليه إذا فهمه المخاطب سواء عرف العربية أم لا لانه يسمي تحية وسلاما وأما من لا يستقيم نطقه بالسلام فيسلم كيف أمكنه بالاتفاق لانه ضرورة
إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 216)

(قوله: ندب البداءة بالمرسل) أي بأن يقول وعليه وعليك السلام
عمدة القاري شرح صحيح البخاري – (ج 17 / ص 337)
– حدثنا ( عبدان ) قال أخبرنا ( عبد الله ) قال أخبرنا ( يونس ) عن ( ابن شهاب ) قال أخبرني ( علي ابن حسين ) أن ( حسين بن علي ) رضي الله تعالى عنهما قال أخبره أن عليا عليه السلام قال كانت لي شارف من نصيبي من المغنم وكان النبي أعطاني شارفا من الخمس فلما أردت أن أبتني بفاطمة عليها السلام بنت رسول الله واعدت رجلا صواغا من بني قينقاع أن يرتحل معي فنأتي بإذخر أردت أن أبيعه من الصواغين وأستعين به في وليمة عرسي
مطابقته للترجمة في قوله من الصواغين
ذكر رجاله وهم سبعة الأول عبدان لقب عبد الله بن عثمان بن جبلة الأزدي الثاني عبد الله بن المبارك الثالث يونس بن يزيد الرابع محمد بن مسلم بن شهاب الزهري الخامس علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنهم السادس حسين علي بن أبي طالب أبو عبد الله أخو الحسن بن علي السابع علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنه
بيان مشكل الآثار ـ الطحاوى – (ج 5 / ص 153)
@ 347 @ قال معمر وذكره الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال الأعمش فبلغ ذلك عليا عليه السلام من قول أبي هريرة فقام فشرب قائما فوقفنا بما روينا عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا المعنى بالسبب الذي من أجله كان نهيه صلى الله عليه وسلم عن الشرب قائما وأن ذلك كان من الداء الذي يحل بالناس في بطونهم من شربهم قياما فنهاهم عن ذلك صلى الله عليه وسلم إشفاقا عليهم ورأفة بهم وصلاحا لأبدانهم وقد روي هذا الحديث عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم بخلاف هذه الألفاظ كما
حدثنا حسين بن نصر قال ثنا عبد الرحمن بن زياد قال ثنا شعبة عن أبي زياد مولى الحسن بن علي قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يحدث عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه رأى رجلا يشرب قائما فقال له قئ قال لم قال أتحب أن يشرب معك
فتح الباري لابن حجر – (ج 3 / ص 348)
اَلثَّانِي وَالْأَرْبَعُونَ : مِنْ حِينِ يَغِيبُ نِصْف قُرْصِ اَلشَّمْسِ ، أَوْ مِنْ حِينِ تُدْلِي اَلشَّمْس لِلْغُرُوبِ إِلَى أَنْ يَتَكَامَلَ غُرُوبهَا رَوَاهُ اَلطَّبَرَانِيّ فِي اَلْأَوْسَطِ والدَّارَقُطْنِيُّ فِي اَلْعِلَلِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي اَلشُّعَبِ وَفَضَائِل اَلْأَوْقَاتِ مِنْ طَرِيقِ زَيْد بْن عَلِيّ بْن اَلْحُسَيْن بْن عَلِيّ حَدَّثَتْنِي مُرْجَانَة مَوْلَاة فَاطِمَة بِنْت رَسُول اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : حَدَّثَتْنِي فَاطِمَة عَلَيْهَا اَلسَّلَامُ عَنْ أَبِيهَا فَذَكَرَ اَلْحَدِيث ، وَفِيهِ : قَلَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيّ سَاعَةٍ هِيَ ؟ قَالَ : إِذَا تَدَلَّى نِصْف اَلشَّمْسِ لِلْغُرُوبِ . فَكَانَتْ فَاطِمَة إِذَا كَانَ يَوْم اَلْجُمُعَةِ أَرْسَلَتْ غُلَامًا لَهَا يُقَالُ لَهُ زَيْد يَنْظُرُ لَهَا اَلشَّمْس فَإِذَا أَخْبَرَهَا أَنَّهَا تَدَلَّتْ لِلْغُرُوبِ أَقْبَلَتْ عَلَى اَلدُّعَاءِ إِلَى أَنْ تَغِيبَ ، فِي إِسْنَادِهِ اِخْتِلَاف عَلَى زَيْد بْن عَلِيّ ، وَفِي بَعْضِ رُوَاتِهِ مَنْ لَا يُعْرَفُ حَالُهُ . وَقَدْ أَخْرَجَ إِسْحَاق بْن رَاهَوَيْهِ فِي مَسْنَدِهِ مِنْ طَرِيقِ سَعِيد بْن رَاشِد عَنْ زَيْد بْن عَلِيٍّ عَنْ فَاطِمَة لَمْ يَذْكُرْ مُرْجَانَةَ وَقَالَ فِيهِ : إِذَا تَدَلَّتْ اَلشَّمْس لِلْغُرُوبِ وَقَالَ فِيهِ : تَقُولُ لِغُلَامٍ يُقَالُ لَهُ أَرْبَد : اِصْعَدْ عَلَى اَلظِّرَاب ، فَإِذَا تَدَلَّتْ اَلشَّمْس لِلْغُرُوبِ فَأَخْبِرْنِي ، وَالْبَاقِي نَحْوُهُ ، وَفِي آخِرِهِ : ثُمَّ تُصَلِّي يَعْنِي اَلْمَغْرِب . فَهَذَا جَمِيع مَا اِتَّصَلَ إِلَيَّ مِنْ اَلْأَقْوَالِ فِي سَاعَة اَلْجُمُعَة مَعَ ذِكْرِ أَدِلَّتِهَا وَبَيَانِ حَالِهَا فِي اَلصِّحَّةِ وَالضَّعْفِ وَالرَّفْعِ وَالْوَقْفِ وَالْإِشَارَةِ إِلَى مَأْخَذِ بَعْضِهَا ، وَلَيْسَتْ كُلّهَا مُتَغَايِرَة مِنْ كُلِّ جِهَةٍ بَلْ كَثِير مِنْهَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَّحِدَ مَعَ غَيْرِهِ . ثُمَّ ظَفَرْت بَعْدَ كِتَابَةِ هَذَا بِقَوْلٍ زَائِدٍ عَلَى مَا تَقَدَّمَ وَهُوَ غَيْرُ مَنْقُول ، اِسْتَنْبَطَهُ صَاحِبُنَا اَلْعَلَّامَةُ اَلْحَافِظُ شَمْس اَلدِّينِ اَلْجَزَرِيُّ وَأَذِنَ لِي فِي رِوَايَتِهِ عَنْهُ فِي كِتَابِهِ اَلْمُسَمَّى ” اَلْحِصْن اَلْحَصِين ” فِي اَلْأَدْعِيَةِ لَمَّا ذَكَرَ اَلِاخْتِلَافَ فِي سَاعَة اَلْجُمُعَةِ وَاقْتَصَرَ عَلَى ثَمَانِيَةِ أَقْوَالٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ثُمَّ قَالَ مَا نَصُّهُ : وَاَلَّذِي أَعْتَقِدُهُ أَنَّهَا وَقْتُ قِرَاءَةِ اَلْإِمَامِ اَلْفَاتِحَةَ فِي صَلَاة اَلْجُمُعَةِ إِلَى أَنْ يَقُولَ آمِينَ ، جَمْعًا بَيْنَ اَلْأَحَادِيثِ اَلَّتِي صَحَّتْ .
فتح الباري لابن حجر – (ج 11 / ص 68)

قَوْله : ( بَاب مَنَاقِب فَاطِمَة ) أَيْ بِنْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأُمّهَا خَدِيجَة عَلَيْهَا السَّلَام ، وُلِدَتْ فَاطِمَة فِي الْإِسْلَام ، وَقِيلَ : قَبْل الْبَعْثَة ، وَتَزَوَّجَهَا عَلِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ بَعْد بَدْر فِي السَّنَة الثَّانِيَة ، وَوَلَدَتْ لَهُ وَمَاتَتْ سَنَة إِحْدَى عَشْرَة بَعْد النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسِتَّةِ أَشْهُر وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيح مِنْ حَدِيث عَائِشَة

Nasab Rasulillah Saww Bersih dan Keimanan Orang Tua Nabi Saaw

Isyu ini terangkat kala sebagian umat islam mengaku pengikut Rasulillah Saww justru memusyriknya ayahanda Rasulullah Saww. (Innalillah..)

Dalam menjawabnya saya sampaikan 2 jawaban sekaligus bahwa :

Nama ayahanda Rasulullah Saww adalah Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthalib r.a yang artinya Hamba ALLAH.

Definisinya jelas bahwa ayahanda Rasul Saww sangat mengenal ALLAH AWJ karena nama ini yang membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah Illah SWT.

Contoh Nama nama Jahiliyah (mirip mirip Tuhan mereka Latta dan Udza): Uta, Abul Udza, dll

Jadi jelaslah bahwa Ayahanda Mulia Ar Rasul Saww bukan seperti claim mereka..!

Ayah Nabi Ibrahim As tidak Kafir

Banyak orang yang memaknai bahwa Azar adalah ayahnya Nabi Ibrahim demi memuluskan upaya mereka menampilkan ‘cacatnya’ Nasab Nabi Saww.

Namun sekali Lagi Hujjah ALLAH AWJ membungkam sekaligus membongkar kebohongan bertingkat kaum hipokrit pendengki Ar Rasul Saww..

Dalam Nasab Umum inilah Nasab Ayahanda Rasul Saww :

Sayyidina Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim (AMR) bin ‘Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu ‘ Ayy bin Isma ‘ell (Ismail) bin ibrahim bin Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh bin Lamik bin Metusyalih bin Idris bin Yarid bin Mihla’iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S

Rantai Nasab diatas ada Nama Azar {tarih}

sesungguhnya keduanya adalah orang yang berbeda. Azaar adalah paman Nabi Ibrahim yang bekerja tuk Namrud dalam membuat Patung. Sedang Tarikh adalah Ayahanda Nabi Ibrahim As.

Lamanya sejarah serta berlapisnya pengkaburan membuat orang sulit mencari jawaban siapa Ayah Nabi Ibrahim As sebenarnya, Padahal Jawabannya ada di Depan mata

Kuncinya ada pada QS al An’am ayat 74 dalam kata Ab’ (ayah dalam makna luas)

Penggunaannya :

Abu jabir (ayah Jabir) Abu Abdillah (ayah Hamba Allah) atau :

Abaaika (Kakek)

metode ini sederhana, namun banyak yang tidak faham, artinya penggunakaan kata ab’ pada orang tertentu tidak menyatakan bahwa orang tersebut adalah Ayah dalam nasab.

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah Nabi Ibrahim adalah ayat yang menyebutkan Azar sebagai ” ab ” Ibrahim. Misalnya :

” Ingatlah ( ketika ), Ibrahim berkata kepada ” ab “nya Azar, ” Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan yang nyata “.( al An’am 74 ).

Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh Allah ( al Taubah 114). Dalam menarik kesimpulan dari ayat di atas dan sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim adalah seorang kafir sungguh sangat terlalu tergesa-gesa, karena kata ” abun ” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah kandung saja.

Kata ab’ bisa juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek.

contoh lain : Misalnya al Qur’an menyebutkan Nabi Ismail sebagai ” ab ” Nabi Ya’kub as., padahal beliau adalah paman NabiYa’kub as.

“Adakah kalian menyaksikan ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, ” Apa yang kalian sembah sepeninggalku ? “. Mereka menjawab, ” Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri “.( al Baqarah 133 )

Dalam ayat ini dengan jelas kata “aabaaika ” bentuk jama’ dari ” ab ” berarti kakek ( Ibrahim dan Ishak ) dan paman ( Ismail ).

Dan juga kata ” abuya ” atau ” buya ” derivasi dari ” ab ” sering dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum Buya Hamka, misalnya.

Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata ” ab ” tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata ” ab ” pada surat al An’am 74 dan al Taubah 114 ?

Dengan melihat ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas bahwa seorang yang bernama ” Azar “, penyembah dan pembuat patung, bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya atau orang yang sangat dekat dengannya dan Ia adalah pembuat Patung tuk Raja Namrud

Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah ” ( Maryam 44 ).

Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim. Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. ” Berkata Ibrahim, ” Salamun ‘alaika, aku akan memintakan ampun kepada Tuhanku untukmu ” ( Maryam 47 ).

Kemudian al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim As menepati janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa,

” Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii ), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah dengan hati yang selamat “.(al Syua’ra 83-89 ).

Allamah Thaba’thabai menjelaskan bahwa kata ” kaana ” dalam ayat ke 86 menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al Mizan 7/163).

Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar menepati janjinya saja kepada Azar, Allah AWJ menyatakan bahwa tidak layak bagi seorang Nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau berlepas tangan ( tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 )

Walid = Ayah Nasab (kandung)

* Bedakan dengan kata walid (sebutan ayah dalam makna nasab/ kandung) seperti doa yang diajarkan Khalil ALLAH Ibrahim As. dan Doa ini muktabar dikalangan kita. Jelaslah bahwa Walid menunjukkan bahwa ia menuju pada Orang tua asli (kandung)

Ketika Nabi Ibrahim datang ke tempat suci Mekkah dan besama keturunan membangun kembali ka’bah, beliau berdoa,

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan kaum mukminin di hari tegaknya hisab”( Ibrahim 41 ).

Kata ” walid ” hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan.

Dan yang dimaksud dengan ” walid ” disini tidak mungkin Azar, karena Nabi Ibrahim telah ber-tabarri (berlepas diri) dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah (al taubah 114)

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.

* Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, ” Dan perpindahanmu ( taqallub) di antara orang-orang yang sujud “.( al Syua’ra 219 ). Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli sujud ke sulbi ahli sujud.

Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada Allah. (lihat tafsir al Shofi tulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan Majma’ al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).

Nabi Ibrahim as. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as. adalah seorang yang ahli sujud kepada Allah swt.

Tentu selain alasan-alasan di atas, terdapat bukti-bukti lain dari hadis Nabi yang menunjukkan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim as. bukan orang kafir.

Hingga timbul Pertanyaan Besar Siapa Ayah kandung Nabi Ibrahim As ?

As Sayyid Nikmatullah al Jazairi menjawabnya dalam kitab an Nur al Mubin fi Qashash al An biya wal Mursalin hal 270 mengutip az Zujjaj bahwa Ayahanda Nabi Ibrahim As bernama Tarikh

Salam atas Khalil ALLAH yang suci.. Salam atas Nabi ALLAH Ibrahim alaihissalam..

Source : Dinukil dari Buletin al Jawad edisi 1421 dan Kitab Adam hingga Isa (Sayyid Jazairi)

Sumber http://mujahid-aqli.blogspot.com/2009/01/nasab-rasulillah-saww-bersih.html

Amien Rais: “Sunnah dan Syi’ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam

Jumat, 20 Juli 2007

Wawancara Eksklusif dengan Amien Rais

Menurut bapak apa relevansi tema konferensi yang dibawa teman-teman BKPPI kali ini dengan kondisi bangsa sekarang mengingat ada sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap seolah-olah kemandirian dan keadilan bagi bangsa Indonesia adalah sesuatu yang utopis?

Jadi tema konferensi ke 6 ini dari BKPPI memang amat sangat pas, sangat relevan karena yang dihadapi bangsa kita memang terutama dua itu, jadi pertama kita telah kehilangan kemandirian nasional, kepercayaan diri sudah luntur, kita bahkan tidak lagi merawat kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, kedaulatan hukum kita, jadi ini adalah hal yang sudah amat sangat jauh sehingga adik-adik di timur tengah itu betul kalau mengangkat tema ini. Dan masalah keadilan itu juga makin lama makin jauh dari kenyataan, yang terjadi mungkin adalah kezaliman ekonomi, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin senen kemis gitu nasibnya. Dan kesenjangan sosial juga makin menganga lebar. Jadi dua ini, dua hal yang sangat fundamental tapi tidak bisa diselesaikan satu-dua tahun, ini membutuhkan pemikiran yang relatif matang dan komitmen nasionl dari semua tokoh dan elit untuk bersama-sama bangsa yang besar ini menyelesaikan masalah itu, jadi saya kira memotret masalah dengan betul itu sudah langkah awal yang sangat baik, bayangkan kalau potretnya keliru langkahnya juga akan keliru, jadi saya kira alhamdulillah potret yang sudah dibuat oleh BKPPI timur tengah dan sekitarnya sudah betul, sudah akurat.

Rekomendasi apa yang selayaknya diberikan konferensi BKPPI kali ini terhadap pemerintah dan rakyat Indonesia?

Menurut saya harus sedikit menggigit, artinya ingatkan pada bangsa Indonesia dan pemerintahnya kita sudah akan melewati 62 tahun kemerdekaan, tapi kedaulatan nasional kita di bidang ekonomi, politik, hukum itu makin sempoyongan. Kemudian yang kedua kenyataan yang tak terbantahkan adalah bahwa cengkeraman pihak asing di bidang ekonomi, perbankan, pertambangan, permodalan ini memang sudah begitu nampak, jadi kalau hal yang sudah demikian mencolok mata masih belum kita sadari, maka kapan kita akan memutar balik arah perkembangan bangsa ini, jadi jangan lupa rekomendasi itu tentu mengingatkan kita yang sudah akan memperingati proklamasi yang 62 tahun tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kebangsaan nasional sudah makin sayup-sayup kemudian kemandirian juga masih di omongan tapi tidak ada dalam kenyataan, kemudian kedaulatan multi dimensional kita sudah digadaikan kepada kekuatan luar.

Apa contoh yang bisa diambil oleh Indonesia dari Negara seperti Iran?

Jadi saya pikir langkah Iran sejak tahun 1979 ketika Imam Khomeini kembali dari pengasingan itu sudah on the right track, sudah betul gitu jadi mengembalikan martabat, marwah, harga diri bangsa Iran kemudian melepaskan dari belenggu imperealisme Amerika, dulu kita mengetahui di zaman Syah, Syah dan Savak itukan telah menggadaikan Iran kedalam supremasi kepentingan barat, sehingga sesungguhnya yang sedang memainkan peranan itu bukan Syah Iran tapi ini adalah pemerintah boneka, nah setelah revolusi Iran, ada kemandirian, kemudian ada inspirasi baru yang diambil dari khazanah Islam sendiri, kemudian revolusi Iran itu bersifat multi dimensional jadi bukan sekedar hukum saja tetapi juga politik, sosial, ekonomi, kemanusiaan dll, dan arahnya itu jelas semakin bagus karena misalnya utang luar negeri Iran itu sangat kecil, hampir tidak berarti untuk Negara sebesar ini, kemudian, relatif ia tidak terlalu tergantung dengan luar negeri, kemudian yang ketiga Iran ini bisa memanfaatkan sumber daya alamnya untuk kepentingan bangsa sendiri bukan seperti Indonesia maaf gitu, jadi disini tidak aneh setiap saya datang ke Iran itu selalu melihat pertumbuhan yang kongkrit, jadi pertumbuhan fisik saja itu semakin bagus jadi apakah jalan-jalan yang makin rapi, rumah-rumah makin bertambah, kemudian gejala fisik saja itu nampak kalau dari tahun ketahun itu semakin bagus, jadi Iran ini sebuah eksperimen Islam di berbagai bidang kehidupan yang menurut saya itu lepas dari berbagai kekurangan dan kelemahannya tapi sudah on the right track, sudah berjalan di rel dengan benar. Dan jadi yang perlu kita tiru saya kira adalah bagaimana sejak pak Khomaini sampai Rafsanjani kepada Khatami sampai sekarang ini Ahmadi Nejad meskipun beda nuansa dan beda penampilan tapi saya kira bottom line nya sama yaitu percaya pada kemampuan nasional, kemampuan bangsa sendiri, dan tidak bergantung pada bangsa lain; apalagi jika usaha untuk mencapai kemampuan nuklir untuk perdamaian ini bisa jadi kenyataan alangkah bahagianya bukan hanya Iran, tapi semua dunia Islam. Sehingga paling tidak kita bisa bicara pada dunia luar bahwa lihatlah secara teknologi ada Pakistan, ada Iran, mungkin negara lain yang juga mampu. Bahkan kemarin ketika saya pergi ke News Room di Iran ini saya melihat bagaimana Sahar, Al Kautsar, Al Alam, itu merupakan sebuah demonstrasi bagaimana ternyata bangsa Muslim seperti Iran ini bisa menampilkan sosok komunikasi modern yang insyaallah tidak kalah dengan BBC, CNN, Fox news dll.

Tentang nuklir Iran, Indonesia yang mendukung penambahan sanksi kepada negara ini apakah menunjukkan ketidak mandirian politik Indonesia itu sendiri?

Jadi memang Indonesia ini sekarang agak malu diri. Jadi di mata rakyatnya pemerintah ini agak drop popularitasnya gara-gara tunduk sama kemauan Amerika. Kita tahu bahwa Security Council adalah kepanjangan tangan dari Amerika jadi begitu kita tunduk kepada dewan keamanan sesungguhnya itu sama saja dengan kita mengekor kepada Amerika. Nah mudah-mudahan tidak akan terulangi pada masa-masa yang akan datang.

Berkenaan dengan peranan ulama di Iran, dominasi peran ulama yang begitu mengakar dan kuat dibanding dengan Indonesia bagaimana anda melihat nilai positif dan negatif dalam dua Negara ini?

Ya saya kira kualitasnya mungkin ya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ulama Indonesia memang tradisi intelektual dan berfikir di Iran itu tidak pernah berhenti. Sementara ulama kita sudah terjebak kepada fiqih sehingga Islam kadang-kadang menjadi fiqih, Islam itu bukan pemikiran ijtihadi yang mencari terobosan, mencari pemecahan itu. Tapi untuk menyingkat wawancara ini saya kira cukup saya beri satu contoh saja bagaimana pada tahun 1979 majalah mingguan Time Magazine di Amerika itu mengatakan jangan mencoba berdebat masalah filsafat Yunani dengan Imam Khomeini karena kita pasti kalah. Jadi bayangkan Imam Khomeini ini tradisi filsafatnya bukan sekedar ibnu Rusyd dan ibnu Sina kemudian ulama-ulama dari Islam sendiri tapi ternyata filsafat Socrates, Aristoteles, Plato dan yang klasik Yunani itu juga dipahami. Dan saya pikir kalau saya melihat tulisan-tulisan ayatullah-ayatullah di Iran ini, itu tidak sepihak jadi bukan one sided analysis tetapi multi sided analysis karena mereka sudah menggabungkan antara resep-resep Qurani dengan resep-resep yang mutakhir dalam bidang ya katakanlah tinjauan sosiologis, politik, dll seperti peradaban sehingga penampilannya itu memang segar dan bahkan menjadi alternatif penting, alternatif dengan Makrifat bukan Nakirah. Dan saya pikir inilah yang menarik perhatian kita.

Ada sebuah fenomena, yaitu di satu sisi, terutama bagi teman-teman di sini, meskipun kita ingin membangun bangsa, tapi di sisi yang lain muncul banyak kecurigaan dari beberapa pihak yang memang tidak menghendaki kehadiran Syiah di Indonesia. Menurut anda, apakah memang pemikiran Syiah tidak menguntungkan bagi bangsa?

Jadi saya kira begini , anda tidak ush berfikir teknis jadi nanti anda kalau pulang ke tanah air beri ceramah di kampus-kampus tulislah artikel di koran-koran, produksilah buku-buku yang agak tebal yang menunjukkan kehebatan Islam dibandingkan paham-paham lain. Jadi saya lihat bagaimana Ali Syariati menenggelamkan marxisme di Iran ini karena ia menunjukkan resep2 keIslaman secara kreatif sehingga intelektual Iran tidak lagi tertarik kepada marxisme tersebut. Hal seperti ini sesuatu yang normal, sebagaimana kata pepatah tidak ada makan siang yang gratis. Makan siang itupun harus didapat dengan bekerja. Jadi anda jangan takut dituduh syiah dan lain-lain; karena menurut saya . Al Azhar juga dilahirkan oleh dinasti Fatimi yang juga Syiah. Jadi ngga usah lah kita saling tidak percaya.

Satu lagi pak! Menurut bapak sumbangsih real apa yang dapat diberikan pelajar-pelajar Indonesia di luar negri khususnya pelajar2 Indonesia di timur tengah dalam mewujudkan bangsa indonesia yang bersih, mandiri, dan merdeka mengingat lulusan timur tengah masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia?

Saya kira kalau kita melihat Indonesia dalam sejarah menjelang dan sesudah kemerdekaan itu sangat berhutang budi pada alumni lulusan timur tengah sejak pak Mahmudi Nur, Mukhtar Yahya, yang lebih mutaakhir jangan lupa seperti Abdurrahman Wahid, kemudian Hidayat Nur Wahid, lantas kemudian Alwi Sihab, Quraish Syihab, dan mereka yang tidak sepopuler orang-orang tadi. Mereka adalah orang-orang yang telah memasuki sel-sel kehidupan nasional kita. Jadi yang penting kata kuncinya adalah sesuatu posisi yang kita ambil untuk mengabdi kepada kepentingan agama itu tidak bisa dicapai hanya dengan berpangku tangan. Tetapi caranya kita harus berjuang, berdebat berdiskusi, meyakinkan umat Islam lantas menggelar tradisi intelektual yang lebih longgar dan lebih liberal dalam arti liberal yang bertanggung jawab. Jadi saya tidak setuju kalau dikatakan bahwa kualitas timur tengah kalah dengan alumni dalam negeri. Karena sayapun, walaupun cuma setahun, pernah belajar di Al Azhar dan saya alumni timur tengah juga. Jadi saya melihat mereka yang dibimbing di timur tengah mulai dari Libya Mesir, sampai Pakistan itu sesungguhnya kalau direcord mulai sebelum kemerdekaan itu barang kali jadi berjilid-jilid.

Memang harus kita sadari kita juga tidak bisa ikut terlalu banyak, jadi kita tidak bisa mengharapkan menjadi katakanlah ahli perbankan, ahli ekonomi, ahli pertanian itu ada ahlinya sendiri. Tapi saya yakin yang namanya pemikiran itu memang seperti kereta di depan yang menyeret sebuah bangsa. Jadi menurut saya pemikiran Islam itu kan bergerak terus dan saya tidak malu-malu untuk mengatakan bahwa hutang budi saya ya kepada ayatullah-ayatullah disini itu besar sekali. Jadi ketika saya sekolah di IAIN, kemudian di Chicago, kemudian terbang ke Al- Azhar sebenarnya Islam yang bagus itu Islam yang status quo, itu Islam yang baik yang universal tetapi yang tidak menggerakkan. Tapi Islam di tangan tokoh-tokoh ulama syiah itu menjadi lain, Islam yang moving Islam yang menggerakkan yang merubah gitu dan itu yang saya kira yang kita perlukan. Jadi dari sunni nggak usah malu untuk belajar dari syiah. Tapi juga dari syiah saya kira kalau ada sunni yang bagus juga ambil saja gitu. Jadi tadi ketika di Markaz International Study Islam Iran juga dikatakan, kalau kita melihat di perpustakaan di Iran pun juga 80% lebih buku-bukunya itu karangan sunni. Jadi mengapa orang sunni itu alergi kepada syiah dan sementara syiah juga alergi kepada sunni. Saya kira ini seperti pertarungan komunikasi orang Amerika tidak mau menyiarkan Aljazeera sementara CNN bisa kita nikmati di Mekah dan Madinah juga di Iran. Saya kira yang jelas anda lebih tahu dari saya bahwa nature dari alam itu adalah perubahan jadi kalau filsafat Pancarai semua itu berubah yang tetap itu adah perubahan itu sendiri jadi saya yakin nanti dengan adanya kemajuan zaman ini akan terjadi perubahan kuantitatif kualitatif dan anda ini yang penting terus saja belajar, tekuni ilmu yang anda bidangi itu sehingga kalau bisa setelah kembali ke tanah air itu kemudian tinggal mengimplementasikan apa yang telah diambil di Timur Tengah ini. [Mas Herry/Alcaff]

http://islamalternatif.net/iph/index.php?option=com_content&task=view&id=106&Itemid=40

Benarkah Syiah mencela Para Sahabat?

Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”

Di antara perkara yang menjadi sasaran tudingan Syiah semenjak dahulu hingga kini (sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Syiah) adalah bahwa Syiah memendam dendam dan kusumat kepada sahabat. Tatkala kita mengkaji tudingan secara realistis dan jauh dari segala sikap puritan maka kita akan jumpai tudingan ini sama sekali jauh dari kenyataan yang ada. Lantaran Syiah sangat menghormati Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Bagaimana mungkin Syiah memendam kusumat kepada sahabat sementara mereka memandang sahabat sebagai penyebar syariat dan cahaya Tuhan untuk kemanusiaan? Mereka adalah sandaran dan pembela Rasulullah Saw. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah! Bagaimana mungkin Syiah membenci mereka sementara Allah Swt memuji mereka dan berfirman tentang mereka, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Fath [48]:29)

Mereka adalah orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Menghidupkan agama-Nya dan membangun dasar pemerintahan Islam serta mengeliminir jahiliyyah.[i]

Imam dan pemimpin kaum Syiah, Baginda Ali bersabda ihwal para sahabat Rasulullah Saw: “Aku telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tetapi aku tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) serta melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan (sujudkan) dahi mereka, dan terkadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan.”[ii]

Demikian juga, Baginda Ali As menandaskan, “Saudara-saudaraku yang mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran? Di manakah ‘Ammar? Di manakah Ibn  at-Tayyihan? Di mana Dzusy-Syahadatain? Dan di manakah yang lain-lain seperti mereka di antara para sahabat tnereka yang telah membaiat sampai mati dan yang kepalanya (yang tertebas) dibawa kepada musuh yang keji? Kemudian Amirul Mukminin menggosokkan tangannya ke janggutnya yang mulia lalu menangis dalam waktu lama, kemudian ia melanjutkan: Wahai! saudara-saudaraku yang membaca Al-Qur’an dan mengeluarkan hukum berdasarkan al-Qur’an, memikirkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan kepada mereka dan menunaikannya, menghidupkan sunah dan menghancurkan bidah. Ketika mereka dipanggil untuk berjihad, mereka menyambut dan mempercayai pemimpin mereka lalu mengikutinya.”

Imam Sajjad As juga dalam Shahifah Sajjadiyah mendoakan para sahabat Rasulullah Saw, “Ya Allah! di antara penghuni bumi para pengikut rasul dan yang membenarkan mereka secara gaib ketika para pembangkang melawan mereka dengan pembohongan mereka merindukan para rasul dengan hakikat keimanan (tatkala orang-orang mendustakan dan menentangnya). Pada setiap zaman dan masa ketika Engkau mengutus seorang rasul memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia sejak Adam sampai Muhammad Saw para imam pembawa petunjuk pemimpin ahli takwa sampaikan shalawat kepada mereka semua. Kenanglah mereka dengan ampunan dan keridhaan! Ya Allah! Khususnya para sahabat Muhammad yang menyertai Nabi dengan persahabatan sejati yang menanggung bala yang baik dalam membelanya menjawab seruannya ketika ia memperdengarkan hujjah risalahnya. Meninggalkan istri dan anak-anak untuk menegakkan kalimahnya. Memerangi bapak-bapak dan anak-anak untuk meneguhkan nubuwahnya dan memperoleh kemenangan karenanya. Mereka yang dipenuhi kecintaan kepadanya mengharapkan perdagangan yang tidak pernah merugi dalam mencintainya. Mereka yang ditinggalkan keluarga karena berpegang kepada talinya. Mereka yang diusir oleh kerabatnya ketika berlindung dalam naungan kekeluargaannya. Ya Allah! Jangan lupakan mereka apa yang telah mereka tinggalkan karena-Mu dan di jalan-Mu. Ridhoilah mereka dengan ridho-Mu. Karena telah mendorong manusia menuju kepada-Mu dan bersama rasul-Mu mereka menjadi para dai yang menyeru kepada-Mu. Balaslah dengan kebaikan pelarian mereka dan kepergian mereka dari kaumnya menuju-Mu. Meninggalkan kesenangan menuju kesempitan. Balaslah dengan kebaikan kepada mereka yang teraniaya karena menegakkan agama-Mu. Ya Allah! Sampaikan pahala terbaik kepada para pengikut mereka dalam kebaikan yang berkata, “Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman.”

Demikian juga para juris Syiah meyakini kedudukan dan derajat para sahabat. Syahid Shadr berkata, “Sahabat adalah manifestasi iman dan penerang, terbaik dan model orang shaleh terbaik bagi kemajuan umat Islam. Sejarah umat manusia tidak akan mengenang sebuah generasi dengan keyakinan lebih unggul, lebih utama, lebih jenius, lebih suci daripada para penolong yang dididik oleh nabi.”

Benar kita memiliki perbedaan dengan Ahlusunnah. Hal itu dikarenakan kami membagi sahabat Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup dengannya dengan mengambil inspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an menjadi beberapa bagian:

1.    Kelompok orang-orang terdahulu: “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:100)

2.    Kelompok yang memberikan baiat di bawah pohon: “Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui keimanan dan kejujuran yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, Dia menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Qs. Al-Fath [48]:18)

3.    Kelompok yang berinfak dan berjihad sebelum kemenangan: “Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum tercapai kemenangan (dengan orang yang menginfakkannya setelah kemenangan tercapai). Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Tapi Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid [57]:10)

Sebagai kebalikan model-model utama dan pribadi-pribadi atraktif, al-Qur’an menyebutkan kelompok-kelompok lainnya yang sangat berseberangan secara diametral dengan model-model di atas:

1.    Orang-orang munafik.[vi]

2.    Orang-orang munafik yang tersembunyi dan Rasulullah Saw tidak mengenal mereka.[vii]

3.    Orang-orang yang lemah iman dan sakit hatinya.[viii]

4.    Orang-orang (lemah) yang mendengarkan dengan seksama ucapan-ucapan orang yang suka membuat fitnah.[ix]

5.    Orang-orang yang di samping mengerjakan kebaikan pada saat yang sama juga mengerjakan keburukan.[x]

6.    Orang-orang yang cenderung murtad.[xi]

7.    Orang-orang fasik yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya.[xii]

8.    Orang-orang yang iman belum lagi masuk ke dalam hati-hati mereka.[xiii] Dan sifat-sifat tercela lainnya yang disebutkan sebagian dari mereka.

Di samping itu, di antara para sahabat terdapat orang-orang yang bermaksud membunuh Rasulullah Saw pada sebuah malam yang dilakukan oleh Uqbah. Karena itu kita dapat menyimpulkan pandangan Syiah terkait dengan sahabat: Dalam mazhab Ahlulbait As sahabat seperti orang lain artinya di antara mereka terdapat orang yang adil dan tidak adil. Dalam pandangan Syiah tidak semua sahabat itu adil. Sepanjang perilaku dan perbuatan Rasulullah Saw tidak menjelma dalam kehidupan mereka maka status mereka sebagai sahabat tidak memiliki peran dalam keadilannya.

Dengan demikian, kriteria dan pakemnya adalah perilaku dan perbuatan praktis. Barang siapa yang perbuatan dan perilakunya sejalan dengan kriteria dan pakem agama Islam maka ia adalah seorang yang adil. Selainnya tidak adil. Sebagaimana yang telah kami katakan bahwa pandangan ini selaras dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[xiv]

Apakah  ada orang yang berakal akan berbuat demikian? Dengan asumsi kita melaukan hal seperti ini apakah masih ada yang tersisa dari Islam tatkala kita senantiasa berupaya menjustifikasi perbuatan-perbuatan para pejuangnnya dan orang-orang tiran hanya karena mereka sahabat?

Pada hakikatnya Islam lebih mulia dan agung dari tindakan ingin mencampur aduk dengan kejahatan orang-orang jahat dan menyimpang pada setiap ruang dan waktu!! Inilah keyakinan kami. Kami tidak berbasa-basi dengan siapa pun. Lantaran kebenaran lebih layak untuk dijelaskan dan diikuti.

Kami ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni apakah kalian memandang sama antara Khalifah Ketiga Utsman dan orang yang membunuhnya?

Apabila keduanya adalah sama lalu mengapa serangan banyak dilancarkan kepada Ali As dan dengan dalih menuntut darah Utsman api peperangan Jamal dan Shiffin bisa meletus? Dan apabila dua kelompok ini tidak sama, orang-orang yang menentang dan orang-orang yang mendukung dalam pembunuhanya – apatah lagi orang-orang yang membunuhnya – mereka diperkenalkan sebagai orang-orang yang keluar aturan dan syariat maka hal itu adalah tiadanya keadilan pada sahabat! Lantas mengapa ada serangan kepada Syiah sementara pandangan mereka sama dengan pandangan yang lain?

Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu  berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin. Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan? Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.

[Pernah dimuat di site Islam Quest]

[i]. ‘Adâlah Shahâbi, hal. 14, Majma’ Jahani Ahlulbait As.

[ii]. Nahj al-Balâghah, hal. 144, Khutbah 97.

[iii]. Nahj al-Balâghah, hal. 164, Khutbah 97, riset oleh Subhi Shaleh.

[iv]. Shahifah Sajjadiyah, hal. 42, Doa Imam untuk Para Pengikut Para Nabi.

[v]. Majmu’e Kâmilah, No. 11, Pembahasan ihwal Wilayah, hal. 48.

[vi]. “Dan infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, “Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku barang sekejap sehingga aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh?” (Qs. Al-Munafiqun [63]:10)

[vii]. “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:101)

[viii] . “(Ingatlah) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawah (kota)mu (sehingga mereka mengepung kota Madinah), dan ketika penglihatan(mu) terbelalak (lantaran takut) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan mereka diguncangkan dengan guncangan yang sangat.” (Qs. Al-Ahzab [32]:10-11)

[ix]. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah bagimu selain kerusakan dan keraguan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk menyulut fitnah (dan kekacauan) di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang (lemah iman) yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Taubah [9]:45-47)

[x]. “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Taubah [9]:102)

[xi]. “Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan darimu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri (dan tidak mengantuk); mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Apakah kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya berada di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, “Sekiranya kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Qs. Ali Imran [3]:154

[xii]. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat [49]:6); “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (Qs. Al-Sajdah [32]:18)

[xiii]. Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hujurat [49]:14)

[xiv]. Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.

http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=200494

Jumlah Imam Sepeninggal Rasulullah Saaw Dalam Al-Qur’an

Sunnguh Al-Qur’an Sebuah Mukjizat

Jumlah Imam Setelah Rasulullah saaw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saaw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.

Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.

Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saaw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai </span><span>Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
  2. …. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
  3. . Dan jadikanlah kami  Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
  4. Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
  5. . Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua

    kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

  6. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
  7. (Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
  8. …. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
  9. Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73) 
  10. Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­-pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
  11. Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
  12. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah)yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

 Ayat Keduabelas

Saya berpendapat bahwa jumlah para Imam itu sama dengan jumlah para Nuqaba Bani Israil, yaitu sebanyak 12 orang naqib. Di antara yang menarik perhatian ialah ketika Nuqaba itu ber­jumlah 12, ia pun disebutkan pada ayat keduabelas dari surat Al-Maidah, yaitu ketika Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani lsrail dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin … (AI-Maidah: 12)

Duabelas Khalifah Rasulullah saaw.

Kata khalifah dan turunan kata isim-nya, yang digunakan untuk memuji, disebutkan sebanyak 12 kali. Di dalamnya dijelas­kan mengenai khilafah dari Allah SWT, yaitu pada ayat-ayat berikut ini:

  1. Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan  khalifahdi muka bumi ….. ” (Al-Baqarah: 30)
  2. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu ….. (Shad: 26)
  3. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalaif) di bumi ….. (Al-An’am: 165)
  4. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti mereka (khalaif) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat ….. (Yunus: 73).
  5. .. Dan Kami jadikan mereka pemegang kekuasaan (khalaif) dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat­ayat kami ….. (Yunus: 73)
  6. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri ….. (Fathir: 39)
  7. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) yan,q berkuasa setelah lenyapnya Nuh ….. (Al-A’raf: 69)
  8. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) setelah lenyapnya kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi ….. (AI­A’raf; 74)
  9. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai  khalifah-khalifah (khulafa) di muka burni …..” (Al-Nur: 55)
  10. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa (layastakhlifannahum) di muka bumi ….. (Al-Nur: 55)
  11. Sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa (istakhlafa) orang-orang sebelum mereka ….. (Al-Nur: 55) 
  12. ..Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu  khalifah di bumi  ….. ” (AI­A’raf: 129)

Duabelas Washi

Termasuk yang ditegaskan oleh jumlah ini (12) ialah wasiat Rasulullah saaw. bahwasanya Imam sesudah beliau itu berjumlah 12 Imam, sama dengan jumlah wasiat Allah kepada para makhluk, yaitu sebanyak kata wasiat dan bentuk turunannya dari Allah kepada makhluknya sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:

  1. Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah diwahyukan kepadamu ….. (Al-Syura: 13)
  2. …  Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan (washsha ini bagimu  ……(Al-An’am: 144)
  3. . Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu (washshakum) supaya kamu memahami(nya) ….. (Al-An’am: 151)
  4. .. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu supaya kamu ingat ….. (AI-An’am: 152)
  5. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu agar kamu bertakwa ….. (Al-An’am: 153)
  6. …. Dan sesungguhnya      Kami telah memerintahkan   (wash­shaina) kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan (juga) kepadamu: “Bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)
  7. Dan Kami wajibkan (washshaina) manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada kedua ibu-bapaknya … (Al-Ankabut: 8)
  8. Dan Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah ….. (Luqman: 14) 
  9. Dan apa yang telah Kami  wasiatkan (washshaina) kepada Ibrahim, Musa dan lsa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya …..  (Al-Syura: 13)
  10. Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya ….. (Al-Ahqaf: 15)
  11. … Dan Dia memerintahkan (ausha)kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup ….. (Maryam: 31)
  12. ….. Syariat (washiyyatan)dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 12)

Duabelas Khalifah Dari Keluarga Muhammad saaw.

 

Kata ali (keluarga) yang disandarkan kepada nama-nama ter­puji, seperti keluarga Ibrahim, keluarga Imran tidaklah disandarkan kepada nama-nama jelek seperti keluarga Fir’aun. Kata tersebut disebut sebanyak duabelas kali sesuai dengan jumlah Imam dari keluarga Muhammad saw. yang diawali dengan Imam Ali a.s. dan diakhiri dengan Imam Al-Mahdi a.s. Keduabelas kata tersebut adalah sebagai berikut:

1.      ….. Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga (ali) Musa. ….. (AI-Baqarah: 248)

2.      ….. Dan keluarga (ali) Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat ….. (Al-Baqarah: 248).

3.      Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, dan keluarga (ali) Ibrahim ….. (Ali Imran: 33).

4.      ….. Dan keluarga (ali) Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (Ali-Imran: 33).

5.      ….. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga (ali) Ibrahim ….. (Al-Nisa: 54).

6.      ….. Dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga (ali) Ya’qub ….. (Yusuf: 6).

7.      Kecuali keluarga (ali) Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan semuanya. (Al­Hijr: 59).

8.      Maka tatkala datang pura utusan kepada kaum      (ali) Luth (AI-Hijr: 61)

9.      ang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga (ali) Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya! Tuhanku, sebagai orang yang diridhai. (Maryam: 6)

10.  ….. “Usirlah Luth beserta keluarganya (ali) dari negerimu; sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih. (Al-Naml: 56).

11.  ….. Bekerjalah hai keluarga (ali) Daud agar (kamu) bersyukur (kepada Allah) dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang beriman bersih. (Saba’: 13).

12.  Sesungguhnya Kami telah   menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga (ali) Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu fajar belum menyingsing. (AI-Qamar: 34).

Bilangan Kata “Malik”dalam Al-Qur’an

Kata malik dengan pengertian penguasa, disebut 12 kali, sebanyak jumlah Khalifah setelah Rasulullah saaw., yaitu dalam ayat-ayat berikut:

1.      Raja (malik) berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus ….. (Yusuf: 43).

2.      Raja (malik) berkata: “Bawalah dia kepadaku,” maka ketika utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu ….. (Yusuf: 50).

3.      Dan Raja (malik) berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku. ” (Yusuf: 54).

4.      Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja (malik), dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat beban unta) ….. (Yusuf: 72).

5.      ….. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (malik), kecuali Allah menghendakinya ….. (Yusuf: 76).

6.      ….. Karena di hadapan mereka ada seorang raja (malik) yang merampas setiap bahtera. (Al-Kahfi: 79).

7.      ….. Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “,4ngkatlah untuk kami seorang raja (malik) supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah. (Al-Baqarah: 246).

8.      Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu (malaka).” (Al-Baqarah: 247).

9.      Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja (al-muluk) apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya ….. (Al-Naml: 34).

10.  ….. lngatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kamu, dan dijadikan-Nya kamu orang­orang merdeka (mulukan) ….. (Al-Maidah: 20).

11.  Mereka berseru: “Hai Malik! biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu tetap akan tinggal (di neraka ini)” (Al-Zukhruf: 77).

12.  Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu terbagi dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka menguasainya (malikun). (Yasin: 71).

  MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA……….

******************************************************************

“Jadikanlah Al-Qur’an Pelita Hdupmu”

Perintah Mendirikan Shalat  Dalam Al-Qur’an

Kata kerja perintah (fi’l al-amr) “aqim” atau “aqimu” (dirikanlah) yang diikuti dengan kata “shalat” disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu (17 rakaat). Yang mendukung hal demikian, adalah juga disebutkannya kata “fardh” dengan berbagai turunan katanya yang disebut sebanyak 17 kali rakaat shalat wajib dalam sehari semalam, yang juga sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu. Ayat-ayat yang memuat kata shalat yang digabungkan dengan kata kerja perintah “aqim” atau “aqimu” tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Dan aqimu shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’-lah beserta orang-orang yang ruku’. (Al-Baqarah: 43).

2.      …. Aqimu shalat dan tunaikanlah zakat …. (Ali Imran: 83).

3.      Dan aqimu shalat dan tunaikanlah zakat … (AI-Baqarah: 110).

4.      …. “Tahanlah tanganmu dari berperang, aqimu shalat dan tunaikanlah zakat. ” (An-Nisa: 77).

5.      …. Kemudian apabila kamu telah merasa aman maka aqimu shalat sebagaimana biasa …. An-Nisa: 103).

6.      …. Agar kamu aqimu shalat serta bertaqwa kepada-Nya …. (Al-An’am: 72).

7.      …. Dan aqimu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman. (Yunus: 87).

8.      Dan aqimu shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebahagian permulaan malam … (Yunus: 78).

9.      Aqimu shalat dari setelah tergelincir matahari sampai gelap malam …. (Al-Isra: 78).

10.  ….Dan aqimu shalat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14).

11.  …. Maka aqimu shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kepada tali Allah …. (Al-Haj: 78).

12.  Dan aqimu shalat, dan tunaikanlah zakat …. (Al-Nur: 56).

13.  …. Dan aqimu shalat …. (Al-Ankabut: 45).

14.  …. Serta aqimu shalat, dan janganlah kamu termasuk orang­-orang yang menyekutukan Allah. (Al-Rum: 30)

15.  Wahai anakku, aqimu shalat dan suruhlah (manusia) untuk mengerjakan kebajikan …. (Luqman: 18).

16.  …. Maka aqimu shalat …. (AI-Mujadilah: 13).

17.  Dan aqimu shalat, tunaikanlah zakat …. (AI-Muzammil: 20).

Shalat Lima Waktu Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Quran, kata Shalawat disebut lima kali, sama dengan jumlah shalat wajib sehari semalam: shubuh, zuhur, asar, maghrib dan isya, yaitu di dalam ayat-ayat berikut:

1.      Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna (shalawat) dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 157).

2.      Peliharalah shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wurtha ….(Al-Baqarah: 298).

3.      …. Dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan shalawat Rasul …. (At-Taubah: 99)

4.      …. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat Yahudi dan shalat dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah …. (Al-Haj: 40}.

5.      Dan orang-orang yang senantiasa menjaga shalawat (shalat­-shalat) mereka. (Al-Mukminun: 9).

Rakaat Shalat Fardhu Dalam Al-Qur’an  

Kata “faradha” berikut turunan katanya dengan pengertian faridah (kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan) di dalam Al­Quran disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikut:

1.      …. Barangsiapa yang menetapkan niat (faradha) dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan …. (Al-Baqarah: 197).

2.      Sesungguhnya yang mewajibkan (faradha) atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali …. (AI-Qashash: 85).

3.      Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan (faradha) Allah baginya ….. (Al-Ahzab: 38).

4.      Sesungguhnya Allah telah mewajibkan (faradha) kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu ….. (Al­ Tahrim: 2 ).

5.      Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu ber­campur dengan mereka, padakal sesungguhnya kamu sudah menentukan (faradh-tum) mahar bagi mereka … (Al-Baqa­rah: 237).

6.      ….. Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tetapkan (faradh-tum) itu kecuali … (Al-Baqarah: 237).

7.      Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan (faradh-na) kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki ….. (Al-Ahzab: 50).

8.      (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajib (faradh-na) (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam­nya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas agar kamu selalu mengingatinya. (Al-Nur: 1).

9.      Tidak ada suatu pun (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan istri-istrimu sebelum kamu bercampur menentukan mahar yang ditetapkan (faradhah) maharnya .. . (Al-Baqarah: 236).

10.  ….. Dan sebelum kamu menentukan mahar yang ditetapkan (faradhah) bagi mereka ….. (AI-Baqarah: 236).

11.  ….. Padahal sesungguhnya kamu telah menentukan mahar yang telah ditetapkan (faridhah) bagi mereka … (Al-Baqa­rah: 237).

12.  ….. Orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak tahu siapa yang lebih dekat (bermanfa’at) dari mereka bagimu. Ini adalah ketetapan (faridhah) dari Allah ….. (An-Nisa: 11):

13.  ….. Maka istri-istri yang telah kamu campuri di antara mereka berikanlah kepada mereka maharnya secara sempurna (faridhah) ….. (Al-Nisa: 24).

14.  ….. Dan tiada mengapa bagimu terhadap sesuatu ynng telak kamu merelakannya, sesudah menentukan mahar (faridhah) itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa: 24).

15.  ….. Untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan (faridhah) dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah: 60).

16.  Baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan (mafrudhah). (An-Nisa: 7).

17.  Dan syaitan berkata: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang telah ditentukan (mafrudhah) (untuk saya).” (An-Nisa: 7).

Bilangan Sujud Dalam Al-Qur’an

Pada Al-Quran, akan anda temukan bahwa kata sujud yang dilakukan olch mereka yang berakal disebutkan sebanyak 34 kali. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud dalam shalat sehari­hari yang dilahukan pada lima waktu sebanyak 17 rakaat. Pada setiap rakaat dilakukan dua kali sujud sehingga jumlahnya menjadi 34 kali sujud sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.      Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: Sujud-lah kamu kepada Adam’ …. (2:34)

Ayat ini merupakan ayat ketiga puluh empat pada surat Al-Baqarah, yaitu surat dalam mushaf yang pertama yang menyebutkan masalah sujud yang jumlahnya sama dengan jumlah sujud keseharian.

2.      …. kemudian Kami katakan kepada para Malaikat; “Ber­sujudlah kamu kepada Adam!” …. (Al-Araf: 11)

3.      Dan ingatlah ketika Kami katakan kepada Malaikat: “Ber­sujudlah kamu kepada Adam!” …. (AI-Isra: 61)

4.      an (ingatlah) ketika kami katakan kepada para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam!” … (Al-Kahfi: 50)

5.      Dan (ingatlah) ketika Kami katakan kepada para malaikat: “Ber-sujud-lah kamu kepada Adam!” . . . (Thaha: 116)

6.      Wahai orang-orang yang beriman, ruku’ dan ber-sujud-lah kamu serta beribadahlah kamu kepada Tuhanmu . . . (AI-Hajj : 77 )

7.      Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujud-lah kamu sekalian kepada Yang Mahapenyayang.” Mereka menjawab: “Siapakah Yang Maha Penyayang itu?” . . . (Al-Furqan: 60)

8.      Janganlah kalian ber-sujud kepada matahari maupun bu­lan, dan ber-sujud-lah kamu semua kepada Allah, Zat Yang telah menciptakan keduanya (matahari dan bulan) …. (Fushshilat: 47)

9.      Maka ber-sujud-lah kalian kepada Allah dan beribadahlah kalian (kepada-Nya). (Al-Najm: 62)

10.  Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama-sama orang yang ruku’. (Ali Imran: 43)

11.  Maka sujud-lah para Malaikat itu semuanya bersama-sama. (Al-Hijr: 30)

12.  12. Maka ber-sujud-lah para Malaikat itu semuanya bersama­sama. (Shad: 73)

13.  …. Maka semua para Malaikat itu ber- sujud, kecuali Iblis; ia enggan … (Al-Baqarah: 24)

14.  …. Kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). (An-Nisa: 102)

15.  . Lalu Kami katakan kepada malaikat: “Ber-sujud-lah kamu kepada Adam!”, maka mereka ber-sujud, kecuali iblis …. (Al-A’raf: 11).

16.  .… Maka mereka ber- sujud, kecuali iblis ….(Al-Isra: 61)

17.  …. Maka mereka ber-sujud, kecuali Iblis. Dan dia adalah dari golongan jin …. (AI-Kahfi: 61).

18.  …. Maka mereka ber-sujud, kecuali iblis, ia enggan … (Taha: 116).

19.  Berkata iblis: “Aku sekali-kali tidak akan ber-sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al­ Hijr: 33).

20.  .…. Kecuali iblis, ia berkata: ‘Apakah aku akan ber­-sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. (Al-Isra: 61).

21.  Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk ber­- sujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” …. (AI-A’raf: i2).

22.  Allah berfirman: “Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-cipta-kan dengan kedua tangan-Ku?”…. (Shad: 75).

23.  Janganlah kalian sujud kepada matahari maupun bulan ( Fushilat: 3 7 )

24.  …. Mereka berkata: “Dan siapakah Yang Maka Penyayang itu? Apakah kami harus ber- sujud kepada yang kamu perintahkan kepada kami?” …. (Al-Furqan: 60).

25.  Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi …. (AI-Ra’d: 15).

26.  Dan hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang ada di langit dan bumi …. (Al-Nahl: 49).

27.  Apakah kamu tlada mengetahui, bahwa kepada Allah ber­-sujud segala apa yang ada di langit, bumi …. (Al-Haj: 18).

28.  Agar mereka tidak ber- sujud (menyembah) Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi …. (Al-Naml: 25).

29.  …. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga ber- sujud (sembahyang). (Ali Imran: 113).

30.  Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka ber­tashbih memuji-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka ber­- sujud. (Al-A’raf: 206).

31.  Aku mendapati dia dan kaumnya ber- sujud kepada matahari, selain Allah …. (Al-Naml: 24).

32.  Dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak ber- sujud. (Al-Insyihaq: 21).

33.  Dan pada bagian dari malam, maka sujud-lah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (AI-Insan: 26).

34.  Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujud-lah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (AI-Alaq: 19).

Dalam Al-Quran tidak ada kata sujud yang dihubungkan dengan makhluk yang tidak berakal, kecuali satu ayat saja, yaitu dalam firman Allah SWT:

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-keduanya sujud kepada-Nya. (Al-Rahman: 6).

Selain dalam ayat tersebut, 34 kata kerja (fi’il) sujud semuanya dihubungkan dengan makhluk berakal.

APAKAH SEMUA INI HANYA KEBETULAN SEMATA? APAKAH INI SANGAT DIPAKSAKKAN ? SEMENTARA JUMLAHNYA DITEGASKAN SECARA BERULANG-ULANG? APAKAH INI BUKAN RAKAYASA ALLAH SWT SEMATA? ITULAH RAHASIA ANGKA-ANGKA SEBAGAI SALAH SATU RAHASIA KEAGUNGAN AL-QUR’AN

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

BARANGSIAPA MATI TANPA MENGENAL IMAM ZAMANYA, MAKA MATINYA ADALAH MATI JAHILAYAH

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini: 

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis: 

إسناده حسن ورجاله ثقات 

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah. 

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah: 

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” 

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Ahlu Sunnah yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini. Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami. 

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi. Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang mati belum mengenal Imam zamannya, maka matinya mati jahiliyah.”

Hadis ini dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:

1. Shahih Bukhari jilid 5, halaman 13, bab Fitan.

2. Shahih Muslim, jilid 6, halaman 21, hadis ke 1849.

3. Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, jilid 12, halaman 440.

4. Musnad Ahmad, jilid 2, halaman 83; jilid 4, halaman 96.

5. Sunan Al-Baihaqi, jilid 8, halaman 156.

6. Mustadrak Al-Hakim, jilid1, halaman 77.

7. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 9, halaman 155.

8. Ushulul Kafi, jilid 1, halaman 303.

9. Kamaluddin, Ash-Shaduq, jilid 1, halaman 76.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………

MENGENALI IMAM YANG MANA ??

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41) 

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

[QS. al-Baqarah (2) : 124]

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. [QS. Hud (11) : 113]

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. [QS. al-Insan (76) : 24]

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

…………………………………………………………………………………………………………………………….

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut :

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). [QS. al-Qashash (28) : 68]

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah. [QS. al-Anbiya (21) : 73]

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [QS. as-Sajdah (32) : 24]

……………………………………………………………………………………………………………………………

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ  

“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini?

Hadis berikut menjelaskannya :

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah“. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

…………………………………………………………………..

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifah ini???

Hadis berikut pula merincikansiapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu ?

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula;

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Maka, jika kita susun kembali premis-premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

(1) Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

(2) Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang 

(3) Kesemua mereka adalah dari Quraisy 

(4) Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim 

(5) Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda??

AHMADIYAH HANYA TEST CASE …TARGET SESUNGGUHNYA ADALAH MEMBASMI SYI’AH”

Syi'ah Bukan Islam

Ada satu analisa terhadap kasus Ahmadiyah dan fenomena intoleransi hanyalah’TEST THE WATER’ terhadap UMAT ISLAM test case saja.

“Test case seperti melempar batu ke dalam air seberapa riak ummat ini. Satu-Satu. Ada tesa-antitesa, aksi-reaksi, sebab-akibat,” komunitas Ahmadiyah sangat sedikit menurut data hanya lebih kurang 500 ribu jiwa mereka eksis selama 80 tahun lebih sejak pertama kali disebarkan tahun 20 sekian dan SK Pemerintah tahun 1953 sebagai oramas, terbukti bebrapa tokoh Ahmadiyah yang dengan pendekatan dialog kembali ke Islam mainstream dan gerbong dibelakangnya pun mengikutinya inilah faktanya.

Jadi tak terlalu mengkhawatirkan karena setiap tahun jumlah jema’atnya semakin berkurang hanya dengan pendekatan dialog dan hujjah-hujjah yang meyakinkan mereka bisa diajak kembali kedalam Islam mainstream.

SASARAN SEBENARNYA YANG DI SETTING OLEH KELOMPOK EKSTRIM, RADIKAL, DAN INTOLERAN ADALAH MEMBASMI SYI’AH DARI BUMI PERTIWI.

Kelompok pengusung faham takfir gigih menyebarkan virus takfirnya ke semua lini dan lintas mazhab, WASPADA terhadap jenis virus yg satu ini karena ia langsung menyerang dan mengeinfeksi saraf dan jantung umat, ciri-ciri orang terinfeksi virus ini :anti logika, jumud, intoleran, radikal, beringas, merasa paling benar sendiri selainnya salah, cenderung kepada perpecahan umat, mengandalkan logika kekuatan dan menyetujui tindak kekerasan. ADAKAH CIRI-CIRI DAN GEJALA ITU PADA DIRI ANDA???

Cara yang paling tepat ialah mendesak intitusi-institusi seperti Depag, MUI, khususnya Pemerintah, DPR untuk melihatnya sebagai ancaman serius bagi instabilitas Negara dari kelompok takfir dan intoleran ini maka kita perlu memberikan masukan bahwa ini hanya tinggal menunggu waktu saja apabila ada yang menyulut dan memulai maka meledaklah dan untuk menghindari konflik horisontal seperti di Malaysia maka perlu dikeluarkan pernyataan resmi bersama antara ormas-ormas Islam, Pemerintah dalam hal ini MUI dan Depag, Kejagung ,Kepolisian/TNI/DPR, tentang pentingnya menjaga Ukhuwah Islamiyah antara pemeluk mazhab-mazhab di dalam Islam khususnya Sunnah dan Syi’ah.

Atau bagaimanalah redaksinya terserah yang penting intinya agar konflik horisontal bisa di antisipasi sedini mungkin dan bagi pelaku pelanggaran baik lembaga atau perorangan akan di kenai sangsi hukum yg berat. KALAU TIDAK DIANTISIPASI SEJAK DINI BERSIAPLAH MENUJU INDONESIA YANG PORAK-PORANDA !!!!!!!

Sunnah-Syi’ah Menjalin Ukhuwah “SETAN TERBAKAR”

Ini adalah urusan yang haq dan bathil bukan urusan asap dan api, masalah Sunnah dan Syi’ah itu sudah terjadi ribuan tahun, di Irak tempat yang mayoritas Syi’ah , Sunnah-Syi’ah rukun dan mereka bekerjasama, berinteraksi dalam menjalin ukhuwah begitu pula di negeri-negeri Islam lainnya.

Semuanya menjadi berubah setelah faham takfir/radikal yang di pelopori kaum Salafiyyin/Wahabi ekstrim gencar mereka sebarkan dengan berbagai media propaganda maka sebagian kaum muslimin malah terperosok ke dalam faham takfir itu sendiri, anda lihat saja para Ustadz-Ustadz Syi’ah yang hampir semua mantan Ahlussunnah dan semuanya pro ukhuwah begitu pula para pemimpin ormas-ormas Islam lainnya kecuali oknum-oknum yang gila fulus dan hubbud dunya, kita tidak bisa bilang hanya menilai sebelah mata akan fakta ini tetapi dinilai dan disaksikan oleh banyak mata.

Negara ini adalah negara hukum kalau ada pelanggaran maka harus di tindak dan hukum harus di tegakkan, Ingat strategi kelompok yang anti persatuan dan anti syi’ah mirip seperti strategi yg diterapkan kaum Zionis.

Para anti persatuan, kelompok intoleran berupaya memancing-mancing Muslim Syi’ah dengan perbedaan mazhab dan pembahasan masalah khilafiyah dan mulai menyudutkannya, begitu sebagian ikhwan Syi’ah mulai terpancing maka mereka senang dan mulailah mereka melakukan pembalasan yang lebih besar dan tak berperi-kemanusiaan, seperti ZIONIS menyerang Palestine dengan serangan kecil lebih dahulu kemudian Palestine membalas dengan serangan ala kadarnya/setimpal kemudian ZIONIS membalasnya lagi dengan serangan yang lebih besar dan dahsyat dan terus berupaya memojokkan Palestine seraya menggalang opini publik bahwa perjuangan palestine bukanlah perjuangan kemerdekaan tetapi adalah makar kaum teroris.

SYI’AH ADALAH MAZHAB TERTUA DALAM ISLAM IBARAT SAUDARA KANDUNG KAMI ADALAH SODARA TUA YANG BANYAK NGALAHNYA, PERGESEKAN TERJADI BUKAN KARENA SYI’AH HADIR DI INDONESIA.

TETAPI PADA HAKIKATNYA ADALAH KETIDAKMAMPUAN KELOMPOK ANTI PERSATUAN DAN ANTI SYI’AH MENERIMA PERBEDAAN DARI MAZHAB YANG BERSIKAP KRITIS ATAS KEMAPANAN MEREKA YANG SELAMA INI MEREKA NIKMATI MENJADI TERGANGGU ITULAH INTI PERSOALANNYA……

Jadikanlah Persaudaraan antara Sunnah dan Syi’ah sebagai Rahmatan Lil Alamin, kita semua adalah anak-anak zaman yang akan menyongsong masa depan dan tidak mewarisi dendam sejarah masa lalu, cukuplah hitam putihnya sejarah menjadi pelajaran berharga untuk di ambil hikmahnya dan dengan mengutip FATWA RAHBAR : HARAM HUKUMNYA KAUM MUSLIM SYI’AH UNTUK MELECEHKAN SIMBOL-SIMBOL AHLUSSUNNAH DAN UMMAHATUL MUKMININ.

Semoga Ulama-Ulama Ahlusunnah pun bisa mengeluarkan fatwa sejenis untuk ikhwan ahlussunnah, disinilah titik persoalaan toleransinya, berjiwa besarkah ikhwan Ahlussunnah lewat intitusi keulamaannya untuk mengeluarkan fatwa serupa??? kita harapkan demikian, semoga.

JANGAN TERPANCING !!!!! STRATEGI ZIONIS TENGAH DITERAPKAN KELOMPOK ANTI PERSATUAN !!! WASPADALAH !!!!
__________________________________________________________________________________________________________
Albayyinat Desak Gubernur Jatim Membubarkan Aliran Syiah

Selasa, 01 Maret 2011 15:59 Redaksi

Surabaya – Yayasan Albayyinat Indonesia meminta Pemerintah Jawa Timur menerbitkan surat keputusan yang berisi larangan aktivitas dakwah bagi Madzhab Ahlul Bait, penganut Syiah di Pasuruan.

“Selain Ahmadiyah, Syiah Pasuruan yang sekarang berganti nama dengan Madzhab Ahlul Bait juga harus dilarang, mereka ini selalu memprovokasi umatnya untuk membenci umat lainnya,” kata Ketua Bidang Organisasi Yayasan Albayyinat Indonesia Habib Achmad Zein Alkaf, Selasa (1/3).

PARA PROVOKATOR

Menurut Habib yang tinggal disekitar kompleks makam Sunan Ampel Surabaya ini, SK Gubernur Jawa Timur nomor 188/94/KPTS/013/2011 tentang larangan aktifitas Ahmadiyah di Jawa Timur masih kurang lengkap, karena yang berpotensi bikin ribut sebenarnya bukan hanya Ahmadiyah, melainkan juga Madzhab Ahlul Bait.

Dia mencontohkan Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Pasuruan yang beraliran Madzhab Ahlul Bait beberapa waktu lalu terlibat bentrokan dengan sekelompok massa Islam. “Di Jatim, Ahmadiyah malah jarang kita dengar ada bentrokan, tapi di Pasuruan ini malah syiah/madzhab Ahlul Bait lebih sering membuat onar,” tambah dia.

Selain sering bikin onar, kata dia, Madzhab Ahlul Bait juga menganggap umat Islam lainnya kafir. “Bahkan mereka dalam berbagai kesempatan menghina Nabi, dan mendudukkan derajat Nabi di bawah para imam mereka, ini kan juga sesat,” imbuh dia.

Gubernur Jatim,Soekarwo

Menanggapi hal ini, Gubernur Soekarwo mengatakan, apa yang terjadi di Pasuruan berbeda dengan Ahmadiyah. “Kalau Ahmadiyah semua sepakat mereka di luar Islam, tapi di Pasuruan itukan masih Islam,” kata Soekarwo.

Khusus Pasuruan ini, Soekarwo juga telah meminta aparat kepolisian untuk lebih tegas menindak jika kembali terjadi rusuh. Tak hanya itu, Soekarwo menilai, apa yang terjadi di Pasuruan hanyalah bentuk kesalah pahaman. [tmpint/syiahindonesia.com]

sumber: http://syiahindonesia.com/index.php/akhbar-syiah/syiah-indonesia/436-albayyinat-desak-gubernur-jatim-membubarkan-aliran-syiah

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Anggota Komisi VIII, Ali Maschan Musa :”Waspadai Syiah”

Ribuan Pemuda Belajar di Iran, Polri Diminta Waspadai Syiah

Kamis, 03 Maret 2011, 16:18 WIB

Antara

Sisa-sisa bentrokan warga dengan jemaat Ahmadiyah, Ahad (6/2), di Cikeusik, Pandeglang

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Anggota Komisi VIII, Ali Maschan Musa, mengatakan Polri juga harus ikut memerhatikan aliran Syiah selain mewaspadai penyebaran Ahmadiyah di Indonesia. Saat ini, kata dia, ada ribuan pemuda-pemuda Indonesia yang belajar Syiah langsung di Iran. Beberapa tahun lagi mereka akan kembali.

“Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di ruang rapat Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (3/3).

Kondisi macam itu, kata Ali, juga harus menjadi perhatian Polri ke depan. Ali berharap kejadian kekerasan Cikeusik yang melibatkan Ahmadiyah dan kelompok masyarakat bulan lalu tidak terulang lagi. “Kalau memang kembali, mereka (pelajar Indonesia di Iran) itu akan menjadi pekerjaan Polri,” katanya.

Ali mengatakan adanya pelajar Indonesia yang belajar Syiah di Iran itu datang atas beasiswa dari pemerintah Iran. Jumlah penerima beasiswa itu sebanyak 5000 orang. “Belum lagi beasiswa yang diberikan langsung oleh mullah-mullah di Iran itu. Saya perkirakan jumlahnya bisa 6.000-7.000 orang,” katanya.

Ito Sumardi menganggap informasi dari Ali Maschan Musa merupakan masukan yang baik bagi Polri. Namun, Ito mengatakan Polri perlu kepastian mengenai paham Syiah itu diperbolehkan di Indonesia atau tidak. “Ini masukan yang bagus,” ujarnya singkat.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-syiah

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Saturday, 05 March 2011 23:52 PDF Print E-mail

Pelajar Indonesia di Iran Rilis Pernyataan untuk Anggota DPR

[KH. Ali Maschan Musa]

KH. Ali Maschan Musa

Pernyataan Sikap HPI: Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa dan Republika

Release

Sabtu, 05 Maret 2011

Nomor : 16/SPS/BP-HPI/XII/2011

Perihal : Pernyataan Sikap

Kepada Yth.

Bapak Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI

Di jakarta

Merujuk pemberitaan Republika Online yang memuat pernyataan anggota Komisi VIII DPR-RI, Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa, dalam rubrik Breaking News – Nasional pada 03 Maret 2011 di bawah tajuk “Ribuan Pemuda Belajar di Iran, Polri Diminta Waspadai Syiah”, Kami Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) sebagai organisasi kepelajaran terbesar dan tertua di Republik Islam Iran memandang perlu dikemukakan kepada masyarakat Indonesia bahwa:

1. Berdasarkan Data Pemilih Tetap Pemilu, Maret 2009, jumlah masyarakat di Republik Islam Iran adalah 304 WNI. Dari jumlah tersebut, 257 WNI tercatat sebagai pelajar Indonesia di Republik Islam Iran dari berbagai bidang studi. Angka ini sudah termasuk di dalamnya jumlah anggota keluarga yang ikut bersama mereka. Ini dikuatkan oleh data pelajar RI 31 Januari 2011 dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran. Maka, pernyataan Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa, “Saya perkirakan jumlahnya bisa 6.000-7.000 orang”, adalah semata-mata kecerobohan.

2. Kami tidak pernah memiliki pengalaman bertemu apalagi menyampaikan permintaan seperti yang dinyatakan anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan RI, Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa, pada tahun 2007 di Iran. Dan adanya sejumlah pelajar Indonesia di Iran yang “nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri dan sebagainya” hanyalah klaim sepihak beliau yang tak berdasar.

3. Dalam rangka kunjungan silaturahmi dengan sejumlah ayatollah dan pejabat tinggi Iran, mantan Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi beserta rombongan delegasi bertemu dengan Presiden Mahmoud Ahmadi Nejad dan, sebagaimana diberitakan Republika, Senin 24 April 2006, menyatakan pihaknya juga berupaya mendekatkan kelompok-kelompok Islam, termasuk di dalamnya antara Sunni dan Syiah. Sebagai anggota delegasi yang turut hadir dalam pertemuan itu, sudah sepatutnya Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa dengan segenap kapasitas moral dan status sosial-politiknya lebih menyadari dan berkomitmen lebih serius dalam mendesakkan upaya pendekatan positif tersebut.

4. Selama ini, kami mendapatkan pelayanan, dukungan dan kepercayaan laiknya status kami sebagai WNI pelajar dan peneliti dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran. Alih-alih meminta agar pelajar diwaspadai, penghargaan ini sepatutnya menjadi referensi bagi Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa sebagai pejabat publik dan figur agama untuk juga memandang kami layaknya pelajar dan peneliti serta turut memberikan motivasi yang bijak dan arahan yang memadai.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan agar menjadi perimbangan informasi, pelurusan fakta dan andil dalam menjaga keutuhan kerukunan serta membangun masa depan bangsa dan negara.

Hormat Kami

BADAN PENGURUS

HIMPUNAN PELAJAR INDONESIA (HPI)

Periode 2010-2011

05 Maret 2011, Republik Islam Iran

Ammar Fauzi, MA

Ketua Umum

Tembusan:

1. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Tehran

2. Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi RII

3. Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta

4. Al-Musfata International University, Iran

5. Republika Online

6. Media massa cetak dan elektronik yang lain

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Tasbih Fatimah : Dalam Riwayat Ahlussunnah

Dinamakan dengan Tasbih Fatimah, karena bacaan yang diajarkan oleh Nabi tersebut berkenaan dengan kejadian yang dialami oleh Fatimah ra. putri Nabi Saw., seperti yang disebutkan dalam riwayat di bawah. Tetapi tidak ada kejelasan siapakah yang mencetuskan bacaan tersebut dengan nama tasbih Fatimah. Namun tidak ada salahnya menyebut bacaan itu dengan tasbih Fatimah, mengingat peristiwa itu berkenaan dengan Fatimah ra., dan setiap pembacanya akan mengenang peristiwa yang dialami oleh Fatimah ra. putri Nabi Saw..

Cara mengamalkan tasbih Fathimah, cukup dengan membaca takbir (Allâhhu akbar) 34x, tasbih (Subhânallâh) 33x, dan tahmid (alhamdulillâh) 33x, setiap hendak tidur.

Dalil bacaan tersebut disampaikan oleh Ali bin Abu Thalib Krw., beliau berkata, “Fatimah ra. mengadu tentang gilingan gandum yang membekas pada kedua telapak tangannya (pekerjaan rumah tangganya yang berat). Ketika itu Nabi baru mendapatkan tawanan atau budak (hasil dari peperangan). Maka Fatimah ra. pergi kepada beliau Saw. (dengan tujuan meminta dicarikan seseorang yang dapat membantu pekerjaannya). Namun setibanya di sana ia tidak menemui Nabi Saw.. Tetapi ia mendapati Aisyah ra., dan ia menceritakan permasalahannya kepada Aisyah ra.. Setelah kejadian itu, ketika kami sudah dalam keadaan berbaring (hendak tidur malam), tiba-tiba Nabi Saw. mendatangi kami, Maka aku hendak bangun (menyambutnya), tetapi beliau bersabda, ‘Tetaplah kalian di tempat kalian berdua.’

Lalu beliau Saw. duduk di antara kami hingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau Saw. di dadaku. Lalu beliau bersabda, ‘Maukah kalian berdua jika aku beritahu sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta kepadaku (pembantu)? Jika kalian hendak tidur, maka bertakbirlah 34x, bertasbih 33x, dan bertahmidlah 33x. Maka itu lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.” (HR. Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘alaih)

Di dalam fath al-baari ( kitab syarh (penjelas) shahih al-bukhari karya al-Hafizh Ibn Hajar al-al-’Asqalaniy) disebutkan ada perawi yang mendahulukan tasbih terlebih dahulu dan mengakhirkan takbir. Tetapi yang ada di matan haditsnya di dalam shahih Bukhari seperti yang diterjemahkan di atas, yaitu; takbir dulu 34, tasbih 33 dan tahmid 33 .

Bidang Da’wah-DPP Rabithah Alawiyah

__________________________________________________________________________________

TASBIH FATHIMAH DAN KEUTAMAANNYA DALAM RIWAYAT AHLUL BAYT

Sayyidah Fatimah as berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku,  Tolong Carikanlah seorang pembantu untukku yang dapat meringankan pekerjaan rumahku. Rasul saaw berkata kepadanya: Wahai Fatimah, apakah kamu tidak menginginkan sesuatu yang lebih baik dari pembantu? Ali berkata: Katakanlah, iya. Fatimah berkata: Wahai ayahku, apa yang lebih baik dari pembantu?

Rasul saaw menjawab: Engkau bertasbih kepada Allah SWT pada setiap hari sebanyak 33 kali dan engkau bertahmidsebanyak 33 kali dan bertakbir sebanyak 34 kali. Semuanya berjumlah 100 dan memiliki kebaikan dalam timbangan. Wahai Fatimah, bila engkau mengamalkannya pada setiap pagi hari maka Allah akan memudahkan urusan dunia dan akhiratmu.

[2] Berkenaan dengan firman Allah, “Dan kaum pria dan kaum wanita yang banyak

berzikir kepada Allah,” Imam ash Shadiq berkata: Barangsiapa terbiasa membaca tasbih Fatimah as maka ia termasuk kaum pria dan kaum wanita yang banyak berzikir.

[3] Diriwayatkan dari Imam Baqir as yang berkata: Rasulullah saw berkata kepada Fatimah, Wahai Fatimah, bila kamu hendak tidur di waktu malam maka bertasbihlah kepada Allah sebanyak 33 kali dan bertahmidlah sebanyak 33 kali dan bertakbirlah sebanyak 34 kali. Semuanya berjumlah seratus. Dan pahalanya lebih berat dari gunung emas Uhud dalam timbangan akhirat.

[4]Diriwayatkan dari Abi Abdillah ash Shadiq yang berkata: Tasbih Fatimah as setiap hari usai shalat lebih aku sukai daripada shalat seribu rakaat dalam setiap hari.

[5]Imam Shadiq as berkata: Barangsiapa bertasbih dengan tasbih Fatimah as sebelum ia membentangkan kakinya dalam shalat fardhu maka Allah akan mengampuninya. Dan hendaklah ia memulai dengan takbir.

[6] Diriwayatkan oleh Abi Ja`far al Baqir yang berkata: Tiada pengagungan bagi Allah yang lebih utama daripada tasbih Fatimah.

[7]Imam Baqir as berkata: Barangsiapa bertasbih dengan tasbih Fatimah kemudian ia beristigfar maka ia akan diampuni. Ia (tasbih itu) berjumlah seratus namun bernilai seribu dalam timbangan dan ia mampu mengusir setan dan membuat Tuhan Yang Maha Pengasih ridha.

[8]Imam ash Shadiq as berkata: Barangsiapa bertasbih dengan tasbih Fatimah as usai shalat fardhu sebelum ia membentangkan kedua kakinya maka Allah akan menyediakan surga baginya.

[9]Imam ash Shadiq as berkata: Barangsiapa bertasbih dengan tasbih Fatimah as yang berjumlah hseratus usai shalat fardhu sebelum ia membentangkan kedua kakinya lalu diikutinya dengan membaca “lailaha illallah” sebanyak satu kali maka ia akan diampuni.

[10] “Tasbih Fathimah” ini terdapat juga dalam kitab-kitab muktabar Ahlussunah dan cukup populer di kalangan kaum Muslimin.

__________________________________________________________________________________

Fathimah Az-Zahra, Teladan Wanita Sepanjang Masa

20 Jumadits Tsani adalah hari kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra as,  pada tahun ke-5 kenabian, rumah pasangan Nabi Muhammad saaw dan Sayyidah Khadijah  diliputi oleh suasana yang penuh dengan kebahagiaan. Karena di hari itu, mereka dianugrahi karunia ilahi yang begitu berharga, kelahiran seorang perempuan agung, yang tiada lain adalah Sayyidah Fatimah Az-Zahra as.Kehadiran Fatimah laksana bunga yang mekar dengan begitu indahnya. Semerbak harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai menjadi tercerahkan kembali. Kelahirannya mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan yang batil tentang perempuan. Saat Fatimah terlahir, Rasulullah saaw  pun menengadahkan kedua tangannya ke langit dan melantunkan doa syukur yang begitu indah. Dengan penuh suka cita, ia peluk si kecil Fatimah. Ia cium keningnya dan menatap wajahnya yang memancarkan cahaya kedamaian.

Sorotan mata Fatimah, membuat kalbu Rasulullah saaw menjadi amat bahagia. Dengan lahirnya perempuan suci itu, Allah swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta kepada sang Nabi saw. Sungguh benar apa yang dikatakan Al-Quran, bahwa Fatimah adalah Al-Kautsar. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Surat pendek ini merupakan pesan ilahi yang membuat hati Rasulullah saaw menjadi begitu gembira dan ia benar-benar meyakini janji ilahi. Fatimah terlahir ke dunia untuk menjadi pemimpin kaum perempuan dan dari keturunannya akan lahir para manusia-manusia agung penegak agama ilahi dan keadilan.

Salam atasmu wahai Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling utama, Salam atasmu wahai manusia yang paling dicintai Nabi, Salam atasmu wahai Fatimah, manusia sempurna.

Rasulullah saaw bersabda, “Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali ia beribadah di mihrab dihadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi”.

Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah as bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah saaw. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra as mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.

Allah swt memberikan akal, kekuatan untuk memilih jalan hidup yang benar dan kemampuan untuk memahami hakikat alam semesta, kepada lelaki dan perempuan tanpa perbedaan. Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah.

Fatimah dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ilahi, penuh dengan kebodohan dan khurafat. Tradisi batil semacam membangga-banggakan diri, mengubur hidup-hidup anak perempuan, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar pinak dalam masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Karena itu, Rasulullah saaw pun akhirnya bangkit menyuarakan pesan-pesan suci Islam, menentang tradisi jahiliyah dan diskriminasi gender. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fatimah, putri Rasulullah saaw menjadi tolak ukur perempuan muslim.

Rasulullah saaw, begitu menghormati Sayyidah Fatimah. Sebegitu mulianya akhlak Sayidah Fatimah itu, sampai-sampai Rasulullah saaw senantiasa memuji dan menjadikannya sebagai putri yang paling ia sayangi dan cintai. Rasulullah saaw bersabda: “Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, aku pun mencium putriku, Fatimah”. Suatu ketika, Rasulullah saaw kepada putrinya itu berkata, “Wahai Zahra, Allah swt telah memilihmu, menghiasimu dengan pengetahuan yang sempurna dan mengistimewakanmu dari kaum perempuan dunia lainnya”.

Dengan cara itu, Rasulullah saaw sejatinya tengah memerangi pandangan jahiliyah yang melecehkan kaum perempuan. Beliau sangat menentang tindakan yang menghina kaum perempuan. Beliau tak segan-segan mencium tangan putrinya, padahal di masa itu, memiliki anak perempuan merupakan hal yang hina bagi seorang bapak.

Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saaw. Setiap kali Rasulullah saaw memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah swt. Ketika Rasulullah saaw berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku”. Namun Fatimah menjawab, “Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt”.

Masa kanak-kanak Fatimah berlangsung di masa-masa dakwah Islam yang paling sulit. Puncak kesulitan itu terjadi di masa tiga tahun pemboikotan keluarga Bani Hasyim di Syi’b Abu Thalib yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Tragisnya lagi di masa yang demikian sulit itu, Fatimah mesti kehilangan ibunda tercintanya, Sayyidah Khadijah. Kepergian sang ibunda, membuat tanggung jawab Sayyidah Fatimah untuk merawat ayahandanya, Rasulullah saaw kian bertambah. Di masa-masa yang penuh dengan cobaan dan tantangan itu, Sayyidah Fatimah menyaksikan secara langsung pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ayahandanya demi tegaknya agama ilahi.

Begitu juga dengan masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di Madinah. Di masa itu, Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum musyrikin. Ia pun selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang sangat kritis saat itu. Saat suaminya pergi ke medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia senantiasa berusaha menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah, dan suaminya, Imam Ali as dalam menegakkan ajaran Islam.

Pasca wafatnya Rasulullah saaw, umat Islam berada dalam situasi perselisihan yang amat krusial dan terancam pecah serta terjerumus dalam kesesatan. Namun dengan pemikiran yang jernih, Sayyidah Fatimah membaca kondisi umat Islam saat itu dengan penuh bijaksana, namun ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan titik lemah dan kelebihan umat Islam di masa itu. Dia sangat mengkhwatirkan masa depan umat dan memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap faktor-faktor yang bisa menyesatkan umat. Dalam khotbah bersejarahnya, pasca kepergian Rasulullah saaw, Sayyidah Fatimah as menegaskan bahwa jalan yang bisa menyelamatkan manusia adalah berpegang diri pada agama ilahi dan menaati perintah-perintahnya.

SEBAGIAN NAMA DAN JULUKAN SAYYIDAH ZAHRA

Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”.

Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Jakfar as-Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah maka hati-hatilah. Jangan sampai engkau memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”

Wanita mulia nan agung yang menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya itu bernama Fathimah. Keagungannya telah dinyatakan oleh manusia termulia dan makhluk Allah teragung, Muhammad SAW yang segala pernyataannya tidak mungkin salah. Pada kesempatan ini, kita akan melihat beberapa sebutan mulia bagi wanita agung tersebut, disamping banyak nama dan sebutan lagi yang disematkan pada pribadi kekasih Allah dan Rasul-nya itu. Di antaranya ialah;

FATHIMAH

Syaikh Shaduq dalam kitab “I’lall Asy-Syara’i” dan Allamah al-Majlisi dalam kitab “Bihar al-Anwar” telah menukil riwayat dari Imam Jakfar bin Muhammad as-Shadiq AS, bahwasanya beliau bersabda: “Sewaktu Sayidah Fathimah Zahra AS terlahir, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi dan memberitahukan nama ini kepada Rasulullah. Maka Rasulullah SAW pun memberi nama Fathimah kepadanya.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)

Dari segi bahasa ’fathama’ berarti “anak yang disapih dari susuan”. Dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS telah dinyatakan bahwa, setelah kelahiran Fathimah Zahra AS, Allah SWT berfirman kepadanya: “Sesungguhnya aku telah menyapihmu dengan ilmu, dan menyapihmu dari kototan (Inni fathamtuki bil ilmi wa fathamtuki a’nith thomats)”. Hal ini seperti seorang bayi sewaktu disapih dari susu maka ia memerlukan makanan lain sebagai penggantinya. Dan Sayidah Fathimah Zahra AS setelah disapih, sedang makanan pertamanya berupa ilmu.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)

Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS telah meriwayatkan hadis dari ayahnya, dimana ayahnya telah meriwayatkan dari para leluhurnya hingga sampai ke Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda: “Wahai Fathimah, tahukan engkau kenapa dinamakan Fathimah?”. Kemudian Imam Ali AS bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Karena ia dan pengikutnya akan tercegah dari api neraka”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 14). Atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Karena terlarang api neraka baginya dan para pecintanya”.( Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 15)

Imam Ali bin Abi Thalib AS bersabda, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18-19)

Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak terdapat keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 10)

Imam Ali as berkata: “Demi Allah … Fathimah tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menolak permintaanku. Setiap kali aku melihatnya segala kegalauan dan kesedihan pasti lenyap.

Dalam beberapa sumber telah dijelaskan bahwa nama Fathimah merupakan nama yang sangat disukai oleh para Maksumin (Ahlu-Bayt) AS. Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama tersebut. Salah satu pengikut Imam Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah, maka hati-hatilah jangan sampai memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”

Salah seorang pengikut Imam Shadiq AS berkata: “Pada suatu hari dengan raut muka sedih, aku telah menghadap Imam Shadiq AS. Beliau bertanya: “Kenapa engkau bersedih?”. Aku menjawab: anakku yang terlahir adalah perempuan. Beliau bertanya kembali: “Engkau beri nama apa ia?”. Aku menjawab: “Fathimah”. Beliau kembali berkata: “Ketahuilah jika engkau telah menamainya Fathimah, janganlah engkau berkata buruk kepadanya dan janganlah memukulnya”.”(Wasa’il as-Syi’ah jilid 15 halaman 200)

ZAHRA

Zahra, artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Imam Hasan bin Ali al-Askari (imam ke-11) bersabda: “Salah satu sebab Sayidah Fathimah dinamai az-Zahra karena tiga kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 11) Memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.

Dalam riwayat lain Imam Shadiq AS bersabda: “Sebab Sayidah Fathimah dinamakan Zahra karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di surga yang terbuat dari yaqut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fathimah AS.”

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa, orang-orang telah bertanya kepada Imam Shadiq AS: “Kenapa Fathimah AS dinamakan Zahra?” Beliau menjawab: “Karena sewaktu beliau berada di mihrab (untuk beribadah) cahaya memancar darinya untuk para penghuni langit, bagaikan pancaran cahaya bagi para penghuni bumi.” (Namha wa Alqaab Hadzrate Fathimah Zahra halaman: 22)

UMMU ABIHA

Panggilan kesayangan bagi Sayidah Fathimah. adalah Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dia adalah puteri yang mulia dari pemimpin para makhluq, Rasulullah SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.

Fatimah a.s. memperlakukan Rasul SAWW lebih dari perlakuan seorang ibu terhadap anaknya, sebagaimana Rasul SAWW mencintai dan menghormati Az-Zahra’ lebih dari penghormatan seorang anak terhadap ibunya. Sirah Nabawi mengingatkan kita akan sikap Rasul SAWW saat ditemui Az-Zahra’. Beliau berdiri menyambut, menyalami, mencium, dan mendudukkannya di sisi beliau, serta menemaninya dengan seluruh jiwa.

Ketika Nabi SAW terluka dalam Perang Uhud, Sayidah Fathimah keluar dari Madinah menyambutnya dan menghampiri ayahnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fathimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air dan membasuh mukanya. Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan kulihat Az-Zahra’ a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya dengan cinta dan kasih sayang.

MUHADDATSAH

Muhaddatsah, artinya ialah “orang yang malaikat berbicara dengannya”. Telah dijelaskan bahwasanya para malaikat dapat berbicara dengan selain para nabi atau para rasul. Dan orang-orang selain para nabi dan rasul itu dapat mendengar suara dan melihat para malaikat. Sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT telah menjelaskan bahwasanya Mariam bin Imran AS (bunda Maria) telah melihat malaikat dan berbicara dengannya. Hal ini telah disinyalir dalam surah al-Imran ayat 42, “Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq AS bersabda: “Fathimah dijuluki muhaddatsah karena para malaikat selalu turun kepadanya, sebagaimana mereka memanggil Mariam AS, berbicara dengannya, dan mereka mengatakan: “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah SWT telah memilihmu, mensucikanmu dan memilihmu atas perempuan seluruh alam”. Para malaikatpun menyampaikan kepada Fathimah Zahra AS tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, raja-raja yang akan berkuasa, dan hukum-hukum Allah SWT. Fathimah Zahra AS meminta kepada Imam Ali AS untuk menulis semua perkara yang telah disampaikan para malaikat kepadanya. Serta jadilah kumpulan tulisan tersebut dinamakan dengan mushaf Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 43)

Imam Shadiq AS telah berkata kepada Abu Bashir: “Mushaf Fathimah berada pada kami. Dan tiada yang mengetahui tentang isi mushaf tersebut….mushaf tersebut berisikan hal-hal yang telah diwahyukan Allah SWT kepada ibu kami, Fathimah Zahra AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43, Fathimah az-Wiladat to Syahadat halaman 111)

SIDDIQAH KUBRA

Shiddiqah, artinya ialah “seorang yang sangat jujur”, orang yang tidak pernah berbohong. Atau orang yang perkataannya membenarkan prilakunya. (Lisanul Arab dan Taajul Aruus)

Pada waktu menjelang kepergian (wafat) Rasulullah SAW, beliau berkata kepada Ali AS: “Aku telah menyampaikan berbagai masalah kepada Fathimah. Benarkan (percayailah) segala yang disampaikan Fathimah, karena ia sangat jujur.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 490)

Dalam sebuah hadis bahwasanya Ummulmukminin Aisyah berkata: “Tidak aku dapatkan seseorang yang lebih jujur dari Fathimah, selain ayahnya.” (Hilyatul Auliya’ jilid 2 halaman 41 dan atau Mustadrak as-Shahihain jilid 3 halaman 16)

Dan kedudukan ini (Shiddiqiin) berada pada tingkatan para nabi, syuhada dan shalihin sebagaimana yang telah disinyalir al-Qur’an: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa : 6)

Rasulullah SAW berkata kepada Imam Ali AS: “Tiga hal berharga telah dihadiahkan kepadamu, dan tidak seorangpun yang mendapatkannya termasuk aku; Engkau memiliki mertua seorang rasul, sementara aku tidak memiliki mertua sepertimu. Engkau memiliki istri yang sangat jujur (shiddiqqah) seperti putriku, sementara aku tidak memiliki istri sepertinya. Engkau dikaruniai anak-anak seperti Hasan dan Husein, sementara aku tidak dikaruniai anak-anak seperti mereka. Namun demikian engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.” (Ar-Riyadhu an-Nadrah jilid 2 halaman 202)

RAIHANAH

Dalam sebuah riwayat berkaitan dengan putrinya, Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah merupakan wewangianku. Ketika aku merindukan bau surga maka aku akan mencium Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 35 halaman 45, dan kandungan hadis semacam ini pun bisa didapati dalam tafsir Ad-Durrul Mansur Suyuthi)

MARDHIYAH

Mardiyah, artinya ialah “orang yang segala perkataan dan perilakunya telah diridhoi Allah SWT”. Adapun sebab beliau dijuluki dengan julukan mardiyah karena bersumber pada beberapa hadis yang telah disampaikan Rasulullah SAW berkaitan dengan kedudukan Sayidah Fathimah Zahra AS, dimana beliau telah bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT murka atas murka-mu dan ridho atas keridhoan-mu.” (Riwayat dengan kandungan seperti ini bisa didapati pada beberapa sumber seperti, Mustadrak ash-Shahihain jilid 3 halaman 153, Kanzul Ummal jilid 6 halaman 219, Mizan al-I’tidal jilid 2 halaman 72, Dzakhairu al-‘Uqba halaman 39)

Catatan: Tentunya hadis-hadis Rasulullah tentang Sayidah Fathimah Zahra AS itu bukanlah berasal dari hawa nafsu dan atas dasar nepotisme seorang ayah terhadap anaknya. Karena sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an beliau tidak mengatakan sesuatu berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an: “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (QS an-Najm:3). Maka hadis-hadis itu sebagai bukti akan keistimewaan Fathimah Zahra AS dimata Allah dan Rasul-Nya.

BATHUL

Berdasarkan ayat di atas Allah SWT telah mensucikan Ahlu-Bayt Nabi SAW. Dan salah satu dari Ahlu-Bayt Nabi SAW tersebut adalah Sayidah Fathimah AS. Ayat di atas diturunkan berkaitan dengan “Ashhabul Kisa” (penghuni kain), yaitu Rasulullah, Imam Ali, Sayidah Fathimah Zahra, Imam Hasan dan Imam Husein. Hal ini dapat dirujuk dalam berbagai sumber seperti, Tafsir at-Thabari, Tafsir Ad-Durrul Mansur, Tarikh al-Bagdadi, Tafsir al-Kasyaf, Usudul Ghabah…
Ibnu Atsir dalam karyanya yang berjudul “An-Nihayah” menyatakan: “Kenapa Fathimah dijuluki Al-Bathul? Karena beliau dari segi keutamaan, agama, dan kehormatan lebih dari para perempuan yang ada pada zamannya. Atau karena beliau telah memutuskan hubungannya dengan dunia dan hanyalah mencari kecintaan Allah SWT.” (Hadis dengan redaksi semacam ini juga dapat kita jumpai pada kitab-kitab seperti; Maanil Akhbar hal 54, Ilalu Asy-Syarai’ hal 181, Yanaabi’ al-Mawaddah hal 260)

Dalam kitab “al-Manaqib” pada jilid 3 halaman 133 dijelaskan bahwa seseorang telah bertanya kepada Rasulullah; “Kenapa seseorang dijuluki al-Bathul? Beliau menjawab: “Yaitu perempuan yang tidak keluar darinya darah haid. Sesungguhnya hal itu tidak layak bagi para putri para nabi (lain).” (Al-Manaqib jilid 3 halaman 133, Al-awalim jilid 6 halaman 16)

RASYIDAH

Rasyidah, artinya ialah “wanita yang telah dianugrahi petunjuk”, selalu berada dalam kebenaran dan pemberi petunjuk bagi yang lain. Rasulullah SAW telah memberikan julukan ini kepada putrinya, Fathimah AS. Dalam sebuah riwayat telah dijelaskan bahwasanya Imam Ali AS bersabda: “Beberapa saat sebelum kepergian Rasulullah (wafat), beliau telah memanggilku. Beliau bersabda kepadaku dan Fathimah: “Ini hanutku (ialah kapur barus yang dioleskan ke anggota sujud seorang jenazah, red) yang telah dibawakan Jibril dari surga untukku. Beliau telah menitip salam untuk kalian berdua dan berkata: “Engkau harus membagikan hanut ini, dan ambillah untukmu. Pada saat itu Fathimah AS berkata: “1/3-nya untuk engkau wahai ayahku. Sedang sisanya, biarlah Ali sendiri yang memutuskannya”. Mendengar itu Rasulullah menangis dan memeluk putrinya seraya bersabda: “Engkau adalah wanita yang telah dianugrahi taufiq (pertolongan khusus) dan rasyidah (petunjuk) yang telah mendapatkan ilham dari-Nya, dan mendapatkan petunjuk dari-Nya. Pada saat itu pula Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, katakan padaku tentang sisa hanut tersebut”. Aku (Ali) berkata: “Setengah dari yang tersisa ialah untuk Zahra (Fathimah). Dan berkaitan dengan sebagian lainnya apa perintahmu, ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW bersabda: “Sisanya untukmu, maka peliharalah.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 492)

HAURA INSIYAH (bidadari berbentuk manusia)

Sebelum Rasul melakukan salah satu mi’rajnya(dari beberapa riwayat disebutkan Rasulullah tidak melakukan mi’raj sekali saja, bahkan berkali-kali red), Atas perintah Allah SWT, beliau tidak diperkenankan untuk menemui (mengumpuli) istrinya selama 40 hari. Dan pada hari terakhir beliau dalam mi’raj-nya memakan buah-buahan seperti; kurma dan apel yang berasal dari surga. Seusai beliau memakan buah-buahan yang berasal dari surga itu lantas beliau menemui (mengumpuli) istrinya Sayidah Khadijah AS. Dan dari nutfah (sperma) yang berasal dari buah-buahan surga itulah, Sayidah Khadijah AS mengandung janin Sayidah Fathimah Zahra AS. Oleh karena itu, Sayidah Fathimah Zahra AS dijuluki ‘haura Insiyah’ (bidadari berbentuk manusia). (Tafsir Furat Kufi halaman 119, Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18, riwayat-riwayat semacam inipun bisa didapati dalam sumber-sumber Ahlusunah seperti; Ad-Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairu al-Uqbah, Tarikh Bagdadi dsb)

Haura insiyah, artinya ialah “bidadari yang berbentuk manusia”, para wanita surga dinamakan bidadari karena putih dan hitam matanya sangat elok dan menarik sekali. Oleh karena itu, seorang wanita yang memiliki mata yang sangat elok seperti bidadari, dijuluki bidadari. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 5)

THAHIRAH

Thahirah berarti yang “suci atau maksum dari dosa dan kesalahan”. Hal ini karena beliau telah disucikan dari salah dan dosa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 33, “… Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
_________________________________________________________________________________

Fathimah adalah Fathimah

Pernahkah kita merasakan suka? sukanya Fathimah?

Pernahkah kita merasakan duka? dukanya Fathimah?

Mengapa sosoknya yang begitu Agung dilupakan banyak orang?

Pernahkan air mata ini menetes karena kecintaan dan kerinduan kepada Fathimah?

Apakah telah kita penuhi hak-haknya , tuk mencapai Ridho-NYA?

Fathimah adalah Fathimah

Dimanakah kedudukan Fathimah dalam kehidupan kita?

Marilah kita mengenal dan memberikan perhatian kepada sosok Agung nan Suci Sayyidah Fathimah binti Rasulullah Saww dan membawanya ke dalam keseharian kita,

mencintanya berarti mencinta Nabi, menghargainya berarti menghargai Nabi,

yang membuatnya berduka adalah dukanya Nabi,

Ooooo hati ini…..bergetarlah dengan menyebut nama Fathimah,,satukan kami dalam rangkulnya

Sesungguhnya Allah Ridho dengan keridhoaan Fathimah

dan Allah murka dengan kemurkaan Fathimah……

Ooooo hati ini…..bergetarlah dengan menyebut nama Fathimah,,satukan kami dalam ridho-NYA

Jangan pernah bangga menjadi Muslim pabila tak mengenal dan menghayati sosok Fathimah..