Amien Rais: “Sunnah dan Syi’ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam

Jumat, 20 Juli 2007

Wawancara Eksklusif dengan Amien Rais

Menurut bapak apa relevansi tema konferensi yang dibawa teman-teman BKPPI kali ini dengan kondisi bangsa sekarang mengingat ada sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap seolah-olah kemandirian dan keadilan bagi bangsa Indonesia adalah sesuatu yang utopis?

Jadi tema konferensi ke 6 ini dari BKPPI memang amat sangat pas, sangat relevan karena yang dihadapi bangsa kita memang terutama dua itu, jadi pertama kita telah kehilangan kemandirian nasional, kepercayaan diri sudah luntur, kita bahkan tidak lagi merawat kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, kedaulatan hukum kita, jadi ini adalah hal yang sudah amat sangat jauh sehingga adik-adik di timur tengah itu betul kalau mengangkat tema ini. Dan masalah keadilan itu juga makin lama makin jauh dari kenyataan, yang terjadi mungkin adalah kezaliman ekonomi, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin senen kemis gitu nasibnya. Dan kesenjangan sosial juga makin menganga lebar. Jadi dua ini, dua hal yang sangat fundamental tapi tidak bisa diselesaikan satu-dua tahun, ini membutuhkan pemikiran yang relatif matang dan komitmen nasionl dari semua tokoh dan elit untuk bersama-sama bangsa yang besar ini menyelesaikan masalah itu, jadi saya kira memotret masalah dengan betul itu sudah langkah awal yang sangat baik, bayangkan kalau potretnya keliru langkahnya juga akan keliru, jadi saya kira alhamdulillah potret yang sudah dibuat oleh BKPPI timur tengah dan sekitarnya sudah betul, sudah akurat.

Rekomendasi apa yang selayaknya diberikan konferensi BKPPI kali ini terhadap pemerintah dan rakyat Indonesia?

Menurut saya harus sedikit menggigit, artinya ingatkan pada bangsa Indonesia dan pemerintahnya kita sudah akan melewati 62 tahun kemerdekaan, tapi kedaulatan nasional kita di bidang ekonomi, politik, hukum itu makin sempoyongan. Kemudian yang kedua kenyataan yang tak terbantahkan adalah bahwa cengkeraman pihak asing di bidang ekonomi, perbankan, pertambangan, permodalan ini memang sudah begitu nampak, jadi kalau hal yang sudah demikian mencolok mata masih belum kita sadari, maka kapan kita akan memutar balik arah perkembangan bangsa ini, jadi jangan lupa rekomendasi itu tentu mengingatkan kita yang sudah akan memperingati proklamasi yang 62 tahun tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kebangsaan nasional sudah makin sayup-sayup kemudian kemandirian juga masih di omongan tapi tidak ada dalam kenyataan, kemudian kedaulatan multi dimensional kita sudah digadaikan kepada kekuatan luar.

Apa contoh yang bisa diambil oleh Indonesia dari Negara seperti Iran?

Jadi saya pikir langkah Iran sejak tahun 1979 ketika Imam Khomeini kembali dari pengasingan itu sudah on the right track, sudah betul gitu jadi mengembalikan martabat, marwah, harga diri bangsa Iran kemudian melepaskan dari belenggu imperealisme Amerika, dulu kita mengetahui di zaman Syah, Syah dan Savak itukan telah menggadaikan Iran kedalam supremasi kepentingan barat, sehingga sesungguhnya yang sedang memainkan peranan itu bukan Syah Iran tapi ini adalah pemerintah boneka, nah setelah revolusi Iran, ada kemandirian, kemudian ada inspirasi baru yang diambil dari khazanah Islam sendiri, kemudian revolusi Iran itu bersifat multi dimensional jadi bukan sekedar hukum saja tetapi juga politik, sosial, ekonomi, kemanusiaan dll, dan arahnya itu jelas semakin bagus karena misalnya utang luar negeri Iran itu sangat kecil, hampir tidak berarti untuk Negara sebesar ini, kemudian, relatif ia tidak terlalu tergantung dengan luar negeri, kemudian yang ketiga Iran ini bisa memanfaatkan sumber daya alamnya untuk kepentingan bangsa sendiri bukan seperti Indonesia maaf gitu, jadi disini tidak aneh setiap saya datang ke Iran itu selalu melihat pertumbuhan yang kongkrit, jadi pertumbuhan fisik saja itu semakin bagus jadi apakah jalan-jalan yang makin rapi, rumah-rumah makin bertambah, kemudian gejala fisik saja itu nampak kalau dari tahun ketahun itu semakin bagus, jadi Iran ini sebuah eksperimen Islam di berbagai bidang kehidupan yang menurut saya itu lepas dari berbagai kekurangan dan kelemahannya tapi sudah on the right track, sudah berjalan di rel dengan benar. Dan jadi yang perlu kita tiru saya kira adalah bagaimana sejak pak Khomaini sampai Rafsanjani kepada Khatami sampai sekarang ini Ahmadi Nejad meskipun beda nuansa dan beda penampilan tapi saya kira bottom line nya sama yaitu percaya pada kemampuan nasional, kemampuan bangsa sendiri, dan tidak bergantung pada bangsa lain; apalagi jika usaha untuk mencapai kemampuan nuklir untuk perdamaian ini bisa jadi kenyataan alangkah bahagianya bukan hanya Iran, tapi semua dunia Islam. Sehingga paling tidak kita bisa bicara pada dunia luar bahwa lihatlah secara teknologi ada Pakistan, ada Iran, mungkin negara lain yang juga mampu. Bahkan kemarin ketika saya pergi ke News Room di Iran ini saya melihat bagaimana Sahar, Al Kautsar, Al Alam, itu merupakan sebuah demonstrasi bagaimana ternyata bangsa Muslim seperti Iran ini bisa menampilkan sosok komunikasi modern yang insyaallah tidak kalah dengan BBC, CNN, Fox news dll.

Tentang nuklir Iran, Indonesia yang mendukung penambahan sanksi kepada negara ini apakah menunjukkan ketidak mandirian politik Indonesia itu sendiri?

Jadi memang Indonesia ini sekarang agak malu diri. Jadi di mata rakyatnya pemerintah ini agak drop popularitasnya gara-gara tunduk sama kemauan Amerika. Kita tahu bahwa Security Council adalah kepanjangan tangan dari Amerika jadi begitu kita tunduk kepada dewan keamanan sesungguhnya itu sama saja dengan kita mengekor kepada Amerika. Nah mudah-mudahan tidak akan terulangi pada masa-masa yang akan datang.

Berkenaan dengan peranan ulama di Iran, dominasi peran ulama yang begitu mengakar dan kuat dibanding dengan Indonesia bagaimana anda melihat nilai positif dan negatif dalam dua Negara ini?

Ya saya kira kualitasnya mungkin ya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ulama Indonesia memang tradisi intelektual dan berfikir di Iran itu tidak pernah berhenti. Sementara ulama kita sudah terjebak kepada fiqih sehingga Islam kadang-kadang menjadi fiqih, Islam itu bukan pemikiran ijtihadi yang mencari terobosan, mencari pemecahan itu. Tapi untuk menyingkat wawancara ini saya kira cukup saya beri satu contoh saja bagaimana pada tahun 1979 majalah mingguan Time Magazine di Amerika itu mengatakan jangan mencoba berdebat masalah filsafat Yunani dengan Imam Khomeini karena kita pasti kalah. Jadi bayangkan Imam Khomeini ini tradisi filsafatnya bukan sekedar ibnu Rusyd dan ibnu Sina kemudian ulama-ulama dari Islam sendiri tapi ternyata filsafat Socrates, Aristoteles, Plato dan yang klasik Yunani itu juga dipahami. Dan saya pikir kalau saya melihat tulisan-tulisan ayatullah-ayatullah di Iran ini, itu tidak sepihak jadi bukan one sided analysis tetapi multi sided analysis karena mereka sudah menggabungkan antara resep-resep Qurani dengan resep-resep yang mutakhir dalam bidang ya katakanlah tinjauan sosiologis, politik, dll seperti peradaban sehingga penampilannya itu memang segar dan bahkan menjadi alternatif penting, alternatif dengan Makrifat bukan Nakirah. Dan saya pikir inilah yang menarik perhatian kita.

Ada sebuah fenomena, yaitu di satu sisi, terutama bagi teman-teman di sini, meskipun kita ingin membangun bangsa, tapi di sisi yang lain muncul banyak kecurigaan dari beberapa pihak yang memang tidak menghendaki kehadiran Syiah di Indonesia. Menurut anda, apakah memang pemikiran Syiah tidak menguntungkan bagi bangsa?

Jadi saya kira begini , anda tidak ush berfikir teknis jadi nanti anda kalau pulang ke tanah air beri ceramah di kampus-kampus tulislah artikel di koran-koran, produksilah buku-buku yang agak tebal yang menunjukkan kehebatan Islam dibandingkan paham-paham lain. Jadi saya lihat bagaimana Ali Syariati menenggelamkan marxisme di Iran ini karena ia menunjukkan resep2 keIslaman secara kreatif sehingga intelektual Iran tidak lagi tertarik kepada marxisme tersebut. Hal seperti ini sesuatu yang normal, sebagaimana kata pepatah tidak ada makan siang yang gratis. Makan siang itupun harus didapat dengan bekerja. Jadi anda jangan takut dituduh syiah dan lain-lain; karena menurut saya . Al Azhar juga dilahirkan oleh dinasti Fatimi yang juga Syiah. Jadi ngga usah lah kita saling tidak percaya.

Satu lagi pak! Menurut bapak sumbangsih real apa yang dapat diberikan pelajar-pelajar Indonesia di luar negri khususnya pelajar2 Indonesia di timur tengah dalam mewujudkan bangsa indonesia yang bersih, mandiri, dan merdeka mengingat lulusan timur tengah masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia?

Saya kira kalau kita melihat Indonesia dalam sejarah menjelang dan sesudah kemerdekaan itu sangat berhutang budi pada alumni lulusan timur tengah sejak pak Mahmudi Nur, Mukhtar Yahya, yang lebih mutaakhir jangan lupa seperti Abdurrahman Wahid, kemudian Hidayat Nur Wahid, lantas kemudian Alwi Sihab, Quraish Syihab, dan mereka yang tidak sepopuler orang-orang tadi. Mereka adalah orang-orang yang telah memasuki sel-sel kehidupan nasional kita. Jadi yang penting kata kuncinya adalah sesuatu posisi yang kita ambil untuk mengabdi kepada kepentingan agama itu tidak bisa dicapai hanya dengan berpangku tangan. Tetapi caranya kita harus berjuang, berdebat berdiskusi, meyakinkan umat Islam lantas menggelar tradisi intelektual yang lebih longgar dan lebih liberal dalam arti liberal yang bertanggung jawab. Jadi saya tidak setuju kalau dikatakan bahwa kualitas timur tengah kalah dengan alumni dalam negeri. Karena sayapun, walaupun cuma setahun, pernah belajar di Al Azhar dan saya alumni timur tengah juga. Jadi saya melihat mereka yang dibimbing di timur tengah mulai dari Libya Mesir, sampai Pakistan itu sesungguhnya kalau direcord mulai sebelum kemerdekaan itu barang kali jadi berjilid-jilid.

Memang harus kita sadari kita juga tidak bisa ikut terlalu banyak, jadi kita tidak bisa mengharapkan menjadi katakanlah ahli perbankan, ahli ekonomi, ahli pertanian itu ada ahlinya sendiri. Tapi saya yakin yang namanya pemikiran itu memang seperti kereta di depan yang menyeret sebuah bangsa. Jadi menurut saya pemikiran Islam itu kan bergerak terus dan saya tidak malu-malu untuk mengatakan bahwa hutang budi saya ya kepada ayatullah-ayatullah disini itu besar sekali. Jadi ketika saya sekolah di IAIN, kemudian di Chicago, kemudian terbang ke Al- Azhar sebenarnya Islam yang bagus itu Islam yang status quo, itu Islam yang baik yang universal tetapi yang tidak menggerakkan. Tapi Islam di tangan tokoh-tokoh ulama syiah itu menjadi lain, Islam yang moving Islam yang menggerakkan yang merubah gitu dan itu yang saya kira yang kita perlukan. Jadi dari sunni nggak usah malu untuk belajar dari syiah. Tapi juga dari syiah saya kira kalau ada sunni yang bagus juga ambil saja gitu. Jadi tadi ketika di Markaz International Study Islam Iran juga dikatakan, kalau kita melihat di perpustakaan di Iran pun juga 80% lebih buku-bukunya itu karangan sunni. Jadi mengapa orang sunni itu alergi kepada syiah dan sementara syiah juga alergi kepada sunni. Saya kira ini seperti pertarungan komunikasi orang Amerika tidak mau menyiarkan Aljazeera sementara CNN bisa kita nikmati di Mekah dan Madinah juga di Iran. Saya kira yang jelas anda lebih tahu dari saya bahwa nature dari alam itu adalah perubahan jadi kalau filsafat Pancarai semua itu berubah yang tetap itu adah perubahan itu sendiri jadi saya yakin nanti dengan adanya kemajuan zaman ini akan terjadi perubahan kuantitatif kualitatif dan anda ini yang penting terus saja belajar, tekuni ilmu yang anda bidangi itu sehingga kalau bisa setelah kembali ke tanah air itu kemudian tinggal mengimplementasikan apa yang telah diambil di Timur Tengah ini. [Mas Herry/Alcaff]

http://islamalternatif.net/iph/index.php?option=com_content&task=view&id=106&Itemid=40

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s