Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain

KHOTBAH 139 Nahjul Balaghah

Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain*

Orang-orang yang tidak berbuat dosa dan telah dianugerahi keselamatan (dari dosa) harus menaruh belas kasihan pada pendosa dan orang yang tak taat lainnya. Rasa syukur harus selalu menjadi kegemaran mereka yang paling besar, dan (hal) itu harus mencegah mereka dari (mencari-cari kesalahan) orang lain. Bagaimana tentang si penggunjing yang menyalahkan saudaranya dan mencari-cari kesalahannya? Apakah ia tidak mengingat bahwa Allah telah menyembunyikan dosa-dosa yang dilakukannya padahal dosa-dosa itu lebih besar dari dosa-dosa saudaranya yang ditunjukkannya? Bagaimana ia dapat menjelek-jelekkannya tentang dosa-dosanya padahal ia sendiri telah berbuat dosa yang seperti itu? Sekalipun ia tidak berbuat dosa yang serupa itu, tentulah ia telah berbuat dosa-dosa yang lebih besar. Demi Allah, sekalipun ia tidak melakukan dosa-dosa besar tetapi melakukan dosa-dosa kecil, pembeberannya atas dosa-dosa orang itu sendiri merupakan dosa besar. Wahai hamba Allah, jangan cepat membeberkan dosa seseorang karena ia mungkin dimaafkan atasnya, dan janganlah Anda merasa aman sekalipun atas suatu dosa kecil karena mungkin Anda dihukum karenanya. Oleh karena itu, setiap orang dari Anda sekalian yang mengetahui tentang kesalahan-kesalahan orang lain hendaklah ia tidak membeberkannya mengingat apa yang diketahuinya tentang kesalahan-kesalahannya sendiri, dan hendaklah ia tetap sibuk dalam bersyukur bahwa ia telah selamat dari hal di mana orang lain terjerumus. •

* Kebiasaan mencari-cari kesalahan orang dan menggunjing telah menjadi demikian lumrah sekarang sehingga bahkan perasaan akan keburukannya telah lenyap. Dan sekarang kalangan tinggi maupun rendah tidak berpantang darinya. Dan kedudukan tinggi mimbar serta kesucian mesjid tidak mencegahnya. Bilamana beberapa orang teman berkumpul maka pokok percakapan dan perhatian tertuju kepada pembicaraan tentang kesalahan-kesalahan lawan mereka disertai bumbu-bumbunya, dan orang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Walaupun si pencari kesalahan itu sendiri terlibat dalam kesalahan-kesalahan yang dilihatnya pada orang lain, namun ia tak mau kesalahananya sendiri dibeberkan. Dalam kasus semacam itu, harusnya ia bertenggang rasa dan menjauhkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain dan melukai perasaannya. la harus bertindak sesuai dengan peribahasa, “Jangan Anda lakukan terhadap orang lain apa yang Anda tak mau diperlakukan kepada Anda”. Menggunjing didefenisikan sebagai membeberkan kesalahan sesama mukmin dengan niat untuk mencemarkannya sedemikian rupa sehingga merangsang kemarahannya, baik dengan kata-kata, tindakan, siratan atau saran. Sebagian orang menganggap gunjingan hanya meliputi yang palsu atau yang bertentangan dengan kenyataan. Menurut mereka itu, menceritakan apa yang telah dilihat atau didengar secara tepat sebagaimana adanya, bukanlah menggunjing. Tetapi sebenarnya menggunjing adalah justru menyampaikan fakta-fakta; apabila tidak benar menurut fakta maka hal itu berarti menuduh secara batil dan menyalahkan secara lalim, fitnah. Diriwayatkan dari Nabi saw kata-kata berikut, Nabi berkata, “Tahukah Anda apa menggunjing itu?” Orang berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian beliau berkata, “Menggunjing berarti bahwa Anda berkata tentang saudara Anda suatu hal yang menyakitinya.” Seseorang berkata, “Tetapi bagaimana kalau yang saya katakan tentang dia itu memang benar?” Nabi menjawab, “(Dinamakan) menggunjing hanya bilamana hal itu sesungguhnya benar; bila tidak maka Anda memfitnahnya.” Ada banyak penyebab orang terjerumus ke dalam perbuatan menggunjing. Kadang-kadang orang melakukannya dengan sadar dan kadang-kadang secara tidak sengaja. Abu Hamid al-Ghazali telah menguraikan penyebab-penyebab itu secara mendetail dalam bukunya Ihya’ ‘Ulumud-Dîn. Beberapa penyebab penting adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengolok-olok seseorang atau membuatnya nampak terhina. 2) Untuk membuat orang tertawa dan memamerkan kegembiraannya sendiri. 3) Mengungkapkan perasaan seseorang karena pengaruh marah dan berang. 4) Mengukuhkan keunggulan diri dengan berbicara buruk tentang orang lain. 5) Menyalahkan hubungan atau keterlibatan seseorang dalam suatu hal; yakni, bahwa suatu keburukan tertentu tidak dilakukannya tetapi dilakukan oleh orang lain (mencari kambing hitam). 6) Untuk menyesuaikan diri dengan suatu kelompok ketika dalam kumpulan mereka supaya tidak merasa terasing. 7) Melecehkan seseorang yang dikhawatirkan akan membeberkan kesalahannya sendiri. 8) Untuk mengalahkan pesaing dalam perilaku yang serupa. 9) Untuk mencari kedudukan di hadapan seseorang yang berkuasa. 10) Untuk mengungkapkan kesedihan (palsu) bahwa si Anu telah jatuh ke dalam dosa seperti itu. 11) Untuk mengungkapkan keheranan, misalnya, sungguh mengherankan bahwa si Anu telah melakukannya. 12); Untuk mencerca si pelaku suatu perbuatan ketika mengungkapkan kemarahan atasnya.

Namun, dalam beberapa hal, mengungkapkan kesalahan atau mengritik tidak termasuk pada golongan menggunjing:

1) Apabila orang tertindas mengadu tentang si penindas untuk mendapatkan perbaikan, hal itu bukan menggunjing. Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang teraniaya ….” (QS. 4:148) 2) Untuk menceritakan kesalahan seseorang sementara memberi nasihat bukanlah menggunjing, karena kecurangan dan sikap bermuka dua tidak diizinkan dalam memberi nasihat. 3) Apabila dalam hubungan dengan mencari persyaratan atas perintah agama penyebutan nama seseorang tertentu tak terelakkan, maka menyebutkan kesalahan orang semacam itu sekadar perlunya bukanlah menggunjing. 4) Untuk menyampaikan penyelewengan atau kecurangan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk menyelamatkan seorang Muslim dari bahaya, bukanlah menggunjing. 5) Menceritakan kesalahan seseorang di hadapan orang yang dapat mencegahnya melakukan perbuatan itu, bukanlah menggunjing. 6) Kritik dan ungkapan pendapat tentang periwayat hadits bukanlah menggunjing. 7) Apabila seseorang mengetahui benar tentang kekurangan fisik seseorang lain, kemudian ia menceritakan kesalahan itu untuk mendefinisikan kepribadiannya; misalnya, menggambarkan orang tuli, bisu, pincang atau buntung sebagaimana adanya, bukanlah menggunjing. 8) Menggambarkan kekurangan seorang pasien kepada seorang dokter dengan tujuan bagi perawatan, bukanlah menggunjing. 9) Apabila ada orang mengakui silsilah secara batil lalu seseorang membeberkan silsilahnya yang sesungguhnya, bukanlah menggunjing. 10) Apabila nyawa, harta atau kehormatan seseorang hanya dapat dilindungi dengan memberitahukan kcpadanya tentang suatu kesalahan orang, hal itu bukan menggunjing. 11) Apabila dua orang membicarakan suatu kesalahan orang lain yang sudah diketahui oleh keduanya, bukanlah menggunjing, walaupun mengelakkan diri dari membicarakannya itu lebih baik, karena mungkin salah satu dari keduanya telah melupakannya. 12) Membeberkan keburukan orang yang secara terbuka melakukan keburukan, bukanlah menggunjing, sebagaimana dikatakan oleh sebuah hadis, “tak ada gunjingan dalam hal orang yang telah merobek-robek tirai malu

Iklan

One response to “Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain

  1. Memang lidah tak bertulang..DOSA BESAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s