Monthly Archives: Juni 2011

Rajab, Sya’ban dan Ramadhan, Bulan Penyucian Diri

Kawula muda masa kini, lantaran telah menjauhkan diri dari Allah, telah direnggut oleh muslihat cinta palsu. Ini adalah sebuah penyakit yang tidak dapat diobati. Mereka siap mengorbankan agama, harga diri, dan seluruh harta milik mereka hanya demi merenggut sebuah cinta palsu. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki Allah. Tapi, apabila seorang pemuda merasa memiliki Allah dan Dia bersemayam dalam relung hatinya, niscaya ia pasti dapat menguasai diri,” begitu pesan Ayatullah Mazhahiri dalam sebuah frase kuliah akhlak ini.

Pada kesempatan ini, kita akan mengikuti seluruh wejangan akhlak yang disampaikan oleh marja’ agung dan ulama besar Iran ini.

Bismillahirrahanirrahim

“Ya Allah! Lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah urusanku. Uraikanlah kekeluan lidahku supaya mereka dapat memahami ucapanku.”

Ketenangan Abadi dengan Mengingat Allah

Bulan Rajab adalah bulan Allah. Bulan Sya’ban adalah bulan Rasulullah saw. Dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk umat Rasulullah saw.

Dalam tiga bulan ini kita harus berusaha sekuat tenaga guna mewujudkan hubungan naluri yang mesra dengan Allah Tuhan kita.

Jika seorang hamba tidak memiliki hubungan naluri yang mesra dengan Tuhannya, niscaya ia akan terjerumus di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Ia tidak akan menemukan jalan keselamatan apapun. Hubungan naluri yang terlaksana dengan jalan mengakrabkan diri dengan Al-Quran, doa, dan tawasul dapat menyelamatkan manusia dari kesedihan, kelemahan saraf, dan seluruh problematika kehidupan sehari-hari.

Begitu pula, hal ini akan mengantarkan manusia kepada suatu posisi dimana ketika ia membaca Al-Quran niscaya ia akan memahami bahwa Allah sedang berbicara dengan dirinya. Ketika ia beristighfar dan berdoa di tengah malam, ia memahami bahwa ia sedang berbicara dengan Allah.

Al-Quran adalah kalam yang turun dan doa adalah kalam yang naik. Kedua jenis dialog ini adalah dialog dengan Allah.

Shalat adalah satu jenis dialog dengan Allah. Ketika membaca surah Al-Fatihah dan surah yang lain, Allah sedang berbicara dengan kita. Dan ketika membaca zikir-zikir yang lain, kita sedang berbicara dengan Allah.

Dialog seperti ini bagi ahli makrifat adalah curahan cinta kasih (mu’asyaqah). Kenikmatan tertinggi bagi mereka di tengah malam adalah bercinta kasih dan berdialog dengan Allah melalui shalat malam dan membaca Al-Quran. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda: “Dua rakaat di pertengahan malam lebih saya cintai dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” (Wasa’il Al-Syi’ah, jld. 8, hlm. 156)

Para wali Allah rela menjauhi dunia dan seluruh isinya hanya supaya mereka dapat mengerjakan dua rakaat shalat malam. Dalam pandangan mereka, dunia ini tidak memiliki nilai. Dunia hanyalah sebuah perantara untuk menaiki tangga kesempurnaan. Oleh karena itu, mereka tidak sedikit pun menaruh hati terhadap dunia dan segala sesuatu yang berbau duniawi. Kalbu mereka hanya tertuju kepada Allah.

Jiwa Tenteram Lantaran Hubungan Naluri Ilahi

Para wali Allah membaca Al-Quran, mengerjakan shalat, beristighfar, dan berdoa. Dalam setiap kondisi ini, ia menikmati kenikmatan tertinggi dari curahan cinta kasih ini. Hubungan naluri dengan Allah dapat mewujudkan jiwa yang tenang dalam diri setiap orang. “Ingatlah! Para wali Allah tidak pernah takut dan tidak pula bersedih hati.” (QS. Yunus : 62)

Mereka yang memiliki hubungan naluri dengan Allah tidak akan pernah sedih, gundah, dan gulana. Mereka tidak sedih dengan masa lalu dan juga tidak merasa gundah dalam menghadapi masa depan, karena mereka merasa memiliki Allah. Hanya mereka yang tidak memiliki Allah selalu dirundung kesedihan.

Dunia ini dipenuhi oleh kesedihan, kegundahan, kekhawatiran, dan perbedaan-perbedaan yang yang mengancam setiap anggota keluarga dan masyarakat. Sayangnya, kekhawatiran dan kegundahan ini telah menjerumuskan sebagian orang ke dalam jurang dosa. Mereka yang bodol dan lengah, guna menghilangkan segala bentuk kekhawatiran dan menggapai ketenangan sementara, membiasakan diri dengan minuman-minuman keras dan memabokkan. Tapi sebagian yang lain hanya menanggung kehidupan yang penuh dengan kegundahan ini hingga ajal menjemput mereka.

Ketenangan Kalbu di Bawah Naungan Ilahi

Umat manusia telah kehilangan jalan. Mereka telah ditimpa oleh kekhawatiran yang menumpuk. Mereka tidak pernah menemukan tempat berlindung yang aman di dunia ini. Mereka tidak memahami bahwa satu-satunya tempat perlindungan bagi manusia hanyalah Allah. Mengingat-Nya dapat menenangkan dan menenteramkan setiap hati yang gundah dan gulana. “Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah hati bisa tenteram.” (QS. Al-Ra’d : 26)

Ketenangan mutlak dan ketenteraman yang abadi hanya dapat diperoleh dengan membentuk hubungan dengan Allah. Mengingat Allah kadang-kadang dapat dilakukan dengan membaca Al-Quran sembari disertai dengan fokus perhatian bahwa Allah sedang berbicara dengan dirinya. Dalam menjawab ucapan-Nya ini, ia berdoa dan bermunajat dengan-Nya. Perbincangan dan dialog ini dapat menghilangkan segala bentuk kesedihan dan kegundahan, serta mendatangkan ketenteraman.

Ketenteraman abadi semacam ini muncul dari sebuah jiwa yang tenang. Yakni, ketika Allah menguasai relung kalbu kita dan segala sesuatu selain-Nya telah hengkang dari kalbu kita, niscaya kalbu kita menjadi tempat Allah “bersemayam”. “Kalbu seorang mukmin adalah ‘arsy Zat Yang Maha Pengasih.” (Bihar Al-Anwar, jld. 55, hlm. 39)

Dalam sebuah hadis qudsi pernah ditegaskan, “Langit dan bumi-Ku tidak dapat menampung-Ku. Tapi kalbu hamba-Ku yang beriman dapat menampung-Ku.” (Ibid.)

Ketika kalbu kita telah menjadi ‘arsy Ilahi, maka Allah akan menguasai seluruh hati kita. Dalam kondisi seperti ini, dialog dengan Allah yang bersemayam dalam hati kita sangat menyenangkan. Untuk itu, kita serta merta selalu mencari kesempatan untuk bercinta kasih dengan Allah.

Kelezatan Munajat dengan Allah

Ketika kita mencintai seseorang, maka kita selalu ingin berbicara dengannya dan mendengarkan suaranya. Sebagai contoh, ketika orang tua yang sangat mencintai anak kecil mereka berbicara dengannya, alangkah bahagianya sang anak ini. Mereka yang telah mencicipi kecintaan kepada Allah dan Allah menempati hati mereka, niscaya mereka akan selalu bahagia ketika berbicara dengan-Nya.

Ketika bermunajat dan berdoa kepada Allah saw, Ahlul Bait Rasulullah Saw selalu tak sadarkan diri dan perhatian mereka hanya terfokus kepada-Nya sehingga mereka tidak memperhatikan kondisi sekitar.

Amirul Mukminin Ali as mengerjakan shalat dan selalu tak sadarkan diri. Dalam doa Kumail, ia melontarkan seluruh kekurangan dan kerendahan hati di haribaan Sang Ilahi Rabbi. Ia telah terlebur dalam alam kemanunggalan dan telah melupakan seluruh alam kemajemukan.

Imam Sajjad as melantunkan doa Abu Hamzah Tsumali dan menikmati seluruh kenikmatan duniawi dan ukhrawi di dalamnya.

Ketika Allah telah menguasai kalbu seseorang, niscaya ia akan mencintai-Nya dengan sepenuh hati. Kenikmatan teragung bagi seorang pecinta adalah ketika ia dapat berdialog bebas dengan kekasihnya. Kelezatan yang lebih tinggi dari itu adalah ketika sang kekasih memberikan perhatian terhadap seluruh ucapan yang diucapkan sang kekasih. Dan kelezatan yang lebih tinggi lagi dari itu semua adalah ketika sang kekasih berbicara dengannya.

Jika kita mencintai Allah seperti kita mencintai anak kita, niscaya kita akan merasa bahagia apabila kita berbicara dengan-Nya dan ketika Dia berbicara dengan kita. Jika kecintaan seperti sudah tercipta, maka tidak mungkin kita meninggalkan shalat malam dan tidur lelap di waktu sahar.

Musibah terbesar bagi kita adalah ketika kita sudah merasa bosan dengan munajat kepada Allah. Nabi Musa as berangkat untuk bermunajat kepada Allah. Salah seorang hamba pendosa berpesan kepadanya, “Sampaikan pesanku ini kepada Allah; berapa banyak dosa yang harus kulakukan dan Engkau tidak menyiksaku?” Nabi Musa as pergi dan bermunajat kepada Allah. Ketika hendak pulang, datang panggilan dari sisi Allah, “Mengapa engkau tidak menyampaikan pesan hamba-Ku itu?” “Ya Tuhanku! Engkau lebih mengetahui apa yang telah diucapkan oleh pendosa itu,” jawab Musa pendek.

Allah menjawab, “Katakanlah kepada hamba itu bahwa Aku telah menurunkan bala yang terbesar kepadanya. Tapi ia tidak menyadarinya. Bala dan petakamu adalah kamu tidak pernah dapat merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku dan kamu tidak menyadari petaka ini.”

Shalat Hakiki dan Pertolongan Ilahi

Betapa banyak masyarakat kita bercengkerama dari awal hingga akhir malam tanpa ada guna. Mereka menonton film-film di televisi dan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Malah mereka juga tidak tergerak hati untuk mengerjakan shalat di awal waktu, apalagi mengerjakan shalat malam. Mereka tidak sadar bahwa shalat adalah sebuah hubungan naluri dengan Allah. Mereka hanya mengerjakan shalat dengan terpaksa. Mereka mengerjakan shalat untuk membebaskan diri dari kekang taklif dan menyelamatkan diri dari api neraka.

Shalat ahli makrifat tidak untuk tujuan masuk ke dalam surga dan tidak pula untuk menyelamatkan diri dari api neraka. Shalat ini sendiri bagi mereka adalah surga. Mereka sangat menikmatinya.

Jika masyarakat kita memberikan perhatian khusus dan kecintaan kepada shalat selama waktu yang mereka perlukan untuk menonton film atau film serial, niscaya banyak problem kita terselesaikan dengan baik.

Jika shalat kita adalah sebuah shalat hakiki, maka setiap doa yang kita baca setelah mengerjakan shalat pasti terkabulkan. Mengapa banyak doa kita tidak terkabulkan? Alasannya, shalat kita bukanlah shalat yang hakiki dan sejati. Shalat kita hanya untuk membebaskan diri kita dari kekang taklif atau untuk menyelamatkan diri kita dari api neraka. Shalat seperti ini jelas tidak akan mengandung doa yang pasti terkabulkan. Jika kita mengerjakan shalat hakiki dan memperhatikan seluruh adab shalat, niscaya kita tidak akan pernah bimbang dan gundah. Allah akan menuntun tangan kita dan menyelamatkan kita dari setiap jalan buntu.

“Kami pasti menolong orang-orang yang berimana.” (QS. Al-Rum : 47) “Dan begitulah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’ : 88)

Dua ayat di atas sangat pendek, tapi memiliki makna yang sangat luas. Allah sangat mencintai seluruh makhluk-Nya lebih dari kecintaan 70 orang tua terhadap anak mereka. Tapi sayangnya, kecintaan Allah ini hanya bersifat satu arah. Bukti bahwa umat manusia tidak mencintai Allah adalah mereka masih berani berbuat dosa dan mereka tidak mengerjakan shalat dengan sesungguhnya.

Kesempatan Menjadi Manusia Sejati

Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan adalah tiga bulan kesempatan untuk membangun diri. Tiga bulan ini berlalu dan kita sudah harus berhasil membangun diri. Bagaimana caranya? Ketika kita sedang mengerjakan shalat, kita harus pahami bahwa Allah sedang berbicara dengan kita. Inilah arti kehadiran kalbu. Kita harus memahami perhatian Allah dalam shalat sehingga kita tidak bisa berpisah dari mengingat-Nya. Kita juga tidak bisa menyelesaikan shalat lantaran kita tahu perhatian Allah kepada kita.

Ketika kita tidak berhasil merenggut kecintaan Allah dan hati kita terkosongkan dari keberadaan-Nya, mau tidak mau orang lain yang akan memenuhi hati kita. Akibatnya, kita akan terbawan arus cinta palsu. Jika kita tidak bisa tidur dan tidak memiliki makanan sebagai ganti dari shalat malam, maka kita akan kebingungan kesana kemari. Akibatnya tidak lain adalah kesengsaraan.

Kawula muda masa kini, lantaran menjauhkan diri dari Allah, telah tertimpa oleh cinta palsu. Jelas, ini adalah sebuah penyakit yang sulit diobati. Mereka bersedia mengorbankan harga diri dan seluruh harta milik demi cinta ini. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki Allah.

Jika seorang pemuda senantiasa bersama Allah dan Allah telah menguasai relung kalbunya, niscaya hatinya akan senantiasa hadir. Di separuh shalat, Allah berbicara dengannya dan di separuh yang lain, ia berbicara dengan-Nya. Ia tidak rela menghentikan dialog manis ini. Ia senantiasa mencari celah dan membaca zikir supaya shalatnya tidak pernah berakhir. Ia selalu berusaha memperpanjang ruku’, sujud, dan qunut semampu kekuatannya hanya untuk berdialog dengan Allah.

Alangkah bahagianya mereka yang tidak terjerat oleh kesibukan-kesibukan duniawi lantaran mereka telah menyibukkan diri dengan zikir dan shalat. Seluruh tali yang menjerat kehidupan mereka terurai. Lebih dari itu, mereka tidak pernah berhadapan dengan tali penjerat sehingga harus terurai. Mereka tidak memiliki harta kekayaan dan fasilitas material. Tapi, mereka memiliki sebuah kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan ketenteraman, karena Allah telah menguasai kalbu mereka sehingga kehendak mereka adalah kehendak Allah.

Dalam sebuah syair dinyatakan:

“Seseorang menghendaki penyakit, yang lain menginginkan obat.

Seseorang ingin berjumpa, yang lain ingin berpisah.

Dalam penyakit, obat, perjumpaan, dan perpisahan ini,

aku hanya menghendaki apa yang Dia kehendaki.”

Jika sudah demikian, Allah akan menganugerahkan maqam terpuji kepadanya. Bagaimana? Ia akan memandang segala sesuatu sebagai haribaan Ilahi dan ia berdialog dengan-Nya di haribaan ini.

Akrab dengan Al-Quran, Doa, dan Tawasul

Saya berharap kalian mengakrabkan diri dengan Al-Quran. Bacalah Al-Quran, khususnya di pertengahan malam. Banyak petaka yang menimpa sebuah rumah lantaran Al-Quran terusir dari rumah ini. Jika Al-Quran sudah dilupakan dalam sebuah rumah, niscaya Allah juga terlalaikan. Ketika Allah telah terlalaikan, maka rumah dan kehidupan ini menjadi gelap gulita tak bercahaya.

Harapan saya yang lain adalah akrablah dengan doa. Lantunkanlah doa selalu. Jangan hanya mencukupkan diri dengan hanya membaca Doa Kumail di malam Jumat dan Doa Nudbah di pagi hari Jumat. Sertakanlah doa selalu dalam setiap langkah kalian, karena Allah sangat dekat dan cepat mengabulkan setiap doa. “Sesungguhnya Allah menjadi pemisah antara seseorang dan kalbunya.” (QS. Al-Anfal : 24)

“Jika hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang diri-Ku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan seruan penyeru apabila ia menyeruku. Maka hendaknya mereka terima (ajakan)-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Semua ini dapat kita lakukan dengan mengerjakan shalat dan berdoa, khususnya bertawasul. Hubungan naluri dengan Allah memerlukan tawasul.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara untuk menuju kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah : 35)

Doa adalah ucapan yang naik ke atas. Perantara anugerah (faidh) Ilahi harus mengantarkan ucapan ini ke atas. Perantara anugerah adalah Ahlul Bait as. Pada masa kita sekarang ini, perantara anugerah Ilahi ini adalah Imam Zaman as.

Bertawasul kepada Ahlul Bait as akan lebih mendekatkan hati kita kepada alam malakut. Jika kecintaan kepada Imam Mahdi as tertanam tegar dalam relung kalbu kita, niscaya kita pasti dapat mengenalnya dengan baik. Melalui perantaranya, kita dapat mewujudkan hubungan naluri dengan Allah. Dalam kondisi seperti ini, kita akan menemukan maqam syuhud dan tidak perlu lagi kita mencari jalan untuk berjumpa dengan Imam Zaman as, karena kita senantiasa berada di haribaannya—semoga jiwa kita menjadi tebusannya.(Shabestan)

Iklan

Metodologi Dakwah Wahabi Menentang Syiah

Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang seperti mereka miliki.

Metodologi Dakwah Wahabi Menentang Syiah

Menurut Kantor Berita ABNA, berikut terjemahan ringkas dari pembahasan Ayatullah Husain Qazvini mengenai metodologi dakwah Wahabi untuk menentang Syiah yang disampaikan dalam ceramahnya di Mushalla Qom.


Ayatullah Husaini Qazwini
Metodologi Dakwah Wahabi Menentang Syiah.
Bertempat di Mushalla Qom, 11/08/1389.
بسم الله الرحمن الرحيم

Pokok pembahasan kita pada hari ini ialah metodologi terbaru propaganda Wahabi.
Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang  seperti mereka miliki.

4 tahun lalu dalam kunjungan ziarah saya ke Mekkah, saya sempat mengunjungi salah satu pusat kebudayaan Wahabi bernama رابطة العالم الإسلامية  di mana setiap orang dapat melihatnya ketika masuk ke Mekkah dari Madinah, yang pertama kali terlihat adalah sebuah gedung putih yang mereka letakkan papan tertera رابطة العالم الإسلامية, saya sendiri kurang lebih tujuh jam berkeliling di dalam gedung tersebut sekedar untuk melihat lebih dekat berbagai bagian methodologi propaganda, risalah dan percetakan buku yang mereka miliki. Ringkasnya pusat رابطة العالم الإسلامية sama seperti Kantor Pusat Tablighat Islami dan Sazman Tablighat Islami kita. Inilah perbedaan yang ada pada pusat kebudayaan mereka. Namun dalam keorganisasian PBB, mereka tercatat sebagai anggota resmi dalam UNESCO dan UNICEF. Salah seorang staff mereka berkata, “Belum ada satupun negara yang di dalamnya tidak ada kantor cabang atau perwakilan dari kami.”  Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa gerakan mereka yang utama adalah membantu anak yatim dan golongan miskin.

Para hadirin sekalian mesti tahu, metodologi propaganda hari ini sangat jauh berbeda dengan zaman yang lalu. Dahulu tatkala alat cetak telah ditemui, surat kabar dan buku telah digunakan untuk memindahkan budaya ke wilayah yang lain, dan dari generasi ke generasi. Namun hari ini, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada manusia seperti bidang ‘cyber’, internet, satelit dan sms, pihak penentang dan musuh kita memanfaatkan ruang yang ada tersebut semaksimal mungkin.

Statistik Propaganda Wahabi

Dalam statistik yang ditunjukkan oleh situs web www.isl.org.uk bahwa terdapat lebih dari 40.000 halaman situs web Wahabi yang selama 24 jam aktif menentang Syiah. Diantara situs mereka yang paling menunjukkan bentuk kegigihan dan keprofesionalan mereka adalah halaman situs web Faisal Nur www.fnoor.com yang dibuat dan dioperasikan oleh seorang Wahabi di Arab Saudi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa yang mendanai segala bentuk operasional situs tersebut adalah putera mahkota Arab Saudi sekarang yaitu Amir Naif. Dalam halaman web tersebut ada lebih dari 40 ribu judul kitab dan makalah menentang Syiah, dan boleh dikatakan situs tersebutlah yang merupakan situs induk dan rujukan situs-situs Wahabi lainnya. Hampir kesemua situs berbahasa Arab yang menentang Syiah membuat tautan link dengan situs tersebut. Bahkan situs anti Syiah berbahasa Persia seperti Sunni News, Sunni Online dan Islam Teks, sebahagian besarnya memosting materi-materi yang lancang dalam menentang Syiah, serta mempropagandakan penghinaan dan caci maki yang merujuk dari situs tersebut.

Dalam berita-berita pekan lalu, laporan online menurunkan berita mengenai seorang peneliti Kanada yang menyebutkan bahwa satu dari 2 situs website Islam adalah berkaitan dengan Wahabi bahkan sampai ada yang berlindung dibalik pusat pengajian kebudayaan Ikhwanul Muslimin.

Sementara dalam perjalanan saya ke Jerman dan Belanda, saya berkesempatan membuka halaman-halaman situs dari internet teman baik saya yang membantu selama perjalanan di sana. Salah satu perkara yang mengherankan saya adalah tentang Imam Mahdi yang dinantikan, ada 1,5 juta situs dalam internet yang membahas hal tersebut itu. Tentu saja hal tersebut sangat mencengangkan, 1,5 juta situs tentu saja angka yang sangat fantastis. Meskipun membahas tentang Imam Mahdi afs namun pada hakekatnya situs-situs tersebut bertujuan untuk menghentikan laju dakwah Syiah. Untuk hal yang sederhana ini saja, kita bisa memahami betapa gigihnya mereka untuk menentang Syiah dengan berbagai kemudahan fasilitas yang mereka punyai. Hal ini dapat dirujuk dalam halaman web universitas Amir Kabir سايت دانشگاه امير كبير.

Propaganda Wahabi Melalui Stasiun-stasiun TV

Sekarang ini, dari 1800 saluran satelit yang aktif di kawasan Timur Tengah ini, hampir 300 saluran satelit yang diisi dengan acara dan program menentang Ahlul Bait.

Mungkin mendengar perkara ini dianggap biasa, menyatakan statistik liputan dan pendengarnya sangat mudah. Namun anda semua lihatlah apa hasil kerja-kerja mereka dalam masalah propaganda dan kebudayaan? Sementara apa pekerjaan kita? Akhirnya kerja اتحاديه تلويزيون‌هاي اسلامي mampu dilaksanakan, yaitu pada 2 pekan lalu sebelum persidangan di Tehran, mereka telah mengumpulkan 182 radio dan stasiun-stasiun TV lokal.

Dalam beberapa saluran satelit, atas nama membela Ahlul Bait dan mempertahankan Wilayah Faqih sekelompok orang mengaku pengikut Syiah dan pelajar agama menghantam Ahlusunnah dan menyerang mereka yang biadap terhadap kesucian Ahlul Bait. Namun hasilnya justru semakin mencoreng nama Syiah dan terjadi fitnah yang dahsyat. Kami telah mendengar bahwa dalam kongres Amerika pada tahun 2009 secara resminya menyebutnya sebagai ‘Tahun Ikhtilaf Sunni dan Syiah’. Untuk ini mereka telah memperuntukkan anggaran yang khusus. Kita tidak lupa di permulaan perang di Irak, seluruh surat kabar memaklumkan, jika tidak salah, bertanggal 20 atau 19 Esfand 1384 surat kabar Kayhan menulis, “نظاميان آمريكايي در عراق، يك جوان سيد و معمم نوراني را دستگير كرده بودند كه او، همان مهدي موعود است و مدت‌ها او را در زندان شكنجه مي‌كردند تا اعتراف كند او مهدي است” (Tentara AS di Irak menangkap seorang Sayid dan guru; yaitu Imam Mahdi, mereka menyiksanya di penjara sehingga ia mengaku bahwa dirinya Imam Mahdi) setelah mereka mengetahui ayah dan ibu Imam Mahdi itu mempunyai beberapa tanda. Ayah dan ibu individu ini adalah orang lain, mereka sudah berputus harapan dan berjanji akan melaporkan kepada tentara Amerika jikalau menemui tempat persembunyian Al-Mahdi. Begitu juga Bush, presiden Amerika yang lalu, sebuah lembaga ilmu dibentuk yang terdiri dari orang Islam dan Kristiani, teoretisi Gedung Putih telah diterangkan sehingga mereka melakukan penyelidikan tentang Al-Mahdi Maw’ud dan melaporkannya kepada beliau (presiden). Pernyataan ini turut tersebar dalam laporan media setempat, namun tidak diketahui apakah hasilnya.

Tanggal 17 bulan Ramadan tahun lalu,  seseorang yang mengaku pelajar agama, namun pada hakekatnya bodoh dan tidak waras telah memprakarsai peringatan hari wafatnya Aisyah di London, Inggris dan melakuan penghinaan dan pelecehan terhadap istri Nabi, Aisyah yang tidak bisa dibernarkan oleh syariah. Perkara kontroversial tersebut mendapat perhatian dari para ulama Marja Taqlid dan Rahbar bahkan 90 ulama besar Syiah di Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah, Imam Juma’at dan Jamaah, pusat-pusat pengkajian ilmiyah mengecam dan mengutuknya. Kecaman ini telah dicetak juga dalam surat khabar yang bernama al-Riyadh. Pergerakan yang mempunyai unsur fitnah seperti ini tidak jauh dari upaya Wahabi untuk memberi kesan jelek mengenai Syiah. Individu seperti ini telah mereka perkenalkan, dan biaya serta kemudahan telah diperuntukkan untuknya supaya ia dapat memberikan pernyataan-pernyataan mengenai dunia Islam. Setelah bulan Ramadhan, bersamaan dengan tahun penghinaan (Yasser al-Habib) terhadap Ummul Mu’minin Aisyah, hampir 19 saluran satelit Wahabi senada mengadakan program menentang Syiah. Akibatnya sebahagian saluran Wahabi seperti saluran Wisal dan Safa, saya sendiri menonton program-program mereka selama beberapa menit, saluran ini dengan penuh emosi, mereka menggunakan kata-kata yang paling buruk untuk mencerca para ulama Marja’ Taqlid, bahkan orang perusuh sekalipun tidak akan melakukan seperti ini. Mereka terlalu biadab menghina makam-makam suci para Imam,terutama sekali dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkahan tahun itu, saluran-saluran al-Mustaqillah, Hafiz, Safa, Nas, al-Rahmah, al-Hikmah, al-Khalijiyah dan al-Sihhah tidak memiliki rasa segan sedikitpun untuk melakukan pencercaaan dan penghinaan. Jelas apa yang mereka lakukan adalah bentuk konspirasi dan propaganda negatif, terlebih lagi belasan stasiun TV tersebut disiarkan melalui Nil Sat. Alhamdulillah, pemerintah Mesir telah memblokir penyiaran beberapa saluran TV tersebut, seperti saluran Safa dan Wisal, yang telah mempropagandakan permusuhan yang terang-terangan terhadap Syiah dan mazhab Ahlul Bait. Lebih dari itu Arab Saudi dalam setiap penyelenggaraan haji, menyiarkan sebuah saluran radio siaran langsung dalam delapan bahasa yang ditujukan kepada para peziarah Haji Baitullah al-Haram.

Perkara penting lainnya, usaha mereka dalam menyebarkan kebencian dan permusuhan terhadap Syiah juga mereka sebar dalam halaman situs internet.  Beberapa laporan dalam situs-situs web mereka yaitu mereka memaklumkan, ‘Saluran satelit Syiah lebih bahaya dari bom nuklir dan atom’. Ini disebabkan mereka tahu saluran seperti al-Kawthar, ulama seperti Ayatullah Kurani atau Sayyid Kamal Haidari ada sebagai berbicara di dalamnya yang berusaha menyingkap kebatilan-kebatilan mereka.

Gelombang kesadaran para pemuda Ahlusunnah dan Wahabi, dan cenderungnya mereka ke arah Syiah.

Dengan mengamati informasi yang telah tersebar, saya selalu berusaha mencari berita-berita online atau satelit yang up date, ataupun berita terbaru melalui perantaraan sahabat-sahabat. Saya ingin mengatakan satu hal bahwa, sampai dalam kurun ke-15 ini, belum ada para pemuda Wahabi dan Ahlusunnah yang lebih cenderung kepada Syiah seperti kurun sekarang. Hampir setiap minggu 10, 20 orang atau lebih dari 30 orang merujuk kepada saya dan secara resmi menyatakan mereka mengikut Mazhab Ahlul Bait. Dalam tahun ini saja, beberapa kali para pemuda Kristiani datang ke Qom dan Maha Besar Allah memberi taufiq-Nya, mereka telah menjadi Syiah di tangan kami dan pulang.

40 hari yang lalu, seorang pemuda berusia 25 tahun datang dari London, beliau adalah seorang da’i dari Baha’i. Beliau terpengaruh dengan kata-kata kami dalam salah satu acara TV dan akhirnya mengambil keputusan untuk bertaubat, lantas mengikuti mazhab Ahlul Bait dan cenderung kepada Syiah.

Penyikapan Syiah terhadap Ahlulsunnah

Dengan tersebarnya propaganda yang dilakukan Wahabi, di beberapa tempat seringkali menghasilkan keputusan yang negatif mengenai Syiah.

Abu Bashir pernah datang menemui Imam Sadiq dan berkata:

Bagaimana cara kita berhadapan dengan Ahlusunnah? Imam berkata: Apakah engkau mempunyai Imam dan yakin mengikutinya? ujarnya: Iya. Imam berkata: Saya adalah Imam kamu, dan keniscayaan bagi kamu mengikuti kami, bermuamalahlah kepada Ahlusunnah sebagaimanaa yang saya lakukan, andainya mereka sakit saya menziarahi mereka. Jikalau mereka meninggal dunia, saya akan mengikut perarakan jenazah mereka. Sekiranya… (seterusnya sampai akhir riwayat)

Karana itu kami mengatakan beberapa kali. Apakah yang hendak terjadi kepada Syiah jikalau para Imam tidak berpesan supaya kita beradab santun dengan Ahlusunnah?. Apa yang berlaku jika para marja kita tidak melarang kita dari mencerca?

Menyebarkan Penentangan Ulama Syiah terhadap Mazhab Syiah.

Salah satu bentuk propaganda baru Wahabi adalah menyebarkan perkara-perkara yang menentang Syiah dari ulama-ulama Syiah sendiri. Dalam 2 – 3 minggu belakangan ini, isu ini telah didanai. Jika anda menonton saluran-saluran Wahabi Safa, Wisal, dan Nur selama sepekan, anda akan dapati salah satu perkara yang mereka singgung ialah ada di kalangan para ulama Syiah yang membicarakan perkara yang menentang Syiah. Contohnya seperti apa yang dikatakan sebagai Dr. Musa Musawi, cucu al-Marhum Sayyid Abul Hasan Esfahani, mereka telah banyak mengeluarkan biaya di dalam halaman site, satelit dan kitab-kitabnya. Beliau telah menulis kitab yang bernama As-Syiah Wa Al-Tashih. Ayatullah al-Uzma Subhani menukilkan kepada saya dengan berkata, «من خودم از راديو شنيدم كه صدام مي‌گفت: اگر اين 8 سال جنگ ما عليه ايران، هيچ فايده‌اي نداشت جز اين‌كه اين كتاب توسط يك مرجع زاده نوشته شد، براي ما كافي است».  (Saya sendiri mendengar Saddam mengatakan, jika dalam perang 8 tahun kita menentang Iran dan tidak memberi faedah apa-apa,  cukuplah kemenangan bagi kita sebuah kitab yang ditulis oleh cucu seorang Marja).

Kitab ini dari awal sampai halaman terakhirnya, tidak ada yang lain kecuali penghinaan yang melampaui batas terhadap Syiah dan tempat-tempat sucinya. Wahabi juga turut menyatakan suka citanya dengan kehadiran buku tersebut. Salah seorang Marja Taqlid besar yang mungkin sebaiknya tidak usah saya sebutkan nama beliau di sini, beliau terkenal di kalangan penuntut agama sebagai seorang yang bersih, taqwa dan berwilayah. Beliau berkata kepada saya, “Saya tidak akan lupa, Musa Musawi ini di Zaman Syah, ia seorang peminum arak, pezina dan pergi ke club-club malam, dan ia sering bersama seorang artis.” Beliau juga bersama-sama dengan beberapa penari masyhur, memberi cek kepada mereka, lari dari Iran yang kemudian berita mengenai hal tersebut  tersebar dalam surat kabar. Ada orang memberitahu kepada saya, “Sudah tentu ia tahu memberi uang kepada mereka ini adalah haram, dan pengeluaran uang tersebut di jalan yang salah. Ia mengatakan, “Beliau dilihat bertemu dengan bekas perdana menteri Syah, dan dikenakan topi di kepalanya, dan ia mengambil sejumlah uang dan melarikan diri”. Sekarang lihatlah golongan Wahabi hari ini memuliakan individu seperti ini, dengan menyamaratakan semua keluarga dan orang yang ada disekelilingnya, orang ini kemudian diperkenalkan sebagai seorang pemikir Syiah di mana dikatakan, “Setelah ia tahu Syiah adalah sebuah mazhab yang sesat, ia menulis sebuah buku yang dinamakan Al-Syiah Wa Al-Tashih.” Dia sekitar 7 sampai 8 tahun yang lalu di Arab Saudi telah menderita penyakit barah akibat banyak meminum arak. Saya pernah menghubungi beberapa orang pamannya dan anak saudaranya di Masyhad, termasuk adik kandungnya di Teheran. Mereka berkata “Kami sangat merasa malu, kami hanya bisa membantah apa yang dia lakukan dan nyatakan bahwa apapun yang dia nyatakan dan lakukan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan keluarga”.

Sekarang mereka buat juga membuat ulama boneka,  Sayyid Abu al-Fadhl Burqe’i sambil menggelarinya Ayatullah Uzma, kononnya beliau salah seorang ustaz hauzah ilmiyah Qom yang tersohor. Setiap hari rekaman ceramah beliau yang menghina simbol-simbol suci Syiah, penghinaan kepada para ulama marja’ besar Syiah dan ejekan terhadap ziarah para Imam ditayangkan berkali-kali dalam Saluran Nur, sementara dalam saluran-saluran Arab ditayangkan juga biografi dan sejarah latar belakangnya dengan sangat jelas. Memang benar beliau pernah berada di dalam Hauzah, yaitu di zaman Ayatullah Burujerdi, ia mengajar kitab Rasail dan makasib, dan disebabkan kebiadabannya terhadap Ayatullah Burujerdi di dalam Masjid Imam, penduduk Qom telah mengusir dan memintanya keluar dari kota Qom. Beliau pergi ke Tehran dan membina masjid Wazir Daftar. Beberapa ketika beliau di sana, beliau masih meneruskan penghinaan dan pengikut Syiah di sana turut menyingkirkannya. Ia juga pernah menerjemahkan Kitab Ibnu Taimiyah dalam bahasa Persia. Beberapa tahun lalu kami ke Makkah, ketika kami masuk ke Baitullah Al-Haram, bungkusan jilid yang dimasukkan al-Quran kecil ke dalamnya, saya lihat salah satunya mengandungi terjemahan Minhaj Al-Sunnah Ibnu Taimiyah hasil karya Abul Fadhl Burqe’i. Ini benar-benar sebuah skandal. Beliau juga mempunyai hampir 70 karya dan buku. Dari jumlah tersebut hampir 30 kitab yang menyampaikan hal sebenarnya mengenai Syiah dan 40 kitab menentang Syiah. Namun menjelang penghujung usia, beliau menyesal di atas kebiadabannya. Namun penyesalan tidak lagi berguna:

“Dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini,” (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab yang teramat pedih.” (Surah Al-Nisa ayat 18)

Salah seorang sahabat-sahabat terdekat beliau sendiri, Husaini dan Rajani menukilkan dan menulis, “Beliau meninggal karena sebuah penyakit. Kami telah pergi menjenguknya dan beliau membaca surat wasiatnya untuk kami dan berkata: Saya seorang Syiah yang percaya keimamahan dan kemaksuman 12 Imam. Dan saya pernah melakukan kekhilafan”. Ketika beliau dikeluarkan dari Teheran, beliau pergi ke kampung Kun di kawasan Teheran dan tinggal di rumah anak laki-lakinya. Beliau berwasiat: “Jikalau pengikut Syiah mengizinkan, kuburkan jenazahku di dalam perkuburan sanak saudara Nabi Syuaib as semoga baginda Nabi memberikan syafaat kepadaku dan Allah mengampuniku”. Sekarang kelancangan memerangi Syiah atau merusakkan pemikiran para pemuda adalah dengan memutarkan rekaman ucapan pendek beliau. Namun Uthman Khamis seorang pemuka ekstrim Wahabi dan pemikirannya, kelancangannya telah menguntungkan Syiah dan sudah tentu Syiah dalam akidahnya sangat tegar. Ia selalu memperkenalkan sosok Sayyid Abul Fadhl Burqe’i sebagai seorang tokoh Syiah terkemuka di mana sebelumnya adalah seorang Syiah dan kemudian masuk Sunni. Beginilah cara mereka mereka menebar fitnah dan kebohongan. Sekiranya mereka tidak menemukan seorang watak Syiah yang sesuai dengan keinginan mereka, mereka pasti akan menciptanya.. Contohnya berbagai kitab yang dicetak di Arab Saudi dengan nama Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari. Ayatullah al-Uzma Subhani menulis dalam sepucuk surat kepada Dr. Qardawi: “Apakah anda tidak punya tindakan apa-apa mengenai kenyataan di Arab Saudi dan Emirat, yang tidak berlalu satu hari melainkan ditulis sebuah risalah atau buku, atau makalah yang menyerang Syiah dan malangnya, ia sentiasa mengulang tuduhan-tuduhan palsu di mana puluhan kali jawaban sudah diberi…, mereka masih tidak cukup dengan ini, buku-buku mengkritik Syiah dengan nama Ulama Syiah telah dicetak dan disebarkan. Sehingga sebuah kitab yang mengatasnamakan saya, dan sebuah kitab dengan nama al-Marhum Allamah Askari telah di cetak dan diterbitkan. Kedua-duanya diperkenalkan seorang muballigh Wahabi dan pengkritik Syiah”. Yaitu mereka tidak ragu sedikitpun melakukan kebohongan dengan menciptakan tokoh fiktif atau mencaplok nama pemuka Syiah yang menjadi pengkritik Syiah. Sehingga seorang saudara kita dari Afganistan menelepon saya dan berkata, “Di sini mereka telah menulis sebuah kitab yang mengandungi kata-kata anda yaitu Qazwini telah menjadi Ahlusunnah dan menentang Syiah dan risalah-risalah telah mereka sebarkan”. Saya pun berkata, “Jikalau suara Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari tidak sampai ke seluruh dunia serta terbatas, saya dengan berkah Ahlul Bait as hadir bergiat dalam dialog Syiah – Wahabi, dan di dalam saluran Al-Mustaqillah, Nur, Salam dan Wilayah tidak sampai seminggu yang lalu saya menjalankan program menentang Wahabi dan mempertahankan Syiah”. Mereka sampai ke tahap ini melakukan upaya penentangan Syiah. Atau seperti buku Lillah Thumma Li Tarikh (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”), Arab Saudi telah mencetaknya dengan edaran jutaan eksemplar dan disebarkan ke seluruh negara-negara Islam. Dalam pertemuan saya dengan salah seorang ulama besar di Qatif di Makkah al-Mukarramah, ia berkata, “Di kawasan Qatif dan Ahsha, buku ini diedarkan kepada pemuda-pemuda Syiah dari sebuah kios. Di mana saja mereka lihat orang beratur membeli roti atau selainnya, mereka akan bawa serta mengedarkannya dengan gratis”. Di Kuwait 100 ribu naskah buku ini telah dicetak dan disebarkan kepada khalayak ramai. Salah seorang ulama terkenal Syiah Kuwait, (bernama) Muhri secara resmi memberi peringatan kepada kerajaan Kuwait, “Jikalau penyebaran buku ini tidak dicegah, Kuwait akan menjadi Lebanon kedua”. Mereka serta-merta kemudian melakukan pelarangan penyebaran buku tersebut. Penulis buku ini juga adalah yang dikatakan sebagai Ayatullah Sayyid Husain Musawi, salah seorang marja Syiah terkenal di Najaf (sebagaimana yang tertulis dalam buku tersebut) Ia pernah mengajar di sana selama beberapa tahun namun karena mendapat keragu-raguan, lantas pergi mencari jawaban dan berguru kepada Ayatullah al-Uzma al-Khui, Ayatullah al-Uzma Sadr dan ulama-ulama besar Syiah lainnya. Namun kesemua ulama-ulama Syiah tersebut tidak mampu menjawab keraguannya sehingg ia kembali kepada Ahlusunnah dan menjadi Wahabi. Hari ini Wahabi begitu mengagung-agungkan Sayyid Husain Musawi dan bukunya dicetak dan diedarkan ke negara-negara Islam dengan berjuta-juta naskah. Walau bagaimana pun banyak kitab telah ditulis untuk menyangkal bukunya. Salah satu buku terbaik ialah dikarang oleh ulama terkenal Saudi yang bernama Syaikh Ali Al Muhsin yang pernah menimba ilmu di Hawzah Ilmiyah Qom.  Kitab ini berjudul ‘Lillah Thumma Lil Haqiqah’. Hampir 15 kitab telah menjawab buku tersebut, dan ada di dalam beberapa situs .

Di Pakistan, 3 juta Pelajar Wahabi Direkrut untuk Menyebarkan Ajaran Wahabi

Di Afghanistan, terdapat 11 ribu madrasah dibangun oleh Wahabi dan untuk Negara ini saja lebih dari 70 ribu pelajar Wahabi yang direkrut.

Sebelum ini, pemimpin pelajar Ahlusunnah atau guru dari kota Timur dan Selatan telah dibawa ke Madinah untuk belajar di Universitas Madinah. Saya berusaha mengenal lebih dekat pembelajaran di sana. Tatkala kepergian mereka (pelajar) ke Arab Saudi menghadapi masalah, Saudi telah membina madrasah di Emirat yang menempatkan 12 ribu pelajar. Beberapa kali pelajar dari Iran, Afghanistan dan Tajikistan dibawa ke Emirat. Mereka dibekali dengan uang yang sangat banyak ketika tabligh dan pulang ke kampung halaman mereka.  Para hadirin sekalian, demikianlah gambaran besar dari berbagai upaya mereka untuk menghancurkan Syiah dan menyebarkan mazhab mereka.

««« و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته »»»

Demi Cinta dan Pluralitas, Ahlulbait Indonesia Dideklarasikan

Segera Dideklarasikan Organisasi Ahlulbait Indonesia

Rabu, 15 Juni 2011

Hidayatullah.com–Terkait dengan rencana peringatan kelahiran Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib as, akan dideklarasikan organisasi Ahlulbait Indonesia. Acara yang diselenggarakan hari, Rabu (15 Juni 2011) malam bertempat di Gedung Balai Prajurit Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.

Dalam rilisnya yang dikirim ke redaksi hidayatullah.com, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia, Dr. Umar Shahab, MA., Lc mengatakan, kecintaan terhadap Ahlulbait telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Indonesia sejak Islam hadir di bumi Nusantara.

“Lahir dari kecintaan dan ikatan yang telah mengakar itulah sejak lama masyakarakat Indonesia mengharapkan hadirnya sebuah organisasi kemasyarakatan yang mencerminkan nilai-nilai Ilahi yang diajarkan Rasulullah dan Ahlulbait sucinya di negeri tercinta ini,” tulisnya.

Karena itu, kehadiran organisasi bernama Ahlulbait Indonesia pada Rabu (15/o6/2011) malam di Jakarta, diharapkan mampu mengemban fungsi perdamaian, terangnya.

Sementara itu, Sekjen Ahlulbait Indonesia Drs. Ahmad Hidayat mengatakan, organisasinya berbeda dengan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), salah organisasi Syi’ah yang telah sebelumnya berdiri.

“Kita beda orang dan beda organisasi, namun memiliki kesamaan dalam semangat,“ ujar kepada hidayatullah.com, Rabu siang.

Selain ada “Wiladah Ali Bin Abi Thalib” dalam acara nanti juga ada ceramah tentang Imam Ali oleh Ustad Muhammad bin Alwi BSA. Selain itu ada sambutan Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia, sambutan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat DPP, dan orasi Sekjen DPP Ahlulbait Indonesia.

Menurut Ahmad Hidayat, sebelumnya, organisasi ini hanyalah berbentuk sebuah yayasan biasa yang bergerak pada bidang sosial, namun setelah perjalanan lima tahun, maka diputuskan menjadi sebuah organisasi.

Meski baru, Hidayat mengklaim, organisasi ini telah memiliki banyak pengikut (jamaah).

“Kalau dihitung-hitung, telah menyebar dari Aceh sampai Papua, “ujarnya. *
Rep: CR-3
Red: Cholis Akbar
Sumber : http://www.hidayatullah.com/read/17528/15/06/2011/segera-dideklarasikan-organisasi-ahlulbait-indonesia.html
___________________________________________________________________________________________________
Rabu, 15 Juni 2011 | 14:04 WI

TEMPO Interaktif, Jakarta – Berlandaskan niat melawan segala bentuk penindasan, rasisme, fanatisme golongan, sektarianisme, dan tindakan-tindakan antikemanusiaan lainnya, sekelompok anggota masyarakat mendeklarasikan organisasi massa Ahlulbait Indonesia, Rabu, 15 Juni 2011, di Jakarta. Para jamaah Ahlulbait Indonesia mendaulat Hassan Alaydrus sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia dan Umar Shahab sebagai Ketua Dewan.

Umar Sahab mengatakan, organisasi ini didirikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Untuk mengemban fungsi perdamaian yang dirindukan masyarakat,” kata Umar Shahab.

Menurut Hasan Alaydrus, deklarasi ini hanya langkah awal melayani masyarakat. “Ahlulbait Indonesia meyakini kehadirannya diperuntukkan seluruh rakyat,” kata Hasan. “Kami percaya kebhinekaan mengandung pesan kemanusiaan, serta perbedaan merupakan pelajaran berharga untuk meningkatkan rasa solidaritas.”

Hasan memaparkan, Ahlulbait Indonesia meyakini persatuan Islam tak mungkin terwujud tanpa langkah nyata melawan segala bentuk upaya memecah-belah umat Islam. “Kami percaya, persatuan umat Islam akan menjadi solusi bagi masalah moral yang menerpa bangsa ini,” kata Hassan.

Maka, dalam deklarasinya, Ahlulbait Indonesia menegaskan sebagai ormas yang menjadi garda depan menegakkan nilai-nilai akhlakul karimah. “Bagaimana pun, nilai-nilai akhlakul karimah adalah syarat mutlak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Hassan Alaydrus.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/06/15/brk,20110615-340872,id.html
*********************************************************************************************************************
Teks pidato deklarasi ABI (Ahlul Bait Indonesia)
15 Juni 2011

Organisasi sosial keagamaan bernama Ahlulbait Indonesia yang kami deklarasikan hari ini, lahir dari kehendak kuat untuk mengamalkan tuntunan Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya dalam rangka membela manusia dan kemanusiaan, melayani rakyat Indonesia yang tercinta, berperan aktif dalam menciptakan persatuan dan kesatuan serta membela negara kesatuan republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Organisasi ini lahir dari sebuah kerinduan untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa yang seiring sejalan dengan ajaran suci Rasulullah dan Ahlulbaitnya. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini kami ingin menyampaikan beberapa pemikiran sebagai dasar dari pendirian organisasi Ahlulbait Indonesia.

Pertama, Ahlulbait Indonesia sepenuhnya yakin bahwa berbagai krisis yang kita hadapi bersama dewasa ini merupakan akibat langsung dari berlangsungnya secara sistematis segala bentuk penindasan, kesemena-menaan, eksploitasi, rasisme, fanatisme golongan, sektarianisme dan tindakan-tindakan anti kemanusiaan lainnya. Pancasila dan UUD 45 yang diinspirasi oleh ajaran al-Quran dan Sunnah Rasul dan Ahlulbaitnya yang suci mengajarkan kepada kita semua untuk bangkit dan berjuang menghapuskan segenap tindakan anti kemanusiaan itu demi memperbaiki manusia dalam aspek lahiriah dan batinnya, di dunia dan akhirat.

Kedua, Ahlulbait Indonesia percaya bahwa deklarasi organisasi hanyalah sebuah langkah awal menuju ribuan bahkan jutaan langkah dalam melayani rakyat Indonesia yang kita cintai ini. Untuk itu, Ahlulbait Indonesia berkeyakinan bahwa salah satu prasyarat bagi terwujudnya kemauan melayani rakyat adalah Persatuan Umat Islam dalam berbagai aspek yang membentuk mayoritas dari komponen bangsa ini. Oleh karena itu. Ahlulbait Indonesia harus berada pada garda terdepan bersama-sama dengan organisasi-organisasi Islam dan kemasyarakatan lainnya untuk mewujudkan dan memelihara persatuan Islam tersebut. Karena persatuan adalah prasyarat mutlak tumbuhnya kemampuan dan kekuatan melayani rakyat dan membela masyarakat yang tertindas.

Ketiga, Ahlulbait Indonesia percaya bahwa kebhinnekaan Indonesia adalah ciri yang melekat pada bangsa ini yang apabila mendapatkan perhatian dan pengelolalaan yang tepat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka akan menciptakan tatanan kehidupan yang indah dan mempesona. Untuk itu Ahlulbait Indoensia memandang bahwa kebhinnekaan tersebut adalah karunia besar dari Allah Swt yang wajib kita jaga dalam tatanan peradaban bangsa ini, karena didalamnya terkandung pesan kemanusiaan yang dapat menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Bahwa jati diri manusia yang Allah ciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan adalah prasyarat dalam meletakkan dasar-dasar pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Keempat, Ahlulbait Indonesia didirikan dengan penuh kesadaran dan kerandahan hati bahwa untuk dapat memberikan sumbangan hakiki bagi rakyat Indonesia, harus memulainya dari diri sendiri, maka itu, Ahlulbait Indonesia bertekad mewujudkan masyarakat Ahlulbait yang mandiri dalam bidang sosial, politik, budaya dan ekonomi dalam berbagai aspeknya. Ahlulbait Indonesia menyadari bahwa untuk mengantar rakyat Indonesia keluar dari kebangkrutan moral dan spiritual haruslah melepaskan diri dari kebiasaan mengurung diri, eksklusif dan sektarian. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini kami ingin menegaskan bahwa Ahlulbait Indonesia adalah bagian integral dari bangsa ini baik dalam kulturalnya maupun idiologinya dan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai budaya bangsa ini.

Saudara-saudara ku yang mulia.

Atas seluruh cita-cita tersebut, kami tentu berharap partisipasi dan dukungan dari berbagai kalangan baik pemerintah, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan hadirin sekalian untuk bahu membahu dalam menegakkan cita-cita para pejuang kemerdekaan bangsa ini.

Kami percaya bahwa Allah Swt, Rasul dan Ahlulbait yang suci akan meridhai langkah ini dan memberi kita semua taufik untuk mewujudkan harapan baik ini di bumi tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terima kasih, wal afwu minkum

Wassalamu ‘alaykum wr wb.

Ulama yang Menyimpang Lebih Buruk dari Tentara Yazid

 

Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya.

 

Ulama yang Menyimpang Lebih Buruk dari Tentara Yazid

Mukaddimah

Tema pembahasan kita sehubungan dengan tafsir tematik yang ketiga ini adalah tentang seorang ulama atau seorang alim yang membelot dari jalan haq. Tadinya si alim tersebut berada di jalan yang benar dan lurus sehingga melalui jalan itu ia sampai kepada posisi yang sangat terhormat dan tinggi di sisi Allah Swt. Tetapi sedikit demi sedikit ia terperosok dan tergelincir ke dalam perangkap setan. Di dalam ayat yang akan kita kupas nanti, Allah Swt mengumpamakan orang alim ini seperti anjing penjilat yang sangat terhina. Semoga kiranya kita dan segenap kaum muslimin dapat mengambil pelajaran yang berharga dari tafsir tematik di bawah ini.

Tema ini sengaja saya angkat, mengingat banyaknya ulama –sejak dahulu hingga sekarang- yang menjilat penguasa dan raja hanya untuk memperoleh dan mempertahankan kedudukan,  materi dan kenikmatan duniawi yang hanya sekejap saja. Sebagai contoh pada masa kita sekarang ini dan beritanya masih hangat misalnya, Mufti Saudi Arabia yang merupakan ulama mazhab Wahabi atau Salafi yang baru-baru ini teleh mengeluarkan fatwanya yang betul-betul menguntungkan musuh-musuh Islam dan muslimin. Fatwa provokasi seorang alim Wahabi/Salafi itu segera dijawab oleh seorang alim mazhab Ahlulbait As (Syiah Imamiyah) yang bernama Ayatullah Syekh Makarim Syirazi dengan penuh sopan dan bijak. Fatwa yang bersifat mengadu domba dan memecah belah barisan kaum muslimin yang hanya menguntungkan musuh-musuh Islam seperti ini yang dikelurkan oleh Mufti Wahabi, memang bukan yang pertama kali dikeluarkan. Para ulama Ahlulbait As, sejak dulu hingga sekarang, senantiasa mengajak mereka untuk berdialog secara terbuka dan mengajak mereka agar bersatu demi mempertahankan ajaran Islam yang murni dari berbagai serangan musuh-musuh Islam, tetapi ajakan yang disampaikan secara sopan itu tidak pernah mereka jawab[1].

Baiklah, sehubungan dengan tema di atas, yaitu ”Ulama Suu’ atau Ulama yang Menyimpang”, mari kita baca ayat Al-Qur’an al-Karim yang terdapat pada surat Al-A’raf, ayat: 175 – 177).

 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.   بسم الله الرحمن الرحيم.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim” (al-A`raf: 175, 176 & 177).

 

Sebab Turun Ayat

Terdapat pembahasan dan perdebatan di antara para mufassir tentang siapa orang alim yang dibicarakan dalam ayat tersebut. Mayoritas mereka meyakini bahwa ia adalah Bal`am bin Ba’ura; salah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah-ibadahnya ia telah mencapai posisi tinggi hingga mencapai standar predikat nama Allah yang agung dan doanya pun pasti dikabulkan. Ketika Musa as diutus sebagai nabi, ia terjangkiti rasa sombong. Diutusnya nabi Musa membuat Bal`am hasud kepadanya. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan-kebaikannya sedikit demi sedikit. Rasa hasudnya dari satu sisi dan kecintaannya pada dunia telah membuatnya mencari perlindungan kepada Fir`aun, penguasa pada masa itu, dan mendatangi istananya untuk menjadi pendukungnya. Maka hilanglah seluruh kebanggaan-kebanggaannya karena efek keburukannya. Al-Qur’an mengungkap kembali orang alim ini agar kita dan kaum muslimin dapat mengambil pelajaran darinya.

Sebagian mufassir lain meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Umayyah bin ash-Shalat, seorang penyair terkenal pada masa jahiliyah. Pada awalnya ia masuk Islam, namun kemudian ia berbalik dan menyimpang karena hasud kepada posisi kenabian Rasulullah Saw.

Sejumlah mufassir yang lain lagi meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Abu Amir an-Nashrânî, seorang pendeta Nasrani yang telah masuk Islam dan bergabung dengan orang-orang munafik. Kemudian ia pergi ke Roma untuk beraliansi dengan penguasanya, lalu kembali ke Madinah untuk memprovokasi orang-orang munafik dan membangun masjid ”Dhirar” yang terkenal itu.

Di antara ketiga pendapat ini, yang pertama adalah yang paling akurat, sementara dua lainnya terlalu jauh dari redaksi ayatnya: ”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami…, yang menunjukkan hubungan dengan kisah-kisah umat terdahulu[2]. 

Tafsir Ayat

Allah Swt berfirman: ”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab)”. Allah Swt meminta kepada Rasulullah Saw agar menceritakan kisah orang alim tersebut kepada para sahabatnya.

Maksud dari ayat-ayat tersebut ialah wejangan dan hukum-hukum Taurat. Sesungguhnya orang alim tersebut mengerti hukum-hukum Taurat dan wejangannya, dan juga mengamalkannya. Sebagian mufassir meyakini bahwa maksud ayat tersebut merujuk kepada nama agung. Untuk itu, Bal`am bin Ba’ura dikabukan doa-doanya, dan ia seseorang yang memiliki posisi terhormat dan agung di masyarakat.

 

Allah Swt berfirman: ”kemudian dia melepaskan diri (insalakha) dari pada ayat-ayat itu, lalu syaitan menjadikan dia mengikutinya (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat”. 

Kata ”salakh” berarti melepas kulit binatang. Karena itu ia dipakai untuk seseorang yang sedang menguliti kulit domba. Namun kata ”lalu dia diikuti” di sini mengandung dua makna;

Pertama, tabi`a dan lahiqa (mengikuti dan membuntuti). Yakni syetan menjadikan orang alim tersebut sebagai pengikutnya.

Kedua, kata kerja tersebut dipakai dalam makna biasanya, sekalipun ia berbentuk kata sulatsi mujarrad (kata kerja yang terdiri dari tiga huruf) sehingga maknanya menjadi bahwa setan mengikuti orang alim tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia lebih dahulu tersesat sebelum disesatkan oleh setan. Perumpamaannya seperi seseorang yang melakukan perbuatan yang sangat buruk dengan cara terbaru dan ia selalu melaknat setan atas perbuatannya ini, lalu muncullah setan kepadanya dan berkata; laknat itu atasmu, bukan atasku, karena menyesatkan memang sudah keahlianku. Saya tidak tahu sebelumnya tipe maksiatmu ini, bahkan engkaulah yang mengajariku cara seperti ini.

Atas dasar ini, ayat tersebut berarti bahwa Bal`am bin Ba’ura lepas dari ayat-ayat Allah, maka ayat-ayat tersebut kemudian melepaskannya. Sekalipun ia menguasai seluruhnya, namun ia melepaskannya dan mengikuti setan atau setan mengikutinya. Itulah akibat kesesatan dan keburukan sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat dan malang.

 

Allah Swt berfirman: ”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu”. Yakni seandainya Kami berkehendak menjadikan ia tetap berada pada jalan yang benar, maka tentu Kami bisa untuk itu, namun Kami tidak melakukannya agar ia berbuat sesuai dengan pilihan dan kehendaknya sendiri, karena dalam Islam yang berlaku adalah ikhtiyar (pilihan) dan bukan jabr. Allah swt berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir[3].

Allah Maha Kuasa untuk menjadikan seluruh amal ibadah seperti haji, puasa, dan shalat sebagai bagian dari tabiat-tabiat seseorang sebagaimana ia menjadikan makan dan minum. Namun Ia tidak mau melakukannya, bahkan menciptakan manusia bebas dan punya pilihan sehingga di sana terjadi proses hidayah, penyempurnaan, berkembang, ujian, pahala, siksa dan lain-lain sehingga ajaran-ajaran ini tidak kehilangan maknanya.

            Adapun di penghujungnya, ayat tersebut berarti; Kami tinggalkan Bal`am bin Ba’ura pada dirinya sendiri, namun orang alim yang menyimpang ini -yang lebih dahulu dan menjadi penyampai kuat bagi Musa as- mengikuti hawa nafsu dan keinginan yang tak pernah henti karena cinta dunia, hasud kepada Musa as, dan kepincut dengan janji-janji Fira`aun. Itu semua adalah efek dari terusir dari hamparan rabbani. Atas dasar ini, dua hal yang menjadi sebab kejatuhan Bal`am bin Ba’ura, yaitu; Pertama, kecintaan kepada dunia dan kecendrungan kepada Fira`un. Kedua, mengikuti hawa nafsu dan setan.

 

Allah Swt berfirman; ”maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)”.

Anjing biasanya terkenal memiliki peran besar dimana manusia mendapatkan manfaat darinya. Karena itu, dalam fiqh Islam memeliharanya diperkenankan. Hanya saja di samping kebaikannya itu, anjing terkadang gila dan selalu lahap. Inilah penyakit anjing-anjing. Penyakit yang menjadikannya selalu menjulurkan lidah dan bersuara memekik, mengeluarkan racun bakteri yang apabila mengenai manusia, ia akan mati, atau ia terkena penyakit anjing gila. Dalam kondisi seperti ini anjing sudah tidak lagi memiliki guna, dan karena itu tidak diperkenankan lagi memeliharanya karena dapat membahayangan jiwa orang lain.

Tanda-tanda penyakit ini pada anjing ialah ia selalu menjulurkan mulut dan menggerak-gerakkan lidahnya. Demikain itu agar berkurang rasa panas yang ia rasakan di dalam badannya. Gerakan lidahnya serupa dengan kipas angin yang berfungsi memasukkan udara ke dalam tubuh sehingga menjadi dingin. Di antara tanda lainnya ialah selalu kehausan. Alhasil, anjing seperti ini sangat berbahaya.

Al-Qur’an dengan perumpamaan yang cukup indah menyerupakan orang alim yang menyimpang ini (ulama suu’) dengan anjing yang tidak lagi memiliki nilai guna dan bahkan sangat berbahaya. Kecintaan kepada dunia, mengikuti hawa nafsu dan perasaan tidak pernah puas telah menggelincirkan orang alim tersebut hingga kehilangan pandangan dan penglihatan batinnya sehingga tidak lagi dapat membedakan antara kawan dan musuhnya.

 

Allah Swt berfirman: ”Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir[4]. 

Yakni ini benar-benar seperti sebuah komunitas masyarakat yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, maka ceritakanlah wahai Nabi kepada orang-orang, khususnya Yahudi dan Nashrani kisah-kisah ini agar mereka dapat mengambil pelajaran darinya, juga agar mereka mengetahui apabila berani mendustakan ayat-ayat Allah, maka nasib akhir mereka akan sama seperti nasib akhir Bal`am bin Ba’ura.

Pesan-pesan Ayat

Bahaya Ulama yang Menyimpang

Bal`am bin Ba’ura telah jatuh dari posisi mulia karena kecintaannya kepada dunia dan keikutsertaannya kepada setan. Kejatuhannya diumpamakan oleh Al-Qur’an dengan anjing liar yang tidak peduli kepada siapapun hingga ia nampak seperti gila. Kecintaan kepada dunia dan keikutsertaan kepada setan telah menjadikan seorang alim yang telah mendapatkan nama terhormat menjadi gila. Kegilaannya nampak dalam bentuk selalu haus dunia dan tidak pernah terpuaskan selamanya. Orang alim seperti ini membawa bahaya besar, dan di antaranya adalah sebagai berikut;

  1. Orang alim seperti ini benar-benar akan menjadi pembantu kezaliman, sebagaimana penjilat-penjilat para penguasa yang berkhidmat kepada para pelaku kezaliman di antara raja-raja dan penguasa. Yang jelas bahaya orang alim seperti ini tidak lebih sedikit dari bahaya kezaliman itu sendiri.

Para penguasa masa lalu berkeinginan menerapkan aturan khusus, maka ia meminta kepada para ulama negerinya untuk mengharmonikan kehendak Pembuat Syari`at (Allah Swt) dan syari`at versi kepentingannya. Maka seorang alim menjawabnya; sesungguhnya kehendak Sang Pembuat Syari`at adalah luas, dan urusannya bergantung kepada keputusan penguasa. Artinya ia dapat memberi jalan keluar atau justifikasi terhadap setiap keinginan penguasa. Memang benar ulama seperti ini memungkinkan untuk menjustifikasi kezaliman para penguasa.

Mereka adalah orang-orang yang menancapkan tonggak kezaliman. Mereka akan menepis setiap orang yang berusaha tidak setuju dengan kezaliman. Ulama-ulama seperti mereka leluasa pada masa pemerintahan Bani Umayyah memalsukan hadis-hadis Rasulullah Saw dan para imam As. Mereka pun menjilat beberapa penguasa zalim dari keturunan al-Ababs dan Bani Umayyah.

  1. Ulama-ulama seperti ini benar-benar dapat menghancurkan pondasi-pondasi akidah manusia. Sesungguhnya orang-orang awam apabila menyaksikan seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka keyakinan keagamaannya akan goncang. Bahkan mereka dapat saja menjadi ragu terhadap surga dan neraka, hari kiamat dan hisab. Mereka akan berkata kepada dirinya masing-masing; andaikan memang benar di sana ada hari kiamat, maka orang-orang alim itu tentu beramal untuk bekal hari itu. Atas dasar itu, apabila para penguasa menzalimi orang-orang atas dunia mereka, maka para ulama yang menyimpang itu menzalimi orang-orang atas akhiratnya.
  2. Seorang alim yang menyimpang akan menjerumuskan orang-orang melakukan dosa. Negara-negara yang bersebrangan dengan Islam telah mendirikan pada abad-abad terakhir -untuk merongrong Islam- sekelompok penyesat. Untuk memperkuat  kelompok boneka ini, mereka mendidik seorang alim gadungan yang dapat mengarang buku atau mengeluarkan fatwa yang berisikan propokasi perpecahan[5]. Ia pun menggunakan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an untuk tujuan perpecahan ini. Buku dan fatwa tersebut adalah buku dan fatwa menyesatkan karena dipersiapkan untuk memperbanyak perpecahan sebagai pengabdian kepada negara-negara pendirinya.

Dari sini, para pengajar ajaran-ajaran agama hendaknya memberitahu bahwa sebab penyimpangan ini adalah karena tidakadanya keikhlasan. Sejumlah pelajar tidak belajar hanya untuk Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan duniawi, seperti hawa nafsu dan kecintaan pada dunia. Dengan tujuan-tujuan inilah akhiratnya dihancurkan dan dirubah menjadi neraka Jahim.

Sekalipun seseorang telah mencapai sebuah posisi tinggi, maka hendaknya dia jangan terlebih dahulu merasa aman dari bisikan setan. Perasaan cukup aman ini adalah awal dari keterjerumusan dan penyimpangan. Ia hendaknya selalu berada antara harap dan takut. Takut dari hawa nafsu, merasakan tidak puas dan bisikan-bisikan setan, di samping berharap terhadap rahmat dan kelembutan Allah Swt. Dia Yang Paling Kasih di antara para pengasih.   

          

Ulama di Mata Imam Hasan al-Askari

Sang faqih besar, Syeh Anshari dalam bukunya Farâidul Ushûl, mengutip sebuah hadis indah sebagai tafsir agung dari Imam al-`Askari as atas ayat, “Di antara mereka adalah orang-orang buta aksara yang tidak mengerti al-Kitab…”.

Seseorang bertanya kepada as-Shadiq as: “Apabila mereka itu dari Yahudi dan Nashrani yang tidak mengenal al-Kitab kecuali dari apa yang mereka dengar saja, dan para pemuka agama mereka tidak memiliki jalan selainnya. Lalu bagaimana ketaklidan mereka kepada para ulamanya dikecam. Apakah orang-orang awam Yahudi sama seperti orang-orang awam kita yang mentaklidi ulama-ulama mereka? Apabila taklid kepada para ulamanya tidak diperkenankan kepada orang-orang awam mereka, maka demikian juga tidak diperkenankan kepada awam-awam kita.”

Beliau as berkata: “Di antara orang-orang alim dan ulama kami dan di antara orang-orang awam Yahudi dan Nashrani dengan ulamanya terdapat perbedaan dari satu sisi dan kesamaan di sisi lain. Sisi kesamaannya ialah bahwa Allah Swt mencela orang-orang awam kita bertaklid kepada ulama-ulama mereka, sebagaimana juga Ia mencela awam-awam Yahudi dan Nashrani mentaklidi ulama-ulama mereka. Adapun dari sisi perpecahan mereka tidaklah sama.”

            Ia bertanya: ”Jelaskan kepadaku, wahai putra Rasulullah!”

            Beliau berkata: ”Sesungguhnya awam-awam Yahudi telah mengetahui kebohongan ulama-ulamanya dengan jelas, mereka memakan harta haram, berbuat zalim, merubah hukum, dan lain-lain. Karena itu, Allah mengecam mereka atas ketaklidannya kepada orang yang mereka ketahui tidak layak untuk ditaklidi pandangan-pandangannya, tidak boleh membenarkannya dan tidak boleh beramal dengan ajaran yang sampai kepada mereka dari orang-orang yang tidak mereka saksikan. Mereka pun harus mengoreksi diri mereka tentang Rasulullah Saw.”

Demikian pula awam-awam umat kami. Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya. Maka barang siapa mendapatkan di antara para fuqaha orang yang paling menjaga dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa nafsunya, dan taat terhadap perintah Tuhannya, maka hendaklah bagi orang-orang awam mentaklidinya. Demikian itu berarti hanya kepada sebagian fuqaha Syi`ah saja, bukan semuanya.

Adapun mereka yang melakukan perbuatan buruk dan terbiasa bohong kepada kita, maka mereka sesat atau menyesatkan, dan mereka jauh lebih berbahaya kepada kelompok awam syi`ah kami dari tentara Yazid yang telah memerangi al-Husein bin Ali as[6].

Pertanyaan: Kenapa para ulama yang menyimpang jauh lebih buruk dari tentara-tentara Yazid? 

Jawab: Tentara Yazid menyatakan secara terang-terangan permusuhannya, sementara para ulama busuk (suu’) seperti serigala berbulu domba yang menghancurkan agama atas nama agama. Dan jelas bahaya mereka jauh lebih besar dari bahaya orang yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya.

Adapun yang dibanggakan oleh orang-orang Syi`ah ialah mereka pada masa silam telah menjadi pengikut para ulama dan marja’ yang padanya terkumpul sayarat-syarat kemuliaan seperti dicirikan para Imam As. Mereka pun selalu ada di bawah bimbingan dan kelembutan kasih mereka.    

            Tentu tidak diragukan lagi bahwa bertaklid kepada seorang ulama zuhud dan bijak tidak hanya tidak tercela, bahkan itu wajib sebagaimana diperkuat oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat Ahlulbait As[7].[]  

 


[1] . Doakan saya, semoga dalam waktu yang tidak lama, dapat menerjemahkan surat ajakan dialog tersebut yang ditulis oleh guru kami; Ayatullah Syekh Ja’far Subhani hf, insya Allah. Saya pikir, demi mencari dan membuktikan kebenaran, kiranya kaum muslimin dan khususnya para mahasiswa muslim, wajib mengkaji sejarah ajaran Wahabi yang kini telah terbongkar kedoknya, yaitu hubungan eratnya dengan Zionis Israel dan Amerika. Dan agar para pemuda muslim tidak tertipu dengan tampilan lahiriah mereka. Wallahu a’lam.

[2] Tidak diragukan lagi bahwa ayat tersebut dimaksudkan untuk siapa saja yang memiliki kriteria-kriteria yang disebutkan di dalamnya. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke kitab tafsir Al-Amtsal, jil. 5, pembahasan akhir ayat 175.

[3] QS. Al-Insan: 3.

[4] Bentuk teks ayat tersebut menunjukkan pada kisah-kisah masa silam, bukan masa Nabi Saw. Karena itu ayat tersebut ditujukkan untuk kisah Bal`am bin Ba’ura dan bukan untul selainnya.

[5] .Kini nampak semakin jelas bagi umat Islam, bahwa musuh-musuh Islam, seperti Zionis dan Amerika, tidak akan mampu menghancurkan Islam dan melepaskan akidah Islam dari kaum muslimin.Karena itu mereka mendidik dan membayar ulama suu’  untuk membuat perpecahan dan menyebarkan akidah rusak di kalangan kaum muslimin. Kerjasama dalam kezaliman ini nampak disambut baik oleh para ulama Wahabi atau Salafi. Dan kebanyakan para pemuda, ikhwan dan akhwat yang mengikuti gerakan Wahabi ini, lantaran mereka tidak memahami ajaran Wahabi yang sebenarnya dan karena informasi yang sampai kepada mereka seringkali diputarbalikkan. Sementara itu, mereka diharamkan untuk menelaah buku-buku yang melemahkan akidah Wahabi. Sekiranya para ikhwan dan akhwat itu mengetahui kejahatan Wahabi sesungguhnya, pasti mereka akan meninggalkannya. Dan sekiranya ajaran Wahabi atau Salafi itu haq dan mempunyai argumen yang kuat, pasti mereka terbuka untuk berdiskusi dan berdialog dengan ajaran-ajaran lain, bukan malah lari dan menghindar dari dialog terbuka. Ustadz Allamah Sayyid Kamal Haidari hf, setiap malam Jum’at di TV al-Kautsar, membedah habis kedangkalan akidah Wahabi dan selalu mengajak ulama mereka untuk berdialog secara terbuka di hadapan masyarakat muslim dunia. Tetapi hingga kini tidak seorang ulama pun dari mereka yang berani mauju ke depan. Jika Anda mempunyai Parabola, Anda pun bisa mengiktuinya. Salah satu tanda bahwa ajaran itu haq, ketika ajaran itu sangat terbuka dan para ulamanya senantiasa siap berdialog dan adu argumen.

[6] Farâidul Ushûl, jil. 58 dalam edisi satu jilid.

[7] .Fiqih Ahlulbait As membahas secara luas masalah taklid dan mewajibkan pengikutnya agar bertaklid kepada para mujtahid atau marja’ yang telah memenuhi syarat. Hal ini berbeda dengan pandangan Ahlusunnah. Masalah taklid dalam ajaran Ahlulbait As, bisa Anda rujuk pada situs ABNA tercinta ini.

Kembali Kepada Al Quran dan Ahlul Bait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.
Kembali Kepada Al Quran dan Ahlul Bait

Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia.

 
Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213).
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan.
Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.

 
Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa.

 
Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka.


Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan.

 
Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).

 

 
Petunjuk Umat

 
Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38).
Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.


Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52).
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64).

 
Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri.


Penyimpangan


Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.

 
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

 
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

 

Ismail Amin
Mahasiswa Mostafa International University
Islamic Republic of Iran

Sunni-Syiah Yakin Ahlul Bait Manusia-manusia Sempurna

“Sesuai dengan penjelasan dari Rasulullah saww, Al-Qur’an sebagai firman Allah dan manusia-manusia suci dari kalangan Ahlul Bait Nabi as adalah pada hakekatnya satu kesatuan. Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat. Riwayat dari Rasulullah mengenai hal ini terdapat dalam kitab-kitab Syiah dan Ahlus Sunnah, dan kedua mazhab besar ini mengakui keutamaan dan keistimewaan Ahlul Bait. Namun pihak musuh senantiasa ingin menimbulkan perpecahan antara dua mazhab besar Islam ini. “
Sunni-Syiah Yakin Ahlul Bait Manusia-manusia Sempurna

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli hari Rabu (31/5) dalam ceramahnya mengatakan, “Syiah dan Sunni adalah sesama kaum muslimin yang bersaudara, yang berpegang kepada aqidah Islam, Al-Qur’an dan Itrat. Namun Wahabi senantiasa menyebarkan fitnah, bahwa Syiah adalah orang-orang yang menyembah Ahlul Bait karena senantiasa bertabarruk dan memohon pertolongan dari mereka.”

Ulama yang juga pengajar di Hauzah Ilmiyah Qom ini mengungkapkan pemisalan dalam hal ini, “Tak seorangpun dari kita yang menyembah bulan dan matahari. Semuanya meyakini matahari dan bulan adalah makhluk ciptaan Allah swt. Namun kita mengambil ribuan keberkahan dan manfaat dari yang dipancarkan matahari dan bulan, kitapun senantiasa membutuhkan sinar dari matahari dan cahaya dari bulan untuk memudahkan aktivitas-aktivitas keduaniawian kita. Dan kalau kita mengambill keberkahan dan meminta pertolongan dari makhluk yang lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya dari matahari dan bulan, apakah itu juga termasuk syirik?”

Ulama tafsir Al-Qur’an ini lebih lanjut mengatakan, “Manusia yang sempurna lebih tinggi derajat dan kedudukannya dibanding matahari dan bulan, dan kita mengambil keberkahan dari wujudnya yang suci dan mulia. Tidak ada yang salah dengan hal ini, namun musuh-musuh Islam telah membuat sebuah firqah yang bernama Bahai dalam tubuh Syiah, dan membuat Wahabi dalam tubuh Ahlus Sunnah sehingga membuat keteraturan dalam dunia Islam ini menjadi goncang dan membingungkan banyak umat Islam.”

Dalam kelanjutan ceramahnya, Ayatullah Jawad Amuli melanjutkan, “Sesuai dengan penjelasan dari Rasulullah saww, Al-Qur’an sebagai firman Allah dan manusia-manusia suci dari kalangan Ahlul Bait Nabi as adalah pada hakekatnya satu kesatuan. Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat. Riwayat dari Rasulullah mengenai hal ini terdapat dalam kitab-kitab Syiah dan Ahlus Sunnah, dan kedua mazhab besar ini mengakui keutamaan dan keistimewaan Ahlul Bait. Namun pihak musuh senantiasa ingin menimbulkan perpecahan antara dua mazhab besar Islam ini. “

“Musuh Islam pada dasarnya tidak membedakan Sunni dan Syiah, mereka bukan hendak menghancurkan sunni atau syiah saja, melainkan Islam. AS, Israel dan sekutu-sekutunya melancarkan permusuhannya terhadap Islam. Buktinya bisa kita lihat pada tragedi kemanusiaan yang masih melanda Bahrain sampai saat ini. Mereka menghancurkan masjid-masjid yang menjadi tempat peribadatan kedua mazhab tersebut termasuk membakar Al-Qur’an, kitab suci umat Islam yang diagungkan dan diyakini oleh Sunni dan Syiah sebagai firman suci Allah swt.” Tegas beliau.

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Jawad Amuli mengingatkan bahwa musuh-musuh Islam pada hakekatnya bukanlah insan-insan yang beragama. Mereka hendak menghancurkan agama-agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Beliau mengungkapkan bahwa tugas pengikut-pengikut agama sekarang adalah mempelajari dan menguasai ajaran-ajaran agamanya dengan baik. Upaya pencarian agama yang benar dan sejati harus terus dilakukan. “Kalau keyakinan kita kepada agama rapuh dan ala kadarnya, maka kita tidak akan bisa menghentikan syubhat dan fitnah yang dilontarkan musuh-musuh agama. Semangat kesyahidan untuk mempertahankan dan membela agama, menjadi tidak memiliki arti dan keistimewaan apa-apa.” Tegas beliau.  

PEMUDA DALAM PANDANGAN IMAM KHOMEINI

Tidak diragukan lagi bahwa pemuda memiliki peran yang sangat peka dalam kehidupan masyarakat yang dihadapinya. Masyarakat yang kehilangan aktifitas pemudanya disebut masyarakat yang mati. Untuk itu Imam Khomeini qs sangat menekankan peran pemuda, dan memfokuskan pada penggunaan usia muda yang sangat berharga di masa mudanya dalam kehidupan manusia.

Masa muda
Tidak diragukan lagi bahwa pemuda memiliki peran yang sangat peka dalam kehidupan masyarakat yang dihadapinya. Masyarakat yang kehilangan aktifitas pemudanya disebut masyarakat yang mati. Untuk itu Imam Khomeini qs sangat menekankan peran pemuda, dan memfokuskan pada penggunaan usia muda yang sangat berharga di masa mudanya dalam kehidupan manusia.

Penggunaan usia muda.

Bermula dari kefahaman pemuda terhadap pentingnya masa ini dalam usia manusia dan perannya yang sangat besar dalam membina kepribadian manusia serta membentuk masyarakat pada umumnya. Imam mengatakan: “Kalian sekarang, dengan nikmat yang ada, pada kalian ada nikmat kepemudaan, maka ketahuilah kadarnya, dan jangan sia siakan nikmat ini”.

Beliau berkata :”Saya menasehati pemuda di negaraku, mereka adalah modal dan logistik Ilahiyah yang besar, bunga yang semerbak wangi dan potensi dunia Islam. Ketahuilah kadar dan harga masa yang manis dalam hidup kalian ini. Persiapkan diri kalian untuk perjuang besar secara ilmiyah dan amaliyah sehingga dapat mencapai tujuan Ravolusi Islam yang tinggi”.

Penggunaan Usia Pemuda pada bidang yang beragam;

Bidang Ilmu

“Wajib bagi kalian sejak sekarang ketika masih muda untuk menuntut dasar ilmu, dasar fiqhiyah, ketika masa (muda) itulah. Pada akhir waktu (usia tua) dari menuntut ilmu nanti, dia akan memberikan hasil dan buah, ketika itulah kalian dapat menggunakannya. Tapi kalau kalian lalai dan tidak menggunakan nikmat ini, maka pastilah kalian gagal setelahnya”.

Beliau berkata: “Hidup dialam ini sekarang, adalah hidup di madrasah iradah, kebahagiaan dan kegembiraan yaitu manusia terikat dengan kemampuan manusia itu sendiri. Apa bila hendak mulia dan bangga maka wajib menggunakan pemuda. Bergeraklah dengan kemampuan dan tekad kalian menuju ilmu dan amal, untu mendapatkan ilmu dan ma’rifah. Hidup dengan ilmu dan ma’rifah -sampai batas tertentu- merupakan hidup yang menyenangkan. Tenang dengan kitab, pena dan bahan yang penuh pengetahuan, dan bahagia sampai pada waktunya…” .

Dalam ibadah

“Ketika masa muda berjalan, janganlah berfikir bahwa kalian akan meninggalkan ibadah dan kemudian mendapatkannya diakhir umur, diakhir umur orang tidak dapat beribadah, tidak dapat mencarinya, tidak juga memiliki kemampuan berfikir yang kuat untuk dapat menangkap suatu hal”.

Dalam perbaikan diri

“Wahai pemuda, wajib bagi kalian untuk memulai sejak sekarang jihad kearah ini, jangan biarkan kekuatan pemuda hilang dari tangan kalian, sebanyak apa kekuatan pemuda hilang dari tangan manusia, semangkin banyak halangan ahlaq fasad padanya, sehingga jihad akan bertambah susah”.

“Wahai pemuda siapkan dirimu untuk berjihadlah sejak sekarang, dalam rangka membentuk diri; mulailah sejak masa ini sehingga terbentuklah pribadi yang dapat mengabdi kepada negaranya. Apa bila kalian membina diri kalian sendiri, maka kalian pulalah yang akan memetik hasil insaniyah dalam diri kalian. Pada masa itulah kalian akan menang disetiap bidang”.

Pengaruh Pemuda.

Usia pemuda sangat berpengaruh pada kehidupan manusia, aktifitasnya sangat berpengaruh pada masyarakat dan dengan tegarnya mereka menghadapi mara bahaya dan ancaman;

Imam Khomeini qs mengatakan:”Kami juga menhadapi pemuda yang keluar jalur, mereka diarahkan kepusat pusat pendidikan dan pelatihan untuk dapat mencegah penyelewengan anak anak kita (semoga Allah menjauhkan) tunduk dengan budaya barat dan timur. Karena banyak masyarakat yang dalam semua aspeknya tunduk kepada budaya timur atau barat. Akan sirnalah semua usaha kita, tujuan umat, darah pemuda kita dan juga menjadikan duka disepanjang masa”.

“Pemuda yang sudah terkorban oleh program musuh sehingga menjadi fasad dan terpolusi (akalnnya) memiliki hak untuk dengan cepat dirubah dan dicerahkan lagi (akalnya), menjadi insan Islami. Sekalipun nanti tidak berhasil dengan baik apa yang sudah diusahakan dengan maksimal akan berbenturanlah kekautan yang besar ini dengan kekuatan syaitan ini”.

“Terdapat juga pemuda yang komitmen sepanjang sejarah terutama dalam masyarakat muslim dizaman ini begitu juga masa akan datang. Merekalah yang mampu dengan disiplin, senjata , ketabahan dan sabar mereka untuk menjadi bahtera penyelamat bagi umat Islam dan negaranya. Mereka yang mulialah yang menjadikan merdeka, bebas, meninggikan dan memuliakan bangsa dengan perjuangannya”.

“Kita berhutang budi pada perjuangan dan kemuliaan kalian, semua pemuda Iran berhutang budi kepada para pemuda yang membawa Raevolusi dengan kekuatan tekatnya hingga sampai disini, hingga kini mereka selalu siap siaga……mereka lah yang telah menghantarkan kalian sampai di ketinggian ini. Kalau bukan karena mereka sayapun tidak akan berada disini, tidak juga kalian dan tidak mereka”.

Peran pemuda

Imam Khomeini qs mengatakan:”Kalian lah wahai pemuda yang dapat dengan melakukan segala aktifitas. Kalaian para pemuda dimanapun berada, wajib memikirkan masa depan kalian. Merupakan satu hal yang lazim, untuk maju kedepan dengan dua kekhususan: tawakal kepada Allah dan percaya diri. Maka akan kalian lihat dalam waktu yang singkat dimana jalan kebahagiaan telah terbuka bagi kalian”.

Apa apa yang menjadi peran utama dan tujuan pemuda yang mana mungkin dicapainya dengan aktifitas dan kemampuan yang diberikan Allah kepada mereka, dapat difokuskan dalam:

Peningkatan Intelektual

Sesungguhnya intelektual merupakan kepentingan mendasar yang harus dimiliki pemuda, intelek disemua bidang. Kemudian intelek yang berhubungan dengan masyarakat Islami itu sendiri.Imam Khomeini qs berkata: ” Usaha merupakan aktifitas pada masa muda sebelum sampai masa lesu dan lemah dihari tua, sehingga pemuda haruslah bangkit dengan menggunakan semua fasilitas/sarana yang mungkin; dengan syair, tulisan, khutbah , buku atau apapun yang dapat meningkatkan intelektual masyarakat dan juga termasuk kumpulan yang khusus. Dan jangan lalai dengan kewajiban ini”.

“Mengarahkan pandangan pemuda kepada pengetahuan dan pemahaman bentuk Islam yang sebenarnya akan membentuk kemampuan. Tugas kita hari ini, yang lebih utama dari yang manapun adalah menggagalkan rancangan program asing dan kaki tangan penjajah yang sudah berjalan selama itu. Wahai genarasi muda, kewajiban kalian adalah memutus budaya keberat baratan. Umumkan, hilangkan pemerintahan mereka dari kehidupan manusia, hilangkan antek antek mereka dari masyarakat. Beritakan kepada dunia secara umum dan muslimin khususnya tentang Negara Islam dan aturlah barisanmu !”.

Begitu untuk membongkar dan menghadapi rencana dan makar musuh. Imam Khomeini qs mengatakan :”Wahai pemuda yang memiliki hati yang bersih, kalian bertanggung jawab untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sedapat mugkin, dengan jalan apapun. Selesaikanlah semua permasalahan untuk negara, naikkan bendera keadilan agama Islam”.

Adanya penjelasan tentang pengetahuan dari masyarakat lain dengan Islam yang benar; Imam mengatakan :”Wahai pemuda Islam yang mulia dan aktifis muslimin. Merupakan kelaziaman bagi kalian untuk meningkatkan pengetahuan rakyat, dan hancurkan makar penjajah yang keji dan jahat. Berusahalah memperlajari Islam dengan baik, belajarlah al Quran dengan betul dan beramalah dengannya. Dengarkan dengan ikhlash pelajaran dan tabligh Islam dari umat yang lain, untuk memajukan umat islam yang besar”.

Pertahanan Islam

Islam merupakan jalan yang benar, merupakan keberlangsungan aktifitas orang shalihin, shadiqin dan mustadha’afin (orang orang yang tertindas). Pada masa yang sama, dia merupakan ancaman bagi penjajah, penindas dan penyeleweng. Maka dia akan menjadi target berterusan dari sarangan thaghut yang berusaha untuk menjatuhkan wajah keadilan juga untuk memastikan bertambah dan berkuasanya kedhaliman. Maka merupakan tanggung jawab pemuda untuk mempertahankan Islam dalam menghadapi setiap ancaman yang ada.
Imam Khomeini qs berkata :”Mahasiswa, pedagang, petani dan semua unsure masyarakat. Semua kekuatan yang diberikan Allah kepada kalian wajib di- infaq-an kejalan ridhaNya. Kalian yangmemilki kekuatan pemuda yang besar akan dapat menghantarkan Islam ke negara kalian ke tempat yang paling tinggi dan mulia. Putuskan tangan penjahat dari negara Islam dan negara kalian”

” Rasa tanggung jawab pada generasi pemuda, dans emangatnya untuk mempertahankan Islam dan perkembangan Quran merupakan tempat kekuatan dan aktifitas”.

“Wahai para pemuda yang mulia, kewajiban bagi kalian untuk menjaga dan mempetahankan Islam, agama Islam, agama yang benar, sebagai satu ketaatan yang besar. Sejak permulaan dunia hingga kini, ambiya dan auliya’ silih berganti dengan usaha kerasnya dijalan ini, tidak terhentikan oleh semua rintangan”.

Pertahanan negara dan ummat.

Tambahan dari difa’ untuk agama sebagai satu tugas sya’i (agama) dan kefahaman…ada pula tanah,perihal, kepentingan dan keamanan…yang harus dipetahankan juga sehingga tidah menjadi makanan dari mereka yang tamak.
Imam Khomeini qs berkata:”Terdapat juga pemuda yang komitmen sepanjang sejarah terutama dalam generasi dizaman ini begitu juga masa akan datang. Merekalah yang mampu dengan disiplin, senjata , ketabahan dan sabar mereka untuk menjadi bahtera penyelamat bagi umat Islam an negaranya. Mereka yang mulialah yang menjadikan merdeka, bebas, meninggikan dan memuliakan bangsa dengan perjuangannya”.

“Ummat wajib berterima kasih kepada kalian wahai pemuda diseluruh negeri yang menciptakan keamanan di dalam negeri… selama kalian sebagai pemuda yang bergerak maju dari dasar umat yang besar dengan semangat dan kecintaan ini, maka tidak akan terjadi ancaman bahaya kepada negara Islam”.

Pengabdian masyarakat

Sesungguhnya masyarakat memerlukan uluran tangan dari mereka yang dapat memberikannya. Sementara program pemerintah tidak akan mencukupi untuk kesemua bidang. Maka pemudalah yang paling tepat untuk dapat berhidmat kepada masyarakat dan mengisi kekosongan tersebut:”Imam Khomeini qs berkata: “Bagi semua pemuda berkewajiban untuk menjaga semua, mencegah kefasadan yang dilakukan oleh munafqin. Menjaga apa apa yang telah dihasilkan oleh masyakarat dengan jerih payahnya. Menjaga tanaman (kebun/lading/sawah) yang telah digarap oleh masyarakat. Jagalah segala sesuatu di bahumu, dan janganlah tergantung dengan negara saja. Jangan hanya tergantung pada kekuatan angkatan bersenjata saja karena mereka pun sibuk. Kalianpun haruslah melakukan pengabdian, meletakkan tangan kita satu diatas yang lain, mengabdi kepada Islam dan muslimin”

Jihad

Sesungguhnya jihad merupakan pintu khusus dari auliya’ Allah yang merupakan sebab daripada kemuliaan dan kemenangan ummat. Pelaku yang paling utama adalah pemuda juga. Dengan keseriusan dan usaha kerasnya mereka akan tercapailah kepentingan ummat dan kemenangan Islam.

Imam Khomeini qs berkata : “Sesungguhnya ummat yang pemudanya shalat malam di medan perang, berjihad di jalan Allah akan merasakan kemuliaan dan kebanggan dengan jihad ini. Mereka tidak pernah meminta untuk libur dan istirahat, menghabiskan waktu. siang dan malam ditempat yang panas tampa air, dalam keadan itupun mereka maju kedepan…..siapa yang akan dapat menghadapi umat ini..?

“Wahai pemuda yang kumuliakan, bawalah Quran disatu tangan dan senjata ditangan yang lain, pertahankan kemuliaan dan harga diri kalian sehingga mereka tidak akan berfikir lagi untuk dapat menguasai kalian. Bersikap penuh kasih sayanglah terhadap saudaramu, jangan sia siakan pengorbanan mereka pada mu. Fahami apa yang ada didunia sekarang ini yaitu dunia mustath’afin (ketertindasan), dengan cepat dan segera mereka akan menang, Mereka adalah pewaris dunia dan dan memerintah dengan perintah Allah”.

“Kita harus bertindak untuk membentuk pemuda kita seperti sejak permulaan, pergi ke medan perang untuk memperjuangkan kemenangan Islam. Mengeluarkan Islam dari cengkraman adikuasa dan pemikiran menyeleweng yang ada di negara negara Islam”.[IslamMuhammadi/IslamTimes/R] (IRIB)