Monthly Archives: September 2011

Ini Dia Bukti Pengkhianatan Raja Saudi Atas Bangsa Palestina

Sebuah dokumen rahasia terungkap mengenai hubungan pendiri kerajaan Arab Saudi dengan Inggris dan pendapat mereka tentnag pembentukan negara Israel.

Fars News hari ini (Rabu, 28/9) melaporkan, beberapa waktu lalu, terkuak dokumen rahasia bersejarah yang mencantumkan pengkhidmatan Raja Abdul Aziz, pendiri kerajaan Arab Saudi, terhadap pemerintah Inggris dan pengkhianatannya terhadap bangsa Palestina.

Dalam dokumen yang untuk pertama kalinya dipublikasikan oleh majalah al-Arabi terbitan Kuwait pada bulan Shawal 1329 Hijriah atau bertepatan pada tahun 1972, Raja Abdul Aziz dengan tulisan tangannya menyatakan, “Saya Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Faisal al-Saud, beribu-ribu kali menyatakan kepada perwakilan Britania, Sir Percy Cox, bahwa saya tidak ada masalah dengan pemberian [wilayah] Palestina kepada kaum Yahudi yang terlantar atau bahkan kepada non-Yahudi dan dalam hal ini saya tidak akan melanggar persetujuan saya sampai hari kiamat.”
(IRIB/MZ)


_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Dokumen Ekspos Pendiri Saudi Yakinkan Inggris untuk Dirikan Negara Yahudi

Artikel pernah dimuat oleh eramuslim.com tetapi entah kenapa sekarang sudah dihapus.

Sebuah dokumen kuno mengungkapkan bagaimana Sultan Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi meyakinkan Inggris untuk menciptakan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina, sebuah laporan berita mengatakan.

Dokumen, mengekspos komitmen mendalam dari Raja Saudi pertama dengan Inggris dan memberikan jaminan kepada pemerintah Inggris untuk memberikan Palestina kepada Yahudi.

Dokumen kontroversial, yang ditulis sebagai pemberitahuan untuk kemudian didelegasikan kepada Mayor Inggris Jenderal Sir Percy Cox Zachariah, merupakan bukti lain dari pendekatan bermusuhan keluarga kerajaan Saudi untuk bangsa Palestina.

“Saya Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud al-Faisal dan Saya mengalah dan mengakui seribu kali untuk Sir Percy Cox, utusan Inggris, bahwa saya tidak keberatan untuk memberikan Palestina kepada Yahudi miskin atau bahkan untuk non- Yahudi, dan saya tidak akan pernah melanggar perintah Inggris,” tulis isi dokumen kuno yang konon ditandatangani oleh Raja Abdul Aziz tersebut.

Catatan ini juga mengekspos bagaimana kerajaan Saudi menunjukkan kesetiaannya kepada pemerintah Inggris.

Inggris menggunakan atase penting mereka untuk Arab Saudi pada tahun 1930, kedua negara pada masa itu saling berhubungan erat.

Kekuasaan keluarga Al Saud menambahkan pentingnya Arab Saudi untuk Inggris, sebagaimana Inggris percaya kepada Ibnu Suud bisa sangat mempengaruhi negara-negara Arab.

Kebenaran dokumen ‘kuno’ ini belum ada konfirmasi kebenarannya. Bisa jadi benar bahkan bisa jadi salah. Namun hubungan keluarga pendiri Saudi dengan Inggris secara fakta memang sudah terjalin dari dulu.(fq/prtv/eramuslim)

Di Tehran, Presiden PDK Sebut Pidato Rahbar Umumkan Perang

Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Ir. Sayuti Asyathri, menghadiri Konferensi Kebangkitan Islam Pertama yang digelar di Tehran selama dua hari, Sabtu (17/9/2011) dan Ahad (18/92011). Konferensi dihadiri para tokoh politik dan ulama pergerakan dari 80 negara dunia.

Wartawan IRIB, Ahad malam (18/9/2011), berhasil menemui Sayuti di Hotel Evin, Tehran. Ir Sayuti yang baru pertama kali berkunjung ke Iran, merasa terhormat dapat menghadiri Konferensi Kebangkitan Islam yang digelar untuk pertama kalinya. Sayuti kepada wartawan IRIB mengatakan, “Ini adalah konferensi yang luar biasa sekali di tengah gejolak dunia, khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara.”

Ketika mengomentari pidato pembukaan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei, Presiden PDK mengatakan, “Pidato Ayatollah Ali Khamenei dalam acara pembukaan konferensi sama halnya mengumumkan perang kepada dunia.” Dijelaskannya, Pemimpin Besar Iran secara jelas memberikan garis yang jelas dan mengingatkan kepada ummat Islam dan masyarakat independen supaya jangan percaya terhadap Pakta Pertahanan Atalantik Utara (NATO).

“Biasanya, Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato-pidatonya hanya mengecam AS dan Zionis Israel. Namun kali ini, beliau menyebutkan negara-negara lain seperti Inggris, Perancis dan Italia. Ini sama halnya dengan penentuan front, ” kata Presiden PDK, Ir Sayuti Asyathri.

Suyuti juga menambahkan, “Dalam pidato Ayatollah Ali Khamenei ditekankan soal dignity atau martabat.” Menurut Sayuti dalam ulasannya, dignity dapat dijadikan sebagai tolok ukur kemungkinan kebangkitan rakyat. Ketika dignity semakin rendah, maka kemungkinan kebangkitan rakyat semakin besar.

Lebih lannjut Sayuti menjelaskan, “Penyelenggaraan Konferensi Kebangkitan Islam merupakan ide cemerlang Republik Islam Iran. Dengan cara ini, Iran menawarkan pendekatan struktural kepada masyarakat yang bangkit.”

Ketika menjelaskan makna kebangkitan, Ir Sayuti mengulas, “Kebangkitan itu bisa diartikan dalam tiga tingkat. Pertama, tingkat civil society. Kedua, political society. Ketiga, state society. Kebangkitan di Timur Tengah dan Afrika Utara baru berada di tingkat civil society. Sedangkan Iran dengan Revolusi Islam-nya sudah mampu melewati tiga tahap itu dan sekarang berada dalam tingkat state society yang berhadapan langsung dengan arogansi dunia.” Menurut Suyuti, Iran sengaja menggelar konferensi ini untuk menarik kebangkitan di Timur Tengah dan Afrika Utara ke level berikutnya. (IRIB/AR)

Sumber : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=36307
_____________________________________________________________________________________________________________

Wawancara Presiden PDK : Iran Kehendaki “Perubahan Natural” di Indonesia

Tehran belum lama ini menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pertama Kebangkitan Islam. Lebih dari 600 cendekiawan, akademisi dan peneliti menghadiri konferensi yang dibuka langsung oleh Pemimpin Spritual Republik Islam Iran, Ayatollah Sayid Ali Khamenei dan ditutup oleh Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Konferensi yang digelar selama dua hari dari Sabtu (17/9/2011) hingga Ahad (18/9/2011), berusaha melakukan pendekatan struktural untuk mengatasi kendala Kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Di Hotel Evin yang terletak di pusat ibukota Iran, Tehran, wartawan IRIB berhasil menemui dan mewawancarai tamu asal Indonesia yang diundang secara khusus untuk menghadiri Konferensi Internasioanal Pertama Kebangkitan Islam. Tamu itu adalah Presiden Patai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Ir. Sayuti Asyathri.

Pada acara pembukaan Konferensi Kebangkitan Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al Udzma Sayid Ali Khamenei, menyampaikan pesan tertulis yang dibacakan langsung oleh beliau sendiri. Bagaimana pendapat Anda terkait isi pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran?

Semangat kebangkitan dibimbing dan dikawal (guided and guarded) oleh Pemimpin Spritual Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah formulasi pendekatan struktural yang meniscayakan terjadinya transformasi dari dinamika yang ada pada tataran nilai-nilai etika dan moral menuju pencapaian tujuan dan cita-cita kebangkitan Islam.

Cita-cita luhur yang ditegaskan dalam konferensi tersebut adalah menemukan kembali identitas Islam dan meneguhkan martabat manusia dan kemanusiaan. Saya sangat terkesan dan terharu dengan perang Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagao seorang pemimpin spritual yang menjadi rujukan utama bukan hanya bagi muslimin di iran, tapi bahkan dunia pada umumnya. Sayid Ali Khamenei bukan hanya memberikan nasehat pada tataran moral dan etika dalam memaknai tujuan konferensi. Akan tetapi beliau juga mengawal dan membimbing konferensi tersebut dengan analisa, peringatan dan solusi untuk menghadapi problema Kebangkitan Islam di Afrika dan Timur Tengah, serta dunia pada umumnya.

Dari pidato yang disampaikan terlihat bahwa langkah tersebut dilakukan karena kepeduliannya untuk melihat bahwa perlu dan harus ada akuntabilitas proses dalam perwujudan cita-cita luhur. Ayatollah Ali Khamenei menekankan bahwa cita-cita luhur yang dimaksud hanya bisa dicapai dengan menjaga persatuan dan kesatuan, serta senantiasa menghindari konflik sektarian. Selain itu, Ayatollah Ali Khamenei juga mewaspadai kemungkinan dibajaknya gerakan kebangkitan oleh kekuatan arogan untuk mencegah tercapainya cita-cita sejati, yakni kebangkitan yang berkhidmat pada penegakan martabat manusia dan kemanusiaan.

Kemudian bagaimana tanggapan Anda mengenai pidato penutupan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dalam acara penutupan Konferensi Kebangkitan Islam?

Sedangkan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, lebih spesifik menegaskan bahwa pencapaian tersebut dapat dicapai dengan apa yang disebut dengan “Global Governance.”

Global Governance yang dimaksud adalah satu tata pengaturan pemerintahan dunia yang menjadikan penghormatan kepada manusia dan kemanusiaan sebagai sendi utama dalam system peradaban. Dengan pidato Ahmadinejad terlihat bahwa Iran sungguh-sungguh ingin bekerja pada tataran pelaksanaan untuk meralisasikan semua pikiran yang berkembang dalam konferensi yang disampaikan oleh seluruh peserta dari kalangan cendekiawan, akademisi dan peneliti.

Artinya bahwa Konferensi Kebangkitan Islam telah berhasil mencapai kesepakatan pada wilayah nilai-nilai luhur, yairu membela dignity manusia dan kemanusiaan dengan menghargai perbedaan agama dan keyakinan dalam proses pelaksanaannya.

Apa kaitannya dengan Indonesia?

Bagi Indonesia, hasil-hasil konferensi tersebut telah memberi penguatan terhadap perlunya satu bentuk perubahan yang berlangsung secara natural sesuai dengan kondisi negara masing-masing tanpa intervensi negara lain. Perubahan natural itu harus menjunjung tinggi prinsip terwujudnya suatu tatanan yang adil, damai, harmoni, bermartabat dan berkhidmat pada manusia dan kemanusiaan tanpa mempertentangkan perbedaan keyakinan dan nilai nasional negara masing-masing.

Lebih dari itu, hasil Konferensi Internasional Pertama Kebangkitan Islam di Tehran sangat sesuai dengan amanat pembukaan undang-undang dasar negara Republik Indonesia1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Peneguhan martabat sebuah bangsa juga dilakukan dengan memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, komunitas muslimin internasional sudah waktunya, mengerahkan seluruh energi dan sumber daya untuk fokus mengambil langkah-langkah konkrit dan praktis untuk mencapai cita-cita luhur sebagaimana yang tertuang dalam pesan konferensi.

Kesimpulan Anda tentang hasil Konferensi Kebangkitan Isam?

Persatuan dan kesatuan yang harus dilakukan dengan menghindari konflik-konflik sektarian dan berbagai jenis konflik yang tidak produktif, bukan lagi hanya pada domain dan tataran himbauan etika dan moral. Tetapi persatuan dan kesatuan merupakan sebuah keniscayaan dan kebutuhan yang bersifat struktural untuk perwujudan cita-cita luhur negara bangsa dan sebuah tatanan dunia yang adil dan bermartabat. (IRIB/AR)

BAHAYA KELOMPOK RADIKAL SALAFI WAHABI YANG BERKEDOK SEBAGAI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH…WASPADALAH !

K.H.Said Agil Siradj Ketua Umum PBNU, mengungkapkan bahwa kemunculan Salafi Wahabi di abad ke-18 M meskipun tidak termasuk ke dalam golongan Khawarij, tetapi antara keduanya, ada beberapa kesamaan. Kelompok Wahabi, seperti hendak mengulangi sejarah kekejaman kaum Khawarij, yang muncul jauh sebelumnya pada tahun ke-37 Hijriah, tatkala melakukan pembongkaran tempat-tempat bersejarah Islam dengan dalih memerangi kemusyrikan. Tak cukup dengan tindakan itu, mereka bahkan tak segan untuk membantai terhadap sesama umat muslim sendiri, bahkan para ulama yang tidak sejalan dengan pemikiran (sempit) mereka.

Seperti yang mereka lakukan tatkala menyerang kota Thaif, Uyainah, Ahsaa, bahkan Makkah dan Madinah, juga tak luput dari sasaran keganasan mereka. Sayid Ja’far Al-Barzanji dalam salah satu bukunya menuturkan, ketika Wahabi menguasai Madinah, mereka merusak rumah Nabi saw, menghancurkan kubah para sahabat, dan setelah melakukan perusakan tersebut mereka meninggalkan Kota Madinah.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ekstrim tersebut secara langsung telah mencoreng nama Islam dan berlanjut hingga detik ini. Islam adalah agama yang sempurna dan tidak mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77). Kelompok eksrtrim ini selalu melakukan tindakan terror baik secara pshikis maupun secara fisik, Tindakan terror dan anarkhisme mereka yg paling ringan adalah berupa teror secara halus berupa penyesatan opini dan pemutar-balikan fakta sejarah yakni berupa takfir (pengkafiran), tasyrik (pemusyrikan), tabdi’ (pembid’ahan) dan tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama dan umat. Apa yang dipaparkan ini, tentang sejarah tindakan ‘merusak’ yang dilakukan oleh kelompok Salafi Wahabi ini tidak boleh kita lupakan dan mesti kita waspadai.

Lantas siapakah sebenarnya kelompok Salafi Wahabi yang dimaksud ? bahwa nama wahabiyah ini dinisbatkan kepada Muhammad ibnu Abdul Wahab, yang lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Adapun kata Salafi, berasal dari kata as-salaf yang secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Adapun secara terminologis, as-salaf adalah generasi yang dimulai dari para sahabat, tabi’in dan tabi’at tabi’in. Mereka adalah generasi yang disebut Nabi Saw sebagai generasi terbaik. Adapun makna al-Salaf yang dimaksud di sini adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah saw dalam haditsnya: .Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka(HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits ini, maka yang dimaksud dengan al-Salaf adalah para sahabat Nabi saw, kemudian tabi’in, lalu atba al-tabi.in. Karena itu, ketiga kurun ini kemudian dikenal juga dengan sebutan al-Qurun al-Mufadhdhalah (kurun-kurun yang mendapatkan keutamaan).Sebagian ulama kemudian menambahkan label al-Shalih (menjadi al- Salaf al-Shalih) untuk memberikan karakter pembeda dengan pendahulu kita yang lain.Sehingga seorang salafi berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.

Sampai di sini nampak jelas bahwa sebenarnya tidak masalah yang berarti dengan paham Salafiyah ini, karena pada dasarnya setiap muslim akan mengakui legalitas kedudukan para sahabat Nabi saw dan dua generasi terbaik umat Islam sesudahnya itu; tabi.in dan atba. al-tabi.in. Atau dengan kata lain seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian dalam dirinya meskipun ia tidak pernah menggembar-gemborkan pengakuan bahwa ia seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak para al-Salaf al-Shalih, dan .menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering berhenti pada taraf pengakuan belaka.

Ala kulli hal, penggunaan istilah Salafi ini secara khusus mengarah dan berkembang pada kelompok gerakan Islam tertentu dengan paradigma ekstrim. Mereka memiliki beberapa ide dan karakter yang khas yang kemudian membedakannya dengan gerakan Pembaharuan Islam lainnya dan mereka dikenal dengan sebutan salafiyyin orang-orang yg bermanhaj salaf / salafus sholeh.

Namun demikian, penggunaan istilah Salafi tersebut oleh sebagian kelompok Islam tertentu dijadikan propaganda. Mereka melakukan klaim dan mengaku sebagai satu-satunya kelompok salaf. Hanya golongan mereka sajalah yg benar mereka bersembunyi dibalik slogan kembali kpd al-Qur’an dan Sunnah dan klaim hanya merekalah golongan Ahlussunnah wal Jamaah yaitu al-Firqatun Najiyah (Gol.yg selamat hanya salafi wahabi ekstrim saja,red). Ironisnya, mereka kemudian menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang amalannya ‘tidak sesuai’ dengan paham yang mereka anut. Mereka menganggap sesat terhadap umat muslim lain, yang dianggap melakukan perbuatan bid’ah, semisal ziarah kubur, tahlilan, tawassul, MaulidirRasul yang mereka tuduh sebagai perbuatan syirik.

Faktor lain yang mendasari tindakan ekstrim mereka, diantaranya juga karena pemahaman mereka yang kaku dalam memahami teks-teks agama (tekstual), sehingga cenderung terjerumus dalam memahaminya. Misalnya, mereka sangat kaku dalam memahami perintah-perintah Rasulullah saw. Paradigma ini yang kemudian menyebabkan mereka dengan mudahnya menyalahkan dan mengkafirkan umat muslim lain.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar, semestinya memberikan perhatian tegas dan serius dalam upaya untuk mencegah dan menghentikan pengaruh pemahaman yang dapat mengarah pada tindakan terorisme dan eksklusivisme semacam ini, yang pada akhirnya dapat mengancam persatuan umat dan NKRI.

Dengan pemaparan dan pemahaman singkat ini dapat memberikan informasi yang cukup, sehingga dapat mengetahui bahaya pengaruh serta mengetahui ciri paham ekstrim. Sedangkan bagi para “Simpatisan Salafi Wahabi”, pemaparan ini juga dapat menjadi sumber informasi yang jelas, sehingga mereka akhirnya tahu dan sadar akan sejarah paham yang mereka anut. Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk senantiasa tetap menuju ke jalan yang lurus dan benar.

 

Pakistan Larang Kelompok Ahle Sunnah Wal Jamaat

Sejumlah pegiat kelompok ini ditangkap aparat keamanan karena terlibat dalam pembunuhan ratusan warga muslim Syiah dan mazhab Islam lain yang tidak sejalan dengan manhaj mereka.

Maraknya kelompok yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah Wal Jamaah tidak saja terjadi di Indonesia. Di Pakistan misalnya, pemerintah dilaporkan melarang keberadaan organisasi Ahle Sunnah Wal Jamaat karena terkait dengan gerakan terorisme. BBC melaporkan, Jumat, 10/03/12.

Larangan itu dikeluarkan oleh pemerintah Pakistan kepada kelompok Ahle Sunnah Wal Jamaat untuk melakukan aktivitas di negara itu, karena dituduh terlibat dengan gerakan terorisme.

Organisasi ini sebelumnya pernah dilarang berkegiatan pada tahun 2002 lalu saat Pakistan dipimpin oleh Jenderal Pervez Musharraf.

Sebelumnya organisasi simpatisan al-Qaeda ini dulu dikenal dengan sebutan kelompok Sipah-e-Sahaba (SSP) atau “Tentara Sahabat” Nabi.

Sejumlah pegiat kelompok ini ditangkap aparat keamanan karena terlibat dalam pembunuhan ratusan warga muslim Syiah dan mazhab Islam lain yang tidak sejalan dengan manhaj mereka.

Mereka juga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas, petugas keamanan dan sejumlah kantor kedutaan negara asing.

Kelompok ini kemudian belakangan berganti nama dan menjalankan aksinya seperti kebanyakan organisasi politik lain.

Larangan terhadap organisasi ini sebenarnya telah dikeluarkan oleh pemerintah Pakistan sejak dua minggu lalu namun tidak ada pemberitahuan secara terbuka kepada masyarakat soal pelarangan ini.

Salinan surat Kementerian Dalam Negeri tentang alasan pelarangan organisasi itu yang dilaporkan oleh BBC menyebutkan pelarangan dilakukan karena persoalan yang mereka sebut sebagai “kekhawatiran terhadap kasus terorisme.”

Ketua Ahle Sunnah Wal Jamaat, Maulana Mohammad Ahmed Ludhianvi mengatakan mereka akan melakukan perlawanan di pengadilan untuk menentang pelarangan tersebut.

“Akan menjadi sangat sulit mengendalikan emosi anggota kami jika pelarangan ini tetap diterapkan,” kata Ludhianvi.

Kelompok-kelompok garis keras seperti ini yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah Wal Jamaah juga marak di Indonesia.

Biasanya mereka menjajakan dagangannya dengan mengkavlingkan surga buat pengikutnya. Mereka juga tak segan-segan melakukan pembunuhan dan teror atas pengikut mazhab dan kelompok minoritas Islam lain yang mereka anggap kafir dan halal darahnya karena telah menyimpang dari manhaj yang mereka usung.

[Islam Times/on/BBC]http://islamtimes.org/vdciw5azvt1a552.k8ct.html

Analisa ‘Fatwa’ MUI: Syiah Sesat


Analisa fatwa muiPernyataan Prof. Umar Shihab bahwa MUI tidak pernah menyatakan Syiah sesat adalah benar, sementara media-media ataupun ormas-ormas yang anti Syiah yang mengklaim MUI pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah adalah kedustaan belaka dan upaya manipulatif untuk tetap menimbulkan perpecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.

Analisa

Menurut Kantor Berita ABNA, Dalam pertemuannya dengan para pelajar Indonesia yang berada di Qom (28/4), Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab menyebutkan bahwa sampai saat ini MUI sama sekali tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah. Namun saat ini beberapa media dan situs yang memiliki tendensi negatif terhadap Syiah mempublikasikan selebaran fatwa MUI yang disebutkan menyatakan kesesatan Syiah dan bukan bagian dari Islam. Manakah yang benar dari keduanya? Pernyataan Prof Umar Shihab yang nota benenya adalah Ketua MUI yang menyebutkan MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah atau media-media anti Syiah yang menyebutkan MUI pernah mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan belum dianulir sampai saat ini.

Berikut kami menyertakan sebuah analisa sederhana:

Prof. Umar Shihab sebagai ketua MUI tentu tidak akan mengeluarkan pernyataan secara gegabah hanya sekedar untuk menyenangkan pendengarnya, dengan mengorbankan reputasinya sebagai tokoh masyarakat, ulama dan pejabat Negara. Sementara media-media anti Syiah, tentu akan melakukan banyak hal untuk tetap membenarkan pendapat mereka meskipun itu dengan cara manipulasi dan merendahkan kehormatan seorang muslim.

Media-media anti Syiah mempublikasikan kembali hasil RAKERNAS MUI tahun 1984 yang mengeluarkan rekomendasi mengenai paham Syiah yang kemudian mereka menyebutnya sebagai fatwa MUI.

Berikut teks lengkap rekomendasi tersebut:

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H)

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML

Ketua

H. Musytari Yusuf, LA

Sekretaris

Analisa:
1. Meskipun rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI dan terdapat dalam Himpunan Fatwa MUI namun tidak satupun teks yang menyebutkan bahwa apa yang tertulis di atas adalah Fatwa MUI. Di awal surat disebutkan bahwa teks diatas adalah rekomendasi MUI yang merupakan hasil dari RAKERNAS MUI tahun 1984 mengenai paham Syiah dan diakhir teks disebutkan himbauan MUI untuk mewaspadai Syiah, dan sama sekali tidak menyebutkan fatwa MUI apapun mengenai Syiah.

2. Dalam surat rekomendasi tersebut disebutkan, ” Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.” Pernyataan bahwa paham Syiah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam, menunjukkan pengakuan MUI bahwa Syiah adalah bagian dari dunia Islam. Tidak sebagaimana pengklaiman media-media anti Syiah yang menyebutkan MUI mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan menganggap Syiah di luar Islam.

3. Lima poin perbedaan yang dipaparkan MUI dalam surat rekomendasi tersebut adalah perbedaan antara paham Syiah dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia, bukan dengan ajaran Islam itu sendiri, dan bukan pula dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang dianut umat Islam di luar Indonesia. Mengingat, jangankan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan umat Islam di Negara lain, dalam negeri Indonesia sendiri, antara sesama pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah terdapat perbedaan aqidah dan amalan fiqh yang mencolok. Antara pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut Nahdatul Ulama (NU) yang moderat terhadap tradisi lokal sangat berbeda dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut ormas-ormas keagamaan yang berafiliasi ke Arab Saudi.

4. MUI tidak menyebutkan lima poin perbedaan pokok antara paham Syiah dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut (mayoritas) umat Islam Indonesia sebagai kesesatan Syiah dan pembenaran terhadap pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah versi umat Islam Indonesia. Adanya perbedaan paham dalam dunia Islam adalah hal yang biasa, sebagaimana perbedaan paham dalam mazhab Sunni sendiri.

5. Himbauan MUI agar waspada terhadap ajaran Syiah hanya dikhususkan kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan kepada seluruh umat Islam Indonesia. Karenanya, bukan menjadi persoalan kemudian jika ada ormas-ormas Islam ataupun tokoh Islam yang menyatakan menerima keberadaan Syiah di Indonesia. Dan statusnya sebagai himbauan tidak meniscayakan bahwa yang menerima keberadaan Syiah menentang MUI.

Dengan lima poin analisa sederhana tersebut di atas, kami menyatakan apa yang dinyatakan oleh Prof. Umar Shihab bahwa MUI tidak pernah menyatakan Syiah sesat adalah benar, sementara media-media ataupun ormas-ormas yang anti Syiah yang mengklaim MUI pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah adalah kedustaan belaka dan upaya manipulatif untuk tetap menimbulkan perpecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.

Walaupun begitu fatwa MUI 1984 tersebut sudah out of date dan seringkali di tafsirkan berbeda dengan kelompok-kelompok anti persatuan selain bias ada beberapa penjelasan yang kurang tepat dan berpotensi memicu konflik.

Kami mengutip kembali pernyataan Prof. Dr. Umar Shihab, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.” Semoga Allah swt memperbanyak orang-orang seperti beliau.(Abna)