Galeri

TRAGEDI PEMBAKARAN MUSHOLA SYI’AH SAMPANG JANGAN TERULANG LAGI !

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat
Minggu, 01 Januari 2012 , 14:21:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe
http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=50736

RMOL. Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (Minggu, 1/1) menanggapi aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura, Kamis lalu.

Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin, dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya. [zul]
***************************************************************************************************
Ketua PBNU: Ada Big Design di Balik Pembakaran Pesantren Syiah di Madura
Sabtu, 31 Desember 2011 , 17:29:00 WIB
Laporan: Samrut Lellolsima

RMOL. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj menduga, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura. Atas dasar tersebut pemerintah dan aparat keamanan diminta bekerja lebih keras dalam mencegah aksi serupa, agar tidak terulang di kemudian hari.

Dugaan itu disampaikan Kiai Said atas kondisi hubungan Sunni-Syiah di Indonesia yang sebelumnya berlangsung damai. Aksi pembakaran pesantren Syiah diduga dilakukan sekelompok orang untuk merusak kondisi damai tersebut.

“Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Kiai Said di Jakarta (Sabtu, 31/12).

Indikasi lain dari dugaan tersebut adalah latar belakang aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, yang bermula dari perselisihan hubungan keluarga. Ditegaskan Kiai Said, demikian ia disapa, Sunni dan Syiah di Madura sama sekali tidak terlibat perselisihan, baik di masa lampau maupun sekarang.

“Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan,” terang dia.

Kiai Said meminta semua pihak bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Namun ditanya mengenai pihak lain yang diduga sengaja merusak perdamaian di Madura, Kiai Said enggan membeberkannya secara gamblang. Doktor Tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura’ Mekkah ini hanya meminta Pemerintah dan aparat penegak hukum bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa meluas dan terulang di kemudian hari.

“Kalau saya yang mengatakan nanti dikatakan fitnah. Tapi kalau saya saja sudah tahu, polisi dan Pemerintah harusnya lebih tahu. Mereka harus bekerja lebih keras mengatasi permasalahan ini,” tandasnya.[dem]
**************************************************************************************************
Kang Jalal: MUI Jatim dan Sampang Harus Dikoreksi!
Sabtu, 31 Desember 2011 , 16:21:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Ketua Majelis Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat, meminta agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Sampang dikoreksi. Sebab, MUI Jawa Timur dan Sampang “membiarkan” warga Syiah di sana terus diganggu. Dua hari lalu madrasah, mushalla dan rumah pimpinan kelompok Syiah di wilayah tersebut dibakar orang mengatasnamakan kelompok Ahli Sunnah Waljamaah (Aswaja).

“MUI seharusnya melindungi kebebasan beragama, dan tidak membuat pernyataan yang menghakimi kelompok minoritas dengan tidak adil,” kata Kang Jalal, begitu ia disapa, di Kantor Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia (IJABI), Jalan Raya Kemang 6, Jakarta Selatan (Sabtu, 31/12).

Hampir empat tahun jamaah ahlul bait melakukan kegiatan keagamaan di Sampang. Dan berkali-kali juga diganggu dengan kelompok-kelompok yang mengaku dirinya sebagai kelompok Aswaja. Bahkan, kata Kang Jalal, pada tahun 2009 IJABI diminta agar menandatangani perjanjian untuk tidak menyebarkan ajaran Syiah di Sampang dengan syarat Sunni Aswaja dan MUI Sampang tidak menanggap mereka sebagai ajaran yang sesat.

Aparat Kepolisian kemudian menggelar pertemuan dengan Muspida serta tokoh masyarakat di Sampang yang menghasilkan tiga opsi, yakni menghentikan semua aktivitas di wilayah Sampang dan kembali ke paham Sunni, diusir ke luar wilayah Sampang tanpa ganti rugi atau kalau tidak dipenuhi maka jemaah Syiah di Sampang harus mati. Sayangnya, malah MUI Sampang dan Jawa Timur, dan Pengurus NU Cabang Sampang malah menudukung ketiga opsi tersebut.

“Kami terus minta di jalur hukum, dan medesak MUI pusat untuk mengoreksi MUI-MUI daerah, termasuk Jawa Timur dan Sampang” kata Jalaluddin.

Kang Jalal mengatakan, MUI pusat tidak pernah tegas, sehinga muncul perbedaan di MUI-MUI daerah. Ia mengira, divisi ukhuwah di MUI daerah tidak ada sehingga muncul poin-poin sesat yang mendiskreditkan minoritas seperti Syiah.[dem]
*******************************************************************************************
PEMBAKARAN MASJID SYIAH
PBNU Kaji Serius Pernyataan Hidayat Nur Wahid

Sabtu, 31 Desember 2011 , 07:14:00 WIB
Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi

RMOL. Pernyataan Hidayat Nur Wahid yang langsung menohok Nahdlatul Ulama dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj terkait pembakaran Pondok Pesantren Islam Syiah di Sampang Madura, mendapat tanggapan PBNU.

“Kami akan kaji serius pernyataan Pak Hidayat, politisi PKS yang ada di Jakarta,” kata Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr PBNU, Sulthan Fatoni, kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu malam (30/12).

Menurut Sulthan, statemen Hidayat Nur Wahid sebenarnya biasa saja. Namun menjadi istimewa karena disampaikan oleh politisi yang mempunyai background istimewa.

“Reputasi gerakan dakwah gerbong Pak Hidayat di Indonesia adalah di antara indikator yang mendorong kami untuk mengkaji statemen Pak Hidayat.” Kata Sulthan Fatoni.

Sulthan menambahkan bahwa kajian dilakukan dengan disertai data-data empirik tentang peta kelompok Islam di Indonesia dan relasi sosialnya dengan NU. Termasuk data lapangan kasus yang meledak di Sampang.

“Era reformasi memang telah memberikan warna-warni muslim Indonesia, termasuk warna Islam kelompok Pak Hidayat yang ditopang oleh mesin politik. Jadi pernyataan Pak Hidayat bagi kami tidak sederhana, tunggu saja hasil kajian kami dalam waktu dekat,” tegas Sulthan.

Kemarin, selain menyesalkan aksi pembakaran pesantren Syiah oleh warga di Sampang, Hidayat juga menilai kasus tersebut menjadi pekerjaan rumah Ketua PBNU. Sebab Madura merupakan basis warga NU. [ysa]
****************************************************************************************************
GP Ansor Jatim Kutuk Peristiwa Sampang
Jum’at, 30 Desember 2011 , 16:06:00 WIB
Laporan: Hendry Ginting

RMOL.Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menyesalkan dan mengutuk aksi kekerasan berbau SARA yang terjadi di dusun Nangkreng, Sampang, baru-baru ini.

“Kami sangat menyayangkan terjadinya peristiwa itu,” kata Sekretaris GP Ansor Jawa Timur, Imam Rosyadi Hamid kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Jumat, 30/12).

Atas peristiwa itu, GP Ansor, kata Imron, menyerukan agar anggota GP Ansor dan Banser serta warga NU di Sampang dan seluruh Jawa Timur turut membantu aparat kepolisian mengembalikan kondusifitas keadaan dengan menjaga fasilitas ibadah yang berpotensi mengalami perusakan susulan.

“Warga yang merasa terancam keselamatannya perlu dilindungi, apapun agama dan keyakinan mereka di seluruh Jawa Timur,” tegas Imron.

Selain itu GP Ansor Jawa Timur meminta agar pemerintah juga memberikan jaminan keselamatan dan keamanan bagi warga, termasuk penganut Syiah untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945.

Menurut Imron, pihaknya menduga ada desain yang ingin merusak kondusifitas Jawa Timur dengan menggunakan isu Sunni Syiah. Sebelum kejadian di Sampang, kejadian kekerasan atas nama atas isu yang sama juga terjadi di Bangil Pasuruan.

“Kejadian di Sampang dan daerah lain bisa memberikan efek negatif bagi perekonomian dan mengganggu iklim investasi di Jawa Timur,” demikian Imron yang juga Kepala Biro Protokol Satkornas Banser NU Pusat. [dry]
************************************************************************************************
Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungi Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1).

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat. Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh. [zul]
************************************************************************************************
Aksi Pembakaran Pesantren Syiah Terus Mendapat Kecaman
Senin, 02 Januari 2012 , 09:55:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia. Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya. [zul]
**************************************************************************************************
Syiah Aman Saat NU Dipimpin Gus Dur
Sabtu, 31 Desember 2011 , 21:18:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Pimpinan besar Nahdlatul Ulama dinilai lebih berwibawa saat dipimpin Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Aura kepemimpinan Gus Dur terasa betul. Sepatah kata yang diucapkannya terkait keberadaan minoritas, termasuk terhadap keberadaan Syiah, langsung diikuti oleh Nahdliyin. Hal tersebut beda dengn pimpinan NU setelahnya.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Jalaludin Rahmat saat konferensi pers terkait penyerangan jamaah Syiah di Sampang, Madura, di Kantor Ijabi, Kemang, Jakarta Selatan (Sabtu, 31/12).

“Tanpa mencoba merendahkan pimpinan setelah Gus Dur, sekali Gus Dur mengatakan A, seluruh Nahdliyin di daerah mengikutnya,” beber Jalal.

Jalal menuturkan, pengkut Syiah aman betul di zaman Gus Dur memimpin NU. Di zaman itu, Gus Dur mengatakan bahwa Syiah tidak sesat. Bahkan ia memerintahkan agar Nahdliyin menjaga dan melindungi pengikut Syiah. GP Anshor diperintahkan Gus Dur melindungi jamaah Syiah.

“Yang terjadi setelah Gus Dur, NU beraksi hanya setelah ada kekerasan terjadi, dan hanya mengatakan mengecam dan menyesalkan atas kejadian. Tidak beraksi riil secara organisasi sampai ke jenjang bawah,” kata dia.

Jalal mengimbau agar pimpinan NU sekarang bisa membuat semua Nahdliyin turut mengikuti bagaiman keputusan NU yang mengatakan Syiah tidak sesat dan menghormati minoritas. [dem]

*************************************************************************************************
AKSI KEKERASAN
MUI Pusat: Memang Banyak yang Menilai SBY Tak Bisa Tegas

Minggu, 01 Januari 2012 , 15:55:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kererasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab kepada Rakyat Merdeka Online sesaat tadi, Minggu (1/1) menanggapi aksi pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura, Kamis lalu.

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa. [zul]
*******************************************************************************************************
Kang Jalal: MUI Jatim dan Sampang Harus Dikoreksi!
Sabtu, 31 Desember 2011 , 16:21:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Ketua Majelis Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat, meminta agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Sampang dikoreksi. Sebab, MUI Jawa Timur dan Sampang “membiarkan” warga Syiah di sana terus diganggu. Dua hari lalu madrasah, mushalla dan rumah pimpinan kelompok Syiah di wilayah tersebut dibakar orang mengatasnamakan kelompok Ahli Sunnah Waljamaah (Aswaja).

“MUI seharusnya melindungi kebebasan beragama, dan tidak membuat pernyataan yang menghakimi kelompok minoritas dengan tidak adil,” kata Kang Jalal, begitu ia disapa, di Kantor Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia (IJABI), Jalan Raya Kemang 6, Jakarta Selatan (Sabtu, 31/12).

Hampir empat tahun jamaah ahlul bait melakukan kegiatan keagamaan di Sampang. Dan berkali-kali juga diganggu dengan kelompok-kelompok yang mengaku dirinya sebagai kelompok Aswaja. Bahkan, kata Kang Jalal, pada tahun 2009 IJABI diminta agar menandatangani perjanjian untuk tidak menyebarkan ajaran Syiah di Sampang dengan syarat Sunni Aswaja dan MUI Sampang tidak menanggap mereka sebagai ajaran yang sesat.

Aparat Kepolisian kemudian menggelar pertemuan dengan Muspida serta tokoh masyarakat di Sampang yang menghasilkan tiga opsi, yakni menghentikan semua aktivitas di wilayah Sampang dan kembali ke paham Sunni, diusir ke luar wilayah Sampang tanpa ganti rugi atau kalau tidak dipenuhi maka jemaah Syiah di Sampang harus mati. Sayangnya, malah MUI Sampang dan Jawa Timur, dan Pengurus NU Cabang Sampang malah menudukung ketiga opsi tersebut.

“Kami terus minta di jalur hukum, dan medesak MUI pusat untuk mengoreksi MUI-MUI daerah, termasuk Jawa Timur dan Sampang” kata Jalaluddin.

Kang Jalal mengatakan, MUI pusat tidak pernah tegas, sehinga muncul perbedaan di MUI-MUI daerah. Ia mengira, divisi ukhuwah di MUI daerah tidak ada sehingga muncul poin-poin sesat yang mendiskreditkan minoritas seperti Syiah.[dem]
**********************************************************************************************************
INILAH SITUS PEMECAH-BELAH UMAT DARI KELOMPOK TAKFIR SALAFI WAHABI Voa-Islam

Waspadai Para Tokoh Pembela Sekte Sesat Syiah ini!

Jakarta (Voa-Islam) – Rupanya, ada banyak tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam yang membela paham sesat Syiah. Mulai dari Ketua MUI Umar Syihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan sebagainya. Berikut Voa-Islam tampilkan pendapat mereka mengenai ajaran Syiah:

Umar Shihab (Ketua MUI)

Menurut Umar Syihab, ia tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat.

Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang.

Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”

Said Aqil Siraj

Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang, Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja.

Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said.

Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon.

Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj.

Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

Syafii Maarif

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.

Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.

Din Syamsudin

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Fatwa MUI Nyatakan Syi’ah Sesat!!

Sejak tahun 1984 MUI Pusat telah memfatwa Syi’ah sebagai sekte sesat, berikut kutipannya:

FATWA MUI TENTANG SYI’AH

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan di Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H)
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Ketua

H. Musytari Yusuf, LA
Sekretaris

Sejak dirilis tahun 1984 hingga saat ini, Fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah itu belum pernah diamandemen apalagi dicabut! [Desastian/dbs]

Sumber : http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/waspadai-para-tokoh-pembela-sekte-sesat-syiah-ini/

Catatan redaksi : Yang dikatakan fatwa ini bukanlah fatwa tetapi hanya sebuah rekomendasi bahkan di alenia awal MUI menyebutkan bahwa Syi’ah sebagai salah satu aliran di dalam Islam, demikian bunyi alenia pertama rekomendasi itu : Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Dan tak ada satupun redaksi rekomendasi tersebut yang menyebutkan Syi’ah sesat malah mengakuii sebagai salah satu faham dalam dunia Islam.
***********************************************************************************************************
Arrahmah.com Situs pendukung terorisme dan segala bentuk kekerasan atas nama agama dan mazhab di Indonesia, semoga Pemerintah bertindak tegas terhadap situs teroris ini yang akan meruntuhkan NKRI.

Jawaban jika ditanya, kalau Syi’ah sesat mengapa boleh masuk tanah suci?

M. Fachry

Jum’at, 13 Januari 2012 13:41:58

JAKARTA (Arrahmah.com) – Salah satu yang mengemuka di saat mendiskusikan kesesatan Syi’ah adalah adanya lontaran pertanyaan, kalau Syiah sesat, mengapa boleh masuk tanah suci? Kabarnya, yang melontarkan pertanyaan itu kali pertama adalah dedengkot Syi’ah, Jalaludin Rahmat, juga ulama Syi’ah yang menyusup ke tubuh MUI, Umar Shihab, dan kini dilontarkan kembali oleh para pengikut dan penganut aliran sesat Syi’ah. Berikut jawaban yang “pantas” diberikan, yang dikutip dari blog abisyakir.wordpress.com. Semoga bermanfaat!

Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?

Mari kita jawab pertanyaan ini:

PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”

Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(M Fachry/arrahmah.com)

Read more: http://arrahmah.com/read/2012/01/13/17409-jawaban-jika-ditanya-kalau-syiah-sesat-mengapa-boleh-masuk-tanah-suci.html#ixzz1jagnVmQe
**************************************************************************************************************************
Ragu katakan Syi’ah sesat, HNW alami sindrom “Bani Israel”

M. Fachry/arrahmah.com (situs teroris dan pemecah-belah umat di negeri ini)

Rabu, 11 Januari 2012 11:13:22

JAKARTA (Arrahmah.com) – Banyak ilmu miskin komitmen! Itulah sindrom “Bani Israel” yang bisa jadi menjangkiti banyak para da’i (penyeru) di negeri ini, termasuk Hidayat Nur Wahid​ (HNW), Mantan Ketua MPR-RI yang juga politikus PKS. Bayangkan, pakar Syi’ah lulusan Universitas Islam Madinah itu ragu akan kesesatan Syi’ah dan tidak berani secara tegas mengatakan bahwa Syi’ah itu sesat. Astaghfirullah!

Mengapa ragu katakan Syi’ah sesat?

Fakta sesatnya Syi’ah sebenarnya sudah lama dideklarasikan di negeri ini. Pada tahun 1997, tepatnya pada tanggal 1 September 1997, dilakukan pertemuan tokoh-tokoh Islam di Istiqlal. Dari pertemuan tersebut, dihasilkan “Deklarasi Istiqlal”. Inti deklarasi itu menyatakan bahwa aliran LIBERAL & SYI’AH dinyatakan sesat.

Dalam seminar tersebut, sebagaimana dikutip dari eramuslim.com, HNW menjadi salah satu pemakalah, dan HNW yang baru pulang dari Saudi tersebut begitu tegas terhadap paham sesat Syi’ah. Namun, belakangan, di tahun 2006, HNW mengatakan bahwa ia bukan berasal dari mazhab yang suka mengkafirkan sesama muslim, dan sama sekali tidak terkait dengan peristiwa vonis sesat secara in absentia terhadap aliran Syi’ah di Masjid Istiqlal tahun 1997. Menurut HNW, ia tidak menandatangani rekomendasi Istiqlal itu. Jadi, HNW itu menganggap Syi’ah sama dengan Islam, tidak sesat? Astaghfirullah!

HNW alami sindrom “Bani Israel”

HNW alami sindrom “Bani Israel”, yakni banyak ilmu miskin komitmen. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Ustadz AM Waskito (penulis “Bersikap Adil Kepada Wahabi”) via sms kepada Arrahmah.com melihat fakta HNW yang mengakui tidak ikut menanda tangani “Deklarasi Istiqlal” dan ragu menyatakan kesesatan Syi’ah.

Padahal, HNW adalah seorang pakar Syi’ah lulusan Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah & Ushuluddin, Jurusan Aqidah, pada tahun 1992. Namun sindrom “Bani Israel” rupanya lebih kuat mengcengkram HNW, yakni banyak ilmu miskin komitmen, sehingga dirinya ragu, takut untuk mengatakan kebenaran (al haq) bahwa Syi’ah itu sesat!

Apakah ini bagian dari tanda-tanda akhir zaman, yakni banyak para da’i (penyeru) namun mereka bukan menyeru atau mengajak kepada kebaikan yang akan menghantarkan manusia kepada surga, namun mereka malah menyeru manusia ke pintu-pintu neraka jahannam. Na’udzu billahi min dzalik!

Semoga kita dilindungi Allah SWT., dari ulama yang demikian, Insya Allah!

(M Fachry/arrahmah.com)

Read more: http://arrahmah.com/read/2012/01/11/17358-ragu-katakan-syiah-sesat-hnw-alami-sindrom-bani-israel.html#ixzz1jakaGu5k

***************************************************************************************************************************
“Hidup Yazid” Slogan Teroris Wahabi Pakistan

Salafi Wahabi di Pakistan sekarang ini sudah menampakkan hakikat sejatinya untuk membantai kaum Muslim Syi’ah dengan meneriakkan yel-yel Hidup Yazid…Hidup Yazid…”Salam untuk Yazid!”…”Salam untuk Yazid!”sebagai bentuk kecintaan mereka kepada yazid dan mu’awiyyah.

Sementara umat Syiah dan sebagian dari kalangan Ahlus Sunnah Pakistan di beberapa tempat yang berbeda di negara tersebut mengadakan majelis duka mengenang kesyahidan Imam Husain di hari Asyura, sekelompok teroris melakukan serangan bersenjata di kawasan Punjab. Dalam serangan tersebut, mereka meneriakkan slogan-slogan “Hidup Yazid!” dan “Salam untuk Yazid!”.

Menurut Kantor Berita ABNA, sementara umat Syiah dan sebagian dari kalangan Ahlus Sunnah Pakistan di beberapa tempat yang berbeda di negara tersebut mengadakan majelis duka mengenang kesyahidan Imam Husain di hari Asyura, sekelompok teroris melakukan serangan bersenjata di kawasan Punjab. Dalam serangan tersebut, mereka meneriakkan slogan-slogan “Hidup Yazid!” dan “Salam untuk Yazid!”. Beruntung, serangan bersenjata untuk menghentikan dan membubarkan massa yang mengadakan majelis duka Imam Husain as tersebut berjalan tidak sebagaimana yang mereka rencanakan. Meskipun ada beberapa warga Syiah yang luka-luka terkena peluru yang ditembakkan kelompok teroris pecinta Yazid tersebut.

Diberitakan kelompok teroris anti Syiah tidak hanya menebar maut di Pakistan namun juga di Afghanistan. Pada hari Asyura di Afghanistan melalui bom bunuh diri, aksi kelompok teroris tersebut berhasil merenggut nyawa puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka. Peledakan bom mereka lakukan di tiga tempat yang berbeda, Kabul, Mazarsyarif dan Qandahar. Demikian juga di Irak, sejumlah warga Syiah dan pecinta Husain harus kehilangan nyawa akibat kebiadaban mereka.

Diberitakan pula, slogan “Salam untuk Yazid!” telah menjadi simbol perjuangan kelompok teroris yang menyebut diri Pasukan Sahabat dan Laskar Janggui. Mereka telah menebar teror yang telah menelan banyak korban di Parachinar dalam 5 tahun terakhir ini.

Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=282888

Iklan

2 responses to “TRAGEDI PEMBAKARAN MUSHOLA SYI’AH SAMPANG JANGAN TERULANG LAGI !

  1. sudah byk yg ndak doyan
    qur an.baca lah !!!
    hatimu kan terobati….
    islam tak punya cabang.
    rosul tak punya umat kecuali
    islam.pusatkan pikiran
    untuk arah syiar di manapun.
    tak benar loyal/fanatik ter
    hadap satu ulama .
    Alloh memiliki ilmu yg ter
    simpan pd seluruh hambanya
    saling lah mengukuhkan
    dan tiada saling menyalahkan
    isi meisi kekosongan masing
    Alloh beserta hambanya
    yg beriman dan taqwa.
    pemuda islam.

  2. Pamuji Syukur

    Saya lebih percaya ulama2 sepuh yang sejak dulu ikut berjuang menyebarkan Islam di Indonesia
    Daripada orang2 karbitan mengaku ulama seperti ente2 yg baru muncul setelah reformasi
    Dan kelompok2 ente paling hobi melempar fitnah keji pada sesama muslim. Giliran diajak dialog ngacir gak mau nongol kaya tikus yg suka nyolong makanan
    Beruntung sekarang jaman reformasi kalo masih jaman pak harto udah pasti penebar fitnah begini diberesin !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s