Galeri

Seminar Ukhuwah Syiah dan Sunni di Jakarta

Bersamaan dengan peringatan Pekan Persatuan Islam dan juga kelahiran Nabi Muhammad Saw, digelar seminar persatuan Islam dengan tema “Memperkokoh Silaturahmi dengan Cinta Nabi Saw” di Jakarta.

Mehr News melaporkan, hadir pula dalam seminar tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Dr. Perwira, Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Daud Poliraja, Wakil PBNU, Duta Besar Republik Islam Iran Mahmoud Farazandeh, Wakil Wali Faqih dan Imam Jumat Bandar Abbas Sheikh Naim Abadi, Rektor Universitas Taqrib Mazhab Islam Ayatullah Dr. Biazar Shirazi, dan juga 3.000 peserta dari Syiah dan Sunni.

Duta Besar Republik Islam untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, dalam pidato sambutannya menyatakan, “Rasulullah merupakan pilar utama persatuan umat Islam.” Menyinggung upaya kaum imperialis dalam para pakar orientalis dalam mengungkap rahasia kekuatan umat Islam, Farazandeh mengatakan, “Musuh-musuh Islam lebih mengetahui dengan baik kekuatan persatuan umat Islam dibandingkan dengan umat Islam sendiri.”

“Di masa sekarang, khususnya dengan lahirnya revolusi besar Islam di Iran dan juga gelombang kebangkitan Islam serta berbagai transformasi yang terjadi di dunia Islam, mereka kini lebih mengkhawatirkan terwujudnya persatuan Islam. Oleh karena itu mereka senantiasa berusaha untuk merongrong faktor-faktor kemuliaan dan kekuatan umat Islam yang berlandaskan pada persatuan.”

Farazandeh juga menyinggung keragaman budaya dan mazhab di Indonesia seraya mengatakan, “Solidaritas dan toleransi antara Syiah dan Sunni itu memiliki akar dalam budaya masyarakat Indonesia sedang fitnah-fitnah mazhab di negara ini tidak berkaitan dengan masyarakat dan budaya Indonesia, karena fitnah itu dikendalikan dari luar.”

Di lain pihak, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, DR. Perwira menilai Maulud nabi sebagai kesempatan bagi solidaritas dan persatuan umat Islam. Ia juga menyinggung politik pemerintah Indonesia dalam mendukung kebebasan hak para pengikut agama dan mazhab seraya mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menyikapi keragaman mazhab dan etnis adalah silaturahmi dan persaudaraan. Dan ini telah disebutkan dalam Pancasila bahwa semua mazhab setara dalam menikmati kebebasan, dan tidak ada satu mazhab pun yang dapat mengklaim diri paling benar.

Dr. Perwira bahkan menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi para pengikut agama dan mazhab berdasarkan hukum-hukum Islam, sirah nabi, dan juga undang-undang Indonesia.

Wali Faqih dan Imam Jumat Bandar Abbas Sheikh Naim Abadi, menjelaskan kondisi warga Sunni di Iran dan mengatakan, “30 persen dari populasi Sunni di Iran tinggal di Propinsi Hormuzgan dan mereka memiliki masjid dan madrasah agama serta mereka juga hidup aman dan rukun dengan saudara-saudara Syiah.”

Ayatullah Naib Abadi mengatakan, “Sama seperti ketika para imam mazhab-mazhab Islam seperti Imam Ja’far Shadiq as, Imam Hanbali, Imam Hanafi, Imam Shafii, dan Imam Maliki, dapat hidup berdampingan tanpa ada perseteruan, saat ini pun para pengikut mereka juga seharusnya dapat hidup berdampingan dan rukun dan menghindari segala bentuk friksi.”

Lebih lanjut ia menyatakan, “Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, memperingatkan umat Islam Indonesia untuk mewaspadai fitnah mazhab yang digulirkan musuh.”

Pembicara berikutnya yaitu Rektor Universitas Taqrib Mazhab Islam Ayatullah Dr. Biazar Shirazi menegaskan, “Rasulullah adalah teladan terbaik, beliau menyeru umat Islam yang terbentuk dari berbagai kabilah dan etnis yang memiliki sejarah friksi, perbedaan, dan pertempuran yang panjang, untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan ketakwaan kepada-Nya.”

Dr. Biazar Shirazi menambahkan, “Rasulullah mampu memanfaatkan kekuatan persatuan umat Islam untuk membentuk sebuah peradaban terbesar di dunia di jazirah Arab.

Delegasi dari PBNU, Prof Maidir Harun dalam hal ini, menentang keras pandangan pihak-pihak yang melarang peringatan maulud nabi dan mengatakan bahwa pengungkapan kecintaan kepada Rasulullah adalah perintah Allah Swt dan merupakan budaya Islam serta merupakan poros persatuan dan solidaritas umat Islam.

Menyinggung sejumlah transformasi anti-Syiah dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia, Doktor Harun mengatakan, “Mengingat berbagai sisi kolektif yang ada dalam Syiah dan Sunni juga peran Syiah dalam budaya dan peradaban Islam termasuk di Indonesia, maka pembahasan untuk menolak Syiah atau mengeluarkannya dari Islam, adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena hal itu bermula dari tidak adanya informasi dan berkaitan dengan kepentingan politik sejumlah kelompok ekstrim saja.

Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Daud Poliraja, mengatakan, “Kita semua sebelum mengklaim diri sebagai Sunni dan Syiah, kita semua adalah Muslim dan kita terikat kewajiban prinsip-prinsip akhlak yang menjadi dasar dan tujuan pengutusan Rasulullah Saw.”

Seraya menyayangkan sikap negatif sejumlah ulama Indonesia terhadap Syiah, Poliraja mengatakan, “Saat ini Syiah di Lebanon dan Iran berada di lini terdepan melawan rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat, dan jika Iran diserang, saya pribadi akan mengerahkan pemuda Muslim untuk membantu Iran dan bersama-sama dengan saudara Syiah di Iran berperang melawan musuh.”

Menyinggung pelaksanaan peringatan maulud nabi di Indonesia membuktikan bahwa umat Islam Indonesia tidak menggubris pemikiran ekstrim wahabi yang menganggap peringatan maulud nabi sebagai bid’ah.

Ketua Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rahmat, menyinggung pembentukan Dewan Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia dan mengatakan, dewan ini bergerak berdasarkan undang-undang, kepentingan dan politik yang bergulir di negara ini dan tujuannya adalah untuk menyebarkan perdamaian, persahabatan, dan ukhuwah antarumat Islam. (IRIB Indonesia/MZ)

http://indonesian.irib.ir/islamologi2/-/asset_publisher/Q43w/content/laporan-dari-seminar-ukhuwah-syiah-dan-sunni-di-jakarta

UNDANGAN Seminar Internasional Maulid Nabi Saw: Memperkokoh Silaturrahmi pencinta Nabi Saw dengan narasumber: Polhukam, DR. Mahmoud Farazandeh (Dubes Republik Islam Iran) Ayatullah Dr. Biazar Syirazi (Rektor Universitas Taqribul Mazahib al-Islamiyah RII, Maulawi Naim Abadi (Imam Jumat ASMAJA Bandar Abbas, Dr. Ansari (Dosen Musthafa University Iran, Prof. KH Din Syamsuddin, Prof KH Said Aqir Siraj, Prof Dr. Jalaluddin Rakhmat M.Sc di SMESCO Tower Jl Gatot Subroto Kav 94 Jakarta, Sabtu 11 Februari 2012 jam 09.00 s/d 15.00 WIB. Donasi via Bank Mandiri No Rekening Bank Mandiri 166 0000 481960 a/n PP IJABI Jakarta.

UNDANGAN

Fakultas Ushuluddin Iain Sunan Ampel Surabaya mengadakan Seminar Internasional

Tgl : 09 Februari 2012.

Tema : “Menggagas Persatuan Ummat Dalam Keragaman Pilihan Tradisi, Agama, dan Politik.”

Pembicara :

Sesi I: DR.Marzuku Alie (Ketua DPR RI), Ayatullah Biazar Syirazi( Rektor Taqribul Madzahibil Islamiyah Iran), Prof.DR.Ahmad Zahro (Rektor Unipdu), Maulawi Naim Abadi ( Imam Besar Ahlussunnah Iran),.

Sesi II : K.H.DR.Sholahuddin Wahid (Rektor Ikaha, Pengasuh PP Tebu Ireng), Prof.DR.Syafiq Mughni (Ketua PP Muhammadiyah), DR.Ansori (Univ.Iran), Ismail Yusanto (Jubir HTI).

Voa-Islam, Arrahmah.com,eramuslim.com, dan situs teroris lainnya berani nggak mengadakan wawancara dengan Imam Ahlussunnah Iran Maulawi Naim Abadi agar nggak jualan fitnah dan dusta mulu tentang komuniatas Ahlsussunnah di Iran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s