Galeri

Apakah Nabi Saw Sholat Bersedekap?

Bismillahirahmanirrahim.. Solawat ke atas Nabi dan Ahlulbaitnya.

Sudah 1400 tahun lebih telah berlalu sejak wafat Nabi kita, Muhammad saaw. Tapi malang bagi kita, dalam jangka waktu yang panjang ini, umat Islam masih menjadi bahan lelucon ketika mereka sampai kini, masih gagal membuktikan yang mana satu cara shalat sebenarnya Rasulullah saaw. Setiap kelompok meyakini dan mengklaim, cara shalat mereka adalah sunnah asli Rasulullah saaw.

Rasulullah saaw sejak periode kerasulannya sampai ke akhir hayatnya, telah berdakwah selama 23 tahun. Dalam periode ini, sudah pasti Rasulullah (sawa) setidaknya telah melaksanakan shalat di hadapan para sahabat sebanyak 700.000 kali. Heran sekali, kita masih gagal mensahihkan cara shalat Nabi apakah dengan tangan berlipat atau dengan tangan diluruskan. Kekeliruan ini bukanlah hal yang baru, bahkan telah dimulai di zaman para sahabat lagi, diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 56, Nomor 664, Aisyah Ummul Mukminin berkata: “Ia membenci ketika seseorang shalat dengan tangan berlipat (bersedekap) ketika shalat. Ini karena orang Yahudi juga berbuat begitu”.

Imam Ahmad mencatat :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺃﺑﻲ ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ
ﺛﻨﺎ ﺍﻷﻋﻤﺶ ﻋﻦ ﻣﺴﻴﺐ ﺑﻦ ﺭﺍﻓﻊ ﻋﻦ ﺗﻤﻴﻢ
ﺑﻦ ﻃﺮﻓﺔ ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﺳﻤﺮﺓ ﻗﺎﻝ: ﺧﺮﺝ ﻋﻠﻴﻨﺎ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺫﺍﺕ
ﻳﻮﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎ ﻟﻲ ﺃﺭﺍﻛﻢ ﺭﺍﻓﻌﻲ ﺃﻳﺪﻳﻜﻢ
ﻛﺄﻧﻬﺎ ﺃﺫﻧﺎﺏ ﺧﻴﻞ ﺷﻤﺲ ﺃﺳﻜﻨﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ
Jabir bin Samara berkata :“Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata” Kenapa kau melipat tanganmu (bersedekap) seperti tali kuda, kau harus
menurunkannya dalam shalat “(musnad Ahmad bin Hanbal Juz.5 hal.93) Abdullah bin Zubair Melaksanakan Shalat Dengan TanganTerbuka
Inilah Sholatnya Yahudi

Inilah Sholatnya Yahudi

 

Di dalam kondisi yang penuh kebingungan ini, teringat kata-kata Imam Ali (as): Bahkan bagaimana kamu dapat disesatkan sedangkan kerabat-kerabat Nabi saaw berada di antara kamu? Mereka itulh tonggak kebenaran; panji-panji agama; lidah-lidah yang selalu berkata benar! (Nahjul Balaghah Khutbah 83)

Juga teringat wasiat Rasulullah (sawa): “Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan Itrah, Ahlulbaitku. “

Oleh itu, kami Syiah, yang meyakini bahwa Imam dari Ahlulbait (as) adalah wasi Rasul, dan pembawa sunnah asli beliau. Dari mereka kami belajar cara shalat, dan kami yakin bahwa itulah cara sebenarnya Rasulullah shalat, yakni, dengan tangan terbuka (tidak bersedakap).

Sebelum kita lanjutkan, mari kita lihat pendapat Imam Mazhab Sunni tentang cara shalat Nabi. Untuk pengetahuan pembaca yang dirahmati, selain Syiah Imamiyah, mazhab Maliki ini juga meyakini bahwa Rasulullah shalat dengan tangan terbuka.

Imam Hanafi berpendapat: Bagi pria, tangan kanan harus diletakkan di atas tangan kiri, dan posisinya di bawah pusat, sedangkan di dada untuk wanita.

Imam Syafi’i berpendapat: Tidak masalah apabila pria atau wanita, harus menempatkan tangan pada pusat tetapi di bawah dada.

Imam Hanbal berpendapat: Pria dan wanita meletakkan tangan di bawah pusat.

Jika kalau para pembaca yang budiman melakukan kajian ke atas biografi ke tiga-tiga Imam Mazhab ini, semua mereka dilahirkan jauh dari Madinah, kampung halaman Rasulullah (sawa). Sementara Imam Malik bin Anas pula dilahirkan di Madinah, bahkan beliau adalah salah satu Imam madzhab yang terawal di lahirkan yaitu pada 93 Hijrah, masih tidak jauh dari masa para sahabat dan masih belum banyak bidaah muncul. Islam masih segar di zaman beliau. Ia tumbuh dalam kondisi melihat para penduduk dan sarjana Madinah shalat dalam kondisi tangan terbuka, maka dengan itu, beliau juga mengarahkan hal yang serupa di lakukan.

“Menurut Imam Malik, shalat harus dilakukan dengan tangan terbuka, bahkan menyebut tindakan melipat tangan ketika shalat fardhu sebagai makruh dan hanya diizinkan di shalat sunat.” Sharh e Muslim, Jilid 1, ms 590, oleh Allama Ghulam Rasool Sa’eedi, Cetakan Lahore.

Oleh karena adanya perbedaan pendapat ini, maka muncullah komentar yang aneh dari sebagian fiqih. Perlu diingat disini, Rasulullah (sawa) hanya mengajarkan satu saja cara shalat kepada para sahabat. Logikkah seorang menanam benih-benih perpecahan dan kebingungan dengan mengajar berbagai cara shalat? Lihatlah apa yang sudah terjadi sekarang!

Ada orang telah mengatakan Rasulullah (sawa) mengajar cara shalat berbeda untuk kondisi berbeda. Wow, itu adalah satu argumen paling mengarut pernah saya dengar. Ya, benar untuk situasi jika sakit, musafir atau dalam kondisi perang. Namun, untuk ketiga situasi ini, masih lagi cara shalat yang sama. Takkahlah Rasulullah ajar lurus tangan untuk shalat ketika perang, dan lipat tangan untuk shalat ketika sakit pula? Mari kita lihat komentar para Ulama ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat ini.

Imam Nawawi dalam kitabnya Sharah Muslim berkata:

“Imam Ahmad Auzai dan Manzar mengatakan tergantung pada diri mereka untuk shalat dengan cara yang mereka inginkan. Imam Malik berpendapat tangan harus diluruskan, dan itu adalah kebiasaan untuk pengikut beliau, sama juga dengan pendapat Lais bin Sa’ad. ” Sharh Muslim Nawawi, Jilid 2, ms 28, terjemahan Maulana Waheed uz-Zaman.

Begitu juga dengan komentar Imam Tarmizi:

“Setiap darinya adalah diperbolehkan menurut pandangan ulama.” Sunan Ibn e Majah, Jilid 1, ms 413-414

Pernyataan Imam Malik juga menambahkan kekeliruan, dalam fatwanya bahwa melipat tangan adalah makruh untuk shalat fardhu tetapi dibolehkan dalam shalat sunat. Apakah semua hal ini dilakukan di zaman Rasulullah (sawa)? Apakah ketika Rasulullah memimpin shalat fardhu, beberapa para sahabat melipat tangannya di dada, sedangkan yang lain di perut, satu kelompok lagi di bawah pusat dan kelompok terakhir meluruskan tangannya? Ini adalah satu hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin dalam arti kata Rasulullah (sawa) shalat subuh dengan melipat tangan di dada, Zuhur di perut, Ashar dengan tangan di bawah pusat dan shalat Maghrib dab Isya dengan meluruskan tangan, sedangkan Rasulullah (sawa) telah memberi instruksi untuk shalat seperti mana beliu shalat .

Bagaimana Imam Ahlulbait (as) shalat?

Saya tidak mau memperpanjang bahasan ini dengan mengemukakan argumen-argumen antara Sunni tentang tindakan meluruskan tangan. Saya letakkan disini praktek Imam dari Ahlulbait (as) dalam shalat. Di dalam kitab hadis Syiah, penuh dengan hadis-hadis tentang Imam dari Ahlulbait (as) mengajar tentang cara shalat Rasulullah (sawa), Syaikh Kulaini dan as Saduq meriwayatkan: “Tuhan kami mengadapkan mukanya ke Ka’bah. Membuang segala hubungan di antara tangan beliau dan meletakkan tangannya di sisinya, menutup ruang antara jari-jari dan merapatkan posisi kaki beliau. ”

1. Al-Shafi, terjemahan Furoo al Kafi, jilid 2, ms 65

2. Man la Yuhdhirah al-Faqeeh, Jilid 1, ms 166

Imam Shawkani juga mengakui bahwa Imam dari Ahlulbait shalat dengan tangan terbuka di sisi. Ini dapat kita baca dari kitab beliau Nayl al-Awtar, Jilid 2 ms 67

Hadis Dari Sumber Sunni

Berikut adalah sumber dukungan untuk menunjukkan Rasulullah (sawa) shalat dengan tangan terbuka dari sumber referensi Sunni.

1. Imam Ahmad mencatat:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن مسيب بن رافع عن تميم بن طرفة عن جابر بن سمرة قال: خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال ما لي أراكم رافعي أيديكم كأنها أذناب خيل شمس أسكنوا في الصلاة

Jabir bin Samara berkata:

“Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata” Kenapa kau melipat tanganmu (bersedekap) seperti tali kuda, kau harus menurunkannya dalam shalat “(musnad Ahmad bin Hanbal Juz.5 hal.93)

Syaikh Shaib Al Aranut menyatakan tentang riwayat diatas:

“Sanadnya shahih menurut Muslim”

Imam Syaukani mencatat dalam Nail al-Awthar, juz. 2 hal. 200:

“Mereka yang tidak melipat tangan (bersedekap dalam shalat) bersandar pada riwayat Jabir bin Samara; ‘mengapa kau lipat tanganmu'”

Bahkan Syaukani dalam Nayl al-Awthar, juz 2 hal.67 mengatakan bahwa Ahlul Bait Rasulullah saww shalat dengan meluruskan tangan.

2. Dalam Tanwir al Aynain hal 58:

“Ibn Sirin ditanya mengapa kita meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat, ia berkata ini adalah perbuatan orang Roma” (Ada juga dalam Al-Awail hal. 209 oleh Allamah Askari, bab. Islami Namaz)

Dengan jelas riwayat di atas membuktikan bahwa Nabi (Sawa) Shalat dengan tangan terbuka (Meluruskan Tangan)

Ibn Hajar Asqalani mencatat dalam “Talkhis Al-Habir Fi Takhrij Ahadith” Juz.1 hal.333, bab ‘Sifat al Salat’

“Ma’az meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW mendirikan Shalat, ia mengangkat kedua tangan sampai telinganya, dan setelah mengucap takbir kemudian menurunkan tangannya”

3. Dalam Umadatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Juz. 9 hal 20:

Ibn al-Manzar meriwayatkan bahwa Abdullah Ibn Zubair dan al-Hassan al-Basri dan Ibnu Sirin bahwa ia (Nabi) melaksanakana shalat dengan tangannya terbuka dan begitu juga Malik “.

4. Ulama Ahlul Hadist terkenal yakni Allamah Wahid-uz-Zaman Khan menulis:

“Siapapun yang mengatakan bahwa shalat dengan tangan terbuka adalah kebiasaan terkait dengan Syiah, dalam hal ini orang tersebut telah salah, karena tidak hanya Syiah tetapi juga seluruh umat muslim melakukan shalat dengan cara yang sama, khususnya selama masa Rasul SAW, para sahabat melakukan cara yang sama dan tidak seorang pun tahu tentang melipatkan tangan. ” Hadiyatul Mahdi, oleh Maulana Wahid uz Zaman, Juz. 1, hal.126

5. Abdullah bin Zubair Melaksanakan Shalat Dengan Tangan Terbuka

Imam Ibn Abhi Syaibah mencatat dalam Al-Mushaf nya, Juz. 1 hal 344:

Amr bin Dinar berkata; ‘Abdullah Ibn Zubair melaksanakan shalat tanpa melipat tangannya’

6. Para Imam Ahlu Sunnah Said Ibn Jubair Dan Ibn Masayyid Juga Shalat Dengan Tangan Terbuka

Allamah Ibn Abdul Barr mencatat riwayat berikut dalam bukunya ‘Al Tamhid’:

“Abdullah ibn al-izar berkata;m”Saya melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dengan Said Ibn al Jubair. Suatu saat, ia melihat seorang laki-laki menempatkan satu tangan di atas tangan yang lain, kemudian ia menghampirinya, dipisahkan tangannya, dan kembali lagi pada ku ”

Peringkat Said bin Jubayr di antara para ulama awal Islam adalah satu posisi yang telah diketahui umum. Menurut Ibn Kathir, Said bin Jubair adalah murid Ibn Abbas [ra] dan Imam dalam berbagai bidang Tafsir dan Fiqih. [Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Vol 9 hal 177 ‘Peristiwa Th. 94 H ‘.].

Ibn Hajar Asqalani menuliskan tentang Said bin Jubair:

“…. Ia meriwayatkan hadits dari Ibn Abbas, Ibn Al-Zubair, Ibn Umar, Ibn Maqal, Uday Ibn Hatem, Abi Masood Al-Anasy, Abi Said Al-Khudri, Abu Huraira, Abu Musa Al-Asy’ari, Al- Dahak Ibn Qais Al-Fihri, Anas, Amr Ibn Maymun, Abi Abdulrahman Al-Sulami dan Aisyah ….. Ibn Abi Mughira berkata bahwa ketika orang-orang Kufah mendatangi Abbas untuk menanyakan Fatwa, ia berkata kepada mereka: “bukankah Said Ibn Jubayr berada di antara kalian? … Amru Ibn Maimun mengatakan bahwa ayahnya berkata: “Said Ibn Jubair telah meninggal tetapi belum ada orang yang menggapai pengetahuan darinyi” …… Abu Al-Qasim Al-Tabari mengatakan: “Dia adalah Imam dan Argumen yang dapat diandalkan Muslim” …. Ibnu Haban berkata bahwa Saeed adalah anggota hukum, pecinta shalat, benar dan saleh. “(Tahzib Al-Tahzib, Juz 4 No. 14)

Disini akan disinggung bagaimana posisi tangan Said bin al Mussayyib selama melaksanakan shalat. Namun bagi yang tahu sedikit tentang orang terkenal ini, kami menyajikan text yang dicatat oleh Ibn Kathir dalam kitabnya:

“Dia mendengar hadits dari Umar Faruq, Utsman, Ali, Said dan Abu Hurairah … Zuhri berkata:” Saya hidup bersamanya selama tujuh tahun dan saya tidak melihat orang lain yang lebih berpengetahuan dari pada dia “. Makhool berkata: “Saya pergi ke seluruh penjuru dunia dalam mengejar pengetahuan tetapi tidak ku temukan orang yang lebih berpengetahuan dari Saeed”. Auzai berkata bahwa ada seseorang bertanya kepada Zuhri dan Makhul tentang ahli hukum yang paling berwibawa di mata mereka, keduanya sepakat berkata ‘Said bin al Mussayyid’. Orang-orang memanggilnya “Faqih al Fuqaha” … Rabi telah menyatakan dengan merujuk kepada Imam Syafi’i bahwa bahkan sebuah hadis mursal dari Said bin al Musayyid adalah setara dengan hadis Hasan dan itu setara dengan hadits shahih dalam pandangan Imam Ahmad. Juga telah diungkapkan bahwa Said bin al Mussayyid lebih unggul dari semua Tabi’in … Abu Zarya berkata: “Dia adalah Madani dan Thiqa Imam”. Abu Hatim berkata: tidak ada di antara Tabi’in yang unik dan lebih hebat darinya ” Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Juz.9 Hal. 179-180 ‘Peristiwa 94 H’. (Nafees Book Academy Karachi).

Jelas sekali di sini, praktek shalat dengan tangan terbuka bukanlah satu bidaah Syiah, bahkan ia merupakan satu perrbuatan yang ada dasarnya dalam Sunnah Rasulullah (sawa). Kekeliruan tentang cara shalat Nabi, seperti yang telah saya sebutkan, telah dimulai sejak zaman Nabi lagi. Ini adalah karena perbuatan puak-puak sesat yang memperkenalkan bid’ah berkelanjutan dalam agama Islam. Perhatikan hadits ini: Diriwayatkan oleh Imran bin Husain: “Aku shalat bersama Ali di Basrah dan ia mengingatkan kami pada shalat yang kami lakukan bersama Rasulullah. Ali mengucapkan Takbir pada setiap bangkit dan rukuk. ” (Sahih Bukhari, Juz 1, Kitab12, No hadits. 751).

Kepada orang-orang yang berpikiran kritis, akan segera terbetik di hati mereka, mengapa Imran teringat shalat yang dilakukan oleh beliau bersama Rasulullah saaw hanya apabila beliau shalat bersama Imam Ali? Apakah ketika beliau shalat bersama imam sholat lainnya tidak mengingatkan beliau tentang shalat Rasulullah? Fikirkanlah..! Wallahualam.

Bersedekap dalam Shalat

Kaum Muslim sepakat bahwa tidak wajib meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau bersedekap, yang dalam bahasa Arab disebut taktif. Akan tetapi, mereka berselisih pendapat dalam menetapkan hukumnya (selain dari wajib itu) .

Mazhab Hanafi mengatakan, ” Bersedekap itu hukumnya sunah, bukan wajib. Yang terutama bagi laki-laki adalah meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di bawah pusar. Sedangkan bagi perempuan adalah meletakkan kedua tangannya di atas dada.”

Mazhab asy-Syafi’i mengatakan, ” Hal itu disunahkan bagi laki- laki dan perempuan. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di antara dada dan pusar, dan agak bergeser ke arah kin.”

Mazhab Hanbali mengatakan, ” Hal itu adalah sunah. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kin, dan ditempatkan di bahwa pusar.”

Mazhab Maliki mengatakan, ” Hal itu boleh dilakukan. Akan tetapi, di dalam salat fardu disunahkan meluruskan tangan (ke bawah) .”

Mereka sepakat bahwa bersedekap ( taktif) itu tidak wajib. Bahkan kebanyakan dan mereka memandanganya sebagai sunnah. Sedangkan mazhab Maliki betpandangan sebaliknya. Tidak sedikit ulama dari kalangan Ahlusunah menjelaskan bahwa bersedekap itu tidak wajib.

Telah dikutip dari mazhab Maliki bahwa sebagian mereka memandang bersedekap itu sebagai mustahabb (yang disukai atau sunah). Sedangkan sebagian yang lain memandang bahwa yang mustahabb adalah meluruskan tangan ke bawah, dan memandang bersedekap sebagai makruh. Sebagian lagi berpendapat boleh memilih antara bersedekap dan meluruskan tangan ke bawah.

Adapun Syi’ah, yang termasyhur di kalangan mereka memandang bahwa bersedekap itu haram dan membatalkan salat. Sebagian mereka mengatakan, ” Bersedekap itu haram tetapi tidak membatalkan salat.” Sementara kelompok ketiga, seperti al-Halabi, mengatakan bahwa bersedekap itu makruh.

Barangsiapa yang mau bersandar pada pendapat dan hadis-hadis yang diriwayatkan dari para imam AhlulBait dalam masalah ini, silakan merujuk pada pembahasan tentang itu.

Sekalipun Ahlusunah sepakat bahwa bersedekap itu tidak wajib, namun masalah tersebut telah mewariskan satu bentuk kesulitan di tengah masyarakat Islam.

Syi’ah, tentu dengan ijma mereka, mengikuti larangan dari para Imam AhlulBait. Mereka meluruskan (ke bawah) tangan mereka ketika sedang salat. Tetapi kebanyakan masyarakat awam dari kalangan Ahlusunah memandang mereka dengan pandangan tertentu. Kadang-kadang orang-orang awam itu menyebut mereka sebagai para ahli bid’ah karena meninggalkan bersedekap ini.

Walaupun di kalangan mereka, bersedekap itu hukumnya sunah. Padahal meninggalkan perbuatan sunah tidak dipandang sebagai bid’ah. Bahkan mazhab Maliki memandang bersedekap itu sebagai makruh. Selain itu, para Imam AhlulBait melarangnya.

Hal itu tidak menjadi masalah di tangan masyarakat Syi’ah. Tetapi hal itu kadang-kadang menjadi penyebab saling mencaci, saling menyerang di antara Syi’ah dan Ahlusunah dengan dalih bahwa Imam Mesjid ini menyedekapkan tangannya ketika salat, imam yang lain menggenggamkan telapak tangannya, dan imam yang satu lagi meluruskan tangannya ke bawah.Muhammad shalih al-‘Utsaimin berkata: ” Pada suatu tahun di Mina terjadi sebuah insiden di hadapan saya dan beberapa orang teman. Barangkali insiden itu terasa ganjil bagi Anda. Ketika itu, datang dua kelompok orang. Masing-masing kelompok terdiri dari tiga atau empat orang. Setiap orang melemparkan tuduhan kafir dan laknat kepada yang lain-padahal mereka itu sedang melaksanakan ibadah haji. la memberitahukan bahwa salah satu dari dua kelompok itu melaksanakan salat dengan bersedekap dan meletakkan tangannya di atas dada. Ini mengingkari sunah. Karena yang disunahkan menurut kelompok ini adalah meluruskan tangan ke bawah. Sedangkan kelompok yang lain mengatakan bahwa meluruskan tangan ke bawah, bukan bersedekap, adalah kufur dan patut dilaknat. Terjadi perdebatan sengit di antara mereka”

Selanjutnya ia mengatakan:

” Perhatikanlah. bagaimana setan mempermainkan mereka dalam masalah yang mereka perselisihkan. Sehingga sebagian mereka mengafirkan sebagian yang lain disebabkan masalah tersebut yang hanya merupakan sunah. bukan termasuk rukun- rukun Islam dan bukan pula termasuk ibadah-ibadah fardu. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang disunahkan adalah bersedekap. Sedangkan ulama yang lain mengatakan bahwa yang disunahkan adalah meluruskan tangan ke bawah. Padahal yang benar yang ditunjukkan sunah adalah meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri.”

Pada tahun 1412 H di Makkah al-Mukarramah. saya mendengar dari beberapa pemuda Mesir bahwa para mujahid muda di Mesir yang duduk dalam pemerintahan pendudukan Mesir terseret oleh pembahasan masalah ini ke dalam perdebatan sengit. Pastilah timbul akibat yang tidak terpuji kalau saja Allah ,tidak menganugerahi mereka persatuan yang baru.

Saya tidak menuduh bahwa para pemuda, saudara-saudara dan yang lain itu lalai dalam masalah ini. Kelalaian dalam masalah ini adalah tanggung jawab para ulama dan juru dakwah. Sebab, mereka telah mengajarkan ibadah-ibadah sunah seperti meng- ajarkan ibadah-ibadah wajib. Sehingga orang-orang awam me- ngira kebanyakan ibadah-ibadah sunah itu sebagai ibadah-ibadah fardu. Meninggalkan sunah juga seperu itu, bertentangan dengan ruh syariat. Demikian pula, mendawamkannya dengan anggapan bahwa hal itu wajib seperti ibadah-ibadah fardu lainnya tidak lepas dari praktik bid’ah. Karenanya harus diperlihatkan yang sebenarnya secara terus-menerus.

Nabi saw memisahkan salat lima waktu (sesuai waktu-waktu- nya). Tetapi kadang-kadang beliau menjama di antara dua salat agar orang-orang tidak mengira bahwa pemisahan (berdasarkan waktu-waktunya) itu adalah fardu. Namun sayang, justru yang dikhawatirkan itu terbukti di kalangan ahli fiqih, mereka yang mengaku sebagai ahli fiqih, dan orang-orang yang taklid. Hal itu sangat menyedihkan.

Pemimpin dan juru dakwah setiap kelompok meyakini bahwa pendapat imam mazhabnya dalam masalah fiqih adalah wahyu yang tidak bercacat. Kemudian hal itu berujung pada ketidaktahuan kaum Muslim terhadap hukum-hukum salat. Sehingga akhirnya sebagian mereka mengafirkan sebagian yang lain. Mereka itu orang-orang yang malang yang tidak mengetahui Islam sedikit pun.

Selain itu, hadis-hadis yang mereka jadikan dalil, sebagai sunah, tidak cukup untuk membuktikannnya sebagai sesuatu yang di-sunahkan. Berikut ini adalah hadis-hadis yang mereka jadikan dalil bahwa hal itu merupakan sesuatu yang disunahkan padahal menurut para Imam AhlulBait hal itu adalah bid’ah.

Yang mungkin dijadikan dalil bahwa bersedekap itu merupa- kan sunah dalam salat tidak lepas dari tiga riwayat berikut:

I. Hadis dari Sahal bin Sa’ad yang diriwayatkan al-Bukhari.

2. Hadis dari wa ‘il bin Hujur yang diriwayatkan Muslim. Al- Baihaqi menukilnya melalui tiga sanad.

3. Hadis dari ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunan-nya.Berikut ini kami ketengahkan kepada Anda kajian terhadap masing-masing hadis di atas.

I. Hadis darl Sahal bin Sa’ad

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hazim bin Sahal bin Sa ‘ad: ” Orang-orang diperintahkan agar bersedekap dalam salat-bagi laki-Iaki.” Selanjutnya Abu Hazim berkata, ” Saya tidak mengetahuinya kecuali ia menisbatkan (yamni) hal itu kepada Nabi saw.”

Isma ‘il berkata, ” Hal itu dinisbatkan (yumna) , bukan ia menisbatkan (yamni) .”

Riwayat tersebut menjelaskan tata cara bersedekap. Namun, yang menjadi persoalan adalah periwayatannya dari Nabi saw. Hadis itu tidak bisa dijadikan dalil karena dua alasan berikut:

Pertama,kalau Nabi saw yang memerintahkan bersedekap, lalu apa makna kalimat ” Orang-orang diperintahkan …”? Apakah tidak lebih tepat kalau kalimat itu berbunyi: ” Nabi saw memerintahkan …”? Bukankah ini menunjukkan bahwa hukum tersebut muncul setelah wafat Nabi saw, lalu para khalifah dan para gubernur mereka memerintahkan kepada orang-orang untuk bersedekap dengan anggapan bahwa hal itu lebih dekat pada kekhusyukan. Oleh karena itu, setelah hadis ini al-Bukhari mencantumn satu bab yang disebut bab “kekhusyukan”.

‘Ibn Hajar berkata, ” Hikmah bersedekap adalah karena hal itu merupakan sikap peminta-minta dan orang hina. Hal tersebut dapat mencegah hal-hal yang tak berguna dan lebih mendekatkan diri pada kekhusyukan. Al-Bukhari telah memperhatikan hal itu dan menyambungnya dengan bab kekhusyukan.” Kedua, pada lampiran as-Sanad terdapat keterangan yang menegaskan hal itu dilakukan oleh orang-orang yang memerintah, bukan Rasulullah saw.

Isma’il berkata, ” Saya tidak mengetahuinya kecuali hal itu dinisbatkan kepada Nabi saw mengingat kata kerja itu dibaca dalam bentuk pasif.”Artinya, ia tidak mengetahui bahwa bersedekap itu adalah sesuatu yang disunahkan dalam sa1at. Melainkan ia hanya dinisbatkan kepada Nabi saw. Maka hadis yang diriwayatkan Sahal bin Sa’ad ini adalah marfu:Ibn Hajar berkata, ” Menurut istilah ahli hadis, apabila perawi mengatakan menisbatkannya, maksudnya adalah hadis itu marfu’ kepada Nabi saw.”

Ini semua apabila kita membaca kata kerja dalam hadis tersebut dibaca dalam bentuk pasif. Akan tetapi,jika kita membacanya dalam bentuk aktif, berarti Sahal menisbatkan hal ini kepada Nabi saw. Dengan asumsi bahwa bacaan ini benar dan tidak merupakan hadis mursal dan marfu ‘ maka kalimat ‘Saya tidak mengetahuinya kecuali…’ menunjukkan lemahnya penisbatan itu. la mendengarkan dari orang lain teteapi nama orang itu tidak disebutkan.2. Hadis dari Wail bin Hujur.

Diriwayatkan dengan beberapa redaksi:

A. Muslim meriwayatkan dari Wa’il bin Hujur bahwa ia melihat Nabi saw mengangkat kedua tangannya ketika memulai salat sambil bertakbir. Lalu beliau berselimut dengan pakaiannya. Kemudian beliau bersedekap. Ketika hendak rukuk, beliau mengeluarkan kedua tangannya dari pakaiannya, kemudian mengangkatnya sambil bertakbir, dan rukuk.

Berda1il dengan hadis tersebut berarti berdalil dengan perbuatan. Perbuatan tidak bisa dijadikan dalil kecuali diketahui maksudnya. Padahal, perbuatan tersebut tidak jelas tujuannya karena lahiriah hadis itu menyebutkan bahwa Nabi saw menyambungkan ujung-ujung bajunya, lalu ditutupkan pada dadanya dan bersedekap. Apakah perbuatan itu dimaksudkan agar menjadi sunah dalam salat? Apakah beliau melakukannya semata-mata agar pakaian itu tidak lepas. Atau apakah beliau melekatkan pakaian itu pada badannya hanya untuk menjaga dirinya dari hawa dingin? Perbuatan itu tidak jelas maksudnya. Karenanya perbuatan itu tidak bisa dijadikan dalil kecuali diketahui bahwa hal itu dilakukan agar menjadi sunah.

Nabi saw telah melaksanakan salat bersama kaum Muhajirin dan Anshar selama lebih dari sepuluh tahun. Kalau hal itu ter- bukti datang dari Nabi saw tentu akan banyak periwayatan dan tersebar luas, dan niscaya periwayatannya tidak hanya terbatas pada wa ‘il bin Hujur saja. Oleh karena itu, periwayatan oleh Wa’il bin Hujur memunculkan dua kemungkinan itu.

Memang terdapat periwayatan hadis yang sama melalui sanad yang lain, tetapi tanpa menyebutkan kalimat ” Kemudian beliau menyelimutkan pakaiannya “.

B. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis itu melalui sanadnya dari Musa bin ‘Umair: Menyampaikan kepada kami ‘Alqamah bin wa’il dari bapaknya bahwa Nabi saw, ketika berdiri dalam salat, menyedekapkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Saya juga melihat ‘Alqamah melakukannya.Ka1au masalah ini berputar di antara orang-orang yang suka melebih-lebihkan dan yang suka mengurangi, maka yang kedua yang dipilih. Cermatilah hal ini seperti kajian pada bagian pertama, maka akan tampak bahwa maksud perbuatan itu tidak je1as.

Padahal, kalau Nabi saw terus-menerus melakukan perbuatan tersebut, pastilah hal itu diketahui oleh masyarakat luas. Sedarigkan kalimat “Saya melihat ‘Alqamah melakulkannya ” menunjukkan bahwa perawi tersebut mempelajari sunah itu darinya.C. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dengan sanad yang lain dari wa’il bin Hujur . Di dalamnya terdapat masalah seperti yang telah kami sebutkan dalam hadis sebelumnya.

D. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis musnad dari Ibn Mas.ud bahwa ia me1aksanakan salat dengan menyedekapkan tangan kiri di ats tangan kanannya. Kemudian Nabi saw melihatnya. Maka ia menyedekapkan tangan kanan di atas tangan kirinya.

Catatan: Tidak mungkin orang seperti Abdullah bin Mas.ud, seorang sahabat mulia, tidak mengetahui apakah hal itu disunahkan dalam salat atau tidak. Padahal ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Dalam sanad hadis itu terdapat nama Hasyim bin Basyir yang dikenal sebagai mudallis (pembuat hadis palsu).

Oleh karena itu, kita perhatikan bahwa para Imam Ahlul Bait as menjaga diri dari hal itu dan memandangnya sebagai perbuatan orang-orang Majusi di hadapan raja mereka.

Muhammad bin Muslim meriwayatkan hadis dari ash-shadiq as atau al-Baqir as: Saya katakan kepadanya, “Seorang laki-laki bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri- nya.” Imam as menjawab, “Hal itu adalah taktif yang tidak boleh dilakukan.”

Zurarah meriwayatkan hadis dari Abu Ja’far as: “Kalian harus menghadap kiblat ketika salat dan jangan bersedekap, karena bersedekap hanya dilakukan oleh orang-orang Majusi.”Ash-Shaduq meriwayatkan hadis mela1ui sanadnya dari ‘Ali as: “Seorang Muslim yang sedang salat berdiri di hadapan Allah .Azi.a wa Jalla tidak menyedekapkan tangannya menyerupai orang- orang kafir-yakni orang-orang Majusi.”Pada akhir pembahasan ini, kami hendak mengajak pembaca memperhatikan ucapan Doktor Ali as-Salus. Setelah menukil pendapat-pendapat dari kedua belah pihak, kepada mereka yang mengharamkan dan membatilkannya, ia berkata, “Mereka yang berpendapat bahwa hal itu haram dan batil, atau batil saja, hanya- lah orang-orang yang menganut fanatisme mazhab dan menyukai perselisihan yang mencerai-beraikan kaum Muslim.”

Apakah dosa kaum Syi’ah apabila ijtihad dan pengkajian terhadap AI-Qur’an dan sunah membimbing mereka untuk mengatakan bahwa bersedekap merupakan sesuatu yang baru yang dibuat sepeninggal Nabi saw. Orang-orang diperintahkan untuk melakukan hal itu pada zaman para khalifah.

Barangsiapa yang mengatakan bahwa bersedekap itu merupakan bagian dari salat sebagai fardu atau sunah, ia telah membuat sesuatu yang baru dalam agama yang bukan bagian darinya. Apakah pantas memberikan balasan kepada orang yang berijtihad dengan melemparkan tuduhan fanatik mazhab dan mencintai perselisihan?

Kalau hal itu pantas dilakukan, apakah boleh mengatakan bahwa Imam Malik seperti itu? Sebab, ia memakruhkan bersedekap secara mutlak atau dalam salat fardu saja. Atau, kalau memang boleh, apakah pantas menuduh Imam kaum Muslim bahwa ia mencintai perselisihan?

Bagaimanapun, hendaklah para penyeru pendekatan antar mazhab dan Ukhuwah yang ikhlas berusaha agar jangan menjadikan masalah meluruskan tangan ke bawah dan menyedekapkannya sebagai sumber perpecahan. Sholat adalah Syari’at sedangkan bersedekap ataupun meluruskan tangan adalah khilaf para Ulama dan kita sebagai umat mengambil hikmah yang terbaik sesuai dengan dalil-dalil yang sampai kepada kita dengan meyakinkan tegakkanlah etika bermazhab agar Ukhuwah Islamiyah terbangun dan menjadi kekuatan kita bersama.

Iklan

10 responses to “Apakah Nabi Saw Sholat Bersedekap?

  1. Syukron lillah….
    Terjemahannya indonesianya bukan BERSEDEKAP, tapi BERTOLAK PINGGANG.
    Pertanyaan selanjutnya apakah Yahudi atau orang Roma bertolak pinggang ketika sholat….btw…semua kembali kepada diri masing2….
    Tak ada paksaan dalam beragama.

    Telah terang benderang bak mentari dalam artikel di atas.

  2. putra satria alhikmah

    Lah,mau kemana sebetulnya islam dan syiah 111111111.saya pusing nih konsep dumay nya.di kasih jwbn terima kasiiiiih sekali.www.facebook.com.

  3. Alllah maha adil, dan sangat adil, kejadian ini merangsang otak kita untuk mengkajinya agar kita berpikir, terus berpikir lalu mengambil keputusan sendiri, terserah mau ikut yang mana, kemuliaan orang2 yg berpikir adalah sebaik2 makhlu, Imho.
    Terimakasih,
    saya pilih tetap tangan di bawah, logikanya bahwa…kalau tangan bersedekap menimbulkan banyak perbedaan, misalnya ada yg menaruh tangan di atas dada, perut, di bawah pusar dan bahkan di atas dada, sedangkan Islam adalah agama pemersatu, agama yang penuh cinta,
    Dan jika tangan di bawah, tidak ada lagi semua terlihat sama, sama2 menaruh tangan dibawah, tidak mungkin ditaruh dijidat, atau dimana2, tetap di bawah sehingga seragam dan satu,
    Islam tetap satu. IMHO

    Sukron…

    Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad.

  4. Bagaimanapun, hendaklah para penyeru pendekatan antar mazhab dan Ukhuwah yang ikhlas berusaha agar jangan menjadikan masalah meluruskan tangan ke bawah dan menyedekapkannya sebagai sumber perpecahan.Bersedekap ataupun meluruskan tangan adalah khilaf para Ulama dan kita sebagai umat mengambil hikmah yang terbaik sesuai dengan dalil-dalail yang sampai kepada kita dengan meyakinkan tegakkanlah etika bermazhab agar Ukhuwah Islamiyah terbangun dan menjadi kekuatan kita bersama.

  5. siiplah yamg pemting kita bertauladan kepada ahlul bait untuk keslamatan akherat karena manusia pada dasarnya menuju nehidupan yang akan kekal yaitu akherat

  6. Pencinta Sunnah dan Ahlul Bait

    Syukran atas penjelasannya.
    Mulai saat ini, saya bersaksi tanpa keraguan sedikitpun bahwa SYIAH itu BUKANlah ISLAM, dan ISLAM BUKANlah SYIAH….

  7. Shalat belum tentu menjadi jaminan masuk Surga jika niatnya tidak ikhlas, biarkan orang shalat dengan caranya sendiri selama mereka memiliki dalil, yang penting kita umat Islam tetap hanya kepada Allah menyembah

  8. @pecinta sunah dan ahl bayt , kang pernah baca risalah oman tahun 2005 nggak, jangan malas baca, nih gue kasih krn di MUI kagak ada :

    Konferensi ini diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.)

    Bismillahir-Rahmanir-Rahim

    SALAM DAN SALAWAT SEMOGA TERCURAH PADA BAGINDA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA YANG SUCI

    Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa… (Al-Nisa’,4:1)

    Sesuai dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh YTH Imam Besar Syaikh Al-Azhar, YTH Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani, YTH Mufti Besar Mesir, para ulama Syiah yang terhormat (baik dari kalangan Syiah Ja’fari maupun Zaidi), YTH Mufti Besar Kesultanan Oman, Akademi Fiqih Islam Kerajaan Saudi Arabia, Dewan Urusan Agama Turki, YTH Mufti Besar Kerajaan Yordania dan Para Anggota Komite Fatwa Nasional Yordania, dan YTH Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi;Sesuai dengan kandungan pidato Yang Mulia Raja Abdullah II bin Al-Hussein, Raja Yordania, pada acara pembukaan konferensi;

    Sesuai dengan pengetahuan tulus ikhlas kita pada Allah SWT;

    Dan sesuai dengan seluruh makalah penelitian dan kajian yang tersaji dalam konferensi ini, serta seluruh diskusi yang timbul darinya;

    Kami, yang bertandatangan di bawah ini, dengan ini menyetujui dan menegaskan kebenaran butir-butir yang tertera di bawah ini:

    (1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

    (2) Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat (syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

    (3) Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.

    (4) Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

    (5) Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.

    Allah berfirman:

    Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu islahkan hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).

    Amman, 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M.

    Para penandatangan:

    AFGHANISTAN
    YTH. Nusair Ahmad Nour
    Dubes Afghanistan untuk Qatar

    ALJAZAIR
    YTH. Lakhdar Ibrahimi
    Utusan Khusus Sekjen PBB; Mantan Menlu Aljazair
    Prof. Dr. Abd Allah bin al-Hajj Muhammad Al Ghulam Allah
    Menteri Agama
    Dr. Mustafa Sharif
    Menteri Pendidikan
    Dr. Sa’id Shayban
    Mantan Menteri Agama
    Prof. Dr. Ammar Al-Talibi
    Departemen Filsafat, University of Algeria
    Mr. Abu Jara Al-Sultani
    Ketua LSM Algerian Peace Society Movement

    AUSTRIA
    Prof. Anas Al-Shaqfa
    Ketua Komisi Islam
    Mr. Tar afa Baghaj ati
    Ketua LSM Initiative of Austrian Muslims

    AUSTRALIA
    Shaykh Salim ‘Ulwan al-Hassani
    Sekjen, Darulfatwa, Dewan Tinggi Islam

    AZERBAIJAN
    Shaykh Al-Islam Allah-Shakur bin Hemmat Bashazada
    Ketua Muslim Administration of the Caucasus

    BAHRAIN
    Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Sutri
    Menteri Kehakiman
    Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah
    sekretaris Kementerian Agama

    BANGLADESH
    Prof. Dr. Abu Al-Hasan Sadiq
    Rektor Asian University of Bangladesh

    BOSNIA dan HERZEGOVINA
    Prof. Dr. Syaikh Mustafa Ceric
    Ketua Majlis ‘Ulama’dan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina
    Prof. Hasan Makic
    Mufti Bihac
    Prof. Anes Lj evakovic
    Peneliti dan Pengajar, Islamic Studies College

    BRAZIL
    Syaikh Ali Muhmmad Abduni
    Perwakilan International Islamic Youth Club di Amerika Latin

    KANADA
    Shaykh Faraz Rabbani
    Guru, Hanafijurisprudence, Sunnipath.com

    REPUBLIK CHAD
    Shaykh Dr. Hussein Hasan Abkar
    Presiden, Higher Council for Islamic Affair; Imam Muslim, Chad

    MESIR
    Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq
    Menteri Agama
    Prof. Dr. Ali Jumu’a
    Mufti Besar Mesir
    Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib
    Rektor Universitas Al-Azhar University
    Prof. Dr. Kamal Abu Al-Majd
    Pemikir Islam; Mantan Menteri Informasi;
    Dr. Muhammad Al-Ahmadi Abu Al-Nur
    Mantan Menteri Agama Mesir; Profesor Fakultas Syariah, Yarmouk University, Jordan
    Prof. Dr. Fawzi Al-Zifzaf
    Ketua Masyayikh Al-Azhar; Anggota the Academy of Islamic Research
    Prof. Dr. Hasan Hanafi
    Peneliti dan Cendekiawan Muslim, Departemen Filsafat, Cairo University
    Prof. Dr. Muhammad Muhammad Al-Kahlawi
    Sekjen Perserikatan Arkeolog Islam;
    Dekan Fakultas Studi Kesejarahan Kuno, Cairo University
    Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid
    Mantan Sekjen, Dar al-Kutub Al-Misriyya
    Syaikh Dr. Zaghlul Najjar
    Anggota Dewan Tinggi Urusan Islam, Mesir
    Syaikh Moez Masood
    Dai Islam
    Dr. Raged al-Sirjani
    Dr. Muhammad Hidaya

    PERANCIS
    Syaikh Prof. Dalil Abu Bakr
    Ketua Dewan Tinggi Urusan Agama Islam dan Dekan Masjid Paris
    Dr. Husayn Rais
    Direktur Urusan Budaya, Masjid Jami’ Paris

    JERMAN
    Prof. Dr. Murad Hofmann
    Mantan Dubes Jerman untuk Maroko
    Syaikh Salah Al-Din Al- Ja’farawi
    Asisten Sekjen World Council for Islamic Propagation

    INDIA
    H.E. Maulana Mahmood Madani
    Anggota Parlemen
    Sekjen Jamiat Ulema-i-Hind
    Ja’far Al-Sadiq Mufaddal Sayf Al-Din
    Cendikiawan Muslim
    Taha Sayf Al-Din
    Cendikiawan Muslim
    Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali
    Rektor Hamdard University
    Prof. Dr. Akhtar Al-Wasi
    Dekan College of Humanities and Languages

    INDONESIA
    Dr. Tutty Alawiyah
    Rektor Universitas Islam Al-Syafi’iyah
    Rabhan Abd Al-Wahhab
    Dubes RI untuk Yordania
    KH Ahmad Hasyim Muzadi
    Mantan Ketua PBNU
    Rozy Munir
    Mantan Wakil Ketua PBNU
    Muhamad Iqbal Sullam
    International Conference of Islamic Scholars, Indonesia

    IRAN
    Ayatollah Syaikh Muhammad Ali Al-Taskhiri
    Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah.
    Ayatollah Muhammad Waez-zadeh Al-Khorasani
    Mantan Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah
    Prof. Dr. Mustafa Mohaghegh Damad
    Direktur the Academy of Sciences; Jaksa; Irjen Kementerian Kehakiman
    Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi
    Ketua LSM Cultural League and Islamic Relations in the Islamic Republic of Iran
    Dr. Mahmoud Mar’ashi Al-Najafi
    Kepala Perpustakaan Nasional Ayatollah Mar’ashi Al-Najafi
    Dr. Muhammad Ali Adharshah
    Sekjen Masyarakat Persahabatan Arab-Iran
    Shaykh Abbas Ali Sulaymani
    Wakil Pemimpin Spiritual Iran di wilayah Timur Iran

    IRAK
    Grand Ayatollah Shaykh Husayn Al-Mu’ayyad
    Pengelola Knowledge Forum
    Ayatollah Ahmad al-Bahadili
    Dai Islam
    Dr. Ahmad Abd Al-Ghaffur Al-Samara’i
    Ketua Diwan Waqaf Sunni

    ITALIA
    Mr. Yahya Sergio Pallavicini
    Wakil Ketua, Islamic Religious Community of Italy (CO.RE.IS.)

    YORDANIA
    Prof. Dr. Ghazi bin Muhammad
    Utusan Khusus Raja Abdullah II bin Al-Hussein
    Syaikh Izzedine Al-Khatib Al-Tamimi
    Jaksa Agung
    Prof. Dr. Abdul-Salam Al-Abbadi
    Mantan Menteri Agama
    Prof. Dr. Syaikh Ahmad Hlayyel
    Penasehat Khusus Raja Abdullah dan Imam Istana Raja
    Syaikh Said Al-Hijjawi
    Mufti Besar Yordania
    Akel Bultaji
    Penasehat Raja
    Prof. Dr. Khalid Touqan
    Menteri Pendidikan dan Riset
    Syaikh Salim Falahat
    Ketua Umum Ikhwanul Muslimin Yordania
    Syaikh Dr. Abd Al-Aziz Khayyat
    Mantan Menteri Agama
    Syaikh Nuh Al-Quda
    Mantan Mufti Angkatan Bersenjata Yordania
    Prof. Dr. Ishaq Al-Farhan
    Mantan Menteri Pendidikan
    Dr. Abd Al-Latif Arabiyyat
    Mantan Ketua DPR Yordania;
    Shaykh Abd Al-Karim Salim Sulayman Al-Khasawneh
    Mufti Besar Angkatan Bersenjata Yordania
    Prof. Dr. Adel Al-Toweisi
    Menteri Kebudayaan
    Mr.BilalAl-Tall
    Pemimpin Redaksi Koran Liwa’
    Dr. Rahid Sa’id Shahwan
    Fakultas Ushuluddin, Balqa Applied University

    KUWAIT
    Prof. Dr. Abdullah Yusuf Al-Ghoneim
    Kepala Pusat Riset dan Studi Agama
    Dr. Adel Abdullah Al-Fallah
    Wakil Menteri Agama

    LEBANON
    Prof. Dr. Hisham Nashabeh
    Ketua Badan Pendidikan Tinggi
    Prof. Dr. Sayyid Hani Fahs
    Anggota Dewan Tinggi Syiah
    Syaikh Abdullah al-Harari
    Ketua Tarekat Habashi
    Mr. Husam Mustafa Qaraqi
    Anggota Tarekat Habashi
    Prof. Dr. Ridwan Al-Sayyid
    Fakultas Humaniora, Lebanese University; Pemred Majalah Al-Ijtihad
    Syaikh Khalil Al-Mays
    Mufti Zahleh and Beqa’ bagian Barat

    LIBYA
    Prof. Ibrahim Al-Rabu
    Sekretaris Dewan Dakwah Internasional
    Dr. Al-Ujaili Farhat Al-Miri
    Pengurus International Islamic Popular Leadership

    MALAYSIA
    Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman
    Menteri Sekretariat Negara
    Anwar Ibrahim
    Mantan Perdana Menteri
    Prof. Dr. Muhamad Hashem Kamaly
    Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilisation
    Mr. Shahidan Kasem
    Menteri Negara Bagian Perlis, Malaysia
    Mr. Khayri Jamal Al-Din
    Wakil Ketua Bidang Kepemudaan UMNO

    MALADEWA
    Dr. Mahmud Al-Shawqi
    Menteri Pendidikan

    MAROKO
    Prof. Dr. Abbas Al-Jarari
    Penasehat Raja
    Prof. Dr. Mohammad Farouk Al-Nabhan
    Mantan Kepala DarAl-Hadits Al-Hasaniyya
    Prof. Dr. Ahmad Shawqi Benbin
    Direktur Perpustakaan Hasaniyya
    Prof. Dr. Najat Al-Marini
    Departemen Bahasa Arab, Mohammed V University

    NIGERIA
    H.H. Prince Haji Ado Bayero
    Amir Kano
    Mr. Sulayman Osho
    Sekjen Konferensi Islam Afrika

    KESULTANAN OMAN
    Shaykh Ahmad bin Hamad Al-Khalili
    Mufti Besar Kesultanan Oman
    Shaykh Ahmad bin Sa’ud Al-Siyabi
    Sekjen Kantor Mufti Besar

    PAKISTAN
    Prof. Dr. Zafar Ishaq Ansari
    Direktur Umum, Pusat Riset Islam, Islamabad
    Dr. Reza Shah-Kazemi
    Cendikiawan Muslim
    Arif Kamal
    Dubes Pakistan untuk Yordania
    Prof. Dr. Mahmoud Ahmad Ghazi
    Rektor Islamic University, Islamabad; Mantan Menteri Agama Pakistan

    PALESTINA
    Shaykh Dr. Ikrimah Sabri
    Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa
    Shaykh Taysir Raj ab Al-Tamimi
    Hakim Agung Palestina

    PORTUGAL
    Mr. Abdool Magid Vakil
    Ketua LSM Banco Efisa
    Mr. Sohail Nakhooda
    Pemred Islamica Magazine

    QATAR
    Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi
    Ketua Persatuan Internasional Ulama Islam
    Prof. Dr. Aisha Al-Mana’i
    Dekan Fakultas Hukum Islam, University of Qatar

    RUSIA
    Shaykh Rawi Ayn Al-Din
    Ketua Urusan Muslim
    Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev
    Direktur, Moscow Institute of Islamic Civilisation
    Dr. Murad Murtazein
    Rektor, Islamic University, Moskow

    ARAB SAUDI
    Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri
    Direktur Umum, The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO)
    Syaikh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

    SENEGAL
    Al-Hajj Mustafa Sisi
    Penasehat Khusus Presiden Senegal

    SINGAPORA
    Dr. Yaqub Ibrahim
    Menteri Lingkuhan Hidup dan Urusan Muslim

    AFRIKA SELATAN
    Shaykh Ibrahim Gabriels
    Ketua Majlis Ulama Afrika Utara South African ‘Ulama’

    SUDAN
    Abd Al-Rahman Sawar Al-Dhahab
    Mantan Presiden Sudan
    Dr. Isam Ahmad Al-Bashir
    Menteri Agama

    SWISS
    Prof. Tariq Ramadan
    Cendikiawan Muslim

    SYRIA
    Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti
    Dai, Pemikir dan Penulis Islam
    Prof. Dr. Syaikh Wahba Mustafa Al-Zuhayli
    Ketua Departemen Fiqih, Damascus University
    Syaikh Dr. Ahmad Badr Hasoun
    Mufti Besar Syria

    THAILAND
    Mr. Wan Muhammad Nur Matha
    Penasehat Perdana Menteri
    Wiboon Khusakul
    Dubes Thailand untuk Irak

    TUNISIA
    Prof. Dr. Al-Hadi Al-Bakkoush
    Mantan Perdana Menteri Tunisia
    Dr. Abu Baker Al-Akhzuri
    Menteri Agama

    TURKI
    Prof. Dr. Ekmeleddin I lis an og hi
    Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI)
    Prof. Dr. Mualla Saljuq
    Dekan Fakultas Hukum, University of Ankara
    Prof. Dr. Mustafa Qag nci
    Mufti Besar Istanbul
    Prof. Ibrahim Kafi Donmez
    Profesor Fiqih University of Marmara

    UKRAINa
    Shaykh Dr. Ahmad Tamim
    Mufti Ukraina

    UNI EMIRAT ARAB
    Mr. Ali bin Al-Sayyid Abd Al-Rahman Al-Hashim
    Penasehat Menteri Agama
    Syaikh Muhammad Al-Banani
    Hakim Pengadilan Tinggi
    Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwish al-Marzuqi
    Hakim Pengadilan Dubai

    INGGRIS
    Syaikh Abdal Hakim Murad / Tim Winter
    Dosen, University of Cambridge
    Syaikh Yusuf Islam /Cat Steven
    Dai Islam dan mantan penyanyi
    Dr.FuadNahdi
    Pemimpin Redaksi Q-News International
    SamiYusuf
    Penyanyi Lagu-lagu Islam

    AMERIKA SERIKAT
    Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr
    Penulis dan profesor Studi-studi Islam, George Washington University
    Syaikh Hamza Yusuf
    Ketua Zaytuna Institute
    Syaikh Faisal Abdur Rauf
    Imam Masjid Jami Kota New York
    Prof. Dr. Ingrid Mattson
    Profesor Studi-studi Islam, Hartford Seminary; Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA)

    UZBEKISTAN
    Syaikh Muhammad Al-Sadiq Muhammad Yusuf
    Mufti Besar

    YAMAN
    Syaikh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
    Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim
    Syaikh Habib Ali Al-Jufri
    Dai Internasional
    Prof. Dr. Husayn Al-Umari
    Anggota UNESCO; Profesor Sejarah, Universitas San

  9. Alhamdulillah..
    Ana ikut sholat Rasulullah & Ahlul Baity.
    ALAHUMMA SHOLLI AALA MUHAMMAD WAA AALI MUHAMMAD

  10. semuanya wallahhuwa’lam bissawabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s