Galeri

Agama Tanpa Shalat Tidak Ada Kebaikan di Dalamnya

Penghambaan kepada Allah Swt merupakan kedudukan luar biasa bagi manusia. Para nabi dan manusia-manusia bijak senantiasa bangga akan penghambaan mereka di hadapan Allah Swt. Mereka dalam kondisi apapun selalu menyempatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. Dalam ibadah itu, hamba-hamba sejati memuji Allah Maha Pencipta dan Maha Kuasa.

Akan tetapi, penghambaan adalah derajat yang harus ditempuh dengan perjuangan keras dan keikhlasan. Manusia dapat menjelaskan kelezatan materi dengan mudah, tapi ia akan kesulitan untuk menjelaskan kenikmatan spritual. Tidak mudah bagi manusia menjelaskan kenikmatan ibadah. Kelezatan spritual begitu dahsyat sehingga siapapun yang merasakannya akan lupa kenikmatan-kenikmatan lainnya. Untuk itu, para manusia suci dan agung selalu menganjurkan supaya meraih keimanan dan melakukan ibadah dengan khusyuk. Dengan cara itu, manusia akan meraih sumber ilmu yang bergolak di hati. Mereka juga menganjurkan manusia supaya mencari makrifat. Dengan makrifat itu, manusia dapat merasakan ibadah yang abadi atas dasar rasa cinta.

Shalat adalah penyempurna jiwa, sumber kemuliaan dan tolok ukur perbuatan. Untuk itu, Rasulullah Saw bersabda, “Shalat adalah salah satu jalan agama dan para nabi dan hal yang dapat merelakan Allah Swt. Shalat bagi orang-orang yang mengerjakannya adalah sarana kedekatan para malaikat, cahaya makrifat, keberkahan rejeki, ketenangan diri dan kemurkaan setan…seorang hamba akan mencapai derajat yang tinggi melalui shalat.

Shalat adalah salah satu taklif terpenting yang menjadi kewajiban bagi setiap orang baligh dan berakal. Dampak-dampak positif shalat begitu dahsyat sehingga para nabi dan manusia-manusia suci menyebutnya sebagai tiang agama. Dengan demikian, siapapun yang meninggalkan shalat, akan lemah dari sisi pondasi spritual. Shalat mendapat tempat luar biasa dalam Islam.

Dalam sejarah disebutkan, masyarakat Thaif saat menerima Islam, memohon kepada Rasulullah Saw supaya mendapat toleransi untuk tidak melakukan shalat. Akan tetapi Rasulullah Saw menanggapi permintaan itu, dan bersabda, “Agama yang tidak mempunyai shalat, maka tidak ada kebaikan di dalamnya.”

Seorang muallaf Dr Jeffry Lang, seorang dosen matematika di Universitas Kansas. Ia dilahirkan di tengah keluarga Kristen Protestan. Di masa mudanya, ia menyempatkan diri untuk menelaah agama-agama lain.

Pada suatu hari, Jeffry Lang bertemu dengan seorang mahasiswa muslim. Lang kemudian mendapat hadiah sebuah kitab al-Quran dari mahasiswa muslim itu. Selama tiga tahun, ia menelaah seluruh isi kitab suci al-Quran secara teliti. Setelah itu, ia sangat mengagumi kitab suci ummat Islam itu, bahkan ia mengakui al-Quran sebagai mukjizat dan pedoman kebahagiaan bagi ummat Islam. Untuk itu, kecenderungan Lang atas Islam kian kuat dari hari ke hari.

Lang dalam pengalaman pertamanya mengerjakan shalat, benar-benar membayangkan tengah memusnahkan berhala dengan bersimpuh sujud di hadapan Allah Swt. Ia juga menggambarkan bagaimana ombak kasih sayang Allah Swt meliputi dirinya dan membawanya ke dunia cahaya dan keindahan sebenarnya. Daya tarik doa dan munajat kepada Allah Swt sangat berpengaruh kuat pada dirinya. Tidak diragukan lagi, seseorang pasti akan menemukan ketenangan diri melalui shalat.

Hingga kini, Dr Lang menulis beberapa buku tentang pengalaman imannya. Di antaranya adalah buku yang berjudul, “Berperang terhadap Keimanan,” dan “Para Malaikat Juga Bertanya.” Dalam buku “Para Malaikat Juga Bertanya,” Dr Lang menulis, “Ketika saya menganut ajaran Islam, imam jamaat masjid memberikan sebuah buku pedoman shalat kepada saya. Para mahasiswa muslim yang bersahabat dengan saya meminta saya supaya pelan-pelan mempelajari shalat, sehingg bisa meraih spritual shalat. Akan tetapi karena kerinduan dahsyat yang meliputi diriku, sayapun segera mempelajari pedoman shalat itu dengan cepat. Malam itu juga, saya mengerjakan shalat pertama kali.”

Lebih lanjut Dr Lang menuturkan, “Setelah beberapa jam, saya merasa siap untuk mengerjakan shalat. Melalui shalat, saya akan menunjukkan penghambaan di hadapan Allah Swt. Satu jam hampir mendekati tengah malam, saya mengambil wudhu yang kemudian berdiri menghadap kiblat. Dengan menarik nafas yang mendalam, saya memulai shalat dengan mengucapkan Allahu Akbar secara perlahan.”

Dr Lang melanjutkan cerita, dan mengatakan, “Saya membaca surat al-Fatihah dan surat dengan bahasa Arab. Setelah itu, saya melakukan ruku dengan membungkukan badan. Saat itu, saya benar-benar merasakan hati yang berdebar cukup kencang. Selama ini, saya belum pernah melakukan ruku kepada siapapun. Akan tetapi kali ini, saya harus melakukan ruku di hadapan Allah Swt. Setelah ruku, saya pun bersiap-siap melakukan sujud. Ketika meletakkan dahiku di atas tanah, saya benar-benar merasa rendah di hadapan Allah Swt. Saat itu pula, saya menemukan ketenangan luar biasa. Dalam kondisi sujud, saya mengucapkan pujian kepada Allah Swt dengan suara keras. Saat itu pula, saya merasakan diriku terjalin dengan kekuatan luar biasa. Sujud seakan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam gerakan-gerakan shalat selanjutnya, saya menemukan kejutan-kejutan lainnya hingga akhir sujud shalat. Saya benar-benar menemukan ketenangan luar biasa dalam mengerjakan shalat.”

Setelah selesai shalat, Dr Lang mengatakan, “Ketika shalat selesai, terlintas dalam benakku, apakah saya sudah benar mengerjakan shalat? Dengan penuh rasa malu, saya berdoa; Ya Allah, ampunilah aku. Saya datang dari tempat yang jauh dan aku masih harus menempuh jalan yang sangat jauh.”

Dr Lang dalam bukunya menulis, “Dalam shalat pertama, saya merasakan bahwa rahmat ilahi seakan meliputiku dan menembus ke dalam diriku. Saat itu, saya mengucapkan syukur atas nikmat hidayah.” Dalam bagian tulisannya, ia juga mengatakan, “Ketika menulis pengalaman shalat pertama, saya menyimpulkan bahwa ampunan ilahi selain dapat menghapus dosa, juga memberikan ketenangan diri. Di pertengahan malam, saya berdoa dengan suara keras; Ya Allah, jangan berikan peluang untuk berpaling dari-Mu. Dengan segala kekurangan ini, bagaimana saya harus menempuh perjalanan hidup ini? Saya tidak siap untuk hidup tanpa-Mu.”

http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/agama-tanpa-shalat-tidak-ada-kebaikan-di-dalamnya?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-1%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_m7UK%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn-2%26p_p_col_count%3D1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s