Galeri

Fatimah, Pejuang Kemuliaan dan Kesucian

Tanggal 20 Jumadil Tsani adalah hari kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra as. Pada tahun kelima kenabian, rumah pasangan Nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah as dipenuhi suasana suka dan bahagia. Di hari itu, mereka dianugerahi karunia Ilahi yang begitu berharga, kelahiran seorang perempuan agung, teladan wanita sepanjang masa, Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Kehadiran Fatimah as ke dunia ini laksana bunga yang mekar dengan begitu indah. Semerbak harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai tercerahkan kembali. Kelahirannya mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan batil tentang perempuan. Dengan lahirnya perempuan suci ini, Allah Swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta kepada Rasulullah Saw. Sungguh benar apa yang dikatakan al-Quran bahwa Fatimah as adalah al-Kautsar. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar, nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Fatimah as memiliki beberapa sebutan mulia, disamping banyak nama dan sebutan lain yang disematkan pada pribadi agung ini. Di antaranya ialah; Fatimah, Zahra, Muhaddatsah, Mardhiyah, Siddiqah Kubra, Raihanah, Bathul, Rasyidah, Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia), dan Thahirah. Allamah al-Majlisi dalam kitab Bihar al-Anwar menukil sebuah riwayat dari Imam Jakfar Shadiq as, yang menyatakan bahwa “Ia dinamakan Fatimah, karena tidak terdapat keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as, maka sampai hari kiamat tidak akan ada seorang pun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 10)

Fathama berarti anak yang disapih dari susuan. Dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as disebutkan bahwa, setelah kelahiran Fatimah as, Allah Swt berfirman kepadanya, “Sesungguhnya aku telah menyapihmu dengan ilmu, dan menyapihmu dari kotoran. Hal ini seperti seorang bayi sewaktu disapih dari susu ibunya, maka ia memerlukan makanan lain sebagai penggantinya. Dan Fahimah as telah disapih, sedang makanan pertamanya adalah ilmu.” (Bihar al-Anwar ,jilid 43, hal 13)

Imam Ali as berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ia dinamakan Fatimah, karena Allah Swt akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 18-19)

Fatimah as dilahirkan di sebuah masyarakat yang tidak memiliki faktor-faktor penting untuk terbentuknya sebuah sistem yang bernilai. Para sejarawan menilai Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam sebagai sebuah komunitas yang tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Sistem nilai mereka dibangun atas landasan takhayul dan penyembahan berhala. Bertahan hidup dengan membunuh orang lain, kecondongan untuk saling berbangga diri, dan penguburan hidup-hidup bayi perempuan, telah menjadi nilai-nilai sosial kaum jahiliyah. Di tengah masyarakat seperti itu, Fatimah as telah menjadi teladan dalam mendobrak tradisi-tradisi jahiliyah yang tidak memberi hak hidup kepada kaum perempuan.

Pada masa tragis itu, kedua tangan Fatimah as senantiasa menjadi tempat mendaratnya ciuman kasih sayang Rasul Saw. Wanita mulia ini mendapat perhatian khusus dari ayahnya dan ia merupakan nikmat yang banyak (al-Kautsar). Semua sikap dan perlakuan Rasul Saw kepada Fatimah as mencerminkan pandangan luhur Islam terhadap perempuan. Beliau selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengenalkan kepribadian agung Fatimah as kepada para sahabatnya dan publik Arab.

Kebanyakan keutamaan Fatimah as dinukil oleh pribadi-pribadi yang notabene bukan bagian dari keluarga Rasul Saw. Realita ini menunjukkan bahwa Rasul Saw sengaja menjelaskan keutamaan-keutamaan Fatimah as kepada para sahabatnya dengan tujuan memperkenalkan keagungan dan kedudukan wanita itu di tengah masyarakat. Rasul Saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, siapa saja yang membuatnya marah, maka ia telah membuatku marah dan siapa saja yang membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Fatimah tumbuh dewasa di rumah seorang nabi yang penuh kasih sayang. Nabi Saw mendidik dan membimbingnya sedemikian rupa agar kelak ia menjadi teladan bagi umat manusia. Di antara hal yang membuat ibunya, Khadijah as, merasa amat senang kepadanya adalah karena dia memang memiliki sifat-sifat yang suci dan terpuji. Dengan didikan itulah, Fatimah tumbuh menjadi seorang wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, menyenangi kebaikan, berakhlak mulia, dan mampu meneladani Rasulullah Saw, sang teladan teringgi dan panutan terbaik sepanjang masa.

Fatimah berkecimpung di tengah masyarakat dengan bekal pendidikan dan bimbingan yang didapatkan dari Rasul Saw. Wanita penghulu surga ini mampu menciptakan hubungan sempurna antara tanggung jawab sosial dan peran sebagai seorang istri. Ia sangat peduli dengan isu-isu sosial, ekonomi, dan politik masyarakat Islam pada masa itu dan senantiasa mendukung front kebenaran. Fatimah juga termasuk seorang pejuang yang turut berjihad di medan perang, termasuk di Perang Uhud. Ia memberikan pengobatan, menyediakan air minum bagi para prajurit, dan mempersiapkan urusan logistik pasukan Muslimin.

Menjelang wafatnya Rasul Saw, Fatimah as berkata, “Alangkah beratnya, wahai ayah.” Nabi Saw menjawab, “Tiada kesusahan atas ayahanda sesudah hari ini.” Pada saat Nabi Saw wafat, Fatimah merasa amat sedih dan menangis sambil berkata, “Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan berita duka ini. Wahai ayahku, semoga Allah mengabulkan semua permintaan. Wahai ayahku, hanya surga Firdaus tempat yang layak.” Sejak masa itu, Fatimah menilai perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan melawan penyimpangan di tengah umat Islam sebagai kewajibannya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Kehidupan Fatimah az-Zahra as meski terbilang singkat, namun kehidupan itu merupakan samudra dari kerja keras, kesabaran, pembelajaran, perjuangan dalam membela kenabian, imamah dan sistem Islam, dan pada akhirnya menjemput kesyahidan. Kehidupan Fatimah as yang penuh dengan perjuangan sungguh sangat luar biasa dan benar-benar tak ada tandingan.” Fatimah adalah seorang wanita yang dalam setiap gerak kehidupannya merupakan teladan yang patut ditiru, figur seorang istri yang salehah dan penyabar dalam menjalin hubungan sosial. Dan sebagai teladan kaum ibu dalam mendidik putra-putrinya.

Fatimah menilai keunggulan wanita tidak terletak pada kompetisi buta dan deskruktif dengan pria dalam mengerjakan segala hal, tapi terletak pada ketepatan dalam menunaikan kewajiban yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Dalam sistem penciptaan, ada tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab wanita dan tidak mungkin dilaksanakan oleh pria. Oleh karena itu, Fatimah dalam posisinya sebagai seorang istri dan ibu, telah menunaikan kewajibannya dengan sempurna dan memenuhi rumah tangga dengan cinta dan kasih sayang.

Kedudukan spiritual Fatimah as juga sangat tinggi sampa-sampai malaikat berbicara dengannya. Oleh karena itu, ia disebut Muhaddatsah, artinya orang yang mampu berkomunikasi dengan malaikat. Para malaikat dapat berbicara dengan selain para nabi atau rasul. Mereka bisa mendengar suara dan melihat para malaikat. Allah Swt telah menjelaskan bahwa Maryam binti Imran as melihat malaikat dan berbicara dengannya. Dalam surah al-Imran ayat 42, Allah Swt berfirman: “Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (IRIB Indonesia/RM/NA)http://indonesian.irib.ir/ahlul-bait/-/asset_publisher/2X4q/content/fatimah-pejuang-kemuliaan-dan-kesucian?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fahlul-bait%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_2X4q%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3D_118_INSTANCE_0dfU__column-2%26p_p_col_count%3D5

Ingin Mengenal Fatimah sa, Maka Harus Mengenal Keturunannya

Hujjatul Islam Mohsen Qaraati, dalam menilai Sayidah Fatimah az-Zahra sa adalah putri Nabi, istri seorang pewaris risalah, dan ibu dari para imam seraya mengatakan, “Qasim bin Hasan as adalah cucu dari Sayidah Zahra sa yang di usia 13 tahun mengucapkan ungkapan yang tiada padanannya di dunia sekarang ini.”

Dalam wawancaranya dengan Fars News (9/5) Qaraati seraya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah sa, juga menyinggung cara bagaimana kaum perempuan saat ini dapat mengenal Sayidah Fatimah sa dan mengatakan, “Untuk mengenal pohon, maka kita harus merasakan buahnya dan ketika itulah kita akan mengetahui sebaik apa pohon tersebut.”

Ditambahkannya, “Sayidah Fatimah adalah putri Rasulullah, istri pewaris risalah, dan ibu dari para imam yang salah satu di antaranya adalah Imam Hasan Mujtaba yang memiliki putra bernama Qasem bin Hasan berusia 13. Ketika berjuang di Karbala, Imam Husein as bertanya kepadanya: bagaimana menurutmu kematian itu? Karena beberapa saat lagi kau akan syahid. Dan Qasem menjawab; lebih manis dari madu!

“Saat ini, kita belum menemukan ada seorang remaja berusaha 13 tahun yang mengatakan bahwa jika pemerintahan berada di tangan para penjahat dan taghut, maka kesyahidan akan lebih manis dari madu! Seperti inilah keturunan Sayidah Fatimah. (IRIB Indonesia/MZ)

http://indonesian.irib.ir/ahlul-bait/-/asset_publisher/2X4q/content/qaraati-ingin-mengenal-fatimah-sa-maka-harus-mengenal-keturunannya?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fahlul-bait%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_2X4q%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3D_118_INSTANCE_0dfU__column-2%26p_p_col_count%3D5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s