Galeri

Muhammadiyah & Dialog Pemikiran

Oleh : Prof. DR. M. Din Syamsuddin

Kalau DR. Muhadjir, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang menyatakan ada tiga ordo atau elemen dalam Muhammadiyah yang terdiri dari agamawan (ulama), intelektual (cendekiawan), dan pelayan yang ketiganya harus saling bersinergis agar tercipta Muhammadiyah yang kuat, solid, dan bermanfaat maka saya menambah satu ordo lagi yang juga sangat berperan dalam Muhammadiyah.

Menurut pengamatan saya, ordo ini tidak termasuk dalam jenis pertama, kedua, maupun ketiga, secara mutlak, tetapi, masuk di antara ketiga-tiganya secara parsial. Ordo ini sebenarnya sudah menjadi khas Muhammadiyah, yaitu ordo penggembira. Dalam Muhammadiyah faksi yang bisa dibilang terbesar adalah faksi penggembira ini. Hanya saja akhir-akhir ini kalau diamati, penggembira yang bahasa arabnya basyîran-mubasysyir, mulai agak bergeser menjadi nadziran, munadzir, yang kadangkala sering tidak menyampaikan tabsyîr, tapi sebaliknya.

Terkait dengan acara ini, terus terang sangat mendukung dan menyukai kegiatan seperti ini. Saya pribadi pernah menggagas dan menyampaikan pada kawan-kawan lain agar segera melakukannya. Walaupun tidak terlalu keren seperti mengunakan istilah Muktamar Pemikiran ataupun Kolokium, tapi hanya sekedar dialog pemikiran yang menyertakan berbagai kalangan pemikir Muhammadiyah dari berbagai madzhab pemikiran.

Kegiatan seperti dialog pemikiran ini perlu untuk dilakukan karena para pemikir Muhammadiyah itu memang sudah beragam. Baik karena pengaruh almamater maupun pengaruh tempat tinggal, daerah, dan lokalitas. Paling tidak, ada dua madzhab besar yang kemudian memunculkan sejumlah labelisasi yang diberikan. Sebelah sana liberal, sebelah sini radikal; konservatif. Istilah-istilah itu setidaknya muncul saat dan setelah Muktamar Muhammadiyah di Malang.

Kalau hal itu bisa dilihat secara santai hal itu dapat dianggap sebagai sebuah proses terapi, tetapi kalau diseriusi hal itu dapat menyedihkan. Menyedihkan kalau interaksi di antara keduanya lebih menampilkan sebagai dialektika pemikiran daripada dialog-dialog pemikiran, karena akan lebih tampil menjauh daripada saling mendekat. Hal ini bila dibiarkan akan menjadi kontraproduktif. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya dialog. Sudah cukup lama ide itu belum sempat terlaksana, tetapi alhamdulillah pada hari ini dapat terlaksana, dan saya kira istilah yang digunakan sekarang, Kolokium, tidak perlu menjadi masalah.

Kalau istilah acara ini harus mengalami perubahan dari Muktamar ke kolokium saya rasa ada yang positif di balik itu. Muktamar Muhammadiyah yang terakhir kita laksanakan itu di Malang dan juga di UMM, maka kalau ada Muktamar lagi di tempat yang sama nanti bisa dianggap sebagai Muktamar saingan. Nilai positif yang kedua, Muktamar Muhammadiyah kemarin yang hadir itu belum menyeluruh. Terbatas pada kelompok umat dari representasi daerah, tapi yang sekarang ini hadir juga perwakilan representasi mazhab pemikiran dan juga generasi.

Dari Istilah yang pernah ada, pilihannya hanya dua, kolokium atau halaqah. Karena halaqah sudah dipakai NU, maka Muhammadiyah menggunakan kolokium saja. Muhammadiyah memang harus mengembangkan sesuatu yang bernuansa modern, jadi dalam bidang seni-budaya pun harusnya seni modern, jangan hanya kasidahan, marawis, tapi kalau bisa pop atau rock, tapi lebih bernuansa Islam.

Dalam konteks sekarang, kegiatan seperti ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilkukan. Gejala dialektika pemikiran yang berpotensi saling menjauhkan itu harus segera kita ubah menjadi gejala dialog pemikiran.

Ada semacam kerancuan alam pikiran di kalangan Muhammadiyah, bukan berarti organisasi belum membukukan dan membakukan yang seharusnya dibukukan atau dibakukan seperti Putusan Tarjih dan putusan-putusan strategis organisasi, tetapi itu lebih banyak meliputi aspek strategis gerakan.

Jadi masih ada semacam kerancuan, bahkan tidak hanya pada ambiguitas pemikiran, tapi juga absurditas pemikiran. Terutama dalam konteks ketika harus menyikapi dan memberikan respons pada tantangan baru, yang dalam hal ini ada ambiguitas, dan juga sampai pada nuansa absurditas pemikiran. Mengapa demikian, sebenarnya ini bukan merupakan suatu hal yang salah, tapi juga merupakan konsekuensi logis dari kedirian kita yang sejatinya membuka peluang bagi keragaman pemikiran itu sendiri.

Secara teologis, Muhammadiyah kadang-kadang menyebut diri sebagai gerakan yang secara teologis berada pada kategori salafiyah atau salafisme. Hal itu juga yang menjadi landasan KHA. Dahlan dalam pendirian Muhammadiyah, salah satu referensinya adalah Tafsir al-Manar dari Rasyid Ridla, tokoh salafiyah abad 20. Itupun juga ada referensi lain, dan pada bidang-bidang tertentu bersatu dengan gerakan Salafiyah. Tapi ketika muncul gerakan salafi sekarang ini, yaitu gerakan yang cara berpakaiannya harus memakai jubah, di atas matanya memakai celak, celananya di atas tumit, tata cara shalatnya berbeda, dan jumlah varianya juga banyak. Apakah Muhammadiyah bagian dari salafi yang seperti ini?

Ada lagi titik-titik kategoris salafi lain yang juga tampil di Indonesia, sehingga kita sadar bahwa varian Islam Indonesia itu sangat banyak. Ketika saya ditanya “Apa Muhammadiyah itu salafi?”, saya jawab: “Ya, Muhammadiyah salafi juga”. Ada lembaga luar negeri yang tidak mau bekerja sama dengan kita, kecuali di dalam berita acara ditulis bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang berpegang pada aqidah salafi, yaitu salafus-saleh. Saya juga bilang “Ya”, tapi mungkin kita sadari salafi-nya, yaitu salafi tengahan.

Tapi kalau mau jujur, saya lihat salah satu ajaran utama itu adalah ar-ruju’ ila Qur’an was-Sunnah Tetapi kegagalan kaum salafiyah, termasuk yang membawa bendera ar-ruju ila Qur’an was-Sunnah adalah kegagalan mereka dalam merumuskan metodologi kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, jadi kuncinya adalah kaifa narja’, yakni pada kerangka kaifiyah. Ini saya lihat, termasuk Muhammadiyah juga belum berhasil. Mungkin kita tidak pernah berfikir untuk merumuskan kerangka metodologi dan kerangka epistemologis untuk kembali pada al-Qur’an dan Sunnah. Dalam putusan tarjih ada tambahan; was-Sunah al-Maqbulah. Jadi Muhammadiyah ini bukan inkarus-Sunnah dan bukan inkarul-Qu’ran, tetapi merujuk pada al-Qur’an, dan as-Sunnah Maqbulah. Cuma di situ belum selesai. Sekarang Majelis Tarjih kita mempunyai tugas besar untuk merumuskan kaifa narja’ ila-Qur’an was-Sunnah, tapi pada tingkat metodologi dan epistemologi.

http://www.muhammadiyah.or.id/id/artikel-muhammadiyah-dialog-pemikiran-detail-12.html

MAJELIS TARJIH PWM KALSEL KAJI PERSOALAN SALAFI
Sabtu, 16-06-2012
Bertempat di Aula PWM Kalsel Lt. 1, Majelis Tarjih dan Tajdid PW. Muhammadiyah Kalimantan Selatan pada Sabtu (16/6) bersama-sama seluruh pakar tarjih se Kalimantan Selatan secara intens mengkaji persoalan keumatan. Salah satunya adalah maraknya gerakan salafi di masjid Muhammadiyah yang makin meresahkan warga Muhammadiyah. Berdasarkan laporan PD. Muhammadiyah persoalan tersebut semakin menggejala hampir di seluruh masjid Muhammadiyah se Kalimantan Selatan. “Perseteruan” antara Muhammadiyah dengan salafi tersebut, pada awalnya hanya persoalan berbeda pendapat saja, tapi belakangan hal tersebut merembet sampai menyalahkan dan menganggap pendapat yang dipahami Muhammadiyah adalah salah. Lebih dari pada itu, persoalan yang cukup krusial, adanya upaya “pengambilalihan” masjid/mushalla Muhammadiyah yang dijadikan lahan untuk mengembangkan paham salafi.

Menanggapi hal tersebut, peserta pengajian merekomendasikan agar pimpinan wilayah secara tegas membuat surat edaran kepada seluruh pengelola masjid/mushalla Muhammadiyah untuk selektif dalam memilih khatib/penceramah dalam pengajiannya. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penceramah di luar Muhammadiyah ketika berceramah di lingkungan Muhammadiyah justru mematahkan atau bahkan mengobok-obok paham yang diyakini Muhammadiyah. Masih menurut peserta pengajian, ketegasan pimpinan sangat diperlukan demi menjaga kestabilan umat di akar rumput, sehingga tidak mengalami kebimbangan atau keraguan dalam beribadah.

Pengajian perdana yang digagas majelis tarjih dan tajdid tersebut juga membicarakan berbagai hal dalam ibadah yang selama ini diperselisihkan antara Muhammadiyah dan salafi. Para peserta pengajian mengharapkan agar pimpinan wilayah bisa membuat pedoman yang dapat dijadikan sandaran dalam beribadah bagi warga persyarikatan di tingkat bawah. [Kh]

http://kalsel.muhammadiyah.or.id/berita-1258-detail-majelis-tarjih-pwm-kalsel-kaji-persoalan-salafi.html

DPW ABI Jawa Tengah Menjalin Komunikasi Dengan DPW Muhammadiyah

Senin, 18 Juni 2012
Dalam rangka membangun hubungan komunikasi dan mempererat persatuan umat Islam, terutama antar ormas Islam di Jawa Tengah, DPW ABI Jateng melakukan kunjungan silaturahmi ke Dewan Pengurus Wilayah Muhammadiyah di Semarang (14/6). Rombongan yang dipimpin oleh Ust Akhmad Nurkholis tersebut, disambut hangat oleh Drs. KH. Mustman Thalib dan beberapa unsur pimpinan Muhammadiyah yang lain

Dalam kesempatan tersebut, DPW ABI Jateng, memperkenalkan keberadaan Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan identitasnya sebagai ormas yang bermadhabkan Syiah Imamiyah. Ditambahkan, bahwa ormas ini berkomitmen membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-BINEKA TUNGAL IKA dan siap bekerjasama dengan seluruh komponen bangsa. Hal tersebut dikemukaan oleh DPW ABI Jateng seiring dengan maraknya anarkisme di beberapa daerah dan konflik horisontal yang dipicu oleh perbedaan paham dan madhab akhir-kahir ini.

Drs. KH. Mustman Thalib, selaku pimpinan Muhammadiyah wilayah Jawa Tengah, dalam sambutannya menyatakan: Antar umat Islam harus saling memahami dan mengormati. Perbedaan pandangan dan mazhab tidak boleh menjadi alasan terjadinya anarkisme agama, di samping itu, Allah juga telah melarangnya. Beliau juga menghimbau agar ABI dapat melakukan silaturahmi ke tingkat DPD Muhammadiyah di masing-masing daerah sehingga terjalin hubungan yang semakin kuat. Sementara, pimpinan yang lain menambahkan; mazhab Syi’ah bukan hal baru, di beberapa perguruan tinggi Islam, Syiah justru telah menjadi bagian penting yang dikaji. “Kenapa anda menggunakan Ahlul Bait Indonesia (ABI), kenapa tidak menggunakan Syi’ah saja, apakah anda takut dicela?” Cetusnya, yang kemudian disambut ketawa oleh yang hadir

Kunjungan ini membuktikan bahwa Ahlulbait Indonesia, baik di tingkat pusat, wilayah dan daerah, memiliki semangat kuat untuk membangun persatuan Islam dan kesatuan NKRI. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam lebih ini berjalan dengan baik, penuh keharmonisan dan kehangatan.

http://ahlulbaitindonesia.org/index.php/berita/daerah/1081-dpw-abi-jawa-tengah-menjalin-komunikasi-dengan-dpw-muhammadiyah.html

“Iranian Corner” Sediakan Informasi Tentang Iran
Penulis: Jamilah

Siang itu, di ruangan seluas 14 x 18 meter persegi yang berada di lantai dua Fakultas Usuluddin dan Filsafat nampak beberapa mahasiswa sedang serius membaca buku. Di ruangan ini terdapat buku-buku yang berasal dari Iran yang berisi tentang ajaran syi’ah, filsafat, teologi, akhlak, dan kebudayaan Iran. Buku-buku itu ditulis dalam beragam bahasa seperti Parsi, Arab, Indonesia dan Inggris. Di dinding ruangan itu juga terpampang foto tokoh revolusi islam Iran Ayatullah Khomeini, pemimpin spiritual Iran Ayatullah Ali Khomenei dan foto presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadi Nejad.

Ruangan ini juga digunakan untuk berdiskusi dan Resos mengenai Ahlulbait, filsafat, akhlak dan logika. Selain itu, Iranian Corner juga memiliki program kursus bahasa Arab dan Persia gratis yang dilaksanakan pada hari senin sampai kamis. Kursus yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas ini sudah berjalan sejak berdirinya Iran Corner pada 2005.

Rata-rata pengunjung Iran Corner perhari mencapai 20-30 orang. Setiap hari jumat, para pengunjung diberi kesempatan untuk menonton film-film dokumenter mengenai Islam dan Iran. Iranin Corner juga memnyediakan TV dengan cenel internasional, VCD player dan Internet.

Iranian Corner ini merupakan bentuk kerjasama antara Fakultas Usuluddin, Islamic Cultural Center (ICC) dan Kedutaan Besar Iran.

Iranian Corner UIN Jakarta merupakan pusat Iranian Corner yang ada di seluruh Indonesia. Saat ini Iranian Corner sudah ada 12 Universitas diantaranya adalah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, UIN Malang, UIN Bandung, dan UIN Riau.

Corner yang diresmikan langsung oleh Duta Besar Iran ini bertujuan untuk memperkenalkan Iran secara benar ”pasalnya ada pandangan bahwa Iran anti demokrasi dan intoleran.” jelas pengelola Iran Corner Masyhar, MA.

Alasan lain dibukanya Iran Corner karena di fakultas Usuluddin dan filsafat terdapat jurusan akidah filsafat yang sangat relevan dengan kebudayan iran yang masih mempertahankan filsafat. ”Karena Iran merupakan satu-satunya negara yang tetap eksis mempertahankan filsafat yang sudah banyak ditinggalkan oleh negara lain.” ujar kepala perpustakaan FUF Agus Rifai. http://www.uinjkt.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&catid=3%3Aseputar-kampus&id=156%3Aqiranian-cornerq-sediakan-informasi-tentang-iran&Itemid=66

Iranian Corner di Universitas Muhammadiyah

Dalam mewujudkan Universitas kelas dunia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjalin kerjasama dengan kedutaan Iran mendirikan Iranian Corner yang berlokasi di gedung Perpustakaan Pusat Lantai II, dan dikoordinasikan secara langsung dari Knowledge and Learning Center (KLC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Iranian Corner yang diresmikan tanggal 29 November 2007 menyediakan referensi filsafat dan kajian Islam (karya-karya pemikir terkemukan Iran), CD Tafsir dan Hadis serta siaran televisi Iran melalui antena parabola yang kesemuanya ditujukan untuk memperkaya wawasan pengetahuan dan menciptakan atmosfir akademik sivitas akademika UMY.

Selain ketersediaan sumber informasi, Iranian Corner juga memiliki serangkaian kegiatan ilmiah untuk menunjang peningkatan kualitas akademik dan pemahaman antarbudaya dan antar peradaban.
Produk dan kegiatan

Pertemuan Ilmiah

Iranian Corner UMY memprakarsai Seminar Nasional dan Internasional dengan menghadirkan pembicara dalam dan luar negeri yang membedah isu-isu actual seputar politik, hokum, ekonomi, agama dan kebudayaan.

Kajian Filsafat Islam dan Logika

Dalam upaya menguatkan daya kritis dan nalar civitas akademika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Iranian Corner memiliki program kajian filsafat dan logika. Kajian ersebut bertujuan menjadikan filsafat dan logika sebagai metode berpikir sehingga peserta mampu berpikir secara kritis analistis, rasional dan sistematis namun tidak kehilangan nilai transedental.

Debat Bahasa Arab

Bersama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Mujaddid, Iranian Corner menyelenggarakan pelatihan debat bahasa Arab. Tujuan kegiatan ini adalah mempertajam kemampuan berargumentasi dan mempersiapkan timu untuk mengikuti kompetisi debat baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional.

Layanan Internet dan Parabola

Iranian Corner UMY dilengkapi dengan unit computer yang terhubung dengan saluran internet serta antenna parabola, sehingga sivitas akademika dapat memanfaatkannya untuk menggali informasi global terkini.

Referensi

Iranian Corner UMY memiliki sejumlah pustaka dan referensi karya ulama dan pemikir-pemikir Iran terkemuka baik dalam bidang kajian keislaman maupun bidan lain.

http://perpus.umy.ac.id/educational-division/iranian-corner/

Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ke Iran sebagai ketua Delegasi MUI Pusat

Menlu Iran Sedih Banyak Umat Tak Paham dengan Mazhab-mazhab Islam

RMOL. Selain berbicara tentang pentingnya menjalin kerjasama bilateral antara Indonesia dan Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, juga menegaskan pentingnya merajut kerjasama dalam bidang kesepahaman antarpengikut mazhab di antara umat Islam di kedua negara.

Di sela-sela acara penerimaan tamu delegasi Majelis Ulama Indonesia, Salehi menceritakan kisah sedih terkait perbedaan mazhab yang menimpanya ketika berkunjung ke Mesir.

Diceritakannya, suatu hari dia berkunjung ke salah satu masjid di kota Kairo. Pada saat itu, sayup-sayup terdengar kumandang syair-syair yang biasa dilantunkan para ulama Iran. Oleh karena suara dan cara membaca yang cukup bagus, Salehi mendekati sumber suara.

Setelah bertemu dan bertatap muka, ia lalu memuji bacaan yang bagus dan suara yang indah dari sang pembaca syair.
Mendapat pujian tersebut, sang pembaca syair bertanya, “Darimana Anda?”
Dengan tidak ragu-ragu Salehi pun menjawab, “Saya dari Iran.”

Tiba-tiba orang tersebut tersentak seraya berteriak, “Anda sesat, Anda Kafir, Anda bukan Muslim.”
Mendengar itu, Salehi mengucapkan istighfar serta mengucapkan mohon maaf bila dia dianggap mengganggu. Hal itu terjadi kebanyakan Mesir beraliran Sunni.

Kepada para delegasi MUI, Menlu Iran mengatakan, apa yang dialaminya itu adalah merupakan kisah yang kerap dijumpai, meski dengan model berbeda, di tengah-tengah umat Islam.

“Bayangkan, syair-syair yang dibaca adalah syair-syair para ulama Iran. Namun oleh karena ketidaktahuannya, sang pembaca syair menganggap saya bukan orang Islam karena saya dari Iran. Saya yakin bahwa mereka yang juga mengeritik mazhab Syi’ah Ja’fari bukan karena tidak suka, tetapi mungkin karena tidak tahu dan belum paham. Itulah sebabnya mengapa kita perlu bertukar informasi dan bertukar pengetahuan soal faham keagamaan yang ada di tengah-tengah kita,” demikian Salehi mengakhiri ceritanya.

MUI yang terdiri dari delapan orang berkunjung ke Iran mulai Kamis (21/4) hingga besok (Rabu, 27/4). Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Saleh Partonan Daulay(Ketua Pemuda Muhammadiyah), seorang dari delapan delegasi MUI, menceritakan apa yang disampaikan Menlu Iran itu kepada Rakyat Merdeka Online melalui surat elektronik kemarin. [zul]

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=25312

http://www.pemuda-muhammadiyah.or.id/component/content/article/318-berita-depan/1632-menlu-iran-sedih-banyak-umat-tak-paham-dengan-mazhab-mazhab-islam.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s