Galeri

Pangeran Bandar Tewas Harga Bagi Sebuah Pengkhianatan

Meskipun belum dikonfirmasikan oleh pemerintah Saudi, kematian Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz al-Saud dibenarkan oleh Voltaire Network mengutip sumber-sumber tidak resmi.

Pangeran Bandar baru saja dilantik menjadi Ketua Dinas Intelijen Saudi pada 24 Juli: promosi yang disebut-sebut sebagai hadiah karena keberhasilannya mengorganisir serangan di Damaskus pada 18 Juli lalu. Dinas Intelijen Saudi, dengan dukungan logistik dari CIA, berhasil meledakkan Markas Keamanan Nasional Suriah yang sedang menggelar pertemuan darurat membahas krisis.

Jenderal Assef Chaoukat, Daoud Rajha dan Hassan Tourkmani tewas ditempat. Jenderal Amin Hicham Ikhtiar meninggal tak lama karena parahnya luka yang diderita.

Operasi itu bersandi “Damascus Volcano” yang menjadi sinyal untuk serangan massif kelompok-kelompok pemberontak menuju ibukota oleh para teroris asing khususnya yang berasal dari Yordania.

Al-Fajr Press melaporkan, pada tanggal 26 Juli, terjadi ledakan di Markas Intelijen Arab Saudi dan disebutkan bahwa Wakil Ketua Dinas Intelijen Arab Saudi tewas di tempat.

Voltaire Network menyebutkan bahwa Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, juga menjadi target dalam pengeboman tersebut. Dia mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Hingga kini belum ada pejabat Saudi yang membenarkan atau menepis pemberitaan tersebut.

Voltaire Network pada tanggal 29 Juli dalam sebuah laporan analisanya mengutip sumber-sumber tidak resmi telah mengkonfirmasikan kematian Bandar bin Sultan. Akan tetapi Voltaire Network tidak menyebutkan identitas sumbernya.

Voltaire menulis, “Para pejabat Saudi hingga kini tidak memberikan pernyataan tentang hal ini, akan tetapi Voltaire Network melalui kanal tidak resmi yakin bahwa Bandar bin Sultan mati.”

Pangeran Bandar bin Sultan, 63 tahun, memiliki kepribadian sinis. Dia adalah putra Pangeran Sultan (menteri pertahanan yang tidak tergantikan dari tahun 1963 hingga kematiannya pada tahun 2011).

Bandar adalah orang kepercayaan mendiang Raja Fahd. Bandar menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi di Washington (1983-2005). Ia sangat akrab dengan George H. Bush (kala itu Wakil Presiden Amerika Serikat), dan bahkan yang menganggapnya sebagai “anak angkat.” Bush bahkan mendorong dunia pers AS menjulukinya “Bandar Bush”.

Bandar disebut-sebut memiliki kejeniusan luar biasa dalam aksi-aksi spionase. Dia pula yang menjadi yang menjadi broker kesepakatan senjata al-Yamamah, dan meraup keuntungan lebih dari satu miliar pound, menurut sumber pejabat Inggris. Dia kemudian menggunakan uang tersebut dan dana yang dimilikinya untuk membiayai aktivitas kelompok-kelompok jihad di berbagai dunia, termasuk AlQaeda.

Pada awal 2010, Pangeran Bandar berusaha menggulingkan Raja Abdullah untuk mengantarkan ayahnya ke atas tahta. Plotnya gagal dan ia diasingkan dari kerajaan. Namun kesehatan Raja Abdullah memburuk dan ia kembali ke Arab Saudi setahun kemudian.(IRIB Indonesia/MZ)

http://indonesian.irib.ir/fokus/-/asset_publisher/v5Xe/content/pangeran-bandar-bin-sultan-tewas-akibat-pembalasan-suriah

Tokoh Lobi Amerika Pangeran Bandar Kepala Intelijen Saudi

Pangeran Bandar bin Sultan ditunjuk sebagai Kepala Intelijen Arab Saudi yang baru. Pangeran Bandar bin Sultan, yang pernah menduduki pos di Washington, sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat ini, selanjutnya akan menjadi orang yang sangat penting di negeri yang kaya minyak itu.

Pangeran Bandar bin Sultan anak mendiang Pangeran Sultan, yang baru saja meninggal. Pangeran Sultan yang menjadi putera mahkota Arab Saudi itu, meninggal di Amerika Serikat, dan kemudian disusul Pangeran Salman yang juga meninggal.

Pangeran Bandar bin Sultan, sangat dikenal di kalangan pejabat-pejabat puncak Amerika Serikat, termasuk para pejabat di Gedung Putih. Bandar bin Sultan, memiliki lobbi yang luas, termasuk dibidang intelijen Amerika, CIA, dan selama ini menjadi “jembatan” antara Saudi dengan Washington. Penunjukkan Bandar bin Sultan, ditengah-tengah krisis antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran,serta meluasnya konflik di Suriah, termasuk memuncaknya pengaruh Syiah di Yaman.

Bandar bin Sultan, yang nampak ramah, kini berumur 63, dan menghilang sejak meninggalkan Washington, dipanggil pulang oleh Raja Abdullah pada 2005. Bandar bin Sultan, tidak main-main, tokoh yang sudah menjadi Dubes di Washington selama lebih 22 tahun, dan dengan diangkatnya Bandar bin Sultan, maka tokoh baru dibidang intelijen akan segera masuk dalam kancah krisis yang akan mengubah permainan Timur Tengah. Ini akan semakin paralel antara kepentingan Amerika Serikat dan Arab Saudi dengan situasi regional di Timur Tengah.

“Dia hanya orang yang tepat untuk saat yang tepat di Saudi. Dia memiliki kebijakan luar negeri lebih hawkish (keras), dan dia adalah elang terkemuka pusat kekuasaan Arab Saudi,” kata David Ottaway, penulis biografi Bandar dan sarjana senior di Woodrow Wilson Center di Washington.

Bandar bin Sultan dinilai sebagai sekutu terdekat Amerika Serikat, dan pendukung kuat dari pemberontak Suriah, yang sekarang berjuang merebut Damaskus, dan menggulingkan Presiden Bashar al-Assad. Bandar bin Sultan memperbaiki hubungan dengan Washington setelah perselisihan atas pemberontakan Arab tahun lalu.

“Bandar cukup agresif, sama sekali tidak seperti seorang diplomat Saudi khas berhati-hati. Jika tujuannya adalah untuk membawa Bashar segera turun, dia akan memiliki kekuasaan dan kemampuan yang kuat untuk melakukan apa yang dia pikir perlu. Ia suka menerima perintah dan melaksanakannya saat ia melihat waktu yang tepat, “kata Jamal Khashoggi, seorang komentator Saudi berpengaruh.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Saud al-Faisal telah dijelaskan mempersenjatai para pemberontak sebagai “ide yang sangat bagus.”

Seperti krisis Suriah memasuki tahap akhir dari usaha penggulingan terhadap BAshar al-Assad, yang Syiah Alawiyyin, dan Amerika Serikat, nampaknya tidak lagi sabar, dan ingin segera Bashar al-Assad pergi. Keputusan Raja Abdullah mengangkat Pangeran Bandar bin Sultan sebagai kepala intelijen Saudi, sebagai langkah yang sangat menentuk terhadap situasi politik di Suriah.

Kematian tokoh-tokoh penting dibidang keamanan Suriah, seperti menteri pertahanan, Jenderal Daoud Rajiha, Wakil Menteri Pertahanan Assef Shawqat, yang merupakan ipar dari Presiden Bashar al-Assad, serta mantan menteri pertahan Suriah, Jenderal Turkomani, serta menteri dalam negeri, Ibrahim Shaar, menandakan akan akhir perjalanan kekuasaan Assad. Bersamaan dengan pergantian kepala intelijen Arab Saudi, yang sekarang diduduki Pangeran Bandar bin Sultan.

http://untukbangsa.com/2012/07/22/tokoh-lobi-amerika-pangeran-bandar-kepala-intelijen-saudi/

Tewasnya Juragan Teroris

Suriah Hanya Butuh Satu Minggu untuk Tewaskan Bandar bin Sultan

Operasi teroris ini, yang disebut “Damaskus Volcano” adalah sinyal untuk serangan di ibukota yang dilakukan oleh segerombolan tentara bayaran, terutama mereka yang berasal dari Yordania.

Meskipun belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Saudi, namun kematian Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al Saud telah dikonfirmasi oleh Jaringan situs tidak resmi Voltaire yang berbasis di Paris, Perancis.

Pangeran Bandar yang baru saja ditunjuk menjadi kepala intelijen kerajaan Saudi pada 24 Juli lalu sebagai hadiah dan promosi karena telah mengorganisir serangan mematikan di Damaskus pada 18 Juli lalu. Pemerintah Saudi, dengan dukungan logistik dari CIA, berhasil meledakkan markas besar National Security Suriah dalam pertemuan penting pejabat Suriah. Dalam pemboman yang diotaki oleh Bandar bin Sutan itu, Jenderal Assef Chaoukat, Daoud Rajha dan Hassan Tourkmani tewas seketika. Sementara Jenderal Amin Hicham Ikhtiar meninggal tak lama setelah mengalami luka-luka parah. Operasi teroris ini, yang disebut “Damaskus Volcano” adalah sinyal untuk serangan di ibukota yang dilakukan oleh segerombolan tentara bayaran, terutama mereka yang berasal dari Yordania.

Pangeran Bandar sendiri menjadi sasaran serangan bom pada 26 Juli lalu dan kemudian tewas karena luka-luka parah yang dideritanya.

Dalam situs Voltaire Bandar 63 tahun disebut-sebut sebagai orang yang berkepribadian cemerlang dan sinis. Dia adalah anak dari Pangeran Sultan (menteri pertahanan yang tewas pada tahun 2011). Sebagai orang kepercayaan Raja Fahd waktu itu, Bandar menjadi duta besar untuk Washington selama pemerintahan Fahd (1983-2005). Ia menjadi teman dekat George H. Bush (waktu itu Wakil Presiden Amerika Serikat), yang menganggap dia sebagai “anak angkat,”. Karena kedekatan inilah mendorong pers AS menjuluki dia sebagai “Bandar Bush”.

Dia termasuk pangeran yang jenius dan luar biasa dalam berbagai aksi rahasia, ia juga terlibat dalam skandal suap ratusan juta dollar AS dari kontraktor Inggris dengan sepengetahuan penuh Kementerian Pertahanan Inggris. BBC mengungkapkan skandal tersebut memalukan untuk pertama kalinya itu pada tahun 2007. Dia juga menjadi otak dan sumber finansial kegiatan kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia, termasuk Al Qaeda.

Pada awal 2010, Pangeran Bandar berusaha menggulingkan Raja Abdullah untuk menempatkan ayahnya sendiri sebagai raja. Namun kudeta tersebut gagal dan ia dibuang dari lingkar kerajaan, tetapi karena kesehatan raja semakin menurun memungkinkan dia untuk kembali ke Arab Saudi setahun kemudian. Sejak kematian Pangeran Sultan, ayahnya pada Oktober 2011, ia menjadi pemimpin de facto klan Sudairi, sayap hawkish dalam keluarga kerajaan.

Berita kematiannya kini merupakan pukulan serius untuk seluruh sistem operasu rahasia Barat di dunia Muslim. Dan Suriah hanya butuh satu minggu untuk membalas operasi pembalasan spektakuler. [Islam Times/on]

http://www.islamtimes.org/vdcjttevmuqeomz.bnfu.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s