Galeri

Tragedi Syi’ah Sampang dan Solusinya

Tragedi Sampang adalah akibat lambanya peran Pemerintah dalam mengantisipasi dan memberikan solusi atas konflik antar pengikut mazhab yang berbeda khususnya Muslim Sunni dan Muslim Syi’ah. Sejak kerusuhan Sampang Desember 2011 Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia telah melakukan kajian tentang mazhab Syi’ah dan sampai sekarang ini tak ada kesimpulan dan keputusan tegas apa dan bagaimana hasil kajian itu sampai akhirnya tragedi Sampang terulang kembali pada 26 Agustus 2012 hingga jatuh korban.

Tragedi sampang tidaklah berdiri sendiri tetapi setidaknya ada mata-rantai kejadian sebelumnya yang belum tuntas dan menyisakan banyak masalah ibarat api dalam sekam Tragedi 26 Agustus 2012 adalah puncak dari rentetan kejadian demi kejadian khususnya bagi pemeluk mazhab Syi’ah di Sampang dan seluruh wilayah Jawa Timur pada umumnya.

Seluruh pemangku kepentingan di negeri ini ketika terjadi pergesekan antara Sunnah dan Syi’ah seolah menutup mata bahkan kalau perlu direduksi menjadi konflik antar keluarga. Sumber-sumber berita resmi-pun seolah melakukan kesalahan massal dalam memberikan informasi yang tidak berimbang kepada masyarakat awam. Semua seakan berlomba menyajikan fakta dengan konteks dan sudut pandang yang berbeda sementara fakta demi faktapun bisa direkayasa dengan tujuan dan kepentingan masing-masing kelompok dan golongannya sendiri-sendiri. Sebegitu buta dan kelamnyakah mata hati kita sehingga tak mampu melihat dan bersikap sesuai dengan hati nurani???…ya nurani kemanusiaan.

Syi’ah sebagai Korban Kezhaliman tersistematis memiliki daya tahan yang sudah teruji dari zaman ke zaman dari generasi ke generasi dan sebagai mazhab minoritas di kalangan Kaum Muslimin mereka masih tetap eksis sampai sekarang dan selalu terlibat dalam segala permasalahan Kaum Muslimin Dunia. Mazhab Syi’ah adalah mazhab tertua setua Risalah Islam itu sendiri sungguh ironis ketika sebagaian Muslim Indonesia yang memeluk mazhab Syi’ah gigih menganjurkan Ukhuwah dan kasih sayang pada saat yang sama ada pihak-pihak yang selalu memprovokasi umat awam dengan ajakan kebencian, permusuhan bahkan anjuran pembunuhan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi dengan menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tak mendasar kepada pemeluk Mazhab ini, seperti tuduhan bahwa kaum Syi’ah menganggap al-Qur’an yang ada sekarang sudah tidak otentik lagi, tuduhan bahwa Kaum Syi’ah menganggap Ikhwan Ahlussunnah halal darahnya dan banyak fitnah-fitnah keji yang mereka tuduhkan kepada mazhab Syi’ah.

Dengan fitnah dan tuduhan keji itulah mereka bereaksi dengan dalih inilah lawan dari aksi karena Kaum Syi’ah telah menodai Agama Islam dengan menganggap Kitab Suci al-Qur’an sudah tidak otentik lagi dan mengalami banyak sekali perubahan tanpa ada proses tabayyun dan dialog ilmiyah yang berkesinambungan.

Terlalu banyak aktor intekletual yang bermain dibalik penzholiman kepada kaum Muslim Syi’ah Indonesia dan tersistematis ini saling bertali-temali satu sama lain walau dengan jalan yang berbeda tetapi dengan kepentingan dan tujuan yang sama yakni memahamkan kepada masyarakat bahwa Syi’ah adalah kafir dan diluar Islam sehingga wajib diperangi dan tindakan anarkhisme seolah menjadi kata kunci untuk membumi hanguskan muslim Syi’ah dari negeri Pancasila ini ..NAUZDUBILLAHI MIN DZAALIK.

Ditambah lagi Kelompok pengusung faham takfir gigih menyebarkan virus takfirnya ke semua lini dan lintas mazhab, WASPADA terhadap jenis virus yg satu ini karena ia langsung menyerang dan mengeinfeksi saraf dan jantung umat, ciri-ciri mereka yang terinfeksi virus ini iyalah anti logika, jumud, beringas, merasa paling benar sendiri selainnya salah, cenderung kepada perpecahan umat, mengandalkan logika kekuatan dan menyetujui tindak kekerasan.

Pembiaran Pemerintah terhadap opini yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mazhab Syi’ah sebagai aliran sesat dan menyesatkan berkontribusi utama memicu konflik dan kekerasan di tingkat akar rumput. Konflik ini harus diselesaikan dengan dialog yang berkesinambungan antara Ahlussunnah dan Syi’ah agar tumbuh saling pengertian dan kasih-sayang antar pemeluk dua mazhab besar dalam Islam ini. Kesan lambat dan tak tegas dalam bersikap menjadikan Negara gagal hadir dalam mengatasi berbagai ancaman konflik horisontal bernuansa sektarian ini. Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah.

Beberapa Penyebab Anarkhisme kepada Muslim Syi’ah :

1. Rekomendasi MUI tentang Syi’ah tahun 1984, walaupun ini bukan fatwa tetapi opini yang terbentuk di dalam masyarakat adalah Fatwa MUI tentang sesatnya Syi’ah.
2. Fatwa MUI Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Syi’ah
3. Fatwa MUI Sampang No. A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah
4. Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia Ke-2 di Mesjid al-Fajr, Bandung, Ahad 30 Jumadil Awwal 1433 H/ 22 April 2012 , yang disponsori oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Islam (MIUMI)merumuskan bagaimana menghadapi kesesatan Syi’ah.

Target Musyawarah MIUMI

Agenda musyawarah tersebut dilatarbelakangi oleh fakta mengenai banyaknya keputusan dan fatwa mengenai Syi’ah yang semuanya dapat menjadi tidak efektif tanpa rumusan tindak lanjut yang jelas. Oleh karena itu, pada prinsipnya, musyawarah yang telah dilaksanakan bukanlah untuk membuat pernyataan sikap atau fatwa mengenai Syi’ah, melainkan untuk merumuskan tindak lanjut atas semua keputusan dan fatwa mengenai sesatnya Syi’ah. MIUMI adalah kelompok Wahabi yang gigih memecah belah umat dengan isyu-isyu mazhab.

Solusi

Solusinya adalah cabut semua fatwa yang menyesatkan Syi’ah dan lakukan dialog yang berkesianambungan antara Ulama Sunnah dan Ulama Syi’ah dengan ilmu dan akhlak. Menghindari dialog berarti membiarkan konflik horizontal berlanjut dan akan mencabik-cabik negeri kita tercinta ini. Cara yang paling tepat ialah mendesak semua pemangku kepentingan sepe rti Kementerian Agama, MUI Pusat dan Daerah, DPR, Kejaksaan, Kepolisian, Ormas-ormas Islam untuk merumuskan dan melihatnya sebagai ancaman serius bagi instabilitas Negara dari kelompok takfir ini maka kita perlu memberikan masukan bahwa ini hanya tinggal menunggu waktu saja apabila ada yang menyulut dan memulai maka meledaklah dan untuk menghindari konflik horisontal yang lebih besar seperti di Pakistan maka perlu di keluarkan pernyataan resmi bersama secara eksplisit tentang pentingnya menjaga Ukhuwah Islamiyah antara pemeluk mazhab-mazhab yang sah di dalam Islam khususnya Sunnah dan Syi’ah.. agar konflik horisontal bisa di antisipasi sedini mungkin dan bagi pelaku pelanggaran baik lembaga atau perorangan akan di kenai sangsi hukum yg berat dan KALAU TIDAK BERSIAPLAH MENUJU INDONESIA YANG PORAK-PORANDA !!!!!!!

Syi’ah adalah mazhab tertua di dalam Islam ibarat saudara kandung kami adalah saudara tua yang banyak ngalahnya, pergesekan Sunnah dan Syi’ah terjadi bukan karena Syi’ah hadir di Indonesia, Syi’ah bukanlah penyebab tetapi malah sebagai akibat dan korbannya…kekerasan dan konflik terjadi disebabkan karena ketidakmampuan suatu kelompok menerima sebuah keyakinan/mazhab yang berbeda dan ketidakmampuan menerima sikap kritis, obyektif dan ilmiyah yang dianggap akan merugikan kepentingan mereka dan dianggap merongrong kemapanan mereka yang selama ini telah mereka nikmati.

Jangan mudah terpancing provokasi kelompok takfir dan anti kemajemukan, marilah saling belajar dan saling memahami antara Sunnah dan Syi’ah agar toleransi tercipta. Ingat strategi kelompok yang anti persatuan dan anti Syi’ah mirip seperti strategi yg diterapkan kaum Zionis, Para anti persatuan berupaya memancing-mancing muslim Syi’ah dengan perbedaan mazhab dan pembahasan masalah khilafiyah dan mulai menyudutkannya, begitu sebagian Muslim Syi’ah mulai terpancing maka mereka senang dan mulailah mereka melakukan pembalasan yang lebih besar dan tak berperi-kemanusiaan, seperti Zionis menyerang Palestine dengan serangan kecil lebih dahulu, Palestine membalas dengan serangan ala kadarnya atau setimpal kemudian Zionis membalasnya lagi dengan serangan yang lebih besar dan dahsyat dan terus berupaya memojokkan Palestine seraya menggalang opini dunia bahwa perjuangan Palestine bukanlah perjuangan kemerdekaan tetapi adalah makar kaum teroris.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

Ini 8 Poin Kesepakatan Kasus Sampang, Tak Ada Relokasi
Senin, 10/09/2012 15:09 WIB
Danu Damarjati – detikNews

Jakarta Kesepakatan tentang kasus Sampang sudah dikeluarkan pemerintah dan organisasi terkait. Kesepakatan menyatakan tidak ada relokasi pada warga.

Kesepakatan dibuat oleh Mendagri Gamawan Fauzi, Menag Suryadharma Ali, Gubernur Jatim Soekarwo, Bupati Sampang Noer Tjahja, Ketua MUI Slamet Effendy Yusuf, perwakilan dari PBNU Malik Madani, perwakilan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Jalaluddin Rakhmat dan perwakilan Ahlul Bait Indonesia (ABI) Umar Shahab.

Kesepakatan berlangsung di Kemendagri Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (10/9/2012). Pertemuan berlangsung tertutup.

“Pagi tadi Mendagri mengambil langkah inisiatif bersama Menag, Gubernur Jatim, Bupati Sampang, MUI, PBNU, IJabi dan ABI mengadakan pertemuan para pemuka dan tokoh masyarakat,” ujar Kapuspen Kemendagri Reydonnyzar Moenek di Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Dari hasil pertemuan dicapai 8 kesepakatan yakni:

1. Kami yang ikut dalam pertemuan ini sepakat melakukan upaya-upaya guna menyelesaikan permasalahan permanen untuk Kabupaten Sampang.

2. Pimpinan Ijabi pusat dan pimpinan ABI pusat akan berusaha memberikan dukungan untuk mewujudkan ketertiban masyarakat di wilayah Sampang dan Jatim pada khususnya.

3. Pimpinan NU bersama dengan unsur NU di Jatim ikut berusaha menciptakan kondisi kondusif di Jatim.

4. MUI pusat bersama MUI Jatim membantu mewujudkan kerukunan umat dalam rangka meneguhkan ukhuwah Islamiyah.

5. Pemda Jatim memfasilitasi pada pengungsi Sampang mencarikan solusi permanen terhadap masa depan para pengungsi.

6. Pemda Jatim memfasilitasi terhadap adanya keinginan bagi pengungsi untuk mencari penampungan sementara dengan memperhatikan kemampuan pemda.

7. Pemda Kabupaten Sampang bersama-sama dengan unsur forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) berupaya memberikan jaminan ketentraman dan ketertiban masyarakat di wilayah Sampang.

“Jadi jangan diartikan ini sebagai relokasi ya. Intinya tidak ada dan kita belum sampai pada sebuah kesimpulan relokasi. Intinya pemerintah tetap tidak akan merelokasi karena mereka punya keterikatan yang kuat terhadap kultural dan sosilogis,” kata Reydonnyzar.

8. Semua pihak sepakat melakukan dialog-dialog secara terus-menerus menciptakan hubungan harmonis internal umat Islam.

Menurut Reydonnyzar, Pemprov Jatim sedang mencari lokasi penampungan 370 orang dengan sekitar 140 KK.

“Sedang dicarikan dan bagaimana formatnya masih dalam pembahasan tapi intinya penampungan sementara. Dana berasal dari pemda, Pemprov Jatim dan Pemkab Sampang,” ucap dia.(nik/nwk)

http://news.detik.com/read/2012/09/10/150947/2013713/10/ini-8-poin-kesepakatan-kasus-sampang-tak-ada-relokasi?9922032

FAISOL RAMDHONI*
Di Balik Merebaknya Konflik Sunni-Syiah di Jawa Timur

Sabtu, 14/09/2013 09:41

Saat ini publik Jawa Timur (Jatim) kembali dicengangkan oleh sebuah peristiswa kekerasan yang berbalut agama. Peristiswa berdarah yang terjadi di Puger ini sungguh sangat mengejutkan, memprihatinkan sekaligus mengkhawatirkan banyak pihak.

Belum lama dari meletusnya peristiwa puger ini, masih segar dalam ingatan publik akan kasus konflik dan isu serupa yang terjadi di desa Karanggayam dan desa Bluuran kabupaten Sampang. Konflik yang berujung pada aksi kekerasan massa ini telah menyebabkan diungsikannya ratusan warga yang diduga pengikut aliran syiah ke Sidoarjo dengan alasan untuk menjaga stabilitas dan kondusifitas masyarakat.

Keterkejutan dan kekhwatiran publik ini sangatlah beralasan, peristiwa Puger ini meledak di saat proses rekonsiliasi konflik Sampang masih dalam tahap pematangan. Walaupun sebenarnya penyelesaian konflik di Puger sudah dilakukan di awal tahun 2012 dengan ditandatanagninya perundingan damai antar kedua belah pihak. Namun nyatanya diluar dugaan semua pihak, eskalasi konflik yang melibatkan kelomok sunni dan kelompok syiah ini meninggi dan terjadilah peristiwa karnaval berdarah.

Di Jawa Timur, peristiwa konflik bertema sunni-syiah baik yang terjadi di Jember maupun Sampang ini sepertinya sebuah kelanjutan mata rantai dari peristiwa serupa yang terjadi di berbagai daerah di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja, mulai dari penyerangan sekelompok massa terhadap para pengikut IJABI yang terjadi di Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darussolah Kabupaten Bondowoso, pada tanggal 23 Desember2006, insiden penyerangan pesantren YAPI yang berpaham syiah oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan laskar Aswaja ada tahun 2010-211 di Bangil Pasuruan dan ketegangan-ketengan berskala kecil yang terjadi Malang.

Fenomena ini sungguh sangat menarik, dalam artian meskipun ajaran Syiah ini banyak tersebar di Indonesia dan juga pernah mengalam resistensi di daerah lain seperti di Pandeglang Provinsi Jawa Barat (6/2/2011) dan Temanggung Provinsi Jawa Tengah (8/2/2011) namun tidak separah dan sebesar di Jawa Timur. Di Provinsi ini, eskalasi konflik dengan isu Sunni-Syiah semakin tahun mengalami peningkatan dan resistensi tehadap ajaran syiah semakin menguat dan meluas di tengah masyarakat.

Dengan demikian, maka sangatlah wajar bila kemudian muncul asumsi-asumsi konspiratif yang mengitari rentetan letusan konflik bertema Sunni-Syiah di Jawa Timur. Bahwa ada unsur kesengejaan untuk menciptakan dan memelihara konflik Sunni-Syiah yang melibatkan kekuatan transnasional. Pertanyaannya kemudian “ Benarkah ada keterlibatan kekuatan transnasional di balik konflik bertema Sunni-Syiah ini serta Mengapa percepatan dan penguatan konflik berada di Jawa Timur?”

Adalah Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA, Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan Transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11″. Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah.

Kemenangan Revolusi Iran tahun 1979 telah menggagalkan politik-politik Barat yang sebelumnya menguasai kawasan negara Islam. Iran yang sebelumnya tunduk dan patuh terhadap AS, pasca revolusi, justru lebih banyak menampilkan sikap yang berseberangan dengan negeri “Paman Sam” itu. Karenanya, AS merasa berkepentingan untuk menjaga agar konflik Sunni-Syiah itu tetap ada di wilayah Timteng demi melanjutkan hegemoninya di kawasan tersebut.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan oleh Michael Brant bukanlah sebagai sebuah halusinasi. Jauh sebelum revolusi Iran tahun 1979, sangat jarang ditemukan konflik terbuka antara Syiah dan Ahlus Sunnah, kecuali konflik yang bersifat sporadis di antara kelompok-kelompok kecil dari kedua kalangan di Irak, Libanon dan Suriah.

Sementara itu, khusus di Indonesia, keberadaan kaum Syiah bukan barang baru. Syiah telah ada sejak dahulu kala. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah. Karenanya bagi sebagian pengamat, sangatlah mengherankan jika tiba-tiba Sunni-Syiah turut mewarnai konflik bernuansa SARA di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan -bahkan mengambil porsi lebih besar- dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Selanjutnya, di Indonesia kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikan dengan gerakan Wahabisasi Global. Tujuan utama kelompok ini adalah dengan membuat dan medukung kelompok-kelompok lokal untuk membuat wajah Islam lebih keras dan radikal serta berusaha memusnahkan pengamalan-pengamalan Islam yang lebih toleran yang lebih lama ada dan dominan di Indonesia. Kelompok ini berusaha keras untuk menginfiltrasi berbagai sendi kehidupan umat Islam Indonesia dalam beragam cara baik secara halus mapun kasar.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid dalam pengantar buku Ilusi Negara Islam bahwa Gerakan asing Wahabi/Ikhwanul Muslimin dan kaki tangannya di Indonesia menggunakan petrodollar dalam jumlah yang fantastis untuk melakukan Wahabisasi, merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada. Mereka akan mudah menuduh kelompok Islam lain yang tidak sepaham dengan ajaran wahabi sebagai kafir, sesat dan murtad.

Analisis ini juga dikuatkan oleh sebuah realitas pergerakan politik di Timur Tengah, dikonflik Internasional kita lihat perang Saudara di Irak, Suriah, Pakistan dan Afgahnaistan semuanya ditarik pada perang antara Sunni dan Syiah, belum lagi ancaman serangan ke Iran yg notebene adalah pusat Syiah. Arab Saudi sebagai Poros Wahabi dunia ini sangat ingin punya pengaruh d Timur Tengah, namun kalah pamor dengan Iran yang lebih mempunyai Sumber Daya Alam maupun sumber daya manusia yang pintar-pintar, sejak jaman persia dahulu kala. Sedangkan di Indonesia sendiri, konflik Sunni-Syiah tidak mempunyai akar sejarah politik.

Rupanya kelompok Wahabisasi global ini pun memahami bahwa NU merupakan penghalang utama pencapaian target idiologis dan politik mereka. Sebagai organisasi Sunni terbesar di Indonesia selama ini NU begitu gencar dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang moderat, humanis dan toleran. Bahkan dalam pergaulan internasional di bidang keagamaan pemikiran-pemikiran NU berikut tokoh-tokohnya menjadi refrensi umat Islam dunia. Citra sebagai gerakan Islam moderat, diakui atau tidak, adalah milik NU. Praksis, upaya-upaya untuk mendiskreditkan, merusak citra NU sebagai organisasi kaum sunni dengan ajaran Islam yang lembut dan toleran kerap dilakukan salah satunya dengan membenturkan kaum Nahdliyin dengan kaum syii di Indonesia.

Untuk melakukannya lalu dipilihlah Jawa Timur sebagai lokasi pabrik yang memproduksi konflik-konflik bertema Sunni-Syiah. Pilihan ini sangatlah strategis, publik tahu bahwa Jawa Timur merupakan basis utama para penganut paham ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah . Di Jawa Timur lah, NU sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia yang berpahamkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dideklarasikan dan didirikan yang kemudian berkembang pesat dan cepat ke seluruh penjuru nusantara. Di Jawa Timur pulalah, dinamika pergerakan NU menjadi barometer politik nasional.

Di samping itu, pilihan lokasi konflik seperti Jember, Pasuruan, Malang dan Sampang juga bukan tanpa kalkulasi yang strategis. Publik pun tahu, bahwa di daerah-daerah tersebut karakter masyarakatnya sangat lekat dengan kultur Madura. Selain dikenal sebagai pengikut NU yang fanatik, masyarakat dengan kultur madura ini telah menjadikan Islam sebagai salah satu unsur penanda identitas etnik Madura. Sebagai unsur identitas etnik, agama merupakan bagian integral dari harga diri orang Madura.

Oleh karena itu, pelecehan terhadap ajaran agama atau perilaku yang tidak sesuai dengan agama, mengkritik kiai serta mengkritik perilaku keagamaan orang Madura, merupakan pelecehan terhadap harga diri orang Madura. Maka janganlah heran jika, warga Nahdliyin Madura dimanfaatkan dan mudah disulut sebagai pengobar api kerusuhan dengan isu sentimen beda aliran agama. Walhasil, eskalasi percepatan isu dan penguatan konflik terbesar berada di wilayah Madura dan Tapal Kuda dan jarang sekali berada di zona lainnya seperti pantura maupun zona matraman. Wallahu alam bis showab

* Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Sampang
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,47029-lang,id-c,kolom-t,Di+Balik+Merebaknya+Konflik+Sunni+Syiah+di+Jawa+Timur-.phpx

Iklan

2 responses to “Tragedi Syi’ah Sampang dan Solusinya

  1. Wahai Ketua MUI Jatim yang menyatakan syi’ah itu sesat/kafir dengarkan mubahalah ane “Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah bahwa syiah itu Islam sejati yang berdasarkan ajaran Rosul melalui ahlul baytnya yang suci! Yang menyatakan syiah itunm sesat maka dialah yang sesat sedang yang menyatakan syi’ah itu kafir maka dialah yang kafir.” Jika pernyataan ane itu salah maka Alloh akan menghukum ane dengan hukuman yang pedih sepedih-pedihnya mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane!” Jika ente ketua MUI Jatim yang menyatakan syi’ah sesat itu Islam maka ente harus percaya mubahalah ane, bertaubatlah ente! Jika tidak maka ente hanyalah orang sesat yang menyedihkan!

  2. Mari kita dukung petisi pemulangan warga sampang ke rumahnya.
    http://www.change.org/id/petisi/sby-kami-ingin-pulang-ke-bluuran-dan-karanggayam#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s