Galeri

Mengenang 12 Tahun Habib Moh Asad Shahab, Wartawan Tiga Zaman

Bila Dr. H. Roeslan Abdulgani, dengan tegas mengatakan “Amerika kini makin berkepala batu. Karena merasa dirinya satu-satunya negara adikuasa, maka arogansinya makin meningkat. Tindakan Amerika terhadap negara kecil, mengingatkan kita kepada tingka laku Mahadewa Jupiter dari mitologi Yunani. Dia merasa boleh berbuat segala-galanya. Sebaliknya negara-negara kecil ini diibaratkan kerbau-kerbau. Kata kalimat bersayap dalam bahasa Yunani kuno: “Quod licet Jovi, non licet bovi,” artinya: apa saja yang boleh diperbuat oleh Mahadewa Jupiter, tidak boleh diperbuat oleh kerbau!

Sekiranya, Moh. Asad Shahab masih ada, mungkin wartawan tiga zaman yang sahabat dari Cak Ruslan, Moechtar Lubis, Rosihan Anwar,  ini akan mengatakan hal yang sama terhadap Amerika, dan terhadap nasib umat Islam yang menimpa saat ini secara keseluruhan. Al-marhum Ami Asad, seluruh hidupnya dihabiskan dalam perjuangan membela hak-hak umat Islam yang terampas dibelahan dunia Islam, ini dibuktikan ketika beliau bersama kakaknya Moh. Diya Shahab dan mama Abdullah bin Nuh, mendirikan APB (Arabian Press Board), yakni kantor berita yang lahir 16 hari sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tanggal tersebut membuktikan bahwa beliau berjuang ditengah kancah revolusi perjuangan bangsa Indonesia.

Apa yang menjadi daya tarik APB?Kantor berita ini tidak hanya menyiarkan dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan bahasa Arab dan Inggris.APB berjasa menyiarkan serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dibelahan negara dunia, khususnya negara-negara Arab dan Islam. Dari jasa dan perjuangan APB inilah kemudian meluas pengakuan dan dukungan atas kemerdekaan Indonesia, dari negara-negara Mesir, Saudi Arabia, Iraq, Pakistan, India, hingga Jerman, Inggris, Perancis dsb.

Didunia pers dan jurnalistik inilah kemudian beliau bertemu dan bersahabat dengan banyak orang terkemuka, seperti Sekjen Liga Arab, Dr. Abdurrahman Azzam, Mufti Besar Palestina Mohammad Amin al-Husainy, wartawan senior Sholihin Salam, pendiri Berita Buana, Sk.H. Wibowo, Yusuf Ronodipuro, Mochtar Lubis, hingga Dr. Roeslam Abdulghani, Rosihan Anwar, dan pendiri Harian Kompas, Bapak Jacob Utama, Bapak Sakti Alamsyah, bahkan Pak Atang Ruswita selaku pendiri PR.

Hadits Nabi  menyebutkan “Midaadul ‘Ulama Khoirun min Dimaa’i asy-Syuhada“, setidaknya itulah hadits yang tepat untuk memberikan pengharagaan kepada al-marhum al-Habib Muhammad Asad Shahab, yang artinya: “Tinta Ulama lebih utama dari darah para suhada“, perjalanan hidup beliau banyak ditorehkan dengan menuliskan tinta emas dan berharga, tidak kurang 32 buku ditulisnya dalam bahasa Arab, tentang Indonesia dan dunia Islam. yaitu :

1.      Min Shomiimil Waaqi’

2.      Al-Syi;ah fi Induuniisiya

3.      Shofahaat min Taarikh Induuniisiya al-Mu’aasharah

4.      Al-‘Allamah Muhammad Hasyim asy’Aariy

5.      Min Waaqi’ al-Hayaat

6.      Shiraa min Ajli al-Waaqi’

7.      Ilaa Aina ?

8.      Bainal ‘Athifah wal Wajib

9.      As-Syarqul Aushat Kamaa Syaahadtahu Sanata 1955

10.  Dukhuulu al-Islaam ilaa Junuubi Asia

11.  Kifaahu Turkistaan

12.  A’laamul Muslimin fi Indonesia

13.  Morro

14.  Dll

Alih menyebutnya “Buku dan membacanya adalah jendela menuju dunia“, Ami Asad Shahab, begitu akrab disapa bagi setiap orang yang mengunjungi rumah kediaman beliau, telah dilakukannya sejak zaman revolusi kemerdekaan. Tinta dan Buku menjadi bagian terpenting dari alat perjuangan beliau, sehingga dengan buku dan tinta itu pula, beliau dapat berkeliling dunia, memperjuangkan hak-hak kaum muslimin yang tertndas, tak terkecuali negera tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan yaitu Republik Indonesia. Hampir seluruh media massa berbahasa Arab di Mesir (Akhbar al-Yaum/Al-Jumhuriyyah), Mekkah (An-Nadwah), Jeddah (Al-Madinah/ Ukar, dan Al-Bilaad), Riyadh (Al-Riyadh/ Al-Yamamah), Libanon (‘Irfan), Qatar (Al-Ummah) dsb,telah merasakan sentusan halus karya dan tulisan beliau. Tak heran karena kepiawian Ami Asad, pun dipintakan dalam sekretariat Rabithah Alam Islamiyahdi Mekah sejak 1965-1984, jasa tinta beliaulah kemerdekaan Indonesia, gaungnya dirasakan hampir seluruh negara Arab dan Eropa.

Tak kurang Indonesian Times tahun 1985, mengomentarinya : “M. Asad Shahab played a significant role during the Indonesian struggle for independence through the APB news agency” sebaliknya saya selaku murid beliau berkenan mengomentari dan memberikan penghargaan kepada beliau, andai saja saya Presiden (baca; SBY) saat ini dan hari ini juga saya anugerahkan satya lencana “Pahlawan Tinta Kemerdekaan“, mengapa bila sekedar memasukkan bola kegawang diberikan pahlawan olahraga, dan dapat mengkanvaskan tinju di atas ring, si petinju diangkat bak pahlawan bangsa atau syuhada yang mengangkat senjata juga tak kurang diberikan anugerah pahlawan, sementara pejuang yang mengangkat tintanya terabaikan, bila tidak disebut terlupakan.

Tetapi saya yakin, cukup bagi Ami Asad mendapat anugerah pahlawan dari lisan suci Rasulullah “Midaadul ‘Ulama Khoirun min Dimaa’is Syuhaada”. Bahkan sayapun mulai sadar, pada ucapan beliau sendiri, ketika memberikan kata sambutan temu tokoh perintis pers Indonesia, 29 November 1985 : “Kita dengan ikhlas tidak mengharapkan apa-apa, meskipun hanya menaruh satu batu, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Dengan tidak mengharap, tidak ada niat yang lain, kecuali niat yang ikhlas untuk ikut bersama-sama mencapai satu Indonesia makmur, Indonesia bersatu, Indonesia yang jaya”.

Sosok Habib yang Anfa’un Naas

Tidak pernah saya temui, dan dapati, sedemikian bermanfaatnya hidup beliau, dimana hari-harinya tak pernah sepi dari kunjungan tokoh, ulama, politikus, negarawan dari mulai tua, muda, dan berbagai angkatan secara bergiliran bersilaturrahim kekediaman beliau di jalan Kencana Manggarai.Prof. Dr. Quraisy Shihab (muda), ketika ingin berangkat ke Mesir-pun harus berpamitan dengan beliau, M. Natsir, M. Roem, H.M. Rasyidi, Gus Dur, Lukman Harun, Nur Misuari, Rafsanjani, Ayatullah Moh. Ali Taskiri. Ayatullah Wahid Zadeh. Ayatullah Ibrahim Amini,  Kang Jalal, dan sederetan nama dan tokoh terkenal Nasional dan Internasional telah merasakan keramahannya saat menyinggahi kediaman beliau. Keramahan beliau dan keluasan hati beliau selalu saja berkenan menerima kunjungan silaturrahim rekan, sahabat, teman, murid, anak, cucu, mantu  dan bahkan anak muda yang beliau tak kenalpun diterimanya lapang dada. Ada kesan yang tak pernah, saya lupakan, ketika saya mengajak sahabat Othman Shihab, Hasan Daliel Alaydrus, seorang muballigh kenamaan, beliau beliau tak membedakan antara saya dan dua rekan saya yang jauh mungkin lebih dahulu mengenal Ami Asad, ada saja pesan dan nasehat serta petuah belaiu kepada anak-anak muda seusia kami. Ingat, “Kalau Imperialis Amerika, Inggris dan Zionis telah berhasil memecah belah bangsa-bangsa Arab menjadi puluhan negara, maka hal serupa bagaimana mereka menganeksasi agar dapat melakukan hal serupa di bumi pertiwi Indonesia”. Semangat heroik, patriotisme, dan nasionalismenya membakar jiwa kami yang masih kencur, dan muda ini.

Keluwesan dan Keluasan Pergaulannya

Beliau terkesan amat tidak suka bila, kaum muslimin dipetakan dan dipertengkarkan, hanya karena perpedaan fiqih dan mazhab secara sempit. Beliau sempat mengeluarkan hadis dari Imam Ali “An-Naas a’daau maa Jahilu” (manusia adalah musuh bagi apa yang ia tidak ketahui), dan tak luput pula melengkapi hadits lain “Idza saqatal Jaahiluun Lammaakh Talafan Naasu” (Andaikata orang awam atau orang bodoh diam saja, niscaya tidak akan terjadi pertengkaran dan persilisihan paham diantara manusia). Keluwesan dan keluasan wawasan beliau itulah yang menyebabkan beliau bersahabat dengan seluruh tokoh lintas pemikiran, dan madzhab, Moh. Natsir, Prof. Dr. H.M. Rasyidi (Mantan Menteri Agama) Lukman Harun tokoh Muhammadiyah, Ustadz Husein al-Habsyi, pendiri YAPI Bangil, bahkan Buya Hamka, mengabadikan persahabatan dan jasa beliau yang telah memperkenalkan tokoh ulama Syiah saat menunaikan ibadah Haji, hingga berlanjut dengan pemberian kitab Tafsir Mizan karya Allamah Thabathaba’i, Tafsir Majma’ul Bayan karya Allamah at-Tabrashi, dsb, (lihat footnote Tafsir Al-Azhar, juz  30 karya Prof. Dr. Buya Hamka). [1]

Kesan Menjaga Keutuhan Bangsa

Suatu saat Ami Asad diundang pada acara jamuan makan pada resepsi Atase Kerajaan Arab Saudi, di Jakarta, beliau walaupun telah bertugas tidak kurang dari 20 tahun di Saudi, namun tidak lentur terhadap semangat nasionalis ke-Indonesiaannya. Ini terbukti, beliau dengan nada marah dan menyesali sikap dan perbuatan Atase Kebudayan Saudi, yang secara gencar mencetak ribuan buku dengan dibagikan cuma-cuma, sementara isinya adalah mengharamkan serta membid’ahkan mereka yang melakukan Maulid Nabi.Singkat kata beliau mengatakan, ” Saya, akan melaporkan kepada Bapak Presiden Soeharto, tentang buku yang anda cetak, karena menurutnya  negara kami, rakyat, kaum muslimin bangsa kami sejak ratusan tahun telah melakukan penghormatan kepada Nabi dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi, bahkan di Istana negara kamipun memperingatinya sebagai suatu bentuk kecintaan dan penghormatan kepada baginda suci Muhammad Saw.” Alhasil beliau pulang dan tidak bersedia menghadiri jamuan makan yang diadakan Atase Kebudayaan Saudi tersebut. Hal itu tak lebih karena perhatian beliau, pada keutuhan bangsa, serta patriotisme kebangsaannya selalu dijaga.

Sepatutnya, bila memang tidak setuju atas suatu pendapat, untuk menjaga keutuhan suatu umat dan bangsa, kiranya kita mesti bersikap tasamuh, berlapang dada, berjiwa toleran dan tepo selero, dalam keberagaman serta kebergamaan. Bila mungkin berprinsip : “Berpikir dengan prinsip Tarjih dan beramal dengan prinsip Tasamuh“. Tidak ada lagi paham superioritas atas paham, keberagamaan satu dengan lainnya, kita berkeyakinan bahwa “Islam adalah agama dan ajaran yang mutlak, namun paham kita terhadap keberagamaan (agama) itu sendiri bisa jadi relatif”

Kedekatannya dengan Anak Muda

Ibarat cas dan sprit serta energi tambah bagi anak muda siapapun yang mendengar nasehatnya, seakan beliau memancarkan kharisma seseorang yang berilmu dengan pembawaan yang bersahaja dan tulus, dan ini saya kira beliau telah mencapai tingkat keihlasan dalam spritualnya. Saya dan rekan saya Fuad al-Hady, Idrus Shahab, tak henti-hentinya selalu memandang keteduhan dan kesejukan wajahnya bila sedang memberikan nasehatnya, jauh lebih sejuk dan teduh dari hiasan dinding dan cat rumahnya, sehingga membuat keteduhan dan kedamaian hati kami. Mengingatkan saya pada hal yang serupa bila kami sedang melihat, rekan dan teman-teman beliau, seperti  Mama KH. Abdullah bin Nuh Bogor, Buya Hamka, KH. Abdullah Syafe’i, Ustadz Husein al-Habsyi, KH. Noer Ali Bekasi, siapapun yang berjumpa dengan beliau, beliau adalah orang tua kita yang muda tetapi semangat beliau jauh lebih muda dari usia para pemuda yang berkunjung kerumah beliau. Allahu yarham qaddasallahu sirrahu.

Nurcholis Madjid, (capres era Indonesia barupun) berdecak kagum saat berjumpa beliau pada Kongres Ulama Antarberbagai Mazhab di Iran.Kalau  Cak Nur saja kagum terhadap keluasan dan kedalaman ilmu beliau, maka untuk alasan apa bagi kami kaum muda, menyembunyikan rasa kagum dan penghormatan yang dalam atas beliau. Hal lain, yang berkesan adalah semangat mengabadikan dan menyimpan informasi, dalam bentuk kliping dan dokumentasi. Baik itu koran , majalah, maupun foto kenangan beliau. Besan dari mantan Menlu Dr. Alwi Shihab, inipun, mengatakan: “Seseorang akan menjadi besar ketika ia mampu mengerjakan yang menurut orang lain adalah sepele alias remeh“. Dan, ini beliau lakukan puluhan tahun, sejak zaman revolusi kemerdekaan tahun 1945 hingga akhir tahun 2000-an. Karena kedekatan aku dengan almarhum, kini seluruh koleksi bukunya telah diwakafkan kepada Perpustakaan al-Malikus Shaleh Madina Ilmu, yang secara kebetulan saya sebagai kepala perpustakaan dan litbangnya saat itu, tak kalah penting prinsip “Tahaadu Tahaabuu” saling memberi hadialah anda, niscaya akan tumbuh rasa cinta, selalu dilakukan pada setiap tamu yang mengunjungi beliau.

Mengenang Kembali Jasa dan Karyanya

Saya tidak ingin mengalami nasib seperti Buya Hamka, KH. Abdullah bin Nuh, dan mungkin yang lainnya, dimana masyarakat Internasional baik belahan serumpun Melayu maupun negara Arab, lebih mengenal dan menghormati mereka. Bahkan momentum mereka diperingati secara hormat dan khidmat setiap tahunnya. Karya-karya mereka, dikaji dipelajari dan ditelaah serta dibanggakan, tetapi justru tidak sebaliknya dinegeri dimana mereka dilahirkan. Aneh, dan ironis sebahagian kaum muda dan pelajar nyaris tidak mengenalnya, bahkan hampir melupakannya. Di Mesir, di Iran, di Pakistan, di Malaysia dan dinegara lainnya Buya Hamka, Abdullah bin Nuh, dikenal harum dikalangan pelajar dan di dunia akademisi.

Kondisional ini yang mengantarkan saya menulis sekelumit pengalaman berguru, bersahabat kepada seorang tua, seorang ‘arif billah, yang diakhir-akhir hayatnya walaupun penuh kilauan warna putih dirambutnya masih saja menyempatkan dan menyediakan waktu untuk membaca dan mencari informasi dimanapun keberadaannya. Beliau kerap kali mengunjungi dan meringankan langkahnya kepada siapapun yang walau orang tersebut tidak memiliki prestasi apapun yang layak dibanggakan.Karena beliau meyakini bahwa silaturrahmi dapat meluangkan keberkahan umur dan rezeki seseorang, beliau tak pandang usia, dan uban untuk menghalangi silaturrahim kepada siapapun yang bila beliau diundangnya.

Setelah saya memenuhi saran beliau menganjurkan untuk istikharah memilih calon pendamping hidup saya dari tempat dimana saya melaksanakan KKN UIN Syarif Hidayatullah. Sayapun menuliskan undangan untuk beliau sebagai Dr. Ami Asad menolak saat namanya dituliskan gelar Dr. pada undangan resepsi pernikahan saya, dengan rendah hati beliau berkeberatan saya tidak memiliki ilmu apapun, apalagi itu gelar Dr. tak pantas buat saya. Padahal karyanya melebihi 30 judul buku, teringat ketika saya berkeinginan untuk melanjutkan studi jenjang S-2, maka beliau tak sungkan-sungkan membawa saya langsung ke atase salah satu kedutaan besar negara Arab, dan mempertemukan dan memperkenalkan saya langsung kepada Duta Besarnya. Setidaknya sudah dua atau tiga atase kedutaan Iran berganti, dan saya diajaknya oleh beliau ke kantor atase Kedutaan Besar Republik Islam Iran untuk maksud tsb. Tidak ada satu kebahagiaan pada diri Ami Asad Shahab, kecuali bila ia melihat kaum muda dan generasinya tampil dan maju serta berprestasi, dan memberinya kesempatan dengan apapun yang ia mampu. Tidak seperti kebanyakan senioritas merasa tersaingi dan merasa dilangkahi bila anak muda tampil, apalagi bila sampai menggapai kesuksesan, dst.

Terakhir, sebagai penutup tanggal 5 Mei 2001, pada usia 89 tahun, beliau kembali kehadapan Ilahi Rabbi, ke alam tenangnya sesuai dengan amal dan prestasi yang telah disumbangkan kepada ummatnya. Semoga arwahnya, mendapat tempat yang layak, dibawah naungan maghfirah dan rahmat serta inayahNya. Kelak bertemu dengan para syuhada dima’ dan syuhada qalam. Irji’i ila rabbiki raadiyatan mar dhiyyah fadhkhulii ‘ibaadi. Semoga jejaknya dapat diteladani dan diikuti oleh kita yang masih hidup. Imam Ali mengatakan “Yakfiika al-Maut ‘Ibratan” (cukuplah ke matian menjadi pelajaran). Teriring salam untuk ummi, Thalib sekeluarga semua, amin, tak lupa al-Fatehah, untuk Midadul ‘Ulama Khoirun min Dima’is Syuhada.

Bahrudin, M.Pd.(Pemerhati Pendidikan)

Kini tinggal di Bukit Rivaria Sawangan


[1]Pada lembaran Bibliography, Tafsir Al-Azhar Juz 30 hal 321, Buya Hamka menuliskan footnote sbb : “Ketika saya naik haji ke Mekah (Dzulhijjah 1392, Januari 1973), saudara as-Sayid Asad Syahab telah memperkenalkan saya dan memujikan perjuangan saya dihadapan seorang perwakilan kaum Syiah di Mekkah al Mukarramah, sehingga timbullah Ukhuwah Islamiyah yang mesra di antara kami. Maka setelah saya kembali ke tanahair, datanglah kiriman kitab-kitab tafsir yang tiga macam itu langsung dari Tehran, Iran. Rupanya nama saya telah diperkenalkan pula dari Mekah ke sana.  Tambahan ketiga tafsir ini amat penting bagi saya. Sedangkan tafsir al-Kasysyaf dari Jarullah az Zamakhsyari yang terkenal dengan pandangan pandangan beliau yang condong ke Mazhab Mu’tazilah, lagi banyak dipakai menjadi perbandingan, apatah lagi tafsir dari mazhab Syiah ini, yang nampaknya termasuk tafsir-tafsir yang baru di zaman akhir ini juga ditulisnya. Tambahan penulis yang dimaksud tafsir tsb adalah tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Quran karya al-‘Allamah as Sayid Muhammad Husein ath Thabathaba’i20 jilid dan tafsir al-Bayan fi Tafsir al-Quran karya al-Imam al-Akbar as-Sayid Abul Qasim al-Musawi al-Khuu’i.

http://indonesian.irib.ir/artikel1/-/asset_publisher/7xTQ/content/id/5043710

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s