Galeri

GERAKAN REBUT KEMBALI MESJID KITA DARI KELOMPOK WAHABI TAKFIRI

mesjid_BSD_toscaJakarta- Gerakan masyarakat “merebut” kembali masjid yang dikuasai oleh kelompok garis keras menunjukkan warga mulai sadar akan bahaya intoleransi. Hal itu diungkapkan Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasan menanggapi aksi puluhan warga RW06 Bumi Serpong Damai City (BSD City) Tangerang yang menggeruduk masjid Darul Islah. Warga menganggap pengurus masjid tersebut menyebarkan ajaran ekstrim.

Menurut Ismail, selama ini warga terlalu longgar memberikan kesempatan kepada kelompok garis keras yang menyebarkan ajaran intoleran, bahkan dijadikan ajang pengkaderan gerakan terorisme. Akibatnya banyak masjid yang kemudian dikuasai oleh kelompok tersebut dan lebih leluasa menyebarkan pandangannya. Untuk itu, Ismail mendukung aksi yang dilakukan warga BSD tersebut, selama dilakukan dengan cara-cara yang jauh dari kekerasan.

“Ini adalah bentuk kesadaran, sikap masyarakat kepada siapa saja yang intoleran dan membawa pesan-pesan tidak produktif, lalu melakukan perlawanan.Masyarakat harus waspada dengan pandangan yang intoleran, apalagi dalam beberapa kasus mengarah pada terorisme, dimana sejumlah masjid dilakukan tempat untuk kaderisasi, itu harus ditolak,”jelas Ismail.

Masjid Darul Islah terletak di kawasan BSD sektor 1 – 2 yang selama ini dikuasai kelompok garis keras (Abu Jibril). Selama ini warga gerah karena ceramah di masjid itu diisi penceramah-penceramah dari kelompok Abu Jibril yang khotbah-khotbahnya dinilai keras. Berdasarkan informasi, pengurus masjid yang sebagian adalah warga di situ sudah berafiliasi dengan kelompok Jibril.

http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2873241_4262.html

Rebut Kembali Masjid dari Tangan Wahabi!!

Hampir dapat dipastikan, kelompok Wahabi selalu berulah. Tempat ibadah yang awalnya demikian tenang dengan berbagai kegiatan ala ulama salaf ternyata dipersoalkan. Untungnya, bisa diredam. Masjid pun akhirnya kembali ke pangkuan ahlus sunnah waljamaah.

Di mana-mana Wahabi Salafi selalu membuat masalah dalam penyebaran dakwah. Mereka tidak segan memvonis bid’ah dan musyrik secara sembarangan kepada orang beriman yang tidak sepaham.

Oleh karena itu, dakwah mereka harus diluruskan agar tidak menimbulkan pertengkaran dan perpecahan di kalangan umat, dan tidak menjadikan ancaman bagi kehidupan masyarakat berbangsa dan bemegara. Seperti yang dilakukan oleh Petinggi Sarkub, KH. Thobari Syadzily, dalam kunjungannya di tempat kejadian di Perum Pondok Makmur Kotabaru (dekat Kotabumi), Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Sudah lama suasana kehidupan di lingkungan masyarakat masjid Nurul Hidayah Perumahan Pondok Makmur Kotabaru Kabupaten Tangerang berjalan aman dan penuh kedamaian. Jika ada permasalahan yang dapat menimbulkan perpecahan, mereka dapat meredam dengan baik dan mengedepankan toleransi atau tasamuh (saling menghormati), sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Mereka juga menolong, bertukar pendapat dan berbagi pengalaman.

Hampir setiap malam, masjid Nurul Hidayah banyak dikunjungi jamaah imtuk melaksanakan shalat dan kegiatan keislaman lainnya yang sudah menjadi tradisi. Kegiatan berlangsung cukup lama dan tidak seorangpun berani mengusik atau usil.

Namun, sangat disayangkan, pertengahan 2011 lalu. “Suasana kondusif tersebut berubah,” kata KH Thobari Syadzily kepada wartawan Majalah Aula. Ini terjadi setelah kedatangan kelompok Wahabi Salafi yang dipimpin Ustadz Kusnadi. Bahkan di antara sesama jama’ahpun saling bertengkar dan membenci hanya karena urusan sepele. “Kegiatan tahlil, tawassul, selamatan kematian, dzikir berjama’ah, peringatan maulid Nabi SAW dan sebagainya menjadi bahan perdebatan yang tidak kunjung usai,” kata Kiai Thobari, tokoh Densus 99 Sarkub.

Padahal sebelumnya, ustadz Kusnadi tidak diterima kehadiran dakwahnya di masjid sekitar Kotabumi Tangerang, termasuk masjid yang dimiliki Muhammadiyah. “Karena, isi dakwahnya selalu dipenuhi dengan cercaan, makian, dan hinaan terhadap amalan-amalan yang tidak sepaham dengannya,” ungkap alumni Pesantren Tebuireng Jombang ini. “Sehingga, hal itu dapat menjadikankan fitnah yang dapat menimbulkan kebencian dan perpecahan di tengah masyarakat,” lanjut Kiai Thobari Syadzily yang juga aktifis Lajnah Falakiyah PWNU Banten ini.

Dikisahkan, dalam penyampaian dakwahnya, Ustadz Kusnadi melarang mengadakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), seperti Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, selamatan kematian dan sebagainya. “Semua peringatan tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW dan berasal dari kaum Yahudi Nasrani dan merupakan tradisi agama Hindu dan Budha,” sergahnya menyayangkan. Jadi, semuanya bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan masuk neraka.

Begitu pula, sang ustadz mengajarkan akidah mujassimah kepada masyarakat termasuk anak-anak. “Yang bersangkutan menyatakan bahwa Allah bertempat di Arasy, punya tangan, wajah, dan sebagainya. “Berarti dia menyamakan Allah SWT dengan makhluk, meskipun sesuai dengan keagungan-Nya,” lanjutnya. Jadi, yang diajarkan bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena, di antara sifat yang wajib bagi Allah itu adalah Al- Mukhalafah iil Hawadits. “Artinya Allah berbeda dengan makhluk. Sedangkan, lawan dari sifat Al-Mukhalafah lil Hawadits adalah sifat Al-Mumatsalah lil Hawadits,” katanya berargumen. Dengan demikian Allah tidak sama seperti makhluk, yang merupakan salah satu sifat yang mustahil bagi Allah.

WASPADAI MODUS MEREKA
Masuk dan diterimanya kelompok Wahabi Salafi di masjid Nurul- Hidayah tidak lain karena peran serta ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Karena, mereka menggunakan strategi dakwah yang penuh dengan kelicikan dengan memutarbalikan fakta hukum dan sejarah. Selain itu, untuk memuluskan dan mengembangkan misi, mereka terns melakukan pendekatan, mempengaruhi, dan berusaha mengambil hati para pengurus DKM itu dengan berbagai macam cara. “Sehingga lama-kelamaan semua pengurus masjid yang terdiri dari orang yang masih awam dalam beragama itu terpengaruh dan terkena virus Wahabi Salafi,” katanya menyayangkan. Akhirnya dakwah mereka diterima dan disambut baik. Bahkan, mereka diizinkan untuk mengadakan pengajian rutinan mingguan, yang jama’ahnya didatangkan dari luar.

Untuk keberlangsungan pengajian rutinan mingguan itu, ketua DKM masjid Nurul-Hidayah berusaha membantu mencarikan kontrakan dan membiayai sang ustadz untuk tinggal di dekat masjid. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga mencarikan kontrakan yang masih kosong untuk dijadikan tempat tinggal para pengikutnya, sehingga rumah kontrakan di sekitar masjid dipenuhi para penghuni jama’ah Wahabi Salafi. Akhirnya untuk memuluskan jalan dakwah, masjid itu dikuasai jama’ah mere¬ka bahkan tak jarang imam shalat rawatib pun diangkat dari golongan mereka atas mandat ketua DKM, yang sudah terkena pengaruh.

Di awal tahun 2012, mereka berhasil menjalankan visi dan misi Wahabi Salafi dengan menduduki dan menguasai masjid Nurul-Hidayah. “Pengajian rutinan, baik harian maupun mingguan pun berjalan dengan tertib dan lancar sesuai yang mereka harapkan,” katanya Kiai Thobari memastikan, segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan nilai ibadah (‘ubudiyah) yang tidak sesuai dengan paham mereka sedikit demi sedikit mereka rubah dan tiadakan. “Bahkan pengajian ibu-ibu pada setiap hari Jum’at pun sempat dihentikan,” katanya sembari geleng- geleng kepala. “Karena, mereka menilai bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan bid’ah dan dilarang dalam syari’at Islam,” lanjutnya.

Puncaknya pada bulan Ramadhan lalu, ibadah shalat tarawih pun diubah total. Yang tadinya dua puluh raka’at diganti menjadi delapan raka’at, tanpa dzikir atau doa setelah selesai shalat tarawih dan witir, hingga setiap kegiatan “Kultum” pun diisi dan didominasi para penceramah dan ustadz mereka.

I’TIBAR DEMI KEBAIKAN
Untungnya pada awal Juli lalu mayoritas masyarakat tidak menerima dengan dakwah yang dibawa mereka, sehingga mengadakan gerakan melengserkan kepengurusan masjid. Akhirnya awal Agustus, masyarakat mendesak ketua DKM masjid beserta jajarannya segera mengundurkan diri. Alhamdulillah atas seizin Allah SWT keinginan masyarakat luas itu tercapai. Setelah kepengurusan DKM mengundurkan diri dan lengser di hadapan para jama’ah, masyarakat mulai mengadakan pemilihan ketua DKM baru beserta jajarannya.

Kepengurusan DKM masjid Nurul-Hidayah yang baru membawa angin segar dalam melakukan pencerahan keagamaan Ahlussun¬nah wal Jama’ah. Dan kelompok Wahabi Salafi pun tidak dapat bergerak dengan bebas dan leluasa dalam menyebarkan ajaran. “Karena, ruang gerak dakwah mereka selalu diawasi, dipersempit, dan dibatasi,” kata Kiai Thobari dengan lega. Rasanya, itulah balasan amal mereka yang suka membid’ah dan memusyrikkan amalan orang yang tidak sepaham. Semoga peristiwa ini akan menjadi i’tibar (bahan pelajaran) bagi kita semua, Amiin.

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta�lim se-Jabotabek

Jakarta, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) merasa khawatir dengan nasib masjid-masjid milik warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) diambilalih oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam. Oleh karenanya, Pengurus Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berinisiatif melakukan gerakan nyata untuk merebut kembali masjid-masjid milik warga nahdliyyin itu, dengan mengumpulkan para pemimpin majelis ta’lim se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi)

“Tanggal 30 (Agustus, red) nanti kita akan kumpulkan ketua-ketua majelis ta’lim se-Jabotabek. Kita harus rebut kembali masjid-masjid yang sudah dikuasai orang (kelompok, red) lain itu,” kata Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada NU Online di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (24/8).

Seperti diberitakan NU Online beberapa waktu lalu, Ketua PBNU KH Masdar F Mas’udi mengungkapkan, sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyyin dengan alasan syarat ajaran bid’ah dan beraliran sesat. Pengambilalihan yang dimaksud berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin. Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU itu, kata Kiai Nuril—demikian panggilan akrabnya—, dilaksanakan setiap akhir bulan. Dalam pertemuan itu, para pemimpin majelis ta’lim tersebut diberikan pemahaman yang menyeluruh tentang paham Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Menurut Kiai Nuril, pemahaman tentang Aswaja yang benar dirasa sangat penting guna menghadapi gerakan-gerakan kelompok-kelompok yang telah mengambilalih masjid-masjid NU. Pasalnya, secara umum para pemimpin majelis ta’lim itu belum memahami sepenuhnya ajaran Aswaja tersebut.

Selain itu, Kiai Nuril menambahkan, tidak sedikit pula bermunculan ajaran yang mengatasnamakan Ahlussunnah, namun yang dimaksud bukanlah Aswaja. “Sekarang kan banyak sekali aliran yang mengaku Ahlussunnah, tapi sebetulnya bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ahlussunnah saja, beda dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Makanya, majelis ta’lim ini harus diberi pemahaman agar bisa membedakan antara Ahlussunnah saja, dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah,” terangnya.

“Bedanya, kalau Ahlussunnah saja, itu hanya mengikuti ajaran dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Tapi kalau Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengikuti ajaran dan perilaku nabi sekaligus juga para Khulafaur Rosyidin (kholifah empat; Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib, red),” imbuh Kiai Nuril.

Disadari Kiai Nuril, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang berpaham Aswaja, NU merasa perlu untuk segera melakukan gerakan-gerakan nyata dalam rangka penyelamatan terhadap paham yang sudah diyakini kebenarannya selama ini. Jika tidak, katanya, tidak ada jaminan dalam waktu sepuluh tahun mendatang ajaran moderat yang terkandung dalam Aswaja akan hilang dan tergantikan oleh paham yang lain.

Diungkapkan Kiai Nuril, pada pertemuan pertama dan kedua yang diikuti 162 ketua majelis ta’lim se-Jabotabek itu, responnya cukup positif atas kegiatan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, katanya, sekaligus terungkap bahwa sebagian besar pimpinan majelis ta’lim belum mengerti sepenuhnya paham Aswaja sebagaiamana diterapkan NU selama ini.

“Ibaratnya, kita akan berikan pencerahan kepada para majelis ta’lim itu tentang ajaran Aswaja yang benar dan menyeluruh. Biar mereka juga bisa membedakan antara paham Ahlussunnah saja dengan Ahlussunnah yang ada Wal Jama’ah-nya,” tandas Kiai Nuril.

Kegiatan tersebut, kata Kiai Nuril merupakan awalan. Selanjutnya, pihaknya akan memperluas wilayah garapan dari kegiatan tersebut hingga ke daerah-daerah, terutama daerah di luar Jawa. Karena, ungkapnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Jabotabek saja, melainkan seluruh Indonesia.

Untuk pertemuan mendatang (30 Agustus), tutur Kiai Nuril, pihaknya telah mengundang seorang tokoh muslimah asal Amerika Serikat untuk menjadi penceramah, yakni Mrs Tiye Mulazim. Menurutnya, Mrs Tiye Mulazim juga seorang muslimah yang berpaham Aswaja. (rif)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,5188-lang,id-c,warta-t,Rebut+Kembali+Masjid+Nahdliyyin++LDNU+Kumpulkan+Majelis+Ta%92lim+se+Jabotabek-.phpx

 

Iklan

2 responses to “GERAKAN REBUT KEMBALI MESJID KITA DARI KELOMPOK WAHABI TAKFIRI

  1. Bismillahirahmanirahim…” Liat vidio ini yang dihadiri oleh ulama kelas dunia dan cendikiawan muslim seluruh dunia sebagaian terlihat difoto ini, habib umar bin hafidz, syaikh said al bouthi dan lainya……..https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=ZAJXOuybAgM

  2. Di tempat saya jg terjadi hal demikian, awalnya mesjid kami berpaham aswaja, kmdian setelah pengurus mesjidnya terpengaruh paham wahabi, mereka lgsg membidahkan dan mengkapirkan jamaah lain yg tidak sepaham dgn mereka, mereka jg tdk suka jika yg menjadi imam sholat bkn dr golongan mereka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s