Galeri

Ponpes Darus Sholihin Pimpinan Habib Ali al-Habsyie Diserang Kelompok Takfir

timthumb.phpRabu 11 September 2013 Puger Jember kembali bergolak dan anarkhisme adalah menjadi pembenar bagi mereka yang berbeda pendapat dimana klaim kebenaran hanya milik kelompoknya sendiri. Semangat anti kebhinekaan dan intoleransi adalah virus yang disebarkan secara sistematis dengan dukungan dana yang cukup besar agar Indonesia menjadi lahan empuk konflik horizontal bahkan tidak mustahil negeri kita tercinta ini akan menjadi Pakistan kedua dimana setiap hari ada nyawa yang melayang akibat provokasi kebencian mazhab.

Ponpes Darus Sholihin adalah berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah tetapi dalam beberapa pengajian Habib Ali al-Habsyi dianggap cenderung Syi’ah karena jujur dalam menjelaskan sejarah dan secara terang-terangan membela Ahlul Beit Nabi saw sehingga tuduhan bahwa Ponpes DS mengajarkan aliran sesat pun disematkan kepadanya.

Kronologis Penyerangan PP Darus Sholihin

Berawal dari rencana Pondok Pesantren Darus Sholihin mengadakan karnaval peringatan HUT Kemerdekaan RI, di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (11/9/2013). Namun perayaan karnaval memperingati HUT RI itu berujung bentrokan warga yang anti Habib Ali al-Habsyi dengan massa pendukung Provokator konflik Ustadz Muhdhor yang kebanyakan didatangkan dari luar Kecamatan Puger. Ini dikarenakan ada sekelompok warga yang tidak setuju dengan karnaval keliling desa itu. Namun karnaval tetap diselenggarakan karena warga setempat mendesak. Kawat berduri pun disingkirkan warga dengan diwarnai aksi bentrokan. Perempuan dan laki-laki melemparkan batu-batu ke arah polisi dan menyebabkan kepala Ajun Inspektur Satu Suparman bocor.

Ternyata, keinginan warga dan santri Ponpes pimpinan Habib Ali al-Habsyi melakukan karnaval benar-benar mendapat perlawanan dari sekelompok massa pimpinan provokator konflik Ustadz Fauzi dan Ustadz Muchdor. Mereka menyerang pondok pesantren yang ditinggalkan penghuninya berkarnaval.

Jadi ada mata-rantai antara kejadian sebelumnya pada tanggal 7 Juni 2012  dengan penyerangan pada Rabu 11 September 2013 ini jelas dan tidak berdiri-sendiri. Aparat keamanan pun harus jeli dalam melihat sebab dan akibat penyerangan itu sendiri. Persoalan karnaval bukanlah inti persoalan hanya saja digunakan pihak penyerang sebagai alasan dan momentum untuk melakukan tindakan Anarkhis dan biadab kepada mereka yang berbeda dengan kelompoknya.

Masyarakat Marah Karena Kelompok Penyerang Merusak Mesjid

2313423DSC00277780x390Mesjid yang terletak di dalam Pondok Pesantren yang dikenal dengan nama Mesjid Biru tidak luput dari amuk massa yang anti Habib Ali al-Habsyi. Mesjid Biru setiap minggu selalu digunakan Sholat Jum’at warga sekitar. Walaupun ada aparat keamanan yang berjaga-jaga di sekitar Mesjid tetapi mereka tak bisa berbuat banyak dengan massa yang beringas.

Tiga bangkai sepeda motor yang dibakar masih belum diangkut dari halaman ponpes. Mata seorang wanita tampak berkaca-kaca melihat masjid di ponpes mengalami kerusakan. Beduk jebol. Kaca-kaca hancur. Mimbar tempat imam berceramah pun juga ambruk.

Sebanyak 41 sepeda motor dirusak, dan tiga di antaranya dibakar. Massa yang datang dengan membawa senjata tajam merusak ponpes. Sekolah, kantor, dan masjid jadi sasaran penyerangan.

Kabar terakhir, seorang warga meninggal dunia, yakni bernama Eko Mardi, dari kelompok yang menentang karnaval. Eko adalah menantu Ustadz Fauzi sang provokator yang selalu menghasud warga sekitar untuk memusuhi Habib Ali al-Habsyi. Setelah melakukan perusakan Mesjid Eko Mardi sambil menantang warga dengan pedang terhunus melarikan diri dari tempat kejadian perkara dan warga yang marah pun bergerak mengejarnya yang berakhir di pinggir kali. Warga pun melampiaskan kemarahannya kepada Eko yang selama ini adalah seorang preman yang suka mabuk melemparinya dengan batu dan lemparan batu warga tepat mengenai tangan eko dan terlepaslah golok/pedang yang dipegangnya. Ia menjadi korban amuk warga karena menyerang dan merusak Mesjid yang setiap minggu selalu digunakan warga sekitar untuk Sholat Jum’at dan mengalami luka parah di kepala dan wajah. Ia meninggal dunia pukul 17.25 di RS Daerah Balung.

eko-mardi-santoso2Pada kesempatan terpisah Ustadz Muhdhor memberikan keterangan pers agar Kepolisian segera menangkap pelaku pembunuhan dan menyatakan bahwa Eko Mardi sebagai Syahid maka dari itu jenazahnya tidak wajib dimandikan dan dikafani. Apakah pernyataan ini tidak membuka mata kepada aparat penegak hukum bahwa Sang Provokator konflik membenarkan sebuah tindakan biadab dan anarkhis dengan menyerang Mesjid Biru yang terletak di lingkungan Ponpes Darus Sholihin?. Apakah tindakan menyerang dan merusak Mesjid adalah perintah Agama?

Dalang Kerusuhan dan Penyerangan PP Darus Sholihin

Ancaman Disintegrasi Bangsa Sebagai Rasa Persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika kembali di uji untuk kesekian kalinya dengan isyu-isyu sektarian dimana kelompok takfir lintas mazhab kembali menjalankan agenda Zionis dan musuh-musuh Islam agar Ummat selalu disibukkan dengan isyu-isyu mazhab yang berujung kepada lemahnya Ummat Islam akibat perseteruan dan permusuhan sesama kaum Muslimin.

Masyarakat Puger Jember adalah masyarakat yang agamis dan cinta damai tiba-tiba dikejutkan dengan rencana akan diselenggarakan Pengajian pada tanggal 7 Juni 2012 dengan mendatangkan penceramah Ustadz Muhdor yang sangat terkenal sebagai provokator agar Sunni dan Syi’ah terjadi konflik dengan pemrakarsa acara itu adalah Ustadz Haqi dan Ustadz Fauzi dkk (Kaki Tangan al-Bayyinat). Ustadz Fauzi ini adalah Guru ngaji di Puger Wetan sementara Keluarga Ustadz Haqi ini terkenal adalah sangat anti Habib Ali al-Habsyi Ulama sepuh berusia 75 tahun dan menetap sejak tahun 1964 di Jember berdakwah dan membina masyarakat Puger dan berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pengajian ini adalah yang ke lima diselenggarakan dengan Penceramah inti Ustadz Muhdor sejak pengajian pertama selalu memprovokasi ummat agar bergerak melakukan anarkhisme kepada Ponpes Darul Sholihin pimpinan Habib Ali al-Habsyi. Tujuan pengajian pada tanggal 7 Juni 2012 adalah pengerahan massa agar terjadi penyerangan dan pembakaran Pondok Pesantren Darul Sholihin pimpinan Habib Ali al-Habsyi dan massa diprovokasi dengan isyu yang mereka rekayasa bahwa Habib Ali al-Habsyi selalu mencaci-maki Sahabat padahal kenyataannya tak pernah ada pencaci-makian dan pelaknatan kepada sahabat ditambah lagi Ponpes Darul Sholihin Puger Kulon Jember adalah menganut faham Sunni Syafi’i.

gus ipulBahkan Peringatan Houl Habib Sholeh Tanggul pada 25 Syawal 1434 H pun tidak luput menjadi ajang kampanye negatif dan provokasi kebencian oleh Ustadz Muhdhor dan kelompoknya. Dan Houl itu juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Ipul ini sempat memberikan sambutannya dan mengatakan tidak setuju dengan provokasi Ustadz Muhdhor karena menurut Gus Ipul kita harus sama-sama menjaga perdamaian dan membuat Jatim kondusif karena konflik ini akan merugikan umat Islam sendiri karena sejatinya Sunni dan Syi’ah adalah sesama Kaum Muslimin.

Aparat keamanan pun harus jeli dalam melihat sebab dan akibat penyerangan itu sendiri. Sekali lagi izin karnaval bukanlah inti persoalan hanya saja digunakan pihak penyerang sebagai alasan dan momentum untuk melakukan tindakan Anarkhis dan biadab kepada mereka yang berbeda dengan kelompoknya.

Islam adalah Agama Cinta Damai, apabila ada orang yang mengaku Islam tapi kerjanya hanya bisa menyesatkan dan mengkafirkan mazhab lain yang berbeda dengan mereka bahkan membenarkan tindakan kekerasan non fisik sampai anarkhisme ..jangan-jangan Islam yang mereka fahami tersusupi ajaran IBLIS. Ajaran Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Ajaran Ilahi cinta damai, dan Ajaran Iblis cinta perpecahan, fintah, dan adu-domba…WASPADALAH !!!

Silahkan liat video Ustadz Muhdhor (Provokator Konflik Mazhab) memprovokasi warga dengan fitnah, adu-domba, dan kebencian mazhab: http://www.youtube.com/watch?v=1o_u-_pLSRw

Bupati dan Aparat Keamanan Siaga Penuh

Bupati MZA Djalal turun ke Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyusul meletusnya kerusuhan di sana, Rabu (11/9/2013).

Bupati bertemu dengan Kepala Kepolisian Daerah Jatim Inspektur Jenderal Unggung Cahyono. Hadir pula dalam pertemuan di Kantor Kecamatan Puger, jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia Jember, Wakil Ketua DPRD Jember Miftahul Ulum, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jember Ayub Junaidi.

Usai pertemuan dengan Kapolda, Bupati Djalal menemui pers dan meminta kepada media massa ikut mendinginkan suasana. “Terserah bagaimana Anda mau menulisnya, saya tidak akan melarang, namun ini tanggungjawab kita bersama. Saya mengimbau sebagai saudara,” katanya.

“Saat ini saya sedang menunggu Pak Kapolda yang melakukan rapat dengan jajaran aparat keamanan. Saya menunggu Kapolda supaya komprehensif,” kata Djalal.
Aparat kepolisian dan TNI mengamankan Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (11/9/2013) malam ini, menyusul kerusuhan yang terjadi pada siang harinya.

“Kekuatan di sini cukup. Ada delapan satuan setingkat kompi dan Sabhara Polda, dan 4 satuan setingkat kompi dari TNI,” kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, di Kantor Kecamatan Puger.

Para petugas ditempatkan di Puger sampa situasi aman terkendali. “Tidak siaga satu. Tapi kekuatan penuh di sini. Tadi kami rapatkan dua kompi dari Probolinggo dan Situbondo, dan dua kompi dari Surabaya dalmas (pengendalian massa), dan dari TNI juga,” kata Unggung.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s