Galeri

PENTINGNYA PENDIDIKAN AKHLAK

Ilmu yang harus dipelajari ada dua macam :

1. Ilmu Nadzari, yaitu ilmu yang tidak disertai dengan amal, seperti makrifatullah. Kebanyakan manusia mempelajari ilmu Nadzari untuk ilmu itu sendiri dan bukan untuk diamalkan. Pengaruh dari ilmu tersebut yaitu bahwa seseorang dapat muthmain ( tenang hatinya ) dan goncang hatinya. Seperti firman Allah yang berbunyi : “ Allah membuat perumpamaan yaitu seorang laki-laki yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki saja. Adakah kedua budak itu sama halnya ? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.“ ( Q.S Az-Zumar ; 29 )

Allamah Thaba’thaba’I mengomentari ayat tersebut, yaitu bahwa Allah telahmemberikan perumpamaan bagi orang musyrik yang menyembah Tuhan lebih dari satu, yang diperintah Tuhan –tuhannya saling berselisih dan bertentangan. Salah satu Tuhan memerintahkan supaya dikerjakan sedangkan yang lainnya memerintahkan supaya ditinggalkan. Hal ini dapat membingungkan orang yang diperintahkan. Dan kebingungan tersebut dapat mengakibatkan kegoncangan pada jiwanya. Karena bila dia mentaati perintah tuhan yang pertama dan meninggalkan perintah tuhan yang kedua, maka ia akan disiksa oleh tuhan yang kedua. Dan sebaliknya. Jelas ia akan goncang, karena ia tidak punya pilihan dan kalau punya pilihanpun , maka pilihannya serba salah.

Akan tetapi lain dengan halnya orang yang Muwahid, yaitu orang yang berkhidmat kepada satu Tuhan. Dimana dia hanya mengikuti perintah dari satu sumber saja, sehingga dia tidak merasa bingung dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Dengan demikian hatinya menjadi tenang, tidak seperti orang musyrik yang selalu gelisah dan goncang jiwanya karena bingung akan perintah tuhan-tuhannya yang saling bertentangan.

2. Ilmu ‘Amali, yaitu ilmu yang dipelajari untuk diamalkan. Ilmu ini ada dua macam:
Ilmu yang berkaitan dengan anggota tubuh seperti shalat, haji dll. Dan ini dinamakan Fiqhul Ashghar ( Fiqih kecil ).
Ilmu yang berkaitan dengan ilmu ruh ( Jiwa ), yang dilakukan melalui hati. Ilmu ini dinamakan fiqhul akbar ( Fiqih besar )
Sebelum kita masuk dalam pembahasan akhlak, maka seperti biasa hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu hal-hal berikut ini :
1. Definisi ilmu akhlak
2. faedah ilmu akhlak
3. Tujuan ilmu akhlak

Adapun yang pertama, yaitu ilmu yang membahas tentang baik buruknya suatu amalan yang dilakukan manusia.

Adapun yang kedua, yaitu manusia selalu menginginkan kebahagiaan yang abadi. Yakni dia selalu berusaha sampai pada kesempurnaan dan tazkiyatun-nafs ( pensucian jiwa ), yang dapat mengantarkan manusia sampai pada maqam Muqarrabin. Oleh sebab itu ia harus membedakan akhlak yang baik dengan yang jelek.

Adapun yang ketiga, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi di dunia dan di akhirat.

Sebagian orang beranggapan bahwa akhlak manusia tidak dapat diubah-ubah. Jelas ini anggapan yang sangat salah. Karena kalau seandainya demikian, maka para Nabi tidak akan bersungguhsungguh dalam berdakwah dan mereka tidak akan diperintahkan untuk berakhlak baik. Disamping itu, anggapan tersebut juga bertentangan dengan hadist nabi yang sangat masyhur, yaitu :

“ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia “

Nabi Muhammad saww diperintahkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, karena akhlak itu sendiri sejak zaman jahilliyah memang sudah ada. Kemudian Nabi datang untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan membuang akhlak yang jelek yang ada di zaman jahilliyah, yang tidak sesuai dengan Islam.

Dan hadist-hadist lainnya, seperti : “ Perbaikilah akhlak-akhlak kalian “ “Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak baiknya akan memperolah derajat yang tinggi di akherat serta kedudukan yang mulia, kendati ibadahnya lemah.

” Imam Ali bin Abi Thalib berkata : “ Dengan akhlak yang baik, maka hidup pun akan baik pula “.Marilah kita lihat kandungan Al-qur’an tentang masalah ini. Disebutkan dalam surat Asy-Syams ayat 7-10 : “ Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefujuran dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya.”

Dalam penciptaan An-Nafs melewati dua martabah, yaitu asli penciptaan dan lalu disempurnakan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah ayat “

“ Yang menciptakan lalu menyempurnakan ( ciptaan ) “ ( Q.S Al-A’la ; 2 )

Dan penyempurnaan inilah yang menjadi sumber diberikannya ilham kefujuran dan ketakwaan dalam jiwa atauNafs. Karena tanpa
disempurnakan terlebih dahulu , maka nafs tidak dapat menerima ilham Ilahi.

Kemudian setelah nafs disempurnakan dan diberi ilham, lalu Allah memberikan dua alternatif, yaitu bagi siapa yang ingin mensucikan jiwanya, maka ia akan bahagia. Dan siapa yang ingin mengotorinya, maka ia akan rugi dan binasa. Jelas, ayat tersebut menunjukkan bahwa akhlak manusia dapat berubah-ubah. Yakni jiwa manusia bisa menjadi suci dan bisa pula menjadi kotor.

Manusia itu ada dua :

Adam abu basyar ( ayah segenap manusia ), yaitu yang tercipta dari tanah dan lain-lainnya yang nanti akan dijelaskan. Keturunan Adam, yaitu yang diciptakan lewat perantara Adam.

Tujuh urutan penciptaan manusia dari semula :
Turob ( Tanah ).
Tin ( Tanah bercampur dengan air ).
Hama’in masnun ( Tin yang berubah karena udara ).
Thin Lazib ( Tin yang tetap pada keseimbangannya, sehingga dapat menerima bentuk ).
Shalshalin min Kal Hama’in masnun ( Tin diatas menjadi kering ).
Shalshalin Fakhar ( Tin kering yang dibakar dengan api ). Dengan kekuatan api inilah manusia punya sifat Syaithanah.
Ruh, yang ditiupkan Allah ke dalam badan.
Kemudian Allah menyempurnakannya dengan memberinya ilmu pengetahuan, seraya berfirman : “ Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya.” ( QS Al-Baqarah : 31 ).

ke Tujuh urutan penciptaan manusia setelah Adam :
Sulalah min Thin ( Berasal dari Thin )
Nuthfah fi Qararin Makin ( Air mani yang tersimpan di tempat yang kokoh, yaitu rahim ).
‘Alaqah ( Segumpal darah )
Mudhghah ( Segumpal daging )
‘Idham ( Tulang )
Lahmun ( Daging yang membungkus tulang )
Khalqan ‘akhara ( Makhluk yang berbentuk lain, yaitu dibekali dengan kekuatan akal dan pikiran ).
Semua urutan diatas tercakup dalam satu ayat, yaitu “ Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sesuatu yang berasal dari tanah. Kemudian kami jadikan sesuatu tersebut air mani yang tersimpan di tempat yang kokoh ( rahim ). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu kami bungkus tulang itu dengan
daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” ( Q.S AlMukminun ; 12-14 ).

Kemudian dalam diri manusia terdapat tiga kekuatan, yaitu :
1. Kekuatan Syahwiyyah : yaitu sumber syahwat dan kelezatan seperti makan, minum, nikah dll. Allah SWT berfirman : “……Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan “ ( Q.S Yusuf : 53 )
2. Kekuatan ghadhabiyyah : yaitu sumber kemarahan dan ingin selalu menguasai meraih kekuasaan. Allah SWT berfirman : “ Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri )” ( Q.S al-Qiyyamah : 2 )
3. Kekuatan ‘Aqliyyah : yaitu sumber untuk membedakan baik dan buruk. Allah SWT berfirman : “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” ( Q.S Al-Fajr : 27-28 ).

Dan disana ada satu lagi kekuatan, yaitu ‘Adalah ( penengah atau pengimbang dari ketiga kekuatan tersebut). Maksudnya bahwa dengan adanya kekuatan ‘Adalah, maka ketiga kekuatan tersebut tidak berlebihan atau kekurangan. Jadi‘Adalah dalam akhlak yaitu memberikan hak-hak setipa kekuatan, sehingga tidak sampai berlebihan atau kekurangan.

Kekuatan pertama bila sampai berlebihan dinamakan Syarhan (tamak atau rakus). Dan bila kekurangan dinamakan Jumud ( bakhil atau kikir ). Kekuatan kedua bila sampai berlebihan dinamakan Tahawwur ( Binasa ) san bila kekurangan dinamakan Jubunan ( penakut ). Kekuatan ketiga bila berlebihan dinamakan Safahan ( Bodoh atau tolol ) dan bila kekurangan dinamakan Balhan ( Lemah akalnya atau pandir ).

Kemudian apabila ketiga kekuatan tersebut menjadi netral atau seimbang, yakni tidak berlebihan dan kekurangan, maka kekuatan pertama dinamakan ‘Iffah ( menjaga nafsu syahwat ). Dan kekuatan kedua dinamakan Syaja’ah ( Berani ) serta kekuatan ketiga dinamakan Hikmah ( Bijak ).

Ketiga kekuatan tersebut saling bertengkar dalam jiwa manusia, dan bila kekuatan Akal yang menang, maka disebutNafsul Muthmainnah. Karena semuanya dibawah kendali akal. Dan bila kekuatan Ghadhabiyyah yang menang atas akal dan lalu ada rasa penyesalan, maka disebut Nafsul Lawwamah. Kemudian bila kekuatan Syahwiyyah yang menang atas akal, maka disebut Nafsul ‘Ammarah, karena seakan-akan kekuatan tersebut yang menjadi pemimpin dan memerintahkan kepada kekuatan-kekuatan lainnya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berkata : “ Sesungguhnya Allah telah membekali Malaikat dengan akal saja tanpa syahwah dan ghadhab, dan membekali binatang dengan keduanya tanpa akal, serta membekali manusia dengan semuanya. Lalu bila syahwah dan ghadhab tunduk kepada akal, maka ia lebih afdhol dari Malaikat, karena ada kekuatan-kekuatan lainnya yang melawannya. Sementara Malaikat tidak punya lawan, karena hanya akalah yang ia miliki.”

Sesungguhnya Allah telah memberikan dua jalan bagi hambanya, yaitu jalan untuk bersyukur dan jalan untuk kufur, seperti firman Allah yang berbunyi :” Kami telah beri kepadanya jalan, jalan untuk syukur dan jalan untuk kufur.”

Cara besyukur ada dua, yaitu dengan lisan dan dengan amal. Sementara maksud dari ayat diatas yaitu syukur dengan amal. Yakni mentaati semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya

Disini seorang hamba disuruh untuk memilih diantara keduanya. Dari sinilah akal berperan untuk memilih apa yang bermanfaat baginya. Tentang akal, Imam Ja’far As-Shadiq pernah ditanya : Apa itu akal? Beliau menjawab : “ Akal adalah sesuatu yang dengannya Allah disembah dan surga diperoleh.”

Tetapi kalau akalpun sudah lepas dari peranannya, maka ia akan menjadi tawanan hawa nafsunya. Dan akal manusia bila sudah menjadi tawanan hawa nafsunya, maka ia lebih sesat dari binatang. Sebagaimana yang tercantum dalam al-qur’an surat Al-Furqan ; 43- 44 yang berbunyi : “ Tahukah kamu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebabgai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Sungguh mereka tidak lain hanyalah seperti binatang bahkan lebih sesat jalannya ( dari binatang tersebut)” Dalam ayat lain disebutkan : “ Tahukah kamu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta menutupi penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah ( membiarkannya sesat ). Tidakkah kamu mengambil pelajaran ?” ( Q.S al-Jasiyyah : 23 )

Rasulullah saw pernah bersabda : “ Bahwa manusia itu mayit ( hidup ) dan bila dia mati dia akan bangkit dan sadar.” Jadi mayit itu ada dua, mayit yang berdiri tegak dan mayit yang terlentang. Adapun mengenai mayit yang tegak berdiri, maka Allah telah berfirman : “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul jika mengajakmu dengan sesuatu yang dapat memberi kehidupan kepadamu “ ( Q.S Al-Anfal ; 24 ). Yakni, Allah akan memberikan kehidupan- yakni kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat-bagi mayat yang tegak berdiri, bila ia mau mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Dengan demikian, kita tahu bahwa akhlak punya peranan penting, yaitu menyelamatkan kita dari berlebihan dan kekurangan serta mengantarkan kita sampai ke Shiratul Mustaqim dan kebahagiaan abadi. Allah SWT berfirman : “ Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefujuran dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya “ ( Q.S Asy-Syams : 7-10 ).

Dan untuk menelusuri Shiratul Mustaqim sangatlah sulit. Oleh sebab itu, sebelumnya kita harus mengetahui dan mengenal jiwa kita. Sehingga kita bisa mengetahui pula musuh-musuh yang berada di sekeliling jiwa kita serta dengan senjata apa kita akan memusnahkan musuh-musuh kita.
Kemudian kenapa kita harus mengenal diri kita ?

1. Supaya kita dapat membedakan jalan yang menunjukkan kita kepada akhlak yang mulia dan menjauhkan kita dari akhlak yang jelek.
2. Dengan mengenal diri dapat mengantarkan kita pada makrifatullah, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadist : “ Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
3. Mengenal diri dapat mendorong manusia untuk mencari kesempurnaan jiwanya. Hingga dia tidak dapat mendapatkan aib dalam dirinya.
4. Mengenal diri dapat menyingkap musuh-musuh yang terselubung di dalam jiwanya. Sebagaimana hadist nabi yang berbunyi : “ Musuhilah musuhmu yang berada di sekeliling jiwamu “ Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra pernah mengalunkan syair tentang akhlaqul karimah, yaitu : “ Seandainya suatu hari sebuah amalan menjadi kesempurnaan bagi pelakunya, maka akhlak mulia lebih sempurna dan lebih indah.

Dan seandainya rezeki sudah ditentukan untuk dibagikan,, maka usaha seseorang dalam mencari ( rezeki ) lebih bagus Dan seandainya dunia dianggap sebagai barang berharga, Maka tempat pahala Allah lebih berharga dan mulia

Dan seandainya badan diciptakan untuk mati, Maka terbunuhnya seseorang dengan pedang di jalan Allah lebih afdhal. Dan seandainya harta yang dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan Maka apa nasib harta tersebut bila seseorang menjadi bakhil.” Suatu saat, Rasulullah Saw ditanya, apakah anda melihat ( pemandangan ) tentang ayat yang berbunyi : “ Hari ketika dibunyikan terompet, maka kalian datang dengan berkelompok-kelompok “

Beliau Saw menjawab : “ Iya, saya melihat. Nanti di padang mahsyar, umatku yang bukan mukmin akan dikumpulkan secara berkelompok-kelompok. Kelompok 1, mereka yang bentuknya dirubah menjadi kera, bagi yang suka mengadu domba. Ke 2, yang bentuknya menjadi babi, bagi yang suka makan haram. Ke 3, yang kakinya diatas dan kepalanya dibawah, bagi mereka makan hasil riba. Ke 4, Buta, bagi yang zalim dalam kekuasaan. Ke 5, Tuli, bisu dan tuli, bagi yang ujub atas amalannya. Ke 6, yang mulunys mengunyah dan keluar nanah darinya, bagi ulama dan hakim yang amal dan ucapannya bertentangan. Ke 7, Tangan dan kakinya terpotong, bagi yang suka mengganggu tetangga. Ke 8, yang dibentang dipohon dari neraka, bagi yang menjilat kepada penguasa. Ke 9, yang baunya lebih busuk dari bangkai, bagi yang menikmati sesuatu dengan syahwat dan tidak menunaikan hak-hak Allah. Ke 10, yang memakai jubah besar dan bertetesan darinya sesuatu yang dapat membakar kulitnya, bagi yang membanggakan dirinya. “

Oleh sebab itu kita harus beramal baik, karena amalan itulah yang bisa merubah manusia. Seperti dibulan haji dan orang – orang bertalbiah sambil thawaf, Abu Bashir berkata kepada Imam Shadiq, wahai Imam, alangkah banyaknya orang – orang yang haji dan bertalbiah. Lalu Imam berkata : Hai sahabatku, sebenarnya yang bertalbiah hanya sedikit saja, namun kebanyakan teriakan – teriakan dari binatang. Kemudian Imam mengusap wajah Abu Bashir, dan dia melihat seperti yang dilihat Imam Shadiq. Allah SWT berfirman : “ Barang siapa yang berbuat sedikit kebaikan, maka ia akan
melihatnya. Dan siapa yang berbuat sedikit kejahatan, maka ia akan melihatnya “ ( Q.S. 99 : 7-8 ) Hanya saja yang dapat melihat hasil amalan didunia sedikit sekali, yaitu orang – orang mukmin saja. Seperti orang yang sedang membicarakan kejelekan orang lain, maka yang keluar dari mulutnya adalah api.

Tapi yang dapat melihat hanyalah wali – wali Allah. Hal ini sudah dibuktikan oleh Al – Qur’an dalam sebuah ayat yang berbunyi : “Sesungguhnya orang- orang yang makan harta anak- anak yatim secara zalim, maka sebenarnya mereka menelan api diperutnya.“ (Q.S.An-Nisa’ : 10) Dan setiap dia berbuat jelek, maka yang masuk kedalam tubuhnya adalah api neraka. Sampai semua tubuhnya menjadi api neraka . Oleh sebab itu jangan heran, bahwa neraka itu sebetulnya tidak ada apinya. Karena Sesungguhnya manusia itulah apinya. Al-Qur’an telah memberi tahu kepada kita tentang hal ini, seraya berkata : “ Wahai orang- orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu- batuan.” ( Q.S. At –Tahrim : 6 )

Kita semua pernah mendengar sejarah tentang pasukan gajah yang dihujani dengan batu-batuan oleh burung Ababil. Batu-batuan
tersebut diambil dari neraka, yang termasuk bahan bakarnya. Selain itu manusia juga termasuk bahan bakar neraka.Kenapa Harus Berakhlak 43
Di sebutkan dalam sebuah hadist, bahwa penghuni neraka memohon kepada Allah agar jangan ditambah lagi penghuninya. Karena setiap dimasukkan manusia ke dalamnya, maka penghuni yang sudah ada akan lebih merasakan siksaan, sebab panasnya bertambah

Ada sebuah kisah sufi tentang asal usul api neraka: Bahlul seorang sufi yang bijaksana, suatu hari bertemu dengan khalifah Harun ArRasyid. “ Habis dari mana kau Bahlul ? Tanya sang penguasa.” Dari neraka “. Jawab sufi itu dengan enteng .” Apa yang kau lakukan disana ? Bahlul menjelaskan : “ Saya membutuhkan api, tuan. Jadi saya pikir lebih baik saya pergi ke neraka untuk meminta sedikit percikan api. Tapi, penjaga neraka berkata : “ kami tak punya api disini “. Tentu saja saya bertanya: Lho, kok begitu ? bukankah neraka tempat yang penuh dengan api ? Penjaga neraka menjawab : Begini, sebenarnya disini tidak ada api sedikitpun. Setiap orang yang datang ke sini membawa apinya masing-masing….”.

Dari kisah ini, kita tahu bahwa neraka tadinya tidak ada api. Api itu ada ketika manusia mendatangi neraka, karena dia adalah apinya dan bahan bakarnya. Dengan Demikian, ia sebelum masuk neraka sebetulnya sudah menjadi neraka. Oleh sebab itu, kelak dipadang mahsyar, ia akan merasakan panas yang luar biasa. Karena disamping tubuhnya sudah menjadi api, ditambah lagi dengan panasnya terik matahari yang sangat
menyengat tubuhnya. Dan sebaliknya, setiap kali seseorang berbuat baik, maka amalannya akan menjadi benih-benih surga didalam tubuhnya. Sampai benar-benar menjadi surga. Tapi surga surga yang bergerak. Seperti firman Allah yang berbunyi : “ Adapun jika ia termasuk muqqorrabun, maka ia adalah suatu ketentraman, kenikmatan dan surga ( kenikmatan ). “ ( Al-Waqi’ah : 88-89 )

Orang yang sudah mencapai derajat Muqorrobin ( Orangorang yang dekat Allah) Maka ia akan menjadi surga dan masuk kesurga. Oleh sebab itu wali-wali Allah tidak tergiur sedikitpun dengan surga yang sudah disiapkan oleh Allah. Karena dirinya sudah menjadi surga, jadi buat apa lagi mencari surga lagi. Sayyidina Ali Berkata : “ Ya Illahi aku menyembahmu bukan karena aku takut akan neraka-Mu dan bukan karena rakus akan surga-Mu, namun aku menyembah-Mu karena engkau memang pantas untuk disembah “.

Inilah sifat hakiki dari orang mukmin. Memang berat untuk menjadi orang mukmin. Dan Al-Qur’an telah memberikan sifat lain, yaitu : “ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah yang bila disebutkan nama Allah, hatinya bergetar, dan bila dibacakan kepada ayat-ayat Al-Qur’an, imannya bertambah serta kepada tuhannya mereka bertawakkal “ ( Q.S. Al-Anfal : 2 ) Begitu juga terdapat dalam permulaan surat Al-Mukminun. Oleh sebab itu janganlah mengaku dirinya mukmin bila belum menyandang sifat-sifat tersebut .

Oleh : Ali Alaydrus
http://www.ikmalonline.com

 

//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s