Galeri

MUI TAK PERNAH TERBITKAN BUKU TENTANG SYI’AH

MUI-PBeberapa hari terakhir ini kita ‘dikejutkan’ terbitnya buku berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”, yang disebut (tepatnya diklaim) diterbitkan oleh MUI Pusat. Media-media takfiri berlomba-lomba memuat dan meng-copy paste berita terbitnya buku “yang dinanti-nantikan” tersebut. Media asuhan Said Samad di Makassar menurunkan berita buku ini dengan suka cita.  Benarkah buku itu diterbitkan secara resmi oleh MUI Pusat? Siapa saja yang berada dibalik penerbitan buku misterius tersebut? Berikut nukilan investigasi dari lppimakassar.net.

450702_mTerbitnya buku itu dengan mengatasnamakan MUI Pusat tentu saja patut dipertanyakan, mengingat pandangan MUI Pusat selama ini yang menjunjung tinggi persatuan Islam, dan mendukung pendekatan antar mazhab Sunni-Syiah (taqrib baynal madzahib). Hal ini bisa dilihat dari pandangan-pandangan yang disampaikan para pengurus teras MUI Pusat selama ini, seperti KH Sahal Mahfudz (Ketua Umum), Prof Dr Din Syamsuddin (Wakil Ketua), Prof Dr Umar Shihab (Ketua), dan tokoh-tokoh MUI Pusat lainnya yang berwawasan luas dan mendukung persatuan ummah.

Setelah kami telusuri dan klarifikasi langsung ke beberapa orang Pengurus MUI Pusat (yang tidak dapat kami sebutkan namanya untuk menjaga sumber dari serangan kelompok intoleran), kami memperoleh fakta sebagai berikut :

  1. Buku itu sebenarnya bukan hasil kajian tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat. Sebagian besar isi buku tersebut adalah kumpulan ‘catatan’ sekelompok orang yang menamakan dirinya MIUMI, yang sebagian di antara pengurusnya juga menjadi pengurus MUI Pusat.
  2. Karena menganggap respon MUI Pusat ‘sangat lambat’ dalam menanggapi keinginan sekelompok orang agar MUI Pusat mengeluarkan fatwa sesatnya Syi’ah, maka sekelompok orang di MUI Pusat menjadikan ‘catatan-catatan’ dari MIUMI dengan tambahan sana-sini (agar tidak terlihat persis sama) menjadi sebuah buku dengan judul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” dan dilabeli logo dan nama MUI Pusat.
  3. Ironisnya, buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan Ketua Umum MUI Pusat (KH Sahal Mahfudz), Wakil Ketua MUI Pusat (Prof Din Syamsuddin), Ketua MUI Pusat (Prof Dr Umar Shihab) dan juga Sekjend MUI Pusat (Drs. H. Ichwan Sam). Bahkan Sekjend MUI Pusat disebutkan sangat terkejut dan marah. Namun buku itu tetap ‘lolos’ terbit.

Karena munculnya banyak reaksi penolakan di internal MUI Pusat sehubungan terbitnya buku tersebut, maka dalam waktu dekat ini MUI Pusat akan mengadakan pertemuan membahas hal tersebut.

Kesimpulannya: MUI tidak pernah menerbitkan buku tentang Syi’ah. Buku tersebut terbit dengan mencatut nama MUI Pusat dan terbit tanpa melalui mekanisme keorganisasian yang berlaku di MUI Pusat. MUI secara kelembagaan telah di fitnah dan telah digiring oleh sekelompok oknum intoleran dan ekstrim agar berperan sebagai motor penggerak adu-domba Ummat khususnya Sunnah dan Syi’ah. Anda mau percaya kepada pencatut dan yang menggunakan nama organisasi besar Islam untuk mencapai tujuannya mengoyak persatuan Islam? Silahkan pilih sendiri.

http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=477186

_________________________________________________________________________________________

KEBOHONGAN ITU TERUNGKAP DI MAKASSAR

Ditanya Buku Tentang Syiah (yang katanya) Terbitan MUI Pusat, Said Samad Tergagap

09/11/2013

Picture

Ust Said Samad tergagap. Beliau tak punya kata lagi untuk diucap. Lisan beliau seperti saluran air yang tersumbat. Informasi yang selama ini disebarluaskan oleh kelompok takfiri di Indonesia mengenai buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”, yang katanya diterbitkan MUI Pusat, akhirnya tamat. Di depan Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA, yang juga adalah Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan, Ust Said Samad yang aktif menyebarluaskan informasi sepihak ini, ketika ditanya satu pertanyaan kecil saja, akhirnya tak bisa menjawab [lppimakassar.net]

sanusiKejadian itu berlangsung di tengah-tengah acara Talk Show Muharram yang diadakan oleh MUI Sulsel bekerjasama dengan group Fajar, bertempat di gedung Graha Pena lt. 4 Makassar, tanggal 8 Nopember 2013 kemarin. Diskusi bertema Reaktualisasi Tahun Baru Islam dan Asal Usul Peringatan Hari Asyura tersebut menghadirkan beberapa orang pembicara dari kalangan ulama di Sulawesi Selatan. Hadir di antaranya AGH Dr. (HC) M. Sanusi Baco, Lc (ketua umum MUI Sulsel), Prof. Dr. H. Abd Rahim Yunus, MA (wakil ketua umum MUI Sulsel), Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag. (guru besar hadis UIN Alauddin Makassar), serta Dr. H. Muammar Bakry, MA. Selain pembicara di atas, turut juga diundang sebagai penanggap Ust Said Samad (LPPI Indtim), Ust Ikhwan Abdul Jalil (Wahdah Islamiyyah), Ust Syamsuddin Baharuddin (IJABI) serta Ishak Ngeljaratan (budayawan) dan Prof. Dr. Arfin Hamid, MA. 

Di sesi tanggapan itulah, seperti biasa, Ust Said Samad kembali menggugat Syiah. Pada kesempatan kali ini, merasa punya amunisi baru, beliau menunjukkan dan mengutip buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” yang disebut terbitan resmi MUI Pusat. Sayangnya, buku yang semula diharapkan menjadi amunisi itu justru menjadi bumerang.

Menanggapi hal tersebut Gurutta Sanusi Baco tidak mengomentari gugatan Ust Said Samad tersebut. Beliau justru menasehati bahwa salah satu akhlak dalam berbicara atau berdiskusi adalah berbicara sesuai dengan tema. Ini sindiran halus kepada Ust Said Samad yang dimana saja dan kapan saja, setiap ujung pembicaraannya adalah menggugat dan menghujat Syiah. Apalagi sebelumnya, Gurutta Sanusi Baco sudah menyampaikan bahwa bulan Muharram adalah bulan ukhuwwah. Demikian juga yang disampaikan Prof Rahim bahwa salah satu dari empat bulan suci yang didalamnya dilarang berperang dan berselisih menurut Alquran, adalah bulan Muharram.

Tanggapan yang pedas justru datang dari Prof Rahim. Menjawab Ust Said Samad, beliau mengatakan bahwa buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” yang katanya diterbitkan MUI Pusat itu tidak benar. Buku tersebut bukan terbitan resmi MUI Pusat seperti yang disebutkan Ust Said Samad. Buku tipis itu pernah diedarkan di rakernas MUI, tetapi kemudian ditarik kembali karena dinilai akan memicu perpecahan ummat. Bahkan, tambah Prof Rahim, Ketua Umum MUI Pusat KH Sahal Mahfudz juga tidak setuju dengan terbitnya buku tersebut.

Merasa tidak puas, sehabis diskusi, Ust Said Samad mendatangi Prof Rahim dan memperjelas duduk persoalan buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” tersebut. Beliau kembali menegaskan bahwa buku itu resmi karena disitu ada Prof Baharun yang juga pengurus MUI, demikian pula beberapa pengurus MUI Pusat lainnya. Tapi Prof Rahim hanya berkomentar singkat. Kata Prof Rahim, jika benar buku itu resmi terbitan MUI Pusat, mestinya di buku itu ada surat resmi, kop surat, dan stempel MUI Pusat. Demikian juga, jika benar resmi, mestinya juga ditandatangani ketua MUI Pusat sekarang. Dan ketika Ust Said Samad membuka buku tersebut, memang tidak ada indikasi yang disebutkan oleh Prof Rahim tersebut.

Jika sikap resmi MUI tidak menerima buku tersebut, bagaimana dengan sikap Anda?

http://www.lppimakassar.net/

BUKU MUI Tentang Penyimpangan Syi’ah Bukan Buku Resmi MUI?

Ada buku Penyimpangan Syi’ah yg katanya DITERBITKAN MUI. Saya sudah SMS dan tanggal 28 Desember 2013 di pengajian (bersama KH Ali Yafie) konfirmasi dgn teman ana, KH Dr Mohamad Hidayat MBA yg merupakan anggota DSN MUI, hingga 24 Desember kemarin saat saya SMS beliau tidak tahu sama sekali adanya buku “Panduan MUI” tsb. Padahal dari bulan November saya sdh tahu karena buku tsb disebarkan gratis di berbagai masjid dan jejaring sosial. Contohnya di Masjid Blok M Square, bulan November orang2 awam sudah diajak mendengar ceramah tentang buku tersebut yang dibagikan gratis di sana.

Padahal menurut teman saya KH Dr Hidayat, sebagai anggota DSN MUI, tidak ada satu keputusan resmi pun dari MUI yang menyangkut fatwa/syari’ah yang tidak diketahuinya. Jadi aneh saja “Tim Penulis” MUI ini jika orang2 awam sejak bulan November 2013 sudah diberitahu tentang buku MUI tentang Penyimpangan Syi’ah, sementara anggota DSN MUI sendiri hingga 24 Desember 2013 belum diberitahu. Dan tahunya justru dari saya yang bukan anggota MUI.

Menurut KH Dr. M Hidayat, meski satu penulisnya adlah pengurus MUI, Yunahar Ilyas, tapi buku tersebut diterbitkan atas nama pribadi. Bukan hasil musyawarah dgn seluruh pengurus MUI. Sepertinya ada donasi Arab Saudi hingga buku-buku bisa disebar gratis. Ini tak lepas dari ulah Wahabi yang menurut sebagian ulama memang dibentuk Zionis Inggris.

Di sini seolah-olah penulisnya dari MUI banyak. Tapi belum tentu benar semua. Bisa saja dicatut. Saya pernah ketemu dgn KH Ma’ruf Amin. Meski ceramah masih kuat, namun beliau ini sudah cukup tua. Rasanya tidak mungkin ikut2an menulis buku tebal seperti itu. Yang jelas terlibat adalah Yunahar Ilyas dan Fahmi Salim.

MUI itu dananya terbatas. Tak mungkin bisa menyelenggarakan banyak acara ceramah sambil bagi-bagi buku gratis. Menurut KH Hidayat, ini propaganda. Bisa jadi ada dana dari Arab Saudi untuk propaganda ini.

Dan kebiasaan MUI itu jika ada paham Sesat adalah menerbitkan Fatwa Sesat atas aliran tsb. Contohnya fatwa sesat atas Ahmadiyah, JIL, dsb. Fatwa ini paling cuma 2-3 halaman yang diterbitkan setelah rapat dengan SELURUH PENGURUS MUI YANG TERKAIT. Bukan menerbitkan buku tebal yang justru tidak diketahui oleh sebagian pengurus MUI sendiri.

Di Website RESMI MUI, saya lihat hingga Januari 2014 ini tidak dimuat buku tsb. Padahal di website2 lain buku tsb sudah dimuat. Aneh bukan?

http://mui.or.id/mui/category/produk-mui/buku/buku-terbitan-mui

Sejauh ini MUI PUSAT hanya mengeluarkan Rekomendasi (Rekomendasi beda dgn Fatwa) tentang Syi’ah. Tidak ada kata sesat di sini. Meski ummat Islam di Indonesia tetap diminta waspada karena ada 2 hal pokok yang berbeda antara Sunni dengan Syi’ah yaitu: Imamah (Kepemimpinan) dan Nikah Mut’ah.

http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/

Buku ini disusun oleh Tim Penulis MUI Pusat yang terdiri dari DR. (HC) KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Wakil Ketua MUI Pusat), Drs. H. Ichwan Sam (Sekjend MUI Pusat) dan Dr. Amirsyah (Wakil Sekjend MUI Pusat) dengan pelaksana dari Tim Khusus Komisi Fatwa dan Komisi Pengkajian MUI Pusat yang terdiri dari, Prof. Dr. Utang Ranuwijaya, Dr. KH. Cholil Nafis, Fahmi Salim, MA., Drs. Muh. Ziyad, MA., M. Buchori Muslim, Ridha Basalamah, Prof. Dr. H Hasanuddin AF, Dr. H. Asrorun Ni’am Sholeh, MA., Dr. H. Maulana Hasanuddin dan Drs. H. Muh. Faiz, MA.

Meskipun belum berupa fatwa, namun buku ini merupakan keterangan resmi dari MUI Pusat mengenai kesesatan Syiah sebagaimana dijelaskan oleh Tim Penulis dalam kata pengantar,

http://www.lppimakassar.com/2013/10/mui-pusat-terbitkan-buku-tentang.html

smsb

sms-2

sms-3

Sosialisi Pemahaman Islam Yang Benar dan Urgensi Reformasi Peran MUI

Kita harus mendukung dan menyosialisasikan pemahaman Islam yang benar dari setiap kelompok mazhab dengan mengutamakan prinsip universal dan titik temu yang ada. Kelompok sempalan dari masing2 kelompok harus diidentifikasi dengan baik dan disikapi secara bertahap, dari tahap persuasif hingga tindakan hukum jika memang ada pelanggaran hukum di dalamnya.

Apa yg dilakukan oleh penerbit buku (Mengenal Penyimpangan Syiah di Indonesia) yang diterbitkan oleh sekelompok orang yg mengatasnamakan dan mencatut MUI, secara tidak langsung menyebarluaskan pemikiran yang tdk relevan dan merupakan bagian dari masa lalu dari sempalan Syiah yang hanya ada dalam museum pemikiran. Banyak pendapat yang ditampilkan yang sebenarnya ditolak oleh mainstream Syiah. Sebagian lagi disalahpahami atau memaksakan penafsiran yg tidak sesuai dgn pendapat Ulama/Maraji’ mu’tabar Syiah.

Kasihan umat yang dicekoki dengan buku kontra produktif yang kemudian disalahgunakan oleh pihak-pihak ekstrim dan radikal sebagai justifikasi kekerasan dan jihad.

Hal tersebut potensial memicu konflik sektarian ssebagaimana yang telah terjadi di berbagai negara Islam spt Irak, Pakistan, Afganistan, Suriah. Dan ini terbukti bahwa di beberapa tempat penggerebekan sarang teroris ditemukan buku tsb.

Institusi MUI dianggap otoritatif sehinggatidak heran polisi pun secara salah kaprah menjadikannya rujukan dalam mengambil tindakan.

Pemerintah harus menfasilitasi reposisi/reformulasi/reformasi peranan MUI dalam kehidupan bernegara shg lembaga fatwa MUI tidak bertabrakan dgn HAM, konstitusi dan hukum positif terutama menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan.

Agus Abubakar Arsal Alhabsyi

http://kabarislam.wordpress.com/2014/01/04/buku-mui-tentang-penyimpangan-syiah-bukan-buku-resmi-mui/

Iklan

3 responses to “MUI TAK PERNAH TERBITKAN BUKU TENTANG SYI’AH

  1. ustad……………… apa itu artiny takfiri sih ?. (belajar mode.on.Com)

  2. takfiri artinya orang yg mengkafirkan orang lain

  3. Tapi memang harus ada buku yg menjelaskan tentang itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s