Galeri

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya

Syafiq Hasyim
(Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin)
Dimuat di website NU, diakses tanggal 1 Nopember 2013 jam 17.00)

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi keonline media.


wahabiSebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan.

Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutamaabstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi(netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

Makna Ruang Maya Bagi Salafi

Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atausalafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam Ashʿārī dan Māturidī sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.

Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).

Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah.  Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.  Kembali kepada pandangan Talal Asad  bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.

Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” darimainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak  karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.

Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengancyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit.

Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual spacesangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.

Sebelum menelisik ke beberapa ruang maya kaum Salafi Indonesia, saya sedikit mengulas fenomena religion online dan online religion, yang diperkenalkan oleh Hadden dan Cowan (2000). Mereka menggambarkan religion online sebagai penyediaan informasi tentang agama seperti tentang doktrin, kebijakan, organisasi, pelayanan, dan macam-macam lainnya bagi para penjelajah dunia maya.


Sifat religion online adalah pasif. Sementaraonline religion bersifat aktif karena dalam hal ini, web provider tidak hanya menyediakan informasi, namun mengajak web traveller untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan dimensi agama melalui web seperti liturgi, meditasi, dan aktivitas-aktivitas lainnya.[1]

Kategori sosiologis di atas cocok digunakan untuk melihat kaum Salafi Indonesia dalam menggunakan ruang maya. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh mereka lebih dekat pada pada model religion online daripada online religion. Mereka menyediakan sebanyak informasi dan jawaban-jawaban atas problematika agama berdasarkan keyakinan mereka. Ada interaksi memang antara web traveller namun interaksi tersebut biasanya bersifat diskursif yang misalnya terlihat dalam rubrik fatwa dimana biasanya disediakan ruang dialog (reply to). Di sini, dialog terjadi, bukan hanya pemberi fatwa dan peminta fatwa, namun juga dengan peserta yang lebih banyak.

Lalu apa yang terjadi dengan ruang maya yang dikelola oleh kaum Salafi Indonesia?

Kasus pertama adalah http://firanda.com. Tagline dari web ini adalah tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridho Ilahi, sebuah tagline yang bisa dimaknai ilmu, amal dan izin dari Allah sebagai hal yang paling utama dalam hidup ini. Ini adalah blog atau web page ataupun salah satu contoh yang paling bagus ruang maya yang diinisiasi oleh kaum Salafi Indonesia. Meskipun pemiliki ruang ini adalah Firanda Andirja Abidin kemungkinan tinggal di Madina, karena sedang menyelesaikan gelar doktornya pada University of Medina.

Agak berbeda dengan ruang maya lain, web yang dikelola oleh Abu Abdil Muhsin (nama julukannya) menampakkan kejelasan identitas kesalafiannya atau kewahabiannya. Kejelasan ini bisa dilihat dalam rubrikasi dan isu webnya. Selain menampilkan pelbagai informasi mengenai ajaran Salafi-Wahhabi, web ini berusaha menyerang kalangan-kalangan yang dianggap berbeda dengan mereka. Karakter menyerang dengan kalangan yang berbeda ini adalah hal yang menonjok dalam semua ruang maya kaum salafi.

Dalam salah satu artikelnya, Firanda menulis soal bagaimana sebenarnya ajaran tentang perayaan hari lahir Nabi menurut pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dalam tulisan ini, Firanda cukup menulisnya Kiyai, bukan hadratus syaikh sebagaimana julukan ini popular di kalangan nahdliyyin di Indonesia.[2] Secara politik kebahasaan ini adalah bentuk delegitimasi karena dalam kesempatan lain ia memakai syaikh untuk ulama-ulama Saudi zaman sekarang.

Rubrikasi yang ditampilkan dalam web ini adalah (1) artikel (2) kajian (3) download (4) tentang kami (5) daftar isi dan (6) jadwal kajian rutin.

Dalam rubrik artikel, hal yang dimuat adalah persoalan-persoalan mengenai akidah (sebagai pokok), tafsir, hadis, fiqih, sirah (sejarah hidup), manhaj (metode), dan masih banyak hal lain. Menariknya, di rubrik artikel ini disediakan “bantahan”. Bantahan ini nampaknya dimaksudkan sebagai upaya untuk membantah, membela dan mempertahankan diri dari tuduhan-tuduhan ataupun pernyataan-pernyataan pihak lain yang selama ini dilayangkan pada kelompok keyakinan dan amalan kelompok Wahhabi dari pihak lain.

Di sini misalnya, dimuat bantahan atas Guru Ijai al-Banjari dan Habib Mundzir yang meyakini bahwa kita umat manusia zaman sekarang masih bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad dalam keadaan berjaga misalnya dalam peringatan Maulid Nabi. Pernyataan ini didasarkan pada argumen-argumen sufistik.[3] Menurut Firanda, perbuatan kedua guru sufi tersebut dianggap bagian dari khurafat Islam. Tidak lupa Firanda mengutip sejumlah pendapat kalangan ulama dari madhhab Syafii untuk mendukung argumentasinya, misalnya, pendapat dari Ibn Hajar al-Asqalani, al-Dhahabi, Ibn Kathir dan al-Sakhawi yang kesemuanya memiliki pendapat menolak pendapat orang hidup zaman sekarang bisa bertemu dalam keadaan terjaga dengan Nabi.

Selain, bantahan yang bersifat tekstual, Firanda juga membantah kedua guru sufi di atas dengan logika yang didasarkan pada cara pandang kaum Wahhabi yang apapun alasannya tidak bisa menerima sufisme dan sufisme bagian dari penyelewengan Islam.  Sementara pada pihak lain, guru Ijai al-Banjari dan Habib Mundzir adalah sangat sufistik, melihat Islam bukan pada lahir tekstualnya, namun juga pada pengalaman batin dimana pengalaman batin tidak selalu bisa dihukumi oleh pengalaman lahir. Pendek kata, kedua akan bisa bertemu karena Wahhabi yang diwakili oleh Firanda menolak asumsi-asumsi kebenaran sufistik, sementara Muslim Sunni Indonesia, melihat sufisme sebagai bagian dari ajaran Islam. Meskipun tidak terlalu banyak, artikel ini mendapatkan tanggapan dari pembaca baik pro maupun kontra pada keduanya.

Namun dialog ini adalah dialog sepihak karena kedua guru sufi di atas tidak memberikan jawaban dank arena Firanda sendiri tidak pernah bertemu dan berdiskusi langsung dengan mereka. Diskusi ini akan menjadi menarik juga ada proses timbal balik kedua pihak sebagaimana yang terlihat dalam polemik Firanda dengan Idrus Ramli. Keduanya menampakkan kehausan akan polemik, tapi sayangnya, Firanda tidak meneruskan polemiknya dengan Idrus Ramli. Bantahan terakhir yang diberikan oleh Firanda kepada ustadz Idris Ramli dalam rubik ini adalah pada tanggal 18 Mei 2012 dalam masalah Ibn Taymiyyah tentang istigohasah. Dalam tanggapan terakhirnya ini, Firanda tidak mau meneruskan polemiknya dan nampak mengalami kesulitan berbantah-bantah dengan Idrus Ramli dalam masalah ini,[4] sementara Idrus Ramli dalam akun Facebooknya terus mengajak polemik dan menurunkan bantahannya pada tanggal 21 Mei 2012, dengan tajuk “Istighasah dan Kebodohan Wahhabi.”

Bahkan, Idrus Ramli turun juga dalam menanggapi artikel Firanda yang bernada mengkhurafatkan Guru Ijai dan Habib Mundzir. Idrus Ramli membantah dalil-dalil yang dikemukakan oleh Firanda dan menunjukkan bahwa Firanda tidak jeli dalam memahami leksikografi Arab. Ramli misalnya menyatakan jika Firanda tidak bisa membedakan istilah ra’a (melihat) dan laqiya (bertemu) dan secara sengaja melakukan pilihan analisisnya (analytical preference) padahal jelas hadis yang dikutipnya memuat pernyataan bahwa orang bisa bertemu Nabi setelah Nabi wafat. Menurut Ramli dalam banyak hal, Firanda sengaja menyembunyikan hal-halnya yang seharusnya dikemukakan.

Namun, apa yang dilakukan oleh Firanda dalam hal ini bisa dipahami karena dia sedang melakukan propaganda ajaran dan dalam propaganda ajaran politics of quotation and analysis adalah bagian yang tak terpisahkan. Di sinilah fungsi lawan polemiknya berperan sebagaimana yang dilakukan oleh ustadz Idris Ramli.  Secara umum, saya melihatnya ini bukan forum keilmuan murni, namun lebih tepat sebagai “battle of ideology” karena baik Firanda dan Ramli tidak berusaha mencari dan melihat kelemahan masing-masing dan berusaha mencari titik temu sebagaimana yang dianjurkan dalam dunia ilmu. Dalam dunia keilmuan, melakukan pengakuan atas kelemahan argumen yang kita bawakan, jika memang lemah, adalah keharusan. Jika kita tidak mau mengakui, maka hal itu adalah bukan wilayah ilmu, namun wilayah ideologi atau juga wilayah keyakinan.

Selain memberikan informasi tulisan, Firanda juga mengupload ceramah-ceramah dia dalam bentuk youtube. Sampai saat ini, web traveller bisa menikmati sekitar 10 youtube  yang disajikan oleh Firanda dalam rubric “vedio.” Vedio ini diproduksi oleh yufid.tv. Dalam salah satu youtube, dengan berbekal IPAD dan berlatar belakang venue yang indah, kolam renang di belakangnya, kicauan burung dan resort yang indah, http://firanda.com/index.php/video?, Firanda tampil dalam tema Gambaran Bidadari Surga” dimana dia bercerita tentang secercah kenikmatan dunia yakni memecahkan keperawanan bidadari surga. Tampilan ini tidak banyak mengundang komentar. Selain itu, web ini juga memuat CD-CD yang pernah disiarkan oleh radio Rodja. Radio Rodja sendiri telah lama dicurigai sebagai corong Wahhabi di Indonesia dan melalui web page Firanda ini, kebenaran hubungan antara Radio Rodja dan kalangan salafi Wahhabi terbuktikan.

Apa yang ditampilkan oleh Firanda dalam web-page nya di atas adalah masih merupakan jalan yang positif karena berusaha memprogandakan ideologi Salafi-Wahhabinya lewat media yang bisa diakses, dibaca dan dikomentari oleh publik secara bebas. Bahkan, dalam web pagenya, Firanda juga bersedia menampilkan bantahan-bantahan yang dikemukakan oleh lawan polemiknya, meskipun itu sudah merupakan keharusan baginya sebagai sifat keadilan untuk memberi konteks perdebatan atau polemik pada pada pembacanya.

Selain, web page di atas, kaum Salafi-Wahhabi Indonesia adalah membangun Radio Rodja. Rodja sendiri merupakan kependekan dari Radio Dakwah Ahlusunnah Waljamaah. Bahkan Radio Rodja adalah bagian yang terpenting bagi propaganda Salafi Wahhabi di ruang maya. Radio Rodja ini berpusat di Bogor dan sudah mengudara sekitar 7 tahunan, sejak pertama kali muncul tahun 2004.

Identitas Radio Rodja sebagai corong Salafi –bahasa yang digunakan adalah Salafus salih– ini jelas diakui sendiri dalam visi dan misi Radio ini. Dikatakan bahwa visi Radio ini adalah (1) Mengembalikan umat kepada pemahaman islam yang benar sesuai al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman generasi terbaik umat (salafush shalih) (2) Menjadi media pembinaan agama islam yang mampu memnyampaikan pesan-pesan ke-islaman yang sesuai dengan pemahaman para generasi islam yang pertama dan utama. Karenanya, apa yang dilakukan oleh Radio ini adalah memerangi bidʿah, syirik dan jenis pemikiran yang menyimpang dari ajaran Salafi-Wahhabi.

Radio Rodja yang bisa dilakses lewat internat pada http://www.radiorodja.com adalah salah satu pilihan mereka. Tagline dalam radio tersebut adalah “menyebar cahaya sunnah.” Jika kita mengklik link di atas maka langsung anda akan mendengarkan lantunan Qur’an. Namun web ini adalah bukan radio itu sendiri karena Radio Rodja bisa didengarkan lewat gelombang 756AM, http://www.indonesia.listenradios.com/radio-rodja-756-am/. Dalam web radio ini kita jumpai materi yang sangat kaya tentang persoalan-persoalan akidah, fiqih dan hal-hal umum.  Semua ceramah bisa didownload jadi fungsi web ini adalah sebagai showcase untuk mendengarkan materi lebih lanjut. Streaming bisa juga dilakukan atas Radio tersebut lewat winamp, windows media player dlsb. Nara sumber-nara sumber yang diundang rata-rata bergelar LC sebuah gelar yang banyak diberikan pada mereka yang pernah belajar di Saudi atau negara timur tengah lainnya.

Selain berbasis di Bogor, radio Rodja juga  memiliki station relay untuk wilayah Bandung,  http://radiorodjabandung.com mulai pada Juni 2011. Kehadiran Radio Rodja Bandung ini merupakan kelanjutan atas keberhasilan Radio Rodja Cileungsi sebagai radio yang berhasil menyiarkan dakwah salafiyyah. Hal ini diakui sendiri oleh pengelola radio tersebut: “Dengan kepercayaan dan dukungan Radio Rodja Cileungsi AM 756 kHz beserta para pendengarnya yang telah terbukti sangat efektif di kalangan masyarakat sebagai media dakwah salafiyyah yang hadir di wilayah Jabodetabek selama kurun waktu 5 tahun, mendorong dan memotivasi Radio Rodja Cileungsi untuk melakukan perluasan jangkauan siaran ke wilayah siar Bandung dan sekitarnya dengan memanfaatkan program siaran via satelit palapa.”[5]

Bahkan tidak hanya di Bandung, Radio Rodja sudah melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lain seperti Radiio Rodja Beray (95.1 FM), Radio Rodja Lampung (91.1 FM), Radio Rodja dan Radio Rodja Pontianak (101.4 FM) dan juga Tannung Pinang (96 FM). Selain lewat Radio, akhirnya siaram-siaran tentang Ahlussunah Waljamaah versi Salafi-Wahabi juga bisa dinikmati lewat TV Rodja. Mereka yang memiliki smartphone bisa menikmati baik siaran Radio maupun TV Rodja darimana saja.

Pengunaan Radio untuk sarana dakwah kalangan Salafi Wahhabi ternyata bukan fenomena Indonesia saja, namun merupakan kecenderungan global di dunia lainnya.[6] Ini lama terkait dan merupakan perpanjangan apa yang banyak kalangan sebut sebagai radio fatwa di beberapa negara Timur Tengah. Namun, bedanya dengan radio fatwa, radio maya ini adalah fleksibilitas dan akseptibilitas. Sepanjang didapatkan internet connection, maka di situlah kita bisa mendengarkan siaran mereka. Karenanya, penyebaran ide lewat radio maya memiliki jangkauan yang lebih luas.

//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s