Galeri

Makassar Menjawab Fitnah Terhadap Syiah

Baso Mappadeceng

Dalam acara “Diskusi Khusus Menyambut Tahun Baru Hijriyah” yang mengangkat tema “Makna dan Urgensi Hijrah”, DPP IMMIM menghadirkan Prof Dr. H.M. Quraish Shihab, MA sebagai narasumber tunggal. Diskusi yang digelar di Gedung IMMIM, Jln. Jend. Sudirman, Makassar diadakan Jumat 15 November 2013 dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai kalangan, antara lain muballigh, pengurus masjid, akademisi, utusan ormas Islam. [majulah-IJABI]
1467450_3631301677997_846592618_nSecara umum, diskusi yang dipandu oleh Prof Dr. H. Ahmad M Sewang, MA berjalan menarik. Tema yang diulas adalah “Hijrah”. Kedalaman ilmu dan wawasan Prof Quraish Shihab menjadikan diskusi makin menarik dan berbobot. Dalam pandangan beliau, semua peradaban umat manusia dimulai dari proses “hijrah”. Tidak ada peradaban besar yang tidak diawali dengan hijrah tersebut. Dengan demikian, hijrah dalam berbagai maknanya menandai kebangkitan sebuah peradaban.Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta diskusi, Said Abd Shamad (Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam -LPPI- Indonesia Timur), seperti ‘kebiasannya’ selama ini, bertanya di luar konteks tema diskusi. Yang ditanyakannya masih berulang soal Sunni-Syiah. Ia kembali memutar ‘kaset’ yang berisi lagu lama tentang fitnah pada Syiah. Tudingan ‘basi’ yang dilontarkannya tentang Syiah masih mengulang hal yang sama, dari isu mut’ah, Quran yang berbeda, Syiah tidak shalat Jumat, hanya mengangkat pemimpin dari kalangan Ahlulbait, dll.Saat menjawab Said Abd Shamad, Prof Quraish mengatakan bahwa isu pertentangan Sunni-Syiah sudah usang. Masih terlalu banyak problem besar yang muncul seiring perkembangan zaman yang harus dipikirkan umat Islam ketimbang menghabiskan waktu mempertengkarkan soal Sunni-Syiah. Dalam pandangannya, Prof Quraish menyampaikan bahwa tudingan terhadap Syiah seperti itu adalah bagian dari masa lalu. Dengan nada menyindir Prof Quraish menyebut penanya sebagai orang yang ‘terlambat lahir’.

Meski terlihat sudah bosan dengan pertanyaan seputar isu Syiah, Prof Quraish tetap menjawab beberapa tudingan yang dialamatkan Said Abd Shamad pada Syiah.

Terkait fitnah Quran yang berbeda, Prof Quraish menjawab tudingan tersebut sambil bertanya ke AGH Muhammad Ahmad (Ketua Umum DPP IMMIM) yang memiliki Quran cetakan Iran dan sudah membaca hingga khatam. Prof Quraish Shihab bertanya kepada AGH Muhammad Ahmad (yang juga Ketua MUI Makassar periode sebelumnya), “apakah Quran Syiah berbeda dengan Quran yang beliau baca sebelumnya?”, dengan senyum khasnya Gurutta Muhammad Ahmad menjawab bahwa Quran Syiah sama dan tidak berbeda dengan Quran Sunni.

Ketika menjawab soal nikah mut’ah, Prof Quraish menjawab bahwa bukan hanya mazhab Syiah yang setuju (membolehkan) nikah mut’ah. Meski mengaku tidak setuju dengan praktek nikah mut’ah, Prof Quraish menyebutkan beberapa ulama Sunni pun ternyata membolehkan nikah mut’ah, seperti seorang ulama Tunisia bernama Muhammad Thahir bin Asyur (bermazhab Sunni Maliki) dan Abbas Al Aqqad (cendekiawan Mesir tahun 60-an). “Di Iran, tidak ada perempuan yang mau dimut’ahi kecuali pelacur”, tegas penulis Tafsir Al-Mishbah ini.

Prof Quraish Shihab juga membantah tudingan orang Syiah tidak mengerjakan shalat Jumat, sembari menyebutkan fakta bahwa pelaksanaan shalat Jumat di Iran dilakukan secara besar-besaran layaknya hari raya.

Hal lain yang juga dibantah oleh penulis banyak buku best seller ini adalah tudingan bahwa hanya dari kalangan Ahlulbait yang dapat menjadi pemimpin. Prof Quraish menyebutkan 2 nama sebagai contoh, yaitu Rafsanjani (mantan Presiden Iran) dan Hassan Rouhani (Presiden Iran saat ini), keduanya bersurban putih, tidak bersurban hitam seperti umumnya keturunan Ahlulbait di Iran.

Ada kalimat penutup dari moderator Prof DR H Ahmad M Sewang, MA untuk ‘mengunci’ jawaban Prof Quraish.

Kata Prof Sewang, “Orang yang lapang hatinya, akan menjadikan orang lain yang berbeda dengan dirinya sebagai teman seperjalanan mencari kebenaran. Orang yang sempit hatinya, akan menjadikan orang lain yang berbeda dengan dirinya sebagai pihak yang harus dihabisi.”

1422527_3631379759949_1196890791_n

________________________________________________________________________________________
Nurdin Ambo TuwoSaid Samad untuk kesekian kali kehilangan muka. Mencoba mengkritik AG Quraish Shihab tentang Syiah di dalam “Diskusi Khusus Menyambut Tahun Baru Hijriyah” yang diadakan oleh IMMIM 15 Nopember lalu, Said Samad tak mampu berkutik. Akhirnya, dia berceramah dan mengkritik AG Quraish Shihab di mesjid Sultan Alauddin perumahan UMI. Demikian yang disampaikan LPPI SS yang dimuat di website mereka tanggal 16 Nopember 2013 kemarin. [lppimakassar.net]

945978_4717777721030_1660495666_n

Seperti yang sudah kami tuliskan di Memfitnah Syiah Tak Kapok, Said Samad Kembali Terpojok, Said Samad tak kenal lelah memfitnah Syiah. Di hadapan AGH Quraish Syihah, Said Samad kembali berulah. Dan akibatnya, dia mempermalukan diri sendiri di depan ulama dan kaum muslimin yang menghadiri diskusi tersebut.

Said Samad tak kehilangan akal. Seperti petinju yang sudah beberapa kali jatuh karena pukulan lawan, dia masih mencoba berdiri. Kali ini, dia berdiri di luar ring. Akhirnya dia mengkritik AGH Quraish Shihab di tempat lain dimana tak ada lagi AGH Quraish Shihab bisa memberikan jawaban. Dia memilih mengkritik mufassir Alquran lulusan al-Azhar tersebut di mesjid kompleks perumahan UMI.

Saat di atas ring sendiri itulah Said Samad berani mengatakan bahwa pandangan AGH Quraish Shihab itu keliru, bertentangan dengan fatwa MUI Pusat. Dikutiplah fatwa MUI yang mengatakan Syiah berbeda dengan ahlussunnah.

Yang lucu, dikutip dari LPPI SS itu, Said Samad berkata mengenai pendapat AGH Quraish Shihab itu dengan mengutip perkataan Imam Malik:

Kecuali itu, Ustad Said mengutip perkataan Imam Malik (93-178 H), yang pada suatu saat berkata. “Kullun yu’khadzu wa yuraddu qauluhu illah shohiba hadzal qabr, [Setiap orang boleh diterima atau ditolak pendapatnya kecuali yang punya kuburan ini]” sambil menunjuk pada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itu—lanjut Ustad Said—dengan tidak mengurangi penghargaan dan pandangan kita terhadap ketinggian ilmu dan kepakaran beliau, khususnya dalam bidang tafsir, dengan mengacu pada pendapat Imam malik, maka pernyataan Prof. Quraish Shihab harus ditolak karena bertentangan dengan Fatwa MUI dan para ulama muktabar termasuk KH Hasyim Asy’ari rahimahullah.

Hellow Ust Said Samad? Apakah bisa kutipan antum itu digunakan untuk antum sendiri? Bolehkah kami menggunakan perkataan Imam Malik jika kami mendengar apa yang antum katakan? Bolehkah kami mengatakan bahwa pendapat dan PERKATAAN ANTUM KAMI TOLAK dan kami menerima perkataan AGH Quraish Shihab?

Sadarlah Ust. Jangan selalu membawa-bawa nama MUI Pusat. Disana pengurusnya 100-an orang. Kalau antum mengutip MUI Pusat, pastinya larinya ke Baharun, Salim, Ma’ruf Amin, dan teman-temannya. Mereka memang pengurus MUI Pusat Ust, tapi pandangan mereka tentang Syiah adalah pandangan pribadi.

//

//

//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s