Kutipan

BEGINILAN ERAMUSLIM.COM DALAM MENGHINA AHLUL BAIT NABI SAW

Beginilah eramuslim.com sebagai salahsatu situs takfiri terdepan dalam memprovokasi dan menghasud umat agar memandang remeh dan menghinakan Ahlul Bait Nabi saw.

eraKita telah diajarkan oleh Allah SWT lewat lisan suci Nabi saw bahwa sebelum mengenal sejarah Islam yang penuh intrik dan berdarah-darah sudah sepatutunya untuk dikenalkan kepada pribadi-pribadi mulia penuh teladan sepanjang kehidupan yang tak pernah lapuk karena hujan dan tak pernah lekang karena masa yaitu Ahlul Bait Nabi saw.”

Allah SWT berfitman : ” Katakanlah wahai Nabi bahwa engkau tak kan meminta upah apapun dari risalah yang engkau sampaikan kepada mereka (umat) melainkan kasih sayang kepada Ahlul Bait (al-Qurba) dan Rasulullah Saaw bersabda :” Setiap segala sesuatu ada pondasi dan asasnya maka pondasi agamaku ini adalah cinta kepada Ahlul Bait as.

Kelompok Wahabi Takfiri adalah para pembela Islam versi Bani Umayah seperti arahan Syaikh panutan mereka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ahlus Sunnah wal Jama’ah (lebih tepatnya kaum wahabi) menahan diri dari memperbincangkan pertikaian di antara para sahabat.>>>>karena memperbincangan perselisihan sahabat berimplikasi kepada robohnya akidah yang di promosikan Bani umayyah tak ada dalil satu pun yang mengatakan bahwa orang yang bersalah, berdosa, durhaka, dan tak loyal kepada Rasulullah Saaw adalah adil semua, ini adalah pemahaman Islam versi Bani Umayah agar umat yang awam melupakan perselisihan dan pertikaian-pertikain itu semua demi syahwat kekuasaan.

“Sesungguhnya Ali adalah orang yg tercela dlm segala hal. Dia berusaha terus-menerus mengejar kekhalifahan meskipun tidak ia peroleh, dan berperang untuk kedudukan bukan untuk Agama dan sesungguhnya Ali gila kekuasaan. (Ibn Hajar al-Asqalani, Durarul Karimah, jilid 1, hal.155, terbitan Darul Jil, tahun 1414 H/1993 M)

“Jika mereka (pengikut Ali)berdalil dengan populernya Islam, hijrahnya, serta jihadnya (Ali). Maka demikian juga Islamnya Muawiyah, Yazid, para Khalifah bani Umayah dan bani Abbas. Sholat mereka, puasa dan jihad mereka thdp orang kafir. (Disini Ibnu Taimiyah menyejajarkan Ali dengan Muawiyah, dan Yazid, seolah-olah Ibn Taimiyah berkata, “Kita terima keislaman bani Umayah atau kita cela ke-Islaman Ali). Maka jika mereka (pengikut Ali) menyebut salah seorang dari mereka munafik, maka orang di luar mereka (pengikut Ali) juga boleh mengatakan munafik (kepada Ali)”. (Ibn Taimiyah Taqiyudin, Minhajussunnah, jilid 2, hal.26-27, terbitan Darul Hadis Qahirah, tahun 1425 H/ 2004 M).

“Adapun orang yang mencaci-maki mereka (Ahlul Bait Nabi saw) dengan cacian, tidak akan mengotori keadilan dan Agama mereka seperti sebagian dari mereka dengan sifat kikir, pengecut, kurang ilmu, tidak zuhud. (Ibn Taimiyah, Sharimul Maslul, hl.482, terbitan Darul Jil, cetakan ke-1, tahun 1426 H/ 2005 M)

Pandangan adz-Dzahabi mengenai al-Hakim an-Naisaburi seorang Ulama Ahlussunnah dlm kitabnya Siyarul A’lam an-Nubala : “Dia (Al-Hakim) telah mengarang (kitab), lalu mengeluarkan (hadis), membedah, ,menimbang, kemudian menyahihkan dan menganggap cacat sebuah hadis, dimana dia itu termasuk lautan ilmu akan tetapi sedikit condong membela Ali.

Lebih dari 40 tahun Mu’awiyyah mewajibkan laknat kepada Amirul Mukminin Ali di seluruh mimbar-mimbar Islam kala itu apakah itu bukan menunjukkan kebencian Dinasti Muawiyyah kepada Amirul Mukminin? dengan ucapannya yg terkenal Laknallah ala Abu Turab…semua sejarah baik versi Ahlussunnah maupun versi Ahlul Bait mendokumentasikan peristiwa perintah pelaknatan kepada Amirul Mukminin oleh Muawiyyah, Memerangi Amirul mukminin dalam perang jamal dengan alasan menuntut bela atas darah Ustman apakah itu bentuk sebuah kecintaan kepada Amirul Mukminin???? . Ibnu Taimiyah dan semua juru kampanye Wahabi Takfiri memang sedang dan terus berupaya memutar-balikan fakta sejarah dan berusaha mencuci dosa-dosa Yazid dan pengikutnya dengan mengatakan bahwa Yazid tidak ikut terlibat dalam perintah pembantaian Imam Husein as melainkan pendukung Imamlah yang membunuh Imam ….semua itu fitnah kaum durhaka WAHABI…darah itu terlalu mahal dan telah banyak tumpah kalian tidak akan bisa menghapusnya walau dengan tinta sebanyak lautan apalagi dengan asumsi-asumsi atau sekedar lisan belaka..INGATLAH DARAH PARA SYUHADA KARBALA MASIH SEGAR DAN MENETES SAMPAI HARI INI…!!!

Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra

Redaksi eramuslim.com – Selasa, 15 Muharram 1435 H / 19 November 2013 10:18 WIB

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.ross putihIa merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “

“Aku?”, tanyanya tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku!”

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

“Entahlah..”

“Apa maksudmu?”

“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Asyraf Seferagic <asyrafseferagic@gmail.com>

//

//

//

//

//

//

//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s