Galeri

Irfan bin Ahmad Dahlan dan Ahmadiyah

e-dahlan-200Irfan Dahlan adalah anak keempat dari K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923), Pendiri Muhammadiyah, dengan Siti Walidah. Lahir tahun 1905 dengan nama asli Jumhan. Berganti nama menjadi Irfan Dahlan atas keinginannya sendiri saat bertinggal di Lahore, India.

Tahun 1924, bersama beberapa kawannya, Jumhan muda dikirim untuk belajar Islam di Ishaat Islam College yang didirkan oleh Ahmadiyya Anjuman Ishaati Islam Lahore (AAIIL) di Lahore, India. Hal ini terjadi sesudah kedatangan misionaris Ahmadiyah di Yogyakarta, yakni Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, yang memberikan Pidato Keagamaan pada Kongres Muhammadiyah ke-13 di Yogyakarta.

Setelah cukup lama belajar di Lahore, Irfan Dahlan kemudian dikirim sebagai mubaligh untuk berdakwah di Pattani, Thailand. Di sanalah ia bertinggal dan berumah tangga hingga wafatnya. (Lihat tulisan mengenai Keluarga Irfan Dahlan di Bangkok, Thailand).

Dalam booklet World-Wide Religious Revolution yang diterbitkan oleh AAIIL pada Desember 1932, dikisahkan bahwa Dr. A.W. Khan, pendiri gerakan dakwah Islam di Pattani, memberikan kabar kepada AAIIL di India sebagai berikut:

“…obtained from our Society the services of Mr. Erfan Dahlan, a young Javanese and a student of our Ishaat Islam College. Mr. Erfan Dahlan joined the Pattani Mission in October 1930. A little later he was sent to Bangkok, the capital of Siam, to learn the Siamese language where he was cordially received by Maulana A. Karim Masoodee, Imam of the Royal Mosque, who is helping him in every way.” (p. 18)

ishaatislamcollege

Gambar di atas adalah foto bersama antara Staf Pengajar dan Siswa Isha‘at Islam College, Lahore, pada tahun 1927. Perguruan ini didirikan oleh Ahmadiyya Anjuman Isha‘at Islam Lahore dan berlangsung hingga tahun 1928. Para guru yang duduk di kursi dari kiri ke kanan adalah Maulana Abdul Haq Vidyarthi, Maulana Sadr-ud-Din, and Maulana Abdus Sattar. Siswa berjas putih yang bersimpuh di tanah adalah Irfan Dahlan. (lihat juga di sini).

Pada tanggal 23 Juni 1958, Irfan Dahlan bertemu kembali dengan guru kesayangannya, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, yang bersinggah di Bangkok, saat melakukan perjalanan dari Lahore menuju Kepulauan Fiji. Hal ini tertulis dalam surat Abdul Haq Vidyarthi yang dimuat dalam Majalah Ruh-i Islam, Oktober-November 1958).

Tahun 1961, Irfan Dahlan melukis wajah sang guru, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, dalam bayang-bayang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Di bawah lukisan itu, beliau mencantumkan sebaris puisi karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Lihat Lukisan Sang Guru Karya Irfan Dahlan.

Tahun 1967, Irfan Dahlan wafat. Ia meninggalkan sepuluh orang anak dari hasil perkawinannya dengan Zahara.

(lihat artikel terkait di sini)
http://ahmadiyah.org/irfan-dahlan/
http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2013/05/erfan-dahlan-putra-kh-ahmad-dahlan-dan.html
**********************************************************************************************************
Monday, August 19, 2013
Irfan Dahlan & Ahmadiyah: Klarifikasi Keluarga Dahlan

Berikut ini klarifikasi keluarga KH Ahmad Dahlan tentang hubungan antara Irfan Dahlan dan Ahmadiyah (Lahore). Klarifikasi ini disampaikan oleh Dian Purnamasari Zuhair (cucu Irfan Dahlan).

KH. A. Dahlan wafat tahun 1923, dan eyang Djumhan (Nama Irfan itu setelah di Thailand) lahir pada tahun 1912. Artinya, pada waktu KHA Dahlan wafat, eyang Irfan baru berumur 11 tahun. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan Ahmadiyah di Jawa. Tapi yang pasti tidak ada Ahmadiyah di Thailand dan eyang Djumhan adalah korban.

Saya sebenarnya enggan mengulang cerita untuk mengklarifikasi dari banyak versi tentang nama-nama keturunan KHA Dahlan yang dicatut oleh Ahmadiyah sebagai bahan iklan mereka, yang itu sebenarnya tidak benar. Hmmm… saya harus mulai dari mana ya? Karena saya kan sudah pernah posting sekitar Oktober tahun lalu.

Ahmadiyah mencatut nama-nama keturunan KHA Dahlan sebagai bahan propaganda, padahal tidak benar. Bahkan di Belanda hal ini juga dibahas oleh seorang penulis Belanda yang bukunya pernah saya dan uncle Winai baca. Beberapa kali saya pernah sounding mengenai hal ini ke keluarga besar di Bangkok, reaksi mereka sih santai saja, karena toh semua versi yang tercatat di luaran itu tidak ada satu pun yang benar. Bahkan Muhammadiyah di Thailand sedang mereka urus ijin-ijinnya.

Lagipula penting sebagai catatan bahwa semua organisasi berbasis agama mana pun adalah dilarang di Thailand, termasuk organisasi berbasis agama budha yang agama mereka sendiri. Hanya satu-satunya Muhammadiyah yang Insya Allah segera turun ijinnya dari raja untuk berdiri di Songkhla (Thailand Selatan). Ini juga karena faktor kedekatan Dahlan Family di Bangkok dengan keluarga kerajaan, dimana uncle Winai Dahlan adalah sebagai salah satu dari penasehat raja dan bersahabat dengan putra mahkota.

Versi Buya Hamka yang mencatat bahwa eyang Djumhan (yang saat itu sudah berganti nama dengan Irfan) berada di Pattani untuk menyebarkan ajaran Ahmadiyah, adalah salah besar. Yang benar adalah, eyang Djumhan muda ketika berusia 12 tahun jalan 13 tahun (1925) dan cakap berbahasa hingga 8 bahasa asing, DIKIRIM oleh pengurus Muhammadiyah ke Lahore untuk belajar di sana, bersama 10 orang santri. Di waktu itu Muhammadiyah belum memahami betul mengenai apa dan bagaimana Ahmadiyah.

Eyang Djumhan kecil yang hanya tahu bahwa dia hanya dikirim oleh PP Muhammadiyah dan ditugaskan untuk belajar, maka belajar dengan sungguh-sungguh hingga lulus 6 tahun kemudian. Sementara 10 santri lainnya belum lulus.

Ketika tersiar berita bahwa Majlis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat, maka 10 santri yang belum lulus ditarik pulang, kecuali eyang Djumhan yang sudah lulus. Djumhan muda, 19 tahun, yatim, jenius, terlunta-lunta di negeri orang. Di negeri sendiri ditolak karena dituding sebagai Ahmadiyah, di Lahore juga bukan siapa-siapa. Ahmadiyah tidak mau tahu karena bagi mereka Djumhan muda adalah orang Muhammadiyah.

Alkisah ada seorang dokter specialis penyakit dalam yang seorang muslim datang dari Pattani ke Lahore untuk menghadiri sebuah kongres. Dokter yang baik hati itu terkesan dengan Djumhan yang memperkenalkan diri dengan nama “Irfan” yang saat itu bekerja sebagai pelayan restoran. Dokter itu lalu menawari Djumhan untuk menjadi asistennya karena dia tidak punya anak, dan menetap di Pattani. Djumhan/Irfan yang sebatangkara tentu saja menerima tawaran tsb dan ikut bersama dokter itu ke Pattani. Sejak itu jadilah Irfan menjadi asistennya (baca : pembantu). Selama tinggal bersama keluarga dokter tsb, Irfan juga diajari beberapa ilmu pengobatan. Irfan yang jenius dengan mudah mempelajarinya. Dokter tsb terkesan dengan kejeniusan asistennya ini, dan kemudian mengirim Irfan ke Bangkok untuk belajar ke Universitas Chulalongkorn dengan biaya kuliah dari dokter itu.

Berbekal surat pengantar dari Dokter untuk temannya yang di Chulalongkorn, baju seadanya dan 2 lembar sarung, Irfan berangkat ke Bangkok. Karena tidak punya banyak uang, maka Irfan menginap di Masjid Kampung Jawa di distrik Sathorn di Bangkok.

Baru sampai di Kampung Jawa, tersiar berita bahwa dokter yang sedianya akan membiayai Irfan kuliah di Chulalongkorn wafat mendadak. Irfan pun terkatung-katung di masjid Kampung Jawa.

Kehalusan budi pekerti, kesalehan, dan ketampanan Irfan rupanya membuat Imam (Ajengan) Masjid Kampung Jawa terkesan. Irfan yang miskin, yatim, dan sebatangkara itu pun diambilnya menjadi menantu. Irfan pada akhirnya memang batal kuliah di Chulalongkorn, tapi teman dari dokter yang mengirim dia memberinya pekerjaan di Universitas di bagian administrasi.

Irfan TIDAK PERNAH bercerita tentang siapa dia dan siapa ayahnya kepada anak2nya di Thailand. Mereka hanya tahu ayah mereka orang Indonesia. Mengapa? Karena hidup mereka sangat miskin dan Irfan tidak mau anak2nya minder mengetahui bahwa mereka berasal dari keturunan yang seperti apa tapi hidup melarat seperti apa.

Mana bukti Ahmadiyah mengakui Irfan atau bahkan mengutusnya? Tidak ada! Jika memang mereka betul mengutusnya, pasti kehidupan Irfan tidak akan sesengsara itu.

Anak-anak Irfan baru mengetahui jati diri ayahnya ketika tahun 1961 Bung Karno memberikan rumah kepada keluarga besar KHA Dahlan. Irfan sebagai satu-satunya anak laki-laki KH A Dahlan yang masih hidup pun diminta pulang untuk acara serah terima rumah tsb. Berbekal uang hasil berhutang sana sini, Irfan pun pulang ke Indonesia.

Irfan kembali ke Thailand hanya dengan membawa perangko dan foto-foto KHA Dahlan, dan menghadapi kenyataan bahwa dia terbelit hutang. Irfan meninggal dunia dalam perjalanan pulang kerja karena serangan jantung akibat memikirkan beban hutangnya yang banyak sementara 10 orang anaknya masih membutuhkan biaya. Jenazah Irfan diketemukan orang di jalan dan dibawa ke RS. Lazimnya di Thailand, jenazah orang yang tak dikenal dan masih segar akan segera diambil organ-organ tubuhnya yang masih baik untuk donor. Dan seperti itulah nasib jenazah eyang Irfan. Keluarga baru mengetahui satu hari setelahnya, namun beberapa organ dalam tubuh eyang sudah tidak ada.

Sekarang, mana tanggung jawab PP Muhammadiyah yang MENGIRIMKAN Djumhan muda ke Lahore? Tidak ada. Bahkan Djumhan diterlantarkan. Mana bukti Ahmadiyah mengutus Djumhan ke Thailand untuk berdakwah? Tidak ada! Bahkan Djumhan dilempar begitu saja di jalanan setelah Muhammadiyah memutuskan Ahmadiyah sesat. Dan siapa Djumhan Dahlan alias Irfan Dahlan? Dia adalah anak muda yang jenius yang menjadi seekor kancil yang mati terinjak 2 gajah yang sedang berseteru…

Kini, setelah Muhammadiyah mulai berpengaruh di dunia, setelah putra Irfan Dahlan menjadi tokoh dunia (versi buku 1000 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia), baru Ahmadiyah kebakaran jenggot bikin buku dan menulis blog yang mencatut nama orang yang dulu mereka buang.

Memang pernah ada sekali tokoh Ahmadiyah datang ke Bangkok beberapa waktu sebelum eyang wafat dan bertamu ke rumah eyang. Tapi bukan karena mereka sepaham, namun hanya sekedar seorang tuan rumah yang kedatangan tamu. Mereka berfoto dan ternyata kemudian foto itu dijadikan alat propaganda oleh Ahmadiyah.

Uncle Winai juga pernah didatangi oleh tokoh Ahmadiyah ketika beliau menghadiri kongres halal di Lahore beberapa tahun lalu. Tokoh tsb berusaha menegaskan bahwa eyang Irfan adalah orang Ahmadiyah, tapi uncle Winai tetap bersikeras bahwa ayahnya adalah Muhammadiyah, beliau juga Muhammadiyah, dan keluarganya adalah Muhammadiyah. Syahadat mereka juga syahadat tain.. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan oleh Irfan kepada anak2nya juga ilmu yang didapat dari ayahnya, KHA Dahlan.. Anak2 Irfan tidak tahu siapa Mirza Ghulam Ahmad karena memang Irfan tak pernah mengajarkan. Mereka baru tahu lama setelah Irfan wafat. Dan yang jelas tidak ada Ahmadiyah dan pengikutnya di Thailand.

Masjid Kampung Jawa adalah Masjid Islam yang sifatnya masih umum. Bukan Muhammadiyah, bukan NU, bukan Wahabi, bukan mana-mana. Hanya “Islam”. Tapi nafas yang ditaburkan oleh Irfan sebagai menantu Imam Besar adalah nafas Muhammadiyah.

Di Belanda juga ada tulisan bahwa cucu KHA Dahlan, Wahban Hilal, yang adalah putra pertama dari pasangan Haji Muhammad Hilal dengan putri pertama KHA Dahlan, Johannah Dahlan, juga disebut sebagai anggota Ahmadiyah sejak 1974.

Itu sama sekali tidak benar. Uncle Wahban bermukim di Belanda sejak kuliah hingga wafatnya. Menikah dengan wanita Belanda di Belanda. Sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Ahmadiyah.

Memang di tahun 1974, uncle berangkat umroh dan kembali sambil melancong dan silaturahmi ke keluarga. Kunjungan pertama setelah dari Jeddah yaitu ke Lahore, lalu ke Indonesia (Jakarta, Yogya), lalu ke Singapore, kemudian ke Thailand, kembali ke Singapore dan kembali ke Belanda. Kemungkinan seperti kasus uncle Winai yang didatangi tokoh Ahmadiyah. Memang hanya bertemu saja, tidak ada istilah dibaiat atau sebagainya. Namun hal ini dipropagandakan oleh Ahmadiyah.

From: https://www.facebook.com/groups/warga.muhammadiyah/permalink/10152157499097796/?comment_id=10152158312042796&offset=0&total_comments=25&notif_t=group_activity

http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2013/08/irfan-dahlan-ahmadiyah-klarifikasi.html
**************************************************************************************************************
Selasa, 18 Juni 2013 , 07:04:00
Jejak Keluarga KH Ahmad Dahlan Di Thailand
Sadar Jadi Cucu Pahlawan Setelah Mengunjungi Indonesia

070718_391235_dahlan_reuni

Erfan Dahlan (Dalam sejarahnya tertulis dengan nama Irfan Dahlan), memilih hijrah dan menetap di Thailand sejak tahun 1930. Ia kemudian menikah dengan Zahrah, aktivitas perempuan muslim Thailand yang juga memiliki garis keturunan dari Jawa Tengah. Mereka memilikin 10 orang anak dan beberapa diantaranya kemudian menjadi pendakwah bahkan menyiarkan Islam hingga hari ini.

Namun sayangnya mereka tak banyak tahu tentang sosok besar kakek mereka, pendiri Muhammadiyah yang juga pahlawan Nasional Indonesia, KH Ahmad Dahlan. Hingga akhirnya mereka mengunjungi Indonesia yang diakui mengubah banyak hal setelahnya.

Laporan: Afni Zulkifli-Bangkok

Saat JPNN bertanya, sejauh mana pemahaman cucu KH Ahmad Dahlan tentang kakek mereka, Mina (anak ke 6 Erfan Dahlan) mengaku tak banyak tahu tentang tokoh sentral Muhammadiyah asal Yogjakarta itu. Meski pernah diceritakan sang Ayah, namun Mina dan saudara-saudaranya tak pernah mendapatkan cerita utuh tentang sepak terjang sang kakek hingga dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional.

“Tidak banyak hal yang kami tahu soal KH Ahmad Dahlan atau pun Muhammadiyah, karena kami juga tidak banyak bertanya tentang itu. Kami juga tidak pernah mengunjungi Indonesia sebelumnya,” kata Mina.

Besarnya dampak menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan, baru dirasakan Mina dan saudara-saudaranya sepeninggalan Ayahnya. Banyak orang dari Indonesia, selain mengunjungi Mesjid Jawa (yang juga didirikan oleh keluarga Zahrah-ibu Mina), kemudian datang berkunjung ke rumah mereka di Bangkok. Tujuannya sekedar bersilahturahmi dengan keturunan KH Ahmad Dahlan.

“Abang saya Dr Winai, pernah bertemu dengan Ketua Muhammadiyah Din Syamsudin. Namun kami tidak banyak tahu soal Muhammadiyah karena yang datang kemari hanya masyarakat biasa saja. Mereka mengunjungi Mesjid Jawa dan bersilahturahmi,” kata Mina dalam bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia.

Ketidaktahuan mereka tentang sosok KH Ahmad Dahlan terasa wajar. Meski Ayah mereka, Erfan Dahlan, meninggal dengan status Warga Negara Indonesia, namun Ibu mereka, Zahra, tercatat sebagai warga negara Thailand. Begitu pula dengan Mina dan 9 saudara lainnya yang lahir dan besar di Thailand. Sebelumnya mereka juga tak pernah berkomunikasi dengan keluarga besar KH Ahmad Dahlan di Indonesia.

Namun demikian Mina mengatakan, Indonesia baginya bukan negara asing. Mereka banyak diceritakan tentang negara asal Ayah dan keluarga Ibu mereka itu. Bahkan Zahra sekitar tahun 1986 pernah mengunjungi saudaranya di Jawa Tengah.”Mungkin karena terlalu sayangnya, sampai 3 bulan ditahan untuk tinggal bersama keluarganya di Indonesia,” kata Mina sambil tertawa.

Setelah itu beberapa kali Mina dan saudara-saudaranya mulai mengunjungi Indonesia terutama Yogyakarta. Salah satu kunjungan yang paling berkesan, ketika mereka diundang menghadiri 1 Abad Muhammdiyah. Kunjungan itulah kata Mina yang mengubah banyak hal pemahaman dan rasa cinta mereka pada sang kakek, KH Ahmad Dahlan.

“Kami para cucu, merasa kaget sekali melihat banyak orang datang mengusung poster KH Ahmad Dahlan. Stadion hanya dalam waktu singkat, sudah diisi ribuan orang. Kami baru sadar ternyata kakek kami orang besar di Indonesia. Saya sendiri sampai merinding melihat lautan massa Muhammadiyah yang hadir ketika itu,” kata Mina mengungkap rasa bangganya.

Seketika setelah kunjungan itu, rasa bangga menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan, ditularkan Mina dan saudara-saudaranya kepada putra putri mereka (Cicit-generasi ketiga KH Ahmad Dahlan) yang tersebar di Thailand hingga Amerika Serikat. Tidak hanya sekedar rasa bangga, mereka pun menjadikan nama Dahlan, sebagai nama resmi garis keturunan keluarga.

Keluarga besarnya di Thailand mulai memikirkan bahwa sejarah tak boleh terhapus begitu saja. Apalagi salah satu amanat Ayah mereka, adalah untuk tetap mengingat KH Ahmad Dahlan dan tanah leluhur bernama Indonesia.

“Karena kami ini generasi berikutnya, merasa bertanggungjawab untuk meneruskan cerita sejarah pada cucu dan cicit KH Ahmad Dahlan. Bagaimanapun, kami memiliki darah Indonesia dan harus menghormati para leluhur,” kata Mina.

Pada bulan April 2013, akhirnya dipimpin oleh Dr Winai Dahlan, keluarga besar KH Ahmad Dahlan yang terdiri dari 22 orang cucu dan cicit yang datang dari Bangkok dan AS, melakukan perjalanan ke Indonesia. Selain ziarah makam, mereka juga bertemu dengan keturunan KH Ahmad Dahlan lainnya di Jakarta dan Yogjakarta.

Mereka juga mengunjungi Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII). Tujuannya agar cucu dan cicit KH Ahmad Dahlan, mengetahui tentang asal usul leluhur mereka. Bersama keluarga lainnya yang baru bertemu setelah puluhan tahun, kini sudah mulai terjalin kembali tali persaudaraan yang semula tak saling mengenal satu sama lain.

“Kini sudah tercipta hubungan baru antar mereka di generasinya. Dengan berkunjung ke Indonesia, rasa bangga menjadi keturunan KH Ahmad Dahlan begitu terasa. Indonesia kini menjadi negara asal leluhur atau negara kedua (second home town) buat kami,” ungkap Mina.

Apakah punya rencana untuk kembali ke Indonesia? Mendapat pertanyaan ini Mina hanya tertawa lepas. Ia mengatakan bahwa Thailand adalah tanah kelahirannya, namun Indonesia akan selalu tetap di hati ia dan saudara-saudaranya. Suatu ketika ungkap Mina, saat KH Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, ada utusan pemerintah Indonesia yang datang ke keluarganya menyampaikan hadiah berupa satu unit rumah yang disebutnya terletak di Jakarta.

“Kami tidak tahu persis letaknya. Tapi rumah itu pada akhirnya kami tolak dan diserahkan kepada organisasi di sana (Muhammadiyah) untuk dijadikan pustaka atau museum KH Ahmad Dahlan saja. Karena lebih bermanfaat demi melanjutkan perjuangan beliau. Saya tidak tahu bagaimana nasib rumah tersebut,” kata Mina.

Bagi Mina dan saudara-saudaranya, menyandang status sebagai keturunan pejuang besar sekelas KH Ahmad Dahlan, sudah menjadi penghargaan tersendiri. Ia mengatakan, bahwa garis keturunan KH Ahmad Dahlan di Thailand awalnya malah tak mengerti tentang siapa sosok besar pendiri Muhammadiyah tersebut. Namun mereka sekelurga telah memiliki semangat juang yang sama dengan sang kakek.

“Allah Swt maha pengatur. Ia menjadikan keturunan KH Ahmad Dahlan di Thailand, juga melakukan dakwah dan menyiarkan Islam meski mereka tak tahu apapun tentang beliau sebelumnya,” kata Mina.

Sama seperti semangat yang ditularkan KH Ahmad Dahlan, yang menjadikan Muhammdiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan, begitu pula dengan keturunannya di Thailand. Jauh sebelum mereka tahu siapa kakek mereka, Erfan Dahlan dan anak-anaknya sudah menjalankan berbagai kegiatan dakwah dan sosial.

Erfan Dahlan memimpin dakwah Islam di Thailand hingga akhir hayatnya, begitu pula dengan istrinya Zahrah yang mendirikan Women Association of Thailand atau Asosiasi Perempuan Muslim Thailand. Sepeninggal keduanya, anak-anak mereka (cucu KH Ahmad Dahlan) mendirikan Yayasan bernama Erfan-Yupha Dahlan untuk tetap mendukung kegiatan Muslim Women Association yang berkonsentrasi membantu pendidikan anak-anak miskin dan anak yatim.

“Yayasan ini didanai murni oleh keluarga besar Erfan Dahlan di Thailand. Konsentrasinya untuk kegiatan sosial dan dananya berasal dari penghasilan kami sendiri,” kata Mina.

Bolehkah minta foto kegiatan Yayasannya? “O, jangan. Kami tidak pernah mendokumentasikan kegiatan yayasan. Kata Ayah, Kakek mengajarkan bahwa berbuat baik itu cukuplah Allah saja yang tahu. Kalau perlu ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu mengetahui,” kata Mina menjelaskan alasannya menolak permintaan JPNN.

http://www.jpnn.com/read/2013/06/18/177440/Sadar-Jadi-Cucu-Pahlawan-Setelah-Mengunjungi-Indonesia-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s