Galeri

Nasihat Imam Husein bin Ali as

__Ya_Hussain___by_aneen_alrooh

Imam Husein as berkata:

“Orang Berakal tidak memberitakan sesuatu kepada orang lain yang bakal mendustakannya, tidak meminta kepada seseorang yang bakal menolaknya dan tidak berharap kepada orang yang tidak dapat dipercaya.” (Hayat al-Imam Husein as, jilid 1, hal 181)

Manusia berakal sebelum melakukan satu pekerjaan sudah memikirkan akibatnya. Karena melakukan sebuah pekerjaan yang hasilnya sejak awal telah diketahui, bukan saja tidak bermanfaat, tapi juga menjadi penghinaan bagi kehormatan seorang mukmin, sekaligus bertentangan dengan akal.

Dari sini, ketika seorang berakal berdialog dengan orang lain, sejak awal ia telah mencari tahu siapa yang dihadapinya dan memperkirakan kemampuan informasi yang dimiliki dan keilmuannya. Setelah itu baru ia mengatakan kepada orang itu tentang berita atau informasi penting. Sebagian orang tanpa pengantar terlebih dahulu dan menilai orang lain, langsung saja menyampaikan berita kepadanya.

Sikap seperti ini terkadang berujung pada sikap orang yang diberi informasi itu bukannya menerima apa yang disampaikan, tapi justru membantah dan mendustakannya. Bila yang terjadi adalah demikian, orang yang menyampaikan informasi itu akan menyesal telah berbicara.

Begitu juga terkadang seseorang ketika membutuhkan sesuatu, ia semestinya berharap kepada orang lain yang tidak menolak permohonan bantuannya. Ini semua kasus-kasus yang harus diperhatikan oleh orang berakal sejak awal ingin melakukan pekerjaan. Ia harus memikirkan akibat dan akhir dari perbuatannya, setelah itu baru memutuskan untuk melakukannya.

Berpikir Jauh

Imam Husein as berkata:

“Bila kegoncangan dan bencana menimpa seorang berakal, maka ia akan menghilangkan kesedihan dan kegalauannya dengan berpikir jauh ke depan. Untuk mencari solusi atas apa yang dihadapinya, ia akan menggedor pintu rumah akalnya.” (Haitsami, Majma’ az-Zawaid, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1408 Hq, cet 3, jilid 9, hal 186)

Manusia dalam kehidupannya mengalami kondisi yang beragam. Terkadang mencapai kesuksesan dan pada waktu yang lain menghadapi kesulitan. Dalam kondisi ketika manusia menghadapi masalah atau bencana, sebagian orang dengan mudah takluk di hadapan masalah yang melilitnya. Mereka tidak mampu keluar dari masalah yang menghadangnya. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah berdiri di atas kakinya sendiri dan setiap kali ada angin, mereka akan bergeser mengikuti arah angin.

Tapi ada banyak orang yang tegar ketika menghadapi masalah dan problema yang menimpanya. Mereka tidak menunjukkan kelemahan dirinya di hadapan masalah yang mendera, bahkan orang lain berusaha mendapat energi dengan menyaksikan ketegarannya. Orang-orang seperti ini menggunakan akalnya dan berpikir jauh ke depan saat menghadapi masalah dan dengan berpikir jauh ke depan, mereka mencari solusi atas kesulitan yang dihadapinya.

Menafsirkan Al-Quran Tanpa Ilmu

Imam Husein as berkata:

“Jangan memasuki penafsiran al-Quran tanpa ilmu. Jangan membahas tentang tafsir al-Quran yang sulit, sehingga menimbulkan perselisihan. Karena saya mendengar kakekku bersabda, ‘Barangsiapa yang berbicara tentang al-Quran dan tidak punya ilmunya, maka tempatnya di neraka.” (Ibnu Babawaih, Qommi Shaduq, at-Tauhid, Tehran, Entesharaat Sadough, 1398 Hq, cet 1, hal 91)

Secara umum, setiap orang yang ingin menyampaikan pendapat tentang satu cabang ilmu, maka sudah barang tentu ia harus memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup berkaitan dengan apa yang ingin disampaikannya. Tafsir al-Quran juga memiliki posisi yang sama. Bahkan ketika al-Quran memiliki posisi tersendiri, maka tafsir al-Quran juga dengan sendirinya harus memiliki perhatian lebih. Mereka yang ingin menafsirkan al-Quran harus sudah melewati sejumlah informasi dan pengetahuan pendahuluan.

Dengan demikian, tafsir al-Quran dan penjelasan terkait ayat-ayat yang sulit tanpa melewati tahapan yang diperlukan bagi seorang penafsir al-Quran, bukan saja merupakan perbuatan buruk, tapi dapat menyebabkan penyimpangan bagi dirinya dan orang lain. Bila sampai terjadi penyimpangan pada orang lain, maka secara perlahan-lahan akidah sesat akan menyebar di tengah masyarakat. Ketika penyimpangan telah menyebar, maka akan sangat sulit untuk memperbaikinya.

Itulah mengapa Imam Husein as dalam ucapannya dengan bersandar pada ucapan kakeknya, Rasulullah Saw menyebut akibat orang yang menafsirkan al-Quran tanpa ilmu akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam.

Menerima Tanggung Jawab Sesuai Kemampuan

Imam Husein as berkata:

“Jangan memaksa diri terkait apa yang engkau tidak mampu melakukannya.” (Sayid Muhsin Amin, A’yan as-Syiah, Beirut, Dar at-Ta’aruf Lil Mathbu’aat, 1404 Hq, cet 1, jilid 1, hal 621)

Imam Husein as dalam ucapannya menasihati manusia agar sebelum menerima sebuah pekerjaan atau tanggung jawab ia harus memperhatikan banyak hal dan yang paling penting adalah menanyakan dirinya sendiri apakah ia mampu melakukannya atau tidak?

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terkadang menerima sebagian pekerjaan atau tanggung jawab yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Akhirnya, ia tidak mampu melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Bahkan dalam banyak kasus, yang terjadi ia justru merugikan dirinya dan masyarakat. Orang-orang yang seperti ini akan terjebak dalam sikap putus asa dan di setiap periode kehidupannya akan mengalami kegagalan.

Oleh karenanya, sangat tepat bila manusia sebelum menerima pekerjaan atau tanggung jawab, terlebih dahulu menimbang kemampuannya, sehingga tidak terjatuh pada masalah yang akan melilitnya di kemudian hari.

Mengenal Diri

Ada seorang yang bertanya kepada Imam Husein as, “Siapa manusia paling mulia?”

Imam Husein as menjawab:

“Seseorang yang telah mengambil pelajaran sebelum diberi nasihat dan telah sadar sebelum disadarkan.” (Mahmoud Sharifi dkk, Mausu’ath Kalimaat al-Imam al-Husein as, Qom, Entesharaat Marouf, 1373 Hs, hal 744)

Manusia yang sadar dengan memanfaatkan potensi ilmu yang dimilikinya tidak akan pernah tertidur dalam tradisi dan kelalaian, tapi senantiasa melakukan evaluasi atas segala pekerjaannya. Potensi ilmu yang menyadarkannya ini secara terus menerus memberinya nasihat. Selain itu, orang seperti ini tidak hanya memperhatikan dirinya, tapi juga lingkungannya. Ia begitu teliti melihat apa yang terjadi di sekelilingnya dan mengambil pelajaran darinya guna melicinkan jalan mencapai kesempurnaan.

Orang yang seperti ini, sebelum orang lain membangunkannya dari tidur kelalaian, dengan sendirinya telah sadar dan senantiasa waspada. Ia mengamalkan perintah dan bimbingan akalnya.

Menggunakan Harta Semasa Hidup

Imam Husein as berkata:

“Hartamu, bila telah ditakdirkan menjadi milikmu, maka engkau akan menginfakkannya. Oleh karenanya, harta yang engkau tinggalkan setelahmu itu akan menjadi simpanan untuk orang lain, sementara mereka menginginkannya darimu dan mengambilnya dari simpanan akhiratmu. Ketahuilah, engkau tidak akan menyertai hartamu dan ia tidak pernah loyal kepadamu. Untuk itu, manfaatkan hartamu dan makanlah sebelum ia memakanmu!” (Bihar al-Anwar, jilid 71, hal 357)

Sebagian manusia di masa hidupnya menggunakan hartanya untuk membantu masyarakat dan melakukan pekerjaan baik. Orang-orang seperti ini ketika menghadap Allah Swt dengan mudah dan ringan. Karena sejak di dunia ini mereka telah mengirim bekal untuk akhiratnya dan dengan mudah melewati perhitungan di Hari Kiamat.

Sebaliknya, ada sebagian orang yang tidak dapat melepaskan dirinya dari kebergantungan terhadap hartanya. Bukan saja mereka tidak yakin bahwa setelah meninggalkan dunia harta yang diinfakkan di jalan Allah yang akan menyelamatkannya, tapi juga harus menjawab segala pertanyaan tentang penggunaan hartanya di Hari Kiamat.

Dengan demikian, bila seseorang adalah orang baik dan suka melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan menginginkan hartanya digunakan di jalan kebaikan sepeninggalnya, maka ia harus berusaha untuk melakukannya selama hidupnya atau mempersiapkannya sejak awal. Karena ia tidak dapat berharap banyak kepada para pewarisnya.

Pertanyaan Mendasar

Ada seorang bertanya kepada Imam Husein as, “Wahai anak Rasulullah! Saya punya beberapa pertanyaan dan bila Anda mempersilahkan, saya akan menanyakannya kepada Anda.”

Imam Husein as berkata, “Tanyakan apa yang engkau inginkan.”

Orang itu bertanya, “Seberapa jauh jarak antara iman dan yakin?”

Imam Husein as menjawab, “Seukuran empat jari.”

Ia tidak begitu mengerti dan kembali bertanya, “Bagaimana bisa?”

Imam menjawab, “Iman ada pada hal-hal yang kita dengar dengan telinga, sementara yakin terkait dengan hal-hal yang kita saksiksan dengan mata. Dan antara telinga dan mata hanya berjarak empat jari.”

Orang itu bertanya kembali, “Lalu seberapa jarak antara langit dan bumi?”

Imam Husein as menjawab, “Seukuran doa yang dikabulkan.”

Ia bertanya lagi, “Apa yang menyebabkan seorang mulia?”

“Kemuliaan seseorang ada pada ketidakbutuhannya kepada orang lain,” jawab Imam.

“Lalu apa yang lebih buruk dari segalanya?” tanyanya.

Imam menjawab, “Orang tua yang menuruti hawa nafsu, raja yang bersikap keras, orang mulia yang berbohong, orang kaya yang kikir dan ilmuwan yang rakus.”

Orang itu berkata kembali, “Wahai anak Rasulullah! Sekarang katakan kepadaku para Imam sepeninggal Rasulullah Saw ada berapa orang!”

Imam Husein as menjawab, “Ada 12 orang sebanyak Nuqaba Bani Israil.”

Ia bertanya kembali, “Siapa saja nama mereka?”

Imam Husein as menyebutkan satu persatu nama para Imam yang dimulai dari Imam Ali as hingga Imam Mahdi af. Setelah itu beliau berkata, “Mahdi af akan tetap hidup dan bangkit di akhir zaman.” (Mohammad Bagher Modarres Bostan Abadi, Shakhsiat Emam Hossein as Qabl az Ashora, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1380, cet 1, hal 201.

Mengikuti Hak dan Hakikat

Imam Husein as berkata:

“Akal manusia tidak akan sempurna, kecuali dengan mengikuti hak dan hakikat.” (Irsyad al-Qulub, hal 298)

Akal merupakan nikmat agung ilahi yang diberikan kepada manusia. Menggunakan akal dengan sebenarnya dan mengikuti wahyu ilahi memberikan kemampuan manusia memilih dan memilah hak dan hakikat dari kesesatan. Tapi poin penting dalam masalah ini adalah bagaimana manusia dapat membantu akal menjadi sempurna dan tumbuh dengan baik?

Imam Husein as menyebut akal dapat menjadi sempurna dengan mengikuti hak dan kebenaran. Karena akal merupakan hujjah dalam batin manusia. Akal senantiasa mengikuti kebenaran dan sebaliknya, menjauh dari hakikat membuat akal perlahan-lahan menjadi lemah untuk melakukan kewajibannya dan tidak mampu menjadi sempurna. Dengan demikian, bila kita ingin memanfaatkan akal sebaik mungkin dan tumbuh menyempurna, tidak ada cara lain kecuali mengikuti hak dan hakikat. Karena menjauhi jalur hak dan hakikat akan melemahkan akal.

Melaksanakan Kewajiban

Dalam perjalan menuju Karbala dan di tempat bernama Shafah, setelah Imam Husein as bertemu dengan Farazdaq, dimana ia melaporkan sikap warga Kufah yang tidak setia kepadanya, beliau berkata:

“Bila takdir ilahi terjadi pada apa yang kami inginkan, maka kami akan mensyukuri segala nikmat-Nya dan meminta bantuan-Nya untuk mensyukuri-Nya. Bila takdir ilahi adalah adanya penghalang antara kami dan harapan kami, maka siapa saja yang niatnya adalah kebenaran dan dalam dirinya ada ketakwaan, sudah barang tentu ia tidak akan melampaui batas dari kebenaran.” (Muhammad bin Jarir at-Thabari, Tarikh Thabari, Beirut, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1406 Hq, cet 3, jilid 4, hal 290)

Ucapan Imam Husein as itu menunjukkan beliau pergi ke Karbala untuk melaksanakan kewajibannya. Para sahabat beliau yang menyertainya gugur syahid di jalan kebenaran berdasarkan pemikiran ini. Slogan mereka adalah “Bila kami gugur, berarti kami telah melakukan janji dan kewajiban.” (Muhammad bin Jarir at-Thabari, Tarikh Thabari, Beirut, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1406 Hq, cet 3, jilid 4, hal 381)

Benar, pesan Asyura adalah mengenal kewajiban dan melaksanakannya. Dapat dipastikan bahwa bila semua pengikut kebenaran di sama Imam Husein as mengenal kewajibannya dan melaksanakannya, maka jalan sejarah akan menjadi lain dan nasib Islam dan umat Islam berbeda dengan yang ada.

Dalam sejarah kontemporer, Imam Khomeini ra memulai kebangkitannya melawan rezim taghut dengan dasar melaksanakan kewajiban dan di seluruh tahapan perjuangannya, yang dipikirkan oleh beliau hanya melaksanakan kewajiban. Imam Khomeini ra berkali-kali berkata, “Kita semua diperintah untuk melaksanakan kewajiban dan bukan hasil.” (Imam Khomeini ra, Kalemat Qusar Imam Khomeini, Tehran, Moasseseh Tanzim va Nashr Asar Emam Khomeini , 1373 Hs, hal 50)

Dengan demikian, seorang mukmin harus mengetahui kewajibannya dalam kondisi yang berbeda-beda dan komitmen dengan kewajiban yang berada di pundaknya. Seorang mukmin tidak boleh mengkhawatirkan apa hasil dari perjuangannya.

Meyakini Penghitungan di Hari Kiamat

Imam Husein as berkata:

“Berlakulah seperti seseorang yang akan disiksa karena melakukan dosa dan mendapat pahala karena melakukan perbuatan baik.” (Bihar al-Anwar, jilid 75, hal 127)

Sesuai dengan ucapan Imam Husein as, seorang mukmin saat melakukan perbuatan dosa atau perbuatan baik, semestinya ia telah terlebih dahulu memikirkan siksa dan pahala atau akibat dari perbuatannya itu. Bila seseorang percaya akan penghitungan Hari Kiamat atas apa yang dilakukannya, maka dapat dipastikan bahwa keyakinannya itu akan mencegahnya dari perbuatan dosa. Sebaliknya, akidahnya akan pahala yang menanti atas setiap perbuatan baik, maka itu akan senantiasa mendorongnya untuk berbuat baik dalam kehidupannya.

Keserasian Ucapan dan Perilaku

Imam Husein as berkata:

“Perilaku manusia terhormat harus menjadi bukti dari ucapannya.” (Mirza Husein Nuri Thabarsi, Mustradrak al-Wasail, Qom, Muassasah Al al-Bait as, 1407 Hq, cet 3, jilid 7, hal 193)

Banyak orang ketika berbicara ternyata dalam perilakunya ia tidak komitmen dengan apa yang disampaikannya. Masalah ini bukan hanya menyebabkan orang lain tidak lagi percaya kepadanya, tapi yang lebih penting orang itu akan dimurkai oleh Allah Swt.

Dalam al-Quran disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (QS. as-Shaf: 2-3)

Ciri-Ciri Orang Jujur dan Pengkhianat

Imam Husein as berkata:

“Manusia yang jujur hidup dengan tenang dan tanpa ketakutan, sementara manusia yang berkhianat senantiasa merasa takut.” (Majma’ az-Zawaid, jilid 9, hal 186)

Manusia pengkhianat dalam perbuatannya tidak pernah menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuannya. Hal itu dikarenakan seorang pengkhianat tidak pernah mempercayai orang lain. Bahkan lebih dari itu, ia sendiri takut akan dirinya. Sesuai dengan peribahasa “Seorang pengkhianat adalah penakut”. Orang yang seperti ini senantiasa khawatir pengkhianatannya terbongkar.

Sebaliknya, manusia yang jujur senantiasa berusaha mencari keridhaan Allah dan berjalan di jalan kebenaran. Orang seperti ini selalu merasa tenang dan percaya diri. Karena ia telah melakuan kewajibannya di hadapan Allah. Ia merasa gembira ketika orang lain mengetahui perbuatannya atau saat rahasia perbuatan baiknya diketahui orang lain. Tidak ada rasa takut dan khawatir, karena bila diketahui orang lain maka itu dianggapnya sebagai upaya mendorong orang lain juga melakukan kebaikan.

Tata Krama Berbicara

Imam Husein as berkata kepada Abdullah bin Abbas:

“Wahai Ibnu Abbas! Jangan berbicara yang tidak ada hubungannya denganmu. Karena saya mengkhawatirkan dampaknya yang berat kepadamu. Begitu juga dengan ucapan yang ada hubungannya denganmu. Jangan katakan itu selain di tempat yang sesuai. Karena betapa banyak orang yang mengatakan kebenaran tidak pada tempatnya dan akhirnya membuatnya malu. Jangan berdebat dengan orang yang sabar dan sombong. Karena orang yang sabar akan menjauhimu dan orang sombong akan merendahkanmu. Jangan membicarakan orang yang tidak ada di tempat, kecuali omongan yang engkau dapat menerimanya ketika orang itu membicarakannya di belakangmu. Berlakulah seperti seorang hamba yang mengerti bahwa bila ia berbuat dosa maka akan mendapat azab dan bila berbuat baik maka akan mendapat pahala.” (Abu al-Fath, Muhammad bin Ali Karajiki, Kanz al-Fawaid, Qom, Entesharat Mostafavi, 1369 Hs, hal 194)

Esensi Jujur dan Bohong

Imam Husein as berkata:

“Jujur adalah kemuliaan dan bohong merupakan kelemahan.” (Ya’qubi, Tarikh Ya’qubi, Qom, Nashre Farhang Ahle Bait as, 1412 Hq, jilid 2, hal 246)

Bohong merupakan sifat yang sangat buruk dan tidak dapat diterima oleh manusia. Bohong biasanya dilakukan oleh sebagian orang untuk menutupi kerugian atau kekurangan dirinya. Sebagian lagi berusaha berbohong agar terlihat dapat memenangkan pelbagai masalah kehidupan yang dihadapinya. Mereka beranggapan dengan berbohong dapat menyelesaikan pelbagai masalah yang dihadapi sehari-sehari.

Bila dicermati lebih lanjut, betapa orang-orang yang berbohong sedemikian lemahnya, sehingga untuk mempertahankan posisinya, meraih posisi dan kekayaan dunia harus berpegangan dengan tali yang sedemikian lemah dan akan membongkar aibnya sendiri seperti bohong ini. Belum lagi kebohongan senantiasa disertai dengan kemurkaan Allah.

Sebaliknya, manusia mukmin yang berkeyakinan bahwa dalam kondisi paling sulit dari kehidupannya, ia tidak akan berbohong, pada hakikatnya ia memiliki keyakinan yang kuat bahwa bersikap jujur akan membuatnya mulia, agung dan mendapatkan keridhaan ilahi.

Jauhi Banyak Bersumpah!

Imam Husein as berkata:

“Jauhi perbuatan banyak bersumpah. Karena ketika seseorang bersumpah, maka itu berasal dari empat hal; dari kehinaan yang ada pada dirinya dan untuk keluar dari kehinaan itu dan mendapat kepercayaan dari masyarakat ia kemudian bersumpah, dari kelemahan dalam logika dan sumpah yang diucapkannya untuk menutupi kekosongan dan menyambung ucapannya yang tidak ada hubungannya satu dengan lainnya, dari kecurigaan masyarakat terhadapnya dan ia tahu bahwa ucapannya hanya akan diterima oleh mereka bila ditambahi sumpah atau dari sikapnya sendiri yang berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu.” (Farhang-e Jame Sokhanan-e Emam Hossein as, Tarjomeh Ali Moayyedi, Qom, Entesharat-e Marouf, 1378, cet 2, hal 816)

Ketercelaan Ghibah

Imam Husein as berkata:

“Cegah lisan dari ghibah. Karena ghibah menjadi santapan anjing-anjing neraka.” (A’yan as-Syiah, jilid 1, hal 620)

Ghibah merupakan perilaku buruk sosial yang paling berbahaya, tapi paling tersebar di tengah masyarakat. Akibat dari perbuatan buruk ini adalah menistakan pribadi orang lain, membuka rahasianya, menyebarkan kebejatan dan yang paling buruk adalah merusak sendi-sendi kepercayaan dalam kehidupan sosial.

Tak syak setiap orang memiliki kelemahan dan bila kelemahan ini diungkap, maka orang-orang tidak akan mempercayainya lagi dan pada gilirannya masyarakat akan menyaksikan kefasadan yang luar biasa banyaknya. Oleh karena itu, budaya Islam Islam melarang umatnya melakukan ghibah dengan menggunakan pentakbiran yang beragam guna mengingatkan keburukan perilaku ini.

Al-Quran dalam surat al-Hujurat ayat 12 menyebutkan, “… Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

Tanda Berakhlak

Imam Husein as berkata:

“Seseorang yang berakhlak ketika keluar dari rumahnya, maka setiap orang yang dilihatnya dianggap lebih baik dari dirinya.” (Diwan al-Imam al-Husein as, hal 99)

Menjaga tata krama dalam hubungan sosial antarmanusia dapat dilakukan dengan memperkokoh hubungan, meningkatkan rasa kedekatan dan penghormatan antar sesama. Salah satu tanda seorang berakhlak yang disinggung dalam ucapan Imam Husein as ini adalah, senantiasa manusia menganggap orang lain itu lebih baik dan lebih tinggi darinya.

Sikap menganggap orang lain lebih baik akan membuat seseorang lebih serius melakukan introspeksi ke dalam dirinya. Ia menjadi lebih sadar dan awas melihat kelemahannya dan pada saat yang sama tidak menyibukkan dirinya dengan kekurangan orang lain.

Dengan demikian, dalam kehidupan bermasyarakat cukup dengan memahami satu hakikat ini bahwa orang lain lebih baik dari diri kita, maka banyak masalah sosial yang dapat terselesaikan. Cara berpikir yang seperti ini membuat manusia lebih rendah hati dan terbuka menerima orang lain. Hal ini akan menciptakan hubungan sosial yang lebih sehat.

Ketercelaan Tipu Muslihat

Imam Husein as berkata:

“Menurut kami Ahlul Bait Nabi Saw, tipu muslihat merupakan dosa.” (Mohammad Baqir Bahbahani, ad-Dam’ah as-Sakibah, Beirut, Muassasah al-‘Ala, 1409 HQ, cet 1, hal 27)

Prinsip dalam pemikiran Ahlul Bait as adalah kejujuran. Dalam prinsip pemikiran ini manusia dipesan agar senantiasa berlaku jujur dalam kehidupannya. Mereka harus menjadikan kejujuran sebagai pedoman hidup, bahkan dalam kondisi yang sulit, mereka tidak boleh memisahkan diri dari prinsip kejujuran.

Masyarakat yang bersikap jujur dan tidak ada tipu muslihat antara satu dengan yang lainnya berarti mereka telah melangkah menuju kemajuan. Karena tipu muslihat akan menghancurkan akhlak, ekonomi, budaya, politik dan sosial sebuah bangsa. Itulah mengapa Imam Husein as menyikapi keras sifat buruk ini dan menyebutnya sebagai perbuatan dosa.

Ketercelaan Beragama Hanya Secara Lahiriah

Imam Husein as berkata:

“Manusia merupakan hamba dunia. Selama kepentingannya terjamin, mereka akan mengaku sebagai orang beragama dalam lisan dan slogan. Tapi ketika mereka diuji dengan masalah dan cobaan, sikap keberagamaan mereka menjadi berkurang.” (Bihar al-Anwar, jilid 75, hal 116)

Masalah dan cobaan merupakan bentuk ujian keikhlasan manusia dalam menjalani kehidupan dan keyakinan yang dipegangnya. Ujian ini akan membentuk manusia yang lebih bersih dan suci dari niat yang tidak benar dan motifasi yang tidak ilahi. Sebagian orang yang memiliki iman lemah dan tidak murni akan meninggalkan ajaran agama hanya dengan masalah kecil yang dihadapi atau cobaan yang menimpanya dalam kehidupannya. Mereka akan menjauh dari jalur kebenaran.

Orang-orang yang seperti ini merupakan hamba dunia. Selama kepentingan duniawinya dapat dijamin oleh agama, maka mereka juga ikut mendukung agama. Tapi bila suatu hari terjadi, dimana cobaan dan musibah yang menimpanya justru membahayakan kepentingan duniawinya, maka ia segera memalingkan wajahnya dari agama. Artinya, pada kondisi yang demikian kita dapat menyaksikan betapa sedikit orang-orang yang mengaku berjalan pada kebenaran yang hakiki.

Orang Mukmin dan Cobaan

Sejumlah sahabat Imam Husein as bertanya kepada beliau tentang sebab bencana, cobaan dan masalah yang menimpa pengikut Syiah.

Imam Husein as menjawab:

“Demi Allah! Bencana, kemiskinan, kefakiran dan pembunuhan dengan cepat menimpa para pecinta kami seperti larinya kuda di tempat perlombaan, atau pergerakan cepat banjir ke dataran rendah.” (Mustadrak al-Wasail, jilid 2, hal 431)

Salah satu falsafah penting adanya cobaan, bencana dan masalah yang menimpa manusia adalah ujian bagi manusia demi meraih keikhlasan, mensucikan niat yang tidak benar dan motivasi yang tidak ilahi. Secara umum, bencana dan masalah yang menimpa manusia itu pada dasarnya merupakan anugerah Allah Swt kepada para hamba-Nya. Sikap manusia menanggung bencana itu menunjukkan cinta dan keimanan mereka kepada Allah.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa manusia yang dekat kepada Allah adalah orang-orang yang lebih banyak mendapat cobaan dan bencana. Sementara bagi sebagian orang yang memiliki kapasitas kurang dari mereka, maka cobaan dan bencana menjadi perusak keimanan mereka. Cobaan itu dapat mengeluarkan mereka dari jalan kebenaran. Mereka ini adalah orang-orang yang motivasi keberagamaan mereka lebih kepada dunia dan bersifat materi.

Sementara orang-orang yang beriman mendapatkan keimanannya lewat pengetahuan dan pengenalan yang benar. Bukan saja keimanan mereka tidak goyah dengan datangnya cobaan dan bencana, tapi juga menjadi sarana untuk membersihkan ruh dan jiwa mereka sekaligus mensucikan amalnya. Karena menurut mereka, cobaan itu sendiri merupakan anugerah ilahi.

Dalam banyak hadis disebutkan bahwa cobaan dan bencana yang seperti ini pada intinya untuk mengangkat derajat manusia di sisi Allah dan tingkat bencana itu sendiri menimpa seseorang akan sesuai dengan kekuatan atau kelemahan imannya.

Sabar Menghadapi Kesulitan

Imam Husein as berkata:

“Ketahuilah bahwa Allah Swt memberikan derajat yang tinggi kepada manusia yang menanggung banyak kesulitan dalam kehidupannya.” (al-Irsyad, hal 231)

Banyak manusia yang menginginkan dapat mencapai derajat spiritual yang tinggi. Mereka harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pelbagai masalah dan kesulitan. Karena di balik kesulitan dan cobaan yang ada di dunia ini dapat menyingkap hakikat batin setiap manusia.

Ketika menghadapi masalah dan kesulitan, pada waktu itulah orang-orang mukmin hakiki dapat diketahui dan terpisah dari orang-orang yang mengakui beragama Islam. Tapi faedah kesulitan tidak hanya sampai di situ. Karena kesulitan yang dihadapi setiap orang akan menentukan derajatnya di sisi Allah dan berdasarkan derajat itulah mereka meraih tempatnya di surga.

Menjauhi Pakaian Ketenaran

Imam Husein as berkata:

“Barangsiapa memakai pakaian ketenaran, di Hari Kiamat Allah Swt akan berpaling darinya.” (Farhang Sokhanan Imam Husein as, hal 207, hadis, 119)

Pakaian merupakan satu dari kebutuhan alami manusia, dimana penting untuk menutupi badan dan juga menunjukkan kedudukan sosial seseorang di tengah masyarakat. Dengan demikian, manusia harus memakai pakaian sesuai dengan kedudukan sosialnya.

Sebagian orang tidak memandang penting masalah moral dan sosial terkait berpakaian. Mereka bahkan memakai pakaian yang kontradiksi dengan identitas sosialnya. Satu dari pakaian ini adalah pakaian ketenaran.

Pakaian ketenaran merupakan pakaian yang tidak biasa dipakai di tengah masyarakat. Bila seseorang memakai pakaian ketenaran, pasti orang itu menjadi bahan pembicaraan, digibah, dituduh atau dicemooh orang lain. Orang yang memakai pakaian ketenaran biasanya dituduh orang yang sok dan ingin pamer.

Untuk itulah Imam Husein as menyebut orang yang memakai pakaian ketenaran tidak akan mendapat rahmat Allah di Hari Kiamat.

Syiah Hakiki

Ada seorang yang menemui Imam Husein as dan berkata, “Saya termasuk Syiah Anda.”

Imam Husein as menjawab, “Takutlah kepada Allah dan jangan mengklaim hal yang demikian! Karena Allah Swt akan berkata kepadamu, ‘Engkau bohong’ dan itu berarti engkau telah berbuat dosa atas pengakuanmu. Sesungguhnya Syiah kami adalah orang yang hatinya suci dari segala bentuk dosa, kotoran dan pengkhianatan. Oleh karenanya engkau semestinya mengatakan bahwa engkau termasuk pencinta kami.” (Sayid Hasyim Bahraini, Tafsir al-Burhan, Qom, Moasseh Mathbu’at Esmailiyan, 1403 HQ, jilid 4, hal 22)

Imam Husein as dalam perkataannya menyebutkan ciri khas orang Syiah agar siapa saja dapat membedakan mana Syiah yang hakiki dan mana yang bukan. Beliau menyebut parameter paling penting Syiah adalah kesucian hati dan bersih dari segala kotoran dan pengkhianatan. Karena bila manusia memiliki hati yang bersih dan jauh dari segala kekotoran, maka kesucian ini akan mempengaruhi lahiriahnya dan akhirnya membentukyna menjadi manusia yang baik. Sementara orang yang tidak memiliki kesucian hati ini, sekalipun ia mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait as, ia tidak tergolong Syiah hakiki.

Cinta Ahlul Bait
Imam Husein as berkata:

“Barangsiapa yang mencintai kami berarti ia termasuk dari kami, Ahlul Bait.” (Nuzhah an-Nazhir wa Tanbih al-Khathir, hal 40)

“Cintailah kami Ahlul Bait. Karena siapa saja yang akan menghadap Allah dan dalam keadaan mencintai kami, maka ia termasuk orang yang mendapat syafaat kami.” (Ihqaq al-Haq, jilid 11, hal 591)

Mencintai tidak sekadar ingin. Terkadang manusia mencintai orang lain karena ada kepentingannya. Tapi ada manusia yang mencintai orang lain dikarenakan dirinya memang benar-benar mencintai, maka dalam kondisi ini ia siap mengorbankan dirinya. Ini model cinta kepada Ahlul Bait yang berujung pada wilayah dan ketaatan. Pada tahapan ini, ketaatan yang dilakukannya membuatnya bersambung dengan Ahlul Bait. Al-Quran menukil dari ucapan Nabi Ibrahim as dan mengisyaratkan hakikat ini, “Barangsiapa yang mengikutiku berarti ia berasal dariku.” (QS. Ibrahim: 36)

Cinta dengan makna seperti ini memiliki pengaruh yang luas dan syafaat merupakan salah satunya. Dengan demikian, untuk meraih syafaat Ahlul Bait as di Hari Kiamat, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk lebih mengetahui dan mencintai mereka dengan sebenar-benarnya.

Memperhatikan ajaran Ahlul Bait
Imam Husein as berkata:

“Barangsiapa mendatangi kami, ia tidak akan kehilangan empat sifat; memiliki argumentasi kuat, menghakimi dengan adil, pertemanan yang menguntungkan dan duduk bersama para ilmuwan.” (Kasyful Ghummah fi Ma’rifah al-Aimmah, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1401 HQ, cet 3, jilid 2, hal 32)

Ahlul Bait merupakan teman terbaik manusia. Karena mereka adalah manusia pilihan Allah. Memperhatikan perilaku mereka dan mengikuti ucapan dan perbuatan mereka akan membuat sifat-sifat utama semakin banyak dalam kehidupan dan akhlak individu dan sosial.

Persahabatan dan permusuhan dengan Ahlul Bait
Imam Husein as berkata:

“Barangsiapa yang bersahabat dengan kami berarti telah bersahabat dengan Rasulullah dan barangsiapa yang bermusuhan dengan kami berarti telah bermusuhan dengan Nabi Muhammad Saw.” (Ihqaq al-Haq, jilid 11, hal 592)

Di masa hidupnya, Nabi Muhammad Saw berkali-kali menghimbau umat Islam untuk bersahabat dengan Ahlul Bait dan mengikuti mereka. Allah Swt dalam al-Quran menyebutkan cinta kepada Ahlul Baiat sebagai pahala dari risalahnya. (QS. as-Syura: 23) Semua penekanan ini dimaksudkan agar umat Islam senantiasa berada dalam lindungan cahaya hidayah keluarganya dan bergerak menuju kesempurnaan. Dengan demikian, mencintai Ahlul Bait as berarti mencintai Nabi Saw dan memusuhi mereka adalah memusuhi Nabi Saw.

Cinta murni kepada Ahlul Bait
Suatu hari ada sekelompok warga Madinah menemui Imam Husein as. Mereka mengatakan, “Sebagian teman kami pergi menemui Muawiyah, tapi kami mendatangimu dikarenakan agama kami.”

Imam Husein as berdiam sejenak lalu berkata, “Barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait dan cintanya kepada kami tidak berdasarkan kekeluargaan atau karena kami telah berbuat baik kepdanya, tapi dikarenakan Allah dan Nabi-Nya, maka di Hari Kiamat ia akan dibangkitkan di padang Mahsyar bersama kami seperti dua jari ini yang berada bersisian.” Setelah itu Imam Husein as menjejerkan dua ibu jarinya. (A’lam ad-Din, hal 46)

Ali Parameter Kebenaran dan Kebatilan

Imam Husein as berkata:

“Di masa Rasulullah Saw, mengetahui orang munafik dengan melihat permusuhan dan kebencian mereka kepada Ali as dan keturunannya.” (Syeikh Shaduq, Uyun al-Akhbar ar-Ridha as, Beirut, Muassasah al-‘Alami, 1408 HQ, cet 3, jilid 2, hal 72, hadis 305)

Untuk mengenal kebaikan dan keburukan memerlukan paramater yang jelas, sehingga manusia dapat menilai dirinya sendiri. Atas dasar ini, Allah Swt menciptakan manusia-manusia sempurna dan maksum sebagai tolok ukur bagi manusia yang lain untuk mengenal keutamaan dan keburukan. Itulah mengapa Rasulullah Saw berkali-kali menyebut Imam Ali as sebagai parameter untuk mengenal kebenaran dan kebatilan. Dalam ucapan Imam Husein as ini juga disinggung mengenai parameter ini.

Imam Ali as merupakan sumber seluruh kebaikan dan keutamaan. Sementara orang-orang Mukmin senantiasa memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan keutamaan. Di sini tanpa disadari hatinya memiliki kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Sebaliknya, orang-orang Munafik senantiasa memusuhi dan membenci Imam Ali as dan keluarganya.

http://www.icc-jakarta.com/tanda-manusia-berakal/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s