Galeri

Pelajar Indonesia di Hadhramaut Gagas Rekonsiliasi Sunni-Syi’ah

Tarim, NU Online

no-sunni-syiahMelalui Departemen Pendidikan dan Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut, Yaman, menggagas rekonsiliasi antara madzhab-madzhab di dunia Islam, terutama antara Sunni dan Syi’ah.

Jum’at (11/4/2014) kemarin di aula Daarul Ghuroba ini, PPI di Hadramaut menggelar acara diskusi khusus mengenai kemungkinan terjadinya rekonsiliasi ini. Acara yang dihadiri sejumlah mahasiswa Al-Ahgaff dan Darul Guroba’ ini dibuka pada pukul 21.15 waktu setmpat.

Pertikaian antara Sunni dan Syiah, bukanlah masalah baru karena sejak abad ke-3 dan 4 sudah bergejolak, papar Nor Cholis dalam awal presentasi. Perbuatan naif antar kelompok madzhab yang tidak pantas telah merambah ke berbagai lini kehidupan hingga yang berdampak pada kekacauan umat Islam itu sendiri.

“Inilah kerapuhan persatuan umat yang saya kira tidak pantas,” kata pengurus cabang istimewa NU (PCINU) Yaman ini.

Perdebatan, dialog bahkan konferensi internasional antara ulama Sunni-Syiah yang sudah kerap digalakkan ini, tetap saja efeknya belum bisa dirasakan. Mengutip perkataan Al-Habib Abu Bakar Al-Adeni, bahwa dalam menyatukan antara kedua sekte Islam ini bukanlah dengan beradu argumen, melainkan mencari benang merah kesamaan antara mereka.

“Memaksa kehendak antara dua sekte yang mempunyai pemahaman berbeda adalah hal yang sulit, kecuali mengumpulkannya mereka pada titik persamaan, tutur,” Dzul Fahmi, moderator memandu acara.

Panelis lain, Imam Nawawi mengatakan, berbagai pihak perlu melakukan percepatan untuk meminimalisir keretakan diantara Sunni dan Syi’ah.

“Dari berbagai hasil konferensi, diskusi dan perdebatan efek nyata yang kita alami tak begitu signifikan. Diskusi tersebut telah merumuskan beberapa konsep. Setidaknya keluar dari diskusi membawa hasil, diantaranya pemahaman yang berbeda bisa dibicarakan dalam diskusi ilmiah bukan dengan perbuatan arogansi.”

Ia menyampaikan, salah satu kunci rekonsiliasi adalah ada pada tokoh masyarakat di daerah masing-masing basis Sunni atau Syiah.

“Pergantian baju alias memaksa kehendak untuk saling mengikuti antara ajaran kedua sekte sangat sulit karena mereka punya akidah dan kita punya akidah dan titik tekan,” tambahnya.

Ia merekomendasikan, harmonisasi antara Sunni dan Syiah bisa dijalin pada ranah muamalah atau interaksi sosial. Selain itu, berbagai ide rekonsiliasi bisa disampaikan dalam berbagai silabus pendidikan. (Abdul Muhith/Anam)

Catatan : “Walau bicaranya fasih dan sorbannya tingggi menjulang apabila kerjanya menyebarkan kebencian dan permusuhan antar sesama kaum muslimin sehingga mendorong terjadinya anarkhisme di tingkat akar rumput disadari atau tidak maka sejatinya mereka adalah kaki tangan musuh-musuh Islam”.

http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,51429-lang,id-c,internasional-t,Pelajar+Indonesia+di+Hadhramaut+Gagas+Rekonsiliasi+Sunni+Syi’ah-.phpx?fb_comment_id=fbc_672526506144464_5488334_672712626125852

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s