Galeri

Ekstremis Takfiri Serang Umat Katolik Yogya

Bo19sB2IgAAwgb1
Kelompok Ekstrim Takfiri seakan tak pernah kehabisan cara untuk melakukan teror dan penyerangan kepada kelompok di luar mereka. Kali ini korbannya adalah Jemaat Doa Rosario di Sleman, Yogyakarta.Takfirisme telah mengancam negeri ini takfirisme bukan saja musuh agama dan bangsa tetapi adalah musuh kemanusiaan.

Sekelompok orang berjubah, berwajah seram mengobak-abrik rumah warga Perum YKPN Tanjungsari, Sukoharjo Ngaglik Sleman, Kamis (29/5) malam.

Saat kejadian, di rumah tersebut sedang berlangsung acara doa rutin Rosario kelompok umat Kristiani Santo Fransicus Agung Gereja Banteng.

Pemilik rumah yang datang pasca penyerangan pertama, Julius Felicianus (52) turut menjadi korban penganiayaan hingga terluka di bagian kepala dan lebam di sekujur tubuh, sementara enam jemaat lainnya mengalami luka ringan.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Kombes.Pol. Agus Rianto di Mabes Polri, hasil investigasi sementara, pelaku penyerangan disuruh seseorang tokoh agama atau Ustadz di tempat tersebut atas nama Ja’far Umar Thalib. Walaupun pelaku menyebut bahwa seseorang telah memerintahkan (tindakan pengrusakan dan penganiayaan), tapi itu perlu pembuktian.

Selain pemilik rumah dan jemaat, camera seorang jurnalis Kompas TV, Michael Irawan, dirampas dan ikut dianiaya hingga menderita lebam di sekujur wajah.

Menurut keterangan Julius Felicianus yang Direktur Galang Press Yogyakarta, saat kejadian pukul 20.10 WIB, dirinya masih berada di kantor.

“Saya di SMS anak saya, rumah diserbu orang-orang berjubah. Anak saya dikejar-kejar tapi selamat karena mengenali dua orang di antara mereka yang juga tetangga kami,” katanya.

Mendapat SMS itu, Julius yang sedang menggelar acara ‘Doa dan Zikir untuk Pemimpin Baru’ di Galang Press, segera pulang dengan ditemani anggota Polda DIY.

Sesampainya di rumah, kondisi rumah sudah berantakan, warga kompleks ketakutan dan mengurung diri di dalam rumah, sementara jemaat sudah ke rumah sakit.

“Saya turun dari mobil langsung ditanya dan diserbu. Untung ada kawan saya dari Polda DIY yang saya ajak. Kalau tidak saya tidak tahu. Mungkin saya sudah mati, karena sekitar 8 orang bersenjata tajam mengeroyok saya,” katanya.

Sedang menurut Michael Irawan, dirinya datang ke lokasi, pasca penyerangan pertama.

“Kondisi sudah berantakan. Motor bergelimpangan juga dirusak, pot-pot remuk. Saat Pak Julius turun dari mobil, orang-orang berjubah itu menyerang, saya sempat mengambil gambar. Tapi ada yang tahu dan balik menyerang saya sambil merampas camera,” katanya.

Michael yang mengaku tinggal tidak jauh dari lokasi menuturkan, penyerang rata-rata masih muda dengan tampang seram. Semua berpenampilan serupa yakni bercelana ‘CINGKRANG’ dan bergamis.

“Mereka mengaku anak buah ustad Jafar Umar Thalib mantan komandan pasukan Jihat dan mengancam jika kegiatan serupa (sembahyangan) masih dilangsungkan, mereka akan melakukan aksi serupa,” ucap Michael.

Tidak terima dengan tindakan tersebut, pagi ini, Jumat (30/5) Michael Irawan didampingi Pemred Kompas TV Yogi Arief dan Kabiro Kompas TV DIY-Jateng Daeng Tanto, melaporkan kejadian penganiyaan tersebut ke Polda DIY.

Sementara, jurnalis Yogya juga akan menggelar aksi keprihatinan Jumat siang ke kantor DPRD DIY.

Pasca kejadian, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas didampingi GBPH Prabukusumo dan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu mendatangi tempat kejadian perkara.

GKR Hemas mengungkapkan Julius Felicianus adalah tim suksesnya saat pemilihan anggota DPD lalu dan ingin memberikan dukungan secara moral.

Namun GKR Hemas juga meminta aparat Kepolisian bertindak cepat, sebab beberapa pelaku sudah diketahui. “Kami minta aparat segera menindak para pelaku. Kan sudah jelas pelakunya, itu saja,” kata GKR Hemas.

Menurutnya, kejadian tersebut sudah mencederai makna Pancasila dan kebebasan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya. Namun Hemas menyatakan bahwa hal itu tidak bisa dikaitkan dengan memanasnya suhu politik saat ini.

“Saya tidak bisa menganalisis itu,” ujarnya. Meski kejadian serupa juga mulai marak di Yogyakarta, Hemas hanya menekankan bahwa aksi itu sudah melanggar Undang-undang. Sehingga seyogyanya aparat punya wewenang menindak.

“Jelas ini melanggar undang-undang, saya minta aparat kerja dan tegas,” ucap Hemas.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu juga mendesak Kepolisian untuk cepat dan reaktif. Tidak usah menunggu laporan dari warga sebab kejadian tersebut bukan delik aduan.

“Kejadian ini murni kriminal, jadi aparat harus bisa melakukan investigasi tanpa harus ada laporan dari korban,” katanya.

http://www.suarapembaruan.com/home/massa-brutal-bubarkan-doa-rosario/56377
_______________________________________________________________________________________
Kronologi Pembubaran Ibadah Agama di Yogya

Kronologi Pembubaran Ibadah Agama di Yogyakarta
Jemaah dilempari batu, dipukuli dengan besi dan pentungan.

Ibadah Doa Rosario yang digelar umat Katolik di rumah Julius Felicianus, Kompleks Perumahan STIE YKPN Sleman DIY, dibubarkan oleh sekelompok orang, Kamis malam 29 Mei 2014. Jemaah yang sedang khusyuk berdoa pun diserang dan dianiaya.

Berikut kronologi kejadian berdasarkan keterangan Polda DIY yang dihimpun dari salah satu jemaah yang menjadi saksi mata, Bapak Nanggelon:

Pukul 19.00 WIB

Berlangsung ibadah umat Katolik di rumah Bapak Julius. Ibadah ini memasuki hari ke-29.

Pukul 20.20 WIB

Sekelompok orang tak dikenal, terdiri dari sekitar delapan orang, datang dan langsung melempar batu. Batu itu mengenai salah satu jemaat. Selanjutnya kelompok orang itu menjatuhkan sepeda motor para jemaat yang diparkir di depan rumah dan merusak rumah Bapak Julius. Mereka juga memukuli jemaat.

Para jemaat berteriak ketakutan dan berlarian ke dalam rumah. Namun kelompok orang tersebut tetap merusak dan memukuli jemaat dengan besi dan barang-barang seperti pot bunga, batu, pentungan.

Salah satu jemaat, anak Bapak Julius, lantas menelepon pemilik rumah (ayahnya, Julius).

Pukul 21.15 WIB

Bapak Julius tiba di rumah. Dia langsung ditanya sekelompok orang yang melakukan perusakan. Bapak Julis dengan tegas menjawab, “Saya pemilik rumah.” Dia kemudian dianiaya oleh kelompok tersebut menggunakan batu, pot bunga, pentungan, besi, dan lain-lain.

Itulah keterangan dari jemaat. Sementara Julius mengatakan kepada polisi bahwa dia mengenali salah satu anggota kelompok yang melakukan perusakan dan penganiayaan di rumahnya itu. “Salah satu pelakunya tetangga saya sendiri. Dia mengontrak tepat di depan rumah saya atas nama AB,” ujarnya.

Menurut Julius, setelah memukuli dia, kelompok tersebut berteriak, “Saya suruhan ustaz JUT.” Selanjutnya mereka pergi meninggalkan rumahnya.

Polda DIY saat ini sedang memburu para pelaku. “Kami sudah mengetahui beberapa orang yang melakukan penganiayaan dan perusakan rumah milik Julius. Polisi sedang mengejar mereka,” kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti.

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/508187-kronologi-pembubaran-ibadah-agama-di-yogya

Iklan

2 responses to “Ekstremis Takfiri Serang Umat Katolik Yogya

  1. Mengapa pelaku penyerangan itu mendadak kesetanan berperilaku merusak seperti setan?

    Tidak mungkin mereka itu penyembah Allah.
    Orang yang menyembah Allah akan berpribadi pengasih karena meniru/meneladani Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

    Mereka yang dirasuk setan pasti para penyembah setan yang tidak suka melihat orang lain hidup damai penuh kasih sayang satu sama lain, sesamanya manusia.

  2. Lesbon Simbolon

    Kita harapkan tdk terjadi lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s