Galeri

K.H. Dr. Mustamin Arsyad (Ketua Umum MUI Makassar): “Saya Mengenal Imam Husein Sebelum Saya Lahir”

Tradisi Intelektual Islam di Iran sangat Mengagumkan

463d7b3d09abf2b8e0be6c2990fc5ccbDalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam. Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Menurut Kantor Berita ABNA, sejumlah ulama Indonesia berkunjung ke kota Qom Republik Islam Iran dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam Iran sebagai pembicara dalam Dialog antar Mazhab yang diselenggarakan selama 3 hari, senin-rabu (22-24/Sept.2014) yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh Islam dari dua mazhab, Sunni dan Syiah. KH. Dr. Mustamin Arsyad, MA, salah seorang pembicara selaku Ketua Umum MUI Makassar saat diwawancarai media setempat menyampaikan rasa bahagianya bisa berkunjung ke Iran dan bersilaturahmi dengan para ulama setempat. Ia turut menegaskan pentingnya silaturahmi yang dalam pandangannya adalah langkah paling strategis dalam mengupayakan terwujudnya persatuan kaum muslimin.

Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Silahkan memperkenalkan diri dan tanggapan anda mengenai kedatangan di Iran ini.

Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya, Mustamin Arsyad, Ketua Umum MUI Makassar, dan pimpinan Tarekat Al-Syadzilia Makassar.

Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan untuk bisa mengunjungi Iran, karena saya sudah lama memendam keinginan untuk bisa kembali mengunjungi Negara ini, khususnya ke kota Qom. Pada tahun 1987 saya pernah ke Iran, hanya saja tidak sempat ke Qom, dan hanya di Tehran saja. Sehingga tidak sempat bersilaturahmi kepada para ulama, maraji termasuk berziarah kemakam-makam Wali Allah yang berada di kota ini. Karenanya dengan adanya kesempatan yang diberikan ini, saya sangat berterimakasih. Dan dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam. Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Apa peran ulama dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan semangat persatuan dan persaudaraan?

Sebelumnya saya perkenalkan, bahwa mayoritas muslim Indonesia adalah pengikut mazhab Imam Syafi’i, bahkan bisa dikatakan hampir 100 persen. Hanya saja banyak yang belum tahu, bahwa Imam Syafi’i itu berasal dari keturunan Imam Husain, yang otomatis termasuk dari keturunan Rasulullah Saw juga. Karena tidak ada yang menyampaikan hal ini, umat Islam di Indonesia sangat fanatik terhadap mazhab ini. Ketika kembali dari Mesir, setelah menimba ilmu 20 tahun lamanya disana, saya diperhadapkan dengan masyarakat yang memperbesar-besarkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam besar di Indonesia. Setelah melakukan banyak pengkajian, saya akhirnya berkesimpulan bahwa setelah Rasulullah Saw, semua aliran Islam yang ada titik puncaknya bermuara dari Imam Ali bin Abi Thalib, khususnya aliran Islam yang bersifat spiritual atau tarekat-tarekat sufi. Jadi semua pada hakekatnya sama saja.

Namun betapa realitas yang kita temukan, pertentangan dan perselisihan terjadi di tengah-tengah kaum muslimin. Untuk konteks di Indonesia, perselisihan yang terjadi adalah antara NU dan Muhammadiyah. Di awal-awal terbentuknya, pengikut kedua ormas ini gampang untuk terprovokasi untuk saling berselisih satu sama lain. Padahal perpecahan tersebut adalah akibat dari konspirasi musuh Islam. Ada seorang Belanda yang bernama Snouck Hurgenje, yang pura-pura masuk Islam dan menyulut pepecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia. Karenanya ulama berperan besar dalam hal ini, untuk mengajak masyarakat mengenal Islam dengan lebih baik sehingga tidak mudah termakan hasutan musuh-musuh Islam.

Menurut anda, apa penyebab terjadinya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh umat Islam?

Menurut saya ada pihak ketiga yang tidak menginginkan Indonesia secara khusus untuk bangkit. Karena Indonesia yang mayoritas muslim jika bangkit bisa membahayakan eksistensi Negara-negara yang tidak senang dengan Islam.

Menurut anda apakah gerakan-gerakan anti Syiah di Indonesia memang semestinya harus ada dan dasarnya apa? Serta bagaimana dengan informasi yang anda dapatkan yang sebenarnya mengenai Syiah?

Saya sudah lama tahu mengenai perjuangan saudara-saudara kami di Iran untuk kejayaan Islam, sehingga ketika ada informasi-informasi yang miring yang bersumber dari manapun mengenai Iran saya secara pribadi tahu bahwa itu sesuatu yang tidak berdasar. Karenanya saya termasuk aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia yang sudah termakan provokasi itu. Dan setelah saya mendapat kehormatan untuk berkunjung ke Negara Iran dan melihat langsung secara dekat, saya pribadi lebih keras lagi akan memahamkan masyarakat Indonesia mengenai hal ini. Karenanya saya berharap, ini tidak berhenti sampai disini. Tapi berkelanjutan sampai pada tingkat kerjasama yang lebih erat. Dan saya yakin, setelah melihat kekuatan Iran dan jika dipadukan dengan Indonesia, maka itu akan membuat gentar Amerika. Insya Allah.

Syiah adalah mazhab yang tetap diakui sebagai bagian dari umat Islam. Di Universitas al Azhar, kami diperkenalkan prinsip tersebut, tidak ada pengajar disana yang menganggap Syiah itu kafir dan bukan Islam, meskipun tetap ada person-person yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Perbedaan memang ada, tapi bukan hal prinsip yang harus dipertentangkan. Saya sudah mengenal Iran dari teman-teman mahasiswa di Al Azhar yang berasal dari Iran. Meskipun Syiah, mereka tetap bisa menimba ilmu dengan tenang di Al Azhar karena memang Al Azhar moderat dalam hal ini. Saya punya teman sekelas asal Indonesia, namanya Muhsin Alatas, sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Dia pengikut Syiah yang fanatik. Bahkan hampir tidak lulus dari Al Azhar karena tetap memberikan jawaban-jawaban ujian dengan keyakinan Syiahnya. Saya kemudian mengatakan kepada dia, “Bukankah kamu bisa bertaqiyah?. Kamu menjawab ujian dengan jawaban yang diinginkan dosen, tidak akan merusak keyakinan Syiahmu.” Diapun kemudian menjalankan saran itu, dan akhirnya lulus ujian. Tapi meskipun berbeda, kami tetap bisa menjalin keakraban dengan baik, karena yang kami kedepankan adalah ukhuwah dan akhlak Islam. Dan itu yang diajarkan di Al Azhar. Baru beberapa tahun belakangan ini, setelah masuk pemahaman Salafi dan Wahabi di Al Azhar sudah ada person-person yang suka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bisa menyulut perpecahan umat.

Karena itu harapan saya kepada masyarakat Indonesia, untuk tidak mudah terpedaya pada isu-isu yang tidak benar. Kebutuhan umat Islam saat ini adalah persatuan. Dan itu yang seharusnya lebih dikedepankan dibandingkan prasangkaan-prasangkaan yang tidak berdasar.

Dalam mazhab Syiah, salah satu alasan kebangkitan Imam Husain As adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Bagaimana dalam pandangan mazhab anda mengenai kebangkitan Imam Husain itu dan seberapa penting penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam ajaran Islam?

Penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, adalah salah satu kewajiban setiap muslim yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Hanya saja dalam menegakkannya ada mekanismenya, ada akhlaknya ketika menyampaikan. Yaitu kita kembali pada prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan metode amar ma’ruf. Misalnya ketika menengok pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125) begitupun pada beberapa ayat yang lain. Di Indonesia secara khusus Islam berkembang secara pesat dan cepat karena dalam mendakwahkan Islam dengan menggunakan prinsip Al-Qur’an ini. Beda dengan kelompok yang menggunakan kekerasan dalam berdakwah, yang sayangnya di Indonesia gerakan seperti itu juga sudah cukup banyak. Mereka malah membalik ayat, yang seharusnya amar ma’ruf lebih dulu dari nahi mungkar, mereka lebih mengutamakan nahi mungkar itu juga dengan cara-cara yang kasar. Mereka tidak segan-segan menggunakan senjata tajam, bahkan ada masjid yang didalamnya digunakan untuk merakit bom. Inilah yang sangat memprihatinkan, jika amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan ajaran luhur dari Islam justru dipraktikkan dengan cara yang salah. Karenanya saya berharap ada kerjasama yang kelak bisa terjalin, terutama dengan yayasan yang saya dirikan dan pimpin di Indonesia khususnya dalam penyediaan literatur-literatur Syiah, sehingga kesalahpahaman akibat informasi-informasi yang tidak tepat bisa diminimalisir.

Berkenaan dengan Imam Husain, saya sudah mengenalnya justru sebelum saya lahir. Karena ayahnya saya, Kiyai Arsyad adalah salah seorang pecinta Ahlulbait, pecinta al Husain dan mempetkenalkannya disaat saya masih dalam kandungan. Beliau seorang penghafal al-Qur’an, dan disaat usia saya 9 tahun, ia mengatakan harapannya kepada saya, untuk bisa menyekolahkan saya ke Mesir, karena di Mesir ada makam Imam Husain. Dan di Mesir saya belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman selama 20 tahun. Dan sekembali dari sana saya mendirikan tarekat al-Syadzilia di Indonesia. Dalam riwayat yang diakui kesahihannya dalam Syiah maupun Ahlusunnah, Imam Husain adalah penghulu pemuda di surga. Dan riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi dalam sabdanya menyebutkan Imam Husain kelak akan meraih syahadah dalam perjuangannya. Ini menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Imam Husain.

Mengenai kebangkitan Imam Husain, ia melakukan hal tersebut dalam rangka melawan kezaliman dan penindasan. Pemerintahan saat itu adalah kekuasaan yang cinta dunia, dan tidak lagi mementingkan kepentingan umat Islam. Karenanya Imam Husain bangkit untuk menyerukan perlawanan terhadap itu. Imam Husain kemudian syahid di Karbala, tanpa pertolongan, karena penduduk setempat saat itu, juga lebih mementingkan kepentingan duniawinya daripada memperjuangkan Islam. Dari kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain itu, umat Islam harus menjadikannya pelajaran dan menarik hikmah, bahwa perjuangan membela Islam harus lebih diutamakan diatas segala-galanya.

Terimakasih atas waktunya.

Sama-sama.

Seorang Ulama muda Hauzah Ilmiah Qom Iran mencium tangan KH. Dr. Mustamin Arsyad [Ketua Umum MUI Makassar] yang dibalas oleh pak Kyai dengan kecupan di kening... Bukankah ini lebih enak lihatnya? Ternyata Ukhuwah Itu Adalah Masalah Hati

Seorang Ulama muda Hauzah Ilmiah Qom Iran mencium tangan KH. Dr. Mustamin Arsyad [Ketua Umum MUI Makassar] yang dibalas oleh pak Kyai dengan kecupan di kening…
Bukankah ini lebih enak lihatnya?
Ternyata Ukhuwah Itu Adalah Masalah Hati

Sumber:http://www.abna.ir/indonesian/service/indonesia/archive/2014/09/26/640369/story.html

Dr. H. Daud Poliraja:
Tuduhan-tuduhan terhadap Iran dan Syiah adalah Dusta Besar

Ketua Umum Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia [MUHSIN], Dr. H. Daud Poliraja dalam penyampaiannya ketika ditemui disela-sela kunjungannya selama berada di Qom, Republik Islam Iran menyebutkan, alasan paling utama yang mendasarinya turut terlibat dalam pembentukan MUHSIN adalah memenuhi seruan Al-Qur’an yang meminta umat Islam untuk menjalin ukhuwah dan persaudaraan Islam. “Itu adalah perintah Al-Qur’an yang tegas. Dan saya mewakafkan diri didalam menjalankan perintah ini.” Ungkapnya.

“Dalam kunjungan ini, saya lihat dengan mata kepala sendiri, apa yang selama ini dituduhkan terhadap Iran dan Syiah adalah dusta besar. Dan karena dusta besar, maka dosanya juga besar.” Tambahnya lagi.

“Sebelum ke Iranpun saya sudah meyakini, bahwa Syiah tetap bagian dari Islam, karena Tuhan, Nabi, kiblat dan kitabnya dengan umat Islam yang lain tetap sama. Karenanya, mengapa saya memilih jalan, untuk mengupayakan persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah ini? Karena memang itu adalah perintan agama. Tidak sedikit yang menentang saya, terutama diawal-awal saya membentuk MUHSIN, tapi mereka tetap tidak punya hujjah kuat untuk menghalangi saya. Saya hanya mengajukan pertanyaan sederhana, niat saya kan mempersatukan ummat, apakah itu saya menentang agama?. Dan karena pada AD/ART Dewan Masjid, organisasi yang juga saya geluti itu memiliki poin tegas yang menyebutkan masjid harus menjadi tempat pemersatu ummat, maka tentu tindakan saya juga tidak bertentangan dengan aturan organisasi. Atau memang Islam ini tidak mengajarkan ukhuwah?”, Jelas tokoh Islam yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Masjid DKI Jakarta tersebut.

Daud Poliraja dalam pernyataannya selanjutnya menolak dakwaan sebagian kelompok yang menyebutkan, Syiah berpura-pura menyerukan persatuan karena mereka saat ini minoritas, namun ketika menjadi mayoritas mereka akan menzalimi pengikut mazhab lain. Ia mengatakan, “Justru yang terjadi sebaliknya, Syiah sepanjang sejarah menjadi kelompok yang terzalimi. Di Iran, Syiah yang menjadi kelompok mayoritas tidak pernah kita mendengar mereka menzalimi kelompok Sunni. Yang ada jutsru Iran menjadi bangsa terdepan yang membela Palestina padahal mayoritas Palestina itu Sunni. Negara-negara di Timur Tengah yang menjadi backing AS justru Negara-negara mayoritas berpenduduk Sunni. Ini bukti yang tidak terbantahkan, tapi kita tidak pernah melihat itu. Kita lebih disibukkan dengan isu-isu perselisihan. Padahal sekiranya, umat Islam ini bersatu, maka insya Allah akan menjadi kekuatan digdaya yang luar biasa.”

Untuk menjawab tudingan Syiah bukan Islam, karenanya tidak diperlukan adanya ajakan ukhuwah untuk mereka, Daud Poliraja mengatakan, “Justru pernyataan Syiah itu sesat dan kafir itulah yang sesat. Syiah diakui kok di dunia Islam. Mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah. Warga Iran yang mayoritas Syiah menamakan Negara mereka Republik Islam Iran, dan tidak ada yang memprotes itu. Karena masih sesama muslim, maka wajib untuk menjalin ukhuwah dengan mereka.”

Ketika ditanyakan, bahwa upaya-upaya kelompok yang gencar mengkampanyekan gerakan anti Syiah justru mengklaim diri sebagai pejuang agama dan penegak syariat, Daud Poliraja menanggapinya dengan mengatakan, “Untuk melihat itu perjuangan atau bukan, lihat apa didalamnya yang ada unsur akhlak atau unsur amarah. Jika yang mendominasi adalah unsur amarah dibanding akhlak, lebih baik mengaji dulu, jangan berjuang dulu. Pejuang itu dilihat dari kegigihannya untuk lebih mengedepankan akhlak dari amarah dalam perjuangannya. Jika yang lebih dikedepankan adalah amarah, emosional dan arogansi, maka dia tidak pantas disebut pejuang agama, harusnya dia mengurusi diri sendiri dulu untuk berjuang menang atas kendali hawa nafsunya. Berjuang untuk agama ini terlalu besar. Untuk berjuang bisa mengalahkan diri sendiri dulu belum bisa, kok mengaku-ngaku sebagai pejuang agama?. Kita bisa banyak belajar dari Sayyidina Ali. Ketika beliau hendak membunuh musuhnya yang sudah tidak berdaya, namun wajahnya diludahi, ia tidak melanjutkan tindakannya. Ia tinggalkan musuh itu, karena khawatir niatnya membunuh bukan karena perjuangannya menegakkan agama, tapi karena amarah. Itu yang disebut pejuang, itu akhlak. Bukan mereka yang meledak-ledakkan kemarahannya dengan mengumpat kelompok lain sesat dan kafir hanya karena berbeda.”

“Saya selalu mengatakan kepada mereka yang selalu mengakui diri sebagai pejuang. Bahwa pejuang Islam itu tidak mengaku, tapi diakui. Rasulullah itu tidak pernah mengakui diri sebagai al-Amin, tapi orang-oranglah yang memberikan sendiri pengakuan akan kejujuran Rasulullah. Berjuang itu bukan merasa tapi dirasa. Nabi Saw tidak pernah merasa diri sebagai al-Hamid, tapi ia dirasakan oleh orang-orang bahwa betapa terpujinya akhlak beliau.” Lanjutnya.

Dipenghujung pembicaraannya ketika diminta menyampaikan pesan untuk rakyat Indonesia, mengenai pentingnya ukhuwah Islamiyah, mantan Panglima Pam Swakarsa tersebut mengatakan, “Sederhana sekali, kalau masyarakat Indonesia betul syahadatnya, maka pasti lebih mengedepankan akhlak dan lebih membutuhkan ukhuwah. Jika ada yang lebih mempersoalkan perbedaan mazhab dari pada ajakan untuk lebih mengedepankan ukhuwah, maka kepada mereka saya nasehatkan, perbanyak istighfar dan perbanyaklah memperdalam ilmu agama.”

Dr. H. Daud Poliraja seMenurut Kantor Berita ABNA, untuk pertama kalinya diselenggarakan Dialog antar Mazhab Sunni dan Syiah yang diprakarsai ulama Indonesia dan Iran yang berlangsung selama dua hari di kota Qom, Iran senin-selasa [22-23/9]. Dialog tersebut dihadiri sejumlah ulama dan cendekiawan Islam antar dua negara yang dimaksudkan untuk mencari dan merumuskan langkah-langkah bersama untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin.

Pembicara dalam dialog yang diadakan di Auditorium Pazyhuhesgah Taqrib Qom tersebut antara lain, dari ulama besar Iran: Ayatullah Taskhiri penasehat ahli Rahbar, Ayatullah Araki pimpinan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islami, Ayatullah Muqtadai dan Ayatullah Fayyadhi. Sementara dari ulama Indonesia adalah KH. Mustamin Arsyad Ketua MUI Makassar, DR. Daud Poliraja ketua MUHSIN, Kyai Mudrik al-Qari Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang, Prof. DR. Aflatun Mukhtar MA Rektor UIN Raden Fatah Palembang dan Prof. Dr. Darwis Hude, MA Direktur Pasca Sarjana PTIQ Jakarta.

Ayatullah Araki pada penyampaiannya dalam dialog terbuka tersebut menyatakan peran penting ulama dalam mewujudkan persatuan antara umat Islam. Beliau berkata, “Dengan memperhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, kita mengetahui bahwa ulama adalah pewaris Anbiyah. Oleh karena itu ulama memiliki peran penting dan pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin. Ulama hari ini, harus lebih giat dan kerja lebih aktif lagi dari ulama-ulama sebelumnya, untuk mewujudkan persatuan itu dalam dunia Islam.”

Dialog ulama antar kedua negara tersebut, diselenggarakan oleh Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab, yang oleh Ayatullah Araki sebagai pimpinan tertinggi lembaga tersebut diharapkan akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.dang berada di Iran [22-29/9] dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam [Majma Jahani Taqrib Mazahib Islami] beserta sejumlah ulama Indonesia lainnya. Pada hari pertama kunjungannya, ia menjadi salah satu pembicara dalam Dialog antar Mazhab di Auditorium Pazyuhesgah Taqrib Qom Republik Islam Iran selasa [22/9] dengan membawakan makalah “Peran Masjid dalam Membangun Ukhuwah Islamiyah”. Turut hadir selaku pembicara dalam acara dialog tersebut, Ayatullah Dr. Muhsin Araki [Ketua Lembaga Pendekatan antar Mazhab], K.H. Dr. Mustamin Arsyad [Ketua Umum MUI Makassar], dan KH. Mudrik Al-Qari [Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang].

Sumber: http://www.abna.ir/indonesian/service/important/archive/2014/09/26/640288/story.html

Iran:
Dialog antar Mazhab Ulama Indonesia dan Iran Terselenggara di Qom

“Dengan memperhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, kita mengetahui bahwa ulama adalah pewaris Anbiyah. Oleh karena itu ulama memiliki peran penting dan pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin. Ulama hari ini, harus lebih giat dan kerja lebih aktif lagi dari ulama-ulama sebelumnya, untuk mewujudkan persatuan itu dalam dunia Islam.”

“Dengan memperhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, kita mengetahui bahwa ulama adalah pewaris Anbiyah. Oleh karena itu ulama memiliki peran penting dan pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin. Ulama hari ini, harus lebih giat dan kerja lebih aktif lagi dari ulama-ulama sebelumnya, untuk mewujudkan persatuan itu dalam dunia Islam.”

Menurut Kantor Berita ABNA, untuk pertama kalinya diselenggarakan Dialog antar Mazhab Sunni dan Syiah yang diprakarsai ulama Indonesia dan Iran yang berlangsung selama dua hari di kota Qom, Iran senin-selasa [22-23/9]. Dialog tersebut dihadiri sejumlah ulama dan cendekiawan Islam antar dua negara yang dimaksudkan untuk mencari dan merumuskan langkah-langkah bersama untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin.

Pembicara dalam dialog yang diadakan di Auditorium Pazyhuhesgah Taqrib Qom tersebut antara lain, dari ulama besar Iran: Ayatullah Taskhiri penasehat ahli Rahbar, Ayatullah Araki pimpinan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islami, Ayatullah Muqtadai dan Ayatullah Fayyadhi. Sementara dari ulama Indonesia adalah KH. Mustamin Arsyad Ketua MUI Makassar, DR. Daud Poliraja ketua MUHSIN, Kyai Mudrik al-Qari Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang, Prof. DR. Aflatun Mukhtar MA Rektor UIN Raden Fatah Palembang dan Prof. Dr. Darwis Hude, MA Direktur Pasca Sarjana PTIQ Jakarta.

Ayatullah Araki pada penyampaiannya dalam dialog terbuka tersebut menyatakan peran penting ulama dalam mewujudkan persatuan antara umat Islam. Beliau berkata, “Dengan memperhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, kita mengetahui bahwa ulama adalah pewaris Anbiyah. Oleh karena itu ulama memiliki peran penting dan pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin. Ulama hari ini, harus lebih giat dan kerja lebih aktif lagi dari ulama-ulama sebelumnya, untuk mewujudkan persatuan itu dalam dunia Islam.”

Dialog ulama antar kedua negara tersebut, diselenggarakan oleh Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab, yang oleh Ayatullah Araki sebagai pimpinan tertinggi lembaga tersebut diharapkan akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

http://www.abna.ir/indonesian/service/iran/archive/2014/09/23/639556/story.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s