Galeri

Akhir yang Buruk

Oleh: Abdillah Toha

abdillah tohaSebagai muslim, sejak kecil kami diajarkan berbagai doa. Salah satunya adalah doa husnul khotimah. Secara tradisional, doa ini diajarkan sebagai permohonan kepada Tuhan agar di akhir hayat nanti kami mati dalam keadaan beriman. Agar kita terhindar dari su’ul khotimah. Yakni mati dalam keadaan tidak beriman.

Belakangan saya baru tahu bahwa doa husnul khotimah mempunyai arti yang lebih luas. Memohon kepada Tuhan agar dalam perjalanan usia kita, penghidupan dan kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih tenteram, dan lebih bahagia. Agar makin tambah usia, makin menjadi orang yang lebih baik, lebih berguna, lebih bermoral, dan lebih sempurna sampai saat kita tutup usia. Bukan sebaliknya, ketika muda senang dan sukses, kemudian berubah menjadi kalut dan bermasalah dalam usia tua. Saat muda usia dielu-elukan oleh masyarakat karena idealisme, kiprah politik dan sosial. Ketika usia lanjut justru dikecam oleh masyarakat karena korupsi, melanggar susila, atau tindak amoral lainnya.

Manusia memang bisa berubah. Karakter, lingkungan, istri, suami, kawan dan relasi bisnis, kondisi ekonomi, semuanya bisa mengubah manusia dari baik menjadi buruk atau sebaliknya. Orang tua saya mengajarkan agar tidak memberi nama anak kami dari nama tokoh yang masih hidup. Tunggu sampai dia wafat dan pastikan ketokohan dan keteladannya tidak berubah sampai dia meninggal.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah presiden RI yang pertama kali dipilih langsung oleh rakyat. Dua periode memerintah, prestasinya cukup baik walau masih banyak kekurangan di sana-sini. Yang utama adalah keberhasilannya menjaga kemanan, kestabilan politik, dan makin matangnya praktik demokrasi di Indonesia. Terakhir adalah pemilihan umum legislatif dan presiden yang berjalan damai dan lancar sehingga mendapat pujian luas dikalangan pengamat internasional.

Apa lacur, diujung masa baktinya yang tinggal beberapa minggu lagi, SBY telah membiarkan DPR merenggut hak rakyat untuk memilih langsung pemimpinnya. Sayang sekali SBY telah gagal menggunakan wewenangnya, baik sebagai presiden atau sebagai ketua umum partai terbesar di DPR untuk menghalangi niat buruk sebagian elit politik yang mengendalika anggota DPR. Akhir yang buruk telah menimpa riwayat karirnya. Bila perjuangan di Mahkamah Konstitusi nantinya gagal, SBY di akhir masa jabatannya akan diingat sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kemunduran demokrasi rakyat di negeri ini.

16 tahun yang lalu, pada usianya yang ke 54, Amien Rais, doktor dalam bidang ilmu politik lulusan Amerika, adalah tokoh yang dielu-elukan dan dikagumi rakyat karena karakternya yang dinamis, cerdas, dan berani. Perannya sangat besar dalam menjatuhkan kekuasaan otoriter orde baru yang mencengkram negeri ini selama 32 tahun. Amien sempat digadang sebagai presiden pertama setelah Soeharto jatuh.

Sebagai ketua MPR, dia pulalah salah satu pemeran utama amandemen UUD 1945 yang berhasil mengembalikan kedaulatan politik ke tangan rakyat. Julukan tokoh reformasi melekat pada dirinya. Apa lacur, pada usianya yang ke 70, kini Amien bersama PAN yang didirikannya telah menjadi salah satu sponsor utama perenggut kedaulatan itu dari tangan rakyat. Dia telah ikut merusak sendiri salah satu tujuan utama reformasi yang diperjuangkannya. Sayang sekali, semua ini dilakukannya demi mencapai tujuan politik pragmatis jangka pendek bersama mereka yang kecewa atas kekalahan pada pilpres yang lalu.

Akbar Tanjung, seorang politisi senior berpengalaman, sejauh ini memberi kesan berkarakter, rasional, santun, demokrat, dan berfatsun. Dia berperan besar dalam menyelamatkan Golkar dari “amukan” reformasi dan berhasil membawa partainya beradaptasi dengan sistem yang baru. Tanpa Akbar barangkali kita hanya bisa membaca tentang golkar di buku sejarah. Perannya sebagai ketua DPR pertama pasca reformasi juga sangat menentukan jalannya reformasi.

Akbar juga beberapa kali digadang sebagai calon presiden atau wapres. Apa lacur, dalam usia politiknya yang sudah lanjut dia bergabung dengan kekuatan yang ingin memutar kembali sejarah dan mengembalikan kehidupan politik masa lalu. Diberitakan bahwa dialah yang menggagas keputusan Prabowo-Hatta menarik diri dari kontes pilpres sebelum KPU mengumumkan hasil resmi. Akbar juga tampak bersemangat dalam upaya membatalkan Jokowi-JK sebagai presiden terpilih melalui MK. Tidak jelas apakah semua ini karena kekecewaannya gagal “terpilih” sebagai cawapres atau sebab-sebab lain.

Sebagian besar wakil-wakil rakyat kita yang duduk di DPR memang sering menuai kecaman publik karena korupsi, politik uang, malas, sering absen, dan tidak kompeten. Namun, “prestasi” tertinggi DPR periode 2014-2019 di ujung masa baktinya yang segera berkahir dalam beberapa hari lagi adalah ketika mereka memutuskan untuk merampas hak rakyat di daerah untuk memilih langsung pemimpinnya. Pimpinan sidang yang tidak terpilih kembali sebagai anggota legislatif periode mendatang, dengan suka cita dan banyak canda telah mengetukkan palu keatas kepala rakyat. Tanda dicabutnya nyawa kedaulatan rakyat di daerah. Inilah akhir terburuk dari sebuah lembaga perwakilan yang memang prestasinya jarang sekali dipuji.

Masihkah ada harapan ke depan bagi perbaikan demokrasi di tanah air tercinta ini? Tentu. Sambil terus berdoa husnul khotimah, kita bulatkan tekad bersama menyadarkan yang belum sadar bahwa manuver politik yang tampaknya menguntungkan dalam jangka pendek, justru dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang bagi sang petualang politik.
Share this:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s