Galeri

PEMIMPIN NON MUSLIM

pemimpin-non-muslim

Tulisan menarik dari intelektual muslim – Haidar Bagir.

Haidar Bagir

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi walî dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (Al-Nisa’: 114).

Di dalam ayat lain Allah bahkan melarang menjadikan kerabat kita sebagai awliyâ’—ketika mereka lebih memprioritaskan kekafiran atas keimanan (Al-Taubah: 23).

Sebagian kalangan—berdasarkan ayat di atas dan ayat-ayat serupa lainnya—menyimpulkan bahwa, haram bagi umat Islam mengangkat pemimpin non-Muslim. Penerimaan terhadap kepemimpinan non-Muslim dianggap sebagai penyangkalan terhadap perintah suci Allah, dan sekaligus merupakan ketundukan terhadap pemerintahan thâghût.

Maka, dalam momentum pileg dan pilpres seperti tahun 2014 ini, isu kepemimpinan non-Muslim kembali digulirkan. Berseliweran kampanye atas nama agama untuk menolak kepemimpinan non-Muslim. Lepas dari hak semua orang untuk dipilih dalam negeri demokratis seperti Indonesia, pengantar pendek ini berupaya membuka diskusi mengenai hal krusial dalam kehidupan ketatanegaraan kita – seungguhnya juga kehidupan keberagamaan dalam negeri yang plural seperti Indonesia – dengan menawarkan argumentasi yang berbeda mengenai hal ini.

Dengan mengasumsikan kesepakatan bahwa kata walî di sini bermakna pemimpin, pengantar sederhana ini ingin sekali lagi mengajukan jawaban terhadap pertanyaan : benarkah kafir—pelaku kekafiran— identik dengan non-Muslim? Apakah non-Muslim serta-merta berarti kafir?[1]

Kufr adalah penyangkalan terhadap kebenaran

Kata kafir dalam bahasa Arab (lihat al-Munjid, misalnya) berasal dari kata ka-fa-ra yang berarti ‘menutupi’. Di dalam Al-Quran, misalnya, petani disebut kuffâr (orang-orang “kafir”) karena mereka menggali tanah, menanam bebijian, lalu menutupnya kembali dengan urukan tanah (Al-Hadid: 20). Kata ini pula yang kemudian diadopsi dalam bahasa Inggris menjadi kata to cover.

Kekafiran, dengan demikian, adalah pengingkaran dan penyangkalan atas kebenaran yang memang telah dipahami, diterima, dan diyakini oleh seseorang sebagai sebuah kebenaran. Orang kafir adalah orang yang, karena berbagai alasan (vested interest) menyangkal atau bersikap tidak konsisten dalam mengikuti kebenaran yang diyakininya. Jika seseorang tidak percaya kepada kebenaran tertentu, dalam hal ini kebenaran Islam, maka apa yang ia tutupi? Apa yang ia sangkal? Jika ini yang jadi ukuran, maka non-Muslim yang tak percaya akan kebenaran Islam bukanlah kafir. Di bawah ini uraiannya.

Di dalam Al-Quran, kekafiran identik dengan tindakan penyangkalan secara sadar, tanpa pengaruh tekanan dari luar. Iblis dan Fir’aun, misalnya, disebut kafir karena adanya penolakan dan penyangkalan terhadap kebenaran yang bahkan diyakini oleh keduanya (abâ wa-stakbara). Dengan demikian, kekafiran mengandaikan adanya penolakan dan pengingkaran seseorang atas sebuah kebenaran yang sampai kepadanya, yang telah ia pahami dan yakini sebagai sebuah kebenaran.

”Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah:89).

Maka, jika seseorang tidak menerima Islam, karena ketidak-tahuan, atau karena argumen-argumen tentang Islam yang sampai kepadanya tidak meyakinkannya, apakah orang-orang seperti ini dapat disebut kafir. Karena itu, baik para ulama salaf dan khalaf (belakangan), berpendapat adanya kaharusan pemilikan pengetahuan, yakni pengetahuan yang benar dan meyakinkan, sebelum seseorang dikategorikan sebagai kafir ketika mengingkarinya. Juga jika seseorang menolak Islam karena kesombongan, padahal sudah terang baginya kebenaran Islam, jelas penolakan ini adalah sebentuk kekafiran.

Imam Ja’far Shadiq berkata:

“Sekelompok orang tidaklah kafir bila mereka tidak tahu (jahil), diam dan tidak menentang.”

Imam Ghazali juga mengutarakan pandangan serupa. Menurutnya, orang-orang non-Muslim yang tidak sampai kepadanya dakwah tidak dapat disebut sebagai kafir. Kategori ini dipahami sebagai orang-orang yang tidak pernah mendengar Islam, atau Islam tak sampai kepada mereka dalam bentuk yang membuat mereka yakin. Kata beliau: “Orang-orang yang sampai dakwah kepada mereka, namun kabar-kabar yang mereka terima adalah kabar-kabar yang tidak benar—membuat citra Islam menjadi buruk—atau yang mengalami pemalsuan sedemikian rupa, maka orang-orang seperti ini masih diharapkan bisa masuk surga.”

Bahkan, Ibn Taymiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya berpendapat, seseorang tidak dapat dikafirkan sampai tegak kepadanya hujjah (argumentasi yang meyakinkan). Sebab, boleh jadi orang tersebut belum mendengar nash-nash, atau sudah mendengarnya namun tidak sahih, atau adanya dalil lain yang membuatnya harus melakukan takwil—betapapun takwilnya ini keliru. Demikian pula pendapat Imam Syafi’i dan yang lain. Termasuk juga ‘alim kontemporer seperti Syaikh Mahmud Syaltut (dalam Al-Islâm ‘Aqîdah wa Syarî’ah-nya). Dari argumentasi-argumentasi yang mereka sampaikan, menurut penulis, mudah difahami bahwa kriteria ini seharusnya tidak diterapkan hanya kepada Muslim yang melakukan tindak kekufuran, melainkan juga kepada non-Muslim yang tidak memeluk Islam karena belum sampai dakwah dan/atau informasi tentang Islam yang sampai kepadanya tidak membuatnya yakin akan kebenaran Islam.

Berdasar argumentasi di atas, maka non-Muslim yang tulus dalam memilih dan meyakini keyakinannya tidak serta-merta dapat disebut kafir, yakni menutupi keyakinannya akan kebenaran. (Murtadha Muthahhari dalam Keadilan Ilahi, menyebut orang-orang non-Muslim seperti ini sebagai orang-orang Muslim Fitri (muslimûn bil-fithrah). Yakni orang-orang yang secara nominal bukan Muslim, tetapi ada hakikatnya berserah-diri (aslama) kepada kebenaran (Tuhan).

Kekafiran: Kategori Moral, Bukan Teologis

Jika kita teliti teks-teks Al-Quran dan Hadis, kita mendapatkan kesan kuat bahwa pada puncaknya kekafiran itu kategori moral, bukan kategori teologis.

Imam ‘Ali pernah mengatakan:

“Ada orang beragama tetapi tidak berakhlak, dan ada orang yang berakhlak tapi tidak bertuhan.”

Pernyataan Imam ‘Ali ini bisa dilihat sebagai semacam sindiran, bahwa orang beragama, alih-alih dapat disebut sebagai orang baik atau saleh, justru lebih tepat dikategorikan kafir. Bukankah dari keimanan—sebagai jantung keberagamaan—harusnya lahir tindakan-tindakan kebaikan yang sejalan dengan prinsip-prinsip moral universal? Dapatkah disebut beriman, ketika tindakan-tindakannya bahkan berseberangan dari prinsip-prinsip kebaikan?

Nabi Saw bersabda:

“Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)

Dalam sebuah hadis terkenal, Nabi Saw bersabda:

“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.” (HR. Bukhari).

Dalam sabda-sabda Nabi Saw di atas, keimanan secara tegas dipertautkan dengan kesadaran dan kepedulian sosial. Keimanan bukan semata keyakinan yang terpendam di dalam hati. Sikap acuh dan “masa bodoh” terhadap kesusahan orang lain atau pun pelanggaran terhadap syariat secara tegas dinyatakan sebagai “tidak beriman”, yakni kekafiran terselubung.

Demikian pula dalam ibadah mah-dhah. Shalat, misalnya, alih-alih mengundang pujian Allah, justru sebaliknya Allah sebut sebagai tindakan mendustakan agama jika tak diikuti dengan kesadaran dan empati sosial yang riil.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al-Ma’un: 1-7).

Bukankah “mendustakan” agama adalah esensi kekafiran itu sendiri?

Masih berhubungan dengan pengidentikan keimanan dengan empati sosial, dalam hadis yang lain Nabi Saw bersabda:

“Tak beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.”

Tentang Kristen dan Trinitas

Boleh jadi ada yang masih merasakan kemusykilan. Jika non-Muslim memang tak identik dengan kafir, dan kekafiran adalah kategori moral, lalu bagaimana memahami firman Allah: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” (Al-Ma’idah: 73)?

Ada beberapa kemungkinan penafsiran atas ayat ini. Pertama, bahwa yang dikafirkan adalah orang-orang yang mengada-adakan Trinitas yang sesungguhnya tak diajarkan Yesus. Pada kenyataannya, sebagian kaum Nasrani mempercayai adanya Pauline Christianity (Kristen model Rasul Paulus yang dipercayai memperkenalkan Trinitas), Judeo Christianity (Kekristenan yang asli dan tak mengandung Trinitas). Artinya, yang disebut sebagai “telah kafir” dalam al-Qur’an adalah orang-orang yang secara sengaja mengadakan bid’ah Trinitas – sebagai kemusyrikan – dan bukan para penganut agama Nasrani yang memang mempercayainya dengan tulus sebagai sebuah kebenaran.

Kemungkinan tafsir lain adalah, yang dimaksud Al-Quran itu bukan Trinitas sebagaimana yang diyakini kaum Nasrani, tapi Triteisme. Yang pertama tetap merupakan tauhid. Yakni, tiga dalam satu (unitas). (Yang dua adalah semacam tajalliy-Nya, jika mengikuti pandangan ‘irfan). Berdasar hal ini, yang bisa disebut kafir adalah penganut Triteisme ini, yang tak merupakan mayoritas kaum Nasrani sekarang.

Pemimpin Non-muslim?

Dari uraian singkat di atas, sesungguhnya larangan Allah untuk mengangkat walî yang kafir, tidak serta-merta berlaku atas pemimpin non-Muslim. Yang terlarang adalah mengangkat pemimpin yang jahat, yang merugikan dan mengabaikan kemaslahatan rakyat demi kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Dengan kata lain, lebih mementingkan “kekafiran”-nya (despotisme, korupsi, kesewenangan, dsb.) atas “keimanan” (kesejahteraan, rasa aman, kemaslahatan bersama), baik dia Muslim maupun non-Muslim.

Dalam buku ini, Muhsin Labib telah menunjukkan dengan baik bentuk-bentuk dan kriteria keimanan dan kekafiran dalam konteks monoteisme universal. Soal kepemimpinan non-muslim, Anda akan temukan banyak uraian dan bahan-bahan menarik dalam buku ini. Dengan demikian, buku ini adalah sebuah upaya yang sangat penting untuk mendiskusikan secara terbuka isu penting yang cukup sensitif dan kontroversial ini. Khususnya, karena belakangan ini muncul dan menguat kecenderungan kepada eksklusivisme Islam yang luar biasa. Jika tidak disajikan penafsiran yang berbeda, kecenderungan eksklusivstik ini bisa mendapatkan bentuknya yang sangat ekstrem, hingga berkeyakinan bahwa non-Muslim – bahkan Muslim yang tak sejalan dengan mereka — tak punya hak hidup di bumi Allah ini. Fenomena ISIS merupakan bukti hidup tentang hal ini.

Sudah tentu kami yakin tak semua orang akan punya pendapat yang sama dengan penulis buku, dan kata pengantar, ini (saya pun tak pernah menganggap pendapat saya sebagai final, apalagi sebagai satu-satunya kebenaran). Tapi—kalaupun tak sependapat—diharapkan setidaknya (sebagian) pembaca akan memberikan benefits of the doubt dengan mendapati adanya kemungkinan penafsiran berbeda tentang soal ini. Hal ini diharapkan akan setidaknya melahirkan pandangan yang lebih toleran terhadap non-Muslim dan hak-haknya. Juga membuka kesempatan bagi diskusi-diskusi lebih jauh mengenai isu ini, dan isu-isu lain mengenai hubungan Muslim dan non-Muslim. Tahniah bagi Sdr. Muhsin Labib. Wa-Allahu a’lam. []

[1] Perlu ditekankan di sini bahwa diskusi mengenai pemimpin non-Muslim tak mencakup ranah kepemimpinan (wilayah) spiritual. Dalam hal yang disebut terakhir, logis belaka bahwa faktor keislaman pemimpin – sebagaimana di agama mana pun – merupakan kondisi sine qua non (tak bisa tidak).

Tulisan ini adalah Pengantar penulis untuk buku Pemimpin (non) Muslim karya Dr. Muhsin Labib (Penerbit Tinta, Jakarta, 2014).

####################################################################################################
Jangan Pilih Pemimpin Muslim Yang Non Islami

Oleh: Dr.Muhsin Labib

Pada tahun 2014 yang dianggap sebagai tahun politik kembali mencuat permasalahan klasik yang lama terpendam dalam tatanan masyarakat Muslim, yaitu tentang boleh tidaknya memilih atau memiliki pemimpin non Muslim. Untuk itu ABI Press, mencoba mendapatkan perspektif atau sudut pandang tentang pemimpin non Muslim dari Dr. Mushin Labib, yang merupakan salah satu dosen filsafat di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat SADRA, Jakarta dan juga penulis buku “Pemimpin Non Muslim”.

Berikut adalah petikan wawancara ABI Press dengan Dr. Mushin Labib.

Bagaimana menurut Dr. Mushin Labib, tentang pemimpin non Muslim? Seperti halnya himbauan MUI bahwa Muslim dilarang memilih non Muslim sebagai pemimpin.

Ya, kalau hanya himbauan jangan memilih pemimpin yang non Muslim, siapa saja boleh menyarankan hal tersebut, karena dalam politik itu boleh, karena itu adalah masalah konstitusi. Tapi bila anda bertanya ke saya, bolehkah memilih pemimpin yang kafir? Tunggu dulu, kalau pemimpin itu artinya adalah penghubung antara kita dengan Tuhan, ya bukan cuma harus Muslim, tapi harus yang paling baik juga. Sebab pemimpin itu punya dua dimensi, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal.

Nah, oleh kebanyakan orang itu dicampur aduk jadi satu, sehingga pemaknaan pemimpin itu selalu diartikan dengan dimensi vertikal saja, yaitu pemimpin yang menghubungkan kita dengan Tuhan.

Kalau pemimpin yang artinya seperi itu, seperti halnya ulama yang harus Muslim, ya iya dong! Karena ulama itu adalah pemimpin pada dimensi vertikal, misalnya saja jika ketua MUI ada yang non Muslim, saya ndak setuju itu!
Tapi kalau pemimpin yang dimaksud itu adalah pemimpin dalam arti dimensi horizontal, seperti untuk mengurusi macet, lalulintas, banjir, gubuk-gubuk liar di sekitar rel kereta api, nah pemimpin yang ini ndak harus Muslim.

Jadi ada pemimpin yang sifatnya administratif yang fungsinya itu adalah mengurusi urusan antar manusia dan ada pemimpin yang fungsinya itu adalah penghubung antara kita dengan Tuhan, nah sekarang ini yang ada di masyarakat umum pemimpin yang mana? Hal ini harus diperjelas terlebih dahulu, supaya orang tidak salah paham.

Kalau yang dimaksud pemimpin itu adalah penghubung antara kita dengan Allah SWT, bukan cuma harus Muslim, ndak cukup syarat itu saja tapi juga adalah orang yang paling baik, yang wara’, dia harus Muslim yang utuh.

Apakah pada jaman Nabi dulu ada contoh pemimpin yang non Muslim?

Begini, saya tidak bisa menggunakan kalimat pemimpin itu apabila belum diperjelas karena ada dua istilah pemimpin. Dalam Islam itu tidak ada istilah pemimpin, yang ada itu istilah Imam, Amir dan Khalifah. Bahasa Indonesia ini ambigu, kalau mau menggunakan istilah pemimpin dan yang seperti apa yang dimaksud dalam istilah Islam. Kalau pada jaman nabi itu kalau yang dimaksud adalah pemimpin yang menghubungkan kita dengan Allah itu harus yang terbaik, dan sekali lagi, bukan hanya Muslim tapi juga Muslim yang paling alim, paling takwa.

Tapi kalau misalnya cuma pemimpin dalam posisi sebagai Ketua Ikatan Office Boy Indonesia, itu pemimpin juga kan? Atau pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang penitipan rumput di Ibu Kota, kan pemimpin juga? Masa harus Muslim? Jadi istilah pemimpin disini masih ambigu. Jadi saya tidak bisa menggunakan istilah pemimpin yang sudah beredar di masyarakat saat ini untuk menjawab pertanyaan anda.

Apa syarat-syarat pemimpin yang memiliki dimensi horizontal yang mengurusi kepentingan masyarakat?

Syarat-syaratnya diterima oleh masyarakat, etika umum dan kesepakatan antar masyarakat. Misalnya kalau di negara seperti kita ini, lewat pemilihan umum, kalau dia terpilih maka dia jadi pemimpin. Nah disini ada dua jenis kriteria, disepkati oleh masyarakat dan juga memiliki kemampuan di bidangnya. Misalnya dia memiliki kemampuan di perbankan dan dipercaya untuk memimpin bank, maka dia adalah pemimpin unit perbankan, sebab dia adalah ahli dalam bidang perbankan, selain itu juga memiliki syarat umum seperti kejujuran dan syarat-syarat lainnya terpenuhi dengan standar yang telah disepakati bersama dalam masyarakat. Kalau pemimpin itu pengertiannya ini, maka ndak harus Muslim.

Mengapa sekarang terjadi pencampur adukan pengertian pemimpin ini sehingga menjadi kacau-balau?

Karena tidak diperjelas, posisi pemimpin ini terlalu kabur. Saya kalau ditanya pemimpin itu harus Muslim atau non Muslim? Saya ndak bisa jawab, karena pemimpin yang mana dulu? Makanya saya berusaha untuk memperjelas istilah pemimpin. Pertama saya harus bedakan dimensinya, dimensi vertikal ataukah horizontal? Kedua, istilah Muslim, non Muslim dan Kafir ini harus juga diperjelas. Apakah semua non Muslim itu Kafir? Ini sampai sekarang masih harus diperjelas. Lalu apakah Muslim itu pasti Islami dan apakah Islami itu pasti Muslim? Itu juga harus diperjelas.

Mereka boleh jadi seperti itu karena memiliki satu dimensi tentang pemimpin, sehingga wajar saja mereka bersikap seperti itu, sementara saya, spektrumnya kata pemimpin banyak variabelnya, sehingga saya tidak mereaksi begitu, di satu sisi saya bisa sama, kalau pemimpin itu adalah penghubung antara saya dengan Tuhan, tentu saya sangat setuju itu. Tapi kan saya punya banyak pengertian tentang pemimpin.

Dapat anda jelaskan beda antara Muslim, Non Muslim dan Kafir?

Muslim itu orang yang memang bersyahadat, syahadat La Illaha Illallah, Muhammadan Rasulullah, dia meyakini itu, dia meyakini hukum-hukum Al-Quran, semuanya yang qath’i, maka dia Muslim. Persoalan apakah dia menjalankannya atau tidak, itu lain persoalan. Cukup dengan bersyahadat, maka dia Muslim sudah, apapun alirannya, apapun mazhabnya, itu yang disebut dengan formal Muslim. Sehingga dia sudah bisa dianggap Muslim secara lahiriah dan konsekuensinya dia tidak boleh di apa-apain darahnya dan hartanya. Namun sayangnya banyak orang yang malah sudah Muslim secara formal tapi masih juga dikafirkan, ini malah yang lebih memprihatinkan.

Kedua, non Muslim, ini memiliki pengertian yang pasif, kalau kafir itu memiliki pengertian yang aktif. Pasif itu artinya belum menolak tapi dia belum memiliki alasan untuk mempercayai, untuk menerima. Bisa jadi banyak faktornya yang membuat pilihannya terlalu rumit, atau dia dikaburkan saat melihat sejumlah perilaku orang-orang yang mengaku Muslim tapi tidak mencerminkan keislamannya dalam bertindak, sehingga dia berjarak dengan Islam yang muncul. Atau bisa saja yang selama ini dia lihat adalah Islam yang tidak mencerminkan konsep Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu.

Al-Quran sendiri menjelaskan “Tidaklah Kami menyiksa suatu umat, melainkan Kami telah mengutus Rasul sebelumnya.” Jadi setelah ada Rasul orang itu baru ada yang kafir dan ada yang tidak. Orang seringkali balik bertanya, ‘Lho kan sekarang sudah ada Nabi Muhammad? Kan berarti yang tidak Muslim berarti kafir? Dengan mengutus Nabi itu bukan Nabinya saja yang diutus tapi informasi tentang Nabi itu sudah sampai apa belum? Jangan-jangan belum sampai. Maka dari itu, orang yang beda agama pun ada levelnya dalam Islam, pertama yang paling dekat dengan kita itu Ahlul Kitab, kemudian yang bukan Ahlul Kitab. Ahlul Kitab itu yang paling dekat siapa? Kristen. Al-Quran yang bilang, ‘Kau akan menemukan orang yang paling dekat dengan orang Ahlul Kitab adalah Kristen.’ Jadi yang non Muslim pun memiliki level.

Sedangkan kalau kafir, kafir itu menentang, orang yang memang ndak mau tau, orang yang memang sengaja untuk melawan. Kafir itu sendiri pengertiannya juga banyak, kafir dalam konteks ketuhanan, orang yang tidak percaya Tuhan itu kafir, atheis itu kafir. Tapi ada orang yang disebut dengan agnostic, artinya adalah seseorang yang belum menemukan argumen untuk meyakini Tuhan, ini beda dengan yang atheis. Karena selama ini konsep-konsep yang ditawarkan kepada dia itu tidak bisa meyakinkan dia untuk percaya dengan Tuhan.

Kemudian ada kafir itu karena syirik. Syirik itu menduakan Tuhan. Dianggapnya Tuhan bisa berkoalisi, itu kafir kalau memang dia tujuannya adalah menolak tauhid. Tapi banyak sekali sebenarnya orang juga tetap bertauhid, tapi berbeda pandangan tauhidnya dengan Muslim lain sehingga dia dianggap Musyrik, padahal juga belum tentu. Sekarang malah yang jelas-jelas Islam disyirikkan gara-gara ziarah kubur, padahal ziarah kubur ndak syirik kecuali kalau dia menganggap kuburan itu Tuhan. Kalau ada dua Tuhan, Tuhan yang di langit dan Tuhan yang ada di kuburan, itu jelas syirik, atau dia menyembah kuburan itu syirik.

Pengertian pemimpin sudah campur-aduk di masyarakat saat ini, lalu menurut anda, apa yang harus dilakukan?

Yang paling enak ya memperjelas posisi pemimpin itu apa?
Maka dari itu syaratnya harus menggunakan terminologi agama, seperti Amir, Khalifah dan Imam. Kalau cuma menggunakan kata pemimpin itu masih akan membingungkan. Karena ketua kesebelasan sepakbola pun bisa disebut pemimpin. Nah ini harus diperjelas, karena begitu ada yang dipimpin otomatis dia akan jadi pemimpin.

Apakah itu semuanya harus Muslim? Kan sulit dan kita juga ndak punya banyak stok kalau untuk urusan yang kecil-kecil itu pemimpinnya harus juga Muslim.
Pemimpin yang mengumpulkan sandal, apa juga harus Muslim? Kan itu pemimpin juga, kan susah jadinya, karena kalau menggunakan istilah pemimpin, maka kategorinya masuk juga disitu. Maka dari itu harus diperjelas pemimpin ini maksudnya yang mana, dalam pengertian agama atau pengertian umum di masyarakat saat ini.

Ada yang berpendapat bahwa jika Muslim menjadi mayoritas, maka pemimpinnya harus Muslim?

Ya, walaupun yang Muslim itu ndak ngerti, walaupun ndak lulus SD, ya bagus tinggal 2 atau 3 hari saja hancur negara ini, langsung berantakan sudah. Ndak apa-apa kalau mau begitu. Ayo sudah, pokoknya pemimpinnya Muslim ya? Walaupun menafikan kemampuan, integritas, ya ndak apa-apa rencana rusak bareng (bersama) itu namanya. Ndak apa-apa kalau memang itu kesepakatannya, coba diyakinkan saja masyarakat ini untuk memilih pemimpin administratifnya harus Muslim saja. Kalau seperti itu yang terjadi maka ijazah sekolah itu sebaiknya dibuat gudang qurban, tempatnya penyimpanan hewan untuk qurban, bubarin universitas-universitas itu, sebab sudah ndak berlaku.

Hanya cukup syahadat untuk jadi pemimpin bukan lagi kemampuan, integritas, jadi tesnya bukan fit and proper test tapi kefasihan membaca dua kalimah syahadat, langsung bisa jadi salah satu direktur BUMN. Ya kalau begitu ndak apa-apa tapi akan sia-sia semua yang telah diperjuangkan di bangku sekolahan yang pada akhirnya semua keahlian akademisi umum itu tidak berlaku.

Pesan-pesan yang ingin anda sampaikan pada masyarakat ?

Jangan merasa kita yang paling baik, Al-Quran itu yang bilang dan jangan sok suci, sebab Dia yang lebih tahu siapa yang sesat di jalan-Nya, apalagi boleh jadi orang itu non Muslim secara formal tetapi Islam secara subtansial. Sebab Islam itu kan juga bisa dilihat secara substansial. Melalui apa? Etika, akhlak, perilaku. Jadi mungkin saja seseorang dilihat secara formal tidak Muslim tetapi perilakunya Islami.

Boleh jadi dia Muslim secara formal tetapi perilakunya tidak mencerminkan Islam. Dalam sebuah hadis, barang siapa percaya kepada Allah dan Hari Kiamat hendaklah menghormati tetangganya, artinya kalau ada orang Muslim secara formal adalah Islam, tapi dia tidak menghormati tetangganya dan tamunya, berarti dia Muslim tapi tidak Islami. Atau ada juga hadis yang mengatakan tidak beriman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya ada yang kelaparan. Jika ada yang demikian, maka dia Muslim tapi dia tidak Islami.

Sebaliknya ada orang yang secara formal non Muslim, tapi perilakunya Islami. Tapi kalau ada non Muslim korupsi, ini yang harus ditolak jadi pemimpin administratif. Maka dari itu saya setuju menolak pemimpin non Muslim yang melakukan korupsi. Jadi saya setuju, kalau menolak pemimpin non Muslim yang korupsi.

Apalagi kalau pemimpin itu rasis, menambah kasino, menambah tempat-tempat sarang maksiat, kita menentang. Tapi kalau non Muslim malah menutup tempat judi togel misalnya, ini kan bagus, itu yang Islami berarti, daripada secara formal Islam dan fasih bacaan Qurannya tapi malah korupsi pengadaan Al-Quran. Bukan mempermudah orang naik haji malah korupsi dana haji, yang seperti ini Muslim tapi sangat tidak Islami. Tapi yang lebih baik lagi tentu saja adalah pemimpin yang Muslim dan juga Islami, itu yang layak kita pilih walaupun memang sangat jarang keberadaannya tapi saya yakin itu ada.

Iklan

One response to “PEMIMPIN NON MUSLIM

  1. setuju aku mas karo makalah iki.
    jooss lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s