Galeri

Israel Minta Dunia Bersatu Melawan Iran

11018852_1411658145804825_6709356554196921172_n

Washington – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta dunia bersatu padu guna menghentikan program nuklir Iran. Permintaan Netanyahu itu disampaikan dalam pidatonya di depan anggota Kongres Amerika Serikat di Washington D.C., Selasa, 3 Maret 2014, waktu setempat.

“Kita harus berdiri bersama-sama menghentikan teror Iran,” kata Netanyahu di tengah upaya Presiden AS Barack Obama melakukan pendekatan diplomasi kepada Iran untuk mengatasi masalah nuklir.

Netanyahu mengakui bahwa ketegangan yang muncul saat ini bermula dari pidatonya mengecam program nuklir Iran. Pada kesempatan pidato, Nentanyahu juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Obama terhadap dirinya selama dia menjabat sebagai presiden.

“Saya mengerti bahwa pidato saya menimbulkan kontroversi, meskipun hal itu jauh dari niat saya,” ucapnya. Dia mengatakan, “Aliansi yang luar biasa antara Israel dan AS selalu di atas segala kepentingan politik dan itu harus selamanya.”

Menurut Netanyahu, Iran telah membuktikan bahwa negeri itu sudah tidak bisa dipercaya. “Kita mesti mencegah dan merebut senjata itu (nuklir) dari Iran,” ia memaparkan. “Bahaya paling besar yang dihadapi dunia saat ini adalah perkawinan antara militan Islam dengan senjata nuklir.”

Saat berpidato di depan anggota Kongres di Washington D.C, Selasa, Netanyahu berkali-kali mendapatkan tepuk tangan. Bahkan, usai menyampaikan taklimat, hampir seluruh anggota Kongres bertempik sorak sambil berdiri.

Menyusul pidato Netanyahu, Presiden Obama mengatakan dia telah membaca sebuah transkrip pernyataan dan menemukan bahwa tidak ada yang baru dalam pidato yang disampaikan Netanyahu. “Pemimpin Israel ini tidak memberikan alternatif yang layak dalam negosiasi nuklir dengan Iran.”

Sementara itu, Iran menyatakan pidato tersebut merupakan bagian dari kampanye pemilihan umum Netanyahu. “Pidato yang disampaikan oleh perdana menteri rezim Zionis itu membosankan dan repetisi serta bagian dari kampanye pemilihan kelompok garis keras di Tel Aviv,” kata juru bicara Menteri Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham, sebagaimana dikutip kantor berita pemerintah IRNA.

10422352_1412233762413930_20080601323929792_n

AL JAZEERA | CHOIRUL

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/04/115647071/Israel-Minta-Dunia-Bersatu-Melawan-Iran

PERSEPSI YANG SALAH MENGENAI IRAN, MERUGIKAN INDONESIA

[Kesaksian Dubes Indonesia untuk Iran mengenai Republik Islam Iran]

Duta besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, selama mengemban tugasnya memprihatinkan lambatnya peningkatan dagang Indonesia-Iran. Iran adalah pengimpor minyak nabati, kertas, alumunium, karet, teh, dll, yang semuanya bisa disediakan Indonesia. Tapi, sayangnya, mereka tidak bisa langsung membelinya dari Indonesia, melainkan dari negara-negara ketiga.

“Iran diembargo 34 tahun, tetapi mampu membangun mobil nasionalnya. Dalam satu tahun mereka produksi 1,6 juta mobil dan artinya butuh karet untuk ban. Lalu karetnya dari mana? Padahal kita punya karet, tapi Iran membelinya dari negara ketiga, misalnya Malaysia,” kata Dian.

Artinya, yang mendapat untung besar dari produk Indonesia justru negara ketiga. Dia menganalisis, hambatan utama adalah persepsi negatif masyarakat Indonesia terhadap Iran. Banyak pebisnis Indonesia yang khawatir berbisnis di Iran hanya gara-gara informasi yang salah: mengira Iran negara teror, kejam, sesat, dll.

Dian juga menyampaikan bahwa banyak sekali tamu-tamu Indonesia yang diundang ke Iran sangat terkejut, mendapati bahwa Iran ternyata tidak seperti yang diceritakan oleh media. Terkait dengan kendala finansial, Dian menyatakan bahwa bila Malaysia, China, India, selama ini terbukti lancar berbisnis dengan Iran di masa sanksi, maka seharusnya bisnismen Indonesia juga mampu mencari jalan keluar dari berbagai kendala yang ada.

Karena itulah, Dian mengkritisi media-media di Indonesia yang tidak memberikan persepsi yang benar tentang Iran, akibatnya muncul mindset yang salah, dan keputusan yang diambil pun salah.

Trias Kuncahyono dari Kompas mengamini pernyatan Dian ini dan memaparkan bahwa media memang berperan penting dalam proses terjalinnya kerjasama yang optimal antara negara-negara.

Yang menarik, Dian juga mengupas masalah hubungan Indonesia-Iran dari sisi sosial budaya. Menurutnya, konflik Sunni-Syiah di Indonesia juga akibat dari persepsi yang salah. Revolusi Iran telah dipropagandakan sedemikian rupa oleh media sehingga banyak pihak takut pada revolusi Iran; padahal kenyataannya Iran tidak pernah menyerang negara manapun; di Iran juga tidak pernah ada konflik Sunni-Syiah (semua agama dan mazhab mendapatkan perlakukan baik di Iran). Tapi mengapa justru konflik berdarah Sunni-Syiah muncul di Indonesia?

Artinya, menurut Dian, ini tidak ada kaitan dengan Iran sebagai negara, tetapi masalah sosbud dan politik internal bangsa Indonesia sendiri.

[INDONESIA SUDAH TERLALU BANYAK DIRUGIKAN DENGAN KEBERADAAN KELOMPOK TAKFIRI DENGAN SEGALA FITNAH-FITNAHNYA… ]

Dinukil dari tulisan Dina Sulaeman, lengkapnya disini: http://theglobal-review.com/content_detail.php…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s