Galeri

Pejuang Sunni Bergabung Dan Berjuang Bersama Hizbullah

sami-ramadan

Sami Ramadan, adalah seorang perekrut anggota Hizbullah dari kalangan Muslim Sunni.

Usman adalah seorang Muslim yang bermazhab Sunni. Namun ke-Sunni-annya itu tidak menjadi penghalang baginya untuk bergabung bersama muqawama Lebanon, Hizbullah. Baginya, perang dengan membenturkan sekterian telah merobek-robek kawasan Timut Tengah. Relakah ia jika kehancuran serupa terjadi di Lebanon, tanah airnya?

“Saya adalah seorang patriotik. Lebanon adalah negara saya, dan saya ingin bergabung dengan muqawama, dan Hizbullah hadir dengan ideologi ini. Kami tidak bicara tentang masalah sekterian,” papar Usman.

Usman dilatih dan dipersenjatai oleh Hizbullah. Ia mambawa senapan, dan siap sedia kapanpun ketika ada panggilan membela Lebanon dari ekstremis-ekstremis lokal, ataupun ketika ada panggilan untuk bergabung melawan kelompok teroris di Suriah.

“Saraya Al Muqawama (sayap militer Hizbullah) dibentuk oleh orang-orang non-ekstremis. Hizbullah memang bersifat religius, tetapi di Lebanon kami sangat beragam. Haruskan Hizbullah sebagai satu-satunya kelompok yang melakukan perlawanan? Karena itulah, dibentuk Saraya untuk memberi peluang bagi siapapun yang ingin bergabung,” papar Sami, (Ibtimes, 11 April 2015).

Sami Ramadan, perekrut Anggota Muslim Sunni

Dalam militer, baik Hizbullah ataupun Saraya mendapatkan pelatihan yang sama. Namun dalam ideologi perlawanan yang dibangun, ada perbedaan mendasar. Anggota Hizbullah berfokus pada perlawanan menurut perspektif Syiah, sementara untuk Saraya lebih difokuskan pada pemahaman bahwa kita memiliki musuh yang sama, yaitu rezim Zionis, Takfiri dan jaringannya.

Penduduk Kristen pun Bergabung Dengan Hizbullah

Rifat-Nasrallah

Benar, Hizbullah memang telah dimasukkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Israel. Setelahnya, Uni Eropa juga ikut memasukkan Hizbullah ke dalam daftar hitam. Dan baru-baru ini, negara-negara Arab yang dimotori Arab Saudi membebek dengan memasukkan Hizbullah sebagai kelompok teroris juga. Namun, jika benar Hizbullah adalah kelompok teroris, lalu mengapa warga Lebanon bergama Kristen pun ikut bergabung dengan Hizbullah?

“Mereka menerima kami seperti apa adanya kami,” Christian Post menjelaskan, mengutip pernyataan dari penduduk Kristen Lebanon.

Menurut narasumber Lebanon, Buletin G2 Joseph Farah, penduduk Kristen di daerah Lembah Bekaa Lebanon bergabung dengan pejuang Hizbullah untuk berperang melawan ISIS maupun Jabhat Al Nusra yang masih bercokol di beberapa titik di pengunungan Qalamoun, Suriah, yang berbatasan dengan Lebanon.
Rifat Nasrallah

Rifaat Nasrallah, seorang pengusaha Katolik yang merupakan bagian dari milisi dalam melawan ISIS di Ras Baalbek, menyatakan alasannya bergabung dengan Hizbullah.

“Kami berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Satu-satunya yang bisa melindungi kami adalah Hizbullah. Satu-satunya yang bangkit melawan dan memiliki tentara adalah Hizbullah. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan,” jelasnya (Christian Post, 11 Mei 2015).

Menurut Rifaat, Hizbullah tidak pernah mengharapkan apalagi memaksa sekutunya untuk masuk Islam ataupun memberikan baiat.

“Mereka menerima kami apa adaanya. Mereka tidak memaksakan apapun kepada kami. Ketika ada kesempatan, mereka bahkan menghadiri pesta ulang tahun anak-anak kami. Orang-orang di sini menerima kehadiran Hizbullah, dan memang mereka banyak membantu.”

Ada analisis yang menyebut bahwa aliansi antara Hizbullah dengan Muslim Sunni ataupun Kristen semata-mata karena masalah kenyamanan, mengingat jika wilayah Lebanon sampai jatuh ke tangan ISIS ataupun kelompok teroris lainnya, maka otomatis kejadian memilukan di Suriah dan Irak akan terulang kembali ke Lebanon.

Ya, memang demikian adanya, dan tidak yang salah dengan hal itu? Bukankah ketika kita mempertahankan negara, maka sekat-sekat suku, ras, ataupun agama, seharusnya memang ditiadakan?

Hizbullah sejak lama telah pasang badan untuk menjaga keamanan Lebanon, dan tentu saja, seorang patriotik tidak akan tinggal diam melihat negerinya di bawah ancaman, tidak peduli apakah dia seorang Sunni ataupun seorang Kristen. Kalau memang Hizbullah bisa melatih dan menyiapkan segala kebutuhan logistik untuk melindungi tanah air, mengapa pula harus mempermasalahkan sekterian?

“Kami tidak berbicara tentang asumsi ancaman. Tetapi kami bicara tentang agresi nyata yang harus kita hadapi setiap jam, setiap hari, dan setiap malam. Kelompok teroris terus menerus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon, dan mereka berhasil menawan puluhan tentara dan polisi Lebanon. Kita perlu solusi permanen,” tegas Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah.

Perlawanan Terhadap Israel

Hezbollah’s Executive Council Chief Sheikh Nabil Qaouk (left) and Sheikh Maher Hammoud (right) in a Hezbollah ceremony in Sidon

Hezbollah’s Executive Council Chief Sheikh Nabil Qaouk (left) and Sheikh Maher Hammoud (right) in a Hezbollah ceremony in Sidon

Berlarut-larutnya konflik yang terjadi di dunia Muslim, membuat kita cenderung abai dan bahkan melupakan bahwa musuh kita sesungguhnya adalah Zionis Israel. Dengan adanya perang Suriah dan Irak yang kental dengan muatan Sunni-Syiah, tentu saja Zionis Israel sangat diuntungkan oleh hal ini. Semakin lama Sunni-Syiah larut dalam pertikaian, maka semakin mudah bagi Israel untuk memantapkan eksistensinya di kawasan.

Tapi Hizbullah tidak membiarkan Israel di atas angin.

“Tanggapan Hizbullah atas Israel yang bertaruh pada perselisihan Sunni-Syiah adalah, kami, muqawama Lebanon, mempersiapkan diri kami dalam perang berikutnya melawan Israel, dan ribuan saudara Sunni kami di Lebanon telah bergabung dengan Hizbullah,” tegas Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah Sheikh Nabil Kaouk, di Sidon (DailyStar, 4 Januari 2015).

Sheikh Nabil menyebut bahwa Israel telah mendukung kelompok-kelompok teroris dan mengeksploitasi krisis Suriah dengan tujuan untuk melemahkan kelompok muqawama. Namun, menurut Sheikh Nabil, Israel akan gigit jari karena Hizbullah berhasil menggagalkan ‘proyek Takfiri di Lebanon’.

Terorisme tidak bisa disebut sebagai jihad yang hanya menargetkan Sunni saja, atau Syiah saja, karena faktanya, siapapun yang berani menentang kelompok teroris akan dibunuh.

“Takfiri tidak mewakili Sunni, karena banyak Muslim Sunni yang terbunuh di seluruh kawasan. Tetapi mereka selalu menabur permusuhan Sunni-Syiah. Mereka juga berencana menjadikan Lebanon sebagai ‘medan perang’ di masa depan.”

Ketika Sunni, Syiah bersatu. Ketika umat agama lain dirangkul untuk membela tanah air, Insya Allah, kelompok perlawanan akan menang. Imam Ali berwasiat, bahwa ‘mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan’.

http://liputanislam.com/berita/ketika-sunni-dan-kristen-bergabung-berjuang-bersama-hizbullah/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s