Galeri

Habib Lutfi bin Yahya: Isu Syiah Dihembuskan Untuk Jauhkan Umat Islam Mencintai Keluarga Nabi

87
Konflik Syiah dan kelompok Sunni (lebih tepatnya Wahabi) di Timur Tengah menjadi kesempatan bagi kelompok tertentu untuk menghembuskan isu Syiah sebagai bahaya laten ke dalam negeri. Baliho dan pamflet yang menyudutkan Syiah dapat kita jumpai di sudut-sudut kota di tanah air. Konflik ini tidak lepas dari perhatian Maulana Habib Luthfi. Bahaya dari keadaan ini menurut beliau adalah dengan semakin berkembangnya isu ini, semakin banyak orang yang enggan berbicara tentang hadis-hadis dan ayat al-Quran yang menyinggung keutamaan dan hak ali (keluarga) bait Nabi saw yang dijamin oleh Allah baik melalui nash al-Quran maupun melalui lisan mulia Nabi saw, hanya karena khawatir dicap sebagai pengikut Syiah. (Baca: Pujian Kepada Keluarga Nabi Bukan Hanya Milik Syiah !)

Habib Lutfi Yahya

Agaknya, fenomena seperti itu tidak hanya terjadi pada saat kita hidup sekarang ini, tetapi juga dialami oleh Imam madzhab seperti Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafii. Sebagai respon atas tuduhan bahwa dirinya Syiah Imam Syafii menulis syair yang terkenal.

“Inkana rafdhan hubbu ala Muhammad * fal yasyhad al-tsaqalain inni rafidiyun”, Artinya: Apabila rafidah itu sebutan untuk pecinta keluarga Nabi * saksikanlah Jin dan Manusia bahwa Aku adalah Rafidhah.

Keresahan itu juga nampaknya dialami oleh KH. Abdullah bin Noeh yang menulis sebuah buku yang berujudul “ Mencintai Kelurga Nabi”, terbit pertama kali pada tahun 1986. Kemudian pada tahun 2014 buku ini di cetak ulang. Dapat dikatakan buku ini, adalah satu-satunya buku tentang Ahli bait yang ditulis oleh seorang ulama Suni tulen. (Baca: Menteri Agama Al-Jazair: Fatwa ‘Bid’ah Maulud’ Wahabi Jauhkan Umat Islam Mencintai Nabi)

Abdullah bin Noeh adalah ulama multi talenta, ulama multi disipliner. Berbicara sosok ini dan bukunya “ Mencintai Kelurga Nabi”, penulis merasa sangat emosional. Penulis memiliki hubungan imaginal sebagai “cucu murid” tokoh besar ini melalui dua jalur. Penulis mempunyai dua jalur sanad, guru penulis ; KH. Abdul Qadir Razi (Rais Syuriyah PCNU Cianjur) adalah murid, KH. Abdullah bin Noeh, sedangkan KH. Abdullah bin Noeh adalah murid Syeikh Muhammad Qurtubi, murid dari Syeikh Ahmad Syatibi, Syeikh Ahmad Syuja’i, Syeikh Hasan Musthafa Bandung,Syeikh Abdul Muhyi, Syeikh Zainudi al-Malibari demikian sanadnya bersambung hingga sahabat Abdullah bin Umar kemudian Rasulullah saw. Disamping itu, saat belajar di pesantren Syamailul Huda Pekalongan, KH. Abdullah bin Noeh berguru kepada Habib Hasyim bin Umar bin Yahya, yang tak lain adalah kakek Maulana Habib Luthfi bin Yahya. (Baca: Kebencian Situs Radikal Wahabi “Nahi Munkar” Kepada Nabi dan keluarganya)

Praktis, penulis sering mendengar kebesaran KH. Abdullah bin Noeh melalui dua guru penulis, KH. Abdul Qadir Razi dan Maulana Habib Luthfi. KH. Abdul Qadir Razi sering bercerita tentang KH. Abdullah bin Noeh dalam kiprahnya sebagai pejuang Nasional (pahlawan), intelektual besar yang menguasai bahasa Belanda, Ingris, dan dialek suku-suku Arab, seorang ulama berdarah Sunda yang mampu insya al-Syi’ri (menarasikan puisi berbahasa Arab secara reflek) layaknya ulama Arab Abad lampau, seorang sufi pengagum berat Ihya al-Gazali, sastrawan, sedangkan dari Maulana Habib Lutfi penulis melihat luasnya disiplin ilmu yang dikuasai dan ditulis oleh KH. Abdullah bin Noeh, satu dari ulama langka Indonesia yang berkiprah dan di akui di dunia Internasional, karyanya ditulis dalam bahasa Arab, Inggris, Indonesia dan bahasa Sunda. Demikian pengetahuan penulis tentang KH. Abdullah bin Nuh dari dua guru penulis.

Khazanah maha guru ulama K.H. R. Abdullah Bin Noeh terlihat dalam buku “Mencintai keluarga Nabi” yang akan kita diskusikan ini. Buku ini secara utuh menuliskan perihal al Bait Nabi, kedudukan, dan kewajiban umat terhadapnya. Dalam pendahuluannya KH. Abdullah bin Noeh mengaku ada dua faktor yang memotivasi beliau menulis buku itu, yang pertama atas permintaan murid-muridnya. Kedua, semata-mata mengharapkan ridha Allah swt dan Rasul-Nya, mengingat usianya yang semakin senja, beliau memohon kepada Allah dengan berkahnya buku ini dianugahi khusnul khatima (akhir yang baik). (Baca: Darimana Asal Usul Kebengisan Ajaran Salafy Wahabi?)

Abdullah bin Noeh mengatakan, “fadhilah dzatiah (keutamaan bawaan) yang dikaruniakan Allah swt kepada para keturunan Rasulullah saw sama sekali tidak lepas dari rasa tanggung jawab mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang dipikul orang lain. Mereka harus menyadari kedudukannya di tenga-tengah umat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan al (keluarga) Muhammad Rasulullah saw. Mereka juga wajib menyadari tanggung jawabnya yang lebih besar atas citra Islam dan umatnya. Dengan demikian maka kewajiban menghormati yang dibebankan syariat kepada kaum muslimin dapat diwujudkan sebaik-baiknya” (halaman 5).

Luasnya bacaan KH. Abdullah bin Noeh terlihat dari kuatnya literatur dirujuk dalam setiap bab. Misalnya dalam bab hadis-hadis keutamaan (fadahail) ahli bait, beliau merujuk tarikh Bagdad, Kanz al-Ummal, al-Riyadh Nadhrah, mustadraq ala sahihain, al-tabari dll. Bahkan literatur kontemporer seperti al-durar al-naqiyah fi fadha’il dzuriyah khair al-bariyyah karya Mufti Mekah Syeikh Muhamad Babushail al-Hadhrami, Abqariyat karya Abbas al-Aqad dirujuk oleh beliau. Dan kisah-kisah langka yang bertaburan dalam tiap bab, seperti misalanya dialog antara al-Sya’bi dan al-Hajaj bin Yusuf (halaman 227). (Baca: MEDIA WAHABI MENGADU DOMBA UMAT NABI SAW?)

Ketajaman analisa KH. Abdullah bin Nuh juga dapat dilihat dari kepiawaiannya memilih rujukan pada bahasan tertentu, misalnya menyadari banyak yang antipati bahkan mengingkari adanya ahli bait Nabi (dengan alasan Sayidah Fathimah adalah anak perempuan Nabi bukan laki-laki), KH. Abdullah bin Noeh merujuk keterangan-keterangan ulama yang dijadikan rujukan kelompok tersebut. KH. Abdullah bin Noeh merujuk pada kitab al-aqidah al-wasithiyah, al-Iqtidha dan kitab lainnya yang ditulis oleh Ibn Taimiyah. Misalnya saat menjelaskan hadis tsaqalain, yang menerangkan bahwa saat menjabat sebagai Khalifah, sebagai penghormatan kepada al (keluarga) Nabi saw Sayidina Umar mendaftar keluarga Nabi saw pada daftar utama penerima tunjangan, setelah itu baru namanya. Saat ada yang komplain, agar Umar mencatatkan namanya pada urutan pertama, Umar menjawab, “Tidak, tempatkanlah Umar sebagaimana Allah menempatkannya (halaman 91). Demikian juga pada saat menjelaskan makna dzuriyah Nabi, KH. Abdullah bin Noeh merujuk pada keterangan Ibn al-Qayim yang sering dirujuk oleh kelompok itu .

Keahliannya sebagai sastrawan juga terlihat misalnya dalam beberapa bab, KH. Abdullah bin Nuh menuliskan puisi, diantaranya.

Mereka keluarga suci dan mulia

Barang siapa dengan ikhlas mencintainya

Ia memperoleh pegangan yang sentosa

Untuk bekal kehidupan di akhiratnya

Merekalah keluarga suci dan mulia

Yang keluhurannya menjadi buah bibir dan cerita

Dan keagungannya diingat orang sepanjang masa

Hormat kepada mereka adalah kewajiban agama

Kecintaan kepada mereka wujud hidayah yang nyata

Menanti mereka adalah curahan cinta

Dan kecintaan kepada mereka adalah takwa (halaman 266).

H.M.H al-Hamid al-Husaini memberi pengantar buku ini (sebaliknya KH. Abdullah bin Nuh juga memberi pengantar buku Hamid al-Husaini yang berjudul mauid Nabi) menjadikan buku ini semakin lengkap. Dalam pengantarnya, Hamid al-Husaini mengutip penjelasan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang kewajiban umat untuk menghormati dan memuliakan keluarga Nabi saw. Hamid al-Husaini juga mengatakan, kaum `Alawiyin berhutang budi kepada KH. Abdullah bin Noeh atas buku ini. (Baca: Persekutuan Hitam Rezim Saudi dengan Wahabisme yang Anti Nabi Muhammad)

Ketajaman analisa seorang intelektual, ketepatan dalam pemilihan kata seorang sastrawan, kemampuan menarasikan rasa seorang sufi, menjadi perpaduan yang membuat buku ini nyaman dan mengalir saat dibaca. Kelemahannya, -tentu ini tanggung jawab penerbit- ada kesalahan fatal penyebutan tokoh, seperti pada halaman 222 menyebut nama al-Hallaj berungkali, padahal seharusnya al-Hajjaj, hanya salah satu huruf implikasinya luar biasa. al-Hallaj adalah sufi besar, sedangkan Hajjaj adalah Gubernur Kota Bahsrah pada era Dinasti Umayyah yang terkenal lalim, arogan dan semena-mena dalam menumpahkan dara ulama Islam pada saat itu. Bagi pembaca umum tentu kesalahan fatal itu sangat membingungkan.

Alakuli hal, buku yang ditulis ulama kelahiran Cianjur, 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987, ini, penting menjadi literatur Anda. Jika pada usia tertentu, setiap orang mungkin menyesali ada buku yang terlambat ia baca saat usianya lebih muda, maka setiap muslim yang taat akan menyesal ia tidak pernah membaca buku ini. Sebab, seperti dikatakan oleh KH. Abdullah bin Noeh, “Mencintai Keluarga Nabi saw adalah bekal menuju surga”. Dan buku ini akan membimbing Anda mencintai kelurga Nabi saw. Selamat membaca. (SFA)

Sumber: HabibLutfi.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s