Galeri

Bom Meledak di Gereja Samarinda

gereja-oukimene-samarinda-meledak__20161113_121641

Kaltim Disusupi Kelompok Radikal
Berkembang sejak 2002, Diduga Masuk Jaringan ISIS

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda pada Ahad (13/11), mengagetkan publik Kaltim. Bukan hanya pertama kali di Bumi Kalimantan, peristiwa itu menguak fakta lain. Kaum radikal yang nekat menebar teror diduga telah lama berdiri di provinsi ini. Penelusuran Kaltim Post menyesap jauh ke dalam kelompok itu.

Juhanda (33) adalah orang yang meledakkan bom molotov di gereja tersebut. Sejumlah saksi mata menyebutkan, pria itu datang mengendarai sepeda motor dengan nomor pelat H 2372 PE, kode untuk Semarang, Jawa Tengah. Juhanda yang memiliki panggilan Jo masuk ke tempat parkir gereja di Jalan Ciptomangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir.

Saat itu, jemaat dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) baru selesai ibadah. Jemaat Kristen Toraja kemudian masuk untuk bersiap beribadah. Di luar, Jo menyalakan sebuah bungkusan. Beberapa anak-anak sekolah minggu sedang bermain di dekatnya. Tiba-tiba, tiga ledakan keras terdengar. Warga segera berkumpul dan melihat empat anak terluka. Empat sepeda motor ikut rusak berat di bagian depan. Di sekitar lokasi, penuh serpihan pasir, baik di dinding serta tiang luar gereja bercat putih. Diduga, pasir dipakai dalam bom molotov untuk memperkuat efek api.

Seorang pria gondrong berbadan kurus yang berlari keluar dari halaman gereja menarik perhatian. Samuel Tulung (43), warga yang melihat sosok Juhanda tersebut, segera mengejarnya. Warga ikut memburu sementara sebagian lainnya membantu anak-anak yang terluka.
kaltim-disusupi-kelompok-radikal

Setelah dikepung, Juhanda terdesak hingga terjun ke Sungai Mahakam. Pelariannya terhenti di tengah sungai ketika warga mengejarnya dengan perahu. Samuel mengatakan, Juhanda sempat melawan dengan memegang paha warga ketika hendak diangkat ke perahu. “Tapi, dia sudah kehabisan tenaga,” ucap Samuel. Warga memberi Juhanda bogem mentah di atas kapal sebelum membawanya ke Mapolresta Samarinda.

Di dalam gereja, jemaat Kristen Toraja tetap beribadah hingga selesai. Di depan rumah ibadah itu, ramai warga datang melihat petugas yang sudah memeriksa lokasi.

KELOMPOK RADIKAL

Sejam setelah ledakan, polisi mendatangi sebuah bangunan bercat putih, sekitar 200 meter dari TKP. Juhanda, menurut catatan kartu penduduknya, tinggal di gedung tersebut. Berukuran 40 meter persegi, bangunan itu dulu dikenal sebagai masjid.

Rumah itu beratap kerucut dengan sebuah pengeras suara. Tidak ada tanda bulan dan bintang di pucuk atap. Kepolisian membawa tiga orang lagi dari lokasi itu. Satu di antaranya diketahui bernama Gofar. Warga mengenalnya sebagai imam masjid.

Adapun Juhanda alias Jo, dikenal sebagai penjaga masjid (marbot). Dia tinggal di kamar belakang. Biliknya berukuran 3×4 meter. Di dekat pintu, berdiri rak penuh dengan buku. Seluruh pustaka itu, beberapa di antaranya novel religi, telah dibawa polisi.

Selain menjadi marbot, Jo menjaga keramba ikan nila di belakang masjid. Ikan hasil keramba dijual di dalam akuarium di depan masjid.

Dikenal sebagai masjid, bangunan itu tak memiliki pelang nama. Warga sekitar bahkan jarang yang beribadah di tempat itu. Jemaah masjid justru datang dari luar Kelurahan Sengkotek.

“Ada beberapa warga di sini yang menjadi jemaah, tetapi itu pun pendatang,” terang seorang warga yang enggan namanya dikorankan. Menurut perempuan berkerudung tersebut, kegiatan di dalam masjid tertutup. Biasanya jemaah mengadakan pengajian pada Minggu atau Senin malam. Jemaah biasanya datang ke masjid untuk menunaikan salat Magrib dan Isya. Pengajian dimulai setelahnya.

Ceramah maupun pembacaan ayat suci Alquran hanya terbatas di dalam masjid. Tidak memakai pengeras. Pintu masjid ditutup.

Sumber Kaltim Post yang sempat mengikuti kegiatan di dalam masjid bercerita, beberapa hal membuat warga enggan beribadah di tempat itu. Amalan di situ disebut berbeda dengan majelis pada umumnya. Sebagai contoh, tak ada zikir bersama selepas salat wajib.

Seorang perempuan lain, yang sempat beberapa kali ikut pengajian mengatakan, para ustaz di masjid tersebut berkali-kali menyeru ”Isy kariman au mut syahidan”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia: hidup mulia atau mati syahid. Persis seperti kalimat yang tertulis di kaus Juhanda ketika mengebom.

“Sering diserukan dalam beberapa pertemuan. Saya memutuskan keluar,” ujar perempuan dua anak tersebut.

Kegiatan di situ diduga telah berlangsung dua tahun. Sama persis setelah Juhansyah mulai tinggal di Kelurahan Sengkotek. Ketua RT 04 Kelurahan Sengkotek, M Abdul Malik, mengatakan bahwa Jo datang pada 2014. Dia dibawa seseorang yang biasa akrab disapa Pak Pri, warga Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir. Abdul hanya tahu, Jo tiba-tiba menjadi marbot di masjid tersebut.

Dia mengaku, menerima informasi warga baru dari Polsekta Samarinda Seberang. “Jadi, tidak lapor langsung ke saya,” ungkapnya. Namun, warga disebut telah lama menduga kelompok Juhanda adalah barisan radikal. Namun, tak ada bukti yang menguatkan tengara itu.

“Kami tidak bisa apa-apa. Tapi, saya selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan,” ujarnya.

Mengenai masjid tanpa nama, Abdul mengatakan, dulu rumah ibadah itu bernama Al Mujahiddin. “Saat saya pindah ke sini pada 1999, masjid sudah ada,” ungkapnya. Pada 2010, masjid direnovasi para jamaah hingga kemudian tanpa nama seperti sekarang. Menurut rencana, kelurahan mengadakan rapat untuk membahas pengambilalihan masjid. “Mungkin untuk memberantas sel radikal. Ini adalah kali kedua Sengkotek dijadikan markas kaum radikal,” ujarnya.

Siapa Pak Pri yang disebut-sebut membawa Jo ke Sengkotek? Dia memiliki nama Supriyadi. Seorang ustaz yang tinggal di RT 29, Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir. Menurut warga, Pri sudah diamankan kepolisian. Di Harapan Baru, dia tinggal di rumah bangsal bersama istri dan anak-anaknya. Sang istri, ketika Kaltim Post datang, sedang di rumah. Namun, dia menolak menerima media ini.

Supriyadi sebelumnya menggelar pengajian di rumahnya. Setelah mendapat komplain dari warga, pengajian dipindah. Diduga, pengajian Ustaz Pri itulah yang selama ini berjalan di masjid tempat tinggal Jo di Kelurahan Sengkotek.

Juhanda bukan orang baru di kelompok ekstrem. Pria yang lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu pernah dipidana pada 4 Mei 2011 dengan hukuman 3 tahun 6 bulan kurungan. Dia bebas pada 28 Juli 2014 sebelum datang ke Samarinda. Juhanda diketahui terlibat teror bom Puspitek di Serpong, Tangerang Selatan. Dia turut menjadi terduga pelaku Bom Buku di Jakarta pada 2011 (lebih lengkap, lihat infografis).

PERSEMBUNYIAN TERORIS

Pengamat terorisme di Indonesia, Ali Fauzi Manzi, sudah memprediksi pengeboman di Samarinda. Dia sempat bertandang ke Kota Tepian pada 9 November 2016. Kala itu, dia menjadi narasumber focus group discussion (FGD) untuk mencegah paham radikalisme khusus ISIS di Kaltim.

“Saat FGD, ada yang bertanya kepada saya. Apakah akan ada aksi (pengeboman) di Kaltim? Saya jawab, potensi itu ada,” bebernya.

Dia menyampaikan bahwa jaringan pelaku pengebom Gereja Oikumene akan melakukan aksi di Samarinda. “Ini naluri saya saat itu. Saya memang pernah jadi pelaku (pengeboman), jadi paham,” kata mantan kepala instruktur perakitan bom Jemaah Islamiyah di Jawa Timur itu.

Ia menganalisis, ada sejumlah penyebab sehingga Juhanda berani mengebom gereja. Pelaku pernah dihukum karena kasus serupa sehingga menjadi teroris kambuhan. Selain itu, kata dia, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengeluarkan fatwa. “Anggota ISIS yang tak bisa datang ke Suriah, diminta mengirimkan harta. Kalau tak bisa mengirimkan harta, maka ‘bermain’ di daerah masing-masing,” kata Ali menirukan pesan ISIS.

Menurutnya, kata bermain ditujukan kepada para anggota membuat rencana pengeboman. “Pelaku bom gereja di Samarinda terdoktrin itu,” jelasnya. “Tapi sayang, pelaku blunder. Lokasi pengeboman tak jauh dari tempat tinggalnya,” sambungnya.

Adik kandung dari teroris Amrozi dan Ali Imron itu menilai, aksi pelaku sangat tidak berpengalaman dan memiliki kemampuan pas-pasan. Hal itu memudahkan pelacakan mereka.

“Sangat jarang teroris beraksi di daerah tempat tinggalnya,” beber dia.

Tanda-tanda bahwa pelaku tak berpengalaman adalah Juhanda kabur ke sungai setelah meledakkan bom. “Perkiraan saya, pelaku sengaja ditangkap polisi dan dipenjara. Dia hanya menargetkan supaya dapat perhatian ISIS global,” paparnya.

Meski kurang pengalaman, Ali meyakini Juhanda tidak sendiri saat bergerak. Sejumlah orang mengetahui aksi pengeboman yang terorganisasi. Kelompok Juhanda hanya tidak rapi melakukan serangan.

Dia menduga, di balik serangan bom terdapat jaringan tersembunyi di Kaltim yang menyimpan teroris. “Orang (teroris) tidak akan lari ke Kaltim kalau tidak ada jaringan. Di Kaltim ada jaringan yang sengaja dibentuk untuk bisa melindungi para teroris,” bebernya.

Namun, Ali belum bisa menjelaskan terperinci nama dan bentuk organisasi tersebut. “Yang pasti, sudah terbentuk sejak Bom Bali I (2002). Aparat tahu, tapi tak paham detail. Mereka mengistilahkan kelompok bawah tanah. Pergerakannya tak terlihat,” jelas dia.

Menanggapi aksi tersebut, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Polisi Agus Rianto mengatakan, kasus teror bom di Samarinda kemungkinan ditarik ke Jakarta. Hal ini didasari fakta bahwa tersangka merupakan terpidana teroris dan diduga kuat memiliki jaringan di daerah lain. Untuk sementara waktu, Densus 88 Polda Kaltim dipercaya untuk penyelidikan awal. “Lebih lanjut ditangani Mabes,” ucapnya.

Sumber:http://berau.prokal.co/read/news/46531-kaltim-disusupi-kelompok-radikal.html

Bom Meledak di Gereja Samarinda
korban-bom1

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Fajar Setiawan membenarkan adanya kejadian ledakan bom di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016) sekitar pukul 10.10 wita..

“Benar tadi jam 10 lewat 10 menit ada seorang pria melintas di gereja Oukemene melempar diduga bom low explosive,” katanya.

Pria yang diduga sebagai pelaku saat ini telah diamankan dan dibawa ke Polresta Samarinda untuk dilakukan pemeriksaan.

Akibat kejadian ini jatuh korban 4 anak kecil yang saat kejadian berada di lokasi parkir gereja.

“Untuk korban ada 4 anak dan saat ini telah dibawa ke rumah sakit terdekat,” katanya singkat.

Kejadian ini pun telah jadi perbincangan di media sosial. Akun Facebook milik Freijae Rakasiwi membagikan beberapa foto di akun grup facebook Bubuhan Samarinda. Beberapa gambar itu menunjukkan beberapa sepeda motor tergeletak berhamburan depan gereja.

ledakan-bom-di-gereja-oikumene-kelurahan-sengkotek-samarinda-seberang_20161113_121637
Sumber : Tribun Kaltim

Bom Meledak di Depan Gereja Samarinda, Polri: Tetap Tenang, Jangan Terpancing

pelaku-bom

Polri meminta masyarakat tetap tenang terkait adanya aksi pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Polri akan cepat menangani perkara ini.

“Percayakan proses penegakan hukumnya kepada Polri. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada detikcom, Minggu (13/11/2016).

Bom Meledak di Depan Gereja Samarinda, Polri: Tetap Tenang, Jangan TerpancingFoto: Ledakan bom di Gereja Samarinda (William Maliki/detikcom)

Saat ini polisi masih memeriksa pria berinisial J, pelaku pelemparan bom molotov ini. Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya juga telah bicara agar masyarakat tetap tenang.

“Percayakan kepada penegak hukum untuk menangkap jaringannya,” ujar Tito.
korban-bom2

Bom Meledak di Depan Gereja Samarinda, Polri: Tetap Tenang, Jangan TerpancingFoto: Pelempar bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda ditangkap (Foto: Istimewa)

Tito menyebut, J saat ini sudah diamankan di Polresta Samarinda. J merupakan mantan napi teroris bom Puspitek, Tangerang dan bom buku di Jakarta. Polri akan mengembangkan kasus ini untuk memburu pihak-pihak lain yang terkait.

“Dia (J) gabung dengan kelompok JAT, kita akan kembangkan,” katanya.

Sumber : Detik News
http://news.detik.com/berita/d-3344203/bom-meledak-di-depan-gereja-samarinda-polri-tetap-tenang-jangan-terpancing

Jokowi Minta Kapolri Cepat Tangani Ledakan Bom di Depan Gereja Samarinda

Teror pelemparan bom molotov terjadi di depan Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, pagi tadi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah mendapatkan laporan peristiwa tersebut dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

“Ya tadi saya sudah mendapat laporan dari Kapolri,” ujar Jokowi usai menghadiri acara Rapimnas PAN di Hotel Bidakara, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Minggu (13/11/2016).

Terkait laporan yang sudah masuk, Jokowi meminta kepolisian segera mengusut kasus tersebut. Ia meminta hadirnya proses penegakan hukum yang tegas.

“Saya sudah perintahkan Kapolri untuk segera ditangani dan dilakukan sebuah penegakan hukum yang tegas, mengusut secara tuntas pelaku,” ujar Jokowi.

Bom molotov meledak di depan gereja Oikumene di Jl Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kaltim, pagi tadi. Divisi Humas Mabes Polri menyebut korban berjumlah 5 orang.

Lima orang korban luka-luka diketahui masih anak-anak. Semuanya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Abdul Muis Samarinda.

Belum diketahui apa motif pelaku melempar bom molotov saat jemaat baru saja usai melaksanakan ibadah. Polisi mengkonfirmasi bahwa pelaku berinisial J.

Kapori Jenderal Tito Karnavian sebelumnya mengatakan, pelaku adalah mantan napi yang terkait jaringan bom buku di Jakarta tahun 2011 silam.

“Pelaku sudah ditangkap. Napi kasus teror bom Puspitek di Serpong dan terkait bom buku di Jakarta 2011,” kata Tito.

Sumber : http://news.detik.com/berita/d-3344342/jokowi-minta-kapolri-cepat-tangani-ledakan-bom-di-depan-gereja-samarinda

Biang Kerok Ledakan Gereja Samarinda Ternyata Mantan Napi Teroris

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar membenarkan kabar yang menyebutkan bahwa pelaku teror bom di gereja Okumene Samarinda, Juhanda (sebelumnya disebut Juhana) pernah tergabung dalam jaringan teroris Pepy Vernando.

“Ya memang benar, Juhanda, pelaku pelemparan bom merupakan mantan napi bom Puspiptek Serpong dalam jaringan teroris Pepy Vernando,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (13/11/2016).

Ia menjelaskan, jaringan Pepy Vernando pernah membuat bom untuk diledakkan di Gejera Christ Cathedral, Serpong pada perayaan Paskah April 2011 silam.

“Setelah bebas, pelaku bergaung dengan Kelompok teroris JAD Kalimantan Timur dan mempunyai link dengan Kelompok Anshori di Jawa Timur,” lanjutnya.

Menurut Boy, saat ini Kelompok Ansori saat ini masih disupervisi. “Ada dugaan kelompok ini akan mendatangkan senjata api dari Filipina,” ujarnya.

Seperti diketahui pagi ini, Minggu (13/11/2016) Juhanda melemparkan bom molotov di depan gereja Okumene Samarinda. Ledakan bom ini melukai lima anak dan mengakibatkan empat buah motor rusak.

3 Tersangka Teroris Diduga Jaringan Kaltim

Tiga tersangka teroris yang ditangkap di daerah Tangerang, Sabtu (12/11/2011) ini, diduga merupakan kelompok tersangka Abu Omar yang ditangkap sebelumnya. Kelompok jaringan tersebut diduga merupakan jaringan kelompok teroris di Kalimantan Timur, yang memasok senjata dari Filipina.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta, Sabtu (12/11/2011). “Penangkapan tiga orang yang diduga terkait jaringan terorisme, merupakan hasil pengembangan dari penangkapan Abu Omar sebelumnya di Kalimantan Timur,” kata Boy.

Kelompok Kalimantan Timur itu diduga memasok senjata dari Filipina Selatan. Polisi antiteror masih mendalami pemeriksaan terhadap ketiga orang yang ditangkap.

Ketiga orang jaringan tersangka teroris yang ditangkap Sabtu ini di daerah Tangerang, yaitu tersangka berinisial DAP, BHD, dan A. Dalam aksi pengerebekan di Tangerang, Banten, itu polisi antiteror menemukan barang bukti berupa satu senjata api jenis M 16.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/11/12/17340146/3.Tersangka.Teroris.Diduga.Jaringan.Kaltim

Kaltara Jalur Utama Jaringan Teroris

Bergerak dalam senyap –meski kadang pula terlihat– para teroris di Indonesia menelusup dari Kalimantan Utara. Bersama mereka, dibawa pula pelbagai bahan peledak hingga senjata api untuk menebar teror di Indonesia.

Para teroris ini bukan tidak berhitung soal resiko. Paket berbahaya yang mereka bawa sudah direncanakan agar tidak mudah dideteksi dini. Itu musababnya, bahan peledak dan senjata api tak pernah dibawa via udara –pesawat, karena hampir di seluruh bandar udara (bandara) di Tanah Air dilengkapi sensor. Maka, jalur darat dan air pun menjadi dua jalan altenatif –sekaligus pilihan utama– untuk mereka lalui.

Jauh sebelum hari ini, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia atawa Mabes Polri, telah membuat pernyataan eksplisit; titik perbatasan darat di Indonesia menjadi daerah penyelundupan bahan peledak dan senjata api. Bila ditilik letak geografis di Nunukan dan Malinau –merupakan lokasi perbatasan darat– sangat memungkinkan terjadinya penyeludupan.

Kodim 0907 Tarakan sendiri pernah menyebut, ada banyak titik di perbatasan –antara Indonesia dan negara tetangga. Tapi yang paling berpotensi menjadi gerbang masuk para teroris ini ada di Kaltara, yakni melalui Tarakan.

“Karena lokasi ini bisa dilalui dengan speadboat. Kami sudah ungkap jalur distribusi mereka, tapi kami tidak tahu apakah masih digunakan atau tidak. Intinya masih kami pantau,” ucap Komandan Kodim 0907 Tarakan, Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto.

Dugaan Kodim 0907 Tarakan ini juga bukan tanpa alasan. Saat sejumlah daerah di Indonesia mengalami pelbagai kerusuhan –Poso dan lainnya– jalur ini justru ramai oleh hilir-mudik orang dengan barang bawaan.

Dugaan lainnya juga mengarah pada pola. Jika para teroris berhasil melakukan aksi di Indonesia, maka dapat dipastikan telah terjadi penyeludupan bahan peledak dan senjata api sebelumnya.

Analisa Kodim 0907 Tarakan ini juga diperkuat dengan pengakuan salahsatu mantan teroris yang tidak diungkap identitasnya ke publik. Menurut sumber terpercaya itu, mereka melewati Kaltara sebagai pintu masuk sebagai bagian dari prateror. Suplai mereka disebut-sebut datang dari 2 negara, Filipina dan Malaysia.

“Dari hasil pantauan kami, saat ini para teroris masih bersembunyi sambil melakukan konsolidasi,” tutur Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto.

Aparat bukan tanpa tindakan dini. Selain dibantu unit intel dari korps Bhayangkara, ada pula bantuan dari komando atas seperti Badan Intelijen Negara (BIN). “Kami sudah bekerja mendeteksi secara dini setiap ancaman teror,” tegas Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto.

Adangan untuk menangkal teror bukan tidak ada. Masalah klasik di perbatasan menjadi salahsatu sumber musababnya. Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto mengaku, penyelundupan ini tidak bisa ditunjukan dengan pasti.

“Kalau mau beraksi, baru mereka distribusikan bahan peledak dan senjata. Kami diperbatasan ini sangat terbatas, sehingga tidak bisa melakukan pengawasan selama 24 jam,” tuturnya.

“Memang Dibikin Senyap, Tak Boleh Ada Gerakan”

Pernah menjadi basis Islamic of State Iraq and Syria atawa ISIS pada 2015, aktivitas jaringan teroris di Kalimantan Utara diduga sudah berlangsung selama 23 tahun terakhir.

Fakta bahwa Kaltara menjadi jalur internasional keluar-masuk sejumlah anggota jaringan teroris ini diungkap Usman Fakih, Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltara. Entry point prateror itu sendiri disebut-sebut ada di Tarakan sejak 1996. Inilah jalur distribusi sumber daya manusia (SDM) terbesar Tanah Air dari-dan menuju negara Asia seperti Malaysia, Filipina, Taiwan, Moro, hingga negara-negara Timur Tengah.

“Tarakan ini sudah lama sangat dikenal di kalangan mereka sejak lama, dan jalur ini merupakan jalur terorisme dan memang di bikin senyap, tak boleh ada gerakan,” katanya. “Tetapi suatu saat nanti Tarakan akan diledakan, menjadi target dan pada akhirnya dibuat kacau,” imbuhnya.

Usman Fakih tak menampik desas-desus yang menyebut Kaltara pernah menjadi basis jaringan ISIS. Pada 2015 lalu, kisah Usman Fakih, sebuah keluarga melewati Tarakan untuk pergi ke Suriah. Maksudnya jelas; untuk bergabung dengan ISIS. Mereka terdiri dari 7 orang yang diduga kuat sebagai bagaian dari jaringan teroris internasional.

“Imigrasi Tarakan pernah kecolongan sampai 7 orang yang buat paspor ke Suriah, dan 1 orang tertangkap di Surabaya. Ini bukti kongret bahwa Tarakan ada pergerakan, bahkan ada juga yang sudah meninggal di Suriah gara-gara bergabung dengan ISIS,” tegasnya.

Provinsi yang berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak itu menjadi jalur utama untuk menyeludupkan pelbagai jenis senjata. Pun, dengan bahan-bahan pembuat bom. Informasi ini sendiri sempat dibeberkan oleh salahsatu mantan teroris yang pernah beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah.

“Ketika para teroris ini melakukan aksi di Poso, mereka mendapatkan suplai senjata dan bahan pembuat bom dari teroris di Filipina dan menggunakan jalur masuk melalui Kaltara,” ungkap Komandan Kodim 0907 Tarakan, Letkol Inf Singgih Pambudi.

Melihat geografis Kaltara, jalur laut merupakan salah satu rute penyelundupan senjata dan bahan pembuat bom yang memungkinkan untuk dilakukan.

“Mereka tidak mungkin menggunakan jalur udara, karena pengawasan di setiap bandara sangat ketat, sedangkan untuk jalur laut sangat memungkinkan, bila lewat Tarakan, Nunukan ataupun Sebatik,” ucap Singgih.

Siapa FKPT?

AKSI teror yang kian marak membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuat perpanjangan tangan. Adalah Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang kemudian dibentuk untuk membendung dan mencegah penyebaran paham radikalisme.

“FKPT sangat efektif untuk sosialisasi penanggulangan dan pencegahan terorisme hingga ke daerah dan pelosok. Karena itu perlu segera dibentuk FKPT Kaltara, selain pertimbangan berada di wilayah perbatasan, beberapa tokoh terorisme Indonesia menyebut Kaltara sebagai jalur emas, sehingga sangat rawan dengan penyebaran paham radikalisme dan terorisme, khususnya dari negara tetangga,” kata Ketua FKPT Kaltim, Hasyim Mi’radje

Bahkan, dari pantauan pensiunan Kepala Badan Kesbangpol Kaltim ini menyebut Kaltara merupakan jalur perlintasan emas, dan Nunukan sering dijadikan tempat transit para pelaku terorisme ketika hendak bepergian ke Timur Tengah dan Filipina Selatan untuk berlatih merakit bom dan berlatih gunakan senjata. Sehingga, Kaltara sangat rawan.

“Hasil pantauan itu menunjukkan bahwa FKPT sangat penting segera terbentuk di Kaltara. Apalagi Nunukan jadi pintu gerbang masuk dan keluar negeri menjadi sangat penting mendapat perhatian serius. Sebab, sudah cukup sering dijadikan tempat transit para teroris, karena itu harus segera dicegah,” ungkapnya.

Hasyim yang juga pengajar di salah satu kampus ternama di Samarinda itu membeber sejumlah unsur tergabung dalam FKPT, yakni tokoh agama, tokoh masyarakat serta instansi terkait lainnya.

“Jangan abaikan untuk ciptakan rasa kebangsaan, rasa memiliki bangsa, menciptakan rasa memiliki dan bertanggung jawab untuk mencegah terorisme. Sebenarnya, ada beberapa tokoh yang sudah disiapkan FKPT Kaltim untuk Kaltara, sehingga bisa lebih cepat adaptasi dengan tugas dan fungsinya. Saat terbentuk FKPT, maka fungsinya akan maksimal antisipasi terorisme dan radikalisme di Kaltara,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol dan Perlindungan Masyarakat Tarakan, Agus Sutanto mengaku pihaknya siap mendukung dan mendorong pembentukan FKPT. Sebab, tujuannya untuk menjaga stabilitas negara dari paham radikalisme dan aksi terorisme.

“Kami akan rekomendasi pembentukan FKPT, terlebih lagi Tarakan masuk wilayah perbatasan dan perlintasan, sangat strategis jadi pintu masuk dan keluar. Hal ini sudah terindikasi dan perlu segera dibentuk FKPT,” imbuhnya.

Terlebih lagi, awal 2015 lalu diketahui terdapat penumpang yang tertangkap di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur saat hendak berangkat ke Suriah, untuk bergabung dengan kolompok radikal Islamic of State Iraq and Syria (ISIS).“FKPT akan membuat ruang gerak pelaku teroris semakin sempit, sehingga bisa lakukan langkah antisipasi dan penyegaran ke publik,” tambahnya.

Warga Lawan Terorisme

Disebut-sebut daerahnya sebagai basis terorisme sejak tahun 1996, membuat masyarakat di Kaltara diminta waspada terhadap lingkungan mereka.

Teror bom yang mengguncang jantung kota Jakarta pada Kamis (14/1/2016) sekitar pukul 10.40 WIB, mengagetkan warga negara Indonesia, tak terkecuali warga masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara). Bagaimana tidak, penjagaan kota Jakarta yang belakangan ini terkesan ketat untuk mengantisifasi terjadinya teror bom, ternyata masih bisa dimanfaatkan pelaku teror.

Yang lebih membuat kalangan tercengang karena lokasi peledakan bom yang kabarnya menewaskan 7 orang dan puluhan mengalami luka-luka, justru dekat dengan Istana Negara, kantor Kemenhan RI dan kantor Menkopolhukam RI.

Kaltara yang jauh dari Istana Negara yang sudah pasti tingkat pengamannya juga tidak se-ketat ibukota negara, tentu rawan aksi-aksi teror bom seperti ini. Lebih-lebih Kaltara salah satu daerah di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Tanggal 2 Desember 2015 lalu, mantan teroris yang pernah menjalani pendidikan militer di Afganistan dan melakukan aksinya di beberapa negara seperti Filipina, Malaysia dan Indonesia menyempatkan bantandang ke Tanjung Selor yakni Abdurrahman Ayyub. Di sela kunjungannya itu, ia menceritakan kondisi Kaltara terkait dengan teroris.

Dihadapan masyarakat Tanjung Selor, ia mengakui jika Kaltara ini salah satu pintu keluar masuknya teroris di Indonesia. Bahkan, Kaltara, terutama Nunukan dan Tarakan merupakan pintu paling aman dilewati para pelaku teroris keluar dan masuk di Indonesia.

Nah, berkaitan dengan terror bom Sarinah yang terjadi Kamis (14/1/2016) ini dengan pernyataan mantan teroris Abdurrahman Ayyub, sebagian masyarakat Kaltara pun mulai was-was. Mereka khawatir jika Kaltara justru menjadi bascamp para teroris di Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltara Usman Fakih, S.Ag, meminta masyarakat Indonesia khususnya Kaltara, untuk tidak takut terhadap teroris.

Masyarakat harus berani melawan teroris. Selain itu, mewaspadai orang-orang yang mencurigakan disekitarnya dan segera melaporkan.

Bagi pemerintah daerah, Ketua FKPT Kaltara yang baru dilantik per 2 Desember 2015 lalu ini, mendesak untuk segera merapatkan barisan untuk mendiskusikan ikhwal keberadaan teroris maupun radikalisme. Sebab mencegah jauh lebih efektif ketimbang menindak. Sebab penindakan bisa saja menimbulkan banyak korban dan kerugian. Pemerintah daerah hendaknya tidak memandang sebelah mata terkait keberadaan FKPT.

Organisasi ini, adalah organisasi resmi bentukan pemerintah yang keberadaannya berperan penting dalam melakukan penecegahan terorisme dan radikalisme. Belakangan, bangsa ini disibukkan banyak aliran sesat, banyaknya muncul organisasi-organisasi di tengah masyarakat yang mengaku-nagku organisasi sosial, tapi ujung-ujungnya melakukan aksi terror dan membuat ketertiban dan keamanan di masyarakat jadi kacau.

Bercermin dengan hal ini, FKPT Kaltara, berharap pemerintah daerah bisa bersinergi dengan FKPT. Jangan menunggu bom meledak baru semua tiarap dan panik serta saling menyalahkan.

“Kami minta pemerintah daerah tidak mengganggap enteng ancaman teror ini. Di daerah pun bisa saja terjadi. Karenanya, kami minta pemerintah daerah segera bersinergi dengan FKPT,” imbuh Usman Fakih kepada bongkarMagz, Jumat (15/1/2016).

Pada kesempatan yang sama, dia juga mendesak BNPT untuk memaksimalkan pemberdayaan FKPT yang ada di daerah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution, terkait keberadaan FKPT.

Sementara itu, Saud Usman Nasution mengatakan, FKPT adalah organisasi strategis bentukan BNPT yang berperan penting di daerah dalam mencegah terorisme. Agar dalam pelaksanaan tugas-tugas FKPT bisa berjalan optimal, peran pemerintah daerah sangat diharapkan.

Siaga Satu di Berau

Usai aksi teror pengeboman pos polisi (pospol) dan starbucks di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/01/2016) lalu, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti langsung menginstruksikan semua personil Polri dari tingkat Polda hingga Polres yang ada di Indonesia untuk siaga satu atas ancaman terorisme.

Tak terkecuali di wilayah hukum Polres Berau, dimana Polres Berau sejak Kamis hingga Sabtu (14-16/01/2016) giat melaksanakan operasi anti teror dengan melakukan patroli dan razia–razia di jalan umum serta tempat hiburan malam (THM) yang ada di Kabupaten Berau.

Diawal razia Kamis (14/01) lalu, personil Satlantas Polres Berau berhasil mendapati dua pemuda berinisial Jp dan Sb yang membawa narkotika jenis double L, yang disimpan dalam bungkus rokok dan satu poket kecil sabu-sabu yang dibungkus kain kuning didalam dompet.

Kemudian pada pukul 21.00 wita, Sabtu (16/01), Polres Berau kembali menurunkan seluruh personilnya dalam giat siaga satu tersebut yang dipimpin langsung Kapolres Berau AKBP Anggie Yulianto Putro.

Dalam siaga satu tersebut, seluruh personil Polres Berau yang diterjunkan dibagi menjadi dua yakni operasi razia THM dan tempat umum yang dianggap rawan serta patroli balap liar yang bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Berau.

Kapolres Berau, AKBP Anggie Yulianto Putro usai operasi siaga satu menjelaskan Polres Berau telah melaksanakan patroli dan razia guna memberikan pelayanan kepada masyarakat, dimana sesuai nawacita yang pertama Presiden RI Joko Widodo yakni menghadirkan Negara disetiap kegiatan masyarakat.

“Tadi mulai pukul 21.00 wita, kami dari jajaran Polres Berau melaksanakan patroli dan razia di beberapa tempat pelayanan masyarakat. Tujuan kegiatan ini yaitu pertama, memang ini adalah kegiatan rutin yang kami laksanakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, jadi dengan hadirnya polisi disetiap kegiatan masyarakat diharapkan bahwa seluruh masyarakat Kabupaten Berau dapat menikmati malam minggu ini dengan nyaman sehingga mereka dapat leluasa beraktifitas,” ujarnya.

Dilanjutnya, dalam kegiatan ini Polres Berau melaksanakan razia di dua tempat yaitu beberapa THM serta beberapa lokasi-lokasi yang dianggap rawan.

“Yang memang kami anggap rawan dan memang sangat membutuhkan kehadiran polisi guna memastikan bahwa memang situasi Kabupaten Berau ini yang aman dan kondusif serta masyarakatnya yang uyuh, tidak ada gangguan-gangguan dari luar,” lanjutnya.

Terakhir, Anggie mengatakan kegiatan ini juga sesuai perintah Kapolri yang disampaikan ke Kapolda Kaltim, Irjen Pol Safaruddin dan langsung teruskannya kepada seluruh staf Polres Berau, sampai dengan jajaran terdepan yaitu Polsek dan para Bhabinkamtibmas untuk melaksanakan siaga satu.

“Seperti kita ketahui bersama, memang beberapa pelaku teror yang melaksanakan aktifitas dan dua hari yang lalu di Jakarta, namun insya allah Berau tidak ada tetapi bukan berarti kita menganggap sepeleh atau underistiment bahwa tidak ada kemungkinan, kami tetap selalu siap sedia. Kami melaksanakan kegiatan dengan menggandeng seluruh masyarakat, beberapa aparatur Pemda sampai ditingkat kecamatan, kampung atau kelurahan bahkan RT dan RW. Semoga dengan kegiatan-kegiatan ini dapat memberikan perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat sehingga benar-benar dapat menikmati hidup nyaman di Kabupaten Berau ini,” tutupnya.

Diketahui, Polres Berau juga bekerjasama dengan TNI angkatan darat yakni Kodim 0902/TRD, dimana Dandim Kodim 0902/TRD Letkol Inf Ahmad Hadi Aljufri juga menginstruksikan kepada stafnya di tingkat Koramil melalui Danramil dan Babinsa.

Bom Gereja Loa Janan: Pelaku Residivis Bom Buku?

Pelaku pelempar bom molotov di Gereja Oikumene Jalan Dr Ciptomangunkusumo, Desa Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang, diketahui bernama Juhanda alias Jo Bin Muhammad Aceng Kurnia.

“Inisialnya adalah J. Umurnya 32 tahun. Pelaku berdomisili di Bogor,” kata Kapolores Samarinda Kombes Pol Setyobudi memberi keterangan singkat kepada Wartawan di Samarinda, Minggu (13/11/2016).

Pelaku ditangkap massa setelah berusaha kabur dengan menyeburkan diri ke Sungai Mahakam. Amukan massa tidak sampai membuatnya tewas, sehingga diamankan oleh polisi di sel Mapolresta Samarinda. Ketika ditangkap Juhanda memakai kaus bertuliskan “Jihad Way of Life”.

Informasi yang dikumpulkan beritakaltim.com menyebutkan, Juhanda alias Jo memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) dengan alamat Perum Citra Kasih Blok E No 030 Neohon Kel Masjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Namun pria ini diketahui tinggal di dekat TKP (Tempat Kejadian Perkara), yakni di Masjid tanpa nama Jalan Cipto mangunkusumo Rt. 4 Kel. Sengkotek Kec. Samarinda Seberang.

Nama Juhanda alias Jo diduga adalah orang yang sama dengan salah satu dari tiga pelaku bom buku di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, dan Serpong, Tangerang, Banten. Ia divonis penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat nomor : 2195 / pidsus/2012/PNJKT.BAR tgl 29 Feb 2012 dengan hukuman 3 tahun 6 bulan kurungan.

Namun Juhanda akhirnya dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi idul fitri tanggal 28 Juli 2014.

Aksi pelemparan bom molotov di halaman depan Gereja Oikumene, sekitar pukul 10.30 Wita, Minggu (13/11/2016), mengakibatkan 4 sepeda motor rusak dan 4 anak-anak mengalami luka bakar.

Sumber : http://beritakaltim.com/?p=22143

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s