Galeri

Anies Baswedan Sunni Tapi Tak Menyesatkafirkan Syi’ah

066992100_1474646548-20160923-gaya-anies-dan-sandiaga-saat-mendaftar-di-kpud-jakarta-immanuel-antonius-010

Pilkada DKI ternyata masih belum berakhir dan warga Jakarta akan menunggu sekitar dua bulan lagi untuk kembali memilih diputaran kedua pada tanggal 19 April 2017 itu artinya perang opini, perang isyu dan hiruk pikuk pilkada akan masih terus berlangsung.

Isyu terbaru adalah Anies Baswedan seorang Syi’ah. Seperti dalam pengakuannya bahwa sebenarnya ia tak merasa perlu untuk menanggapi isyu tersebut tetapi karena dalam suasana pilkada dimana dengan berbagai cara dilakukan orang untuk saling serang, saling fitnah dan melakukan pembunuhan karakter sangat massif dan gencar, maka ketika banyak pertanyaan yang ditujukan tentang identitas kesilamannya Anies merasa perlu memberikan jawaban dan klarifikasi bahwa ia adalah seorang Sunni bukan Liberal, bukan Syi’ah apalagi Wahabi.

Inilah potret kebangsaan kita hari ini, potret kaum Muslimin yang robek dan tergerus oleh isyu-isyu sektarian yang sangat kontraproduktif. Itulah produk fanatisme yang melahirkan intoleransi dan perseteruan antar sesama anak bangsa dan sesama kaum muslimin.

Anies Baswedan seorang Sunni dan itu clear seperti yang dinyatakannya sendiri dalam berbagai diskusi dan kampanye. Anies sendiri tak habis pikir darimana korelasinya dirinya sehingga dirinya dihubung-hubungkan dengan Syi’ah.
Anies tak perlu bingung darimana isyu Syi’ah itu bermula karena kita bisa lihat dari berita dan opini kelompok mana yang selama ini sangat mahir dalam menggoreng isyu dan provokasi kebencian sektarian, ya siapa lagi kalau buka kelompok Salafi Wahabi yang selalu mendekreditkan Anies sejak pilpres dua tahun yang lalu karena kelompok ini sangat anti Jokowi.
anies-fpi
Alasan pertama Anies dituduh Syi’ah karena bersikap appreciate, toleran dan tak pernah mau menyesatkafirkan terhadap mazhab tertua di dalam Islam itu. Dalam banyak kesempatan Anies memang kerap bersikap toleran dan tak gebyah uyah untuk menyesatkan Syi’ah seperti pernyataannya berikut bahwa tidak ada yang baru mengenai perbedaan dan keragaman di Indonesia. Syiah telah ada sejak Islam masuk di Indonesia, usia Syi’ah di negeri ini setua Islam itu sendiri. Yang mesti kita pertanyakan adalah mengapa tindak kekerasan itu baru terjadi akhir akhir ini bukan setahun yang lalu, bukan sepuluh atau seratus tahun yang lalu. “Disinilah kita akan menemukan jawaban yang lebih mendekati kebenaran ketimbang membahas perbedaan teologi’.

Kedua Anies dikenal sebagai Rektor Paramadina yang pendirinya juga dikenal appreciate dengan mazhab Syi’ah yaitu Almarhum Kyai Haji Nurcholis Majid dan alasan ketiga Anies Baswedan bersama Haidar Bagir dan anggota KAHMI menyelenggarakan konferensi Internasional tentang Ukhuwah Islamiyah dan konferensi itu bertujuan mendekatkan mazhab-mazhab yang ada di dalam Islam agar saling menghormati dan menghargai sehingga, tidak terjebak dalam konflik sectarian dan melawan segala bentuk ujaran kebencian (hate speech) semua itu tertuang dalam DEKLARASI JAKARTA yang dihadiri oleh para Ulama dan cendekiawan Muslim Internasional.

Tetapi yang menarik pada pilkada 2017 ini kelompok Salafi Wahabi yang dulu memfitnah Anies sekarang merapat ke kubu Anies-Sandi dan rame-rame memberikan klarifikasi bahwa Anies bukan seorang yang bermazhab Syi’ah. Dan fitnah Syi’ah pun mulai digoreng oleh kelompok lain yaitu kelompok phobi Islam dan saingan dalam kontestasi pilkada DKI.
16503323122016163244780x390

Begtulah agama dan mazhab mereka jadikan isyu untuk menjatuhkan lawan politiknya. Mereka manfaatkan Agama untuk kepentingan dunia, mereka manfaatkan agama untuk kepentingan kekuasaan dan bukan memanfaatkan politik dan kekuasaan untuk syi’ar agama, kesucian agama mereka kotori dengan ambisi-ambisi rendah keduniawian mereka..naudzubullahi min dzaalik.

Semoga warga Ibukota semakin cerdas dan dewasa dalam memilih pemimpin terbaik yang bukan saja piawai membangun fisik tapi juga konsen membangun manusianya menjadikan Jakarta sebagai etalase Indonesia dengan keberagamannya dan the city of tolerance, sejatinya pemimpin terbaik adalah yang berkhidmat kepada rakyat dan menyebarkan nilai-nilai moral di tengah masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s