Galeri

Menag, Celana Cingkrang dan Wahabisme

Narasi cadar dan celana cingkrang sangat tepat dilontarkan oleh Menag karena ibarat mencabut sel kanker dari tubuh butuh perjuangan (gaduh) dan cukup sakit (banyak yang kebakaran jenggot), radikalisme, ekstremisme dan terorisme tidaklah lahir dari ruang hampa tampaknya Menag telah mengetahui dan memetakan potensi-potensi intoleransi dan radikalisme berlatar belakang pemahaman agama yang salah.

Cadar dan celana cingkrang hanyalah gambaran umum mereka yang intoleran dalam beragama untuk konteks Indonesia sekali lagi untuk konteks Indonesia. Sebagaimana kita ketahui radikalisme tidak diukur oleh model berpakaian semata tetapi radikalisme lahir dari sebuah pemikiran dan ideologi takfiri, model berpakaian hanya satu dari sekian banyak ciri kaum ekstremis lihatlah para bomber atas nama “jihad” hampir semua memakai celana cingkrang sebagai ciri khas mereka yang mereka yakini sebagai sebuah anjuran agama.

Walaupun tidak semua yang bercadar dan celana cingkrang adalah Intoleran dan radikal tetapi semua yang intoleran dan radikal hampir semua bercadar dan bercelana cingkrang, jama’ah tabligh contohnya juga bercelana cingkrang tapi mereka toleran dan tidak radikal.

Kenapa Menag dengan gaya militer dan menyentil celana cingkrang dan cadar? karena mereka yang lahir dari faham radikal ini yang telah meresehakan, membuat fitnah dan adu-domba di tengah umat dan yang tak kalah pentingnya adalah rekam jejak  mereka dengan menggunakan kekerasan dan telah memakan banyak korban jiwa.

Menag Fachrulrazi menekankan pernyataan-pernyataan kontroversial itu dibuatnya untuk sebagai pengingat awal.  Demikian juga pernyataan soal radikalisme dan intoleransi yang mengusung paham khilafah, ekslusifisme dan anti Pancasila. Dia meminta ma’af bila pernyataannya memicu kontroversi walaupun dengan maksud baik dan tak ada yang salah dengan pernyataan itu.

Dia memberi contoh soal larangan menggunakan cadar di lingkungan instansi pemerintahan. Demikian juga sorotan dia tentang celana cingkrang atau celana gantung. Wacana tersebut dilontarkan karena ASN memang memiliki aturan berpakaian.

“Semua ASN kembali kepada aturan menggunakan sesuai dengan aturan ASN misalnya. Teman-teman langsung bisa membaca, oh gaungnya sebelumnya sudah digaungkan. Mungkin juga berkaitan dengan celana gantung atau kaitan dengan nikab apa cadar dan sebagainya sehingga gaungnya sudah duluan kita buat sehingga pada saat muncul aturan mudah-mudahan orang tak berkejut lagi,” kata Fachrul di The Sultan Hotel & Residence, Jalan Gatot Subroto, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/11/2019).

Tulisan Alwi Shihab tentang fenomena takfirsme dan intoleransi masih sangat relevan dikutip dan dibaca ulang bagi siapa saja yang ingin memahami gerakan intoleransi dan radikal di Indonesia.

Wahabisme, Ujaran Kebencian dan Intoleransi

Oleh: Alwi Shihab

“Hari ini, penyebaran kebencian terjadi di depan mata kita. Kita bisa lihat di internet, televisi, surat kabar dan media massa lainnya.”

Yang membuat kita miris dan prihatin, kebencian yang ditebar kerap membawa embel-embel agama.

Kelompok-kelompok penebar kebencian makin hari makin marak. Ini mesti dibendung.

Dalam melihat sesuatu, jangan hanya fokus pada fenomena, perhatikan juga akarnya. Dalam melihat ISIS misalnya. Harus dilihat ideologinya.

Karena, jika hanya fokus pada nama dan fenomena, bisa saja hari ini namanya ISIS, esok namanya Kelompok Studi Quran, lusa mungkin Aswaja dst.

Jadi, kita jangan hanya melihat fenomena gerakan tanpa melihat ideologi apa yang melatari.

Apabila kita membicarakan ISIS, maka kita perlu tahu ideologi pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dia mengaku dari kelompok Wahabi Salafi. Apa itu Wahabi Salafi? Wahabi berasal dari ajaran Muhammad bin Abdul Wahab.

Salafi artinya kembali kepada salaf, kembali ke masa awal. Jadi kembali kepada yang fundamental. Kembali kepada asas prinsip awal agama Islam yang dipraktekkan oleh para sahabat pada masa Nabi dan awal sejarah keislaman.

Muhammad bin Abdul Wahab lahir di Saudi Arabia pada abad ke 18. Dia meneruskan pandangan keislaman Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah tokoh yang sangat berpengaruh (sampai-sampai almarhum Cak Nur menulis disertasi tentang tokoh ini).

Siapa sebenarnya Ibnu Taimiyah? Dan apa pandangan keagamaan Ibnu Taimiyah?

Ibnu Taimiyah lahir dan berkembang pada abad ke-12, pada masa di mana Islam dan umat Islam sdg terpuruk, setelah berjaya di Eropa dan Asia.

Pada masa itu Islam mulai menurun akibat Perang Salib. Kekuatan Mongol menguasai Baghdad.

Ibnu Taimiyah mulai melakukan refleksi dan menyatakan bahwa kemunduran Islam ini terjadi karena beberapa hal.

Agar kembali berjaya, menurut Ibnu Taimiyah, Islam harus dimurnikan kembali.

Ada empat hal yang menurut Ibnu Taimiyah harus diwaspadai oleh komunitas Islam. Yang pertama adalah filsafat.

Menurut Ibnu Taimiyah, infiltrasi filsafat ke dunia Islam merusak kemurniaan Islam, karena merupakan ilmu yg tidak dikenal pada masa Nabi saw.

Dia menyerukan kembali kepada kemurniaan Islam dan menolak filsafat. Sebab filsafat berasal dari orang-orang Yunani dan tidak diperlukan Islam.

Kalau kita cermati di Saudi Arabia segala macam ilmu diajarkan. Mulai dari ilmu agama, kedokteran, hingga teknik. Tapi tidak satupun Universitas di Saudi yang mengajarkan filsafat, Department of Philosophy tidak ada di sana.

Karena apa? Pengaruh Ibnu Taimiyah turun ke Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian diterapkan oleh tokoh- tokoh Wahabi di Saudi Arabia.

Jadi, yang pertama filsafat. Yang kedua, menurut Ibnu Taimiyah, umat Islam harus waspada terhadap tasawuf atau tarekat.

Menurutnya, tasawuf mengandung banyak infiltrasi kebudayaan Hindu-Budha. Sehingga tarekat, zikir berlebihan, meditasi dan lainnya dilarang.

Dia menegaskan, kalau mau memurnikan ajaran Islam, tasawuf dan tarekat harus jauh dari umat Islam.

Yang ketiga adalah aliran Syiah. Bagi Ibnu Taimiyah, baik Syiah ekstrim atau moderat sama saja. Intinya, Syiah harus jauh dari umat Islam.

Bicara Syiah, saya jadi teringat almarhum Cak Nur. Dalam sebuah seminar, seseorang mengecam Syiah dan mengatakan bahwa Qur’an Syi’ah lain.

Cak Nur yang saat itu menjadi pembicara langsung kembali ke rumahnya di Bintaro. Setelah ditunggu dua jam, Cak Nur kembali.

Ternyata Cak Nur mengambil Qur’an Styiah. Beliau mengatakan: ini bukti bahwa Qur’an Syi’ah tidak berbeda dengan Qur’an kita.

Jadi, Syi’ah menurut Ibnu Taimiyah, harus dijauhkan dari umat Islam. Yang keempat adalah komunitas Kristen.

Menurut Ibnu Taimiyah, kelompok Kristen akan merusak umat Islam.

Ibnu Taimiyah menulis buku Al Jawab as Shahih liman Baddala dinal Masih, respon akurat terhadap mrk yg telah mengubah ajaran Isa Almasih

Pengikut Kristen di masa Ibnu Taimiyah dan tentunya sampai sekarang dianggap oleh Ibnu Taimiyah akan merusak komunitas Islam.

Bisa-bisa komunitas Islam terpengaruh oleh ajaran Kristen yang begitu mengkultu
skan Nabi Isa (bahkan mengganggap Nabi Isa anak Tuhan)

Ini cikal bakal dari ideologi yang disebarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang menganggap bahwa pandangan Ibnu Taimiyah merupakan pandangan yang harus diteruskan, untuk mengembalikan kejayaan umat Islam.

Suatu pemahaman keagamaan selama tidak memaksakan kehendak boleh saja berkembang.

Asalkan tidak menggunakan kekerasan, tidak memaksakan kehendak, menganggap diri yang paling benar.

Mereka yang mengambil hak prerogatif Tuhan dan menuding orang sesat, kafir, masuk neraka, itu yang tidak kita inginkan.

Kembali ke ISIS, mereka percaya apa yang diwariskan oleh Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab harus diwujudkan, dengan mendirikan “Negara Islam”, negara yang di dalamnya tidak ada filsafat, tidak ada tasawuf, tidak ada Syi’ah, tidak ada Kristen.

Memaksakan kehendak terhadap kelompok lain jelas tidak bisa diterima, apalagi membunuh kelompok lain atas nama agama.

Jangan paksakan pandangan itu ke Indonesia, karena akan bertentangan dengan ideologi negara

Saya mengganggap bahwa ideologi mereka yang pertama-tama kita batasi.

Saat ini banyak sekolah yang mereka didirikan, tapi mengajarkan: Al-Qur’an tidak sesuai dengan Pancasila.

Mereka mengecam Pancasila, melarang upacara bendera dan tidak mengakui UUD. Padahal mereka tinggal di Indonesia.

Kita tidak katakan pemahaman itu sesat. Pemahamannya itu hanya tidak cocok dengan Indonesia, tidak cocok dengan Bhineka Tunggal Ika.

Jadi Salafi Wahabi tidak cocok di Indonesia. Analoginya: Anda mau jual overcoat di Jakarta tentu tidak cocok. Di sini udaranya panas.

Begitu pula dalam beragama, kita perlu pemahaman Islam yang tidak melawan Pancasila, yang tidak mengebiri Bhineka Tunggal Ika. ( yang menghargai perbedaan, Islam rahmatan lil alaamin yaitu Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw yang menebarkan kasih sayang bagi semesta alam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s