Tag Archives: Uncategorized

KECINTAAN SALAF TERHADAP AHLUL BAIT (CINTA PALSU PENUH REKAYASA POLITIK )

 

 CINTA PALSU, PENYELEWENGAN MAKNA DAN ASBABUN NUZUL…BEGITULAH SALAFIYYIN=WAHABI DALAM MEMBAJAK ISLAM

 

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan rijs dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)

Makna Lafadz

“ar-rijs”

Para ulama mufassirin di dalam menjelaskan maknannya terbagi menjadi beberapa ibarat (perkataan) sebagai berikut:

  1. Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syaithan. Di antara yang mengatakan demikian adalah Ibnu Zaid. (Lihat Jami’ul Bayan 10/296 dan Tafsir al-Mawardi 4/400)
  2. Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syirik, perbuatan maksiat, syakk (keragu-raguan), perbuatan dosa dan segala macam perbuatan kotor menurut syariat. Yang berpendapat demikian di antaranya adalah As-Suddi dan Al-Hasan Al-Bashri. (Tafsir Al-Mawardi 4/400)
  3. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah segala macam gangguan kejahatan, kejelekan dan perbuatan keji. Yang berkata demikian adalah Syaikh Abdurrahman As-Sa’di. (Taisirul Karimir Rahman 6/220)

Semua penafsiran para ulama di atas termasuk dalam pengertian “ar-rijs” karena mereka sering kali menafsirkan arti suatu kata dalam ayat dengan menyebutkan bagian-bagian atau unsur-unsur yang termasuk dalam pengertiannya. Hal ini harus dipahami dan diketahui oleh setiap orang yang membaca kitab-kitab tafsir, supaya dia tidak menganggap bahwa para mufassirin ber-ikhtilaf dalam menafsirkan suatu ayat sehingga harus ditarjih (dikuatkan) salah satunya sedang yang lain dibuang dan disalahkan.

“Ahlul Bait”

Para ulama mufassirin berikhtilaf di dalam masalah ini, siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini:

  1. Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini adalah ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein saja, tidak ada lagi selain mereka.

Pendapat ini dipegang kuat oleh Syi’ah Rafidlah dan mereka berdalil dengan riwayat-riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, Anas bin Malik, ‘Aisyah dan Ummu Salamah radliallahu ‘anhum. (Lihat Tafsir Al-Mawardi 4/401 dan Jami’ul Bayan 10/296)

  1. Ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saja, bukan yang lainnya. Yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah radliallahu ‘anhum. (Jami’ul Bayan 10/298 dan Tafsir Al-Mawardi 4/401 serta Ibnu Katsir 3/637-638)
  2. Ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah umum, meliputi ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang berpendapat demikian adalah Adl-Dlahhak. (Tafsir Al-Mawardi 11/401)

Asbabun Nuzul (sebab turun ayat)

Para mufassirin juga berikhtilaf dalam masalah sebab turunnya ayat ini. Kepada siapakah ayat ini turun? Mereka berikhtilaf dalam masalah ini karena mereka berikhtilaf dalam menentukan siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini? Maka perkataan para mufassirin dalam hal sebab turun ayat ini terbagi tiga:

  1. Abu Sa’id Al-Khudri, Anas bin Malik, ‘Aisyah dan Ummu Salamah radliallahu ‘anhum meriwayatkan bahwa ayat ini turun hanya kepada ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Pendapat ini dipegang kuat oleh Syi’ah Rafidlah, mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah Ali, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein, sedangkan istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sama sekali bukan Ahlul Bait dengan membawa riwayat:

“Dari Ummu Salamah beliau berkata: “Ayat ini (Al-Ahzab:33) turun di rumahku, maka Rasulullah memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, lalu menutupi mereka dengan kisa’ (baju) buatan Khaibar seraya berucap: “Mereka adalah Ahlu Bait-ku.” Kemudian beliau membaca Ayat ini (Al-Ahzab:33) dan berkata: “Ya, Allah, hilangkan dari mereka rijs dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya.” Maka aku (Ummu Salamah) berkata: “Saya bersama mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kamu diam ditempatku, dan kamu di atas kebaikan.” (Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi)

  1. Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah menyatakan bahwa ayat ini turun hanya kepada istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan:

“Ayat ini turun khusus kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saya.”

Ibnu Jarir At-Thabari meriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa beliau menyeru di pasar: “Ayat ini turun tentang istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saja.” Bahkan beliau mengatakan: “Barang siapa yang mau, aku tantang dia mubahalah(1), ayat-ayat ini turun tentang istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saja.” (Ibnu Katsir 3/637-638)

Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Pendapat inilah yang benar, karena ayat ini dan ayat sebelumnya dan sesudahnya turun kepada mereka (istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), dan karena dalam ayat-ayat itu sedikitpun tidak disinggung tentang Ali, Fathimah dan anak-anaknya radliallahu ‘anhum.” (Zubdatut Tafsir 554)

Catatan kaki (1) Mubahalah secara bahasa diambil dari kata bahala yang artinya: melaknat. Sedangkan menurut istilah mubahalah adalah dua pihak yang saling melaknat dan berdoa kepada Allah untuk membinasakan yang palnig bersalah diantara keduanya.

  1. Pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.

Diantaranya para ulama mufassirin yang berpendapat demikian adalah:

  1. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 3/368, beliau berkata: “Kalau yagn dimaksud bahwa istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah sebab turunnya ayat ini, bukan yang lainnya maka itu benar. Tetapi kalau yang dimaksud bahwa istri-istri Nabi adalah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini, bukan yang lainnya, maka itu perlu dilihat kembali karena adanya riwayat-riwayat yang menunjukan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini adalah umum.”
  2. Abu Abdillah Al-Qurtubi, beliau mengatakan: “Dhahir ayat ini menunjukan bahwa ayat ini umum mencakup semua Ahlul Bait, istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.” (Al-Jami’ lil Ahkamil Qur’an 14/119)
  3. Al-‘Alamah Muhammad Amin As-Syanqithi dalam tafsir beliau yang masyhur Adlwaul Bayan 6/576.

Pendapat yang ketiga inilah yang lebih kuat sebagaimana perkataan mereka tentangnya.

Syubhat dan Bantahannya

Syi’ah Rafidlah berdalil dengan ayat ke 33 surat Al-Ahzab dan hadits kisa’ (baju) yang telah disebutkan lafadznya di atas, menyatakan bahwa Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein saja, sedangkan istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sama sekali bukan Ahlul Bait. Kemudian mereka mencerca, mencela dan menjelek-jelekan Ummahatul Mukminin istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Di antara syubhat mereka adalah:

  1. Dalam ayat ini disebutkan kata-kata “yuthahhirukum” dan “’ankum” dengan menggunakan kata ganti “kum” yang menunjukan arti jama’ (banyak) dan mudzakkar (laki-laki).

Mereka mengatakan: “Hal ini merupakan bukti bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini adalah ‘Ali, Hasan dan Husein saja, sebab kalau yang dimaksud adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, niscaya akan digunakan kata-kata “yuthahhirukunna” dan “’ankunna” dengan menggunakan kata ganti “kunna” yang menunjukan makna wanita.”

Maka dijawab: “Tadi telah disebutkan aqwal (ucapan) para ulama tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini dan juga telah disebutkan bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang ketiga yang mengatakan bahwa ayat ini umum, mencakup mereka semua. Kemudian mengapa menggunakan kata ganti orang “kum“? Karena ‘Ali, Hasan dan Husein termasuk dalam pengertian “Ahlul Bait” dalam ayat ini, sedangkan dalam kaedah ilmu nahwu yang telah disepakati oleh orang-orang arab menyatakan:

“Kalau mudzakar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul maka didominankan mudzakar…” (lihat Al-Jami’ lil Ahkamil Qur’an 14/119 dan Adlwaul Bayan 6/578-579)

  1. Syubhat mereka yang kedua adalah hadits kisa’ (baju) yang telah disebutkan tadi.

Mereka mengatakan: “Hadits ini sharih (jelas) menunjukan bahwa istri-istri Nabi bukan Ahlul Bait, tetapi yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.”

Bantahan terhadap syubhat mereka yang satu ini kita serahkan kepada Al-Muhaddits Al-‘Alamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidzahullah. Beliau dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits As-Shaih ah jilid 4 hal.359-360 dengan nomor hadits 1761 mengatakan:

“Ahlul Bait Nabi pada asalnya adalah istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Termasuk pula dalam As-Shiddiqiyah ‘Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq radliallahu ‘anhuma sebagaimana yang jelas dinashkan dalam firman Allah Ta’ala surat Al-Ahzab ayat 33:

“…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan ar-rijs dari kamu, hai Ahli Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab:33)

Bukti kalau ahlu bait di sini adalah istri-istri Nabi adalah ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan anggapan Syi’ah (Rafidlah) bahwa Ahlul Bait dalam ayat ini adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein saja tanpa istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hal itu adalah bagian dari tahrif (penyelengan makna) mereka terhadap ayat-ayat Allah yang mereka lakukan untuk menolong, membantu dan membela hawa nafsu dan kebid’ahan mereka. Adapun hadits kisa’ dan yang semakna dengan itu kemungkinan terbesar yang dimaksud adalah penunjukan perluasan ayat (yakni ayat ini umum mencakup istri-istri Nabi berikut ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein).”

Jadi jelas dengan penjelasan Syaikh Nashiruddin bahwa hadits ini menunjukan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein termasuk dalam pengertian Ahlul Bait dalam ayat ini dan bukan menunjukan bahwa mereka yang dimaksud dengan Ahlul Bait secara khusus.

  1. Satu lagi syubhat yang mereka gunakan untuk memperkuat dan membela hawa nafsu mereka yaitu perkataan mereka: “Ahlul Bait di sini adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, dan seharusnya letak ayat ini (Al-Ahzab:33) bukan di sini karena ayat ini berbicara masalah laki-laki yaitu ‘Ali, Hasan dan Husein, sedangkan ini (Al-Ahzab) berbicara tentang wanita (yakni istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), namun karena kebiasaan para shahabat yang jelek akhirnya ayat ini dimasukkan pada surat ini. Mereka mempunyai kebiasaan jelek yaitu menyelipkan satu ayat Madaniyah pada ayat-ayat Makiyah dan sebaliknya”.

Jawaban untuk sybhat ini adalah bahwa tuduhan mereka kepada para shahabat dengan tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasarkan dengan dalil, tetapi semata-mata dari nafsu syaithaniyyah mereka. Hal ini terbukti dengan melihat hal-hal berikut:

  1. Disebutkan dalam kitab-kitab Ushulut Tafsir bahwa di dalam surat-surat Makiyyah terdapat satu ayat Madaniyyah atau satu ayat Makiyyah dalam surat Madaniyyah sehingga tidak heran kalau kita mendengar para ulama mengatakan: “Surat ini Madaniyyah kecuali ayat ini, dia adalah ayat Makiyyah“, atau “Surat ini Makiyyah kecuali ayat ini, dia adalah ayat Madaniyyah.” Bahkan disebutkan dalam buku-buku Ushul Tafsir adanya ayat yang turun di Makkah tapi mempunyai hukum ayat Madaniyyah. Atau ayat yang turun di Madinah tapi mempunya hukum ayat Makiyyah dan lain-lain.” (Lihat ‘Ulumul Qur’an hal. 55-56)
  2. Imam Ibnu Abi Al-‘Izzi Al-Hanafi mengatakan: “Sesungguhnya masalah mentartibkan (mengurutkan) surat-surat adalah masalah yang tidak diharuskan secara nash. Oleh karena itu susunan mushhaf Abdullah bin Mas’ud berbeda dengan susunan mushhaf Utsman bin ‘Affan. Tetapi kalau masalah mentartibkan ayat-ayat dalam surat itu adalah masalah yang tetap dengan nash, maka mereka (shahabat) tidak boleh merubah-rubah urutan-urutan ayat…” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah hal. 314)

Dari penjelasan beliau kita mengetahui bahwa masalah mentartibkan surat-surat dalam Al-Qur’an adalah masalah ijtihadiyyah, sedangkan para shahabat telah ijma’ untuk mentartibkannya berdasarkan mushhaf ‘Ustman bin ‘Affan dan ijma’ mereka adalah hujjah yang qath’i karena Allah tidak akan mengumpulkan umat ini dalam kesesatan dan perkara ini telah disepakati oleh para ulama.

Adapun mesalah mentartibkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam sebuat surat itu adalah masalah yang telah ditetapkan dengan nash, maka dalam hal ini tidak boleh merubahnya.

Permasalahan ini sudah ditetapkan dengan nash, maka tidak mungkin para shahabat berani atau lancang untuk merubahnya karena mereka adalah orang-orang yang paling berittiba’ dengan sunnah rasul dan yang paling takut menyelisihi perintah rasul.

Dari sini kita mengetahui bahwa syubhat ini Rafidlah telah terjerumus ke dalam tiga perbuatan dosa, yaitu:

  1. Mencelah dan menuduh para shahabat.
  2. Secara tidak langsung telah menentang ijma’ para shahabat.
  3. Telah menentang nash.

 

Tafsir Ayat

Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya mengatakan: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kejelekan dan kekejian dari kamu hai Ahlul Bait Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan membersihkan kamu dari kotoran maksiat sebersih-bersihnya.”

(Jami’ul Bayan 10/296)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Allah mewasiatkan kepada kalian wahai Ahlul Bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk taat dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dengan ketaatan dan ketaqwaan kalian Allah akan menghilangkan dari kamu segala macam dosa yang mengotori dan merusak kehormatan kalian dan membersihkan kalian dari segala kotoran maksiat dengan sebersih-bersihnya.”

(Zubdatut Tafsir 554)

Al-Allamah Muhammad Amin As-Syanqithi dalam tafsirnya yang masyhur Adlwaul Bayan fi Tafsiril Qur’an bil Qur’an juz 6 hal. 579 mengatakan: “Yakni Allah menghilangkan rijs dari mereka (Ahlul Bait) dengan memerintahkan mereka untuk taat kepada-Nya dan melarang mereka untuk berbuat maksiat kepada-Nya karena orang yang taat kepada Allah akan dihilangkan rijs dari dirinya dan Allah akan membersihkan dari perbuatan dosa dengan sebersih-bersihnya.”

Kedudukan Ahlul Bait

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Aku tinggalkan dua perkara yang berat (besar) yang pertama adalah kitabullah, padanya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitabullah itu dan berpegang teguhlah dengannya…dan (yang kedua adalah) Ahlul Baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.” Husain (perawi hadits) bertanya kepada Zaid: “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk Ahlul Bait beliau?” Zaid menjawab: “Istri-istri beliau memang termasuk Ahlul Bait beliau tetapi yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini adalah orang yang diharamkan shadaqah setelah wafat beliau. Hushain kembali bertanya: “Lalu siapa mereka?” Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas …”

(Muslim 2408. Lihat Riyadhus Shalihin no.346 dan Ad-Durrul Mantsur 6/605)

Disebutkan oleh Ats-Tsa’labi dan Qadli ‘Ayyadl bahwa mereka adalah Bani Hasyim secara keseluruhan, sehingga termasuk pula didalamnya Al-Harits bin Abdul Muthalib dan keturunannya dan Hamzah bin Abdul Muthalib beserta anak keturunannya.

  1. Keluarga ‘Ali adalah ‘Ali sendiri, Fathimah, Hasan dan Husein beserta anak turunnya.
  2. Keluarga ‘Aqil adalah ‘Aqil sendiri dan anaknya yaitu Muslim bin ‘Aqil beserta anak cucunya.
  3. Keluarga Ja’far bin Abu Thalib yaitu Ja’far sendiri berikut anak-anaknya yaitu Abdullah, Aus dan Muhammad.
  4. Keluarga ‘Abbas bin Abdul Muthalib yaitu ‘Abbas sendiri dan sepuluh puterannya yaitu: Al-Fadlel, Abdullah, Qutsam, Al-Harits, Ma’bad, Abdurrahman, Ubaidillah, Katsir, ‘Aus dan Tamam dan puteri-puteri beliau juga termasuk di dalamnya.
  5. Keluarga Hamzah bin Abdul Muthalib yaitu Hamzah sendiri dan tiga orang anaknya yaitu Ya’la, ‘Imarah dan Umamah. (Fathul Bari 7/98)

Termasuk dalam kategori Ahlul Bait adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ummahatul Mukminin yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya dan juga orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah :

  • Khadijah binti Khuwalid,
  • Saudah binti Zum’ah,
  • ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-Shiddiq,
  • Hafshah binti ‘Umar Al-Faruq,
  • Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyyah,
  • Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyyah,
  • Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah,
  • Juwairiyyah binti Harits Al-Khuza’iyyah,
  • Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Al-Qurasyiah,
  • Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, dan
  • Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyyah.

Mereka semua adalah istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dunia dan di akhirat. (Lihat sekelumit keterangan tentang mereka dalam Ma’arijul Qabul 2/496-497 dan Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 153-154)

 

Manhaj Salaf dalam Mensikapi Ahlul Bait

Manhaj salaf dalam mensikapi Ahlul Bait adalah manhaj yang adil dan benar karena mereka mempunyai wasath (pertengahan) yang tidak dimiliki oleh yang lain. Demikian juga karena mereka berpegang erat dengan dua wahyu yang mulia, Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah dalam segala permasalahan agama. Kemudian di dalam memahami dua wahyu ini mereka kembali kepada pemahaman orang-orang yang telah diakui kebaikan dan keutamaannya dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu as-salaf as-shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in dan para a’immatul huda radliallahu ‘anhum ajmain.

Imam Abul Qasim Al-Ashbahani di dalam kitab beliau Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/489-490 mengatakan: “Dan termasuk sunnah rasul adalah cinta kepada Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya:

“…Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam keluargaku.” (As-Syura:23)

Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman menjelaskan: “Kewajiban kita kepada Ahlul Bait adalah mencintai mereka, berwala’ kepada mereka, menghormati dan memuliakan mereka karena Allah. Kita berbuat demikian karena mereka adalah sanak kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena keislaman mereka dan karena mereka telah mendahului kita dalam menolong dan membela agama Allah. Kalau kita mencintai, menghormati dan memuliakan mereka berarti kita mencintai, menghormati dan memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam…”

(As’ilah wa Ahwibah ‘alal ‘Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 308-309)

Tarjamul Qur’an Hibrul Ummah Abdullah bin ‘Abbas radliallahu ‘anhum menjelaskan: “Kita tidak boleh mengingkari orang-orang yang mewasiatkan dan memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah tangga paling mulia yang dijumpai di muka bumi ini, baik dari segi nasab maupun darah keturunannya.

Lebih-lebih lagi kalau mereka adalah orang-orang yang berittiba’ kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahihah, jelas dan gamblang sebagaimana yang telah dijalankan oleh pendahulu mereka, seperti ‘Abbas dan ‘Ali serta keturunan mereka radliallahu ‘anhum ajma’in.” (Riwayat Bukhari. Lihat Ibnu Katsir 4/143)

Syaikh Shalih Fauzan mengatakan:”…kita diperintahkan untuk mencintai mereka (Ahlul Bait), menghormati dan memuliakan mereka selama mereka berittiba’ kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahihah dan istiqamah (komitmen) di dalam memegang dan menjalani syariat agama. Adapun kalau mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak istiqamah di dalam memegang dan menjalani syariat agama, maka kita tidak diperbolehkan mencintai mereka sekalipun mereka Ahlul Bait Rasul…”

(Syarh ‘Aqidah Wasithiyyah hal. 148)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin juga mengucapkan kata-kata yang senada dengan beliau dalam kitabnya Ta’liq ‘alal ‘Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 66 dan dalam kitab Muhadlarat Saniyyah 2/675-676.

Di bawah ini beberapa nukilan dari ucapan para ulama yang menujukan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah Salafiyah mencintai Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan mereka, karena beberapa sebab:

  1. Karena mereka adalah sanak kerabat Rasulullah.
  2. Karena anjuran untuk mencintai dan menghormati mereka.

Tetapi kecintaan Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait tidak mutlak kepada mereka semua karena masih harus diqaid (diikat) dengan syarat-syarat, antara lain:

  1. Mereka adalah orang-orang yang berittiba’ kepada sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan membelanya serta benci kepada bid’ah-bid’ah dan para pelakunya.
  2. Mereka adalah orang-orang shalih yang istiqamah dalam memegang dan menjalankan syariat agama ini.

Kalau syarat ini tidak ada pada mereka, maka Ahlus Sunnah tidak akan mencintai dan menghormati mereka.

Maka kita katakan kepada para habib, ‘Alawiyyin, Hasyimiyyin, Thalibiyyin dan ‘Abbasiyyin yang mengaku ahlul bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Kalau kalian memang ahlul bait Nabi, maka ikutilah jalan yang ditempuh oleh pendahulu kalian seperti ‘Ali, ‘Abbas dan yang lainnya, yaitu berittiba’ kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, membela, mengamalkan dan mendakwahkannya serta memerangi kebid’ahan yang melecehkan sunnah Rasul dan para pelaku bid’ah.

Kalau memang kalian Ahlul Bait Nabi yang ingin dicintai kaum muslimin, dihormati dan dimuliakan oleh mereka, maka janganlah kalian melakukan perbuatan bid’ah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan perbuatan syirik yang dikecam oleh Allah dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bati siapa yang dikehendaki-Nya…”(An-Nisaa’:48)

Janganlah kalian mengadakan haul-haul yang bid’ah itu, jangan kalian beristighatsah di kubur para wali sanga dan lain-lain serta jangan kalian mengerjakan perbuatan bid’ah dan syirik lainnya. Karena kalau kalian berbuat demikian, maka kami sebagai kaum muslimin tidak diperbolehkan mencintai kalian, menghormati dan memuliakan kalian bahkan kami diperintahkan untuk membenci perbuatan kalian dan memperingatkan umat ini untuk berhati-hati dari kalian dan perbuatan kalian.

Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri ketika dia memberi wasiat kepada ‘Ali bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, dia mengatakan:

“Wahai saudaraku, berusahalah kamu dengan usaha yang thayyib (halal) dengan tanganmu sendiri dan jangan sekali-kali kamu memakan dan memakan kotoran-kotoran manusia (menurut Syaikh Salim Al-Hilali, yang dimaksud kotoran disini adalah shadaqah), karena orang yang makan kotoran-kotoran manusia, dia akan berbicara dengan hawa nafsunya dan akan tunduk merendah di hadapan orang karena dia khawatir mereka akan menahan shadaqah mereka untuknya.

Wahai saudaraku kalau engkau memakan shadaqah manusia, kamu akan memutuskan lisanmu (yakni tidak bisa mengatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil) dan engkau akan memuliakan sebagian orang (yang memberimu shadaqah) serta menghinakan yang lainnya (yang tidak memberimu shadaqah), karena orang yang memberikan sebagian hartanya kepadamu (sebagai shadaqah) itu berarti dia memberikan wasakh (kotorannya) kepadamu. Maksud wasakh disini adalah bahwa harta yang dishadaqahkannya sebagai pembersih amalnya dari dosa.”

Kalau engkau makan dari hasil pemberian orang maka engkau akan cenderung menerima ajakannya bila dia mengajak kepada kemungkaran.

Wahai saudaraku! Kelaparan dan sedikit ibadah lebih baik daripada engkau kenyang dari hasil pemberian orang dan engkau banyak beribadah dengan mengharap pemberian orang. Kakek kamu Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:”Orang yang hidup dari hasil minta-minta kepada orang bagaikan orang yang menanam pohon di tanah orang lain.”

Wahai saudaraku! Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang hidup dari hasil pemberian orang melainkan dia akan menjadi orang yang hina di hadapan manusia.

Jangan sekali-kali engkau berusaha dengan usaha yang jelek (haram) kemudian kamu infaqkan untuk taat kepada Allah, karena meninggalkan usaha seperti itu adalah wajib dan Allah itu thayyib dan tidak mau menerima sesuatu kecuali thayyib…”

(Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/71-72, lihat Min Washaya Salaf hal. 39-41)

Kemudian di dalam mensikapi Ahlul Bait ini ada dua kelompok yang terjerumus ke dalam sikap ghuluw. Kelompok yang satu ekstrim kanan dan yang lain ekstrim kiri. Dua kelompok tersebut adalah.

  1. Nawashib

Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Khawarij. Mereka dinamakan demikian karena mereka sangat benci kepada Ali dan orang-orang yang sefaham dengan dia, bahkan di antara mereka ada yang mengkafirkan Ali dan yang sepaham dengannya.

Kelompok ini terjerumus ke dalam sikap tafrith (kurang) terhadap Ahlul Bait. Kesesatan mereka jelas karena mereka melanggah perintah Allah dan Rasul-Nya ynag memerintahkan kaum muslimin untuk mencintai, menghormati dan memuliakan Ahlul Bait, dan juga karena mereka menyimpang dari jalan as-salaf as-shalih.

  1. Rafidlah

Kelompok yang satu ini terjerumus dalam sikap ifrath (berlebih-lebihan). Di antara mereka ada yang menganggap bahwa Ali lebih baik dari pada Abu Bakar dan Umar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa seharusnya wahyu yang dibawa Jibril diturunkan kepada Ali (yaitu perkataan mereka: “Yang seharusnya menjadi Nabi adalah ‘Ali), bahkan ada lagi yang mengatakan bahwa Ali adalah ilah. Ada pula yang mengatakan bahwa ilmu Ahlul Bait sama dengan ilmu Allah kecuali hanya berbeda satu huruf dan ucapan-ucapan kufur mereka yang lainnya.

Kelompok yang satu ini lebih jelas lagi kesesatannya. Bahkan sebagian ulama ada yang berbendapat bahwa kelompok Rafidlah ini adalah kelompok yang kafir, yang keluar dari 72 golongan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam haditsnya.

Dalam sebuat riwayat dari Muhammad Al-Hanafiyah bahwa dia berkata kepada ayahnya yaitu Ali bih Abi Thalib.

“Aku bertanya keada ayahku: “Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?” Dia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Dia menjawab: “Umar” Aku khawatir dia akan menyebut Utsman (yang ketiga). Maka aku katakan kemudian engkau?” Dia berkata: “Aku hanyalah salah satu dari kaum muslimin.” (Bukhari 7/369 no. 3671)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Saba’ mengeluarkan kata-kata bahwa Ali adalah Nabi dan Ali adalah Tuhan, maka Ali memerintahkan untuk menggali sebuah lobang dan diisi kayu bakar kemudian dinyalakan dengan api, lalu dia memerintahkan untuk menangkap Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya kemudian dibakar di lobang yang menyala dengan api itu.

Dua riwayat ini menunjukan bahwa Ali serta Ahlul Bait yang lainnya bersikap bara’ (berlebas diri) dari Abdullah bin Saba’ (pendiri Rafidlah) dan pengikutnya dan hal ini sekaligus membongkar kepalsuan Rafidlah dalam pengakuan cinta mereka kepada Ahlul Bait. (lihat kepalsuan mereka ini dalam kitab “Syi’ah wa Ahlul Bait” oleh Hasan ilahi Dhahir)

 

Syubhat dan Bantahannya

Syiah Rafidlah menyatakan bahwa Ali dan keturunannya dari Ahlul Bait adalah orang-orang yang ma’shum dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Wahai para manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian suatu hal, kalau kalian mengambilnya maka kalian tidak akan tersesat (yaitu) Kitabullah dan ‘itrahku, Ahli Baitku.”

(HR. Tirmidzi 2/308 dan Thabrani 2680 dan hadits ini shahih dengan syawahidnya. Lihat As-Shahihah 4/355, 1761)

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggandengkan penyebutan kitabullah dan Ahlul Bait yang jika dinilai dalam kaidah ushul fiqih dikatakan bahwa:

“Berserikatnya dua hal yang digandengkan dalam masalah hukum tidak bisa dinafikan kecuali dengan dalil.”

Hal ini berarti Ahlul Bait sama dengan kitabullah dalam hal sebagai sumber hukum yang terpelihara dan itu menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum.

Kita jawab syubhat ini dengan ucapan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah, beliau menjelaskan: “Bahwasannya yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini adalah para ulama, orang-orang shalih dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dikalangan mereka (Ahlul Bait).

Al-Imam Abu Ja’far At-Thahawi rahimahullah berkata: “Al-‘Itrah adalah Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yaitu orang yang beragama dan komitmen dalam berpegang teguh dengan perintah (Nabi).”

Syaikh Ali Al-Qari juga mengucapkan perkataan senada dengan beliau: “Sesungguhnya Ahlul Bait itu pada umumnya adalah orang-orang yang paling mengerti tentang shahibul bait ( yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) dan paling tahu hal ihwalnya maka yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini adalah Ahlul Ilmi (ulama) di kalangan mereka yang mengerti seluk beluk perjalanan hidupnya dan orang-orang yang menempuh jalan hidupnya serta orang-orang yang mengetahui hukum-hukum dan hikmahnya. Dengan ini maka penyebutan Ahlul Bait dapat digandengkan dengan kitabullah sebagaimana firman-Nya:

“… dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah).” (Al-Jumu’ah:2)

Syaikh Al-Albani mengatakan: “dan yang semisalnya, firman Allah Ta’ala tentang istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)…” (Al-Ahzab: 34)

Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di kalangan mereka (Ahlul Bait). Mereka itulah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam hadits ini (hadits ‘itrah). Dan oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan salah satu dari tsaqalain (dua hal yang berat) dalam hadits Zaid bin Arqam (yang telah disebutkan) dan digandengkan dengan kitabullah.

Walhasil, penyebutan Ahlul Bait bergandengan dengan kitabullah dalam hadits ini sama seperti penyebutan sunnah khulafaurrasyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Berbegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin setelahku…”

Syaikh Ali Al-Qari’ berkata tentang hadits ini: “Karena mereka (Khulafaurrasyidin) tidak beramal kecuali dengan sunnah (rasul), maka penyebutan sunnah ini dinisbatkan kepada mereka baik karena mereka mengamalkan sunnah Rasul atau karena istimbath mereka terhadap sunnah itu.” (Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah 4/360-361)

Dari penjelasan Syaikh Al-Albani ini kita dapat mengambil dua kesimpulan yang mendasar:

  1. Bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah mereka yang mngerti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan perjalanan hidup beliau dan orang-orang yang komitmen di dalam berpegang dengannya.
  2. Setelah jelas siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini maka penyebutan mereka bergandengan dengan penyebutan kitabullah itu kedudukannya seperti penyebutan sunnah khulafaurrasyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sedangkan kita mengetahui bahwa penyebutan sunnah mereka beriringan dengan sunnah rasul adalah karena mereka tidak pernah beramal, kecuali dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sehingga penisbatan sunnah kepada mereka tidak berarti individu-individu mereka itu ma’shum.

 

Fadlilah Ummahatul Mukminin

Tujuan disebutkannya sub bahasan ini dalam masalah ini karena disamping Syi’ah Rafidlah bersikap ghuluw terhadap ‘Ali dan anak keturunannya, mereka juga mencela, mencerca dan menuduh ummahatul mukminin dengan tuduhan yang keji terutama terhadap ‘Aisyah radliallahu ‘anha. Bukan rahasia lagi bahwa tujuan mereka menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan-tuduhan yang keji tidak lain adalah untuk melenyapkan syariat agama ini. Kenapa demikian? Karena ‘Aisyah adalah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan termasuk kategori shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga jika mereka mencela, mencerca dan menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan-tuduhan yang keji maka secara tidak langsung riwayat-riwayat yang beliau bawa juga akan tercela dan pasti ditolak dan dibuang.

Dalam bahasan ini kita hanya menyebutkan fadlilah ‘Aisyah dan Khadijah radliallahu ‘anhuma saja.

 

Fadlilah Khadijah radliallahu ‘anha

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Sebaik-baik wanita (mereka) adalah Maryam binti ‘Imran dan sebaik-baik wanita (kita) adalah Khadijah binti Khuwalid.” Berkata Abu Kuraib: “Waki’ (perawi hadits) mengisyaratkan ke langit dan bumi.” (Bukhari 7/165, 3810, Muslim 15/194, 6221, Tirmidzi 5/468, 3903, Ahmad 1/84 dan Al-Lalika’I 2742)

Imam An-Nawai menjelaskan: “Maksudnya adalah bahwa masing-masing dari Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid adalah wanita terbaik di muka bumi ini pada jamannya.” (Syarah Muslim 15/194)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla dan Jibril mengucapkan salam kepada beliau radliallahu ‘anha. (Bukhari 7/166, 3820, dan Muslim 15/195, 6223)

 

Fadlilah ‘Aisyah radliallahu ‘anha

Allah berfirman dalam kitab-Nya menjelaskan tentang kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kaum munafik dan disebutkan dalam sepuluh ayat di surat An-Nur, Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah segolongan diantara kalian. Janganlah kamu kita bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar…” (An-Nur: 11-20)

Ibnu Katsir rahimahullah menejelaskan dalam tafsirnya 3/359: “Sepuluh ayat ini semuanya berkenaan tentang ‘Aisyah radliallahu ‘anha ketika dituduh oleh orang-orang munafik dengan tuduhan-tuduhan keji dan dusta… Maka Allah menurunkan pensuciannya untuk menjaga kehormatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ‘Aisyah diberi salam oleh Jibril alaihis salam. (Bukhari 7/133, Muslim 15/207, 6251, Tirmidzi 5/470/471, 3907, Abu Dawud 5232, Ibnu Majah 3696, An-Nasai dalam Usratun Nisaa 3964 dan Al-Lalika’I 2749)

 

Cacatan Penting

  1. Para ulama berselisih tentang siapa yang lebih afdlal (utama) di antara ‘Aisyan dan Khadijan. Ada yang mengatakan bahwa ‘Aisyah lebih utama dari Khadijah dan ada juga yang mengatakan bahwa Khadijah lebih afdlal dari ‘Aisyah. Tetapi pendapat yang lebih rajih (kuat) adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman As-Sa’di di dalam kitabnya At-Tanbihat Al-Lathifah hal. 95, beliau mengatakan: “Yang benar adalah bahwa keduanya masing-masing mempunya fadhilah yang tidak dipunyai yang lainnya, Khadijah mempunyai fadlilah yang tidak dimiliki oleh ‘Aisyah demikian juga ‘Aisyah dia memiliki fadlilah yang tidak dimiliki oleh Khadijah.”
  2. Para ulama telah bersepakat bahwa orang-orang yang menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan keji padahal beliau telah disucikan dari tuduhan tersebut maka dia adalah orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia telah mendustakan Al-Qur’an tetapi para ulama berikhtilaf tentang orang yang menuduh Ummahatul Mukminin selain ‘Aisyah. Tetapi pendapat yang rajih adalah bahwa orang itu kafir karena dia telah merusak dan menodai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 152-155.

Inilah pembahasan sekilas tentang Ahlul Bait dan bagaimana sikap salaf terhadap mereka ditambah dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh Rafidlah. Untuk lebih lanjut mengetahui bantahan-bantahan para ulama terhadap syubhat-syubhat mereka dapat dilihat dalam kitab Minhajus Sunnah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan di dalam berbegang kepada manhaj nubuwwah sampai akhir hayat kita. Amiin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu A’lam bish-Showab.

Maraji’:

  1. Ad-Durrul Mantsur, Imam Jamaluddin As-Suyuthi.  
  2. Adlwaul Bayan, Syaikh Muhammad Amin As-Syanqithi.  
  3. Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, Imam Abul Qasim Al-Ashbahani.
  4. Al-Jami’ lil Ahkamil Qur’an, Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi.
  5. As’ilah wa Ajwibah alal ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman.
  6. At-Tanbihat Al-Lathifah, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di.
  7. Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
  8. Jami’ul Bayan, Imam Ibnu Jarir At-Thabari.
  9. Ma’arijul Qabul, Syaikh Hafiz bin Ahmad Hakami
  10. Min Washaya As-Salaf, Syaikh Salim Al-Hilali
  11. Mudlarat Saniyah, Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin.
  12. Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  13. Sunan At-Tirmidzi, Imam Abu Isa At-Tirmidzi.
  14. Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih Fauzan.
  15. Syarah Al-‘Aqidah At-Thahawiyah, Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi, tahqiq Al-Albani
  16. Syarah Lum’atul I’tiqad, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
  17. Syarah Shahih Muslim, Imam Syarafuddin An-Nawawi.
  18. Syarah Ushul I’tiqad, Imam Al-Lalika’i.
  19. Tafsir Al-Mawardi, Imam Abul Hasan Al-Mawardi Al-Basri.
  20. Tafsir Ibnu Katsir, Abu Fida Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy.
  21. Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di.
  22. Ta’liq ‘alal ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, oleh Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin.
  23. ‘Ulumul Qur’an, Manna’ Al-Qattan.
  24. Zubdatut Tafsir, DR. Sulaiman Al-‘Asqar.

 

Sumber : Majalah Salafy edisi VIII/Rabi’ul Awal/1417/1996 hal. 39-47

Judul Artikel : Kecintaan Salaf Terhadap Ahlul Bait

Oleh : Ibnu Hudzaifah As-Sidawiy

AJARAN BATIL BERKEDOK TAUHID

Salafy/Wahaby selalu mengobarkan fitnah dan perpecahan di dalam tubuh ummat Islam semenjak zaman Ibn Taimiyah, Muhammmad bin Abdul Wahab sampai para masyaikh salafiyin terkini seperti syeikh Rabi, syekh muqbil dan lain-lain yang diikuti secara membebek oleh para asatidz salafy indonesia yang sangat gemar mengkafirkan kaum muslim yang berbeda faham dengan mereka, baik salafy yamani ataupun haraki atau salafy yang lain ada ciri utama mereka yaitu arogan dan fanatik dengan manhaj salaf dan para syeikh mereka hanya golongan mereka saja yang benar yang lainnya menyimpang bahkan kafir…kaum salafy ini tidak ada ubahnya dengan kaum khawarij yang gemar mengkafirkan sesama muslim atau lebih tepatnya kaum salafy ini adalah penjelmaan semangat khawarij di zaman ini sebagai jamaah takfir yang mewarisi semangat kaum khawarij dapat kita ambil hikmah dari ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah bahwa : ” Janganlah kalian bunuh kaum khawrij sepininggalku karena tidaklah sama orang yang menginginkan kebenaran tetapi terlepas darinya bagaikan terlepasnya anak panah dari busurnya(khawarij)dengan orang yang menginginkan kebatilan kemudian memperolehnya(mu’awiyah dan pengikutnya)mereka akan terus dilahirkan dari tulang sulbi dan rahim-rahim perempuan dan apabila muncul pembesar diantara mereka Allah akan melemahkan dan menghancurkan mereka…nah coba lihat persamaan salafy dan khawarij sama-sama suka mengkafirkan kaum muslim yg berbeda faham dgn mereka. Ribuan kitab di tulis oleh para ulama rujukan mereka dari abad ke abad dengan pondasi keyakinan yang rapuh mereka meyakini dengan dalil yang sangat kuat bahwa orang tua nabi Saaw adalah musyrik sejati bahkan Nabi sendiri mereka yakini pada awalnya juga orang yang sesat dengan dalil Naqli.. apa mungkin nabi terlahir dari orang-orang yang tidak suci ( Najis) karena alqur’an mengatakan orang=orang kafir adalah najis : “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,…’ QS. at-Taubah (9) : 28

Tidak ada seorang Nabi pun yg lahir dari ibubapa musyrik, dan inilah juga yg berlaku kpd Rasulullah saaw.

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. QS. al-Fath (48) : 23

Maka dengan keyakinan ini saja tertolaklah semua argumentasi kaum salafy bahwa mereka adalah yang paling benar belum lagi keyakinan mereka tentang persoalan yang lainya yang sangat ganjil dan menyesatkan dan mereka tengah memprovokasi umat Islam dengan ajaran bathil berkedok tauhid.

Dengan keyakinan itu tidaklah aneh dan berlebihan kalau kaum salafy ini gemar mengkafirkan kaum muslim yang berbeda faham dengan mereka karena keyakinan mereka diawali dengan pengkafiran kedua orang tua Nabi Saaw dan bahkan Nabi Saaw sendiri diyakini pada awalnya sesat sebelum menerima wahyu dengan dalil Alqur’an dan alhadist yang menurut mereka sangat jelas dan terang-benderang…Naudzubillahi min dzalik semoga kaum muslim terlepas dari keyaikanan ganjil dan menyesatkan dari kelompok takfir ini.

Sebagai kelompok takfir mereka berada di garis terdepan dalam merusak Islam dari dalam dan senantiasa mengobarkan api fitnah dan kedustaan karena takfir adalah budaya mereka dan pondasinya telah mereka pancangkan dgn sangat kokohnya mereka hukumi Ortu Nabi saaw sebagai musyrik mutlak jadi jangan heran kalau mereka dgn sangat mudahnya mengkafirkan kelompok kaum muslimin yg berbeda faham dgn mereka semudah membalikkan telapak tangan.

TAKFIR ADALH SESUATU YG PALING BURUK DI ALAM WUJUD INI, YANG LEBIH BURUK DARI ITU HANYALAH SYIRIK (HABIB UMAR BIN HAFIDZ)

Habib Muhammad Rizieq Shihab: “Fatwa MUI hanya untuk Syiah Ghulat”

Habib Riziq Shihab

“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”

Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, sering tidak adil dalam memberitakan aktivitas ormas yang dipimpinnya.

Padahal, bagi Habib Rizieq, demikian ulama vokal ini biasa disapa, FPI memiliki empat metode dalam menjalankan setiap aktivitasnya, yang jarang diungkap media-media massa. Pertama, FPI harus mengedepankan kelembutan sementara tindakan tegas hanyalah solusi akhir. Kedua, FPI hanya concern terhadap jenis “kemaksiatan” yang sudah disepakati, bukan yang masih diperselisihkan. Ketiga, FPI hanya memerangi maksiat yang dilakukan secara terang-terangan dan terbuka. Keempat, FPI membagi dua wilayah: amar makruf dan nahi mungkar. Amar makruf adalah wilayah kemasiatan yang “didukung” oleh masyarakat, misalnya, karena persoalan mata pencaharian. Di sini, tidak dilakukan tindakan tegas demi menghindari konflik horizontal dan mudarat yang lebih besar.

Wilayah seperti ini adalah harus didekati dengan memperbanyak dakwah, mengirim ustad, dan melakukan pencerahan tentang buruknya maksiat. Sedangkan wilayah nahi mungkar adalah ranah kemasiatan yang sudah tidak disukai oleh masyarakat. Hanya saja karena kemaksiatan itu didukung oleh pihak-pihak yang punya kekuatan, maka masyarakat menjadi takut dan diam.

“Inilah penegakan amar makruf dan nahi mungkar model FPI yang tak pernah diungkap media,” keluh Rizieq, yang pernah mendekam di Rutan Salemba selama tujuh bulan karena dianggap menyebarkan perasaan permusuhan dan kebencian terhadap pemerintah (154 KUHP) pada Agustus 2003.
Di rumahnya yang sederhana, di Gang Bethel kawasan Petamburan, ulama berusia 43 tahun, lulusan Ummul Quro, Saudi Arabia, itu menerima Majalah SYIAR untuk berbincang seputar Islam di Indonesia.

Bisa diceritakan mengapa Anda membentuk FPI?

FPI lahir karena tuntutan situasi dan kondisi ketika kemaksiatan dan kezaliman merajalela di mana-mana, sehingga harus ada barisan umat yang berani mengambil sikap tegas, jelas, dan nyata dalam berkonfrontasi melawan kemasiatan, kemungkaran, dan kezaliman. Visi dan misi FPI adalah amar makruf dan nahi mungkar menuju penerapan Islam secara kaffah.

Ulama menjelaskan bahwa hisbah (perkara-perkara yang tidak ada dalam narasi agama tetapi tidak boleh diabaikan—red) tidak berlaku hanya pada negara tetapi juga pada perorangan. Imam al-Mawardi dalam al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, manakala negara telah melaksanakan tugas hisbah -nya, maka individu tidak wajib lagi. Cuma yang jadi pertanyaan, bagaimana bila perangkat di negara ini tidak menegakkan hisbah? Maka, kewajiban itu tidak gugur dari pundak kita.

Di Indonesia, kewajiban hisbah ada pada pundak pemerintah, penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, dan seterusnya. Manakala perangkat ini bekerja dan berfungsi secara optimal, maka organisasi semacam FPI tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, bila semua perangkat itu tidak berfungsi, maka keberadaan FPI menjadi keharusan dan kebutuhan. Sebagai bagian dari masyarakat, FPI adalah perwujudan penolakan atas kemaksiatan dan kezaliman.

Apakah Anda punya model negara ideal yang menjalankan syariat Islam?

Sekarang ini telah bermunculan negara-negara Muslim yang menjalankan hukum Islam. Di samping punya kelebihan, mereka juga punya kekurangan. Contohnya adalah Iran. Setelah Shah Iran tumbang, Ayatulah Khomeini dan pengikutnya membentuk Republik Islam Iran. Terlepas dari perbedaan mazhab yang ada, kita juga jangan lupa bahwa model kepeimipinan Islam ini kan juga terlihat di Sudan meskipun sudah diacak-acak kekuatan asing. Kalau lemah, niscaya Iran pun akan diacak-acak. Sebagaimana kita tahu, sejak memproklamasikan diri sebagai Republik Islam, Iran langsung diserang Irak, dan terjadilah Perang Teluk. Iran dikerubuti berbagai macam negara dan tekanan Barat juga tidak berkurang. Artinya, tidak ada satu pun negara Islam di dunia ini yang akan luput dari tekanan. Di Aljazair, partai Islam sudah menang pemilu tapi dikhianati.

Di kalangan Syiah, Iran sudah menjadi contoh, meskipun ada perbedaan pendapat antara Khomeini dan Muhammad Jawad Mughniyah tentang konsep “wilayatul faqih” yang belum tuntas hingga saat ini. Polemik ini adalah salah satu wujud kekurangan Iran. Sedangkan dari segi sistem politik, Iran boleh dikatakan sudah menjadi percontohan. Kita berharap ke depan akan muncul negara-negara Islam lainnya yang bisa menjadi percontohan.

Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran—red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.

Ke depan, sikap ini perlu dikembangkan. Sebetulnya banyak perbedaan Sunni-Syiah, baik dalam ushul maupun furu’. Tapi kita ingin menjawab dalam realita kehidupan sehari-hari, apakah betul tidak ada jalan untuk mendudukkan mereka bersama. Apakah betul tidak ada ruang dialog di antara mereka?

Saya lihat banyak sisi yang bisa didialogkan. Selama secara terang-terangan dan terbuka mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Usman, berarti orang-orang Syiah telah menutup pintu dialog. Mustahil ada Sunni yang mau diajak dialog kalau mendengar dari mulut Syiah sesuatu yang jelek tentang mereka. Orang Syiah mesti memahami kejiwaan dan perasaan sensitif Sunni sehingga tidak mencaci-maki atau menghina, apalagi mengkafirkan mereka.

Begitu juga sebaliknya. Sunni tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua Syiah itu kafir dan sesat. Kalau diambil, pasti sikap seperti ini akan menyakiti hati orang-orang Syiah. Ini juga akan menutup pintu dialog.
Jadi, persatuan yang saya pahami bukan soal sependapat atau tidak sependapat. Persatuan adalah masalah hati. Bila hatinya baik, berjiwa besar, mau menerima perbedaan, mau berdialog, tidak mencaci-maki, dan tidak menghina, setiap orang pasti bisa bersatu. Tapi kalau hatinya sudah busuk dan rusak, orang tidak akan pernah bisa (bersatu—red). Perbedaan kecil sedikit pun bisa menimbulkan permusuhan.

Perbedaan sekecil apa pun, bila disikapi dengan jiwa kerdil, dada sempit, sikap egois, dan mau menang sendiri, pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar, wah sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap tafâhum, dan saling hormat, insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan.

Sekali lagi, persatuan ini adalah masalah hati. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk sependapat. Mustahil. Sebab perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang akan selalu ada di setiap tempat dan zaman.

Bila Syiah mengkritik kepemimpinan Abu Bakar dengan cara ilmiah dan santun dan disertai dalil-dalil dan argumentasi yang baik, Sunni wajib menjawabnya. Kita pun mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan orang kafir yang bertanya tentang akidah kita. Seperti Ahmad Deedat terhadap pertanyaan-pertanyaan orang kafir. Begitu juga sebaliknya. Nah, kedua belah pihak (Sunni-Syiah—red) harus menjawab dengan santun.

Kalau Syiah, tanpa angin dan hujan, tiba-tiba mencaci Abu Bakar, itu sama saja ngajak perang. Kritik terhadap sahabat, yang bagi Ahlusunah adalah tabu tetapi biasa bagi Syiah, hendaknya disampaikan dengan adab, ilmiah, akhlaqul karimah, dan tidak emosional.

Membangun hal seperti ini tidaklah mudah tetapi ini bisa menyatukan hati dan langkah dalam kalimatullah. Itu yang lebih penting.

Pandangan Anda tentang Syiah di Indonesia?

Kalau yang saya lihat selama ini, hubungan saya baik dengan kawan-kawan Syiah di Indonesia. Apa yang saya sampaikan ke Anda sekarang ini juga sudah saya sampaikan kepada mereka. Contohnya kepada Ustad Hassan Daliel, saya katakan, “Bib (habib—red), kenapa kita bisa jalan bareng? Karena saya belum pernah mendengar Anda mencaci-maki sahabat. Nah, ini perlu dijaga. Yang saya dengar kritik antum juga sopan. Tapi kalau suatu saat saya mengkafirkan Anda dan Anda maki-maki sahabat, kita bisa musuhan.” Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustadz Hassan Daliel, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Agus Abubakar, Ustadz Husein Shahab, Ustadz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustadz-ustadz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu. Saya belum pernah mendengar ungkapan jelek dari mulut-mulut mereka. Yang saya tahu mereka adil, berilmu, berakal, dan beradab. Mudah-mudahan hubungan ini bisa dipertahankan. Bahkan bukan hanya itu, saya berharap orang-orang seperti mereka mampu tampil ke depan mendorong orang-orang Syiah yang di bawah atau junior-junior mereka agar tidak mencaci-maki sahabat nabi. Sebab, ada satu saja Syiah yang mencaci-maki sahabat, nanti orang-orang Sunni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Orang awam kan mudah menggeneralisasi.

Iran dikenal sebagai negara yang paling banyak membantu perjuangan Hamas dan rakyat Palestina yang notabene Sunni. Apakah kenyataan ini tidak bisa dijadikan momentum persatuan Sunni-Syiah?

Iya, betul itu. Itu hal yang saya sangat catat. Waktu saya ke Iran kemarin, Khaled Mishal (Ketua Depatemen Politik Hamas—red) baru saja pulang dari Iran, tempat yang sama dengan yang kita datangi.

Jadi, hubungan Hamas dan Hizbullah yang saling topang dan bantu seharusnya menjadi potret bagi persatuan umat. Mereka tetap pada pendapatnya masing-masing. Tapi pada saat mempunyai musuh bersama yang bernama Israel dan Amerika, kekafiran dan kezaliman, Hamas-Hizbullah bisa duduk dan jalan bersama. Kita juga bisa melihat hubungan erat antara Hasan Nasrullah (Sekjen Hizbullah—red) yang Syiah dengan Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin di Lebanon) yang Sunni. Bahkan Nasrullah ngomong secara terbuka bahwa Fathi Yakan-lah yang pantas menggantikan Siniora. Inilah potret positif yang luar biasa di zaman modern ini.

Di sisi lain, kita juga sedih bagaimana Syiah dan Sunni di Irak begitu gampang diadu domba. Ini jelas permainan pihak ketiga. Dia (pihak ketiga—red) meledakkan mesjid Syiah dan menuding Sunni, dan kemudian meledakkan mesjid Sunni dan menuding Syiah.

Saya berharap kita bisa mengembangkan potret Sunni-Syiah yang pertama. Potret yang kedua harus dihentikan segera. Sekarang di mana-mana semakin transparan adu dombanya, seperti di Irak dan Pakistan. Karena Syiah di Indonesia tidak besar, maka (adu domba itu—red) belum terasa. Tapi di beberapa tempat adu-domba ini jelas berhasil.

Syiah bukan barang baru di Indonesia. Menurut Sejarahwan, Syiah datang dari Gujarat dan Persia. Setidaknya budaya Persia cukup dikenal dalam tradisi keberagamaan di Indonesia. Apakah ini bisa jadi salah satu faktor pemersatu Sunni-Syiah?

Iya, itu bisa jadi faktor. Tapi, tetap faktor utamanya adalah masalah jiwa besar dan akhlak yang baik. Orang Syiah yang berilmu dan berakhlak tidak akan mungkin dari mulutnya keluar caci-maki kepada umat lain. Tidak ada. Saya kenal ulama-ulama Syiah yang berakhlak dan berilmu. Tidak ada keluar kata-kata kotor dari mulut mereka. Jadi, bila ada aktivis-aktivis Syiah yang mengeluarkan kata-kata kotor tentang sahabat, saya jadi heran, mereka itu ngikutin siapa?

Jadi, semua kembali ke hati, yang gambarannya bisa dilihat dari mulut. Bila mulutnya sudah penuh umpatan dan caci-maki, pasti hatinya sudah jelek. Kalau hatinya baik, dia bisa menghargai orang. Dia bisa mengetahui dan menahan ucapannya yang bisa menyinggung saudaranya. Bila ingin menyampaikan kebenaran, ia menyampaikannya dengan santun. Bahkan bila kita berhadapan dengan orang kafir, meski mungkin hatinya mencaci-maki Islam, yang menyampaikan kritiknya dengan sopan, kita mesti menjawabnya. Nabi dulu juga berdialog dengan orang musyrik, kafir, Nasrani, dan Yahudi. Itu contoh bagi kita.

Bagaimana dengan fatwa MUI yang menyesatkan Syiah?

Begini, kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat. Sebab orang Syiah pun merngakui bahwa di internal Syiah pun terdapat macam-macam golongan, dan di dalamnya ada pula yang sesat, yakni yang menuhankan Ali, meyakini Jibril salah menyampaikan risalah, dan al-Quran yang seharusnya lebih tebal daripada sekarang. Itu ada dan diakui oleh Syiah mainstream. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan fatwa MUI tadi adalah Syiah yang semacam itu.

Yang perlu disadari betul oleh Syiah adalah bahwa Ahlusunah punya sikap tegas soal sahabat. Bagi Sunni, siapa pun yang mencaci-maki dan apalagi mengkafirkan sahabat akan dikatakan sesat. Ini kunci.
Oleh karena itu, untuk mengambil jalan tengah, Syiah harus menahan diri dari mencaci-maki dan mengkafirkan sahabat. Ajaklah Sunni berdialog, seperti yang dilakukan kelompok Zaidiyah yang masih bagian dari Syiah. Kenapa Sunni dan Zaidiyah bisa akrab? Bahkan, kitab-kitab Zaidiyah, seperti Subulus Salâm dan Naylul Awthâr, dipakai di pondok-pondok (pesantren—red) Sunni.

Jadi, yang dikafirkan MUI tanpa ragu-ragu adalah Syiah yang mengkafirkan sahabat, yang meyakini al-Quran berubah, atau yang menganggap Ali lebih afdhal daripada Muhammad. Sekarang tinggal Syiah Indonesia introspeksi diri, apakah mereka masuk ke dalam ciri-ciri yang disesatkan MUI? Kalau tidak masuk dalam kelompok tersebut, tidak perlu gerah dengan fatwa itu. Saya sendiri lebih suka MUI membuka dialog. Hendaknya MUI mengundang tokoh-tokoh Syiah Indonesia untuk klarifikasi seperti apakah Syiah mereka itu.

Sekali lagi, saya berpendapat, kita tidak bisa mengeneralisasi Syiah. Sebab, Syiah itu macam-macam: ada yang moderat, konservatif, ekstrem, dan bahkan ada yang kafir. Bahkan, Muhammad Jawad Mughniyah (ulama Syiah Lebanon—red) dalam al-Fiqhu ‘ala al-Mazhâhib al-Khamsah mengatakan bahwa Syiah ghulat adalah kafir. Katanya, gara-gara ghulat, kami, Syiah Ja’fariyah, yang moderat jadi tertuduh. Waktu di Qum, saya melihat aparat menggerebek majelis Syiah Alawiyah, yang menuhankan Ali. Artinya, yang mengkafirkan Syiah ghulat bukan hanya MUI, bahkan ulama Syiah pun mengkafirkannya. Jadi kita perlu memahami konteks fatwa MUI tersebut.

Salah satu cara mendidik umat adalah menghidupkan tradisi keagamaan. Bagaimana sikap FPI?

Dari segi praktiknya, FPI tidak beda dengan NU dalam hal menjalankan tradisi Islam. FPI bukan kelompok nawasib (Sunni ekstrem—red). FPI adalah Sunni Syafi’i, meskipun tidak disyaratkan secara mutlak. Menghormati Nabi saw dan keluarganya sangat dijaga dalam FPI. Setiap anggota FPI wajib mencintai Ahlulbait, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, dan bahkan ulama sekarang. Di dalam FPI, tradisi cium tangan ulama masih berlaku. Bagi FPI, itu hanya sekadar penghormatan bukan pengkultusan, termasuk juga memperingati hari besar Islam, seperti tahun baru Hijrah, Maulid, dan Asyura yang sejarahnya diakui Sunni.

Di Indonesia, tradisi Maulid bisa (berlangsung—red) sampai 4 bulan. Di Iran, Maulid hanya diselenggarakan pada 12 hingga 16 Rabiul Awal. Tanggal 12 adalah versi Sunni sedangkan 16 versi Syiah. Berarti 1 minggu berturut-berturut (di Iran—red) diperingati Maulid sebagai bentuk penghormatan kepada Sunni-Syiah. Di Indonesia, (Maulid—red) bisa sepanjang tahun. Kadang-kadang bulan puasa pun baca Maulid. Di FPI, ratiban dibaca tiap kamis sore.

FPI juga punya munajat al-jabhah, artinya “munajat front”. Isi munajat itu adalah ratib haddad, ratib athos, wirid Syekh Abu Bakar bin Salim, dan wirid akidah Syekh Ali bin Abu Bakar as-Syakrar. Jadi, itu gabungan dari beberapa wirid yang pernah diamalkan para habaib terdahulu, seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, Habib Umar bin Abdurrahman Alathos, Syekh Abu Bakar bin Salim, dan lain-lain. Mereka ini mempunyai wirid dan munajat yang kita baca. Ada juga wirid dari Ahlulbait Nabi saw, seperti munajat Sayyidina Ali, Sayyidah Fathimah, dan Imam Ali Zainal Abidin, yang juga dibaca FPI, bukan hanya di Jakarta tetapi juga FPI di seluruh Indonesia.

Bagaimana relasi dengan kelompok Islam lain yang anti-tradisi?

Saya bergaul dengan berbagai macam kelompok. Dengan Ustad Abubakar Baasyir, saya sudah seperti keluarga. Saya anggap dia itu orang tua dan kawan. Meskipun orang tahu bahwa kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang tradisi. Beliau orang yang arif. Beliau tetap punya pendapat dan dalil tetapi tidak menyerang kita. Saya bisa duduk dan diskusi bersama. Ada urusan umat yang lebih besar daripada sekedar kebolehan dan keharaman tahlil. Ada prioritas.

Kadang-kadang kita juga bicara tentang persoalan furu’, tetapi sifatnya ringan saja. Misalnya, waktu sama-sama di Lapas Salemba, kita sempat bicara tentang qunut subuh. Saya qunut karena ikut mazhab Syafi’i. Beliau tidak pakai qunut. Suatu kali beliau bilang dapat dalil bahwa Ibnu Abbas juga pakai qunut. Artinya, beliau juga mengkaji tetapi pembicaraannya ringan dan tetap saling menghormati.

Kenapa bisa demikian? Karena kita bisa berjiwa besar dan berlapang dada. Kalau mereka tidak menyerang kita, kita juga tidak boleh menyerang mereka. Kalau sekedar kritik dengan ilmu dan adab, ya…boleh saja dan itu juga perlu dijawab dengan cara yang serupa.

Tidak bisa kita identikkan tegas dengan ekstrem sehingga membenci segala macam tradisi. Kalau Salafi mengkritik dengan baik-baik, kita juga akan menjawabnya dengan baik-baik. Tapi, kalau ada orang-orang yang mudah memusyrikkan dan mengkafirkan orang-orang yang tawasul dan tabaruk, maka sesungguhnya mereka tidak bisa membedakan antara kemungkaran yang disepakati, yang memang harus dilawan dengan tegas, dan bagian-bagian yang tidak disepakati perihal mungkar tidaknya. Ini adalah persoalan khilafiyah. Sikap terhadapnya berbeda.

Bagaimana Anda membina keluarga? Kondisi Anda sekarang ini tentu berefek juga secara psikologis kepada anak-istri?

Yang saya pahami, rumah tangga adalah miniatur dari penegakan dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sebelum (ketiga konsep itu—red) diterapkan di luar rumah tangga.

Yang saya lihat, banyak orang yang salah mengartikan konsep dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sehingga terjadi kesemrawutan definisi, pengertian, dan penerapan konsep ini. Padahal ketiga hal itu mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Meskipun secara umum, setiap dakwah pasti mempunyai kandungan amar makruf dan nahi mungkar. Setiap amar makruf dan nahi mungkar pun pasti mengandung unsur dakwah. Ketiganya saling mengisi dan terkait.

Tetapi mengapa dalam ayat tersebut, Allah membedakan ketiganya? Berarti ada fokus penekanan yang berbeda satu sama lain.

Bentuk realistisnya ada dalam rumah tangga. Dalam hadis dikatakan, anak di bawah 7 tahun tidak boleh dipaksa salat, disuruh pun tidak usah. Cukup diajak dan diberi contoh saja. Nah, mengajak itu namanya dakwah. Kenapa cuma dakwah saja? Sebab, anak kecil belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu mana baik dan buruk. Sifat khas mengajak adalah kelembutan, tidak boleh secara keras dan malah harus merayu.

Pada usia 7-10 tahun, anak sudah disuruh, bukan lagi diajak. Nabi saw mengatakan “suruh”. Ayo kita salat dan ambil wudu. Menyuruh lebih tegas daripada sekadar mengajak. Tidak ada rayuan lagi. Ini sudah masuk konsep amar makruf, seperti atasan yang menyuruh bawahan. Saat usia 10 tahun, Nabi saw menyuruh “dan pukul mereka saat berusia 10 tahun”. Begitu kita pukul untuk salat, itu sudah masuk tahap nahi mungkar.

Jadi, dakwah mesti lembut sementara amar makruf mesti keras?

Masyarakat awam yang masih belum ngerti Islam sama seperti anak yang belum berusia 7 tahun. Ini juga berlaku bagi mereka yang belum masuk Islam atau kafir. Bagi yang baru kenal Islam, anggap saja mereka baru berumur 7 tahun. Konsep amar makruf bisa diterapkan setelah mereka lama mengenal Islam tetapi bandel tidak mau melaksanakan syariat. Saat itu, kita bisa anggap mereka sebagai anak usia 10 tahun ke atas, mesti keras, dipukul, seandainya mereka coba-coba bikin maksiat.

Sikap saya dalam rumah tangga dan di luar rumah tidak jauh beda. Anak-anak saya sudah tidak kaget melihat saya perang dengan mafia. Anak-anak saya juga sudah tidak kaget bila menerima telepon bernada teror, mengancam, dan mencaci-maki. Sebab, mereka sudah kita doktrin. Mereka akan mengatakan, “wah itu musuh abah.” Yang penting kan bukan abahnya yang dibilang penjahat (tertawa). Karena itulah, anak-anak saya tidak pernah malu bila melihat saya di penjara. Mereka tetap percaya diri, tidak minder, dan malah bangga karena ayahnya di penjara demi membela agama.

Siapa guru yang paling berperan dalam membentuk karakter Anda seperti sekarang?

Dulu saya, Ustadz Hassan Daliel dan Ustadz Othman Shihab, sama-sama belajar di al-husaini bimbingan Almarhum Habib Muhsin bin Ahmad Alatas. Guru saya ini ahli fikih yang tegas. Dia akan katakan yang hitam ya hitam dan putih ya putih, yang halal ya halal, yang haram ya haram. Beliaulah yang paling banyak memberikan dorongan dan mewarnai pemikiran saya karena beliau pulalah yang mengenalkan saya sejak awal tentang apa itu Islam. Ini yang paling berkesan. Dia mengatakan yang hak itu hak, yang batil itu batil, walaupun seisi dunia akan mencerca kita. Itulah yang saya pegang sampai sekarang. Dan itulah pula yang saya terapkan dalam keluarga

************************************************************************************************************

WAWANCARA KH. Dr. Said Aqiel Siradj:
“Ja’fari, mazhab resmi Islam kelima”Bicaranya lugas khas kiai pesantren. Namun data dan istilah yang rancak terselip dalam kalimat-kalimatnya menunjukkan bahwa dia bukan sekadar kiai pesantren biasa, melainkan juga intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi dan mempunyai pergaulan yang luas. Kyai Said, demikian sapaan akrab DR. KH. Said Aqiel Siradj.

Ditemui SYI’AR di ruangannya di kantor PBNU, ulama asal Palimanan, Cirebon, ini cerita banyak tentang kunjungannya ke Qatar, sikapnya tentang kerukunan antar-mazhab, kultur Syiah dalam NU dan penjabarannya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Berikut kutipannya:

Anda bisa ceritakan tentang pertemuan Qatar?

Saya diundang dalam pertemuan Suni-Syiah di Doha, ibukota Qatar, pada 20-22 Januari 2007. Tujuannya mempersempit atau memperkecil sudut pandang Suni-Syiah yang sudah barang tentu penting sekali.
Pertemuan pada hari pertama memang panas. Terutama pihak Suni. Yusuf Qardhawi, Syekh Wahbah Zuhaili dan Syekh Ali Syabuni punya syarat bahwa mereka bisa bertemu apabila pihak Syiah menghentikan caci maki terhadap sabahat. Mereka tidak akan mau bertemu apabila Syiah masih mengatakan misalnya ‘laknat Allah’ kepada Aisyah karena Suni mengatakan ‘Semoga Allah meridhainya’.

Kemudian yang sangat disayangkan dan juga dikritik oleh Syekh Yusuf Qaradhawi adalah penyebaran Syiah di kalangan Suni. Dia juga bilang Indonesia sebagai salah satu basis penyebaran Syiah dengan menyebarkan buku-buku terjemahan dan lain sebagainya.
Lebih seru lagi, Syekh Qaradhawi di forum ini meminta Ali Taskhiri mengucapkan Aisyah radhiya Allahu anha (ra). Dan Syekh Ali Taskhiri mau melakukannya. Tidak berhenti di situ, dia juga minta semua utusan Iran mengucapkan hal yang sama seperti Ali Taskhiri. Ini kejadian yg sangat disayangkan dan sesungguhnya tidak perlu terjadi di forum yang mulia ini. Tetapi pada hari kedua sudah mulai cair.

Hasil dari seminar itu, pada intinya, masing-masing pihak menghargai peranan masing-masing dan mengendalikan kalangan ekstrim dari masing-masing mazhab. Menurut Ali Taskhiri, di kalangan Syiah memang ada juga orang-orang yang ekstrim dan fanatik dan dengan tidak bertanggungjawab mencaci maki sahabat dan Suni. Demikian pula di Suni. Sementara NU sendiri tidak pernah mencaci maki Syiah. Tapi di kalangan Wahabi memang banyak yang ekstrim. Pada pertemuan itu, saya diberi kesempatan berbicara dua kali. Pada forum tersebut, saya mengajak kedua pihak untuk masing-masing menulis buku tentang pengakuan dan penghargaan Suni terhadap Syiah dalam membangun peradaban. Begitu juga Syiah, menulis buku tentang peranan Suni dalam membangun peradaban.
Sebenarnya hal (pertemuan Suni-Syiah) ini sudah lama dilakukan oleh Syekh Syaltut dan Ayatullah Burujerdi. Hasil dari kesepakatan kedua tokoh tersebut adalah bahwa mazhab Ja’fari diajarkan secara resmi di al-Azhar. Bahkan salah satu keberhasilan tersebut adalah diakuinya mazhab Ja’fari sebagai mazhab resmi dalam Islam sebagaimana empat mazhab lainnya. Bahkan rektor Al-Azhar, Dr. Ahmad Thayyib, mengatakan banyak kaidah hukum yang diambil dari mazhab Ja’fari adalah sah, ketika tidak ditemukan pada empat mazhab. Walhasil, mazhab Ja’fari adalah setara dengan empat mazhab lainnya.

Hal apakah yang mendorong terselenggaranya pertemuan tersebut?

Saya kira pertemuan itu didorong oleh kondisi di Irak. Masing-masing menuduh. Suni menuding Iran menyuplai senjata. Demikian pula Syiah menuding kelompok Suni Irak mendapat senjata dari Saudi. Lepas dari masalah itu semua, perpecahan di Irak harus dihentikan. Para ulama di sana harus mengendalikan umatnya, karena bukan hanya sekadar perbedaan pendapat tapi juga sudah ribuan nyawa melayang di sana.

Apakah benar Iran di belakang konflik sektarian itu?

Saya tahu ini rekayasa Amerika. Saya tahu sengaja dibangun opini bahwa ini adalah konflik mazhab Suni-Syiah. Padahal ini murni politik, toh dulu tidak pernah terjadi konflik seperti ini. Saya bisa tegaskan di sini bahwa Iran, selalu dan selamanya, membela Palestina. Padahal di Palestina tidak ada Syiah, semuanya Suni. Tapi Iran matian-matian sampai berkorban dan rela ditekan Amerika karena perjuangannya bagi Palestina. Karena itu harus dipahami Iran berdiri bukan hanya untuk Syiah, bukan hanya untuk partai, tapi juga untuk Islam.

Apakah pertemuan Doha itu memang khusus untuk masalah sektarian di Irak atau memang pertemuan reguler?

Pertemuan Doha ini terdorong karena keadaan di Irak. Kalau yang reguler adalah yang di Iran dan semua pihak diundang dalam pertemuan itu. Walhasil, masing-masing pihak selalu ada yang ekstrim, dan itu salah. Di Syiah ada yang ekstrim mencaci maki Suni dan di Sunni juga tidak kurang atau kelewatan. Waktu Imam Khomeini pulang ke Iran, terbit sebuah buku yg menghujat beliau kira-kira judulnya Ja’a Daurul Majus ‘Tibalah Saatnya Majusi Kembali’. Itu sudah keterlaluan. Sebenarnya bila bicara masalah perbedaan mazhab, itu bukan konsumsi pasar. Bukan obrolan orang awam. Tapi kalau masing-masing sudah menyebarkan buku murahan dan saling caci maki dan menjadi konsumsi awam akan berbahaya sekali. Bahaya terhadap Islam.

Jadi siapa yang berhak menetralisir segala macam isu yang bisa memecah belah persatuan umat ini?

Ulama, dong. Seperti yang saya katakan tadi, Syekh Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut, mengadakan pendekatan dengan Ayatullah Burujerdi yang kemudian berdampak besar, sampai akhirnya Mazhab Ja’fari resmi dianggap sebagai mazhab kelima, selevel dengan mazhab yang empat. Apa isu Suni-Syiah demikian krusialnya sampai-sampai diadakan pertemuan Doha? Apa tidak ada isu lain?
Kenyataannya, sekarang (di Irak) sudah saling bunuh. Faktanya begitu. Dalang di belakang kejadian ini kita semua tahu. Juga isu senjata Syiah disuplai Iran dan senjata Sunni disuplai Saudi. Kita semua tahu siapa dalang sesungguhnya. Ini adalah kerjaan Amerika untuk memecah belah Irak. Tapi kan, beberapa ulama terpengaruh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Syekh Qardhawi, Wahbah Zuhaili dan Ali Syabuni barangkali terpengaruh juga oleh isu ini.

Seandainya kita bisa berbicara dengan jernih, kembali pada dasar yang paling prinsip, semua mazhab hakikatnya sama kecuali pada hal-hal yang furu’ (parsial). Kenapa kita bisa dialog dengan non-Muslim tapi tidak bisa dengan Syiah kalau tidak dibesar-besarkan oleh kepentingan politik?

TENTANG ISLAM DI INDONESIA

Ulama sedunia bisa bersatu mengenai isu Palestina. Tapi negara tempat ulama itu tinggal mempunyai policy yang berbeda. Bagaimana pendapat Anda?

Pertanyaan Anda mulai berkembang luas. Di Timur Tengah, pola pikir antara pola pikir agama dan nasionalisme belum selesai. Karena nasionalisme Timur Tengah itu universal. Banyak mengadopsi konsep Ernest Renan yang memisahkan gereja dan negara. Ketika di Eropa lahir bangsa-bangsa, sama sekali tidak ada pembicaraan tentang agama. Artinya tidak ada poin agama dalam konsep nasionalisme sehingga kaum Muslim menganggap bahwa nasionalisme adalah sekuler murni.

Pada umumnya ketika Khilafah Islamiyah di Turki tumbang pada 1924, yang menghadapi penjajah adalah kaum nasionalis. Dan mereka berhasil. Di Mesir ada Muhammad Najib, dan lain-lain. Terakhir merdeka pada zaman Gamal Abdul Naser. Begitu pula di Chad, Mitcel Aflak, Partai Ba’ats, Hafez Asad. Di Irak ada Hassan Sadr, Saddam Hussain. Mereka adalah nasionalis sekuler yang berhasil mengusir penjajah. Setelah penjajah pergi, menurut masyarakat Arab awam, nasionalis gagal membangun pemerintahan. Buktinya juga gagal. Tidak ada persatuan yang permanen. Pernah ada republik persatuan Arab yang anggotanya Mesir, Libia dan Syiria tetapi umurnya hanya satu tahun. Jadi bangsa Arab putus asa dengan ide nasionalis. Gantinya adalah Islam garis keras (hardliner). Alhamdulillah, kita wajib bersyukur di Indonesia Islam dan nasionalisme bertemu. Dalam Pancasila, sila pertama agama dan sila kedua kebangsaan. Orang luar negeri heran, bentuk apakah itu. Sebab Islam kita khas, ala indonesia, nasionalisme- relijius. Boleh dikata, tidak ada orang nasionalis yang anti agama. Begitu pula tidak ada agamis yang tidak punya semangat nasionalis.
Sejak berdirinya sampai sekarang, Nahdhatul Ulama juga kuat dengan konsep Negara Darussalam (negara damai), bukan Darul Islam, yang ditetapkan pada muktamar 1926 di Banjarmasin. Konsep Darussalam adalah negara yang mengaku semua komponen yang ada baik suku, agama dan budaya lalu digabungkan menjadi satu: negara Indonesia. Nah, nilai-nilai Islam itu ditransfer melalui semangat kebangsaan. Oleh karena itu, marilah kita isi kebangsaan ini dengan nilai-nilai agama, tidak usah dilegalkan, diformalkan, diresmikan menjadi konstitusi negara tapi cukup negara Pancasila, Republik Indonesia, bangsa Indonesia.

Jadi peradaban bangsa ini kita isi dengan nilai-nilai agama dan agama harus amalkan dan diperkuat. Itu adalah komitmen Wahid Hasyim dan Muhammad Kahar Muzakir setuju mencoret Piagam Jakarta, asal spirit dari Piagam Jakarta masih ada dalam berbangsa ini yaitu mengamalkan ajaran Islam tetapi tidak usah dilegalformalkan.

Dalam pandangan politis, pencoretan piagam Jakarta itu karena lobi orang-orang Indonesia Timur yang akan melepaskan diri dari negara kesatuan Indonesia kalau ada negara Islam?

Iya, saya sangat memahami itu. Tapi apa pun juga sebabnya, persatuan nasional, persatuan nusa dan bangsa harus diperkuat lebih dulu. Kita tidak usah berbicara tentang negara Islam karena itu pasti pecah. Sampai sekarang ini, kalau kita menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam maka akan terjadi perpecahan. Kita prioritaskan dan perkuat dulu persatuan negeri ini. Di dalam persatuan sebagai bangsa mari kita berlomba mengisi negara ini dengan nilai-nilai Islam. Contohnya begini, kalau di sana mereka membangun gereja maka kita harus membangun mesjid. Kalau di sana mereka membangun rumah sakit maka kita harus membangun rumah sakit pula. Nah, itu yang positif. Bukankah begitu? Kalau di sana mereka membangun rumah sakit, bukan rumah sakitnya yang harus dibakar. Kristen membangun gejera yang besar maka kita pun harus membangun mesjid yang besar pula. Orang Kristen membantu bencana alam maka kita pun harus begitu. Jangan sebaliknya, orang Kristen membangun gejara kok malah dibakar.

Bagaimana dengan apologi bahwa agama kita yang berasal dari Timur Tengah yang di sana sendiri agama dan nasionalisme belum bisa bertemu?

Begini, kita mempunyai dasar yaitu Piagam Madinah. Nabi Muhammad saw membentuk sebuah komunitas Muslim di Mekah selama 13 tahun. Itulah yang namakan Ukhuwah Islamiyah, ikatan persaudaran Muslim. Di sana, siapa pun yang non-Islam, walaupun dia adalah ayahnya, kakaknya, ibunya, saudaranya sekalipun bukan saudara. Sebaliknya, siapa pun yang Muslim adalah saudara. Yang Muslim saudara dan yang non-Muslim bukan saudara. Tapi ingat, itu di Mekah. Siapakah yang non-Muslim? Mereka adalah kaum musyrikin, paganis, yang tidak punya kitab suci, tidak punya budaya, tidak punya peradaban dan sebagainya. Yaitu yang Jahiliah.
Kemudian Nabi saw pindah ke Yatsrib. Dinamakan Yatsrib karena yang membangun kota itu namanya Yatsrib bin Tsabit. Di sana kita menemukan sebuah masyarakat yang plural, ada Muslim Muhajirin, penduduk asli setempat (yaitu suku Aus dan Khazraj) dan masyarakat Muslim Anshar itu sendiri, serta tiga suku Yahudi (yaitu Bani Quraizhah, Bani Qainuqa dan Bani Nadhir).
Ketika Nabi pindah ke sana, apa yang dilihat dan dihadapi berbeda pula. Muslim terdiri dari Muhajirin dan Anshar dan non-Muslimnya adalah Ahlulkitab Yahudi, bukan Musyrikin. Maka Nabi segera melakukan perjanjian damai yang menghasilkan surat kesepakatan Madinah yang ada di dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam Anshari (juz. 2 hal. 219-222).
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk membangun sebuah kota yang beradab, yang di situlah akan ditegakkan kebenaran, hukum, kesetaraan, tidak ada diskriminasi, persamaan, keadilan, kesejahteraan dan sebagainya. Tidak pandang suku, agama dan lain-lain. Maka dalam piagam Madinah itu, tidak ada satu kata pun kata “Islam” dalam Piagam Madinah. Tidak ada kata “Islam”, tidak ada kata “Al-Quran”. Yang ada hanyalah keadilan, keamanan dan lain-lain.

Poin pertama dalam piagam Madinah itu berbunyi, Innal mukminin min Quraisy, wa Yatsrib, wal-Yahud, waman tabi’ahum wa lahiqa bihim (Orang Islam Quraiys Madinah, orang Yahudi, dan siapa pun yang berkoalisi dengan mereka) innahum ummatun wahidah (mereka umat yang satu). Jadi jelaslah, masing-masing agama itu dipersilakan melaksanakan agamanya masing-masing. Terakhir, piagam ini ditandatangani (disepakati) untuk memberantas kezaliman atau untuk menghadapi kezaliman. Jadi apa pun suku dan agamanya pasti dia akan aman. Nah, Piagam Madinah itulah yang merupakan cikal bakal lahirnya konsep Tamaddun. Maka, Yatsrib diganti namanya menjadi Madinah al-Munawwarah yang berasal dari kata “Tamaddun” yaitu Masyarakat yang berperadaban dan sadar hukum, maju dan modern. Tidak ada negara Islam, tapi negara Madinah. Saya bisa buktikan. Nabi Muhammad saw mau menerima hadiah dari seorang perempuan Mesir yang notabene Ortodoks Koptik, Maryah Qibtiyah, yang kemudian oleh Nabi dikasihkan kepada Hassan bin Tsabit seorang Kristen. Nabi juga menikahi seorang perempuan dari Yahudi, Hafsah bin Huyain.
Bukti lain, ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, orang-orang Kristen Syiria, Syam, Cyprus dan lainnya lebih suka berada di bawah Madinah daripada berada di bawah kekuasaan Romawi. Ini betul-betul sudah bertamaddun (berperadaban) .

Nah, kalau selama 13 tahun di Mekkah Nabi telah membentuk komunitas Muslim yang diikat dengan Ukhuwah Islamiyah maka setelah Nabi pindah ke kota Yatsrib, Nabi membentuk Ukhuwah Madaniyah, yang kalau kita lihat berarti Ukhuwah Wathaniyah (Hubungan sebangsa dan setanah air).

Terakhir, ketika Nabi mau wafat, beliau berangkat haji dan berkhotbah di Arafah. Pada khotbah itu Nabi hanya mengucapkan, “Ya ayyuhannas, wahai manusia! Sesungguhnya nyawa, harta, dan martabat manusia itu suci mulia, seperti sucinya hari wukuf, bulan haji ini dan Batiullah di Mekkah.” Bukan wahai umat Islam, wahai Umat beragama, wahai Umat Semesta alam. Tapi wahai manusia! Di sini, Nabi Muhammad ingin menyampaikan Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan sesama manusia. Setelah itu 84 hari setelah itu Nabi Muhammad wafat.

Jadi, Nabi membangun Ukhuwah Islamiyah di Mekkah 13 tahun dan ditingkatkan di Yatsrib menjadi Ukhuwah Wathaniyah (nasionalis, nasionalis yang Wathaniyah, yang tamaddun, menjalankan kebenaran, keadilan dan bukan monotheisme) .
Dan yang terakhir Nabi bangun adalah Ukhuwah Insaniyah. Untuk ukhuwah yang terakhir ini, orang musyrik, Yahudi, Budha dan Hindu pun semuanya masuk. Semua nyawa, harta dan martabat manusia harus dihargai. Karena dia merupakan Hak Asasi Manusia. NU sendiri memiliki tiga Ukhuwah itu: Ukhuwah Islamiah, Ukhuwah Wathaniah (yang diadaptasi dari Madinah), dan Ukhuwah Insaniah.

TENTANG TEOLOGI KERUKUNAN

Pelajaran apa yang bisa kita ambil seiring dengan berkembangan Pluralitas dan Multikultural saat ini?
Satu, kita harus memahami watak orang Irak. Sejak dulu mereka susah dipersatukan. Masyarakat Irak pernah bersatu ketika ia dipimpin oleh seorang diktator yaitu Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi. Setelah itu selalu saja ada ajang pertikaian.
Irak modern sekarang ini adalah mayoritas Suni kalau dilihat dari Kurdi non-Arab dan mayoritas Syiah kalau dilihat dari Arabnya saja. Jadi (mayoritas) Arab Irak itu Syiah, sedangkan Arab Irak Suni sedikit. Tapi kalau menghitung Kurdi yang non-Arab maka Suni menjadi mayoritas.

Kita berkata terus terang: ayo, Anda mau berangkat dari mana, yang mau ditilik darimana? Bila qaumiah Arabiah (Nasionalisme Arab), maka yang akan jadi mayoritas adalah mayoritas Syiah. Untuk Suni sendiri, dia harus memasukkan suku Kurdi. Masalahnya, suku Kurdi sendiri mazlum (tertindas) selama kekuasaan Saddam Hussain. Satu-satunya presiden yang membunuh rakyatnya sendiri dengan senjata massal, terlepas adanya oposisi atau tidak, hanyalah Saddam Hussain. Di Halabja, jangankan suku Kurdi, ayam, bebek dan unggas lain yang tak tahu menahu pun, semuanya pada musnah. Banyak juga presiden yang membunuh rakyatnya sendiri secara massal tapi tidak dengan senjata pemusnah massal seperti yang dilakukan oleh Saddam Hussain.

Jadi Saddam Hussain lah yang pertama kali menggunakan senjata pemusnah massal untuk membunuh rakyatnya sendiri. Korbannya ada yang menyong mulutnya, ada yang kulitnya terkelupas dan lain sebagainya. Yang selamat pun mengalami cacat.
Dalam konteks Indonesia, pelajaran apakah yang kita bisa ambil dari konflik Irak sekarang?

Kita telah sepakat sejak dulu bahwa negara ini adalah negara Darussalam, negara yang aman dan damai. Bagaimanapun bangsa kita ini memiliki ciri dan tipologi tersendiri dengan menggabungkan atau mensinergiskan antara sila pertama dengan sila kedua, yaitu agama dan kebangsaan. Di negara lain nggak ada. Itulah kelebihan kita. Tinggal kita pelihara dan jaga saja. Konflik yang ada di negara kita ini, terus terang saja, awal mulanya ada yang bikin. Pada awal tadi, negara tidak boleh mengurusi masalah keyakinan umat beragama. Itu adalah urusan para ulama. Tapi pendapat Anda sekarang, negara perlu campur tangan?
Begini, negara itu hanya berperan menerima, menampung, dan melaksanakan aspirasi rakyat melalui ulama karena ulama adalah wakil rakyat yang sebenarnya (informal leader). Ulama menampung aspirasi rakyat, ulama sebagai jembatan yang membuat progress dengan state (negara).

Bagaimanakah dengan sikap negara yang melakukan standarisasi agama, ada agama resmi dan agama tidak resmi?

Itulah problem kita yang harus dibicarakan dengan panjang lebar. Idealnya memang tidak perlu sejauh itu. Tapi untuk mengendalikan keadaan sementara, barangkali sekarang itu masih dibutuhkan. Toh, sejak Gur Dur menjadi presiden, hal itu telah dibuka lebar. Sekarang Kong Hu Chu dijadikan agama resmi. Sekalipun di Depag belum tercatat secara resmi, tapi mereka bisa secara bebas merayakan Imlek dengan Barongsai laksana 17 Agustusan dan Imlek dijadikan hari libur nasional.

Gus Dur membela dan melindungi agama-agama minoritas seperti Kong Hu Chu. Apakah ini juga sikap resmi kaum Nahdhiyyin?
Yang namanya mayoritas itu harus membela dan melindungi yang minoritas. Ada perkembangan baru yang luar biasa ketika Nabi Muhammad saw menganggap Yahudi itu Ahlulkitab. Ketika Sayidina Umar menjadi khalifah, dia masuk ke Persia dan menjumpai kaum yang baru ditaklukkan di sana yang beragama Majusi atau ash-Shabi’ah, penyembah bintang itu. Bagaimanakah ini? Apakah mereka sama dengan musyrikin dan kafir? Keputusannya, mereka adalah Ahlulkitab. Luar biasa ijtihad Umar itu. Dalil Qurannya, “Walladzina amanu, wa Hâdu wash-Shabi’in, man amana billahi”. Jadi mereka adalah monoteis.

Bagaimana pandangan Anda tentang MUI?

MUI itu didirikan di masa Orde Baru, sama dengan KNPI. Kita husnu dzan saja ya. Waktu itu ia bermanfaat sebagai forum antar-mazhab yang mewakili kelompok Islam. Itu okelah. Tapi sekarang masanya sudah berubah. Kita harus tanyakan: Apakah MUI itu? Dikatakan ormas, jelas bukan. Karena MUI tidak punya massa.

Apakah dia semacam Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa)?

Kalau dia Darul Ifta’, ya nggak usahlah besar-besar seperti itu. Cukup 10 kyai dari berbagai mazhab yang duduk di situ, ditambah 4 atau 5 orang sekretaris, sudah cukup. Seperti Mahkamah Konstitusi atau Lembaga Kehakiman. Sampai sekarang payung hukumnya belum jelas. NU dikenal sebagai kelompok konservatif dan Muhammadiyah modernis. Sehingga NU bisa dikatakan memiliki ikatan emosional dengan tradisi-tradisi atau agama-agama lokal seperti Islam waktu telu dan Sunda wiwitan. Bagaimana pendapat Anda ?
Kita tetap harus berdakwah tentang Islam yang sebenarnya kepada mereka. Ada prinsip-prinsip ma’lum min ad-din bidh-darûrah (yaitu ada prinsip agama yang tidak bisa ditawar), seperti rukun Islam itu ada lima, rukun iman itu ada enam, Nabi Muhammad itu Nabi terakhir, al-Quran itu wahyu terakhir. Masalah rincian yang parsialnya silakan berbeda.

Kalau begitu, dari berbagai mazhab di Indonesia yang keras dan yang lunak itu, kira-kira perekatnya apa?

Tetap. Kalau mereka mereka masih meyakini rukun Iman dan rukun Islam, mereka masih dikategorikan Islam.
Soalnya masih ada kelompok yang masih mempermasalahkan masalah-masalah yang kecil-kecil begitu…
Gak apa-apa, masalah-masalah itu justru merupakan dinamika kita dalam bermasyarakat. Yang tahlil, yang nggak tahlil, yang salat tarawih 20 atau 8 rakaat itu dipersilakan.

Masih ada yang menyesatkan dan mengafirkan orang tanpa dasar. Padahal mereka tahu bahwa kelompok yang mereka kafirkan itu masih mengimani Allah, al-Quran dan sebagainya?

Kalau begitu nggak akan pernah ketemu. Jangankan dengan non-Muslim, dengan sesama Muslim pun, baik yang Persis, NU, Muhammadiyah, atau pun Syiah, tidak akan ketemu kalau itu masih dipersoalkan.

Ada kalangan yang berpendapat bahwa karena mayoritas Indonesia itu Islam dan tradisinya adalah tradisi Muslim itu maka formalisasi syariat Islam melalui Perda-perda syariat Islam akan semakin menguatkan posisi Islam Indonesia. Pandangan Anda?

Pertama-tama, yang Anda harus ketahui, berapa persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan al-Quran? Yang melek sejarah Islam saja, berapa persen? Paling-paling Cuma 12% yang bisa baca dan familiar dengan al-Quran. Kita ini masih dalam marhalah (fase) dakwah, masih jauh dari Islam yang sebenarnya kita inginkan. Yang kedua, (bila ada) teman-teman kita yang kembali ke gerakan salaf, itu bagus dan harus, sebab di dalam hadis dikatakan, “Khairu qurun, qurni tsummal ladzina yalunahum” (sebaik-baik masa adalah masaku dan masa-masa setelahku). Tapi contoh (gerakan salaf) bukan berarti memelihara jenggot dan bercelana di atas mata kaki. Kalau sekadar ingin berjenggot atau bercelana seperti itu, ya silakan.

Kita harus mengetahui bahwa tiga abad pertama Islam itu adalah masa-masa kejayaaan dan keemasan, yaitu masuknya tsaqafah (kebudayaan) hadharah (peradaban), ilmu pengetahuan, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tajwid, ilmu qiraat, ilmu nahwu, sharaf, balaghah, kedokteran, astronomi, dengan tokoh-tokohnya: Ibnu Sina, al-Farabi, al-Kindi, al-Khauqa, al-Idrisi yang ahli ilmu bumi. Semua terjadi di abad ketiga Hijriah, di samping Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Bukhari, Muslim.

Jadi, kalau kita mau bicara kembali ke salaf, ayo, saya setuju, tapi ilmunya (peradabannya) bukan hanya simbol sorbannya, jenggotnya dan juga celana yang di atas mata kaki itu. Ayo kita kembali membangun kejayaan Islam seperti salaf.

TENTANG MAULID NABI SAW

Salah satu bentuk kembali ke salaf yaitu mengagumi Nabi Muhammad saw. Tapi mengapa dalam tradisi Muslim, hanya kelahiran Nabi yang diperingati, sedangkan hari wafat ulama diperingati?

Karena Nabi Muhammad lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam, begitu lahir pun sudah menjadi rahmatan lil ‘alamin. Kalau manusia biasa selain Nabi, tidak diketahui akan menjadi apa kelak anak tersebut. Nah, setelah hidupnya terbukti bahwa dia adalah seorang yang alim, barulah wafatnya diperingati.

Kenapa haulnya Nabi tidak diperingati, hanya lahirnya saja?

Karena sejarah dan pujian-pujian dalam syar-syair itu pun hanya pada hari lahirnya saja. (Dikatakan) bahwa Nabi lahir dengan penuh lautan cahaya dan membawa kebebasan, mengangkat derajat manusia, mengubah tatanan dunia. Yang disebut-sebut itu lahirnya dan bukan haulnya. Dalam syair-syair seabrek-abrek disebutkan tentang kelahiran Nabi seperti yang terdapat di dalam Diba, Barzanji dan Burdah, Simtu Durar. Kalau Orang-orang mau menggubah syair atau sastra puji-pujian, yang ditekankan adalah kelahiran Nabi yang membawa rahmat.

Kalau haul ulama? Meniru keteladanannya, itu sebenarnya. Haul Sunan Gunung Jati, misalnya, diperingati karena beliaulah yang berjasa besar membawa Islam dan mengislamkan seluruh Jawa Barat ini. Termasuk wilayah Jayakarta, Banten, Sunda, dan Cirebon. Semuanya menjadi Muslim dan mengalahkan kerajaan Pajajaran pada waktu itu.

Mengapa penghinaan kepada sosok Muhammad mendapat reaksi yang sangat keras dibanding penghinaan kepada Allah Swt atau Tuhan?

Saya tidak akan menjawabnya secara renci. Begini, kalau ada yang mengaku dirinya tuhan, dengan sendirinya dia segera tertolak mentah-mentah oleh semua orang yang waras akalnya. Bisa terjadi ada beberapa atau sejumlah orang akan percaya dengannya. Penghina tuhan akan kualat dengan sendirinya karena Tuhan tetap saja Tuhan. Berbeda halnya ketika ada orang yang mengaku nabi itu, kita akan memprotes keras. Misalnya Nabi dikritik karena poligaminya. Sebenarnya Nabi melakukan itu sebagai siasat perang. Perlu penjelasan dan pemaparan khusus akan hal ini.

Kenapa perayaan Maulid Nabi di masyarakat NU itu lebih meriah dan lebih simbolis ketimbang di masyarakat Muhammadiyah?

Karena di sini ada budaya Syiah. NU menerima budayanya, bukan fikih atau teologinya. Budaya Syiah itu ya mencintai Nabi dan Ahlulbait. Di dalam bait-bait syair Barzanji tidak ada yang memuja dan nyanjung Abu Bakar, Umar dan Usman. Nggak ada.
Contohnya, “Kami mempunyai bapak yang sangat kami cintai, yaitu Muhammad, kami punya Ali al-Murtadha, kami punya as-Sibthain (Hasan dan Husain), kam Imam min ba’da khalafu (dan imam-imam setelahnya) seperti Ali Zainal Abidin, anaknya Muhammad al-Baqir, sebaik-baiknya wali, dan putranya ash-Shadiq (Imam Ja’far Shadiq) dan putranya Ali Ridha, begitu lho.
Jadi budaya Syiah masuk ke NU. Bahkan budaya Syiah pun masuk pesantren. Contohnya penghormatan kepada kyainya. Kalau kyainya meninggal maka yang menggantikannya adalah anaknya sekalipun secara kualitas sangat jauh berbeda. Soalnya keilmuannya, ya dia akan bisa mendapatkan dari guru-gurunya yang lain.

Kalau banyak berasal dari kultur Syiah, apakah masyarakat yang sadar akan beralih ke gaya mencintai Nabi ala Muhammadiyah?
Nggak. Silakan Maulid Nabi dan Dibaan itu dikritik, tetap saja nggak bisa hilang dari kami. Malah yang kritik itu sendiri yang terpental.Mengapa? Sebab Allah Swt sendiri yang memuji beliau. Dalam al-Quran, “Innaka la’alâ khuqin azhîm”. Dan kita punya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah pemberi syafaat sebagaimana yang tercantum di dalam hadis-hadis sahih. Orang-orang yang banyak dosanya, kalau mereka berziarah kepada Nabi Muhammad dan beristigfar, dan Nabi sendiri memintakan ampunan, pasti mereka akan diampuni dosa-dosanya. “Walau annahum zhalamû anfusahum jâ’ûka fastagfaruhumullah wastagfaruhumur- rasul. Lawajadûllaha tawwabar-rahima.”

Ada yang bertanya, apakah Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang? Jawabannya, ya. Nabi masih hidup sampai sekarang. Buktinya, “Assalamu ‘alaika” dalam tahiyat salat, “‘alaika” berarti beliau masih hidup.
Jadi, mereka yang datang ke kuburan jasad Nabi (di Madinah) lalu dia beristigfar dan Nabi memantau istigfar kita kepada Allah, maka Allah akan pasti akan mengampuni dosa-dosanya.

TENTANG KULTUR SYIAH

Suni plus kultur Syiah ini, apa hanya khas di NU saja ataukah ada di tempat lain juga?

Tidak. di Mesir Maulid Nabi semarak sekali, ada tahlilan dan tawasulan. Begitu pula di Maroko. Di Saudi nggak semua (mengharamkan) , hanya Najd dan Riyadh saja. Orang-orang Hijaz dan Madinah masih (membaca) Barzanji segala macam.
Pada dasarnya umat Islam yang ada di Nusantara ini pada umumnya, terutama NU, berhutang budi banyak terutama kepada Ahlulbait yang telah menyebarkan Islam di Nusantara sejak dahulu kala. Kita semua tahu bahwa beberapa Wali Songo itu rata-rata keturunan Ahlulbait. Karena itu budaya Ahlulbait, budaya Syiah, mempunyai kesamaan dengan budaya Islam Indonesia. Seperti tawassul kepada Sayidina Ali dan Ahlulbait lainnya. Doa-doa seperti hizib yang dibaca oleh orang-orang kampung itu dimulai dengan (mengirim) surah Al-Fatihah kepada Rasulullah dan Ahlulbait.

Tapi tradisi-tradisi seperti itu mulai menghilang dengan datangnya Wahabisme dan modernitas?

Pilar pertahanan Islam adalah budaya. Selama masih ada tahlilan, Diba, Barzanji, puja-puji kepada Rasulullah saw tidak bisa dihilangkan. Partai politik dan ormas bisa dihilangkan atau dilarang, tetapi budaya tidak bisa dihilangkan.
Hati umat Islam Indonesia dan dunia sudah terpatri dengan kecintaan kepada Rasulullah dan Ahlulbaitnya secara mendalam, terlepas dia itu Suni atau Syiah. Semuanya mencintai dan menghormati Ahlulbait.

Di Indonesia ada syair yang dibacakan kalau ada yang tertimpa musibah atau penyakit menular, yaitu: “li khamsatun utfi biha harral wabai hatimah, al-Mustafa wal murtadha wabna huma wa Fathimah” (Saya mempunyai lima orang yang bisa menolak bala yaitu yang pertama, al-Mustafa Muhammad, yang kedua al-Murtahda Ali, dan kedua anakanya Hasan dan Husain, serta yang kelima Fathimah). Itu dibacakan oleh orang-orang kampung. Luar biasa. Selama itu masih dibaca, selama itu pula budaya Syiah masih ada di Indonesia.
Dengan kata lain, Anda ingin mengatakan bahwa Wahabisme tidak bisa masuk ke dalam tradisi NU?
Ya. Silahkan mereka membuat yayasan di mana-mana, tetapi karena sudah jadi budaya itu tidak akan lepas dari NU.

Bagaimana kasus komunitas Syiah di Bondowoso yang diisukan dekat dengan NU?

Itulah yang sangat disayangkan. Saya menghimbau dan mengharapkan kepada teman-teman aktivis Syiah, jangan sekali-sekali memformalisasikan mazhab. NU tidak pernah memusuhi Syiah. Mungkin malah sayang Syiah. Tapi bagaimanapun NU kan Suni yang beraliran Asy’ari dan di bidang tasawufnya adalah al-Ghazali. Jadi, jangan sekali-kali menonjolkan formalitas mazhab. Hubungan kita dengan Ahlulbait (Syiah) sudah sangat indah sekali, tidak bisa dilepaskan atau dijauhkan antara keduanya. Orang-orang awam belum mengetahui sejauh mana budaya Syiah itu. Hanya kita-kita yang berpendidikan sajalah yang memahami semua hal itu. Memformalkan Syiah hanya akan merugikan kita semua.

Bagaimana dengan transfer khazanah keilmuan dari Persia ke budaya Indonesia?

Sangat luar biasa. Contohnya, huruf terakhir kata Arab yang diserap dalam Bahasa Indonesia yang berakhiran “h” dibaca “t”, seperti “surat”. Ini adalah budaya Persia. Ada lagi budaya Persia yang masuk ke dalam budaya Indonesia. Kalau kita membaca al-Quran, misalnya “Hudan lil-muttaqin” , maka (di akhir ayat pendengar) akan dijawab dengan “Allah” (dengan nada panjang dan lembut). Itu merupakan budaya Iran yang mencirikan kelembutan khas Iran. Mesir tidak begitu. Kalau mereka mendengar kata “Hudan lil-muttaqin” dibacakan maka mereka akan menjawab “Allahu Akbar” (dengan suara lantang). Kalau mereka mendengar orang membaca al-Quran dengan merdu kemudian tersentuh hatinya, seperti bacaan Syekh Abdul Basith, maka mereka akan berucap “Allah” (dengan keras).

Konflik antar mazhab semakin mengeras semenjak Wahabisme muncul. Bagaimana NU memahami Wahabi?

Saya memahami Wahabi bagian dari Suni, tetapi Suni versi Mazhab Hambali. Hambali sendiri adalah di antara empat (mazhab) yang paling keras. Hambali ini pun kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Taimiyah sehingga menjadi lebih keras. Operasionalnya dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, menjadi semakin keras lagi dibandingkan dengan kepala induk dari mazhab ini sendiri. Salah seorang imam yang paling keras adalah Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab lebih keras lagi daripada Ibnu Taimiyah.

Apakah yang Anda bisa simpulkan dari fenomena ini?

Kesimpulannya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam datang ke Indonesia dulu bil hikmah wal mau’izhah wal mujadalah. Dengan penuh hikmah (wisdom), akhlakul karimah, budaya, mauizhah (ceramah yang bagus), dengan diskusi dan debat yang ideal dan bagus. Semua itu dilakukan oleh Ahlulbait dan diteruskan oleh para mubalig dan para Kyai. Konon ada beberapa kyai yang keturunan Ahlulbait, tapi gelarnya dikesampingkan dan ditutupi. Saya sendiri, katanya, ada (garis) keturunan dari Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Kyai Sahal Mahfudz keturunan Sunan Kudus. Dan apalagi Gus Dur keturunan Sunan Ampel. Semua itu kembali kepada Ahlulbait. Orangtua-orangtua kita menghapus atau tidak menyebutkan al-Haddad, al-Habsyi dan sebagainya. Semua leluhur saya bliang begitu. Kakek saya semuanya keturunan Ahlulbait.

Kesimpulan kedua, karena dakwahnya bil hikmah, maka budaya itu menyatu dengan kehidupan kita sebagai orang Islam melalui salawatan, puji-pujian dan melalui doa-doa. Jadi kita tidak bisa dipisahkan dengan budaya Ahlulbait. Sekali lagi, budayanya lho, bukan akidah atau politiknya. Cara berpikir Syiah boleh kita ambil meskipun kita berfikih Syafi’i dan berakidah Asy’ari. Lama-lama ini akan menjadi sebuah budaya dan nggak usah ditutup-tutupi.

Di Indonesia juga ada tradisi Asyura (seperti upacara Tabut di Padang dan itu adalah budaya Syiah) juga tradisi mencintai Imam Ali. Semua orang tahu bahwa Sayidina Ali adalah seorang yang hebat dan mulia. Semua ini sudah menjadi sebuah budaya yang turun temurun yang diciptakan di komunitas masyarakat Islam Indonesia.

TENTANG BUDIDAYA TASAUF

Apabila bentuk-bentuk keagamaan yang simbolis malah meruncingkan perbedaan antar mazhab, bisakah tasawuf atau mistisisme menjadi titik temu?

Mistisisme merupakan titik temu dan muara dari segala agama, bukan saja antara Islam dengan Islam saja tetapi di luar agama Islam. Seperti inilah yang dipraktikkan tasauf. Tidak ada orang yang tidak suka terhadap nilai-nilai keindahan akhlak seperti sabar, tulus dan sebagainya. Nggak ada orang yang menolak semua nilai itu meskipun kalangan Kristen, Hindu dan Budha dan Kong Hu Chu. Semua (ajaran) mengarah ke sana, kan? Karena dia merupakan puncak dari moralitas dan spiritual. Jadi dengan ini, kita bisa mempertemukan antara agama bukan hanya antara mazhab saja. Mempertahankan tasawuf hanya berarti melalui tradisonalisme, sedangkan tradisi itu adalah masalah utama masyarakat neo-modern. Bisakah kalangan muda NU eksis di dalamnya?
Begini, yang namanya budaya atau tradisi itu berangkat dari kampung. Kemudian kita membawanya ke kota dan di sana kita angkat ke atas (permukaan). Ia (tradisi tasauf itu) boleh dikritik, diperbaiki dan ditambal kekurangan-kekurang annya.

Apakah hal itu tidak malah menghancurkan basis-basis tradisi yang ada di desa?

Tradisi itu kan berasal dari desa (kampung). Akarnya budaya itu berasal dari desa. Saya tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi desa di mana saya berasal. Anda yang Sunda juga pasti dia tidak akan bisa lepas dari budaya Sunda yang Anda bawa dari desa ke Jakarta. Karena itu di mana pun Anda berada pasti unsur atau pola pikir Sundanya nggak akan hilang. Yang dari Madura juga tidak akan hilang. Di situlah, silahkan kalau ada kritik atau perbaikan, yang penting tidak bertabrakkan dengan kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Salah satu menanamkan nilai-nilai adalah lewat peringatan-peringat an, dan itu juga menjadi momentum persatuan umat. Ya. Dulu Maulid Nabi dimulai pertama kali oleh Khalifah Mu’idz Lidinillah, khalifah Fathimiah, salah satu khalifah keturunan Abdullah dari Tunisia tahun 363 H. Dia lalu masuk Kairo dan mengalahkan Ahmad bin Thulun. Khalifah Mu’idz kemudian menyatukan umat untuk merayakan Maulid Nabi secara besar-besaran. Dia kemudian mendirikan sekolah al-Azhar dengan nama Jauhar ath-Thaqul, lalu membangun kota Qahirah (Kairo) hingga kemudian dikalahkan oleh Dinasti Mamalik dan kemudian oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Artinya, seremonial-seremoni al seperti itu bisa menyatukan umat, dan menyatakan kepada umat bahwa kita memiliki seorang pemimpin yang namanya Muhammad dan kita harus mengikuti ajaran dan dakwahnya. Hal ini, sama halnya dengan kita memperingati hari 17 Agustus, untuk memperingati bahwa dulu bapak-bapak dan orangtua-orangtua kita telah mengorbankan nyawa, harta dan pikirannya demi kemerdekaan dan membangun Negara Indonesia yang tercinta ini. Adapun bentuk seremonialnya bisa disesuaikan dengan aneka kebudayaan umat yang ada, seperti di Yogyakarta misalnya dengan cirinya sendiri, di Cirebon dengan cirinya sendiri dan di Mesir pun akan lain lagi.

TENTANG MENGAJARKAN CINTA NABI Berarti harus adanya pentradisian di dalam keluarga?Ya.

Bagaimana kiat Anda dalam mendidik keluarga agar mencintai Nabi dan Ahlulbaitnya?

Setiap pagi anak-anak saya mendengar bapaknya melantunkan bait-bait Burdah. Pasti lama-lama mereka pun akan ikut juga. Saya hafal Burdah, Barzanji dan Diba. Nazham-nazhamnya saya hafal, Asyraqal Badru ‘Alaina, dan yang lain-lainnya juga saya hafal. Begitu juga, ketika saya masih kecil di kampung. Begitu saya melek (bangun tidur), saya mendengar bapak saya membaca Burdah, Barjanji, dan Diba. Jadi, saya hafal bait-bait syair berikut nazham-nazhamnya itu dengan itu dengan sendirinya. Nggak usah Maulid Nabi, setiap kita ceramah, khotbah, dan dakwah kita pasti menyampaikan sejarah Nabi. Itu berarti memperingatkan kita bahwa kita punya pemimpin yang harus kita taati.

Itu dibaca tiap kapan?

Tiap malam. Saya membaca Burdah itu malam sebelum subuh. Dan ini ada kisahnya. Ada seorang dari Alexandria bernama Abu Sa’id al-Busri yang terkena stroke dan mimpi berjumpa Rasulullah saw. Dia meminta izin akan mengubah syair kasidah untuk memuji-muji beliau. Setelah beliau pulang kembali bait syair itu sudah rampung. Lalu Rasulullah saw mempersilakannya. Setelah dia selesai menampilkan syairnya di depan Rasulullah saw, Rasulullah saw mengusap-ucap wajahnya dan keesokan harinya dia sembuh dari penyakit strokenya itu.

[

IMAM ALI BIN ABI THALIB, PEMIMPIN YANG ADIL

Hari Lahir
Pada hari Jumat, 13 Rajab, tepatnya 23 tahun sebelum hijrah, lahirlah dari keluarga Abu Thalib seorang bayi mulia yang menyinari kota Makkah dan alam semesta dunia.
Ketika paman Nabi saw yang bernama Abbas bin Abu Thalib sedang duduk santai bersama seorang lelaki yang bernama Qu’nab, datanglah Fatimah binti Asad untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah dan memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT. Pandangan matanya tertuju ke langit sambil bermunajat kepada-Nya dengan penuh khusyuk.
Dalam doanya itu ia berkata, “Ketahuilah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan seruan kakekku Ibrahim Al-Khalil as. Dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia ini. Maka demi orang yang telah membangun Ka’bah ini, dan demi janin yang ada dalam kandunganku ini, aku memohon pada-Mu; mudahkanlah kelahirannya.”
Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa yang sangat menakjubkan, pertanda bahwa Allah SWT telah mengabulkan doanya. Di saat itu, tembok Ka’bah terbelah sehingga Fatimah binti Asad bisa masuk ke dalamnya, setelah itu tertutup kembali. Peristiwa yang sangat aneh dan menakjubkan itu membuat semua orang yang menyaksikannya terheran-heran.
Abbas bin Abu Thalib yang juga turut menyaksikan kejadian tersebut langsung pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dan kerabatnya, lalu kembali lagi ke Ka’bah bersama beberapa orang wanita untuk membantu kelahiran janin Fatimah itu. Namun, mereka hanya mampu mengelilingi Ka’bah, tanpa bisa masuk ke dalamnya. Seluruh penduduk kota Makkah tetap dalam kebingungan sambil menanti Fatimah keluar.
Empat hari kemudian, barulah Fatimah keluar dari dalam Ka’bah sambil menimang putranya yang baru saja lahir. Orang-orang bertanya-tanya tentang nama bayi mulia itu, Fatimah menjawab, “Namanya adalah Ali.”
Demikianlah kelahiran Imam Ali as yang serba menakjubkan itu.
Semenjak masih dalam susuan, Ali tumbuh besar dan terdidik di dalam rumah Nabi saw. Pada salah satu khutbahnya yang terhimpun dalam Nahjul Balaghah, Ali pernah menuturkan, “Ketika aku masih kecil, beliau saw membaringkanku di tempat tidurnya, mendekapku dengan penuh kasih-sayang, dan mengunyahkan makanan untuk disuapkan ke mulutku.”
Masa Kanak-Kanak
Sejak masa kanak-kanak, Imam Ali as tidak pernah berpisah dari pendidikan manusia agung Rasulullah saw. Beliau senantiasa menyertai Rasulullah saw, laksana bayangan yang begitu setia mengikuti empunya.
Mengenang masa kanak-kanaknya, Imam Ali as mengisahkan, “Aku senantiasa mengikuti Rasulullah saw bak seorang anak unta yang masih menyusu selalu menyertai ibunya. Setiap hari Rasulullah saw selalu menyempurnakan perangaiku dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun aku selalu menyaksikan beliau pergi ke goa Hira’, sementara tidak seorang pun mengetahui kepergian beliau. Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menyatukan seorang pun di dalam Islam selain Rasulullah, Khadijah, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Kusaksikan cahaya wahyu dan risalah ilahi. Di sana kucium semerbak kenabian dari rumah kudus itu.”
Ketika Allah SWT mengangkat Muhammad saw sebagai seorang Rasul untuk seluruh umat manusia, dan memerintahkan agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan kepada keluarga serta kerabatnya, beliau memerintahkan Ali agar menyiapkan makanan untuk 40 orang dan mengundang kerabat beliau. Di antara mereka yang memenuhi undangan ialah paman-paman beliau, seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas, dan Abu Lahab.
Seperti dalam kenangan Imam Ali as sendiri, beliau menuturkan, “Kemudian Nabi berpidato di hadapan mereka, ‘Wahai putra-putra Abdul Muthalib! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat di antara bangsa Arab ada seorang pemuda yang mendatangi kaumnya dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah kubawa untuk kalian. Sesungguhnya aku membawa untuk kalian kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepadaku agar mengajak kalian semua untuk meraih kebaikan tersebut. Siapakah di antara kalian yang siap membela dan menolongku dalam urusan ini dan untuk menjadi saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua?’
Ketika itu, semua yang hadir diam dan tidak seorang pun yang menjawab seruan beliau. Aku segera berkata, meski usiaku saat itu paling muda di antara mereka, ‘Aku ya Rasulullah, akulah yang akan menjadi pembela dan penolongmu.’ Saat itu juga Rasulullah saw berkata, ‘Inilah Ali sebagai saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua. Maka, dengarkanlah dan taatilah dia.'”
Masa Muda
Masa kanak-kanak seakan berlalu begitu cepat. Kini Ali as telah menjadi seorang pemuda sempurna. Sementara ia masih terus mengikuti Rasulullah saw ke mana saja beliau pergi dan di mana saja beliau berada, bagaikan laron yang selalu beterbangan di sekitar lilin.
Ali as adalah pemuda yang tampan, kuat, dan gagah berani. Kekuatan dan keberanian ini digunakannya untuk berkhidmat dan berbakti kepada agama Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ketika kita menengok sejarah Islam, kita jumpai bagaimana Imam Ali as senantiasa hadir dan ikut serta dalam setiap peperangan dan pertempuran. Beliau berperang dan menyerang musuh-musuhnya dengan penuh ksatria dan prawira di barisan terdepan.
Pada perang Hunain, di saat sebagian kaum muslimin lari tunggang-langgang meninggalkan Rasulullah saw di awal pertempuran, Ali as tetap tampil tegar dan gigih melakukan perlawanan, sementara bendera Islam tetap berkibar di atas kepalanya, sampai akhirnya tentara Islam dapat meraih kemenangan atas pasukan musyrikin.
Pada perang Khaibar, Ali bin Abi Thalib as memimpin pasukan muslimin untuk melakukan serangan yang dahsyat terhadap kaum Yahudi. Padahal sebelumnya, pasukan muslimin mengalami dua kali kegagalan. Penyerangan pertama dipimpin oleh Abu Bakar, dan penyerangan kedua dipimpin oleh Umar bin Khattab. Kedua usaha penyerangan itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Yahudi.
Penyerangan ketiga dipercayakan kepada Ali. Beliau memimpin pasukan dan berhasil menjebol benteng kokoh Khaibar. Bahkan, beliau mencabut salah satu pintu gerbang benteng itu dan mengangkat dengan tangannya sendiri.
Ketika kaum Yahudi menyaksikan kegagahan dan keberanian Ali tersebut, mereka segera kabur tunggang-langgang karena ketakutan, sebelum akhirnya mereka menyerah.
Tebusan Pertama
Setiap manusia yang berakal sehat selalu berusaha membela dirinya, karena ia ingin senantiasa hidup, dan tidak menghendaki kematian. Dalam kehidupan ini, kita saksikan sedikit sekali orang-orang yang mau mengorbankan dirinya demi orang lain.
Ketika kita membaca sejarah Rasulullah saw dan kisah perjalanan hijrah beliau, kita akan merasa kagum dan penuh haru. Kita saksikan betapa Imam Ali as dengan penuh keberanian berbaring di tempat tidur Nabi saw sebagai tebusan jiwa beliau yang suci dari serangan musuh-musuh Islam yang ingin membunuhnya pada malam hijrah itu, padahal ketika itu Imam Ali as masih sangat muda.
Rencana pembunuhan atas diri Rasulullah saw itu diawali dengn berkumpulnya sekelompok kaum musyrikin di Darun Nadwah. Di sanalah mereka membuat kesepakatan dan memutuskan untuk menghabisi jiwa kudus Rasulullah saw. Cara dan taktik yang mereka ambil ialah dengan memilih satu orang pemuda dari setiap kabilah Quraisy. Mereka ditugaskan menyergap rumah Rasulullah saw pada tengah malam dan membunuhnya secara serentak.
Wahyu Ilahi turun dari langit, mengabarkan kepada Rasulullah saw akan tipu daya dan makar jahat orang-orang kafir Quraisy tersebut. Mengetahui rencana jahat itu, Imam Ali as segera pergi menuju rumah Rasulullah saw untuk bermalam di tempat tidur beliau.
Dengan izin Allah SWT, Rasulullah saw berhasil keluar pada malam hari itu juga tanpa diketahui oleh mereka. Mereka malah menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidurnya. Ketika mereka berhasil masuk untuk membunuh beliau saw, ternyata yang mereka dapati adalah Ali. Betapa terkejutnya saat mereka menjumpai Ali yang tengah berbaring di atas tempat tidur Nabi saw. Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Nabi dalam keadaan malu dan penuh kecewa.
Demikianlah Rasulullah saw dapat menyelamatkan diri berkat pengorbanan sahabatnya yang setia, Imam Ali as.
Di Jalan Allah
Islam adalah agama keselamatan dan kehidupan. Karena itu, Islam menolak pembunuhan dan pertumpahan darah tanpa hak. Semua peperangan dan pertempuran yang terjadi pada masa Rasulullah saw adalah demi membela diri dan mempertahankan agama.
Beliau senantiasa berusaha menghindari peperangan sebisa mungkin. Akan tetapi ketika Islam terancam bahaya, kaum muslimin pun melakukan pertahanan dan perlawanan gigih dan kesatria demi mengangkat “Kalimat Allah”.
Ketika kita mengkaji peperangan-peperangan yang terjadi pada masa awal-awal Islam, sejarah mencatat bahwa pedang Ali bin Abi Thalib berperan andil yang sangat besar atas kejayaan Islam dan umatnya. Pedang yang diberi nama Dzul Fiqar itu senantiasa berkilauan, bagaikan kilat menyambar dalam setiap medan peperangan.
“Ali senantiasa bersama hak dan hak selalu bersama Ali.” Demikian sabda Nabi saw tentang Imam kita, Ali bin Abi Thalib as.
Akhlak Imam Ali as
Pada masa khilafah Imam Ali as, Kufah merupakan ibu kota pemerintahan Islam, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.
Pada suatu hari, terjadi pertemuan di luar kota Kufah antara dua orang laki-laki. Satu di antara mereka adalah Amirul Mukminin Ali as dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal beliau. Berlangsunglah percakapan antara kedua orang itu sambil berjalan, hingga keduanya sampai di persimpangan yang memisahkan jalan mereka menjadi dua; yang satu menuju kota Kufah dan yang lainnya mengarah ke suatu perkampungan.
Imam Ali as harus menempuh perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju kampungnya. Namun beliau masih saja mengiringinya, padahal seharusnya beliau mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah.
Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Bukankah Anda hendak kembali ke Kufah?” Beliau menjawab, “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi menunaikan hak persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu itu.”
Laki-laki Nasrani itu merasa tertarik dan ia bergumam dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang telah mengajarkan akhlak yang mulia kepada manusia.” Ia pun sangat terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum muslimin.
Kekaguman dan keterkejutannya itu menjadi lebih besar lagi tatkala ia tahu, bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, pemimpin negara Islam yang luas.
Keteguhan Ali as
Pada kondisi yang wajar dan normal, seseorang akan dapat mengendalikan jiwa dan menentukan sikapnya yang sesuai dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, pada kondisi dimana ia terbakar api kemarahan dan permusuhan, seseorang acapkali kehilangan keseimbangan dirinya, hingga pada saat-saat seperti ini sulit sekali baginya untuk menguasai kembali dirinya.
Tidak demikian halnya pada diri Ali Abi Thalib as. Ia tetap tenang dan tegar pada setiap keadaan dan kondisi. Sikapnya sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan emosi jiwanya, dan perbuatannya senantiasa mengiringi ridha Allah SWT.
Perilaku Ali di dalam rumah tangga, sikapnya dalam peperangan, pergaulan dan perlakuannya di tengah masyarakat senantiasa tunduk di bawah syariat dan undang-undang Islam. Beliau telah menjaga jiwanya sedemikian rupa, sehingga ia menjadi teladan yang unggul bagi setiap muslim yang beriman kepada Tuhannya.
Dalam perang Khandaq, ketika kaum musyrikin hendak menyerang kota Madinah, atas perintah Rasulullah saw kaum muslimin menggali parit untuk melindungi kota dari serangan musuh. Situasi saat itu sangat genting dan membahayakan sekali bagi umat Islam, terlebih lagi ketika ‘Amr bin Abdi Wud dan sebagian penunggang kuda musyrikin Quraisy berhasil melompati parit tersebut.
Setelah berhasil melewati parit dengan kudanya yang besar dan gagah, Amr bersuara lantang menantang kaum muslimin untuk turun ke perang tanding dengannya. ‘Amr bukanlah orang biasa. Ia seorang jawara Arab yang gagah berani.
Ketika itu sebagian besar kaum Muslimin merasa ciut dan gentar hatinya untuk berhadapan dengannya, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Pada kesempatan inilah Imam Ali bangkit untuk memenuhi tantangan ‘Amr. Beliau maju menuju ke arah musuh yang congkak itu, tanpa sedikit pun ada rasa takut dalam hatinya.
Sementara itu, Rasulullah saw dengan tenang menyaksikan peristiwa itu dan bersabda, “Kini keimanan seutuhnya bangkit melawan kemusyrikan seutuhnya.”
Akan tetapi, ‘Amr bin Abdi Wud berusaha menghindar dari bertanding duel dengan Imam Ali. Ia berkata, “Wahai Ali! Kembalilah! Aku tidak ingin membunuhmu.” Ali menjawab dengan penuh kemantapan iman, “Tapi, aku ingin membunuhmu.”
Mendengar jawaban itu, ‘Amr naik pitam dan begitu berang. Segera ia menghunuskan pedangnya dan melayangkannya ke arah Ali. Namun, Ali dengan cepat dapat menghindar dari serangan pedang tersebut. Untuk beberapa saat, kedua pemberani itu itu saling menyerang, menangkis, dan menghindar.
Ali tidak memberikan peluang sedikit pun kepada lawannya untuk menarik nafas. Sampai pada kesempatan yang tepat, Ali dapat melayangkan pedang Dzul Fiqarnya tepat mengenai sasaran yang membuat ‘Amr jatuh tersungkur di atas tanah. Pemandangan tersebut membuat kawan-kawan ‘Amr ketakutan dan mundur secara teratur.
Namun, tatkala Ali hendak menghabisi nyawanya, ‘Amr yang congkak itu malah meludahi wajahnya. Untuk sesaat saja perlakuan seperti itu menyulut kemarahan Ali. Karena itu pula ia mengurungkan niat untuk membunuh ‘Amr sampai emosi beliau kembali tenang. Ali melakukan ini agar tebasan pedangnya bukan sebagai pembalasan dendam dan dorongan murka, akan tetapi demi keikhlasannya yang murni kepada Allah SWT dan agama-Nya.
Sungguh, Ali adalah kesatria teladan bagi seluruh prajurit di semua peperangan dan pertempuran. Sikap dan sepak terjangnya telah mengukir indah sejarah bangsa Arab dan Islam dengan tinta emas.
Setelah ‘Amr bin Abdi Wud terhempas mati, Ali kembali membawa kemenangan gemilang kepada Rasulullah saw. Beliau menyambutnya degan penuh hangat, haru, dan puas. Beliau berkata, “Tebasan pedang Ali atas ‘Amr menandingi pahala ibadahnya seluruh tsaqalain.” Yakni, pukulan pedang Imam Ali as yang membelah badan ‘Amr menjadi dua itu sama dengan ibadahnya seluruh jin dan manusia.
Pada saat berlangsungnya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Amr bin Abdi Wud, kaum musyrikin senantiasa mengamati dan memperhatikan peristiwa itu dengan penuh ketegangan. Tatkala mereka menyaksikan prajuritnya itu jatuh tersungkur ke tanah, mereka pun mendengar Ali berteriak keras, “Allahu Akbar”. Seketika itu pula dada mereka bergetar ketakutan, jiwa mereka tampak melemah dan putus asa untuk melanjutkan peperangan.
Akhirnya, mereka mengakhiri penyerangan dan pengepungan kota Madinah dan kembali menarik diri dengan segenap kepiluan, kegagalan, dan kekecewaan.
Imam Ali as di Perang Shiffin
Kekesatriaan dan keprawiraan itu tidaklah berarti apapun jika tidak diiringi dengan sifat semulia belas dan kasih sayang. Manusia yang berjiwa laksana pahlawan dan pemberani senantiasa menjaga kehormatan dirinya.
Demikianlah sosok agung Imam Ali as.
Beliau tidak mau membunuh musuhnya yang telah terluka parah atau tercekik kehausan. Beliau juga enggan mengusir orang yang kalah. Perikemanusiaannya begitu tinggi dalam setiap peperangan. Beliau tidak pernah menggunakan lapar atau haus-dahaga sebagai senjatanya dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, walaupun mereka sama sekali tidak menganggap penting akan perkara itu.
Bahkan sebaliknya, musuh-musuh Islam tak segan-segan menggunakan cara yang paling buruk demi meraih kemenangan. Dalam perang Shiffin misalnya, pasukan Mu‘awiyah berhasil menguasai sungai Furat, dan ia memerintahkan kepada segenap pasukannya agar mencegah prajurit Imam Ali as untuk mendekati sungai tersebut. Namun, beliau mengingatkan mereka bahwa ajaran Islam, kemanusiaan, dan kekesatriaan sangat mengecam perlakuan semacam itu. Akan tetapi, Muawiyah tidak mempedulikannya, karena yang ia pikirkan hanyalah keuntungan pribadi dan tujuannya yang rakus dan hina.
Pada saat itu Imam Ali as berkata kepada para prajuritnya dengan suara lantang, “Hilangkan dahaga pedang-pedang kalian dengan darah, demi menghilangkan rasa haus kalian dengan seteguk air, karena sesungguhnya kematian dalam kehidupan kalian akan tunduk, dan kehidupan dalam kematian kalian akan unggul.”
Dengan serentak para prajurit Imam Ali as menyerang musuh-musuh Islam yang tengah menjaga sungai Furat, dan dengan mudahnya mereka merebut sungai itu. Kemudian para prajurit Imam Ali as pun segera menyatakan bahwa mereka akan memukul setiap pasukan Muawiyah yang hendak meneguk air dari sungai tersebut. Akan tetapi, Imam Ali as segera mengeluarkan perintahnya agar mengosongkan tepi sungai dan tidak menggunakan air sebagai senjata, karena yang demikian itu bertentangan dengan akhlak Islam dalam peperangan.
Sang Pemimpin Yang Miskin
Masih pada masa-masa menjabat sebagai Amiril Mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin, Imam Ali as menghadapi berbagai tantangan, bencana, dan kesusahan hidup dunia. Walaupun demikian, beliau sendiri terjun langsung menangani kemiskinan umat Islam dan rakyatnya.
Imam Ali as sama sekali tidak memiliki dendam pribadi kepada siapa pun, sehingga orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan menyimpan kedengkian serta kebencian yang mendalam sekalipun tetap dapat menerima bagian dari Baitul Mal (kekayaan negara). Bahkan, beliau tidak membeda-bedakan dalam membagikan harta Baitul Mal itu di antara para sahabat, kerabat, famili, dan orang-orang yang dekat dengan beliau dengan yang rakyat lainnya.
Pada suatu hari, seorang wanita bernama Saudah datang menjumpai Amirul Mukminin Ali as untuk mengadukan perlakuan buruk seorang pegawai pajak terhadap dirinya. Ketika itu beliau sedang melaksanakan salat. Tatkala bayangan seorang wanita itu datang menghampirinya, beliau mempercepat salatnya.
Seusai salat, beliau menoleh kepada wanita itu dan berkata kepadanya dengan penuh santun dan lembut, “Apa yang bisa saya lakukan untukmu?” Sambil menangis Saudah menjawab, “Aku ingin mengadukan perlakuan buruk pegawai saat mengambil pajak dariku.” Mendengar hal itu Imam Ali as terkejut dan menangis, kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyuruh mereka untuk berbuat aniaya terhadap hamba-Mu.”
Setelah itu beliau megambil sepotong kulit dan menuliskan sebuah perintah untuk memecat pegawai buruk tersebut dari pekerjaannya. Surat tersebut beliau serahkan kepada Saudah. Dengan gembira wanita itu menerimanya untuk selanjutnya ia sampaikan kepada yang bersangkutan.
Pada suatu hari Amiril Mukminin Ali as menerima laporan dari kota Bashrah bahwa gubernur kota itu yang bernama Utsman bin Hanif telah memenuhi undangan seorang kaya raya dan hadir dalam pesta pernikahannya. Mendengar hal tersebut, beliau segera mengirimkan sehelai surat untuknya.
Dalam surat itu Imam Ali as. menegur dan memberikan peringatan kepada gubernurnya tentang sesuatu di balik undangan tersebut. Karena sesungguhnya orang-orang kaya apabila mengadakan pesta perkawinan bukanlah sekedar menyajikan jamuan makanan semata. Akan tetapi, acara semacam itu mereka jadikan sebagai alat pelicin dan suap untuk penguasa kota tersebut, sehingga mereka dapat meraih tujuan mereka. Di dalam surat itu pula Imam as menyampaikan berbagai saran dan nasihatnya yang perlu direnungkan dan dicamkan baik-baik.
Dalam surat tersebut Imam Ali as menegaskan, “Wahai Ibn Hanif, telah sampai laporan kepadaku bahwa ada orang kaya raya yang mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu dengan segera dan senang hati engkau menyambut undangan tersebut dengan jamuan makanan yang berwarna warni. Sungguh aku tidak mengira bahwa engkau sudi menghadiri makanan seseorang yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya sedang orang-orang miskin tidak mereka hiraukan.
“Ketahuilah sesungguhnya setiap rakyat mempunyai pemimpin yang harus ditaati dan diikuti petujuk cahaya ilmunya. Ketahuilah! Sesungguhnya pemimpinmu mencukupkan tubuhnya hanya dengan dua helai jubah yang kasar, dan makanannya hanya dengan dua potong roti kering.”
Salah seorang sahabat Imam Ali as yang bernama ‘Ady bin Hatim At-Tha’i pernah ditanya seseorang tentang pemerintahan beliau. Ia berkata, “Aku saksikan orang yang kuat menjadi lemah di sisinya karena ia menuntut tanggung jawab darinya, dan orang yang lemah menjadi kuat di sisinya karena hak-haknya terpenuhi.”
Tentang keadaan hidupnya, beliau sendiri pernah menggambarkan, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pemimpin jika aku sendiri tidak merasakan kesusahan dan kesengsaraan mereka.”
Dalam pandangan Imam Ali, kekuasaan dan jabatan itu tidaklah berharga. Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertanya kepada Ibn Abbas sembari menjahit sandalnya, “Menurutmu berapa harga sandalku ini?” Setelah memandang dan mengamati beberapa saat, Ibnu Abbas berkata, “Sangat murah, bahkan tidak ada harganya.” Kemudian Imam Ali as lantas berkata, “Sesungguhnya sandal ini lebih berharga bagiku dibandingkan sebuah kekuasaan dan jabatan kecuali aku dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan kebatilan.”
Tidak Ada Keistimewaan!
Sejak hari pertama menjadi khalifah kaum muslimin, Imam Ali as menegaskan di hadapan khalayak bahwa pemerintahannya akan berjalan di atas keadilan dan persamaan hak di antara rakyat, dan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang Ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa. Beliau pun tidak membedakan antara tuan dengan budaknya.
Sebagian orang mengecam jalan pemetintahan beliau tersebut. Mereka memberikan usulan agar beliau kembali kepada cara-cara pemerintahan lama yang telah dijalankan oleh para khalifah sebelumnya. Namun, Imam Ali as menolak dengan jawaban keras, “Apakah kalian memintaku untuk meraih kemenangan dengan jalan kezaliman?” Beliau melanjutkan, “Seandainya harta negara itu adalah milikku sendiri, maka aku pun akan membagi rata kepada seluruh rakyat. Apalagi harta itu adalah milik Allah.”
Pada suatu hari kakak beliau yang bernama Aqil datang ke rumahnya. Imam Ali as menyambut gembira kedatangan sang kakak. Ketika tiba waktu makan malam, ternyata Aqil tidak melihat apa-apa di atas sufrah (alas makanan) selain roti dan garam. Ia terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Hanya inikah yang aku lihat?” Beliau menjawab, “Bukankah ini adalah nikmat Allah yang patut disyukuri?”
Kedatangan Aqil sebenarnya untuk meminta bantuan kepada Imam Ali as demi menutupi utangnya. Imam berkata, “Tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku.” Aqil mulai merasa kesal dan berkata, “Bukankah Baitul Mal ada di tanganmu? Kenapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?” Imam as membalas, “Kalau kau mau, ambillah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama-sama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat peadagang-pedagang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya.” Aqil menolak dan berkata, “Memangnya aku datang untuk merampok!” Imam as menjawab, “Mencuri harta kekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik daripada engkau mencuri harta milik semua kaum muslimin.”
Demikianlah Imam Ali as hidup pada masa pemerintahannya yang adil.
Beliau makan makanan kaum fakir miskin dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Ketika orang-orang berkata kepada beliau, “Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang untuk menggalang pendukung. Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?” Imam as menjawab, “Apakah kalian hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”
Membela Wanita
Pada suatu hari di musim panas yang sangat menyengat, seorang wanita diusir dari rumah oleh suaminya. Wanita itu meminta tolong kepada Imam Ali as. Dengan segera beliau keluar menuju rumah suami wanita yang malang tersebut. Setibanya di sana, beliau mengetuk pintunya. Seorang pemuda yang tidak mengenal beliau membuka pintu.
Ketika Imam mengecam perlakuan buruknya itu, pemuda tersebut berteriak dengan suara keras dan penuh kemarahan. Ia mengancam akan menyiksa isterinya itu lebih jahat lagi lantaran ia mengadukan perakuannya kepada Imam.
Pada saat itu, beberapa orang yang mengenal Imam melewati jalan di hadapan rumah tersebut. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Ali as, “Assalamualaika, wahai Amirul Mukminin!” Mendengar ucapan salam mereka itu, pemuda tersebut baru sadar bahwa orang yang kini berada di hadapannya adalah khalifah kaum muslimin.
Tak pelak lagi, ia pun gemetar ketakutan, lalu menundukkan diri dan segera mencium tangan Imam seraya memohon maaf dalam-dalam. Pemuda itu berjanji kepada Imam untuk tidak mengulang lagi perlakuan buruknya tersebut. Imam menasihati kedua suami-isteri itu dan memberikan bimbingan agar kehidupan rumah tangga mereka terbina tentram dan hidup dengan penuh kedamaian.
Ghadir Khum
Pada tahun 10 H, Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji Wada’. Haji Wada’ adalah haji terakhir sekaligus haji perpisahan bagi beliau. Beliau merasa sudah semakin dekat perjumpaannya dengan Allah SWT. Sejak awal masa risalah, sering kali beliau menyampaikan perkara tentang seseorang yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai khalifahnya untuk kaum muslimin.
Nabi saw senantiasa berfikir bagaimana caranya membuka jalan untuk kesuksesan khalifahnya, Ali bin Abi Thalib as. Mengenai kekhilafahannya beliau memberikan berbagai isyarat dan penegasan yang didengar langsung oleh para sahabat, “Ali senantiasa bersama kebenaran, dan kebenaran senantiasa bersama Ali.” Atau sabda beliau lainnya, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”
Jabir bin Abdillah Al-Ansari ra pernah berkata, “Kami tidak dapat mengenali orang-orang munafik kecuali dengan mengetahui kedengkian mereka terhadap Ali as.”
Lain dari itu, para sahabat pun pernah mendengar wasiat Nabi saw yang menyatakan, “Ayyuhannas, aku berwasiat kepada kalian agar mencintai saudara dan putra pamanku, Ali bin Abi Thalib, karena sesungguhnya tidak ada yang mencintainya kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang mendengkinya kecuali orang munafik.”
Sampai pada tanggal 18 bulan Dzulhijjah tahun yang sama, Rasulullah saw kembali dari melaksanakan haji Wada’ yang diikuti oleh lebih dari seratus ribu kaum muslimin. Saat itulah Jibril as turun membawa pesan langit untuk beliau.
Rasulullah saw menghentikan perjalanannya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Beliau memerintahkan semua kaum muslimin agar menghentikan perjalanan mereka di tempat yang mulia dan bersejarah itu. Di tengah padang pasir dan di tengah panasnya terik matahari yang membakar itu, beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan kaum muslimin dan seluruh para sahabatnya. Dalam khutbahnya itu beliau bersabda, “Ayyuhannas, tak lama lagi aku akan dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan memenuhi panggilan-Nya itu. Sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, demikian pula kalian, maka apakah yang akan kalian katakan?”
Kaum muslimin dengan serentak menjawab, “Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dengan baik, engkau telah berjihad dan memberikan nasihat, semoga Allah akan membalasmu dengan kebaikan.”
Nabi saw melanjutkan, “Bukankah kalian telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sesungguhnya surga adalah nyata, neraka adalah nyata, kematian adalah nyata, kebangkitan adalah nyata, hari akhirat itu tidak diragukan lagi kejadiannya, dan sesungguhnya Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur.”
Kaum muslimin menjawab lagi dengan serempak, “Benar, kami bersaksi akan hal itu semua.”
Rasulullah saw menengadah ke hadirat Allah SWT, “Ya Allah! Saksikanlah kesaksian mereka itu!”
Lalu beliau menyambung khutbahnya, “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah SWT adalah pembimbingku, sedang aku adalah pemimpin kaum mukminin, dan sesungguhnya aku lebih utama daripada diri-diri kalian. Maka, barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.
“Dan sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka (tsaqalain) yang sangat berharga, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan ‘Ithrah (Ahlulbait).”
Pada siang itu, puluhan ribu kaum muslimin melihat dan menyaksikan Nabi saw mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as sebagai cara pelantikannya menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin setelah ketiadaan beliau. Para sahabat yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin lainnya menyatakan baiat (ikrar setia) kepada Imam Ali as mengucapkan sambutan selamat kepadanya, “Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin kaum mukminin!”
Nasib Khilafah
Rasulullah saw telah mangkat meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya demi memenuhi panggilan Tuhannya, sebagaimana yang telah beliau katakan. Seluruh kaum muslimin merasa terkejut dengan kepergiannya itu.
Di tengah-tengah duka dan kesedihan yang mendalam, tidak jauh di seberang sana berkumpul sekelompok umat Islam untuk memilih seorang khalifah yang akan menggantikan Rasul sebagai pemimpin umat. Dengan cara ini mereka sesungguhnya telah merampas kedudukan khilafah dari pemegangnya yang sah. Mereka membiarkan Imam Ali as sendirian. Beliau sendiri lebih memilih berdiam diri demi menjaga keutuhan agama dan kemaslahatan seluruh kaum muslimin saat itu.
Setelah kemelut yang panjang dan tegang, akhirnya Abu Bakar dinyatakan terpilih sebagai khalifah pertama bagi kaum muslimin. Khilafahnya dilanjutkan oleh Umar bin Khattab.
Ketika tiba saatnya khilafah jatuh di tangan Utsman bin Affan, keluarga Bani Umayyah mulai ikut duduk di berbagai jabatan pemerintahannya. Mereka dapat memegang kendali khilafah tanpa lagi menyembunyikan ketamakan dan kerakusannya. Maka tersebarlah kerusakan di mana-mana. Tak segan-segan keluarga Umayyah berlaku sewenang-wenang, dan menjalankan pemerintahan Ustman dengan penuh kezaliman.
Pada masa itu, kaum muslimin melihat Utsman hanya memilih dan mengutamakan keluarganya untuk duduk di dalam kekuasannya, dan bahkan mengasingkan sebagian sahabat terkemuka Nabi seperti Abu Dzar, lebih keras lagi dari itu ia pun berani memecut seorang sahabat Nabi yang sangat dekat dan setia, Ammar bin Yasir tanpa alasan dan bukti yang jelas.
Kenyataan ini membuat kaum muslimin segera mengadakan demo dan unjuk rasa. Mereka mendatangi kota Madinah untuk menuntut Utsman agar turun dari kursi khilafah Rasul saw.
Api amarah masyarakat muslim terhadap Utsman semakin membara. Dalam situasi itu, Imam Ali as berusaha mendamaikan dan menentramkan mereka, serta menasihati Khalifah Utsman agar segera bertaubat dan bersikap adil, dan menganjurkannya agar tidak menuruti bisikan dan bujuk rayu orang-orang munafik, seperti Marwan bin Hakam. Sayangnya, Ustman tidak peduli pada nasihat dan arahan beliau.
Kemurkaan dan kedengkian kaum muslimin mencapai puncaknya. Mereka mengadakan pengepungan di sekeliling istana khilafah, nyawa Utsman pun terancam bahaya. Mengetahui hal itu Imam Ali as segera mengutus kedua puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain as ke istana khilafah dan memerintahkan mereka berdua agar berdiri di depan pintu untuk menjaga Ustman dari serangan orang-orang yang hendak membunuhnya.
Dalam kondisi yang sudah sangat genting seperti itu, Khalifah Utsman tetap berkeras kepala pada sikapnya memerintah, padahal kemarahan para demonstran sudah mencapai titik-didihnya. Puncak kemarahan tersebut meledak ketika sebagian mereka memanjat naik ke istana dan masuk lewat belakang, hingga akhirnya mereka berhasil mendekati Utsman. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, mereka segera membunuhnya.
Khalifah Utsman pergi meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Adapun kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah Imam Ali as. Mereka memohon kepadanya agar menerima khilafah, menjadi amiril mukminin, dan memimpin umat Islam dengan penuh keadilan.
Pada mulanya, Imam Ali as menolak permohonan kaum muslimin itu, namun karena mereka terus mendesak, akhirnya beliau menerima tawaran tersebut.
Mulailah Amiril Mukminin Ali as menjalankan roda khilafahnya dan mengatur negara berdasarkan keadilan dan undang-undang Islam. Panji kebenaran dan keadilan kembali berkibar di bawah kepemimpinan beliau. Di dalamnya kaum muslimin pun kembali menikmati ketentraman setelah 25 tahun lamanya.
Pemerintahan Imam Ali as
Sejak hari pertama khilafah dan kepemimpinannya, Imam Ali as menegaskan di hadapan kaum muslimin asas pemerintahannya, yaitu menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah SWT, dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan.
Masyarakat muslim telah terbiasa menghadapi kezaliman dan ketidakadilan pada masa-masa sebelumnya. mereka telah menyaksikan perlakuan khalifah yang tidak lagi berlandasakan pada hukum-hukum Allah; mereka mengistimewakan sebagian dan menelantarkan sebagian lainnya, mencurahkan harta kekayaan negara hanya kepada keluarga Umayyah dan orang-orang yang setia kepada kekuasaannya saja. Sementara sebagian besar kaum Muslimin hidup dalam keadan miskin dan penuh dengan penderitaan.
Ketika Ali bin Abi Thalib as menjabat sebagai khalifah dan beliau berjanji akan menegakkan keadilan di tengah kaum muslimin, terutama bagi yang keadaan ekonominya lemah, mereka menyambutnya dengan penuh harapan. Lain halnya dengan orang-orang kaya yang biasa hidup mewah dan suka berfoya-foya. Sebagian mereka sangat khawatir kekayaan, kemewahan dan kepentingan mereka terusik dengan keadilan Ali as.
Karena itu, mereka segera bergerak cepat menyiapkan langkah-langkah dalam rangka menghadapi pemerintahan Ali as berkobarlah api permusuhan dan peperangan di dalam negara dan di antara sesama kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa perang Jamal adalah peperangan pertama di antara mereka. Setelah itu terjadi perang Shiffin, lalu perang Nahrawan.
Syahadah Imam Ali as
Setelah kaum Khawarij mengalami kekalahan besar dalam perang Nahrawan, tiga orang durjana berkumpul untuk mengambil mufakat, yaitu membunuh beberapa orang yang mereka anggap sebagai musuh dan penghalang mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.
Ketiga orang itu adalah Ibnu Muljam, Hajjaj bin Abdillah, dan Umar bin Bakar At-Tamimi. Mereka bertiga telah sepakat dan bertekad untuk membunuh Muawiyah, ‘Amr bin ‘Ash, dan Imam Ali as. Ibnu Muljam sendiri telah bersumpah untuk melakukan pembunuhan atas Imam Ali as. Maka pada 19 Ramadhan 40 H., Ibnu Muljam melakukan rencana jahatnya.
Seperti biasa, subuh itu Imam Ali as memimpin salat subuh berjamaah bersama kaum Mukminin di Masjid Kufah, Irak. Ibnu Muljam berhasil menyusup diam-diam sampai mendekati beliau yang tenagh bersujud. Namun, tatkala beliau bangkit dari sujudnya, Ibnu Muljam segera menebaskan pedangnya yang beracun itu, tepat di bagian kepala beliau as. Darah suci beliau berhamburan memerahi mihrab dan pakaian beliau. Pemimpin yang adil itu meratap lemah, “Demi Tuhan Ka’bah! Sungguh aku telah menang.”
Pada saat itu, terdengar oleh masyarakat suara dari langit berucap, “Demi Allah, sungguh tonggak petunjuk telah roboh, orang yang paling takwa telah terbunuh, … orang yang paling celaka telah membunuhnya.”
Ibnu Muljam berusaha melarikan diri dari kota Kufah. Akan tetapi, ia berhasil dibekuk. Ketika ia dibawa ke hadapan Imam Ali as, beliau berkata kepadanya, “Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?”
Ia menjawab, “Ya, betul.”
Sebagian orang berusaha untuk melakukan pembalasan dendam terhadap Ibnu Muljam. Akan tetapi, Imam Ali mencegah mereka. Bahkan, beliau berpesan kepada putranya Hasan as agar senantiasa berbuat baik kepadanya selama beliau masih hidup.
Pada 21 Ramadhan, Imam Ali as menjemput kesyahidannya. Tak lama setelah itu, Imam Hasan as melaksanakan hukum Qishash Islam terhadap pembunuh ayahnya itu.
Demikianlah Imam Ali as, sang pemimpin yang adil itu meninggalkan dunia pada usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saw. Jenazah beliau dimakamkan di luar kota Kufah secara rahasia di kegelapan malam.[]
Mutiara Hadits Imam Ali as
▪ “Janganlah engkau mencari kehidupan hanya untuk makan. Akan tetapi, carilah makan agar engkau dapat hidup.”
▪ “Sesuatu yang paling merata manfaatnya adalah kematian orang-orang jahat.”
▪ “Janganlah engkau mengecam Iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya dalam kesunyian.”
▪ “Akal seorang penulis itu terletak pada penanya.”
▪ “Kawan sejati adalah belahan ruh, sedangkan saudara adalah belahan badan.”
▪ “Janganlah engkau mengucapkan sesuatu yang engkau sendiri tidak suka jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”
▪ “Kurang ajar adalah penyebab segala keburukan.”
▪ “Galilah ilmu pengetahuan sejak kecil, pasti engkau akan beruntung tatkala besar.”
▪ “Lebih baik engkau memilih kalah (mengalah) sedang engkau sebagai orang yang adil, daripada engkau memilih menang dalam keadaan engkau sebagai orang yang zalim.”
Riwayat Singkat Imam Ali as
Nama : Ali.
Gelar : Amirul Mukminin.
Julukan : Abul Hasan.
Lahir : Tahun 23 H.
Syahadah : Tahun 40 H.
Masa Imamah : Tahun 35 H.
Masa Khilafah : 5 tahun.
Usia : 63 tahun.
Makam : Najaf Asyraf, Irak.

FATWA 25 KYAI dan HABAIB TENTANG KAFIRNYA SYI’AH

Silahkan tulis alamat lengkap anda apabila ingin mendapatkan VCD gratis  Fatwa Ulama tentang kafirnya kaum Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah Jakfariyah….VCD ini kami berikan secara cuma-cuma agar kita mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya dan VCD kedua adalah tentang fatwa Allamah Alhabib Assayid Umar bin Hafidz tentang Sunnah dan Syi’ah bersaudara dan dilarang untuk saling mengkafirkan demi Ukhuwah dan kejayaan Islam.

Pembaca bisa membandingkan manakah kebenaran dan fitnah, apakah tulisan al-bayyinat surabaya ataukah vcd fatwa Habib Umar bin Hafidz  dalam pertemuan di kediaman Sayid Zein bin Smith di Jakarta????? 

HASIL PERTEMUAN HABIB UMAR DI SURABAYA 

Alhamduliullah pada hari Sabtu malam minggu, tanggal 2 Pebruari 2008 di Surabaya telah diadakan pertemuan antara Habib Umar Bin Hafid dengan Rabithah Alawiyah, Albayyinat dan tokoh tokoh Alawiyyin yang aktif membendung Syiah.

Dalam pertemuan tersebut Habib Umar Bin Hafid yang kita kenal sebagai Dai kondang yang terkenal dan mempunyai pengalaman yang luar biasa, banyak memberikan pengarahan  mengenai metode dalam berda’wah, serta nasehat yang ditujukan kepada para Dai dari kalangan Alawiyyin, serta mengharap agar para Dai saling mendukung dan tidak saling menyerang dan tidak menjelekkan temannya.

Setelah panjang lebar Habib Umar memberikan pengarahan kepada hadirin, akhirnya Habib Umar Bin Hafid meminta persetujuan dan kesepakatan dari Hadirin Sebagai berikut :

1.                         1.   Agar para Dai dari kalangan Alawiyyin sesama Ahlussunnah tidak saling menjelekkan dan menyerang  temannya.

2.                          2.    Syiah itu sesat dan menyesatkan.

                 (Dan apabila mereka berkeyakinan bahwa Al Qur’an Muharrof (artinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak orisinil dan sudah dirubah oleh para Sahabat), maka mereka itu Kafir, dan ini tidak hanya bagi orang Syiah saja, tapi siapa saja yang berkeyakinan bahwa Al Qur’an Muharrof maka dia juga Kafir)

          Demikian dua poin yang dimintakan kesepakatan oleh Habib Umar Bin Hafid dalam pertemuan tersebut. Selanjutnya Habib Umar meneruskan pengarahannya dan dilanjutkan dengan tanya jawab, namun tidak merupakan / menjadi kesepakatan. Yang disepakati oleh semua hadirin dan Habib Umar Bin Hafid malam itu hanya dua poin diatas.

 Informasi ini kami keluarkan dikarenakan adanya kesimpang siuran berita diluar mengenai hasil pertemuan pada malam itu dan hasil pertemuan pertemuan Habib Umar di Jakarta.

 Harapan kami semoga hasil kesepakatan diatas dapat difahami dan menjadi pegangan bagi Dai Dai dari kalangan Alawiyyin.   SURABAYA ASH-SHOWAAIQ EDISI  PEBRUARI  2008

SEKILAS TENTANG IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i yang nama aslinya adalah Muhammad bin Idris (lahir 150 H dan wafat 204 H) adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang merupakan Mazhab yang banyak diikuti oleh masyarakat Islam dibelahan bumi Asia dan Indonesia sendri. Ia sejajar dengan pendiri Mazhab lainnya dan merupakan sarjana teratas kaum Muslimin dari segala zaman. Pengetahuannya tentang Hadits dan Hukum Islam sangat istimewa dan karyanya Kitab ul-Ulum benar- benar unik. Untuk waktu yang cukup lama dasar agama pemerintahan Mesir adalah konsepsi dan hasil interpretasi dari pemikirannya.

 

Imam Syafi’i mengikuti garis-garis yang ditempuh oleh Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah SAW , juru tafsir terkemuka di zamannya yang juga tidak luput dari tuduhan murtad dari ulama-ulama fanatik yang tidak sependapat dengan jalan pikirannya. Imam Syafi’i juga memperhatikan ilmu-ilmu Al-Qur’an sebagaimana dahulu Ibnu Abbas memperhatikannya di zaman Rasulullah SAW. Dia juga mencurahkan perhatiannya kepada sya’ir dan sastra sebagimana dia juga mencurahkan perhatiannya kepada fiqih. Majelisnya dihadiri pelajar-pelajar yang mempelajari Al-Quran, yang mempelajari Hadits, yang mempelajari fikh dan yang juga mempelajari syair dan sastra.

 

Karena kebodohan dan kefanatikan para ulama yang menetangnya, ia juga terpaksa menghadapi tuduhan-tuduhan yang berat serta menghinakan. Tetapi ia selalu tabah dan teguh dalam pendiriannya dan satu incipun tidak bergeser dari apa yang yang ia yakini benar. Dengan wajah yang selalu tersenyum ia menghadapi semua cobaan dan penghinaan itu. Ketabahan dan keteguhannya dalam pendirian diakui oleh kawan dan lawannya baik sezamannya maupun generasi dibelakangnya.

 

Diriwayatkan para ulama yang fanatik menyebutnya “bahkan lebih berbahaya dari iblis” . Ia cenderung beraliran Syi’ah karena menaruh penghormatan yang luar biasa kepada Sayyid us-Syuhada Imam Husein bin Ali dan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Dan atas tuduhan suatu kejahatan ia dijebloskan dalam penjara di zaman kekuasaan Dinasti Abbasiah. Diketika itu Yaman di kuasai oleh Gubernur yang zalim dan Imam Syafi’i yang ketika itu juga sebagai petugas negara yang jujur mengkritik pemerintahan yang tidak jujur itu. Karena itu Gubernur membuat fitnah terhadap Imam Syafi’i kepada Khalifah dengan mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah pengikut Syi’ah. Gubernur juga menuduh Imam Syafi’i bersekongkol dengan pemberontak untuk menggulingkan pemerintah.

 

 

 

Khalifah-khalifah Abbasiah yang selamanya sangat waspada terhadap keturunan Ali dan begitu saja menerima pengaduan Gubernur ini, langsung menanggapi pengaduan Gubernur Yaman ini. Khalifah Ar- Rasyid yang berkuasa ketika itu langsung memerintahkan Gubernur Yaman untuk menangkap Imam Syafi’i berikut sembilan orang alawiyyin disembelih kepalanya dan Imam Syafi’i didatangkannya ke Baghdad.

 

Perjalanan dari Yaman ke Baghdad sungguh sangat memalukan, yang mengakibatkan penderitaan hebat bagi Imam Syafi’i yang disegani itu. Dengan memperalat ulama-ulama yang memperkuda rakyat-rakyat yang bodoh disepanjang jalan menuju Baghdad itu beliau telah dijadikan tontonan dan sasaran ejekan, kata-kata pedas dan caci maki. Ketika sepanjang jalan yang jauh itu gerombolan orang banyak dengan pimpinan ulama-ulamanya mencemoohkan nya dan hamba pilihan Tuhan ini tenang berjalan sambil mendengarkannya dengan diam. (Harba-i-Tafkir, hal 23, 9 April 1933 dikutip oleh Maulana Dost Muhammad Syahid )

 

Dengan karunia Allah jua yang  tidak membiarkan hamba-hamba pilihannya jadi mangsa ketidakadilan Imam Syafi’i terlepas dari hukuman yang ditimpakan kepadanya. Muhammad Ibnu al-Hassan yang pada masa itu menjadi Hakim Besar di Baghdad terpikat hatinya untuk membantu Imam Syafi’i dan berusaha sangat untuk melepaskan beliau dari tuduhan-tuduhan tsb. Maka dengan kesaksian Hakim Besar itu Imam Syafi’i terlepas dari hukumam pancung leher yang dituntutkan kepadanya.(Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, TM Hasbi Ash-Siddiqie, jilid II hal 236,).

 

Hadist Rasulullah Saw :

Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan takakan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cetakan Darul Fikr)

 

 

 

 

 

 

Ratib al-Haddad dan Sejarahnya

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama dari nama penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah untuk membentengi dengan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Mesjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.

Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.

Beberapa perbedaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan barangsiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Amin.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.

Keutamaan Ratib Hadad. (1)

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya: Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat. Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi ketika mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.” Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan. Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami. Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu. Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.” Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri. Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.

Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.

Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”

Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya’, kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya’, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.
Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”

Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.” Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”
( Az-Zukhruf: 36 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)

(1) Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar – karangan Syed Ahmad Smith, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

الراتب الشهير
للحبيب عبد الله بن علوي الحداد
Ratib Al Haddad
Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]

يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم – الفاتحة-

1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.

3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
.
4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

5 لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (X3)

6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (X3)
7.سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (X3)

8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (X3)
9.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. ( X3)
10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (X3)
11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ. (X3)
12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (X3)
13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (X3)
14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (X3)
15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (X3)

16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (X7)
17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (X3)
18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (X3)
19. يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ
يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ. (X3)
20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (X3)

21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(X4)
22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (X50)

23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ. (3X3)
25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

26. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
27. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
28. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ – أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

29. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
30. اَلْفَاتِحَة
إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ
31. (ويدعو القارئ):
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ. (X3)

AL-IMAM ABDULLAH AL-HADDAD

Penulis Ratib Haddad, Abdullah Al-Haddad Berguru Pada 100 Ulama

AL-IMAM ABDULLAH AL-HADDAD, penulis Ratib Alhaddad ini sudah akrab di telinga masyarakat Islam Indonesia, Malaysia, India, Pakistan dan negara-negara Islam di Timur Tengah. Karena Ratib-urutan (wirid, zikir)-nya yang ditulis sekitar empat abad yang lalu, sudah diamalkan oleh masyarakat Islam, baik pengikut paham Sunni maupun Syiah. Maklum, selain cerdas, dalam ilmu keislamannya, ia ternyata juga memiliki garis keturunan sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah SAW.

Nama lengkapknya adalah Al-Imam al-Sayid Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad dilahirkan di pinggiran kota Tarim, sebuah kota bagian dari Hadramaut, Yaman Selatan, pada malam Senin tanggal 5 Shafar 1044H/1636 M.. Ia belajar pendidikan agama ke orang tuanya kemudian ke beberapa guru dengan pelajaran Al-Quran dan ilmu-ilmu dasar keislaman lainnya. Setelah ia hafal Al-Quran dan ilmu-ilmu dasar keislaman tersebut ia kemudian melanjutkan pelajaran kepada ilmu-ilmu keislaman yang lebih tinggi dengan amat rajin, cerdas, dan berbakat.

Alhaddad mengembara dari Hadramaut ke kota lainnya di Yaman dengan berpindah-pindah tempat sampai ke Mekkah dan Madinah. Selain rajin belajar, ia juga senang beribadah, setiap hari berkeliling kota Tarim untuk bersembahyang dalam setiap masjid yang ditemuinya. Dalam menuntut ilmu keislaman tersebut ia telah berguru ke lebih seratus ulama. Di antaranya Sayid bin Abdurrahman bin Muhammad bin Akil al-Saqqaf, tokoh sufi mazhab Malamatiyah, dan daripadanya Alhaddad mendapat ijazah/khirqah kesucian. Gurunya yang lain adalah Sayid Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihabuddin dan Sayid Umar bin Abdurrahman al-Attas, tokoh yang terkenal dalam ilmu tarekat. Dari guru-gurunya itulah ia banyak berpengaruh hingga menekuni tasawwuf sampai ia menyusun Ratib Haddadiyah (wirid-wirid perisai diri, keluarga dan harta) yang terkenal itu.

Dan dari guru-gurunya tersebut dengan kajiannnya yang mendalam di berbagai ilmu keislaman sampai Al-Haddad benar-benar menjadi orang yang alim; menguasai seluk-beluk syariat dan hakikat, memliki spiritualitas yang tinggi dalam tasawuf hingga memperoleh tingkat qutub/ghaust, yaitu seorang dai yang menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan sangat mengesankan dan sebagai seorang penulis yang produktif yang karya-karyanya tetap dipelajari orang sampai sekarang ini.

Karya Tulis Alhaddad :
Sayid Abdullah al-Haddad wafat dalam usia 88 tahun pada hari Selasa, 7 Dzulqa’dah 1132 H/1724 M di Tarim. Ia meninggalkan karya tulis antara lain: Al-Nasaih al-Diniyah, Sabil al-Iddikar Wa al-‘I’tibar Bima Yamurru Bi al-Insan Wa-yangkadhi lahu min al-A’mar, Al-Da’wat al-Ittihaf al-Sail, Al-Fushul al-Ilmiyah Wa Ushul al-Hikmiyah, Risalat al-Muzakarah, Risalat al-Mu’awanah Wa al-Muzaharah Wa al-Muwazarah Li al-Raghibin min al-Mu’minin fi Suluk al-Thariq al-Akhirah, Risalat al-Murid, dan Kitab al-Majmu’.

Selain itu terdapat ucapan dan ajaran-ajarannya yang sempat dicatat murid-muridnya dan pengikutnya antara lain: Al-Maktubat (kumpulan surat menyurat), Ghayat al-Qashoad Wa al-Murad oleh Sayid Muhammad bin Zain bin Samath, dan Tasbit al-Fuad oleh Syekh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi.

Diakui para sufi bahwa ada ketinggian dan keindahan spiritualitas yang tinggi pada kesufian Al-Haddad. Bahwa dari karya-karyanya tersebut betapa sejuk dan indahnya bertasawwuf. Betapa tidak, tasawuf bagi al-Haddad adalah ibadah, zuhud, akhlak, dan zikir, suatu jalan membina dan memperkuat kemandirian menuju kepada Allah swt. Saperti dalam Al-Iddikar, Al-Haddad menjelaskan kehidupan manusia sejak dalam rahim, di dunia, di alam mahsyar, sampai pada kehidupan yang abadi, disertai dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang tersusun rapi dengan uraian yang mengesankan. Dalam kitabnya Risalah al-Mu’awanah, al-Haddad menegaskan pesannya kepada umat Islam untuk berpegang pada al-Quran dan hadis, termasuk di dalamnya kehidupan tasawwuf yang tidak boleh lepas dari al-Quran dan hadis, serta menghindari bid’ah mazmumah (sesuatu yang menyimpang dari al-Quran dan hadis). Oleh sebab itu al-Haddad melihat tasawuf tersebut adalah untuk melaksanakan semua perintah Allah swt dan menjauhi semua larangan-Nya, sambil membersihkan diri dan menjernihkan jiwa hingga merasa cukup dengan Allah dan tidak membutuhkan dunia yang lain.

Sedangkan di dalam Al-Maktubat, ia berpesan; seorang sufi harus menyaring dan menjernihkan segala perbuatan, ucapan, dan semua niat serta perilaku dari berbagai kotoran berupa riya (pamer), dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah swt. Selain itu manusia harus menghadap Allah secara terus-menerus secara lahir maupun batin dengan mengerjakan semua ketaatan hanya kepada Allah dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah Yang Maha Esa.

Dalam Al-Fushul al-Ilmiyah, al-Haddad menguraikan intinya adalah memurnikan tauhid (akidah) dari sumber-sumber syirik, kemudian menumbuhkan akhlak terpuji seperti zuhud, ikhlas, dan bersih hati terhadap kaum muslimin serta menghilangkan segala sifat buruk seperti cinta dunia, riya, dan angkuh. Kemudian melaksanakan amal saleh yang nyata dan menjauhi perbuatan buruk. Mencari nafkah dengan baik melalui jalan wara’ (menjaughkan diri dari segala sesuatu yang haram, dosa dan maksiat) dan qanaah (mensyukuri terhadap apa yang telah diusahakannya).

Bagi kalangan ahli hikmah, jumlah dalam bacaan memiliki makna tersembunyi (asrar). Jumlah juga mengandung misteri (sirr). Dan tentunya mengamalkan Ratib Alhaddad tidak perlu ragu asal tidak menyimpang dari al-Quran dan hadis. Apalagi, di era sekarang ini di tengah masyarakat dan ummat menghadapi kegelisahan, kebingungan, bahkan frustrasi karena dunia modern tidak mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan, maka dengan mengamalkan Ratib ini diharapkan mampu memberikan kesejukan jiwa sekaligus jalan dan jawaban terhadap masalah-masalah duniawi yang makin rumit tersebut.

Sebagaimana dimaklumi, kecenderungan kepada kehidupan spiritual yang tinggi telah ditunjukkan oleh semua sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar Asshiddiq, Umar bin Khattab, usman bin Affan, dan tidak terkecuali Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di kalangan pengikut Ali yang dikenal dengan Syiah bahkan juga kaum muslimin selalu mengaitkan jalur spiritual kesufian tersebut kepada Ali. Dan di masyarakat Syiah sepanjang masa kehidupan spiritual itu selalu dipelihara dan dikembangkan dengan baik sampai hari ini, demikian pula di kalangan sunni.

Qashidah Alhabib Abdullah Bin Alwy Al Haddad (ra)

Berkata Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad (Shahibul Ratib)
قَالَ الْحَبِيْبُ عَبْدُ الله بْنِ عَلْوِيْ الْحَدَّاد صَاحِبُ الرَّاتِب

……Wahai Rasulullah, salam sejahtera untukmu. Wahai yang tinggi kedudukan dan derajatnya
يَا رَسُوْلَ اللهِ سَلاَمٌ عَلَيْكَ يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

Sayangilah kami (ya Rasulullah). Wahai penyelamat alam semesta. Wahai pemilik segala kemuliaan dan kemurahan
عَطْفَةً يَا جِيْرَةَ الْعَلَمِ يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ وَ الْكَرَمِ

Kamilah sebenarnya penduduk asli Tanah Haram. Yaitu tanah yang benar-benar baik dan mulia
نَحْنُ جِيْرَانٌ بِذَا الْحَرَمِ حَرَمِ اْلإِحْسَانِ وَ الْحَسَنِ

Sebab keberadaan mereka (Ahlulbaitmu), kami dapat merasa tenteram. Dan karena mereka jualah kami merasa aman dari ketakutan (fitnah dunia akhirat)
نَحْنُ مِنْ قَوْمٍ بِهِ سَكَنُوْا وَ بِهِ مِنْ خَوْفِهِمْ أَمِنُوْا

Dan pula, dengan berpegang Kitab Suci Alquran sebagai pedoman hidup. Ikutilah jejak kami (dalam pedoman) wahai yang rapuh (imannya) pada godaan
وَ بِأَيَاتِ الْقُرْآنِ عُنُوْا فَاتَّئِدْ فِيْنَا أَخَا الْوَهَنِ

Kamilah (Ahlulbait) yang mengenal Tanah Haram, dan Tanah Haram pun telah bersahabat dengan kami. Bukit Shafa dan Ka’bah telah terbiasa dengan keberadaan kami
نَعْرِفُ الْبَطْحَا وَ تَعْرِفُنَا وَ الصَّفَا وَ الْبَيْتُ يَأْلَفُنَا

Untuk kamilah “Ma’la” dan (daerah) “Khaif” (di dekat) “Mina”. Maka ketahuilah hai manusia dan bersikaplah arif dan bijaksana (pada pedoman ahlulbait)
وَ لَنَا الْمَعْلَى وَ خَيْفُ مِنَى فَاعْلَمَن هَذَا وَ كُنْ ذِكِنِ

Ketahuilah, bahwa penghulu sebaik-baik manusia adalah Ayah kami (Muhammad saw). dan juga Ali Al Murtadha (Ali bin Abi Thalib) sebagai kebanggaan kami
وَ لَنَا خَيْرُ اْلأَنَامِ أَبُ وَ عَلِيُّ الْمُرْتَضَى حَسَبُ

Dari kedua cucu Nabi (Hasan dan Husain) nasab kami berasal. Yaitu silsilah (keturunan) yang tidak pernah tercemar keimanannya
وَ إِلَى السِّبْطَيْنِ نَنْتَسِبُ نَسَبًا مَا فِيْهِ مِنْ دَخَنِ

Berapa banyak sudah para Imam yang datang dan mewarisi kepemimpinan setelahnya. Dari titisan yang memang terkenal dan kesohor (ke-Imamahan-nya)
كَمْ إِمَامٍ بَعْدَهُ خَلَفُوْا مِنْهُ سَادَاتٌ بِذَا عُرِفُوْا

Karakter (ke-Imamahan) mereka telah dikumandangkan (oleh Nabi). Jauh-jauh hari sebelum mereka dilahirkan ke bumi ini
وَ بِهَذَا الْوَصْفِ قَدْ وُصِفُوْا مِنْ قَدِيْمِ الدَّهْرِ وَ الزَّمَنِ

Contohnya ialah (Imam) Ali Zainal Abidin. Dan putra beliau, yaitu (Imam) Muhammad Al Baqir sebaik-baik pemimpin
مِثْلُ زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ عَلِي وَ ابْنِهِ الْبَاقِرِ خَيْرِ وَلِيْ

Serta Imam Ja’far Shadiq yang sarat ilmu pengetahuannya. Dan Imam Ali (Al Uraidhi) yang memiliki keyakinan tinggi
وَ اْلإِمَامِ الصَّادِقِ الْحَفِلِ وَ عَلِيٍّ ذِي الْعُلاَ الْيَقِنِ

Mereka adalah kelompok (kaum) yang mendapat petunjuk. Dan dengan karunia Allah mereka menggapai kesuksesan
فَهُمُ الْقَوْمُ الَّذِيْنَ هُدُوْا وَ بِفَضْلِ اللهِ قَدْ سَعِدُوْا

Bahtera mereka tak akan berlabuh kecuali di dermaga Ilahi. Dan akan senantiasa selaras dengan Alquran sepanjang masa
وَ لِغَيْرِ اللهِ مَا قَصَدُوْا وَ مَعَ الْقُرْآنِ فِي الْقُرْآنِ

Ahlulbait Nabi (mereka) adalah manusia suci. Dan ingatlah bahwa mereka adalah pengaman bumi
أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَفَى الطُّهُرِ هُمْ أَمَانُ اْلأَرْضِ فَالدَّكِرِ

Mereka ditampilkan bak bintang-bintang yang gemerlapan. Seperti yang tertutur dan tertera pada hadis-hadis Nabawi
شُبِّهُوْا بِاْلأَنْجُمِ الزُّهُرِ مِثْلَمَا قَدْ جَاءَ فِي السُّنَنِ

Mereka (Ahlulbait) diibaratkan (pula) bagai bahtera keselamatan (yaitu bahtera Nabi Nuh as). Yang akan menyelamatkan pengikutnya dari (fitnah kehidupan) yang ganas serta segala gangguan (iman)
وَ سَفِيْنٌ لِلنَّجَاةِ إِذَا خِفْتَ مِنْ طُوْفَانِ كُلِّ أَذَى

Maka bergabunglah anda bersama (bahtera keselamatan) dan janganlah sampai nasibmu seperti mereka (yang tertinggal dan tenggelam). Dan berpeganglah pula pada tali Allah SWT dan mintalah padanya perlindungan
فَانْجُ فِيْهَا لاَ تَكُوْنُ كَذَا وَ اعْتَصِمْ بِاللهِ وَ اسْتَعِن

Ya Rabbi … berilah kami kesuksesan dalam hidup, demi keberkahan mereka. Tunjukkan kami ke jalan kebajikan demi kemuliaan mereka
رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ وَ اهْدِنَا الْحُسْنَ بِحُرْمَتِهِمْ

Tutuplah akhir usia kami berada di jalan mereka. Dan selamatkan kami dari segala fitnah dan petaka

وَ أَمِتْنَا فِيْ طَرِيْقَتِهِمْ وَ مُعَافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ

Syi’ah dan Sunni, Konflik Yang Direkayasa

Oleh: DR. Izzuddin Ibrahim.
Kairo. Alih bahasa: M Turkan

Derita Muslim Syiah maupun Sunni di dunia tak pernah berujung. Setiap ada aksi teror, media masa melukiskannya sebagai aksi pembantaian kaum Muslim Syiah atas Sunni, ataupun sebaliknya. Sepertinya aksi-aksi seperti ini akan terus bergulir mengingat isu ini adalah isu yang paling baik untuk pecah belah persatuan Islam.

Tulisan dibawah ini adalah buku yang ditulis oleh tokoh Ikhwanul Muslimin DR. Izzuddin Ibrahim yang membawakan fakta dan data bahwa konflik Sunni dan Syiah adalah konflik rekayasa dari musuh-musuh Islam.

Kemenangan gerakan kebangkitan rakyat Islam dan bangsa revolusioner Iran yang kelihatannya mustahil, telah membuat Barat ketakutan. Jadi, sesuai kemampuannya mereka selalu berusaha agar para revolusioner Islam tidak bisa meraih kekuatan.

Sejak awal abad 19, dunia Islam berhadapan dengan tantangan modern yang datang dari Barat hasil Revolusi Industri dan kedengkian. Tantangan ini pada tahap awalnya dipengaruhi oleh sentimen Salibisme kuno dan dimulainya serangan Prancis. Ancaman ini menumbangkan sistem politik kita yang terjelma dalam ‘khilafah’. Mereka menduduki negeri-negeri kita dan menyerang kita lewat pemikiran dan budaya dengan memaksakan sistem-sistem sekularisme yang lemah.

Lebih dari 30 tahun lalu, tantangan ini telah melaksanakan tugas paling berbahayanya, yaitu mendirikan rezim palsu Yahudi di jantung dunia Islam dan mendudukkan koloni serta antek-anteknya di sebuah negeri yang telah mereka rampas.

Hal ini tercipta lewat sebuah sistem yang terprogram dan busuk, bahwa pengukuhan kepentingan ini hanya dapat dijalankan dengan mendirikan Israel. Pendirian Israel melazimkan penghancuran khilafah dan keberlangsungan keberadaan Israel dan menuntut sistem-sistem pemerintahan dalam negara-negara Islam menjadi boneka dan bergantung pada kekuatan imperialis. Oleh karena itu, semua rezim-rezim ini adalah bayi alamiah dan logis yang lahir dari rahim imperialis yang pada hakikatnya merupakan sisi lain dari sekeping mata uang Israel. Sampai beberapa tahun yang lalu, masalah-masalah ini terlihat sedemikian rupa dan kekuatan Barat mengira bahwa mereka telah menghantamkan pukulan terakhirnya pada peradaban Islam yang telah loyo dan lemah. Namun, Revolusi Islam Iran tiba-tiba muncul dan melepaskan anak panah perlawanan pertamanya ke arah Barat. Kemenangan revolusi Islam ini adalah kemenangan pertama Islam dalam era kontemporer. Kehidupan dan kegembiraan yang dikira telah mati dalam tubuh ini telah kembali dan sekarang bangkit lagi dan berdiri tegak dengan segarnya. Dari mana? Setelah pengaruh busuk musuh sangat kental, kuat dan liar, maka tibalah tahapan baru. Kita telah memahami hakikat kita dan kita ingin bangkit setelah menahan penghinaan selama dua abad dan keterbelakangan serta kebodohan selama berabad-abad.

Revolusi Islam terus maju agar mampu menanamkan berbagai pemahaman dan pemikiran. Sebagian pemahaman dan pemikiran itu adalah:

1- Revolusi Islam telah menghapus keperkasaan kekuatan adi daya dari benak semua pihak -khususnya kaum muslimin dan tertindas di dunia.

2- Setelah mencampakkan model Barat ke dalam kursi tergugat, Revolusi Islam mengenalkan peradaban baru kepada umat manusia. Dalam hal ini, Roger Garoudy pemikir Perancis berkata: “Imam Khomeini telah membuang pola dan sistem pembangunan ala Barat ke kursi tergugat.” Kemudian dia berkata : “Imam Khomeini telah memberikan makna dalam kehidupan rakyat Iran.”

3- Setelah lebih dari satu abad upaya-upaya untuk menyingkirkan kekuatan dan pengaruh Islam, revolusi Islam malah mengokohkan peranan bersejarah Islam dalam kehidupan negara-negara di kawasan.

Tetapi, apakah Barat dan para bonekanya akan membiarkan Revolusi Islam maju begitu saja dan kemudian berhadap-hadapan dengan Barat serta menghancurkan kekuatannya? Apakah mereka akan diam saja melihat semangat dan kegembiraan yang muncul dalam tubuh umat Islam, seperti kegembiraan karena turunnya hujan setelah penantian yang cukup panjang? Apakah mereka akan membiarkan semangat dan harapan Islami yang telah diciptakan Revolusi menuai hasilnya?

Kemenangan gerakan kebangkitan rakyat Islam dan bangsa revolusioner Iran yang kelihatannya mustahil telah membuat Barat ketakutan. Jadi, sesuai kemampuannya mereka selalu berusaha agar para revolusioner Islam tidak bisa meraih kekuatan. Tetapi, ketika Barat berada dalam tahap ini pun mereka kalah, lalu mereka berusaha bergerak dalam beberapa poros yang saling terkait:

1- Mulai memprovokasi kaum minoritas dengan memanfaatkan kegamangan yang ada setelah kemenangan Revolusi Islam.

2- Melindungi berbagai kelompok pembangkang Iran, baik dari kelompok kerajaan dan SAVAK (intel Syah) atau kelompok sekuler dan memanfaatkan mereka untuk menentang Revolusi Islam.

3- Memberlakukan embargo ekonomi dan politik atas Iran yang dipimpin oleh Amerika dan Eropa. Embargo ini yang terlihat jelas dimulai sejak krisis tawanan mata-mata Amerika di Tehran.

4- Menggelar serangan dari luar lewat Saddam Husein dan tentara Irak.

5- Menyebar fitnah di antara dua sayap umat -Sunni dan Syiah- sebagai usaha terakhir untuk mengepung gerakan Revolusi Islam dan mencegahnya sampai ke daerah berpenduduk Sunni, baik kawasan-kawasan penghasil minyak atau negara-negara tetangga Israel.

Ketika pemberontakan kaum minoritas jelas-jelas telah ditumpas dan kelompok-kelompok kerajaan dan sisa-sisa oposisi sekuler telah hancur, dan ketika Revolusi berhadapan dengan embargo sedemikian rupa, Imam Khomeini malah menyebutnya sebagai ‘berita baik’ dan kepada para mahasiswa pengikut setianya, beliau berkata: “Kita tidak bangkit dengan revolusi untuk mengenyangkan perut. Jadi ketika mereka menakut-nakuti kita dengan kelaparan, mereka harus tahu bahwa mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Kita bangkit demi Islam, sebagaimana Nabi Muhammad saww bangkit. Dan kita tidak berhadapan dengan masalah sebagaimana yang dihadapi Nabi Muhammad saw. Jika anda tidak berada dalam tekanan, maka Anda tidak akan berpikir maksimal.”

Para pelaku serangan dari luar juga jatuh tersungkur dalam sumur yang digalinya sendiri, dengan sakit, luka, penyesalan dan kekalahan telak. Tetapi mereka sendiri mengakui bahwa poros kelima -menciptakan fitnah di antara Syiah dan Sunni- cukup berhasil. Namun demikian, umat Islam akan segera memahami setan mana yang meniupkan api fitnah dan akan mengetahui bahwa fitnah ini adalah palsu dan kekuatan imperialis-lah yang ingin menyudutkan negara-negara Islam, sehingga negara-negara Islam harus berhadapan dengan perbuatan-perbuatan buruk mereka.

Kekuatan imperialis dan negara-negara boneka, para raja minyak hedonis -boneka-boneka mainan- memahami dengan baik bahwa peperangan ini tidak membutuhkan senjata dan tentara, tetapi membutuhkan pemimpin yang memberikan ‘fatwa’. Maka mereka membiarkan peranan yang diinginkannya yang dimainkan lewat kepala-kepala bersorban dan janggut-janggut berjurai, baik di dalam atau di luar institusi resmi negara.

Sebagian mereka menentang Revolusi Islam dengan serangan isu-isu yang membingungkan. Seolah-olah merekalah yang melahirnya menemukan bahwa Revolusi ini adalah Revolusi Syiah sementara Syiah adalah sebuah golongan sesat atau kafir! Dan Ayatullah Khomeini yang dengan duduk di sajadahnya telah mampu mengguncang kekuasaan kerajaan yang sebenarnya mereka adalah orang tersesat dan kafir! Adegan seorang pemuda Islam yang memegang sebuah buku Saudi yang penuh dengan tuduhan, distorsi dan cacian terulang kembali di depan mata kita. Dia membawa buku tersebut ke masjid suci, sembari menjelaskan berbagai kesesatan!

Poin ini dapat dipahami bahwa sebagian para pemuda itu melakukannya dengan niat baik dan menyangka bahwa perbuatan tersebut benar-benar hanya untuk Allah. Kapankah pemuda ini mengetahui bahwa lewat niat baiknya itu dia telah melaksanakan sebuah program imperialis? Dan bagaimana dia bisa membebaskan dirinya sebelum semuaya terlambat?

Umat Islam harus memandang dengan keraguan dan curiga kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dirinya, sementara mereka membenci Revolusi Islam. Umat juga harus curiga pada keinginan, niat dan tujuan orang-orang tersebut.

Masalah menakjubkan dari mereka ini adalah, meraka telah menjadikan gerakan Islami berhadapan dengan sebuah jalan buntu yang berbahaya dan tidak ada duanya, sebab kehadiran musuh-musuh Revolusi dalam barisan-barisan gerakan Islam tidak bisa dibenarkan dan gerakan hakiki Islam tidak punya pilihan lain selain menyingkirkan mereka dari barisannya, cepat atau lambat.

Mereka-mereka yang ingin menghancurkan model sempurna Iran dalam kepribadian Islami terutama dalam memandang masalah negeri pendudukan Palestina sebenarnya hanya akan menghancurkan dirinya, sebab mereka telah berdiri menentang gerakan maju sejarah dan berhadapan dengan sebuah Revolusi Islami yang dalam piagam Ikhwanul Muslimin, pemimpinnya disebut sebagai ‘kebanggaan bagi Islam dan kaum muslimin’.

Saya tidak tahu bagaimana menanggapi ucapan seorang pemuda muslim kepada saya: Sebuah keanehan atau tidak? Sebab pemuda ini telah keliling ke beberapa negara Islam, tetapi tidak menemukan hal yang lebih buruk dari serangan yang dilakukan beberapa oknum yang berlahiriyah keislaman di negeri Palestina pendudukan terhadap Revolusi Islam. Sedangkan pemuda ini juga tidak melihat satu negara manapun yang lebih bersemangat dan berharap pada Revolusi Islam lebih dari Palestina.

Setelah pengantar ini, dalam pembahasan singkat ini saya akan berusaha menyingkap beberapa hakikat penting kepada kaum muslimin umumnya dan para pembesar berbagai gerakan Islami secara khusus. Saya tidak ingin berbicara berdasarkan ijtihad saya bahwa Syiah dan Sunni adalah sesama saudara dalam Islam, hanya pandangan dan ijtihad dalam memahami Kitab dan Sunnah saja yang membuat mereka terpisah dan perbedaan ini tidak merusak persaudaraan mereka dan tidak membuat yang lain keluar dari Islam dalam pandangan yang lainnya.

Saya tidak ingin membawa dalil-dalil agama yang pasti berakhir pada kesimpulan yang pasti dan jelas ini, sebab hal ini adalah pembahasan lain. Dan di era ini, ketika ketidaktahuan dan fanatisme buruk dari sebuah kelompok sangat tinggi, kita terpaksa harus membahasnya, tetapi saya akan membahasnya dari sisi lain dan sisi yang lebih sempurna. Saya akan berusaha menjelaskan posisi dan pendapat para tokoh, pemikir dan penguasa muslim yang kepemimpinannya disepakati oleh berbagai gerakan Islami.

Saya dengan baik memahami bahwa masalah anti Revolusi Islam Iran dan kebisingan yang dibuat oleh sejumlah anggota dan pimpinan gerakan Islami berkaitan dengan masalah Sunni dan Syiah bukanlah masalah yang berakar dan hakiki, tetapi masalah baru yang dipaksakan pihak lain pada para pemuda yang penuh keikhlasan dan kesucian ini. Sebagaimana yang telah saya sebutkan: Setelah beberapa waktu mereka diletakkan dalam lingkaran keraguan dan keputusasaan, tiba-tiba bagi mereka diungkapkan bahwa Revolusi yang telah menghidupkan harapan dan memberi hasil bukanlah sebuah revolusi Islam tetapi sebuah revolusi Syiah! Dan Syiah adalah kafir!

Muhibbuddin Khatib, penulis buruk asal Arab Saudi yang bukunya telah dicetak beberapa kali di Arab Saudi (dalam 50.000 eksemplar) membawa berbagai dalil tentang kekafiran dan kesesatan serta keluarnya Syiah dari Islam. Dia menyebutkan bahwa Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan Al-Qur’an yang kita miliki, dan berbagai kebatilan dan isu-isu semisal ini.

Sebagian kalangan yang menyebarluaskan pemikiran Khatib yang salah dan sesat, malah lalai akan pemikiran-pemikiran para tokoh islamis terkenal lainnya dalam gerakan mereka.

Tapi kita tahu bahwa Khatib adalah salah satu orang yang memerangi pemerintahan Khilafah Islami dan bergabung dengan salah satu gerakan kesukuan -para tokoh pemuda Arab- dan setelah rahasianya terbongkar ketika dia sedang belajar di Bab ‘Aali, pada tahun 1905 Masehi dia melarikan diri ke Yaman. Ketika Syarif Husein mengumumkan Revolusi Arab, Khatib pun bergabung dengannya. Kemudian Khilafah menjatuhi hukuman mati terhadapnya. Khatib tidak kembali ke Damaskus kecuali setelah kekalahan tentara Turki Usmani dan masuknya tentara Arab ke Damaskus! Dan setelah itu, dia menjadi pimpinan surat kabar pertama Arab bernama al-‘Ashimah.[1]

Sekarang, mari kita kembali menganalisa sikap dan pendapat para pemimpin berbagai gerakan Islami dan pemikir Islam berkaitan dengan fitnah yang haram ini dan hiruk pikuk buatan yang sangat disesalkan ini.

Imam Syahid Hasan al-Banna, adalah pembawa panji gerakan Islam terbesar era modern dan salah satu tokoh ide kedekatan antara Syiah dan Sunni. Beliau juga merupakan salah satu pendiri dan tokoh berpengaruh dalam aktivitas “Jamaah Taqrib Baina Al-Mazhahib Al-Islamiyah” di Kairo, padahal sebagian kalangan menyebut pendekatan mazhab mustahil tercapai. Tetapi al-Banna dan sekelompok pembesar dan ulama Islam menganggapnya mungkin dan bisa terjadi. Mereka sepakat agar semua muslimin (Sunni dan Syiah) berkumpul bersama dalam keyakinan-keyakinan dan prinsip yang disepakati dan dalam hal-hal yang bukan merupakan syarat iman dan bukan bagian dari tiang-tiang agama dan secara lazim tidak mengingkari pembahasan agama yang jelas, kaum muslimin harus menghargai keyakinan masing-masing.

DR. Abdulkarim Biazar Shirazi dalam buku Wahdat Islami yang terdiri atas makalah para ulama Syiah dan Sunni yang telah dicetak dalam majalah Risalatul Islam dan telah dicetak oleh Darut Taqrib Mesir, tentang Jamaah Taqrib berkata:

“Mereka sepakat mengumumkan bahwa: Seorang muslim adalah orang yang mengimani dan meyakini Allah Tuhan alam semesta, Muhammad saw nabi yang tidak ada lagi nabi setelahnya, Al-Qur’an kitab samawi, Ka’bah kiblat dan rumah Allah, lima rukun yang diakui, hari kiamat serta melaksanakan hal-hal yang dianggap penting. Rukun-rukun ini -yang disebutkan sebagai contoh- telah disepakati oleh para peserta pertemuan, utusan-utusan mazhab yang empat dan utusan-utusan Syiah dari mazhab Imamiah dan Zaidiyah.”[2]

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Syaikh al-Azhar yang juga Otoritas Fatwa Tertinggi saat itu, Imam Besar Abdulmajid Salim, Imam Mustafa Abdurrazzaq dan Syaikh Shaltut.

Penulis memang tidak menemukan info sempurna tantang peranan khusus Imam Syahid Al-Banna dalam hal ini, tetapi salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin Ustad Salim Bahansawi dalam bukunya berkata:

“Sejak Jamaah Taqrib antara mazhab-mazhab Islam didirikan dan Imam Hasan al-Banna dan Ayatullah Qumi berperan dalam pendiriannya, kerja sama antara Ikhwanul Muslimin dan Syiah tercipta, yang pada kelajutannya terjadi kunjungan Syahid Nawwab Safavi ke Mesir pada tahun 1954.[3] Dalam kitab itu, dia melanjutkan: “Tidak heran jika garis kebijakan dan metode kedua kelompok berakhir dengan kerja sama ini.”

Demikian pula, sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam ritual haji tahun 1948 Masehi, Imam al-Banna bertemu dengan Ayatullah Kas اani, ulama besar Syiah, dan di antara keduanya tercapai beberapa kesepakatan.

Salah satu tokoh kontemporer dan berpengaruh Ikhwanul Muslimin dan salah satu murid Imam Syahid adalah Ustad Abdul Muta’al Jabri yang menurut kutipan Roober Jakcson, menulis dalam bukunya:

“Jika usia pria ini -Hasan al-Banna- panjang mungkin saja mayoritas muslimin, hal-hal penting bagi kedua negara ini akan terwujud, khususnya jika Hasan Al-Banna dan Ayatullah Kashani, tokoh Iran, sepakat dalam penghapusan masalah pertentangan (ikhtilaf) antara Syiah dan Sunni. Keduanya bertemu pada ritual haji tahun 1948 Masehi dan kelihatannya telah menyepakati beberapa poin penting, tetapi Hasan Al-Banna telah diteror tidak pada waktunya.”[4]

Ustad Jabri menjelaskan: “Ucapan Weber benar, dengan insting politiknya dapat dirasakan usaha Imam dalam pendekatan mazhab-mazhab Islam. Jadi jika dia sadar dengan peranan besar Imam al-Banna dalam hal ini (yang waktu ini bukan saatnya membahas tentang bagaimana pernanan itu), apa yang akan dikatakannya?”

Dari beberapa hal ini, kita bisa menarik beberapa hakikat penting, antara lain:

1- Setiap Syiah dan Sunni memandang satu sama lainnya sebagai muslim.

2- Pertemuan dan kesepakatan kedua ulama ini dan menyingkirkan pertentangan adalah hal penting dan tidak bisa diingkari dan tanggung jawab ini berada di pundak gerakan islami yang sadar dan berpegang teguh pada perjanjian.

3- Imam Syahid Hasan al-Banna juga telah berusaha sekuat mungkin dalam masalah ini.

DR. Ishaq Musawi Husaini, dalam kitab al-Ikhwanul Muslimin…Kubra Al-Hakarat Al-Islamiyah Al-Haditsah[5] menulis: Sebagian mahasiswa (Syiah) yang sedang belajar di Mesir telah bergabung dengan Ikhwan. Ketika Nawwab Safavi mengunjungi Suriah dan bertemu dengan Mustafa Subai, Sekjen Ikhwanul Muslimin di sana, Subai kepada Nawwab mengadukan kekecewaannya terhadap sikap sebagian pemuda Syiah yang bergabung dengan gerakan sekuler dan nasionalis. Nawwab Safavi naik ke atas mimbar dan di depan kelompok Syiah dan Sunni berkata: “Siapa saja yang ingin menjadi Syiah hakiki Ja’fari harus bergabung dengan barisan Ikhwanul Muslimin”. Tapi, siapakah Nawwab Safawi? Dia adalah pimpinan organisasi “Martir-Martir Islam” yang Syiah.

Ustad Muhammad Ali Dhanawi, mengutip dari Bernard Louis: “Selain mengikuti mazhab Syiah, mereka juga memiliki ide tentang persatuan Islam dan memiliki banyak kesamaan dengan Ikhwan Mesir dan mereka saling berhubungan.” [6] Ketika menganalisa prinsip dasar organisasi Martir-Martir Islam, Ustad Dhanawi menemukan bahwa:

“Pertama: Islam adalah sebuah sistem integral bagi kehidupan. Kedua: Kecenderungan terpecah belah dalam berbagai firqah di kalangan muslimin yaitu Sunni dan Syiah adalah kecenderungan yang tertolak.” Kemudian, dia mengutip ucapan Nawwab: “Mari kita upayakan persatuan Islam dan kita lupakan segala sesuatu yang bukan bagian dari jihad kita demi kemuliaan Islam. Apakah belum tiba saatnya kaum muslimin memahami hakikat dan meninggalkan pertentangan antara Syiah dan Sunni?”

Ustadz Fathi Yakan menjelaskan peristiwa kunjungan Nawwab Safawi ke Mesir dan semangat serta sambutan Ikhwanul Muslimin ketika menyambutnya. Kemudian, berkaitan dengan hukuman mati dari Syah untuk Nawwab, dia berkata:

“Hukuman zalim ini diprotes dengan sangat keras di negara-negara Islam. Kaum muslimin dari seluruh dunia yang menghargai keberanian dan jihad Nawwab Safavi sangat terguncang dan menentang hukum tersebut serta mengutuk hukuman mati yang dijatuhkan atas mujahid mukmin itu lewat telegram. Hukuman mati Nawwab Safavi merupakan peristiwa tragis dalam era kontemporer.”[7]

Demikianlah, bukan hanya seorang muslim Syiah yang dalam pandangan Ustad Fathi Yakan dianggap sebagai salah satu syuhada Ikhwan, tetapi dia yakin bahwa Nawwab dan para pendukungnya telah bergabung bersama rombongan syuhada dengan kesyahidan mereka. Syahid-syahid kekal yang darahnya akan menjadi pelita yang akan menerangi jalan kebebasan dan pengorbanan para generasi muda. Dan memang demikian adanya, dan tidak lama setelah itu terjadi Revolusi Islam yang menghantam kekuasaan Syah yang despotik. Syah terkatung-katung dan terusir. Dan terwujudlah firman Allah swt:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ، إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ، وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ [8]

Demikianlah, janji Kami tentang hamba-hamba yang Kami utus. Sesungguhnya mereka akan tertolong dan pasukan Kami pasti akan menang.

Setelah pengumuman tentang pengakuan eksistensi rezim zionis Israel oleh Iran di zaman rezim, Ustad Fathi Yakan berkata:

“Bangsa Arab semestinya mencari Nawwab dan para pendukungnya di Iran. Tetapi negara-negara Arab tidak juga memahaminya sampai saat ini dan tidak mengetahui bahwa gerakan islamiyah adalah satu-satunya penolong dalam masalah-masalah muslimin di luar Arab. Apakah Nawwab lain akan muncul di Iran?” [9]

Oleh karena itu, Ustad Yakan sedang menanti Nawwab lain. Jadi -sumpah demi Allah- mengapa ketika Nawwab dan orang yang lebih besar dari Nawwab datang, sebagian marah dan sebagian lagi malah menjadi demam?!

Majalah al-Muslimun yang diterbitkan Ikhwanul Muslimin, dalam salah satu edisinya berjudul “Bersama Nawwab Safavi” menulis: “Syahid yang mulia, Nawwab Safavi, memiliki hubungan erat dengan al-Muslimun dan pada bulan Januari 1954 Masehi tinggal kantor majalah di Mesir sebagai tamu.”[10]

Kemudian, berkaitan dengan pendapat Nawwab tentang para tahanan dari kelompok Ikhwan, majalah ini menulis:

“Ketika pembesar-pembesar Islam di mana saja menjadi sasaran para taghut, kaum muslimin harus menutup mata dari perselisihan antara mazhab dan harus bersama-sama merasakan penderitaan dan kesedihan saudara-saudaranya yang dizalimi ini. Tidak bisa diragukan lagi bahwa dengan perjuangan Islam, kita bisa menggagalkan usaha musuh untuk menciptakan perpecahan di antara kaum muslimin. Keberadaan berbagai mazhab dalam Islam bukanlah bahaya dan kita juga tidak bisa menghapuskan mazhab-mazhab itu. Apa yang harus kita cegah adalah penyalahgunaan kondisi ini oleh kalangan tertentu.”[11]

Di akhir makalah, majalah ini mengutip ucapan Nawwab Safavi:

“Kami yakin bahwa kami pasti akan terbunuh. Jika tidak hari ini, mungkin besok. Tetapi darah dan pengorbanan kami akan menghidupkan Islam dan akan membangkitkan Islam. Islam hari ini membutuhkan darah dan pengorbanan, tanpa keduanya, Islam tidak akan pernah bangkit lagi.

Sebelum kita akhiri pembahasan tentang hubungan Ikhwanul Muslimin dengan Syiah, kami harus menyebutkan bahwa Ustad Abdul Majid al-Zandani, Sekjen Ikhwanul Muslimin -sampai dua tahun lalu- yang berada dalam tahanan di Utara Yaman adalah Syiah[12] dan sebagian besar anggota Ikhwan di Utara Yaman adalah Syiah.

Sekarang, kita kembali ke masalah Jamaah Taqrib agar kita bisa mendengar ucapan anggota penting Jamaah, pemimpin besar, Mahmud Syaltut, Syaikh Al-Azhar. Dia berkata:

“Saya meyakini ide taqrib ini sebagai sebuah garis kebijakan yang benar dan sejak awal saya ikut berperan dalam Jamaah.”[13]

Kemudian beliau berkata:

“Al-Azhar Al-Syarif saat ini mengakui hukum dasar (dasar taqrib di antara pemeluk berbagai mazhab) dan akan menganalisa fikih mazhab-mazhab Islami dari Sunni sampai Syiah; analisa yang berlandaskan dalil dan argumentasi serta tanpa mengedepankan fanatisme kepada ini dan itu.” [14]

Selanjutnya beliau berkata:

“Andai saya bisa berbicara pada pertemuan-pertemuan Daruttaqrib. Saat itu, ketika seorang warga Mesir duduk berdampingan dengan seorang warga Iran atau Libanon atau Pakistan atau utusan negara-negara lainnya, dari Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali duduk mengitari meja di sisi pemeluk mazhab Imamiah dan Zaidiyah, dan terdengarlah suara-suara yang mengungkapkan keilmuan, tasawwuf dan fikih serta ruh persaudaraan, rasa persatuan, cinta dan kerjasama di dalam bidang ilmu dan irfan.” [15]

Syaikh Syaltut mengisyaratkan bahwa sebagian kalangan yang menyangka bahwa tujuan dari ide taqrib adalah menghapuskan mazhab atau menggabungkan satu mazhab dengan mazhab lainnya, beliau berkata:

“Orang-orang yang berpikiran sempitlah yang memerangi ide ini, sebagaimana kelompok lain yang memeranginya karena kepentingan. Tidak ada satu ummatpun yang tidak memiliki orang-orang seperti ini. Mereka yang melihat keberlangsungan dan kehidupannya ada di dalam perpecahan akan memerangi ide taqrib dan orang-orang berhati busuk, pemuja hawa nafsu dan mereka yang memiliki kecenderungan tertentu juga akan memeranginya. Mereka ini adalah orang-orang yang menjual penanya demi politik perpecahan! Politik yang memerangi setiap gerakan perbaikan baik secara langsung atau tidak langsung dan menghalangi setiap perbuatan yang dapat menimbulkan persatuan kaum muslimin.”

Sebelum saya menutup pembicaraan tentang al-Azhar, mari kita dengarkan fatwa yang dikeluarkan Syaikh Syaltut tentang mazhab Syiah. Dalam fatwa itu disebutkan:

“Mazhab Ja’fari yang terkenal dengan mazhab Syiah 12 Imam, adalah mazhab yang sama seperti mazhab Ahli Sunnah, beribadah dengan mazhab tersebut dibolehkan dalam syariat. Kaum muslimin harus mengetahui hal ini dan terbebas dari fanatisme yang salah berkaitan dengan mazhab tertentu, sebab agama dan syariat Allah tidak tergantung pada satu mazhab khusus atau terbatas pada satu mazhab saja. Karena semua telah berjtihad dan karena itu mereka diterima di sisi Allah.”[16]

Mari kita tinggalkan Jamaah Taqrib dan kita akan sampai pada pemikir-pemikir Islam yang tak terhingga, kita mulai dari Syaikh Muhamamd Ghazali, beliau berkata:

“Keyakinan (akidah) juga tidak bisa aman dari gigitan kerusushan sebagaimana yang dialami oleh politik dan pemerintahan, sebab syahwat-syahwat yang menginginkan keutamaan dan dominasi dengan paksaan telah memasukkan hal-hal lain dalam keyakinan, dan sejak saat itulah kaum muslimin terbagi menjadi dua bagian besar Syiah dan Sunni. Padahal kedua kelompok ini mengimani Allah yang esa dan kenabian Muhammad saw dan masing-masing tidak mempunyai kelebihan apapun dalam unsur-unsur akidah yang menyebabkan kekokohan agama dan menimbulkan kebebasan.[17]

Dalam lembar yang sama dalam bukunya, dia menambahkan:

“Meskipun dalam beberapa bagian hukum-hukum fikih saya memiliki pendapat yang bertentangan dengan Syiah, tetapi saya tidak yakin bahwa orang yang bertentangan pendapat dengan saya adalah orang berdosa. Posisi saya di hadapan sebagian pendapat fikih yang banyak diamalkan di kalangan Ahli Sunnah juga demikian.

Di bagian lain bukunya, dia berkata:

“Akhirnya, perpecahan antara Syiah dan Sunni mereka hubung-hubungkan dengan ushul akidah agar agama yang satu kembali terkoyak dan ummat yang satu bercabang menjadi dua bagian dan satu bagian mengintai bagian lainnya bahkan menantikan kematian bagian lainnya! Barang siapa yang membantu pengelompokan ini walau dengan dengan satu kata, maka dia akan masuk dalam ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ [18]

Mereka yang memecah belah agama dan menjadi berkelompok-kelompok di dalamnya mereka itu bukan bagian darimu. Allah yang akan mengurus mereka dan akan menyadarkan mereka lewat siksaan dari apa yang mereka telah lakukan.

Ketahuilah bahwa mengkafirkan orang lain terlebih dahulu saat berdialog adalah mudah dan membuktikan kekafairan lawan bisa dilakukan di tengah hangatnya pembahasan lewat ucapan lawan sendiri.[19]

Kemudian, Syaikh Muhammad Ghazali kembali berkata:

“Dalam kedua kelompok, hubungan keduanya dengan Islam berdasarkan iman kepada kitabullah dan sunnah nabi dan secara mutlak sama-sama menyepakati ushul-ushul mayoritas agama. Jadi dalam furu dan syariat mereka menjadi bercabang-cabang. Mereka sepakat bahwa mujtahid akan mendapat pahala baik jika ijtihadnya benar atau salah. Ketika kita memasuki fikih praktis dan perbandingan, dan jika kita analisa antara pendapat ini dan itu, atau menilai mana hadis shahih dan dhaif, maka kita akan melihat bahwa jarak antara Syiah dan Sunni sama seperti jarak antara fikih mazhab Abu Hanifah, Maliki atau Syafii. Kita harus melihat sama semua orang yang mencari hakikat meski cara dan metode mereka berbeda-beda.”[20]

Dalam kitab Nazarat fil Qur’an, kita dapat melihat Syaikh Ghazali membawa salah satu ucapan ulama Syiah dan salah satu catatan pinggir kitab itu, Ghazali berkata:

“Dia adalah salah satu faqih dan sastrawan besar Syiah. Kita akan membahas semua ucapannya, sebab sebagian orang-orang yang belum matang pikirannya menyangka bahwa Syiah bukanlah Islam dan telah melenceng dari Islam. Dalam bab I’jaz akan disebutkan materi yang akan membuat kita lebih mengenal Syiah.”[21]

Dalam catatan pinggir dari salah satu halaman bukunya, ketika memperkenalkan seorang ulama lainnya (Hibbaddin Husaini Syahrestani), Ghazali berkata:

“Dia adalah salah satu ualam besar Syiah dan kami sengaja membawa ringkasan ucapannya di sini agar pembaca muslim mengetahui dengan jelas ketinggian ilmu ulama ini tentang esensi I’jaz dan tingkat kesucian kitabullah di kalangan kaum Syiah.”[22]

Oleh karena itu, Syaikh Ghazali yang merupakan salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin terpenting berbicara demikian tentang Syiah dan menyingkirkan seluruh dugaan sederhana sehingga nilai hakikat mampu menepis kegelapan karena kejahilan, dendam dan kebutuhan orang-orang yang berpikiran sempit.

DR. Subhi Shaleh—salah satu ulama terkenal Libanon—berkata: “Dalam hadis-hadis para Imam Syiah yang diriwayatkan tak lain adalah hadis-hadis yang sesuai sunnah Nabi.”[23] Kemudian dia menambah: “Sumber kedua syariat setelah kitabullah adalah sunnah Nabi yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi mereka.”

Ustadz Said Hawi—salah satu mantan pemimpin Ikhwanul Muslimin Suriah—ketika berbicara tentang bagian-bagian manajemen Darul Islam ketika diperluas dari bentuk federal berkata:

“Secara ilmiah, kondisi dunia Islam saat ini adalah bahwa Islam tersusun atas mazhab-mazhab fikih atau mazhab-mazhab akidah. Dan setiap mazhab berkuasa di daerah-daerah tertentu. Apakah ada uzur syar’i yang membuat hal ini menghalangi jalan untuk memperhatikan hal ini dalam pembagian manajemen? Jadi sebuah daerah yang memiliki satu bahasa harus memiliki satu kawasan pemerintahan. Setiap kawasan memilih sendiri pemimpinnya dan dalam saat yang sama kawasan ini masih berada di bawah pengawasan pemerintahan pusat.”[24]

Pengakuan jelas ini berasal dari salah satu pembesar Ikhwanul Muslimin saat ini tentang beragamnya mazhab misalnya Syiah yang tidak merusak Islam, masyarakat dan agama dan jika Syiah mendirikan Darul Islam, maka harus ada kawasan pemerintahan independen dan pemimpinnya.

DR. Mustafa Syaka’ah, salah satu peneliti muslim berkata:

“Mazhab Syiah Imamiah adalah syiah yang terkenal dan sedang hidup di tengah-tengah kita bahkan kita memiliki hubungan kasih sayang dengan mereka. Mereka juga berusaha mewujudkan pendekatan berbagai mazhab sebab intisari agama dan itu adalah satu dan asas agama yang kokoh. Dan agama tidak mengizinkan para pemeluknya menjauh satu sama lain.”[25]

Kemudian, tentang kelompok yang merupakan mayoritas penduduk Iran ini dan tentang keadilan mereka, berkata:

“Mereka lepas tangan dari ucapan-ucapan yang terucap dari berbagai firqah dan menganggapnya kufur dan sesat.”[26]

Syaikh mulia Imam Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab Tarikh al-Mazhahibul Islamiyyah berkata: “Tidak bisa disangkal lagi bahwa Syiah adalah salah satu firqah Islam. Tentu saja kita harus memisahkan firqah Sabaiah yang yang mengakui Ali sebagai Tuhan dari Syiah (dan sudah jelas bahwa Sabaiyah adalah kafir di mata Syiah).[27] Dan tidak bisa diragukan lagi bahwa seluruh akidah Syiah berdasarkan nash al-Qur’an atau hadis-hadis yang dinisbahkan kepada Nabi.” Dia juga berkata:”Mereka menyayangi tetangganya yang sunni dan tidak menjauhi mereka.”[28]

DR. Abdulkarim Zaidan, salah satu pemimpin penting Ikhwanul Muslimin Irak menulis:

“Mazhab Ja’fari ada di Iran, Irak, India, Pakistan, Libanon dan Suriah atau negara-negara lainnya. Antara fikih Ja’fari dan mazhab lainnya tidak lebih dari perbedaan antar mazhab dengan mazhab lainnya.”[29]

Ustad Salim Bahansawi yang merupakan salah satu pemikir Ikhwan, dalam kitabnya yang penting السنة المفترى عليها membaha masalah ini dengan terperinci, dan ketika menjawab klaim orang-orang yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Qur’an lain selain Qur’an kita, berkata:”Qur’an yang ada di kalangan Ahli Sunnah adalah Qur’an yang ada di masjid dan di rumah-rumah orang Syiah.”[30] Dia juga berkata: “Syiah Ja’fari (12 Imam) meyakini bahwa barang siapa yang mentahrif Quran yang turun kepada mereka dari awal Islam adalah kafir.[31]

Dia melanjutkan jawabannya kepada Muhibuddin Khatib dan Ihsan Ilahi Zahir tentang tahrif Qur’an dan membawakan risalah di halaman 68-75 dalam kitabnya yang mengandung pendapat mayoritas ulama dan mujtahid Syiah berkaitan klaim ini. Dan dia membawa ucapan Ayatullah Khui:”Apa yang sudah diketahui adalah bahwa tidak terjadi tahrif dalam Qur’an dan apa yang kita miliki, adalah Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw.”[32]

Dan dia menukil ucapan Syaikh Muhammad Ridha Muzaffar—ulama terkenal Syiah asal Irak: “Apa yang ada di tangan kita dan yang kita baca adalah Qur’an yang turun kepada Nabi. Dan barang siapa yang mengklaim hal selain ini adalah pembohong dan pembuat mughalathah. Ucapan mereka tentang tahrif Qur’an ini keluar telah dari jalan yang benar. لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ

Kemudian, dia juga menukil dari Kasyiful Ghita: “Semua meyakini dan berijma bahwa tidak ada kekurangan, tambahan dan tahrif dalam al-Qur’an.”

Tentu saja pendapat-pendapat lain masih banyak dalam halaman buku yang disebutkan di atas, jika berminat silahkan merujuk buku tersebut.

Berkaitan dengan sebagian riwayat tidak benar yang mungkin saja digunakan sebagian kalangan sebagai dalil, harus dikatakan bahwa hadis-hadis ini adalah tertolak. Hadis-hadis demikian juga ada di kalangan Ahli Sunnah dan mereka juga menolak hadis-hadis tersebut.”[33]

Tentang ishmat, Ustadz Bahansawi berkata:

“Ishmat yang diingkari Ahli Sunnah tidak akan berakhir dengan pengkafiran satu sama lainnya jika kedua mazhab memahaminya sebagaimana yang dimaksud oleh mazhab 12 Imam. Sebab makna ishmat yang diakui oleh Syiah 12 Imam tidak termasuk sebagai hal-hal yang keluar dari agama dalam Ahli Sunnah. Pengingkaran ishmat adalah hal pandanagn dan pemikiran, sebab tidak ada dalam nash-nash yang yang diyakini oleh Ahli Sunnah. Dan sebagaimana sudah jelas, kekafiran hanya akan terjadi jika terjadi pengingkaran atas hal-hal yang pasti dalam Qur’an dan hadis dan si pengingkar juga mengetahui masalah ini. Jadi, jika si pengingkar tidak tahu atau meyakini ketidakshahihan riwayat maka dia tidak kafir meskipun kita tidak mengajukan dalil syar’i kepadanya.”[34]

Setelah Ustad Bahansawi, mari kita menuju Ustad Anwar Jundi dan kitabnya al-Islam wa Harikah Tarikh. Dia berkata:

“Sejarah Islam penuh dengan pertentangan dan perseteruan pikiran serta pertikaian politik antara Ahli Sunnah dan Syiah. Para agressor asing sejak Perang Salib sampai sekarang selalu berusaha memanfaatkan pertentangan ini dan memperdalam pengaruhnya agar persatuan dunia Islam tidak sempurna. Oleh karena itu, gerakan pro Barat dalam rangka memecah belah antara Ahli Sunnah dan Syiah menciptakan permusuhan di antara keduanya. Ahli Sunnah dan Syiah memahami bahwa ini adalah skenario, maka mereka pun berusaha mempersempit arena pertentangan.”[35]
Sekarang, apakah kita telah memahami bahwa siapa yang menciptakan fitnah ini? Siapa yang mengambil manfaat darinya? Apakah kita mengerti bahwa setan inilah yang mengajak kaum muslimin pada perpecahan dan pengkafiran satu sama lain, padahal perbedaan yang ada lebih sedikit dari apa yang dibayangkan oleh orang-orang yang tertipu oleh setan ini. Ustad Anwar Jundi kemudian berkata:

“Kenyataannya adalah bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak lebih dari perbedaan antara mazhab Sunni yang empat.”[36]

Supaya kita tidak menduga seperti ini bahwa Syiah dan Sunni secara umum adalah berbeda dan dalam sejarah mereka bukan termasuk ghuluw mari kita baca ungkapan Ustad Jundi: “Sudah selayaknya para peneliti berhati-hati dalam menyamakan Syiah dengan Ghulat. Para Imam Syiah sendiri menyerang Ghulat dan telah mengingatkan rekayasa para Ghulat.”[37]

Ustad Sami’ Athifuzzain, penulis kitab al-Islam wa Tsiqafatul Insan telah menulis sebuah buku berjudul al-Muslimun…Man Hum? (Siapakah Kaum Muslimin?) yang di dalamnya terdapat analisa posisi Sunni dan Syiah. Dalam mukaddimah kitabnya, dia menulis:

“Pembaca yang mulia, apa yang menyebabkan buku ini ditulis adalah dua pengelompokan buta yang saat ini muncul dalam masyarakat kita, khususnya di antara kaum muslimin Syiah dan Sunni yang semestinya terhapus dengan terhapusnya kejahilan. Tetapi sayangnya, hal ini terus berakar dalam hati-hati yang tidak sehat, sebab sumber pengelompokan ini adalah sekelompok orang yang berhasil menguasai dunia Islam lewat nifaq. Kelompok itu adalah musuh Islam yang tidak bisa hidup kecuali seperti lintah penghisap darah. Saudara-saudara Syiah dan Sunniku! Saya akan mengungkapkan hakikat penting tentang pemahaman Qur’an, Sunni dan Syiah kepada anda karena perbedaan ini hanya terletak pada pemahaman atas Qur’an dan Sunnah bukan pada asli Qur’an dan sunnah.”[38]

Ustadz Sami’ Athifuzzain, di akhir bukunya berkata:

“Setelah kita mengetahui dalil terpenting yang membuat ummat mengalami badai, saya akan mengakhiri buku ini dengan ungkapan ini, bahwa kita sebagai muslimin khususnya dalam era ini memiliki kewajiban untuk menjawab penyelewengan mereka yang menjadikan mazhab-mazhab Islam sebagai alat untuk menyesatkan dan mempermainkan pikiran serta meningkatkan keraguan dan syak,” dan “kita harus menghilangkan ruh jelek perpecahan dan menutup jalan bagi mereka yang memperluas kekerasan dalam agama, agar kaum muslimin kembali bersatu seperti masa lalu, berkerja sama, saling mencintai, bukan berkelompok-kelompok, garang dan jauh satu sama lainnya” “mereka harus sabar meneladani khualafaur rasyidin yang salingbekerja sama”.[39]

Ustadz Abul Hasan Nadawi menginginkan terciptanya kedekatan antara Syiah dan Sunni. Kepada Majalah al-I’tisham, dia berkata: “Jika hal ini terlaksana—yaitu kedekatan Sunni dan Syiah—akan terjadi sebuah revolusi yang tak ada tandingannya dalam sejarah baru pemikiran Islami.”[40]

Ustad Shabir Tha’imah berkata:

“Sudah selayaknya dikatakan bahwa antara Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan dalam ushul. Sunni dan Syiah adalah muwahhid. Perbedaan hanya pada furu’ [fikih] yang sama saja seperti perbedaan fikih di antara mazhab yang empat (Syafii, Hanbali…). Mereka mengimani ushuluddin sebagaimana yang ada dalam Quran dan sunnah Nabi. Selain itu mereka juga mengimani apa yang harus diimani. Mereka juga mengimani bahwa seorang muslim yang keluar dari hukum-hukum penting agama, maka Islamnya tidak benar (bathil). Yang benar adalah bahwa Sunni dan Syiah, keduanya adalah mazhab dari beberapa mazhab Islam yang mengambil ilham dari kitabullah dan sunnah nabi.”[41]

Ulama-ulama Ushul Fiqh meyakini bahwa jika para mujtahid Syiah benar-benar tidak sepakat dalam satu hal, ijma (kesepakatan pendapat dalam hukum) tidak akan tercapai sebagaimana jika para mujtahid Ahli Sunnah tidak mencapai kesepakatan. Ustad Abdul Wahab Khalaf berkata:

“Dalam ijma’ ada empat rukun dan jika tidak tercapai ijma kecuali dengan adanya keempat rukun tersebut. Rukun kedua adalah bahwa semua mujtahid menyepakati sebuah hukum syar’i dari sebuah kejadian pada saat terjadi tanpa memandang negara, ras atau firqahnya. Jika dalam sebuah kejadian hanya mujtahid-mujtahid Haramain atau hanya mujtahid-mujtahid Irak atau hanya mujtahid-mujtahid Hijaz atau hanya mujtahid-mujtahid Ahli Bait, atau hanya mujtahid-mujtahid Ahli Sunnah menyepakati hukum tanpa kesepakatan mujtahid-mujtahid Syiah, maka dengan kesepakatan khusus ini secara syar’i tidak akan tercapai. Sebab ijma baru tercapai hanya dengan kesepakatan umum semua mujtahid dunia Islam dalam satu peristiwa dan ini tidak berlaku pada selain mujtahid.”[42]

Jika kesepakatan Syiah untuk tercapainya ijma diangap penting, maka apakah setelah ini Syiah juga tetap dianggap sebagai firqah sesat dan akan masuk neraka?!

Ustad Ahmad Ibrahim Beik yang merupakan guru Syaikh Syaltut, Syaikh Abu Zuhrah dan Syeikh Khalaf, dalam kitabnya علم اصول الفقه ويليه تاريخ التشريع الاسلامي dalam pembahasan khusus tentang sejarah Syiah, menuliskan:

“Syiah Imamiah adalah muslimin dan mengimani Allah, Nabi, Qur’an dan semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mazhab mereka banyak dianut di Iran.”[43]

Kemudian dia menambah:

“Di tengah-tengah Syiah, di masa lalu dan saat ini, telah muncul ulama-ulama besar dalam berbagai ilmu dan seni. Mereka memeliki pemikiran yang dalam dan pengetahuan yang luas. Kitab-kitab karangan mereka mempengaruhi ratusan ribu orang dan saya mengetahui mayoritas buku-buku tersebut.”[44]

Dalam catatan pinggir di dalam halam kitab tersebut, dia menulis: “Di kalangan orang-orang yang dinisbahkan sebagai Syiah juga terdapat (Ghulat) yang sebenarnya telah keluar dengan keyakinan yang dimilikinya dan mereka sendiri ditolak oleh Syiah Imamiah dan kelompok ghulat ini tidak dibiarkan begitu saja oleh Syiah.”

Setelah kesaksian yang banyak dari para ulama ini, saya ingin menunjukkan bahwa mereka yang berusaha mengulang kembali fatwa Ibnu Taimiyyah yang menentang Rafidhah—meliputi hampir semua firqah Syiah—dan berusaha mempermalukan Syiah 12 Imam dengan fatwa ini dan sebagai hasilnya mereka berusaha menentang Revolusi Islam, sesungguhnya mereka telah melakukan beberapa kesalahan penting:

1. Mereka tidak bertanya terlebih dahulu mengapa dalam sejarah Islam sebelum Ibnu Tayyimah, fatwa seperti ini tidak pernah ditemukan? Apalagi Ibnu Taimiyyah hidup pada abad ke-8 H yaitu 6 abad setelah kemunculan Syiah.

2. Mereka tidak mampu memahami jaman Ibnu Taimiyyah dan ketimpangan sosial masyarakat Islam ketika pihak luar menyerang Islam.

Dalam maraknya kebencian terhadap Revolusi Islam Iran—dan pengambilan sikap politik negatif terhadap Iran—mereka tidak berusaha untuk menganalisa apakah kata ‘Rafidhah’ sesuai untuk Syiah atau tidak?

Ustadz Anwar al-Jundi dalam bukunya berkata: “Rafidhah bukan Sunni dan Syiah.”[45]

Imam Muhammad Abu Zuhrah dalam kitabnya tentang Ibnu Taimiyyah telah membahas sebagian firqah Syiah seperti Zaidiyah dan 12 Imam tanpa menyebut sedikit pun tentang sikap negatif Ibnu Taimiyyah. Tetapi ketika menyebutkan Ismailiyah, dia berkata: “Inilah firqah yang ditentang oleh Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah memeranginya dengan pena, lidah dan pedang.”[46] Maka, Imam Abu Zuhrah membicarakan masalah ini dengan terperinci ketika membahas tentang firqah ini—menurut pengakuannya—karena sikap negatif Ibnu Taimiyyah terhadap firqah ini.

Inilah sikap sebagian gerakan-gerakan dan pemimpin Islam terhadap masalah buatan berkaitan Syiah dan Sunni. Revolusi Islam Iran yang menyala sejak tahun 1978 M telah membangunkan ruh umat Islam dalam satu poros panjang dari Tanza sampai Jakarta. Dengan kemajuan Revolusi Islam, sebagian besar kaum muslimin mengharapkan kemenangan-kemenangan bercahaya seperti awal kemunculan Islam lewat Tehran dan Qom. Dengan kemajuan Revolusi Islam, sebagian besar kalangan mulai memihaknya, kalangan yang memperlihatkan kegembiraannya di jalanan Kairo , Damesyq, Karachi, Khurtum, Istanbul dan Baitul Muqaddas dan di mana saja yang yang ada kaum musliminnya.

Di Jerman Barat, Ustadz Isham Atthar, salah satu pemimpin bersejarah gerakan Ikhwanul Muslimin yang terkenal dengan keikhlasan, jihad panjang dan kesucian, pria yang tak pernah tunduk terhadap pemerintah manapun dan tidak pernah dekat dengan istana raja manapun, telah menulis sebuah kitab yang lengkap tentang sejarah dan akar Revolusi Islam. Dia mendampingi Revolusi dan telah mengirim telegraf dengan maksud mengucapakan selamat dan dukungan kepada Imam Khomeini.

Ucapan atas pembelaannya terhadap Revolusi terekam dalam kaset dan tersebar dari tangan ke tangan para pemuda muslim. Dalam majalah ar-Raid yang dicetak di Jerman, dia juga mengakui dan menjelaskan tentang Revolusi Islam.

Di Sudan, sikap gerakan Ikhwanul Muslimin dan para pemuda muslim Universitas Khurtum adalah sikap yang paling menarik yang disaksikan oleh ibukota-ibukota negara-negara Islam, tempat di mana mereka melakukan demonstrasi. DR. Hasab Turabi, pemimpin gerakan Islami di Sudan yang terkenal kepiawaiannya dalam masalah budaya dan politik, telah mengunjungi Iran dan bertemu dengan Imam Khomeini dan menumumkan pembelaannya terhadap Revolusi Islam dan pemimpinnya.

Di Tunisia, majalah al-Ma’rifah, juga mendampingi Revolusi. Majalah itu mengucapkan selamat atas kemenangan Revolusi dan mengajak semua umat untuk menolongnya. Peristiwa ini sangat hangat sampai-sampai Ustade Rasyid Ghanushi pimpinan gerakan Islam Tunisia mengusulkan Imam Khomeini sebagai Imam Kaum Muslimin dalam sebuah makalah di majalah tersebut yang di kemudian hari menjadi penyebab pemberdelan majalah dan penawanan para pemimpin gerakan oleh pemerintah.

Ustadz Ghanushi meyakini bahwa kecenderungan keislaman kontemporer “telah mengalami kristalisasi dan bentuk paling jelas Imam al-Banna, Maududi, Quthb dan Imam Khomeini yang merupakan wakil dan pemimpin kecenderungan Islami paling penting dalam gerakan Islam kontemporer.”[47]

Dia juga menjelaskan: “Dengan kemenangan Revolusi di Iran, Islam telah memulai sebuah tahapan organisnya.”[48] Dalam bukunya yang berjudul, Apa Maksud Kita dalam Istilah Gerakan Islami, dia berkata: “Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jama’ah Islami di Pakistan dan gerakan Imam Khomeini di Iran.”[49]

Dia juga berkata: “Di Iran, telah dimulai sebuah proses yang bisa jadi merupakan sebuah gerakan terpenting yang akan menyelamatkan seluruh kawasan dan kebebasan Islam dari cengkeraman pemerintahan-pemerintahan yang selalu berusaha menggunakan cengkeramannya menentang gelombang Revolusi di kawasan.”[50]

Di Libanon, dukungan gerakan Islami terhadap Revolusi lebih jelas dan dalam. Ustad Fathi Yakan, pemimpin gerakan Islami dan majalah terkenalnya al-Aman telah memilih sikap islami dan berharga berkenaan Revolusi Islam. Ustad Yakan telah berkali-kali mengunjungi Iran, menghadiri berbagai perayaan dan telah mendukung Revolusi lewat ceramah-ceramahnya.

Di Yordania, Ustadz Muhammad Abdurrahman Khalifah, Sekjen Ikhwanul Muslimin sebelum dan sesudah mengunjungi Iran, menyatakan dukungannya terhadap Revolusi Islam, demikian juga Ibrahim Zaidkilani yang meminta Raja Husain mundur! Dan Ustad Yusuf al-Azm yang syair terkenalnya telah diterbitkan dalam majalah al-Aman telah mengajak ummat berbait kepada Imam Khomeini di dalam syairnya. Di akhir syairnya dia berkata:

Salam atas Khomeini, pemimpin kami…

Penghancur istana kezaliman, tidak takut pada api

Kami berikan darah dan medali padanya

Kami akan maju

Mengalahkan kekufuran

Meninggalkan kegelapan

Agar dunia kembali terang dan damai.[51]

Di Mesir, majalah-majalah gerakan Islami seperti ad-Da’wah, al-I’tisham wal Mukhtarul Islam juga mendampingi Revolusi dan mengakui keislaman Revolusi serta membela pemimpinnya. Ketika serangan Saddam ke Iran dimulai, di sampul depan majalahnya al-I’tisham menulis: “رفيق تكريتي .. شاگرد ميشل عفلق kembali ingin menegakkan Qadisiah (nama sebuah kota kuno di Irak) baru di Iran !.”[52]

Dalam edisi yang sama, al-Itisham menulis makalah dengan judul “Ketakutan akan Meluasnya Revolusi Islam di Irak” dan menyatakan: “Saddam Husein menyakini bahwa masa perubahan tentara Iran dari tentara Syah ke tentara Islam adalah sebuah kesempatan emas dan tidak akan terulang! untuk menghancurkan tentara dan revolusi ini, sebelum para komandan dan tentara ini berubah menjadi sebuah kekuatan yang tidak terkalahkan di bawah ideologi Islami.”[53]

Ustad Jabir Rizq, salah satu wartawan terkenal Ikhwanul Muslimin dalam al-I’tisham, ketika menuliskan faktor-faktor penyebab perang menulis: “Bersamaan dengan maraknya api peperangan, semua skenario Amerika menentang Iran mengalami kegagalan.”[54]

Dia juga menambahkan: “Saddam Husein lupa bahwa dia akan memerangi sebuah negara yang jumlah penduduknya 4 kali penduduk Irak dan negara ini adalah satu-satunya negara yang mempu berevolusi menentang imprealisme salibi-Yahudi.”[55]

Selanjutnya dia menambah:

“Rakyar Iran bersama seluruh instansi terkaitnya siap untuk berperang sampai mereka meraih kemenangan dan bisa menghancurkan rezim haus darah Bats. Kekuatan rohani sedemikian rupa di kalangan rakyat Iran tidak pernah ditemukan sebelumnya. Keinginan mati syahid menjelma menjadi sebuah perlombaan dan pekerjaan yang ingin didahulukan. Rakyat Iran sangat yakin bahwa kemenangan pasti akan berada di tangan Iran.”

Ustadz Jabir Rizq menjelaskan bahwa tujuan penjajah melakukan perang adalah kehancuran Revolusi. Dia menulis: “Dengan kehancuran sistem Revolusi Iran maka bahaya yang mengancam bentuk-bentuk taghut ini juga akan hilang. Mereka menggigil membayangkan kemungkinan revolusi berbagai negara lainnya dalam menentang mereka serta kehancuran mereka lewat cara yang sama yang dilakukan rakyat muslim Iran saat menghancurkan Syah.”

Dan kemudian, di akhir makalah dia menulis: “Tetapi Hizbullah telah menang, jihad dan syahadat tidak akan dihindari,

و لينصرنَّ الله من ينصره ان الله لقوي عزيز. “

Jadi, initi perang adalah hal ini bukan sebagaimana yang didengungkan oleh Saudi dan sebagian kalangan lugu yang tidak paham apa yang sedang terjadi di dunia dan berkata: Iran adalah Syiah dan ingin menghancurkan sistem Sunni di Irak! Kejahilan dan kebutaan ini sangat menyedihkan! Dan betapa besar pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang menanamkan kejahilan dan kebencian di dalam hati ummat?!

Al-I’tisham di salah satu majalahnya membuat judul: “Revolusi yang memperbaharui perhitungan dan mengguncang kestabilan”[56] dan dalam edisi ini dia mengajukan pertanyaan: “Mengapa Revolusi Iran merupakan revolusi terbesar di era kontemporer?”[57]

Di akhir makalah yang sengaja ditulis untuk memperingati ulang tahun kedua Revolusi Islam, penulis sembari menulis tentang kekuatan tentara Syah dan peralatan yang digunakan untuk menghancurkannya, menambahkan: “Revolusi Iran akhirnya menang setelah mengalirkan darah ribuan orang dan dengan dengan aktivitas, hasil positif dan pengaruhnya, Revolusi mampu mengubah perhitungan dan mengguncang kestabilan serta merupakan revolusi terbesar dalam sejarah kontemporer.”

Mari kita lihat sikap Ikhwanul Muslimin Mesir ketika terjadi krisis penawanan mata-mata yang mengeluarkan dan mengirimkan pengumuman kepada semua pemimpin gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia:

“Jika masalah hanyalah terkait dengan Iran, manusia bisa menerima sebuah jalan tengah setelah memahami kondisi yang ada, tetapi Islam dan kaum muslimin yang berada di mana saja bertanggung jawab dan menanggung amanat atas pemerintahan Islam, pemerintahan yang pada abad 20 telah menang dengan mengorbankan darah rakyatnya demi menegakkan pemerintahan Ilahi menentang pemerintahan otoriter, imperialis dan zionisme.”

Pengumuman tersebut juga menyinggung pandangan Revolusi Iran kepada mereka yang berusaha melemahkan Revolusi dan berkata bahwa mereka itu tidak akan terlepas dari 4 kondisi ini:

“Apakah seorang muslim yang tidak mampu memahami jaman topan Islam dan masih mengalami era ketundukan. Dia harus memohon ampun kepada Allah dan berusaha menyempurnakan kekurangan pengetahuannya tentang makna jihad dan kemuliaan Islam. Ataukah dia adalah boneka yang menjadi perantara pemenuhan kebutuhan musuh-musuh Islam meski harus dengan cara merugikan Islam tapi pada saat yang sama malah menyerukan persaudaraan dan pentingnya menjaga persaudaraan. Ataukah seorang muslimin lemah yang tidak memiliki pendapat dan keinginan, dan harus digerakkan oleh orang lain. Ataukah dia seorang munafik yang sedang memainkan tipudaya!”

Saat serangan Saddam ke Iran dimulai, Divisi Internasional Ikhwanul Muslimin juga mengeluarkan pengumuman yang ditujukan kepada rakyat Irak dan menyerang partai Bats Kafir (sesuai ungkapan pengumuman):

“Perang ini bukanlah perang membebaskan kaum lemah, wanita dan anaka-anak tidak berdaya dan tidak akan ada hasilnya. Rakyat muslim Iran sendiri telah membebaskan dirinya dari kezaliman imperialis Amerika dan Zionis lewat jihad herois dan revolusi mendasar yang sangat istimewa di bawah pimpinan seorang Imam yang tidak diragukan lagi adalah merupakan sumber kebanggaan Islam dan kaum muslimin.”

Di akhir pengumuman, seruan ditujukan kepada rakyat Irak: “Hancurkanlah penguasa jahat kalian. Tidak ada kesempatan yang lebih baik dari ini. Letakkan senjata-senjata anda ke tanah dan bergabunglah dengan Revolusi. Revolusi Islam adalah revolusi anda semua.”

Sikap Jamaah Islam Pakistan terjelma dalam fatwa Maulana Abul A’la Maududi yang dicetak dalam majalah ad-Da’wah saat menjawab pertanyaan majalah tentang revolusi Islam Iran. Faqih mujtahid yang diakui oleh semua gerakan Islam sebagai salah satu tokoh gerakan yang terkenal di jamannya, berkata:

“Revolusi Imam Khomeini adalah sebuah revolusi Islam dan pelakunya adalah jamaah Islam dan para pemuda yang tumbuh dalam pangkuan tarbiyah Islam. Dan wajib bagi kaum muslimin secara umum dan gerakan-gerakan Islami secara khusus untuk mengakui dan bekerja sama dengan Revolusi ini dalam segala bidang.”[58]

Oleh karena itu, hal ini adalah sebuah sikap syar’i berkaitan dengan Revolusi dan sebagaimana yang dikemukakan Maududi, jika kita ingin setia pada Islam maka mengakui dan bekerja sama dengan Revolusi adalah wajib. Memusuhi Revolusi dan menjalankan perang Salibi menentangnya, (yang dilakukan siapa?) yang dilakukan oleh kelompok-kelompok hanya digambarkan sebagai bagian dari gerakan Islam adalah pekerjaan salah di mata syar’i dan bertentangan dengan fatwa para mujtahid besar.

Sebelum kita tinggalkan Maududi, saya akan sampaikan bahwa suatu hari seorang pemuda berkata kepada saya tentang penarikan fatwa Abul A’la yang dilakukannya sendiri. Saya kaget mendengar ucapan pemuda berhati baik ini yang mengutip ucapan tersebut dari orang lain dan orang tersebut juga menukilnya dari sumber terpercaya! Tetapi keheranan saya segera hilang ketika saya lihat ada tangan-tangan kotor di balik lelucon tak berharga ini. Siapakah yang menyebarkan peristiwa penarikan fatwa faqih mujtahid tersebut? Apakah tidak selayaknya hal itu diberitakan oleh ad-Da’wah? Tetapi ad-Da’wah dan yang lainnya tidak melakukannya dan tidak akan melakukannya.

Orang pertama yang mengetahui hal ini adalah orang yang menciptakan lelucon itu dan seperti biasanya adalah ‘orang-orang terpecaya’ dari gerakan Islami hari ini! Tetapi poin aneh dalam hal ini adalah bahwa orang terpercaya itu sendiri tidak mengetahui hal ini bahwa sebulan setelah Abul A’la Maududi mengeluarkan fatwa tersebut, dia telah kembali ke alam baka.

Dan sikap al-Azhar lewat mantan Syaikh al-Azhar, dalam wawancara dengan majalah as-Saryqul Ausath mengatakan: “Imam Khomeini adalah saudara muslim dan seorang muslim yang jujur.” Kemudian menambahkan: “Kaum muslimin adalah bersaudara meski berlainan mazhab dan Imam Khomeini berdiri di bawah bendera Islam, sebagaimana saya berdiri di bawahnya.”[59]

Ustadz Fathi Yakan, di akhir kitabnya yang berputar dari tangan ke tangan para pemuda gerakan Islam, ketika menganalisa skenario imperialis dan kekuatan internasional yang menentang Islam, berkata:

“Sejarah menjadi saksi ucapan-ucapan kami. Dan Revolusi Islam Iranlah yang membuat seluruh kekuatan kufr dunia bangkit demi menghancurkan janin Revolusi itu dan itu dikarenakan Revolusi ini adalah Islami, tidak Timur dan tidak Barat.”[60]

Nah, para pemuda Islam saat ini kalian mendengarkan siapa? Mendengarkan Abul A’la Maududi dan Ustadz Fathi Yakan atau orang-orang biasa, atau pengklaim Islam atau malah para pemiliki kepentingan-kepentingan duniawi yang dibalut dengan label agama?

Bukti terakhir yang ada di tangan kita adalah ucapan yang tertera dalam majalah ad-Da’wah yang saat ini terbit di Yunani, dunia saat ini dapat menyaksikan kebangkitan integral Islam yang merupakan pengaruh dari Revolusi Islam Iran—dalam proses naik turunnya—yang mampu menggulingkan musuh terbesar, terlama dan terganas Islam dan kaum muslimin.”[61]

Oleh karena itu, majalah ad-Da’wah menganggap Revolusi Iran sebagai Revolusi Islam dan memberikan pengaruh integral sebagaimana yang telah kami kemukakan di awal makalah.

Berkaitan proses naik dan turunnya Revolusi, harus saya katakan bahwa hal ini tak lain adalah usaha para penjajah yang berusaha mempengaruhi jalannya gerakan Revolusi. Dan kaum muslimin wajib menghilangkan usaha kaum penjajah tersebut.

Ini adalah sikap para ulama dan pemikir dalam gerakan Islam Sunni. Mari kita dengarkan ucapan Imam Khomeini ketika beliau sampai di Paris saat menjawab pertanyaan tentang azas Revolusi. Beliau berkata:

“Faktor yang telah membagi kaum muslimin menjadi Sunni dan Syiah di masa lalu, sekarang tidak ada lagi. Kita semua adalah mulimin dan Revolusi ini adalah Revolusi Islam. Kita semua adalah saudara se-Islam.”

Dalam kitab al-Harakatul Islamiyyah Wattahdis, Ustad Ghanushi mengutip ucapan Imam Khomeini: “Kami ingin agar Islam berkuasa sebagaimana yang telah diwahyukan kepada Rasulullah saw. Tidak ada beda antara Sunni dan Syiah, sebab pada jaman Rasulullah saw tidak terdapat mazhab-mazhab.”

Dalam Konfernsi ke-14 ملتقي الفكر الاسلامي tentang Pemikiran Islam yang diselenggerakan di al-Jazair, Sayyid Hadi Khosrushahi, wakil Imam Khomeini berkata:

“Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

Apakah setelah ini kita mampu memahami intisari Revolusi, tugas-tugas sejarah dan kewajiban-kewajiban Ilahiah? Sekali lagi bahwa, Islam kembali hidup dalam pertarungan dengan colesy kontemporer Barat. Pendukung Islam Iran saat ini—di samping semua kaum muslimin yang sadar dan setia—telah mengibarkan bendera kehidupan baru demi mewujudkan kemenagna Islam di dunia dan demia mewujudkan tujuan akhir kehidupan—keridhaan Allah swt.

Akhirul kalam, mari kita dengan mengikuti ucapan pemikir Mesir, Amsihi dan Marksist Ghali Syukri, yang menjelaskan sebagian tugas Ilahiah dalam serangan kepada Revolusi Islam. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Dirasatu Arabiyyah dan majalah al-Bidrul Siyasi cetakan Quds menukilnya, Ghali menulis: “Salah satu keajaiban di zaman kita yang cukup jelas bagi semua orang adalah para pemikir yang dalam sejarah terkenal sebagai pemikir Marxisme telah berubah menjadi pendukung Islam murni hanya dalam sekejap mata. Para pemikir yang tergantung pada Barat telah berubah menjadi orang Timur yang taasub tanpa syarat apa pun.

Demikianlah, di bawah bendera Imam Khomeini telah berkumpul sekelompok pemikir Arab dengan alasan pembaruan pendapat dalam hal-hal yang sudah jelas, dengan alasan kembali pada asli setelah keterasingan yang lama dan terpengaruh Barat serta dengan alasan kekalahan memalukan Marxisme, Laisme, Liberalisme dan Nasionalisme.”

Ucapan Ghali Syukri selesai. Tetapi pada hakikatnya, meskipun dia menyerang dan menghina gelombang pro Khomeini, dia telah mempu memahami intisari Revolusi Islam lebih dari para ulama Islam lainnya!

Akhirnya, saya akan mengulangi ucapan Imam Khomeini yang telah beliau sampaikan dalam khutbah 17 tahun lalu (Jumadil Awal 1384 H):

“Tangan-tangan kotor yang telah menciptakan pertentangan di dunia Islam antara Sunni dan Syiah bukan Sunni dan Syiah. Mereka adalah tangan-tangan imperialis yang ingin berkuasa di negara-negara Islam. Mereka adalah pemerintahan-pemerintahan yang ingin merampok kekayaan rakyat kita denganberbagai tipuan dan alat dan menciptakan pertentangan dengan nama Syiah dan Sunni.”[islammuhamamadi/mt/taghrib]

[1] Silahkan lihat kitab Asasut Taqaqaddum ‘Inda Mufkiril Islam fil ‘Alamil ‘Arabil Hadis (Asas-Asas Utama dalam Pandangan Para Pemikir Kontemporer Dunia Barat).
[2] Al-Wahdatul Islamiyyah, cetakan Beirut, hal. 7.
[3] Limaza Ightaila Hasan al-Banna, cetakan pertama, Darul I’tisham, hal. 32, dikutip oleh buku Assanatul Muftara ‘Alaiha, cetakan Kairo, hal. 57.
[4] Ibid, hal. 57.
[5] Kitab bersejarah ini telah saya terjemah dan telah dicetak oleh Yayasan Ittila’at.
[6] Kabural Harikatul Islamiah Fil ‘Asril Hadis, DR. Muhammad Ali Dhanawi, cetakan Mesir, hal. 150.
[7] Al-Mausu’atul Harakiyyah, karya Ustad Fathi Yakan, cetakan Beirut, hal. 163
[8] Qur’an Majid, surah Shaffat, ayat 171-173.
[9] Al-Islam, Fikrah wa Harikah wa Inqilab, Fathi Yakan, cetakan Beirut, hal. 56.
[10] Al-Muslimun, tahun kelima, nomor perdana, cetakan Dameys, bulan April 1956, hal. 73.
[11] Ibid, hal. 76. (*) dalam tanggal penulisan pembahsan ini, dia berada di dalam penjara dan saat ini memimpin gerakan Islami Yaman.
[12] Ketika tulisan ini ditulis, dia sedang mendekam di dalam penjara. Namun setelah bebas ia menjadi pemimpin Harakah Islamiyah di Yaman
[13] Al-Wahdatul Islamiyyah, hal. 20.
[14] Ibid, hal. 23.
[15] Ibid, hal. 24.
[16] Silahkan rujuk teks asli fatwa Syaikh Syaltut, dalam bagian bukti-bukti.
[17] Kaifa Nafhamul Islam, hal. 142.
[18] Qur’an Majid, surah al-An’am, ayat 159.
[19] Kaifa Nafhamul Islam, hal. 143.
[20] Ibid, hal. 144 dan 145.
[21] Nazaraat Fil Qur’an, cetakan Mesir, catatan pinggir, hal. 79.
[22] Ibid, catatan pinggir hal. 158.
[23] Ma’alimusy Syariatul Islamiyyah, cetakan Beirut, hal. 52.
[24] Al-Islam, jilid 2, hal. 165.
[25] Islam Bilaa Mazhab, hal. 182.
[26] Ibid, hal. 187.
[27] Silahkan rujuk kitab Abdullah bin Saba’, Bainal Waqi’ wal Khayal, karangan saya yang dicetak oleh Organisasi Internasional Pendekatan Mazhab-Mazhab Islami di Tehran, agar masalah sabaiyyah menjadi jelas—penerjemah.
[28] Tarikhul Mazahibul Islamiyyah, hal. 52.
[29] Al-Madkhal Lidarasatisy Syariatul Islamiyyah, hal. 128.
[30] Assanatul Muftara ‘Alaiha, hal. 60.
[31] Ibid, hal. 263.
[32] Ibid, hal. 60.
[33] Ibid, hal. 74.
[34] Al-Islam wa Harikatut Tarikh, hal. 42.
[35] Ibid, hal. 61.
[36] Ibid, hal. 421.
[37] Ibid.
[38] AL-Muslimun…Min Hum? Mukaddimah, hal. 9.
[39] Ibid, hal. 98-99.
[40] Al-I’tisham, cetakan Mesir tertanggal Muharram 1358 H.
[41] Tahdidat Imamul ‘Arubah wal Islam, hal. 208.
[42] ‘Ilmu Ushulul Fiqh, cetakan 14, hal. 46.
[43] ‘Ilmu Ushulul Fiqh wa Yalihu Tarikhut Tasyri’ul Islami, cetakan Mesir, Darul Anshar, pembahasan khusus ‘Tasyri’, hal. 21.
[44] Ibid, hal. 22.
[45] Al-Islam wa Harikatut Tarikh, hal. 242.
[46] Ibnu Tayyimah, karangan Muhammad Abu Zuhreh, hal. 170.
[47] Al-Harikatul Islamiyyah wat Tahdis, Rasyid Ghanawasyi-Hasan Turabi, hal. 16.
[48] Ibid, hal. 17.
[49] Ibid.
[50] Ibid, hal. 24.
[51] بالخميني زعيماً وامـــــام هدّ صرح الظلم لا يخشى الحمام

قد منحناه وشاحا و وســام مــن دمانــا ومضينا للأمـــــام

نهزم الشرك ونجتاج الظلام ليعــود الكـــون نــــوراً وسلام

[52] Al-I’tisham, edisi Zul Hijjah 1400 H, Oktober 1980.
[53] Ibid, hal. 10.
[54] Al-I’tisham, edisi Muharram 1401 H, Desember 1980, hal. 36.
[55] Ibid, hal. 30.
[56] Al-I’tisham, edisi Safar 1401 H, 1981 Masehi.
[57] Ibid, hal. 39.
[58] Majalah ad-Da’wah, Mesir, No. 29, Agustus 1979.
[59] Asy-Syarqul Ausath, cetakan London-Jeddah, No. 762, hal. 4.
[60] Abjadiyyatut Tasawwurul Haraki lil ‘Amalil Islami, hal. 48.
[61] Majalah bulanan ad-Da’wah, cetakan Wina, No. 72, hal. 20, tertanggal Rajab, 1402 H, 1982 M.

Mencari Habib Sejati

Ahmad Taufik

-Tempo 09 Feb 2009-SEJUMLAH kata mengalami inflasi makna. Habib adalah salah satunya. Sekarang ini setiap orang keturunan Arab seakan-akan berhak menyandang gelar habib itu.

Dari mana habib berasal? Tentu dari bahasa Arab. Hubb, ahabbah—yuhibbu—hubban, menurut Kamus Arab-Inggris-Indonesia terbitan Al-Maarif, Bandung (1983), berarti cinta atau mencintai. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (2005) mengartikan habib sebagai yang dicintai atau kekasih. Bisa juga panggilan kepada orang Arab yang artinya tuan atau panggilan kepada orang yang bergelar sayid.

Sayid berasal dari saadah, ya siidu, siyadah yang berarti pimpinan atau ketua yang melayani (ummat). Kamus Besar mengartikan sayid sebagai tuan atau sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad. Kamus Besar memperjelas kata itu dengan sayidani yang berarti tuan yang dua—sebutan untuk dua cucu Nabi, yaitu Hassan dan Hussein.

Berkaitan dengan dua kata tadi, ada kata syarif yang berarti orang yang mulia. Kata ini juga berarti bangsawan, sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad yang langsung dari garis Hussein. Yang perempuan disebut syarifah.

Dengan begitu, habib disematkan sebagai bentuk kecintaan umat terhadap guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak. Ini sama dengan gelar kiai atau ajengan di Jawa.

Sejarah Islam menjelaskan, habib merupakan gelar mulia untuk keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad ini dibunuh secara kejam di Karbala. Anaknya, Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa khalifah ”Islam”, hanya bisa menjadi ahli ibadah, maka di belakang namanya ada gelar abidin.

Semua khalifah ”Islam” memusuhi keturunan Hussein karena takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan kedelapan, Ahmad bin Isa, akhirnya pindah dari Basrah di Irak selatan ke Hadramaut di Yaman. Ia wafat pada 345 Hijriyah. Cucu Ahmad bin Isa, Alwi bin Ubaidillah, yang menetap di Hadramaut, dan keturunannya kemudian dinamai Alawiyin.

Penetapan nama itu, menurut Tharick Chehab (1975)—yang ditulis kembali oleh Kurtubi (10 Januari 2007) dalam Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia—dilakukan karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan. Setiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku besar dan ningrat di Yaman saat itu disebut Qabili. Mereka memusuhi keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib itu.

Karena tekanan masyarakat semakin kuat, keturunan keenam Alwi bin Ubaidillah, Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, meninggalkan mazhab ahlul bait yang dianutnya. Secara kompromis ia menerima mazhab Muhammad bin Idris al-Syafi-i al-Quraisyi atau mazhab Syafi’i. Setelah Al-Muqaddam wafat di Tarim pada 653 tarikh Islam, keturunannya pun menyebar ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok, juga Indonesia.

Di Indonesia, keturunan Hussein masih membawa nama keluarga karena pengaruh kehidupan di Hadramaut. Kita mengenal Alaydrus, (yang berarti pemberani seperti singa ), Al-Attas (yang berarti bersin atau bangkis), As-Saqaf (atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid, besi/pandai besi), Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, Habsyah), Al-Jufri, dan sebagainya. Nama belakang itu berasal dari panggilan, profesi, atau asal-muasal, seperti nama marga di Tapanuli, Makassar, atau Jawa.

Di beberapa negara, alawiyin bisa dikenali lewat sebutan sayyid, syarif, ayib, atau sidi di depan nama mereka. Misalnya bekas Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, atau pemimpin tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei.

Masyarakat kita mengenal orang-orang mulia, tinggi ilmu agama, dan terpuji akhlaknya seperti Habib Sholeh bin Muchsin Alhamid dari Tanggul, Habib Abdurahman Alaydrus dari Luar Batang, Jakarta Utara, dan Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat, dan Habib Ali Bungur. Artinya, sayyid atau habib hanya pantas disandang orang dengan tingkat ketakwaan, kezuhudan, dan keilmuan yang tinggi serta berakhlak mulia, dan kita merindukan sosok Habib yang menjadi panutan Ummat.

Gelar habib itu bukan gelar untuk sebuah keturunan yang hanya cakap memakai sorban dan jubah tapi jauh dari akhlak mulia. Itu juga bukan gelar untuk mereka yang suka memakai kekerasan, apalagi dengan mengatasnamakan agama.


AHLUL BAIT TELADAN SEMPURNA

Bismillaah, walhamdu lillah, wash-shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa’ala aalihi wa man waalah, amma ba’du.

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Salawat dan salam sejahtera untuk Rasul penghulu umat Sayidina Muhammad saw serta Ahlul Baitnya yang suci dari dosa. Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat yang tulus, ikhlas dalam menghadapi cobaan dan derita dan menjadi teladan demi terwujudnya Panji “La ilaha Illallah”.
Ahlul Bait adalah sebuah kata yang mana Alllah dan Rasul-NYA memberikan suatu makna khusus, kekhususan ini bukanlah suatu hal yang mustahil apabila Allah Swt berkehendak dan Allah mustahil memerintahkan suatu pengkultusan yang mencemari iman dan tauhid. Kecintaan kepada mereka diperintahkan kepada umat Islam karena Allah sendiri yang memuji mereka dalam ayat-ayat-NYA. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bait termasuk bagian dari kesempurnaan iman dan sebaliknya.
Sebagain orang yang tidak mengerti cenderung memahami Ahlul Bait dengan pemikiran yang picik dan tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Hal itu disebabkan karena kurang mengenal sejarah Islam dengan baik ataupun sejarah yang sampai kepada kita tidak memberikan perhatian tentang siapa dan mengapa Ahlul Bait. Tidak sahnya shalat tanpa menyebut kemuliaan Ahlul Bait adalah merupakan bukti betapa penting kedudukan Ahlul Bait untuk diketahui dan diperkenalkan kepada segenap umat. Walaupun semua ulama mazhab sepakat mengenai hal ini, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan siapa saja yang termasuk Ahlul Bait.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”(QS. al-Ahzab : 33)

Itulah keluarga yang disucikan Allah. Itulah Ahlul Bait. Itulah keluarga Nabi Saw. Tapi, siapakah tepatnya Ahlul Bait itu? Siapa saja yang termasuk kategori Ahlul Bait seperti yang dimaksud dalam surah al-Ahzab ayat (33) tersebut?

Pendapat Para Ulama

Pemikiran-pemikiran serta tafsir tentang sipakah Ahlul Bait yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim surah al-Ahzab (33) banyak sekali hingga terbagi ke dalam tujuh kelompok. Jika kita telaah pendapat-pendapat para ulama tersebut, maka kita dapat menyederhanakan pendapat tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu:

Kelompok Pertama: Pendapat bahwa para istri Nabi termasuk Ahlul Bait, baik semata-mata atau bersama Ashabul Kisa atau seluruh Bani Hasyim.

Kelompok Kedua: Pendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Ashabul Kisa, juga Bani Hasyim (Yaitu orang-orang yang diharamkan menerima santunan sedekah), seperti keluarga “Abbas, keluarga’Agil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Ali Karramullahu Wajhah.

Kelompok Ketiga: Pendapat bahwa hanya Ashabul Kisa saja, Yaitu Rasulullah saw, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein—salawat dan salam sejahtera untuk mereka yang termasuk Ahlul Bait.

Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminin Aisyah ra yang berkata, “Suatu ketika Nabi mengeluarkan selimut dari bulu yang berwarna hitam. Tiba-tiba datanglah Hasan bin Ali, lalu Nabi memasukkan dia ke dalamnya. Lalu datanglah Husein bin Ali dan masuk pula bersama Hasan ke dalamnya. Lalu datang lagi Fathimah. Ia juga masuk ke dalamnya. Lalu datang Ali bin Abi Thalib, dan Nabi pun memasukkan dia ke dalamnya. Kemudian Nabi membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.”
Ahlul Bait sepanjang sejarahnya adalah merupakan gambaran sempurna bagi masyarakat Islam yang ideal. Tatanan masyarakat Islam dalam kerangka Ahlul Bait ialah yang meletakkan cinta dalam bingkainya yang agung. Ia menjadi insiprasi dan sumber kekuatan, tetap ada dan terus disegarkan. Ahlu Bait adalah madrasah nubuwwah, kalau masyarakat itu terbentuk dari kumpulan-kumpulan keluarga, maka Ahlul Bait adalah contoh terbaik dari semua keluarga. Cinta kepada Nabi dan Ahlul Bait sudah ada sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik oleh al-Qur’an, oleh Hadis, maupun oleh akhlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulan yang mesra dengan Rasulullah saw. Hubungan kecintaan ini dikuatkan oleh rasa senasib dan seperjuangan dalam membela Islam. Ajaran-ajaran Nabi menghilangkan asabiyah, rasa kebanggaan suku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaran yang kokoh sepanjang ajaran iman dan tauhid dan terwujudkan dalam kecintaan kepada Ahlul Baitnya.

Sahabat-sahabat Nabi saw merasa lebih bangga disebut muslim daripada sebutan nama sukunya. Semua mereka mencintai Nabi sebagai pemimpinnya dan Ahlul Bait sebagai pengasuh, sehingga istri-istri Nabi digelarkan “ibu orang-orang beriman”.

Tidak seorang muslim pun yang dapat meragukan betapa besar cintanya para sahabat kepada Nabi saw dan Ahlul Baitnya.

Begitu pula Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait sudah umum ketahui orang. Ia mabuk dalam kecintaan ini demikian rupa, sehingga acapkali ia dinamakan Rafidhi. Imam Syafi’i berpendapat bahwa mencintai Ahlul Bait tidak usah diartikan membenci, apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi yang lain.

Pernah ditanya Imam Syafi’i tentang Imam Ali bin Abi Thalib dalam masa itu. Ia lalu menjawab : “Aku tidak akan berbicara tentang seorang tokoh, yang oleh teman-temannya dirahasiakan sejarah hidupnya, dan oleh musuh-musuhnya disimpan karena amarah. Kecintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan terdapat dalam kalangan yang memusuhinya sekali pun. Apa inikah sebabnya, maka para pencintanya memenuhi Timur dan Barat ?

Perintah Mencintai Ahlul Bait

“ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asyu’araa’:23

Marilah kita membuka al-Qur’an yang menceritakan kejadian para nabi terdahulu tatkala menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya.

Nabi Nuh as berkata kepada umatnya : “Dan , ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah semata.QS. Hud: 29

Nabi Saleh as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepada kalian atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’:145

Nabi Luth as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’:164

Nabi Syuaib as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah atas ajakanku. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’:180

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa para nabi terdahulu—sebelum Nabi Muhammad saw—dalam menyampaikan seruan Ilahi, tidak mengharapkan upah dari kaumnya melainkan semata-mata hanya dari Allah, Tuhan semesta alam. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Beliau meminta upah dari umatnya berupa cinta dan kasih sayang terhadap Ahlul Baitnya atas ajaran yang ia sampaikan melalui suatu perjuangan keras yang membutuhkan ketabahan dan kesabaran luar biasa.

Jadi mencintai Ahlul Bait sama artinya dengan mencintai Rasulullah saw dan pada gilirannya sama artinya dengan mencintai Allah. Teladanilah jejak suci mereka agar kita menjadi umat yang tahu dan pandai bersyukur. Wallahu A’lam.

________________________________________________________________________________________

Ayat Tathir

إِنَّما يُريدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, (hai) Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih- bersihnya.

Poros Pembahasan

Ayat Tathir merupakan salah satu ayat-ayat yang berkaitan dengan wilayah / kepemimpinan Imam Ali a.s. dan para Imam yang lain. Ayat yang setiap katanya lazim ditelaah ini, secara gamblang juga menginsyaratkan tentang kemaksuman para pribadiagung tersebut.

Mukadimah

Khitab ayat kedua puluh delapan hingga tiga puluh empat surah Al-Ahzab, ditujukan kepada para isteri nabi Saw, hanya saja di antara ketujuh ayat tersebut turun sebuah ayat yang dikenal dengan ayat Tathir dengan kandungan dan nada yang berbeda. Salah satu perbedaan itu adalah dhamir (kata ganti); dalam ayat-ayat sebelumnya sekitar 25 dhamir atau fi’il (kata kerja)berbentuk muannats (perempuan) dan setelah ayat ini juga terdapat dua dhamir dan kata kerja muannats pula. Sedangkan dhamir dan kata kerja yang berada dalam ayat Tathir seluruhnya berbentuk mudazkkarataudhamir yang mencakup kedua jenis atau dhamir yang tidak khusus mengarah kepada kaum perempuan, padahal ayat ini diapit oleh 27 dhamir muannats (khusus kaum hawa) sebelum dan sesudahnya.

Apakah ini sebuah kebetulan semata ataukah hal ini menyimpan sebuah filsafat tertentu?

Tanpa diragukan lagi, ini bukan sebuah kebetulan,melainkan terkandung sebuah rahasia dan sebab yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Jika kandungan ayat Tathir juga mencakup isteri-isteri Rasulullah Saw, lalu mengapa dhamir dan khitab dalam ayat tersebut berubah dan tidak memakai dhamir muannats seperti yang digunakan sebelum dan sesudahnya?

Hal ini secara yakin dapat dipahami bahwa kandungan ayat dan perubahan dhamir dan kata kerja yang terjadi mengindikasikan bahwa isteri-isteri nabi bukan yang dimaksud oleh ayat Tathir ini.

Penjelasan dan Tafsir

Ayat Tathir, Burhan Yang Jelas Atas Kemaksuman

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, setiap kata dari ayat mulia ini perlu dikaji dan direnungkan. Oleh karena itu setiap kata dari ayat ini akan kami bahas satu persatu berikut ini:

1. انما berarti hanya, yang menunjukkan hashr. Dari kata ini dapat dipahami bahwa dalam ayat ini terdapat hal yang tidak dimiliki oleh seluruh kaum muslimin, karena jika pada awalnya memang umum untuk mereka, tidak perlu kata ini disebut di dalamnya.

Dalam ayat ini, kotoran tidak dileyapkan dari semua kaum muslimin, akan tetapi khusus person-person yang telah disebut di sana. Di samping itu, kotoran yang dimaksud juga khusus bukan sembarang kotoran.

Hal ini disebabkanketakwaan yang biasa mencakup semua muslimin dan menghindar dari segala dosa merupakan kewajiban semua orang; sedangkan apa yang dimaksud oleh ayat ini tentu hal yang lebih tinggi dari sekedar ketakwaan biasa.

2. یرید الله Allah menghendaki. Apakah maksud dari kehendak Allah dalam ayat ini? Apakah kehendak itu Tasyriiyahatau Takwiniyah?

Jawab: untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan secara ringkas arti dari dua iradah ini:

Iradah  Tasyriiyah adalah perintah Allah Swt, dengan kata lain iradah ini adalah kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan-Nya. Ayat seratus delapan puluh lima dari surah Al-Baqarah merupakan salah satu ayat yang menunjukkan iradah ini. Dalam ayat ini, setelah menjelaskan kewajiban puasa di bulan suci Ramadhan dan pengecualian kewajiban ini dari para musafir dan orang-orang yang sakit, Allah Swt berfirman:

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan kalian bukan kesulitan.

Maksud kehendak Allah dalam ayat ini adalah iradah tasyri’iyah; artinya hukum Allah Swt tentang puasa di bulan Ramadhan adalah hukum yang mudah dan tidak berat; bahkan seluruh hukum Islam bukanlah hukum yang sulit. Oleh karena itu Rasulullah Saw bersabda:

بعثت اليکم بالحنفية السمحة السهلة

Aku diutus kepada kalian dengan syariat yang mudah.”[1]

Iradah takwiniyahberarti penciptaan; artinya kehendak Allah Swt untuk menciptakan sesuatu atau seseorang.

Contoh iradah ini dapat dijumpai pada ayat delapan puluh dua surah Yasin, di mana Allah berfirman:

إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:” Jadilah!” maka terjadilah ia.” Maksud kehendak Allah dalam ayat ini adalah kehendak takwiniyah (penciptaan). Allah Swt Mahakuasa, jika Dia berkehendak untuk menciptakan dunia yang unik dan megah yang sedang kita tinggali ini untuk kedua kalinya, maka itu hanya dengan sekedar memberikan sebuah perintah saja. Bagaimana tidak, Dia Dzat Yang Mahakuasa, dan menurut para ilmuwan, matahari dunia itu besarnya satu juta dua ratus ribu kali lipat besar bumi dan di tata surya terdapat sekitar seratus milyard bintang di mana ukuran sedangnya saja sama dengan ukuran matahari.

Dengan demikian, sedikit banyak kita sudah mengenal dua kehendak Allah Swt di atas. Pertanyaannya sekarang ayat Tathir berkaitan dengan kehendak Allah yang manakah? Artinya apakah Allah menghendaki Ahlul bait a.s. suci dari segala kotoran dan ingin mereka menjauhinya? Atau apakah Allah sendiri yang menjauhkan mereka dari kotoran itu?

Jawab: tanpa diragukan lagi maksud dari kehendak Allah di sini adalah iradah takwiniyah; karena perintah takwa dan menjauhi segala dosa bukan khusus Ahlul bait a.s. akan tetapi semua umat Islam terkena kewajiban ini, dan pada pembahasan sebelumnya telah dipahami bahwa kata انما mengisyaratkan bahwa ini adalah hal yang istimewa yang tidak dimiliki seluruh umat Islam.

Dengan demikian, Allah dengan kehendak takwiniyah-Nya menganugerahkan sebuah kekuatan kemaksuman yang dapat menjaga mereka dari berbagai kesalahan dan dosa serta senantiasa menjaga mereka tetap suci darinya.

Soal: apakah kekuatan ishmah para maksum ini bukan sebuah keterpaksaan? Dengan kata lain, apakah mereka tidak memiliki pilihan untuk melakukan dosa dan tanpa ikhtiar pula mereka melaksanakan segala perintah Allah Swt?

Dengan ungkapan ketiga, apakah jika mereka menginginkan untuk berbuat kesalahan atau dosa, mereka tidak kuasa melakukannya? Jika demikian, makam ishmah bukan hal yang dapat dibanggakan.

Jawab: sesuatu yang mustahil dapat dibagi kepada dua bentuk; mustahil secara logis dan mustahil dari sisi kebiasaan sehari-hari.

Mustahil secara logis adalah sesuatu secara akal sehat tidak mungkin terjadi, seperti pada satu waktu, kita katakan siang hari dan pada waktu itu pula kita katakan malam hari, secara logis ini tidak mungkin terjadi dan mustahil. Atau contoh lain, buku yang sedang kita telaah memiliki 400 halaman tapi kita juga mengatakan buku itu setebal 500 halaman, ini mustahil terjadi, karena secara akal sehat tidak mungkin dua hal yang saling bertentangan dapat bersatu.

Akan tetapi, terkadang sebuah hal secara akal sehat dapat terjadi namun biasanya kebiasaan manusia tidak melakukannya; seperti tidak ada orang yang berakal sehat mau berjalan dengan tanpa busana di gang-gang atau di jalanan. Hal ini secara akal dapat terwujud tapi hal ini tidak biasa terjadi. Oleh karena itu seluruh manusia terjaga dari pekerjaan semacam ini; karena akal sehat dan tidak pernah membolehkan manusia untuk melakukan hal yang buruk semacam itu.

Lebih dari itu, kita akan menemukan sebagian manusia maksum dari hal-hal lain, sebagai contoh musthail seorang ulama tersohor meminum minuman keras pada hari kedua puluh satu bulan suci Ramadhan di dalam mihrab masjid, di atas sajadahnya serta di depan para khalayak.

Pekerjaan ini secara logis dapat terjadi dan dibayangkan, namun secara adat dan kebiasaan itu sulit terjadi; karena posisi dan kepribadian seseorang mencegah hal itu terjadi.

Para maksum terjaga dari semua dosa dan kesalahan, artinya kendati secara logis mungkin saja mereka melakukan penyimpangan, akan tetapi pekerjaan itu mustahil muncul dari mereka; karena ketakwaan dan ilmu mereka terhadap semua dosa begitu gamblang seperti ilmu orang biasa terhadap buruknya bertelanjang keluar dari rumah, manusia biasa terhindar dari pekerjaan semacam ini maka para maksum juga demikian mereka terhindar dari dosa dan nista.

Dengan demikian, ishmah bukan sebuah keterpaksaan dan juga tidak bisa dikatakan bahwa ishmah telah membelenggu ikhtiar mereka untuk melakukan sesuatu.

Konglusinya, kehendak Allah dalam ayat ini adalah iradah takwiniyah dan ishmah tidak melenyapkan ikhtiar dan keinginan para imam sehingga memaksa mereka untuk menjauhi dosa, akan tetapi mereka secara utuh dan sadar memiliki ikhtiar juga.

3. Apakah maksud dari kata الرجس ?

Kata ini berarti kotoran; ia terkadang digunakan untuk kotoran materi terkadang untuk kotoran non materi dan terkadang pula digunakan untuk kedua-duanya. Hal ini sesuai dengan apa yang ungkapkan oleh Ragib dalam kitab Mufradatnya.

Untuk ketiganya, kami akan membawakan bukti dari ayat-ayat al-Quran:

a. Kotoran sipiritual: dalam ayat seratus dua puluh lima surah At-Taubah, disebutkan:

وَ أَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَ ماتُوا وَ هُمْ كافِرُونَ

Dan sedangkan mereka yang terdapat penyakit dalam hati mereka, maka kotoran akan bertambah atas kotoran mereka; dan mereka mati dalam keadaan ingkar dan kafir.”

Ungkapan “في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ (dalam hati mereka terdapat kotoran), biasanya digunakan untuk kaum munafik dan tanpa diragukan lagi kemunafikan merupakan sebuah penyakit jiwa.

b. Kotoran materi dan dhahir: dalam ayat seratus empat puluh lima surah Al-An’am kita membaca:

قُلْ لا أَجِدُ في‏ ما أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلى‏ طاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

Katakanlah (wahai Rasulullah) aku tidak mendapatkan di dalam wahyu yang aku terima (makanan)  yang haram selain bangkai atau darah (hewan yang tumpah keluar dari badannya) atau daging babi, karena sesungguhnya semua benda (di atas) itu rijs dan kotoran…”.

Sangat gamblang sekali jika rijs dalam ayat ini adalah kotoran dhahir.

c. Kotoran maknawi dan dhahiri: rijs yang terdapat dalam ayat sembilan puluh surah Al-Ma’idah digunakan untuk kedua makna; dalam ayat itu disebutkan:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الْأَنْصابُ وَ الْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamr, judidan mengundi nasib, itu kotoran dari perbuatan setan, maka jauhilah supaya kalian beruntung.”

Rijs dalam ayat mulia ini, berarti kotoran dhahir juga bermakna kotoran batin; karena minuman keras termasuk hal dhahir sedang perjudian dan mengundi nasib adalah kotoran batin.

Dengan demikian, rijs dalam ayat-ayat Al-Quran memiliki arti umum dan mencakup kotoran dhahir, batin, moral, teologi, ruhani, ragawi  dan yang lain. Oleh karena itu, Allah Swt dalam ayat Tathir dengan kehendak takwiniyah-Nya menginginkan untuk menyucikan Ahlul bait a.s. dari segala kotoran dan nista dengan seluruh pengertiannya.

Dalil kami bahwa kotoran itu universal mencakup hal materi maupun non materi adalah kemutlakan kata ini, artinya karena kata ini tidak dibatasi oleh hal-hal lain atau tidak disyaratkan dengan syarat lain.

ويطهركم تطهيرا kalimat ini pada dasarnya penjelas dari kalimat sebelumnya  ليذهب عنكم الرجس اهل البيت .

Sesuai ayat ini, Ahlul bait a.s. tersucikan dari segala noda dan nista dan dengan kehendak takwiniyah Allah Swt mereka suci dan maksum.

Siapakah Ahlul bait itu?

Dari ayat Tathir yang mulia telah kita pahami bahwa Ahlul bait memiliki keistimewaan lebih dari para muslim lain yaitu kesucian dan kemaksuman yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Akan tetapi pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah sipakah mereka itu? Siapakah gerangan sosok-sosok yang disucikan tersebut?

Begitu banyak pendapat yang mengemuka sehubungan dengan jawaban soal ini, berikut ini empat pendapat darinya:

  1. Sebagian ahli tafsir dari kalangan Ahli sunah menafsirkan bahwa Ahlul bait adalah isteri-isteri Nabi Saw.[2] Sesuai penafsiran ini, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain tidak termasuk Ahlul bait. Dengan ungkapan lain Ahlul bait adalah kerabat nabi dari sisi sabab (yang disebabkan oleh perkawinan) dan tidak ada famili beliau dari sisi nasab yang tergolong di dalamnya.

Dalil mereka adalah ayat Tathir terletak di antara ayat-ayat yang turun berkenaan dengan isteri-isteri Nabi Saw, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Jadi konteks ayat menuntut ayat mulia ini juga berkaitan dengan mereka.

Akan tetapi pendapat ini tidak dapat dibenarkan, dengan tiga dalil:

Pertama, sebagimana telah disebutkan dalam lima ayat sebelumnya dan pada awal ayat ketiga puluh tiga surah Al-Ahzab seluruh dhamir dan fi’ilnya disebut dengan bentuk muannats. Begitu juga dalam ayat setelahnya terdapat dua fiil dan dhamir yang sama. Sedangkan semua dhamir ayat ini berbentuk mudzakkar atau dhamir dan fiilnya tidak khusus untuk para wanta.

Oleh karena itu, dengan memperhatikan bahwa Al-Quran adalah firman Allah Swt yangfasih maka pastilah perubahan dhamir dan fiil memiliki maksud khusus dan jelas maksud dari Ahlul bait adalah sosok selain isteri nabi di mana Allah membedakan konteks ayat ini dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Dengan demikian, sesuai penjelasan ini tidak mungkin para isteri nabi yang dimaksud dengan Ahlul bait, dan harus sosok lain yang penetapannya butuh pada pembuktian dan dalil.

Dalil kedua yang membantah kebenaran pendapat ini adalah dengan memperhatikan penjelasan dan tafsir ayat mulia ini, Ahlul bait memiliki kriteria khusus yaitu kemaksuman yang mutlak. Pertanyaannya sekarang, adakah ulama syi’ah maupun Ahli sunah yang mengatakan bahwa para isteri nabi itu maksum? Kendati mayoritas isteri-isteri nabi merupakan orang-orang yang baik, namun tidak mungkin diklaim mereka orang-orang yang maksum, malah sebaliknya dengan berbagai bukti yang gamblang dapat dikatakan sebagian dari mereka telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Berikut ini satu contoh dari kesalahan tersebut:

Ali bin Abi Thalib a.s. merupakan satu-satunya khalifah yang selain dilantik oleh Allah secara langsung juga seorang Imam yang mendapat kepercayaan dan pilihan dari masyarakat.  Pemilihan itu juga jauh berbeda dengan ketiga khalifah sebelumnya; karena khalifah pertama terpilih melalui beberapa orangdi Tsaqifah Bany Sa’idah di mana kemudian masyarakat terpaksa membai’atnya. Khalifah kedua menaiki singgasana dengan mandat dari khalifah pertama. Khalifah ketiga juga terpilih sebagai pemimpin hanya melalui tiga suara dari enam suara yang telah ditunjuk. Akan tetapi Ali bn Abi Thalib a.s. mencapai haknya dengan dorongan dari masyarakat yang berbondong-bondong membai’at beliau. Bai’at umat manusia kepada beliau saat itu begitu dahsyatnya di mana beliau sendiri menuturkan:” Aku takut Hasan dan Husain terinjak-injak oleh kaki-kakimereka.[3]

Akan tetapi, (sungguh sayang sekali) salah satu isteri Nabi Saw,telah memberontak dan bangkit melawan pemimpin dan khalifah Rasulullah yang hak. Dia keluar dari kota Madinah dengan menunggangi onta menuju kota Bashrah dan melanggar perintah Rasul yang ditujukan kepada semua isterinya untuk tidak keluar dari rumah setelah kematian beliau. Saat tiba di kawasan Hau’ab dan mendengar gongongan anjing dia (Aisyah) teringat sabda Rasulullah yang bersabda:” Salah satu dari kalian akan menunggangi onta keluar dari Madinah dan akan tiba di kawasan Hau’ab dan di sana dia akan mendengarlolongan anjing, dia (pada dasarnya) telah keluar dari jalan Allah Swt.

Isteri nabi itu setelah mendengar bahwa kawasan yang sedang diinjak adalah Hau’ab akhirnya berniat untuk kembali; akan tetapi para provokator yang merancang peperangan Jamal memperdaya dan membujuknya untuk tetap melanjutkan perjalanan.[4]

Apakah seorang perempuan semacam ini yang melanggar perintah Rasulullah, menentang imam zamannya dan berperang melawan khalifah serta penyebab tumpahnya darah tujuh belas ribu muslim,dianggap sebagai seorang yang maksum dan jauh dari noda dan nista?

Yang lebih menarik lagi, dia sendiri mengakui kesalahannya dan menjustifikasinya (kendati alasannya itu tidak dapat diterima). Sebagian ulama fanatik Ahli sunah menganggap tindakan itu sebagai ijtihad dan tidak bisa ulahnyaitu dipersoalkan.

Apakah perkataan ini dapat dibenarkan? Apakah ijtihad di hadapan khalifah Rasul yang hak, di mana sang Khalifah menurut Aisyah sendiri adalah              “manusia terbaik” dianggap ijtihad yang sahih? Jika hal ini kita terima, maka tidak ada lagi orang yang berdosa, karena setiap kesalahan selalu dijustifikasi dengan busana ijtihad, istinbath dan semacamnya.

Hasilnya, perang jamal tidak dapat dijustifikasi secara logis dan tanpa keraguanlagi perancang perang ini adalah orang-orang yang bersalah dan tidak mungkin mereka dianggap bersih dari noda dan nista.

  1. Pendapat kedua mengatakan maksud dari Ahlul bait adalah Rasulullah Saw, Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan isteri-isteri beliau.[5]

Sesuai pendapat ini maka isyakalan pertama yang mengarah kepada pendapat pertama dapat dihilangkan; karena sekelompok laki-laki dan perempuan dapat diseru dengan dhamir mudzakkar. Akan tetapi dua isykalan lainnya masih belum terselesaikan yang berkaitan dengan para isteri nabi. Dengan demikian pendapat ini juga tidak dapat dibenarkan.

  1. Sebagian dari para mufasir menyatakan bahwa Ahlul bait dalam ayat mulia ini adalah para penduduk kota Mekkah dan mengatakan: maksud dari al-Bait yang ada pada kata Ahlul bait adalah rumah Allah, Ka’bah, oleh karena itu mereka yang tinggal di kota Mekkah berarti Ahlul bait.

Kesalahan pendapat ini begitu gamblang sekali, di mana dua isykalan pendapat pertama juga masuk di sana, selain itu keutamaan apakah yang membuat penduduk kota Mekkah lebih unggul dari penduduk kota Madinah sehingga mereka dijauhkan dari dosa dan kesalahan?

  1. Pendapat keempat adalah pendapat seluruh ulama Syi’ah yang tidak memiliki isykalan-isykalan di atas. Pendapat itu adalah Ahlul bait yang dimaksud oleh ayat mulia itu adalah sosok-sosok tertentu keluarga nabi yang tak lain adalah: Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan ketuanya sendiri, Rasulullah Saw.

Bukti kebenaran pendapat ini adalah pendapat ini jauh dari tiga isykalan di atas. Di samping itu, terdapat banyak riwayat yang menguatkan pendapat keempat ini. Allamah Thaba’thai dalam Al-Mizan menaksir riwayat tersebut sebanyak tujuh puluhan.[6]

Dan yang menarik adalah mayoritas riwayat itu disebut di dalam kitab-kitab hadis standar Ahli sunah, di antaranya:

1. Shahih Muslim.[7] 2. Shahih Tirmizi.[8] 3. Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain.[9] 4. As-Sunanul Kubra.[10] 5. Ad-Durul mantsur.[11] 6. Syawahid Tanzil.[12] 7. Musnad Ahmad.[13]

Oleh karena itu, riwayat-riwayat yang menafsirkan bahwa Ahlul bait adalah lima sosok Ali ‘Aba’ dari sisi kuantitas begitu banyak selain itu juga riwayat-riwayat tersebut tercatat dalam kitab-kitab standar Ahli sunah.

Fakhrur razi berkenaan dengan kuantitas riwayat ini dan kwalitasnya mengungkapkan sebuah penyataan menarik yang dibawakannya saat menafsirkan ayat Mubahalah (ayat 161 surah Ali Imran):” Dan ketahuilah, sesungguhnya riwayat ini merupakan riwayat yang disepakati kesahihannya oleh ahli tafsir dan hadis.[14]

Hasilnya, riwayat-riwayat yang menafsirkan Ahlul bait ini dari sisi kuantitasdan kualitasnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Dari sekian banyak riwayat itu kami akan membawakan satu riwayat saja yaitu hadis Kisa’.

Hadis Kisa’ telah dinukil dengan dua bentuk; terperinci dan ringkas.

Hadis Kisa’ yang terperinci yang biasanya dibaca untuk menyembuhkan penyakit dan menyelesaikan berbagai masalah dan problem, bukan hadis yang mutawatir. Akan tetapi hadis singkatnya merupakan hadis mutawatir di mana kandungannya berbunyi demikian:” Pada satu hari, Nabi Saw diberi sebuah kain, Rasul meminta Ali, Fatimah, Hasan dan husain. Saat mereka datang beliau membeberkain itu dan menaruhnya di atas kepala mereka, kemudian beliau berdoa:” Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah Ahlul baitku, singkirkanlah kotoran dari mereka. Kemudian Jibril datang dan membawa ayat Tathir tersebut.”

Dalam kitab-kitab Ahli sunah terdapat ungkapan berikut ini, di mana Ummi Salamah (salah seorang isteri nabi yang lain) mendekat dan meminta Rasul untuk menutupinya dengan kain itu jugaikut serta bergabung dengan mereka. Rasulullah Saw bersabda: “Kamu orang yang baik, akan tetapi tempatmu bukan di sini.”[15]

Dalam hadis lain ungkapan ini dinukil dari Aisyah.[16]

Dengan demikian, sesuai riwayat ini maksud dari Ahlul bait adalah lima orang Ahli kisa’.

Soal: Apa filsafat dari hal ini semua? Kenapa Rasulullah Saw menutup mereka dengan kain seperti itu dan mengucapkan hal itu kepada kelurga beliau sendiri?  Kenapa Ummi Salamah atau Aisyah dilarang oleh beliau untuk bergabung?

Jawab: tujuan Rasulullah Saw melakukan prosesi detail semacam ini adalah sebuah upaya pemisahan. Beliau igin menperkenalkan Ahlul bait tanpa pertanyaan susulan dan isykalan serta berupaya membuang kesamaran dan kemujmalan sehingga masyarakt di masa itu dan selanjutnya tahu atau tidak, tidak lagi memasuk-masukkan orang-orang lain ke dalam definisi Ahlul bait.

Atas dasar ini, beliau juga tidak mencukupkan diri dengan prosesi itu, akan tetapi beliau melakukan hal yang sangat menarik lagi, yang disebut dalam banyak sumber,di antaranya di dalam kitab Syawahid Tanzil (sesuai penuturanAnas bin Malik, pembantu khusus Rasul), Rasulullah Saw setelah peristiwa itu, setiap hari setelah azan Subuh dan sebelum didirikannya shalat jama’ah selalu berdiri di depan rumah Ali dan Fatimah dan mengulang-ulang kalimat berikut ini:” Shalat, wahai Ahlul bait.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, (hai) Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih- bersihnya.

Pekerjaan ini dilakukan oleh Rasulullah Saw selama enam bulan berturut-turut.[17]

Riwayat ini juga dinukil dari sahabat Abu said Al-Khudri, di mana dia bertutur:” Rasulullah melakukan hal ini setiap subuh selama delapan bulan.”[18]

Bisa jadi, Rasulullah melanjutkan tindakan ini, hanya saja Anas bin Malik tidak melihat lebih dari enam bulan sedang Abu Said tidak lebih dari delapan bulan.[19]

Oleh karena itu, tujuan Rasulullah Saw dari tindakannya ini adalah memisahkan Ahlul bait dari orang lain dan menentukan mereka secara sempurna dan gamblang. Hal ini telah terlaksana secara baik, karena kita tidak akan mendapatkan hal lain yang diulang-ulang oleh beliau selain masalah ini. Dengan demikian, dengan berbagai penekanan dan penjelasan itu apakah adil jika kita menafsirkan Ahlul bait dengan selain lima sosok agung di atas?

Sebuah soal, dalam masalah yang sangat gamblang seperti ini, di mana kejelasannya laksana siang hari, mengapa masih ada segelintir orang yang tersesat dan berupaya menyesatkan orang lain?

Jawaban soal ini juga gamblang sekali dan itu adalah dikarenakan tafsir bi ray dan praduga,telah menutupi pandangan mereka. Gelapnya penutup ini begitu tebal sehingga mereka tidak melihat terangnya siang hari atau sebagain dari mereka tidak mau menerima sama sekali kenyataan seperti ini.

Jawaban terhadap Beberapa Pertanyaan

Telah muncul beberapa pertanyan seputar ayat Tathir, berikut ini beberapa contoh darinya beserta beberapa jawaban singkatnya:

Soal pertama, akhir kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat Tathir adalah kemaksuman Ahlul bait, artinya Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan Rasulullah sendiri adalah pribadi-pribadi yang terjaga dari dosa dan kesalahan, akan tetapi apa kaitan dan hubungan ayat ini dengan masalah wilayah dan imamah?

Dengan kata lain pembahasan kita berkaitan dengan ayat-ayat yang menunujukkan wilayah dan imamah Amirul mukminin Ali a.s. dan ayat di atas tidak ada hubungannya dengan hal wilayah, hanya kemaksuman beliau saja yang dapat dibuktikan dengannya. Lalu mengapa kita berdalil dengan ayat ini untuk masalah wilayah beliau?

Jawab: jika masalah Ishmah untuk Ahlul biat telah dibuktikan, maka secara tidak langsung masalah imamah mereka juga telah dibuktikan, karena sebagimana telah dijelaskan imam adalah sosok yang ditaati tanpa syarat dan kaid, dan seseorang yang semacam ini adalah seorang yang maksum. Dari sisi lain, jika imam harus dilantik atau dipilih, maka selagiada orang yang maksum tidak perlu kita pergi kepada orang yang tidak maksum.

Allah Swt dalam ayat 124 surah Al-Baqarah saat mendengar doa Ibrahim a.s. yang sudah dilantik sebagai seorang yang berdoa agar anak cucunya juga mendapat gelar agung ini, berfirman:

لا ینال عهدی الظالمین

makam (imamah-)Ku ini tidak akan sampai kepada orang-orang yang zalim.

Dengan demikian ishmah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari imamah dan barangsipa yang sebelum menerima makam ini berlumuran dengan dosa dan kesalahan tidak pantas untuk menjadi seorang imam dan pemimpin.

Pertanyaan kedua, kita menerima bahwa seorang imam harus maksum; akan tetapi apakah setiap orang yang maksum  harus menjadi imam? Bukankah sayyidah Zahra’ s.a. adalah sosok maksum, lalu mengapa beliau tidak menjadi seorang Imam?

Jawab: ishmah di kalangan wanita tidak melazimkan imamah, berbeda dengan kalangan laki-laki.

Pertanyaan ketiga: dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa perbedaan dhamir dalam ayat tathir dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya membuat khitab ayat ini bukan para isteri nabi, padahal perbedaan semacam ini juga terjadi padatempat lain di dalam al-Quran, seperti yang terdapat dalam ayat 73 surah Hud, yang menceritakan nabi Ibrahim menjadi sorang ayah di waktu masa tua. Allah berfirman:

قالُوا أَ تَعْجَبينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَ بَرَكاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَميدٌ مَجيدٌ

“Para malaikat itu berkata:” Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?            ( Itu adalah ) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

Dalam ayat ini isteri nabi Ibrahim menjadi Mukhatab, hanya saja di sini digunakan dhamir mudzakkar, عَلَيْكُمْ?

Jawab: tujuan dari fiil (kata kerja) تَعْجَبينَ adalah isteri nabi Ibrahim saja, sedang عَلَيْكُمْ mengarah kepada seluruh anggota keluarga beliau, laki maupun perempuan, sedang ayat tathir sebagaimana telah dijelaskan tidak termasuk mukhatabnya ayat ini baik secara independen maupun di samping lima Ali aba.

Pertanyaan keempat: jika mukhatab ayat tathir hanya lima orang saja, lalu mengapa ayat ini diletakkan diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan isteri-isteri nabi Saw?

Jawab: sebagaimana dijelaskan oleh Allamah Thaba’thabai dan ulama lain, seluruh ayat al-Quran tidak turun secara bersamaan, bahkan satu ayat sekalipun terkadang tidak turun sekaligus. Akan tetapi ayat-ayat itu turun sesuai keperluan dan peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu, bisa jadi pada satu waktu kisah para isteri nabi terjadi sehingga turun ayat-ayat yang berkaitan dengan mereka dan setelah beberapa waktu, kisah Ashhab kisa’ dan permintaan nabi untuk penyucian mereka terjadi maka turunlahayat tathir. Dengan demikian, tidak pasti seluruh ayat al-Quran mempunyai ikatan khusus satu sama lain.

Kongklusinya, ayat tathir ini dapat digunakan untuk menetapkan kemaksuman lima orang Ali aba juga dapat digunakan untuk menetapkan kepemimpinan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.


[1] Biharul anwar, jilid 65, halaman 346.
[2] Qurthubi, dalam tafsir Al-Furqan, jilid 6, halaman 5264. Pendapat ini dinukil dari Zujaj.
[3] Nahjul balaghah, khutbah ketiga (Khutbah Syiqsyiqiyah).
[4] Syarah Nahjul balaghah, Ibnu Abil Hadid, jlid 6, halaman 225. (Sesuai penukilan Tarjamah wa Syarh Nahjil balaghah, jilid 1, halaman 403).
[5]At-Tafsirul Kabir, jilid 25, halaman 209.
[6] Al-Mizan, penerjemah, jilid 23 halaman 178.
[7]Shahih Muslim, jilid 4, halaman 1883, hadi ke-2424. (Sesuai penukilan kitab Feyam Quran; pesan Quran, jilid 9, halaman 143).
[8]Ihqaqul hak, jilid 2, halaman 503.
[9]Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, jilid 2, halaman 416. (Sesuai penukilan kitab Ihqaqul hak, jilid 2, halaman 504).
[10]As-Sunanul Kubra, jilid 2 halaman 149.
[11]Ad-Durul Mantsur, jilid 5, halaman 198.
[12]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 10-92.
[13] Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 330;  jilid 4, halaman 107 dan jilid 6, halaman 292. (Sesuai penukilan kitab Feyam Quran; pesan Quran, jilid 9, halaman 144).
[14] Tafsir Fakhr Razi, jilid 8, halaman 80.
[15] Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 24 dan 31.
[16]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman37 dan 38.
[17]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 11-15.
[18] Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 28.
[19]Selama sembilan bulan juga dinukil dari Abu Said. Lihat Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 29.

PERINTAH MENCINTAI KELUARGA NABI SAW

Jabir bin Abdillah ra menuturkan : Seorang Arab Badui pernah datang menjumpai Nabi saw, seraya berkata : “Jelaskan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah saw menjawab : “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah Hamba dan Rasul-Nya.”
Arab Badui itu bertanya : “Apakah engkau meminta upah dariku ?” Nabi saw menjawab : “Tidak, kecuali mencintai Al Qurba (Keluarga).” Orang Arab Badui itu bertanya lagi : “Keluargaku atau keluargamu ?” Nabi saw menjawab : “Tentu keluargaku.” Lalu, orang Arab Badui itu pun menyatakan : “Kalau begitu, aku membai’atmu bahwa siapapun yang tidak mencintaimu dan juga tidak mencintai keluargamu, maka Allah akan mela’natnya.” Nabi saw menjawab : “Amin.”
{Hilyah Al Awliya jil 3/102}

Firman Allah :
“…Katakanlah ; ‘Aku tidak meminta kepada kalian upah apapun atas seruanku, kecuali mencintai Al Qurba. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan kepadanya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”{QS.Asy Syura:23}

O.HASHEM DALAM KENANGAN

Membaca buku Marxisme dan Agama yang terbit pertama kali tahun 1963, kita pasti mengira bahwa penulisnya bukanlah dokter. Buku itu dengan detail menjelaskan tentang perseteruan antara agama dan ideologi Marxisme. Sosok O. Hashem, penulis buku itu, dikenal sebagai dokter yang pandai berdakwah, tidak hanya berceramah tapi juga menulis buku. Beberapa di antara karyanya adalah Rohani, Jasmani dan Kesehatan (1957), Keesaan Tuhan (1962), Menaklukan Dunia Islam (1968), Saqifah; Awal Perselisihan Umat (1983), Syiah Ditolak Syiah Dicari (2000), Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi (2000), Muhammad Sang Nabi (2005) dan lain-lain. Pengetahuan tentang agamanya ini justru beliau peroleh dari membaca buku. “Saya tidak ada pendidikan khusus untuk agama,” ujar pria kelahiran Gorontalo, 28 Januari 1935. Ketertarikannya dengan dunia dakwah dimulai ketika Oemar Hashem kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Di sana beliau tinggal di asrama Kristen. Kawan main caturnya mengajukan pertanyaan yang menggangu hatinya. Temannya bilang, panggilan Tuhan Bapa itu dari Islam. Dari situ beliau belajar agama. Lalu belajar bahasa Arab sendiri, membeli kamus, meminjam buku tata bahasa Arab, kemudian menulis buku yang bersumber dari bahasa Arab, dan enam bulan kemudian beliau sudah bisa membaca bahasa Arab. Bersama-sama dengan empat orang temannya, Hadi A. Hadi, Hasan Assegaf, Muhammad Suherman (Muhammadiyah), Saad Nabhan (Al-Irsyad), dan Husain Al-Habsyi, O. Hashem mendirikan YAPI (Yayasan Penyiaran Islam) pada tahun1961. Tahun 60-an ia berceramah sebulan sekali di ITB dan Unpad. Tahun 1965 ia mengumpulkan orang Cina dan mulai berdakwah tentang Islam ke orang-orang Tionghoa. Pada tahun 1960-an, ketika Muhammad Natsir keluar dari penjara, O. Hashem diundang secara rutin untuk ceramah di Dewan Dakwah. Sosok M. Natsir dikenalnya dengan baik. Bahkan waktu itu M. Natsir mengirim surat untuk O, Hashem beserta buku Prof. Dr. Verkuyl yang berjudul Intepretasi Iman Kristen kepada Orang Islam. Buku itu dijawab oleh O. Hashem dengan buku lagi berjudul Jawaban Lengkap kepada Pendeta Prof. Dr. J. Verkuyl (1967). Kemudian M. Natsir mengirimkan lagi surat terima kasihnya. Prof. DR. HM. Rasyidi pernah mengatakan dalam sebuah seminar, “Di depan saya ada anak muda yang menjadi guru saya.” Setelah lulu Fakultas Kedokteran di Universitas Padjajaran (di Unair sampai sarjana kedokteran), ia ditempatkan di Lampung dan menjadi dokter Puskesmas. Di sana beliau masih sering diminta ceramah. Meski ia berencana untuk tidak aktif berceramah, tapi panggilan hatinya melihat minimnya dakwah di sana membuatnya terpanggil. Dokter yang Sosial Bagi seorang dokter, memilih kota kecil memang tidak menarik. Apalagi bergulat dengan kemiskinan penduduk kampung. Tapi bagi O. Hashem, ketika masih mahasiswa di Bandung beliau punya komitmen, “Saya tidak akan menolak ditempatkan di mana pun, karena saya sudah mengambil keputusan untuk mengabdi kepada rakyat,” kata ayah empat anak ini. Pernah suatu kali ada orang yang membayar, namun oleh petugas rumah sakit uang recehannya tidak dikembalikan, lalu beliau suruh uang itu dikembalikan. Bahkan ada seorang pasien yang datang kepadanya, karena tidak bisa membayar, pasien itu membayarnya dengan seekor ayam. Bahkan ia sering menerima orang tanpa membayar dan membuka praktik murah di sana. “Saya merasa tidak tega untuk mengambil uang mereka,” kata suami dari Khadijah Al-Kubra ini. Ia sangat prihatin dengan biaya kesehatan sekarang ini yang mahal. Bahkan ironis dengan pensiunnya sekarang ini, sering ia kesulitan untuk membeli obat dan biaya rumah sakit. Pulang praktik dari Lampung, ia kembali ke Jakarta dengan uang yang hanya cukup untuk tiket. Meski begitu, uang pensiunannya yang hanya sekitar 620 ribu, setiap hari Senin, isterinya selalu menyediakan 10 kg beras untuk tukang sampah yang mempunyai anak banyak. Baginya, problem dakwah itu kemiskinan. Orang miskin butuh sekali dakwah. Ketika dulu berdakwah, ia hanya menerima uang sekali di ITB. “Sekarang ini yang bisa menerima dakwah itu orang kaya, yang bisa bayar. Orang miskin tidak bisa, karena tidak mampu bayar. Sehingga waktu itu jarang ada sempalan-sempalan agama, karena orang miskin itu juga mendapat dakwah,” ujar dokter dari keluarga petani ini. Meski dikenal sebagai orang yang humoris, namun peristiwa Asyura selalu membuat pipinya yang sudah keriput menjadi basah oleh air mata. Baginya, Asyura menggambarkan betapa kejamnya manusia terhadap manusia lain. Apalagi sebenarnya Husain tidak berbuat apa-apa, ia hanya tidak ingin berbaiat. Andaikata ia membaiat seorang pemimpin zalim (Yazid), berarti ia menyalahi risalah kakeknya, Rasulullah, dan mengakui tindakan zalim. “Sekarang ini kita harus hidup berbuat baik, dan mesti kritik bila ada penguasa berbuat zalim,” jelasnya. Setiap yang membaca karya beliau bisa disebut sebagai murid beliau, tidak terkecuali saya. Beberapa kali berbincang dengannya seperti berbicara dengan komputer dengan memory besar. Beliau hampir bisa menyebutkan setiap kisah dan sejarah dengan lengkap. Meski demikan, tema obrolannya tidak selalu tentang agama. Terakhir ke rumahnya, beliau menceritakan tentang sejarah kopi dan jenis-jenisnya. Genius! Sakit komplikasi (kanker, paru-paru, asma, diabetes) yang dideritanya memuncak ketika beliau masuk ke rumah sakit hari Selasa (20/01). Saya tidak sempat datang, tapi orang tua saya mengatakan hingga hari Rabu pun beliau masih segar dan mengeluarkan canda tawanya. Namun Sabtu kemarin (24/01), beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sore harinya beliau dimakamkan di Tanah Kusir. Indonesia dan umat Islam telah kehilangan guru dan cendikiawan serba bisa. Karya-karya beliau akan selalu dikenang oleh anak bangsa. Sumber: Tabloid Jum’at (Dewan Masjid Indonesia) Edisi 817/9 Muharram 1429 H dengan perubahan redaksi dan tambahan cerita pribadi.

Jawaban Lengkap Atas Seminar Sehari Tentang Syi’ah

Buku ini berisi jawaban lengkap atas Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah yang telah diadakan di Masjid Istiqlal pada tanggal 21 September 1997. Seminar itu dibuka oleh Hasan Basri, Ketua MUI saat itu. Seminar juga dikatakan dihadiri oleh para pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan organisasi Islam, tokoh Islam dan masyarakat umum.

Seminar ini menghasilkan beberapa butir keputusan yang diambil berdasarkan pandang-pandangan kritis para peserta serta beberapa usulan kepada pemerintah RI.

Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) kemudian menganggap hasil seminar ini perlu ditanggapi.

Penulis:O. Hashem Penerbit: YAPI Cetakan: Pertama, September 1997.

Riwayat Singkat Penulis

Prakata

Kesimpulan Seminar

Kafirkah Kaum Syi’ah?

Mengapa Menghindari Mujadalah?

Fatwa Berbahaya

Keluarkan Fatwa bahwa Syi’ah itu Kufur

Apakah Kerajaan Saudi Kufur?

Pendapat H. Abubakar Aceh dan H. Abdullah bin Nuh

Rukun Islam dan Rukun Iman Syi’ah

Sikap Terhadap Sahabat

Imam Ma’shum

Mazhab Ja’fari, Mazhab Resmi Iran

Melaknat Sahabat

Taqiyyah

Al-Quran Syi’ah Lain Dari Al-Quran Sunni?

Kawin Mut’ah

Adzan Syi’ah Berbeda dengan Adzan Sunnah

Syi’ah Adalah Pengkhianat, pelaku Kejahatan dan Teroris

Syi’ah Pengkhianat

Ahlu’l-Bait Menolak Mazhab Alhu’l-Bait

Bunuh Syi’i Atau Paksa Pindah Agama

Riwayat Singkat Penulis

O. Hashem dilahirkan di Tondano, Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1936. Cucu Sultan Badaruddin ini menyelesaikan SD dan SMP di Tondano dan di SMA Negeri Manado pada tahun 1953.

Tahun 1952 mendirikan dan menjadi Direktur SMP Muhammadiyyah Wawonasa, Manado. Tahun 1961, bersama teman-teman dari Muhammadiyyah, Al-Irsyad, Al-Khairiyah dan lain-lain mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) di Surabaya, yang diluar negeri dikenal dengan IPF (Islamic Propagation Foundation). Yayasan ini menerbitkan mingguan YAPI dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab yang diedarkan secara cuma-cuma.

Tahun 1963, O. Hashem pindah ke Bandung dan aktif dalam berbagai kegiatan dakwah Muhammadiyyah, PERSIS, PUI (Persatuan Umat Islam) Jawa Barat dan lain-lain.

Beliau adalah penulis buku Keesaan Tuhan, Marxisme dan Agama, Menaklukkan Dunia Islam, Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Prof. DR. J. Verkuyl, Saqifah, dan lain-lain.

Pada tahun 1970, penulis yang juga seorang dokter, bekerja di sebuah PUSKESMAS di daerah terpencil di Kota Agung, Lampung.

Beliau sejak remaja mempunyai obsesi persatuan umat Islam, tiga bulan terakhir tinggal di Jakarta dan masih aktif dalam kegiatan dakwah dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Prakata

Basri, Ketua MUI. Seminar juga dikatakan dihadiri oleh para pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan organisasi Islam, tokoh Islam dan masyarakat umum.

Makalah yang dibacakan, diantaranya berasal dari:

1. KH. Moh. Dawam Anwar (Khatib Syuriah NU)

2. KH. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriah NU)

3. KH. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

5. KH. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Panji Masyarakat)

Disamping itu, dikatakan bahwa keputusan seminar diambil berdasarkan pandangan-pandangan kritis para peserta. Keputusan yang dikeluarkan, diantaranya:

1. Syi’ah melakukan penyimpangan dan perusakan aqidah Ahlussunah.

2. Menurut Syi’ah, Al-Quran tidak sempurna.

3. Taqiyyah sebagai menampakkan selain yang mereka siarkan dan sembunyikan.

4. Syi’ah berpandangan hadits mereka disampaikan oleh Ahlul Bait.

5. Ahlul Bait menolak ajaran Syi’ah.

6. Syi’ah berpendapat Imam mereka ma’shum, terjaga dari dosa dan UUD Iran menetapkan bahwa mazhab Ja’fari Itsna Asy’ariyah sebagai mazhab resmi.

7. Syi’ah, pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Sunnah

8. Imamah atau kepemimpinan adalah rukun Iman.

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam.

10. Adzan kaum Sunni berbeda dengan adzan kaum Syi’ah.

11. Syi’ah membenarkan kawin mut’ah.

12. Syi’ah terbukti sebagai pelaku kejahatan, pengkhianat dan teroris.

Kemudian seminar mengusulkan:

1. Mendesak pemerintah RI cq. Kejaksaan Agung melarang Syi’ah.

2. Pemerintah agar bekerjasama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk melarang penyebaran buku-buku Syi’ah.

3. Agar Mentri Kehakiman mencabut izin semua yayasan Syi’ah.

4. Meminta Mentri Penerangan mewajibkan semua penerbit menyerahkan semua buku terbitannya untuk diteliti MUI Pusat.

5. Agar seluruh organisasi dan lembaga pendidikan waspada terhadap faham Syi’ah.

6. Faham Syi’ah kufur dan masyarakat agar waspada.

7. Menghimbau segenap wanita agar menghindari kawin mut’ah.

8. Media massa (cetak, elektronik, padang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan Syi’ah.

9. Melarang kegiatan penyebaran Syi’ah oleh Kedutaan Iran.

Ditandatangani oleh tim perumus:

1. HM. Amin Djalaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Attas

5. Ahmad Zein Al-Kaff

YAPI Kemudian menganggap keputusan ini perlu ditanggapi.

Depok, 23 September
1997 O. Hashem

Kesimpulan Seminar Kesimpulan Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah 21 September 1997 Di Masjid Istiqlal Jakarta

Alhamdulillah, Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah, yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah, ABRI, MUI, Pimpinan Organisasi Islam, Tokoh-tokoh Islam dan masyarakat umum, setelah mengkasji makalah-makalah dari:

1. K.H. Moh. Dawam Anwar (Katib Syuriah PB. NU)

2. K.H. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriyah NU)

3. K.H. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiya Indonesia)

5. K.H. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Panji Masyarakat)

dan pandangan-pandangan kritis dari para peserta, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam mencegah berbagai upaya penyimpangan serta perusakan akidah Ahlussunnah yang dianut umat Islam di Indonesia.

2. Al-Qur’an yang ada sekarang dalam pandangan Ahlussunnah adalah sudah sempurna dan seluruh isinya benar-benar sesuai dengan firman Allah yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad saw. Sedangkan dalam pandangan Syi’ah, Al-Qur’an yang ada tidak sempurna, karena telah dirubah oleh Khalifah Utsman bin Affan ra. Dengan demikian Al-Qur’an yang ada harus ditolak dan yang sempurna akan dibawa oleh Imam Al-Muntazhar. Jika sekarang diterima, hanya sebagai Taqiyyah saja.

3. Kaum Syi’ah percaya kepada taqiyyah (menampakkan selain yang mereka niatkan dan yang mereka sembunyikan). Taqiyyah adalah agamanya dan agama leluhurnya. Tidaklah beriman barangsiapa tidak pandai-pandai bertaqiyyah dan bermain watak.

4. Ahlussunnah berpandangan bahwa hadits yang shahih sebagaimana yang disampaikan oleh perawi hadits (Imam Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Nasa’i dan lain-lainnya) diterima dan dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan setiap muslim. Sebaliknya Syi’ah berpandangan bahwa hadits yang dapat dipakai hanya disampaikan oleh Ahlul Bait atau yang tidak bertentangan dengan itu.

Dan mereka berkeyakinan bahwa perkataan dan perbuatan Imam diyakini seperti hadits Rasulullah.

Ahlul Bait adalah keluarga dan keturunan Rasulullah saw yang mengikuti jejak Rasulullah saw, sementara Syi’ah mengklaim mengikuti madzhab Ahlul Bait, padahal Ahlul Bait menolak ajaran mereka.

5. Ahlussunnah berpandangan bahwa Imam (pemimpin) adalah manusia biasa dan dapat berasal dari mana saja. Ia (Imam) tidak luput dari kekhilafan atau kesalahan. Imam adalah pemimpin untuk kemaslahatan umum dengan tujuan menjamin dan melindungi dakwah serta kepentingan umat.

6. Syi’ah berpandangan bahwa Imam adalah ma’shum (orang suci -terbebas dari dosa dan kesalahan). Imamah (menegakkan kepemimpinan/pemerintahan) adalah termasuk rukun agama. Imamah merupakan kepemimpinan rohaniah, politik bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia dan harus tunduk kepada Nizham Waritsi (aturan turun temurun dari Imam), hukum dan peraturan warisan yang silih berganti di kalangan 12 Imam.
UUD Iran menetapkan bahwa agama resmi bagi Iran adalah Islam madzhab Ja’fari Itsnaa ‘Asyariyah. Pasal ini tidak boleh dirubah selama-lamanya.

7. Ahlussunnah meyakini bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib adalah Khulafa’ur Rasyidin.
Sedangkan Syi’ah pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan.

8. Syiah Imamiyah berkata bahwa iman kepada tertib pewarisan kepemimpinan umat Islam adalah salah satu rukun iman, sama kedudukannya iman kepada Allah SWT.
Keimaman (menurut Syi;ah ‘Imamiyah) tersebut merupakan salah satu rukun pengganti iman kepada Malaikat dan iman kepada Qadha dan Qadar Khairihi Wa Syarrihi (baik dan buruk).

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam mereka

10. Adzan kaum Syi’ah Imamiyah ditambah dengan WA ASYHADU ANNA ‘ALIYYAN WALIYYULLAH. Alasannya bahwa Ali ra diutus resmi sebagai wali sebagaimana Muhammad SAW diutus sebagai Nabi/Rasul.

11. Menurut Syi’ah, NIKAH MUT’AH adalah rahmat. Belum sempurna iman sesorang kecuali dengan nikat mut’ah. Berapa pun banyaknya, boleh. Dibolehkan nikah mut’ah dengan gadis tanpa izin orang tuanya. Boleh mut’ah dengan pelacur, boleh mut’ah dengan Majusiah/Musyrikah (wanita Majusi/Musyrik).

12. Bahwa sepanjang sejarah, pihak Syi’ah terbukti pelaku-pelaku kejahatan dan pengkhiatan dan teroris.

berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut dan untuk menjada stabilitas masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, seminra ini merekomendasikan:

1. Mendesak Pemerintah Republik Indonesia cq. Kejaksaan Agung RI agar segera melarang faham Syi’ah di wilayah Indonesia, karena selain telah meresahkan masyarakat, juga merupakan suatu sumber destabilisasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, karena tidak mungkin Syi’ah akan loyal pada Pemerintah Indonesia karena pada ajaran Syi’ah tidak ada konsep musywarah melainkan keputusan mutlak dari Imam.

2. Memohon kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan seluruh jajaran terkait agar bekerja sama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk meneliti buku-buku yang berisi faham Syi’ah dan melarang peredarannya diseluruh Indonesia.

3. Mendesak kepada Pemerintah Indonesia cq. Menteri Kehakiman RI agar segera mencabut kembali izin semua yayasan Syi’ah atau yang mengembangkan ajaran Syi’ah di Indonesia, seperti:

1. Yayasan Muthahhari Bandung

2. Yayasan Al-Muntazhar Jakarta

3. Yayasan Al-Jawad Bandung

4. Yayasan Mulla Shadra Bogor

5. Yayasan Pesantren YAPI Bangil

6. Yayasan Al-Muhibbin Probolinggo

7. Yayasan Pesantren Al-Hadi Pekalongan

4. Meminta kepada Pemerintah cq. Mentri Penerangan RI agar mewajibkan pada semua penerbit untuk memberikan semua buku-buku terbitannya kepada MUI Pusat, selanjutnya untuk diteliti.

5. Mengingatkan kepada seluruh organisasi Islam, lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, pesantren, perguruan tinggi) di seluruh Indonesia agar mewaspadai faham Syi’ah yang dapat mempengaruhi warganya.

6. Mengajak seluruh masyarakat Islam Indonesia agar senantiasa waspada terhadap aliran Syi’ah, karena faham Syi’ah kufur, serta sesat menyesatkan.

7. Menghimbau kepada segenap kaum wanita agar menghindarkan diri dari praktek nikah mut’ah (kawin kontrak) yang dilakukan dan dipropagandakan oleh pengikut Syi’ah.

8. Menghimbau kepada semua media massa (cetak, elektronik, pandang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan faham Syi’ah di Indonesia.

9. Menghimbau pula kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melarang kegiatan penyebaran Syi’ah di Indonesia oleh Kedutaan Iran.

10. Secara khusus, mengharapkan kepada LPPI agar segera bekerja sama dengan MUI dan Departemen Agama untuk menerbitkan buku panduan ringkas tentang kesesatan Syi’ah dan perbedaan-perbedaan pokoknya dengan Ahlus Sunnah.

Jakarta, 19 Jumadil Ula 1418H
21 September 1997

TIM PERUMUS (ditandatangani oleh)

1. HM. Amin Djamaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Atas

Ahmad Zein Al-Kaff

Kafirkah Kaum Syi’ah?

Laporan harian Republika tentang seminar itu dengan judul ‘Para Ulama Sepakat, Sulit Pertemukan Faham Syi’ah dan Sunni’, sangat rapi dan bagus. (Republika, 22 September 1997, hal. 2).

Saya memang sudah menduga, seminar ini akan berlangsung dua atau tiga hari sebelum tanggal 23 September 1997, hari ulang tahun Kerajaan Saudi Arabia. Tapi saya mengira tidak akan berlangsung pada ulang tahun ke-65 ini, sebab pemerintah Saudi pada tahun ini baru saja menyatakan perlunya kerukunan beragama.

Apakah saudara-saudara ingin mengkafirkan negara sahabat, Kerajaan Saudi, karena membolehkan sekitar 200.000 orang Syi’ah yang saudara-saudara kafirkan, memasuki Ka’bah setiap tahun untuk beribadah Haji?

Tahukah saudara-saudara bahwa pada tahun 1994 Kerajaan Saudi telah mendirikan Dewan Syura yang terdiri dari 60 orang dan enam diantaranya pemeluk Syi’ah sesuai dengan jumlah penduduk Syi’ah di negara itu?

Alasan lain yang mengherankan saya, seminar ini diadakan justru tatkala presiden Soeharto baru saja menganjurkan dibina kerukunan beragama, menghindari penjelekan atau penyerangan terhadap mazhab lain.

Kita hidup di negara beradab, bukan di zaman Mu’awiyyah!

Apalagi ini berlangsung pada saat kaum muslimin sedunia sedang menghadapi masalah-masalah pelik seperti kejadian di Bosnia, Chechnya, Azerbaijan, Libanon, Palestina, Afghanistan, Sudan, Irak, Aljazair dan Morro, yang memerlukan bantuan agar perdamaian dapat timbul disana.

Alangkah baiknya bila biaya seminar ini dikeluarkan untuk mebantu anak-anak cacat korban perang Bosnia, Chechnya, Afghanistan, dan kelaparan di Irak. Selama ini yang memperjuangkan mereka malah bintang film Elizabeth Taylor. Kita mestinya malu.

Kita juga sedang sedih menghadapi musibah moneter maupun bencana pengotoran udara, yang membuat kita merasa berdosa kepada negara tetangga.

Kita membutuhkan bantuan pikiran dan tenaga semua warga untuk keprihatinan ini. Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang tidak merasa prihatin dan tidak memikirkan masalah-masalah kaum muslimin maka dia bukanlah dari kaum muslimin”?

Mengapa Menghindari Mujadalah?

Sayang sekali peristiwa itu sendiri lebih merupakan pengadilan in absentia terhadap kaum Syi’i, karena tak seorang pun wakil Syi’ah yang diundang untuk membela diri. Sangat disayangkan, wartawan tidak mewawancarai kaum cerdik pandai seperti Adurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid atau Jalaluddin Rahmat untuk turut menilai pernyataan itu. Mereka bukanlah Syi’i tetapi mereka membaca. Saya yakin, mereka akan membela Syi’ah bila dikufurkan apalagi bila dilarang.

Dalam pernyataannya peserta seminar menganjurkan Kejaksaan Agung RI untuk melarang ajaran Syi’ah yang dianggap sebagai sumber destabilisasi kehidupan berbangsa; menganjurkan Mentri Kehakiman untuk menutup yayasan, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan; agar Kejaksaan Agung bekerjasama dengan MUI dan Balitban Depag RI untuk meneliti buku-buku Syi’ah dan melarang peredarannya; meminta Mentri Penerangan RI agar mewajibkan semua penerbit menyerahkan buku-buku terbitannya untuk disahkan MUI, merupakan pernyataan yang mendirikan bulu roma. Ini belum pernah terjadi di zaman Orde Baru.

Sebenarnya untuk berdialog dengan kaum Syi’ah, kita punya ayat Al-Quran:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Kebiasaan sebagian ulama kita menghindari dialog dan menolak saling mengingatkan antara sesama muslim tidaklah islami. Sayang sekali, ayat ini kurang dipahami sementara etika berdialog masih sangat primitif.

Sebagai contoh, buku Saqifah terbitan YAPI dikupas secara berseri oleh majalah PERSIS lalu penulis buku memberi tanggapan atas hal itu. Anehnya, dari sekian banyak penjelasan penulis tidak satu pun yang dimuat di majalah tersebut. Jelas ini menunjukkan bahwa majalah ini tidak memberikan hak jawab kepada penulis, bertentangan dengan etika jurnalistik dan etika Islam.

Tatkala DDII menyebarkan fatwa-fatwa anti Syi’ah, dan salah satu anggotanya, Prof. Dr. HM Rasyidi, yang saya hormati, menulis buku yang menjelek-jelekan Syi’ah, YAPI mengkritik ‘kebijakan’ dewan tersebut dan mengajaknya berdialog pada tanggal 24 September 1984. Tetapi undangan untuk berdialog tersebut tidak dibalas dan penerbitan anti Syi’ah terus berlanjut.

Pernyataan saudara Hasan Basri diwaktu-waktu yang lalu yang dimuat di koran-koran, menyatakan bahwa Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib tidak mempunyai keturunan dan semua keturunan Husain sudah dibantai di Karbala. Pernyataan ini hampir selalu diutarakan pada hari ulang tahun Al-Irsyad, sama sekali tidak adil dan kurang sopan. Menyerang pribadi-pribadi kaum ‘Alawi sebagai anak haram jadah, na’udzu billah, dan pernyataan diatas sama sekali tidak historis. Toh, beliau tidak pernah mengoreksi kesalahan ini. YAPI mengingatkan bahayanya pernyataan ini karena dapat menghancurkan sejarah Islam.

Bila ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib dianggap tidak ada dalam sejarah, akan fiktif pulalah teman-temannya seperti Az-Zuhri dan Sa’id bin Musayyib. Padahal, kedua tokoh ini merupakan sumber banyak hadits Sunni. YAPI juga pernah menanyakan sumber pernyataannya dan surat itu pun tidak pernah dijawab.

Saya bersyukur, kaum ‘Alawi di Indonesia punya tasamuh yang demikian tinggi, sehingga tidak menuntut mereka ke pengadilan karena penghinaan yang luar biasa ini.

Pengurus YAPI heran, PERSIS dan Al-Irsyad yang memiliki murid-murid yang pintar menentang the right to be let alone (hak untuk tidak diganggu orang lain). Mengapa tidak mentolerir perbedaan, sebaliknya punya kecenderungan untuk menyerang pribadi orang lain, anti HAM dan tidak berani berdialog? Apakah lantaran kedua organisasi Islam ini didirikan oleh seorang India dan Arab yang ‘berdarah panas’ sehingga pengikutnya cenderung menghakimi penganut mazhab lain dan ingin memonopoli kebenaran?

Sebagian ulama punya kebiasan buruk dengan suka menuduh pembela Syi’ah sebagai penganut mazhab Syi’ah. Mereka lalu menyerang pribadi bukan buah pikirannya.

Fatwa Berbahaya

Seminar seperti ini sangat berbahaya karena sebagaimana biasa, fatwa pengkufuran Syi’ah akan disusul dengan fatwa yang menghalalkan darah kaum Syi’i. Dan mengarah pada ethnic cleansing (pembersihan etnis) seperti yang terjadi di zaman Mu’awiyah dan masa-masa sesudahnya.

Saya juga herantatkala melihat istilah Ahlussunah wal Jama’ah. Apakah PERSIS, yang mengharamkan semua mazhab kecuali mazhabnya, dan Al-Irsyad yang Wahabi itu, juga termasuk Ahlussunah wal Jamaah?

Lalu kaum NU, nahdhiyin, bermazhab apa? Apakah KH. Irfan Zidny MA dan KH. Moh. Dawam Anwar merupakan wakil resmi NU? Kenapa saudara berdua membiarkan definisi Ahlussunah wal Jamaah dimanipulasi orang?

Seharusnya saudara-saudara sudah tahu bahwa kaum Wahabi menolak tawassul, ziarah kubur, qunut, talqin, tahlil dan lain-lain, yang menjadi akidah Ahlussunah wal Jamaah. Tahukah saudara-saudara, kalau tidak ada kaum nahdhiyin yang didukung oleh HOS. Cokroaminoto dan H. Agus Salim, maka kuburan Rasulullah SAWW sudah dibongkar?

Tahukah saudara-saudara bahwa tempat kelahiran Rasulullah SAWW dijadikan kandang unta dan sekarang dijadikan pasar malam? Tahukah saudara-saudara berapa banyak tempat-tempat bersejarah Islam yang dimusnahkan oleh kaum Wahabi?

Tahukah saudara-saudara apa motif pengkafiran terhadap Ustadz Husain Al-Habsyi dari Pesantren YAPI Bangil? Bukankah ini disebabkan karena Ustadz Husain menulis buku Lahirnya Mazhab Yang Mengharamkan Mazhab-mazhab untuk menjawab fatwa Hasan Bandung, pendiri PERSIS, yang mengharamkan taqlid? Kalau tidak dicegah M. Natsir, anggota PERSIS yang saya hormati, akan terjadi perdebatan hebat antara Ustadz Husain yang istiqomah dengan Hasan Bandung yang akan membuahkan hasil yang lebih jelas, yang membela pengikut mazhab Syafi’i dan mazhab Ahlussunah lain yang tentu saja melegakan Ahlussunah wal Jamaah, termasuk kaum nahdhiyin? Tahukah saudara, bahwa tatkala fitanh dijatuhkan pada Ustadz Husain, KH. Abdurrahman Wahid menangis?

Tahukah saudara-saudara bahwa orang-orang seperti saudara-saudaralah yang telah menyebabkan para pengikut keempat mazhab saling mengkafirkan sejak awal mazhab-mazhab itu lahir? Tahukah saudara-saudara bahwa sejarahwan muslim paling terkenal, Thabari, telah dituduh kafir oleh orang-orang seperti saudara-saudara karena dituduh Syi’ah? Dan oleh karena itu beliau terpaksa dikuburkan didalam rumahnya?

Prof. Umar Syihab Dan Kebohongannya

Begitu Dahsyatnya Api Fitnah yang dikobarkan kaum Salafy/Wahabi bahkan melakukan Propaganda di dalam kalangan pengikut Syafi’i (Al-Bayyinat) agar Sunnah dan Syi’ah dalam perseteruan abadi mereka telah menjadi agen-agen gratis zionis,salibis, dan kelompok fanatis dengan tujuan akhir melemahkan dan melumpuhkan Islam dari dalam.

“Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

Beberapa waktu yang lalu Redaksi Syiar telah mewawancarai Prof. Umar Syihab. Seorang yang mengaku sebagai salah seorang pengurus MUI Pusat yang komentar komentarnya banyak berlawanan dengan Fatwa Fatwa yang sudah dikeluarkan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat. Untuk itu Redaksi Ash Showaiq telah meminta komentar dari Ahmad Zein Alkaf (AZA), Ketua Bidang Organisasi Yayasan Albayyinat Indonesia, mengenai pernyataan pernyataan Umar Syihab tersebut.

Redaksi : Bagaimana komentar Albayyinat mengenai Pernyataan Prof. Umar Syihab yang mengatakan bahwa Syiah itu tidak sesat ?

AZA : Lagi lagi orang ini memberikan keterangan yang menyesatkan. Sebenarnya kami Albayyinat sudah sering mendapat laporan dan informasi mengenai ulah orang ini, yang dinilai oleh para ulama sangat merugikan ummat Islam. Baik yang dia sampaikan di Jakarta maupun didaerah. Baik atas nama MUI Pusat maupun atas nama pribadi. Bahkan kami sering mendapat informasi dari teman teman di Ujung Pandang mengenai kegiatan dan pembelaan Umar Syihab terhadap aliran sesat Syiah.

Bagi kami Albayyinat, jika ada orang yang mengaku Sunni tapi dia justru sering membela Syiah, maka dia lebih jelek dan lebih berbahaya dari pada orang yang dengan terang terangan mengaku Syiah. Dan orang yang seperti itu perlu kita waspadai.

Karenanya kami Albayyinat tidak heran dengan komentar komentar orang ini mengenai Syiah, sebab kami mempunyai data data mengenai siapa sebenarnya Umar Syihab. Dan perlu diketahui oleh masyarakat bahwa kami Albayyinat mempunyai daftar nama nama aktivis Syiah di Indonesia dan apabila dibutuhkan kami siap membantu.

Perlu diketahui bahwa perbedaan antara aqidah Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah atau yang sekarang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dengan aqidah ummat Islam Indonesia yang dikenal dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah itu disamping dalam Furu’ juga dalam Ushuluddin. Dimana Rukun Iman mereka berbeda dengan Rukun Iman Ummat Islam Indonesia. Tidak sebagaimana yang disampaikan oleh Umar Syihab bahwa perbedaannya hanya sekedar masalah Khilafiyyah. Keterangan keterangan semacam itu adalah penyesatan kepada masyarakat, tidak mendidik tapi pembohongan. Maklum bagi agama Syiah berbohong itu dibenarkan.

Adapun mengenai Fatwa MUI, yang isinya agar masyarakat mewaspadai masuknya aliran Syiah di Indonesia, yang dikeluarkan pada tahun 1984. Maka fatwa tersebut dikeluarkan oleh Pengurus MUI Pusat, setelah para ulama yang terdiri dari unsur NU. Muhammadiyah dan Lain lain yang ada dikepengurusan MUI Pusat membahas kesesatan kesesatan ajaran Syiah. Bahkan para ulama Islam diseluruh dunia dengan tegas mengeluarkan Fatwa bahwa ajaran Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah telah keluar dari Islam (Kafir). Dan hanya Umar Syihab saja yang karena keminiman ilmunya akan Syiah yang mengatakan bahwa Syiah tidak sesat. Memang sekarang ini keberadaan Syiah diakui oleh dunia Islam dan mereka sedang mengembangkan alirannya serta menggrogoti ummat Islam, tapi mereka itu tetap Sesat, karena ajarannya bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Demikian pula Khowarij dan Ahmadiyah, keberadaan mereka itu juga diakui, tapi mereka itu Sesat sebab ajarannya telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Dan sesatnya Syiah itu tidak karena kondisi waktu, sebagaimana yang disampaikan oleh Umar Syihab atau karena dulu miskin dan sekarang mereka kaya dan membagi bagikan uang, tapi selama ajaran Syiah bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis maka Syiah tersebut tetap sesat dan Kafir.

Sebenarnya pembelaan Umar Syihab terhadap Syiah dan komentar komentarnya tersebut adalah pelecehan terhadap Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan konsekwensi dari pernyataan pernyataannya yang berlawanan dengan fatwa MUI, maka dia harus mengundurkan diri dari kepengurusan MUI atau dia harus dipecat dari keanggotaan MUI.

Kami heran dengan Umar Syihab, yang kami lihat aktif terlibat dalam menentukan satu aliran itu sesat, dengan alasan karena ajarannya menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya. Tapi giliran aliran Syiah yang dibicarakan dan divonis, dia mati matian membela Syiah. Padahal ajaran Syiah jauh lebih menyimpang dari ajaran ajaran aliran aliran sesat yang disampaikan oleh Umar Syihab. Sehingga banyak orang yang berkomentar, ada apa dengan Umar Syihab, kok komentar komentarnya mengenai Syiah merugikan ummat Islam.

Sesuai dengan informasi yang masuk ke meja Albayyinat bahwa sebenarnya banyak pengurus MUI Pusat dan Daerah yang sudah mengetahui siapa sebenarnya Umar Syihab. Tapi rupanya mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk mengambil sikap terhadap Umar Syihab. Sebab mereka tahu bahwa Umar Syihab tidak mempunyai basis pendukung.

Kemudian mengenai komentar Umar Syihab yang mengatakan bahwa kalau Syiah itu sesat pasti mereka tidak boleh masuk Masjidil Haram (Mekah). Maka komentar yang demikian itu sudah sering kami dengar dari orang orang Syiah lainnya. Karenanya jika Umar Syihab berkomentar yang demikian itu kami tidak heran. Karena suara suara semacam itu memang lagu mereka yang ditujukan kepada orang awam yang tidak menguasai sampai dimana kesesatan Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah. Herannya kok seorang Profesor juga termakan dengan keterangan semacam itu, bahkan ikut berkomentar seperti itu (sungguh memalukan).

Redaksi : Guna menambah wawasan pembaca mengenai masuknya orang Syiah ke Mekah dan Madinah, dan Sampai dimana kesesatan Syiah, maka dibawah ini kami sampaikan kajian kajian mengenai hal tersebut, sekaligus menjawab kebohongan kebohongan Umar Syihab.

Syi’ah dan Haromain

Ada seorang teman yang bertanya; Jika para Ulama sepakat bahwa Syi’ah Imamiyyah Itana’asyariyyah itu Kafir, mengapa mereka diperbolehkan masuk Haromain (Mekah dan Madinah ).

Pertanyaan tersebut sepintas lalu masuk akal, dan oleh golongan Syi’ah pertanyaan seperti itu sering mereka lempar kemasyarakat awam, yang tidak menguasai sampai dimana kesesatan Syi’ah.

Padahal yang menentukan satu aliran itu masih Islam atau sudah keluar dari Islam (KAFIR ) itu bukan negara Indonesia atau Iran atau Saudi Arabia. Tapi selama aliran tersebut ajarannya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadist, maka mereka dikatakan Islam. Namun apabila ajarannya bertentangan dengan AlQur’an dan Hadist, maka mereka dikatakan (dihukum) Kafir.

Selanjutnya oleh karena aliran Syi’ah Imamiyyah Itsna’asyariyyah atau yang sekarang menggunakan nama samaran Mazhab Ahlul Bait itu ajarannya banyak yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadist, maka para Ulama dengan tegas mengatakan bahwa Syi’ah Imamiyyah Itsna’asyariyyah telah keluar dari Islam (KAFIR ).

Adapun seseorang akan diperbolehkan masuk Haromain (Mekah dan Madinah) atau tidak diperbolehkan masuk Haromain, maka selama nama agama yang tertera dalam paspor orang tersebut ISLAM, maka dia diperbolehkan masuk Haromain. (Meskipun sebenarnya orang tsb beragama Keristen, Yahudi atau Syi’ah ).

Tapi jika dalam Paspor orang tersebut tertulis agamanya Kristen, Yahudi, Konghucu apalagi Syi’ah, maka orang tersebut pasti tidak diperbolehkan masuk kota Mekah dan kota Madinah (Haromain ).

Jika Umar Syihab menolak kajian ini, maka coba paspor Umar Syihab ditulis agamanya Syiah, kan pasti dilarang masuk Mekah (Masjidil Harom) dan Madinah. Sebab Syiah adalah agama tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan Islam dan Muslimin.

Demikian, semoga kajian diatas dapat menambah wawasan pembaca.

Sumber :http://albayyinat.net

 PERKAWINAN   SYIAH

Beginilah Misi Yayasan Albayyinat sebagai agen perpecahan dan memfitnah Islam Syi’ah agar masyarakat saling sebar kebencian dan dalam permusuhan abadi.

Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada satu pertanyaan yang sedang diributkan dimasyarakat, yaitu : Apakah dibenarkan kita umat islam menghadiri perkawinannya orang syiah ?

 Untuk menjawab pertanyaan diatas, Redaksi Ash-Showaaiq meminta kepada Yayasan ALBAYYINAT untuk membahasnya.

 

Sebelum kami menjawab  pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita harus tahu :

Apa yang dimaksud dengan Syiah ?.

Syiah adalah aliran sempalan dalam islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran aliran sempalan dalam islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam islam adalah aliran yang ajaran ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rosululloh Saw, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.

Selanjutnya oleh karena aliran aliran Syiah itu bermacam macam, ada aliran Syiah Zaidiyyah, ada aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah, ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah yang sedang berkembang dinegara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyyah.

Hal mana karena Syiah inilah yang sekarang menjadi penyebab adanya keresahan dan permusuhan serta perpecahan didalam masyarakat, sehingga mengganggu dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita. Tokoh tokoh Syiah inilah yang sekarang sedang giat giatnya menyesatkan umat islam dari ajaran islam yang sebenarnya. Bahkan sekarang mereka menyusup keberbagai partai politik dan apabila dibutuhkan, Albayyinat bersedia   memberikan nama nama mereka.

 Adapun Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian  banyak  aliran  Syiah  yang  satu  sama lain  berebut menamakan  aliran Syiahnya sebagai Madzhab Ahlul Bait. Dan penganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat Iran. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang orang di Indonesia yang sedang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya.

Apabila dibanding dengan aliran aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah

Imamiyyah Itsnaasyariyyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat (GHULAH) dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini.

Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan TAGIYAH

( berdusta ) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.Akibatnya, banyak orang orang yang beragidah Ahlussunnah Waljamaah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (islam) dan masuk Syiah. Sebenarnya bagi orang orang yang berpendidikan agama menengah keatas, wabah ini tidak sampai menggoyahkan iman mereka, tapi bagi orang orang yang kurang pengetahuan islamnya, mudah sekali terjangkit penyakit ini.

Berbeda dengan agidah Ahlussunnah Wal Jamaah yang penuh dengan cinta mencintai serta penuh dengan maaf memaafkan karena berdasarkan Al-Akhlagul Karimah dan Al-Afwa Indal Magdiroh (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) serta Husnudhdhon (baik sangka), maka ajaran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah ini penuh dengan laknat melaknat, karena dilandasi dengan Su’udhdhon ( buruk sangka ) dan dendam kesumat serta kefanatikan yang tidak berdasar.

Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan, berani dan terang terangan mencaci maki para sahabat, memfitnah istri istri Rosululloh Saw, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rosululloh sendiri tidak luput dari tuduhan mereka. Ajaran ajaran Syiah yang meresahkan dan membangkitkan amarah umat islam ini, membuat para ulama diseluruh dunia sepakat untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Ratusan judul kitab diterbitkan, berjuta kitab dicetak dengan maksud agar masyarakat mengetahui kesesatan Syiah dan waspada terhadap gerakan Syiah. Dalam menulis kitab kitab tersebut, para ulama kita itu mengambil sumber dan sandaran dari kitab kitab Syiah (kitab kitab rujuklan Syiah ), sehingga sukar sekali bagi orang orang Syiah untuk menyanggahnya.

Selanjutnya dengan banyaknya beredar kitab kitab yang memuat dan memaparkan kesesatan ajaran Syiah, maka banyak orang yang dahulunya terpengaruh kepada Syiah menjadi sadar dan kembali kepada Agidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Hal ini tentu tidak lepas dari hidayah dan inayah serta taufig dari Alloh. Terkecuali orang orang yang memang bernasib buruk, yaitu orang orang yang sudah ditakdirkan oleh Alloh sebagai orang Syagi (celaka dan sengsara).Semoga kita dan keluarga kita digolongkan sebagai orang orang yang Suada’ atau orang orang yang beruntung yang diselamatkan oleh Alloh dari aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah yang sesuai dengan fatwa  Maj’lis Ulama Indonesia ( MUI ) divonis sesat dan menyesatkan.

 

Syiah itu kafir apa masih islam ?. 

Seseorang jika mengatakan Syiah itu islam atau sudah keluar dari islam (KAFIR), maka dia harus mempunyai alasan. Sebab satu aliran bisa dikatakan masih     islam apabila   ajaran  ajarannya  sesuai  dengan  apa  yang  ada  di  dalam

Al qur’an  dan  hadist  dan   selama   ajaran ajarannya  tidak  bertentangan  dengan

Al qur’an dan Hadist. Begitu pula satu aliran akan dikatakan keluar dari  islam apabila ajaran – ajarannya bertentangan dengan Al qur’an dan Hadist, apalagi jika ajarannya menolak Kalamulloh.

Sekarang kita lihat bagaimana ajaran – ajaran Syiah , apakah bertentangan dengan Al qur’an dan Hadist apa tidak bertentangan. Bagaimana sikap Syiah terhadap para Sahabat, terhadap istri istri Rosululloh serta bagaimana sikap dan keyakinan mereka terhadap Al qur’an itu sendiri.

Dalam Al qur’an banyak sekali ayat ayat yang memuji dan menerangkan keutamaan para Sahabat, serta janji Alloh untuk memasukkan mereka dalam Surganya. Sedang dalam ajaran Syiah diterangkan bahwa para Sahabat yang dipuji oleh Alloh tsb, setelah Rosululloh Saw.wafat, mereka menjadi MURTAD (baca Al kafi 8-345).Alasan mereka karena para Sahabat membaiat Sayyidina Abubakar r.a sebagai Kholifah dan tidak membaiat Sayyidina Ali k.w. Kemudian mereka juga mencaci maki dan memfitnah istri istri Rosululloh Saw. Mereka mengatakan bahwa Siti Aisyah telah melakukan perbuatan serong. Padahal Alloh dalam Al qur’an telah menurunkan beberapa ayat dalam Surat An Nur yang isinya menerangkan kesucian Siti Aisyah, serta menolak tuduhan tuduhan yang dialamatkan kepada istri Rosululloh tersebut.

Dengan  demikian  jelas  sekali,  berarti  ajaran  Syiah  bertentangan  dengan

Al qur’an, atau jelasnya mereka menolak Kalamulloh (Al qur’an). Sedang orang yang menolak Kalamulloh , tidak diragukan lagi kekufurannya.. Dalam Al qur’an juga, Alloh telah menjamin keaslian Al qur’an ( Q.S. Al-Hijr  : 9 ), tapi dalam ajaran Syiah, mereka berkeyakinan bahwa Al qur’an yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi ( Muharrof ). Ini berarti mereka menolak Kalamulloh. Mereka lebih percaya kata kata ulama mereka dari pada firman Alloh. Itulah sebabnya para ulama dengan tegas mengatakan bahwa Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah atau yang sekarang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait, telah keluar dari islam (orangnya menjadi MURTAD karena asalnya beragama islam ). Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi orang orang Syiah saja, tapi siapa saja yang berkeyakinan seperti itu,telah keluar dari islam ( Kafir Murtad )

Disamping ajaran Syiah bertentangan dengan Al qur’an, juga perbedaan kita umat islam dengan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah, disamping dalam Furu’ (cabang), juga dalam Ushul (pokok). Rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, juga rukun islam kita juga berbeda dengan rukun islam mereka. Oleh karena rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, maka konsekwensinya mereka mengkafirkan kita umat islam dan sebaliknya kita juga mengkafirkan mereka.

Disamping itu masih banyak lagi hal hal yang dapat mengeluarkan mereka dari islam, seperti sikap dan keyakinan mereka terhadap Imam Imam mereka. Dimana mereka mendudukkan imam imam mereka diatas para Rosul dan para Malaikat Al-Mugorrobin  (baca Al Hukumah Al Islamiah  – 52, karangan Khumaini).

Hal hal semacam inilah yang dipakai rujukan oleh para ulama dalam menghukum KAFIR golongan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah

 

Apakah dibenarkan seorang Muslimah menikah dengan seorang laki laki yang beraqidahkan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah ?.

 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa seorang muslimah tidak dibenarkan kawin atau menikah dengan seorang yang beragama diluar agama islam, seperti Kristen, Konghucu, Buda, Yahudi dll. Dan apabila tetap dilaksanakan, maka pernikahannya tidak sah.

Begitu pula seorang Muslimah tidak dibenarkan Atau tidak diperbolehkan menikah dengan  seorang yang Murtad.  Orang Murtad  adalah  orang yang asalnya beragama islam, kemudian dia pindah agama lain. Atau dia asalnya seorang Muslim kemudian dia berkeyakinan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari islam (  Murtad ), seperti orang orang yang beragidahkan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah (baca kajian Syiah diatas).

Itulah sebabnya tidak ada orang islam yang menikahkan putrinya dengan orang Syiah, sebab pernikahan tersebut tidak Sah. Dan jika terlanjur terjadi, misalnya karena tidak tahu bahwa orang tsb. Syiah, maka harus dipisahkan.

Ada satu catatan yang perlu diperhatikan; Jika dari pernikahan yang tidak sah tersebut sampai menghasilkan putra putra, maka sejarah akan mencatat bahwa anak anak tersebut sebagai anak anak yang lahir dari pernikahan yang tidak sah. Naudzubillah mindzalik

Begitu pula tidak dibenarkan , seorang yang beragama Keristen atau Buda atau Syiah yang membaca Khutbah Nikah dalam acara pernikahan seorang Muslimah.

 

Lalu bagaimana dengan orang orang yang menghadiri pernikahan orang Syiah tersebut?

 

Nastagfirulloh Wanatubuilaih, semoga Alloh memberi hidayah pada kita serta mengampuni dan memberi maaf orang orang yang menghadiri perkawinan tsb. Sebab kehadiran kita tersebut adalah pelecehan terhadap agama Islam serta menganggap enteng misi Rosululloh Saw. Kehadiran kita tersebut,berarti kita menyaksikan dan menjadi saksi satu pernikahan yang tidak sah, karena melanggar hukum Alloh. Disamping itu berarti kita datang untuk memeriahkan dan memberi doa restu perkawinannya seorang yang telah menghina dan mencaci maki serta memfitnah dan mengkafirkan para Sahabat dan istri istri Rosululloh, bahkan Rosululloh sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.

Mari kita gunakan akal sehat kita, kira kira Rosululloh Saw akan senang dengan perbuatan kita tsb, apa Rosululloh Saw akan murka. Bagaimana kita akan meminta Syafaat dari Rosululloh Saw, sedang kita menyakitkan hati beliau, disebabkan kita menyenangkan hati musuh musuh beliau, yaitu orang orang yang suka mencaci maki istri istrinya, mertuanya, menantunya dan sahabat sahabatnya.

Alangkah dholimnya kita terhadap diri kita sendiri. Dan hanya orang orang yang tidak waras, yang memilih lebih baik Rosululloh murka kepadanya asal pengundang perkawinan tersebut senang.

Selama ini masalah ini kita anggap biasa biasa saja, padahal ini adalah masalah yang sangat besar akibatnya.

Kepada tokoh tokoh yang merasa menjadi panutan masyarakat, tolong , sekali lagi tolong selamatkan ummat dan jangan karena kepentingan antum, ummat antum korbankan. Berikan pada mereka contoh yang baik, jadilah gudwah yang baik.

Yaa Alloh berilah hidayah pada kami, sehingga kami berani mengatakan yang Hak itu Hak dan yang batil itu batil.

Terakhir, marilah kita berusaha menyenangkan hati Rosululloh Saw, dengan membela istri istrinya, membela mertua mertuanya, membela menantu menantunya serta membela semua Ahlul Baitnya dan semua sahabatnya. Karena dengan membela mereka, berarti kita membela dan menyenangkan Rosululloh Saw.

Semoga Alloh dan Rosulnya ridho pada kita . Amin Yaa Robbal’aalamin.

 

Demikian semoga kajian ini bermanfaat bagi kita semua, kurang lebihnya kami dari Dewan Redaksi Ash-Showaaiq memohon maaf yang sebesar besarnya.

 


ASH-SHOWAAIQ EDISI KHUSUS   Juli  2005

Prof. DR. Umar Shihab: “Saya Bukan Pembela Syiah, tapi Pembela Kebenaran”

Prof. DR. KH. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat), pekan lalu bersama rombongan mengunjungi Iran kurang lebih selama seminggu atas undangan Organisai Ahlul Bait Internasional. Beliau sangat terkesan dalam kunjungan singkatnya tersebut karena dapat melihat dari dekat suasana spiritual dan semangat kehidupan keberagamaan di Iran serta usaha keras para ulama Iran dalam mewujudkan persatuan antara sesama Muslim dan pendekatan antara pelbagai mazhab Islam.

Saat bertemu dengan para pelajar Indonesia di Qom (Selasa, 13 Oktober 2009) beliau tidak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika mendapatkan kesempatan dan taufik dari Allah Swt untuk berziarah pertama kalinya ke makam kakek beliau, Imam Ali Ar-Ridha. Bagi beliau, sosok Imam Ar-Ridha adalah teladan bagi seluruh umat Islam.

Tokoh Islam yang sejak kecil bercita-cita untuk mempersatukan barisan kaum Muslimin ini menghimbau para pelajar Indonesia di Iran supaya menjadi dai-dai yang menyerukan persatuan dan menghindari timbulnya perpecahan di tengah umat Islam. Beliau sangat anti terhadap gerakan takfiriah (usaha mengkafirkan sesama Muslim) hanya karena perbedaan masalah furu’ (masalah cabang alias tidak prinsip). Beliau sangat mengapresiasi upaya serius ulama-ulama Iran di bidang pendekatan antara pelbagai mazhab Islam.

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Prof. DR. KH. Umar Shihab, berikut ini kami melakukan wawancara singkat dengan beliau. Dengan harapan, semoga kerukunan beragama dan bermazhab di tanah air tercinta berjalan dengan baik dan tidak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama dan mudah-mudahan tercipta suasana saling memahami dan ukhuwah islamiah antara pelbagai mazhab Islam.

Setelah melihat Iran dari dekat, bagaimana pandangan dan kesan Anda?

Iran merupakan tempat perkembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan agama. Ini ditandai dengan banyaknya perpustakaan besar di sana-sini. Sekiranya saya masih muda, niscaya saya akan belajar di sini.

Beberapa bulan yang lalu adik saya, Quraish Shihab juga datang ke Iran guna memenuhi undangan Lembaga Pendekatan Mazhab Islam. Sepengetahuan saya, hanya Iran satu-satunya negara yang secara resmi memiliki lembaga yang peduli terhadap persatuan antara mazhab-mazhab Islam. Iran secara getol menyerukan persatuan antara sesama umat Islam, apapun mazhab mereka. Kalau saja negara-negara Islam meniru strategi pendekatan mazhab yang dilakukan Iran niscaya tidak ada pengkafiran dan kejayaan dan kemenangan Islam akan terwujud.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi isu ikhtilaf antara Syiah dan Ahlus Sunah?

Saya orang Sunni, tapi saya percaya Syiah juga benar. Sebagaimana saya percaya bahwa mazhab Hanafi dan Maliki juga benar. Saya tidak mau disebut sebagai pembela Syiah, tapi saya pembela kebenaran. Jangankan mentolerir kekerasan antar mazhab yang MUI tidak pernah mengeluarkan “fatwa sesat dan kafir” terhadap mazhab tersebut, kepada Ahmadiyah yang kita fatwakan sebagai ajaran sesat pun kita tidak mengizinkan dilakukannya kekerasan terhadap mereka.

Kita tidak boleh gampang mengecap kafir kepada sesama Muslim hanya karena masalah furu`iah (masalah cabang/tidak utama). Antara Syafi’i dan Maliki terdapat perbedaan, meskipun Imam Malik itu guru Imam Syafi’i. Ahmadiyah kita anggap sesat karena mengklaim ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad saw, sedangkan Mazhab Ahlul Bait (Syiah) dan Ahlus Sunah sama meyakini tidak ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad saw.

Perbedaan itu hal yang alami dan biasa. Imam Syafi’i, misalnya, meletakkan tangannya di atas dada saat melaksanakan shalat. Namun saat berada di Makkah—untuk menghormati Imam Malik—beliau meluruskan tangannya dan tidak membaca qunut dalam shalat subuhnya. Orang yang sempit pengetahuannya yang menyalahkan seseorang yang tangannya lurus alias tidak bersedekap dalam shalatnya.

Sebagian kalangan menganggap Syiah sebagai mazhab sempalan dan tidak termasuk mazhab Islam yang sah? Bagaimana pendapat Anda?

Orang yang menganggap Syiah sebagai mazhab sempalan tidak bisa disebut sebagai ulama. Syiah dan Ahlus Sunnah tidak boleh saling menyalahkan. Masing-masing ulama kedua mazhab tersebut memiliki dalil. Syiah dan Ahlus Sunnah mempunyai Tuhan, Nabi, dan Al-Quran yang sama. Orang yang mengklaim bahwa Syiah punya Al-Quran yang berbeda itu hanya fitnah dan kebohongan semata.

Saudara Prof. Muhammad Ghalib (Guru Besar tafsir dan Sekretaris MUI Sulsel, Makassar yang ikut bersama beliau ke Iran) akan membawa Al-Quran cetakan Iran yang konon katanya berbeda itu ke tanah air. Saya sangat kecewa kalau ada salah satu ulama mazhab membenarkan mazhabnya sendiri dan tidak mengapresiasi mazhab lainnya. Shalat yang dilakukan oleh orang-orang Syiah sama dengan shalat yang dipraktikkan Imam Malik.

Apa pesan Anda terhadap kami sebagai pelajar-pelajar agama?

Pesan pertama dan utama saya: Peliharalah persatuan dan kesatuan antara umat Islam. Banyak ayat dalam Al-Quran yang mengecam perpecahan dan perselisihan di antara sesama umat Islam, seperti usaha menyebarkan fitnah dan percekcokan di tubuh umat Islam dll. Kita harus menjadi pelopor persatuan dan tidak membiarkan perpecahan terjadi di tubuh umat Islam. Contoh ideal persatuan dan persaudaraan antara sesama Muslim adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw saat mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar.

Pesan kedua: Persatuan yang ditekankan dalam ajaran Islam bukan persatuan yang pura-pura atau untuk kepentingan sesaat, namun persatuan yang bersifat kontinu dan sepanjang masa. Kita tidak boleh terjebak dalam fanatisme buta. Saya saksikan sendiri di Iran, khususnya di Qom, banyak orang-orang alim yang sangat toleran. Saya tahu persis di Iran ada usaha serius untuk mendekatkan dan mencari titik temu antara mazhab-mazhab Islam yang tidak ditemukan di tempat lain.

Saya mengunjungi perpustakaan di Qom dan saya melihat usaha keras para ulama di bidang pendekatan antara mazhab Islam. Saya tekankan bahwa setiap ulama mazhab memiliki dalil atas setiap pendapatnya dan pihak yang berbeda mazhab tidak boleh menyalahkannya begitu saja. Sebagai contoh, kalangan ulama berbeda pendapat berkaitan dengan hukum mabit (bermalam) di Mina. Ada yang mewajibkannya dan ada pula yang menganggapnya sunah. Jangankan antara Syiah dan Ahlussunah, antara sesama internal Ahlus Sunah sendiri pun terdapat perbedaan, misalnya antara Syafi’i dan Hanafi. Jadi, perpecahan itu akan melemahkan kita sebagai umat Islam.

Pesan ketiga: Sebagai pemuda, jangan berputus asa. Allah Swt memerintahkan kita untuk tidak berputus asa. Belajarlah bersungguh-sungguh karena menuntut ilmu itu suatu kewajiban. Dan hormatilah guru-guru Anda karena mereka adalah ibarat orang tua bagi Anda. Menghormati guru sama dengan menghormati orang tua Anda. Harapan kita dan umat Islam terhadap Anda begitu besar. Kami berterima kasih atas semua pihak yang membantu Anda di sini, terutama guru-guru Anda.

Saya menghimbau para pelajar Indonesia di Iran—setelah mereka pulang—hendaklah mereka menjadi dai-dai yang menyerukan persatuan di antara umat. Islam menekankan persatuan sesama Muslim dan tidak menghendaki timbulnya fitnah, seperti apa yang dilakukan oleh Rasul saw saat beliau memerintahkan untuk menghancurkan Masjid Dirar. Karena tempat itu dijadikan pusat penyebaran fitnah dan usaha untuk memecah belah umat.

Seringkali karena fanatisme, kita melupakan persatuan. Orang yang memecah belah umat patut dipertanyakan keislamannya. Sebab, orang munafiklah yang bekerja untuk memecah belah umat. Dan orang-orang seperti ini sepanjang sejarah pasti ada dan selalu ada hingga hari ini. Sejak kecil saya bercita-cita untuk mempersatukan sesama umat Islam. Dan di akhir hayat saya, saya tidak ingin melihat lagi perpecahan dan pengkafiran sesama Islam.

Sumber: Wawancara Eksklusif Prof. DR. Umar Shihab

Fatwa Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali bahwa : Syi’ah Lebih Berbahaya dari Yahudi dan Nashara

Silahkan Pembaca Menilai Apakah Fatwa Syaikh Salafy / Wahaby ini sesuai dengan Jiwa Islam yang dibawa Oleh Rasulullah Saaw, Fitnah Belaka atau Fakta.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali ditanya: “Apa pendapat Anda wahai Syaikh yang mulia, tentang berbagai keadaan genting (krisis) di Lebanon, Irak, Palestina? Jazakumullah khairan (semoga Allah membalas dengan kebaikan).”

Beliau menjawab:

“Demi Allah, kami berpandangan bahwa amalan jihad tetap tegak sampai hari kiamat dan merupakan perkara yang wajib dilakukan umat ini. Namun umat (Islam) kini telah melalaikan banyak perkara agama, di antaranya adalah jihad itu sendiri, sehingga Allah memberikan kekuatan kepada musuh-musuh untuk menguasai mereka.

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah[1] dan kalian mengambil ekor-ekor sapi serta kalian senang deng`an bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala –bukan di atas jalan kaum Syi’ah jalannya orang-orang yang berbuat bid’ah dan khurafat– maka Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian. Dan Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”


Maka langkah yang paling awal menuju kemuliaan, keluar dari kehinaan dan kerendahan adalah kembali kepada agama Allah. Ini langkah pertama, bukannya kembali kepada agama kaum Syi’ah yang ekstrim, yang mengkafirkan para shahabat, lalu mengangkat bendera jihad!

Mereka tidak kembali kepada agama, namun justru memerangi agama dan orang-orang yang komitmen dengannya! Bagaimana mungkin ini akan mendapatkan pertolongan!? Mungkinkah ini dikatakan sebagai jihad di jalan Allah?!

Terkadang seseorang terbunuh dalam berjihad, namun dia masuk neraka karena dia tidak melakukannya dengan niat untuk menegakkan kalimat Allah Tabaraka wa Ta’ala.

“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah.”

orang yang berperang karena modal keberanian semata, ada orang yang berperang karena semangat saja, ada yang berperang karena untuk mendapatkan pujian di manusia, yang manakah di jalan Allah? Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah (di jalan Allah)’.”

Karenanya, sebelum melakukan segala sesuatu, kaum muslimin wajib membenahi berbagai keadaan mereka dan kembali kepada agama yang telah dibawa oleh Muhammad Shallallau ‘alaihi wa sallam. Serta kembali di atas petunjuk orang-orang yang telah bersungguh-sungguh dalam menyebarkan agama ini, yaitu para shahabat yang mulia, yang menyebarkan agama, berupa amalan-amalan yang shalih dan syi’ar-syi’ar Islam yang benar. Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berjihad yaitu untuk meninggikan kalimat-Nya.
Sekarang saya bertanya kepada kalian: “Bendera yang ada di Lebanon, yaitu bendera yang diangkat oleh Hizbullah, apakah bendera itu berhak dikatakan bahwa itu merupakan bendera di jalan Allah?! Apakah dikatakan bahwa itu jihad di jalan Allah?! Sementara mereka (Hizbullah termasuk beragama Syi’ah, red) mengkafirkan para shahabat Muhammad, mempermainkan Al-Qur’an dan mengubahnya, dengan perubahan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sekalipun!?

Kalian belum pernah membaca tentang kaum Syi’ah? Bagi siapa yang membaca tentangnya, dia akan mendapati bahwa mereka lebih parah dalam melakukan perubahan pada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan kaum Yahudi dan Nashara. Demi Allah, kami ingin berjihad, namun dengan jihad yang benar. Maka wajib bagi umat ini untuk kembali kepada agamanya, kemudian setelah itu melakukan persiapan:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهِ عَدْوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (Al-Anfal: 60)

Sekarang ini, kelompok Hizbullah berperang semenjak tiga pekan yang lalu, tidak ada yang terbunuh dari mereka melainkan hanya delapan orang. Sementara yang rakyat Libanon yang terbunuh hampir mencapai seribu orang! Dan yang terusir dari mereka berjumlah ribuan! Fasilitas umum mereka dihancurkan! Apakah ini yang dikatakan jihad yang sesuai dengan kehendak Allah?!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjihad di Badr, di Uhud, di Khandaq dan di tempat lainnya, tidak satupun anak kecil yang terbunuh! Dan tidak satupun wanita yang terbunuh! Namun mereka ini (Hizbullah, red) berada dalam barisan para wanita dan anak-anak kecil, datanglah berbagai serangan yang diarahkan (oleh Yahudi kafir, red) kepada mereka yang patut dikasihani. Inikah jihad?!

Sekarang ini Yahudi telah menguasai daerah yang luas dan besar, ada duapuluh kampung di Lebanon. Apakah ini jihad? Apakah ini yang dimaksudkan? Apakah kita berjihad agar wanita dan anak-anak kaum muslimin dibunuh, yayasan-yayasan mereka dihancurkan?! Ini yang dikatakan hasil jihad itu?!

Inilah jihad ‘akrobatik’. Inilah adalah jihad model Syi’ah! Maka wajib bagi kaum muslimin untuk berfikir dan kembali kepada agama mereka, sebelum melakukan segala sesuatu. Setelah itu mereka berjihad dengan tujuan meninggikan kalimat Allah.
Sesungguhnya kita lebih mengimani tentang syariat jihad dibanding mereka ini yang merupakan para pendusta yang hanya pintar mengaku saja! Kami mengimaninya akan tetapi kami mengatakan kepada kaum muslimin: ‘Kembalilah kepada agama ini. Bekali diri kalian untuk persiapan jihad dan mendapat pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab kalian tidak mungkin mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak berperang dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan tidak berada di atas agama yang benar.’

Apa yang terjadi di Irak? Berapa banyak kaum muslimin telah dibunuh oleh kaum Syi’ah!? Lebih dari seratus ribu jiwa atau lebih yang mereka sembelih dari kalangan para wanita, anak-anak, mereka usir, merusak rumah-rumah, masjid-masjid dan menginjak-injak mushaf-mushaf Al-Qur`an! Dan berbagai kelakuan lainnya yang –demi Allah– tidak dilakukan oleh orang-orang Yahudi! Dan tatkala mereka melakukan berbagai tindakan kekejian ini semua, mereka lalu membuka front (di Libanon). Mereka menertawakan Ahlus Sunnah dan bergembira atas apa yang menimpa Ahlus Sunnah.

Apakah kalian menangisi Ahlus Sunnah dari penduduk Irak, dalam keadaan mereka disembelih, diusir, ratusan masjid-masjid mereka dirusak?! Mungkin mencapai seratus ribu jiwa atau lebih yang terbunuh dari mereka!

Apakah mereka (kaum Syi’ah) menangisi kematian kalian?! Apakah mereka mengangkat suara untuk kalian?! Sama sekali tidak, sama sekali tidak!
Maka tatkala orang Syi’ah –yang beraliran kebatinan ini– datang, banyak yang berpandangan bahwa dia mengangkat bendera jihad dan yang akan memimpin umat menuju kemuliaan dan pertolongan. Ini merupakan keberuntungan besar, di antara keberuntungan kaum Syi’ah! Sekarang ini umat Islam bersorak dan bertepuk tangan untuk mereka!!! Dan inilah yang diinginkan oleh kaum Syi’ah. Dia (pimpinan Hizbullah) ini sekarang, di mana panglima ini berada?!
(Ketahuilah), dia ada di tempat persembunyian. Dia dan kelompoknya ada di tempat persembunyiannya! Sementara kehancuran dan kebinasaan menimpa rakyat jelata Libanon! Penyembelihan (terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah) saja berlanjut di Irak! Darah kaum muslimin di Irak sangatlah murah, tidak sepantasnya disebut-sebut (dianggap berharga) menurut mereka!

Bahkan darah seluruh kaum muslimin dan harta mereka adalah halal menurut kaum Syi’ah, sebab mereka menganggapnya kafir! Inilah hukum yang mereka terapkan!
Lalu di mana kita meletakkan akal kita? Sekarang ini kebanyakan yang membimbing kaum muslimin adalah orang-orang yang jahil dan bodoh! Tokoh-tokoh yang jahil sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Orang jahil (bodoh) yang berpenampilan sebagai alim (pandai) dan tidak mengetahui hakekat Islam! Tidak mengetahui kekufuran dan perbuatan zindiq yang dimiliki kaum Syi’ah.

Telitilah kitab tafsir –dari kitab-kitab tafsir yang dimiliki Syi’ah– mulai dari surah Al-Fatihah, tentang perubahan yang mereka lakukan, yang orang Yahudi pun merasa malu darinya!

“Jalan yang lurus”, maknanya ‘Ali radhiallahu ‘anhu!

“Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”, maknanya adalah jalan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum!

“Alif Laam Mim. Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”, makna orang-orang yang bertakwa adalah pengikut ‘Ali radhiallahu ‘anhu (maksudnya kaum Syi’ah)!

Dunia, akhirat, surga, semuanya milik ‘Ali radhiallahu ‘anhu dan para pengikutnya (maksudnya Syi’ah)!

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”, mereka mengatakan: “Yang dimaksud nyamuk adalah Ali radhiallahu ‘anhu, sedangkan yang lebih rendah adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yaitu ‘Ali radhiallahu ‘anhu kadang-kadang mereka anggap seperti nyamuk. Ini termasuk perbuatan zindiq dan cercaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kadang-kadang mereka menganggap Ali radhiallahu ‘anhu sebagai binatang melata, yang melata di muka bumi. Dan dia sebagai bintang, sebagai matahari, dia adalah langit, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai buah Tin dan ‘Ali radhiallahu ‘anhu sebagai buah Zaitun, para imam (mereka) sebagai bukit Sinai. Ayat-ayat Al-Qur`an dan tanda-tanda kekuasaan alam seluruhnya yang dimaksud adalah para imam mereka!
Ayat-ayat kemunafikan, kekufuran, siksaan, ayat celaan dan ancaman, semuanya diterapkan kepada para shahabat. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu disiksa dengan siksaan yang paling keras, seperti Iblis. Dan ‘Umar adalah setan, di tempat manapun disebutkan dalam Al-Qur`an.
Ayat-ayat tentang Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan, menurut mereka yang dimaksud adalah keluarnya sang penegak hukum (Imam Mahdi, pen)!
Berbagai macam penyelewengan yang tak terhitung banyaknya dalam Kitabullah! Dan berbagai kedustaan terhadap ‘Ali radhiallahu ‘anhu dan Ahlul Bait yang tak terhitung banyaknya!
Semua yang menjelaskan tanda kekuasaan maksudnya adalah Ahlul Bait. Tidaklah engkau membaca satu ayat pun dalam Al-Qur`an, baik ayat kauniyyah maupun ayat syar’iyyah, melainkan mereka selewengkan. Ayat-ayat tentang Tauhid mereka ubah menuju kepada kesesatan mereka!
Allah berfirman: “Janganlah kalian menjadikan dua sesembahan.” Ayat ini (sebenarnya) mengajak kepada Tauhid dan memberi peringatan dari kesyirikan. (Namun) mereka mengatakan: “Janganlah kalian mengangkat dua Imam!”
Ayat Tauhid mereka tidak jelaskan, bahkan menghindar darinya! Kalaupun mereka jelaskan, mereka mengubahnya. Mereka tidak menyisakan sesuatu dari ayat tersebut melainkan mereka mengubahnya!

Mereka adalah musuh-musuh Islam, cukuplah bagi mereka sejarah hitam mereka yang selalu bersama Yahudi dan Nashara. Merekalah yang membawa pasukan Tartar dan menyembelih puluhan ribu, bahkan mungkin sejuta atau bahkan lebih (kaum muslimin)! Merekalah yang meruntuhkan khilafah ‘Abbasiyyah! Dalam perang di Afghanistan, sebagai negara tetangga mereka, (kaum Syiah Syi’ah Iran) tidak ikut serta bersama kaum muslimin sedikitpun!!! Tidak di dalam Afghanistan dan tidak pula di luarnya. Amerika datang ke
Afghanistan untuk menjatuhkan kekuasaan Taliban, maka mereka menjadi tameng terkuat bersama Amerika dalam memerangi kaum muslimin. Merekalah yang turut mendatangkan Amerika dan sekutunya ke Irak.

Mereka menambah kekuatan bersamanya untuk menyembelih kaum muslimin. Inikah Islam yang kita berjihad untuknya?

Kaum Syi’ah ini lebih berbahaya dari Yahudi dan Nashara. Dan apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Syi’ah lebih berbahaya dari apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Yahudi dan Nashara. Adapun mereka yang (tertipu), mereka disesatkan ataukah mereka orang-orang yang tidak mengetahui?!
Apakah ini pertolongan Allah? Apa yang telah dilakukan terhadap Ahlus Sunnah di Irak?! Apakah pernah engkau membimbing dengan satu ucapan untuk menasehati keluarga dan kaummu tentang kaum Syi’ah Bathiniyyah untuk menyeru agar mereka menahan diri (dari menyiksa) kaum muslimin?!

Demi Allah, saya yakin bahwa mereka tidaklah melakukan ini melainkan untuk mempermainkan kaum muslimin dan menertawakan mereka. Allah Maha Mengetahui apa tujuan mereka di belakang semua ini!

Jangan kalian membenarkan perselisihan mereka dengan Amerika! Ini semua dusta. Berapa banyak pembicaraan seputar pembuatan sel (instalasi) nuklir yang ada di Iran? Apakah tujuan mereka menyimpan bahan nuklir tersebut? Apakah untuk memerangi kaum Yahudi? Mereka pendusta! selalu menggembar-gemborkan hal ini semenjak 70 tahun yang lalu, sementara kaum muslimin memerangi Yahudi dalam berbagai peperangan. Sudah berapa banyak mereka (kaum muslimin) mengikuti peperangan, menyumbangkan harta, berperan serta, sementara justru menghilang (tidak turun serta)!

Sekarang mereka bersorak dan menghendaki kaum muslimin memasuki pertempuran sedangkan mereka menghilang. Belum berhenti satu peperangan hingga dibuka kembali peperangan yang baru.

Perencanaan pembuatan sel (instalasi) nuklir tersebut tidaklah dipersiapkan melainkan untuk negara-negara Teluk! Kaum muslimin harus memahami hal ini. Perhatikanlah perkara-perkara ini! Apakah dengan seperti ini lalu aku menganggapnya sebagai jihad di jalan Allah? Sama sekali tidak! (Alasannya):

Pertama: Aqidah mereka jelas, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebagiannya.

Kedua: Jihad merekapun jelas, di mana mereka bersembunyi di gua-gua, menyusup di rumah-rumah dan gedung-gedung! Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui, mungkin saja mereka mengutus Yahudi untuk menyerang tempat tersebut! Saya tidak menganggap mustahil hal tersebut! Sadarlah kalian terhadap makar dan tipu daya kaum Syi’ah.

Demi Allah mereka menertawakan Ahlus Sunnah. Mereka memiliki orang-orang –di negeri Arab dan negeri-negeri Islam– yang bekerja untuk mereka guna menjembatani tersebarnya keyakinan Syi’ah di seluruh dunia Islam. Sekarang dakwah mereka tersebar di dunia Islam. Di bagian Asia Timur mereka memiliki ma’had, sekolah, dan para da’i di negara-negara Afrika. Telah berlalu waktu di mana mereka tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan ini semua. Hingga datangnya sebagian kelompok yang berkhianat, lalu membukakan jalan bagi mereka dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyebarkannya di dunia Islam.

Sekarang merekapun menertawakan kaum muslimin. Tangan mereka masih berlumuran darah kaum Muslimin di Irak. Bersamaan dengan itu, mereka ingin agar kita membantu mereka?!

Sementara musibah menimpa rakyat Lebanon dan rakyat Palestina. Lalu apa kerugian yang dialami kaum Syi’ah dalam semua peperangan ini?! (Tidak ada!! -pen)

Baik di Palestina, di Afghanistan dan selainnya, semenjak 70 tahun yang lalu hingga sekarang? Apa yang telah diperbuat oleh para pendusta ini?!”

(Fatwa ini dikutip dari ceramah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul “Penghalang-penghalang dalam menuntut ilmu”, pada hari Jum’at dalam acara Daurah Al-Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu di Tha`if, pada tanggal 10-7-1427 H, bertepatan dengan tanggal 4-8-2006 M di Masjid Raja Fahd rahimahullahu. Ditranskrip oleh Al-Akh Al-Fadhil Sulthan Al-Juhani, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337298. Dikutip dari

http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=310)

Re: Apakah SYI’AH semakin semarak…?

INILAH SEBAGIAN ISI MILIS assunnah@yahoogroups.com TENTANG KEKHAWATIRAN DAN KETAKUTAN KELOMPOK TAKFIR SALAFY ALWAHABIYAH DALAM MEMPROVOKASI UMMAT DAN MEMFITNAH SYI’AH

Wa’alaykumussalamu Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah ‘ala kulli hal, ash-shalaatu wassallamu ‘ala rasulillah.

Begitu juga dengan di Medan, dakwah syiah bergerak dari kampus ke
kampus. Dari kalangan intelektual kampus. Terutama mereka yang mudah
digoyahkan dengan syubhat-syubhat ‘ada yang salah dan ditutup2i dg
sejarah/tarikh Islam’. Untuk tahap awal, syiah masuk sebagai isme
(pemikiran/fikrah) dan bukan/belum sebagai madzab(?) dalam Islam.
Dalam pada ini, mereka hanya menargetkan syiah melebur secara
pemikiran, belum pada tingkat amalan.

Ada berbagai pelajaran dari kejadian seperti ini bagi kita.
Diantaranya, hendaknya kita selalu membentengi diri kita dengan ilmu
yg benar. Sehingga kita mampu menangkis syubhat dari ahlul ahwa.
Kemudian, kita juga harus mengajak teman-teman di kampus agar mereka
mau berfikir dan bertindak kritis sebagai kaum intelektual. Insya
Allah manhaj salafy mudah diterima di kalangan berpendidikan karena
ke-khasannya berupa al ilmu qablal qawli wal ‘amali.

Kita juga jangan sampai menjadi fitnah bagi dakwah barakah ini. Image
bahwa salafiyyin orangnya kaku dan keras, suka membid’ah-bid’ahkan
(bahkan mengkafirkan), dan image jelek lainnya yang tak ada dalam
diri pendakwah manhaj mulia ini, hendaknya benar-benar dihilangkan.
Jangan sampai, sudahlah kita tak mampu berbuat banyak dalam dakwah,
kita pula menghancurkan dakwah dg perilaku kita. Semoga Allah
melindungi kita..

Pelajaran lain, hendaknya dakwah ini harus benar-benar dikembalikan
pada pada tawheed. Karena dakwah asasi ini adalah ciri dakwah
ahlussunnah. Dan sisi tawheed adalah sisi yg penting dalam kehidupan
kaum muslimin. Masih mending meninggal dengan membawa dosa ma’shiyat,
daripada membawa dosa syirik. (Ana jadi ingat waktu masih di kampus,
hampir berantem dgn orang JT, karena kejahilannya ia dan kawan-
kawannya menolak dakwah tauhid; bahwa Allah tabaraka ta’ala ada
di ‘Arys bersemayam. Padahal tidak tertutup lagi bagi mereka dalil
dari Al Quran maupun assunnah ash-shahihah).

Maka dari itu, mari lebih semarakkan dakwah-dakwah tauhid di kampus-
kampus kita.

Semoga yang sedikit ini bisa memberikan manfaat pemikiran. Aamiin.
Dan hanya kepada Allah kami bertawakkal dan bergantung.
Allahu ash-Shamad, ‘alayhi tawakkalna..

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Abu Nidia al Marghasary
1399 H.

— In assunnah@yahoogroups.com, Abu Azzam Muzhoffar
<abuazzam.muzhoffar@…> wrote:
>
> Ikhwan wa Akhowat fillah
>
> Assalamu’alaykum wr. wb.
>
> Akhir-akhir ini ana agak sedih melihat perkembangan da’wah sesat
> Syi’ah di Indonesia terutama di Jawa. Menurut salah seorang teman
> kerja di Semarang, tidak sedikit jumlah Mahasiswa dari UNS Solo
yang
> pulang ke kampung halaman dengan membawa oleh2 menyesatkan
> berupa “Ajaran Syi’ah”. Apakah benar Syi’ah semakin semarak dan
> menyebar di kalangan kampus UNS Solo…?
>
> Sewaktu ke Malang, Istri ana juga pernah memberi tahu bahwa Syi’ah
> telah merambah perumahan sekitar kampus.
>
> Bilamana Syi’ah semakin diterima oleh masyarakat, terutama kalangan
> kampus maka hal ini tentunya tidak bisa kita anggap sebagai
> permasalahan yang enteng. Perlu adanya perhatian dari para da’i
> salafiyyah dan Asatidzah kita untuk menjelaskan kepada masyarakat
> tentang bahaya Syi’ah. Harus ada gelombang kuat yang kita buat
untuk
> menghempaskan da’wah mereka, Bagaimana menurut antum sekalian…?
>
> Wassalam,
>
> Abu Azzam Muzhoffar

WAKIL RESMI SYI’AH DI MUI

Sudah saatnya sekarang MUI sebagai intitusi ulama yang resmi di negri ini menempatkan satu atau dua orang dari wakil mazhab syi’ah Imamiyah agar umat Islam Indonesia memiliki kesamaan sikap atau minimal punya toleransi bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum sunni tetap menjadi sunni dan kaum syi’ah tetap menjadi syi’ah karena Sunnah dan syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari rahim islam yang satu, kalupun ada perbedaan lebih kepada masalah furu’iyah bukan pokok lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada termakan isyu propoganda perbedaan dari kaum zionis, salibis, dan kaum fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik sunnah maupun syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama.

Keluarkan Fatwa bahwa Syi’ah itu Kufur

Sebenarnya persoalannya sederhana. Keluarkan dulu fatwa oleh ulama yang mewakili umat Islam bahwa Syi’ah itu kufur atau tersesat. Saya ingin bertanya, dapatkah pengikut seminar atau MUI mengeluarkan fatwa yang mengkufurkan Syi’ah? Keluarkan dulu fatwa dan marilah kita sebarkan fatwa ini ke masyarakat luas.

Tetapi, bagaimana mungkin saudara dapat mengeluarkan fatwa seperti itu? Saudara-saudara tidak memahami Syi’ah, sebagaimana dapat saya simpulkan dari pemberitaan televisi dan koran.

Memahami Syi’ah memang perlu keberanian untuk membaca dan memahami akidah mereka. Sayang saudara-saudara tidak memilikinya. Kalau mengenal Syi’ah saja tidak maka menjelek-jelekkan mazhab lain, jelas tidak islami.

Bukankah ukhuwah islamiyah wajib hukumnya?

Kesulitan terletak pada alasan pengkufuran tersebut. Sudah sejak zaman Rasulullah SAWW sampai para sahabat, sejak kehadiran Syi’ah, belum pernah ada ‘fatwa’ seperti itu.

Pemerintah kita tidak membutuhkan dukungan ulama secara membabi-buta, yang menjerumuskan, melainkan ulama yang intelek, sopan dan mengenal tatakrama serta memberikan peringatan bila menganggap pemimpin berbuat salah, karena Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Dan berilah peringatan. Sungguh peringatan itu memberi manfaat kepada orang beriman.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 55)

Kita harus menolak pikiran orang asing seperti Robert Lacey, penulis The Kingdom (Fontana, 1982) yang melukiskan bahwa perbedaan Sunnah dan Syi’ah, adalah bahwa Sunnah lahir dari kalangan penguasa, dari ulama yang mendukung dan membuat fatwa untuk legitimasi kekuasaan.

Dan kita juga harus menolak anggapan tokoh Islam seperti Fazlur Rahman bahwa kebanyakan ulama Sunni jadi pendukung setiap pemimpin. Fazlur Rahman mengatakan dalam bukunya Membuka Pintu Ijtihad: “Orang-orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin negara.” (terjemahan Anas Mahyuddin, Pustaka, Bandung, 1984, hal. 137).

Bukankah fatwa ulama Kuffah atas bayaran gubernur Mughirah bin Syu’bah, yang juga sorang sahabat, untuk membenarkan pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah sebagai ‘khalifah’? Lupakah betapa dahsyat akibat fatwa tersebut?

Apakah yang dilakukan Yazid pada tahun 61 H. di Karbala? Ia membunuh Husain dengan 72 anggota keluarga dan sahabatnya, memenggal kepala, menginjak-injaknya dengan kaki-kaki kuda serta mengaraknya dari kota ke kota?

Atau penggerayangan kota Madinah pada tahun 63 H? Para sejarahwan mengatakan sekitar 20.000 orang dibunuh, termasuk masing-masing 700 orang Muhajirin dan Anshar. Dan tatkala ia (Yazid) memerintahkan pasukannya agar memperkosa para wanita dan menghamili sekitar 1000 gadis sehingga untuk menjawab pinangan wanita Madinah, orang tua anak-anak gadis itu mengatakan bahwa mereka tidak menjamin bahwa anak gadis mereka masih perawan?

Ia juga menghancurkan Ka’bah dengan ketapel. Sekali lagi, baca dan bacalah! Sebagai ulama, saudara-saudara tidak boleh malas.

Tapi tidak mengherankan kalau kaum Wahabi menulis buku ‘Yazid Amiru’l-Mu’minin’ atau ‘Pemimpin Kaum Mukminin’, dan mengharuskan para siswa membacanya!

Apakah Kerajaan Saudi Kufur? Jangan saudara-saudara mengira bahwa negara sahabat kita Saudi Arabia sebagai negara orang kafir karena membiarkan sekitar 200.000 orang Syi’ah yang saudara anggap kafir, memasuki Ka’bah untuk berhaji atau membiarkan orang Syi’ah hidup dinegaranya.

Dan jumlah orang Syi’ah di Saudi bukan satu dua orang, tapi paling sedikit terdiri dari 6% penduduknya. Bukankah Rasulullah SAWW dalam wasiat terakhirnya, seperti dimuat dalam hadits-hadits shahih, tidak membolehkan orang kafir berada di Jazirah Arab?

Tahun 1994, pemerintah Kerajaan Saudi menyusun Dewan Syura, yang terdiri dari 60 anggota, termasuk 6 orang dari wakil Syi’ah.

Pendapat H. Abubakar Aceh dan H. Abdullah bin Nuh

Selain pendapat HAMKA yang telah disebutkan, H. Abubakar Aceh dalam bukunya “Syi’ah, Rasionalisme Dalam Islam” membenarkan pendapat banyak ulama bahwa mazhab Syafi’i yang kita anut lebih dekat kepada mazhab Syi’ah daripada mazhab Hanafi. (Kata Pendahuluan, Cetakan II, Ramadhani, Semarang).

Demikian pula pendapat H. Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang banyak mempelajarai Syi’ah. Penulis buku “Al-Islam fi Indonesia” itu bukan saja sangat menghormati mazhab Syi’ah, tetapi malah berpendapat bahwa penyebar Islam di Indonesia, kebanyakan adalah orang Syi’ah dan banyak orang Iran tinggal di kota-kota di Indonesia. Beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang mengenal Syi’ah. Mudah-mudahan Allah SWT merahmatinya.

Setahu saya, pembela Syi’ah belum tentu menganut paham Syi’ah. Mereka membela karena banyak membaca sejarah, punya rasa keadilan serta tidak menyetujui pengkafiran lebih dari 200 juta kaum Syi’ah secara serampangan.

Anak-anak muda justru membaca buku untuk mengetahui apakah benar fatwa MUI atau fatwa-fatwa seperti ini? Jangan menganggap mahasiswa atau anak muda kita bodoh! Fatwa serupa inilah justru yang mendorong mahasiswa dan pemuda kita mempelajari sejarah dan melebihi literatur saudara-saudara.

Rukun Islam dan Rukun Iman Syi’ah

Kaum Syi’ah mempunyai rukun Islam seperti kaum Sunnah, membaca syahadat bahwa Allah itu Esa, ahad, tidak ada tuhan selain Dia, dan Muhammad SAWW adalah Rasul terakhir. Mereka juga mendirikan shalat menghadap ke Baitullah lima kali sehari, mengeluarkan zakat, puasa wajib di bulan Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.

Juga mereka mempunyai rukun Iman seperti kita. Mereka percaya pada Allah yang esa, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah untuk nabi-nabiNya yang mulia, percaya akan Rasul-rasulNya, hari kemudian, dan takdir Allah.

Sikap Terhadap Sahabat

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213.

Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!

Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.

Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!

Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.

Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi!

Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.

Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Imam Ma’shum

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?

Apalagi Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah 1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.

Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘saifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.”, kata Abu Bakar.

Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.

Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian.

Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala.

Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunah’ atau contoh para sahabat sebelumnya.

Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari.

Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!

Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.”

Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayat-ayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.

1 Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga.

Mazhab Ja’fari, Mazhab Resmi Iran

Mengapa saudara-saudara keberatan bila pemerintah Iran menetapkan Ja’fari sebagai mazhab resmi bangsanya? Mengapa mencampuri urusan negara lain? Orang Iran sendiri tidak pernah keberatan Pancasila dijadikan dasar negara yang kita cintai ini.

Apakah saudara-saudara ingin agar Iran, yang mayoritas rakyatnya bermazhab Syi’ah, mengganti mazhab resminya dengan mazhab Wahabi? Saudara-saudara boleh mengusulkan kepada pemerintah Iran agar mengganti mazhab mresminya ke mazhab Wahabi atau ‘PERSIS’ atau mazhab ‘Al-Irsyad’. Saya yakin mereka tidak akan marah.

Kalau saudara-saudara bermazhab Syafi’i, beranikah saudara-saudara mengusulkan agar mazhab kerajaan Saudi Arabia yang Wahabi diganti dengan mazhab Syafi’i agar mereka masuk Ahlussunah wa’l Jamaah?

Melaknat Sahabat

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun. Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan. Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.

Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifa Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus. Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’. Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus.

Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al-Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat.

Beranikah saudara-saudara peserta seminar menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat?

Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Taqiyyah

Mengenai taqiyyah. Menjalankan taqiyyah adalah suatu permissibility, suatu kebolehan dalam Islam, berdasarkan nash. Seorang muslim yang lemah dan tertindas boleh menyangkal keimanannya bila nyawanya terancam seperti yang dialami oleh Ammar bin Yasir.

Thabathaba’i, misalnya membolehkan seseorang menyangkal keimanannya dalam keadaan terpaksa, untuk menyelamatkan nyawanya, kehormatan perempuan, atau hartanya yang bia dirampas, ia tidak dapat memberi nafkah kepada anak-istrinya. (Bacalah Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Syi’a, Qum, 1981).

Disamping kasus Ammar bin Yasir, juga ada seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya (lihat Al-Quran, Surat Al-Mukmin, ayat 28).

Barangkali para anggota seminar punya rumusan lebih baik dari ini. Kalau menyumbangkan pikiran saja tidak, bagaimana para anggota seminar berani mengatakan bahwa anggota Syi’ah sukar ditemukan karena bertaqiyyah dan karena mereka masih lemah?

Tetapi mengapa menyuruh menutup Yayasan Muthahhari (Bandung), Yayasan Al-Muntazhar (Jakarta), Yayasan Al-Jawad (Bandung), Yayasan Mulla Sadra (Bogor), Pesantren YAPI (Bangil), Yayasan Al-Muhibbin (Probolinggo) dan Yayasan pesantren Al-Hadi (Pekalongan)? Bukankah peserta seminar mengenal pimpinan yayasan-yayasan tersebut sebagai Syi’ah? Kenapa tidak mengajak mereka bermujadalah seperti yang dianjurkan Al-Quran?

Din Syamsuddin : “Persatuan Sunni – Syi’ah Mutlak Diperlukan Demi Kejayaan Islam “.

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din, dalam siaran persnya yang diterima ANTARA, di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei.

Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan, tetapi hanya pada wilayah cabang (furu`iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib.

Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”.

“Dua hal ini, ‘kalimatun sawa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam, yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (*)

 

Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa bulan yang lalu terjadi peristiwa yang sangat aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam. Pada tanggal 16 Dzul Qa’dah 1427 H sebuah kelompok yang terdiri dari 38 ulama dan dosen menandatangani sebuah deklarasi. Ulama dan dosen Wahabi ini berasal dari universitas Ummul Qura dan universitas Malik Su’ud serta sebagian kecil dari sebagian wilayah Arab Saudi lainnya. Deklarasi itu adalah fatwa untuk membunuh orang-orang Syi’ah Irak dan Syi’ah seluruh dunia! Mereka menuduh orang-orang Syi’ah adalah Rafidhi Safawi, sekutu Amerika dan pelindung Israel yang membunuhi orang-orang Ahli Sunah.

Pada poin pertama dari deklarasi itu, setelah pendahuluan, perlu adanya mobilisasi terhadap media-media Arab untuk menyampaikan kepada seluruh kaum muslimin di dunia bahwa Syi’ah itu berbahaya. Syi’ah harus dicitrakan membunuh orang-orang Ahli Sunah. Tunjukkan bahwa orang-orang Ahli Sunah adalah orang-orang yang dianiaya. Deklarasi ini menyebutkan bahwa Syi’ah Irak ingin memecah negara Irak menjadi negara-negara kecil. Kawasan Selatan yang kaya milik Syi’ah, Utara dikuasai oleh Kurdi dan kawasan kecil di pusat Irak menjadi milik Ahli Sunah. Dalam lanjutannya disebutkan bahwa apa yang diambil secara paksa, maka harus direbut secara paksa juga. Perang adalah pilihan pertama dan Irak harus direbut dari Syi’ah. Bahkan orang-orang Kurdi juga harus dikeluarkan dari Irak.

Pada poin kedua disebutkan bahwa para pemikir dan ulama harus dimaksimalkan untuk berbicara di masjid dan pertemuan-pertemuan khusus atau umum. Mereka harus menjelaskan hakikat yang selama ini tersembunyi. Mereka harus menekankan kemazluman Ahli Sunah agar orang-orang Ahli sunah bangkit melawan Syi’ah.

Pada poin ketiga diserukan kepada seluruh orang-orang Ahli Sunah untuk membantu Ahli Sunah Irak sekuat tenaga, baik uang maupun persenjataan.

Poin keempat meminta kepada seluruh kelompok-kelompok Ahli Sunah di Irak untuk bersatu demi menghadapi Syi’ah. Istilahnya adalah menghadapi taghut Amerika, Rafidhi dan sekutu mereka. Ketiga kelompok ini harus dihancurkan. Maksud dari sekutu mereka adalah orang-orang Kurdi dan sebagian orang-orang Ahli Sunah yang moderat.

Poin kelima menyebutkan agar tidak boleh putus asa untuk menyebarkan semangat ini. Dalam masalah ini harus aktif. Karena masa kebatilan hanya sesaat, sementara kebenaran akan kekal hingga hari kiamat.

Belum pernah dalam sejarah Islam, ada fatwa yang semacam ini. Memerintahkan untuk perang saudara sesama muslim dan membunuh orang-orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syi’ah sendiri meyakini bahwa mengalirkan darah seorang muslim; baik itu Syi’ah maupun Sunni, adalah sebuah dosa besar yang tidak terampuni.

Sekalipun ancaman semacam ini ada, kami tidak pernah takut sedikit pun. Di hadapan sikap dan aksi kekerasan yang tidak manusiawi ini, kami mengulurkan tangan persaudaraan. Kami akan mengatakan kepada mereka: “Saudaraku! Kalian telah salah jalan. Musuh kita orang lain”. Bila kalian tetap ingin menjalankan rencana kalian, niscaya Islam tidak tersisa lagi. Sebagai saudara, kami ingin menasihati kalian: “Lebih dari ini jangan lagi kalian rusak Islam ini! Jangan kalian memperkenalkan Islam sebagai agama kekerasan dan hanya milik orang-orang bodoh!

Terlepas dari semua itu, kenyataan keji dan berbahaya ini harus dipikirkan oleh semua kaum muslimin. Ada baiknya bila merenungkan beberapa poin berikut:

1. Deklarasi ini mengajak untuk membunuh saudara sendiri dan ratusan juta jiwa kaum muslimin. Deklarasi ini telah membunyikan tambur peperangan. Di seluruh dunia, Islam diperkenalkan sebagai agama kekerasan dalam bentuknya yang paling ekstrim. Hari ini, deklarasi ini menunjukkan bahwa musuh paling berbahaya adalah cara berpikir Wahabi ekstrim. Cara pandang yang melihat bahwa Syiah dan Ahli Sunah sama-sama kafir. Yang Islam hanya mereka saja. Ini dapat ditelusuri dalam buku Muhammad bin Abdul Wahhab. Mayoritas Ahli Sunah juga sangat tersiksa menghadapi mereka.

Sangat disayangkan, cara berpikir yang mendahulukan kekerasan sangat menghambat kemajuan Islam di dunia. Bahkan cara berpikir semacam ini menjadi problem besar dunia Islam sekarang. Padahal, dunia saat ini siap menerima Islam. Namun, bila mereka telah dekat dengan Islam, mereka melihat sekelompok kaum muslimin yang hobinya melakukan aksi teror dan tindak kekerasan. Sesaat mereka berbalik dari Islam.

2. Wahabi memperkenalkan Amerika sebagai salah satu dari faktor yang membahayakan stabilitas keamanan di Irak. Kami juga meyakini hal yang demikian. Namun semua tahu bahwa sebagian dari negara-negara Islam secara praktis merupakan sekutu Amerika di Timur Tengah. Orang-orang Amerika dengan bebas bisa berkeliling di negara-negara Arab itu terserah kemauannya. Mengapa Wahabi tidak memerangi mereka? Mengapa Wahabi menerima mereka dengan tangan terbuka, sementara di Irak mereka ingin mengangkat senjata berperang melawan Amerika?

3. Sesuai dengan pernyataan mereka bahwa Rafidhi Safawi adalah sekutu Amerika dan pembela Israel. Apakah mereka dapat memberikan keterangan mana negara Islam yang bertahun-tahun memutuskan hubungannya dengan Amerika dan diembargo? Masyarakat mana di Lebanon yang mampu mengalahkan Israel? Dan siapa yang selama ini mengadakan kerja sama dengan Israel? Ketika Hizbullah berperang melawan Israel, siapa yang mengharamkan segala bentuk bantuan kepada Hizbullah?

4. Apakah orang-orang Ahli Sunah Irak dibunuh oleh Syi’ah, ataukah orang-orang Ahli sunah dan sekutu mereka dari sisa-sisa anggota partai Ba’ts yang membantai orang-orang Syi’ah?

Apakah Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir al-Hakim bersama tiga ratus orang di Najaf berasal dari Ahli Sunah?

Apakah lebih dari seribu orang di Kazhimain yang tewas berasal dari Ahli Sunah?

Kematian paling mengenaskan dalam beberapa tahun terakhir ini di Hilla. Di sana tewas 400 orang dan semuanya dari Syi’ah. Apakah pembantaian ribuan orang yang terjadi di Kufah, Karbala, Najaf dan Hilla dilakukan juga oleh orang-orang Syi’ah?

5. Kalian mengatakan bahwa apa yang diambil secara paksa harus direbut kembali secara paksa. Tahukah kalian bahwa pemerintah Irak saat ini terbentuk setelah melalui pemilihan bebas yang diawasi oleh pengawas internasional. Setelah itu dipilih secara demokrasi anggota parlemen, presiden dan perdana menteri. Hal yang belum pernah terjadi di negara Arab Saudi, tempat tinggal kalian. Kalian mengatakan bahwa mereka mengambil kekuasaan dengan kekerasan. Apakah kalian ingin mengatakan bahwa negara kalian adalah negara yang muncul berdasarkan demokrasi?

6. Mungkin akan sangat baik sekali bila kita menengok data statistik yang ada. Irak terdiri dari lebih dari 60 persen Syiah, 20 persen Kurdi sunni dan 20 persen Arab Sunni. Dengan data ini, kalian ingin mengatakan bahwa 20 persen Arab Sunni harus berkuasa atas 80 persen dari jumlah penduduk Irak lainnya? Itupun dengan kekerasan? Selain itu, pekerjaan seperti itu di dunia kini adalah tidak mungkin. Tidak masuk akal dan juga tidak logis. Buat seorang awam saja hal ini tidak masuk akal, bagaimana bisa para ulama dan dosen percaya dengan logika seperti ini?

7. Siapa yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw?

Siapa yang menulis buku ayat-ayat setan dan siapa yang melindungi penerbitan buku itu?

Siapa yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar?

Siapa yang menguasai Masjidul Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya? Saat ini, tanah-tanah kaum muslimin di bawah cengkeraman tentara mereka.

Kalian meninggalkan semua itu dan mengobarkan peperangan sesama kaum muslimin yang manfaatnya kembali kepada musuh-musuh Islam.

Apakah rasa cinta kalian kepada agama yang memerintahkan kalian melakukan hal ini?

8. Deklarasi yang kalian tanda tangani bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran dan hadis.

Apakah kalian lupa al-Quran mengatakan: “Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya)” (Nisa’: 94).

Apa yang membuat kalian ingin membunuh kelompok besar dari kaum muslimin yang beriman sebagai kafir? Mereka yang punya andil besar untuk perkembangan serta kemajuan Islam.

Apakah kalian telah lupa dengan hadis yang disampaikan berulang-ulang oleh Nabi Muhammad saw: “Siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka jiwa, harta dan kehormatannya dilindungi”. Mengapa kalian menginjak-injak hadis ini?

Apakah kalian lupa Allah berfirman: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Anfal: 46). Apakah dengan perang yang ingin kalian kobarkan di Irak yang hasilnya adalah tewasnya kaum muslimin dari kedua belah pihak tidak membuat kaum muslimin menjadi lemah di hadapan musuh Islam?

9. Bila klaim kalian benar, mengapa kalian tidak mengamalkan ayat yang berbunyi: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya” (Hujurat: 9) Mengapa kalian malah mengobarkan perang, padahal pihak lain mengulurkan tangan persahabatan terhadap kalian? Apakah perilaku seperti ini sesuai dengan al-Quran?

Dalam deklarasi yang kalian tanda tangani tersisip sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dalam buku Sahih Muslim. Nabi Muhammad saw bersabda: “Allah menjanjikan bahwa musuh Islam tidak akan dapat menguasai kaum muslimin. Bila ada masalah yang terjadi, maka itu muncul dari perselisihan kaum muslimin sendiri”!

Kalian menukilkan hadis ini, tapi mengamalkan sebaliknya!

Apakah Nabi Muhammad saw tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.

10. Bila sebagian dari kepala-kepala negara Islam tidak mengindahkan aturan Islam ini, masih dapat diterima. Tapi, bila itu tidak diperhatikan oleh orang-orang yang disebut sebagai ulama sangat mengherankan. Mudah-mudahan mereka tidak diperalat oleh pemerintah.

Al-Quran menyebutkan bahwa pembunuhan terhadap seorang muslim mendapat laknat dari Allah, azab ilahi yang sangat pedih dan bakal kekal di neraka. “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Nisa’: 93).

Sesungguhnya, ayat ini membuat orang yang mendengarnya bergetar. Bila seseorang menjadi penyebab bagi terbunuhnya ribuan bahkan jutaan kaum muslimin, apa yang bakal diterimanya di hari kiamat?

11. Deklarasi yang kalian tanda tangani menunjukkan bahwa kalian mengidap penyakit buruk sangka kronis terhadap Syi’ah dan pengikut Ahlul Bait. Sumbernya adalah propaganda musuh. Merasa cukup dengan data yang didapat dari isu. Menjadikan perbuatan orang-orang awam sebagai tolok ukur. Tidak pernah melakukan pendekatan dan menghakimi secara in absentia.

12. Kami mengumumkan kepada kalian bahwa ulama Syi’ah siap hadir dalam pertemuan-pertemuan kedua belah pihak ulama. Siap melakukan dialog dan diskusi dalam lingkungan persaudaraan. Ulama Syi’ah siap untuk membuktikan bahwa tuduhan yang selama ini dialamatkan ke Syi’ah hanyalah buruk sangka, propaganda musuh dan perilaku orang-orang ekstrim. Sangat tepat sekali bila dalam pertemuan itu, seluruh dari mereka yang memberikan fatwa untuk membantai semua orang Syi’ah, untuk hadir.

Selama empat tahun setelah lengsernya Sadam, ulama Syi’ah senantiasa mengajak agar semua kelompok dan rakyat Irak untuk tidak terlibat dalam konflik sektarian dan perang saudara. Saat ini, tiba giliran ulama dan pemikir Ahli Sunah untuk mengamalkan kewajiban mereka. Ulama Ahli Sunah harus berani menjelaskan kepada kelompok-kelompok yang tidak sadar ikut dalam skenario perang antara sesama muslim, untuk tidak lagi melakukan hal itu. Jangan sampai kehormatan Islam yang ada ini semakin jatuh di mata dunia. Dan yang lebih penting lagi, agar jangan sampai terulang kembali tumpahnya darah manusia tidak berdosa. Jangan sampai mereka mempermainkan hukum Islam yang diterima oleh semua kaum muslimin.

“Ya Tuhan kami! Berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)” (A’raf: 89).

“Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Hasyr: 10).

ALI BIN ABI THALIB DI MATA IBNU TAIMIYAH

 

Oleh: Muchtar Luthfi

Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta “ajaran resmi” Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah.

ALI BIN ABI THALIB adalah satu sosok sahabat terkemuka Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan tugas-tugas ritual maupun sosial keagamaan.

Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin –baik Ahlussunnah, maupun Syiah- bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul, tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu jajaran khalifah Rasul.

Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya tentang kekhalifahan beliau.

Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah:

Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam melihat kekurangan pada pribadi Ali:

Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: “Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: “As-Syafi’i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah”[6].

Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang disebut-sebut sebagai ‘syeikh Islam’ seperti Ibnu Taimiyah tidak mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya-padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya! Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf saleh?

Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah:

Sabda Rasulullah saw: “Telah kunikahkan engkau –wahai Fathimah- dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan paling utama dari sisi kebijakan…”.[8]

1. Sabda Rasulullah saw: “Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku”.[9]

2. Sabda Rasulullah saw: “Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang segenap manusia satu bagian (saja)”.[10]

3. Berkata ummulmukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah”.[11]

4. Berkata Umar bin Khattab: “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)”.[12]

5. Berkata Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki”.[13] Dalam nukilan kitab lain ia berkata: “Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air dibanding tujuh samudera”.[14]

6. Berkata Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut”.[15]

7. Berkata ‘Adi bin Hatim: “Demi Allah, jika dilihat dari sisi pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia –yaitu Ali- adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya”.[16]

8. Berkata al-Hasan: “Telah meninggalkan kalian, pribadi yang kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang bisa mengalahi keilmuannya”.[17]
Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.

Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah –pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali dan Ibnu Mas’ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan dengan Ali dan Ibnu Mas’ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa pemuka Ahlussunah.

Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal masalah tersebut:

1. Kebencian terhadap Ali: “Ungkapan yang menyatakan bahwa membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui (asalnya)”.[19]

2. Pengingkaran hadis Rasul: “Hadis ana madinatul ilmi (Aku adalah kota ilmu…) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu’)”.[20]

3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: “Hadis “aqdhakum Ali” (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)”.[21]

4. Keilmuan Ali: “Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali, merupakan ungkapan batil”.[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia kembali mengatakan: “Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah belajar dari Abu Bakar”.[23]

5. Keadilan Ali: “Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)”.[24]

Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah menyatakan: “Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi’in yang memeranginya”.[25]

Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.[26]

Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali:

1. “Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan Umar”.[27]

2. “Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali) menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat”.[28]

3. “Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa, tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan, ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan pelaksana puasa”.[30]

Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat pembahasan.

Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al-Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: “Dalam kitab al-Imamah, al-Jurjani mengatakan: “Telah sepakat (ijma’) ulama ahli fikih (faqih) Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra’yi semisal imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan Auza’i dan mayoritas para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam) perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para penentang yang zalim”. Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi, dia mengatakan: “Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan perdamaian”.[31]

Jelas bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah dengan mengatasnamakan salaf saleh tidaklah memiliki dasar sedikitpun, apalagi jika ia mengatasnamakan para imam mazhab Ahlusunnah. Lantas, bagaimana mungkin pribadi seperti Ibnu Taimiyah dapat mewakili pemikiran Ahlusunnah, padahal begitu banyak pandangan ulama Ahlusunnah sediri yang secara jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah? Lebih-lebih pendapat Ibnu Taimiyah tadi hanya sebatas pengakuan saja, tanpa memberikan argumen maupun rujukan yang jelas, baik yang berkaitan dengan hadis (Rasul saw), maupun ungkapan para salaf saleh (dari sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) termasuk nukilan pendapat para imam mazhab empat secara cermat, apalagi bukti ayat al-Quran.

Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat, dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia menyebarkan keragu-keraguan atas kekhilafan Ali. Tentu saja, metode yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu; dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat tokoh-tokoh salaf saleh.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah dalam masalah tersebut:

1. “Diriwayatkan dari Syafi’i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman”.[32]

2. “Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat bahwa ia (Ali) bukanlah imam, akan tetapi Muawiyah-lah yang menjadi imam. Sebagian lagi menyatakan, bahwa pada zaman itu tidak terdapat imam secara umum, bahkan zaman itu masuk kategori masa (zaman) fitnah”.[33]

3. “Dari mereka terdapat orang-orang yang diam (tidak mengakui) atas (kekhalifahan) Ali, dan tidak mengakuinya sebagai khalifah keempat. Hal itu dikarenakan umat tidak memberikan kesepakatan atasnya. Sedang di Andalus, banyak dari golongan Bani Umayyah yang mengatakan: Tidak ada khalifah. Sesungguhnya khalifah adalah yang mendapat kesepakatan (konsensus) umat manusia. Sedang mereka tidak memberi kesepakatan atas Ali. Sebagian lagi dari mereka menyatakan Muawiyah sebagai khalifah keempat dalam khutbah-khutbah jum’atnya. Jadi, selain mereka menyebutkan ketiga khalifah itu, mereka juga menyebut Muawiyah sebagai (khalifah) keempat, dan tidak menyebut Ali”.[34]

4. “Kita mengetahui bahwa sewaktu Ali memimpin, banyak dari umat manusia yang lebih memilih kepemimpinan Muawiyah, atau kepemimpinan selain keduanya (Ali dan Muawiyah)…maka mayoritas (umat) tidak sepakat dalam ketaatan”.[35]
Jelas sekali di sini bahwa Ibnu Taimiyah selain ia berusaha menyebarkan karaguan atas kekhalifah Ali bin Abi Thalib kepada segenap umat, ia pun menjadi corong dalam menyebarkan kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sedang hal itu jelas-jelas bertentangan dengan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Untuk menjawab pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah di atas tadi, mari kita simak beberapa pernyataan pembesar ulama Ahlusunnah tentang kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, dan ungkapan mereka perihal Muawiyah bin Abu Sufyan, termasuk yang bersumber dari kitab-kitab karya imam Ahmad bin Hambal yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dalam pola pikir dan metode (manhaj)-nya.

1. Dinukil dari imam Ahmad bin Hambal: “Barangsiapa yang tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan kalian ajak bicara, dan jangan adakan tali pernikahan dengannya”.[36]

2. Dikatakan bahwa imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan: “Barangsiapa yang tidak menetapkan imamah (kepemimpinan) Ali, maka ia lebih sesat dari Keledai. Adakah Ali dalam menegakkan hukum, mengumpulkan sedekah dan membagikannya tanpa didasari hak? Aku berlindung kepada Allah dari ungkapan semacam ini…akan tetapi ia (Ali) adalah khalifah yang diridhai oleh para sahabat Rasul. Mereka melaksanakan shalat dibelakangnya. Mereka berperang bersamanya. Mereka berjihad dan berhaji bersamanya. Mereka menyebutnya sebagai amirulmukminin. Mereka ridha dan tiada mengingkarinya. Maka kami pun mengikuti mereka”.[37]

3. Dalam kesempatan lain, sewaktu putera imam Ahmad bin Hambal menanyakan kepada ayahnya perihal beberapa orang yang mengingkari kekhalifahan Ali, beliau (imam Ahmad) berkata: “Itu merupakan ungkapan buruk yang hina”[38].

4. Dari Abi Qais al-Audi yang berkata: “Aku melihat umat manusia di mana mereka terdapat tiga tahapan; Para pemilik agama, mereka mencintai Ali. Sedang para pemilik dunia, mereka mencintai Muawiyah, dan Khawarij”.[39]

Adapun riwayat-riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Ali terlampau banyak untuk disampaikan di sini. Untuk mempersingkat pembahasan, kita nukil beberapa contoh riwayat yang khusus berkaitan dengan keilmuan dan kekhilafan Ali dari kitab-kitab standar Ahlusunnah wal Jamaah:

1. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain karya al-Hakim an-Naisaburi dijelaskan dari Hayyan al-Asadi; aku mendengar Ali berkata: Rasul bersabda kepadaku: “Sesungguhnya umat akan meninggalkanmu setelahku (sepeninggalku), sedang engkau hidup di atas ajaranku. Engkau akan terbunuh karena (membela) sunahku. Barangsiapa yang mencintaimu, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang memusuhimu, maka ia telah memusuhiku. Dan ini akan terwarnai hingga ini (yaitu janggut dari kepalanya)”.[40]

2. Dalam Shahih at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id, ia berkata: “Kami (kaum Anshar) tiada mengetahui orang-orang munafik kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib”.[41]

3. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang menyebutkan; Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan hidup sebagaimana kehidupanku, dan mati sebagaimana kematianku, dan menempati sorga yang kekal yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, maka hendaknya ia menjadikan Ali sebagai wali (pemimpin/kecintaan). Karena ia tiada akan pernah mengeluarkan kalian dari petunjuk, dan tiada akan menjerumuskan kalian kepada kesesatan”.[42]

4. Dalam kitab Tarikh al-Baghdadi diriwaytkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Di malam sewaktu aku mi’raj ke langit, aku melihat di pintu sorga tertulis: Tiada tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasul Allah, Ali kecintaan Allah, al-Hasan dan al-Husein pilihan Allah, Fathimah pujian Allah, atas pembenci mereka laknat Allah”.[43]

5. Juga dalam kitab Tarikh al-Baghdadi disebutkan sebuah hadis tentang penjelmaan Iblis untuk menggoda Rasul beserta para sahabat sewaktu bertawaf di Ka’bah. Setelah Iblis itu sirna, Rasul bersabda kepada Ali: “Apa yang aku dan engkau miliki wahai putera Abu Thalib. Demi Allah, tiada seseorang yang membencimu kecuali ia (Iblis) telah campur tangan dalam pembentukannya (melalui sperma ayahnya .red).” Lantas Rasul membacakan ayat (64 dari surat al-Isra’): “Wa Syarikhum fil Amwal wal Awlad” (Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak)”.[44]

6. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Aku adalah kota hikmah, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki hikmah hendaknya melalui pintunya”.[45] Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu hendaknya melalui pintunya”.[46]

7. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari al-Hasan dari Anas bin Malik, ia berkata; Nabi bersabda kepada Ali: “Engkau (Ali) penjelas (atas permasalahan) yang menjadi perselisihan di antara umatku setelahku”.[47]

8. Dalam kitab as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar disebutkan, sewaktu Rasul sakit lantas beliau mewasiatkan kepada para sahabatnya, seraya bersabda: “Aku meninggalkan kepada kalian Kitab Allah (al-Quran) dan Itrah (keturunan)-ku dari Ahlul Baitku”. Kemudian beliau mengangkat tangan Ali seraya bersabda: “Inilah Ali bersama al-Quran, dan al-Quran bersama Ali. Keduanya tiada akan berpisah sehingga pertemuanku di al-Haudh (akherat) kelak, maka carilah kedua hal tersebut sebagaimana aku telah meninggalkannya”.[48] Dalam hadis lain disebutkan: “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali. Keduanya tiada akan pernah berpisah hingga pertemuanku di Haudh kelak di akherat”.[49]

9. Dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir disebutkan, diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri, ia berkata; Rasul memerintahkan kami untuk memerangi kelompok Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan). Lantas kami berkata: “Wahai Rasulullah, engkau memerintahkan kami memerangi mereka, lantas bersama siapakah kami?”, beliau bersabda: “Bersama Ali bin Abi Thalib, bersamanya akan terbunuh (pula) Ammar bin Yasir”.[50]

Pernyataan Resmi Ahlusunnah Perihal Kekhalifahan Ali:

Lihat, bagaimana Ibnu Taimiyah tidak menyinggung nama Ali dalam masalah kekhalifahan? Dan bagaimana ia berdusta atas nama imam Syafi’i tanpa memberikan dasar argumen yang jelas? Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari Ali, tetapi bahkan memberikan kemungkinan kekhalifahan buat Muawiyah. Padahal tidak ada kelompok Ahlusunnah pun yang meragukan kekhalifahan Ali. Berikut ini akan kita perhatikan pernyataan resmi beberapa ulama Ahlussunah perihal pandangan mazhab mereka berkaitan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib:

1. Dari Abbas ad-Dauri, dari Yahya bin Mu’in, ia mengatakan: “Sebaik-baik umat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Usman, lantas Ali. Ini adalah mazhab kami, juga pendapat para imam kami. Sedang Yahya bin Mu’in berpendapat: Abu Bakar, Umar, Ali dan Usman”.[51]

2. Dari Harun bin Ishaq, dari Yahya bin Mu’in: “Barangsiapa yang menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali (Radhiyallahu anhum) –dan mengakui Ali sebagai pemilik keutamaan, maka ia adalah pemegang as-Sunnah (Shahib as-Sunnah)…lantas kusebutkan baginya oknum-oknum yang hanya menyatakan Abu Bakar, Umar dan Usman, kemudian ia diam (tanpa menyebut Ali .red), lantas ia mengutuk (oknum tadi) mereka dengan ungkapan yang keras”.[52]

3. Berkata Abu Umar –Ibnu Abdul Bar- perihal seseorang yang berpendapat sebagaimana hadis dari Ibnu Umar: “Dahulu, pada zaman Rasul, kita mengatakan: Abu Bakar, kemudian Umar, lantas Usman, lalu kami diam –tanpa melanjutkannya)”. Itulah yang diingkari oleh Ibnu Mu’in dan mengutuknya dengan ungkapan kasar. Karena yang menyatakan hal itu berarti telah bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh Ahlussunah, baik mereka dari pendahulu (as-Salaf), maupun dari yang datang terakhir (al-Khalaf) dari para ulama fikih dan hadis. Sudah menjadi kesepakatan (Ahlussunah) bahwa Ali adalah paling mulianya manusia, setelah Usman. Namun, mereka berselisih pendapat tentang, siapakah yang lebih utama, Ali atau Usman? Para ulama terdahulu (as-Salaf) juga telah berselisih pendapat tentang keutamaan Ali atas Abu Bakar. Namun, telah menjadi kesepakatan bagi semuanya bahwa, sebagaimana yang telah kita sebutkan, semua itu telah menjadi bukti bahwa hadis Ibnu Umar memiliki kesamaran dan kesalahan, dan tidak bisa diartikan semacam itu, walaupun dari sisi sanadnya dapat dibenarkan”.[53]

Jadi jelaslah bahwa menurut para pemuka Ahlussunah, Ali adalah sahabat terkemuka yang termasuk jajaran tokoh para sahabat yang menjadi salah satu khalifah pasca Rasul. Berbeda halnya dengan apa yang diyakini oleh Ibnu Taimiyah, seorang ulama generasi akhir (khalaf) yang mengaku sebagai penghidup pendapat ulama terdahulu (salaf), namun banyak pendapatnya justru berseberangan dengan pendapat salaf saleh.

Pernyataan Ulama Ahlusunnah Perihal Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Ali:

Pada bagian kali ini akan kita nukil beberapa pernyataan ulama Ahlusunnah perihal pernyataan Ibnu Taimiyah yang cenderung melecehkan Ali bin Abi Thalib:

1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan tentang pribadi Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ia terlalu berlebihan dalam menghinakan pendapat rafidhi (Allamah al-Hilli seorang ulama Syiah. red) sehingga terjerumus kedalam penghinaan terhadap pribadi Ali”.[54]

2. Allamah Zahid al-Kautsari mengatakan: “…dari beberapa ungkapannya dapat dengan jelas dilihat kesan-kesan kebencian terhadap Ali”.[55]

3. Syeikh Abdullah Ghumari pernah menyatakan: “Para ulama yang sezaman dengannya menyebutnya (Ibnu Taimiyah) sebagai seorang yang munafik dikarenakan penyimpangannya atas pribadi Ali”.[56]

4. Syeikh Abdullah al-Habsyi berkata: “Ibnu Taimiyah sering melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan: Peperangan yang sering dilakukannya (Ali) sangat merugikan kaum muslimin”.[57]

5. Hasan bin Farhan al-Maliki menyatakan: “Dalam diri Ibnu Taimiyah terdapat jiwa ¬nashibi dan permusuhan terhadap Ali”.[58]

6. Hasan bin Ali as-Saqqaf berkata: “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai ‘syeikh Islam’, dan segala ungkapannya dijadikan argumen oleh kelompok tersebut (Salafy). Padahal, ia adalah seorang nashibi yang memusuhi Ali dan menyatakan bahwa Fathimah (puteri Rasulullah. red) adalah seorang munafik”.[59]

Dan masih banyak lagi ungkapan ulama Ahlusunnah lain yang menyesalkan atas prilaku pribadi yang terlanjur terkenal dengan sebutan ‘syeikh Islam’ itu. Untuk mempersingkat pembahasan, dalam makalah ini kita cukupkan beberapa ungkapan mereka saja. Namun di sini juga akan dinukil pengakuan salah seorang ahli hadis dari kalangan wahabi (pengikut Ibnu Taimiyah sendiri .red) sendiri dalam mengungkapkan kebingungannya atas prilaku imamnya (Ibnu Taimiyah) yang meragukan beberapa hadis keutamaan Ali bin Abi Thalib. Ahli hadis tersebut bernama Nashiruddin al-Bani. Tentu semua pengikut Salafy (Wahabi) mengenal siapa dia. Seusai ia menganalisa hadis al-wilayah[60] (kepemimpinan) yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib, lantas ia mengatakan: “Anehnya, bagaimana mungkin syeikh Islam Ibnu Taimiyah mengingkari hadis ini, sebagaimana yang telah dia lakukan pada hadis-hadis sebelumnya (tentang Ali), padahal ia memiliki berbagai sanad yang sahih. Hal ini ia lakukan, tidak lain karena kebencian yang berlebihan terhadap kelompok Syiah”.[61]

Dari sini jelas bahwa akibat kebencian terhadap satu kelompok secara berlebihan menyebabkan Ibnu Taimiyah terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kesesatan, sehingga menyebabkan ia telah menyimpang dari ajaran para salaf saleh yang selalu diakuinya sebagai pondasi ajarannya. Bukankah orang yang disebut ‘syeikh Islam’ itu mesti telah membaca hadis yang tercantum dalam Shahih Muslim –kitab yang diakuinya sebagai paling shahihnya kitab- yang menyatakan: “Aku bersumpah atas Dzat Yang menumbuhkan biji-bijian dan Pencipta semesta, Rasul telah berjanji kepadaku (Ali); Tiada yang mencintaiku melainkan seorang mukmin, dan tiada yang membenciku melainkan orang munafik”.[62] Sedang dalam hadis lain, diriwayatkan dari ummulmukminin Ummu Salamah: “Seorang munafik tiada akan mencintai Ali, dan seorang mukmin tiada akan pernah memusuhinya”.[63] Dan dari Abu Said al-Khudri yang mengatakan: “Kami dari kaum Anshar dapat mengenali para munafik melalui kebencian mereka terhadap Ali”.[64]

Jika sebagian ulama Ahlusunnah telah menyatakan, akibat kebencian Ibnu Taimiyah terhadap Ali dengan ungkapan-ungkapannya yang cenderung melecehkan sahabat besar tersebut sehingga ia disebut nashibi, lantas jika dikaitkan dengan tiga hadis di atas tadi yang menyatakan bahwa kebencian terhadap Ali adalah bukti kemunafikan, maka apakah layak bagi seorang munafik yang nashibi digelari ‘Syeikh al-Islam’? ataukah pribadi semacam itu justru lebih layak jika disebut sebagai ‘Syeikh al-Munafikin’? Jawabnya, tergantung pada cara kita dalam mengambil benang merah dari konsekuensi antara ungkapan beberapa ungkapan ulama Ahlusunnah dan beberapa hadis yang telah disebutkan di atas tadi.

Penutup:

Dari sini jelaslah, bahwa para ulama Salaf maupun Khalaf -dari Ahlussunah wal Jamaah- telah mengakui keutamaan Ali, dan mengakui kekhalifahannya. Lantas dari manakah manusia semacam Ibnu Taimiyah yang mengaku sebagai penghidup mazhab salaf saleh namun tidak menyinggung-nyinggung kekhalifahan Ali, bahkan berusaha menghapus Ali dari jajaran kekhilafahan Rasul? Masih layakkah manusia seperti Ibnu Taimiyah dinyatakan sebagai pengikut Ahlusunnah wal Jama’ah, sementara pendapatnya banyak bertentangan dengan kesepakatan ulama salaf maupun khalaf dari Ahlussunah wal Jamaah? Ataukah dia hanya mengaku dan membajak nama besar salaf saleh? Tegasnya, pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah tadi justru lebih layak untuk mewakili kelompok salaf yang dinyatakan oleh kaum muslimin sebagai salaf thaleh (lawan dari kata salaf saleh), seperti Yazid bin Muawiyah beserta gerombolannya.

Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta “ajaran resmi” Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah. Sehingga mereka pun berusaha sekuat tenaga agar semua usaha pendekatan, pintu dialog ataupun persatuan antara Sunnah-Syiah harus ditentang, ditutup dan digagalkan. Karena, jika antara Sunnah-Syiah bersatu, maka kedok mereka akan tersingkap, dan hal itu akan mengakibatkan nasib mereka kian tidak menentu.[]

Penulis: Mahasiswa S2 Jurusan Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini, Qom-Republik Islam Iran,

Rujukan:
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

[2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam Baitullah Ka’bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk ke tempat ibadah, Baitullah Ka’bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: “Engkau (Ali) sebagaimana Ka’bah, didatangi dan tidak mendatangi”.

[3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa’ad, Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu Atsir, Qoshos al-Ambiya’ Hal:100 karya ats-Tsa’labi.

[4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa’i, imam an-Naisaburi dan sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya.

[5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62

[6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani

[7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho’il as-Shohabah Bab:Fadhoil Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5 Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6 Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3 Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278…dsb

[8] Jamii’ al-Jawami’ Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi

[9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi

[10] Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65, karya Abu Na’im al-Ishbahani

[11] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al-Khulafa’ Hal:115 karya as-Suyuthi

[12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi

[13] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40

[14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani, atau Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65

[15] Miftah as-Sa’adah, Jil:1 Hal:400

[16] Siar A’lam an-Nubala’ (khulafa’) Hal:239, karya adz-Dzahabi

[17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332

[18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 & 461

[19] Ibid Jil:8 Hal:97

[20] Ibid Jil:7 Hal:515

[21] Ibid Jil:7 Hal:512

[22] Ibid Jil:7 Hal: 535

[23] Ibid Jil:5 Hal:513

[24] Ibid Jil:6 Hal:18

[25] Ibid Jil:8 Hal:234

[26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al-Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A’lam an-Nubala’ (al-Khulafa’) Hal:239

[27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485

[28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500

[29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; “Rasulullah telah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)”. Begitu pula yang tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma’ az-Zawa’id karya al-Haitsami Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut? Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan?

[30] Ibid Jil:6 Hal:356


[31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336


[32] Minhaj as-Sunnah Jil:2 Hal:404


[33] Ibid Jil:1 Hal:537


[34] Ibid Jil:6 Hal:419


[35] Ibid Jil:4 Hal:682


[36] Thobaqoot al-Hanabilah Jil:1 Hal:45


[37] Aimmah al-Fiqh at-Tis’ah Hal:8

[38] As-Sunnatu Halal Hal:235

[39] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213

[40] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:142. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain semisal; Tarikh al-Baghdadi Jil:13 Hal:32, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:383, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:131, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:213, dsb.

[41] Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:299. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Shahih Muslim kitab al-Iman, Shahih an-Nasa’I Jil:2 Hal:271, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:84, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:129, Tarikh al-Baghdadi Jil:3 Hal:153, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:133, dsb.
[42] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:128. Hadis semacam ini –walau dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:23 atau Jil:6 Hal:101, al-Ishabah karya Ibnu Hajar Jil:3 Bagian ke-1 Hal:20, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:215, Tarikh al-Baghdadi Jil:4 Hal:102, dsb.

[43] Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:259.

[44] Ibid Jil:3 Hal:289-290

[45] Mustadrak as-Shahihain Jil:11 Hal:204. Hadis yang sama dengan sedikit perbedaan redaksi juga dapat ditemukan dalam Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:229.

[46] Ibid Jil:3 Hal:128. Hadis yang sama dapat juga ditemukan dalam kitab lain semacam; as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar Hal:73, Tarikh al-Baghdadi Jil:2 Hal:377, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:193, Kunuz al-Haqa’iq karya al-Manawi Hal:43, dsb.

[47] Ibdi Jil:3 Hal:122. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Hilliyat al-Auliya’ karya Abu Na’im Jil:1 Hal:63.

[48] As-Showa’iq al-Muhriqoh Hal:75. Hadis semacam ini dapat pula dilihat dalam kitab-kitab semisal Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:124, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:134, dsb.

[49] Tarikh al-Baghdadi Jil:14 Hal:321. Hadis serupa juga dapat dijumpai dalam kitab Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:298, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:119, Majma’ az-Zawa’id Jil:7 Hal:235, Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi Jil:6 Hal:157, dsb dengan sedikit perbedaan redaksi.

[50] Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:32-33. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain seperti; Mustadrak as-Shahihain Jil:4 Hal:139, Tarikh Baghdadi Jil:8 Hal:340 atau Jil:13 Hal:186, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:235, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat 41 dari surat az-Zukhruf, dsb.

[51] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213

[52] Ibid

[53] Ibid Jil:3 Hal:214

[54] Lisan al-Mizan Jil:6 Hal:319-320

[55] Al-Hawi fi Sirah at-Thahawi Hal:26

[56] Ar-Rasail al-Ghomariyah Hal:120-121

[57] Al-Maqolaat as-Saniyah Hal:200

[58] Dinukil dari kitab Nahwa Inqod at-Tarikh al-Islami karya Sulaiman bin Shaleh al-Khurasyi hal:35

[59] At-Tanbih wa ar-Rad Hal:7

[60] Hadis yang mengatakan: Ali waliyu kulli mukmin min ba’dy (Ali adalah pemimpin setiap mukmin setelahku)

[61] Silsilah al-Ahadis as-Shohihah, Hadis no: 2223

[62] Shohih Muslim Jil:1 Hal:120 Hadis ke-131 Kitab: al-Iman, atau Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:601

Hadis ke-3736, dan atau Sunan Ibnu Majah Jil:1 Hal:42 Hadis ke-114

[63] Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:594 Hadis ke-3717

[64] Ibid Hal:593

 

Amrozi Cs Syuhada Atau Teroris?

Selasa, 04/11/2008 18:37 WIB
Amrozi Cs Syuhada Atau Teroris?
Salah Kaprah Pahami Jihad
Deden Gunawan – detikNews

Jakarta – Saban malam warung Teteh Tini selalu ramai didatangi orang. Ada tukang ojek, supir truk, satpam atau tukang parkir. Mereka selama ini menjadi pelanggan tetap warung, yang berlokasi di depan Taman Sari, Jalan Pangeran Tirtayasa, Kota Serang, Banten.

Selain ngopi dan merokok mereka menjadikan warung tersebut sebagai tempat ngobrol. Tema obrolannya  bervariasi, kadang hanya membahas hal-hal ringan kadang hal yang tergolong berat mereka perbincangkan juga. “Kalau seminggu ini yang jadi obrolan soal Iman Samudra dan jihad,” jelas Tini kepada detikcom, Sabtu (1/11/2008).

Obrolan tentang Imam Samudra, Amrozi serta Ali Gufron belakangan memang semakin gencar. Terutama dilakukan warga yang tinggal di sekitar kediaman para terpidana mati kasus Bom Bali I tersebut. Misalnya di warung Teh Tini yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah keluarga Imam Samudra di Lopang Gede, Kota Serang.

Dikatakan Tini, para pelanggannya umumnya berpendapat kalau Imam Samudra dan kawan-kawannya adalah pahlawan Islam. Mereka  dianggap telah berjihad membela agama. “Saya sering ngotot ma mereka. Saya selalu bilang kalau Imam Samudra cs itu adalah teroris atau pembunuh. Karena Islam itu tidak menyuruh membunuh orang yang tidak berdosa,” ujarnya.

Tapi sekalipun Teh Tini berulangkali menjelaskan soal jihad yang salah kaprah dari Imam Samudra dan kawan-kawannya, para pelanggannya tetap dengan pendiriannya dan menganggap eksekusi mati terhadap Imam Samudra tidak tepat.

Pro kontra soal status pahlawan atau teroris bagi tiga terpidana mati Bom Bali I saat ini mulai jadi perdebatan di masyarakat, terutama warga di sekitar tempat tinggal Aamrozi cs.

Di Serang, gabungan  ormas Islam  se Kecamatan Pontang, Serang yang menamakan diri Jaringan Islam Underground (JIUN) menganggap eksekusi yang dilakukan terhadap Amrozi cs tidak tepat. Untuk itu jaringan ini  mengadakan doa bersama menentang eksekusi mati terhadap eksekusi tersebut.

Menurut Molid, salah satu aktivis JIUN, pemerintah wajib mengampuni ketiga mujahid tersebut, bukan malah mengeksekusi. Ia kemudian  menuding kalau eksekusi tersebut lantaran adanya campur tangan asing yang sengaja  menyudutkan umat Islam.

Puluhan orang yang terdiri dari ulama, santri dan santriwati itu berkumpul untuk doa bersama sambil membaca Surat Yasin, di Majelis Al Huda, Kampung Begog, Desa Tembakang, Kecamatan Pontang, Selasa (4/11/2008)

Sementara di Cilacap, Amrozi cs juga mendapat perhatian khusus di mata Front Pembela Islam (FPI). Bahkan, FPI Cilacap bersedia ‘mengawal’ Amrozi cs hingga liang lahat.  

Ketua DPW FPI Cilacap M Suryo Haryanto mengatakan, kesiapan mengawal Amrozi cs di detik-detik eksekusi dilaksanakan, mengurus, dan mengantarkan jenazahnya hingga ke Lamongan. Tidak hanya itu,  Suryo mengatakan pihaknya juga bersedia menampung jenazah ketiga pelaku bom Bali itu. Bahkan tanah pemakaman juga sudah disiapkan bagi mereka di Cilacap.

FPI yang dipimpin Suryo sebelumnya juga telah menggelar doa bersama di Masjid Baetul Mukminin, Jalan Stapelan Kompleks Balai Desa Sidamulya, Kecamatan Sidamulya, Cilacap. Doa tersebut dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas sesama Muslim.

Bentuk dukungan terhadap Amrozi cs yang lebih ekstrem bahkan muncul di Surabaya, Jawa Timur. Sejumlah poster bernada provokatif sempat tertempel di sejumlah titik di wilayah Jambangan dan Kertajaya, Sabtu (1/11/2008). Poster itu berisi kata-kata dukungan terhadap Amrozi cs dan menganggap Amrozi cs sebagai syuhada.

Dengan bermunculannya dukungan terhadap Amrozi cs apakah pemboman yang dikategorikan Amrozi cs merupakan upaya jihad? Abu Rusdan, petinggi Jamaah Islamiyah (JI) mengatakan, Islam tidak mengenal aksi kekerasan. Sebab Islam justru menghendaki adanya kemakmuran buat semua orang. Karena itu, tindak kekerasan tidaklah dibenarkan dalam Islam.

“Apapun bentuk yang mengaitkan Islam dengan kejahatan kemanusiaan merupakan tindak aniaya terhadap kaum muslimin,” tegas Rusdan kepada detikcom.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab mengatakan, setiap orang bisa berbeda pendapat soal jihad. Tapi menurutnya, jika Amrozi cs dikatakan telah berjihad dengan melakukan pengeboman itu merupakan pemahaman yang sangat keliru.

“Dalam Alquran maupun hadis disebutkan kalau jihad tidak selalu harus membunuh. Malah lebih banyak ditekankan untuk berjihad melalui harta bukan nyawa,” jelas Umar Shihab kepada detikcom.

Umar Shihab juga menegaskan, MUI sudah berulang kali menegaskan kalau tindakan Amrozi cs adalah teroris bukan dalam rangka jihad. Jadi MUI menghimbau kepada pihak yang menganggap Amrozi sebagai suhada agar bertanya kepada ulama yang ahli ilmu. Supaya pemahamannya soal jihad tidak salah kaprah.  

(ddg/iy)

Pengakuan Seorang Agen Mossad Dalam Menciptakan Permusuhan Antara Sunnah dan Syi’ah

Edisi 01/XVI/Mei/ 2003
SUARA HIDAYATULLAH

Pengakuan Seorang Agen Mossad Dalam Menciptakan Permusuhan dan Adu Domba Antara
“Sunnah dan Syi’ah”

Badan Intelejen Palestina mengijinkan harian al-Hayat, London, dan televisi LBC, Beirut untuk mewawancarai orang-orang Palestina yang menjadi agen Mossad yang tertangkap oleh Badan Intelejen Palestina. Mereka telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah mujahidin.

Dalam sebuah wawancara, salah satu agen mengungkapkan cara perekrutan mereka serta peranan yang mereka lakukan dalam memantau para mujahidin dan memicu fitnah dalam perselisihan, perpecahan, dan kebencian demi merealisasikan kepentingan strategis Zionisme.

Wawancara ini diterbitkan oleh tabloid an-Nas nomor 127 mengutip harian al-Hayat. Tabloid al-Basya’ir edisi akhir Shafar 1424 atau awal April 2003 yang terbit di Sana’a, Yaman, kembali menurunkan wawancara tersebut mengingat pentingnya fakta-fakta yang diungkapkan oleh agen ini. Berikut terjemahannya.

Bagaimana para zionis itu dapat memperalat Anda untuk kepentingan mereka dalam konspirasi dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara Anda?

Awalnya saya membaca iklan di koran lokal tentang adanya pusat studi strategis kemasyarakatan yang bertempat di Singapura, mereka membutuhkan reporter di Tepi Barat untuk melakukan studi sosial dan publisistik tentang lingkungan, kemiskinan, dan lain-lain.

Lalu saya kirim biodata dan ijazah saya. Setelah dua pekan, datang balasan penerimaan saya di lembaga tersebut yang ternyata dikendalikan oleh Intelejen Zionis Mossad, dan dilaksanakan oleh orang-orang Palestina yang bekerja sama dengan Zionisme untuk merekrut orang Arab Palestina dengan cara jahannam yang tidak terpikir oleh siapa pun. Mereka meminta kepada saya untuk menyiapkan laporan kemasyarakatan strategis. Mereka memberi imbalan uang yang cukup banyak. Dari situ, Pusat Studi Strategis palsu itu meminta tambahan laporan-laporan sensitif. Dan saya memenuhinya dengan teratur. Dengan memperhatikan permintaan-permintaan mereka saya mengetahui bahwa lembaga ini ada di bawah Mossad. Tapi saya tidak bisa mundur karena saya sudah memberi laporan-laporan yang sangat sensitif tentang keamanan nasional, tokoh-tokoh mujahidin, posisi tempat tinggal mereka,dan keberadaan mereka. Informasi ini memudahkan mereka untuk membunuh para mujahidin terbaik dari Hamas dan Jihad Islami. Kondisi berkembang sedikit demi sedikit sampai permainan ini tersingkap, mereka memberi kepada saya lisensi untuk menemui orang-orang penting di Tel Aviv. Di sana mereka menyambut saya di sebuah hotel bintang lima. Mereka memberi saya seluruh sarana kenikmatan. Tapi ternyata mereka merekam saya ketika saya berada dalam kondisi memalukan dengan seorang wanita, hal ini sebagai salah satu cara mereka untuk memperbudak dan mengendalikan saya di kemudian hari.

Dari sini pekerjaan menjadi lebih akurat. Mereka melatih saya seluruh dasar kerja intelejen. Dan komunikasi kami lewat internet, mengirim informasi lewat telepon seluler yang mereka berikan. Dari sini saya mulai mengumpulkan informasi yang paling akurat dan vital tentang tokoh-tokoh intifadhah secara rutin. Posisi saya sebagai reporter, membuat saya dapat bergabung dengan seluruh unsur mujahidin.

Saya mendapatkan informasi yang sangat penting karena saya dianggap sebagai pejuang. Karena kedekatan saya dengan para pemimpin perlawanan, dan pantauan saya terhadap posisi gerakan dan tempat tidur mereka saya telah memudahkan pembunuhan banyak melalui pesawat, penangkapan malam hari atau dengan menembak kendaraan. Dan saya telah merekrut banyak orang untuk kepentingan Zionis dengan upah rendah tidak lebih dari 1500 chikel per bulan.

Kami mengetahui bahwa Anda dapat mengintervensi beberapa Jamaah Islamiyyah, bagaimana itu?

Sesungguhnya Zionis sudah memanfaatkan kepolosan dan ketidakhati-hatian orang-orang Palestina. Kami ditugaskan membuat beberapa situs dengan nama: Palestine Islamiyyah, al-Jihad al-Muqaddas, Tahrir al-Quds, Syababul Intifadhah, … Dengan situs-situs ini kami bisa berhubungan dengan banyak anak muda yang bersemangat dan memiliki semangat jihad. Kami janjikan kepada mereka untuk membiayai mereka dengan uang dan senjata. Atas dasar bahwa dana tersebut bersumber dari orang-orang kaya dari Teluk dan aktivis Islam di Mesir, Yordan dan Kuwait. Begitulah kami dapat menembus banyak mata rantai mujahidin dan merasuk ke dalam tubuh mereka dengan mengatasnamakan Islam dan Jihad.

Dan yang lebih berbahaya, kami dapat memperalat orang-orang yang bersemangat tinggi, khususnya orang-orang salafi untuk menyebarkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan dikalangan umat Islam.

Buku-buku ini dicetak dan dibiayai dengan biaya Mossad untuk membuat pertempuran marginal antara aktivis Islam, khususnya antara Syi’ah dan Sunnah di Palestina, Pakistan, Yaman, dan Yordan. Telah dicetak puluhan judul; buku-buku yang menyerang Syi’ah dengan cara menjijikkan, dan buku lain yang menyerang Sunnah.

Dan dimanfaatkan juga orang-orang yang fanatik dari kedua belah pihak dengan dasar bahwa buku-buku tersebut dicetak oleh para dermawan Teluk dengan cetakan luks. Dan selebihnya, pekerjaan akan dilakukan oleh orang-orang yang tidak sadar dari para fanatik Sunnah (salafiyyin dan lain-lain). Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan antar pihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingan sesama mereka agar Israel dapat merealisasikan tujuan mereka, dengan menghancurkan Islam, menelan tanah air, menghapus indentitas generasi muda baik dengan menjadikan mereka rendah moral, atau orang-orang yang tersingkir di luar kehidupan, fanatik dan keras kepala, hati mereka penuh dengan kebencian terhadap saudara mereka sesama muslim baik Sunnah atau Syi’ah.

Mossad telah berhasil banyak dalam hal ini. Anda dapat melihat kira-kira semua mesjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan, dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dan dibagikan secara gratis bahwa ini semua dibiayai oleh para donatur Saudi, padahal Mossad ada di belakang semua ini.

Sayang sekali banyak orang-orang yang tak sadar, dan para imam mesjid, khatib-khatib, dan da’i-da’i yang menyibukkan diri secara ikhlas dan serius dengan menyebarkan buku-buku ini, yang minimal bisa dikatakan buku-buku lancang dan fitnah. Fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan. Karena pikiran mereka sempit, maka mereka tidak berfikir tentang tujuan sebenarnya dari penyebaran buku-buku ini yang meniupkan kebencian, perpecahan dan fitnah khususnya hari-hari ini.

Buku-buku ini telah mulai pengaruhnya di Pakistan di mana orang-orang Sunnah membentuk “Tentara Shahabat” dan menyerang kaum Syi’ah dalam ritual dan rumah-rumah mereka ketika shalat, membunuh mereka ketika sholat Shubuh. Sebuah pembantaian ganas yang menyedihkan meninggalkan ribuan mayat. Di lain pihak membentuk “Tentara Muhammad” bereaksi dengan balasan yang lebih, ratusan orang terbunuh di kedua belah pihak tiap bulan, pembantaian berdarah, kedengkian, membuat-buat pertempuran sampingan, fitnah yang berbahaya dengan pahlawan “Khawarij” zaman sekarang, dimanfaatkan oleh Mossad untuk menyulut fanatisme, pengkafiran, pembunuhan, untuk melemahkan negara Islam pertama yang memiliki bom atom, Pakistan.

Sedangkan rencana mereka di Yaman, sampai saat ini pekerjaan masih berjalan dengan serius dan hasilnya sebentar lagi akan bisa dilihat, sangat disayangkan.Khusus tentang pemicuan fitnah di Palestina, seluruh tujuan tidak tercapai seperti di Pakistan dan Yaman.

Sekarang apakah Anda menyesal? Di mana mata hati Anda ketika Anda menunjukkan tempat-tempat persembunyian tokoh-tokoh perlawanan kepada Zionis, agar dibunuh dengan keji beserta keluarga mereka dengan pesawat Apache dan roket-roket mereka?

Apalah gunanya penyesalan, Saya merasa sedih ketika mereka memusnahkan sebuah bengunan beserta penghuninya hanya untuk membunuh salah seorang mujahidin yang dicari, di mana operasi ini menyebabkan terbunuhnya 17 anak kecil dan wanita juga sang mujahid yang dicari. Sayalah penyebabnya, sungguh sayang. Karena itu saya berhak dihukum dengan hukuman yang diputuskan pengadilan, yaitu eksekusi.

Sikap Dan Reaksi Shi’ah Terhadap Tuduhan Dan Serangan Ke Atas Mereka

Sikap Dan Reaksi Shi’ah Terhadap
Tuduhan Dan Serangan Ke Atas Mereka
(Di petik dari Jurnal Islamika IV, 1991)
________________________________________

PERSELISIHAN pendapat dan pertarungan fikiran tentang khilafah Ali bin Abi Talib telah bermula sejak zaman sahabat, misalnya dialog antara ‘Umar dengan Ibn ‘Abbas.[1]
Kemudian pertarungan fikiran ini berkembang menjadi sengketa teori politik dan seterusnya pertumpahan darah dan pembunuhan kejam terhadap Syi’ah Ali. Serangan kejam ini bermula pada zaman pemerintahan Mu’awiyah hinggalah kurun ke-5 Hijrah dan zaman kekuasaan Saljuq.
Berikut ialah contoh-contoh kekejaman dalam dua zaman itu: Pertama zaman Mu’awiyah. Didiriwayatkan oleh al-Mada’ini di dalam kitabnya al-Ahdath katanya: “Kemudian Mu’awiyah memberi kepada pegawai-pegawainya di seluruh pelosok negara sekeping surat yang berbunyi:
“Perhatikanlah siapa yang ada bukti menyokong ‘Ali dan cintakan keluarganya, maka potong namanya dalam senarai Diwan dan hentikan pemberian Wang ‘ata’ kepadanya.”
Di dalam lembaran yang lain pula surat itu berbunyi. “Siapa yang boleh dituduh ta’at kepada kaum itu (Syi’ah) hendaklah disiksa dan dibinasakan rumahnya ….” [2]
Pada zaman kekuasaan Saljuq dan satu kurun sebelum itu, berlakulah pertumpahan darah dan penyembelihan beramai-ramai setiap tahun di Baghdad, terutamanya pada bulan Muharram dan Safar, iaitu ketika golongan Syi’ah mengadakan rnajlis memperingati pembunuhan Husain di Karbala’. Pengikut-pengikut keluarga Abu Sufyan datang menyerang, membunuh, membakar dan merompak.[3]

Kadang-kadang kemarahan mereka tidak terhadap kepada orang-orang hidup sahaja, tetapi sampai kepada orang yang telah mati. Bakan sahaja kepada orang biasa Syi’ah tetapi hingga kepada Imam-Imam mereka.
Sibt lbn al-Jauzi menceritakan tragedi tahun 443 Hijrah setelah menerangkan peristiwa berdarah dan pembunuhan yang kejam:
Satu kumpulan pembenci Syi’ah datang ke kubur Musa b. Ja’far as-Sadiq memusnahkan kubur itu dan mengeluarkan mayat-mayat orang Syi’ah yang dikebumikan berdekatan di sana seperti penya’ir al-‘Auni dan lain-lain, kemudian membakarnya. Adapun Musa dikeluarkan dari kuburnya dan ditanam berhampiran dengan kubur Ahmad b. Hanbal.[4]
Peristiwa sejarah ini menunjukkan bagaimana kekecewaan dalarn pertarungan ilmu membawa kepada kekecewaan hati dan keganasan yang amat kejam.
Pada pertengahan kurun ketiga Hijrah lahirlah kitab bertajuk al-‘Uthmaniyah oleh al-Jahiz, kandungannya mengecam Syi’ah, menafikan hakikat yang nyata dan menolak keberanian ‘Ali b. Abi Talib. Al-Mas’udi di dalam kitabnya Muruj al-Dhahab, juzu’ III, h. 237, memberi komen; “al-Jahiz mencari jalan untuk mematikan yang hak dan menentang orang-orang yang berada di pihak kebenaran”.

Tetapi kitab ‘Uthrnaniyah itu segera disanggah oleh ramai pengarang-pengarang lain, hinggakan pengarang bukan Syi’ah pun mengkritiknya dan yang anihnya al-Jahiz sendiri pun turut mengkritiknya. Ini jawab kerana al-Jahiz merupakan penulis upahan yang menulis untuk mencari publisiti dan wang, hari ini ia menulis sesuatu dan pada hari esoknya ia menentang pula tulisannya itu.

Bahkan mungkin dialah orang yang pertama mengkritik bukunya itu. Hal ini telah disebut oleh Ibn an-Nadim di dalam al-Fihrist halaman 210, ketika ia menerangkan tentang buku ar-Radd ‘ala al-‘Uthmaniyyah (Penolakan terhadap buku ‘Uthmaniyah) dan sebuah lagi buku al-Jahiz bertajuk fadl Hasyimi ala ‘Abd Syams (Kelebihan Hasyim ke atas Abd Syams).[5]
Sebaik sahaja buku ‘Uthrnaniyah itu terbit banyaklah buku-buku lain diterbitkan untuk mengkritik dan menyanggah pendapat al-Jahiz itu, di antaranya ialah buku:

1. Naqd aI-‘Uthmaniyah (kritikan terhadap buku al-‘Uthrnaniyah) oleh Abu Ja’far al-Iskafi, al-Baghdadi al-Mu’tazili yang meninggal dunia pada tahun 240 H. Naskhah buku ini dicetak di Masir.

2. Naqd al-”Uthmaniyah, olch Abu ‘Isa al-War’aq b. Harun al-Baghdadi (m. tahun
247 H.).

3. Naqd al-”Uthmaniyah, oleh Thubait b. Muhammad.

4. Naqd al-”Uthrnaniyah oleh Hasan b. Musa an-Naubakhti, disebut oleb aI- Mas’udi dalam Muruj al-Dhahab, Ill, h. 238.

5. Naqd al-”Uthmaniyah Penolakan terhadap buku Uthmaniyyah) oleh Abu
al -Ahwas al-Misri.

6. Naqd aI-‘Uthmaniyah oleh al-Mas’udi pengarang Muruj al-Dhahab.

7. Naqd aI-‘Uthmaniyah oleh Muzaffar b. Muhai~ad b. Ahmad al-Balkhi (in.
367 H.).

8.Naqd a!- Uthmaniyah oleh Asad b. ‘Ali b. Abdullah al-Ghassani Halabi(485- 534 H.).

9. Bina’ al-Maqalat al-Fathimiyah fi ar-Radd ‘ala al- ‘Uthmaniyah oleb Sayid lbn Tawus (in. 673 H.). Naskah tulisan tangan buku ini boleh didapati antara lain di Perpustakaan al-Auqaf, Baghdad no. 6777.

Pertarungan pemikiran dan perang dingin antara pihak-pihak yang bertentangan ini berjalan terus dan kadangkala diselangi dengan pertempuran berdarah.

Sikap golongan Syi’ah dalarn masa empat Kurun ini hanya bertahan dan serangan. Apabila keluar buku menyerang Syi’ah, golongan Syi’ah pun mengeluarkan buku pula untuk membalas serangan itu dan mempertahankan aqidah mereka. Berikut ialah contoh-contoh ringkas pertarungan itu pada setiap kurun, di sini tidaklah dapat disebut semua buku-buku yang diterbitkan kerana terlalu banyak. Pada kurun ke-20 M ini sahaja telah diterbitkan kira-kira 200 tajuk buku di Pakistan untuk menyerang Syi’ah.

Kurun ke-6 H

Seorang penduduk di kawasan ar-Rayy yang takut memperkenalkan namanya menulis sebuah buku bertajuk Ba’d Fada ‘ih ar-Rawafid yang menyerang Syi’ah dan memburuk-burukkannya. Buku ini dijawab satu-persatu oleb Nasiruddin ‘Abd al-Jalil al-Qazwini ar-Razi dengan tajuk Ba’d Mathalib an-Nawasib. Buku ini boleh dilihat dalam bentuk manuskrip di Perpustakaan Parlemen Iran, ia disalin dalam kurun ke~.

Kurun ke-7 H

Serangan Mongol datang melanda dan seluruh manusia berdiam diri.

Kurun ke-8 H

Lahirlah lbn Taimiyah yang mencabar dan menentang semua madhhab. Ia mengkafir-kan para ulama’ zamannya dan menulis buku khas menentang Syi’ah bertajuk Minhaj as-Sunnah; kandungan buku ini menggambarkan kebencian dan kemarahan kepada ‘Ali b. Abi Talib. Sebuah buku bertajuk aI-Insaf wal-Intisaf ii Ahl al-Haq min al-Israf, telah ditulis sebagai tindakbalas kepada buku lbn Taimiyah, ia ditulis pada tahun 757 H. dan naskah asalnya masih ada di Perpustakaan ar-Rida Masyhad no.5643.

Kurun ke-9 H

Yusuf b. Makhzum al-A’war menulis sebuab buku menyarang Syi’ah bertajuk ar-Risalah al-Mu’aridahfi ar-Radd‘alaar-Rafidah.
Buku ini dijawab oleh Syaikh Najmuddin Khadr b. Muhammad pada tahun 839 H. dengan tulisannya bertajuk al-Taudih al-Anwar, juga dijawab oleh Syaikh Izzuddin al-Hasan b. Syamsuddin dengan tajuk bukunya al-Anwar al-Badriyah.

Kurun ke-10 H

Ibn Hajar aI-Haitami (m. 973 H.) menulis buku as-Sawa’iq al-Muhriqah pada tahun 950 H. di Makkah al-Mukarramah. Ia menyesali perkembangan Syi’ah
sebagaimana yang digambarkan dalam pendahuluan bukunya.
Buku ini dijawab oleh seorang aIim dari India bernama al-Qadi Nurullah al-Tastari (syahid tahun 1019 H.) dengan menulis buku bertajuk as-Sawarim al-Muhriqah, buku ini telah dicetak di Iran tahun 1367 H.
Di Yaman, Ahmad b. Mahammad b. Luqman (m. 1029) juga menjawab dengan bukunya yang bertajuk al-Bihar al-Muriqah, sebagaimana yang disebut oleh Syaukani dalam al-Badr at-Tali, I,h. 118.

Kurun ke-11 H

Sultan Murad IV dari Kerajaan ‘Uthmaniyah Turki (1032-l049 H.) merasa ingin untuk menguasai Iraq yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Safawiyah dan ja juga bercadang untuk menyerang kan, tetapi ia yakin tidak dapat mengalahkan kekuasaan Safawi (Syi’ah), lalu ia mencari jalan untuk membangkitkan semangat perpecahan di kalangan umat Islam dengan menggunakan ‘ulama jahat atau ‘ulama istana untuk memberi fatwa mengharuskan pembunuhan sesama Islam. Walau bagaimanapun tidak ada ‘ulama yang sanggup memberi fatwa demikian kecuali seorang pemuda bernama Nuh Affandi [6] yang sanggup menjual agamanya. Ia memberi fatwa mengkafirkan Syi’ah dengan katanya: “Siapa yang membunuh seorang Rafidi (Syi’ah) maka wajiblah baginya mendapat syurga!”
Fatwa ini menyebabkan kematian berpuluh ribu orang dalam perang saudara antara Sunnah dan Syi’ah selama tujuh bulan, yaitu dari 17 Rejab 1048 H. hingga 23 Muharram 1049 H., kemudian diadakan perjanjian damai di bandar Qasr Syirin dan berhentilah peperangan itu. Tetapi sebaik sahaja api peperangan padam, maka timbul pula api fitnah untuk menghapuskan golongan Syi’ah di seluruh kawasan Kerajaan ‘Uthmaniyah. Dengan berpandukan fatwa di atas berlakulah pembunuhan dan penyembelihan beramai-ramai terhadap golongan Syi’ah di Halab, kerana Halab merupakan kawasan Syi’ah sejak peme-intahan Banu Hamdan lagi. Semua orang-orang Syi’ah di sini dibunuh atau ditawan, kecuali mereka yang sempat lari ke kampung-kampung yang berjauhan.Fatwa ini boleh dilihat dalam kitab al- ‘Uqud ad-Duriyah Fi tanqih al-Fatawa al-Hamidiyah, juzu’ pertama, halaman l02.[7] Di antara kandungannya ialah:
“Siapa yang tidak mengkafirkan Syi’ah dan tidak mengharuskan pembunuhan mereka, atau tidak mewajibkan memerangi mereka, maka orang itu juga kafir seperti Syi’ah…”
Seterusnya fatwa itu mengatakan: maka wajiblah dibunuh golongan Syi’ah yang jahat dan kafir itu, karna ada mereka bertaubat atau tidak…. mereka tidak dibenarkan membayar jizyah untuk terus hidup dan tidak diberi keampunan sementara atau selama-lamanya…. dan harus pula perempuan-perempuan mereka dijadikan hamba, kerana orang murtad boleb dijadikan hamba setelah mereka berada di negeri kafir harbi…. Keturunan mereka juga boleh dijadikan hamba kerana mengikut ibu-ibu mereka.”

Kesan fatwa ini amatlah besar,di Halab sahaja 40,000 orang Syi’ah telah disembelih dan beribu-ribu dari mereka adalah keturunan Rasulullah s.’a.w. Salah seorang dari ‘ulama Najaf pada ketika itu bernama Sayyid Syarafuddin ‘Ali menghantar fatwa itu ke Iran untuk mengawal pembunuhan kejam yang berterusan itu. Oleh itu Syeikh ‘Izzuddin qadi Syiraz dan Syaikh al-Islam Isfahan teiah menangkis fatwa jahat itu dengan menulis kitabnya bertajuk al-Jami as-Safawi.[8]
Tentangan dan ulasan terhadap fatwa ini diterangkan juga oleh Sayyid ‘Abd al-Husayn Syarafuddin dalam bab ketujuh bukunya yang bertajuk al-Fusul al-Muhimmah.

Seterusnya al-Amini menjawab dengan lengkap fatwa ini dalam beberapa juzu’ kitab-nya yang bertajuk “al-Ghadir.”

Kurun ke-12 H

Pada kurun ini lahirlah sebuah kitab bertajuk as-Sawa’iq al-Muhbiqah yang ditulis oleh Nasrullah al-Kabuli. Ia merupakan penulis yang tidak dikenali kerana tidak disebutkan asal-usulnya dan tidak dapat dikesan riwayat hidupnya.
Kitab ini tidak dijawab oleh pihak ‘ulama Syi’ah kerana telah dijawab dengan panjang lebar pada Kurun Ke- 13 terhadap kitab Tuhfah Ithna ‘Asyariyah yang merupakan saduran atau salinan kepada kitab al-Sawaiq al-Mubiqah itu.

Kurun ke-13 H

Mungkin perselisihan antara Sunnah dan Syi’ah berpunca dari masalah perlantikan Khalifah (Khilafah), oleh itu kita dapati pertarungan pemikiran antara kedua golongan ini berkisar pada masalah khilafah sahaja, hinggalah sarnpai kepada Kurun Ke-13. Pada kurun ini timbullah seorang penulis bernama ‘Abdul ‘Aziz ad-Dahlawi yang membuka dan meluaskan lagi bidang perselisihan Sunnah-Syi’ah. Tulisannya mencakupi bidang yang luas, tidak sahaja terhenti kepada masalah Imamah dan Khilafah, tetapi ia melampaui had dari Imamah kepada Nubuwwah, dan seterusnya kepada masalah Ilahiyat, Ma ‘ad, perselisihan dalam hukum-hukurn fiqh dan lain-lain.

Kitab itu dinamakan Tuhfaq Ithna ‘’Asyariyah[9], yang mengandungi 12 bab:

Bab Pertama: Tentang Sejarah Syi’ah dan pecahan-pecahannya.
Bab Kedua: Tipa daya Syi’ah.
Bab Ketiga: Syi’ah zaman permulaan dan kitab-kitab mereka
Bab Keempat: Periwayat-periwayat Syi’ah dan Hadith mereka.
Bab Kelima: Perkara yang berhubung dengan Ketuhanan (Ilahiyat).
Bab Keenam: Perkara yang berhubung dengan Kenabian (Nubuwwat).
Bab Ketujuh: Imamah
Bab Kelapan: al-Ma’ad atau Hari Akhirat.
Bab Kesembilan: Masalah-masalah Fiqh.
Bab Kesepuluh: Kritikan-kritikan terhadap Syi’ah.
Bab Kesebelas: Perkara yang berkaitan dengan tiga 51 fatwa Syi’ah, iaitu Waham (kabur dan tidak mempunyai keyakinan yang betul), Ta’asub (fanatik) dan Hafawat (karut).
Bab Keduabelas: al-Wala’ dan al-Bara’.

Kandungan kitab ini sama sahaja dengan kitab as-Sawa’iq al-Mubiqah oleh Nasrullah al-Kabuli dan apabila kitab Tuhfah Ithna’Asyariyah ini dikeluarkan, timbullah jawaban yang bertalu-talu dan para ‘ulama Syi’ah, ada yang rnengkritik kitab itu keseluruhannya dan ada yang membuat kritikan terhadap beberapa bab sahaja. Mereka yang mengkritik secara keseluruhan ialah:

1.Syaikh Jamaluddin an-Naisaburi al-Hindi yang terbunuh pada tahun 1232 H. Ia merupakan seorang ‘alim yang banyak menulis berbagai kitab, di antaranya ialah kitab yang menyanggah kitab Tuhfah Ithna’Asyariyah, bertajuk Saifullah al-Mashlul ‘Ala Mukharribi Din ar-Rasul, terdiri dari tujuh jilid. Keterangan lanjut tentangnya boleli dilihat dalam adh-Dhari ‘ab, 10:190; 23:2~8 dan 15:13. Al-A ‘lam oleh Zarkali 6:251, Mu’jam al-Muallifin. 9:31; A’yan asy-Syiah, 9:392.

2. Mirza Muhammad b. ‘Inayat Ahmad Khan al-Kasyrniri ad-Dahlawi seorang ‘alim yang terkenal, tinggal di Lucknow dan meninggal duma tahun 1235 H.
Di antara kitab-kitab karangannya yang terkenal ialah: Nuzhah al-Ithna ‘Asyariyah fi ar-Radd ala Tuhfah Ithna’Asyariyah. Setiap bab dikritik dengait panjang lebar hingga menjadi sebuah kitab. Lima juzu’ kitabnya telah di-cetak di India pada tahun 1255 H. Keterangan lanjut tentang pengarang Nuzhah ini boleh dilihat dalam kitab Nujum al-Sama ‘, h. 352-362.

3. Maulvi Hasan b. Amaullah ad-Dahlawi, tinggal di Karbala’ dan meninggal dunia tahun 1260 H. Riwayat hidup dan karyanya dapat dilihat dalam kitab al-Kiram al-Bararah,h.308. Beliau menjawab segala persoalan dalam Tuhfah dengan menulis kitab bertajuk Tajhiz al-Jaisy. Kitab mi telah diterbitkan oleli Perpustakaan Pusat Universiti Teheran. Ada pula golongan ‘ulama yang tidak sempat untuk menangkis semua kandungan kitabTuhfah itu mereka hanya menjawab bab-bab yang tertentu sahaja seperti berikut:

Bab Pertama Kitab Tuhfah Ithna ‘Asyariyah,

Sejarah Syi’ah

Di antara mereka yang mengkiritik bab ini ialah al-‘Allamah Sayyid Muhammad Qali al-Lucknow, seorang ahli ilmu al-kalam yang meninggal dunia pada tahun 1260H.. Beliau telah menulis sebuah kitab bertajuk as-Saif an-Nasiri yang menolak bab pertama kitab Tuhfah. Selain dari itu bab kedua, ketujuh, dan kesebelas juga dijawabnya dengan panjang lebar hingga menjadi kitab-kitab yang besar ber-tajuk al-Ajwibah al-Ithna ‘Asyariyah al-Muhammadiyah.
Kemudian seorang murid penulis Tuhfah bernama al-Fadil ar-Rasyid menulis pula sebuab risalah menjawab tulisan Muhammad Qali dan menyokong gurunya, lalu Muhammad Qali menjawab pula dengan bukunya bertajuk al-Ajwibah al-Fakhirah fi ar-Radd’Ala al-‘Asy’irah. Keterangan lanjut tentang Muhammad Qali dan karya boleh dilihat dalam adh-Dhari’ah, 4:192-193; Kasy al-Hujul: 24; Nujum as-Sama’: 422, Nuzhah al-Khawatir, 7:460; ath-Thaqafah al-Islamiyah fi al-Hind: 220;A’yan asy-Syi’ah, 9:104.

Bab Kedua

Tentang tipu-daya Syi’ah

Bab ini telah dijawab oleh Muhammad Qali dengan bukunya yang bertajuk Taqlib al-Maka ‘id, dicetak di Calcutta India tahun 1262 H. dan kitab ini merupa-kan salah satu kumpulan kitab al-Ijnad al-Ithna “Asyariyah.

Bab Ketiga

Tentang golongan Syi’ah yang awal

Bab ini telah dijawab oleh Mirza Muhammad b.’Inayat Ahmad Khan al–Kisymiri ad-Dahlawi, jawaban ini terkandung di dalam salah satu juzu’ kitab Nuzhah Ithna Asyariyah karangannya yang dicetak di India tahun 1255 H.
Begitulab seterusnya semua 12 bab kitab Tuhfah telah dijawab oleh para ‘ulama Syi’ah.

Kurun ke-14 H

Kurun Ke-14 Hijrah merupakan era baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi dalam bidang kecaman terhadap Syi’ah ia berlaku sebaliknya. Kalau dulunya kecaman dilakukan secara perbincangan ilmiyah tetapi pada kurun ini tuduhan-tuduhan melulu secara fanatik telah dilakukan dan semua persoalan yang dikemukakan diambil dari buku-buku yang ditulis sebelumnya.
Sebagal contohnya kitab Mukhtasar at-Tuhfah al-Ithna ‘Asyariyah, ia dipindahkan dari India ke Iraq dan diterjemahkan dari bahasa Parsi ke bahasa Arab. Kitab ini dijawab oleh Syaikh Mahdi al-Khalisi dalam tiga jilid buku, begitu juga Shaikh asy-Syari’ah al—Asfahani (m.1339 H.) turut menjawabnya. Dalam juzu’ pertama kitab Mir’at at-Tasanif yang merupakan senarai penerbitan buku-buku di India dan Pakistan pada kurun ke-13 dan ke-14 Hijrah terdapat satu tajuk yang berbunyi. “Buku-buku yang mengecam Syi’ah”, di bawahnya disenaraikan nama 59 buah buku, 57 buah daripadanya ditulis pada kurun ke-14, ini tidak termasuk buku-buku yang mengecam Syi’ah di bawah tajuk buku ‘aqidah, fiqh dan sebagainya.”
Kecaman terhadap golongan Syi’ah yang ditulis pada kurun ini bercorak maki hamun, pembohongan dan tolunah yang tidak berasas, contohnya buku-buku yang ditulis oleh al-Qasimi, Jarullah, al-Khatib, Ihsan Illahi Zahir, dan lain-lain.
Untuk mengatasi segala tuduhan-tuduhan ini al-Allamah al-Amini telah menulis dalam juzu’ ketiga encyclopaedia-nya yang bertajuk al-Ghadir. Turut juga menulis ialah Sayid Muhsin al-Amin dengan kitabnya yang bertajuk Naqd a!- Wasyi ‘ah, Syaikh Latfullah as-Safi dan Syaikh Salman al-Khaqani dengan jawaban-jawaban yang ditujukan kepada al-Khatib dan lain-lain lagi.

Kurun ke-15 H

Kurun ini baharu saja menjelma, tetapi tulisan-tulisan anti Syi’ah kian bertambah, pada tahun 1406 Hijrah telah lahir 60 tajuk buku mencaci Syi’ah di Pakistan sahaja dan dicetak sebanyak tiga juta naskhah. Pada tahun 1404 dan 1405 Hijrah telah terbit 200 tajuk buku menyerang Syi’ah dan kebanyakan buku itu bermotifkan politik, yaitu mencaci revolusi kan dan pemimpinnya.
Seorang Ketua MajIis ‘Ulama Pakistan bemama Syaikh Muhammad ‘Abd al-Qadir Azad menulis sebuah risalah kecil bertajuk aI-Fitnah al-Khomainiyah pada tahun 1406 H., ia menyeru ketua-ketua negara Islam supaya menentang “revolusi Syi’ah” di Iran, kerana katanya golongan Syi’ah Iran akan membunuh kaum Muslimin yang mengerjakan Haji di sekeliling Ka’bah dan akan membawaa balik Hajr al-Aswad (batu hitam) ke Iran se-perti yang dilakukan oleh kaum Qaramitah[10]. Bahkan orang Iran tidak akan mengembalikan Hajr aI-Aswad ini hingga hari Qiyamat [11].
Di Malaysia, walaupun belum wujud masyarakat Syi’ah, tetapi sebuah buku bertajuk Bahaya Syi ‘ah telah ditulis oleh Ash’ari Muhammad, Ketua al-Arqam yang menggambarkan fahaman Syi’ah sebagai satu fahaman yang sesat dan berbahaya.

Demikianlah corak serangan dan segi pemikiran terhadap golongan Syi’ah dari abad ke abad dan mereka hanya bertahan menangkis segala serangan itu tanpa menyerang atau memulakan serangan terhadap golongan lain.
Walau bagaimanapun pertikaian pemikiran Sunnah-Syi’ah selalunya disebabkan oleh salah faham, misalnya golongan Sunnah selalu mengecam Syi’ah berdasarkan Hadith yang terdapat di dalam al-Kafi [12] sedangkan golongan Syi ‘ah tidak menganggap semua Hadith itu sebagai sahih. Menurut para ‘ulama Syi’ah kumpulan Hadith di dalam al-Kafi itu mengan-dungi 5072 Hadith sahih, 144 Hasan dan 9455 daif [13]. Golongan Sunnah pula me-nyangka semua Hadith itu adalah sahih bagi orang Syi’ah.

NOTA KAKI:

1. Lihat Ya’qubi. Tarikh, Beirut 1960,11, h. 159,249; Tabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk , 1964, IV, h:227; Ibn Abi al-Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, Qahirah, h. 189,194, dan II, h. 57.

2. Ibn Abi al-Hadid, Ibid., II: 45.

3. Lihat Ibn Jauzi al-Muntazim; Ibn al-Athir al-Kamil; !bn Syakir ‘Uyun at-Tawarikh,, Sibt Ibn al–Jauzi, Mir ‘at az-Zaman; Dhahabi, Tarikh al-Islam; Ibn Kathir, al-Bidoyah wa an-.Nihayah.

4. Lihat Ibn al-Athir, al-Kamil Qahirah 1303 II. IX, h. 57-.77 tentang. Peristiiwa tahun 443 H. Kata-nya: “Berlakulah kekejarnan yang ngeri dan belum pernah terjadi sepertinya di dunia ini.

5. Lihat al-Fihrist oleb lbn an-Nadim, I’. 209:Zahr al-.4 dan oleh Arbili d.4n Al-Qandhuri, Yanabi al-Mawaddah, bab 52. Tulisan al-Jahiz ini telah diterbitkan di Qahirah tahun 1933 dengan tajuk “Risalah-risalah al-Jahiz” dan dimuat dalam majalah “Bahasa Arab” Babghad no.9 bertajuk:”Kelebihan Bani Hasyim dari manusia lain”.

6. Pada masa ini banyak lagi ‘aIim ‘ulama yang lebib tua dan faham tentang hukum Islam, tetapi mereka tetap tidak mahu mengikut perintah istana yang mahukan fatwa untuk memecah-belahkan umat Islam.

7. Naskhah asal fatwa ini yang ditulis dalam bahasa Turki masih tersimpan dalam khazanah istana ‘Uthmani dan pada waktu kebelakangan ini telah dicetak di lstanbul berdasarkan naskhah asalnya yang tersimpan di Perpustakaan Topkapisrai, iaitu perpustakaan istana.

8. Dua naskhah aI~Jami’ as-Sawafi ini terdapat di Perpustakaan Imam ar-Rida Masyhad, no. 127 dan 9773.

9. Kitab ini ditulis dalam bahasa Farsi dan telah diterjemahkan ke bahasa Arab oieh Ghulam Muhamad Muhyiddin dan diringkaskan oleh Mahmud Syukri al-Alusi serta diedit oleh Muhibuddin al-Khatib. Ia diterbitkan di Riyad tahun 1404 H.

10. Kaum Qaramitah’ (kurun ke-3 H.) pernah menyerang Mekah dan membawa balik Hajr al-Aswad ke negeri mereka, selepas 20 tahun Hajr al-Aswad itu dikembalikan semula dengan perintah khalifah Fatimiyyah al-Mansur. Lihat Ibn al-Ahtir, op. cit., Ill, h. 153; P.K. Hitti, History of the Arabs, London 1956, h. 445.

11. ‘Abd al-Qadir Azad,aI-Fitnah al-Khomainiyah, Lahore 1986, h. 48.

12. Koleksi Hadith oleh al-Kulaini.

13. Sayid Ali al-Milani, Journal Turathuna, Beirut 1407 H, h. 257.

AYAH BUNDA NABI SAAW MU’MIN SEJATI

Keyakinan Syi’ah :
Termasuk keyakinan pasti yang disepakati dalam ajaran Syi’ah adalah bahwa ayah bunda mulia Rasulullah Muhammad saw.adalah mu’min/beriman kepada Allah SWT, tidak musyrik/ menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Demikian juga dengan ayah-ayah dan moyang beliau hingga Nabi Adam as. tidak seorang pun dari moyang Nabi saw. yang musyrik… Demikian ditegaskan para tokoh dan pemuka Syi’ah di bergadai masa… keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar!
kesempatan ini saya tidak sedang bermaksud membuktikan kebenaran keyakinan kami (Syi’ah) dalam masalah ini, akan tetapi hanya sekedar membandingkan I’tiqâd yang bertolak belakang antara Syi’ah dan Ahlusunnah dalam masalah ini. Karenanya kami tidak akan mengutarakan dalil-dalil kami! Yang akan kami sebutkan hanya komentar ulama dan tokoh mazhab Syi’ah..
Syeikh Shadûq (pemimpin tertinggi Ulama Syi’ah Imamiyyah di masanya) menegaskan keyakinan tersebut dalam kitab al I’tiqadât-nya ketika menerangkan keyakinan Syi’ah tentang ayah-ayah Nabi saw.:
إعتقادُنا فيهِم أنَّهم مسلِمون.
“Keyakinan kami (Syi’ah) tentang mereka (ayah-ayah Nabi saw.) bahwa mereka itu semuanya muslimun.”
Penegasan Syeikh ash Shadûq tersebut diterjelas/disyarakan oleh Syeikh Mufid (pemimpin Ulama Syi’ah setelah ash Shadûq) dalam kitab Tash-hîhul I’tiqâd Bi Shawâbi al intiqâd atau yang juga dikenal dengan nama Syarah ‘Aqâid ash Shadûq:
“Ayah-ayah Nabi saw. hingga Adam as. adalah muwahhid/mengesakan Allah, di atas keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).” Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti atasnya.
Dalam kitab Awâil al Maqâlât-nya, Syeikh Mufîd kembali mempertegas keyakinan tersebut. Beliau berkata dalam bab al Qaulu Fî Âbâi Rasulillah shallallahu ‘Alaihi wa Âlihi wa ummihi wa ‘Ammihi Abi Thalib (rahmatullahi ta’âla‘Alaihim) /pendapat tentang ayah-ayah Rasulullah saw., Ibu dan Paman beliau Abu Thalib semoga -rahmat Allah atas mereka-:
و اتفقت الإمامية على أنَّ آباءَ رسولِ اللهِ (ص) من لدن آدمَ إلى عبد الله بن عبد المطلب مؤمنون بالله عز و جلَّ و موحَّدون له. و احتجوا في ذلكَ بالقرآن و الأخبار….
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ayah Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah. Syi’ah berdalil dengan Al Qur’an dan Hadis-hadis….“
Keyakinan Ahlusunnah
Adapun keyakinan Ahlusunnah dalam masalah ini adalah bertolak belakang total dengan apa yang diyakini kaum Syi’ah. Ahlusunnah meyakini bahwa kedua orang tua mulia Nabi saw.;Sayyiduna Abdullah ibn Abdul Muththalib dan ibunda suci Aminah binti Wahb az Zuhriyah adalah kafir/musyrik menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan kelak di hari kiamat nereka tempatnya, wal Iyâdzu billah, semoga Allah melindungi kami dari keyakinan seperti itu.
Apa yang menjadi keyakinan mereka telah diterangkan dan dikukuhkan para ulama besar dan tokoh terkemuka Ahlusunnah wal Jama’ah serta didukung oleh hadis-hadis shahih dalam kitab-kitab standar utama mereka.
Keyakinan demikian adalah kayakinan yang diwariskan turun temurun dan ditegaskan sebagai keyakinan pasti dalam mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kendati belakangan, Ahhlusunnah “kontemporer” (meminjam istilah sebagian penulis Ahlusunnah) berusaha menghilangkan kesan kental itu dari mazhab dengan mengelindingkan pendapat lain yang menyalahi keyakinan para pendahulu mereka yang dibangun di atas hadis shahih! Tetapi tetap saja usaha itu tidak akan mampu menghilangkan kesan kental keidentikan mazbah Ahlusunnah dengan keyakinan tersebut.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberap kutipan pernyataan ulama besar Ahlusunnah:
Imam an Nawawi:
Ketika menjelaskan hadis Nabi saw.:
إنّ أبي و أباكَ في النار.
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”
Imam An Nawawi (yang digelari Muhyi as Sunnah/penyegar Sunnah) menegaskan, “Di dalam hadits ini terdapat faidah bahwa siapa yang mati di atas kekafiran maka dia di neraka dan tidak akan bermanfaat baginya kerabat dekat.”
Al Imam Al Baihaqi:
Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.
Dan kitab as Sunan al Kubrâ, ia kembali menegaskan keyakinan Ahlusunnah tentang ayah-bunda Nabi saw., ia berkata, “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” Kemudian setelahnya, ia mengobral dalil-dalil yang mendukung keyakian tersebut!
Selain mereka tentunya masih banyak keterangan dan pernyataan ulama Ahlusunnah yang secara tegas menyatakan keyakinan tersebut, bahkan Al Imam ‘Ali Al Qâri menukil adanya ijma’/kesepakatan ulama atas keyakinan tersebut.
Menurut sebagian ulama Ahlusunnah, keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. mu’min/tidak musyrik adalah keyakinan yang identik dengan mazhab Syi’ah yang dibangun atas dasar kultus Ahlulbait/keluarga dan kerabat Nabi saw.
Dasar Keyakian Ahlusunnah wal Jama’ah
Keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. adalah mati dalam keadaan musyrik dan kelak akan ditempatkan dalam neraka telah dibangun di atas pondasi kokoh; hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar mu’tabarah, seperti Shahih Muslim, as Sunan al Kubrâ, Sunan Abu Daud, Shahih Ibnu Hibban, as Sunan al Kubrâ, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu ‘Awânah, Musnad Abu Ya’lâ Al Mûshili dan lain-lain.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis darinya:
Hadis Bahwa Ayah Nabi saw. Musyrik Dan ia Di Neraka
Dengan sanad bersambung kepada sahabat Anas ibn Malik, ia berkata:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Sesungguhnya ada seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku?’ Beliau menjawab, ‘Di neraka.’ Lalu ketika orang tersebut berpaling/pergi, beliau memanggilnya dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.’”
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
Imam Muslim di dalam Shahih-nya, bab Bayân Anna Man Mâta ‘Ala al Kufri Fahuwa Fî an Nâr, Lâ Tanâluhu Syafâ’atun walâ Ta’fa’uhu Qarâbatul Muqarrabîn/Barang siapa mati dalam keadaan kafir maka ia di neraka, syafa’at tidak akan mengenainya dan juga kekerabatan kaum yang didekatkan (kepada Allah) tidak berguna baginya,3/79 dengan syarah an Nawawwi. Dan kemudian dinukil oleh banyak ulama dalam buku-buku mereka, seperti dalam Shafwah ash Shaffah,1/172 dan al Bidâyah wa an Nihâyah,2/12-15 dll.
Abu Daud dalam Sunan-nya.
Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Abu ‘Awânah dalam Musnad-nya.
Abu Ya’lâ Al Mûshili dalaam Musnad-nya.

Hadis Bahwa Bunda Nabi saw. Musyrikah Dan Ia Di Neraka
Para ulama hadis kenamaan Ahlusunah juga meriwayat hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung keyakian mereka bahwa bunda Nabi saw. adalah seorang wanita musyrikah yang mati dalam kemusyrikan dan neraka adalah tempatnya. Bahkan ketika Nabi saw. meminta izin dari Allah untuk menziarahi kuburan ibunya dan memohonkan ampunan, istighfâr untuknya, Allah hanya mengizinkan Nabi-nya untuk menziarahi dan tidak mengizinkannya untuk beristighfâr untuk ibunya.
Hadis tentangnya banyak sekali, dalam kesempatan ini saya akan menyebut satu darinya, yaitu hadis yang bersumber dari sahabat kepercayaan Ahlusunnah, “pewaris Sunnah suci Nabi, wadah ilmu dan kepercayan Nabi saw., beliau adalah “Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah. Ia berbagi informasi, dengan mengatakan, “Nabi saw. bersabda:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.
“Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
Imam Muslim di dalam Shahih-nya pada Kitabul Janaiz bab Isti’dzânu an Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘Azza waJalla Fî Ziyârati Qabri Ummihi/permohonan izin Nabi saw. untuk menziarahi kuburan ibunya,(dengan syarah an Nawawi,7/45).
Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
Ibnu Majah dalam Sunan-nya.
Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ.
Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Al Mushannaf-nya.
Abu Ya’lâ dalam Al Musnad-nya.
Komentar an Nawawi:
Juru bicara resmi Ahlusunnah, Imam an Nawawi berkata, “Dalam hadis di atas terdapat faedah/kesimpulan dibolehkannya menziarahi orang-orang musyrikin di kala hidup, maupun menziarahi kuburan mereka setelah mati… Di dalamnya juga terdapat faedah dilarangnya memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.” (Syarah Shahih Muslim,7/ 45).
Dengan demikain jelaslah bagaimana aqidah dan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tentang kedua orang tua Nabi saw.
Dan kalaupun ternyata aqidah seperti itu dikemudian hari dirasa memalakuan dan dapat mencoreng nama harum mazhab mereka, lalu ada segelintir orang menyelisihinya, maka sama sekali itu tidak akan mengubah kenyataan akan keyakinan Ahlusunnah yang paten! Apalagi yang disampaikan oleh “Sunni kontemporer” sangat menyalahi hadis-hadis shahih mereka sendiri dan juga menyalahi kesepakatan para pemuka mazhab mereka! Mereka tidak konsisten dengan kayakinan mereka sendiri bahwa kitab Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah dan Kitab Shahih Imam Bukhari!
Dan kalaupun kalian (sebagian Ahlusunnah) kebetaran dengan keyakinan tersebut karena dianggap bertentangan dengan dalil dan dengan sopan santun dan sikap hormat kepada Nabi saw., lalu apa sikap yang harus ditegakkan mazhab Ahlusunnah (yang telah dimodifikasi itu) terhadap mereka yang meyakini kekafiran ayah-bunda Nabi saw.?!
Apakah di keluarkan dari keanggotaan sebagai Ahlusunnah? Sementara pilar-pilar mazhab Ahlusunnah itu, mereka yang meneggakkan?
Atau kalian -yang yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tersebut- akan keluar dari Ahlusunnah?
Atau kalian mengatakan bahwa pendapat para pemuka mazhab kalian itu tidak mewakili mazhab Ahlusunnah?
Lalu siapa yang mewakili mazhab Ahlusunnah?
Kami menanti jawaban konkretnya kalian.
Walahu A’lam.
Tash-hîhul I’tiqâd:117
Awâil al Maqâlât:51.
Dalâil an Nubuwah,1/192-193.
As Sunan al Kubrâ,7/190.

Sanggahan Orang Tua Nabi Kafir

Submitted by forsan salaf on Thursday, 29 October 2009

sun

Ahmad dawilah <dawileh@yahoo.co.id>

ass ana mau tanya menurut akidah habaib bagaimana hukum orang tua nabi mukmin ato musrik?

FORSAN SALAF menjawab :

Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

Kemudian turun ayat yang berbunyi :

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jawaban :

Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab,  yaitu :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

  • Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama’  mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

  • Hadits Nabi SAW :

قال رسول الله  (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

  • Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.

A

ABU THALIB SEORANG MUKMIN

Monday, 02 March 2009 18:56 Sayyed Mohd Fadlie ben Yahya

KECINTAAN KEPADA KELUARGA NABI

Menyakiti Keluarga Nabi Sama Seperti Menyakiti Allah Dan Rasul-Nya

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya (mengutuknya) d idunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (Q.S. 33:57) ”.

Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih (Q.S. 9:61)

Diriwayatkan dari al-Thabrani dan al-Baihaqi, bahawa anak perempuan Abu Lahab (saudara sepupu Nabi Saww ) yang bernama Subai’ah yang telah masuk Islam datang ke Madinah sebagai salah seorang Muhajirin, seseorang berkata kepadanya : “ Tidak cukup hijrahmu ke sini, sedangkan kamu anak perempuan kayu bakar neraka” (menunjuk surah al-Lahab). Maka dari ucapan itu, menyebabkan hatinya luka dan melaporkannya pada Rasulullah Saww. Selepas mendengar ucapan itu, Baginda Saww menjadi murka, kemudian beliau naik ke mimbar dan bersabda :

Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku (salasilahku) maupun sanak kerabatku. Barang siapa menyakiti nasabku serta sanak kerabatku, maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku, maka dia menyakiti Allah SWT.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahawasanya Rasulullah Saww bersabda :

Barang siapa yang menyakiti sehujung rambut dariku maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku berarti dia telah menyakiti Allah SWT ”. Dengan demikian jelaslah bahawa siapa yang menyakiti Abu Thalib bererti menyakiti Rasulullah Saww beserta cucu-cucu beliau pada setiap masa. Rasulullah saw bersabda :” Janganlah kamu menyakiti orang yang masih hidup dengan mencela orang yang telah mati ”.

Pencinta Keluarga Nabi Adalah Mukmin

Sa’ad bin Manshur dalam kitab Sunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang Firman Allah SWT (Q.S; 42,23) :

Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta dari kamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (Ahlul Bait )”.

Dia berkata: yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah Saww.

( Hadis ini disebutkan juga oleh al-Muhib al-Thabari dalam Dzkhair al-Uqbah ha.9, Dia mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Sirri, dikutib pula oleh al-Imam al-Hafid Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi dalam kitab Ihyaul Maiyit Bifadhailil Ahlil Bait hadis no 1 dan dalam kitab tafsir al-Dur al-Mantsur ketika menafsirkan ayat al-Mawaddah :42,43 )

Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya Juz 4 hal.210 hadis no.177 meriwayatkan:
Abbas, pakcik Nabi Saww masuk menemui Rasulullah Saww, lalu berkata: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami (Bani Hasyim) keluar dan melihat orang-orang Quraisy berbincang-bincang lalu jika mereka melihat kami mereka diam ”. Mendengar hal itu Rasulullah Saww marah dan menitiskan airmata kemudian bersabda : “ Demi Allah tiada masuk keimanan ke hati seseorang sehingga mereka mencintai kamu (keluarga nabi Saww) kerana Allah dan demi hubungan keluarga denganku ” (hadis serupa diriwayatkan pula oleh al-Turmudzi, al-Suyuthi, al-Muttaqi al-Hindi, al-Nasa’i, al-Hakim dan al-Tabrizi).

Membenci Mereka Adalah Munafik

Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda: “ Barang siapa yang membenci kami Ahlul Bait (Nabi dan keluarganya) maka ia adalah munafik. ”(at-Athabrani dalam Dzakair, Ahmad dalam al-Manaqib, al-Syuthi dalam al-Dur al-Mantsur dan dalam Ihyaul Mayyit).

al-Thabrani dalam kitab al-Awsath dari Ibnu Umar, dia berkata: Akhir ucapan Rasulullah Saww sebelum wafat adalah: “Perlakukan aku setelah sepeninggalanku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baitku.” (Ibnu Hajar dalam al-Shawaiq). al-Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari ‘Ali as bersabda : “ Syafa’at (pertolongan di akhirat kelak) ku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baitku. (Imam Jalaluddin al-Syuthi dalam Ihyaul Maiyit) .

al-Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda : “ Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang mengganguku dengan menggangu itrahku ”. (al-Suyuthi dalam Ihyaul Maiyit, dikutib juga oleh al-Manawi dalam Faidh al-Qadir, dan juga oleh Abu Nu’aim).

Siapa Yang Mengkafirkan Abu Thalib ra?

Sebenarnya pandangan tentang kafirnya Abu Thalib adalah hasil rekaan politik Bani Umaiyah di bawah program Abu Sufyan, seseorang yang memusuhi Nabi Saww sepanjang hidupnya, memeluk Islam kerana terpaksa dalam pembebasan Makkah, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Muawiyah, seorang yang diberi gelaran oleh Nabi Saww sebagai “ kelompok angkara murka ”, yang meracuni cucu Nabi Saww, Imam Hasan ibn ‘Ali a.s. Dalam kitab Wafiyat al-A’yan Ibnu Khalliqan menuturkan cerita Imam Nasa-i (penyusun kitab hadis sunna al-Nasa-i), bahawasanya sewaktu Nasa-i memasuki kota Damaskus, dia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Muawiyah, kata Nasa-i: “ Aku tidak menemukan keutamaan Muawiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya”. Selanjutnya dilanjutkan oleh Yazid anak Muawiyah si pembunuh Husein ibn ‘Ali as cucu Nabi Muhammad Saww di padang Karbala bersama 72 keluarga dan sahabatnya. Muawiyah yang sebagian Ulama Ahli Sunnah telah mengkategorikannya sebagai sahabat Nabi Saww, telah memerintahkan pelaknatan terhadap Imam ‘Ali bin Abi Thalib as di hampir tujuh puluh ribu mimbar umat Islam dan dilanjutkan oleh anak cucu-cucu Bani Umaiyah selama 90 tahun. Ia berlangsung sehinggalah sampai zaman Umar bin Abdul Azizi. Ibnu Abil Hadid menyebutkan Muawiyah membentuk sebuah lembaga yang bertugas mencetak hadis-hadis palsu dalam berbagai segi terutama yang menyangkut keluarga Nabi Saww, lembaga tersebut beranggotakan beberapa orang sahabat dan Tabi’in (sahabatnya sahabat) di antaranya “ Amr ibn al-Ash, Mughirah ibn Syu’bah dan Urwah ibn Zubair).

Sebagai contoh Ibnu Abil Hadid menyebutkan hadis ciptaan tersebut :

“ Diriwayatkan oleh al-Zuhri bahawa : Urwah ibn Zubair menyampaikan sebuah hadis dari Aisyah. ia berkata : Ketika aku bersama Nabi Saww, maka datanglah Abbas (pakcik Nabi Saww) dan ‘Ali bin Abi Thalib dan Nabi Saww berkata padaku : “ Wahai Aisyah kedua orang itu akan mati tidak di atas dasar agamaku (kafir)”.

Inil adalah kebohongan besar tak mungkin Rasul Saww bersabda seperti itu yang benar Rasul Saww bersabda seperti yang termaktub dalam kitab : Ahlul Bait  wa Huququhum hal.123, di situ diterangkan: Dari Jami’ ibn Umar seorang wanita bertanya pada Aisyah tentang Imam ‘Ali as, lalu Aisyah menjawab : “ Anda bertanya kepadaku tentang seorang yang demi Allah SWT, aku sendiri belum pernah mengetahui ada orang yang paling dicintai Rasulullah Saww selain Ali, dan di bumi ini tidak ada wanita yang paling dicintai puteri Nabi Saww, iaitu ( Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s isteri Imam Ali a.s).

al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, al-Suyuthi dalam kitab al-Jami ash-Shaghir dan juga al-Thabrani dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saww bersabda : “ Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya, Maka barangsiapa ingin mendapat Ilmu, hendaknya dia mendatangi pintunya ”. Imam Ahmad bin Muhammad ash-Shadiq al-Maghribi berdasarkan hadis ini telah membuat kitab khusus yang diberi judul : “ Fathul Malik al’Aliy bishihati hadis Babul Madinatil Ilmi ‘Ali ” yang membuktikan ke shahihan hadis tersebut.

Jadi berbalik kita kepada kisah Abu Thalib ra. Benar, sekitar kurang lebih 9 hadis yang mengkafirkan Abu Thalib. Tetapi sebagai mana yg telah disampaikan jalur-jalur hadis tersebut penuh dengan keraguan ditambah dengan ruwat (perawi) hadis tersebut yang lemah dan tidak boleh diterima. Diantaranya:

1- Salah seorang perawi hadis dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah. Para sejarawan Islam sepakat mengatakan dia masuk Islam pada perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah. Jadi bagaimana dia boleh meriwayatkan hadis tersebut?

SIAPA ABU THALIB?

Nama aslinya adalah Abdul Manaf, sedangkan nama Abu Thalib adalah nama ‘kunyah’ (panggilan) yang berasal dari nama putera pertamanya iaitu Thalib. Abu  bererti ayah. Abu Thalib adalah pakcik dan ayah asuh Rasulullah Saww, dia mengasuh Nabi Saww dengan jiwa raganya. Ketika Nabi Saww berdakwah dan mendapat rintangan dan halangan, Abu Thaliblah yang membelanya dan dengan tegar berkata:

“ Kamu tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kamu menguburkanku ”.

Ketika Nabi Saww dan pengikutnya dipulaukan di sebuah lembah, Abu Thalib mendampingi Nabi Saww dengan setia. Ketika dia melihat ‘Ali solat di belakang Rasulullah Saww, iaitu ketika beliau mahu meninggal dunia, dia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi Saww dan membelanya dalam dakwahnya.

BUKTI ISLAM ABU THALIB

·         Kesaksian Dengan Ucapan

Selain beliau merupakan benteng dan tempat bernaung Rasulullah saww daripada segala ancaman musyrikin Mekah, beliau juga telah menerima dan melaksanakan amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi Saww dan dia telah melaksanakan amanat tersebut dengan baik. Nabi Saww adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Beliau mengetahui akan kenabian Muhammad Saww jauh sebelum Nabi Saww diutus oleh Allah SWT, sebagai Rasul di atas dunia ini. Dia menyebutkan hal tersebut ketika berpidato dalam pernikahan Nabi Saww dengan Sayyidah Khadijah sa. Abu Thalib berkata :

“ Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan kita semua sebahagian anak cucu Ibrahim dan Ismail, dan menjadikan kita semua berasal dari Bani Ma’ad dan Mudhar dan menjadikan kita orang yang bertanggungjawab menjaga rumah-Nya (ka’bah) sebagai tempat haji pemimpin-pemimpin manusia. Ketahuilah bahawa anak buah saya ini adalah Muhammad ibn Abdullah yang tidak boleh dibandingkan dengan lelaki-lelaki manapun kecuali pasti dia lebih tinggi kemuliaannya, keutamaan dan akalnya. Dia  (Muhammad), demi Allah, setelah ini akan mendatangkan dengan sesuatu khabar besar dan akan menghadapi tentangan yang serta tanah haram yang aman damai, dan menjadikan kita semua sebagai berat”.

Kata-kata beliau ini, jelas menunjukkan bahawa Abu Thalib adalah seorang pemyembah Allah, seorang yang beragama dengan agama datuknya Ibrahim dan Ismail a.s. bagi Abu Thalib tidak susah untuk mengenal siapa itu Muhammad ibn Abdullah kerana beliau telah melihat ciri-ciri kenabian itu terpancar dari cahaya wujud Rasulullah saww.

·         Mendengar Tanda kenabian Nabi Dari Seorang Rahib

Pada saat Abu Thalib bermusafir ke Syam, sedang di waktu itu Nabi Saww masih berusia 9 tahun dan bersama dengan Abu Thalib ketika itu. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani bernama Buhairah yang mengetahui tanda-tanda kenabian yang terdapat pada Nabi Saww dan memberitahukan pada Abu Thalib berita tersebut. Kemudian beliau menyuruhnya membawa Rasulullah Saww pulang kembali ke Mekah karena takut akan gangguan orang Yahudi. Lantas dari itu Abu Thalib membawa Nabi Saww pulang ke Mekah, kerana takut ancaman tersebut.

·         Menunjukkan Dengan Tindakan (Akhlak Mulia)

Dengan bukti ini juga menunjukkan Abu Thalib tahu bahawa  Muhammad adalah Rasulullah Saww. Maka itu penghormatannya kepada Rasulullah Saww amat tinggi berbanding yang lain. Sebagai contoh, jika Abu Thalib hendak makan bersama keluarganya, beliau selalu berkata: bersabarlah kamu menunggu hingga Muhammad datang, kemudian Nabi Saww datang serta makan bersama mereka hingga mereka menjadi kenyang. Dan di antara adab mulia Abu Thalib kepada Nabi Saww, bahawa dia tidak makan melainkan Muhammad Saww makan dahulu kemudian barulah dia makan dan kemudian ahli keluarganya yang lain. Abu Thalib berkata kepada Nabi Saww: “ Sesungguhnya Engkau adalah orang yang di berkati Tuhan ”.

Setiap kali Nabi akan tidur, Abu Thalib akan membentangkan selimutnya di mana sahaja Nabi Saww tidur. Beberapa saat setelah baginda Saww tertidur, dia akan membangunkan beliau Saww lagi dan kemudian memerintahkan sebagian anak-anaknya untuk tidur di tempat Rasulullah Saww , sementara untuk Rasulullah akan dibentangkan selimut di tempat yang lain agar Nabi Saww tidur di sana. Semua ini dilakukkan oleh Abu Thalib demi keselamatan Nabi Saww.

Ya Allah! mereka menyangka Engkau tidak memberi hidayah kepada orang yang telah mengorbankan segala sisa hidupnya dalam membela nabi-MU, seorang yang teramat tinggi cintanya kepada sang kekasih-MU.

Ya Allah! sungguh prasangkaku baik kepada-Mu, tak mungkin Engkau tidak memberi iman kepadanya. Ya Allah Yang Maha Pemurah! dan Engkau amat jauh dari prasangka buruk ini. Ya Allah! apakah mungkin umat Nabi-Mu akan menerima syafa’at daripadanya, sedang lidah-lidah mereka tiada kering dari mengkafirkan pakcik kesayangannya. Ya Allah! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Engkau akan menghukum siapa saja yang menyakiti Nabi-Mu dan keluarganya.

·         Hadis-hadis Iman Abu Thalib as

Kini tibalah saatnya untuk kami ketengahkan hadis-hadis tentang Mukminnya Abu Thalib, namun untuk menjaga keringkasan buku ini, kami hanya mengutip sebagian sahaja.

1- Dari Ibnu Adi yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik, dia berkata; “ Pada suatu saat Abu Thalib sakit dan Rasulullah Saww menjenguknya, maka dia berkata; “ Wahai anak sudaraku, berdoalah kamu kepada Allah agar Ia berkenan menyembuhkan sakitku ini ”, dan Rasulullah pun berdoa: Ya Allah, …sembuhkanlah pakcik hamba ”, maka seketika itu juga dia berdiri dan sembuh seakan dia lepas dari belenggu ”.

Apakah mungkin Rasulullah berdoa untuk orang yang kafir ?, apakah mungkin orang kafir memohon doa daripada Rasulullah Saww? Apakah mungkin orang yang menyaksikan mukjizat yang demikian lantas tidak mahu beriman?. Perkaranya kembali pada logika orang yang waras.

2- Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aqil bin Abu Thalib, diterangkan bahawa orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib: “ Sesungguhnya anak saudaramu ini telah menyakiti kami ”, maka Abu Thalib berkata kepada Nabi Muhammad Saww : “ Sesungguhnya mereka Bani pakcikmu, menuduh kamu menyakiti mereka ”. Nabi menjawab : “ Jika seandainya kamu (wahai kaum Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku untuk aku tinggalkan perkara ini, sehingga Allah menampakannya atau aku hancur kerananya, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sama sekali ”.

Dari itu kedua mata beliau mencucurkan air mata karena menangis, maka berkatalah Abu Thalib kepada Nabi Saww: “ Wahai anak saudaraku, katakalah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka selamanya ”. Dia juga berkata kepada orang-orang Quraisy, “ Demi Allah, sesungguhnya anak saudaraku tidak berdusta. ”

Kami bertanya, apakah kata-kata dan pembelaan demikian ini dapat dilakukan oleh orang kafir, yang agamanya sendiri dicela habis-habisan oleh Nabi Saww ? Kalau yang demikian ini dikatakan tidak beriman, lalu yang bagaimana yang beriman?

3-  Dari al-Khatib al-Baghdadi dari Imam Jaa’far ash-Shadiq yang sanadnya sampai pada Imam ‘Ali as berkata: aku mendengar Abu Thalib berkata, “ Telah bersabda kepadaku, dan dia (Muhammad) demi Allah adalah orang yang paling jujur, Abu Thalib berkata selanjutnya: “ Aku bertanya kepada Muhammad, Wahai Muhammad, dengan apa kamu diutus (Allah) ? ” baginda Saww menjawab: “ Dengan silaturrahmi, mendirikan solat, serta mengeluarkan zakat.”

al-Khatib al-Baghdadi adalah seorang ulama besar dan beliau menerima hadis yang diriwayatkan oleh Abi Thalib, jika Abu Thalib bukan mukmin maka tentu hadisnya tidak akan diterima, demikian juga Imam ‘Ali dan Imam ash-Shadiq dan lain-lain lagi. Penelitian akan isi kandung hadis ini menunjukkan Abu Thalib adalah seorang mukmin.

4- Dari al-Khitab, yang bersambung sanadnya, pada Abi Rafik maula ummu Hanik binti Abi Thalib bahawasannya dia mendengar Abu Thalib berkata: “Telah berbicara kepadaku Muhammad anak saudaraku, bahawanya Allah memerintahkannya agar menyambung tali silaturrahmi, menyembah Allah serta tidak boleh menyembah selain-Nya (tidak menyekutukan-Nya) ”. Kemudian Abu Thalib berkata: “ Dan Abu Thalib berkata pula: “ Aku mendengar anak saudaraku berkata: “ Bersyukurlah, tentu anda akan dilimpahi rezeki dan janganlah kufur, nescaya anda akan disiksa ”.

Apakah ada tanda-tanda beliau seorang kafir dalam hadis di atas?, wahai saudaraku, anda dianugerah akal dan kemampuan berfikir, gunakanlah ianya sebaik mungkin sebelum ianya ditarik balik semasa usia tuamu.  Dan pergunakanlah ia, jangan seperti domba yang digiring oleh gembala. Selama 14 Abad umat Muhammad telah ditipu oleh propaganda Bani Umaiyyah, sampai bila mereka mampu mengakhirinya.

5-  Dari Ibnu Sa’ad al-Khatib dan Ibnu Asakir dari Amru ibn Sa’id, bahawasanya Abu Thalib berkata : “ Suatu saat aku bersama anak saudaraku (Muhammad) di dalam perjalanan (safar), kemudian aku merasa dahaga dan aku beritahukan kepadanya serta ketika itu aku tidak melihat sesuatu bersamanya, Abu Thalib selanjutnya berkata, kemudian dia (Muhammad) membengkokkan pangkal pahanya dan menginjakkan tumitnya diatas bumi, maka pakcikku minumlah !”, maka aku minum”.

Ini adalah mukjizat Nabi Saww dan disaksikan oleh Abu Thalib, yang meminum air mukjizat, adakah orang kafir dapat meminum air al-Kautsar ?. Berkata a-Imam al-Arifbillah al-Alamah Assayyid Muhammad ibn Rasul al-Barzanji: “ Jika Abu Thalib tidak bertauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan memberikannya rezeki dengan air yang memancar untuk Nabi Saww yang air tersebut lebih utama dengan air al-Kautsar serta lebih mulia dari air zamzam.

6- Dari Ibnu Sa’id yang diriwayatkan dari Abdillah Ibn Shaghir al-Udzri bahawasanya Abu Thalib ketika menjelang ajalnya dia memanggil Bani Abdul Mutthalib seraya berkata: “ Tidak pernah akan putus-putusnya kamu dengan kebaikan yang kamu dengar dari Muhammad dan kamu mengikuti perintahnya, maka dari itu, ikutilah dia, serta bantulah dia tentu kamu akan mendapat petunjuk ”. Jauh sekali anggapan mereka, dia tahu bahawa sesungguhnya petunjuk itu di dalam mengikuti baginda Saww.

Dia menyuruh orang lain agar mengikutinya, apakah mungkin dia sendiri meninggalkannya?. Sekali lagi hanya akal yang waras yang boleh menentukannya.

7-  Dari al-Hafidz (penghafal hadis lebih dari 100, 000 hadis) Ibn Hajar dari ‘Ali Ibn Abi Thalib a.s bahawasanya ketika ‘Ali memeluk Islam, Abu Thalib berkata kepadanya: “ Tetaplah engkau bersama anak pakcikmu ! ”.

Pertanyaan apa yang mampu ditanyakan terhadap seorang ayah yang menyuruh anaknya memeluk Islam, sedangkan dia sendirian dikatakan bukan Islam, adakah hal itu masuk akal ?.

Dari al-Hafidz Ibn Hajar yang riwayatnya sampai pada Imran bin Husein, bahawasanya Abu Thalib : bersolatlah kamu bersama anak pakcikmu, maka dia Jaa’far melaksanakan solat bersama Nabi  Muhammad Saww, seperti juga dia melaksanakannya bersama ‘Ali bin Abu Thalib. Sekiranya Abu Thalib tak percaya akan agama Muhammad, tentu dia tidak akan rela kedua putranya solat bersama Nabi Muhammad Saww, sebab permusuhan yang timbul karena seorang penyair berkata: “ Tiap permusuhan bisa diharapkan berakhirnya, kecuali permusuhan dengan yang lain dalam masalah agama ”.

8- Dari al-Hafidz Abu Nu’aim yang meriwayatkan sampai kepada Ibnu Abbas, bahawasannya dia berkata : “ Abu Thalib adalah orang yang paling mencintai Nabi Saww, dengan kecintaan yang amat sangat (Hubban Syadidan) tidak pernah dia mencintai anak-anaknya melebihi kecintaannya kepada Nabi Saww. Oleh karena itu dia tidak tidur kecuali bersamanya (Rasulullah Saww).

9- Diriwayatkan dalam kitab Asna al-Matalib fi najati Abu Thalib oleh Assayid al-Alamah al-Arifbillah, Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan Mufti mazhab Syafi’i di Mekah pada zamannya: “ Sekarang orang-orang Quraisy dapat menyakitiku dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi selama Abu Thalib hidup ”. Tidaklah orang-orang Quraisy memperoleh sesuatu yang aku tidak senangi (menyakitiku) hingga Abu Thalib wafat ”. Dan setelah beliau melihat orang-orang Quraisy berlumba-lumba untuk menyakitinya, baginda Saww bersabda: “ Hai pakcikku, alangkah cepatnya apa yang aku peroleh setelah engkau wafat ”. Ketika Fatimah binti Asad (isteri Abi Thalib) wafat, Nabi Saww menyembahyangkannya, turun sendiri ke liang lahat, menyelimuti dengan baju beliau dan berbaring sejenak di samping jenazahnya, beberapa sahabat bertanya kehairanan, maka Nabi Saww menjawab: “ Tak seorang  pun sesudah Abu Thalib yang ku patuhi selain dia (Fatimah binti Asad).

Kewafatan Abu Thalib

Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah isteri Nabi Saww wafat dalam tahun yang sama, oleh karena itu tahun tersebut Nabi Saww menyebutnya sebagai Aamul Huzn iaitu tahun dukacita. Jika Abu Thalib seorang kafir patutkah kematiannya disedihkan. Dan apakah patut Nabi berkasih mesra dengan orang kafir, dengan berpandangan bahawa Abu Thalib kafir sama dengan menuduh Allah menyerahkan pemeliharaan Nabi Saww, pada seorang kafir dan membiarkan berhubungan cinta-mencintai dan kasih-mengasihi yang teramat sangat padahal dalam al-Quran disebutkan: “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka(QS;48,29). Dan di ayat yang lain Allah berfirman: “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak saudara-saudara atupun keluarga mereka”.(QS;58,29)

Seandainya kami tidak khuatir anda menjadi jemu, maka akan kami sebutkan hadis yang lainnya, kini untuk memperkuat argumentasi di atas akan kami ketengahkan disini sya’ir-sya’ir Abu Thalib:

“ Saya benar-benar tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini. ”

Di sya’ir yang lain beliau berkata: “ Adakah kamu tidak tahu, bahawa kami telah mengikuti diri Muahmmad sebagai Rasul seperti Musa yang telah dijelaskan pada kitab-kitab ”.

Semaklah sya’ir beliau ini, bahawa beliau juga beriman pada Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Musa a.s, dan ketika Rahib Buhairah berkata padanya beliau juga mengimani akan kenabian Isa a.s , sungguh Abu Thalib adalah orang ilmuan yang ahli kitab-kitab sebelumnya.

Dalam sya’ir yang lain:

“ Dan sesungguhnya kasih sayang dari seluruh hamba datang kepadanya (Muhammad). Dan tiada kebaikan dengan kasih sayang lebih dari apa yang telah Allah SWT khususkan kepadanya. ”

“ Demi Tuhan rumah (Ka’bah) ini, tidak kami akan serahkan Ahmad (Muhammad) kepada bencana dari terkaman masa dan malapetaka. ”

“ Mereka (kaum Quraisy) mencemarkan namanya untuk melemahkannya. Maka pemilik Arsy (Allah) adalah dipuji (Mahmud) sedangkan dia terpuji (Muhammad). ”

“ Demi Allah, mereka tidak akan sampai kepadamu dengan kekuatannya. Hingga Aku terbaring di atas tanah. Maka sampaikanlah urusanmu secara terang-terangan apa yang telah diperintahkan tanpa mengindahkan mereka. Dan berilah kabar gembira sehingga menyenangkan dirimu. Dan engkau mengajakku dan aku tahu bahawa engkau adalah jujur dan benar. Engkau benar dan aku mempercayai. Aku tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini . Dan sebilah pedang meminta siraman air hujan dengan wajahnya, terhadap pertolongan anak yatim sebagai pencegahan dari muslim yg berpura-pura. Kehancuran jadi tersembunyi dari Bani Hasyim (keluargaya Nabi Saww), maka mereka disisinya (Muhammad) tetap dalam bahagia dan berada dalam keutamaan. ”

“ Sepanjang umur aku telah tuangkan rasa cinta kepada Ahmad.

Dan aku menyayanginya dengan kasih sayang tak terputus.

Mereka sudah tahu bahawa anak yatim tidak berbohong.

Dan tidak pula berkata dengan ucapan yang bathil.

Maka siapakah sepertinya di antara manusia hai orang yang berfikir.

Jika dibanding pemimpinpun dia lebih unggul.

Lemah lembut, bijaksana, cerdik lagi tidak gelabah, santun serta tidak pernah lalai.

Ahmad bagi kami merupakan pangkal, yang memendekkan derajat yang berlebihan.

Dengan sabar aku mengurusnya, melindungi serta menepiskan darinya semua gangguan. ”

Kiranya cukup, apa yang kami ketengahkan dari sya’ir-sya’ir Abu Thalib yang membuktikan bahawa beliau adalah seorang Mukmin dan telah menolong dan membela Nabi Saww, maka beliau termasuk orang-orang yang beruntung.

“ Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS; 7;15)

Sesungguhnya Abu Thalib adalah orang yang telah mempercayainya, memuliakannya serta menolongnya, sehingga dia menentang orang-orang Quraisy. Dan ini telah disepakati oleh seluruh sejarawan. Sebuah hadis Nabi Saww menyebutkan : “ Saya (Nabi Saww) dan pengawal yatim, kedudukannya disisi Allah SWT bagaikan jari tengah dengan jari telunjuk ”. Siapakah sebaik-baik yatim? Dan siapakah sebaik-baik pengasuh yatim itu?, Bukankah Abu Thalib mengasuh Nabi Saww dari usia 8 tahun sampai 51 tahun.

Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan :

“ Ketika Rasul SAW diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliau berucap : “ Pakcik, engkau memelihara diriku sejak kecil, mengasuhku sebagai anak yatim dan memjagaku di saat aku sudah besar. Kerana aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu ”. Baginda lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata :      “ Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu pakcik. ”

Dalam buku Siratun Nabi Saww yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutkan: Abu Thalib meninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy di sekitarnya dan mengucapkan dua kalimat syahadah yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeikh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahawa Abu Thalib mengucapkan kalimat Syahadah diriwayatkan oleh Abu Bakar, yang dikutib oleh pengarang tersebut dari buku Sarah Nahjul balaghah III hal.312, Syekh Abthah hal.71nAl-Ghadir VII hal.370 & 401, Al-A’Yan XXXIX hal.136.

Abu Dzar al-Ghifari seorang sahabat Nabi Saww yang sangat dicintai Nabi Saww bersumpah menyatakan, bahawa wafatnya Abu Thalib sebagai seorang mukmin (al-Ghadir Vii hal.397).

Diriwayatkan dari Imam Ali ar-Ridha dari ayahnya Imam Musa al-Kadzim, riwayat ini bersambung sampai pada Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan beliau mendengar dari Nabi Saww, bahawa : “ Bila tak percaya akan Imannya Abu Thalib maka tempatnya di neraka ”. (An-Nahjul III hal.311, Al-Hujjah hal.16, Al-Ghadir VII hal.381 & 396, Mu’janul Qubur hal.189, Al-A’Yan XXXIX hal.136, As-Shawa’iq dll). Abbas berkata ; “ Imannya Abu Thalib seperti imannya Ashabul Kahfi. ”

Boleh jadi sebagian para sahabat tidak mengetahui secara terang-terangan akan keimanan Abu Thalib. Penyembunyian Iman Abu Thalib sebagai pemuka Bani Hasyim terhadap kafir Quraisy merupakan strategi, siasah dan taktik untuk menjaga dan membela Islam pada awal kebangkitannya yang masih sangat rawan itu sangat membantu tegaknya agama Allah SWT.

Penyembunyian Iman itu Banyak dilakukan ummat sebelum Islam sebagaimana banyak kita jumpa dalam al-Quran, seperti Ashabul Kahfi (pemuda penghuni gua), Asiah istri Fir’aun yang beriman pada Nabi Musa a.s dan melindungi, memelihara dan membela Nabi Musa a.s, juga seorang laki-laki dalam kaumnya Fir’aun yang beriman dan membela pada Nabi Musa a.s.

Lihat al-Quran; 40:28 berbunyi : “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut (kaum) Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki (Musa) kerana dia menyatakan” : “ Tuhanku adalah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung dosanya itu, dan jika dia seorang yang benar nescaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah SWT, tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta . ”

Jadi menyembunyikan iman terhadap musuh-musuh Allah tidaklah dilarang dalam Islam. Ada suatu riwayat di zaman Rasulullah Saww, demikian ketika orang-orang kafir berhasil menangkap Bilal, Khabab, Salim. Shuhaib dan Ammar bin Yasir serta ibu bapanya, mereka digilir disiksa dan dibunuh sampai giliran Ammar, melihat keadaan yang demikian Ammar berjihad untuk menuruti kemahuan mereka dengan lisan dan dalam keadaan terpaksa. Lalu diberitahukan kepada Nabi Saww bahawa Ammar telah menjadi kafir, namun baginda Nabi Saww menjawab: “ Sekali lagi tidak, Ammar dipenuhi oleh iman dari ujung rambutnya sampai keujung kaki, imannya telah menyatu dengan darah dagingnya ”. Kemudian Ammar datang menghadap Rasulullah Saww sambil menangis, lalu Rasulullah Saww mengusap kedua matanya seraya berkata: “ Jika mereka mengulangi perbuatannya, maka ulangi pula apa yang telah engkau ucapkan. ” Kemudian turunlah ayat (QS; 16;106) sebagai membenarkan tindakan Ammar oleh Allah SWT dengan berfirman: “ Barang siapa yang kafir kepada Allah SWT sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah SWT menimpahnya dan baginya azab yang besar. ”

Imam Muhammad bin Husein Mushalla al-Hanafi (yang bermazhab Hanafi) dia menyebut  dalam komentar terhadap kitab Syihabul Akhbar karya Muhammad ibn Salamah bahawa:       “ Barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumnya adalah kafir ”. Sebagian ulama dari Mazhab Maliki berpandangan yang sama seperti Ali al-Ajhuri dan at-Tulsamany, mereka ini berkata orang yang mencela Abu Thalib (mengkafirkan) sama dengan mencela Nabi Saww dan akan menyakiti beliau, maka jika demikian dia telah kafir, sedang orang kafir itu halal dibunuh. Begitu pula ulama besar Abu Thahir yang berpendapat bahawa barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumannya adalah kafir.

Kesimpulannya, bahawa siapapun yang cuba-cuba menyakiti Rasulullah Saww adalah kafir dan harus diperangi (dibunuh), jika tidak bertaubat. Sedang menurut mazhab Maliki harus dibunuh walau telah taubat. Imam al-Barzanji dalam pembelaan terhadap Abu Thalib, bahawa sebagian besar dari para ulama, para sufiah dan para aulia’ yang telah mencapai tingkat ‘Kasyaf’, seperti al-Qurthubi, as-Subki, asy-Sya’rani dan lain-lain. Mereka sepakat bahawa Abu Thalib selamat dari siksa abadi, kata mereka : “ Ini adalah keyakinan kami dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT kelak. ”

Akhirnya mungkin masih ada kalangan yang tanya, bukankah sebagian besar orang masih menganggap Abu Thalib kafir, jawabnya : “Banyaknya yang beranggapan bukan jaminan suatu kebenaran. ”

“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT) (QS;6:115).

Semoga kita dijadikan sebagian golongan yang mencintai dan mengasihi sepenuh jiwa ruh dan jasad kepada Nabi Muhammad Saww dan Ahlul Baitnya yang telah disucikan dari segala noda dan nista serta para sahabatnya yang berjihad bersamanya yang setia mengikutinya sampai akhir hayatnya.

Sesungguhnya taufiq dan hidayah hanyalah dari Allah SWT, kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami akan kembali.

SYA’IR-SYA’IR DALAM MEMUJI KELUARGA RASULULLAH SAWW

Dalam salah satu sya’ir Imam Syafi’i, beliau berkata :

“Wahai Keluarga Rasulullah

Kecintaan kepadamu

Allah wajibkan atas kami

Dalam Al-Quran yang diturunkan

Cukuplah tanda kebesaranmu

Tidak sah solat tanpa selawat padamu”

(maksud selawat : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad)

Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dalam sya’irnya:

“ Kecintaan Yahudi kepada keluarga Musa nyata

Dan bantuan mereka kepada keturunan saudaranya jelas

Pemimpin mereka dari keturunan Harun lebih utama

Kepadanya mereka mengikut dan bagi setiap kaum ada penuntun

Begitu juga Nasrani sangat memuliakan dengan penuh cinta

Kepada Al-Masih dengan menuju perbuatan kebajikan

Namun jika seorang Muslim membantu keluarga Ahmad (Muhammad)

Maka mereka bunuh dan mereka sebut kafir

Inilah penyakit yang sulit disembuhkan, yang telah menyesatkan akal

Orang-orang kota dan orang-orang desa, mereka tidak menjaga

Hak Muhammad dalam urusan keluarganya

dan Allah Maha Menyaksikan. ”

Imam Zamakhsyari dalam sya’irnya berkata:

“ Beruntung anjing karena mencintai Ashabul kahfi

Mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi Saww”

Abu Hasyim Isma’il bin Muhammad al-Humairi dalam salah satu sya’ir yang mengharap syafa’at nabinya Saww, berkata:

“ Salam sejahtera kepada keluarga dan kerabat Rasul

Ketika burung-burung merpati beterbangan

Bukankah mereka itu kumpulan bintang gemerlapan di langit

Petunjuk-petunjuk agung tak diragukan

Dengan mereka itulah aku di Syurga, aku bercengkerama

Mereka itu adalah lima tetanggaku, Salam sejahtera ”.

Sumber http://rridha.com

SALAFY / WAHABI : AYAH BUNDA NABI SAW MUSYRIK

Mungkin bagi sebagian pembaca heran dengan tema yang kami sajikan dalam kesempatan kali ini, masak sih orang tua nabi mati musyrik?! Tentunya yang namanya mati musyrik pasti tempatnya di neraka. Terasa berat kami untuk menjawabnya, akan tetapi inilah kenyataan yang harus kami jelaskan, agar kaum muslimin paham dan tidak tertipu dengan syubuhat-syubuhat yang dilontarkan oleh para pengusung paham sesat. Dengan slogan “membela ahlu baitin nabi shalallahu ‘alaihi wasallam” segala carapun dihalalkan, dari menafsirkan ayat seenak perutnya, memahami hadits dengan hawa nafsu bahkan membuat hadits-hadits palsu atau dengan melontarkan syubuhat-syubuhat dan memolesnya dengan kata-kata indah agar para awam tertipu. Bi’sa ma kaanu yaf’aluun.
Akan tetapi, bagaimana sih sikap islam sebenarnya? Bukankah agama ini telah sempurna? Nah bagi para pencari kebenaran yang hakiki berikut ini kami hadirkan beberapa hadits yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Selamat membaca dengan mata dan hati yang terbuka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam beberapa haditsnya yang shahih tentang keadaan kedua orang tua beliau sendiri, diantaranya adalah:
Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Bahwasanya seseorang bertanya: “wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka” ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:
أن أعرابيا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
“Bahwasanya Seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka”, kemudian dia bertanya lagi: dimana ayahmu? Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia…dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), dimana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban diatas…..”
Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits diatas: “para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”
Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي
“Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”.
Didalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”
Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”
PERNYATAAN PARA ULAMA’
Al Imam Al Baihaqi berkata di dalam kitab beliau “Dalailun Nubuwah” (1/192-193) setelah menyebutkan sejumlah hadits-hadits yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka:
“Bagaimana keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah patung-patung sampai mereka mati, dan mereka tidak beragama dengan agamanya Nabi Isa alaihis salam, …………”.
Dan di dalam “As Sunanul Kubro” (7/190) beliau berkata: “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya.
Al Imam Ath Thabari menyebutkan di dalam “Tafsirnya” ketika menjelaskan firman Allah subhanahu wata’ala: {ولا تسأل عن أصحاب الجحيم} “kamu tidak akan ditanya tentang para penghuni jahannam”(Al Baqarah:119). Dan kedua orang tua beliau termasuk diantaranya (Tafsir Ath Thabari 1/516).
Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan Nabi-Nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79).
Berkata Al ‘Adzim Abadi di dalam “Aunul Ma’bud” ketika menjelaskan hadits”فلم يأذن لي ” “Allah tidak mengijinkanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku”: “Karena ibunya adalah kafir, dan memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati) adalah dilarang…dan di dalam hadits ini terdapat faidah bolehnya ziarah kekuburan orang musyrikin dan larangan untuk memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati).”
Al Imam Al Qori’ menukilkan Ijma’ para Ulama’ salaf (yang terdahulu dari kalangan shahabat,tabiin dan tabiut tabiin) dan khalaf (setelah shahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in) bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari penghuni neraka, dia berkata: “Telah bersepakat para Ulama’ salaf dan khalaf, imam yang empat (Imam Malik, Ahmad, syafi’I, Abu Hanifah) dan seluruh mujtahidiin bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka……..
Al Imam Al Baidhawi ketika menafsirkan ayatولا تسأل berkata: “Al Imam Nafi’ dan Ya’qub membacanya dengan huruf ta’ berharokat fathah yang artinya: “Janganlah kamu bertanya tentang penghuni neraka”. Ini adalah larangan terhadap beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang keadaan kedua orang tua beliau”. (Tafsir Al Baidhawi 1/185)
Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai disini dulu.
Mungkin ada yang menyatakan: bahwa orang-orang yang mengatakan kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam neraka adalah orang-orang yang tidak memiliki adab kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam !!! Untuk syubuhat yang satu ini Insya Allah akan kita kupas pada pembahasan yang akan datang,. Wallahu a’lam

PENUTUP
Diantara akhlak seorang mukmin dan mukminah adalah menerima terhadap ketentuan Allah dan rasul-Nya dengan sepenuhnya. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan rasul—-Nya telah menetapkan suatu ketetapan untuk memilih yang lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahdzab:36)
Dan diantara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah apa yang telah kami sebutkan di atas berupa hadits-hadits shahih dengan penjelasan para ulama’ bahwa kedua orang tua beliau mati musyrik. Inilah adab seorang mukmin. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam bish shawab

FATWA MUI : SYI’AH BUKAN ALIRAN SESAT

Wawancara —Majalah Syiar—dengan Prof.Dr. KH Umar Shihab
Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengadakan siaran pers sehubungan dengan maraknya aliran sesat yang meresahkan umat Islam. Dalam catatan dikatakan bahwa MUI telah mengeluarkan sembilan fatwa mengenai aliran sesat, di antaranya Islam Jama’ah, Ahmadiyah, Inkar Sunnah, Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin, shalat dua bahasa di Malang dan Al Qiyadah Al-Islamiyah, serta aliran sesat lainnya yang sifatnya lokal atau kedaerahan.
Dalam upaya mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana MUI memandang aliran sesat, Redaksi SYIAR melakukan wawancara dengan Prof. DR. KH. Umar Shihab, Ketua MUI Pusat. Ditemui di rumahnya yang asri di bilangan Kelapa Gading, ulama asal Rapparang Sulsel ini memprihatinkan tentang kondisi kerukunan antar umat Islam di Indonesia.read more
MUI dan fatwa
Syiar: Bagaimana proses keluarnya sebuah fatwa MUI?
Umar Shihab: Fatwa itu bisa keluar apabila disepakati oleh semua komisi fatwa, yang unsur-unsurnya terdiri dari ormas-ormas Islam dan perwakilan MUI, misalnya Muhammadiyah, Dewan Dakwah, Al-Irsyad, Tarbiyah Islamiyah, dll. Ini berlaku di seluruh Indonesia. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) juga sudah masuk MUI, ini organisasi baru yang orang anggap “ekstrim”. Semua organisasi Muslim yang sudah dikenal di Indonesia kita rangkul dan bisa masuk MUI, termasuk Syiah/Ahlulbat, tidak perlu dilarang.
Syiar: Mungkinkah MUI daerah mengeluarkan fatwa yang berbeda atau bertentangan dengan fatwa MUI Pusat?
Umar Shihab: Tidak boleh ada fatwa daerah yang bertentangan dengan pusat. Fatwa MUI Pusat berlaku nasional, meliputi seluruh Indonesia. Fatwa daerah hanya khusus untuk masalah-masalah lokal. Misalnya fatwa tentang salat dengan menggunakan bahasa Indonesia, MUI daerah bikin fatwa kemudian diangkat ke tingkat pusat.
Syiar: Ada anggapan bahwa fatwa MUI lebih banyak mengurusi akidah atau keyakinan tapi tidak untuk masalah-masalah sosial.
Umar Shihab: Tidak benar. Kita juga membahas masalah-masalah yang mencuat dalam kehidupan masyarakat. Fatwa tentang korupsi sudah pernah ada, suap juga ada, pornografi juga ada.
Syiar: Mengapa tidak ada fatwa mati untuk koruptor?
Umar Shihab: Kita mempunyai komisi hukum dan perundang-undangan. Tapi MUI tidak pernah mengatakan menolak hukuman mati. Tidak pernah ada statement seperti itu. Karena kita tidak mau bertentangan dengan hukum al-Quran. Di dalam al-Quran itu ada qishash. Cuma kita tidak meminta supaya berlaku sepenuhnya. Kita lihat kondisi.
Syiar: Bagaimana hubungan antara MUI dan pemerintah?
Umar Shihab: Kita tidak mau berhadap-hadapan dengan pemerintah. Ini prinsip yang juga bagian dari dakwah kita. Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mauizatil hasanah. Kita dakwah dengan cara bijaksana. Kalau ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemerintah, barulah kita tampil ke depan dan menyampaikan kepada pemerintah.
Misalnya saja RUU pengasuhan anak, rancangannya sudah hampir selesai tapi kita minta agar disesuaikan dengan aturan Islam. Contoh lain RUU pendidikan, sampai demonstrasi besar di kalangan umat Islam karena kita nilai hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga dengan undang-undang pornografi dan pornoaksi.
Sayangnya, ada golongan umat Islam sendiri yang menolak. Ini yang kita sesalkan. Jangankan itu. Fatwa kita tentang sesatnya Al-Qiyadah Islamiyah yang menyatakan adanya nabi, masih saja ada orang Islam yang menyatakan bahwa itu tidak sesat, malah menuduh MUI yang sesat.
Fatwa aliran sesat
Syiar: Apa kriteria MUI tentang sesat atau tidaknya suatu ajaran?
Umar Shihab: Ada kerangkanya. Dia harus percaya bahwa Allah Swt itu Esa, Nabi Muhammad saw adalah rasul dan nabi terakhir, Al-Quran itu adalah kitab suci. Intinya yang ada di rukun Iman. Begitu juga dengan rukun Islam, adalah prinsip bahwa shalat itu lima kali sehari, puasa Ramadhan, haji ke baitullah. Kalau bertentangan dengan rukun iman dan Islam maka ia bisa dianggap sesat.
Kita anggap Lia Aminuddin sesat karena menganggap dirinya mendapat wahyu dari Jibril. Nah, masih banyak lagi kelompok yang sekarang masuk kajian MUI. Tapi kita tidak pernah anggap sesat masalah khilafiyah.
Syiar: Ada pihak yang menilai bahwa keyakinan tidak bisa diadili.
Umar Shihab: Keyakinan memang tidak mungkin diadili. Tapi yang mungkin diadili adalah orang-orangnya karena dia melakukan dan percaya pada suatu keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Misalnya Ahmadiyah, kita anggap sesat karena dia meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Tapi sampai sekarang prosesnya belum selesai karena mereka sudah terlanjur mendapatkan izin sebagai yayasan, sebagai organisasi.
Fatwa sesatnya Syiah
Syiar: Bagaimanakah MUI menilai ajaran Syiah?
Umar Shihab: MUI tidak penah berbicara tentang mazhab. Bagi kami di MUI, masalah khilafiyah itu adalah suatu rahmat. Kita tidak mau kembali lagi ke masa lalu di mana perkelahian dan pembunuhan mudah terjadi hanya karena perbedaan mazhab.
Masalah mazhab tidak bisa di selesaikan. Biarlah Allah Swt yang mengadilinya. MUI tidak menganggap bahwa salah satu mazhab itu benar. Kita berdiri di semua pendapat bahwa semua mazhab itu benar. Begitu juga terhadap mazhab lain, mazhab Syiah misalnya. MUI berprinsip, bahwa kalau dunia Islam sudah mengakui Syiah sebagai mazhab yang benar, lalu kenapa MUI harus menolak?
Syiar: Pada Maret 1984 MUI pernah mengeluarkan fatwa yang isinya agar waspada terhadap ajaran Syiah.
Umar Shihab: Ya, itu pada tahun 84. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi. Di Sunni sendiri juga ditetapkan seperti itu, bahwa fatwa bisa berubah karena perbedaan kondisi. Karena perbedaan tempat, Imam Syafii sendiri pernah mengubah fatwanya ketika beliau pindah ke Mesir dari Irak.
Begitu juga dengan beberapa fatwa lain di MUI. Saya bisa kasih contoh fatwa tentang aborsi. Semua aborsi itu dilarang. Islam tidak pernah membenarkan aborsi. Tapi, kemudian terjadi perubahan kondisi di mana terjadi kehamilan akibat perkosaan, sehingga aborsi pada kondisi tersebut dikecualikan.
Syiar: Dalam beberapa kasus, ulama daerah menisbahkan dirinya kepada fatwa MUI Pusat tahun 1984 atau fatwa ulama lain yang menyatakan Syiah itu sesat.
Umar Shihab: Sekali lagi, kita tidak pernah menyatakan Syiah itu sesat. Kita menganggap Syiah itu salah satu mazhab dalam Islam yang dianggap benar. Mengapa saya nyatakan demikian? Karena dunia Islam sendiri mengakui keabsahan mazhab ini. Apabila ia sesat, mustahil dan tidak boleh ia masuk ke Masjdil Haram. Kenapa mereka boleh masuk ke Masjidil Haram? Itu artinya orang Saudi sendiri mengakui bahwa mereka tidak sesat. Ia tetap Muslim, hanya saja mazhabnya berbeda dengan kita.
Kita harus membedakan dengan cermat antara istilah “sesat” dengan “beda”. Sesat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dan sesat itu perlu diperbaiki melalui dakwah yang benar. Apabila sekadar beda ya boleh-boleh saja. Yang sesat itu jelas beda. Tapi tidak semua yang beda itu sesat. Di dalam Sunni sendiri banyak perbedaan.
Di Indonesia ini banyak hal yang beda. Cara wudhu, posisi tangan saat salat, dll. Kenapa mesti dipersoalkan? Bahkan penentuan waktu 1 Syawal pun berbeda. Ini hal yang sangat berbeda. Yang berpuasa pada hari lebaran itu haram. Sedangkan pihak lain meyakini berlebaran pada hari puasa itu haram karena ia makan. Banyak hal yang beda di lapangan tapi kita tolerir. Ini semua masalah furuiyah.
Syiar: Dengan komposisi ormas Islam “ekstrem” dan “tidak toleran” di MUI, apakah fatwa yang dikeluarkan oleh MUI itu tidak bias sehingga terkesan tidak hati-hati? Di antara organisasi tersebut ada yang menggunakan kriteria sesat untuk menyerang kelompok lain yang sebenarnya tidak sesat.
Umar Shihab: Mereka tidak boleh memberi interpretasi sendiri. Interpretasi itu hanya dari MUI. Seperti kasus di Sumatra Barat, MUI setempat menyesatkan suatu organisasi. Kemudian mereka datang ke Jakarta untuk klarifikasi. Setelah kita kaji, kita ketahui bahwa sesatnya mereka karena beranggapan pergi haji itu tidak perlu ke Masjidil Haram bagi yang tidak mampu. Ada haji bagi orang miskin. Ini tidak ada dasarnya dalam agama. Setelah diklarifikasi, kita nyatakan bahwa pemahaman, pedoman dan pernyataan ini harus dibersihkan dari organisasi tersebut.
Syiar: Jadi bisa disimpulkan bahwa pandangan Islam yang komprehensif dan baik tidak merata di daerah sehingga mereka tidak bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang beda. Bagaimana menyikapi hal ini?
Umar Shihab: Saya selalu jelaskan, termasuk dalam rakernas baru-baru ini. Kita tidak perlu mempermasalahkan khilafiyah karena tidak ada hakim yang bisa memutuskan yang mana yang benar. Kita serahkan kepada Allah di hari kemudian nanti. Kita kembali kepada prinsip bahwa bila mujtahid itu salah dapat pahala satu, kalau benar dapat pahala dua. Nah, kita ini bukan mujtahid. Tidak ada sama sekali.
Memang dalam rapat itu ada orang yang ingin mengatakan lebih terperinci supaya orang yang salatnya boleh tiga waktu itu sesat. Saya katakan itu bukan masalah prinsip karena dasarnya ada dalam Quran dan hadis. Janganlah bawa sejauh itu karena nanti efeknya lebih jauh lagi, mereka yang salatnya tangannya turun ke bawah itu sesat juga. Masalah khilafiyah tidak boleh membawa pada perpecahan.
MUI menganggap bahwa Syiah adalah mazhab yang benar sebagaimana yang diakui oleh Rabithah Alam Islamy dan itu diakui oleh Al-Azhar. Bukti konkretnya, jamaah haji Syiah boleh masuk ke Masjidil Haram. Kalau mereka memang sesat, seharusnya tidak boleh masuk.
Perbedaan mazhab tidak bisa diselesaikan karena masing-masing punya argumentasi yang semuanya benar. Yang penting mereka mengakui dan meyakini keesaan tuhan, kesucian dan keotentikan Al-Quran, dan Muhammad sebagai nabi terakhir.
Indonesia itu mayoritas Sunni Syafii. Tidak semua mazhab itu ada di Indonesia, tapi bukan berarti ia tidak diterima. Bila semua ini tidak bisa disikapi secara arif akan bisa bermasalah. Misalnya dalam haji. Wahabi tidak mau berpakaian ihram di Jeddah, tapi di Miqat. Kalau kita naik pesawat Saudia Airline diumumkan bahwa kita sekarang sudah ada di Miqat, niatlah dari sekarang. Jadi orang-orang ramai berganti pakaian.
Nah, paham Wahabi sekarang sudah masuk di indonesia. Tapi fatwa MUI mengatakan bahwa boleh berpakaian ihram di Jeddah. Fatwa MUI ini juga diakui di beberapa negara Islam. Tapi ada juga pihak lain yang tidak mau pakai fatwa MUI, ya silakan.
Wahabi sendiri barang baru di Indonesia. Kalau semua yang beda dianggap sesat, maka Wahabi pun bisa masuk kategori sesat. Berbahaya sekali kalau yang beda dianggap sesat. Kalau pemerintah sekarang berpaham Wahabi, maka bisa-bisa mazhab Syafii pun dianggap sesat. Yang dianggap sesat itu adalah berbeda dalam hal akidah dan syariah.
Syiar: Bagaimana menjembatani kesenjangan mazhab Sunnah dan Syiah dewasa ini?
Umar Shihab: Saya kira melalui pertemuan-pertemuan di antara kedua belah pihak. Dakwah yang dilakukan satu sama lain tidak boleh saling menyerang. Orang yang memaki-maki orang lain itu sudah salah.
Saya pernah ke Iran dan saya lihat hal-hal luar biasa di sana. Saya juga pernah pergi ke Najaf dan Karbala. Saya bertemu dengan ulama-ulama Syiah. Mereka salat sama seperti kita juga. Cuma beda di azan. Saya bertanya, mengapa Anda menambah azan dengan “hayya alal khairil amal”? Mereka menjawab, sama halnya seperti Anda, mengapa Sunni menambah azan dengan “ashalatu khairum minan naum”?
Mereka malah bertanya balik, mengapa Anda mau tarawih padahal Rasulullah tidak tarawih? Bukankah itu datang dari Sayyidina Umar? Mengapa Anda tidak mengikuti apa yang datang dan diajarkan oleh Sayyidina Ali? Saya tidak bisa berkata apa-apa.
Kita perlu cari pendekatan-pendekat an, yang penting jangan saling serang dan menyalahkan. Nah, orang yang tidak tahu masalah mazhab inilah yang saling menyalahkan. Dia tidak mau memahami mazhab orang lain. Kita tidak sedang bicara politik. Yang terjadi di Irak itu bukan masalah mazhab, tapi politik. Ada kekuatan eksternal yang mempengaruhi konflik antar mazhab tersebut.
Kita di Indonesia tidak perlu terjadi seperti itu. Silakan kalau Anda mau jadi Syiah. Kenapa kita tidak lihat (konflik) di Saudi Arabia, di Makkah misalnya. Orang salat dengan beragam cara tidak dipersoalkan. Kenapa ada orang salat di hotel mengikuti kiblat masjidil haram? Apakah ada yang mempersoalkan? Kita harus bersatu. Kalau sesama Muslim gontok-gontokan, orang luar akan tertawa.
Kekerasan terhadap Syiah
Syiar: Apakah tindakan kekerasan yang dilakukan masyarakat terhadap komunitas Syiah di daerah-daerah bisa dibenarkan karena mereka mengklaim ikut fatwa MUI?
Umar Shihab: Tidak pernah bisa dibenarkan. Semua tindak kekerasan tidak pernah bisa ditolerir. Jangankan terhadap Syiah, terhadap aliran sesat pun kita tidak pernah tolerir tindak kekerasan.
MUI tidak pernah mentolerir aksi-aksi kekerasan seperti itu. Aliran sesat pun tidak pernah ditolerir untuk dirusak. Apalagi yang masih tidak sesat. Pelacuran saja, yang jelas-jelas tempat maksiat, kita tidak pernah mengatakan setuju untuk main hakim sendiri. Ini negara hukum, semua harus melalui proses hukum. Jadi kalau ada orang yang mau merusak rumah, masjid dan pesantren orang lain, itu bertentangan dengan undang-undang. Beritahukanlah polisi.
Syiar: Dalam beberapa kasus, MUI daerah pernah mengeluarkan surat pernyataan yang negatif tentang Syiah..
Umar Shihab: Itu keliru. Sangat keliru. Kita bisa tegur mereka kalau kedapatan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa MUI Pusat. Tapi memang hal ini (surat pernyataan/edaran MUI daerah) susah dipantau. Kalau MUI provinsi di tingkat satu mungkin bisa dipantau. Tapi sulit kalau sudah di bawah. Kalau ada data-data itu, tolong kasih saya.
Syiar: Kenyataannya ada ulama daerah yang meminta pembubaran Syiah dan pengusiran orang-orang Syiah atas nama MUI.
Umar Shihab: Tidak pernah. Itu adalah aktivitas personal yang tidak pernah kita tolerir dan tidak pernah kita benarkan. Aksi kekerasan itu karena kebodohan, fanatisme buta. Sebenarnya kita tidak ingin ada clash antara Sunni dan Syiah. Kita ingin damai, tidak ingin ada kekerasan.
Ketika tempo hari ada penyerangan atas komunitas Syiah di Bangil, saya sendiri langsung telpon kapolda dan kapolres supaya segera diambil tindakan, karena sesungguhnya MUI tidak pernah mentolerir adanya pengrusakan. Kapolri Jendral Sutanto pun mengatakan tidak boleh adanya pengrusakan. Anda bisa lihat sendiri di televisi bagaimana pernyataan saya.
Syiar: Sekarang ini ada oknum mengatasnamakan Ahlusunah yang memprovokasi umat Islam di daerah-daerah untuk membenci Syiah. Mereka juga menuding orang-orang yang moderat dan berpandangan objektif juga sebagai Syiah. Bagaimana mengantisipasi konflik horizontal antar mazhab di Indonesia?
Umar Shihab: Prinsip Islam itu satu. Janganlah kita ini gontok-gontokan. Orang yang melakukan provokasi itu bodoh, tidak tahu hakikat Islam. Kita akan minta kesadaran semua orang yang memprovokasi dan memecah belah umat bahwa pekerjaannya itu salah. Tindakan-tindakanny a tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Tolong ini dicatat.
Sikap kita kepada mereka hendaknya mengikuti sikap Nabi Muhammad tatkala dilempari batu oleh penduduk Thaif. Saat malaikat menyediakan diri menghukum mereka, Nabi malah mendoakan mereka dengan dalih bahwa mereka berbuat demikian karena tidak tahu.
Ada skenario besar yang ingin menghancurkan, bukan hanya umat Islam, tapi kesatuan bangsa Indonesia. Karena apabila umat Islam terpecah, otomatis bangsa Indonesia juga terpecah. Mereka sulit menyerang Islam dengan memakai agama-agama lain. Maka digunakanlah orang-orang Islam sendiri.
Haji Indonesia dan Syiah di Makkah
Syiar: Kuota jamaah haji tahun 2007 untuk Indonesia adalah 210 ribu orang, naik 5% dari tahun 2006 yang hanya 200 ribu jamaah. Namun masih banyak calon jamaah haji yang tidak terangkut dan kini masuk dalam waiting list. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?
Umar Shihab: Ada tiga kemungkinan. Pertama, banyaknya orang yang ingin menunaikan ibadah haji adalah suatu indikasi bahwa kesadaran orang terhadap ajaran agama lebih baik dari masa-masa yang lalu. Kemungkinan kedua, ekonomi umat Islam Indonesia sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Kemungkinan ketiga, orang-orang Islam yang ingin berwisata atau jalan-jalan keluar negeri kini mengalihkan tujuan wisata, tidak lagi ke Eropa atau negara-negara lain, melainkan ke Makkah dan Madinah. Mereka berpikir, daripada ke Eropa lebih baik naik haji atau umrah. Niatnya sudah tidak murni ibadah lagi. Kemungkinan ketiga ini yang sangat disayangkan. Tapi, dari semua kemungkinan tersebut, motif yang paling banyak dan dominan adalah berangkat haji atas dasar ibadah.
Syiar: Jamaah haji di Indonesia terbesar di dunia tapi budaya korupsi marak di mana-mana. Bagaimana menyikapi hal ini?
Umar Shihab: Tidak usah dihubung-hubungkan. Saya tidak setuju.
Syiar: Ada pendapat yang menyatakan bahwa tempat-tempat suci umat Islam perlu diinternasionalisas i sehingga dana yang luar biasa besar jumlahnya tersebut dapat dioptimalkan untuk kesejahteraan dan pemberdayaan umat Islam di seluruh dunia.
Umar Shihab: Sebenarnya gagasan itu bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, bahwa tujuannya untuk mendapatkan imbalan dari umat Islam. Dana terkumpul yang begitu besar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Di sisi lain, kita punya aturan-aturan internasional yang membuat ide internasionalisasi Makkah dan Madinah itu menjadi mustahil. Karena kedua tempat itu masuk wilayah Saudi Arabia, jadi dilema.
Menurut saya, kita biarkan saja seperti sekarang, tidak harus diinternasionalisas i. Apalagi salah satu gelar raja-raja di Saudi itu adalah khadim al-haramain, penjaga wilayah kedua tanah Haram. Kita hanya mengharap bahwa pengaturan haji itu setiap tahun lebih ditingkatkan. Kalau memang sudah baik, kenapa kita harus buat satu aturan baru (internasionalisasi itu). Yang penting jangan ada halangan entah itu terkait unsur politik atau mazhab sehingga setiap orang bisa pergi ke sana. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada masalah.
Syiar: Artinya, haji itu berlaku untuk semua umat Islam dari mazhab manapun, termasuk juga mazhab yang berbeda dengan mazhab pemerintah Saudi sendiri?
Umar Shihab: Pokoknya semua mazhab tanpa kecuali. Pemerintah Saudi bisa jadi menggunakan mazhab dari sebagian ajaran Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad atau Imam Malik. Tapi tetap saja mereka yang tidak bermazhab bebas masuk ke Makkah dan Madinah. Alhamdulillah, itu kenyataan hingga sekarang. Mazhab Syiah juga bebas masuk ke Saudi Arabia dan tidak dilarang.
Setiap saya berangkat ke sana, saya melihat banyak orang Syiah. Kadang-kadang, mereka malah diberikan tempat yang lebih istimewa. Misalnya, dalam fikih Syiah dikatakan bahwa kalau orang berihram itu tidak boleh tutup kepala. Sehingga ada juga mobil yang disiapkan tanpa penutup atau atap. Ini sekadar bukti bahwa pemerintah Saudi juga memberikan kesempatan kepada orang-orang yang bermazhab selainnya.